KEBIJAKAN LUAR NEGERI QATAR DALAM
MEMBERIKAN DUKUNGAN TERHADAP
NATIONAL
TRANSITIONAL COUNCIL
(NTC) TERKAIT KRISIS
POLITIK DI LIBYA
(2011-2012)
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh:
Rahmi Kamilah
1110113000050
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
JAKARTA
ii
KEBIJAKAN LUAR NEGERI QATAR DALAM MEMBERIKAN
DUKUNGAN TERHADAP PIHAK NATIONAL TRANSITIONAL COUNCIL
(NTC) TERKAIT KRISIS POLITIK DI LIBYA (2011-2012)
1. Merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli
saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya
bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 23 Oktober 2014
v ABSTRAKSI
Skripsi ini menganalisa tentang kebijakan luar negeri Qatar terkait krisis politik di Libya pada periode 2011-2012. Skripsi ini bertujuan untuk melihat faktor apa saja yang mendorong Qatar untuk memberikan dukungan kepada pihak oposisi dalam krisis politik di Libya. Sumber data yang diperoleh untuk melengkapi penulisan skripsi ini ialah melalui pengumpulan studi kepustakaan.
Dalam skripsi ini ditemukan bahwa fenomena Arab Spring yang terjadi di
Timur Tengah berdampak luas terhadap perpolitikan kawasan tersebut. Salah satu faktor utama yang mendorong gerakan revolusi ialah permasalahan ekonomi. Qatar, sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi salah satu negara kawasan yang tidak mengalami revolusi tersebut. Selain itu, terdapat responsibility to protect (r2p) bagi Qatar sebagai negara anggota PBB untuk membantu meredam konflik yang didalamnya terdapat pelanggaran HAM, salah satunya ialah krisis politik di Libya.
Konsep intervensi yang digunakan dalam penelitian ini berguna untuk menjelaskan pentingnya sebuah intervensi dilakukan oleh negara-negara di dunia demi mengurangi dampak kemanusiaan yang dihasilkan dari sebuah revolusi politik. Selain itu, teori kebijakan luar negeri juga digunakan untuk menganalisa faktor apa saja yang memengaruhi Qatar dalam menerapkan kebijakan luar negeri terkait krisis di Libya. Faktor tersebut dapat dilihat dari dua sisi, yakni faktor internal dan faktor eksternal.
Melalui analisa kebijakan luar negeri yang digunakan dalam penelitian ini, maka akan ditemukan faktor dominan apa yang paling memengaruhi kebijakan Qatar terkait krisis politik di Libya. Dalam menganalisa faktor-faktor tersebut akan ditemukan bahwa pertumbuhan ekonomi Qatar menjadi pendorong utama bagi Qatar untuk menerapkan kebijakan intervensi. Selain itu, kebijakan intervensi tersebut juga didorong oleh keinginan Qatar untuk menjadi aktor dominan di kawasan Timur Tengah.
vi
serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang
berjudul “Kebijakan Luar Negeri Qatar dalam Memberikan Dukungan Terhadap
Pihak National Transitional Council (NTC) terkait Krisis Politik di Libya
(2011-2012)” dengan baik.
Adapun tujuan penyusunan skripsi ini ialah untuk memenuhi tugas akhir dan untuk memenuhi syarat wajib kelulusan bagi mahasiswa/i Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki penulis, penyusunan skripsi ini tidak akan mampu diselesaikan tanpa bantuan dan bimbingan pihak lainnya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini izinkan penulis untuk mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Allah SWT dengan segala rahmat, ridha dan kasih sayang-Nya dan masih
memberikan saya kesempatan untuk mampu menyelesaikan sekolah saya hingga sarjana.
2. Yang tersayang, Ibu dan Ayah (Atin M. Murlim dan Rasum Shaleh) yang
selalu memanjatkan do’a bagi anak-anaknya. Perjuangan untuk
menghidupkan dan menyukseskan kami tidak akan mampu kami bayar hingga kapanpun. Semoga kami cukup mampu membuat kalian bangga. Ami sayang Ibu dan Ayah.
Dzakiatussa’adah) atas kasih sayang dan dukungannya.
6. Riko Febrian Eltari yang banyak membantu dan menemani dalam proses
penyelesaian skripsi ini, terima kasih atas waktunya.
7. Teman-teman Warsol Forum/Cordobre, Asri Kusumastuty, Balqis Faradiba,
vii
8. Shofia Nida dan Airin Aisyah beserta seluruh teman-teman HI-B yang tidak
pernah gagal memberikan kesan dan pesan semasa kuliah. Semoga kita semua mampu mencapai kesuksesan di masa mendatang.
9. Dan kepada seluruh orang terdekat yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Terimakasih atas dukungan dan motivasi untuk saya menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Mengingat seluruh keterbatasan, penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Meskipun demikian, penulis harap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang membutuhkannya.
Jakarta, 23 Oktober 2014
viii
BAB II KRISIS POLITIK YANG TERJADI DI LIBYA... 20
A. Awal Mula terjadinya Krisis Politik di Libya... 20
1. Arab Spring sebagai Fenomena Politik di Timur Tengah………. 20
2. Arab Spring di Libya (Libya Spring)………. 25
B. Pihak Oposisi dalam Krisis Politik di Libya... 29
1. Lahirnya Kelompok Oposisi di Libya pada Masa Rezim Qaddafi... 29
2. NTC sebagai Perwakilan Resmi Rakyat Libya pada Masa Krisis………. 32
BAB III PERAN QATAR DALAM KRISIS POLITIK DI LIBYA…….. 35
A. Kedudukan Qatar di Timur Tengah……… 35
ix
2. Kedudukan Qatar di Timur Tengah
pada Masa Krisis Politik……… 41
B. Hubungan Bilateral Qatar dan Libya………. 43
1. Hubungan Qatar dan Libya sebelum Krisis Politik……… 44
2. Hubungan Qatar dan Libya pada Masa Krisis Politik……… 45
C. Bentuk Dukungan Qatar terhadap Pihak NTC... 47
BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG QATAR UNTUK MEMBERIKAN DUKUNGAN TERHADAP NTC... 50
A. Dukungan Qatar terhadap NTC sebagai Bentuk Intervensi... 50
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Qatar di Timur Tengah……… 35
xii
Lampiran 1. Resolusi PBB 1970……… xx
xiii
DAFTAR SINGKATAN
DK PBB : Dewan Keamanan PBB
GCC : Gulf Cooperation Council
HAM : Hak Asasi Manusia
ICC : International Criminal Court
ICISS :International Commission on Intervention and State
Sovereignty
JEM : Justice and Equality Movement
LCG : Libya Contact Group
LIFG : Libyan Islamist Fight Group
LNG : Liquefied Natural Gas
MoU : Memorandum of Understanding
NATO : North Atlantic Treaty Organization
NTC : National Transitional Council
OKI : Organisasi Konferensi Islam
PBB : Perserikatan Bangsa-Bangsa
RCC : Revolutionary Command Council
1
A. Latar Belakang Masalah
Desember 2010, merupakan bulan yang mengawali gejolak politik di
Timur Tengah, yang disebut dengan Arab Spring. Berawal di Tunisia, aksi protes
terhadap pemerintah melahirkan bentuk-bentuk protes di negara Arab lain sebagai
ekspresi ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang ada di negara-negara Timur
Tengah. Aksi protes ini juga terjadi di Mesir pada Januari 2011 untuk
menurunkan rezim Husni Mubarak. Protes tersebut berhasil menurunkan rezim
Mubarak turun dari kursi pemerintahan. Fenomena Arab Spring ini juga menyebar
ke negara Timur Tengah lainnya, seperti Suriah, Yaman, Aljazair, Yordania,
Oman, Maroko, termasuk Libya.1
Di Libya, aksi protes diawali pada bulan Februari 2011 yang
menginginkan mundurnya rezim Muammar Qaddafi dari kursi pemerintahan
Libya.2 Aksi ini menimbulkan perang saudara antara pemerintahan dengan para
pemberontak yang menginginkan kemunduran Qaddafi. Kerasnya sikap Qaddafi
dalam menghadapi para pemberontak mendorong Uni Eropa dan PBB bersikap
1Cedric Dupont dan Florence Passy, “The Arab Spring or How to Explain those Revolutionary
Episodes?”Swiis Political Science Association: SPSR, 2037 (Oktober 2011): 1.
