• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Pelatihan Terhadap Pengembangan Human Capital (Modal Insani) Tenaga Kependidikan Pada Institut Pertanian Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Pengaruh Pelatihan Terhadap Pengembangan Human Capital (Modal Insani) Tenaga Kependidikan Pada Institut Pertanian Bogor"

Copied!
222
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap organisasi baik perusahaan maupun instansi, saat ini dihadapkan pada kondisi persaingan globalisasi yang mengarah pada peningkatan pembangunan disegala bidang. Organisasi dituntut agar berperan serta dalam peningkatan pembangunan terutama yang bertujuan untuk kesejahteraan umat, sehingga diperlukannya sumber daya manusia yang berkualitas dalam membantu organisasi dalam mencapai tujuan tersebut. Demi memperoleh SDM yang berkualitas suatu organisasi telah banyak melakukan upaya, salah satunya yaitu dengan melakukan pelatihan terhadap pegawai. Program pelatihan pada SDM dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual dan moral dari pegawai. Saat ini, pelatihan juga penting dalam proses manajemen kinerja. Pelatihan adalah proses terintegrasi yang digunakan organisasi untuk memastikan agar para pegawai bekerja untuk mencapai tujuan organisasi. Pelatihan digunakan untuk menyiapkan pegawai dalam menghadapi perubahan dan perkembangan baik dari internal maupun eksternal. Melalui pelatihan, pegawai dapat meningkatkan kinerja yang lebih maksimal untuk organisasi dan memberikan kontribusi lebih.

Pelaksanaan pelatihan mempunyai hubungan dengan faktor-faktor lain yang ada didalam organisasi. Pengembangan modal insani merupakan salah satu variabel yang berhubungan dengan pelatihan. Salah satu komponen dalam modal insani yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pelatihan dipercaya mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pegawai. Hubungan ini merupakan satu kesatuan yang saling mendukung antara pelaksanaan pelatihan dengan modal insani di suatu organisasi. Peran pelatihan sangat diperlukan untuk pengembangan modal insani yang dapat dijadikan sebagai upaya untuk mencapai visi organisasi.

(2)

ini sedikit dikesampingkan. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pengelolaan dalam pengembangan aset ini

Institut Pertanian Bogor sebagai perguruan tinggi badan hukum milik negara berdasarkan PP Nomor 154 tahun 2000 yang menyelenggarakan dan bertanggung jawab atas pendidikan tinggi dalam berbagai disiplin ilmu terutama ilmu pertanian secara luas. Institut Pertanian Bogor juga telah diberi mandat sebagai perguruan tinggi pelopor pembangunan pertanian dalam arti yang luas. Institut Pertanian Bogor dalam hal ini merupakan lembaga pendidikan yang bertujuan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi tinggi yang mampu mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dengan baik dalam rangka menghadapi tuntutan pembangunan baik nasional maupun global sehingga IPB mampu bersaing secara global.

Pencapain tujuan tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan organisasi secara efektif dan efisien. Pengelolaan organisasi yang efektif dan efisien dapat dilakukan di seluruh bidang termasuk bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM), salah satunya yaitu melalui pelatihan. Pelatihan untuk pegawai kependidikan IPB pada tahun 2011-2012 bisa dilihat pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Pelatihan untuk tenaga kependidikan IPB tahun 2011-2012

No. Pelatihan Waktu

1. Pelatihan Sosialisasi Teknis PLP 27-30 November 2011 2. Sosialisasi Jabatan PLP 13-15 Juni 2011 3. Sosialisasi Teknia PLP 27-30 November 2011

4. Pelatihan tenaga kependidikan tingkat tinggi tenaga laboratorium

26-29 Mei 2011

5. Diklat Pengeluaran Bersertifikasi 14-29 November 2011 6. Kegiatan Lokakarya 24-26 November 2011 7. Sosialisasi Jabatan kebijakan kepegawaian bagi pejabat

pengelola kepegawaian di lingkungan kemdikbud

8-11 Mei 2012

(3)

Pelatihan pada Institut Pertanian Bogor merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap tahunnya oleh Direktorat SDM IPB. Pelaksanaan pelatihan dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi pegawai, dimana pegawai merupakan salah satu aset organisasi yang harus dikelola dengan baik. Melalui pelaksanaan pelatihan yang dilakukan pada Institut Pertanian Bogor, dapat diketahui apakah terjadi pengembangan modal insani sebagai teori yang baru, dilihat dari aspek pengetahuan, keterampilan, kemampuan, sikap dan pengalaman pegawai.

1.2. Rumusan Masalah

Institut Pertanian Bogor sebagai institusi pendidikan ternama di Indonesia memiliki tujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi tinggi. Pencapaian tujuan ini memerlukan kontribusi yang signifikan dari tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Sehingga dari sini, diperlukan suatu sistem atau tata kelola yang dapat menciptaan nilai tinggi dari aset manusia (pegawai) atau yang biasa disebut modal insani . Pengelolaan modal insani ini dapat dijadikan sebagai sebuah kekuatan daya saing untuk IPB. Salah satu pengelolaan pegawai yang dilakukan oleh Direktorat SDM yaitu melalui pelatihan sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, sikap dan pengalaman pegawai Institut Pertanian Bogor.

Berdasarkan uraian yang dikemukakan diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana pelaksanaan pelatihan untuk pegawai pada Institut Pertanian Bogor?

2. Bagaimana persepsi pegawai mengenai pelaksanaan pelatihan dan pengembangan modal insani tenaga kependidikan pada Institut Pertanian Bogor?

(4)

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang dikaji, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi pelaksanaan pelatihan untuk pegawai pada Institut Pertanian Bogor.

2. Menganalisis persepsi pegawai mengenai pelatihan dan pengembangan modal insani tenaga kependidikan pada Institut Pertanian Bogor.

3. Menganalisis pengaruh pelatihan terhadap pengembangan modal insani tenaga kependidikan pada Institut Pertanian Bogor.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi instansi, hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi masukan dan bahan pertimbangan bagi instansi dalam kaitannya dengan pelaksanaan pelatihan yang akan datang sebagai upaya pengembangan modal insani .

2. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sebuah karya ilmiah yang dapat menambah ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan langkah awal bagi penulisan karya ilmiah selanjutnya.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

(5)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Pelatihan

Menurut Dessler (2006), pelatihan mengacu kepada metode yang digunakan untuk memberikan karyawan baru atau yang ada saat ini dengan keterampilan yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan. Pelatihan adalah tanda dari manajemen yang bagus, dan tugas seorang manajer menghindari bahayanya. Pelatihan juga berperan penting dalam proses manajemen kinerja. Pelatihan adalah proses terintegrasi yang digunakan oleh pengusaha untuk memastikan agar para karyawan bekerja untuk mencapai tujuan organisasi.

Pelatihan merupakan proses pembelajaran yang melibatkan perolehan keahlian, konsep, peraturan atau sikap untuk meningkatkan kinerja karyawan. Pelatihan berkenan dengan perolehan keahlian atau pengetahuan tertentu. Program pelatihan berusaha mengajarkan kepada para peserta bagaimana menunaikan aktivitas atau pekerjaan tertentu. (Simamora, 2006)

Mangkuprawira (2003), berpendapat bahwa pelatihan bagi karyawan adalah sebuah proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu serta sikap agar karyawan semakin terampil dan mampu dalam melaksanakan tanggung jawabnya dengan semakin baik sesuai dengan standar kerja. Istilah pelatihan merujuk pada struktur total dari program didalam dan diluar pekerjaan karyawan yang dimanfaatkan perusahaan dalam upaya mengembangkan keterampilan dan pengetahuan, utamanya untuk kinerja dan promosi karir.

(6)

tanggung jawab penyelenggaraan pelatihan terletak pada tenaga lini dan staf (Hamalik, 2007).

Menurut Noe et al (2010), pelatihan merupakan upaya yang direncanakan oleh suatu perusahaan untuk mempermudah pembelajaran para karyawan tentang kompetensi-kompetensi yang berkaitan dengan pekerjaan. Kompetensi-kompetensi tersebut meliputi pengetahuan, keterampilan, atau perilaku yang sangat penting untuk keberhasilan kinerja pekerjaan.  

2.1.1 Tujuan Pelatihan

Pada dasarnya setiap kegiatan yang terarah tentu harus mempunyai sasaran yang jelas dan memuat hasil yang ingin dicapai dengan melaksanakan kegiatan tersebut. Demikian pula dengan program pelatihan. Menurut Rivai (2009), tujuan dari pelatihan adalah:

a. Untuk meningkatkan kuantitas output b. Untuk meningkatkan kualitas output

c. Untuk menurunkan biaya limbah dan perawatan

d. Untuk menurunkan jumlah dan biaya terjadinya kecelakaan

e. Untuk menurunkan turnover, ketidakhadiran kerja serta meningkatkan kepuasan kerja

f. Untuk mencegah timbulnya antipati karyawan.

