• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Tenaga Kerja Sektor Tersier Dalam Perekonomian Jawa Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peranan Tenaga Kerja Sektor Tersier Dalam Perekonomian Jawa Barat"

Copied!
177
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)

PERANAN TENAGA KERJA SEKTOR TERSlER

DALAM PEREKONOMIAN JAWA BARAT

Oleh

:

OCTAVlA WULANDARI

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

ABSTRAK

OCTAVIA WULANDARI. Peranan Tenaga Keja Sektor Tersier Terhadap Keragaan Ekonomi di Jawa Barat. Dibimbing oleh SJAFRI MANGKUPRAWIRA

sebagai Ketua, ANNY RATNAWATI dan RINA OKTAVlANI sebagai anggota komisi pembimbing.

Propinsi Jawa Barat memiliki jumlah penduduk tertinggi di Indonesia tercatat sebanyak 43 552 923 jiwa dengan jumlah angkatan keja sebesar 17 613 853 jiwa pada tahun 2000. Jumlah penduduk dan angkatan keja yang sedemikian besar ini dapat menjadi potensi yang dapat dikerahkan sebagai usaha produktif untuk menghasilkan barang dan jasa. Disisi lain, jumlah angkatan keja ini menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi apabila tidak ditunjang oleh ketersediaan kesempatan ke j a yang memadai sehingga tersediannya kesempatan k e j a yang besar sangat diperlukan

untuk

menginibangi banyaknya jurnlah penduduk yang mawk ke pasar keja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perkembangan tingkat produktivitas, tingkat penyerapar, tenaga kerja, dan tingkat upah riil tenaga keja sektor tersier di Jawa Barat. Serta untuk mengetahui bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap keragaan tenaga k e j a sektor tersier di Jawa Barat.

Model keragaan pasar keja sektor tersier dan pendapatan daerah di Jawa Barat merupakan model persamaan imultan, yang menggunakan pooling data dari 20 kabupaten di Jawa Barat dalam rentang waktu 1998-1999. Pendugaan parameter menggunakan metode 2 SLS (Two Stage Least Square) dan pengolahan data menggunakan program komputer SASIETS version 6.12. Simulasi model dilakukan untuk mengetahui bagaimana kebijakan pemerintah dan perubahan faktor ekonomi yaitu peningkatan Upah M i m u m Regional Sektoral, peningkatan investasi, peningkatan konsumsi kalori, penurunan inflasi dan kombinasinya terhadap keragaan tenaga ke j a pada sektor tersier.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat upah riil sektoral merupakan faktor utama yang mempengaruhi keragaan tenaga keja sektor tersier dan pendapatan daerah di Jawa Barat, ha1 ini berkaitan dengan teriadinya labor surplus di w a r keria. Penyerapan tenga k e j a dipengaruhi oleh juklah knduduk produktif, tingk'at invest&

(13)

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang betjudul :

PERANAN TENAGA KERJA SEKTOR TERSIER DALAM

PEREKONOMlAN JAW A BARAT

adalah benar hasil karya saya sendiri dan belum pernah dipublikasikan. Semua

sumber data d m infonnasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas d m dapat

diperiksa kebenarannya.

Bogor, 28 Mei 2002

(14)

PERANAN TENAGA KERJA SEKTOR TERSIER

DALAM PEREKONOMIAN JAWA BARAT

OCTAVIA WULANDARI

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi llmu Ekonomi Pertanian

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(15)

Judul Tesis : Peranan Tenaga Kerja Sektor Tersier Dalam Perekonomian Jawa Barat

Nama Mahasiswa : Octavia Wulandari

Nomor Pokok 99032

Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

Menyetujui, 1. Komisi Pembimhing

Dr;&ukza Ketua

Dr. Ir. Rina Oktaviani, MS Auggota

Dr. Ir. Annv Ratuawati, MS Anggota

Mengetahui,

2. Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

&

Dr. Ir. Bonar M. Sinaga. MA

(16)

RTWAYAT HIDW

Penulis dilahirkan di Salatiga pada tanggal 21 Oktober 1976 dari pasangan

Bambang Yudo Yuwono clan Siti Nurhayati. Penulis merupakan putri pertama dari

tiga bersaudara.

Tahun 1994 Penulis menyelesaikan studi pada SMA Negeri 2 Manado dan pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan sarjana pada Program Studi Ilmu

Ekonomi Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian,

Uiliversitas Sam Ratulangi di Manado, Sulawesi Utara. Penulis memperoleh gelar

Sarjana Pertanian pada tahun 1998. Pada tahun 1999 penulis melanjutkan studi ke

jenjang S2 pada program studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Program Pascasarjana,

(17)

P R A K A T A

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat bimbingan dan Penyertaan-Nya jualah sehingga tesis ini berhasil di selesaikan. Penelitian ini berjudul "Peranan Tenaga Kerja Sektor Tersier Dalam Perekonomian Jawa Barat".

Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi llmu Ekonomi Pertanian, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Tesis ini merupakan suatu penelitian mengenai bagaimana peranan tenaga kerja sektor tersier di Propinsi Jawa Barat. Propinsi Jawa Barat dipilih karena berdasarkan data yang diperoleh

dari

hasil Survei Angkatan Kerja, Propinsi Jawa Barat memiliki tingkat migrasi masuk tertinggi di Indonesia. Sektor tersier dipilih dengan asumsi bahwa para migran tersebut dengan segala keterbatasan pendidikan dan keterampilannya akan lebih banyak tertampung di sektor tersier terutama pada sektor jasa yang dapat dikatakan sebagai key problem solution ketenagake rjaan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Ir. Sjafri Mangkuprawira selaku ketua komisi pembimbing atas bimbingan, saran, kritik, arahan serta perhatian kepada penulis mulai dari penyusunan usulan penelitian, pelaksanaan penelitian hingga penulisan tesis.

2. Dr.Ir. Anny Ratnawati, MS selaku anggota komisi pembimbing atas bimbingan, saran, kritik, arahan serta perhatian kepada penulis mulai

dari

penyusunan usulan penelitian, pelaksanaan penelitian hingga penulisan tesis.
(18)

4. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA selaku ketua program studi Ilmu Ekonomi Pertanian yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu pada

program studi yang dipimpin.

5. Yang terhormat papa, Bambang Yudo Yuwono dan Mama, Siti Nurhayati ,

adikku Agung dan Arief yang telah banyak berkorban dan selalu dengan sabar

memberikan dorongan, bantuan dan doa sehingga penulis dapat meyelesaikan

tesis ini.

6. Ir. H. Mas Wiyoto, MBA dan Siti Wahyuni, SH serta Mbak Erma dan Mas

Bregas, Mas Gatot dan Mbak Frida yang telah memberikan doa dan bantuan biaya

pendidikan kepada penulis.

7. Rekan-rekan Pada Program Pascasarjana Insitut Pertanian Bogor Angkatan 99:

Mbak Rina, Mbak Letty, Fifi, Lia, Mbak Ernil, Mbak Lisa, Rasidin, uda Zul,

Zulkifli, Pak Azhar, Altian, atas segala perhatian, bantuan, persahabatan,

kesetiaan dan ke rjasama mulai dari awal masa perkuliahan, penyusunan proposal,

pelaksanaan penelitian dan penulisan tesis,

8. Sahabat terbaikku dalam suka dan duka Khres A. E. Senduk, STP dan H. Arief T. Nurgomo, STP atas persahabatan yang diberikan selama 10 tahun ini.

Akhirnya, harapan penulis semoga tesis ini dapat berguna bagi yang

membutuhkannya.

Bogor, Mei 2002

(19)

viii

DAFTAR IS1

Halaman

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR

GAMB

AR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ...

xiv

I . PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 12

I1 . PERAN AN SEKTOR TERSER DALAM PEREKONOMIAN ... 13

2.1. Peranan Sektor Tersier Dalam Perekonomian Indonesia ... 13

2.2. Peranan Sektor Tersier Dalam Perekonomian Jawa Barat .... 17

111

.

KEBIJAKAN PEMERINTAH Dl PASAR TENAGA KERJA .... 20

3.1. Kebijakan Upah Minimum Regional Sektoral ... 22

3.2. Kebijakan Peningkatan Gizi dan Kesehatan ... 25

3.3. Perbaikan Tingkat Pendidikan dan Pelatihan ... 28

3.4. Program Perluasan Kesempatan Ke j a ... 30

IV . KERANGKA PEMIKIRAN ... 32

4.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 32

... 4.1.1. Penduduk, Tenaga Keja dan Angkatan Ke j a 32 ... 4.1

.

2.Teori Permintaan Tenaga Ke rja 36 ... 4.1.3. Teori Penawaran Tenaga Kerja 42 ... 4.1.4. Keseimbangan dalam Pasar Tenaga Kerja 47 .

.

. . 4.2. T~njauan Emp~ns ... 50

... 4.3. Kerangka Pemikiran Penelitian 55 ... . V PERUMUSAN MODEL DAN PROSEDUR ANALISIS 57 5.1. Perumusan Model ... 57

5.1.1. Angkatan Keja ... 57

.... 5.1.2. Tingkat Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Tersier 60 .

.

5.1.3. Upah RIII ... 63
(20)

5.1.5. Pendapatan Daerah ...

5.2. Prosedur Analisis ...

5.2.1. Identifikasi Model ... 5.2.2. Metode Pendugaan Model ...

5.2.3. Validasi Model ...

...

