• Tidak ada hasil yang ditemukan

BENTUK MUSIK, NILAI DAN MAKNA LAGU SRI MERSING PADA MASYARAKAT RANTAUPRAPAT KABUPATEN LABUHAN BATU.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BENTUK MUSIK, NILAI DAN MAKNA LAGU SRI MERSING PADA MASYARAKAT RANTAUPRAPAT KABUPATEN LABUHAN BATU."

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BENTUK, NILAI DAN MAKNA LAGU SRI MERSING

PADA MASYARAKAT RANTAUPRAPAT

KABUPATEN LABUHAN BATU

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Jurusan Pendidikan Seni Musik

OLEH

HENDRA SYAHPUTRA

NIM: 2102142004

PRODI PENDIDIKAN MUSIK

JURUSAN SENDRATASIK

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

i ABSTRAK

HENDRA SYAHPUTRA, NIM. 2102142004 Bentuk Musik, Nilai dan Makna Lagu Sri Mersing pada Masyarakat Rantauprapat Kabupaten Labuhan batu. Fakultas Bahasa dan Seni - Universitas Negeri Medan.2016.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk, nilai, dan makna lagu Sri Mersing pada masyarakat Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu

Dalam penelitian ini didukung oleh teori-teori yang bertujuan agar hasil dari suatu studi kepustakaan yang saling berhubungan (relevan) terhadap pokok permasalahan yang hendak diteliti. Adapun teori yang digunakan yaitu, teori musik, teori bentuk, teori nilai, dan teori makna.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Rantauprapat yaitu 1 orang tokoh seniman yang mengetahui tentang kesenian Melayu pada lagu Sri Mersing, 4 orang seniman orkes Hipqoh yang mengetahui bentuk, nilai dan makna lagu Sri Mersing dan 5 orang masyarakat kota Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Wawancara dilakukan dengan seniman atau ahli adat melayu yang ikut terlibat dalam kesenian melayu pada adat melayu dalam acara pernikahan. Seluruh data di kumpulkan dan dianalisis disusun secara sistematis

Hasil penelitian yang dilakukan Bentuk lagu Sri Mersing memiliki Senandung atau berpantun yang tidak memiliki birama atau freemeter, tetapi pada bagian pecahannya menggunakan birama 4/4 lebih mengutamakan garapan teks daripada garapan musik. Liriknya mengalami perubahan sedangkan melodinya tetap sama atau hampir sama. Nilai di dalam lagu Sri Mersing adalah Nilai budi pekerti, Nilai estetika, Nilai permainan dan juga Nilai komunikasi. Makna lagu Sri Mersing adalah tentang Seorang musafir yang mengharapkan keselamatan dalam perjalanannya. Pemahaman masyarakat kota Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu terhadap Bentuk, nilai dan Makna lagu Sri Mersing berbeda-beda, namun masyarakat mampu mendeskripsikannya dengan jelas.

(8)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat

dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul,

“Bentuk, Nilai, dan Makna Lagu Sri Mersing pada Masyarakat

Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu”. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sebagai Sarjana Pendidikan di Jurusan Sendratasik Program

Studi Pendidikan Musik Fakultas Bahasa dan Seni.

Dalam penyelesaian Skripsi ini tentunya lepas dari bantuan berbagai pihak

baik moral maupun materil. Oleh karena itu, dengan ketulusan dan kerendahan

hati penulis menuturkan ucapan terimakasih kepada :

1. Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd., Rektor Universitas Negeri Medan.

2. Dr. Isda Pramuniati, M.Hum., Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas

Negeri Medan.

3. Uyuni Widiastuti, M.Pd, Ketua Jurusan Sendratasik Universitas Negeri

Medan sekaligus Pembimbing Skripsi I

4. Dra Pita HD Silitonga, M.Pd, Seketaris Jurusan Sendratasik Universitas

Negeri Medan dan juga sebagai Penguji II.

5. Dr. Pulumun P. Ginting, S.Sn. M.sn, Ketua Prodi Pendidikan Musik

Sekaligus Dosen Pembimbing Akademik dan Penguji I.

