PERANAN TENAGA KERJA SEKTOR TERSlER
DALAM PEREKONOMIAN JAWA BARAT
Oleh
:OCTAVlA WULANDARI
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ABSTRAK
OCTAVIA WULANDARI. Peranan Tenaga Keja Sektor Tersier Terhadap Keragaan Ekonomi di Jawa Barat. Dibimbing oleh SJAFRI MANGKUPRAWIRA
sebagai Ketua, ANNY RATNAWATI dan RINA OKTAVlANI sebagai anggota komisi pembimbing.
Propinsi Jawa Barat memiliki jumlah penduduk tertinggi di Indonesia tercatat sebanyak 43 552 923 jiwa dengan jumlah angkatan keja sebesar 17 613 853 jiwa pada tahun 2000. Jumlah penduduk dan angkatan keja yang sedemikian besar ini dapat menjadi potensi yang dapat dikerahkan sebagai usaha produktif untuk menghasilkan barang dan jasa. Disisi lain, jumlah angkatan keja ini menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi apabila tidak ditunjang oleh ketersediaan kesempatan ke j a yang memadai sehingga tersediannya kesempatan k e j a yang besar sangat diperlukan
untuk
menginibangi banyaknya jurnlah penduduk yang mawk ke pasar keja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perkembangan tingkat produktivitas, tingkat penyerapar, tenaga kerja, dan tingkat upah riil tenaga keja sektor tersier di Jawa Barat. Serta untuk mengetahui bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap keragaan tenaga k e j a sektor tersier di Jawa Barat.Model keragaan pasar keja sektor tersier dan pendapatan daerah di Jawa Barat merupakan model persamaan imultan, yang menggunakan pooling data dari 20 kabupaten di Jawa Barat dalam rentang waktu 1998-1999. Pendugaan parameter menggunakan metode 2 SLS (Two Stage Least Square) dan pengolahan data menggunakan program komputer SASIETS version 6.12. Simulasi model dilakukan untuk mengetahui bagaimana kebijakan pemerintah dan perubahan faktor ekonomi yaitu peningkatan Upah M i m u m Regional Sektoral, peningkatan investasi, peningkatan konsumsi kalori, penurunan inflasi dan kombinasinya terhadap keragaan tenaga ke j a pada sektor tersier.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat upah riil sektoral merupakan faktor utama yang mempengaruhi keragaan tenaga keja sektor tersier dan pendapatan daerah di Jawa Barat, ha1 ini berkaitan dengan teriadinya labor surplus di w a r keria. Penyerapan tenga k e j a dipengaruhi oleh juklah knduduk produktif, tingk'at invest&
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang betjudul :
PERANAN TENAGA KERJA SEKTOR TERSIER DALAM
PEREKONOMlAN JAW A BARAT
adalah benar hasil karya saya sendiri dan belum pernah dipublikasikan. Semua
sumber data d m infonnasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas d m dapat
diperiksa kebenarannya.
Bogor, 28 Mei 2002
PERANAN TENAGA KERJA SEKTOR TERSIER
DALAM PEREKONOMIAN JAWA BARAT
OCTAVIA WULANDARI
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi llmu Ekonomi Pertanian
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Tesis : Peranan Tenaga Kerja Sektor Tersier Dalam Perekonomian Jawa Barat
Nama Mahasiswa : Octavia Wulandari
Nomor Pokok 99032
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian
Menyetujui, 1. Komisi Pembimhing
Dr;&ukza Ketua
Dr. Ir. Rina Oktaviani, MS Auggota
Dr. Ir. Annv Ratuawati, MS Anggota
Mengetahui,
2. Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian
&
Dr. Ir. Bonar M. Sinaga. MA
RTWAYAT HIDW
Penulis dilahirkan di Salatiga pada tanggal 21 Oktober 1976 dari pasangan
Bambang Yudo Yuwono clan Siti Nurhayati. Penulis merupakan putri pertama dari
tiga bersaudara.
Tahun 1994 Penulis menyelesaikan studi pada SMA Negeri 2 Manado dan pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan sarjana pada Program Studi Ilmu
Ekonomi Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian,
Uiliversitas Sam Ratulangi di Manado, Sulawesi Utara. Penulis memperoleh gelar
Sarjana Pertanian pada tahun 1998. Pada tahun 1999 penulis melanjutkan studi ke
jenjang S2 pada program studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Program Pascasarjana,
P R A K A T A
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat bimbingan dan Penyertaan-Nya jualah sehingga tesis ini berhasil di selesaikan. Penelitian ini berjudul "Peranan Tenaga Kerja Sektor Tersier Dalam Perekonomian Jawa Barat".
Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi llmu Ekonomi Pertanian, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Tesis ini merupakan suatu penelitian mengenai bagaimana peranan tenaga kerja sektor tersier di Propinsi Jawa Barat. Propinsi Jawa Barat dipilih karena berdasarkan data yang diperoleh
dari
hasil Survei Angkatan Kerja, Propinsi Jawa Barat memiliki tingkat migrasi masuk tertinggi di Indonesia. Sektor tersier dipilih dengan asumsi bahwa para migran tersebut dengan segala keterbatasan pendidikan dan keterampilannya akan lebih banyak tertampung di sektor tersier terutama pada sektor jasa yang dapat dikatakan sebagai key problem solution ketenagake rjaan.Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Ir. Sjafri Mangkuprawira selaku ketua komisi pembimbing atas bimbingan, saran, kritik, arahan serta perhatian kepada penulis mulai dari penyusunan usulan penelitian, pelaksanaan penelitian hingga penulisan tesis.
2. Dr.Ir. Anny Ratnawati, MS selaku anggota komisi pembimbing atas bimbingan, saran, kritik, arahan serta perhatian kepada penulis mulai
dari
penyusunan usulan penelitian, pelaksanaan penelitian hingga penulisan tesis.4. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA selaku ketua program studi Ilmu Ekonomi Pertanian yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu pada
program studi yang dipimpin.
5. Yang terhormat papa, Bambang Yudo Yuwono dan Mama, Siti Nurhayati ,
adikku Agung dan Arief yang telah banyak berkorban dan selalu dengan sabar
memberikan dorongan, bantuan dan doa sehingga penulis dapat meyelesaikan
tesis ini.
6. Ir. H. Mas Wiyoto, MBA dan Siti Wahyuni, SH serta Mbak Erma dan Mas
Bregas, Mas Gatot dan Mbak Frida yang telah memberikan doa dan bantuan biaya
pendidikan kepada penulis.
7. Rekan-rekan Pada Program Pascasarjana Insitut Pertanian Bogor Angkatan 99:
Mbak Rina, Mbak Letty, Fifi, Lia, Mbak Ernil, Mbak Lisa, Rasidin, uda Zul,
Zulkifli, Pak Azhar, Altian, atas segala perhatian, bantuan, persahabatan,
kesetiaan dan ke rjasama mulai dari awal masa perkuliahan, penyusunan proposal,
pelaksanaan penelitian dan penulisan tesis,
8. Sahabat terbaikku dalam suka dan duka Khres A. E. Senduk, STP dan H. Arief T. Nurgomo, STP atas persahabatan yang diberikan selama 10 tahun ini.
Akhirnya, harapan penulis semoga tesis ini dapat berguna bagi yang
membutuhkannya.
Bogor, Mei 2002
viii
DAFTAR IS1
Halaman
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR
GAMB
AR ... xiiiDAFTAR LAMPIRAN ...
xiv
I . PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 8
1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 12
I1 . PERAN AN SEKTOR TERSER DALAM PEREKONOMIAN ... 13
2.1. Peranan Sektor Tersier Dalam Perekonomian Indonesia ... 13
2.2. Peranan Sektor Tersier Dalam Perekonomian Jawa Barat .... 17
111
.
KEBIJAKAN PEMERINTAH Dl PASAR TENAGA KERJA .... 203.1. Kebijakan Upah Minimum Regional Sektoral ... 22
3.2. Kebijakan Peningkatan Gizi dan Kesehatan ... 25
3.3. Perbaikan Tingkat Pendidikan dan Pelatihan ... 28
3.4. Program Perluasan Kesempatan Ke j a ... 30
IV . KERANGKA PEMIKIRAN ... 32
4.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 32
... 4.1.1. Penduduk, Tenaga Keja dan Angkatan Ke j a 32 ... 4.1
.
2.Teori Permintaan Tenaga Ke rja 36 ... 4.1.3. Teori Penawaran Tenaga Kerja 42 ... 4.1.4. Keseimbangan dalam Pasar Tenaga Kerja 47 ..
. . 4.2. T~njauan Emp~ns ... 50... 4.3. Kerangka Pemikiran Penelitian 55 ... . V PERUMUSAN MODEL DAN PROSEDUR ANALISIS 57 5.1. Perumusan Model ... 57
5.1.1. Angkatan Keja ... 57
.... 5.1.2. Tingkat Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Tersier 60 .
.