5.1.4. Simulasi Model

...

5.3. Definisi Operasional Variabel

...

5.4. Jenis dan Surnber Data

Vl

. KERAGAAN TENAGA KERJA SERTOR TERSIER DAN PENDAPATAN DAERAH DI JAWA BARAT ...

... 6.1. Keragaan Umum Model Dugaan

6.2. Keragaan Model Tenaga Keja Sektor Tersier dan ... Pendapatan Daerah di Jawa Barat

6.2.1. Angkatan Keja ...

... 6.2.2. Penyerapan Tenaga Keja Sektor Tersier

...

6.2.3. Upah nil Tenaga Ke j a Sektor Tersier

... 6.2.4. Produktivitas TenagaKe j a Sektor Tersier

6.2.5. Pendapatan Daerah ...

V11 . DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KERAGAAN PASAR KERJA SEKTOR TERSIER DAN

... PENDAPATAN DAERAH Dl JAWA BARAT

7.1. Hasil Validasi Model ... 7.2. Peningkatan Upah Minimum Regional Sektoral Sebesar 25

Persen ...

7.3. Peningkatan Investasi Sektoral Sebesar 20 Persen

...

7.4. Peningkatan Konsumsi Kalori Sebesar 20 Persin ._ 7.5. Kombinasi Kebijakan Peningkatan upah Minimum

Regional Sektoral 25 Persen dan Investasi Sektoral 20 ... Persen

7.6. Kombinasi Peningkatan UMRS, Investasi dan Konsumsi

...

(21)

VIII . KESIMPULAN DAN SARAN ... 110

8.1. Kesimpulan ... 110

8.2. Saran ... 112

8.2.1 .Saran Kebijakan ... 112

8.2.2.Saran Penelitian Lanjutan ... 112

(22)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Perkembangan Tenaga Kerja dan Sumbangan Sektoral Terhadap Produk Domestik Regional Bruto di Jawa Barat Tahun 1999-2000 ... 2. Jumlah dan Proporsi Kesempatan Kerja Menurut Lapangan

Usaha Tahun 1999-2000.. ...

3. Pertumbuhan Sektor Tersier Indonesia Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 1996-1999 ... 4. Sumbangan Sektor Tersier di Jawa Barat terhadap Produk

Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 1999 - 2000 ... 5. Penduduk dan Angkatan Indonesia Tahun 196 1-2000

6. Definisi Variabel, Satuan Pengukuran . . dan Sumber Data Penelihan.. ...

7. Hasil Pendugaan Parameter Model Keragaan Pasar Kerja

...

Sektor Tersier dan Pendapatan Daerah di Jawa Barat..

...

8. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Angkatan Kerja..

9. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Penyerapan Tenaga Kerja.. ... 10. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Upah Riil Sektoral

11. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Produktivitas Tenaga Kerja ...

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

12. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Pendapatan Daerah di Jawa Barat ... 13. Hasil Validasi Model Keragaan Pasar Kerja Sektor Tersier

... dan Pendapatan Daerah di Jawa Barat..

14. Upah Minimum Regional dan Kebutuhan Fisik Minimum Pekerja Lajang 1 Kebutuhan Hidup Minimuin Pekerja Lajang ... 15. Dampak Kebijakan Peningkatan Upah Minimum Regional

(23)

16. Dampak Kebijakan Peningkatan Investasi Sektoral sebesar 20

Persen.. ... 103

17. Dampak Kebijakan Peningkatan Konsumsi Kalori sebesar 20

Persen.. ... 105

18. Dampak Kombinasi Kebijakan Peningkatan Upah

Minimum

Regional Sektoral 25 Persen dan Investasi Sektoral 20

Persen.. ... 107

19. Dampak Kombinasi Kebijakan Peningkatan Upah Minimum Regional Sektoral 25 Persen, lnvestasi Sektoral 20 Persen

...

(24)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Hubungan Antara Produksi Total, Produksi Rata-Rata dan

Produksi Marginal Penggunaan Tenaga Ke ja.. ... 39

...

2. Menentukan Kuwa Permintaan Tenaga Kerja.. 41

...

3. Menentukan Kuwa Penawaran Tenaga Keja.. 45

...

4. Penentuan Keseimbangan di Pasar Tenaga Ke j a . . 50 5. Model Konseptual Penyerapan Tenaga Ke j a Sektor Tersier

di Jawa Barat.. ... 56

6. Diagram Keterkaitan Peubah-Peubah Dalam Model Keragaan Pasar K e j a Sektor Tersier dan Pendapatan Daerah di Jawa

(25)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Data Aktual Model Keragaan Pasar Kerja Sektor Tersier dan

Pendapatan Daerah di Jawa Barat ... 119

2.

Diagram Pencar Data Aktual Model Keragaan Pasar Kerja

Sektor Tersier dan Pendapatan Daerah di Jawa Barat.. ... 125

3. Hasil Pendugaan Parameter Model Keragaan Pasar Kerja

Sektor Tersier dan Pendapatan ~ k r a h di Jawa Barat.. ... 134 4. Hasil Validasi dan Simulasi Model Keragaan Pasar Kerja

Sektor Tersier dan Pendapatan Daerah di Jawa

(26)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu aset pembangunan yang paling dominan dimiliii oleh banyak

negara berkembang adalah jumlah penduduk dan angkatan kerja yang cukup besar

jumlahnya. Jumlah penduduk dan tenaga kerja ini disatu pihak menggambarkan

potensi yang dapat dikerahkan unhk usaha produktif yang dapat menghasilkan

barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Disisi lain, jumlah

penduduk dan tenaga k e j a dapat menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi

apabila tidak ditunjang dengan ketersediaan kesempatan k e j a yang memadai

sehingga tidak memperbesar angka pengangguran. Konsekuensi dari pertumbuhan

penduduk yang besar tersebut adalah besarnya angkatan k e j a serta terbatasnya

kesempatan kerja.

Oleh sebab itu, untuk menghindari pennasalahan tersebut dibutuhkan

perencanaan ketenagakerjaan yang matang. Perencanaan ketenagakerjaan dapat

dikatakan sebagai posisi sentral dalam pembangunan ekonomi. Hal ini disebabkan

karena pertama, hampir semua kegiatan produksi untuk menghasilkan barang dan jasa

melibatkan tenaga kerja dan kedua, tenaga keja selalu berhubungan dengan faktor

manusia yang merupakan tnjuan akhir dari pembangunan itu sendiri.

Dalam Program Pembangunan Nasional (PROPENAS, 2000) telah

diisyaratkan tentang perencanaan tenaga keja, dimana telah ditetapkan bahwa

(27)

tenaga ke j a merupakan kebijaksanaan pokok yang sifatnya menyeluroh pada semua

sektor.

Menurut Hasibuan (1987), dalam bidang ketenagakerjaan di Indonesia

dihadapi dua masalah pokok yaittr:

1. Tidak ada keseimbangan dalam penyerapan tenaga kerja antara sektor pertanian

dan non pertanian.

2. Adanya kepincangan dalam penyerapan tenaga kerja produktif di sektor non

pertanian yaitu antara sektor-sektor pengolahan (manzrfactur) dibandingkan

dengan sektor jasa (services).

Kedua masalah tersebut mengakibatkan ketimpangan penyerapan tenaga kerja

pada sektor pertanian dan non pertanian yang pada akhimya dapat mengakibatkan

ketidakseimbangan alokasi tenaga kerja. Sejalan dengan perkembangan

pernbangunan terdapat perubahan-penrbahan pada pendapatan dan kesempatan kerja

diantara berbagai sektor atau kegiatan ekonomi penduduk (Widarti, 1984). Alokasi

tenaga kerja menurut sektor yang dimaksud adalah status pekejaan dimana ha1 ini

sering digunakan sebagai indikator pembangunan suatu negara.

Proses perkembangan ekonomi di negara-negara maju ditandai oleh suatu

transparansi struktural dala~n struktur ekonomi dan kesempatan kerja. Dari sektor

primer pada masa pembangunan akan mengalami penurunan diikuti oleh naiknya

kesempatan kerja pada sektor sekunder clan tersier. Perubahan lainnya adalah formasi

struktur produksi atau proses perubahan ko~nposisi Produk Do~nestik Bnito menunrt

sektor atau sub sektor produksi. Pertumbuhan ekonomi biasanya disertai dengan

(28)

sekunder (manufaktur dan industri) dan pada akhirnya kesektor tersier (angkutan,

komunikasi, perdagangan dan jasa-jasa lainnya).

