• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan luar negeri Qatar dalam memberikan dukungan terhadap National Transitional Council (NTC) terkait krisis politik di Libya 2011-2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kebijakan luar negeri Qatar dalam memberikan dukungan terhadap National Transitional Council (NTC) terkait krisis politik di Libya 2011-2012"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN LUAR NEGERI QATAR DALAM

MEMBERIKAN DUKUNGAN TERHADAP

NATIONAL

TRANSITIONAL COUNCIL

(NTC) TERKAIT KRISIS

POLITIK DI LIBYA

(2011-2012)

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

Rahmi Kamilah

1110113000050

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

JAKARTA

(2)

ii

KEBIJAKAN LUAR NEGERI QATAR DALAM MEMBERIKAN

DUKUNGAN TERHADAP PIHAK NATIONAL TRANSITIONAL COUNCIL

(NTC) TERKAIT KRISIS POLITIK DI LIBYA (2011-2012)

1. Merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN)

Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam

Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli

saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya

bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN)

Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 23 Oktober 2014

(3)
(4)
(5)

v ABSTRAKSI

Skripsi ini menganalisa tentang kebijakan luar negeri Qatar terkait krisis politik di Libya pada periode 2011-2012. Skripsi ini bertujuan untuk melihat faktor apa saja yang mendorong Qatar untuk memberikan dukungan kepada pihak oposisi dalam krisis politik di Libya. Sumber data yang diperoleh untuk melengkapi penulisan skripsi ini ialah melalui pengumpulan studi kepustakaan.

Dalam skripsi ini ditemukan bahwa fenomena Arab Spring yang terjadi di

Timur Tengah berdampak luas terhadap perpolitikan kawasan tersebut. Salah satu faktor utama yang mendorong gerakan revolusi ialah permasalahan ekonomi. Qatar, sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi salah satu negara kawasan yang tidak mengalami revolusi tersebut. Selain itu, terdapat responsibility to protect (r2p) bagi Qatar sebagai negara anggota PBB untuk membantu meredam konflik yang didalamnya terdapat pelanggaran HAM, salah satunya ialah krisis politik di Libya.

Konsep intervensi yang digunakan dalam penelitian ini berguna untuk menjelaskan pentingnya sebuah intervensi dilakukan oleh negara-negara di dunia demi mengurangi dampak kemanusiaan yang dihasilkan dari sebuah revolusi politik. Selain itu, teori kebijakan luar negeri juga digunakan untuk menganalisa faktor apa saja yang memengaruhi Qatar dalam menerapkan kebijakan luar negeri terkait krisis di Libya. Faktor tersebut dapat dilihat dari dua sisi, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Melalui analisa kebijakan luar negeri yang digunakan dalam penelitian ini, maka akan ditemukan faktor dominan apa yang paling memengaruhi kebijakan Qatar terkait krisis politik di Libya. Dalam menganalisa faktor-faktor tersebut akan ditemukan bahwa pertumbuhan ekonomi Qatar menjadi pendorong utama bagi Qatar untuk menerapkan kebijakan intervensi. Selain itu, kebijakan intervensi tersebut juga didorong oleh keinginan Qatar untuk menjadi aktor dominan di kawasan Timur Tengah.

(6)

vi

serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang

berjudul “Kebijakan Luar Negeri Qatar dalam Memberikan Dukungan Terhadap

Pihak National Transitional Council (NTC) terkait Krisis Politik di Libya

(2011-2012)” dengan baik.

Adapun tujuan penyusunan skripsi ini ialah untuk memenuhi tugas akhir dan untuk memenuhi syarat wajib kelulusan bagi mahasiswa/i Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki penulis, penyusunan skripsi ini tidak akan mampu diselesaikan tanpa bantuan dan bimbingan pihak lainnya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini izinkan penulis untuk mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Allah SWT dengan segala rahmat, ridha dan kasih sayang-Nya dan masih

memberikan saya kesempatan untuk mampu menyelesaikan sekolah saya hingga sarjana.

2. Yang tersayang, Ibu dan Ayah (Atin M. Murlim dan Rasum Shaleh) yang

selalu memanjatkan do’a bagi anak-anaknya. Perjuangan untuk

menghidupkan dan menyukseskan kami tidak akan mampu kami bayar hingga kapanpun. Semoga kami cukup mampu membuat kalian bangga. Ami sayang Ibu dan Ayah.

Dzakiatussa’adah) atas kasih sayang dan dukungannya.

6. Riko Febrian Eltari yang banyak membantu dan menemani dalam proses

penyelesaian skripsi ini, terima kasih atas waktunya.

7. Teman-teman Warsol Forum/Cordobre, Asri Kusumastuty, Balqis Faradiba,

(7)

vii

8. Shofia Nida dan Airin Aisyah beserta seluruh teman-teman HI-B yang tidak

pernah gagal memberikan kesan dan pesan semasa kuliah. Semoga kita semua mampu mencapai kesuksesan di masa mendatang.

9. Dan kepada seluruh orang terdekat yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Terimakasih atas dukungan dan motivasi untuk saya menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Mengingat seluruh keterbatasan, penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Meskipun demikian, penulis harap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang membutuhkannya.

Jakarta, 23 Oktober 2014

(8)

viii

BAB II KRISIS POLITIK YANG TERJADI DI LIBYA... 20

A. Awal Mula terjadinya Krisis Politik di Libya... 20

1. Arab Spring sebagai Fenomena Politik di Timur Tengah………. 20

2. Arab Spring di Libya (Libya Spring)………. 25

B. Pihak Oposisi dalam Krisis Politik di Libya... 29

1. Lahirnya Kelompok Oposisi di Libya pada Masa Rezim Qaddafi... 29

2. NTC sebagai Perwakilan Resmi Rakyat Libya pada Masa Krisis………. 32

BAB III PERAN QATAR DALAM KRISIS POLITIK DI LIBYA…….. 35

A. Kedudukan Qatar di Timur Tengah……… 35

(9)

ix

2. Kedudukan Qatar di Timur Tengah

pada Masa Krisis Politik……… 41

B. Hubungan Bilateral Qatar dan Libya………. 43

1. Hubungan Qatar dan Libya sebelum Krisis Politik……… 44

2. Hubungan Qatar dan Libya pada Masa Krisis Politik……… 45

C. Bentuk Dukungan Qatar terhadap Pihak NTC... 47

BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG QATAR UNTUK MEMBERIKAN DUKUNGAN TERHADAP NTC... 50

A. Dukungan Qatar terhadap NTC sebagai Bentuk Intervensi... 50

(10)
(11)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta Qatar di Timur Tengah……… 35

(12)

xii

Lampiran 1. Resolusi PBB 1970……… xx

(13)

xiii

DAFTAR SINGKATAN

DK PBB : Dewan Keamanan PBB

GCC : Gulf Cooperation Council

HAM : Hak Asasi Manusia

ICC : International Criminal Court

ICISS :International Commission on Intervention and State

Sovereignty

JEM : Justice and Equality Movement

LCG : Libya Contact Group

LIFG : Libyan Islamist Fight Group

LNG : Liquefied Natural Gas

MoU : Memorandum of Understanding

NATO : North Atlantic Treaty Organization

NTC : National Transitional Council

OKI : Organisasi Konferensi Islam

PBB : Perserikatan Bangsa-Bangsa

RCC : Revolutionary Command Council

(14)

1

A. Latar Belakang Masalah

Desember 2010, merupakan bulan yang mengawali gejolak politik di

Timur Tengah, yang disebut dengan Arab Spring. Berawal di Tunisia, aksi protes

terhadap pemerintah melahirkan bentuk-bentuk protes di negara Arab lain sebagai

ekspresi ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang ada di negara-negara Timur

Tengah. Aksi protes ini juga terjadi di Mesir pada Januari 2011 untuk

menurunkan rezim Husni Mubarak. Protes tersebut berhasil menurunkan rezim

Mubarak turun dari kursi pemerintahan. Fenomena Arab Spring ini juga menyebar

ke negara Timur Tengah lainnya, seperti Suriah, Yaman, Aljazair, Yordania,

Oman, Maroko, termasuk Libya.1

Di Libya, aksi protes diawali pada bulan Februari 2011 yang

menginginkan mundurnya rezim Muammar Qaddafi dari kursi pemerintahan

Libya.2 Aksi ini menimbulkan perang saudara antara pemerintahan dengan para

pemberontak yang menginginkan kemunduran Qaddafi. Kerasnya sikap Qaddafi

dalam menghadapi para pemberontak mendorong Uni Eropa dan PBB bersikap

1Cedric Dupont dan Florence Passy, “The Arab Spring or How to Explain those Revolutionary

Episodes?”Swiis Political Science Association: SPSR, 2037 (Oktober 2011): 1.