6. Mukhlis Hasbullah, M.Sn, Ketua Lab Prodi Pendidikan Musik dan juga

sebagai Dosen Pembimbing Skripsi II

7. Bapak/Ibu Seluruh Dosen Pendidikan Musik Fakultas Bahasa dan Seni

(9)

iii

8. Teristimewanya buat Ayahanda tercinta Dahmi Suheri Gucci dan Ibunda

tercinta Azwar Manday yang memberikan kasih sayangnya yang tiada henti

serta doanya kepada penulis dalam menyelesaikan Skripsi.

9. Marasaman Kepala Kelurahan Sirandorung yang telah memberikan izin

penelitian di Kota Rantauprapat Kab. Labuhan Batu kec. Rantau Utara bagi

Penulis.

10.Orkes Hipkoh yang telah memberikan waktu untuk diteliti sebagai

kelengkapan dalam menyelesaikan Skripsi.

11. Buat rekan-rekan seni musik yang penulis banggakan, Terkhusus buat sahabat

Penulis M. Wais Dwikiana All Corne S.Pd, Faisal Reza, Ruspidrawati Sitorus

S.Pd Hardiansyah S.Pd, Suharyanto S.Pd, dan seluruh teman-teman

seangkatan 2010 yang tidak dapat dituliskan namanya satu persatu. Terima

Kasih atas suportnya yang diberikan untuk penulis dalam menyelesaikan

Skripsi ini.

Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh

pihak yang turut membantu dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita

semua. Peneliti ini mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun

skripsi ini lebih baik lagi sehingga dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu

pengetahuan khususnya dalam bidang kesenian khususnya seni musik.

Medan, Februari 2016 Penulis

(10)

iv

DAFTAR ISI

Abstrak ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... iv

Daftar Gambar... ... vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah... ... 6

C. Pembatasan Masalah ... ... 7

D. Rumusan Masalah... ... 8

E. Tujuan Penelitian... ... 8

F. Manfaat Penelitian... ... 9

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEPTUAL A. Landasan Teori ... 11

1. Teori Musik... ... 12

a. Irama... ... 13

b. Melodi... ... 16

c. Harmoni... ... 17

2. Teori Bentuk... ... 18

a. Motif... ... 19

b. Frase... ... 20

1) Frase Pertanyaan... ... 20

2) Frase Jawaban ... 20

(11)

v

4. Teori Makna Lagu... ... 23

a. Teori Semiotika... ... 24

b. Teori Semantik... ... 25

5. Lagu Melayu... ... 25

a. Bentuk Musik Lagu Sri Mersing... ... 29

b. Bentuk Nilai Lagu Sri Mersing... ... 29

c. Bentuk Makna Lagu Sri Mersing... ... 29

B. Kerangka Konseptual ……… ... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 32

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 33

C. Populasi dan Sampel ... 33

1. Populasi... ... 33

2. Sampel... ... 34

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 34

1. Observasi atau Pengamatan... ... 35

2. Wawancara... ... 36

a. Wawancara Terpimpin ... 36

b. Wawancara Bebas ... 36

c. Wawancara Bebas Terpimpin ... 37

3. Dokumentasi... ... 37

4. Studi Kepustakaan... ... 38

(12)

vi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Struktur Geografis Kota Rantauprapat Kabupaten Labuhan Batu ... 42

B. Bentuk Lagu Sri Mersing ... 44

C. Nilai Lagu Sri Mersing... 51

D. Makna Lagu Sri Mersing ... 55

1. Teori Konotatif ... 55

2. Teori Denotatif ... 59

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 63

B. Saran ... 64

(13)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Contoh irama dengan notasi balok ... 14

Gambar 2.2 Contoh irama dengan notasi balok II ... 14

Gambar 2.3 Contoh melodi dengan notasi balok ... 17

Gambar 2.4 Contoh harmoni pada notasi balok... ... 18

Gambar 2.5 contoh motif... ... 19

Gambar 2.6 contoh frase pertanyaan... ... 20

Gambar 2.7 contoh frase jawaban... ... 20

Gambar 2.9 Skema Kerangka Konseptual ... 31

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Labuhan Batu ... 44

Gambar 4.2 Bentuk Lagu Sri Mersing ... 47

Gambar 4.3 Bentuk Kalimat Pertanyaan Lagu Sri Mersing ... 48

(14)

1

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan berbagai macam

sumber daya alam serta keberagaman suku dan budaya. Sebagai negara dengan

beberapa pulau, daerah di Indonesia tersebar dari sabang sampai merauke.