Pembangunan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat di

segala bidang, teruta~na pembangunan ekonomi. Pembangunan infrastruktur

berkembang cukup pesat. Pembangunan dibidang transportasi, komunikasi dan

infonnasi membawa dampak terhadap semakin meningkatnya mobilitas sumberdaya

khususnya sumberdaya manusia. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel I . Perkembangan Tenaga kerja

clan

Sumbangan Sektoral terhadap hoduk Domestik Regional B n ~ t o di Jawa Barat

Domestik Lapangan Usaha Regional Bruto

Pemsahaan

.Jasa-Jasa

1

10511 222

1

16236217

1

2344531

1

2272831 Sumber: Susenas, 1999-2000 (data diolah)

Perkembangan Tenaga Kerja

1 .Pertanian,Peternakan, Kehutanan

Menurirut Benu (1990), bahwa jika pendapatan meningkat, maka semakin

kecil peranan sektor primer dalam kesempatan kerjanya, sedangkan peranan sektor

tersier dan sekunder adalah sebaliknya. Transformasi stn~ktur kesempatan kerja ( orang )

1999

1

2000 5 203 953

1

4 865 547

( juta rupiah )

menurut sektor dicapai karena: pettumbuhan ekonomi biasanya disertai dengan 1999 2000

[image:28.579.79.493.333.671.2]
(29)

peningkatan produktivitas pekerja di setiap sektor dan pekerja yang berpindah dari

sektor yang lebih rendah produktivitasnya ke sektor yang memiliki produktivitas

lebih tinggi. Pembangunan ekonomi yang mengejar pertumbuhan ekonomi yang

tinggi harus memperhatikan pemerataan pendapatan clan penyerapan tenaga kerja

(Thee Kian Wie, 1983). Jadi, dalam strategi pembangnnan haruslah mengingat

kepadatan penduduk yang merupakan suatu kharateristik dari pembangunan di

Indonesia.

Tidak seimbangnya jumlah penduduk dan kemampuan negara berkembang

untuk menciptakan pembangunan dan kesempatan kerja bagi penduduk telah

menimbukan berbagai implikasi yang buruk terhadap beberapa aspek pembangunan

ekonomi, diantaranya adalah tingginya angka pengangguran yang secara tidak

langsung berdampak negatif terhadap kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.

Menurut Rostow dalam Baldwin (1986), sebuah negara hams malnpu

~nelakukan transformasi dari pembangunan industri setelah modernisasi pada sektor

pertanian serta penyediaan modal sarana sosialnya meningkat. Selanjutnya Rostow

telah membagi pertumbuhan ekonomi suatu negara ke dalam !ima tahap dimana pada

tahap-tahap awal kesempatan kerja yang paling tinggi terjadi pada sektor pertanian

yang kemudian ben~bah dengm suatu pembangunan indt~strialisasi, sehingga

pergeseran kesempatan kerja terjadi dari sektor manufaktur ke sektor jasa.

Lebih lanjut, Kusnetz dalarn Baldwin (1986), menyimpulkan tiga keadaan pada negara berkembang mengenai proporsi tenaga kerja yang mencari pekejaan di

berbagai sektor dalarn proses pembangunan ekonomi. Kesimpulan tersebut adalah

(30)

1. Peranan sektor pertanian dalam menyediakan kesempatan kerja menurun ditiap negara

2. Peranapl sektor industri &lam menyediakan kesempatan kerja menjadi bertambah

penting akan tetapi kenaikan tersebut sangat kecil

3. Peranan sektor jasa dalam menyediakan kesempatan k e j a tidak banyak

mengalami pen~bahan.

Ketiga ha1 tersebut diatas menjadi lebih jelas bila dibandingkan dengan

pen~bahan masing-masing sektor dalam mencipakan produksi nasional dengan

perubahan setiap sektor dalam menampung tenaga kerja. Dari sektor jasa, sektor

pemerintah dan sektor perdagangan menyediakan tenaga kerja yang semakin

tneningkat.

Berdasarkan apa yang diperoleh Clark dalam Sukirno (1985), semakin tinggi

pendapatan perkapita suatu negara maka peranan sektor pertanian dalam

menyediakan kesempatan kerja akan semakin kecil. Namun sebaliknya sektor industri

makin penting peranannya dalam menampung tenaga kerja.

Perubahan pendapatan secara sektoral akan berpengaruh terhadap peningkatan

tenaga kerja. Namun, besarnya perubahan pendapatan secara sektoral hdak selalu

diikuti oleh penlbahan yang sama pada kesempatan kerja yang tersedia. Hubungan

pertumbuhan pendapatan atau produksi dengan penyerapan tenaga kerja dinyatakan

dengan elastisitas kesempatan k e j a atau penyerapan tenaga kerja (Simanjuntak,

1993) yang didefinisikan sebagai perbandingan antara laju pertumbuhan kesempatan

kerja dengan laju perttunbuhan ekonomi. Elastisitas tersebut dapat ditentukan dari

(31)

Akibat dari pergeseran-pergeseran yang terjadi, maka kesempatan kerja di

sektor tersier d i n lama makin meningkat. Menurut Clark dalam Sukirno (1985),

sektor-sektor yang masuk dalam sektor tersier adalah angkutan dm perhubungan,

pemerintahan, perdagaogan

dan

jasa perorangan. Sedangkan menurut Widarti (1984),

kegiatan yang dikelompokkan pada sektor tersier ini meliputi perdagangan,

transportasi, keuangan dan jasa.

Pembagian sektor tersier yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik

mencakup perdagangan, hotel dan restoran; bangunan; pengangkutan dan

komunikasi; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan; jasa-jasa yang mencakup jasa

pemerintahan umum dan swasta.

Proses pembangunan di Indonesia dilakukan secara berkesinambungan yang

dalam pelaksanaannya mempunyai strategi yang mengarah kepada pen~bahan

shuktural, umumnya dari sifat agraris tradisional menjadi industri modem, perubahan

struktur ini mempunyai tiga dimensi, yaitu:

1. Sumbangan sektor pertanian secara relatif akan merosot, sedangkan sektor non

pertanian sebaliknya.

2. Ji~mlah tenaga kerja pada sektor pertanian secara absolut jumlahnya akan

me;lingkat namun persentase dalam jumrah tenaga kerja keselun~han akan

semakin kecil, sebaliknya tenaga kerja yang bekerja di sektor-sektor lain akan

meningkat.

3. Peringkat produksi di semua bidang akan menjadi leb~h bersifat industri. Produksi

(32)

akan diproduksi secara besar-besaran unhk dijual ke pasar dengan menggunakan

teknologi modem.

Selanjutnya, proses transformasi shuktural yang terjadi ini juga didukung oleh

diberlak~lkannya kebijakan-kebijakan pemerintah yang akan mendukung terciptanya

pemerataan dan kehidc~pan yang lebih baik bagi tenaga kerja Indonesia.

Dan data registrasi penduduk tahun 1999-2000 tercatat bahwa propinsi Jawa

Barat memiliki jumlah periduduk sebesar 42 428 584 jiwa pada tahun 1999 dan

meningkat menjadi 43 089 300 jiwa pada tahun 2000. Laju pertumbuhan penduduk di

Jawa Barat sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaih~ migrasi masuk dan angka

kelahiran. Angka migrasi propinsi Jawa Barat tercatat sebesar 2.7 juta jiwa pada

tahun 2000, sedangkan angka kelahiran masih cukup tinggi yaitu sebesar 2.2 juta

jiwa. Hal ini disebabkan oleh pola perkawinan usia pada kelompok umur kurang dari

18 tahun yang rnasih tinggi, yaitu sebesar 64 persen. Lebih lanjut, perlu adanya

pendewasaan i~sia perkawinan. Hal ini terkait dengan kondisi stnlkh~r umur pendudnk

Jawa Barat yang telah mengalami transisi dari struktur umur muda yaitu sebanyak

33 893 619 jiwa ke struktw umur produktif. Dalam ha1 migrasi penduduk, bahwa

dengan adanya sentra-sentra indusm dan bisnis secara pusat-pusat pendidikan

menjadi daya tarik yang sangat kuat bag1 timbulnya migrasi masuk dan luar Jawa

Barat. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa jumlah angkatan ke j a yang tersedia

di Jawa Barat semakin besar sehingga diperlukan penanganan serius dari pemerintah

(33)

Berdasarkan data SUSENAS (1999), persentase angkatan kerja yang bekeja

adalah sebesar 48.44 persen sedangkan yang mencari kerja sebesar 4.95 persen

dengan angka pengangguran sebesar 46.61 persen.

Dari

data tersebut dapat dilihat

bahwa Propinsi Jawa Barat juga memiliki potensi yang cukup besar untuk

dikembangkan (dalam ha1 jumlah angkatan keja) sebagai penyumbang Produk

Domestik Regional B ~ t o seperti yang teiah disajikan pada Tabel 1 . Oleh karena itu penelitian ini dirasa perlu untuk rnelihat seberapa besar sektor tersier ini dapat

menampuny jumlah angkatan kerja yang kebanyakan ben~sia muda dengan tingkat

pendidikan dan keterampilan yang kurang memadai.

1.2. Perumusan Masalah

Seperti halnya pada tingkat nasional, masalah pokok yang dihadapi oleh

pemerintahan Jawa Barat masih berkisar pada masalah ketenagakerjaan. Penyediaan

kesempatan kerja yang besar sangat diperlukan untuk mengimbangi banyaknya

jumlah penduduk yang memasuki pasar keqa. Tidak tertampungnya pencari kerja

pada tingkat kesempatan kerja yang tersedia akan menyebabkan terjadinya

pengangguran yang akan membawa masalah yang lebih besar lagi.

Ke~najuan suatu wilayah tercermin dari kernampuan sektor-sektor ekonomi

dalam menyerap angkatan k e j a dan peningkatan produktivitas angkatan kerja.

Demikian pula unti~k Propinsi Jawa Barat, analisis ketenagakerjaan sering dikaitkan

dengan Prodtik Domestik Regional Bmto. Pada tahap awal perttimbuhan tenaga kerja

(34)

dengan proses industrialisasi terlihat terjadinya perpindahan tenaga kerja dari sektor

pertanian ke sektor non pertanian dan industri.