2 Dr. Bruce St. John, Libyan Myths and Realities, (Copenhagen: Royal Danish Defense College,

(15)

2

tegas melalui embargo serta penarikan Libya dari keanggotaan U.N. Human Right

Council.3

Selain Uni Eropa dan PBB yang memberikan respon terhadap revolusi

politik di Libya, negara-negara Arab seperti Qatar turut memberikan respon

terkait krisis tersebut. Pada Maret 2011, Qatar menjadi negara Arab pertama yang

mengakui National Transitional Council (NTC) sebagai perwakilan resmi rakyat

Libya.4 NTC merupakan badan yang dibentuk oleh pihak oposisi dalam

menghadapi rezim Qaddafi yang kemudian diresmikan sebagai perwakilan bagi

rakyat Libya.5

NTC memperoleh legitimasi melalui dewan-dewan lokal yang telah

dibentuk oleh pihak pemberontak. Selain dari dewan lokal, negara-negara dunia

seperti Perancis, Jerman, Italia, Tiongkok, Rusia, Yordania, Kuwait, Uni Emirat

Arab, termasuk Qatar turut memberikan pengakuan terhadap pemerintahan

sementara NTC sebagai perwakilan resmi rakyat Libya.6

Qatar, selain memberikan dukungan terhadap pihak NTC, juga

memberikan dukungan militer seperti pengiriman senjata, seragam, amunisi dan

transportasi perang serta bantuan keuangan dalam membantu pihak pemberontak

baik secara unilateral maupun dalam kerangka kerjasama Liga Arab dan

kampanye NATO.7 Qatar juga memfasilitasi kapal perang di Al-Udeid, yang

3“TIMELINE-Libya's uprising against Muammar Gaddafi”. Reuters, 30 Maret 2011, tersedia di

<http://www.reuters.com/article/2011/03/30/libya-idUSLDE72K0KK20110330> diakses pada 9 Maret 2014.pukul 15. 32.

4 Lina Khatib, “Qatar’s Foreign Policy: The Limits of Pragmatism”, International Affairs 89: 2

(2013): 421.

5Bruce St. John, “Libyan Myths and Realities” Royal Danish Defense College, Research Paper,

(Agustus, 2011), 10.

(16)

merupakan pangkalan militer Amerika Serikat (AS), sebagai bentuk dukungan

Qatar terhadap pihak NTC.8

Selain memberikan bantuan dana dan militer kepada pihak anti-Qaddafi,

Qatar juga memberikan bantuan dalam bidang energi, yakni membantu

memasarkan minyak mentah Libya.9 Perjanjian penjualan minyak antara Qatar

dan pihak oposisi ini dicapai sehari sebelum Qatar memberikan pernyataan

pengakuan terhadap NTC sebagai perwakilan resmi rakyat Libya.10

Dalam respon Qatar terhadap isu Arab Spring, Qatar tidak hanya berperan

dalam krisis yang terjadi di Libya saja, melainkan juga di negara Arab lain seperti

Bahrain, Yaman, Tunisia, Mesir dan Suriah. Namun, intervensi militer yang

dilakukan Qatar hanya diterapkan di Libya dan Suriah. Keterlibatan Qatar secara

politik di Bahrain dan Yaman dapat dikatakan terbatas karena terdapat pengaruh

besar dari Arab Saudi di kedua negara tersebut. Selain itu, di Tunisa dan Mesir,

peran Qatar hanya sebatas pemberian bantuan ekonomi.11

Sebelum aktif dalam memberikan respon terkait fenomena Arab Spring,

Qatar memosisikan dirinya sebagai mediator dalam isu-isu kawasan terdahulu,

8David Roberts, “Behind Qatar’s Intervention in Libya: Why was Doha such a Strong Supporters

of the Rebels?” Foreign Affairs, 28 September 2011, tersedia di:

<http://www.foreignaffairs.com/articles/68302/david-roberts/behind-qatars-intervention-in-libya>

diakses pada 2 Juni 2014, pukul 19.36.

9Sultan Barakat, “The Qatari Spring: Qatar’s Emerging Role in Peacemaking”, London School of

Economics and Political Science, 24 (Juli, 2012): 26.

10 Qatar recognises Libyan rebels after oil deal”, AlJazeera, 28 Maret 2011, tersedia di:

<http://www.aljazeera.com/news/middleeast/2011/03/201132814450241767.html> diakses pada

15 Maret 2014, pukul 17.02.

11 Kristian Coates Ulrichsen, “Qatar and The Arab Spring: Policy Drivers and Regional

Implications”, Carnegie Endowment for International Peace, tersedia di:

(17)

4

seperti di Yaman, Libanon, dan Sudan.12 Peran mediasi yang dilakukan Qatar di

negara-negara tersebut ialah dengan mengupayakan penyelesaian konflik melalui

perundingan perdamaian beserta penyediaan dana bantuan.13 Peran tersebut

menjadikan Qatar dikenal sebagai negara netral atau tidak memihak dalam upaya

penyelesaian konflik.14

Peran Qatar dalam menghadapi krisis politik di Libya menunjukkan

adanya perubahan pola kebijakan luar negeri Qatar jika dibandingkan dengan

peran mediasi dalam menghadapi isu-isu di kawasan sebelum Arab Spring.

Intervensi Qatar dalam menghadapi krisis di Libya tersebut tidak lagi mewakili

reputasi netral yang dimiliki Qatar sebelumnya. Selain itu, Qatar sebagai negara

kecil, berdasarkan ukuran geografisnya, dengan kebijakan intervensi akan

membentuk citra negatif bagi Qatar diantara negara-negara tetangganya.15

Dengan adanya perubahan kebijakan yang lebih aktif melalui dukungan

yang diberikan Qatar terhadap NTC, menjadi menarik untuk dibahas faktor apa

saja yang mendorong Qatar untuk memberikan dukungan bagi pihak NTC terkait

krisis politik di Libya tahun 2011-2012. Pemilihan periode ini didasarkan pada

awal terjadinya revolusi di Libya serta peran yang dilakukan Qatar dalam

menghadapi isu di Libya dengan melihat perkembangan kebijakannya selama

setahun kedepan.

12Barakat, “The Qatari Spring”, 13.

13Khatib.“Qatar’s Foreign Policy”, 418. 14Barakat, “The Qatari Spring”, 2.

15Kristian Coates Ulrichsen, “Small States with a Big Role: Qatar and The Unites Arab Emirates

(18)

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan kasus yang dibahas dalam tulisan ini, maka dapat

dirumuskan pertanyaan untuk penelitian ini, yakni:

“Faktor apa saja yang mendorong Qatar untuk memberikan dukungan terhadap

pihak NTC terkait krisis politik di Libya tahun 2011?”

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui permasalahan Arab Spring khususnya di Libya.

2. Menjelaskan kebijakan-kebijakan Qatar melalui intervensi di Libya.

3. Menganalisa faktor-faktor yang mendorong Qatar melakukan intervensi

dalam krisis politik di Libya.

Adapun manfaat yang dapat dihasilkan dari penelitian ini adalah:

1. Sebagai bahan pengetahuan mengenai kebijakan Qatar terhadap krisis

politik di Libya.

2. Untuk menambah wawasan bagi para penstudi Hubungan Internasional

mengenai kasus yang menjadi topik penelitian.

3. Sebagai bahan perbandingan bagi penelitian selanjutnya dengan bahasan

yang sama.

D. Tinjauan Pustaka

Silvia Colombo, menulis jurnal yang berjudul “The GCC Countries and

(19)

6

diterbitkan oleh Instituto Affari Internazionali Vol. 12, No. 09 pada tahun 2012 ini

menuliskan tentang fenomena Arab Spring yang terjadi di Timur Tengah dan

bagaimana gejolak politik yang terjadi memengaruhi negara-negara Teluk yang

tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC).

Dalam tulisan tersebut menggambarkan bahwa Arab Spring

memengaruhi kondisi internal mereka, terutama dalam hal politik dan ekonomi.

Secara regional, GCC ini harus menerapkan kebijakan intervensi serta

memberikan bantuan-bantuan bagi rakyat yang terkena dampak revolusi seperti

yang terjadi di Suriah dan Libya. Tulisan ini menjelaskan bagaimana

negara-negara Teluk yang tergabung dalam GCC ini memberikan respon terhadap isu

regional yang sedang terjadi.16

Perbedaan jurnal tersebut dengan penelitian yang akan dibahas adalah

subjek penelitian. Meskipun Qatar merupakan negara anggota GCC, namun

penelitian ini tidak membahas respon GCC secara keseluruhan tetapi lebih

memfokuskan pada peran Qatar secara unilateral dalam mengahadapi gejolak

politik yang terjadi di Libya. Selain itu, objek dari penelitian ini juga

memfokuskan pada isu Arab Spring yang terjadi di Libya saja. Berbeda dengan

penelitian yang dituliskan dalam jurnal di atas yang membahas mengenai Arab

Spring secara keseluruhan dan dampaknya terhadap regional.