5.1.3. Upah RIII ... 635.1.5. Pendapatan Daerah ...
5.2. Prosedur Analisis ...
5.2.1. Identifikasi Model ... 5.2.2. Metode Pendugaan Model ...
5.2.3. Validasi Model ...
...
5.1.4. Simulasi Model
...
5.3. Definisi Operasional Variabel
...
5.4. Jenis dan Surnber Data
Vl
. KERAGAAN TENAGA KERJA SERTOR TERSIER DAN PENDAPATAN DAERAH DI JAWA BARAT ...... 6.1. Keragaan Umum Model Dugaan
6.2. Keragaan Model Tenaga Keja Sektor Tersier dan ... Pendapatan Daerah di Jawa Barat
6.2.1. Angkatan Keja ...
... 6.2.2. Penyerapan Tenaga Keja Sektor Tersier
...
6.2.3. Upah nil Tenaga Ke j a Sektor Tersier
... 6.2.4. Produktivitas TenagaKe j a Sektor Tersier
6.2.5. Pendapatan Daerah ...
V11 . DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KERAGAAN PASAR KERJA SEKTOR TERSIER DAN
... PENDAPATAN DAERAH Dl JAWA BARAT
7.1. Hasil Validasi Model ... 7.2. Peningkatan Upah Minimum Regional Sektoral Sebesar 25
Persen ...
7.3. Peningkatan Investasi Sektoral Sebesar 20 Persen
...
7.4. Peningkatan Konsumsi Kalori Sebesar 20 Persin ._ 7.5. Kombinasi Kebijakan Peningkatan upah Minimum
Regional Sektoral 25 Persen dan Investasi Sektoral 20 ... Persen
7.6. Kombinasi Peningkatan UMRS, Investasi dan Konsumsi
...
VIII . KESIMPULAN DAN SARAN ... 110
8.1. Kesimpulan ... 110
8.2. Saran ... 112
8.2.1 .Saran Kebijakan ... 112
8.2.2.Saran Penelitian Lanjutan ... 112
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Perkembangan Tenaga Kerja dan Sumbangan Sektoral Terhadap Produk Domestik Regional Bruto di Jawa Barat Tahun 1999-2000 ... 2. Jumlah dan Proporsi Kesempatan Kerja Menurut Lapangan
Usaha Tahun 1999-2000.. ...
3. Pertumbuhan Sektor Tersier Indonesia Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 1996-1999 ... 4. Sumbangan Sektor Tersier di Jawa Barat terhadap Produk
Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 1999 - 2000 ... 5. Penduduk dan Angkatan Indonesia Tahun 196 1-2000
6. Definisi Variabel, Satuan Pengukuran . . dan Sumber Data Penelihan.. ...
7. Hasil Pendugaan Parameter Model Keragaan Pasar Kerja
...
Sektor Tersier dan Pendapatan Daerah di Jawa Barat..
...
8. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Angkatan Kerja..
9. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Penyerapan Tenaga Kerja.. ... 10. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Upah Riil Sektoral
11. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Produktivitas Tenaga Kerja ...
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
12. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Pendapatan Daerah di Jawa Barat ... 13. Hasil Validasi Model Keragaan Pasar Kerja Sektor Tersier
... dan Pendapatan Daerah di Jawa Barat..
14. Upah Minimum Regional dan Kebutuhan Fisik Minimum Pekerja Lajang 1 Kebutuhan Hidup Minimuin Pekerja Lajang ... 15. Dampak Kebijakan Peningkatan Upah Minimum Regional
16. Dampak Kebijakan Peningkatan Investasi Sektoral sebesar 20
Persen.. ... 103
17. Dampak Kebijakan Peningkatan Konsumsi Kalori sebesar 20
Persen.. ... 105
18. Dampak Kombinasi Kebijakan Peningkatan Upah
Minimum
Regional Sektoral 25 Persen dan Investasi Sektoral 20Persen.. ... 107
19. Dampak Kombinasi Kebijakan Peningkatan Upah Minimum Regional Sektoral 25 Persen, lnvestasi Sektoral 20 Persen
...
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Hubungan Antara Produksi Total, Produksi Rata-Rata dan
Produksi Marginal Penggunaan Tenaga Ke ja.. ... 39
...
2. Menentukan Kuwa Permintaan Tenaga Kerja.. 41
...
3. Menentukan Kuwa Penawaran Tenaga Keja.. 45
...
4. Penentuan Keseimbangan di Pasar Tenaga Ke j a . . 50 5. Model Konseptual Penyerapan Tenaga Ke j a Sektor Tersier
di Jawa Barat.. ... 56
6. Diagram Keterkaitan Peubah-Peubah Dalam Model Keragaan Pasar K e j a Sektor Tersier dan Pendapatan Daerah di Jawa
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Data Aktual Model Keragaan Pasar Kerja Sektor Tersier dan
Pendapatan Daerah di Jawa Barat ... 119
2.
Diagram Pencar Data Aktual Model Keragaan Pasar KerjaSektor Tersier dan Pendapatan Daerah di Jawa Barat.. ... 125
3. Hasil Pendugaan Parameter Model Keragaan Pasar Kerja
Sektor Tersier dan Pendapatan ~ k r a h di Jawa Barat.. ... 134 4. Hasil Validasi dan Simulasi Model Keragaan Pasar Kerja
Sektor Tersier dan Pendapatan Daerah di Jawa
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu aset pembangunan yang paling dominan dimiliii oleh banyak
negara berkembang adalah jumlah penduduk dan angkatan kerja yang cukup besar
jumlahnya. Jumlah penduduk dan tenaga kerja ini disatu pihak menggambarkan
potensi yang dapat dikerahkan unhk usaha produktif yang dapat menghasilkan
barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Disisi lain, jumlah
penduduk dan tenaga k e j a dapat menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi
apabila tidak ditunjang dengan ketersediaan kesempatan k e j a yang memadai
sehingga tidak memperbesar angka pengangguran. Konsekuensi dari pertumbuhan
penduduk yang besar tersebut adalah besarnya angkatan k e j a serta terbatasnya
kesempatan kerja.
Oleh sebab itu, untuk menghindari pennasalahan tersebut dibutuhkan
perencanaan ketenagakerjaan yang matang. Perencanaan ketenagakerjaan dapat
dikatakan sebagai posisi sentral dalam pembangunan ekonomi. Hal ini disebabkan
karena pertama, hampir semua kegiatan produksi untuk menghasilkan barang dan jasa
melibatkan tenaga kerja dan kedua, tenaga keja selalu berhubungan dengan faktor
manusia yang merupakan tnjuan akhir dari pembangunan itu sendiri.
Dalam Program Pembangunan Nasional (PROPENAS, 2000) telah
diisyaratkan tentang perencanaan tenaga keja, dimana telah ditetapkan bahwa
tenaga ke j a merupakan kebijaksanaan pokok yang sifatnya menyeluroh pada semua
sektor.
Menurut Hasibuan (1987), dalam bidang ketenagakerjaan di Indonesia
dihadapi dua masalah pokok yaittr:
1. Tidak ada keseimbangan dalam penyerapan tenaga kerja antara sektor pertanian
dan non pertanian.
2. Adanya kepincangan dalam penyerapan tenaga kerja produktif di sektor non
pertanian yaitu antara sektor-sektor pengolahan (manzrfactur) dibandingkan
dengan sektor jasa (services).
Kedua masalah tersebut mengakibatkan ketimpangan penyerapan tenaga kerja
pada sektor pertanian dan non pertanian yang pada akhimya dapat mengakibatkan
ketidakseimbangan alokasi tenaga kerja. Sejalan dengan perkembangan
pernbangunan terdapat perubahan-penrbahan pada pendapatan dan kesempatan kerja
diantara berbagai sektor atau kegiatan ekonomi penduduk (Widarti, 1984). Alokasi
tenaga kerja menurut sektor yang dimaksud adalah status pekejaan dimana ha1 ini
sering digunakan sebagai indikator pembangunan suatu negara.
Proses perkembangan ekonomi di negara-negara maju ditandai oleh suatu
transparansi struktural dala~n struktur ekonomi dan kesempatan kerja. Dari sektor
primer pada masa pembangunan akan mengalami penurunan diikuti oleh naiknya
kesempatan kerja pada sektor sekunder clan tersier. Perubahan lainnya adalah formasi
struktur produksi atau proses perubahan ko~nposisi Produk Do~nestik Bnito menunrt
sektor atau sub sektor produksi. Pertumbuhan ekonomi biasanya disertai dengan
sekunder (manufaktur dan industri) dan pada akhirnya kesektor tersier (angkutan,
komunikasi, perdagangan dan jasa-jasa lainnya).