Menurut Simamora (2006), tujuan utama pelatihan dapat dibagi menjadi beberapa area yaitu:

a. Memperbaiki kinerja

b. Memutakhirkan keahlian para karyawan sejalan dengan kemajuan teknologi

c. Mengurangi waktu pembelajaran bagi karyawan baru agar kompeten dalam pekerjaan

(7)

Menurut Hardjana (2001), menyatakan bahwa tujuan pelatihan adalah:

a. Mempelajari dan mendapatkan kecakapan-kecakapan baru

b. Mempertahankan dan meningkatkan kecakapan-kecakapan yang sudah dikuasai

c. Mendorong pekerja agar mau belajar dan berkembang

d. Mempraktekkan di tempat kerja hal-hal yang sudah dipelajari dan diperoleh dalam training

e. Mengembangkan pribadi pekerja f. Mengembangkan efektifitas lembaga

g. Memberi motivasi kepada pekerja untuk terus belajar dan berkembang

2.1.2 Manfaat Pelatihan

Hamalik (2007), mengatakan bahwa fungsi pelatihan adalah memperbaiki kinerja (performance) para peserta. Selain itu pelatihan juga bermanfaat untuk mempersiapkan promosi ketenagakerjaan pada jabatan yang lebih rumit dan sulit, serta mempersiapkan tenaga kerja pada jabatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan kepengawasan atau manajerial.

Pelatihan mempunyai andil besar dalam menentukan efektifitas dan efisiensi organisasi. Beberapa manfaat nyata yang ditangguk dari program pelatihan (Simamora, 2006).

a. meningkatkan kuantitas dan kualitas produktivitas

b. Mengurangi waktu belajar yang diperlukan karyawan untuk mencapai standar kinerja yang dapat diterima

c. Membentuk sikap, loyalitas, dan kerja sama yang lebih menguntungkan d. Memenuhi kebutuhan perencanaan sumber daya manusia

e. Mengurangi frekuensi dan biaya kecelakaan kerja

f. Membantu karyawan dalam peningkatan dan pengembangan pribadi mereka.

2.1.3 Metode Pelatihan

(8)

yang berbeda pula. Bernandin dan Russel dalam Gomes (2003), mengelompokkan metode-metode pelatihan atas dasar dua kategori yaitu: a. Informational methods biasanya menggunakan pendekatan satu arah,

melalui mana informasi-informasi disampaikan kepada para peserta oleh para pelatih. Metode jenis ini dipakai untuk mengajarkan hal-hal faktual, keterampilan, atau sikap tertentu. Para peserta biasanya tidak diberi kesempatan untuk mempraktekkan atau untuk melibatkan diri dalam hal-hal yang diajarkan selama pelatihan.

b. Experintal methods adalah metode yang mengutamakan komunikasi yang luwes, fleksibel, dan lebih dinamis, baik dengan instruktur, dengan sesama peserta, dan langsung mempergunakan alat-alat yang tersedia, misalnya komputer, guna menambah keterampilannya. Metode ini biasanya dipergunakan untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan, serta kemampuan-kemampuan, baik yang sifatnya software maupun hardware.

Hardjana (2001), berpendapat bahwa pada pokoknya, metode pelatihan dibagi menjadi tiga bagian yaitu:

a. Metode pada babak awal

Metode untuk mengawali training meliputi metode perkenalan dan metode pemanasan ice breaking. Metode perkenalan membantu para peserta training agar saling mengenal satu sama lain, termasuk dengan trainer. Metode pemanasan dapat digunakan sebagai pengganti acara perkenalan bila peserta sudah saling mengenal atau digunakan secara khusus sebagai acara tersendiri.

b. Metode pada babak tengah

Meode pada babak tengah merupakan metode pengolahan acara training, baik untuk menyampaikan seluruh training maupun untuk tiap-tiap sesi. Metode ini dibagi menjadi empat yaitu:

(9)

2) Metode partisipatif, digunakan untuk melibatkan peserta dalam pengolahan materi training. Bentuknya dapat berupa pernyataan, curah pendapat, audio-visual, diskusi kelompok, kelompok bincang-bincang, forum, kuis, studi kasus, peristiwa, atau peragaan peran.

3) Metode partisipatif-eksperensial, bersifat partisipatif sekaligus eksperensial dengan mengikutsertakan peserta dan memberi kemungkinan kepada peserta untuk ikut mengalami apa yang diolah dalam training. Bentuknya dapat berupa pertemuan, latihan simulasi, atau demonstrasi.

4) Metode eksperensial, merupakan metode yang memungkinkan peserta untuk ikut terlibat dalam penuh pengalaman untuk “belajar sesuatu” daripadanya. Bentuknya dapat berupa ungkapan kreatif, penugasan, lokakarya, kerja proyek, tinggal di tempat, hidup di tempat, permainan manajemen, atau latihan kepekaan.

Penggunaan metode-metode ini disesuaikan dengan jenis training yang diadakan dalam lembaga (on-site) atau di luar lembaga (off-site). On site training dapat berbentuk on-the-job training. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kegiatan dan jadwal kerja yang ada. Pada off-site training, metode training yang dipakai dapat dipilih dan dipergunakan secara leluasa, sebab dilakukan diluar lembaga yang kegiatan dan jadwalnya dapat diatur sendiri.

c. Metode pada babak akhir

Metode pada babak akhir meliputi metode penyimpulan training dan evaluasi. Penyimpulan training merupakan uraian singkat tentang seluruh kegiatan training, semua sesi dalam training yang sudah diolah bersama, kemungkinan-kemungkinan follow-up, serta harapan-harapan terhadap peserta.

2.1.4 Tahapan Proses Pelatihan

(10)

dahulu. Hal demikian disebut sebagai langkah atau tahapan penilaian dari proses pelatihan.

Tahap Asesmen Tahap Pelatihan Tahap Evaluasi

Umpan Balik

Gambar 1. Tahapan proses pelatihan (Anthony et al dalam Mangkuprawira dan Hubeis, 2007)

2.1.5 Unsur-Unsur Program Pelatihan

Menurut Hamalik (2007), program pelatihan meliputi unsur-unsur sebagai berikut:

1. Peserta pelatihan

Penetapan calon peserta pelatihan erat kaitannya dengan keberhasilan proses pelatihan, yang pada gilirannya turut menentukan efektifitas pekerjaan. Karena itu, perlu dilakukan seleksi yang teliti untuk memperoleh peserta yang baik.

2. Pelatih

Pelatih-pelatih memegang peran yang penting terhadap kelancaran dan keberhasilan program pelatihan. Itu sebabnya perlu dipilih pelatih yang ahli, yang berkualifikasi profesional.

3. Lamanya pelatihan Penilaian kebutuhan

Organisasi

Penilaian kebutuhan Tugas

Penilaian kebutuhan Karyawan

Pengembangan tujuan pelatihan

Pengembangan Kriteria Evaliasi

Pelatihan

Pengembangan Kriteria Evaliasi

Pelatihan

Mengukur Hasil Penelitian

Mengembangkan Hasilnya dengan

(11)

Lamanya masa pelaksanaan pelatihan berdasarkan pertimbangan tentang:

a. Jumlah dan mutu kemampuan yang hendak dipelajari dalam pelatihan tersebut lebih banyak dan lebih tinggi bermutu, kemampuan yang ingin diperoleh mengakibatkan lebih lama diperlukan latihan.

b. Kemampuan belajar para peserta dalam mengikuti kegiatan pelatihan. Kelompok peserta yang ternyata kurang mampu belajar tentu memerlukan waktu latihan yang lebih lama.

c. Media pengajaran, yang menjadi alat bantu bagi peserta dan pelatih. Media pengajaran yang serasi dan canggih akan membantu kegiatan pelatihan dan dapat mengurangi lamanya pelatihan tersebut.

4. Bahan latihan

Bahan latihan seyogyanya disiapkan secara tertulis agar mudah dipelajari oleh para peserta. Penulisan bahan dalam bentuk buku paket materi pelatihan hendaknya memperhatikan faktor-faktor tujuan pelatihan, tingkatan peserta latihan, harapan lembaga penyelenggara pelatihan, dan lamanya latihan.

5. Bentuk pelatihan

Bentuk-bentuk pelatihan yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan ketenagaan antara lain:

a. Belajar sambil bekerja (Learning on the job) b. Belajar melalui observasi

c. Tugas khusus d. Kuliah

e. Pemecahan masalah f. Latihan (coaching) g. Penyuluhan

h. Bacaan-bacaan khusus yang direncanakan i. Kursus studi

(12)

k. Pengajaran dengan mesin l. Permainan bisnis

m. Kepanitiaan n. Team kedua

o. Dewan komisaris yunior p. Pertemuan-pertemuan khusus q. Rotasi jabatan

r. Pwenggunaan jabatan-jabatan strategik

s. Program pengembangan manajemen oleh perguruan tinggi t. Satuan-satuan tugas

u. Form system

v. Disentralisasi struktur organisasi

w. Keanggotaan dalam asosiasi profesional x. Kegiatan-kegiatan kemasyarakatan

2.2. Pengertian Modal Insani

Menurut Moeheriono (2009), human capital tidak lain adalah sumber daya manusia yang dimiliki suatu organisasi atau perusahaan. Peranan sumber daya manusia diyakini oleh banyak kalangan merupakan asset terpenting bagi perusahaan karena keberhasilan perusahaan sangat tergantung kepada bagaimana perusahaan mengelola karyawannya.

Sumber daya insani merupakan sumber daya paling penting untuk dapat memenangkan persaingan, karena merupakan tulang punggung dari seluruh sistem yang dirancang, metode yang diterapkan, dan teknologi yang digunakan. Oleh karna itu, vital untuk mengembangkan sumber daya insani melalui proses rekrutmen yang kompetitif, pelatihan yang sistematis, peningkatan kepuasan pegawai, peningkatan pendidikan pegawai, dan pemberdayaan pegawai (Wibisono, 2006).

Sebelum memulai program pengembangan sumber daya insani, yang penting untuk dilakukan adalah mendefinisikan kesiapan modal sumber daya insani tersebut. Kerangka pendefinisian tersebut melalui beberapa tahapan, sebagai berikut (Wibisono, 2006).