Pada tahun 2013, European Scientific Journal menerbitkan tulisan dalam

Vol. 12 yang berjudul “The Rise of Qatar as a Soft Power and The Challenges”.

Jurnal yang dituliskan oleh Osman Antwi-Boateng ini menjelaskan tentang

16 Silvia Colombo, The GCC Countries and The Arab Spring: Between Outreach, Patronage, and

(20)

kebijakan soft-power yang diterapkan oleh Qatar dalam isu-isu kawasan yang

merupakan daya tarik bagi Qatar. Daya tarik ini terlihat dari stabilitas politik,

pertumbuhan ekonomi melalui redistribusi pendapatan yang efektif serta sistem

pendidikan yang progresif. Selain itu, penyebaran pengaruh melalui Al-Jazeera,

investasi dalam bidang olahraga dan kebijakan dalam memberikan bantuan yang

tidak memberatkan.17

Perbedaan jurnal tersebut dengan penelitian ini terletak pada isu yang

dibahas. Jurnal tersebut tidak memfokuskan pada isu yang terjadi di Arab spring

seperti halnya penelitian ini. Selain itu, adanya keterlibatan Qatar dalam intervensi

militer menggambarkan bahwa penelitian ini mencakupi kebijakan hard-power,

bukan hanya soft-power seperti jurnal tersebut.

“Saving Strangers in Libya: Traditional and Alternative Discourses on

Humanitarian Intervention” merupakan thesis yang ditulis oleh Sorana-Christina

Jude untuk memperoleh gelar Master di Eurpoean Institute. Thesis yang

diselesaikan pada tahun 2012 ini menuliskan tentang intervensi yang dilakukan

banyak pihak terkait proses demokratisasi yang terjadi di Libya pada tahun 2011.

Tulisan ini melihat bagaimana intervensi yang dilakukan negara-negara dunia

terhadap Libya dari pendekatan-pendekatan Hubungan Internasional baik

pendekatan tradisional maupun pendekatan alternatif. Tulisan ini juga melihat

bagaimana intervensi yang tersebut menggambarkan kewajiban negara-negara

untuk membantu mengatasi konflik yang terjadi. Di lain pihak, tulisan ini juga

17 Osman Antwi-Boateng, “The Rise of Qatar as a Soft Power and The Challenges”, European

(21)

8

mencoba melihat intervensi yang telah dipolitisasi berdasarkan kepentingan

nasional negara yang terlibat.18

Perbedaan penelitian ini dengan thesis tersebut ialah bahwa penelitian ini

mencoba melihat faktor-faktor yang memengaruhi Qatar melakukan intervensi di

Libya. Selain itu, penelitian ini tidak menjabarkan segala bentuk intervensi yang

dilakukan oleh negara dunia terhadap proses demokratisasi di Libya melainkan

terfokus pada intervensi yang dilakukan Qatar untuk menghadapi krisis di Libya.

Maya Savitri, pada tahun 2013 menulis skripsi yang berjudul “Alasan

NATO (North Atlantic Treaty Organization) Dalam Krisis Politik di Libya Tahun

2011” untuk memperoleh gelar sarjana S.Sos di Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta. Dalam penelitian tersebut dijelaskan mengenai peran NATO

sebagai organisasi internasional dengan aktifitas yang didasarkan pada

kepentingan negara anggotanya. Penelitian ini juga membahas mengenai

intervensi yang dilakukan oleh NATO dengan menjabarkan maksud dan tujuan

NATO dalam misi tersebut.19

Dalam penelitian di atas membahas mengenai peran NATO dalam

intervensi terhadap krisis yang terjadi di Libya. Subjek penelitian difokuskan pada

peran NATO sebagai organisasi internasional dalam menghadapi krisis politik di

Libya. Dengan demikian, perbedaan penelitian ini terletak pada subjek yang lebih

memfokuskan pada peran Qatar meskipun terhadap kasus yang sama, yakni krisis

politik di Libya.

18 Sorana-Christina Jude, “Saving Strangers in Libya: Traditional and Alternative Discourses on

Humanitarian Intervention”, Eurpoean Institute, (Thesis: 2012).

19 Maya Savitri, “Alasan NATO (North Atlantic Treaty Organization) Dalam Krisis Politik di

(22)

E. Kerangka Teori

1. Teori Kebijakan Luar Negeri

Dalam penelitian ini, teori yang akan digunakan adalah teori kebijakan

luar negeri untuk melihat dasar pertimbangan kebijakan Qatar terhadap Libya.

Kebijakan luar negeri, bagi Marijke Breuning, merupakan hasil dari interaksi

negara dengan lingkungan diluar batasnya.20 Alex Mintz dan Karl DeRouen

merumuskan pembuatan kebijakan luar negeri sebagai sekumpulan pilihan yang

diputuskan oleh individu, kelompok, atau koalisi dan akan memengaruhi tindakan

negaranya dalam lingkungan internasional. Dalam kebijakan luar negeri tersebut

terdapat seperangkat karakter yang lekat dengan pembuatan keputusan, yakni

ketidakpastian dan resiko.21

Secara tradisional, keputusan yang diambil dalam proses pembuatan

kebijakan luar negeri didasari pada kepentingan nasional yang tidak lepas dari

alasan untuk mempertahankan dan melindungi kekuasaan dan keamanan.

Terutama ketika masa perang, suatu negara dihadapkan pada pilihan untuk terlibat

perang demi melindungi integritas wilayahnya. Namun, dalam perkembangan

yang terjadi di sistem internasional, terutama paska Perang Dingin, fenomena

globalisasi yang ada memengaruhi perpolitikan dunia yang membuat negara lebih

memfokuskan perhatiannya dalam sektor ekonomi, meskipun tidak melepaskan

diri seutuhnya dari unsur-unsur militer. Negara menjadikan ekonomi sebagai

20 Marijke Breuning, Foreign Policy Analysis: A Comparative Introduction, (New York: Palgrave

Macmillan, 2007), 5.

21 Alex Mintz dan Karl DeRouen Jr., Understanding Foreign Policy Decision Making,

(23)

10

prioritas utama, terlebih lagi semenjak dibentuknya berbagai macam organisasi

kerjasama ekonomi antar internasional.22

Kebijakan luar negeri merupakan unsur penting dalam membentuk

sebuah fenomena internasional. Sebab, sebuah kebijakan yang diterapkan suatu

negara akan menciptakan sebuah interaksi. Beberapa kebijakan dikalkulasikan

secara cermat dan kebijakan lainnya dapat pula diterapkan hanya dengan

mengandalkan intuisi.23 Kalkulasi sebuah kebijakan menandakan bahwa isu-isu

domestik dapat menentukan bagaimana sebuah kebijakan ditetapkan. Nilai-nilai

yang telah melekat dalam lingkungan domestik mampu memengaruhi bagaimana

pola politik internal dan membentuk tindakan terhadap lingkungan eksternal.24

Dalam memahami proses pembentukan kebijakan luar negeri, elemen

utama yang paling penting ialah pemimpin. Namun, proses pembuatan kebijakan

suatu negara tidak hanya dapat dilihat dari faktor pemimpin saja, tetapi juga

melihat proses birokrasi dalam pembuatan kebijakan yang sekaligus melihat

peranan aktor-aktor lain dalam birokrasi tersebut. Selain aktor-aktor politik,

publik juga memiliki peran dalam memengaruhi keputusan suatu kebijakan, baik

itu masyarakat, pers, bahkan aktor-aktor politik dari negara lain.25

Terdapat empat unsur dalam proses pembuatan kebijakan, yakni

pilihan, keputusan, tindakan, dan hasil. Pilihan merupakan beberapa kemungkinan

yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pembuat keputusan untuk

menetapkan kebijakan. Keputusan merupakan pilihan yang telah ditetapkan.

22 Breuning, Foreign Policy Analysis, 5.

(24)

Selanjutnya, tindakan merupakan perilaku yang didasarkan pada keputusan yang

telah dibuat. Tindakan biasanya dilakukan untuk memengaruhi aktor dari negara

lain atau untuk memperoleh keuntungan bagi negara. Dan yang terakhir adalah

hasil. Hasil dari kebijakan yang telah diterapkan yang cenderung bersifat abstrak.