2 Dr. Bruce St. John, Libyan Myths and Realities, (Copenhagen: Royal Danish Defense College,
2
tegas melalui embargo serta penarikan Libya dari keanggotaan U.N. Human Right
Council.3
Selain Uni Eropa dan PBB yang memberikan respon terhadap revolusi
politik di Libya, negara-negara Arab seperti Qatar turut memberikan respon
terkait krisis tersebut. Pada Maret 2011, Qatar menjadi negara Arab pertama yang
mengakui National Transitional Council (NTC) sebagai perwakilan resmi rakyat
Libya.4 NTC merupakan badan yang dibentuk oleh pihak oposisi dalam
menghadapi rezim Qaddafi yang kemudian diresmikan sebagai perwakilan bagi
rakyat Libya.5
NTC memperoleh legitimasi melalui dewan-dewan lokal yang telah
dibentuk oleh pihak pemberontak. Selain dari dewan lokal, negara-negara dunia
seperti Perancis, Jerman, Italia, Tiongkok, Rusia, Yordania, Kuwait, Uni Emirat
Arab, termasuk Qatar turut memberikan pengakuan terhadap pemerintahan
sementara NTC sebagai perwakilan resmi rakyat Libya.6
Qatar, selain memberikan dukungan terhadap pihak NTC, juga
memberikan dukungan militer seperti pengiriman senjata, seragam, amunisi dan
transportasi perang serta bantuan keuangan dalam membantu pihak pemberontak
baik secara unilateral maupun dalam kerangka kerjasama Liga Arab dan
kampanye NATO.7 Qatar juga memfasilitasi kapal perang di Al-Udeid, yang
3“TIMELINE-Libya's uprising against Muammar Gaddafi”. Reuters, 30 Maret 2011, tersedia di
<http://www.reuters.com/article/2011/03/30/libya-idUSLDE72K0KK20110330> diakses pada 9 Maret 2014.pukul 15. 32.
4 Lina Khatib, “Qatar’s Foreign Policy: The Limits of Pragmatism”, International Affairs 89: 2
(2013): 421.
5Bruce St. John, “Libyan Myths and Realities” Royal Danish Defense College, Research Paper,
(Agustus, 2011), 10.
merupakan pangkalan militer Amerika Serikat (AS), sebagai bentuk dukungan
Qatar terhadap pihak NTC.8
Selain memberikan bantuan dana dan militer kepada pihak anti-Qaddafi,
Qatar juga memberikan bantuan dalam bidang energi, yakni membantu
memasarkan minyak mentah Libya.9 Perjanjian penjualan minyak antara Qatar
dan pihak oposisi ini dicapai sehari sebelum Qatar memberikan pernyataan
pengakuan terhadap NTC sebagai perwakilan resmi rakyat Libya.10
Dalam respon Qatar terhadap isu Arab Spring, Qatar tidak hanya berperan
dalam krisis yang terjadi di Libya saja, melainkan juga di negara Arab lain seperti
Bahrain, Yaman, Tunisia, Mesir dan Suriah. Namun, intervensi militer yang
dilakukan Qatar hanya diterapkan di Libya dan Suriah. Keterlibatan Qatar secara
politik di Bahrain dan Yaman dapat dikatakan terbatas karena terdapat pengaruh
besar dari Arab Saudi di kedua negara tersebut. Selain itu, di Tunisa dan Mesir,
peran Qatar hanya sebatas pemberian bantuan ekonomi.11
Sebelum aktif dalam memberikan respon terkait fenomena Arab Spring,
Qatar memosisikan dirinya sebagai mediator dalam isu-isu kawasan terdahulu,
8David Roberts, “Behind Qatar’s Intervention in Libya: Why was Doha such a Strong Supporters
of the Rebels?” Foreign Affairs, 28 September 2011, tersedia di:
<http://www.foreignaffairs.com/articles/68302/david-roberts/behind-qatars-intervention-in-libya>
diakses pada 2 Juni 2014, pukul 19.36.
9Sultan Barakat, “The Qatari Spring: Qatar’s Emerging Role in Peacemaking”, London School of
Economics and Political Science, 24 (Juli, 2012): 26.
10 “Qatar recognises Libyan rebels after oil deal”, AlJazeera, 28 Maret 2011, tersedia di:
<http://www.aljazeera.com/news/middleeast/2011/03/201132814450241767.html> diakses pada
15 Maret 2014, pukul 17.02.
11 Kristian Coates Ulrichsen, “Qatar and The Arab Spring: Policy Drivers and Regional
Implications”, Carnegie Endowment for International Peace, tersedia di:
4
seperti di Yaman, Libanon, dan Sudan.12 Peran mediasi yang dilakukan Qatar di
negara-negara tersebut ialah dengan mengupayakan penyelesaian konflik melalui
perundingan perdamaian beserta penyediaan dana bantuan.13 Peran tersebut
menjadikan Qatar dikenal sebagai negara netral atau tidak memihak dalam upaya
penyelesaian konflik.14
Peran Qatar dalam menghadapi krisis politik di Libya menunjukkan
adanya perubahan pola kebijakan luar negeri Qatar jika dibandingkan dengan
peran mediasi dalam menghadapi isu-isu di kawasan sebelum Arab Spring.
Intervensi Qatar dalam menghadapi krisis di Libya tersebut tidak lagi mewakili
reputasi netral yang dimiliki Qatar sebelumnya. Selain itu, Qatar sebagai negara
kecil, berdasarkan ukuran geografisnya, dengan kebijakan intervensi akan
membentuk citra negatif bagi Qatar diantara negara-negara tetangganya.15
Dengan adanya perubahan kebijakan yang lebih aktif melalui dukungan
yang diberikan Qatar terhadap NTC, menjadi menarik untuk dibahas faktor apa
saja yang mendorong Qatar untuk memberikan dukungan bagi pihak NTC terkait
krisis politik di Libya tahun 2011-2012. Pemilihan periode ini didasarkan pada
awal terjadinya revolusi di Libya serta peran yang dilakukan Qatar dalam
menghadapi isu di Libya dengan melihat perkembangan kebijakannya selama
setahun kedepan.
12Barakat, “The Qatari Spring”, 13.
13Khatib.“Qatar’s Foreign Policy”, 418. 14Barakat, “The Qatari Spring”, 2.
15Kristian Coates Ulrichsen, “Small States with a Big Role: Qatar and The Unites Arab Emirates
B. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan kasus yang dibahas dalam tulisan ini, maka dapat
dirumuskan pertanyaan untuk penelitian ini, yakni:
“Faktor apa saja yang mendorong Qatar untuk memberikan dukungan terhadap
pihak NTC terkait krisis politik di Libya tahun 2011?”
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui permasalahan Arab Spring khususnya di Libya.
2. Menjelaskan kebijakan-kebijakan Qatar melalui intervensi di Libya.
3. Menganalisa faktor-faktor yang mendorong Qatar melakukan intervensi
dalam krisis politik di Libya.
Adapun manfaat yang dapat dihasilkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan pengetahuan mengenai kebijakan Qatar terhadap krisis
politik di Libya.
2. Untuk menambah wawasan bagi para penstudi Hubungan Internasional
mengenai kasus yang menjadi topik penelitian.
3. Sebagai bahan perbandingan bagi penelitian selanjutnya dengan bahasan
yang sama.
D. Tinjauan Pustaka
Silvia Colombo, menulis jurnal yang berjudul “The GCC Countries and
6
diterbitkan oleh Instituto Affari Internazionali Vol. 12, No. 09 pada tahun 2012 ini
menuliskan tentang fenomena Arab Spring yang terjadi di Timur Tengah dan
bagaimana gejolak politik yang terjadi memengaruhi negara-negara Teluk yang
tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC).
Dalam tulisan tersebut menggambarkan bahwa Arab Spring
memengaruhi kondisi internal mereka, terutama dalam hal politik dan ekonomi.
Secara regional, GCC ini harus menerapkan kebijakan intervensi serta
memberikan bantuan-bantuan bagi rakyat yang terkena dampak revolusi seperti
yang terjadi di Suriah dan Libya. Tulisan ini menjelaskan bagaimana
negara-negara Teluk yang tergabung dalam GCC ini memberikan respon terhadap isu
regional yang sedang terjadi.16
Perbedaan jurnal tersebut dengan penelitian yang akan dibahas adalah
subjek penelitian. Meskipun Qatar merupakan negara anggota GCC, namun
penelitian ini tidak membahas respon GCC secara keseluruhan tetapi lebih
memfokuskan pada peran Qatar secara unilateral dalam mengahadapi gejolak
politik yang terjadi di Libya. Selain itu, objek dari penelitian ini juga
memfokuskan pada isu Arab Spring yang terjadi di Libya saja. Berbeda dengan
penelitian yang dituliskan dalam jurnal di atas yang membahas mengenai Arab
Spring secara keseluruhan dan dampaknya terhadap regional.