Pembangunan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat di
segala bidang, teruta~na pembangunan ekonomi. Pembangunan infrastruktur
berkembang cukup pesat. Pembangunan dibidang transportasi, komunikasi dan
infonnasi membawa dampak terhadap semakin meningkatnya mobilitas sumberdaya
khususnya sumberdaya manusia. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel I . Perkembangan Tenaga kerja
clan
Sumbangan Sektoral terhadap hoduk Domestik Regional B n ~ t o di Jawa BaratDomestik Lapangan Usaha Regional Bruto
Pemsahaan
.Jasa-Jasa
1
10511 2221
162362171
23445311
2272831 Sumber: Susenas, 1999-2000 (data diolah)Perkembangan Tenaga Kerja
1 .Pertanian,Peternakan, Kehutanan
Menurirut Benu (1990), bahwa jika pendapatan meningkat, maka semakin
kecil peranan sektor primer dalam kesempatan kerjanya, sedangkan peranan sektor
tersier dan sekunder adalah sebaliknya. Transformasi stn~ktur kesempatan kerja ( orang )
1999
1
2000 5 203 9531
4 865 547( juta rupiah )
menurut sektor dicapai karena: pettumbuhan ekonomi biasanya disertai dengan 1999 2000
[image:28.579.79.493.333.671.2]peningkatan produktivitas pekerja di setiap sektor dan pekerja yang berpindah dari
sektor yang lebih rendah produktivitasnya ke sektor yang memiliki produktivitas
lebih tinggi. Pembangunan ekonomi yang mengejar pertumbuhan ekonomi yang
tinggi harus memperhatikan pemerataan pendapatan clan penyerapan tenaga kerja
(Thee Kian Wie, 1983). Jadi, dalam strategi pembangnnan haruslah mengingat
kepadatan penduduk yang merupakan suatu kharateristik dari pembangunan di
Indonesia.
Tidak seimbangnya jumlah penduduk dan kemampuan negara berkembang
untuk menciptakan pembangunan dan kesempatan kerja bagi penduduk telah
menimbukan berbagai implikasi yang buruk terhadap beberapa aspek pembangunan
ekonomi, diantaranya adalah tingginya angka pengangguran yang secara tidak
langsung berdampak negatif terhadap kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.
Menurut Rostow dalam Baldwin (1986), sebuah negara hams malnpu
~nelakukan transformasi dari pembangunan industri setelah modernisasi pada sektor
pertanian serta penyediaan modal sarana sosialnya meningkat. Selanjutnya Rostow
telah membagi pertumbuhan ekonomi suatu negara ke dalam !ima tahap dimana pada
tahap-tahap awal kesempatan kerja yang paling tinggi terjadi pada sektor pertanian
yang kemudian ben~bah dengm suatu pembangunan indt~strialisasi, sehingga
pergeseran kesempatan kerja terjadi dari sektor manufaktur ke sektor jasa.
Lebih lanjut, Kusnetz dalarn Baldwin (1986), menyimpulkan tiga keadaan pada negara berkembang mengenai proporsi tenaga kerja yang mencari pekejaan di
berbagai sektor dalarn proses pembangunan ekonomi. Kesimpulan tersebut adalah
1. Peranan sektor pertanian dalam menyediakan kesempatan kerja menurun ditiap negara
2. Peranapl sektor industri &lam menyediakan kesempatan kerja menjadi bertambah
penting akan tetapi kenaikan tersebut sangat kecil
3. Peranan sektor jasa dalam menyediakan kesempatan k e j a tidak banyak
mengalami pen~bahan.
Ketiga ha1 tersebut diatas menjadi lebih jelas bila dibandingkan dengan
pen~bahan masing-masing sektor dalam mencipakan produksi nasional dengan
perubahan setiap sektor dalam menampung tenaga kerja. Dari sektor jasa, sektor
pemerintah dan sektor perdagangan menyediakan tenaga kerja yang semakin
tneningkat.
Berdasarkan apa yang diperoleh Clark dalam Sukirno (1985), semakin tinggi
pendapatan perkapita suatu negara maka peranan sektor pertanian dalam
menyediakan kesempatan kerja akan semakin kecil. Namun sebaliknya sektor industri
makin penting peranannya dalam menampung tenaga kerja.
Perubahan pendapatan secara sektoral akan berpengaruh terhadap peningkatan
tenaga kerja. Namun, besarnya perubahan pendapatan secara sektoral hdak selalu
diikuti oleh penlbahan yang sama pada kesempatan kerja yang tersedia. Hubungan
pertumbuhan pendapatan atau produksi dengan penyerapan tenaga kerja dinyatakan
dengan elastisitas kesempatan k e j a atau penyerapan tenaga kerja (Simanjuntak,
1993) yang didefinisikan sebagai perbandingan antara laju pertumbuhan kesempatan
kerja dengan laju perttunbuhan ekonomi. Elastisitas tersebut dapat ditentukan dari
Akibat dari pergeseran-pergeseran yang terjadi, maka kesempatan kerja di
sektor tersier d i n lama makin meningkat. Menurut Clark dalam Sukirno (1985),
sektor-sektor yang masuk dalam sektor tersier adalah angkutan dm perhubungan,
pemerintahan, perdagaogan
dan
jasa perorangan. Sedangkan menurut Widarti (1984),kegiatan yang dikelompokkan pada sektor tersier ini meliputi perdagangan,
transportasi, keuangan dan jasa.
Pembagian sektor tersier yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik
mencakup perdagangan, hotel dan restoran; bangunan; pengangkutan dan
komunikasi; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan; jasa-jasa yang mencakup jasa
pemerintahan umum dan swasta.
Proses pembangunan di Indonesia dilakukan secara berkesinambungan yang
dalam pelaksanaannya mempunyai strategi yang mengarah kepada pen~bahan
shuktural, umumnya dari sifat agraris tradisional menjadi industri modem, perubahan
struktur ini mempunyai tiga dimensi, yaitu:
1. Sumbangan sektor pertanian secara relatif akan merosot, sedangkan sektor non
pertanian sebaliknya.
2. Ji~mlah tenaga kerja pada sektor pertanian secara absolut jumlahnya akan
me;lingkat namun persentase dalam jumrah tenaga kerja keselun~han akan
semakin kecil, sebaliknya tenaga kerja yang bekerja di sektor-sektor lain akan
meningkat.
3. Peringkat produksi di semua bidang akan menjadi leb~h bersifat industri. Produksi
akan diproduksi secara besar-besaran unhk dijual ke pasar dengan menggunakan
teknologi modem.
Selanjutnya, proses transformasi shuktural yang terjadi ini juga didukung oleh
diberlak~lkannya kebijakan-kebijakan pemerintah yang akan mendukung terciptanya
pemerataan dan kehidc~pan yang lebih baik bagi tenaga kerja Indonesia.
Dan data registrasi penduduk tahun 1999-2000 tercatat bahwa propinsi Jawa
Barat memiliki jumlah periduduk sebesar 42 428 584 jiwa pada tahun 1999 dan
meningkat menjadi 43 089 300 jiwa pada tahun 2000. Laju pertumbuhan penduduk di
Jawa Barat sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaih~ migrasi masuk dan angka
kelahiran. Angka migrasi propinsi Jawa Barat tercatat sebesar 2.7 juta jiwa pada
tahun 2000, sedangkan angka kelahiran masih cukup tinggi yaitu sebesar 2.2 juta
jiwa. Hal ini disebabkan oleh pola perkawinan usia pada kelompok umur kurang dari
18 tahun yang rnasih tinggi, yaitu sebesar 64 persen. Lebih lanjut, perlu adanya
pendewasaan i~sia perkawinan. Hal ini terkait dengan kondisi stnlkh~r umur pendudnk
Jawa Barat yang telah mengalami transisi dari struktur umur muda yaitu sebanyak
33 893 619 jiwa ke struktw umur produktif. Dalam ha1 migrasi penduduk, bahwa
dengan adanya sentra-sentra indusm dan bisnis secara pusat-pusat pendidikan
menjadi daya tarik yang sangat kuat bag1 timbulnya migrasi masuk dan luar Jawa
Barat. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa jumlah angkatan ke j a yang tersedia
di Jawa Barat semakin besar sehingga diperlukan penanganan serius dari pemerintah
Berdasarkan data SUSENAS (1999), persentase angkatan kerja yang bekeja
adalah sebesar 48.44 persen sedangkan yang mencari kerja sebesar 4.95 persen
dengan angka pengangguran sebesar 46.61 persen.
Dari
data tersebut dapat dilihatbahwa Propinsi Jawa Barat juga memiliki potensi yang cukup besar untuk
dikembangkan (dalam ha1 jumlah angkatan keja) sebagai penyumbang Produk
Domestik Regional B ~ t o seperti yang teiah disajikan pada Tabel 1 . Oleh karena itu penelitian ini dirasa perlu untuk rnelihat seberapa besar sektor tersier ini dapat
menampuny jumlah angkatan kerja yang kebanyakan ben~sia muda dengan tingkat
pendidikan dan keterampilan yang kurang memadai.
1.2. Perumusan Masalah
Seperti halnya pada tingkat nasional, masalah pokok yang dihadapi oleh
pemerintahan Jawa Barat masih berkisar pada masalah ketenagakerjaan. Penyediaan
kesempatan kerja yang besar sangat diperlukan untuk mengimbangi banyaknya
jumlah penduduk yang memasuki pasar keqa. Tidak tertampungnya pencari kerja
pada tingkat kesempatan kerja yang tersedia akan menyebabkan terjadinya
pengangguran yang akan membawa masalah yang lebih besar lagi.