Sebab hasil dari sebuah kebijakan juga dapat dipengaruhi oleh kebijakan negara

lain sebagai respon dari interaksi antar negara.26

Kebijakan luar negeri merupakan sebuah bentuk interaksi yang terjadi

antar negara karena di dalamnya terdapat sebuah tindakan dan juga respon dari

tindakan tersebut. Dengan demikian, penting untuk memahami kebijakan luar

negeri dari level negara. Level ini mencakup faktor internal yang memengaruhi

kebijakan suatu negara. Faktor-faktor internal tersebut dapat dilihat dari kerangka

institusi – seperti melihat interaksi antara badan legislatif dan eksekutif, serta

kondisi negara – seperti dalam hal ekonomi, sejarah dan kebudayaan negara.27

Faktor-faktor tersebut mampu membentuk sekumpulan pilihan bagi pembuat

kebijakan.

Selain dalam level negara, kebijakan luar negeri juga dapat dilihat dari

level sistem internasional. Level ini memfokuskan interaksi yang terjadi antar

negara. Sebab sistem internasional merupakan sekumpulan negara yang saling

berinteraksi yang dipengaruhi oleh kapabilitas mereka, yakni kekuasaan dan

kekayaan, dan hal tersebut memungkinkan mereka untuk bertindak di lingkungan

global. Kemampuan yang dimiliki suatu negara dapat berubah, yakni apakah

(25)

12

kemampuan ekonomi dan militer mereka bertambah atau berkurang.28 Interaksi

yang terjadi antar negara menjadikan sistem internasional sebagai faktor penting

bagi negara untuk mempertimbangkan kebijakan luar negeri.

Analisa dalam kebijakan luar negeri meliputi pemeriksaan pada proses

pembuatan kebijakan. Bagaimana keputusan ditetapkan dan bagaimana perubahan

dalam politik internasional berdampak pada perilaku manusia untuk berperan

secara individu maupun kolektif.29 Penjelasan mengenai analisa kebijakan luar

negeri juga meliputi hasil dari keputusan sebuah negara. Hasil tersebut juga

didasarkan pada pertimbangan bahwa keputusan yang dibuat akan memiliki

konsekuensi tersendiri bagi lingkungan internasional.30

Kebijakan luar negeri dibuat melalui beberapa fokus, seperti mengenali

permasalahan, membingkai isu, mengumpulkan persepsi, memprioritaskan tujuan,

serta mengumpulkan pilihan-pilihan yang didasarkan pada situasi saat itu.

Faktor-faktor yang memengaruhi suatu kebijakan luar negeri merupakan satu kunci

dalam menjelaskan proses pembuatan kebijakan. Kontribusi dalam menganalisa

proses pembuatan kebijakan ialah untuk mengetahui poin penting apa saja yang

menjadi penentu utama bagi suatu negara untuk bertindak yang biasanya didasari

oleh faktor materi dan ide.31

Adapun faktor-faktor yang dapat digunakan untuk menganalisa suatu

kebijakan ialah melalui faktor objektif dengan melihat kondisi lingkungan

28 Breuning, Foreign Policy Analysis, 13.

29Valerie M. Hudson dan Christopher S. Vore, “Foreign Policy Analysis Yesterday, Today, and

Tomorrow. Mershon International”, Mershon International Study Review: The International

Studies Association, 39: 2 (Oktober,1995): 210.

30 Valerie M. Hudson, “Foreign Policy Analysis: Actor-Specific Theory and the Ground of

International Relations”, International Studies Association: Blackwell Publishing, 1 (2005): 2.

(26)

domestik dan juga lingkungan internasional yang memengaruhi keputusan sebuah

kebijakan.32 Adapun faktor-faktor tersebut ialah:

a. Faktor Internal:

1. Atribut Ekonomi

Perekonomian suatu negara merupakan salah satu faktor yang

dipertimbangkan negara dalam menerapkan sebuah kebijakan. Tingkat

pertumbuhan ekonomi suatu negara merupakan karakteristik ekonomi yang

mampu memengaruhi proses perumusan kebijakan. Sebuah negara dengan tingkat

pertumbuhan ekonomi yang tinggi cenderung lebih aktif dalam menghadapi

isu-isu internasional. Tingkat kekayaan suatu negara juga dapat memosisikan negara

sebagai pemberi atau penerima bantuan asing.33

2. Kepentingan Ekonomi

Berbeda dengan faktor atribut ekonomi yang menekankan pada

kemampuan ekonomi suatu negara, faktor kepentingan ekonomi ini lebih

menekankan pada kebutuhan ekonomi yang dikejar oleh suatu negara.

Kepentingan nasional merupakan dasar negara untuk menerapkan sebuah

kebijakan. Kepentingan nasional yang paling berpengaruh ialah kepentingan

ekonomi. Ketika akses terhadap sumber daya alam terancam, suatu negara akan

menerapkan sebuah kebijakan yang mampu mengamankan akses terhadap sumber

daya yang menjadi sektor penting dalam menjalankan perekonomian negaranya.34

32 Peter A. Toma dan Robert F. Gorman, International Relations: Understanding Global Issues,

(California: Brooks/Cole Publishing Company, 1991), 129.

33 Frederic S. Pearson dan J. Martin Rochester, International Relations: The Global Condition in

195.Twenty-First Century, (New York: The McGraw-Hill Companies, Inc: 1998), 195.

(27)

14

Dengan demikian, kepentingan ekonomi menjadi faktor penentu kebijakan suatu

negara.

b. Faktor Eksternal:

1. Struktur dalam Sistem Internasional

Struktur yang ada dalam sistem internasional dapat memengaruhi

kebijakan luar negeri suatu negara. Struktur tersebut dapat berupa unipolar,

bipolar, ataupun multipolar. Dalam melihat dominasi suatu negara di sistem

internasional harus juga memahami bahwa struktur dalam sistem internasional

dapat berubah. Secara umum, perubahan ini didorong oleh masalah ekonomi

ketika peran sebagai negara hegemon tidak lagi mampu untuk terakomodasi. Hal

tersebut akan mendorong negara lain untuk menggantikan peran tersebut.35

2. Aliansi

Aliansi merupakan salah satu faktor eksternal yang memengaruhi

kebijakan suatu negara. Keinginan suatu negara untuk menerapkan kebijakan

tertentu dapat dipengaruhi oleh aliansi yang dijalin dengan negara atau organisasi

lain. Aliansi militer, salah satu bentuk aliansi, dapat memengaruhi suatu negara

untuk mempertimbangkan pentingnya melakukan agresi atau intervensi militer

terhadap negara lain. Dapat juga kebijakan yang dibuat berupa ajakan suatu

negara untuk bergabung dengan koalisi yang dibentuk atau kebijakan untuk

menerima atau menolak ajakan dari negara lain.36

35 Pearson dan Rochester, International Relations, 188

(28)

2. Konsep Intervensi

Konsep intervensi atau yang dikenal dengan intervensi kemanusiaan

dapat dipahami sebagai tindakan oleh negara atau sekelompok negara untuk

mencegah atau membatasi dampak dari ancaman atau penggunaan kekerasan

terhadap manusia tanpa seizin dari negara yang dituju.37 Konsep intervensi yang

lama dapat ditekankan pada kewajiban negara dalam melindungi populasinya

sendiri. Namun, bagi Alex Bellamy, konsep intervensi ini sudah meluas dengan

adanya peran bantuan dari negara-negara dunia untuk menanggapi genosida dan

kejahatan massa.38

Bagi Martha Finnemore, intervensi kemanusiaan merupakan intervensi

dengan menggunakan militer yang tujuannya untuk melindungi rakyat sipil.39

James N. Rosenau melihat bahwa intervensi merupakan instrumen dari sebuah

tindakan, bukan merupakan tujuan akhir. Nilai moralitas sebuah tindakan

intervensi tergantung dari hasil akhir yang dituju.40 Dengan demikian, intervensi

dapat dipahami sebagai aksi yang dilakukan negara terhadap negara lain dengan

maksud melindungi warga sipil dalam kondisi perang. Tetapi, aksi intervensi ini

bertentangan dengan kedaulatan suatu negara. Hal tersebut menjadi perdebatan

mengenai legitimasi sebuah intervensi.41

37 J. L. Holzgrefe dan Robert O. Keohane, Humanitarian Intervention: Ethical, Legal, and

Political Dilemmas, (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), 18.

38Alex J. Bellamy, “The Responsibility to Protect: The Five Years On”, Ethics and International

Affairs 24:2 (2010), 143.

39Martha Finnemore (1996) dalam Saban Kardas, “Humanitarian Intervention: The Evolution of

The Idea and Practice”, Journal of International Affairs, 6: 2 (Juli, 2001): 1.

40 James N. Rosenau, The Scientific Study of Foreign Policy, (London: Frances Printer,1980) 342. 41Gareth Evans, “From Humanitarian Intervention to The Responsibility to Protect”, Wisconsin

(29)

16

Gambar 2. Definisi Intervensi

Sumber42: Joshep S. Nye Jr. (1991).

