• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH IMPLEMENTASI MODEL PROJECT BASED LEARNING TERHADAP MINAT BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 GUBUG TAHUN AJARAN 2014 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH IMPLEMENTASI MODEL PROJECT BASED LEARNING TERHADAP MINAT BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 GUBUG TAHUN AJARAN 2014 2015"

Copied!
238
0
0

Teks penuh

(1)

LEARNING TERHADAP MINAT BELAJAR SEJARAH SISWA

KELAS X SMA NEGERI 1 GUBUG TAHUN AJARAN 2014/2015

SKRIPSI

Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sejarah

Oleh: Widowati 3101411082

JURUSAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

(2)
(3)
(4)

iv

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat di dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Juni 2015

Widowati

(5)

v

Motto

Sesulit apapun ujian yang kita hadapi, Tuhan selalu punya jalan keluar yang terbaik bagi kita.

Persembahan

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas terselesaikannya skripsi ini, karya sederhana ini penulis persembahkan untuk:

 wanita terhebat dalam hidupku, Ibu Sunarti, yang tak pernah putus doa serta usaha untuk putri kecilmu, serta pria tangguh dalam hidupku, Bapak Yarkoni, terimaksih atas cinta, peluh keringat, dan kucuran motivasi dalam hidupku.  kakakku tersayang, Suciati dan kakak iparku Supriyadi, S.Pd., serta bintang

kecilnya Muhammad Maulna Aslam, terimakasih atas dukungan, motivasi dan kasih sayang yang selalu diberikan untukku.

 adikku tercinta, Muhammad Abdul Sabar, terimakasih atas semua pengorbanan, cinta, serta dukunganmu untukku meraih impian.

 teman terindahku, Yuprahidin, terimakasih atas doa, cinta, semangat, dukungan serta motivasi di setiap hariku.

 keluarga besar Wisma Doa Ibu, terimakasih atas persabatan dan kekeluargaan yang begitu indah selama perjalanan di Unnes.

(6)

vi

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga skripsi yang berjudul Pengaruh Implementasi Model Project-Based Learning terhadap Minat Belajar Sejarah Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Gubug

Tahun Ajaran 2014/2015 ini dapat terselesaikan.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari kesulitan dan hambatan, namun berkat bantuan dari berbagai pihak, skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., Rektor Universitas Negeri Semarang yang memberikan kesempatan untuk belajar di Universitas Negeri Semarang.

2. Dr. Subagyo, M.Pd., Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang yang memberikan motivasi penulis.

3. Arif Purnomo, S.Pd., S.S., M.Pd., Ketua Jurusan Sejarah yang memberikan motivasi dan inspirasi penulis.

4. Mukhamad Shokheh, S.Pd., M.A., pembimbing yang tidak lelah memberikan bimbingan, petunjuk, nasehat, dan arahan bagi penulis agar menyelesaikan skripsi ini.

5. Dra. Sri Puji Astuti, Kepala SMA Negeri 1 Gubug yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis di SMA Negeri 1 Gubug.

(7)

vii

7. Peserta didik kelas X MIA 1, X MIA 5, dan X MIA 6 SMA Negeri 1 Gubug yang bersedia membantu dalam kelancaran penelitian.

8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga kebaikan dan bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dari Allah SWT dan mudah-mudahan skripsi ini dapat memberikan makna dan manfaat bagi pembaca.

Semarang, Juni 2015 Penyusun

Widowati

(8)

viii

2014/2015. Skripsi, Jurusan Sejarah, FIS, Universitas Negeri Semarang.

Pembimbing: Mukhamad Shokheh, S.Pd., M.A., 92 halaman.