Pada tahun 2013, European Scientific Journal menerbitkan tulisan dalam
Vol. 12 yang berjudul “The Rise of Qatar as a Soft Power and The Challenges”.
Jurnal yang dituliskan oleh Osman Antwi-Boateng ini menjelaskan tentang
16 Silvia Colombo, “The GCC Countries and The Arab Spring: Between Outreach, Patronage, and
kebijakan soft-power yang diterapkan oleh Qatar dalam isu-isu kawasan yang
merupakan daya tarik bagi Qatar. Daya tarik ini terlihat dari stabilitas politik,
pertumbuhan ekonomi melalui redistribusi pendapatan yang efektif serta sistem
pendidikan yang progresif. Selain itu, penyebaran pengaruh melalui Al-Jazeera,
investasi dalam bidang olahraga dan kebijakan dalam memberikan bantuan yang
tidak memberatkan.17
Perbedaan jurnal tersebut dengan penelitian ini terletak pada isu yang
dibahas. Jurnal tersebut tidak memfokuskan pada isu yang terjadi di Arab spring
seperti halnya penelitian ini. Selain itu, adanya keterlibatan Qatar dalam intervensi
militer menggambarkan bahwa penelitian ini mencakupi kebijakan hard-power,
bukan hanya soft-power seperti jurnal tersebut.
“Saving Strangers in Libya: Traditional and Alternative Discourses on
Humanitarian Intervention” merupakan thesis yang ditulis oleh Sorana-Christina
Jude untuk memperoleh gelar Master di Eurpoean Institute. Thesis yang
diselesaikan pada tahun 2012 ini menuliskan tentang intervensi yang dilakukan
banyak pihak terkait proses demokratisasi yang terjadi di Libya pada tahun 2011.
Tulisan ini melihat bagaimana intervensi yang dilakukan negara-negara dunia
terhadap Libya dari pendekatan-pendekatan Hubungan Internasional baik
pendekatan tradisional maupun pendekatan alternatif. Tulisan ini juga melihat
bagaimana intervensi yang tersebut menggambarkan kewajiban negara-negara
untuk membantu mengatasi konflik yang terjadi. Di lain pihak, tulisan ini juga
17 Osman Antwi-Boateng, “The Rise of Qatar as a Soft Power and The Challenges”, European
8
mencoba melihat intervensi yang telah dipolitisasi berdasarkan kepentingan
nasional negara yang terlibat.18
Perbedaan penelitian ini dengan thesis tersebut ialah bahwa penelitian ini
mencoba melihat faktor-faktor yang memengaruhi Qatar melakukan intervensi di
Libya. Selain itu, penelitian ini tidak menjabarkan segala bentuk intervensi yang
dilakukan oleh negara dunia terhadap proses demokratisasi di Libya melainkan
terfokus pada intervensi yang dilakukan Qatar untuk menghadapi krisis di Libya.
Maya Savitri, pada tahun 2013 menulis skripsi yang berjudul “Alasan
NATO (North Atlantic Treaty Organization) Dalam Krisis Politik di Libya Tahun
2011” untuk memperoleh gelar sarjana S.Sos di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta. Dalam penelitian tersebut dijelaskan mengenai peran NATO
sebagai organisasi internasional dengan aktifitas yang didasarkan pada
kepentingan negara anggotanya. Penelitian ini juga membahas mengenai
intervensi yang dilakukan oleh NATO dengan menjabarkan maksud dan tujuan
NATO dalam misi tersebut.19
Dalam penelitian di atas membahas mengenai peran NATO dalam
intervensi terhadap krisis yang terjadi di Libya. Subjek penelitian difokuskan pada
peran NATO sebagai organisasi internasional dalam menghadapi krisis politik di
Libya. Dengan demikian, perbedaan penelitian ini terletak pada subjek yang lebih
memfokuskan pada peran Qatar meskipun terhadap kasus yang sama, yakni krisis
politik di Libya.
18 Sorana-Christina Jude, “Saving Strangers in Libya: Traditional and Alternative Discourses on
Humanitarian Intervention”, Eurpoean Institute, (Thesis: 2012).
19 Maya Savitri, “Alasan NATO (North Atlantic Treaty Organization) Dalam Krisis Politik di
E. Kerangka Teori
1. Teori Kebijakan Luar Negeri
Dalam penelitian ini, teori yang akan digunakan adalah teori kebijakan
luar negeri untuk melihat dasar pertimbangan kebijakan Qatar terhadap Libya.
Kebijakan luar negeri, bagi Marijke Breuning, merupakan hasil dari interaksi
negara dengan lingkungan diluar batasnya.20 Alex Mintz dan Karl DeRouen
merumuskan pembuatan kebijakan luar negeri sebagai sekumpulan pilihan yang
diputuskan oleh individu, kelompok, atau koalisi dan akan memengaruhi tindakan
negaranya dalam lingkungan internasional. Dalam kebijakan luar negeri tersebut
terdapat seperangkat karakter yang lekat dengan pembuatan keputusan, yakni
ketidakpastian dan resiko.21
Secara tradisional, keputusan yang diambil dalam proses pembuatan
kebijakan luar negeri didasari pada kepentingan nasional yang tidak lepas dari
alasan untuk mempertahankan dan melindungi kekuasaan dan keamanan.
Terutama ketika masa perang, suatu negara dihadapkan pada pilihan untuk terlibat
perang demi melindungi integritas wilayahnya. Namun, dalam perkembangan
yang terjadi di sistem internasional, terutama paska Perang Dingin, fenomena
globalisasi yang ada memengaruhi perpolitikan dunia yang membuat negara lebih
memfokuskan perhatiannya dalam sektor ekonomi, meskipun tidak melepaskan
diri seutuhnya dari unsur-unsur militer. Negara menjadikan ekonomi sebagai
20 Marijke Breuning, Foreign Policy Analysis: A Comparative Introduction, (New York: Palgrave
Macmillan, 2007), 5.
21 Alex Mintz dan Karl DeRouen Jr., Understanding Foreign Policy Decision Making,
10
prioritas utama, terlebih lagi semenjak dibentuknya berbagai macam organisasi
kerjasama ekonomi antar internasional.22
Kebijakan luar negeri merupakan unsur penting dalam membentuk
sebuah fenomena internasional. Sebab, sebuah kebijakan yang diterapkan suatu
negara akan menciptakan sebuah interaksi. Beberapa kebijakan dikalkulasikan
secara cermat dan kebijakan lainnya dapat pula diterapkan hanya dengan
mengandalkan intuisi.23 Kalkulasi sebuah kebijakan menandakan bahwa isu-isu
domestik dapat menentukan bagaimana sebuah kebijakan ditetapkan. Nilai-nilai
yang telah melekat dalam lingkungan domestik mampu memengaruhi bagaimana
pola politik internal dan membentuk tindakan terhadap lingkungan eksternal.24
Dalam memahami proses pembentukan kebijakan luar negeri, elemen
utama yang paling penting ialah pemimpin. Namun, proses pembuatan kebijakan
suatu negara tidak hanya dapat dilihat dari faktor pemimpin saja, tetapi juga
melihat proses birokrasi dalam pembuatan kebijakan yang sekaligus melihat
peranan aktor-aktor lain dalam birokrasi tersebut. Selain aktor-aktor politik,
publik juga memiliki peran dalam memengaruhi keputusan suatu kebijakan, baik
itu masyarakat, pers, bahkan aktor-aktor politik dari negara lain.25
Terdapat empat unsur dalam proses pembuatan kebijakan, yakni
pilihan, keputusan, tindakan, dan hasil. Pilihan merupakan beberapa kemungkinan
yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pembuat keputusan untuk
menetapkan kebijakan. Keputusan merupakan pilihan yang telah ditetapkan.
22 Breuning, Foreign Policy Analysis, 5.
Selanjutnya, tindakan merupakan perilaku yang didasarkan pada keputusan yang
telah dibuat. Tindakan biasanya dilakukan untuk memengaruhi aktor dari negara
lain atau untuk memperoleh keuntungan bagi negara. Dan yang terakhir adalah
hasil. Hasil dari kebijakan yang telah diterapkan yang cenderung bersifat abstrak.