Joseph Nye menjelaskan bahwa bentuk intervensi memiliki beberapa

tahapan dari low coercion yang berupa pernyataan suatu negara terhadap negara

lain hingga high coercion yang berupa invasi militer.43 Penjelasan mengenai

intervensi ini menggambarkan bahwa intervensi dapat dilihat dari berbagai

bentuk, baik itu dari pidato kenegaraan, bantuan ekonomi, blokade hingga invasi

militer.

International Commission on Intervention and State Sovereignty

(ICISS) melihat bahwa konsep intervensi harus dilihat dari segi responsibility

(tanggung jawab), yakni tanggung jawab untuk melindungi rakyat atau dapat

dipahami juga sebagai responsibility to protect (r2p). R2p merupakan salah satu

bentuk upaya internasional dalam melakukan pencegahan terhadap genosida dan

42 Joshep S. Nye, Jr., Understanding International Conflict: An Introduction to Theory and

History, (New York: Longman, 1991), 162.

(30)

kejahatan massa serta upaya perlindungan terhadap rakyat sipil dari kejahatan

tersebut.44

Terdapat tiga bentuk responsibility, yang pertama adalah responsibility

to prevent (tanggung jawab untuk mencegah). Bentuk pencegahan ini ditujukan

kepada penyebab apa saja yang menimbulkan krisis yang mengancam manusia.

Yang kedua ialah responsibility to react (tanggung jawab untuk bereaksi), yakni

memberikan respon terhadap situasi yang mengancam manusia, seperti pemberian

sanksi dan intervensi militer. Yang ketiga ialah responsibility to rebuild (tanggung

jawab untuk membangun kembali) melalui penyediaan bantuan untuk proses

pemulihan, rekonstruksi dan rekonsiliasi.45

F. Metodologi Penelitian

Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam

penelitian kualitatif, bekal yang utama bagi peneliti ialah pengalaman, yakni

pengalaman dalam menganalisa data. Pengalaman dalam menganalisa data ini

kemudian dapat digunakan untuk menyusun pertanyaan penelitian dari sebuah

studi kasus. Penyusunan pertanyaan penelitian dari studi kasus berguna untuk

menentukan fokus isu dalam proses pengumpulan data.46

Sumber data yang akan digunakan untuk melengkapi informasi yang

dibutuhkan dalam penelitian ini menggunakan data-data yang diperoleh dari buku,

jurnal, artikel, dan website. Teknik yang digunakan dalam memperoleh sumber

44Bellamy, “The Responsibility to Protect”, 143.

45 International Commission on Intervention and State Sovereignty, The Responsibility to Protect

(2110) dalam Evans, From Humanitarian Intervention”, 707-709.

(31)

18

data adalah dengan studi kepustakaan atau literatur. Teknik ini digunakan dengan

mengumpulkan sumber-sumber kepustakaan yang berkaitan dengan topik yang

dibahas serta menghubungkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan

terdahulu. Perolehan data ini akan dilakukan dengan mengunjungi perpustakan di

beberapa universitas, seperti Universitas Islam Negeri Jakarta dan Universitas

Indonesia, serta Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

G. Sistematika Penulisan

Dalam penelitian yang membahas mengenai kebijakan luar negeri Qatar

dalam memberikan dukungan terhadap pihak NTC di Libya ini akan terdiri dari

lima bab. Pada bab I, yakni pendahuluan, akan dijelaskan mengenai latar belakang

permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini. Selain itu, bab ini juga akan

memberikan informasi mengenai pertanyaan penelitian serta kerangka teori yang

akan digunakan untuk menganalisa permasalahan yang ada.

Selanjutnya, pada bab II akan dijelaskan mengenai krisis politik di Libya.

Penjelasan tersebut akan diawali dengan menceritakan awal terjadinya fenomena

Arab Spring di Timur Tengah serta menceritakan sedikit tentang beberapa negara

lain yang juga mengalami krisis politik tersebut. Kemudian pada bab ini akan

dijelaskan mengenai krisis politik di Libya secara lebih mendalam beserta

penjelasan mengenai kelompok-kelompok oposisi di Libya. Pada bab ini juga

akan dijelaskan mengenai NTC sebagai perwakilan resmi rakyat Libya pada masa

krisis.

Dalam bab III, penelitian ini akan memasuki peran yang dilakukan Qatar

(32)

ini memberikan informasi terlebih dahulu mengenai perpolitikan Qatar di kawasan

baik sebelum terjadinya Arab Spring ataupun pada masa Arab Spring

berlangsung. Untuk melihat peran Qatar di Libya, penelitian ini juga memberikan

informasi terlebih dahulu mengenai hubungan bilateral kedua negara tersebut.

Setelah itu pada bagian terakhir dalam bab ini akan dijelaskan mengenai

bentuk-bentuk dukungan yang diberikan Qatar terhadap pihak NTC.

Pada bab IV, penelitian ini akan memasuki bagian analisa. Bagian ini

akan menjawab permasalahan yang menjadi pertanyaan penelitian. Dalam

menjawab pnelitian ini, teori serta konsep yang dijelaskan pada bab I akan

diaplikasikan beserta data-data yang telah dikumpulkan. Konsep intervensi akan

dijelaskan untuk membantu penulis membuktikan bahwa dukungan yang

diberikan Qatar merupakan salah satu bentuk intervensi. Selain konsep intervensi,

pada bab IV terdapat faktor subjektif dan faktor objektif yang digunakan penulis

untuk melihat faktor apa saja yang memengaruhi Qatar untuk memberikan

dukungan terhadap pihak NTC.

Dan bagian terakhir ialah bab V. Bagian terakhir ini akan menjadi bagian

penutup yang berisi kesimpulan penelitian. Kesimpulan ini akan menjabarkan

kembali penelitian yang telah disusun secara keseluruhan. Selain itu juga pada

bagian ini akan mempertegas kembali jawaban penelitian yang didapat dari hasil

(33)

20

BAB II

KRISIS POLITIK YANG TERJADI DI LIBYA

Krisis politik yang terjadi di Libya merupakan salah satu dampak dari

fenomena Arab Spring yang melanda kawasan Timur Tengah. Pada Bab ini akan

dijelaskan mengenai awal mula terjadinya Arab Spring hingga berdampak pada

perpolitikan di negara-negara Timur Tengah yang salah satunya adalah Libya.

Selain itu juga akan dijelaskan bagaimana pihak oposisi di Libya menghadapi

krisis politik tersebut.

A. Awal Mula Terjadinya Krisis Politik di Libya

Krisis politik di Libya, seperti yang telah dijelaskan di atas, merupakan

dampak dari fenomena Arab Spring yang menyebabkan krisis politik di beberapa

negara di Timur Tengah.

1. Arab Spring sebagai Fenomena Politik di Timur Tengah

Arab Spring merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat Barat

untuk menggambarkan revolusi politik yang terjadi di Timur Tengah. Terdapat

juga istilah Arab Uprising yang diartikan sebagai pemberontakan Arab untuk

menyebutkan gerakan revolusi tersebut. Orang Arab sendiri lebih memilih

(34)

fenomena yang lekat dengan reformasi sosial, nasional, konstitusional, dan

gerakan Islamis modern.47

Revolusi yang terjadi di dunia Arab ini diawali di Tunisia. Pada 17

Desember 2010, Muhammad Bouazizi melakukan protes melalui pembakaran diri.

Aksi pembakaran diri yang dilakukan oleh Bouazizi mendorong para pemuda

Tunisia untuk melakukan protes terhadap pemerintah. Aksi protes tersebut

merupakan ekspresi dari ketidakpuasan terhadap isu-isu sosial yang melanda

Tunisia, seperti pengangguran, korupsi, inflasi makanan, dan juga tidak adanya

kebebasan dalam berpolitik. Dalam waktu yang singkat, tepatnya pada 14 Januari

2011, protes yang dilakukan masyarakat Tunisa berhasil mendorong presiden

Zaenal Abidin Ben Ali yang telah memimpin selama 23 tahun untuk turun dari

kursi kepemimpinan.48

Di bawah pemerintahan Ben Ali, kebebasan pers terutama melalui internet,

berada di bawah kontrol sang diktator. Halaman wikipedia mengenai profil

dirinya, blog dan twitter dari pihak oposisi, serta artikel berita yang bersifat kritis

tidak dapat diakses oleh pengguna internet karena telah di blok. Diskusi mengenai

sang diktator, Ben Ali, juga tidak dapat dilakukan secara bebas terutama bahasan

yang bersifat mengkritisi dikarenakan adanya ketakutan terhadap polisi-polisi

rahasia yang dapat menangkap dan memenjarakan rakyat sipil.49

47Eugene Rogan, “The Arab Spring: Implications for British Policy”, Conservative Middle East

Council, (Oktober, 2011): 4.