Penyebaran pulau di Indonesia menjadikan Indonesia kaya akan berbagai budaya

yang juga tersebar di setiap pulau. Setiap suku dan budaya yang ada tersebar di

nusantara dengan keunikan dari tiap-tiap masyarakat yang tinggal didalamnya,

Indonesia memiliki tujuh pulau besar, salah satu pulau besar di Indonesia yang

kaya akan keberagaman budayanya adalah pulau Sumatera. Pulau Sumatera juga

terbagi atas beberapa Provinsi, salah satu Provinsi yang merupakan kota

metropolitan adalah Provinsi Sumatera Utara.

Sumatera Utara sebagai sebuah Provinsi di Indonesia memiliki

keberagaman suku dan budaya yang beragam. Penyebaran suku di Sumatera Utara

dilihat dari tiap Kabupaten dan kota. Di Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara

memiliki kebudayaan yang berbeda walaupun masih dalam rumpun suku yang

sama. Setiap rumpun suku yang ada di Sumatera Utara memiliki perbedaan dalam

kebudayaan dan tradisi. Namun setiap suku memiliki karakter budaya tersendiri,

Salah satu suku yang ada di Sumatera Utara adalah suku Melayu. Suku di

(15)

2

orang yang tergolong ke dalam ras Melayu, mempergunakan budaya Melayu, dan

beragama Islam (Muhammad Takari bin Jilin Syahrial :2009).

Etnik melayu pesisir Timur Sumatera Utara berdasakan ciri khusus

kebudayaannya dapat dikelompokkan lagi ke dalam daerah: kota Medan, Deli

Serdang, Serdang Bedagai, Langkat, Asahan, Tanjung Balai dan Labuhanbatu.

Dari ciri khusus kebudayaan yang terbentuk dalam berbagai kelompok dari

melayu pesisir Timur Sumatera Utara, kini sudah banyak tersebar di berbagai

daerah khususnya di Kabupaten Labuhanbatu Kota Rantauprapat seperti

kelompok musik serta bentuk kesenian yang lain, yang berupa seni drama.

Kesenian Melayu adalah cerminan dari identitas etnik Melayu dan kesenian

Melayu yang cukup dikenal masyarakat Rantauprapat adalah Orkes melayu. Salah

satu orkes Melayu di Kota Rantauprapat adalah grup orkes Melayu Hipqoh.

Hipqoh menjadi salah satu grup orkes dikenal, sangat diminati oleh masyarakat

dan kini sedang berkembang di Kota Rantauprapat. Hal ini dapat dilihat

banyaknya masyarakat yang mengundang/menggunakan orkes Hipqoh dalam

setiap acara seperti khitanan, pernikahan ataupun acara adat lainnya.

Hipqoh merupakan salah satu orkes Melayu di Kabupaten Labuhanbatu di

Kota Rantauprapat yang masih mempertahankan kebudayaan melayu dengan khas

etnik Melayu. Dengan demikian Hipqoh salah satu yang menjadi gambaran untuk

diteliti, di dalam kehidupan masyarakat Melayu di Kabupaten Labuhanbatu di

Kota Rantauprapat masyarakat Melayu tidak hanya sebagai nilai budaya saja,

(16)

3

Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu dengan nilai-nilai yang tidak terlepas dari

budaya nenek moyang orang-orang Melayu, contohnya dalam acara pernikahan.

Sebelum kedua mempelainya berjumpa terlebih dahulu harus berbalas pantun dan

diiringi tarian-tarian dari khas melayu seiring dengan irama musik yang

dilantunkan. Lagu yang dibawakan memiliki syair berisi pantun-pantun yang kaya

akan pesan makna dan nilai yang membawa manfaat dalam kehidupan.