Selanjutnya di propinsi Jawa Barat juga mengalami pergeseran struktur

kesempatan kerja. Adanya ~nigrasi dari beberapa daerah ke daerah lain terutama para

migran yang berpendidikan rendah menyebabkan bertambahnya tenaga kerja yang

tnasuk pada sektor tersier khususnya pada sektor jasa. Penyerapan tenaga kerja

menurut sektor menunjukkan adanya pembahan yang cukup signifikan untuk sektor

perdagangan, pertanian, dan industri pengolahan (manufaktur). Proporsi kesempatan

kerja di Jawa Barat tahun 1999 umumnya mengalami perkembangan yang

menggembirakan kecoali pada sektor pertambangan dan perhubungan serta listrik,

[image:34.569.72.487.441.672.2]

gas dan air yang inengalami sedikit penurunan (Tabel 2)

Tabel 2. Jumlah dan Proporsi Kesempatan Kerja Menurnt Lapangan Usaha di Jawa Barat.

1

Lapangan Usaha

I

Jumlah Kesempatan

I

Perkembangan

I

(35)

Menun~t pendapat para pakar kependudukan, dimasa mendatang negara-

negara agraris seperti Indonesia akan bergeser (shijting) dari sektor pertanian ke

sektor industri untuk selanjutnya berpindah ke sektor jasa (services). Hal tersebut

dapat te qadi karena berbagai alasan, diantaranya adalah:

1. Sekalipun terjadi kemunduran akibat dampak krisis ekonomi tetapi tuntutan hidup

agar tetap bertahan hidup menjadikan sebagian besar korban PHIS berusaha untuk

tetap bekeja sekalipun tidak pada sektor lapangan usaha yang sama seperti

sebelumny a.

2. Krisis ekonomi sebagai akibat dari depresiasi nilai tukar rupiah justru menjadi

stimulasi bagi sejumlah sektor yang berorientasi ekspor clan rendah kadar muatan

bahan baku impornya, sehingga memiliki daya saing di pasar internasional untuk

menambah tenaga kerja.

3. Penciptaan lapangan kerja baru sebagai antisipasi terhadap semakin terbukanya

peluang benlsaha karena terjadinya pen~bahan sosial dan politik seperti deregt~lasi

dan debirokratisasi pada sektor-sektor tertentu.

4. Oleh karena kelesuan usaha dan tindakan efisiensi perusahaan, maka dilakukan

penggantian peran (replacement) tenaga kerja asing yang terpaksa harus kembali

ke negeri asalnya dengan tenaga kerja Indonesia pada level jabatan yang sama.

5. Sektor perdagangan mungkin dapat menjadi lapangan usaha yang semakin

kondusif untuk dikembangkan dan dioptimalkan daya serap tenaga kerjanya.

Apabila menilik perkembangan yang terjadi, pemulihan (recovery) akibat

terjadinya krisis moneter menyebabkan terjadinya perbaikan dalam ha1 penyerapan

(36)

demikian peningkatan dalam kapasitas penyerapan tenaga kerja pada sektor yang

sebelumnya terpuruk, lambat laun terlihat semakin membaik, sekalipun belum

mencapai tingkat yang sama dengan masa sebelum te jadinya krisis moneter.

Secara umum peningkatan laju pertumbuhan kesempatan kerja dapat

disimpulkan sebagai beriknt:

I . Masa pemulihan sebagai dampak krisis ekonomi menyebabkan penciptaan

kesempatan k e j a yang semakin membaik.

2 Penciptaan lapangan kerja bani sebagai antisipasi terliadap semakin terbilkanya

peluang berusaha karena te jadinya penibahan sosial dan politik seperti deregulasi

dan debirokratisasi pada sektor-sektor tertentu.

3. Iklim investasi dengan semakin membaiknya nilai tukar mata uang Rupiah

terliadap Dollar, menyebabkan para investor kembali ke Indonesia unhk secara

bertahap membuka usaha sehingga memperbesar penciptaan lapangan ke j a .

4. Peningkatan dalam penyerapan sektor pertanian dan jasa tenaga kerja dapat

diasumsikan telah beralih profesi ke sektor yang dianggap masih kondusif dan

mempunyai peluang perluasan kesempatan kerja setelah sebelumnya bekeja di

sektor industri dan sektor lainnya, walaupun tingkat produktivitas kedua sektor

tersebut masih c i ~ k i ~ p rendah dibandingkan dengan sektor illdushi.

5. Sulitnya perluasan kesempatan kerja sektor formal mengakibatkan perlunya

penataan sektor informal untuk menyerap tenaga kerja yang tidak tertampung di

sektor modem.

Berdasarkan hal-lial yang diuraikan di atas maka dalam penelitian ini

(37)

1 . Bagaimana perkembangan angkatan ke j a sektor tersier di Jawa Barat.

2. Bagaimana produktivitas tenaga kerja sektor tersier di Jawa Barat.

3. Bagaimana penyerapan tenaga ke j a pada sektor tersier di Jawa Barat

4. Bagaimana tingkat upah riil di Jawa Barat.

5. Bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap keragaan tenaga kerja pada

sektor tersier dan pendapatan daerah di Jawa Barat.

1.3. Tujuail d s n Kegunaan Penelitian

Secara ulnum, tujuan clan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana

peranan sektor tersier dalam penyerapan tenaga kerja dan pendapatan daerah di

propinsi Jawa Barat. Tetapi secara lebih rinci penelitian ini bertujuan untuk

menganalisis perkembangan angkatan ke ja , produktivitas tenaga keja, penyerapan

tenaga kerja, tingkat upah riil tenaga kerja, clan dampak kebijakan pemerintah yaitu

kebijakan peningkatan Upah Minimum Regional Sektoral, peningkatan investasi dan

peningkatan konsumsi kalori terhadap keragaan tenaga kerja pada sektor tersier dan

pendapatan daerah di Jawa Barat.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pemerintah

daerah Jawa Barat mengenai keadaan angkatan kerja dan kesempatan kerja. Sehingga

dapat menjadi acilan dalam pengambilan keputusan untuk menyusun kebijakan-

kebijakan yang dapat menunjang pembangunan daerah Jawa Barat ten~tama

kebijakan di bidang ketenagake rjaan, khususnya mengenai perluasan dan pemerataan

(38)

11.

PERANAN SEKTOR TERSIER DALAM PEREKONOMIAN

2.1. Peranan Sektor Tersier dalam Perekonomian Indonesia

Pembangunan perekonomian yang tangguh sangat erat kaitannya dengan

petnbangunan sektor tersier yang andal. Sektor tersier terdiri atas empat sektor, yaihl

sektor perdagangan, sektor pengangkutan dan kotnunikasi, sektor keuangan,

persewaan dan jasa penlsahaan dan sektor jasa lainnya. Keempat sektor ini

memegang peranan yang sangat penting dalam perekonomian. Sektor perdagangan

merupakan jembatan penghubttng antara prodnsen dan konsumen. Sedangkan

pendistribusian hasil produksi tidak lepas dari peranan sektor penganykutan. Sektor

keuangan sangat dibutuhkan dala~n pemodalan dunia usaha. Sementara sektor jasa

lainnya juga tidak dapat diabaikan peranannya dalam menciptakan perekonomian

yang sellat.

Peranan sektor tersier terhadap Produk Domestik Bmto pada tahun 1999

sebesar 37.73 persen. ini berarti lebih tinggi dari tahun 1998 yang hanya sebesar

37.07 persen. Namun bila dibanhngkan dengan tahun 1996 dan 1997, peranan sektor

tersier pada tahon 1999 terlihat menurun. Pada tahun 1996 kontribusi sektor tersier

mencapai 39.87 persen, sedangkan pada tahun 1997 konhibusinya sebesar 39.58

persen.

Selatna periode 1996-1 999, diantara sektor-sektor lain yang tercaki~p dalam

sektor tersier, kontribusi sektor perdagangan mendolninasi nilai tambah sektor tersier

terhadap Produk Domestik Bruto, yaitn sekitar 16 persen. Sektor yang berperan

(39)

kontribusinya pada tahun 1999 sebesar 16.51 persen

,

tnrun dari 16.67 persen pada

tahun 1998. Namun dibandingkan dengan tahi~n 1996 dan 1997, kontribusi sektor

perdagangan meningkat.

Sektor jasa-jasa merupakan penqumbang kedua terbesar setelah sektor

perdagangan dengan konhibusi sebesar 8.89 persen pada tahun 1999. Bila

dibandingkan dengan tallun sebelumnya sumbangan ini menunjukkan adanya

peningkatan. Pada tahun 1998 sektor ini hanya mampu memberikan kontribusi

sebesar 8.23 persen. kontribusi sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan

sebagai sektor finansial pada tahun 1998 dan 1999 turun jika dibandingkan dengan

kontribusi pada tahun 1996 dan 1997. sementara sektor pengangkutan dan

komunikasi sebagai sektor yang mendukung aktivitas sektor riil, sampai dengan

tahun 1998 kontribusinya turun dari 6.56 persen pada tahun 1996 menjadi 5.1 8 persen

pada tahun 1998. Namun, pada tahun 1999 kontribusi sektor pengangkutan dan

komunikasi meningkat menjadi 5.97 persen.