Kata kunci:Pengaruh, Model Project-Based Learning, Minat Belajar

Studi pendahuluan yang dilakukan di SMA Negeri 1 Gubug menunjukkan bahwa minat belajar siswa kelas X cukup rendah, sehingga perlu dilakukan pembelajaran yang lebih variatif untuk meningkatkan minat belajar siswa. Salah satu model yang dapat diterapkan adalah model Project-Based Learning.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Project-Based Learning pada pembelajaran sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gubug, mengetahui pengaruh penerapan model Project-Based Learning terhadap minat belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gubug, serta mengetahui dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik model Project-Based Learning mampu meningkatkan minat belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gubug.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif jenis eksperimen dengan desain True eksperimental design bentuk Pretest-posttest Control Group Design yaitu menempatkan subjek penelitian ke dalam dua kelompok (eksperimen dan kontrol) yang dipilih secara acak. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 Gubug tahun ajaran 2014/2015. Pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling dan dipilih siswa kelas X MIA 5 dan X MIA 6 sebagai sampel penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi, dan angket. Analisis data penelitian dilakukan dalam dua hal yaitu analisis instrumen dan analisis data penelitian. Analisis instrumen meliputi uji validitas dan uji reliabilitas angket uji coba, sedangkan analisis data penelitian meliputi uji normalitas, uji homogenitas, uji perbedaan dua rata-rata data pretest-posttest dan uji regresi untuk data pretest-posttest.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui penerapan model Project-Based Learning meliputi tahap penyajian pertanyaan esensial, perencanaan, penjadwalan, pembuatan proyek, monitoring, penilaian, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai posttest kelas eksperimen yaitu 78,85 dan kelas kontrol 69,27. Hasil uji regresi menunjukkan nilai t = 10,398 dan ttabel = 2,022 karena thitung >

ttabel, maka regresi berarti. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model

Project-Based Learning berpengaruh terhadap minat belajar siswa. Koefisien determinasinya diperoleh = 0,740. Hal ini berarti skor minat belajar siswa 74,0 % dipengaruhi model Project-Based Learning dan sisanya 26,0% dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. Aspek-aspek yang dicapai dalam pembelajaran Project-Based Learning meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pencapaian aspek kognitif mencapai 13,90, aspek afektif mencapai 42,50%, dan aspek psikomotorik mencapai 40%.

(9)

ix

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN KELULUSAN ... iii

PERNYATAAN ... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

PRAKATA ... vi

D. Sistematika Penulisan Skripsi ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12

A. Kajian Pustaka ... 12

B. Landasan Teori ... 16

C. Kerangka Berpikir ... 39

D. Hipotesis ... 43

BAB III METODE PENELITIAN... 44

A. Pendekatan Penelitian ... 44

B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 48

C. Populasi Penelitian ... 48

(10)

x

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 60

A. Hasil Penelitian ... 60

B. Pembahasan ... 86

BAB V PENUTUP ... 91

A. Simpulan ... 91

B. Saran ... 92

DAFTAR PUSTAKA ... 93

(11)

xi

Tabel 3.2 Daftar Siswa Kelas X ... 49

Tabel 3.3 Hasil Perhitungan Validitas Angket Uji Coba ... 54

Tabel 4.1 Gambaran Umum Hasil Skor Angket Pre Test ... 70

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Data Pre Test ... 70

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Data Pre Test ... 71

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Uji Perbedaan Dua Rata-rata Data Pre Test ... 72

Tabel 4.5 Gambaran Umum Hasil Skor Angket Post Test ... 73

Tabel 4.6 Gambaran Umum Hasil Lembar Aktivitas Siswa ... 74

Tabel 4.7 Gambaran Umum Hasil Lembar Pengamatan Sikap ... 75

Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Data Post Test ... 76

Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Data Post Test ... 77

Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Uji Signifikansi (uji t) Data Post Test ... 78

Tabel 4.11 Uji Regresi (Coefficients)... 79

Tabel 4.12 Uji Regresi (ANOVA) ... 79

Tabel 4.13 Uji Regresi (Correlations) ... 79

Tabel 4.14 Uji Regresi (Model Summary) ... 80

(12)
(13)