(13)

b. Mendefinisikan profil kompetensi yang cocok c. Menilai kesiapan strategis

d. Program pengembangan sumber daya insani

Ruky (2006), dalam bukunya menjelaskan bahwa dalam konteks organisasi bisnis, human capital dapat digambarkan sebagai kombinasi dari elemen-elemen berikut :

i. Ciri-ciri atau karakteristik yang dibawa oleh seseorang ke pekerjaannya yang mencakup kecerdasan, energi, sikap positif, dapat diandalkan, komitmen.

ii. Kemampuan untuk belajar yang mencakup bakat, imajinasi, kreativitas dan yang sering disebut sebagai kemampuan “mencapai hasil melalui orang lain”.

iii. Motivasi untuk berbagi informasi dan pengetahuan yang tiada lain adalah semangat kelompok dan kecondongan pada sasaran.

Wibisono (2006), dalam jangka panjang, program pengembangan sumber daya insani yang harus dimiliki perusahaan setidaknya menyangkut:

a. Pendidikan lanjutan bagi pegawai b. Pelatihan regular bagi pegawai c. Sistem dan prosedur bagi rotasi kerja d. Sistem dan prosedur jalur karir

e. Sistem dan prosedur untuk perbaikan, kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja

f. Evaluasi kinerja individu

g. Pengukuran kepuasan pegawai yang menyangkut gaji, jam kerja, kesehatan dan keselamatan, intensif, serta pelatihan dan pendidikan.

2.2.1 Peran Modal Insani

(14)

ditransfer ke industri lainnya dan (2) firm-specific human capital, merupakan pengetahuan mengenai rutinitas dan prosedur yang khas dari sebuah perusahaan, yang membatasi nilai-nilai keluar dari perusahaan tersebut.

Perbedaan dalam firm-specific dan industry-spesific yang utama dan pokok adalah terletak dalam spesifikasinya. Pada industry-spesific adalah kurang memiliki kekhususan perusahaan sehingga seorang yang professional dapat dengan mudah pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya di seluruh pasar dan ia menghilangkan nilai industry-spesific perusahaan sebelumnya. Dalam hal ini, peranan human capital menjadi sangat penting karena merupakan sumber inovasi dan pembaharuan dari manajemen sumber daya manusia.

Human capital memegang peranan sangat penting yang kritikal karena kesuksesan atau kegagalan perusahaan sering kali tergantung pada bagaimana perusahaan melakukan leverage terhadap asetnya yang paling berharga tersebut, yaitu sumber daya manusia. Manusia adalah satu-satunya elemen dasar dalam organisasi yang memiliki kekuatan yang melekat pada dirinya untuk menciptakan value perusahaan (Moeheriono, 2009).

2.2.2 Pengukuran Konsep Modal Insani

Pengukuran penting dilakukan untuk mengetahui efektivitas strategi yang dijalankan perusahaan terhadap seberapa besar kontribusi karyawan terhadap peningkatan kinerja. Disamping itu, pengukuran SDM merupakan suatu manajemen kinerja yang sangat penting dan sebagai alat untuk melakukan perbaikan serta sebagai alat dalam penyempurnaan kinerja

Moeheriono (2009), Tiga level kompetensi yang dibutuhkan organisasi untuk mengukur human capital adalah sebagai berikut

a. Activity level, yaitu pengukuran aktivitas-aktivitas rutin human recource (transaksional), seperti rekruitmen, pemberhentian, promosi, job applicants yang digunakan untuk memenuhi persyaratan pelaporan internal.

(15)

mengumpulkan serta menerjemahkan data, sampai pada kesimpulan dan mengambil tindakan koreksi. Departemen atau divisi tersebut juga memberikan analisis return on investment misalnya analisis komprehensif mengenai turn over.

c. Strategic level, yaitu merupakan level analisis tertinggi sehingga dapat memberikan gambaran perusahaan secara penuh. Selain itu, juga memberikan pemahaman hubungan antar SDM, strategi, dan kinerja.

Ruky (2006), untuk memahami bagaimana cara menilai dan mengukur kontribusi modal insani kita harus melihatnya seperti apa yang terjadi dalam aplikasi atau pendayagunaannya. Perlu ditegaskan lagi bahwa pengetahuan dan/atau keterampilan manusia tidak memiliki nilai organisasional sampai mereka diaplikasikan pada sebuah situasi bisnis yang nyata. Secara operasional, tujuan atau sasaran tersebut mengalir ke setiap unit bisnis dan akhirnya ke awal siklus pendayagunaan dan pengelolaan modal insani, yaitu bagian sumber daya manusia. Siklus proses tersebut dimulai dengan perencanaan, akuisisi, pemeliharaan, pengembangan, dan retensi modal insani. Nilai yang dapat diukur adalah efek ekonomis yang dihasilkan dari investasi yang dilakukan pada modal insani sampai saat itu. Secara sistematik siklus tersebut terdiri dari tiga tahap dan berjalan sebagai berikut:

a. Fase I

Fase pencarian, akuisisi (rekrutmen), pemeliharaan, pengembangan, dan retensi human capital. Efisiensi internal dalam bagian SDM dapat mengakibatkan penurunan biaya. Peningkatan waktu untuk pengisian lowongan, penerapan system intensif berbasis kinerja dan program pengembangan dapat berdampak pada peningkatan revenue.

b. Fase II

(16)

yang diperoleh sebagian dapat dikaitkan dengan kontribusi sumber daya manusia.

c. Fase III

Fase yang memfokuskan perhatian pada keunggulan kompetitif yang dihasilkan oleh peningkatan-peningkatan yang dihasilkan dalam Fase II yang akhirnya menjurus pada pencapaian sasaran ekonomis.

2.3. Penelitian Terdahulu

Amelia (2007) dalam penelitiannya mengenai “Analisis Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Internal terhadap Pembelajaran Pegawai (Studi Kasus BAKOSURTANAL Cibinong-Bogor) diketahui bahwa diklat internal yang dilaksanakan khususnya diklat survey dan pemetaan yang periode 2002-2006 ada tiga jenis. Pegawai menyatakan persepsi bahwa pelaksanaan diklat internal dan pembelajaran sudah baik, terbukti dari skor rataan yang diperoleh untuk keseluruhan variabel diklat dan pembelajaran yang berada pada rentang setuju. Analisis regresi yang dilakukan menghasilkan kesimpulan bahwa seluruh variabel diklat berpengaruh nyata terhadap pembelajaran pegawai, demikian pula dari hasil uji t yang dilakukan menghasilkan kesimpulan bahwa variabel pelaksanaan diklat internal secara individu berpengaruh terhadap pembelajaran pegawai.

(17)

pelatihan perusahaan akan memungkinkan manajemen puncak untuk menjadi lebih efektif dan efisien karena dari hasil tersebut akan teridentifikasi karyawan yang telah menciptakan nilai bagi perusahaan.

(18)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran

Institut Pertanian Bogor sebagai salah satu universitas ternama di

Indonesia memiliki peran serta dalam meningkatkan pembangunan,

utamanya untuk kesejahteraan masyarakat, sehingga IPB mampu bersaing

secara global. Sebagai upaya dalam merealisasikan peranan tersebut, IPB

memiliki visi, misi dan tujuan. Visi IPB yaitu menjadi perguruan tinggi

berbasis riset kelas dunia dengan kompetensi utama pertanian tropika dan

biosains serta berkarakter kewirausahaan, sedangkan salah satu tujuan IPB

yaitu menghasilkan lulusan yang bermutu yang mampu mengembangkan

dan menerapkan IPTEKS serta mempunyai jiwa kewirausahaan. Dalam

mencapai tujuan tersebut, IPB telah melakukan berbagai strategi di setiap

bidang, salah satunya yaitu strategi dibidang sumberdaya manusia.

Strategi SDM dikembangkan melalui pelaksanaan pelatihan untuk

pegawai sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki

pegawai. Peningkatan kompetensi berupa kompetensi pengetahuan dan

keterampilan akan berpengaruh pada pengembangan human capital (modal insani) pada tenaga kependidikaan Institut Pertanian Bogor. Melalui

peningkatan kompetensi pegawai maka akan terjadi pengembangan modal

insani . Menurut Bra´s dan Rodrigues (2007), human capital mencakup beberapa aspek yaitu pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan

pengalaman  Sedangkan menurut Becker dikutip Nafukho et al dalam

Hendrawan et al (2012), human capital merupakan investasi dalam pendidikan dan pelatihan formal maupun informal yang meningkatkan

produktivitas individual melalui penyediaan pengetahuan, keterampilan,

sikap dan motivasi yang dibutuhkan untuk pembangunan ekonomi dan

sosial.

Menurut Rivai (2009), ada beberapa faktor yang perlu

dipertimbangkan dan berperan dalam pelatihan yaitu efektivitas biaya,

materi yang dibutuhkan, prinsip pembelajaran, ketepatan fasilitas, peserta

(19)

faktor-faktor pelatihan yaitu, peserta pelatihan, pelatih, lamanya pelatihan,

bahan pelatihan dan bentuk pelatihan.

Berdasarkan teori diatas maka pada penelitian ini, pelaksanaan

pelatihan dilihat dari lima indikator yaitu metode, materi, fasilitas, trainer

dan waktu pelatihan. Pengembangan modal insani dapat dilihat dari lima

indikator pula, yaitu pengetahuan, keterampilan, kemampuan, sikap dan

pengalaman. Melalui analisis kedua variabel tersebut akan diperoleh

pengaruh pelatihan terhadap pengembangan modal insani pada Institut

Pertanian Bogor sehingga akan diperoleh implikasi manajerial sebagai

rekomendasi untuk IPB. Alur penelitian berdasarkan deskriptif diatas dapat

dilihat pada Gambar 2 berikut.

