DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH DAN STRATEGI
MITIGASINYA TERHADAP PROGRAM SWASEMBADA
BERAS DI KABUPATEN ASAHAN
(Studi Kasus : Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan)SKRIPSI
OLEH :
EGI SAPA PRAYUDA 090304058 AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH DAN STRATEGI
MITIGASINYA TERHADAP PROGRAM SWASEMBADA
BERAS DI KABUPATEN ASAHAN
(Studi Kasus : Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan)SKRIPSI
OLEH :
EGI SAPA PRAYUDA 090304058 AGRIBISNIS
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
Disetujui oleh: Komisi Pembimbing
Ketua Anggota
(Ir. Luhut Sihombing, MP)
NIP : 196510081992032001 NIP : 196509261993031002 (Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si)
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
EGI SAPA PRAYUDA : Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah dan Strategi Mitigasinya Terhadap Swasembada Beras di Kabupaten Asahan (Studi Kasus : Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan), dibimbing oleh Bapak Ir. Luhut Sihombing, MP dan Bapak Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si.
Alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula menjadi fungsi lain yang menjadi dampak negatif terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri atau perubahan/penyesuaian penggunaan, disebabkan oleh faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin bertambah jumlahnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan luas lahan dan produksi padi sawah selama 8 tahun terakhir, perkembangan alih fungsi lahan padi sawah selama 8 tahun terakhir, dampak alih fungsi lahan dan strategi mitigasinya terhadap swasembada beras, dan faktor – faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan di daerah. Metode penelitian yang digunakan yaitu secara purposive, metode penarikan sampel dilakukan secara Snowball sampling, metode analisis data menggunakan metode analisis SWOT dan regresi linear berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : perkembangan luas lahan dan produksi padi sawah selama 8 tahun terakhir mengalami penurunan, perkembangan alih fungsi lahan padi sawah selama 8 tahun terakhir mengalami penurunan, dampak alih fungsi lahan yaitu internal ( tingkat keamanan, alih komoditi ke perkebunan, kondisi fisik/tingkat kesuburan tanah, sistem warisan, dan harga tanah) dan eksternal (fluktuasi harga gabah, kapasitas pasokan air, permintaan/kebutuhan beras Asahan, permintaan/kebutuhan beras Sumatera Utara, dan peranan pemerintah dalam pemberian bantuan) dan strategi mitigasinya yaitu secara defensif terhadap swasembada beras di daerah penelitian, dan faktor – faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan di daerah penelitian yaitu panjang sarana transportasi, lahan industri, lahan pemukiman, lahan perkebunan, dan kepadatan penduduk.
RIWAYAT HIDUP
Egi Sapa Prayuda, lahir pada tanggal 03 Juli 1991 di Medan, merupakan anak dari Ayahanda Ir. M. J. Bangun dan Ibunda Ir. M. Ginting. Penulis adalah anak kedua dari tiga bersaudara.
Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut :
• Pada tahun 1996 masuk di Taman Kanak-Kanak Bah Butong
Pematangsiantar,
• Pada tahun 1997 masuk di SD Taman Asuhan Pematangsiantar, • Pada tahun 1998 masuk di SD Methodist 1 Medan,
• Pada tahun 2003 masuk di SLTP RK Bintang Timur Pematangsiantar, • Pada tahun 2006 masuk di SLTA RK Budi Mulia Pematangsiantar, • Pada tahun 2009 masuk di Program Studi Agribisnis, Fakultas
Pertanian, Universitas Sumatera Utara Medan, melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB).
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Judul skripsi ini adalah “Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah dan Strategi Mitigasinya Terhadap Swasembada Beras di Kabupaten
Asahan (Studi kasus : Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan)”. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Ir. Luhut Sihombing, MP selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si selaku Anggota Komisi Pembimbing, yang telah banyak meluangkan waktunya untuk membimbing, memotivasi, dan membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini dan selama masa perkuliahan di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dr. Ir. Salmiah MS selaku Ketua Program Studi Agribisnis, FP-USU dan Bapak Dr. Ir. Satya Negara Lubis, M.Ec selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis, FP-USU yang telah memberikan kemudahan dalam perkuliahan.
4. Seluruh Pegawai Program Studi Agribisnis, FP-USU khususnya Kak Lisbet, Kak Yani, dan Kak Runi yang membantu penulis dalam administrasi kampus.
5. Camat Setia Janji, Kepala Desa Silau Tua, Bangun Sari, dan Silau Maraja, PPL dan para petani padi sawah yang telah bersedia menjadi responden dan telah banyak membantu penulis dalam memberikan data serta informasi dalam penulisan skripsi ini.
Segala hormat dan terima kasih secara khusus penulis ucapkan kepada Ayahanda Ir. M. J. Bangun dan Ibunda Ir. M. Ginting yang selalu memberikan nasihat, kasih sayang, dan dukungan baik secara materi maupun doa yang diberikan selama menjalani masa perkuliahan. Terima kasih banyak kepada Abang Irvan Augustyn, SH dan Adik Matthew Bias Ferari serta keluarga besar yang memberikan doa dan dorongan semangat.
Penulis juga berterima kasih kepada teman-teman Agribisnis, FP-USU Stambuk 2009 yang tidak bisa disebutkan satu persatu, khususnya kepada sahabat-sahabat penulis yaitu Idiantho Nainggolan, SP, Firmansyah Depari, Pro Deo Meliala dan anggota Play Sumber yang memberikan semangat, kritik, saran, dan doa yang tulus, serta teman dekat penulis Irene Endamia Barus yang setia menemani dan mendukung penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat berguna untuk kemajuan pendidikan khususnya dunia pertanian dan berguna bagi kita semua.
Medan, November 2013
DAFTAR ISI
II.TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN ... 8
2.1 Tinjauan Pustaka ... 8
2.1.1 Perkembangan Luas Lahan Padi Sawah di Provinsi Sumatera Utara ... 8
2.1.2 Laju Perubahan Alih Fungsi Lahan dan Sawah di Provinsi Sumatera Utara ... 12
2.1.3 Definisi, Tujuan, dan Fungsi Program Pemerintah Pusat dan Program Pemerintah Daerah Khususnya Kabupaten Asahan ... 17
2.2 Landasan Teori ... 18
2.3 Kerangka Pemikiran ... 29
2.4 Hipotesis Penelitian ... 31
III. METODE PENELITIAN ... 32
3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 32
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 34
3.4 Metode Analisis Data ... 34
3.5 Defenisi dan Batasan Operasional ... 40
3.5.1 Definisi ... 40
3.5.2 Batasan Operasional ... 41
IV. DESKRIPSI WILAYAH DAN KARATERISTIK SAMPEL ... 42
4.1 Deskripsi Wilayah ... 42
4.1.1 Luas Daerah dan Letak Geografis Kecamatan Setia Janji .. 42
4.1.2 Luas Daerah dan Letak Geografis Desa Sei Silau Barat .. 43
4.1.3 Luas Daerah dan Letak Geografis Desa Silau Maraja ... 43
4.1.4 Luas Daerah dan Letak Geografis Desa Sei Silau Tua ... 44
4.1.5 Luas Daerah dan Letak Geografis Desa Bangun Sari ... 44
4.1.6 Luas Daerah dan Letak Geografis Desa Urung Pane ... 45
4.1.7 Kondisi Biofisik Lahan ... 46
4.1.8 Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Budaya ... 46
4.2 Karateristik Petani Sampel ... 50
BAB V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 52
5.1 Perkembangan Luas Lahan dan Produksi Padi Sawah di Daerah Penelitian Selama 8 Tahun Terakhir ... 52
5.2 Perkembangan Alih Fungsi Lahan Padi Sawah di Daerah Penelitian Selama 8 Tahun Terakhir ... 53
5.3 Dampak Alih Fungsi Lahan dan Strategi Mitigasinya Terhadap Swasembada Beras di Daerah Penelitian ... 53
5.3.1 Dampak yang Paling Dominan dari Alih Fungsi Lahan Padi Sawah ... 53
5.3.2 Strategi Mitigasi dari Dampak Alih Fungsi Lahan Padi Sawah ... 57
5.4 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan di Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan ... 66
5.4.1 Interpretasi Model ... 67
5.4.2 Uji Kesesuaian Model ... 69
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 77
6.1 Kesimpulan ... 77 6.2 Saran ... 78
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
1 Luas Lahan Padi yang Beralih Fungsi di Provinsi Sumatera Utara (Ha).
32
2 Luas Lahan Padi Sawah di Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara (Ha).
33
4 Distribusi Jenis Penggunaan Lahan Kecamatan Setia Janji Tahun 2012.
46
5 Distribusi Jumlah Penduduk Kecamatan Setia Janji Tahun 2012. 47
6 Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Perjuangan Tahun 2012.