Ke~najuan suatu wilayah tercermin dari kernampuan sektor-sektor ekonomi
dalam menyerap angkatan k e j a dan peningkatan produktivitas angkatan kerja.
Demikian pula unti~k Propinsi Jawa Barat, analisis ketenagakerjaan sering dikaitkan
dengan Prodtik Domestik Regional Bmto. Pada tahap awal perttimbuhan tenaga kerja
dengan proses industrialisasi terlihat terjadinya perpindahan tenaga kerja dari sektor
pertanian ke sektor non pertanian dan industri.
Selanjutnya di propinsi Jawa Barat juga mengalami pergeseran struktur
kesempatan kerja. Adanya ~nigrasi dari beberapa daerah ke daerah lain terutama para
migran yang berpendidikan rendah menyebabkan bertambahnya tenaga kerja yang
tnasuk pada sektor tersier khususnya pada sektor jasa. Penyerapan tenaga kerja
menurut sektor menunjukkan adanya pembahan yang cukup signifikan untuk sektor
perdagangan, pertanian, dan industri pengolahan (manufaktur). Proporsi kesempatan
kerja di Jawa Barat tahun 1999 umumnya mengalami perkembangan yang
menggembirakan kecoali pada sektor pertambangan dan perhubungan serta listrik,
[image:34.569.72.487.441.672.2]gas dan air yang inengalami sedikit penurunan (Tabel 2)
Tabel 2. Jumlah dan Proporsi Kesempatan Kerja Menurnt Lapangan Usaha di Jawa Barat.
1
Lapangan UsahaI
Jumlah KesempatanI
PerkembanganI
Menun~t pendapat para pakar kependudukan, dimasa mendatang negara-
negara agraris seperti Indonesia akan bergeser (shijting) dari sektor pertanian ke
sektor industri untuk selanjutnya berpindah ke sektor jasa (services). Hal tersebut
dapat te qadi karena berbagai alasan, diantaranya adalah:
1. Sekalipun terjadi kemunduran akibat dampak krisis ekonomi tetapi tuntutan hidup
agar tetap bertahan hidup menjadikan sebagian besar korban PHIS berusaha untuk
tetap bekeja sekalipun tidak pada sektor lapangan usaha yang sama seperti
sebelumny a.
2. Krisis ekonomi sebagai akibat dari depresiasi nilai tukar rupiah justru menjadi
stimulasi bagi sejumlah sektor yang berorientasi ekspor clan rendah kadar muatan
bahan baku impornya, sehingga memiliki daya saing di pasar internasional untuk
menambah tenaga kerja.
3. Penciptaan lapangan kerja baru sebagai antisipasi terhadap semakin terbukanya
peluang benlsaha karena terjadinya pen~bahan sosial dan politik seperti deregt~lasi
dan debirokratisasi pada sektor-sektor tertentu.
4. Oleh karena kelesuan usaha dan tindakan efisiensi perusahaan, maka dilakukan
penggantian peran (replacement) tenaga kerja asing yang terpaksa harus kembali
ke negeri asalnya dengan tenaga kerja Indonesia pada level jabatan yang sama.
5. Sektor perdagangan mungkin dapat menjadi lapangan usaha yang semakin
kondusif untuk dikembangkan dan dioptimalkan daya serap tenaga kerjanya.
Apabila menilik perkembangan yang terjadi, pemulihan (recovery) akibat
terjadinya krisis moneter menyebabkan terjadinya perbaikan dalam ha1 penyerapan
demikian peningkatan dalam kapasitas penyerapan tenaga kerja pada sektor yang
sebelumnya terpuruk, lambat laun terlihat semakin membaik, sekalipun belum
mencapai tingkat yang sama dengan masa sebelum te jadinya krisis moneter.
Secara umum peningkatan laju pertumbuhan kesempatan kerja dapat
disimpulkan sebagai beriknt:
I . Masa pemulihan sebagai dampak krisis ekonomi menyebabkan penciptaan
kesempatan k e j a yang semakin membaik.
2 Penciptaan lapangan kerja bani sebagai antisipasi terliadap semakin terbilkanya
peluang berusaha karena te jadinya penibahan sosial dan politik seperti deregulasi
dan debirokratisasi pada sektor-sektor tertentu.
3. Iklim investasi dengan semakin membaiknya nilai tukar mata uang Rupiah
terliadap Dollar, menyebabkan para investor kembali ke Indonesia unhk secara
bertahap membuka usaha sehingga memperbesar penciptaan lapangan ke j a .
4. Peningkatan dalam penyerapan sektor pertanian dan jasa tenaga kerja dapat
diasumsikan telah beralih profesi ke sektor yang dianggap masih kondusif dan
mempunyai peluang perluasan kesempatan kerja setelah sebelumnya bekeja di
sektor industri dan sektor lainnya, walaupun tingkat produktivitas kedua sektor
tersebut masih c i ~ k i ~ p rendah dibandingkan dengan sektor illdushi.
5. Sulitnya perluasan kesempatan kerja sektor formal mengakibatkan perlunya
penataan sektor informal untuk menyerap tenaga kerja yang tidak tertampung di
sektor modem.
Berdasarkan hal-lial yang diuraikan di atas maka dalam penelitian ini
1 . Bagaimana perkembangan angkatan ke j a sektor tersier di Jawa Barat.
2. Bagaimana produktivitas tenaga kerja sektor tersier di Jawa Barat.
3. Bagaimana penyerapan tenaga ke j a pada sektor tersier di Jawa Barat
4. Bagaimana tingkat upah riil di Jawa Barat.
5. Bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap keragaan tenaga kerja pada
sektor tersier dan pendapatan daerah di Jawa Barat.
1.3. Tujuail d s n Kegunaan Penelitian
Secara ulnum, tujuan clan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
peranan sektor tersier dalam penyerapan tenaga kerja dan pendapatan daerah di
propinsi Jawa Barat. Tetapi secara lebih rinci penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis perkembangan angkatan ke ja , produktivitas tenaga keja, penyerapan
tenaga kerja, tingkat upah riil tenaga kerja, clan dampak kebijakan pemerintah yaitu
kebijakan peningkatan Upah Minimum Regional Sektoral, peningkatan investasi dan
peningkatan konsumsi kalori terhadap keragaan tenaga kerja pada sektor tersier dan
pendapatan daerah di Jawa Barat.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pemerintah
daerah Jawa Barat mengenai keadaan angkatan kerja dan kesempatan kerja. Sehingga
dapat menjadi acilan dalam pengambilan keputusan untuk menyusun kebijakan-
kebijakan yang dapat menunjang pembangunan daerah Jawa Barat ten~tama
kebijakan di bidang ketenagake rjaan, khususnya mengenai perluasan dan pemerataan
11.
PERANAN SEKTOR TERSIER DALAM PEREKONOMIAN
2.1. Peranan Sektor Tersier dalam Perekonomian Indonesia
Pembangunan perekonomian yang tangguh sangat erat kaitannya dengan
petnbangunan sektor tersier yang andal. Sektor tersier terdiri atas empat sektor, yaihl
sektor perdagangan, sektor pengangkutan dan kotnunikasi, sektor keuangan,
persewaan dan jasa penlsahaan dan sektor jasa lainnya. Keempat sektor ini
memegang peranan yang sangat penting dalam perekonomian. Sektor perdagangan
merupakan jembatan penghubttng antara prodnsen dan konsumen. Sedangkan
pendistribusian hasil produksi tidak lepas dari peranan sektor penganykutan. Sektor
keuangan sangat dibutuhkan dala~n pemodalan dunia usaha. Sementara sektor jasa
lainnya juga tidak dapat diabaikan peranannya dalam menciptakan perekonomian
yang sellat.
Peranan sektor tersier terhadap Produk Domestik Bmto pada tahun 1999
sebesar 37.73 persen. ini berarti lebih tinggi dari tahun 1998 yang hanya sebesar
37.07 persen. Namun bila dibanhngkan dengan tahun 1996 dan 1997, peranan sektor
tersier pada tahon 1999 terlihat menurun. Pada tahun 1996 kontribusi sektor tersier
mencapai 39.87 persen, sedangkan pada tahun 1997 konhibusinya sebesar 39.58
persen.
Selatna periode 1996-1 999, diantara sektor-sektor lain yang tercaki~p dalam
sektor tersier, kontribusi sektor perdagangan mendolninasi nilai tambah sektor tersier
terhadap Produk Domestik Bruto, yaitn sekitar 16 persen. Sektor yang berperan
kontribusinya pada tahun 1999 sebesar 16.51 persen
,
tnrun dari 16.67 persen padatahun 1998. Namun dibandingkan dengan tahi~n 1996 dan 1997, kontribusi sektor
perdagangan meningkat.