48Alasdair MacKay, “The Arab Spring of Discontent”, E-International Relations, (2011): 4 49 Sami Ben Hassine, We Finally have Revolution on our Minds, dalam Guardian News and

(35)

22

Informasi mengenai revolusi yang terjadi menyebar secara cepat melalui

media. Protes yang pada awalnya merupakan ekspresi terhadap banyaknya

penangguran, tingginya harga makanan, dan keterbatasan pers menjalar ke isu

yang lebih berat seperti keinginan masyarakat untuk menurunkan Ben Ali dari

kursi pemerintahan. Gerakan yang diawali oleh Bouazizi tersebut mendorong

rakyat Tunisia untuk berani berekspresi.50 Meskipun Tunisia mengalami beberapa

perkembangan dalam isu sosial seperti tingkat pendidikan yang tinggi dan jumlah

masyarakat kelas menengah yang juga tinggi, adanya pembagian kelas sosial tidak

dapat dihindarkan. Pembagian kelas sosial dan juga gerakan buruh menjadi pilar

utama pemicu revolusi di Tunisia.51

Aksi pembakaran diri yang dilakukan oleh Bouazizi tidak hanya

berdampak secara lokal, yakni mendorong masyarakat Tunisia untuk melakukan

protes terhadap pemerintahan Ben Ali, tetapi juga berdampak pada negara Arab

lainnya, salah satunya adalah Mesir. Mundurnya Ben Ali dari kepemimpinan di

Tunisia pada 14 Januari 2011 memberikan pencerahan bagi rakyat Mesir yang

berusaha untuk menjatuhkan kepemimpinan Hosni Mubarak.52

Tidak jauh berbeda dengan aksi yang dilakukan Bouazizi, protes di Mesir

juga diawali dengan aksi pembakaran diri oleh Abdou Abdel-Monaam Hamadah

yang merupakan seorang pemilik restoran yang putus asa dengan kondisi ekonomi

di Mesir. Meskipun aksi tersebut tidak memperoleh perhatian langsung yang

50Alyssa Alfano, “A Personal Perspective on Tunisian Revolution”, dalam Alasdair MacKay, :The

Arab Spring of Discontent”, E-International Relations, (2011): 7.

51 Jason William Boose, “Democratization and Civil Society: Libya, Tunisia, and The Arab

Spring”, International Journal of Social Science and Humanity, 2:4 (Juli, 2012): 314.

52Hamid Dabashi, “The Arab Spring: The End of Postcolonialism”, (London: Zed Books, 2012),

(36)

signifikan selayaknya yang terjadi di Tunisia, tetapi aksi tersebut mampu memicu

aksi protes yang lebih besar melalui “Day of Rage” pada 25 Januari 2011 untuk

menurunkan rezim Mubarak.53

Pada akhir Januari 2011, ribuan rakyat Mesir berkumpul di Tahrir Square

masih dengan agenda yang sama, meminta mundurnya Mubarak dari kursi

kepemimpinan. Mubarak menolak untuk mundur, namun berjanji akan

memberikan reformasi demokratis serta tidak akan mencalonkan diri kembali

dalam pemilu berikutnya. Rakyat tetap memaksa Mubarak untuk turun melalui

aksi protes lainnya pada 1 Februari 2011 di lokasi yang sama, Tahrir Square. Aksi

protes masih berlanjut pada 4 Februari 2011 melalui “Day of Departure”. Aksi

tersebut mendapatkan respon dari Omar Suleiman selaku Perdana Menteri untuk

melakukan negosiasi dengan pihak oposisi, termasuk Muslim Brotherhood. Sang

presiden masih menolak untuk mengundurkan diri. Pada 11 Februari, Omar

Suleiman yang baru saja diangkat menjadi wakil presiden menyatakan

pengunduran diri Hosni Mubarak dan dengan demikian kekuasaan sementara

berada di tangan militer.54

Selanjutnya, aksi protes menyebar di negara lainnya seperti Yaman,

Bahrain, hingga Suriah. Tidak berbeda dengan negara-negara sebelumnya, rakyat

Yaman juga menginginkan kemunduran sang presiden, Ali Abdullah Saleh.

Presiden Saleh yang telah menjabat sejak tahun 1990 merespon aksi protes dengan

menyatakan bahwa dirinya tidak akan melakukan re-eleksi pada pemilu yang akan

datang dan hanya akan menjabat hingga masa kepemimpinannya berakhir pada

(37)

24

2013. Namun, rakyat Yaman tetap melanjutkan aksi protes melalui “Day of rage”

pada 3 Februari 2011.55

Selama proses demonstrasi yang terjadi, tokoh militer dan beberapa

menteri beralih memberikan dukungan kepada para demonstran, berbeda dengan

sang Presiden yang masih mempertahankan kepemimpinannya. Aksi demonstrasi

ini masih terus berlanjut hingga Mei 2011 yang menimbulkan banyak korban jiwa

akibat bentroknya militer pemerintah dengan pihak oposisi. Pada bulan Juni 2011,

Presiden Saleh terkena tembakan roket di kediaman kepresidenan dan

diterbangkan ke Arab Saudi.56

Aksi protes dengan menggunakan istilah “Day of Rage” tidak hanya

dilakukan oleh para protestan di Mesir dan Yaman, rakyat Bahrain juga

melakukan aksi yang sama pada 14 Februari 2011. Namun, aksi protes di Bahrain

ini dikatakan berbeda dengan Arab Spring karena dipicu oleh perbedaan

Sunni-Siah yang ada dalam struktur sosial Bahrain. Meskipun demikian, pemicu lainnya

tidak dapat dilepaskan dari hal-hal ekonomi yakni adanya tindak korupsi oleh para

elit politik. Aksi protes yang dilakukan di Pearl Square menelan korban jiwa dan

mendorong sang pemimpin, Hamad bin Isa Al Khalifa yang telah menjabat sejak

1942, melepaskan beberapa tahanan politik sebagai langkah damai dengan pihak

oposisi.57

Di Suriah, aksi protes pertama terjadi di bagian selatan Suriah, tepatnya di

kota Dera’a pada 18 Maret 2011. Pada aksi protes awal yang terjadi di Suriah

(38)

tersebut, rezim Bashar Al Assad langsung merespon protes tersebut secara militer.

Semakin banyak para protestan yang mempertahankan diri dengan persenjataan,

semakin banyak kekerasan yang dilakukan oleh rezim Assad. Dalam krisis politik

di Suriah, rezim Assad memperoleh bantuan, baik secara militer maupun finansial,

dari negara-negara besar seperti Rusia dan Tiongkok. Dalam menghadapi krisis

tersebut, rezim Assad juga memperbaharui beberapa aturan dalam negeri seperti

memodifikasi manajemen hubungan regional dan internasional untuk mengurangi

sanksi diplomatik dan ekonomi.58

2. Arab Spring di Libya (Libya Spring)

Arab Spring yang terjadi di Libya atau dapat dikatakan sebagai Libya

Spring merupakan krisis politik yang terjadi di Libya. Pada 15 Februari 2011,

kerusuhan mulai terjadi di Libya tepatnya di depan markas besar kepolisian di

Benghazi. Kerusuhan tersebut semakin menyebar hingga pada 17 Februari terjadi

aksi protes di kota besar Libya, Benghazi dan Tripoli.59 Ratusan rakyat Libya

menjadi korban jiwa hanya dalam hitungan hari dari awal kerusuhan terjadi.

Berbeda dengan kepala pemerintah lain yang berupaya untuk melakukan negosiasi

dengan rakyat atau setidaknya menawarkan perubahan, Moammar Qaddafi dan

juga anaknya Saif al-Islam menyatakan sikap keras terhadap pihak oposisi melalui

ancaman penyerangan.60

58Steven Heydemann, “Tracking The Arab Spring: Syria and The Futur of Authoritarianism”,

Journal of Democracy 24:4 (Oktober, 2013): 62-63.

59Simon Adams, “Libya and the Responsibility to Protect”, Global Center for Responsibility to

Protect: Occasional Paper Series, 3 (Oktober, 2012): 5.