48
7 Distribusi Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa Perjuangan Tahun 2012.
48
8 Sarana dan Prasarana di Desa Perjuangan Tahun 2012. 49
9 Karasteristik Petani Sampel di Kecamatan Setia Janji Tahun 2012. 50
10 Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman Dampak Alih Fungsi Lahan Padi Sawah di Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan.
56
11 Penentuan Dampak – Dampak Internal (Kekuatan dan
Kelemahan) Alih Fungsi Lahan Padi Sawah di Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan.
57
12 Penentuan Dampak – Dampak Eksternal (Peluang dan Ancaman) Alih Fungsi Lahan Padi Sawah di Kecamatan Setia Janji,
Kabupaten Asahan.
58
13 Gabungan Matriks Evaluasi Dampak Strategis Internal dan Eksternal Dampak Alih Fungsi Lahan Padi Sawah di Kecamatan Setia Janji.
61
14 Penentuan Alternatif Strategi Mitigasi Dampak Alih Fungsi Lahan Padi Sawah di Kecamatan Setia Janji.
64
15 Tabel 15. Analisis Regresi Faktor-Faktor yang Memperngaruhi Alih Fungsi Lahan Padi Sawah.
67
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
1 Kurva Lahan Biaya Rendah 24
2 Kurva Lahan Biaya Menengah 24
3 Kurva Lahan Marginal 25
4 Kurva Pasar 25
5 Kurva permintaan dan penawaran 27
6 Skema Kerangka Pemikiran 31
7 Matriks Posisi Strategi Mitigasi Dampak Alih Fungsi Lahan Padi Sawah di Kecamatan Setia Janji
62
8 Scatter Plot Uji Normalitas 73
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul
1 Karasteristik Petani Padi Di Kecamatan Setia Janji Tahun 2012 2 Perkembangan Lahan dan Produksi Padi Sawah di Kecamatan Setia
Janji 2005 – 2012.
3 Indikator dan Parameter Penilaian SWOT Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah Terhadap Program Swasembada Beras di Kabupaten Asahan
4 Pembobotan Dampak Internal (IFAS) 5 Pembobotan Dampak Eksternal (EFAS)
6 Parameter Penilaian Dampak Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah Terhadap Program Swasembada Beras di Kabupaten Asahan.
7 Hasil Penilaian Dampak Internal (IFAS) 8 Hasil Penilaian Dampak Eksternal (EFAS)
9 Hasil Perhitungan Nilai Rata – Rata Geometris Dampak Internal (IFAS)
10 Hasil Perhitungan Nilai Rata – Rata Geometris Dampak Eksternal (EFAS)
11 Normalisasi Dampak Internal (IFAS) 12 Normalisasi Dampak Eksternal (EFAS)
13 Penentuan Dampak - Dampak Internal ( Kekuatan dan Kelemahan) Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah Terhadap Program Swasembada Beras di Kabupaten Asahan
14 Penentuan Dampak - Dampak Eksternal ( Peluang dan Ancaman) Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah Terhadap Program Swasembada Beras di Kabupaten Asahan
15 Pembobotan Dampak - Dampak Internal (IFAS) 16 Pembobotan Dampak - Dampak Eksternal (EFAS)
17 Matriks Evaluasi Dampak - Dampak Strategis Internal (IFAS) 18 Matriks Evaluasi Dampak - Dampak Strategis Eksternal (EFAS) 19 Luas Lahan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Alih Fungsi
Lahan di Kecamatan Setia janji
20 Hasil Analisis Regresi Faktor-faktor yang mempengaruhi Alih Fungsi Lahan di Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan.
ABSTRAK
EGI SAPA PRAYUDA : Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah dan Strategi Mitigasinya Terhadap Swasembada Beras di Kabupaten Asahan (Studi Kasus : Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan), dibimbing oleh Bapak Ir. Luhut Sihombing, MP dan Bapak Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si.
Alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula menjadi fungsi lain yang menjadi dampak negatif terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri atau perubahan/penyesuaian penggunaan, disebabkan oleh faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin bertambah jumlahnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan luas lahan dan produksi padi sawah selama 8 tahun terakhir, perkembangan alih fungsi lahan padi sawah selama 8 tahun terakhir, dampak alih fungsi lahan dan strategi mitigasinya terhadap swasembada beras, dan faktor – faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan di daerah. Metode penelitian yang digunakan yaitu secara purposive, metode penarikan sampel dilakukan secara Snowball sampling, metode analisis data menggunakan metode analisis SWOT dan regresi linear berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : perkembangan luas lahan dan produksi padi sawah selama 8 tahun terakhir mengalami penurunan, perkembangan alih fungsi lahan padi sawah selama 8 tahun terakhir mengalami penurunan, dampak alih fungsi lahan yaitu internal ( tingkat keamanan, alih komoditi ke perkebunan, kondisi fisik/tingkat kesuburan tanah, sistem warisan, dan harga tanah) dan eksternal (fluktuasi harga gabah, kapasitas pasokan air, permintaan/kebutuhan beras Asahan, permintaan/kebutuhan beras Sumatera Utara, dan peranan pemerintah dalam pemberian bantuan) dan strategi mitigasinya yaitu secara defensif terhadap swasembada beras di daerah penelitian, dan faktor – faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan di daerah penelitian yaitu panjang sarana transportasi, lahan industri, lahan pemukiman, lahan perkebunan, dan kepadatan penduduk.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Upaya mewujudkan pembangunan pertanian tidak terlepas dari berbagai macam masalah yang dihadapi pada saat ini. Masalah pertama yaitu kemampuan lahan pertanian kita sudah mengalami degradasi yang luar biasa dari sisi kesuburannya akibat dari pemakaian pupuk anorganik dan penurunan kuantitas yaitu konversi lahan yang memiliki kultur pembagian lahan orangtua kepada anaknya sehingga terjadinya penciutan lahan pertanian. Masalah kedua adalah terbatasnya aspek ketersediaan infrastruktur penunjang pertanian yaitu pembangunan dan pengembangan waduk. Masalah ketiga adalah adanya kelemahan dalam sistem alih teknologi. Ciri utama pertanian modern adalah produktifitas, efisiensi, mutu, dan kontiunitas pasokan yang meningkat dan terpelihara. Masalah keempat adalah muncul dari terbatasnya akses layanan usaha terutama di permodalan. Masalah kelima adalah masih panjangnya mata rantai tata niaga pertanian, sehingga menyebabkan petani tidak dapat menikmati harga yang lebih baik karena pedagang telah mengambil untung terlalu besar dari hasil penjualan.
Kabupaten Asahan adalah salah satu kabupaten yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir terus mengalami konversi lahan sawah. Pada tahun 2008 Kabupaten Asahan memiliki luas lahan sawah sebesar 13.210 hektar dan memproduksi beras sebesar 49.960,86 ton. Produksi beras yang mengalami fluktuasi tidak mampu menjamin ketersediaan beras secara optimal hingga lima tahun kedepan dikarenakan penurunan kemampuan lahan sawah yang dapat mengakibatkan penurunan angka produksi sewaktu-waktu. Seiring meningkatnya laju konversi lahan maka daerah tersebut mengalami penurunan luas lahan sawah yang cukup signifikan pada tahun 2011 dengan luas lahan sawah sebesar 12.010 hektar. Menurut data sensus penduduk, populasi penduduk Kabupaten Asahan tahun 2011 berjumlah 674.802 orang dimana kebutuhan akan beras daerah tesebut sebesar 93.548 ton sedangkan produksi beras daerah tersebut pada tahun 2011 sebesar 54.063 ton yang mengakibatkan Kabupaten Asahan mengimport beras sebesar 39.485 ton dari Kabupaten Batu Bara, Labuhan Batu Utara, dan Labuhan Batu. Selama tahun 2008-2012 penurunan luas lahan sawah yang terjadi di daerah tersebut sebesar 2.183 hektar (BPS Kabupaten Asahan, 2012).
Konversi ini mengakibatkan luas lahan pertanian di Kabupaten Asahan cenderung mengalami penurunan. Lahan yang paling banyak terkonversi adalah jenis lahan sawah, yang beralih fungsi menjadi tegal, ladang, perkebunan, hutan, tambak, kolam/tebat, rawa, dan bangunan. Menurut data yang diperoleh pada tahun 2008 Kabupaten Asahan memiliki luas lahan bukan sawah sebesar 268.024 hektar dan lahan bukan pertanian sebesar 90.711 hektar. Sedangkan pada tahun 2012 lahan bukan sawah mengalami peningkatan menjadi 270.635 hektar dan lahan bukan pertanian sebesar 90.283 hektar (BPS Kabupaten Asahan, 2012).
Dengan demikian semakin berkurangnya luas lahan pertanian khususnya lahan sawah di kabupaten Asahan secara terus menerus, sudah tentu akan ikut mempengaruhi produksi padi di daerah tersebut. Hal ini merupakan ancaman bagi produksi pangan baik secara regional maupun nasional yang berpengaruh terhadap gizi buruk, kesehatan, sekaligus menurunkan kualitas sumber daya manusia. Ketahanan pangan harus stabil dan tetap terjaga secara berkelanjutan dengan cara menjaga ketersediaan lahan pertanian dalam jumlah dan mutu yang memadai.