xiii

2. Daftar Siswa Kelas Kontrol (X MIA 6) ... 98

3. Silabus ... 99

4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen ... 102

5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol ... 129

6. Kisi-kisi Angket Uji Coba... 142

7. Angket Uji Coba ... 143

8. Tabel Perhitungan Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian... 155

9. Kisi-kisi Angket Pre Test ... 157

10. Angket Pre Test ... 158

11. Hasil Perhitungan Uji Normalitas Pre Test ... 165

12. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Pre Test ... 167

13. Hasil Perhitungan Uji Perbedaan Dua Rata-rata Pre Test... 168

14. Kisi-kisi Angket Post Test ... 170

15. Angket Post Test ... 171

16. Rekapitulasi Data Hasil Penelitian ... 178

17. Hasil Perhitungan Uji Normalitas Post Test ... 179

18. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Post Test ... 181

19. Hasil Perhitungan Uji Signifikansi (Uji t) Data Post Test ... 182

20. Kisi-kisi Angket Regresi Pengaruh Implementasi Model Project-Based Learning terhadap Minat Belajar Sejarah Siswa ... 184

21. Angket Regresi Pengaruh Implementasi Model Project-Based Learning terhadap Minat Belajar Sejarah Siswa Kelas X SMA N 1 Gubug Tahun Ajaran 2014/2015 ... 185

22. Rekapitulasi Data Analisis Regresi Antara Implementasi Model Project-Based Learning terhadap Minat Belajar Sejarah pada Siswa ... 195

23. Uji Regresi ... 196

24. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Kelas Eksperimen (X MIA 5) ... 199

25. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelas Eksperimen ... 201

26. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Kelas Kontrol (X MIA 6) ... 202

27. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelas Kontrol ... 204

(14)

xiv

32. Hasil Pre Test dan Post Test Kelas Eksperimen ... 211

33. Hasil Pre Test dan Post Test Kelas Kontrol ... 214

34. Lembar Pengamatan Kegiatan Guru Kelas Eksperimen ... 217

35. Lembar Pengamatan Kegiatan Guru Kelas Kontrol ... 220

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan pengajaran, bimbingan dan latihan baik di sekolah dan di luar sekolah yang bertujuan untuk memberikan kecakapan hidup bagi peserta didik mampu memainkan peranannya dalam kehidupan dimasa sekarang dan masa yang akan datang (Hamalik, 2013:2).

Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik (Trianto, 2011: 1). Salah satu usaha nyata untuk mewujudkan pendidikan yang optimal adalah melalui pembelajaran di sekolah. Sekolah merupakan lingkungan pendidikan formal, karena di sekolah dilaksanakan serangkaian kegiatan pendidikan terencana dan terorganisasi termasuk kegiatan pembelajaran di kelas.

(16)

cerdas, diharapkan menghasilkan generasi yang bermoral, berkepribadian dan mengenal sejarah bangsanya melalui pembelajaran sejarah.

Namun dalam kenyataannya, hasil penelitian dari Suryadi (2012:79) menunjukkan bahwa terdapat problematika dalam pembelajaran sejarah yang diklasifikasikan sebagai berikut : pertama, marginalisasi pembelajaran sejarah oleh pemerintah dalam struktur kurikulum dan marginalisasi oleh masyarakat; kedua, terkait materi pembelajaran sejarah; ketiga, terkait kompetensi guru sejarah yang kurang memadai.

Permasalahan dalam pembelajaran sejarah muncul karena: (1) terkait marginalisasi pembelajaran sejarah oleh pemerintah, Wasino dalam Suryadi (2012:80) menjelaskan bahwa sistem pendidikan di Indonesia memang cenderung mementingkan pelajaran tertentu terutama yang ujikan secara nasional. Imbas dari tidak diujikan secara nasional maka otomatis muncul persepsi baik dari siswa, sekolah maupun masyarakat bahwa pembelajaran sejarah adalah sesuatu yang kurang penting karenanya sering disepelekan ketika diajarkan di sekolah, (2) adanya paradigma berpikir bahwa belajar sejarah sebatas pada hafalan tanggal, nama dan tokoh pada masa lalu sehingga siswa tidak tertarik mengikuti pelajaran sejarah di sekolah, (3) model pembelajaran sejarah yang digunakan guru kurang menantang daya intelektual peserta didik karena mata pelajaran sejarah diajarkan dengan satu metode andalan ceramah, sehingga sejarah identik dengan ceramah, seolah-olah pembelajaran sejarah mentabukan inovasi dalam desain pembelajaran.