Salah satu lagu yang sering di bawakan oleh orkes Melayu Hipqoh adalah

Lagu yang berjudul Sri Mersing. Syair dalam lagu Sri Mersing mencerminkan

nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasari suatu kebudayaan dan

menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh. Pada lagu Sri Mersing

terdapat syair yang berupa pantun-pantun nasehat menggunakan bahasa melayu.

Misalnya setiap baris mengandung empat kata dasar. Oleh karena itu bahasa

Melayu umumnya terdiri dari dua suku kata jika termasuk imbuhan, penanda dan

kata-kata fungsional.

Lagu Melayu adalah lebih mengutamakan garapan teks dibandingkan

garapan melodi atau instrumentasinya. Hal ini dapat dilihat dari garapan teks yang

terus-menerus berubah, sedangkan melodinya sama atau hampir sama. Teksnya

berdasar kepada pantun empat baris, kuatrin, yang terdiri dari dua baris sampiran

dan dua baris isi. Kecenderungan mempergunakan ulangan-ulangan apakah itu

sampiran atau teksnya.

Pantun Melayu dapat dibicarakan dalam dua aspek, yaitu aspek Eksternal

(17)

4

visual yang dapat dilihat dan didengar sedangkan aspek internal adalah

unsur-unsur yang hanya dapat dirasakan secara subjektif berdasarkan pengalaman dan

pemahaman pendengar. Untuk dapat memahami bentuk, nilai dan makna dalam

lagu Melayu haruslah sesering mungkin mendengar rekaman lagunya, serta

memiliki pengalaman dalam memahami lagu tersebut.

Bentuk musik tidak tercipta begitu saja tanpa ada landasan yang kuat dan

harus melalui proses berupa jumlah frase dan hubungan antar frase yang

kemudian dirangkai menjadi kalimat. Proses terbentuknya sebuah komposisi

musik dapat disejajarkan dengan proses terbentuknya komposisi dalam bahasa.

Bahasa yang tersusun dalam kalimat memiliki nilai-nilai yang dapat dijadikan

pelajaran ataupun pedoman hidup, seperti nilai budi pekerti luhur, nilai keindahan,

nilai permainan dan juga nilai komunikasi..

Untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah lagu

diperlukan pemahaman bagi setiap orang yaitu dengan memaknai lagu tersebut.

Makna itu sendiri terbagi atas dua, yaitu makna konotatif dan mekana denotatif.

Makna konotatif adalah makna yang mengandung arti tambahan (kiasan) atau

tidak langsung, sedangkan makna denotatif adalah kata yang tidak mengandung

arti tambahan, atau langsung yang disebut makna sebenarnya. Kalimat-kalimat

yang tersusun dalam lagu Melayu, khususnya lagu melayu biasanya mengandung

makna konotatif (kiasan).

Kalimat dalam lagu sri mersing yang bersifat konotatif atau mengandung

(18)

5

sesungguhnya makna merupakan penyampai pesan dan masyarakat

menganalisisnya berdasarkan apa yang mereka rasakan. Sehingga makna lagu

menjadi bersifat subjektif. Upaya menemukan makna tidaklah sekedar mencari

sebab, akibat tetapi bagaimana makna budaya yang ditunjukkan masyarakat

bersangkutan dalam melihat, merasa, dan berpikir tentang dunia budayanya dan

bertindak berdasarkan nilai-nilai yang sesuai.

Penilaian masyarakat yang bersifat subjektif, menimbulkan berbagai

macam makna dan juga nilai yang tersirat dalam lagu sri mersing. Hal ini

dikarenakan perbedaan sudut pandang pada setiap masyarakat. Tergantung

bagaimana cara mereka untuk memaknai lagu tersebut.

Didalam lagu Sri Mersing ada berbagai alat musik yang dipakai Orkes

Melayu untuk mengiringi lagu Sri Mersing yaitu Accordion, Guitar, Biola, dan

Gambus. Alat musik yang mengiringi lagu Sri Mersing yang di bawakan oleh

Hipqoh pada adat pesta perkawinan, khitanan atau acara pesta adat lainnya

memiliki karakter yang berbeda, sehingga alunan musik khas melayu memiliki

khasnya sendiri dalam musik melayu. Namun, sebagian masyarakat Kabupaten.