Faktor kunci keberhasilan pencapaian swasembada beras adalah meningkatnya produktivitas usahatani, perbaikan teknologi usahatani dan tersedianya anggaran pemerintah yang cukup untuk membiayai berbagai proyek dan program pengembangan teknologi usahatani serta proses sosialisasinya di tingkat petani serta pengembangan infrastruktur pertanian seperti irigasi dan lembaga penyuluhan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat, maka upaya peningkatan kapasitas produksi beras melalui pencetakan sawah baru dan peningkatan jaringan irigasi telah dilakukan. Namun upaya tersebut belum memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan produksi pangan, karena terbentur pada berbagai kendala teknis dan anggaran. Aksesibilitas yang terbatas akan mengakibatkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang bermutu dan bergizi sehingga akan menghambat kesinambungan ketahanan pangan.
efektifitas akan lahan tersebut dengan cara pertukaran komoditi ke tanaman perkebunan. Hal ini diikuti minimnya kepastian pertukaran air dikarenakan sistem irigasi yang tidak baik walaupun Kabupaten Asahan dikelilingi oleh sungai asahan. Upaya untuk mencapai swasembada pangan beras adalah pembangunan sistem irigasi, menekan alih fungsi lahan, membuka lahan pertanian baru, penciptaan varietas unggul baru, meningkatkan penanaman padi, serta penetapan harga pupuk dan obat-obatan walaupun lahan sawah yang sangat terbatas.
Adanya percepatan pembangunan, orientasi perkotaan, dan budaya dari daerah penelitaian mengakibatkan lahan pertanian yang dahulunya merupakan lahan pertanian produktif sekarang disulap menjadi perumahan, mall, pabrik, dll. Penggunaan lahan pertanian menjadi lahan non pertanian merupakan salah satu akibat adanya pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat pesat, sedangkan jumlah lahan yang tersedia untuk permukiman sudah semakin menyempit sehingga menghadapi tantangan dalam rangka menuju kemandirian pangan memerlukan kearifan lokal, sentuhan teknologi, dan dukungan dari berbagai pihak khususnya penyuluh dan pemangku kepentingan sehingga setiap kebijakan yang menyangkut tentang kemandirian pangan bisa diimplementasikan dengan baik.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka masalah penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1) Bagaimana perkembangan luas lahan dan produksi padi sawah di daerah penelitian selama 8 tahun terakhir ?
2) Bagaimana perkembangan alih fungsi lahan sawah di daerah penelitian selama 8 tahun terakhir ?
3) Bagaimana dampak alih fungsi lahan dan strategi mitigasinya terhadap swasembada beras di daerah penelitian ?
4) Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan di daerah penelitian?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini berdasarkan identifikasi masalah di atas, yaitu :
1) Untuk menganalisis perkembangan luas lahan dan produksi padi sawah di daerah penelitian selama 8 tahun terakhir.
2) Untuk menganalisis perkembangan alih fungsi lahan sawah di daerah penelitian selama 8 tahun terakhir.
3) Untuk menganalisis dampak alih fungsi lahan dan strategi mitigasinya terhadap swasembada beras di daerah penelitian.
1.4. Kegunaan Penelitian
1) Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan untuk menyusun peraturan alih fungsi lahan dan menyusun program swasembada beras.
2) Sebagai bahan informasi dan referensi bagi pihak-pihak yang terkait dalam peningkatan produksi beras.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA
PEMIKIRAN
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Perkembangan Luas Lahan Padi Sawah di Provinsi Sumatera Utara
Padi dibudidayakan dengan tujuan mendapatkan hasil yang setinggi-tinginya dengan kualitas sebaik mungkin, untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan maka tanaman yang akan ditanam harus sehat dan subur. Tanaman yang sehat adalah tanaman yang tidak terserang oleh hama dan penyakit, tidak mengalami defisiensi hara, baik unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar maupun dalam jumlah kecil. Sedangkan tanaman subur adalah tanaman yang pertumbuhan dan perkembangannya tidak terhambat, oleh kondisi biji atau kondisi lingkungan (Soekartawi, 2002).
Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain (Soekartawi, 2002).
mencapai 128 juta MT atau 31% dari total produksi beras dunia yang sebesar 415,23 juta MT . India dan Indonesia masing-masing memberikan kontribusi 22% (91 juta MT) dan 8% (35 juta MT) (Badan Pusat Statistik, 2008).
Di Indonesia sendiri, provinsi dengan jumlah produksi padi tertinggi adalah Jawa Barat, kemudian diikuti oleh Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pada volume konsumsi beras, Indonesia juga berada pada peringkat tiga konsumen beras terbesar di dunia setelah Cina dan India, yaitu berkisar antara 110-139 kg per tahun (Badan Pusat Statistik, 2008).
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Sumatera Utara untuk bulan September 2012, realisasi luas lahan persawahan yang tepat masa tanamnya (padi sawah) masih minim yakni rata-rata mencapai 54,5% (Januari-Desember). Untuk realisasi pencapaian tanam padi di Sumatera Utara tahun ini hanya mencapai 52% (396,598 hektar). Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumatera Utara, salah satu faktor yang membuat minimnya realisasi tepat masa tanam padi sawah di Sumatera Utara dikarenakan terlambatnya masa tanam di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara. Menurut Kepala Bagian Program Badan Ketahanan Pangan Sumatera Utara, terlambatnya masa tanam padi sawah diakibatkan pengaruh cuaca ekstrim saat ini. Provinsi Sumatera merencanakan sebanyak 830,034 hektar lahan persawahan padi tepat masa tanamnya agar masa panen dapat berlangsung tepat waktu sehingga dapat menunjang produktivitas padi di Sumatera Utara (Badan Pusat Statistik, 2008).
cukup kompleks dimana mekanisme perubahannya melibatkan beberapa kekuatan seperti kekuatan pasar, sistem administratif yang dikembangkan oleh pemerintah dan juga kepentingan politik. Salah satu fenomena yang nyata pada pemanfaataan lahan adalah adanya alih fungsi lahan. Fenomena ini muncul seiring makin tinggi dan bertambahnya tekanan kebutuhan dan permintaan terhadap lahan baik dari sektor pertanian ataupun nonpertanian akibat dari pertambahan penduduk yang terjadi setiap tahunnya dan semakin tingginya tingkat perekonomian sehingga memicu kegiatan pembangunan kearah industri (Winoto, 2005).
Secara umum penurunan lahan pertanian yang paling rentan terhadap alih fungsi adalah sawah. Hal tersebut disebabkan oleh kepadatan penduduk di pedesaan yang mempunyai agroekosistem dominan sawah yang umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan lahan kering, sehingga tekanan penduduk atas lahan juga lebih inggi. Di daerah pesawahan banyak yang lokasinya berdekatan dengan daerah perkotaan sehingga memicu pengalih fungsian yang sangat cepat. Selain itu akibat pola pembangunan di masa sebelumnya, infrastruktur wilayah pesawahan pada umumnya lebih baik dari pada wilayah lahan kering. Pembangunan prasarana dan sarana pemukiman, dan kawasan industri cenderung berlangsung cepat di wilayah bertopografi datar, dimana pada wilayah dengan topografi datar ekosistem pertaniannya dominan areal persawahan (Winoto, 2005).
terluas adalah Riau 4,044 juta hektar diikuti kemudian di Sumatera Selatan 1,484 juta hektar dan Jambi 0,717 juta hektar. Penyebaran lahan gambut di Provinsi Sumatera Utara terdapat di pantai timur, yakni di wilayah kabupaten Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, Labuhan Batu Selatan, Asahan dan Batubara. Di pantai barat terdapat cukup luas di wilayah kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Tapanuli Tengah. Lahan gambut di Sumatera Utara, sebagian besar merupakan gambut sedang (kedalaman 1-2 metar) seluas 228.384 hektar. Produktivitas padi sawah di lahan gambut tergolong rendah (Sitorus, 2010).
Pada tahun 2010 luas lahan sawah non irigasi masih berkisar 12% sementara sawah irigasi sebanyak 18%. Jumlah itu cukup timpang dengan lahan pertanian bukan sawah yang memegang 70% dari luas lahan Sumatera Utara. Kabupaten yang berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan lahan sawah di Sumatera Utara daerah tersebut, yakni Kabupaten Pakpak Bharat (3.000 ha), Simalungun (700 ha), Tapanuli Selatan (2.000 ha), Dairi (500 ha), Asahan (5.000 ha), Mandailing Natal (6.600 ha), Nias Selatan (500 ha), Padang Lawas Utara (450 ha), Labuhanbatu Selatan (2.000 ha), Labuhanbatu Utara (2.000 ha), Humbang Hasundutan seluas 2.500 ha, dan Asahan (5.000 ha) (Badan Pusat Statistik, 2008).