Gambar 2. Kerangka penelitian

Institut Pertanian Bogor

Visi dan Misi serta Tujuan Institut Pertanian Bogor

Indikator Pelatihan (Rivai, 2009) dan (Hamalik, 2007)

1. Metode pelatihan

2. Materi pelatihan

3. Fasilitas pelatihan

4. Trainer

5. Lamanya waktu pelatihan

Strategi Sumberdaya Manusia

Pengaruh pelatihan terhadap modal insani pada IPB

Modal insani (Bra´s dan Rodrigues, 2007) dan (Hendrawan et al, 2012)

1. Pengetahuan 2. Keterampilan 3. Kemampuan 4. Sikap 5. Pengalaman

(20)

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Institut Pertanian Bogor yang

berlokasi di Darmaga, Bogor, Jawa Barat dengan pertimbangan bahwa

institusi tersebut telah menerapkan sistem modal insani . Penelitian ini

dilaksanakan pada bulan April - Juni 2012.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan

data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara dengan

pihak terkait yaitu pegawai Direktorat SDM dan pengisian kuisioner oleh

tenaga kependidikan pada unit kerja Institut Pertanian Bogor. Sedangkan

data sekunder diperoleh dari arsip data/berbagai laporan instansi dan

berbagai literatur, baik berupa buku yang memuat teori-teori, hasil

penelitian terdahulu, internet, serta data-data yang disediakan oleh instansi

yang relevan dengan teori yang dibahas.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan untuk penelitian ini berupa data primer yang

didapat dari hasil penyebaran kuisioner serta data sekunder yang diperoleh

dari studi pustaka, literatur, dan internet. Adapun metode pengumpulan data

yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Data Primer

Data diperoleh langsung dari hasil penyebaran kuisioner kepada

tenaga kependidikan Institut Pertanian Bogor. Kuesioner merupakan

daftar pertanyaan yang dibagikan kepada obyek penelitian atau

responden yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Pada penelitian

ini, penggunaan kuesioner merupakan hal yang pokok untuk

pengumpulan data. Hasil kuesioner akan diterjemahkan dalam bentuk

angka-angka, tabel, analisa statistik dan uraian serta kesimpulan hasil

penelitian.

2. Data Sekunder

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan

(21)

merupakan alat untuk mengukur sikap dalam suatu penelitian. Sikap

disini dapat berupa pengaruh atau penolakan, penilaian, suka atau tidak

suka dan kepositifan atau kenegatifan terhadap suatu objek psikologis.

Pada penelitian mengenai nilai yang diharapkan pada atribut

dari setiap indikator pelatihan dan modal insani , skala likert dimulai

dari satu sampai lima, dengan keterangan nilai sebagai berikut :

Bobot nilai = 5 Sangat Setuju

Bobot nilai = 4 Setuju

Bobot nilai = 3 Cukup Setuju

Bobot nilai = 2 Tidak Setuju

Bobot nilai = 1 Sangat Tidak Setuju

3.5. Metode Pemilihan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan perusahaan. Sampel

merupakan bagian atau sejumlah cuplikan tertentu yang diambil dari suatu

populasi dan diteliti secara rinci. Penentuan jumlah sampel yang akan

diambil dipergunakanlah rumus slovin (Umar, 2004). Dengan ketentuan

sebagai berikut:

...(1)

Keterangan: n = Jumlah contoh N= Jumlah populasi

e = Nilai kritis (batas ketelitian) yang digunakan (persen kelonggaran ketelitian karena kesalahan pengambilan populasi), yaitu 10 %

Dengan populasi sebanyak 1655 orang dan dengan kesalahan yang

dapat ditolerir 10% maka didapat sampel yang diambil dalam penelitian ini

sebanyak 95 orang.

n 1655 .

1 + 1655 (0,1)2 n = N

1 +Ne2

(22)

Responden yang akan dijadikan sampel tersebar di setiap unit kerja

dengan jumlah yang proporsional. Penyebaran jumlah responden yang akan

dijadikan sampel pada setiap unit kerja dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah dan proporsi sampel penelitian

No Unit Kerja Jumlah

Pegawai

Fraksi (%) Jumlah Sampel

1. Rektorat 893 53,96 51

2. Fakultas Pertanian 105 6,34 6

3. Fakultas Kedokteran Hewan 92 5,56 5 4. Fakultas Perikanan dan Ilmu

Kelautan

86 5,20 5

5. Fakultas Peternakan 102 6,16 6

6. Fakultas Kehutanan 70 4,23 4

7. Fakultas Teknologi Pertanian 108 6,53 6 8. Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam

115 6,95 7 9. Fakultas Ekonomi dan Manajemen 41 2,48 2

10. Fakultas Ekologi Manusia 43 2,60 3

Total 1655 100 95

Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini

adalah menggunakan cluster convinience sampling karena unsur populasi berkarakteristik heterogen.  Agar dapat menguji dugaan tersebut maka sampelnya harus mewakili keterwakilan diseluruh elemen jenjang

manajemen yang ada.

Pada saat menentukan jumlah sampel dalam setiap unit kerja, peneliti

menentukan secara proposional. Dimaksud dengan proposional adalah

jumlah sampel dalam setiap unit kerja sebanding dengan jumlah unsur

populasi yang ada dalam unit kerja tersebut.

3.6. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan dan analisis data menggunakan beberapa analisis, yaitu

analisis deskriptif, crosstabs, validitas dan realibilitas dan analis SEM.

3.6.1 Analisis Deskriptif

Analisis ini berisi tentang bahasan secara deskritif mengenai

tanggapan yang diberikan responden pada kuesioner. Statistik deskritif

(23)

mendeskripsikan atau mengambarkan data yang telah terkumpul

sebagaimana adanya.

Pembobotan yang telah ditetapkan antara 1 hingga 5 dibuat rentang

skala. Rentang skala dapat dibuat dengan rumus :

Rentang Skala =

...(1)

Berdasarkan hasil persamaan dan bobot nilai yang digunakan dalam

penelitian ini maka diperoleh rentang skala 0,8. Rentang skala untuk

interpretasi jawaban kuesioner dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rentang skala interpretasi hasil jawaban kuesioner

Rentang Skala Pernyataan Jawaban

1,00-1,80 Sangat Tidak Setuju/Sangat Buruk/Sangat Rendah

1,81-2,60 Tidak Setuju/Buruk/Rendah

2,61-3,40 Cukup Setuju

3,41-4,20 Setuju/Baik/Tinggi 4,21-5,00 Sangat Setuju/Sangat Baik/Sangat Tinggi

3.6.2 Uji Hubungan Karakteristik menggunakan Crosstabs

Crosstabs (tabel silang) merupakan alat analisis untuk

menggambarkan tentang data yang berbentuk kolom dan baris dan untuk

menganalisis hubungan antara baris dan kolom dengan analisis statistik

(Priyatno, 2009). Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini

adalah chi-square. Uji chi-square dimaksudkan untuk menguji hubungan karakteristik terhadap pelatihan dan modal insani , dalam penelitian ini yaitu

hubungan antar jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, masa kerja dan

golongan terhadap pelatihan, dan terhadap modal insani .

Hipotesa dari uji chi-square adalah:

H0 = Tidak terdapat hubungan karakteristik dengan pelatihan dan modal

insani

H1 = terdapat hubungan karakteristik dengan pelatihan dan modal insani

Dasar pengambilan keputusan chi-square adalah:

• Nilai chi-square hitung > chi-squaretabel atau nilai signifikansi chisquare

< α (5%), maka H0 ditolak.

(24)

3.6.3 Uji Validitas

Uji validitas merupakan ketetapan atau kecermatan suatu instrumen

dalam mengukur apa yang ingin diukur. Melalui hasil perhitungan korelasi

akan didapat suatu koefisien korelasi yang digunakan untuk mengukur

tingkat validitas suatu item dan untuk menentukan apakah suatu item layak

atau tidak untuk digunakan. Untuk pertanyaan yang digunakan mengukur

suatu variabel, skor masing-masing item dikorelasikan dengan total skor

item dalam satu variabel. Jika skor item tersebut berkorelasi positif dengan

total skor item dan lebih tinggi daripada interkorelasi antar item, maka

menunjukkan kevalidan dari instrument tersebut. Menghitung nilai korelasi

antara data pada masing-masing pernyataan dengan skor total memakai

rumus korelasi product moment berikut (Priyatno,2008):

( )

( )

∑ ∑ ∑

− −

− =

2 2

2 2

xy

x x

n i i

n

x i ix n r

...(2)

Keterangan :

rxy = Korelasi antar X dan Y

n = Jumlah responden i = Skor item x = Skor total

Uji validitas pada kuesioner dilakukan dengan menggunakan

software dengan teknik pengujian yang digunakan yaitu bivariate pearson

(Produk Momen Pearson) dan hasilnya akan dibandingkan dengan nilai r

tabel yaitu 0,361 untuk taraf kesalahan 5%. Jumlah responden pada uji

validitas ini sebanyak 30 orang dengan jumlah pernyataan sebanyak 56.

Setelah melakukan uji validias, 56 pernyataan tersebut dianggap valid

karena nilai r hitungnya lebih besar dari r tabel sehingga semua pernyataan

diikutsertakan dalam kuesioner penelitian. Hasil perhitungan uji validitas

dapat dilihat pada Lampiran 4.