(17)

cukup rendah. Rendahnya minat belajar siswa terlihat dari ketidaktertarikan siswa selama proses pembelajaran. Guru sejarah kelas X SMA Negeri 1 Gubug ibu Dra. Maria Sri Gunarti mengatakan bahwa saat mengumpulkan tugas harian ada beberapa siswa yang tidak mengumpulkan, seringkali siswa juga tidak tepat waktu dalam mengumpulkan tugas, ketika mengerjakan soal kadangkala siswa saling mencontek, dan siswa sering mengantuk ketika mengikuti pembelajaran sejarah terutama pada jam-jam siang. Hal ini didukung pendapat dari Sheila Raditya salah satu siswa kelas X MIA 5 SMA Negeri 1 Gubug yang mengatakan bahwa ia tidak suka mengikuti pembelajaran sejarah, karena selama pembelajaran sejarah guru hanya ceramah dan meminta siswa mengerjakan soal-soal yang ada di LKS. Melihat permasalahan yang muncul dalam pembelajaran sejarah yang dipaparkan di atas dapat digarisbawahi bahwa pelaksanaan pembelajaran sejarah di sekolah belum dapat berlangsung dengan optimal, sehingga tujuan dari pembelajaran sejarah tidak dapat terlaksana dengan baik yang sesuai dengan harapan.

(18)

Model pembelajaran yang juga dapat dikembangkan dalam pembelajaran sejarah adalah model Project-Based Learning. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Syaifudin (2013) yang menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek efektif meningkatkan minat belajar dan hasil belajar siswa. Model pembelajaran berbasis proyek ini merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam merancang tujuan pembelajaran untuk menghasilkan produk atau proyek yang nyata, sehingga dapat meningkatkan minat belajar siswa.

Hasil penelitian lain dari Dewi, Garminah dan Pudjawan (2012) menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis proyek berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa dibandingkan dengan model konvensional. Meningkatnya hasil belajar siswa akan mendorong peningkatan minat belajar siswa pula, karena dalam pelaksanaan model Project-Based Learning dapat membangun kamandirian dan kreativitas siswa. Selain itu,

Sutirman (2013) berpendapat melalui pembelajaran berbasis proyek siswa dilatih untuk terbiasa bertanggungjawab mewujudkan apa yang telah direncanakan sesuai dengan minat dan kemampuannya.

(19)

nyata. Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang sangat besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa.

Project-Based Learning merupakan suatu model yang cocok untuk

pendidikan yang merespon isu-isu peningkatan kualitas pendidikan. Berbeda dengan model-model pembelajaran tradisional yang umumnya bercirikan praktik kelas yang berdurasi pendek dan aktivitas pembelajaran berpusat pada guru, model Project-Based Learning menekankan kegiatan belajar yang relatif berdurasi panjang, berpusat pada siswa, dan terintegrasi dengan praktik dan isu-isu dunia nyata. Penerapkan model pembelajaran seperti ini diharapkan dapat menarik minat belajar sejarah siswa.

Berdasarkan pemaparan di atas, model Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang efektif untuk diterapkan pada pembelajaran sejarah. Berkaitan dengan hal tersebut, maka peneliti mengadakan suatu penelitian dengan judul: “Pengaruh Implementasi Model Project-Based Learning

terhadap Minat Belajar Sejarah Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Gubug

Tahun Ajaran 2014/2015”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang hendak diteliti dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan model Project-Based Learning pada pembelajaran sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gubug ?

(20)

3. Dalam hal apakah pengaruh penerapan model Project-Based Learning mampu meningkatkan minat belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gubug?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan, maka tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mendeskripsikan penerapan model Project-Based Learning pada pembelajaran sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gubug.

2. Untuk mengetahui pengaruh penerapan model Project-Based Learning terhadap minat belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gubug.