Labuhanbatu sangat bingung saat melihat alat musik seperti gambus yang

biasanya dipakai dalam lagu maqam, qhasidah atau arabian kini dipakai atau

digunakan untuk mengiringi lagu Melayu. Begitu juga dengan alat musik

Accordion yang juga merupakan alat musik yang digunakan untuk mengiringi

(19)

6

kembali menimbulkan penilaian dan makna yang berbeda pada setiap masyarakat

terhadap lagu tersebut.

Berdasarkan pemaparan di atas, penulis tertarik membuat penelitian

dengan judul “Bentuk, Nilai dan Makna Lagu Sri Mersing pada Masyarakat Rantauprapat Kab.Labuhanbatu”

B. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah pada adalah aspek permasalahan yang muncul dan

berkaitan dari judul penelitian dengan masalah atau va

riabel yang akan diteliti. Hasil identifikasi dapat diangkat sejumlah masalah

yang saling keterkaitan satu dengan lainnya.(Riduwan, 2010:4) Dari uraian latar

belakang masalah, maka permasalahan penelitian ini dapat diidentifikasikan

menjadi beberapa bagian, antara lain:

1. Bagaimanakah fungsi orkes Melayu pada masyarakat Labuhanbatu?

2. Apa sajakah alat musik yang dipakai dalam musik orkes Melayu

Hipqoh Kabupaten Labuhanbatu?

3. Apa saja lagu yang dinyanyikan dalam musik orkes Melayu Hipqoh

Kabupaten Labuhanbatu?

4. Bagaimanakah perkembangan kelompok orkes Melayu Hipqoh

Kabupaten Labuhanbatu?

5. Apakah hambatan yang dialami orkes Hipqoh di Kabupaten

(20)

7

6. Mengapa Lagu Sri Mersing sering dilantunkan dalam setiap acara ?

7. Bagaimanakah peranan lagu Sri Mersing pada masyarakat Rantauprapat

Kabupaten Labuhanbatu?

8. Bagaimanakah bentuk lagu sri mersing pada masyarakat Rantauprapat

Kabupaten Labuhanbatu?

9. Bagaimanakah nilai lagu sri mersing pada masyarakat Rantauprapat

Kabupaten Labuhanbatu?

10. Bagaimanakah makna lagu sri mersing pada masyarakat Rantauprapat

Kabupaten Labuhanbatu?

C. Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya cakupan masalah, keterbatasan waktu, dana dan

kemampuan teoritis, maka peneliti merasa perlu mengadakan pembatasan masalah

untuk memudahkan pecahan masalah yang dihadapi dalam penelitian ini.

Pembatasan masalah dilakukan agar penelitian lebih terarah , terfokus dan

tidak melenceng kemana-mana. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan materi,

kelayakan, dan keterbatasan dari peneliti tanpa keluar dari jalur penelitian ilmiah

(Riduwan, 2010)

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka

peneliti membatasi ruang lingkup permasalahan pada :

1. Bagaimanakah Bentuk lagu Sri Mersing pada Masyarakat

(21)

8

2. Bagaimanakah Nilai Lagu Sri Mersing pada Masyarakat Rantauprapat

Kabupaten Labuhanbatu?

3. Bagaimanakah Makna Lagu Sri Mersing pada Masyarakat

Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu?

D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah adalah hal yang sangat penting sebab tanpa perumusan

masalah penelitian dapat membingungkan peneliti. Rumusan masalah yang baik,

harus dapat mencakup dan menunjukkan semua variabel maupun hubungan

variabel satu dengan variabel yang lain yang hendak diteliti (Sukardi, 2009).

Berdasarkan pendapat uraian latar belakang masalah, identifikasi dan

batasan masalah, maka permasalahan di atas dapat dirumuskan, yaitu Bentuk,

Nilai dan Makna Lagu Sri Mersing pada Masyarakat Rantauprapat Kabupaten

Labuhanbatu.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya

sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai (Suharsimi Arikunto,

2013:97). Setiap penelitian selalu berorientasi pada tujuan, tanpa tujuan yang

jelas, maka arah kegiatan yang akan dilakukan tidak berfokus karena tidak tahu

apa yang ingin di capai dari kegiatan tersebut. Tujuan penelitian menjadi kerangka

(22)

9

yang akan diperoleh. Tujuan penulis harus benar-benar mengacu pada rumusan

masalah penelitian. Salah satu tujuan penelitian merupakan pernyataan mengenai

apa yang hendak dicapai. Tujuan penelitian dicantumkan agar kita maupun pihak

lain yang membaca laporan penelitian ini dapat mengetahui dengan pasti maksud

dan tujuan penelitian yang sesungguhnya.