3.6.4 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas merupakan uji kehandalan yang bertujuan untuk

mengetahui seberapa jauh sebuah alat ukur dapat diandalkan atau dipercaya.

Kehandalan berkaitan dengan estimasi sejauh mana suatu alat ukur, apabila

(25)

pengamatan dilakukan secara berulang. Uji reliabilitas pada kuisioner dapat

dilakukan dengan menggunakan perhitungan metode Alpha Cronbach

(Umar, 2004), sebagai berikut:

σ

………..………

Keterangan :

= Koefisien reliabilitas Alpha Cronbach

k = Jumlah item pertanyaan

∑σ = Jumlah variasi item = Varians total

Jumlah responden yang digunakan dalam reliabilitas sama dengan

uji validitas yaitu 30 responden. Nilai r tabel adalah 0,600 yang berarti

bahwa pernyataan dalam kuesioner dapat dikatakan reliabel apabila lebih

besar dari 0,600. Pada penelitian ini nilai hitung alpha yaitu sebesar 0.976 yang berarti bahwa kuesioner yang disebarkan sangat reliabel. Hasil

perhitungan uji reliabilitas dapat dilihat pada Lampiran 4.

3.6.5 Analisis Struktural Equation Modeling (SEM)

Metode pengolahan dan analisis data pada penelitian ini

menggunakan Analisisi struktural Equation Modeling (SEM). Menurut Kusnendi (2008), SEM merupakan metode analisis data multivariat yang

bertujuan menguji model pengukuran dan model struktural variabel laten.

Variabel dalam SEM ada 2 yaitu variabel laten dan variabel teramati.

Variabel laten merupakan konsep abstrak yang hanya dapat diamati secara

tidak langsung. Variabel laten ini ada 2 yaitu variabel eksogen dan variabel

endogen. Variabel teramati merupakan variabel yang dapat diamati atau

dapat diukur secara empiris dan sering disebut sebagai indikator (Wijayanto,

2008).

a. Jenis SEM

Beberapa jenis SEM yang dapat ditemui dalam penelitian ada

(26)

1. Jenis model pertama disebut bivariate model. Jenis model ini dicirikan hanya melibatkan satu variabel laten eksogen dan satu variabel laten

endogen.

2. Jenis model kedua disebut mediated-multivariate model. Model ini dicirikan dalam model yang dianalisis terdapat satu variabel laten

eksogen dan aling tidak terdapat satu variabel laten endogen yang

dibelakukan sebagai variabel antara, dan satu variabel laten endogen

yang diberlakukan sebagai variabel dependen.

3. Jenis model ketiga disebut correlated-multivariate model. Jenis ini dicirikan dalam model yang dianalisis paling tidak terdapat dua

variabel laten eksogen dan satu variabel laten endogen.

4. Jenis model keempat disebut correlated-multivariate recursive model.

Jenis ini dicirikan dalam model yang dianalisis paling tidak terdapat

dua variabel laten eksogen, dan dua variabel endogen

b. Tahapan dalam Prosedur SEM

Menurut Bollen dan Long dikutip Wijayanto (2008) Prosedur

SEM secara umum akan mengandung tahap-tahap sebagai berikut:

1. Spesifikasi Model

Tahap ini berkaitan dengan pembentukan model awal persamaan

struktural, sebelum dilakukan estimasi. Model awal ini diformulasikan

berdasarkan suatu teori atau penelitian sebelumnya.

2. Identifikasi

Tahap ini berkaitan dengan pengkajian tentang kemungkinan

diperolehnya nilai yang unik untuk setiap parameter yang ada di

dalam model dan kemungkinan persamaan simultan tidak ada

solusinya.

3. Estimasi

Tahap ini berkaitan dengan estimasi terhadap model untuk

menghasilkan nilai-nilai parameter dengan menggunakan salah satu

metode estimasi yang tersedia. Pemilihan model estimasi yang

digunakan seringkali ditentukan berdasarkan karakteristik dari

(27)

4. Uji Kecocokan

Tahap ini berkaitan dengan pengujian kecocokan antara model dengan

data. Beberapa kriteria ukuran kecocokan atau Goodness Of Fit (GOF) dapat digunakan untuk melaksanakan langkah ini.

5. Resfesifikasi

Tahap ini berkaitan dengan respesifikasi model berdasarkan atas hasil

uji kecocokan tahap sebelumnya.

Penelitian ini menganalisis pengaruh pelatihan terhadap

pengembangan modal insani pada Institut Pertanian Bogor sehingga

diperoleh hipotesis sebagai berikut.

H1: Terdapat pengaruh yang positif antara pelatihan terhadap

pengembangan modal insani pada Institut Pertanian Bogor

H2: Terdapat pengaruh yang positif antara indikator metode pelatihan

terhadap pengembangan modal insani pada Institut Pertanian

Bogor

H3: Terdapat pengaruh yang positif antara indikator materi pelatihan

terhadap pengembangan modal insani pada Institut Pertanian

Bogor

H4: Terdapat pengaruh yang positif antara indikator fasilitas pelatihan

terhadap pengembangan modal insani pada Institut Pertanian

Bogor

H5: Terdapat pengaruh yang positif antara indikator trainer pelatihan terhadap pengembangan modal insani pada Institut Pertanian

Bogor

H6: Terdapat pengaruh yang positif antara indikator waktu pelatihan

terhadap pengembangan modal insani pada Institut Pertanian

Bogor

H7: Terdapat Pengaruh yang positif antara indikator pengetahuan

terhadap pelatihan Institut Pertanian Bogor

H8: Terdapat Pengaruh yang positif antara indikator keterampilan

(28)

H9: Terdapat Pengaruh yang positif antara indikator kemampuan

terhadap pelatihan Institut Pertanian Bogor

H10: Terdapat Pengaruh yang positif antara indikator sikap terhadap

pelatihan Institut Pertanian Bogor

H11: Terdapat Pengaruh yang positif antara indikator pengalaman

terhadap pelatihan Institut Pertanian Bogor

Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan

menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dengan metode

Latent Variable Score (LVS). Jenis SEM yang digunakan merupakan

bivariate model. Jenis model ini dicirikan hanya melibatkan satu variabel laten eksogen dan satu variabel laten endogen (Kusnendi, 2008).

Variabel laten eksogen pada penelitian adalah pelatihan sedangkan

variabel endogen yaitu modal insani (modal insani).

     H2  H7 

  H3      H8   

  H4    H1  H9 

  H5  H10 

  H6      H11   

 

Gambar 3. Diagram lintas kerangka hubungan pelatihan terhadap modal insani

Keterangan:

X1 = Metode Y1 = Pengetahuan X2 = Materi Y2 = Keterampilan X3 = Fasilitas Y3 = Kemampuan X4 = Trainer Y5 = Sikap X5 = Waktu Y6 = Pengalaman

Pelatihan HC X1

X2

X3

X4

X5 Y5

(29)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Institut Pertanian Bogor

Institut Pertanian Bogor (IPB) merupakan salah satu perguruan

tinggi negeri di Indonesia. IPB adalah institusi yang memiliki mandat

dalam penyelenggaraan pendidikan pertanian. Gambaran umum

mengenai sejarah, visi, misi dan tujuan IPB dapat dilihat pada

penjelasan berikut.

4.1.1 Sejarah IPB

Sejarah berdirinya Institut Pertanian Bogor terbagi ke dalam

empat tahap yaitu tahap embrional (1941-1963), tahap pelahiran dan

pertumbuhan (1963-1975), tahap pendewasaan (1975-2000), dan tahap

otonomi. Tahap embrional merupakan tahap awal terbentuknya Institut

Pertanian Bogor. Tahap ini diawali dengan didirikannya Lembaga

Pendidikan Tinggi Pertanian oleh pemerintah Hindia Belanda pada

tahun 1940 di Bogor. Pada masa pendudukan Jepang, lembaga ini

kemudian ditutup, tetapi sekolah Kedokteran Hewan tetap berjalan dan

berubah nama menjadi Sekolah Dokter Hewan Bogor.

Sejalan dengan masa kemerdekaan Republik Indonesia, Sekolah

Kedokteran Hewan di Bogor ditingkatkan menjadi Perguruan Tinggi

Kedokteran Hewan oleh Kementerian Kemakmuran RI pada tahun

1946. Pada tahun 1947, Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian dibuka

kembali. Lembaga ini kemudian mempunyai jurusan Pertanian dan

Kehutanan. Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian kemudian berubah

nama menjadi Fakultas Pertanian Universitas Indonesia pada tahun

1950. Fakultas ini memiliki jurusan yaitu Sosial Ekonomi, Pengetahuan

Alam dan Kehutanan, serta pada tahun 1957 memiliki jurusan

Perikanan Darat, sedangkan Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan

berubah nama menjadi Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas

Indonesia yang pada tahun 1960 berubah nama menjadi Fakultas

(30)

menjadi Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan Universitas

Indonesia.

Adapun tonggak sejarah yang penting pada tahap embrional

adalah: (1) penerapan sistem studi terbimbing yang menggantikan

sistem studi bebas, (2) gagasan pembangunan kampus baru Fakultas

Pertanian UI di Darmaga, dan (3) penerapan falsafah Tridharma

Perguruan Tinggi yang semula berlaku di Fakultas Pertanian dan

Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI, oleh Prof.Dr.Ir. Toyib

Hadiwidjaja. Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di

Indonesia pada tahun 1960, memberi peluang bagi IPB untuk

menambah lahan kampus, sehingga selain Kampus Barangangsiang,

Kampus Taman Kencana, Kampus Gunung Gede dan Kampus

Cilibende, IPB juga memiliki Kampus Darmaga, Kebun Pasir

Sarongge, Kebun Sukamantri dan Kebun Jonggol.