Utara seluas 100 ha. Dari lahan yang sudah dikembangkan itu, rata-rata produksi yang diperoleh mencapai tiga ton per hektare untuk gabah kering panen (GKP) (Badan Pusat Statistik, 2008).
2.1.2. Laju Perubahan Alih Fungsi Lahan dan Sawah di Provinsi Sumatera
iUtara
Lestari (2009) mendefinisikan alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula menjadi fungsi lain yang menjadi dampak negatif terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri. Alih fungsi lahan dalam artian perubahan/penyesuaian peruntukan penggunaan, disebabkan oleh faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin bertambah jumlahnya dan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik.
Semula fungsi utama lahan ialah untuk bercocok tanam padi, palawija, atau hortikultura. Kini dengan gencarnya industrialisasi, lahan-lahan produktif pertanian berubah menjadi pabrik-pabrik, jalan tol, permukiman, perkantoran, dan lain sebagainya. Jika dalam setahun alih fungsi lahan terdata sekitar 4.000 hektar, dalam 5 tahun ke depan lahan produktif yang beralih fungsi mencapai 20.000 hektar (Winoto, 2005).
1. Kepadatan penduduk di pedesaan yang mempunyai agroekosistem dominan sawah pada umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan agroekosistem lahan kering, sehingga tekanan penduduk atas lahan juga lebih tinggi.
2. Daerah persawahan banyak yang lokasinya berdekatan dengan daerah perkotaan.
3. Akibat pola pembangunan di masa sebelumnya, infrastruktur wilayah persawahan pada umumnya lebih baik dari padda wilayah lahan kering.
4. Pembangunan sarana dan prasarana pemukiman, kawasan industri, dan sebagainya cenderung berlangsung cepat di wilayah bertopografi datar.
Tanah sawah merupakan tanah yang sangat penting di Indonesia karena merupakan sumber daya alam yang utama dalam produksi beras. Saat ini keberadaan tanah-tanah sawah subur beririgasi terancam oleh gencarnya pembangunan kawasan industri dan perluasan kota (perumahan) sehingga luas tanah sawah semakin berkurang karena di konversikan untuk penggunaan nonpertanian. Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk menanam padi sawah baik secara terus menerus sepanjang tahun maupun bergiliran dengan tanaman palawija. Dalam definisi ini tanah sawah mencakup semua tanah yang terdapat dalam zona iklim dengan rejim temperatur yang sesuai untuk menanam padi paling tidak satu kali setahun (Winoto, 2005).
sudah sangat terbatas, sementara tuntutan terhadap kebutuhan lahan untuk perkembangan sektor industri, jasa, dan properti cenderung semakin meningkat. Sehingga perubahan penggunaan lahan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi regional tidak mungkin dapat di hindarkan lagi (Ilham,dkk, 2003).
Perubahan penggunaan lahan dapat disebabkan karena adanya perubahan rencana tata ruang wilayah yang menetapkan wilayah pemukiman dan industri sehingga lahan untuk sektor pertanian telah beralih fungsi mengikutu tata ruang wilayah tersebut. Sejalan dengan kebijaksanaan pembangunan yang menekankan kepada aspek pertumbuhan melalui kemudahan fasilitas investasi, baik kepada investor lokal maupun luar negeri dalam penyediaan tanahnya, maka perubahan penggunaan tanah dari pertanian ke nonpertanian terjadi secara meluas (Ilham,dkk, 2003).
Konversi lahan sawah sulit dicegah selama kebijakan pembangunan ditujukan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Namun demikian konversi lahan akan menimbulkan dampak yang sangat merugikan bagi ketahanan pangan, lingkungan, kesempatan kerja, dan masalah sosial lainnya. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah dalam mengatasi masalah konversi lahan seyogianya lebih diarahkan untuk meminimalkan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan. Sampai batas tertentu konversi lahan dapat dilakukan selama dampak negatif yang ditimbulkan dapat ditekan dan dinetralisir (Ilham,dkk, 2003).
mengalami kerisis pangan hal ini akan berdampak pada tingkat kesejahteraan masayarakat (Anonimous, 2009).
Krisis ekonomi berakibat tingginya angka pengangguran menyebabkan menurunnya pendapatan masyarakat. Kedaan itu memicu terjadinya konversi lahan sawah. Karena sebagian masyarakat yang hanya memiliki berupa lahan sawah akan menjual lahannya untuk kebutuhan hidup kepada petani kaya,investor bahkan para spekulan. Apabila pemanfaatan lahan pertanian tersebut tidak mengarah pada sektor pertanian juga maka bedampak buruk pada produksi pertanian itu sendiri (Jamal, 2000).
lainnya untuk kelapa sawit. Kedua komoditas ini dikelola oleh suatu perusahaan yang sama (Jamal, 2000).
Alih fungsi lahan yang paling memprihatinkan terjadi di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Bali. Beberapa daerah yang disebutkan ini memiliki lahan yang cukup produktif, tetapi seringkali terjadi alih fungsi. di Sumatera dan Kalimantan. Umumnya terjadi alih fungsi dari lahan sawah ke lahan kelapa sawit. Selain itu, di banyak tempat di Indonesia lahan sawah produktif sudah beralih fungsi menjadi perumahan, industri, pariwisata maupun untuk tujuan lain. Sementara pencetakan sawah baru untuk mengganti lahan sawah yang hilang memerlukan biaya yang tinggi dan waktu yang lama karena berbagai kendala diantaraanya terbatasnya infrastruktur penunjang seperti jalan penghubung, prasarana irigasi dan transportasi (Sitorus, 2010).
lahan tadah hujan tak berpengairan yang sudah beralih fungsi tahun 2006 seluas 211.975 hektar dan pada tahun 2007 sebanyak 193.454 hektar (Sitorus, 2010).
Hal ini merupakan ancaman bagi produksi pangan baik secara nasional maupun regional, khususnya di daerah-daerah yang sangat pesat perkembangan perkotaannya di Indonesia. Kekurangan pangan sangat berpengaruh terhadap gizi buruk, kesehatan, sekaligus menurunkan kualitas sumber daya manusia. Dampak serius lain yang ditimbulkan akibat kekurangan bahan pangan adalah terganggunya stabilitas sosial politik, ekonomi dan keamanan. Ketahanan pangan harus stabil dan tetap terjaga secara berkelanjutan. Untuk menunjang ketahanan pangan yang berhubungan dengan aspek ketersediaan pangan, membutuhkan ketersediaan lahan secara berkelanjutan dalam jumlah dan mutu yang memadai (Sitorus, 2010).
2.1.3. Definisi, Tujuan dan Fungsi Program Pemerintah Pusat dan Program
iPemerintah Daerah Khususnya Kabupaten Asahan
Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara mendukung kabupaten/kota yang berencana akan membuka lahan persawahan yang baru untuk menyukseskan program daerah tersebut menjadi lumbung beras nasional. Menurut Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, pencetakan sawah baru dimungkinkan untuk dilaksanakan, mengingat masih luasnya lahan pertanian di berbagai daerah. Pembukaan areal pertanian dan persawahan di daerah kabupaten/kota dinilai sangat tepat untuk mewujudkan Sumatera Utara sebagai lumbung beras nasional. Dengan dibukanya areal persawahan yang baru dapat juga menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan dan juga akan mengurangi kegiatan urbanisasi. Kabupaten Asahan berupaya menjadi penghasil beras terbesar di Provinsi Sumatera Utara dengan luas areal persawahan 10 ribu hektare lebih yang tersebar di sebelas kecamatan. Asahan dengan luas areal persawahan 10 ribu hektare lebih pada tahun 2011 memproduksi beras sebanyak 54.062 ton lebih (Badan Pusat Statistik, 2008).
2.2. Landasan Teori
terjadi karena dua hal, yakni adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat jumlahnya dan berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik.
Menurut Irawan (2005), ada dua hal yang mempengaruhi alih fungsi lahan. Pertama, sejalan dengan pembangunan kawasan perumahan atau industri di suatu lokasi alih fungsi lahan, maka aksesibilitas di lokasi tersebut menjadi semakin kondusif untuk pengembangan industri dan pemukiman yang akhirnya mendorong meningkatnya permintaan lahan oleh investor lain atau spekulan tanah sehingga harga lahan di sekitarnya meningkat. Kedua, peningkatan harga lahan selanjutnya dapat merangsang petani lain di sekitarnya untuk menjual lahan.