3. Untuk mengetahui dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik model Project-Based Learning mampu meningkatkan minat belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gubug.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Diharapkan penelitian ini bermanfaat sebagai bahan referensi pembaca, serta sebagai alternatif dalam pembelajaran sejarah.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberikan manfaat berupa : a. Bagi siswa

(21)

membantu mereka untuk berpikir kritis, dan mampu meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran sejarah.

b. Bagi Guru

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru-guru sejarah untuk menerapkan model Project-Based Learning dalam pembelajaran sejarah dan menentukan model pembelajaran sejarah selanjutnya.

c. Bagi Sekolah

Diharapkan penelitian ini berguna sebagai bahan pertimbangan selanjutnya bagi sekolah untuk menggunakan model Project-Based Learning sebagai model pembelajaran sejarah.

d. Bagi Pemerintah

Memberikan gambaran yang nyata tentang kondisi pembelajaran sejarah serta masukan tentang kebijakan pendidikan yang ideal.

E. Batasan Istilah

Agar tidak terjadi salah pengertian terhadap judul skripsi ini dan agar tidak meluas sehingga skripsi ini tetap pada pengertiannya yang dimaksud dalam judul maka perlu adanya batasan istilah.

1) Pengaruh

Pengaruh merupakan suatu daya yang ada atau timbul dari sesuatu yang ikut membentuk watak atau perbuatan seseorang (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008: 1150).

(22)

Bila ditinjau dari pengertian di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa pengaruh adalah suatu daya yang ada atau timbul dari suatu hal yang memiliki akibat atau hasil dan dampak yang ada. Pengaruh yang dimaksud dalam penelitian ini adalah daya dorong yang timbul dari penerapan model Project-Based Learning pada pembelajaran sejarah sehingga dapat

meningkatkan minat belajar siswa pada Mata Pelajaran sejarah.

2) Model Pembelajaran

Menurut Joyce (Ngalimun, 2013: 7) model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Setiap model pembelajaran mengarah kepada desain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu (Mulyatiningsih, 2010)

(23)

3) Project-Based Learning

Project-Based Learning merupakan model pembelajaran yang

melibatkan siswa secara aktif dalam merancang tujuan pembelajaran untuk menghasilkan proyek yang nyata. Proyek-proyek yang dibuat oleh siswa mendorong berbagai kemampuan, tidak hanya pengetahuan atau masalah teknis, tetapi juga keterampilan praktis seperti mengatasi informasi yang tidak lengkap; menentukan tujuan sendiri; dan kerjasama kelompok (Sutirman, 2013).

Project-Based Learning merupakan strategi belajar mengajar yang melibatkan siswa untuk mengerjakan sebuah proyek yang bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat (Sani, 2014:172).

Menurut penulis, Project-Based Learning merupakan sebuah pembelajaran dengan aktivitas jangka panjang yang melibatkan siswa dalam merancang, membuat, dan menampilkan produk untuk mengatasi permasalahan dunia nyata.

4) Minat Belajar

Wibowo dan Rodliyah (2010) mengatakan dalam penelitiannya bahwa minat belajar adalah kecenderungan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

(24)

Menurut penulis, minat belajar adalah ketertarikan seseorang untuk melakukan suatu hal untuk memperoleh pengalaman baru dalam bentuk perubahan tingkah laku akibat adanya pengetahuan.

F. Sistematika Penulisan Skripsi

Skripsi ini disusun dalam tiga bagian utama yaitu bagian awal skripsi (prawacana), bagian pokok skripsi, dan bagian akhir skripsi. Ketiga bagian skripsi ini menggambarkan garis besar sistematika penulisan skripsi yang akan disusun peneliti dengan uraian sebagai berikut:

Bagian pertama adalah, bagian awal skripsi. Bagian awal skripsi ini terdiri

atas sampul berjudul, lembar berlogo, judul dalam, persetujuan pembimbing, pengesahan, pernyataan (keaslian karya ilmiah), motto dan persembahan, prakata, sari, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran. Bagian awal skripsi ini juga memiliki peraturan penulisan tersendiri yang berbeda dengan bagian-bagian yang lainnya.

Bagian Kedua adalah bagian pokok skripsi. Bagian pokok skripsi ini

(25)

teknik pengumpulan data, objektivitas serta keabsahan data. Pada bab keempat yaitu hasil penelitian dan pembahasan, bab ini menguraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan penelitian. Pada bab terakhir adalah Penutup, bab ini menguraikan tentang simpulan dan saran yang merupakan jawaban dari masalah penelitian atau jawaban dari tujuan penelitian.