Institut Pertanian Bogor secara resmi didirikan pada tanggal 1

September 1963. Saat itu, dua fakultas di bawah naungan UI yang

berada di Bogor berkembang menjadi lima fakultas, yaitu Fakultas

Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Perikanan, Fakultas

Peternakan dan Fakultas Kehutanan. Pada tahun 1964, lahir Fakultas

Teknologi dan Mekanisasi Pertanian.

Berkembangnya fakultas-fakultas tersebut menandai tahap

pelahiran dan pertumbuhan IPB. Selama tahap pelahiran dan

pertumbuhannya, IPB telah melakukan suatu terobosan penting yaitu

tercetusnya gagasan atau inovasi pengelolaan sarana produksi guna

meningkatkan produktivitas usaha tani padi. Gagasan ini selanjutnya

dialih-kelola oleh pemerintah yang pada tahun 1966-1967 yang

diwujudkan dalam bentuk panca usaha-tani. Kegiatan ini telah

menghantarkan Indonesia kepada swasembada beras. Semasa tahap ini

juga terdapat beberapa peristiwa penting lain, yaitu lahirnya fakultas

pascasarjana IPB yang pertama di Indonesia, berkembangnya sistem

kurikulum ilmu dan teknologi serta program pendidikan 4 tahun untuk

(31)

Doktor yang kemudian menjadi pola nasional, tersusunnya rencana

induk pengembangan IPB tahap I (1971-1979), dan berkembangnya

sistem Penerimaan Mahasiswa Baru S-1 yang sekarang dikenal dengan

Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

Tahap pendewasaan IPB ditandai dengan adanya kerjasama

tahap pertama (1979-1983) dengan University Wiscouncin di bidang

peningkatan kemampuan tenaga pengajar, khususnya di bidang

ilmu-ilmu lingkungan dan ilmu-ilmu gizi, sehingga pada tahun 1981 lahir Fakultas

Politeknik Pertanian. Langkah yang ditempuh oleh IPB selama tahap

pendewasaannya yaitu menyusun rencana pengembangan akademik dan

pengembangan fisik kampus Dramaga berdasarkan proyeksi

permasalahan yang dihadapi tahun 2000. Pemahaman terhadap

permasalahan yang akan dihadapi pada masa yang akan datang telah

menempa IPB untuk memperkuat kompetensinya di bidang pertanian

dalam arti yang seluas-luasnya dan menjadi lembaga pendidikan tinggi

pertanian terkemuka di Indonesia. Kemudian, guna melanjutkan

implementasi rencana induk pengembangan IPB tahun 2000 yang akan

berakhir, disusunlah rencana strategis IPB menjadi Universitas Tahun

2020.

Sejak tahun 2000, Institut Pertanian Bogor telah memulai tahap

otonominya. Pada tahun 2000, IPB membuka Fakultas Ekonomi dan

Manajemen, kemudian pada tahun 2005 membentuk fakultas baru

dengan nama Fakultas Ekologi Manusia. Program kerja yang

dilaksanakan selama tahap ini diharapkan mampu menghantarkan IPB

sebagai universitas riset yang secara embrional terwujud pada tahun

2007. Saat ini, IPB memiliki program kerja utama yaitu untuk

menyelaraskan mosaik transformasi IPB menuju Research based Entrepreneurial University kelas dunia dengan kepemimpinan yang melayani dan terpercaya.

4.1.2 Visi, Misi dan Tujuan IPB

Institut Pertanian Bogor adalah salah satu perguruan tinggi

(32)

dirumuskan mulai tahun 2003 dan ditetapkan sebagai Visi IPB 2025,

yaitu ”Menjadikan IPB sebagai perguruan tinggi bertaraf internasional

dalam pengembangan sumberdaya manusia dan IPTEKS dengan

kompetensi utama di bidang pertanian.” Berdasarkan visi jangka

panjang tersebut maka di dalam Rencana Strategi (Renstra) IPB

2008-2013 yang merupakan bagian dari Rencana Pengembangan IPB 2025,

disusun visi IPB 2008-2013 dengan memberikan penekanan pada

biosains sebagai ilmu dasar dan jiwa kewirausahaan, sebagai berikut:

“Menjadi perguruan tinggi berbasis riset kelas dunia dengan

kompetensi utama pertanian tropika dan biosains serta berkarakter

kewirausahaan.” Adapun Misi IPB untuk pengembangan IPB lima

tahun ke depan (2013) adalah :

1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi bermutu tinggi dan

pembinaan kemahasiswaan yang komprehensif dalam rangka

meningkatkan daya saing bangsa.

2. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai

kebutuhan masyarakat agraris dan bahari pada masa sekarang dan

kecenderungan pada masa yang akan datang yang semakin

kompetitif.

3. Membangun sistem manajemen perguruan tinggi yang berkarakter

kewirausahaan, efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.

4. Mendorong terbentuknya masyarakat madani berdasarkan

kebenaran dan hak azasi manusia.

Demi penyelenggaraan misi dan mencapai visi IPB,

dirumuskanlah tujuan yang harus dicapai IPB, yaitu :

1. Menghasilkan lulusan yang bermutu yang mampu mengembangkan

dan menerapkan IPTEKS serta mempunyai jiwa kewirausahaan.

2. Memberikan inovasi IPTEKS ramah lingkungan untuk mendukung

pembangunan nasional melalui perwujudan negara agraris dan

(33)

3. Menjadikan IPB sebagai lembaga pendidikan tinggi yang siap

menghadapi tuntutan masyarakat dan tantangan pembangunan yang

berubah dengan cepat secara nasional dan global.

4. Menjadikan IPB sebagai kekuatan moral dalam masyarakat madani

Indonesia.

4.2. Karakteristik Tenaga kependidikan

Responden dalam penelitian ini berjumlah 95 orang dan

merupakan tenaga kependidikan IPB yang dipilih dengan menggunakan

tekhnik cluster convinience sampling. Tenaga kependidikan yang menjadi responden pada penelitian ini dikelompokkan berdasarkan

beberapa karakteristik, yaitu: jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan,

masa kerja, golongan dan jabatan responden. Kuesioner terlampir pada

Lampiran 3.

4.2.1 Karakteristik Jenis Kelamin

Pada karakteristik jenis kelamin, tenaga kependidikan laki-laki

lebih mendominasi dibanding perempuan yaitu sebesar 52 % laki-laki

dan 48 % perempuan. Perbedaan antara keduanya tidak terlalu

signifikan sehingga memberikan gambaran kepada kita bahwa IPB

tidak membeda-bedakan gender dalam merekrut dan mempekerjakan

tenaga kependidikan. Selain itu, jenis pekerjaan yang lebih cenderung

ke hal-hal administrasi dan membutuhkan kerapihan serta ketekunan,

yang biasanya dilakukan oleh wanita, tidak menjadikan IPB langsung

memilih tenaga kependidikan wanita untuk mengisi pos-pos pekerjaan

tersebut. Semuanya dikembalikan pada kompetensi dan minat

masing-masing tenaga kependidikan.

4.2.2 Karakteristik Usia

Karakteristik usia merupakan hal yang penting untuk dikaji dari

responden karena berdasarkan usia dapat diketahui bagaimana

penyerapan kemampuan, keterampilan, pengetahuan, sikap dan

pengalaman dari tenaga kependidikan. Berikut Gambar 4 yang

(34)

4.2.3 Ber responden yang diper masing-ma telah dirasa

semakin b

[image:34.595.165.504.82.242.2]

bagaimana Karakteris Kar didominasi sebesar 51 dengan tin berdasarka Gamba Gambar 4 rdasarkan berusia >4

oleh dari re

asing tenag

akan oleh p

banyaknya

a sikap dari t

stik Tingka

rakteristik t

i oleh tenag

%. Dipos

ngkat S2/S3

an tingkat pe

ar 5. Karak 20%

24% TINGKAT

4. Karakteri

pengolaan

45 tahun, y

esponden in a kependid pegawai pad pengetahu tenaga kepe at Pendidik tingkat pend ga kependid sisi terakhir

3 sebesar 1

endidikan d kteristik ting 2% 28 24% 46% USIA 4% 51% % 1% T PENDIDI

istik usia ten

data yan

yaitu sebesa

ni menggam

dikan di IP

da rentang u

uan, ketera endidikan p kan didikan pad dikan denga r ditempati %. Karakte dapat dilihat gkat pendidi % % % IKAN naga kepend ng dilaku

ar 46 %. K

mbarkan kem

PB. Pengala

usia tersebu

ampilan, k

ada rentang

da Institut P

an tingkat p

oleh tenag

eristik tenag

t pada Gamb

ikan tenaga SMP SMA DIPL S1 S2/S didikan ukan, may Karakteristik matangan pr aman kehid

ut. Selain itu

kemampuan

g usia terseb

Pertanian B

pendidikan

ga kependi

ga kependi

bar 5 beriku

kependidik

≤ 25 Tahun 26-35 Tahu 36-45 Tahu > 45 Tahun

(35)