Menurut Pakpahan (2005), konversi lahan di tingkat wilayah secara tidak langsung dipengaruhi oleh :
1. Pertumbuhan komoditi perkebunan 2. Pertumbuhan kepadatan penduduk
Secara langsung konversi lahan sawah dipengaruhi oleh: 1. Pertumbuhan pembangunan sarana transportasi 2. Pertumbuhan lahan untuk industri
3. Pertumbuhan sarana pemukiman
Konversi lahan pertanian terutama ditetukan oleh faktor berikut:
1. Rendahnya nilai persewaan (land rent) lahan sawah yang berada disekitar pusat pembangunan dibandingkan dengan nilai persewaan untuk pemukiman dan industri,
3. Makin menonjolnya tujuan jangka pendek yaitu memperbesar pendapatan asli daerah (PAD) tanpa mempertimbangkan kelestarian sumberdaya alam di era otonomi ini.
(Soekartawi, 2005).
Hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi konversi sawah di tingkat petani Jawa menunjukkan bahwa alasan utama untuk melakukan konversi adalah kebutuhan, lahannya berada dalam kawasan industri, dan harga yang menarik. Selain harga dan pajak lahan yang tinggi cenderung mendorong petani untuk melakukan konversi (Soekartawi, 2005).
Menurut Gunanto (2007) ada tiga alternatif kebijakan yang dibahas dalam pengendalian konversi lahan, yaitu kebijakan pengandalian melalui otoritas sentral, pemberian insentif terhadap perluasan sawah baru dan pemilik sawah beririgasi yang perlu dilindungi, dan pembangunan kemampuan kolektif masyarakat tani setempat dalam mengendalikan konversi lahan sawah. Model kebijakan yang terakhir, apabila difasilitasi dengan baik, diharapkan dapat memperkuat kapital sosial yang ada pada masyarakat karena munculnya rasa kebersamaan indentitas dan kepemilikan.
Produksi padi secara nasional terus meningkat setiap tahun, tetapi dengan laju pertumbuhan yang cenderung semakin menurun. Alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian karena pesatnya pembangunan dianggap sebagai
Proses alih fungsi lahan pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu bentuk konsekuensi logis dari adanya pertumbuhan dan transformasi, perubahan struktur sosial ekonomi masyarakat yang sedang berkembang. Perkembangan yang dimaksud tercermin dari adanya:
1. Pertumbuhan aktifitas pemanfaatan sumberdaya alam akibat meningkatnya permintaan kebutuhan terhadap penggunaan lahan sebagai dampak peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan per kapita.
2. Adanya pergeseran kontribusi sektor pembangunan dari sektor-sektor primer khususnya dari sektor-sektor-sektor-sektor pertanian dan pengolahan sumberdaya alam ke aktifitas sektor-sektor sekunder dan tersier.
(Soekartawi, 2005).
oleh masyarakat dan pemerintah, dan (2) sistem non-kelembagaan yang berkembang secara alamiah dalam masyarakat.
Menurut Gunanto (2007) konversi lahan sawah menjadi kelapa sawit ditetukan oleh beberapa aspek berikut:
1. Aspek ekonomis terdiri atas :
a. Panen sawit dilakukan secara berkelanjutan setiap 2 minggu, b. Keuntungan berkebun sawit lebih tinggi,
c. Harga sawit lebih terjamin, dan
d. Biaya pemeliharaan tanaman sawit lebih rendah. 2. Aspek lingkungan terdiri atas :
a. Kecocokan lahan untuk kebun sawit,
b. Ancaman hama dan penyakit pada tanaman pangan, c. Kondisi irigasi tidak mendukung, dan
d. Tenaga kerja kebun sawit lebih sedikit. 3. Aspek teknis terdiri atas :
a. Tanaman sawit berumur panjang,
b. Proses pascapanen tanaman pangan lebih sulit, dan c. Teknik budidaya sawit lebih mudah.
pemukiman. Karena lahan sawah irigasi relatif lebih produktif dan dibutuhkan biaya relatif besar untuk menimbun jika digunakan untuk pemukiman. Tidak demikian halnya bagi investor, walaupun biaya timbun relatif tinggi, penggunaan lahan untuk kegiatan usaha akan memberikan land rent yang lebih baik. Kedua, konversi lahan sawah dari satu jenis irigasi ke irigasi lainnya yang lebih baik. Hal ini dapat terjadi jika ada program perbaikan irigasi baik yang dilakukan secara swadaya ataupun yang didanai pemerintah. Ketiga, yaitu konversi dari lahan irigasi yang baik ke irigasi yang kurang baik. Hal ini dapat terjadi karena proses alam yang menyebabkan tidak berfungsinya sistem irigasi, atau dilakukan secara sengaja untuk menghindari peraturan yang ada. Seperti dilaporkan oleh Irawan bahwa alih fungsi lahan pertanian ke kawasan pemukiman awalnya sebagian besar berasal dari lahan sawah beririgasi.
Menurut Prayudho (2009) alih fungsi lahan sawah tidak terlepas dari situasi ekonomi secara keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menyebabkan beberapa sektor ekonomi tumbuh dengan cepat sehingga sektor tersebut membutuhkan lahan yang lebih luas. Lahan sawah yang terletak dekat dengan sumber ekonomi akan mengalami pergeseran penggunaan kebentuk lain seperti pemukiman, industri manufaktur dan fasilitas infrastruktur. Hal ini terjadi karena Land Rent persatuan luas yang diperoleh dari aktivitas baru lebih tinggi daripada yang dihasilkan sawah. Suatu lahan sekurang-kurangnya memiliki empat jenis rent, yaitu:
1. Ricardian Rent, menyangkut fungsi kualitas dan kelangkaan lahan. 2. Locational Rent, menyangkut fungsi eksesibilitas lahan.
4. Sosiological Rent, menyangkut fungsi sosial dari lahan.
Umumnya Land Rent yang mencerminkan mekanisme pasar hanya mencakup
Ricardian Rent dan Locational Rent. Ecological Rent dan Sosiological Rent tidak
sepenuhnya terjangkau mekanisme pasar. Hal tersebut sesuai dengan teori lokasi neo
klasik yang menyatakan bahwa substitusi diantara berbagai penggunaan faktor
produksi dimungkinkan agar dicapai keuntungan maksimum. Artinya alih fungsi
lahan sawah terjadi akibat penggantian faktor produksi sedemikian rupa semata-mata
untuk memperoleh keuntungan maksimum (Prayudho, 2009).
Dalam model Ricardiant Rent dijelaskan bahwa adanya alokasi penggunaan lahan ke
penggunaan lain dikarenakan perbedaan Land Rent yang memberikan penggunaan
yang lebih menguntungkan. Oleh karena itu adanya alih fungsi komoditi disebabkan
oleh perbedaan land rent komoditi pengganti yang secara ekonomis dianggap lebih
menguntungkan. Kondisi ini diilustrasikan seperti pada gambar berikut :
Gambar 2.1 Kurva Lahan Biaya Rendah
Gambar 2.2 Kurva Lahan Biaya Menengah
Gambar 2.3 Kurva Lahan Marginal
Dalam model ini dijelaskan adanya alokasi penggunaan lahan dikarenakan adanya perbedaan land rent yang menghasilkan keuntungan lebih. Dan hal ini adalah pemicu alih fungsi lahan komditi yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomis. Pada awalnya lahan yang digunakan untuk usaha tani adalah lahan yang subur, selanjutnya akibat penambahan output maka lahan keringpun ikut digunakan untuk areal pertanaman meskipun dengan biaya yang lebih tinggi. Namun dengan harga jual yang lebih tinggi maka usaha ini dalam jangka panjang menguntungkan. Pada kondisi ekuilibrium maka pada harga equilibrium p*, baik lahan yang berbiaya produksi rendah maupun tinggi menerima keuntungan dalam jangka panjang. Lahan marjinal menerima keuntungan ekonomi sama dengan nol. Lahan-lahan dengan biaya produksi yang lebih tinggi berada di luar pasar karena mereka akan rugi jika berproduksi pada harga p* dan juga sebaliknya. Keuntungan inilah yang disebut sewa Ricardian. Keuntungan ini merupakan penerimaan lahan dengan biaya rendah atau lahan subur (Nicholson, 2000).
Gambar 2.4 Kurva Pasar
P*
S
Q per periode E
D Q*
P*
MC AC
Ketersediaan pangan yaitu ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup aman dan bergizi untuk semua orang dalam suatu negara baik yang berasal dari produksi sendiri, impor, cadangan pangan maupun bantuan pangan. Ketersediaan pangan ini harus mampu mencukupi pangan yang didefinisikan sebagai jumlah kalori yang dibutuhkan untuk kehidupan yang aktif dan sehat (Soekartiwi, 2008).