Sebab hasil dari sebuah kebijakan juga dapat dipengaruhi oleh kebijakan negara
lain sebagai respon dari interaksi antar negara.26
Kebijakan luar negeri merupakan sebuah bentuk interaksi yang terjadi
antar negara karena di dalamnya terdapat sebuah tindakan dan juga respon dari
tindakan tersebut. Dengan demikian, penting untuk memahami kebijakan luar
negeri dari level negara. Level ini mencakup faktor internal yang memengaruhi
kebijakan suatu negara. Faktor-faktor internal tersebut dapat dilihat dari kerangka
institusi – seperti melihat interaksi antara badan legislatif dan eksekutif, serta
kondisi negara – seperti dalam hal ekonomi, sejarah dan kebudayaan negara.27
Faktor-faktor tersebut mampu membentuk sekumpulan pilihan bagi pembuat
kebijakan.
Selain dalam level negara, kebijakan luar negeri juga dapat dilihat dari
level sistem internasional. Level ini memfokuskan interaksi yang terjadi antar
negara. Sebab sistem internasional merupakan sekumpulan negara yang saling
berinteraksi yang dipengaruhi oleh kapabilitas mereka, yakni kekuasaan dan
kekayaan, dan hal tersebut memungkinkan mereka untuk bertindak di lingkungan
global. Kemampuan yang dimiliki suatu negara dapat berubah, yakni apakah
12
kemampuan ekonomi dan militer mereka bertambah atau berkurang.28 Interaksi
yang terjadi antar negara menjadikan sistem internasional sebagai faktor penting
bagi negara untuk mempertimbangkan kebijakan luar negeri.
Analisa dalam kebijakan luar negeri meliputi pemeriksaan pada proses
pembuatan kebijakan. Bagaimana keputusan ditetapkan dan bagaimana perubahan
dalam politik internasional berdampak pada perilaku manusia untuk berperan
secara individu maupun kolektif.29 Penjelasan mengenai analisa kebijakan luar
negeri juga meliputi hasil dari keputusan sebuah negara. Hasil tersebut juga
didasarkan pada pertimbangan bahwa keputusan yang dibuat akan memiliki
konsekuensi tersendiri bagi lingkungan internasional.30
Kebijakan luar negeri dibuat melalui beberapa fokus, seperti mengenali
permasalahan, membingkai isu, mengumpulkan persepsi, memprioritaskan tujuan,
serta mengumpulkan pilihan-pilihan yang didasarkan pada situasi saat itu.
Faktor-faktor yang memengaruhi suatu kebijakan luar negeri merupakan satu kunci
dalam menjelaskan proses pembuatan kebijakan. Kontribusi dalam menganalisa
proses pembuatan kebijakan ialah untuk mengetahui poin penting apa saja yang
menjadi penentu utama bagi suatu negara untuk bertindak yang biasanya didasari
oleh faktor materi dan ide.31
Adapun faktor-faktor yang dapat digunakan untuk menganalisa suatu
kebijakan ialah melalui faktor objektif dengan melihat kondisi lingkungan
28 Breuning, Foreign Policy Analysis, 13.
29Valerie M. Hudson dan Christopher S. Vore, “Foreign Policy Analysis Yesterday, Today, and
Tomorrow. Mershon International”, Mershon International Study Review: The International
Studies Association, 39: 2 (Oktober,1995): 210.
30 Valerie M. Hudson, “Foreign Policy Analysis: Actor-Specific Theory and the Ground of
International Relations”, International Studies Association: Blackwell Publishing, 1 (2005): 2.
domestik dan juga lingkungan internasional yang memengaruhi keputusan sebuah
kebijakan.32 Adapun faktor-faktor tersebut ialah:
a. Faktor Internal:
1. Atribut Ekonomi
Perekonomian suatu negara merupakan salah satu faktor yang
dipertimbangkan negara dalam menerapkan sebuah kebijakan. Tingkat
pertumbuhan ekonomi suatu negara merupakan karakteristik ekonomi yang
mampu memengaruhi proses perumusan kebijakan. Sebuah negara dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi cenderung lebih aktif dalam menghadapi
isu-isu internasional. Tingkat kekayaan suatu negara juga dapat memosisikan negara
sebagai pemberi atau penerima bantuan asing.33
2. Kepentingan Ekonomi
Berbeda dengan faktor atribut ekonomi yang menekankan pada
kemampuan ekonomi suatu negara, faktor kepentingan ekonomi ini lebih
menekankan pada kebutuhan ekonomi yang dikejar oleh suatu negara.
Kepentingan nasional merupakan dasar negara untuk menerapkan sebuah
kebijakan. Kepentingan nasional yang paling berpengaruh ialah kepentingan
ekonomi. Ketika akses terhadap sumber daya alam terancam, suatu negara akan
menerapkan sebuah kebijakan yang mampu mengamankan akses terhadap sumber
daya yang menjadi sektor penting dalam menjalankan perekonomian negaranya.34
32 Peter A. Toma dan Robert F. Gorman, International Relations: Understanding Global Issues,
(California: Brooks/Cole Publishing Company, 1991), 129.
33 Frederic S. Pearson dan J. Martin Rochester, International Relations: The Global Condition in
195.Twenty-First Century, (New York: The McGraw-Hill Companies, Inc: 1998), 195.
14
Dengan demikian, kepentingan ekonomi menjadi faktor penentu kebijakan suatu
negara.
b. Faktor Eksternal:
1. Struktur dalam Sistem Internasional
Struktur yang ada dalam sistem internasional dapat memengaruhi
kebijakan luar negeri suatu negara. Struktur tersebut dapat berupa unipolar,
bipolar, ataupun multipolar. Dalam melihat dominasi suatu negara di sistem
internasional harus juga memahami bahwa struktur dalam sistem internasional
dapat berubah. Secara umum, perubahan ini didorong oleh masalah ekonomi
ketika peran sebagai negara hegemon tidak lagi mampu untuk terakomodasi. Hal
tersebut akan mendorong negara lain untuk menggantikan peran tersebut.35
2. Aliansi
Aliansi merupakan salah satu faktor eksternal yang memengaruhi
kebijakan suatu negara. Keinginan suatu negara untuk menerapkan kebijakan
tertentu dapat dipengaruhi oleh aliansi yang dijalin dengan negara atau organisasi
lain. Aliansi militer, salah satu bentuk aliansi, dapat memengaruhi suatu negara
untuk mempertimbangkan pentingnya melakukan agresi atau intervensi militer
terhadap negara lain. Dapat juga kebijakan yang dibuat berupa ajakan suatu
negara untuk bergabung dengan koalisi yang dibentuk atau kebijakan untuk
menerima atau menolak ajakan dari negara lain.36
35 Pearson dan Rochester, International Relations, 188
2. Konsep Intervensi
Konsep intervensi atau yang dikenal dengan intervensi kemanusiaan
dapat dipahami sebagai tindakan oleh negara atau sekelompok negara untuk
mencegah atau membatasi dampak dari ancaman atau penggunaan kekerasan
terhadap manusia tanpa seizin dari negara yang dituju.37 Konsep intervensi yang
lama dapat ditekankan pada kewajiban negara dalam melindungi populasinya
sendiri. Namun, bagi Alex Bellamy, konsep intervensi ini sudah meluas dengan
adanya peran bantuan dari negara-negara dunia untuk menanggapi genosida dan
kejahatan massa.38
Bagi Martha Finnemore, intervensi kemanusiaan merupakan intervensi
dengan menggunakan militer yang tujuannya untuk melindungi rakyat sipil.39
James N. Rosenau melihat bahwa intervensi merupakan instrumen dari sebuah
tindakan, bukan merupakan tujuan akhir. Nilai moralitas sebuah tindakan
intervensi tergantung dari hasil akhir yang dituju.40 Dengan demikian, intervensi
dapat dipahami sebagai aksi yang dilakukan negara terhadap negara lain dengan
maksud melindungi warga sipil dalam kondisi perang. Tetapi, aksi intervensi ini
bertentangan dengan kedaulatan suatu negara. Hal tersebut menjadi perdebatan
mengenai legitimasi sebuah intervensi.41
37 J. L. Holzgrefe dan Robert O. Keohane, Humanitarian Intervention: Ethical, Legal, and
Political Dilemmas, (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), 18.
38Alex J. Bellamy, “The Responsibility to Protect: The Five Years On”, Ethics and International
Affairs 24:2 (2010), 143.