Sektor jasa-jasa merupakan penqumbang kedua terbesar setelah sektor
perdagangan dengan konhibusi sebesar 8.89 persen pada tahun 1999. Bila
dibandingkan dengan tallun sebelumnya sumbangan ini menunjukkan adanya
peningkatan. Pada tahun 1998 sektor ini hanya mampu memberikan kontribusi
sebesar 8.23 persen. kontribusi sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan
sebagai sektor finansial pada tahun 1998 dan 1999 turun jika dibandingkan dengan
kontribusi pada tahun 1996 dan 1997. sementara sektor pengangkutan dan
komunikasi sebagai sektor yang mendukung aktivitas sektor riil, sampai dengan
tahun 1998 kontribusinya turun dari 6.56 persen pada tahun 1996 menjadi 5.1 8 persen
pada tahun 1998. Namun, pada tahun 1999 kontribusi sektor pengangkutan dan
komunikasi meningkat menjadi 5.97 persen.
Badai krisis moneter yang kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi
yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997, masih terlihat dampaknya
hingga saat ini. Hampir semtua
sesekt
ekonomi masih beltnn dapat berjalan sepertisedia kala, ter~nasuk sektor tersier. Hal ini terlihat dari pertumbuhan sektor tersier
pada tahun 1998 menunji~kkan perhumbuhan negatif yaitu sebesar -16.52 persen.
Penurunan tertinggi pada tahun 1998 terjadi pada sektor keuangan, persewaan dan
jasa perusahaan. Sektor ini mengalami penunman sebesar 26.67 persen. Penumnan
yang ci~kup besar ini lebih dikarenakan terjadinya penunman dari sub sektor
perbankan sebesar 37.90 persen. Sektor perbankan memang merupakan sektor yang
lalu. Walaupun telah banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah untt~k melakt~kan
restrukturisasi perbankan, tetapi ternyata masih belum mampu mengembalikan agar
sektor ini kembali berjalan dengan normal.
Sektor perdagangan pada tahun 1998 menurun drastis, dengan pertumbuhan
-1 8.05 persen . Penurunan ini disebabkan mentuimnya sub sektor perdagangan besar dan eceran sebesar -18.48 persen demikian juga dengan sub sektor hotel yang turut
berperan dalam penurunan nilai tambah sektor perdagangan, pertumbuhan sub sek~or
ini sebesar -1 8.02 persen. Penumnan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia
diduga berpenganih terhadap penurunan nilai tambah sub sektor hotel.
Sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun 1998 mengalami penurunan
15.13 persen. penurunan ini hanya terjadi pada subsektor pengangkutan, sedangkan
subsektor kornimikasi justru mengalami peningkatan. Penurunan sebesar 1.10 persen
dialami oleh sektor perdagangan.
Satit-sahmya sektor tersier yang mengalami peniuilnan terendah adalah sektor
jasa-jasa. Pada tahun 1998 sektor jasa - jasa mengalami perti~mbuhan -3.15 persen,
dimana sub sektor pemerintahan umum tumbuh sebesar -7.32 persen dan sub sektor
swasta tumbuh sebesar -9.19 persen.
Walaupun perekonomian Indonesia pada tahun 1999 belum pulih seperti sedia
kala, tetapi tanda-tanda ke arah perbaikan sudah mulai nampak. Hal ini dapat dilihat
dari membaiknya laju pertumbuhan seluruh sektor termasuk sektor tersier. Sektor jasa
berhasil mencatat pertumbuhan 2.82 persen. sektor-sektor lainnya walaupun masih
Tabel 3. Pertumbuhan Sektor Tersier Indonesia Atas Dasar Harga Berlaku 1996- 1999
( % )
SektorISub sektor 1999
I 1 I
Pe-buhan
I . Perdagangan
1.2. Hotel 1.3. ilestoran
1
1998(
19992. Angkutan dan Komunikasi 2.1. Pengangkutan 2.2. Komunikasi
3.Keuangan3Penewaan dan JasaPerusahaan
I I
,
\ I 14.1.1 .Adm.Pemerintahan dan pertahanan
1
4.261
3.66/
2.841
3.481
-4.481
0.89 1. I .Perdagangan besar dan eceran1
13.031
12.35 1 13.241
12.68 / -18.481
-1.8116.36
0.61 2.72
3.1. Bank
3.2. Lembaga Keuangan tanpa Bank 3.3. Iasa Penunjang Keuangan 3.4. Sewa Bangunan
3.5. Jasa Pe~sahaan 4. Jasa-Jasa
6.56 5.49 1.07 8.26
15.86 16.67
~ ~~
0.62
i
0.54 2.89i
2.903.33 0.72 0 0 6 2.56
1.59 8.69
,
II I I 8 I I
Sumber: BPS (1999)
6.14
i
518 5.02) 4.17 1 . 1 2 ; 1.01 8.661
6.984.1.2. Jasa Pemerintahan lain
Catatan : Pertu~nbuhan dihitung berdasarkan harga konstan 1993, dihitung berdasarkan rumus pertumbuhan
16.51
o
56 3.264.3. Sosial Kemasyarakatan 4.4. Hiburan dan Rekreasi
- ~~~
4.5. Perorangan dan Rumah tangga Jumlah Tersier
Pn - 1'0
yaitu: ~ 1 0 0 %
Po
5.97 4.68 129 6.36 3.23 1 2.58 0.72
/
0.554.2. Swasta
1
3.111
3.80/
4.171
3.761
3.731
4.54 1.330.66
1
0.61 0.221
0.19I 2.91
1
3.34 39.58 137.07 0.640.20 2.27 39.87
di~nana Pn = tahun 1998 & 1999
Po = tahun 1993
-18.05 ~ -8.91 2.15 - 0.55 0.05 2.19 1.42 8.89 0.06 2.82 -1.10
--
-- 3.17 -15.13 -19.94 4.83 -26.63, 0.05
2.31
1.45
-18.02
/
1.31 4 . 7 2 - -3.43 7.88 -8.67 -37.90 -17.21 -26.65 -19.87 -16.73 -3.15 1.82i
1.50I 8.92
/
8.235.21 -1.92 4.77 -1.49 I -17.34 - 0.25 3.42 -6.01 -2.72 2.82 1.22 0.61 0.17 . 2.98 37.73 -9.19 -12.58 ~ 8.24 -16.25
[image:41.582.74.500.93.593.2]2.2. Peranan Sektor Tersier Dalam Perekonomian Jawa Barat
Dalam mendukung terwujudnya s h k t u r ekonomi yang semakin seimbang
dan kokoh antara sektor industi maju
dan
sektor pertanian tangguh, peran serta sektor tersier yang terdiri dari sektor perdagangan, hotel dan restoran, angkutan dankomunikasi, keuangan, persewaan dan jasa pentsahaan, serta sektor jasa-jasa. Hal
tersebut diperlukan sebagai penunjang sektor primer dan sekunder.
Keteriibatan sektor perdagangan dalam dinamika perekonomian secara
langsung erat kaitannya dengan beberapa sektor. Untuk pendistribusian dan
pemasaran hasil produksi sektor primer dan sekunder dibutuhkan peranan sektor
angkutan dan komunikasi guna memperlancar terjadinya transaksi. Disisi lain,
peranan sektor keuangan juga sangat diharapkan mengingat kebutuhan uang sebagai
dana dalam proses prodt~ksi sektor primer dan sekunder. Tentunya subsektor
pemerintahan dan pertahanan, yang tergabung dalam sektor jasa-jasa, juga tidak dapat
diabaikan sebagai penunjang dalam mewujudkan struktur ekonomi yang kokoh,
misalnya unti~k menciptakan lingkungan perdagangan yang sehat.
Karena itu peran sektor tersier sangat diharapkan dapat meningkatkan nilai
tambah bruto dari sektor-sektor lain. Sehingga sumbangannya dapat meningkatkan
pendapatan nasional lnaupun regional, dan sekaligus diharapkan dapat menambah
penerimaan masyarakat yang bergerak dalam proses prodi~ksi pada masing-masing
sektor.
Peranan sektor perdagangan sedikit berfluktuasi, namun masih cukup tinggi
dibanding sektor-sektor lainnya. Pada tahun 1998, sebanyak 59.04 persen distribusi
masih menjadi motor penggerak dari sektor tersier ini dalam andilnya terhadap
Produk Domestik Regional Bruto. Dari 59.04 persen peranan sektor tersier dalam
Produk Domestik Regional Bruto tersebut 18.79 persen berasal dari sektor
perdagangan. Hal ini dapat disebabkan karena sektor perdagangan memiliki investasi
yang cukup besar sehingga lebih mudah umtuk dikembangkan. Sebagian besar
sumbangan sektor perdagangan ini diberikan oleh sub sektor perdagangan besar dan
eceran yaitu 14.69 persen. Sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan andil
3.88 persen, sektor bank dan lembaga keuangan dan sewa bangunan masing-masing
sebesar 1.88 persen dan 1.92 persen. Sedangkan sektor pemerintahan dan keamanan
seita jasa-jasa mempunyai peran 4.39 persen dan 7.81 persen.