Badai krisis moneter yang kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi

yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997, masih terlihat dampaknya

hingga saat ini. Hampir semtua

sesekt

ekonomi masih beltnn dapat berjalan seperti

sedia kala, ter~nasuk sektor tersier. Hal ini terlihat dari pertumbuhan sektor tersier

pada tahun 1998 menunji~kkan perhumbuhan negatif yaitu sebesar -16.52 persen.

Penurunan tertinggi pada tahun 1998 terjadi pada sektor keuangan, persewaan dan

jasa perusahaan. Sektor ini mengalami penunman sebesar 26.67 persen. Penumnan

yang ci~kup besar ini lebih dikarenakan terjadinya penunman dari sub sektor

perbankan sebesar 37.90 persen. Sektor perbankan memang merupakan sektor yang

(40)

lalu. Walaupun telah banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah untt~k melakt~kan

restrukturisasi perbankan, tetapi ternyata masih belum mampu mengembalikan agar

sektor ini kembali berjalan dengan normal.

Sektor perdagangan pada tahun 1998 menurun drastis, dengan pertumbuhan

-1 8.05 persen . Penurunan ini disebabkan mentuimnya sub sektor perdagangan besar dan eceran sebesar -18.48 persen demikian juga dengan sub sektor hotel yang turut

berperan dalam penurunan nilai tambah sektor perdagangan, pertumbuhan sub sek~or

ini sebesar -1 8.02 persen. Penumnan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia

diduga berpenganih terhadap penurunan nilai tambah sub sektor hotel.

Sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun 1998 mengalami penurunan

15.13 persen. penurunan ini hanya terjadi pada subsektor pengangkutan, sedangkan

subsektor kornimikasi justru mengalami peningkatan. Penurunan sebesar 1.10 persen

dialami oleh sektor perdagangan.

Satit-sahmya sektor tersier yang mengalami peniuilnan terendah adalah sektor

jasa-jasa. Pada tahun 1998 sektor jasa - jasa mengalami perti~mbuhan -3.15 persen,

dimana sub sektor pemerintahan umum tumbuh sebesar -7.32 persen dan sub sektor

swasta tumbuh sebesar -9.19 persen.

Walaupun perekonomian Indonesia pada tahun 1999 belum pulih seperti sedia

kala, tetapi tanda-tanda ke arah perbaikan sudah mulai nampak. Hal ini dapat dilihat

dari membaiknya laju pertumbuhan seluruh sektor termasuk sektor tersier. Sektor jasa

berhasil mencatat pertumbuhan 2.82 persen. sektor-sektor lainnya walaupun masih

(41)

Tabel 3. Pertumbuhan Sektor Tersier Indonesia Atas Dasar Harga Berlaku 1996- 1999

( % )

SektorISub sektor 1999

I 1 I

Pe-buhan

I . Perdagangan

1.2. Hotel 1.3. ilestoran

1

1998

(

1999

2. Angkutan dan Komunikasi 2.1. Pengangkutan 2.2. Komunikasi

3.Keuangan3Penewaan dan JasaPerusahaan

I I

,

\ I 1

4.1.1 .Adm.Pemerintahan dan pertahanan

1

4.26

1

3.66

/

2.84

1

3.48

1

-4.48

1

0.89 1. I .Perdagangan besar dan eceran

1

13.03

1

12.35 1 13.24

1

12.68 / -18.48

1

-1.81

16.36

0.61 2.72

3.1. Bank

3.2. Lembaga Keuangan tanpa Bank 3.3. Iasa Penunjang Keuangan 3.4. Sewa Bangunan

3.5. Jasa Pe~sahaan 4. Jasa-Jasa

6.56 5.49 1.07 8.26

15.86 16.67

~ ~~

0.62

i

0.54 2.89

i

2.90

3.33 0.72 0 0 6 2.56

1.59 8.69

,

I

I I I 8 I I

Sumber: BPS (1999)

6.14

i

518 5.02) 4.17 1 . 1 2 ; 1.01 8.66

1

6.98

4.1.2. Jasa Pemerintahan lain

Catatan : Pertu~nbuhan dihitung berdasarkan harga konstan 1993, dihitung berdasarkan rumus pertumbuhan