Berdasarkan penjelasan dan pendapat tersebut, maka tujuan yang ingin

dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Mengetahui bentuk lagu Sri Mersing pada masyarakat Rantauprapat

Kabupaten Labuhanbatu

2. Mengetahui nilai lagu Sri Mersing pada masyarakat Rantauprapat

Kabupaten Labuhanbatu

3. Mengetahui makna lagu Sri Mersing pada masyarakat Rantauprapat

Kabupaten Labuhanbatu

F. Manfaat Penelitian

Setiap penelitian yang dilakukan tentunya diharapkan akan memberikan

sumbangan yang bermanfaat bagi siapa saja. Untuk itu penelitian ini diharapkan

bermanfaat bagi para pembaca baik yang berada dalam disiplin ilmu musik

maupun di luar disiplin tersebut. Menurut Hariwijaya (2008:50) yang mengatakan

bahwa: “Manfaat penelitian adalah apa yang diharapakan dari hasil penelitian

tersebut, dalam hal ini mencakup dua hal yakni kegunaan dalam pengembangan

(23)

10

Dari hasil penelitian ini diharapkan dan memberi manfaat segala kebutuhan

segala komponen masyarakat baik instansi, lembaga kesenian maupun praktisi

kesenian. Sebuah penelitian diharapkan dapat menanamkan kesadaran dan

membangkitkan keinginan generasi muda. Dari hasil penelitian ini diharapkan

dapat memberi manfaat sebagai berikut :

1. Menambah wawasan peneliti dalam rangka menuangkan gagasan karya

tulis kedalam bentuk karya ilmiah

2. Menambah wawasan peneliti mengenai musik melayu.

3. Referensi untuk menjadi acuan pada peneliti yang relevan dikemudian

hari.

4. Menambah sumber kajian bagi kepustakaan Program Studi Pendidikan

(24)

64

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik

beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Kabupaten Labuhanbatu dengan Ibukota Rantauprapat merupakan salah

satu Kabupaten yang berada pada kawasan pantai timur Propinsi Sumatera

Utara, mempunyai kedudukan strategis yaitu berada pada jalur lintas timur

Sumatera dan berada pada persimpangan menuju Propinsi Sumatera Barat

dan Riau, menghubungkan pusat-pusat perkembangan wilayah di

Sumatera dan Jawa serta mempunyai akses yang memadai ke luar negeri

karena berbatasan langsung dengan Selat Malaka

2. Bentuk Lagu Sri Mersing ini di awali dengan pantun pembuka sebagai

pengantar sebelum syair dinyanyikan, pada bagian ini menggunakan

birama 4/4, dengan tempo moderato. Lagu Sri Mersing memiliki 2 bagian

bentuk kalimat yaitu, kalimat A (a,b) dan B (a,b) dimana a dan b terdiri

dari beberapa frase, kadens, motif. Kalimat A merupakan kalimat Tanya

dan B merupakan jawaban. Bentuk A memiliki frase a dan b. Frase a dan b

terdiri dari motif I, II dan III serta kadens terbuka maupun tertutup.

Bentuk B memiliki frase a dan b terdiri dari motif IV dan V serta kadens

terbuka dan tertutup.