Tahun 1999, sumbangan sektor tersier secara total terhadap Produk Domestik
Regional Bruto meningkat menjadi 67.41 persen. Penumnan nampak pada sektor
hotel dan restoran yaitu menjadi 0.1 1 persen. Meskip~m di daerah Jawa Barat banyak
memiliki tempat pariwisata. yang cukup banyak (termasuk didalamnya hotel dan
restoran), namun krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tah~m 1997 tidak
hanya dirasakan di Indonesia tetapi juga dinegara-negara lain, sehingga turis lokal
maupun domestk yang datang menurun jumlahnya. Sektor perdagangan meningkat
menjadi 16.19 persen. sektor pengangkutan dan komunikasi juga mengalami
kenaikan menjadi 5.62 persen
.
Sektor Bank dan Lembaga keuangan menurunmenjadi 0.08 persen, sedangkan untuk sewa bangunan meningkat sebesar 0.63 persen
Tabel 4. Sumbangan Sektor Tersier di Jawa Barat Terhadap Produk Domestik Rruto atas dasar harga berlaku 1993
Sumber: BPS (2000)
Dari Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2000, sumbangan sektor
tersier terhadap Produk Domestik Regional Bn~to meningkat sebesar 1.57 persen
sehingga menjadi 68.98 persen. Sumbang* sektor tersier ini masih didominasi oleh
sektor perdagangan yang meliputi perdagmgan besar dan eceran, serta hotel d m
restoran. Sumbangan dari sektor perdagangan besar dan eceran mengalami penurunan
sebesar 0.67 persen, tetapi sumbangan sektor hotel dan restoran meningkat cukup
signifikan yaih~ sebesar 3.8 persen. Selanjutnya diikuti oleh sektor jasa-jasa yang
[image:44.576.84.497.118.310.2]111. KEBIJAKAN PEMERINTAH DI PASAR TENAGA KERJA
Kebijakan dan program pembangunan pada hakekatnya berttljuan untnk
melindungi kehidupan pekerja yang memil~ki posisi lemah di pasar kerja. Situasi ini
juga berkaitan dengan pasar kerja sendiri yang cenderung bersifat labor surplus,
sehingga pekerja tidak memiliki kekuatan tawar menawar di pasar kerja.
Kebijakan ketenagakejaan khususnya bidang pengupahan diarahkan pada
sistem pembayaran upah secara keselumhan, tetapi tldak termasuk uang lembur.
Sistem ini didasarkan atas presentasi seorang pekeja dan tidak dipengamhi oleh
tunjangan-tunjangan yang tidak berhubungan dengan bentuk uang, namun tidak
mengurangi kemungkinan pemberian sebagian upah dalam bentuk barang yang
jumlahnya dibatasi.
Upah tidak dibayar bila pekeja tidak melakukan pekerjaan. Ketentuan ini
mempakan suah azas yang pada dasarnya berlaku terhadap semua golongan pekerja,
kecuali bila peke rja yang bersangkutan tidak dapat bekerja disebabkan bukan karena
kesalahan pekeja tersebut (Safrida, 1999)
Pada prinsipnya, kebijaksanaan pengupahan dapat dibedakan menjadi dua
bagian, yaito:
a. Kebijakan umum
I . Dalam melaksanakan kebijaksanaannya, pemerintah memandang upah pekeja
biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar agar dapat hidup layak bersama
keluargany a.
2. Tingkat upah yang sangat rendah secara bertahap harus segera ditingkatkan,
sehingga minimal sama dengan nilai kebutuhan dasar hidup minimum.
3. Sektor produksi barang dan jasa yang bersifat strategis dan vital di masing-
masing daeral~ yang inempekerjakan pekeja dengan tingkat upah yang sangat
rendah atau dibawah kelayakan perlu segera diadakan penetapan-penetapan upah
minimuinnya.
4. Peningkatan kesejahteraan tidak saja diberikan melalui peningkatan upah akan
tetapi dengan penyelenggaraan program-program jaminan sosial misalnya
pengobatan, perurnahan, dana pensiunan dan upaya-npaya lainnya seperti
penilaian peningkatan produktivitas melalui peningkatan keterampilan.
5. Usaha peningkatan upah harus sejalan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi
nasional, perkembangan pen~sahaan dengan pertimbangan-pertimbangan pada
segi sosial, ekonomi dan perluasan kesempatan kerja.
b. Kebijakan Khusus
1. Upah minimum mencakup upah pokok ditarnbah tunjangan tetap.
2 . Kebijaksanaan upah minimum wajib unttuk dilaksanakan oleh setiap pen~sahaan.
3 . Bagi perusahaan yang belum mampu tnelaksanakan kebijaksanaan upah
minimum, dimungkinkan untuk mengajukan pelaksanaannya kepada Menteri
Tenaga Kerja untuk berlaku tnaksi~nu~n 12 bulan.
4. Kebijaksanaan upah minimum hams ditinjau sekurang-ku~angnya sekali dalam
3.1. Kebijakan Upah Minimum Regional Sektoral
Menurut kamus ekonomi, upah didefinisikan sebagai harga yang dibayar untuk
mereka yang menyelenggarakan jasa-jasa, biasanya dibayar per jam, perhari, per
minggu atau per bulan. Dalam ilmu ekonomi semua jenis kompensasi untuk jasa-jasa
men~pakan upah (Winardi, 1996).
Peraturan pemerintah No.8 tahun 1981 tentang perlindungan upah dalam pasal 1
dan undang-undang No.3 tahun 1992 Jaminan Sosial Tenaga Kerja, pasal 1 angka 5,
disebutkan sebagai berikut: Upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari
pengusaha kepada buruh untuk suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha
kepada buruh untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilak~dcan,
dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan dalam suatu persetujuan
atau peraturan perundang-undangan dan dibayarkan atas dasar suatu persetujuan atau
peraturan perundangan dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara
pengusaha dengan buruh, termasilk timjangan baik i~ntilk bunlh sendiri maupiln
keluarganya.
Sistem pengupahan merupakan kerangka bagaimana upah diatur dan ditetapkan.
Sistem pengupahan di Indonesia pada umurnnya didasarkan kepada tiga fungsi upah,
yaitu:
1 . Menjamin kehidupan yang layak bagi pekerja dan keluarganya
2. Mencenninkan imbalan atas hasil kerja seseorang, dan
3. Menyediakan insentif untuk mendorong peningkatan produktivitas kerja
Ketidaksempurnaan pasar kerja di Indonesia, dimana labor slrrpltts terjadi di
sehingga pekerja tetap memperoleh upah yang mencukupi kehidupan pekerja dan
keluarganya secara wajar. Pemerintah telah mengembangkan sistem pengupahan
yaitu upah minimum. Sebagaimana telah diattlr dalam PP No.811981, upah minimum
merupakan upah yang ditetapkan secara minimum regional, sektoral regional maupun
sub sektoral. Dalam ha1 ini upah minimum adalah npah pokok dan tunjangan. Jumlah
upah minimum hams dapat memenuhi kebutuhan hidup pekerja secara minimal yaitu
kebutuhan untuk pangan, sandang, kebutuhan mmah tangga dan kebutuhan dasar
lainnya. Di Indonesia ketentuan upah minimnmtelah dimillai sejak tahun 1956.
Selanjutnya berdasarkan keputusan Presiden No.5811969, dibentuk Dewan ~dnelitian
Pengupahan Nasional (DPPN), dengan anggota mewakili Departemen Tenaga Ke j a ,
Departemen Keuangan, Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan,
Departemen Pertanian, Departemen Perhitbungan, Departemen Pertambangan,
Departemen Dalam Negeri, Departemen Pekerjaan Umum, Bank Sentral, Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional, Universitas, Serikat pekerja dan Organisasi
Pengusaha (Simanjnntak, 1998).
Masalah pengupahan yang dihadapi saat ini adalah mengenai keanekaragaman
cara pengupahan dan tingkat upah yang rendah. Keanekaragaman cara pengupahan
berbeda antar daerah, antar sektor, antar pemsahaan bahkan di dalam pemsahaan itu
sendiri. Upah yang terlalu rendah tidak dapat dipertanggungjawabkan dari segi moral
maupun dari segi kemanusiaan. Oleh karena itu, pemerintah berkepentingan untuk
melindungi pekerja dengan mengambil kebijakan penentuan upah minimum yang
diarahkan unttlk dapat ~nemenuhi kebutuhan fisik minimum pekerja dan keluarganya.
dengan meningkatkan Upah minimum Regional (UMR). Menurut Menteri Tenaga
Kerja RI No.Per.O1/Med1996, Upah Minimum Regional adalah upah pokok terendah
termasuk tunjangan tetap yang diterima oleh pekeja wilayah tertentu dalam satu
propinsi. Upah Minimum Regional bukan merupakan upah standar, tetapi merupakan
jaring pengaman (safily net) agar tidak terjadi pembayaran upah yang semakin menurun karena ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja.