16.51

o

56 3.26

4.3. Sosial Kemasyarakatan 4.4. Hiburan dan Rekreasi

- ~~~

4.5. Perorangan dan Rumah tangga Jumlah Tersier

Pn - 1'0

yaitu: ~ 1 0 0 %

Po

5.97 4.68 129 6.36 3.23 1 2.58 0.72

/

0.55

4.2. Swasta

1

3.11

1

3.80

/

4.17

1

3.76

1

3.73

1

4.54 1.33

0.66

1

0.61 0.22

1

0.19

I 2.91

1

3.34 39.58 137.07 0.64

0.20 2.27 39.87

di~nana Pn = tahun 1998 & 1999

Po = tahun 1993

-18.05 ~ -8.91 2.15 - 0.55 0.05 2.19 1.42 8.89 0.06 2.82 -1.10

--

-- 3.17 -15.13 -19.94 4.83 -26.63

, 0.05

2.31

1.45

-18.02

/

1.31 4 . 7 2 - -3.43 7.88 -8.67 -37.90 -17.21 -26.65 -19.87 -16.73 -3.15 1.82

i

1.50

I 8.92

/

8.23

5.21 -1.92 4.77 -1.49 I -17.34 - 0.25 3.42 -6.01 -2.72 2.82 1.22 0.61 0.17 . 2.98 37.73 -9.19 -12.58 ~ 8.24 -16.25

[image:41.582.74.500.93.593.2]
(42)

2.2. Peranan Sektor Tersier Dalam Perekonomian Jawa Barat

Dalam mendukung terwujudnya s h k t u r ekonomi yang semakin seimbang

dan kokoh antara sektor industi maju

dan

sektor pertanian tangguh, peran serta sektor tersier yang terdiri dari sektor perdagangan, hotel dan restoran, angkutan dan

komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa pentsahaan, serta sektor jasa-jasa. Hal

tersebut diperlukan sebagai penunjang sektor primer dan sekunder.

Keteriibatan sektor perdagangan dalam dinamika perekonomian secara

langsung erat kaitannya dengan beberapa sektor. Untuk pendistribusian dan

pemasaran hasil produksi sektor primer dan sekunder dibutuhkan peranan sektor

angkutan dan komunikasi guna memperlancar terjadinya transaksi. Disisi lain,

peranan sektor keuangan juga sangat diharapkan mengingat kebutuhan uang sebagai

dana dalam proses prodt~ksi sektor primer dan sekunder. Tentunya subsektor

pemerintahan dan pertahanan, yang tergabung dalam sektor jasa-jasa, juga tidak dapat

diabaikan sebagai penunjang dalam mewujudkan struktur ekonomi yang kokoh,

misalnya unti~k menciptakan lingkungan perdagangan yang sehat.

Karena itu peran sektor tersier sangat diharapkan dapat meningkatkan nilai

tambah bruto dari sektor-sektor lain. Sehingga sumbangannya dapat meningkatkan

pendapatan nasional lnaupun regional, dan sekaligus diharapkan dapat menambah

penerimaan masyarakat yang bergerak dalam proses prodi~ksi pada masing-masing

sektor.

Peranan sektor perdagangan sedikit berfluktuasi, namun masih cukup tinggi

dibanding sektor-sektor lainnya. Pada tahun 1998, sebanyak 59.04 persen distribusi

(43)

masih menjadi motor penggerak dari sektor tersier ini dalam andilnya terhadap

Produk Domestik Regional Bruto. Dari 59.04 persen peranan sektor tersier dalam

Produk Domestik Regional Bruto tersebut 18.79 persen berasal dari sektor

perdagangan. Hal ini dapat disebabkan karena sektor perdagangan memiliki investasi

yang cukup besar sehingga lebih mudah umtuk dikembangkan. Sebagian besar

sumbangan sektor perdagangan ini diberikan oleh sub sektor perdagangan besar dan

eceran yaitu 14.69 persen. Sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan andil

3.88 persen, sektor bank dan lembaga keuangan dan sewa bangunan masing-masing

sebesar 1.88 persen dan 1.92 persen. Sedangkan sektor pemerintahan dan keamanan

seita jasa-jasa mempunyai peran 4.39 persen dan 7.81 persen.

Tahun 1999, sumbangan sektor tersier secara total terhadap Produk Domestik

Regional Bruto meningkat menjadi 67.41 persen. Penumnan nampak pada sektor

hotel dan restoran yaitu menjadi 0.1 1 persen. Meskip~m di daerah Jawa Barat banyak

memiliki tempat pariwisata. yang cukup banyak (termasuk didalamnya hotel dan

restoran), namun krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tah~m 1997 tidak

hanya dirasakan di Indonesia tetapi juga dinegara-negara lain, sehingga turis lokal

maupun domestk yang datang menurun jumlahnya. Sektor perdagangan meningkat

menjadi 16.19 persen. sektor pengangkutan dan komunikasi juga mengalami

kenaikan menjadi 5.62 persen

.

Sektor Bank dan Lembaga keuangan menurun

menjadi 0.08 persen, sedangkan untuk sewa bangunan meningkat sebesar 0.63 persen

(44)

Tabel 4. Sumbangan Sektor Tersier di Jawa Barat Terhadap Produk Domestik Rruto atas dasar harga berlaku 1993

Sumber: BPS (2000)

Dari Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2000, sumbangan sektor

tersier terhadap Produk Domestik Regional Bn~to meningkat sebesar 1.57 persen

sehingga menjadi 68.98 persen. Sumbang* sektor tersier ini masih didominasi oleh

sektor perdagangan yang meliputi perdagmgan besar dan eceran, serta hotel d m

restoran. Sumbangan dari sektor perdagangan besar dan eceran mengalami penurunan

sebesar 0.67 persen, tetapi sumbangan sektor hotel dan restoran meningkat cukup

signifikan yaih~ sebesar 3.8 persen. Selanjutnya diikuti oleh sektor jasa-jasa yang

[image:44.576.84.497.118.310.2]
(45)

111. KEBIJAKAN PEMERINTAH DI PASAR TENAGA KERJA

Kebijakan dan program pembangunan pada hakekatnya berttljuan untnk

melindungi kehidupan pekerja yang memil~ki posisi lemah di pasar kerja. Situasi ini

juga berkaitan dengan pasar kerja sendiri yang cenderung bersifat labor surplus,

sehingga pekerja tidak memiliki kekuatan tawar menawar di pasar kerja.

Kebijakan ketenagakejaan khususnya bidang pengupahan diarahkan pada

sistem pembayaran upah secara keselumhan, tetapi tldak termasuk uang lembur.

Sistem ini didasarkan atas presentasi seorang pekeja dan tidak dipengamhi oleh

tunjangan-tunjangan yang tidak berhubungan dengan bentuk uang, namun tidak

mengurangi kemungkinan pemberian sebagian upah dalam bentuk barang yang

jumlahnya dibatasi.

Upah tidak dibayar bila pekeja tidak melakukan pekerjaan. Ketentuan ini

mempakan suah azas yang pada dasarnya berlaku terhadap semua golongan pekerja,

kecuali bila peke rja yang bersangkutan tidak dapat bekerja disebabkan bukan karena

kesalahan pekeja tersebut (Safrida, 1999)

Pada prinsipnya, kebijaksanaan pengupahan dapat dibedakan menjadi dua

bagian, yaito:

a. Kebijakan umum

I . Dalam melaksanakan kebijaksanaannya, pemerintah memandang upah pekeja

(46)

biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar agar dapat hidup layak bersama

keluargany a.

2. Tingkat upah yang sangat rendah secara bertahap harus segera ditingkatkan,

sehingga minimal sama dengan nilai kebutuhan dasar hidup minimum.

3. Sektor produksi barang dan jasa yang bersifat strategis dan vital di masing-

masing daeral~ yang inempekerjakan pekeja dengan tingkat upah yang sangat

rendah atau dibawah kelayakan perlu segera diadakan penetapan-penetapan upah

minimuinnya.

4. Peningkatan kesejahteraan tidak saja diberikan melalui peningkatan upah akan

tetapi dengan penyelenggaraan program-program jaminan sosial misalnya

pengobatan, perurnahan, dana pensiunan dan upaya-npaya lainnya seperti

penilaian peningkatan produktivitas melalui peningkatan keterampilan.

5. Usaha peningkatan upah harus sejalan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi

nasional, perkembangan pen~sahaan dengan pertimbangan-pertimbangan pada

segi sosial, ekonomi dan perluasan kesempatan kerja.

b. Kebijakan Khusus

1. Upah minimum mencakup upah pokok ditarnbah tunjangan tetap.

2 . Kebijaksanaan upah minimum wajib unttuk dilaksanakan oleh setiap pen~sahaan.

3 . Bagi perusahaan yang belum mampu tnelaksanakan kebijaksanaan upah

minimum, dimungkinkan untuk mengajukan pelaksanaannya kepada Menteri

Tenaga Kerja untuk berlaku tnaksi~nu~n 12 bulan.

4. Kebijaksanaan upah minimum hams ditinjau sekurang-ku~angnya sekali dalam

(47)

3.1. Kebijakan Upah Minimum Regional Sektoral

Menurut kamus ekonomi, upah didefinisikan sebagai harga yang dibayar untuk

mereka yang menyelenggarakan jasa-jasa, biasanya dibayar per jam, perhari, per

minggu atau per bulan. Dalam ilmu ekonomi semua jenis kompensasi untuk jasa-jasa

men~pakan upah (Winardi, 1996).

Peraturan pemerintah No.8 tahun 1981 tentang perlindungan upah dalam pasal 1

dan undang-undang No.3 tahun 1992 Jaminan Sosial Tenaga Kerja, pasal 1 angka 5,

disebutkan sebagai berikut: Upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari

pengusaha kepada buruh untuk suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha

kepada buruh untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilak~dcan,

dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan dalam suatu persetujuan

atau peraturan perundang-undangan dan dibayarkan atas dasar suatu persetujuan atau

peraturan perundangan dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara

pengusaha dengan buruh, termasilk timjangan baik i~ntilk bunlh sendiri maupiln

keluarganya.

Sistem pengupahan merupakan kerangka bagaimana upah diatur dan ditetapkan.

Sistem pengupahan di Indonesia pada umurnnya didasarkan kepada tiga fungsi upah,

yaitu:

1 . Menjamin kehidupan yang layak bagi pekerja dan keluarganya

2. Mencenninkan imbalan atas hasil kerja seseorang, dan

3. Menyediakan insentif untuk mendorong peningkatan produktivitas kerja

Ketidaksempurnaan pasar kerja di Indonesia, dimana labor slrrpltts terjadi di

(48)

sehingga pekerja tetap memperoleh upah yang mencukupi kehidupan pekerja dan

keluarganya secara wajar. Pemerintah telah mengembangkan sistem pengupahan

yaitu upah minimum. Sebagaimana telah diattlr dalam PP No.811981, upah minimum

merupakan upah yang ditetapkan secara minimum regional, sektoral regional maupun

sub sektoral. Dalam ha1 ini upah minimum adalah npah pokok dan tunjangan. Jumlah

upah minimum hams dapat memenuhi kebutuhan hidup pekerja secara minimal yaitu

kebutuhan untuk pangan, sandang, kebutuhan mmah tangga dan kebutuhan dasar