39Martha Finnemore (1996) dalam Saban Kardas, “Humanitarian Intervention: The Evolution of
The Idea and Practice”, Journal of International Affairs, 6: 2 (Juli, 2001): 1.
40 James N. Rosenau, The Scientific Study of Foreign Policy, (London: Frances Printer,1980) 342. 41Gareth Evans, “From Humanitarian Intervention to The Responsibility to Protect”, Wisconsin
16
Gambar 2. Definisi Intervensi
Sumber42: Joshep S. Nye Jr. (1991).
Joseph Nye menjelaskan bahwa bentuk intervensi memiliki beberapa
tahapan dari low coercion yang berupa pernyataan suatu negara terhadap negara
lain hingga high coercion yang berupa invasi militer.43 Penjelasan mengenai
intervensi ini menggambarkan bahwa intervensi dapat dilihat dari berbagai
bentuk, baik itu dari pidato kenegaraan, bantuan ekonomi, blokade hingga invasi
militer.
International Commission on Intervention and State Sovereignty
(ICISS) melihat bahwa konsep intervensi harus dilihat dari segi responsibility
(tanggung jawab), yakni tanggung jawab untuk melindungi rakyat atau dapat
dipahami juga sebagai responsibility to protect (r2p). R2p merupakan salah satu
bentuk upaya internasional dalam melakukan pencegahan terhadap genosida dan
42 Joshep S. Nye, Jr., Understanding International Conflict: An Introduction to Theory and
History, (New York: Longman, 1991), 162.
kejahatan massa serta upaya perlindungan terhadap rakyat sipil dari kejahatan
tersebut.44
Terdapat tiga bentuk responsibility, yang pertama adalah responsibility
to prevent (tanggung jawab untuk mencegah). Bentuk pencegahan ini ditujukan
kepada penyebab apa saja yang menimbulkan krisis yang mengancam manusia.
Yang kedua ialah responsibility to react (tanggung jawab untuk bereaksi), yakni
memberikan respon terhadap situasi yang mengancam manusia, seperti pemberian
sanksi dan intervensi militer. Yang ketiga ialah responsibility to rebuild (tanggung
jawab untuk membangun kembali) melalui penyediaan bantuan untuk proses
pemulihan, rekonstruksi dan rekonsiliasi.45
F. Metodologi Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam
penelitian kualitatif, bekal yang utama bagi peneliti ialah pengalaman, yakni
pengalaman dalam menganalisa data. Pengalaman dalam menganalisa data ini
kemudian dapat digunakan untuk menyusun pertanyaan penelitian dari sebuah
studi kasus. Penyusunan pertanyaan penelitian dari studi kasus berguna untuk
menentukan fokus isu dalam proses pengumpulan data.46
Sumber data yang akan digunakan untuk melengkapi informasi yang
dibutuhkan dalam penelitian ini menggunakan data-data yang diperoleh dari buku,
jurnal, artikel, dan website. Teknik yang digunakan dalam memperoleh sumber
44Bellamy, “The Responsibility to Protect”, 143.
45 International Commission on Intervention and State Sovereignty, The Responsibility to Protect
(2110) dalam Evans, “From Humanitarian Intervention”, 707-709.
18
data adalah dengan studi kepustakaan atau literatur. Teknik ini digunakan dengan
mengumpulkan sumber-sumber kepustakaan yang berkaitan dengan topik yang
dibahas serta menghubungkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan
terdahulu. Perolehan data ini akan dilakukan dengan mengunjungi perpustakan di
beberapa universitas, seperti Universitas Islam Negeri Jakarta dan Universitas
Indonesia, serta Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
G. Sistematika Penulisan
Dalam penelitian yang membahas mengenai kebijakan luar negeri Qatar
dalam memberikan dukungan terhadap pihak NTC di Libya ini akan terdiri dari
lima bab. Pada bab I, yakni pendahuluan, akan dijelaskan mengenai latar belakang
permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini. Selain itu, bab ini juga akan
memberikan informasi mengenai pertanyaan penelitian serta kerangka teori yang
akan digunakan untuk menganalisa permasalahan yang ada.
Selanjutnya, pada bab II akan dijelaskan mengenai krisis politik di Libya.
Penjelasan tersebut akan diawali dengan menceritakan awal terjadinya fenomena
Arab Spring di Timur Tengah serta menceritakan sedikit tentang beberapa negara
lain yang juga mengalami krisis politik tersebut. Kemudian pada bab ini akan
dijelaskan mengenai krisis politik di Libya secara lebih mendalam beserta
penjelasan mengenai kelompok-kelompok oposisi di Libya. Pada bab ini juga
akan dijelaskan mengenai NTC sebagai perwakilan resmi rakyat Libya pada masa
krisis.
Dalam bab III, penelitian ini akan memasuki peran yang dilakukan Qatar
ini memberikan informasi terlebih dahulu mengenai perpolitikan Qatar di kawasan
baik sebelum terjadinya Arab Spring ataupun pada masa Arab Spring
berlangsung. Untuk melihat peran Qatar di Libya, penelitian ini juga memberikan
informasi terlebih dahulu mengenai hubungan bilateral kedua negara tersebut.
Setelah itu pada bagian terakhir dalam bab ini akan dijelaskan mengenai
bentuk-bentuk dukungan yang diberikan Qatar terhadap pihak NTC.
Pada bab IV, penelitian ini akan memasuki bagian analisa. Bagian ini
akan menjawab permasalahan yang menjadi pertanyaan penelitian. Dalam
menjawab pnelitian ini, teori serta konsep yang dijelaskan pada bab I akan
diaplikasikan beserta data-data yang telah dikumpulkan. Konsep intervensi akan
dijelaskan untuk membantu penulis membuktikan bahwa dukungan yang
diberikan Qatar merupakan salah satu bentuk intervensi. Selain konsep intervensi,
pada bab IV terdapat faktor subjektif dan faktor objektif yang digunakan penulis
untuk melihat faktor apa saja yang memengaruhi Qatar untuk memberikan
dukungan terhadap pihak NTC.
Dan bagian terakhir ialah bab V. Bagian terakhir ini akan menjadi bagian
penutup yang berisi kesimpulan penelitian. Kesimpulan ini akan menjabarkan
kembali penelitian yang telah disusun secara keseluruhan. Selain itu juga pada
bagian ini akan mempertegas kembali jawaban penelitian yang didapat dari hasil
20
BAB II
KRISIS POLITIK YANG TERJADI DI LIBYA
Krisis politik yang terjadi di Libya merupakan salah satu dampak dari
fenomena Arab Spring yang melanda kawasan Timur Tengah. Pada Bab ini akan
dijelaskan mengenai awal mula terjadinya Arab Spring hingga berdampak pada
perpolitikan di negara-negara Timur Tengah yang salah satunya adalah Libya.
Selain itu juga akan dijelaskan bagaimana pihak oposisi di Libya menghadapi
krisis politik tersebut.
A. Awal Mula Terjadinya Krisis Politik di Libya
Krisis politik di Libya, seperti yang telah dijelaskan di atas, merupakan
dampak dari fenomena Arab Spring yang menyebabkan krisis politik di beberapa
negara di Timur Tengah.
1. Arab Spring sebagai Fenomena Politik di Timur Tengah
Arab Spring merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat Barat
untuk menggambarkan revolusi politik yang terjadi di Timur Tengah. Terdapat
juga istilah Arab Uprising yang diartikan sebagai pemberontakan Arab untuk
menyebutkan gerakan revolusi tersebut. Orang Arab sendiri lebih memilih
fenomena yang lekat dengan reformasi sosial, nasional, konstitusional, dan
gerakan Islamis modern.47
Revolusi yang terjadi di dunia Arab ini diawali di Tunisia. Pada 17
Desember 2010, Muhammad Bouazizi melakukan protes melalui pembakaran diri.