Upah Minimum juga merupakan cara untuk meningkatkan
tvaf
hidup golongan penerima upah terendah dan merupakan cara untuk meilgurangi kesenjangan upahantara penerima upah terendah dan penerima upah tertinggi serta pendorong ke arah
disiplin dan produktivitas ke j a .
Krisis ekonomi menuntut terjadinya reformasi &lam ketenagakejaan.
Reformasi ketenagakerjaan tersebut dilaksanakan dibidang pengupahan dengan
paradigma bahwa upah minimum sama dengan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Beberapa pendekatan yang dilakukan antara lain:
1. Perubahan pendekatan dari clasiccal approach menjadi institutional economy
approach.
2. Penerapan Upah Minimum harus menuju sekurang-kurangnya sama dengan Kebutuhan Hidup Minimum untuk mempertahankan dan mendorong naiknya
produktivitas kerja, khususnya penerima upah rendah.
3. Peningkatan produktivitas berkelanjutan untuk meningkatkan upah dan
kesejahteraan pekerja.
4 . Pendekatan upah dipertajam bukan hanya sebagai komponen biaya, tetapi jugs
3.2. Kebijakan Peningkatan G u i dan Kesehatan
Perbaikan gizi dm kesehatan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kerja. Oleh sebab itu investasi yang dilaksanakan untuk perbaikan gizi dan kesehatan
dapat dipandaag sebagai salah satu aspek human capital. Perbaikan dan peningkatan
di bidang kesehatan masyarakat biasanya menjadi tanggung jawab utama pemerintah.
Akan tetapi penyediaan fasilitas kesehatan seperti itu selalu terbatas karena
terbatasnya dana pemerintah. Oleh sebab itu usaha perbaikan kesehatan memerlukan
pengerahan dana masyarakat terutama partisipasi pengusaha. Demikian pula buat
negara seperti Indonesia sekarang ini, usaha perbalkan gizi tidak mungkin dibebankan
seluruhnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Cara yang lebih praktis untuk
perbaikan gizi para karyawan di pernsahaan adalab dengan memperbaiki sistem
pengupahan mereka supaya cukup memenuhi kebutuhan gizi minimum.
Rendahnya tingkat gizi dan kesehatan disebabkan oleh rendahnya tingkat
penghasilan. Rendalxnya tingkat penghasilan tercennin dalam tingkat pengeluaran
keluarga yang rendah dan tingkat upah yang rendah.
Pengalaman menunjukkan bahwa perbaikan tingkat hidup temyata
menghasilkan perbaikan kualitas sumberdaya manusia. Perbaikan kualitas ini
kemudian meningkatkan produktivitas kerja seseorang yang selanjutnya
meningkatkan tingkat hidupnya. Yang seringkali dianggap sebagai lingkaran dilema
adalah bahwa produktivitas kerja rendah karena penghasilan yang rendah. Sebaliknya
penghasilan rendah karena produktivitas kerja rendah.
lmplikasi dari penerapan teori human capital di bidang perbaikan gizi dan
dapat dilakukan dalam rangka memerangi kemiskinan ini baik dalam skala
internasional, nasional, maupun di tingkat perusahaan sendiri.
Di tingkat internasional perlu dikembangkan sistem perdagangan yang saling
mengunhmgkan antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin &i samping
pemberian bantuan secara langsung dari negara kaya ke negara-negara miskin. Di
tingkat nasional dapat dilakukan usaha-usaha pembangunan yang dikaitkan dengan
jaminan kesempatan kerja bagi setiap warga negara yang ingin dan mampu bekeja
disertai dengan pembentukan jaminan sosial secara nasional. Di tingkat perusahaan,
perbaikan tingkat hidup dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja,
sistem pengupahan dan jaminan sosiai, perbaikan kesehatan dan keselamatan kerja
dan lain-lain.
Salah satu usaha pemerintah untuk menyelamatkan clan memulihkan
kelompok rentan di masyarakat, dengan harapan agar masyarakat mampu melewati
masa transisi menuju tatanan kehidupan yang lebih baik adalah dengan mengeluarkan
kebijakan ekonomi berupa Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang meliputi pemeni~han
kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan dan kesempatan kerja.
Kegiatan Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK) dimullai sejak . .
tahun 1998. Kegiatan pelayanan dikelola oleh Departemen Kesehatan yang meliputi
kegiatan pelayanan langsung dan penunjang kegiatan pelayanan langsung meliputi:
1. Pelayanan kesehatan dasar berupa pengobatan bagi semua anggota keluarga
miskin yang sakit, pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi ibu dan anak,
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan,
dan pemberian nljukan untuk kasus tertentu dari F'usat Kesehatan Masyarakat ke
rumah sakit kabupatenlkota.
2. Pelayanan kebidanan (antenatalkehamilan, pertolongan persalinan, nifas,
penanganan gawat damrat dan rujukannya ke nlmah sakit kabupatenkota)
3. Pelayanan perbaikan gizi
4. Pencegahan dan pemberantasan penyakit mennlar
5. Pelayanan mjukan di rumah sakit umum kabupatenlkota.
Sedangkan kegiatan penunjang meliputi:
1. Pemantapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKE'G)
2. Revitalisasi posyandr~
3. Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat
4. Sosialisasi dan penyuluhan kesehatan masyarakat
5. Pelatihan tenaga kesehatan dan pemantauan program
Untuk mendukungnya disediakan pnla bantuan operasional dan pemeliharaan
rumah sakit / OPRS daerah sebagai bagian untuk peningkatan pelayanan kesehatan
masyarakat. Secara umum sasaran program adalah keluarga miskin, yang ditetapkan
oleh Tim desa. Secara khusus, berdasarkan target masing-masing kegiatan, kelompok
sasarannya adalah:
I . Anggota keluarga miskin untuk pelayanan kesehatan dasar dan mjukannya.
3.3. Perbaikan Tingkat Pendidikan dan Pelatihan
Tingkat pendidikan dengan produktivitas kerja dapat tercennin dalam tingkat
penghasilan. Pendidikan yang lebih tinggi mengakibatkan produktivitas kerja yang
lebih tinggi dan oleh sebab itu memungkinkan penghasilan yang lebih tinggi juga.
Memang perbedaan tingkat pendapatan tidak saja disebabkan oleh karena tingginya
tingkat pendidlkan, tetapi juga ditentukan oleh beberapa faktor lain seperti
pengalaman kerja, keahlian, sektor usaha, jenis usaha, lokasi dan lain-lain. Dari data
Badan Pusat Statistik tahun 1995, menunjukkan bahwa :
1. Penghasilan pekerja, laki-laki dan perempuan, di kota dan di desa, meningkat
sesuai dengan tingkat pendidikan.
2. Penghasilan pekerja laki-laki lebih tinggi daripada penghasilan perempian
3. Penghasilan di kota lebih tinggi daci pada penghasilan di desa
Pelatihan merupakan salah satu aspek human capital. Pelatihan dapat dilakukan
di &lam maupun di luar pekejaan. Pelatihan yang dilakukan di luar pekejaan
umumnya bersifat formal. Pelatihan yang dilakukan di luar pekejaan dimaksudkan
untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja baik secara horizontal maupun secara
vertikal. Peningkatan secara horizontal berarti memperdalam pengetahnan mengenai
suatu bidang tertentu. Bila pelatihan formal seperti itu betul-betul dikaitkan dengan
penggunaannya dalam pekerjaan sehari-hari maka dapat disimpulkan bahwa tingkat
produktivitas seseorang jnga berbanding lurus dengan jumlah dan lamanya latihan
Pelatihan di dalam pekejaan juga meningkatkan produktivitas kerja seseorang.
Dalam praktek pelatihan seperti itu biasanya diukur dalam bentuk pengalaman kerja.
Pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam
pengembangan sumberdaya manusia. Disatu pihak pendidikan dan pelatihan
meningkatkan produktivitas kerja, dipihak lain pendidikan dan latihan menipakan
indikator tingkat kemiskinan.
Prospek pendidikan angkatan kerja untuk tahun-tahun yang akan datang sangat
tergantung dari keadaan pendidikan sekarang ini. Sluvey Angkatan Kerja tahi~n 1978
menunjukkan bahwa 26.87 juta penduduk berumur 10 tahun keatas atau lebih atau
28.56 persen tergolong buta h u n ~ f disamping 38.39 juta atau 40.85 persen yang
belum tamat Sekolah Dasar. Sensus penduduk tahun 1980 juga menunjukkan bahwa
3.9 juta atau 15.24 persen penduduk dalam kelompok umur 7-12 tahun tidak
bersekolah. Mereka ini termasuk angkatan kerja potensial yang sebagian sudah dalam
pasar kerja dan sebagian lagi sewaktu-waktu akan masuk pasar ke j a .