lainnya. Di Indonesia ketentuan upah minimnmtelah dimillai sejak tahun 1956.

Selanjutnya berdasarkan keputusan Presiden No.5811969, dibentuk Dewan ~dnelitian

Pengupahan Nasional (DPPN), dengan anggota mewakili Departemen Tenaga Ke j a ,

Departemen Keuangan, Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan,

Departemen Pertanian, Departemen Perhitbungan, Departemen Pertambangan,

Departemen Dalam Negeri, Departemen Pekerjaan Umum, Bank Sentral, Badan

Perencanaan Pembangunan Nasional, Universitas, Serikat pekerja dan Organisasi

Pengusaha (Simanjnntak, 1998).

Masalah pengupahan yang dihadapi saat ini adalah mengenai keanekaragaman

cara pengupahan dan tingkat upah yang rendah. Keanekaragaman cara pengupahan

berbeda antar daerah, antar sektor, antar pemsahaan bahkan di dalam pemsahaan itu

sendiri. Upah yang terlalu rendah tidak dapat dipertanggungjawabkan dari segi moral

maupun dari segi kemanusiaan. Oleh karena itu, pemerintah berkepentingan untuk

melindungi pekerja dengan mengambil kebijakan penentuan upah minimum yang

diarahkan unttlk dapat ~nemenuhi kebutuhan fisik minimum pekerja dan keluarganya.

(49)

dengan meningkatkan Upah minimum Regional (UMR). Menurut Menteri Tenaga

Kerja RI No.Per.O1/Med1996, Upah Minimum Regional adalah upah pokok terendah

termasuk tunjangan tetap yang diterima oleh pekeja wilayah tertentu dalam satu

propinsi. Upah Minimum Regional bukan merupakan upah standar, tetapi merupakan

jaring pengaman (safily net) agar tidak terjadi pembayaran upah yang semakin menurun karena ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja.

Upah Minimum juga merupakan cara untuk meningkatkan

tvaf

hidup golongan penerima upah terendah dan merupakan cara untuk meilgurangi kesenjangan upah

antara penerima upah terendah dan penerima upah tertinggi serta pendorong ke arah

disiplin dan produktivitas ke j a .

Krisis ekonomi menuntut terjadinya reformasi &lam ketenagakejaan.

Reformasi ketenagakerjaan tersebut dilaksanakan dibidang pengupahan dengan

paradigma bahwa upah minimum sama dengan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Beberapa pendekatan yang dilakukan antara lain:

1. Perubahan pendekatan dari clasiccal approach menjadi institutional economy

approach.

2. Penerapan Upah Minimum harus menuju sekurang-kurangnya sama dengan Kebutuhan Hidup Minimum untuk mempertahankan dan mendorong naiknya

produktivitas kerja, khususnya penerima upah rendah.

3. Peningkatan produktivitas berkelanjutan untuk meningkatkan upah dan

kesejahteraan pekerja.

4 . Pendekatan upah dipertajam bukan hanya sebagai komponen biaya, tetapi jugs

(50)

3.2. Kebijakan Peningkatan G u i dan Kesehatan

Perbaikan gizi dm kesehatan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kerja. Oleh sebab itu investasi yang dilaksanakan untuk perbaikan gizi dan kesehatan

dapat dipandaag sebagai salah satu aspek human capital. Perbaikan dan peningkatan

di bidang kesehatan masyarakat biasanya menjadi tanggung jawab utama pemerintah.

Akan tetapi penyediaan fasilitas kesehatan seperti itu selalu terbatas karena

terbatasnya dana pemerintah. Oleh sebab itu usaha perbaikan kesehatan memerlukan

pengerahan dana masyarakat terutama partisipasi pengusaha. Demikian pula buat

negara seperti Indonesia sekarang ini, usaha perbalkan gizi tidak mungkin dibebankan

seluruhnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Cara yang lebih praktis untuk

perbaikan gizi para karyawan di pernsahaan adalab dengan memperbaiki sistem

pengupahan mereka supaya cukup memenuhi kebutuhan gizi minimum.

Rendahnya tingkat gizi dan kesehatan disebabkan oleh rendahnya tingkat

penghasilan. Rendalxnya tingkat penghasilan tercennin dalam tingkat pengeluaran

keluarga yang rendah dan tingkat upah yang rendah.

Pengalaman menunjukkan bahwa perbaikan tingkat hidup temyata

menghasilkan perbaikan kualitas sumberdaya manusia. Perbaikan kualitas ini

kemudian meningkatkan produktivitas kerja seseorang yang selanjutnya

meningkatkan tingkat hidupnya. Yang seringkali dianggap sebagai lingkaran dilema

adalah bahwa produktivitas kerja rendah karena penghasilan yang rendah. Sebaliknya

penghasilan rendah karena produktivitas kerja rendah.

lmplikasi dari penerapan teori human capital di bidang perbaikan gizi dan

(51)

dapat dilakukan dalam rangka memerangi kemiskinan ini baik dalam skala

internasional, nasional, maupun di tingkat perusahaan sendiri.

Di tingkat internasional perlu dikembangkan sistem perdagangan yang saling

mengunhmgkan antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin &i samping

pemberian bantuan secara langsung dari negara kaya ke negara-negara miskin. Di

tingkat nasional dapat dilakukan usaha-usaha pembangunan yang dikaitkan dengan

jaminan kesempatan kerja bagi setiap warga negara yang ingin dan mampu bekeja

disertai dengan pembentukan jaminan sosial secara nasional. Di tingkat perusahaan,

perbaikan tingkat hidup dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja,

sistem pengupahan dan jaminan sosiai, perbaikan kesehatan dan keselamatan kerja

dan lain-lain.

Salah satu usaha pemerintah untuk menyelamatkan clan memulihkan

kelompok rentan di masyarakat, dengan harapan agar masyarakat mampu melewati

masa transisi menuju tatanan kehidupan yang lebih baik adalah dengan mengeluarkan

kebijakan ekonomi berupa Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang meliputi pemeni~han

kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan dan kesempatan kerja.

Kegiatan Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK) dimullai sejak . .

tahun 1998. Kegiatan pelayanan dikelola oleh Departemen Kesehatan yang meliputi

kegiatan pelayanan langsung dan penunjang kegiatan pelayanan langsung meliputi:

1. Pelayanan kesehatan dasar berupa pengobatan bagi semua anggota keluarga

miskin yang sakit, pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi ibu dan anak,

pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan,

(52)

dan pemberian nljukan untuk kasus tertentu dari F'usat Kesehatan Masyarakat ke

rumah sakit kabupatenlkota.

2. Pelayanan kebidanan (antenatalkehamilan, pertolongan persalinan, nifas,

penanganan gawat damrat dan rujukannya ke nlmah sakit kabupatenkota)

3. Pelayanan perbaikan gizi

4. Pencegahan dan pemberantasan penyakit mennlar

5. Pelayanan mjukan di rumah sakit umum kabupatenlkota.

Sedangkan kegiatan penunjang meliputi:

1. Pemantapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKE'G)

2. Revitalisasi posyandr~

3. Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat

4. Sosialisasi dan penyuluhan kesehatan masyarakat

5. Pelatihan tenaga kesehatan dan pemantauan program

Untuk mendukungnya disediakan pnla bantuan operasional dan pemeliharaan

rumah sakit / OPRS daerah sebagai bagian untuk peningkatan pelayanan kesehatan

masyarakat. Secara umum sasaran program adalah keluarga miskin, yang ditetapkan

oleh Tim desa. Secara khusus, berdasarkan target masing-masing kegiatan, kelompok

sasarannya adalah:

I . Anggota keluarga miskin untuk pelayanan kesehatan dasar dan mjukannya.

(53)

3.3. Perbaikan Tingkat Pendidikan dan Pelatihan

Tingkat pendidikan dengan produktivitas kerja dapat tercennin dalam tingkat

penghasilan. Pendidikan yang lebih tinggi mengakibatkan produktivitas kerja yang

lebih tinggi dan oleh sebab itu memungkinkan penghasilan yang lebih tinggi juga.

Memang perbedaan tingkat pendapatan tidak saja disebabkan oleh karena tingginya

tingkat pendidlkan, tetapi juga ditentukan oleh beberapa faktor lain seperti

pengalaman kerja, keahlian, sektor usaha, jenis usaha, lokasi dan lain-lain. Dari data

Badan Pusat Statistik tahun 1995, menunjukkan bahwa :

1. Penghasilan pekerja, laki-laki dan perempuan, di kota dan di desa, meningkat

sesuai dengan tingkat pendidikan.

2. Penghasilan pekerja laki-laki lebih tinggi daripada penghasilan perempian

3. Penghasilan di kota lebih tinggi daci pada penghasilan di desa

Pelatihan merupakan salah satu aspek human capital. Pelatihan dapat dilakukan

di &lam maupun di luar pekejaan. Pelatihan yang dilakukan di luar pekejaan

umumnya bersifat formal. Pelatihan yang dilakukan di luar pekejaan dimaksudkan

untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja baik secara horizontal maupun secara

vertikal. Peningkatan secara horizontal berarti memperdalam pengetahnan mengenai

suatu bidang tertentu. Bila pelatihan formal seperti itu betul-betul dikaitkan dengan

penggunaannya dalam pekerjaan sehari-hari maka dapat disimpulkan bahwa tingkat

produktivitas seseorang jnga berbanding lurus dengan jumlah dan lamanya latihan

(54)

Pelatihan di dalam pekejaan juga meningkatkan produktivitas kerja seseorang.

Dalam praktek pelatihan seperti itu biasanya diukur dalam bentuk pengalaman kerja.

Pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam

pengembangan sumberdaya manusia. Disatu pihak pendidikan dan pelatihan

meningkatkan produktivitas kerja, dipihak lain pendidikan dan latihan menipakan

indikator tingkat kemiskinan.

Prospek pendidikan angkatan kerja untuk tahun-tahun yang akan datang sangat

tergantung dari keadaan pendidikan sekarang ini. Sluvey Angkatan Kerja tahi~n 1978

menunjukkan bahwa 26.87 juta penduduk berumur 10 tahun keatas atau lebih atau

28.56 persen tergolong buta h u n ~ f disamping 38.39 juta atau 40.85 persen yang

belum tamat Sekolah Dasar. Sensus penduduk tahun 1980 juga menunjukkan bahwa

3.9 juta atau 15.24 persen penduduk dalam kelompok umur 7-12 tahun tidak

bersekolah. Mereka ini termasuk angkatan kerja potensial yang sebagian sudah dalam