Aksi pembakaran diri yang dilakukan oleh Bouazizi mendorong para pemuda
Tunisia untuk melakukan protes terhadap pemerintah. Aksi protes tersebut
merupakan ekspresi dari ketidakpuasan terhadap isu-isu sosial yang melanda
Tunisia, seperti pengangguran, korupsi, inflasi makanan, dan juga tidak adanya
kebebasan dalam berpolitik. Dalam waktu yang singkat, tepatnya pada 14 Januari
2011, protes yang dilakukan masyarakat Tunisa berhasil mendorong presiden
Zaenal Abidin Ben Ali yang telah memimpin selama 23 tahun untuk turun dari
kursi kepemimpinan.48
Di bawah pemerintahan Ben Ali, kebebasan pers terutama melalui internet,
berada di bawah kontrol sang diktator. Halaman wikipedia mengenai profil
dirinya, blog dan twitter dari pihak oposisi, serta artikel berita yang bersifat kritis
tidak dapat diakses oleh pengguna internet karena telah di blok. Diskusi mengenai
sang diktator, Ben Ali, juga tidak dapat dilakukan secara bebas terutama bahasan
yang bersifat mengkritisi dikarenakan adanya ketakutan terhadap polisi-polisi
rahasia yang dapat menangkap dan memenjarakan rakyat sipil.49
47Eugene Rogan, “The Arab Spring: Implications for British Policy”, Conservative Middle East
Council, (Oktober, 2011): 4.
48Alasdair MacKay, “The Arab Spring of Discontent”, E-International Relations, (2011): 4 49 Sami Ben Hassine, We Finally have Revolution on our Minds, dalam Guardian News and
22
Informasi mengenai revolusi yang terjadi menyebar secara cepat melalui
media. Protes yang pada awalnya merupakan ekspresi terhadap banyaknya
penangguran, tingginya harga makanan, dan keterbatasan pers menjalar ke isu
yang lebih berat seperti keinginan masyarakat untuk menurunkan Ben Ali dari
kursi pemerintahan. Gerakan yang diawali oleh Bouazizi tersebut mendorong
rakyat Tunisia untuk berani berekspresi.50 Meskipun Tunisia mengalami beberapa
perkembangan dalam isu sosial seperti tingkat pendidikan yang tinggi dan jumlah
masyarakat kelas menengah yang juga tinggi, adanya pembagian kelas sosial tidak
dapat dihindarkan. Pembagian kelas sosial dan juga gerakan buruh menjadi pilar
utama pemicu revolusi di Tunisia.51
Aksi pembakaran diri yang dilakukan oleh Bouazizi tidak hanya
berdampak secara lokal, yakni mendorong masyarakat Tunisia untuk melakukan
protes terhadap pemerintahan Ben Ali, tetapi juga berdampak pada negara Arab
lainnya, salah satunya adalah Mesir. Mundurnya Ben Ali dari kepemimpinan di
Tunisia pada 14 Januari 2011 memberikan pencerahan bagi rakyat Mesir yang
berusaha untuk menjatuhkan kepemimpinan Hosni Mubarak.52
Tidak jauh berbeda dengan aksi yang dilakukan Bouazizi, protes di Mesir
juga diawali dengan aksi pembakaran diri oleh Abdou Abdel-Monaam Hamadah
yang merupakan seorang pemilik restoran yang putus asa dengan kondisi ekonomi
di Mesir. Meskipun aksi tersebut tidak memperoleh perhatian langsung yang
50Alyssa Alfano, “A Personal Perspective on Tunisian Revolution”, dalam Alasdair MacKay, :The
Arab Spring of Discontent”, E-International Relations, (2011): 7.
51 Jason William Boose, “Democratization and Civil Society: Libya, Tunisia, and The Arab
Spring”, International Journal of Social Science and Humanity, 2:4 (Juli, 2012): 314.
52Hamid Dabashi, “The Arab Spring: The End of Postcolonialism”, (London: Zed Books, 2012),
signifikan selayaknya yang terjadi di Tunisia, tetapi aksi tersebut mampu memicu
aksi protes yang lebih besar melalui “Day of Rage” pada 25 Januari 2011 untuk
menurunkan rezim Mubarak.53
Pada akhir Januari 2011, ribuan rakyat Mesir berkumpul di Tahrir Square
masih dengan agenda yang sama, meminta mundurnya Mubarak dari kursi
kepemimpinan. Mubarak menolak untuk mundur, namun berjanji akan
memberikan reformasi demokratis serta tidak akan mencalonkan diri kembali
dalam pemilu berikutnya. Rakyat tetap memaksa Mubarak untuk turun melalui
aksi protes lainnya pada 1 Februari 2011 di lokasi yang sama, Tahrir Square. Aksi
protes masih berlanjut pada 4 Februari 2011 melalui “Day of Departure”. Aksi
tersebut mendapatkan respon dari Omar Suleiman selaku Perdana Menteri untuk
melakukan negosiasi dengan pihak oposisi, termasuk Muslim Brotherhood. Sang
presiden masih menolak untuk mengundurkan diri. Pada 11 Februari, Omar
Suleiman yang baru saja diangkat menjadi wakil presiden menyatakan
pengunduran diri Hosni Mubarak dan dengan demikian kekuasaan sementara
berada di tangan militer.54
Selanjutnya, aksi protes menyebar di negara lainnya seperti Yaman,
Bahrain, hingga Suriah. Tidak berbeda dengan negara-negara sebelumnya, rakyat
Yaman juga menginginkan kemunduran sang presiden, Ali Abdullah Saleh.
Presiden Saleh yang telah menjabat sejak tahun 1990 merespon aksi protes dengan
menyatakan bahwa dirinya tidak akan melakukan re-eleksi pada pemilu yang akan
datang dan hanya akan menjabat hingga masa kepemimpinannya berakhir pada
24
2013. Namun, rakyat Yaman tetap melanjutkan aksi protes melalui “Day of rage”
pada 3 Februari 2011.55
Selama proses demonstrasi yang terjadi, tokoh militer dan beberapa
menteri beralih memberikan dukungan kepada para demonstran, berbeda dengan
sang Presiden yang masih mempertahankan kepemimpinannya. Aksi demonstrasi
ini masih terus berlanjut hingga Mei 2011 yang menimbulkan banyak korban jiwa
akibat bentroknya militer pemerintah dengan pihak oposisi. Pada bulan Juni 2011,
Presiden Saleh terkena tembakan roket di kediaman kepresidenan dan
diterbangkan ke Arab Saudi.56
Aksi protes dengan menggunakan istilah “Day of Rage” tidak hanya
dilakukan oleh para protestan di Mesir dan Yaman, rakyat Bahrain juga
melakukan aksi yang sama pada 14 Februari 2011. Namun, aksi protes di Bahrain
ini dikatakan berbeda dengan Arab Spring karena dipicu oleh perbedaan
Sunni-Siah yang ada dalam struktur sosial Bahrain. Meskipun demikian, pemicu lainnya
tidak dapat dilepaskan dari hal-hal ekonomi yakni adanya tindak korupsi oleh para
elit politik. Aksi protes yang dilakukan di Pearl Square menelan korban jiwa dan
mendorong sang pemimpin, Hamad bin Isa Al Khalifa yang telah menjabat sejak
1942, melepaskan beberapa tahanan politik sebagai langkah damai dengan pihak
oposisi.57
Di Suriah, aksi protes pertama terjadi di bagian selatan Suriah, tepatnya di
kota Dera’a pada 18 Maret 2011. Pada aksi protes awal yang terjadi di Suriah
tersebut, rezim Bashar Al Assad langsung merespon protes tersebut secara militer.
Semakin banyak para protestan yang mempertahankan diri dengan persenjataan,
semakin banyak kekerasan yang dilakukan oleh rezim Assad. Dalam krisis politik
di Suriah, rezim Assad memperoleh bantuan, baik secara militer maupun finansial,
dari negara-negara besar seperti Rusia dan Tiongkok. Dalam menghadapi krisis
tersebut, rezim Assad juga memperbaharui beberapa aturan dalam negeri seperti
memodifikasi manajemen hubungan regional dan internasional untuk mengurangi
sanksi diplomatik dan ekonomi.58
2. Arab Spring di Libya (Libya Spring)
Arab Spring yang terjadi di Libya atau dapat dikatakan sebagai Libya
Spring merupakan krisis politik yang terjadi di Libya. Pada 15 Februari 2011,
kerusuhan mulai terjadi di Libya tepatnya di depan markas besar kepolisian di
Benghazi. Kerusuhan tersebut semakin menyebar hingga pada 17 Februari terjadi
aksi protes di kota besar Libya, Benghazi dan Tripoli.59 Ratusan rakyat Libya
menjadi korban jiwa hanya dalam hitungan hari dari awal kerusuhan terjadi.
Berbeda dengan kepala pemerintah lain yang berupaya untuk melakukan negosiasi
dengan rakyat atau setidaknya menawarkan perubahan, Moammar Qaddafi dan
juga anaknya Saif al-Islam menyatakan sikap keras terhadap pihak oposisi melalui
ancaman penyerangan.60
58Steven Heydemann, “Tracking The Arab Spring: Syria and The Futur of Authoritarianism”,
Journal of Democracy 24:4 (Oktober, 2013): 62-63.