Akses pangan yaitu kemampuan semua semua rumah tangga dan individu dengan sumberdaya yang dimilikinya untuk memperoleh pangan yang cukup untuk kebutuhan gizinya yang dapat diperoleh dari produksi pangannya sendiri, pembelian ataupun melalui bantuan pangan. Akses rumah tangga dan individu terdiri dari akses ekonomi, fisik dan sosial. Akses ekonomi tergantung pada pendapatan, kesempatan kerja dan harga. Akses fisik menyangkut tingkat isolasi daerah (sararan dan prasarana distribusi), sedangkan akses sosial menyangkut tetang preferensi pangan. Stabilitas pangan merupakan dimensi waktu dari ketahanan pangan yang terbagi dalam kerawanan pangan kronis dan kerawanan pangan sementara. Kerawanan pangan kronis adalah ketidak mampuan untuk memperoleh kebutuhan pangan setiap saat, sedangkan kerawanan pangan sementara adalah kerawanan pangan yang terjadi secara sementara yang diakibatkan karena masalah kekeringan, banjir, bencanam maupun konflik sosial (Soekartawi, 2008).
seperti kepemilikan lahan misalnnya hutan, daerah lahan tambang, dan sebagainya (Soekartawi, 2008).
Perubahan keseimbangan pasar terjadi bila ada perubahaan di sisi permintaan dan atau
penawaran. Jika faktor yang menyebabkan perubahan adalah harga, keseimbangan akan
kembali ke titik awal. Tetapi jika yang berubah adalah faktor-faktor ceteris paribus
seperti teknologi untuk sisi penawaran, atau pendapatan untuk sisi permintaan,
keseimbangan tidak kembali ke titik awal. Harga keseimbangan adalah harga yang terbentuk pada titik pertemuan kurva permintaan dan kurva penawaran. Terbentuknya harga dan kuantitas keseimbangan di pasar merupakan hasil kesepakatan antara pembeli (konsumen) dan penjual (produsen) di mana kuantitas yang diminta dan yang ditawarkan sama besarnya. Jika keseimbangan ini telah tercapai, biasanya titik keseimbangan ini akan bertahan lama dan menjadi patokan pihak pembeli dan pihak penjual dalam menentukan harga (Gilarso, 1993).
a. Jika harga berubah, terjadi kelebihan penawaran yang menyebabkan harga turun
kembali ke P0. Titik keseimbangan tetap E0.
b. Kurva penawaran bergeser ke kanan karena perubahan teknologi. Titik
keseimbangan bergeser dari E0 ke E1.
c. Kurva permintaan bergeser ke kanan karena perubahan pendapatan. Titik keseimbangan bergeser dari E0 ke E1.
(Gilarso, 1993).
Menurut Rangkuti (2008), analisis SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif. Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing. Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :
1. Strengh (S), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.
2. Weakness (W), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.
3. Opportunity (O), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi dimasa depan.
2.3. Kerangka Pemikiran
Luas lahan padi sawah yang pada awalnya cukup luas akhir-akhir ini makin menyusut. Lahan padi sawah yang luas sangat penting untuk memperoleh hasil produksi yang maksimal. Namun seiring dengan alih fungsi lahan yang terjadi maka luas lahan padi sawah semakin menurun. Laju alih fungsi lahan merupakan salah satu akibat yang dapat menimbulkan berkurangnya luas lahan padi sawah yang semula lahan padi sawah tersebut cukup luas namun karena terjadinya laju alih fungsi lahan maka lahan tersebut semakin lama semakin berkurang. Selain itu terdapat beberapa kerugian yang harus diperhitungkan sebagai dampak negatif
Laju alih fungsi dapat dilihat berdasarkan data BPS untuk kemudian disesuaikan
dengan data aktual yang terjadi dilapangan.
mempertimbangkan faktor-faktor tersebut petani terdorong untuk mengalihfungsikan lahan mereka ke komoditi lain maupun ke fungsi lainnya.
Keterangan :
: Pengaruh
: Hubungan
: Kesesuaian Data
Gambar 2.6 Skema Kerangka Pemikiran
2.4. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan landasan teori yang dibuat, maka hipotesis dari penelitian ini adalah : 1. Luas lahan sawah menurun secara signifikan didaerah penelitian.
2. Laju alih fungsi lahan dari sawah menjadi kebun sawit rakyat signifikan di daerah penelitian.
3. Alih fungsi lahan padi sawah memiliki dampak terhadap pencapaian swasembada beras ditingkat kabupaten.
Ketersediaan Pangan/Beras
Swasembada Beras
Positif Negatif
Faktor - faktor yang mempengaruhi a. Faktor Langsung
•Pertumbuhan pembangunan sarana transportasi
•Pertumbuhan lahan untuk industri •Pertumbuhan sarana pemukiman b. Faktor Tidak Langsung
•Perubahan lahan kelapa sawit •Pertumbuhan kepadatan penduduk
Luas Lahan Padi Sawah
Laju Alih Fungsi
Faktor Internal Faktor Eksternal
Kekuatan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) yaitu metode penentuan sampel berdasarkan kriteria atau tujuan tertentu (Hartono, 2004). Penelitian dilakukan di Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Asahan merupakan daerah dengan jumlah lahan padi sawah beralih fungsi yang mengalami peningkatan cukup signifikan dalam 5 tahun (2008-2012).
Tabel 3.1 Luas Lahan Padi yang Beralih Fungsi di Provinsi Sumatera Utara (Ha)
Keterangan : *) Angka Sementara / Preliminary Figures
Tabel 3.2 Luas Lahan Padi Sawah di Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Keterangan : *) Angka Sementara / Preliminary Figures
(Sumber : Statistik Lahan Sawah 2011. Badan Pusat Statistik Kabupaten Asahan)
3.2. Metode Penentuan Sampel
3.3. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series tahunan selama 8 tahun, yaitu periode 2005-2012 dimana data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer mengenai pendapatan petani, faktor-faktor penyebab beralih fungsi, dan komoditi tujuan dari alih fungsi diperoleh dari wawancara langsung dengan petani menggunakan kuisioner di daerah penelitian. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik, Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, buku, media internet dan instansi-instansi lain yang berkaitan dengan data yang digunakan dalam penelitian ini.
3.4. Metode Analisis Data
a) Untuk menyelesaikan tujuan penelitian (1) yaitu menganalisis bagaimana perkembangan luas lahan dan produksi sawah dianalisis secara deskriptif. b) Untuk menyelesaikan tujuan penelitian (2) yaitu menganalisis bagaimana
perkembangan alih fungsi lahan sawah dianalisis secara deskriptif.
STRENGTHS (S) WEAKNESS (W)
ntukan 5-10 faktor kekuatan ekternal
ntukan 5-10 faktor kelemahan ekternal
TREATHS (T) STRATEGI ST STRATEGI WT
ntukan 5-10 faktor ancaman internal
Sebelum melakukan analisis data seperti diatas maka terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan model matrik faktor strategi internal dan matrik faktor strategi eksternal seperti dibawah ini:
Tabel 3.3 Model Matrik Faktor Internal dan Faktor Eksternal
Rating Kategori Faktor Internal Faktor Eksternal
4 Sangat Baik Kekuatan Peluang
3 Baik Kekuatan Peluang
2 Buruk Kelemahan Ancaman
1 Sangat Buruk Kelemahan Ancaman
Total Skor (Rangkuti, 2009)
Dampak Internal/Eksternal Rating Bobot Skorsing (Rating x Bobot)
Kekuatan/Kelemahan: 1.Tingkat keamanan
2.Alih komoditi ke perkebunan 3. Kondisi fisik/tingkat kesuburan 4.Sistem warisan
5.Harga tanah
Total Bobot kekuatan/peluang 1
Peluang/Ancaman : 1.Fluktuasi harga gabah 2.Kapasitas pasokan air 3.Permintaan beras Asahan
4.Permintaan beras Sumatera Utara 5.Peranan pemerintah
Total Bobot Kelemahan/Ancaman 1
Selisih kekuatan-kelemahan / peluang-ancaman
(Rangkuti, 2009).
Berdasarkan tabel di atas, tahapan yang dilakukan dalam menentukan faktor strateginya adalah menentukan faktor-faktor yang menjadi kelemahan-kekuatan serta peluang ancaman dalam kolom 1, lalu bwri bobot masing-masing faktor terdebut yang jumlahnya tidak boleh melebihi total 100 pada kolom 2, kemudian peringkatkan setiap faktor dari 4 (sangat baik) sampai 1 (tidak baik) dalam kolom 3 berdasarkan respon petani terhadap faktor itu. Kemudian yang terakhir, kalikan setiap bobot faktor dengan rating untuk mendapatkan scoring dalam kolom 4. Setelah itu hasil analisis pada tebel matriks faktor strategi internal dan faktor strategi eksternal dipetakan pada matriks posisi.
(OLS) dengan alat bantu SPSS 16, secara sistematis dapat ditulis sebagai berikut :
Y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + b5x5 + ε
Dimana :
Y = Alih Fungsi (m2) A = Nilai konstanta b1 s/d b5 = Koefisien Regresi
X1 = Pertumbuhan Pembangunan Sarana Trasnportasi (m2)
X2 = Pertumbuhan Lahan untuk Industri (m2)
X3 = Pertumbuhan Sarana Pemukiman (m2)
X4 = Pertumbuhan Lahan Perkebunan (m2)
X5 = Pertumbuhan Kepadatan Penduduk (orang/m2)
ɛ = Kesalahan Pengganggu (error)
(Sastrosupadi, 2003).