4.2.4

4.2.5

Karakteris

Pad

yang menja

46 %. Berb

kependidik

setengah

menggamb

bekerja. Pa

memiliki p

pada saat m

masa kerja Gam Karakteris Kar Pertanian B Ga 14 0 10 20 30 40 II A

stik Masa K

da karakteri adi respond banding luru kan dengan responden. barkan tingk ada rentang pengetahuan

mereka bek

dapat dilih

mbar 6. Kar

stik Golong

rakteristik

Bogor dijela

ambar 7. Ka 46% M 4 11 A II B Kerja istik masa den memilik

us dengan u

masa kerja

Secara

kat pengalam

g masa kerj

n yang ter

kerja. Karak

at pada Gam

rakteristik m

gan Tenaga

golongan

askan pada G

arakteristik 4% 14% MASA KER 8 II C I GOLONG GOLON kerja, may

ki masa ker

usia, respon

> 20 tahun

umum, lam

man dan pe

ja tersebut,

rbentuk dar

kteristik ten

mbar 6 berik

masa kerja t

a Kependid

[image:35.595.143.511.313.478.2]

tenaga ke

Gambar 7 b

golongan te 13% 23% RJA 9 11 I D III A GAN PEGAW NGAN PEGAW yoritas tenag

rja > 20 tah

nden didomi

n dengan jum

ma masa engetahuan tenaga kep ri pengalam naga kepend kut. tenaga kepe dikan ependidikan berikut ini. enaga kepen % 32 III B WAI WAI ga kependi

hun yaitu se

inasi oleh te

mlah hampi

kerja ter

yang baik d

pendidikan

man-pengal

didikan me

endidikan

n pada In

ndidikan

≤ 5 Tahun 6-10 Tahun 11-15 Tahun 16-20 Tahun > 20 Tahun

(36)

4.2.6 4.3. Ber kependidik sebesar 32 golongan menggamb tenaga kep Karakteris Pad ini menjab yaitu kepa dengan pe menggamb kependidik kebutuhan Karakterist berikut. G Analisis H Sete tertentu ya golongan, tenaga kep dilakukan yaitu chi-s

rdasarkan G

kan didomin

2 %. Dipo

III-D sebe barkan ting endidikan y stik Jabata da karakteri bat sebagai

ala tata usa

ersentase y

barkan ba

kan pada In

dari ja

tik respond

Gambar 8. K

Hubungan K

elah menge

aitu jenis ke

selanjutnya

pendidikan d

dengan m

square yang

15% J

Gambar 7

nasi oleh res

osisi terakh

esar 5%.

gkat pengal

yang memad

an Tenaga k

stik jabatan staf admini aha, arsipar yang hamp ahwa pela nstitut Perta abatan ma en menurut Karakteristik Karakterist etahui jumla elamin, usia

a akan dilak

dengan pela

menggunakan

g dapat dili

10% 17% 52% 6% JABATAN diatas, kar sponden den hir ditempa Golongan laman, pen

dai dalam b

kependidik n, mayoritas istrasi yaitu ris, pustaka pir sama. aksanaan anian Bogor asing-masin

t jabatan da

k jabatan ten

tik Tenaga

ah responde

a, tingkat p

kukan anal

atihan dan m

n analisis

ihat pada L

%

%

akteristik g

ngan tingka

ati oleh res

ketenaga

ngetahuan,

ekerja.

kan

s responden

u sebesar 52

awan dan Karakteris pelatihan r diberikan ng tenaga apat dilihat naga kepen Kependidi en berdasark pendidikan, isis hubung modal insan tabulasi si

Lampiran 5 Ke Ar Sta Pu Sta golongan te at golongan sponden de kependidik dan pendi

n pada pene

2 %. Seleb

staf keama stik jabatan untuk te n tergantung kependid pada Gam ndidikan ikan kan karakte masa kerja gan karakte

ni . Pengujia ilang (cross

(37)

dilakukan terhadap 95 tenaga kependidikan yang dijadikan objek pada

penelitian ini.

Berdasarkan hasil tabulasi silang pada Tabel 4, dapat

disimpulkan bahwa karakteristik jenis kelamin, tingkat pendidikan dan

golongan tidak memiliki hubungan dengan pelaksanaan pelatihan

untuk tenaga kependidikan pada IPB. Hal ini dapat dilihat pada hasil

chi-square yaitu signifikansi dari jenis kelamin, tingkat pendidikan dan

golongan yang lebih besar dari alpha (0,05). Sedangkan untuk karakteristik masa kerja dan usia memiliki hubungan dengan

pelaksanaan pelatihan untuk tenaga kependidikan karena signifikansi

keduanya lebih kecil dari alpha (0,05).

Tabel 4. Uji Chi-square antar karakteristik dengan pelatihan Karakteristik Hasil

Signifikansi

Alpha Kesimpulan

Jenis Kelamin 0,767 0,05 Terima H0

Usia 0,000 0,05 Terima H1

Tingkat Pendidikan 0,617 0,05 Terima H0

Masa Kerja 0,002 0,05 Terima H1

Golongan 0,584 0,05 Terima H0

Secara umum dapat disimpulkan bahwa keikutsertaan tenaga

kependidikan dalam pelaksanaan pelatihan untuk tenaga kependidikan

tidak memandang pada jenis kelamin, tingkat pendidikan dan golongan.

Semua tenaga kependidikan dengan tiga karakteristik tersebut memiliki

kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan yang dilaksanakan

oleh Institut Pertanian Bogor. Sedangkan untuk usia dan masa kerja

lebih dipertimbangkan dalam pemilhan peserta pelatihan. Tenaga

kependidikan yang berusia diatas 40 tahun dan masa kerja diatas 20

tahun lebih diutamakan dalam mengikuti pelatihan untuk tenaga

kependidikanan. Hal ini dilakukan untuk lebih meningkatkan

pengetahuan, keterampilan, kemampuan, sikap dan pengalaman tenaga

(38)

Tabel 5. Uji Chi-square antar karakteristik dengan modal insani

Karakteristik Hasil Signifikansi

Alpha Kesimpulan

Jenis Kelamin 0,121 0,05 Terima H0

Usia 0,865 0,05 Terima H0 Tingkat Pendidikan 0,930 0,05 Terima H0

Masa Kerja 0,836 0,05 Terima H0

Golongan 0,205 0,05 Terima H0

Berdasarkan Tabel 5 diatas, diketahui bahwa karakteristik

responden berupa jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, masa kerja

dan golongan tidak memiliki hubungan dengan modal insani . Hal ini menandakan bahwa penerapan modal insani sama pentingnya untuk

semua tenaga kependidikan. Penerapan modal insani tidak memandang

jenis kelamin, usia, masa kerja, tingkat pendidikan dan golongan tenaga

kependidikan. Modal insani sebagai aset untuk IPB harus dirasakan

oleh semua tenaga kependidikan tanpa adanya pengecualian. Dengan

demikian, untuk mencapai tujuan IPB akan dengan mudah

dilaksanakan. (Lampiran 5)

4.4. Sistem Penerapan Pelatihan pada Institut Pertanian Bogor

Institut Pertanian Bogor merupakan lembaga pendidikan yang

bertujuan menghasilkan lulusan berkualitas yang mampu

mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

dengan baik dalam rangka menghadapi tuntutan pembangunan baik

nasional maupun global. Upaya IPB dalam rangka mencapai tujuan

tersebut untuk menghadapi tuntutan pembangunan dapat dilakukan

melalui suatu pengelolaan organisasi yang efektif dan efisien yang

dapat dilakukan di seluruh bidang termasuk bidang pengembangan

sumber daya manusia (SDM). Direktorat SDM Institut Pertanian Bogor

sebagai kunci untuk mencapai tujuan bertekad meningkatkan kinerja

organisasi secara terus menerus untuk dapat memenuhi harapan

(39)

manajemen mutu diseluruh unit dan individu dilingkungan Direktorat

SDM. Salah satu bentuk pengembangan tenaga kependidikan yang

dilakukan oleh Direktorat SDM IPB adalah dengan melaksanakan

pelatihan untuk tenaga kependidikan. Pelatihan dianggap sebagai

program yang sangat penting oleh Direktorat SDM IPB karena sebagai

media pembelajaran yang mampu menambah pengetahuan,

kemampuan, keterampilan, sikap dan pengalaman pegawai, dalam hal

ini adalah tenaga kependidikan.

4.4.1 Pelaksanaan Pelatihan

Berdasarkan pelaksanaan kegiatan, pelatihan dibagi menjadi 2,

yaitu pelatihan internal IPB dan pelatihan eksternal. Pelatihan eksternal

IPB biasanya dilaksanakan oleh Kementrian Pendidikan Nasional

(Kemendiknas) atau lembaga-lembaga pelatihan yang bekerja sama

dengan Kemendiknas. Sedangkan pelatihan internal IPB merupakan

pelatihan yang pelaksanaannya dikoordinir oleh Direktorat SDM IPB.

Pelatihan internal IPB mencakup banyak jenis pelatihan yang

pelaksanaannya sesuai kebutuhan pegawai pada unit kerja

masing-masing, diantaranya yaitu pelatihan ketenaga kependidikanan. Setiap

unit kerja belum tentu memperoleh jenis pelatihan yang sama namun

tergantung dari kebutuhan dari unit kerja tersebut. Jenis pelatihan yang

penulis angkat pada penelitian ini yaitu beberapa jenis pelatihan internal

berupa pelatihan kepegawaian untuk tenaga kependidikan, yang pada

dasarnya hampir semua tenaga kependidikan IPB pernah mengikuti

pelatihan tersebut, diantaranya yaitu pelatihan komputer, pelatihan

administrasi, dan pelatihan etos kerja dan performance diri. Ketiga pelatihan ini diangkat karena dirasa sangat penting untuk tenaga

kependidikan.