59Simon Adams, “Libya and the Responsibility to Protect”, Global Center for Responsibility to
Protect: Occasional Paper Series, 3 (Oktober, 2012): 5.
26
Kerusuhan yang terjadi di Libya diawali oleh aksi seorang individu yang
diketahui tidak memperoleh akses pendidikan dan informasi. Organisasi
masyarakat di Libya tidak dibenarkan keberadaannya di bawah kepemimpinan
Qaddafi dan sektor swasta juga memiliki andil yang lemah. Ekonomi menjadi
pemicu dari kerusuhan yang terjadi, seperti isu pengangguran, pendapatan yang
rendah, dan ketimpangan sosial.61
Meskipun memiliki dasar yang sama dengan krisis di negara Arab lain,
kerusuhan di Libya berlangsung lebih lama dan menelan lebih banyak korban
jiwa. Hal ini dikarenakan cara dan sikap Qaddafi dalam menghadapi para
protestan, yakni dengan menggunakan kekerasan. Semakin banyaknya korban
jiwa semakin banyak pula elit-elit pemerintah yang membelot dan memutuskan
untuk bergabung dengan rakyat Libya. Akibatnya, bentrokan yang terjadi antara
militer Qaddafi dan rakyat Libya semakin sulit untuk ditangguhkan. Pembentukan
badan perwakilan rakyat Libya atau NTC semakin menguatkan pihak oposisi,
meskipun tidak membuat Qaddafi menyerah dan memutuskan untuk mundur dari
kepemimpinannya.62
Jumlah korban jiwa yang dihasilkan pada awal krisis di Libya mendorong
banyak pihak untuk memberikan respon terkait krisis tersebut. Sejak tanggal 15
Februari hingga 22 Februari 2011 terdapat 200 korban jiwa yang tercatat oleh
Dewan HAM PBB (UN Human Right Council) dan 500-700 korban jiwa yang
tercatat oleh Pengadilan Internasional (International Criminal Court, ICC).
61Wolfram Lacher, “The Libyan Revolution: Old Elites and New Political Forces”, dalam Muriel
Asseburg, “Protest, Revolt and Regime Change in The Arab World”, German Institute for
International and Security Affairs, Research Paper 6 (Februari, 2012): 11.
Organisasi-organisasi seperti PBB, Uni Afrika, Liga Arab, Organisasi Konferensi
Islam (OKI) turut memberikan respon terhadap krisis yang menelan ratusan
korban jiwa tersebut.63
Ban Ki-Moon, selaku Sekertaris-Jenderal PBB, pada 20 Februari 2011
melakukan negosiasi dengan Qaddafi melalui telepon untuk mengajak sang
diktator menghentikan kekerasan terhadap rakyat Libya secepatnya. Sikap
Qaddafi yang menolak ajakan tersebut mendorong para elit politik di Libya untuk
memihak kepada sipil. Dua hari berikutnya, Komisaris PBB untuk HAM, Navi
Pillay, menyatakan kepada otoritas Libya untuk menghentikan kekerasan terhadap
HAM dan menggambarkan situasi di Libya sebagai “kejahatan terhadap manusia”
atau “crimes against humanity”.64
Dalam merespon perang saudara di Libya, Dewan Keamanan PBB
(DK-PBB) pada 26 Februari 2011 menetapkan Resolusi 1970 mengenai “tanggung
jawab otoritas Libya dalam melindungi populasinya”. Dalam resolusi tersebut
ditetapkan embargo senjata, pembekuan aset, pelarangan bepergian dan
menyerahkan situasi krisis ke pihak ICC. Eskalasi kekerasan terhadap sipil
mendorong DK-PBB untuk mengadopsi Resolusi 1973 pada 17 Maret 2011 dan
disetujui oleh 10 dari 15 anggota DK-PBB. Resolusi 1973 lebih menekankan pada
upaya gencatan senjata untuk menghentikan penyerangan terhadap sipil serta
28
upaya intensif untuk mencari solusi atas krisis termasuk di dalamnya aksi
militer.65
Selain dari pihak PBB, organisasi internasional lain seperti Liga Arab, Uni
Afrika dan OKI, masing-masing memberikan respon terhadap krisis yang
dihadapi rakyat Libya. Pada 22 Februari 2011, Uni Afrika dan OKI sama-sama
memberikan pernyataan tegas terhadap otoritas Libya untuk segera menyudahi
penyerangan terhadap rakyat sipil. Liga Arab melarang Libya untuk menghadiri
pertemuan yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Pada 14 Maret 2011, Dewan
Keamanan dan Perdamaian Uni Afrika membentuk Komisi Tingkat Tinggi.66
18 Maret 2011, DK-PBB memberikan izin terhadap NATO untuk
menerapkan no-fly zone di Libya.67 Kebijakan tersebut dilakukan juga oleh negara
koalisi NATO seperti Swedia, Yordania, Qatar dan Uni Emirat Arab. Pada 29
Maret, NATO secara resmi mengambil alih seluruh operasi militer di Libya
melalui “Operations Unified Protector”. Koalisi yang dilakukan negara-negara
tersebut juga memberikan bantuan langsung terhadap pihak oposisi yang
bermarkas di Benghazi, Misrata, Tripoli, dan juga di Sirte.68
Meskipun telah banyak keterlibatan pihak asing beserta sanksi terhadap
Libya, tidak membuat sikap Qaddafi melunak. Sikap keras Qaddafi mendorong
NATO untuk melakukan penyerangan terhadap lokasi-lokasi ditempat sang
65 “10 anggota DK PBB yang menyetujui Resolusi 1973: Bosnia-Herzegovina, Kolombia,
Perancis, Gabon, Libanon, Nigeria, Portugal, Afrika Selatan, Inggris dan Amerika Serikat; dan 5
anggota DK PBB yang tidak memberikan suara: Brasil, Cina, Jerman, India dan Rusia”.
Simon Adams, “Libya and the Responsibility to Protect”, 6.
66Adams, “Libya and the Responsibility to Protect”, 6. 67 Dabashi, The Arab Spring, 20.
68Marianne Mosegaard Madsen dan Simone Sophie Wittstrøm Selsbæk, “The Responsibility to
Protect and the intervention in Libya”, Roskilde University:Department of Society and
diktator berada. Bom yang sempat diluncurkan di Tripoli dan Misrata tidak
berhasil mengenai Qaddafi melainkan salah satu anaknya dan tiga orang
cucunya.69
Banyaknya kekerasan yang dilakukan oleh Qaddafi, pada bulan Agustus,
ICC menyatakan bahwa Qaddafi dan anaknya serta kepala intelijen Libya
dinyatakan sebagai pidana atas kejahatan yang diperbuat. Otoritas Libya
kemudian diserahkan kepada pihak oposisi NTC. Pada 24 Oktober 2011, NTC
menyatakan berakhirnya perang saudara diikuti dengan tewasnya Qaddafi dan
anaknya pada 20 Oktober 2011. Selanjutnya, pada 26 Oktober 2011 kebijakan
no-fly zone berakhir diikuti dengan misi NATO di Libya pada 31 Oktober 2011.70
B. Pihak Oposisi dalam Krisis Politik di Libya
NTC merupakan perwakilan rakyat Libya yang dibentuk oleh pihak-pihak
yang melawan pemerintahan Qaddafi terkait krisis politik yang terjadi pada tahun
2011. Pihak-pihak oposisi ini tidak begitu saja lahir ketika fenomena Arab Spring
terjadi, melainkan telah ikut berpartisipasi dalam revolusi-revolusi sebelumnya.