Uji Asumsi Klasik
1) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinieritas dimaksudkan untuk menghindari adanya hubungan yang linier antar variabel bebas. Menurut Gujarati (1994), multikolinieritas dapat dideteksi dengan beberapa metode, diantaranya adalah dengan melihat:
- Jika nilai toleransi atau VIF kurang dari 0,1 atau nilai VIF melebihi 10 - Terdapat koefisien korelasi sederhana yang mencapai atau melebihi 0,8.
Jika nilai F-hitung melebihi nilai F-tabel dari regresi antar variabel bebas.
2) Uji Heteroskesdasitas
Untuk mengetahui apakah penelitian ini terjadi heteroskesdasitas adalah dengan melihat gambar scatterplot dimana apabila tidak terjadi heteroskesdasitas maka titik akan menyebar tanpa membentuk pola tertentu (menyebar diatas dan dibawah titik 0 sumbu y).
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu /residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan uji F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Cara mendeteksi apakah residual berdistribusi normal apa tidak dalam model regresi adalah sebagai berikut:
- Uji Kolmogorov-Smirnov
Konsep dasar uji adalah dengan membandingkan distribusi data yang akan diuji normalitasnya dengan distribusi normal baku. Output SPSS akan menunjukkan besar nilai Kolmogorov-Smirnov dengan kriteria sebagai berikut:
a) Jika signifikansi > α = 0,05: data residual model berdistribusi normal b) Jika signifikansi ≤ α = 0,05: data residual model tidak berdistribusi
Uji Hipotesis
Semua data yang telah diperoleh terlebih dahulu ditabulasi yang kemudian dianalisis dengan menggunakan alat uji yang sesuai dengan hipotesis yang diajukan.
1. Untuk menguji pengaruh variabel bebas secara serempak terhadap pendapatan digunakan uji F.
Dengan kriteria uji sebagai berikut: Jika Fhitung < Ftabel : H0 tolak ; H1 terima
Jika Fhitung≥ Ftabel : H1 tolak ; H0 terima
H0 terima artinya variabel bebas secara serempak berpengaruh nyata
terhadap variabel terikat.
H1 terima artinya variabel bebas secara serempak tidak berpengaruh
nyata terhadap variabel terikat.
2. Untuk menguji pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap pendapatan digunakan uji t
Dengan kriteria uji sebagai berikut: Jika thitung < ttabel : H0 tolak ; H1 terima
Jika thitung≥ ttabel : H1 tolak ; H0 terima
H0 terima artinya variabel bebas secara parsial berpengaruh nyata
terhadap variabel terikat.
H1 terima artinya variabel bebas secara parsial tidak berpengaruh nyata
3.5. Definisi dan Batasan Operasional
Definisi dan batasan operasional dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman istilah - istilah yang terdapat dalam penelitian ini.
3.5.1. Definisi
1) Luas lahan sawah luas lahan yang dipakai untuk komoditi padi dimana termasuk lahan sawah teknis dan non teknis yang dihitung dalam satuan Ha. 2) Produksi padi sawah adalah total produksi padi di Kecamatan Setia Janji,
Kabupaten Asahan yang dihitung dalam ton.
3) Alih fungsi lahan padi sawah adalah peralihan fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit, lahan untuk industri, lahan untuk pemukiman, dan bangunan.
4) Ketersediaan pangan/beras adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.
5) Swasembada beras adalah kemampuan untuk mengadakan sendiri kebutuhan pangan masyarakat dengan melakukan realisasi dan konsistensi kebijakan.
6) Nilai historis adalah kebudayaan atau kebiasaan yang digunakan oleh suatu daerah dalam pembagian asset yang dimiliki dengan membagi-bagi kepada keturunannya.
8) Tingkat pendapatan adalah suatu indikator untuk melihat pencapaian pendapatan penduduk dalam pemenuhan kebutuhannya.
3.5.2. Batasan Operasional
Adapun batasan operasional dari penelitian ini adalah :
1) Daerah penelitian adalah Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
2) Waktu penelitian dilaksanakan pada tahun 2013.
3) Pemanfaatan lahan, luas lahan pertanian dan produksi padi menggunakan data sekunder 8 tahun mulai dari tahun 2005 - 2012 Kabupaten Asahan. 4) Luas lahan pertanian dibatasi hanya pada lahan padi sawah yang beralih
BAB IV
DESKRIPSI WILAYAH DAN KARAKTERISTIK SAMPEL
4.1 Deskripsi Wilayah
4.1.1 Luas Daerah dan Letak Geografis Kecamatan Setia Janji
Kecamatan Setia Janji merupakan salah satu dari 25 (dua puluh lima) kecamatan yang ada di Kabupaten Asahan berada di wilayah Asahan atas ± 25 Km dari Ibu Kota Kabupaten Asahan dengan luas wilayah ± 14.716 Ha terdiri dari 5 Desa, 45 Dusun, dengan letak geografis 2053’49”LU - 2058’22"LU dan 99026’00”BT - 99032’36"BT, dengan temperature 200C – 280C, ketinggian dari permukaan laut 16 – 72 meter dpl. Terdiri dari musim kemarau dan musim hujan, dengan keadaan tanah liat merah, tanah liat putih, dan pasir halus. Keadaan alam terdiri dari dataran rendah sedikit berbukit.
Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Setia Janji terdiri dari :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pulo Bandring - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Buntu Pane
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tinggi Raja/Pulo Bandring - Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Simalungun
Kecamatan Setia Janji terdiri dari 5 (lima) Desa, dengan perincian sebagai berikut: 1. Desa Sei Silau Barat
4. Desa Bangun Sari 5. Desa Urung Pane
4.1.2 Luas Daerah dan Letak Geografis Desa Sei Silau Barat
Desa Sei Silau Barat merupakan salah satu dari 5 (lima) Desa yang ada di Kecamatan Setia Janji. Desa Sei Silau Barat merupakan Ibu Kota Kecamatan Setia Janji dengan luas wilayah ± 3.725 Ha yang terdiri dari 9 (sembilan) Dusun, dengan temperature 200C – 280C, ketinggian dari permukaan laut 16 – 72 meter dpl. Terdiri dari musim kemarau dan musim hujan, dengan keadaan tanah liat merah, tanah liat putih, dan pasir halus. Keadaan alam terdiri dari dataran rendah sedikit berbukit.
Adapun batas-batas wilayah Desa Sei Silau Barat terdiri dari : - Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Urung Pane - Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sei Silau Tua
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Urung Pane/Kecamatan Buntu Pane - Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Silau Maraja
4.1.3 Luas Daerah dan Letak Geografis Desa Silau Maraja
liat merah, tanah liat putih, dan pasir halus. Keadaan alam terdiri dari dataran rendah sedikit berbukit.
Adapun batas-batas wilayah Desa Silau Maraja terdiri dari : - Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pulo Bandring - Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bangun Sari - Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sei Silau Barat - Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Simalungun
4.1.4 Luas Daerah dan Letak Geografis Desa Sei Silau Tua
Desa Sei Silau Tua merupakan salah satu dari 5 (lima) Desa yang ada di Kecamatan Setia Janji. Desa Sei Silau Tua berada ± 10 Km dari Ibu Kota Kecamatan Setia Janji dengan luas wilayah ± 3.549 Ha terdiri dari 7 (tujuh) Dusun, dengan temperature 200C – 280C, ketinggian dari permukaan laut 16 – 72 meter dpl. Terdiri dari musim kemarau dan musim hujan, dengan keadaan tanah liat merah, tanah liat putih, dan pasir halus. Keadaan alam terdiri dari dataran rendah sedikit berbukit.
4.1.5 Luas Daerah dan Letak Geografis Desa Bangun Sari
Desa Bangun Sari merupakan salah satu dari 5 (lima) Desa yang ada di Kecamatan Setia Janji. Desa Bangun Sari berada ± 7 Km dari Ibu Kota Kecamatan Setia Janji dengan luas wilayah ± 2.350 Ha terdiri dari 9 (sembilan) Dusun, dengan temperature 200C – 280C, ketinggian dari permukaan laut 16 – 72 meter dpl. Terdiri dari musim kemarau dan musim hujan, dengan keadaan tanah liat merah, tanah liat putih, dan pasir halus. Keadaan alam terdiri dari dataran rendah sedikit berbukit.
Adapun batas-batas wilayah Desa Silau Maraja terdiri dari : - Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Simalungun - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Buntu Pane - Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sei Silau Barat - Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Buntu Pane
4.1.6 Luas Daerah dan Letak Geografis Desa Urung Pane
Adapun batas-batas wilayah Desa Urung Pane terdiri dari :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pulo Bandring
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pulo Bandring/Buntu Pane - Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pulo Bandring
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sei Silau Barat
Akan tetapi di desa Urung Pane tidak terdapat tanaman padi sawah.