Bagian ketiga dari sistematika penulisan skripsi ini adalah bagian akhir

(26)

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

Berdasarkan penelusuran peneliti dapat disimpulkan bahwa penerapan model Project-Based Learning pada pembelajaran sejarah dan pengaruhnya terhadap minat belajar siswa, belum pernah dikaji dalam penelitian sebelumnya atau pun dalam referensi lainnya. Adapun referensi tersebut antara lain:

Penelitian terdahulu oleh Nasrullah (2014) dalam Jurnal yang berjudul

“Kontribusi Model Pembelajaran Berbasis Proyek terhadap Faktor Antusiasme, Intensitas, dan Kecakapan dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas II/3

SMPN 2 Makassar” menyimpulkan bahwa kontribusi model pembelajaran

berbasis proyek, bukan hanya meningkatkan antusiasme, intensitas dan kecakapan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, tetapi juga membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman terhadap materi pelajaran yang diberikan. Namun, dalam hal ini peneliti belum menerapkan prosedur pembelajaran yang benar dalam melaksanakan model pembelajaran berbasis proyek, karena proyek yang dibuat siswa dalam pembelajaran tidak menyelesaikan permasalahan masyarakat atau permasalahan kontekstual yang sesuai dengan karakteristik model pembelajaran berbasis proyek.

Penelitian relevan selanjutnya dilakukan oleh Suarni, Dantes dan Tika

(2014) dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Project terhadap

Minat dan Hasil Belajar IPA Siswa kelas V SD Gugus 1 Kecamatan Kuta”,

(27)

antara siswa yang mengikuti model pembelajaran berbasis proyek dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. (2) terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang mengikuti model pembelajaran berbasis proyek dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. (3) terdapat perbedaan minat dan hasil belajar secara simultan antara siswa yang mengikuti model pembelajaran berbasis proyek dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Namun, penelitian ini tidak menunjukkan sintak dari proses model pembelajaran berbasis proyek, sehingga sulit untuk dijadikan acuan dalam penelitian selanjutnya.

Penelitian berikutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Dewi, Garminah, dan Pudjawan (2012) dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) terhadap Hasil Belajar IPA Siswa

Kelas IV SD N 8 Banyuning”, menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil

belajar IPA siswa yang signifikan antara kelompok siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran berbasis proyek dengan kelompok siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD N 8 Banyuning Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng. Namun, penelitian ini justru kurang menekankan hasil proyek apa yang akan dibuat dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan model Project-Based Learning.

Selain penelitian, buku-buku yang relevan juga turut mendukung penelitian ini. Adapun buku yang relevan dengan penelitian ini diantaranya

adalah buku karya Ridwan Abdullah Sani yang berjudul “ Pembelajaran

Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013”, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014).

(28)

kurikulum 2013. Salah satu diantaranya adalah model Project-Based Learning (model pembelajaran berbasis proyek). Buku ini memberikan gambaran tentang pengertian, karakteristik, manfaat, dan langkah-langkah pembelajaran dengan model Project-Based Learning secara rinci. Namun, kajian dalam buku ini tidak menunjukkan korelasi atau hubungan model Project-Based Learning terhadap hal lainnya.

Buku lainnya yang relevan yaitu buku karya Ngalimun yang berjudul

“Strategi dan Model Pembelajaran”, (Yogyakarta: Aswaja Presindo, 2013).

Secara umum buku ini menawarkan berbagai strategi dan model pembelajaran yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Salah satu model pembelajaran yang direkomendasikan adalah model Project-Based Learning. Dijelaskan dalam buku ini bahwa model Project-Based Learning efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran. Namun, muatan buku ini hanya mengkaji berbagai dukungan teoretis dan keuntungan dari model Project-Based Learning saja, sehingga sulit untuk dipraktikkan.

(29)

mengenai pengaruh implementasi model Project-Based Learning terhadap minat belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gubug.