1. Lahirnya Kelompok Oposisi di Libya Pada Masa Rezim Qaddafi
Muammar Qaddafi memperoleh kepemimpinannya melalui “revolusi
Libya” pada tahun 1969 melalui kudeta militer terhadap pemimpin sebelumnya,
30
Raja Idris.71 Kudeta militer tersebut dilakukan melalui kepemimpinannya dalam
Revolutionary Command Council (RCC) dan atas keberhasilan dalam aksi kudeta
membuat Qaddafi diangkat sebagai pemimpin bagi rezim yang baru. Libya di
bawah kepemimpinan Qaddafi memperoleh bentuk baru yang mana
hukum-hukum lama dihapuskan oleh sang pemimpin, serta pada tahun 1973 Qaddafi
menghapuskan pemerintahan Libya dan mendeklarasikan bentuk Libya yang baru,
yakni Jamahiriya atau Negara Rakyat.72
Meskipun Qaddafi telah mendeklarasikan Libya sebagai Negara Rakyat,
dalam prakteknya rakyat tidak diberikan ruang untuk berekspresi. Tidak adanya
partai politik, persatuan perdagangan, dan organisasi umum lainnya
menggambarkan bentuk pembatasan terhadap kebebasan rakyat sipil. Beberapa
organisasi sipil diakui keberadannya, seperti Boy Scouts dan Red Crescent, untuk
menghindari amukan rakyat sipil.73
Pada tahun 1959, Libya menemukan sumber cadangan minyak yang
berhasil memberikan keuntungan bagi negara tersebut. Namun, ketika Qaddafi
menduduki kursi kepemimpinan, keuntungan dari penjualan minyak tersebut lebih
ditujukan untuk kepentingan rezim, agar rezim Qaddafi tetap menduduki
kekuasaan. Meskipun sebagian keuntungan disisihkan untuk subsidi, hal tersebut
dilakukan semata-mata untuk “menutup mulut” rakyat agar tidak membelot.74
71 Rosan Smith, et.al., “Revolution and Its Discontents: Stae, Factions, and Violence in The New
Libya”, Netherland Institute of International Relations, (September, 2013): 11.
72 David Seddon, A Political and Economic Dictionary of The Middle East: An Essential Guide to
the Politics and Economics of the Middle East, (London: Taylor and Francis Group, 2004), 408.
73 Bruce St. John, “Libyan Myths and Realities”, Copenhagen: Royal Danish Defense College.,
(Agustus, 2011): 6.
Aksi kecurangan yang dilakukan rezim tersebut mendorong rakyat Libya untuk
membentuk gerakan oposisi bahkan sejak awal kepemimpinan Qaddafi.
Gerakan oposisi di Libya telah muncul pada tahun 70-an, yakni tidak lama
setelah Qaddafi berhasil menduduki pemerintahan Libya. Wilayah Timur Libya
merupakan wilayah dimana pihak oposisi terkuat berada. Pada tahun 1970-an
gerakan oposisi terbentuk oleh pihak militer dan para pelajar. Pada tahun 1980-an
gerakan oposisi didominasi oleh aktor-aktor yang diasingkan. Pada tahun 1990-an
terbentuk oposisi yang terinspirasi dari nilai-nilai Islam.75
Sebelum krisis politik yang terjadi pada tahun 2011 lalu, upaya
menurunkan rezim Qaddafi telah beberapa kali dilakukan oleh rakyat Libya. Pada
tahun 1976, rezim Qaddafi menekan sebuah kelompok mahasiswa, Libyan
Student Union, yang sempat melakukan pemberontakan dan mengeksekusi
pemimpin dari kelompok tersebut serta menyiksa beberapa mahasiswa.
Pemberontakan kembali dilakukan pada tahun 1980-an ketika kelompok oposisi
dari pihak-pihak yang diasingkan melalui Libyan Salvation Front melakukan aksi
protes. Dan pada tahun 1990 kembali terjadi aksi pemberontakan yang dilakukan
oleh kelompok Islamis seperti Libyan Islamist Fighting Group (LIFG) yang
berasal dari wilayah Timur Libya. Aksi-aksi pemerontakan tersebut menghasilkan
10.000 rakyat Libya diasingkan oleh rezim Qaddafi.76
75Ali Abdullatif Ahmida, “The Libyan National Transitional Council: Social Bases, Membership,
and Political Trends”, Aljazeera Center for Studies: Reports, (Oktober, 2011): 3.
32
2. NTC sebagai Perwakilan Resmi Rakyat Libya
Kelompok-kelompok oposisi Libya yang telah terbentuk sejak tahun 70-an
tersebut memberikan respon terhadap Arab Spring yang terjadi di Libya melalui
pembentukan badan revolusi yang dinamakan NTC.77 Peresmian badan
pemerintahan sementara Libya ini dideklarasikan setelah meninggalnya sang
pemimpin dan berakhirnya perang sipil pada 24 Oktober 2011. Perdana Menteri
Abdurrahim al Kib mengetuai kabinet sementara NTC hingga badan tersebut
terbentuk secara utuh.78
Meskipun baru dinyatakan secara resmi sebagai pemerintahan sementara
Libya, NTC telah terbentuk sejak awal krisis politik Libya terjadi, yakni pada 17
Februari 2011. NTC memiliki dua kelompok utama di dalamnya, yakni
perwakilan dari seluruh wilayah Libya serta dewan lokal dari wilayah bagian
Timur Laut. Anggota-anggota dari NTC terdiri dari pihak-pihak yang membelot
rezim Qaddafi, reformis, teknokrat, pejuang oposisi keturunan aristokrat dan
keluarga bangsawan pada zaman Monarki Libya, pengacara, professor, hingga
pebisnis yang diasingkan dari wilayah Barat. Pembentukan NTC ini juga
didukung oleh salah satu kelompok Islamis, Muslim Brotherhood.79
Pembentukan badan NTC ini bertujuan untuk mengarahkan Libya selama
periode transisi. NTC yang telah terbentuk sejak awal revolusi ini mewakili
77Ahmida, “The Libyan National Transitional Council”, 4.
78Susan Power, “The Role of the NTC in the Economic Reconstruction of Libya”, Socio-Legal
Studies Review, 1 (2012): 115.
seluruh kota yang ada di Libya dan memperoleh legitimasi dari dewan lokal yang
dibuat oleh rakyat Libya yang terlibat dalam revolusi.80
NTC dapat dikatakan sebagai badan yang dibuat oleh pihak lokal Libya
untuk menghadapi krisis politik. Dari dunia internasional, terdapat Libya Contact
Group81 (LCG) sebagai upaya dunia internasional dalam membantu menangani
krisis di Libya yang dibuat pada 29 Maret 2011. Dalam upaya untuk mewujudkan
Libya yang bebas dan demokratis, LCG memberikan pengakuannya terhadap
NTC sebagai otoritas yang sah bagi rakyat Libya pada 15 Juli 2011.82 Selain
LCG, beberapa negara seperti Perancis, Jerman, Italia, Tiongkok, Rusia, Jordania,
Kuwait, Uni Emirat Arab, termasuk Qatar turut memberikan pengakuan terhadap
NTC sebagai perwakilan resmi rakyat Libya.83
Meskipun telah memperoleh legitimasi dari level domestik maupun
internasional, peran NTC dilihat dari statusnya sebagai pemerintah “sementara”
menjadikan peranannya terbatas. Dalam Resolusi DK-PBB 2022, pembentukan
NTC dilakukan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi implementasi
mandat PBB untuk Libya (UNSMIL). Tetapi, NTC tetap memperoleh haknya
untuk menerima kembali aset-aset negara yang sebelumnya dibekukan. Dalam
Resolusi DK-PBB 2009, NTC harus mengembalikan dan mengalokasikan dana
Libya secara terbuka dan transparan. Dengan adanya pengembalian aset tersebut,
80Power, “The Role of The NTC”, 118.
81 “LCG merupakan kelompok yang mengupayakan dukungan bagi rakyat Libya dari pihak
internasional seperti Liga Arab, Uni Afrika, NATO, GCC, OKI serta negara-negara seperti
Australia, Bahrain, Denmark, Jerman, Kanada, Inggris, dan AS”. dalam Power, “The Role of The
NTC”, 118.
34
NTC diharapkan dapat memainkan peran penting dalam upaya merekonstruksi
Libya.84
35
Fenomena Arab Spring, termasuk krisis politik yang terjadi di Libya,
mengundang respon-respon dari dunia internasional, baik dari organisasi
internasional, organisasi regional, maupun negara secara individu. Salah satu
negara Arab yang memberikan respon terhadap krisis politik di Libya ialah Qatar.
Dalam melihat respon Qatar terhadap krisis tersebut, ada baiknya untuk
menjelaskan terlebih dahulu kedudukan Qatar secara regional di Timur Tengah.
A. Kedudukan Qatar di Timur Tengah
Gambar 1. Peta Qatar di Timur Tengah
Sumber85: CIA: The World Factbook
Qatar merupakan negara kecil di kawasan Timur Tengah yang memiliki
luas wilayah 11.586 km2 dengan populasi sebanyak 2.123.160 jiwa (untuk