pasar kerja dan sebagian lagi sewaktu-waktu akan masuk pasar ke j a .

Angka-angka di atas menunjukkan bahwa dalam rangka pengembangan

sumberdaya manusia Indonesia, tugas dan tantangan besar terletak di hadapan kita

bukan saja menyangkut pendidikan formal akan tetapi juga pelatihan-pelatihan bagi

sejuml3h besar yang masih buta h u n ~ f dan berpendidikan rendah. Peningkatan

pendidikan dan pelatihan tersebut merupakan bentuk usaha yang sangat ampuh untuk

(55)

3.4. Program Perluasan Kesempatan Kerja

Krisis Ekonomi yang melanda Indonesia temyata berdampak sangat luas,

diantaranya adalah kualitas hidup masyarakat, ha1 ini terutama disebabkan oleh

berkurangnya pendapatan masyarakat sebagai akibat dari penurunan kesempatan

kerja. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah penganggur mencapai

5.1 juta jiwa, di perkotaan berkisar 2.1 juta jiwa. Dampak lainnya yzng terlihat adalah

menurunnya kondisi prasarana

dan

sarana lingkungan perumahan terutama pada

kawasan kumuwnelayan di perkotaan sebagai akibat menutunnya pendapatan

masyarakat dalam memelihara prasarana dan sarana lingkungannya.

Program padat karya dimunculkan sebagai salah satu solusi mengatasi persoalan

diatas. Pelaksanaan program padat karya dikembangkan untuk meningkatkan

pendapatan miskin juga dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan

kualitas dan atau kuantitas prasarana dan sarana lingkungan pen~mahan dan

pemukiman terutama di wilayah perkotaan. Pada tahap awal kegiatannya, program ini

herada di bawah koordinasi Departemen Pekerjaan Umum.

Program ini ditujukan untuk tenaga ke j a tidak terampil, tidak berpengalaman yang tidak bekerja dan sedang mencari kerja. Sehubungan dengan laisis ekonomi,

program ini ditujukan pada korban Pemutusan Hubungan Kerja dan pekerja wanita

yang mencari kerja untuk menambah atau mencuknpi pemenuhan kebutuhan hidup

sehari-hati khususnya untuk pengadaan pangan, pembiayaan untuk pendidikan dan

kesehatan serta kebutuhan sosial ekonominya. Sejalan dengan ha1 tersebut maka

(56)

1 . Menciptakan dukungan pendapatan segera kepada keluarga miskin dan

menciptakan kesempatan k e j a terutama pada skala kota yang sebanyak-

banyaknya.

2. Menyerap pencari kerja termasuk tenaga kerja wanita, yang tidak mempunyai keterampilan dalam waktu singkat dan jumlah yang besar

3. Meningkatkan pelayanan dan kualitas lingkungan melalui rehabilitasi sarana dan

prasarana khususnya penanganan daerah kumuh di wilayah perkotaan.

Kegiatan diutamakan untuk kegiatan-kegiatan rehabilitasi serta sebagian besar

untuk kegiatan pemeliharaan dan pengembangan yang diperlukan unh~k

meningkatkan fungsi pelayanan dan prasarana dan sarana lingkungan pen~mahan.

Lingkup kegiatan yang ditangani meliputi antara lain:

1. Prasarana dan sarana berskala kota seperti: jaringan drainase primer I sekunder,

jaringan jalan, persampahan dan lainnya.

2. Prasarana lingkungan, antara lain adalah jalan lingkungan, jalan setapak, jembatan kecil, gorong-gorong, air bersih dan sanitasi lingkungan.

3. Fasilitas umum meliputi antara lain stasiun bus, shelter, pasar, kios, taman kanak-

kanak, gardu jaga, balai karya, posyandu, kantor kelwahan ataupun kantor Rukun

Warga.

4. Fasilitas lingkungan perumahan nelayan 1 kumuh, rumah tinggal, ruang terbuka

(57)

IV. KERANGKA PEMIKIRAN

4.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

4.1.1. Penduduk, Tenaga Kerja dan Angkatan Kerja

Penduduk Indonesia termasuk keempat terbesar di dunia setelah Republik

Rakyat Cina (RRC), India clan Amerika Serikat. Penduduk Indonesia bertambah dari

118.4 juta pada tahun 1971 menjadi 146.8 juta pada tahun 1950 ,bertambah menjadi

179.2 juta orang pada tahun 1990, dan pada tahun 1995 menjadi 194.8 juta orang.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Penduduk dan Angkatan Kerja Indonesia 1961-2000

Sumbrr.

- SUPAS 1961,1971,1980 dan 1990

- SAKERNAS 1976.1985.1995

Sejalan dengan pertumbuhan penduduk tersebut, tenaga k e j a dan angkatan

kerja juga meningkat. Tenaga kerja bertambah dari 104.4 juta dalam tahun 1980

[image:57.585.73.500.322.648.2]
(58)

Dengan demikian jelas bahwa semakin besar jumlah penduduk semakin besar pula

penyediaan tenaga kerja dan angkatan kerja. Penduduk Indonesia termasuk dalam

golongan struktur umur muda. Artinya hanya sebagian kecil penduduk yang produktif

dapat menghasilkan barang dan jasa, sedangkan sebagian besar penduduk berada

dalam kelompok umur yang membutrtuhkan pelayanan. Pada kelompok umor 5 - 19

tahun atau usia sekolah terdapat 52.8 juta atau 37.5 persen. Sebagian besar mereka

membutuhkan fasilitas pendudt~k. Dalam kelompok umur 20 - 29 tahun terdapat 25.4

juta atau 17.1 persen, sebagian besar merupakan angkatan kerja yang barn masuk

pasar kerja dali ninuinnya beli~m memplmyai pengalaman kerja. Dari nraian tersebut

dapat disimpdkan baliwa hanya sebagian kecil penduduk yang produktif

menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan banyak orang. Tuntutan

akan penyediaan fasilitas kesehatan, pendidikan dan kesempatan kerja untuk tenaga

muda yang belum berpengalaman semakin besar.

Penduduk terbagi menjadi dua bagian yaitu penduduk usia kerja dan bilkan usia

kerja. Di lndonesia sainpai tahun 1998, dipilih batas usia 15 tahun tanpa batas usia

maksimum. Jadi tenaga kerja di Indonesia dimaksudkan sebagai penduduk yang

ben~sia 15 tahun atau lebih. Pemilihan 15 tahun sebagai hatas usia minimum

berdasarkan kenyataan bahwa pada osia tersebut sudah banyak penduduk yalg

bekerja.

Tenaga kerja atau manpower terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja atau laborforce terdin dari:

1 . Golongan yang bekerja

(59)

Kelompok bukan angkatan kerja terdiri dari:

1. Golongan sedang bersekolah

2. Golongan yang mengurus rumah tangga

3. Golongan lain-lain

Menurut Badan Pusat Statistik (1998), pengtlkluan golongan angkatan kerja

dan bukan angkatan k e j a didasarkan pada periode time refirence, yaih~ kegiatan

yang dilakukan selama seminggu yang lalu. Tenaga ke j a dalam golongan angkatan

kerja terdiri dari pendu~duk yang bekerja dan tidak bekerja tetapi sedang mencari

kerja. Tiap negara dapai memberikan pengertian dan definisi yang berbeda mengenai

dua ha1 diatas. Di Indonesia, bekeja didefinisikan sebagai kegiatan melakukan

pekerjaan dengan tujuan memperoleh nafkah atau membantu memperoleh natkah

paling sedikit satu jam secara tens menerus selama seminggu yang lalu. Kegiatan

bekerja ini mencakup, baik yang sedang bekerja mauptin yang memiliki pekejaan

tetapi dalam seminggu yang lalu sementara tidak aktif bekerja misalnya karena cuti,

sakit dan sejenisnya.

Sementara yang dimaksud dengan mencari pekerjaan adalah upaya yang

dilakukan untuk memperoleh pekerjaan pada suatu periode waktu (time reference).

Banyahya pencari kerja dibandingkan dengan banyaknya angkatan kerja adalah

merupakan indikator tinggi rendahnya tingkat pengangguran pada suato wilayah dan

waktu tertentu. Untuk dapat digolongkan sebagai penganggur , t i p kriteria hams

dipenuhi secara bersama-sama. Kriteria tersebut adalah: (1) tidak bekerja dan tidak

memptmyai pekerjaan , (2) bersedia menerima pekerjaan atau bersedia bekerja dan

(60)

Selanjutnya kelompok bukan angkatan kerja terdiri dari tiga golongan yaihl:

I . Golongan yang masih bersekolah, yaitu mereka yang kegiatan utamanya adalah

sekolah.

2. Golongan yang Inengurus rumah tangga, yaitu mereka yang mengurus rumah

tangga tanpa memperoleh upah.

3. Golongan lain-lain, yaitu:

a. Golongan penerima pendapatan, yaitu mereka yang tidak melakukan suatu

kegiatan ekonomi tetapi memperoleh pendapatan seperti tunjangan pensiun,

bunga atas simpanan atau sewa atas milik.

b. Golongan yang hidi~pnya tergantung dari orang lain misalnya karena lanjut

usia, cacat, dalam penjara atau sakit.

Pada dasarnya golongan yang tennasuk kelompok bukan angkatan kerja ini

sewaktu-waktu dapat masuk ke pasar kerja. Oleh sebab itu kelompok ini dapat juga

disebut juga sebagai angkatan k

Gambar

Tabel I. Perkembangan Tenaga kerja clan Sumbangan Sektoral terhadap hoduk
Tabel 2. Jumlah dan Proporsi Kesempatan Kerja Menurnt Lapangan Usaha di Jawa
Tabel 3. Pertumbuhan Sektor Tersier Indonesia Atas Dasar Harga Berlaku 1996-
Tabel 4. Sumbangan Sektor Tersier di Jawa Barat Terhadap Produk Domestik
+7

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum kebijakan di sektor pariwisata yang telah dikeluarkan pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi berhubungan positif dengan tingkat pendapatan dan penyerapan tenaga

etik refiad.p sehor lainnta schingga dapdt mcniadi an&lm dalan pcnggcEh p€numbuhan ekononi kcdhki.rn nada nclalan. input dalam perdkonomian Sumatera Bamq 2)

[r]

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan BAPPEDA yang tercantum dalam Strategi Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat, point 8 dari 15 point yang ada dalam kebijakan tersebut

Laju pertumbuhan PDRB Minahasa pada periode yang sama adalah 4,97%, dari angka-angka tersebut diperoleh nilai elastisitas tenaga kerja sektor pertanian Minahasa sebesar

Dari rumus diatas, apabila LQ > 1 berarti porsi lapangan kerja atau nilai tambah sektor i di wilayah analisis terhadap total lapangan kerja atau nilai tambah

Penelitian yang berjudul ”Peranan Sektor Industri Agro dalam Perekonomian Jawa Barat: Suatu Pendekatan Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE)” ini bertujuan untuk

Pada sektor industri agro, sektor industri makanan, minuman, dan tembakau memiliki peranan yang lebih besar dalam menciptakan efek multiplier pendapatan rumah