Angka-angka di atas menunjukkan bahwa dalam rangka pengembangan
sumberdaya manusia Indonesia, tugas dan tantangan besar terletak di hadapan kita
bukan saja menyangkut pendidikan formal akan tetapi juga pelatihan-pelatihan bagi
sejuml3h besar yang masih buta h u n ~ f dan berpendidikan rendah. Peningkatan
pendidikan dan pelatihan tersebut merupakan bentuk usaha yang sangat ampuh untuk
3.4. Program Perluasan Kesempatan Kerja
Krisis Ekonomi yang melanda Indonesia temyata berdampak sangat luas,
diantaranya adalah kualitas hidup masyarakat, ha1 ini terutama disebabkan oleh
berkurangnya pendapatan masyarakat sebagai akibat dari penurunan kesempatan
kerja. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah penganggur mencapai
5.1 juta jiwa, di perkotaan berkisar 2.1 juta jiwa. Dampak lainnya yzng terlihat adalah
menurunnya kondisi prasarana
dan
sarana lingkungan perumahan terutama padakawasan kumuwnelayan di perkotaan sebagai akibat menutunnya pendapatan
masyarakat dalam memelihara prasarana dan sarana lingkungannya.
Program padat karya dimunculkan sebagai salah satu solusi mengatasi persoalan
diatas. Pelaksanaan program padat karya dikembangkan untuk meningkatkan
pendapatan miskin juga dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan
kualitas dan atau kuantitas prasarana dan sarana lingkungan pen~mahan dan
pemukiman terutama di wilayah perkotaan. Pada tahap awal kegiatannya, program ini
herada di bawah koordinasi Departemen Pekerjaan Umum.
Program ini ditujukan untuk tenaga ke j a tidak terampil, tidak berpengalaman yang tidak bekerja dan sedang mencari kerja. Sehubungan dengan laisis ekonomi,
program ini ditujukan pada korban Pemutusan Hubungan Kerja dan pekerja wanita
yang mencari kerja untuk menambah atau mencuknpi pemenuhan kebutuhan hidup
sehari-hati khususnya untuk pengadaan pangan, pembiayaan untuk pendidikan dan
kesehatan serta kebutuhan sosial ekonominya. Sejalan dengan ha1 tersebut maka
1 . Menciptakan dukungan pendapatan segera kepada keluarga miskin dan
menciptakan kesempatan k e j a terutama pada skala kota yang sebanyak-
banyaknya.
2. Menyerap pencari kerja termasuk tenaga kerja wanita, yang tidak mempunyai keterampilan dalam waktu singkat dan jumlah yang besar
3. Meningkatkan pelayanan dan kualitas lingkungan melalui rehabilitasi sarana dan
prasarana khususnya penanganan daerah kumuh di wilayah perkotaan.
Kegiatan diutamakan untuk kegiatan-kegiatan rehabilitasi serta sebagian besar
untuk kegiatan pemeliharaan dan pengembangan yang diperlukan unh~k
meningkatkan fungsi pelayanan dan prasarana dan sarana lingkungan pen~mahan.
Lingkup kegiatan yang ditangani meliputi antara lain:
1. Prasarana dan sarana berskala kota seperti: jaringan drainase primer I sekunder,
jaringan jalan, persampahan dan lainnya.
2. Prasarana lingkungan, antara lain adalah jalan lingkungan, jalan setapak, jembatan kecil, gorong-gorong, air bersih dan sanitasi lingkungan.
3. Fasilitas umum meliputi antara lain stasiun bus, shelter, pasar, kios, taman kanak-
kanak, gardu jaga, balai karya, posyandu, kantor kelwahan ataupun kantor Rukun
Warga.
4. Fasilitas lingkungan perumahan nelayan 1 kumuh, rumah tinggal, ruang terbuka
IV. KERANGKA PEMIKIRAN
4.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
4.1.1. Penduduk, Tenaga Kerja dan Angkatan Kerja
Penduduk Indonesia termasuk keempat terbesar di dunia setelah Republik
Rakyat Cina (RRC), India clan Amerika Serikat. Penduduk Indonesia bertambah dari
118.4 juta pada tahun 1971 menjadi 146.8 juta pada tahun 1950 ,bertambah menjadi
179.2 juta orang pada tahun 1990, dan pada tahun 1995 menjadi 194.8 juta orang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Penduduk dan Angkatan Kerja Indonesia 1961-2000
Sumbrr.
- SUPAS 1961,1971,1980 dan 1990
- SAKERNAS 1976.1985.1995
Sejalan dengan pertumbuhan penduduk tersebut, tenaga k e j a dan angkatan
kerja juga meningkat. Tenaga kerja bertambah dari 104.4 juta dalam tahun 1980
[image:57.585.73.500.322.648.2]Dengan demikian jelas bahwa semakin besar jumlah penduduk semakin besar pula
penyediaan tenaga kerja dan angkatan kerja. Penduduk Indonesia termasuk dalam
golongan struktur umur muda. Artinya hanya sebagian kecil penduduk yang produktif
dapat menghasilkan barang dan jasa, sedangkan sebagian besar penduduk berada
dalam kelompok umur yang membutrtuhkan pelayanan. Pada kelompok umor 5 - 19
tahun atau usia sekolah terdapat 52.8 juta atau 37.5 persen. Sebagian besar mereka
membutuhkan fasilitas pendudt~k. Dalam kelompok umur 20 - 29 tahun terdapat 25.4
juta atau 17.1 persen, sebagian besar merupakan angkatan kerja yang barn masuk
pasar kerja dali ninuinnya beli~m memplmyai pengalaman kerja. Dari nraian tersebut
dapat disimpdkan baliwa hanya sebagian kecil penduduk yang produktif
menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan banyak orang. Tuntutan
akan penyediaan fasilitas kesehatan, pendidikan dan kesempatan kerja untuk tenaga
muda yang belum berpengalaman semakin besar.
Penduduk terbagi menjadi dua bagian yaitu penduduk usia kerja dan bilkan usia
kerja. Di lndonesia sainpai tahun 1998, dipilih batas usia 15 tahun tanpa batas usia
maksimum. Jadi tenaga kerja di Indonesia dimaksudkan sebagai penduduk yang
ben~sia 15 tahun atau lebih. Pemilihan 15 tahun sebagai hatas usia minimum
berdasarkan kenyataan bahwa pada osia tersebut sudah banyak penduduk yalg
bekerja.
Tenaga kerja atau manpower terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja atau laborforce terdin dari:
1 . Golongan yang bekerja
Kelompok bukan angkatan kerja terdiri dari:
1. Golongan sedang bersekolah
2. Golongan yang mengurus rumah tangga
3. Golongan lain-lain
Menurut Badan Pusat Statistik (1998), pengtlkluan golongan angkatan kerja
dan bukan angkatan k e j a didasarkan pada periode time refirence, yaih~ kegiatan
yang dilakukan selama seminggu yang lalu. Tenaga ke j a dalam golongan angkatan
kerja terdiri dari pendu~duk yang bekerja dan tidak bekerja tetapi sedang mencari
kerja. Tiap negara dapai memberikan pengertian dan definisi yang berbeda mengenai
dua ha1 diatas. Di Indonesia, bekeja didefinisikan sebagai kegiatan melakukan
pekerjaan dengan tujuan memperoleh nafkah atau membantu memperoleh natkah
paling sedikit satu jam secara tens menerus selama seminggu yang lalu. Kegiatan
bekerja ini mencakup, baik yang sedang bekerja mauptin yang memiliki pekejaan
tetapi dalam seminggu yang lalu sementara tidak aktif bekerja misalnya karena cuti,
sakit dan sejenisnya.
Sementara yang dimaksud dengan mencari pekerjaan adalah upaya yang
dilakukan untuk memperoleh pekerjaan pada suatu periode waktu (time reference).
Banyahya pencari kerja dibandingkan dengan banyaknya angkatan kerja adalah
merupakan indikator tinggi rendahnya tingkat pengangguran pada suato wilayah dan
waktu tertentu. Untuk dapat digolongkan sebagai penganggur , t i p kriteria hams
dipenuhi secara bersama-sama. Kriteria tersebut adalah: (1) tidak bekerja dan tidak
memptmyai pekerjaan , (2) bersedia menerima pekerjaan atau bersedia bekerja dan
Selanjutnya kelompok bukan angkatan kerja terdiri dari tiga golongan yaihl:
I . Golongan yang masih bersekolah, yaitu mereka yang kegiatan utamanya adalah
sekolah.
2. Golongan yang Inengurus rumah tangga, yaitu mereka yang mengurus rumah
tangga tanpa memperoleh upah.
3. Golongan lain-lain, yaitu:
a. Golongan penerima pendapatan, yaitu mereka yang tidak melakukan suatu
kegiatan ekonomi tetapi memperoleh pendapatan seperti tunjangan pensiun,
bunga atas simpanan atau sewa atas milik.
b. Golongan yang hidi~pnya tergantung dari orang lain misalnya karena lanjut
usia, cacat, dalam penjara atau sakit.
Pada dasarnya golongan yang tennasuk kelompok bukan angkatan kerja ini
sewaktu-waktu dapat masuk ke pasar kerja. Oleh sebab itu kelompok ini dapat juga
disebut juga sebagai angkatan k