Berdasarkan pemaparan beberapa penelitian dan referensi di atas, menunjukkan bahwa penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian yang ada sebelumnya. Pada beberapa penelitian sebelumnya meskipun ada yang menggunakan model Project-Based Learning dalam pembelajaran, namun hanya model Project-Based Learningnya saja yang sama serta tidak mengkaji pengaruhnya terhadap minat belajar siswa. Selain itu, pemaparan di atas juga menunjukkan bahwa belum pernah ada yang mengkaji pengaruh model Project-Based Learning terhadap mata pelajaran sejarah, yang sering ada adalah

(30)

B. Landasan Teori

1. Belajar dan Pembelajaran Sejarah

1.1Belajar

Throndike dalam Uno (2011: 11) menyatakan bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang berupa pikiran, perasaan, atau gerakan), dan respons. Stimulus hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, meskipun respon mungkin bermacam-macam bentuknya.

Gagne dalam Slameto (2010:13) memberikan dua definisi yaitu: (a) Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. (b) Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh melalui instruksi.

Sedangkan, Skinner dalam Uno (2011:13) menyatakan bahwa deskripsi hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan perubahan tingkah laku adalah deskripsi yang tidak lengkap. Sedangkan respon yang diberikan, dapat menghasilkan berbagai konsekuensi yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah laku.

(31)

bentuk pengalaman terhadap suatu objek yang ada dalam lingkungan belajar.

Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi manusia (Rifa’i & Anni, 2011:82). Oleh karena itu, belajar sangat penting bagi kehidupan manusia karena belajar merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan oleh setiap orang. Belajar adalah suatu kegiatan untuk memperoleh jawaban dari suatu masalah dan juga merupakan kegiatan yang dilakukan oleh setiap orang sepanjang hayat. Belajar selalu melekat pada kehidupan karena setiap orang selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan baru di dalam hidupnya.

Skinner dalam Rifa’i & Anni (2011: 106) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku. Perilaku dalam belajar mempunyai arti luas, yang sifatnya bisa berwujud perilaku yang tidak tampak (inert behavior) atau perilaku yang tampak (overt behavior), sebagai suatu proses, dalam kegiatan belajar dibutuhkan

waktu sampai mencapai hasil belajar berupa perubahan perilaku yang lebih sempurna dibandingkan dengan perilaku sebelum melakukan kegiatan.

(32)

Gagne dalam Rifa’i & Anni (2011:98) merumuskan perubahan perilaku berkaitan dengan apa yang dipelajari oleh pembelajar dalam bentuk kemahiran intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, kemahiran motorik, dan sikap.

Unsur-unsur yang terdapat di dalam belajar meliputi: pembelajaran, stimulus, memori, dan respon (Gagne dalam Rifa’i & Anni, 2011:84). Belajar yang efektif dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal pembelajar. Faktor internal meliputi antara lain: faktor fisik, psikis, dan sosial, sedangkan faktor eksternal meliputi antara lain: tingkat kesulitan bahan ajar, tempat belajar, iklim atau cuaca, dan suasana lingkungan.

Banyak sekali teori yang berkaitan dengan belajar yang dinamakan teori belajar. Teori belajar pada dasarnya merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana informasi diproses dalam pikiran siswa. Berdasarkan suatu teori belajar, suatu pembelajaran diharapkan lebih meningkatkan keaktifan dan minat siswa dalam proses belajar mengajar.

(33)

pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan (Sanjaya, 2011: 123).

Teori belajar Konstruktivistik ini efektif untuk dikembangkan dalam proses belajar sejarah, karena dalam perkembangannya pembelajaran tidak hanya didominasi oleh guru saja tetapi lebih dari itu. Siswa mempunyai peran dalam belajar sehingga terjadilah interaksi dalam proses belajar tersebut. Selain itu menurut teori konstruktivisme, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru hanya sebagai fasilitator yang dapat memberikan kemudahan untuk proses ini. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri, serta mengajak siswa menjadi sadar, maka secara tidak sadar mereka akan menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar (Trianto, 2011: 13).