(39)

26

Kerusuhan yang terjadi di Libya diawali oleh aksi seorang individu yang

diketahui tidak memperoleh akses pendidikan dan informasi. Organisasi

masyarakat di Libya tidak dibenarkan keberadaannya di bawah kepemimpinan

Qaddafi dan sektor swasta juga memiliki andil yang lemah. Ekonomi menjadi

pemicu dari kerusuhan yang terjadi, seperti isu pengangguran, pendapatan yang

rendah, dan ketimpangan sosial.61

Meskipun memiliki dasar yang sama dengan krisis di negara Arab lain,

kerusuhan di Libya berlangsung lebih lama dan menelan lebih banyak korban

jiwa. Hal ini dikarenakan cara dan sikap Qaddafi dalam menghadapi para

protestan, yakni dengan menggunakan kekerasan. Semakin banyaknya korban

jiwa semakin banyak pula elit-elit pemerintah yang membelot dan memutuskan

untuk bergabung dengan rakyat Libya. Akibatnya, bentrokan yang terjadi antara

militer Qaddafi dan rakyat Libya semakin sulit untuk ditangguhkan. Pembentukan

badan perwakilan rakyat Libya atau NTC semakin menguatkan pihak oposisi,

meskipun tidak membuat Qaddafi menyerah dan memutuskan untuk mundur dari

kepemimpinannya.62

Jumlah korban jiwa yang dihasilkan pada awal krisis di Libya mendorong

banyak pihak untuk memberikan respon terkait krisis tersebut. Sejak tanggal 15

Februari hingga 22 Februari 2011 terdapat 200 korban jiwa yang tercatat oleh

Dewan HAM PBB (UN Human Right Council) dan 500-700 korban jiwa yang

tercatat oleh Pengadilan Internasional (International Criminal Court, ICC).

61Wolfram Lacher, “The Libyan Revolution: Old Elites and New Political Forces”, dalam Muriel

Asseburg, “Protest, Revolt and Regime Change in The Arab World”, German Institute for

International and Security Affairs, Research Paper 6 (Februari, 2012): 11.

(40)

Organisasi-organisasi seperti PBB, Uni Afrika, Liga Arab, Organisasi Konferensi

Islam (OKI) turut memberikan respon terhadap krisis yang menelan ratusan

korban jiwa tersebut.63

Ban Ki-Moon, selaku Sekertaris-Jenderal PBB, pada 20 Februari 2011

melakukan negosiasi dengan Qaddafi melalui telepon untuk mengajak sang

diktator menghentikan kekerasan terhadap rakyat Libya secepatnya. Sikap

Qaddafi yang menolak ajakan tersebut mendorong para elit politik di Libya untuk

memihak kepada sipil. Dua hari berikutnya, Komisaris PBB untuk HAM, Navi

Pillay, menyatakan kepada otoritas Libya untuk menghentikan kekerasan terhadap

HAM dan menggambarkan situasi di Libya sebagai “kejahatan terhadap manusia”

atau “crimes against humanity”.64

Dalam merespon perang saudara di Libya, Dewan Keamanan PBB

(DK-PBB) pada 26 Februari 2011 menetapkan Resolusi 1970 mengenai “tanggung

jawab otoritas Libya dalam melindungi populasinya”. Dalam resolusi tersebut

ditetapkan embargo senjata, pembekuan aset, pelarangan bepergian dan

menyerahkan situasi krisis ke pihak ICC. Eskalasi kekerasan terhadap sipil

mendorong DK-PBB untuk mengadopsi Resolusi 1973 pada 17 Maret 2011 dan

disetujui oleh 10 dari 15 anggota DK-PBB. Resolusi 1973 lebih menekankan pada

upaya gencatan senjata untuk menghentikan penyerangan terhadap sipil serta

(41)

28

upaya intensif untuk mencari solusi atas krisis termasuk di dalamnya aksi

militer.65

Selain dari pihak PBB, organisasi internasional lain seperti Liga Arab, Uni

Afrika dan OKI, masing-masing memberikan respon terhadap krisis yang

dihadapi rakyat Libya. Pada 22 Februari 2011, Uni Afrika dan OKI sama-sama

memberikan pernyataan tegas terhadap otoritas Libya untuk segera menyudahi

penyerangan terhadap rakyat sipil. Liga Arab melarang Libya untuk menghadiri

pertemuan yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Pada 14 Maret 2011, Dewan

Keamanan dan Perdamaian Uni Afrika membentuk Komisi Tingkat Tinggi.66

18 Maret 2011, DK-PBB memberikan izin terhadap NATO untuk

menerapkan no-fly zone di Libya.67 Kebijakan tersebut dilakukan juga oleh negara

koalisi NATO seperti Swedia, Yordania, Qatar dan Uni Emirat Arab. Pada 29

Maret, NATO secara resmi mengambil alih seluruh operasi militer di Libya

melalui “Operations Unified Protector”. Koalisi yang dilakukan negara-negara

tersebut juga memberikan bantuan langsung terhadap pihak oposisi yang

bermarkas di Benghazi, Misrata, Tripoli, dan juga di Sirte.68

Meskipun telah banyak keterlibatan pihak asing beserta sanksi terhadap

Libya, tidak membuat sikap Qaddafi melunak. Sikap keras Qaddafi mendorong

NATO untuk melakukan penyerangan terhadap lokasi-lokasi ditempat sang

65 “10 anggota DK PBB yang menyetujui Resolusi 1973: Bosnia-Herzegovina, Kolombia,

Perancis, Gabon, Libanon, Nigeria, Portugal, Afrika Selatan, Inggris dan Amerika Serikat; dan 5

anggota DK PBB yang tidak memberikan suara: Brasil, Cina, Jerman, India dan Rusia”.

Simon Adams, “Libya and the Responsibility to Protect”, 6.

66Adams, “Libya and the Responsibility to Protect”, 6. 67 Dabashi, The Arab Spring, 20.

68Marianne Mosegaard Madsen dan Simone Sophie Wittstrøm Selsbæk, “The Responsibility to

Protect and the intervention in Libya”, Roskilde University:Department of Society and

(42)

diktator berada. Bom yang sempat diluncurkan di Tripoli dan Misrata tidak

berhasil mengenai Qaddafi melainkan salah satu anaknya dan tiga orang

cucunya.69

Banyaknya kekerasan yang dilakukan oleh Qaddafi, pada bulan Agustus,

ICC menyatakan bahwa Qaddafi dan anaknya serta kepala intelijen Libya

dinyatakan sebagai pidana atas kejahatan yang diperbuat. Otoritas Libya

kemudian diserahkan kepada pihak oposisi NTC. Pada 24 Oktober 2011, NTC

menyatakan berakhirnya perang saudara diikuti dengan tewasnya Qaddafi dan

anaknya pada 20 Oktober 2011. Selanjutnya, pada 26 Oktober 2011 kebijakan

no-fly zone berakhir diikuti dengan misi NATO di Libya pada 31 Oktober 2011.70

B. Pihak Oposisi dalam Krisis Politik di Libya

NTC merupakan perwakilan rakyat Libya yang dibentuk oleh pihak-pihak

yang melawan pemerintahan Qaddafi terkait krisis politik yang terjadi pada tahun

2011. Pihak-pihak oposisi ini tidak begitu saja lahir ketika fenomena Arab Spring

terjadi, melainkan telah ikut berpartisipasi dalam revolusi-revolusi sebelumnya.

1. Lahirnya Kelompok Oposisi di Libya Pada Masa Rezim Qaddafi

Muammar Qaddafi memperoleh kepemimpinannya melalui “revolusi

Libya” pada tahun 1969 melalui kudeta militer terhadap pemimpin sebelumnya,

(43)

30

Raja Idris.71 Kudeta militer tersebut dilakukan melalui kepemimpinannya dalam

Revolutionary Command Council (RCC) dan atas keberhasilan dalam aksi kudeta

membuat Qaddafi diangkat sebagai pemimpin bagi rezim yang baru. Libya di

bawah kepemimpinan Qaddafi memperoleh bentuk baru yang mana

hukum-hukum lama dihapuskan oleh sang pemimpin, serta pada tahun 1973 Qaddafi

menghapuskan pemerintahan Libya dan mendeklarasikan bentuk Libya yang baru,

yakni Jamahiriya atau Negara Rakyat.72

Meskipun Qaddafi telah mendeklarasikan Libya sebagai Negara Rakyat,

dalam prakteknya rakyat tidak diberikan ruang untuk berekspresi. Tidak adanya

partai politik, persatuan perdagangan, dan organisasi umum lainnya

menggambarkan bentuk pembatasan terhadap kebebasan rakyat sipil. Beberapa

organisasi sipil diakui keberadannya, seperti Boy Scouts dan Red Crescent, untuk

menghindari amukan rakyat sipil.73

Pada tahun 1959, Libya menemukan sumber cadangan minyak yang

berhasil memberikan keuntungan bagi negara tersebut. Namun, ketika Qaddafi

menduduki kursi kepemimpinan, keuntungan dari penjualan minyak tersebut lebih

ditujukan untuk kepentingan rezim, agar rezim Qaddafi tetap menduduki

kekuasaan. Meskipun sebagian keuntungan disisihkan untuk subsidi, hal tersebut

dilakukan semata-mata untuk “menutup mulut” rakyat agar tidak membelot.74

71 Rosan Smith, et.al., “Revolution and Its Discontents: Stae, Factions, and Violence in The New

Libya”, Netherland Institute of International Relations, (September, 2013): 11.