3. Nilai yang terkandung dalam lagu Sri Mersing adalah nilai budi pekerti,

(25)

65

4. Makna yang terkandung dalam lagu Sri Mersing dibagi dalam dua yaitu

makna semiotika dan semantik. Makna semiotika dalam lagu sri mersing

adalah tentang bagaimana kita dapat meneruskan apa yang sudah

diwariskan leluhur, yaitu berupa sejarah budaya bangsa. Kemudian tersirat

juga pesan bahwa dalam menghadapi rintangan kita harus tetap

menjalaninya dengan sabar, ikhlas dan tidak pantang menyerah serta tidak

lupa berdoa. Makna lainnya adalah bahwa, kondisi fisik seseorang

bukanlah menjadi suatu alasan kita untuk menyukai atau tidaknya kita

terhadap orang tersebut. Kemudian berdasarkan makna semantik adalah

makna dari apa yang diucapkan langsung pada kata-kata dalam pantun dan

juga makna pada syair tersebut. Pada makna semantik tidak dimaknai

sesuatu yang tersirat ataupun tersurat, melainkan makna yang sebenarnya

dari isi lagu tersebut.

B. Saran

1. Hendaknya setiap budaya, salah satunya budaya melayu yang ada di

Kabupaten Labuhanbatu tetap dilestarikan agar tetap berkembang, dan

hendaknya para seniman dapat mengajarkan kepada generasi muda tentang

musik, serta dapat memaknai setiap lagu daerah sehingga pesan yang

tersimpan di dalam lagu tersebut dapat tersampaikan.

2. Kepada pemerintah Kabupaten Labuhanbatu agar memperhatikan budaya dan kesenian yang berasal dari Kabupaten Labuhanbatu, serta

(26)

66

mempertahan kan kesenian ini agar masyarakat dapat mengenal budaya

(27)

67

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta: Kanisius

Budilinggo. 1993. Bentuk dan Analisis Musik.Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Djadjasudarma, Fatimah. 2013. Semantik 2- Relasi Makna Paradikmatik,

Sintakmatik, dan Derivasional. Bandung: Refika Aditama

Ginting, Pulumun.P. 2015. Spritualitas Upacara Gendang Kematian Etnik Karo

Pada Era Globalisasi : Disertasi

Hugo, Gray. 2015. Fungsi dan Makna Gondang Lae-lae pada Ritual Mangalahat

Horbo di Desa Huta Tinggi Samosir : Skripsi Fakultas Bahasa dan

Seni Universitas Negeri Medan

Hutabarat, Lampos. 2012. Keberadaan dan Bentuk Musik SeiKambang di Sibolga : Skripsi Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Karl-Edmund Prier SJ, 1996. Ilmu Bentuk Musik. Pusat Musik Liturgi, Yogyakarta.

Koentjaraningrat, 2005. Metode- Metode Penelitian Masyarakat. Gramedia, Jakarta

Lestari, Prawika. 2014. Kajian Bentuk dan Makna Lagu Juma Tidahan di Desa

Sarimatondang Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun:

Skripsi Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Mohd Zain Hj. Hamzah, 1961. Pengolahan Muzik dan Tari Melayu. Singapura: Dewan Bahasa dan Kebudayaan Kebangsaan.

Monty. 2002. Terapi Musik. Jakarta: Milenia Populer

Oktavinta, J. 2013. Kajian Permainan Drumset Mike Dortnow pada Lagu As I

Am. Medan : Skripsi Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri

Medan

(28)

68

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Estetika Sastra dan Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Riduwan. 2010. Belajar Mudah Penelitian. Bandung : AlfaBeta

Robbins, Stephen P. Perilaku Organisasi Buku 1, Jakarta: Salemba Empat, 2007

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Suratman. 2013. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Malang: Intimedia

Takari, M. 2009. Sastra Melayu Sumatera Utara. Medan: Bartong Jaya

Dikiana, Mhd.Wais All Kornie. 2009. Bentuk Penyajian dan Bentuk Musik dalam

Mengarak Anak Berkhitan pada masyarakat Jawa di Desa Sukadamai Barat Kecamatan Pulau Bandring. Medan. Skripsi Fakultas Bahasa dan

Seni Universitas Negeri Medan.

http://bappeda.labuhanbatukab.go.id

http://rizaldiisipadangpanjang.blogspot.com/2010/08/cengkok-dan-grenek-dalam-biola-melayu.html

Musictheory,http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Music_theory&oldid=474 75275

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Bentuk musik pada lagu lir-ilir dalam pernikahan masyarakat Jawa di Desa Pasar 12 Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat.. Landasan