1. Pelatihan Komputer

Pelatihan komputer merupakan pelatihan tekhnis untuk tenaga

kependidikan karena dianggap sangat penting untuk kebutuhan

pekerjaan dalam unit kerja masing-masing. Pelatihan komputer

(40)

tugas seperti pembuatan data base, surat-menyurat, input data tugas,

input nilai mahasiswa dan penyimpanan arsip dalam bentuk softcopy.

Pelatihan ini dibagi menjadi tiga tahap yaitu pelatihan komputer

untuk pemula, intermediate dan pelatihan komputer programme. 2. Pelatihan Administrasi

Pelatihan administrasi merupakan salah satu pelatihan

kepegawaian yang juga penting karena membantu tenaga

kependidikan dalam tekhnis untuk menyelesaiakan pekerjaan.

Pelatihan ini tidak kalah penting karena dirancang untuk membantu

IPB melaksanakan program-program yang ada. Pelatihan ini

merupakan salah satu pelatihan yang banyak diikuti oleh tenaga

kependidikan Institut Pertanian Bogor. Pelaksanaan pelatihan ini

tidak setiap tahunnya ada tapi tergantung dari kebutuhan tenaga

kependidikan.

3. Pelatihan Etos Kerja dan Performance Diri

Pelatihan etos kerja dan performance diri merupakan bentuk pelatihan motivasi yang mengajarkan tenaga kependidikan Institut

Pertanian Bogor bagaimana meningkatkan kualitas kompetensi diri

melalui etos kerja dalam unit kerja IPB dan bagaimana menilai diri

sendiri dalam melakukan pekerjaan agar pekerjaan tersebut dapat

terlaksana dengan baik. Pelatihan ini dirasa sangat penting karena

mampu menimbulkan semangat kerja tenaga kependidikan,

memotivasi untuk melakukan hal-hal yang baik dalam melaksakan

pekerjaan. Jenis pelatihan ini juga tidak terlaksana secara rutin

namun tergantung dari kebutuhan tenaga kependidikan setelah

dilakukan survei.

4.4.2 Metode Pelatihan

Metode pelatihan merupakan strategi yang digunakan dan

dilaksanakan untuk mencapai tujuan kurikulum. Metode pelatihan yang

dilaksanakan oleh Institut Pertanian Bogor ada berbagai macam yang

dikemas untuk orang dewasa mengingat peserta pelatihan adalah tenaga

(41)

1. Model teknik simulasi

Model teknik pelatihan seperti ini dimana lebih berfokus pada

praktik dibanding teori. Tutor hanya menjelaskan selama 15-30

menit setelah itu peserta akan dilatih secara langsung mengerjakan

tugas-tugas yang akan dikerjakan sehari-hari dalam unit kerja

masing-masing. Metode ini dapat berupa praktek kelas di

laboratorium komputer maupun praktek lapangan baik secara

individu atau kelompok. Metode ini bertujuan agar para peserta lebih

memahami teori atau materi pelatihan yang diberikan, karena dapat

mengaplikasikan langsung pada peralatan dan perlengkapan yang

mendukung pelaksanaan pekerjaan.

2. Model ceramah

Metode ceramah diberikan kepada para peserta yang banyak di

dalam ruang kelas. Tutor mengajarkan teori-teori yang diperlukan,

sedang yang dilatih mempersepsikannya. Metode ceramah

digunakan untuk menyampaikan pokok bahasan dan sub bahasan

yang berupa teori atau pengetahuan praktis. Model ceramah ini

digunakan dalam beberapa pelatihan yang dilaksanakan oleh IPB

salah satunya yaitu untuk pelatihan etos kerja dan performance diri. 3. Model komunikasi ekspositif sistem dua arah

Metode ini dimaksudkan agar terjadi respon timbal balik antara tutor

dan peserta pelatihan. Tutor dalam metode pelatihan ini

menggunakan berbagai strategi dan taktik, memeriksa apakah

peserta menerima informasi dengan tepat.

4.4.3 Materi Pelatihan

Materi pelatihan sesuai dengan jenis pelatihan yang diberikan

untuk tenaga kependidikan. Materi telah disiapkan dalam bentuk hand out. Materi pembelajaran yang diadopsi oleh IPB yaitu perpaduan antara teori dengan pengalaman berupa praktik langsung dalam

pelatihan. Untuk pelatihan tekhnis seperti komputer dan administrasi

lebih dititik beratkan pada praktik. Materi dalam bentuk teori berkisar

(42)

4.4.4 Fasilitas Pelatihan

Fasilitas berupa peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan

selama proses pelaksanaan diklat seperti in focus, komputer,

whiteboard dan flip chart dan modul. Untuk fasilitas ruangan pelatihan, Institut Pertanian Bogor belum memiliki ruangan khusus untuk

pelatihan sehingga masih bersifat fleksibel. Ruangan pelatihan

disesuaikan dengan jumlah tenaga kependidikan yang mengikuti

pelatihan. Selain itu peserta pelatihan diberi biaya transportasi, training kit dan juga sertifikat pelatihan. Fasilitas dipersiapkan dengan baik agar peserta dapat lebih mudah memahami materi yang disampaikan.

4.4.5 Trainer Pelatihan

Trainer dalam pelatihan disebut tutor. Untuk pelatihan internal tenaga kependidikan Institut Pertanian Bogor tutor merupakan

pejabat-pejabat dari IPB yang memiliki keahlian yang lebih dalam bidang

pelatihan tertentu yang sesuai dengan materi pelatihan dan mampu

memberikan gambaran bagaimana prinsip belajar yang baik. Seorang

tutor memiliki tanggung jawab yang besar untuk menumbuhkan

semangat peserta pelatihan untuk mengikuti pelatihan, walau hal

tersebut dirasa sulit karena rata-rata peserta pelatihan adalah tenaga

kependidikan yang berumur. Tutor memegang peranan yang sangat

penting dalam pelatihan yang diadakan institut pertanian bogor

sehingga seorang tutor harus menyampaikan materi pelatihan dengan

metode yang mudah dimengerti oleh peserta.

4.4.6 Peserta Pelatihan

Peserta pelatihan merupakan tenaga kependidikan Institut

Pertanian Bogor yang terdiri dari beberapa unit kerja. Peserta

ditentukan langsung oleh ketua bagian dari masing-masing unit kerja.

Dimana unit kerja tersebut dikoordinasi oleh Direktorat SDM.

Pemilihan peserta tidak dilakukan secara acak oleh kepala bagian unit

kerja namun dilihat dari kebutuhan tiap tenaga kependidikan, pelatihan

apa yang tenaga kependidikan tersebut butuhkan untuk membantu

(43)

4.4.7 Evaluasi Pelatihan

Setelah pelaksanaan pelatihan, dilakukan evaluasi. Evaluasi

pelatihan dilakukan melalui dua cara yaitu evaluasi mengenai teknis

pelaksanaan pelatihan (pengajar atau instruktur, fasilitas, metode) dan

evaluasi hasil belajar (materi). Evaluasi pelatihan biasanya dilakukan

pada hari terakhir pelaksanaan pelatihan. Para peserta pelatihan

dibagikan lembar evaluasi yang berisi saran untuk perbaikan

pelaksanaan pelatihan di masa yang akan datang. Sedangkan evaluasi

hasil belajar dilakukan dengan cara memantau pekerjaan dari tenaga

kependidikan yang telah mengikuti pelatihan. Evaluasi dilakukan

setelah satu sampai dua bulan pelaksanaan pelatihan. Mealui

pemantauan tersebut, dilihat apakah tenaga kependidikan telah

melaksanakan tugas sesuai yang diinginkan ataukah belum. Jika belum

perlu adanya perbaikan untuk pelatihan yang akan diadakan

selanjutnya.

4.5. Analisis Persepsi Tenaga Kependidikan terhadap Pelaksanaan Pelatihan pada IPB

Analisis persepsi tenaga kependidikan mengenai pelaksanaan

pelatihan pada Institut Pertanian Bogor dilakukan dengan metode skala

pengukuran yaitu rataan skor. Nilai rataan skor tersebut menunjukkan

penilaian tingkat kesetujuan tenaga kependidikan terhadap pernyataan

dalam kuesioner. Analisis persepsi pegawai terhadap pelatihan untuk

tenaga kependidikan IPB dilakukan berdasarkan 5 (lima) indikator

pelatihan, yaitu metode, materi, fasilitas, trainer dan lamanya waktu pelatihan. Kelima indikator tersebut dibuat dalam beberapa pernyataan

kuesioner.

Penerapan pelaksanaan pelatihan pada Institut Pertanian Bogor

berdasarkan rataan skor pada Tabel 6 sudah terlaksana dengan baik

dengan nilai 3,78. Melalui rataan tersebut bisa diketahui bahwa Institut

Pertanian Bogor sebagai institusi pendidikan memperhatikan dengan <

Gambar

Gambar 44. Karakteri
Gambar 7 bberikut ini.
Tabel 7. Sebaran jawaban tenaga kependidikan terhadap metode       pelatihan
Tabel 8. Sebaran jawaban tenaga kependidikan terhadap materi pelatihan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan HENY K. Pariwisata Indonesia saat ini tengah mengalami perkembangan yang

Analisis Perellcallaan Usaha lnwall Tenant Pengolahan Susu Kedelai Bubuk Di Pusat Inkubator Agribisnis Dan Agroindustri, Institut Pertanian Bogor (Kasus Magang di