4.1.7 Kondisi Biofisik Lahan
Kecamatan Setia Janji mempunyai luas lahan 14.716 Ha. Lahan tersebut terdiri dari pemukiman, lahan pertanian sawah, lahan pertanian non-sawah, perkebunan (kelapa sawit dan karet), dll. Gambaran luas wilayah Kecamatan Setia Janji berdasarkan jenis penggunaan lahan dapat dilihat ditabel berikut:
Tabel 4.1 Distribusi Jenis Penggunaan Lahan di Kecamatan Setia Janji Tahun 2012.
No. Jenis Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
1 Pemukiman 160 1.08
2 Lahan pertanian sawah 450 3.06 3 Lahan pertanian non-sawah 976 6.63
4 Perkebunan 7.500 50.97
5 Dll 5.630 38.26
Jumlah 14.716 Ha 100 %
Sumber: Kantor Camat Setia Janji Tahun 2012
untuk komoditi padi sawah dan 976 Ha penggunaan lahan dialokasikan untuk lahan pertanian non-sawah seperti tanaman holtikultura.
4.1.8 Kondisi Sosial, Ekonomi dan Budaya
Kondisi sosial penduduk Kecamatan Setia Janji sangat kuat, dimana mereka menganggap tetangga atau penduduk setempat seperti keluarga sendiri. Masyarakat masih menggunakan sistem gotongroyong, tali silaturahmi antar masyarakat terjalin dengan erat. Pada umumnya masyarakat berkumpul di warung-warung baik sebelum atau sesudah pergi kelahannya masing-masing. Perekonomian masyarakat sebagian bear berasal dari pertanian. Kebudayaan yang mendominasi adalah kebudayaan Jawa.
Data dari tahun 2012, tercatat jumlah penduduk Desa Perjuangan sebanyak 12.151 jiwa. Yang terdiri dari 6.168 jiwa laki-laki dan 5.983 jiwa perempuan. Dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK), Kecamatan Setia Janji dihuni oleh 3.338 Kepala Keluarga. Keadaan jumlah penduduk Kecamatan Setia Janji dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.2 Distribusi Jumlah Penduduk di Kecamatan Setia Janji Tahun 2012.
No Nama Desa Laki-laki Perempuan Total
1 Sei Silau Barat 1.876 1.683 3.559
2 Urung Pane 1.713 1.713 3.430
3 Silau Maraja 896 896 1.808
4 Sei Silau Tua 754 754 1.495
5 Bangun Sari 929 929 1.859
Jumlah 6.168 Jiwa 5.983 Jiwa 12.151 Jiwa
Pendidikan merupakan hal utama bagi penduduk untuk dapat mengembangkan pengetahuan dan sumber manusia. Dalam proses pendidikan dapat diperoleh terapan dari nilai-nilai moral dan etika serta pengetahuan untuk mencapai tujuan pembangunan. Pendidikan terdiri dari dua jenis yaitu pendidikan formal dan pendidikan non-formal. Pendidikan formal didapat masyarakat dari instansi resmi seperti sekolah maupun universitas yang bersifat resmi sedangkan pendidikan non-formal diperoleh masyarakat dari pengalaman-pengalaman, penyuluhan-penyuluhan, adat istiadat maupun tradisi masyarakat setempat. Pendidikan non formal ini bersifat tidak resmi yang dapat diperoleh dari siapa saja. Distribusi penduduk menurut tingkat pendidikan formal di Kecamatan Setia Janji dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Setia Janji Tahun 2012.
No Tingkat Pendidikan Formal
Sumber: Kantor Camat Setia Janji Tahun 2012
sedikit jumlahnya. Penduduk yagn melanjutkan ke pendidikan akademi (D1-D3) berjumlah 271 jiwa (2,22%) dan sarjan (S1-S3) berjumlah 186 jiwa (1,53%).
Pada umumnya sumber mata pencaharian penduduk di Kecamatan Setia Janji adalah sektor pertanian. Hal ini didukung oleh luas lahan pertanian yang luas. Komposisi penduduk Desa Perjuangan menurut mata pencaharian dapat dilihat pada tabel.
Tabel 4.4 Distribusi Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Setia Janji Tahun 2012.
No Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Persenasi (%)
1 Pegawai Negeri Sipil 361 6.06
2 Pegawai Swasta 224 3.77
3 Wiraswasta 242 4.06
4 Petani 4.784 80.35
5 Pertukangan 201 3.38
6 Pensiunan 142 2.38
Jumlah 5954 100 %
Sumber: Kantor Camat Setia Janji Tahun 2012
Dari tabel 4.4 dapat diketahui bahwa mayoritas mata pencaharian penduduk di Kecamatan Setia Janji adalah petani yaitu 4.784 jiwa (80,35 %). Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas perekonomian didominasi oleh sektor pertanian.
kebutuhan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan maupun keagamaan. Keadaan sarana dan prasarana dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Sarana dan Prasarana di Kecamatan Setia Janji Tahun 2012.
No Keterangan Jumlah (unit)
1 PAUD/ TK 4
2 Sekolah Dasar 11
3 SMP 4
4 SMA 3
5 Puskesmas 1
6 Puskesmas pembantu 3
7 Posyandu 20
8 Gereja 12
9 Mesjid 17
10 Langgar 24
Jumlah 99
Sumber: Kantor Camat Setia Janji Tahun 2012
Dari tabel 4.5 dapat diketahui sarana pendidikan formal yang kurang memadai dimana terdapat PAUD/ TK, SD, SMP, dan SMA yang jumlahnya sangat minim. Tetapi kebutuhan kesehatan, kebutuhan umat beragama, dan kebutuhan yang lain cukup memadai.
4.2 Karasteristik Petani Sampel
Tabel 4.6 Karasteristik Petani Sampel di Kecamatan Setia Janji Tahun 2012.
No Karasteristik Petani Rentang Rataan
1 Luas lahan (1,5 – 3,75) Rantai 1,98 Rantai
2 Umur (31 – 65) tahun 47,25 tahun
3 Tingkat Pendidikan (6 – 16) tahun 8,925 tahun
4 Lama Bertani (7 - 32) tahun 20,1 tahun
5 Jumlah Tanggungan (1 – 8) jiwa 5 jiwa
5 Pajak Tanah/Ha Rp (12.500 – 20.000) Rp 16.237 Sumber: Analisi Data Primer Lampiran 1
Dari tabel 4.6 dapat diketahui bahwa luas lahan petani sampel yaitu berkisar antara 1,5 – 3,75 Rantai dengan rataan 1,98 Rantai. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa luas lahan yang diusahakan oleh petani responden sudah cukup luas.
Umur petani sampel berkisar antara 31 – 65 tahun dengan rataan 47,25 tahun. Dari rataan dapat dilihat bahwa petani sampel masih berada dalam usia produktif yang masih memiliki tenaga kerja potensial untuk mengusahakan usahatani padi sawah.
Tingkat pendidikan petani sampel berkisar 6 – 16 tahun dengan rataan 8,925 tahun. Dari rataan dapat dilihat bahwa petani sampel mengikuti tingkat pendidikan hingga jenjang SMP. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh petani padi sawah.
Jumlah tanggungan petani sampel berkisar antara 1 – 8 jiwa dengan rataan 5 jiwa. Dari rataan dapat dilihat bahwa petani sampel menunjukkan jumlah tanggungan yang cukup bervariasi antara 1 - 8 jiwa.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Perkembangan Luas Lahan dan Produksi Padi Sawah di Daerah Penelitian Selama 8 Tahun Terakhir
Dari hasil penelitian yang dicantumkan dalam lampiran 2 diketahui bahwa perkembangan luas lahan dan produksi padi sawah di kecamatan Setia Janji mengalami penurunan. Luas lahan padi sawah pada tahun 2005, 2006, dan 2007 seluas 5.275.000 m2, pada tahun 2008,2009, dan 2010 seluas 4.800.000 m2, pada tahun 2011 dan 2012 seluas 4.500.000 m2.
Dari penjelasan diatas, luas lahan padi sawah pada tahun 2005 sampai dengan 2007 adalah sama. Namun luas lahan padi sawah pada tahun 2008 mengalami penurunan hingga tahun 2012.
Demikian juga dengan produksi padi sawah di Kecamatan Setia Janji mengalami penurunan. Produksi padi sawah pada tahun 2005, 2006, dan 2007 sebesar 3.583 hingga 3.652 ton, sedangkan pada tahun 2008,2009, dan 2010 sebesar 2872 hingga 2899 ton. Jumlah produksi padi terus mengalami penurunan pada tahun 2011 sebesar 2.636 ton dan 2012 2.547 ton.