72 David Seddon, A Political and Economic Dictionary of The Middle East: An Essential Guide to

the Politics and Economics of the Middle East, (London: Taylor and Francis Group, 2004), 408.

73 Bruce St. John, “Libyan Myths and Realities”, Copenhagen: Royal Danish Defense College.,

(Agustus, 2011): 6.

(44)

Aksi kecurangan yang dilakukan rezim tersebut mendorong rakyat Libya untuk

membentuk gerakan oposisi bahkan sejak awal kepemimpinan Qaddafi.

Gerakan oposisi di Libya telah muncul pada tahun 70-an, yakni tidak lama

setelah Qaddafi berhasil menduduki pemerintahan Libya. Wilayah Timur Libya

merupakan wilayah dimana pihak oposisi terkuat berada. Pada tahun 1970-an

gerakan oposisi terbentuk oleh pihak militer dan para pelajar. Pada tahun 1980-an

gerakan oposisi didominasi oleh aktor-aktor yang diasingkan. Pada tahun 1990-an

terbentuk oposisi yang terinspirasi dari nilai-nilai Islam.75

Sebelum krisis politik yang terjadi pada tahun 2011 lalu, upaya

menurunkan rezim Qaddafi telah beberapa kali dilakukan oleh rakyat Libya. Pada

tahun 1976, rezim Qaddafi menekan sebuah kelompok mahasiswa, Libyan

Student Union, yang sempat melakukan pemberontakan dan mengeksekusi

pemimpin dari kelompok tersebut serta menyiksa beberapa mahasiswa.

Pemberontakan kembali dilakukan pada tahun 1980-an ketika kelompok oposisi

dari pihak-pihak yang diasingkan melalui Libyan Salvation Front melakukan aksi

protes. Dan pada tahun 1990 kembali terjadi aksi pemberontakan yang dilakukan

oleh kelompok Islamis seperti Libyan Islamist Fighting Group (LIFG) yang

berasal dari wilayah Timur Libya. Aksi-aksi pemerontakan tersebut menghasilkan

10.000 rakyat Libya diasingkan oleh rezim Qaddafi.76

75Ali Abdullatif Ahmida, “The Libyan National Transitional Council: Social Bases, Membership,

and Political Trends”, Aljazeera Center for Studies: Reports, (Oktober, 2011): 3.

(45)

32

2. NTC sebagai Perwakilan Resmi Rakyat Libya

Kelompok-kelompok oposisi Libya yang telah terbentuk sejak tahun 70-an

tersebut memberikan respon terhadap Arab Spring yang terjadi di Libya melalui

pembentukan badan revolusi yang dinamakan NTC.77 Peresmian badan

pemerintahan sementara Libya ini dideklarasikan setelah meninggalnya sang

pemimpin dan berakhirnya perang sipil pada 24 Oktober 2011. Perdana Menteri

Abdurrahim al Kib mengetuai kabinet sementara NTC hingga badan tersebut

terbentuk secara utuh.78

Meskipun baru dinyatakan secara resmi sebagai pemerintahan sementara

Libya, NTC telah terbentuk sejak awal krisis politik Libya terjadi, yakni pada 17

Februari 2011. NTC memiliki dua kelompok utama di dalamnya, yakni

perwakilan dari seluruh wilayah Libya serta dewan lokal dari wilayah bagian

Timur Laut. Anggota-anggota dari NTC terdiri dari pihak-pihak yang membelot

rezim Qaddafi, reformis, teknokrat, pejuang oposisi keturunan aristokrat dan

keluarga bangsawan pada zaman Monarki Libya, pengacara, professor, hingga

pebisnis yang diasingkan dari wilayah Barat. Pembentukan NTC ini juga

didukung oleh salah satu kelompok Islamis, Muslim Brotherhood.79

Pembentukan badan NTC ini bertujuan untuk mengarahkan Libya selama

periode transisi. NTC yang telah terbentuk sejak awal revolusi ini mewakili

77Ahmida, “The Libyan National Transitional Council”, 4.

78Susan Power, “The Role of the NTC in the Economic Reconstruction of Libya”, Socio-Legal

Studies Review, 1 (2012): 115.

(46)

seluruh kota yang ada di Libya dan memperoleh legitimasi dari dewan lokal yang

dibuat oleh rakyat Libya yang terlibat dalam revolusi.80

NTC dapat dikatakan sebagai badan yang dibuat oleh pihak lokal Libya

untuk menghadapi krisis politik. Dari dunia internasional, terdapat Libya Contact

Group81 (LCG) sebagai upaya dunia internasional dalam membantu menangani

krisis di Libya yang dibuat pada 29 Maret 2011. Dalam upaya untuk mewujudkan

Libya yang bebas dan demokratis, LCG memberikan pengakuannya terhadap

NTC sebagai otoritas yang sah bagi rakyat Libya pada 15 Juli 2011.82 Selain

LCG, beberapa negara seperti Perancis, Jerman, Italia, Tiongkok, Rusia, Jordania,

Kuwait, Uni Emirat Arab, termasuk Qatar turut memberikan pengakuan terhadap

NTC sebagai perwakilan resmi rakyat Libya.83

Meskipun telah memperoleh legitimasi dari level domestik maupun

internasional, peran NTC dilihat dari statusnya sebagai pemerintah “sementara”

menjadikan peranannya terbatas. Dalam Resolusi DK-PBB 2022, pembentukan

NTC dilakukan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi implementasi

mandat PBB untuk Libya (UNSMIL). Tetapi, NTC tetap memperoleh haknya

untuk menerima kembali aset-aset negara yang sebelumnya dibekukan. Dalam

Resolusi DK-PBB 2009, NTC harus mengembalikan dan mengalokasikan dana

Libya secara terbuka dan transparan. Dengan adanya pengembalian aset tersebut,

80Power, “The Role of The NTC”, 118.

81 “LCG merupakan kelompok yang mengupayakan dukungan bagi rakyat Libya dari pihak

internasional seperti Liga Arab, Uni Afrika, NATO, GCC, OKI serta negara-negara seperti

Australia, Bahrain, Denmark, Jerman, Kanada, Inggris, dan AS”. dalam Power, “The Role of The

NTC”, 118.

(47)

34

NTC diharapkan dapat memainkan peran penting dalam upaya merekonstruksi

Libya.84

(48)

35

Fenomena Arab Spring, termasuk krisis politik yang terjadi di Libya,

mengundang respon-respon dari dunia internasional, baik dari organisasi

internasional, organisasi regional, maupun negara secara individu. Salah satu

negara Arab yang memberikan respon terhadap krisis politik di Libya ialah Qatar.

Dalam melihat respon Qatar terhadap krisis tersebut, ada baiknya untuk

menjelaskan terlebih dahulu kedudukan Qatar secara regional di Timur Tengah.

A. Kedudukan Qatar di Timur Tengah

Gambar 1. Peta Qatar di Timur Tengah

Sumber85: CIA: The World Factbook

Qatar merupakan negara kecil di kawasan Timur Tengah yang memiliki

luas wilayah 11.586 km2 dengan populasi sebanyak 2.123.160 jiwa (untuk

Gambar

Tabel 1. Indeks Perdamaian Global Tahun 2011………………… 43
Gambar 2. Definisi Intervensi……………………………………
Gambar 2. Definisi Intervensi
Gambar 1. Peta Qatar di Timur Tengah
+3

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah dan komite sekolah ada persamaan jawaban tetapi sedikit berbeda dalam memberikan jawaban terhadap faktor penghambat dan

Pengaruh Beberapa Dosis Fungi Mikoriza Arbuskula Terhadap Tanaman Desmodium heterophyllum Pada Media Tanah Lahan Bekas.. Tambang Batubara

Penguatan ( Reinforcement ) adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verbal atau non verbal, yang merupakan bagian dan modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa yang

[r]

Dari beberapa keunggulan yang dimiliki oleh benih padi varietas IR42, faktor yang menjadi pendorong utama bagi petani untuk menggunakan benih padi varietas IR42

Pada data (20) terdapat kata belungguk, merupakan kosakata bahasa gaul dalam tayangan komedi PonTV “Kamil Onte” yang diserap dari bahasa Melayu yaitu dari kata belonggok

Secara amnya, jika dilihat purata min bagi setiap bahagian seperti dalam jadual 7, dapat digambarkan bahawa persepsi pelajar terhadap aktiviti kokurikulum berada dalam

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran predisposing karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan, agama, suku), pengetahuan, sikap dalam penggunaan alat kontrasepsi