1.2Pembelajaran Sejarah

(34)

Wasino (2007:4) mengatakan sejarah adalah hasil dari rekonstruksi ataupun sebuah proses pembangunan kembali tentang apa yang pernah terjadi di masa lampau. Sedangkan Johnson (Kochhar, 2008: 2) berpendapat bahwa sejarah dalam pengertian yang paling luas adalah segala sesuatu yang pernah terjadi. Materi yang dipelajari adalah jejak-jejak yang ditinggalkan oleh keberadaan manusia di dunia, gagasan, tradisi dan lembaga sosial, bahasa, kitab-kitab, barang produksi manusia, fisik manusia itu sendiri, sisa-sisa fisik manusia, pemikirannya, perasaannya, dan tindakannya. Sejarah adalah ilmu tentang manusia. Sejarah berkaitan dengan manusia dalam ruang dan waktu. Sejarah menjelaskan masa kini. Kontinuitas dan koherensi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh sejarah.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah merupakan proses membantu peserta didik agar memperoleh tambahan pengetahuan dan pengalaman akan peristiwa masa lalu dan karenanya siswa dapat memahami, mengambil nilai-nilai serta mengaitkan hubungan antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

(35)

peserta didik sebagai generasi penerus bangsa dapat mengetahui tentang kehidupan masyarakat pada masa lampau dan mengetahui perjuangan yang telah dilaksanakan pemimpin terdahulu sehingga peserta didik dapat menghargai perjuangan pahlawan dengan ikut berperan aktif, salah satunya yaitu bersungguh-sungguh dalam belajar.

Tujuan pembelajaran sejarah di sekolah terdiri dari (1) pengetahuan; siswa harus mendapatkan pengetahuan tentang istilah, konsep, fakta, peristiwa, simbol, gagasan, kronologi, generalisasi, dan lain-lain (2) pemahaman; siswa harus mengembangkan pemahaman tentang istilah, fakta, peristiwa yang penting yang berkaitan dengan sejarah (3) pemikiran kritis; pelajaran sejarah harus membuat para siswa mampu mengembangkan pemikiran yang kritis (4) keterampilan praktis; pelajaran sejarah harus membuat siswa mampu mengembangkan keterampilan praktis dalam memahami fakta-fakta sejarah (5) minat; pelajaran sejarah harus membuat siswa mampu mengembangkan minatnya dalam studi tentang sejarah (6) perilaku; pelajaran sejarah harus membuat siswa mengembangkan perilaku sosial yang sehat (Kochar, 2008:51-53)

(36)

Mengingat pentingnya pembelajaran sejarah bagi siswa, maka materi sejarah telah diajarkan di semua jenjang pendidikan. Mulai dari Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam kemasan mata pelajaran IPS sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai mata pelajaran tersendiri. Tujuan kurikuler pelajaran sejarah untuk sekolah menengah dijabarkan sebagai berikut: (1) mengajarkan kepada siswa berpikir sejarah, memahami konsep-konsep sejarah dan mampu menggunakan masa lampau untuk mempelajari masa sekarang dan masa yang akan datang; (2) mengajarkan kepada siswa berpikir secara kreatif; (3) mengajarkan menggunakan pengetahuan masa lampau untuk memahami masa sekarang agar dapat memecahkan masalah-masalah masa sekarang; (4) memahami perkembangan sejarah manusia;dan (5) menimbulkan sikap senang pada pelajaran sejarah.

Melalui belajar sejarah, siswa dapat menanamkan semangat berbangsa dan bertanah air serta dapat memunculkan kesadaran sejarah dalam diri siswa, sehingga siswa dapat menemukan makna pentingnya sejarah bangsanya bagi pengembangan kehidupan dimasa yang akan datang (Aman, 2011:2).

2. Minat Belajar Sejarah

2.1Pengertian Minat Belajar

(37)

suatu ketertarikan yang sifatnya tetap di dalam diri subjek atau seseorang yang sedang mengalaminya atas suatu bidang atau hal tertentu dan adanya rasa senang terhadap bidang atau hal tersebut, sehingga seseorang mendalaminya.

Begitu pun dengan Slameto (2010:180) mengatakan bahwa Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Renninger (Pintrich dan Schunk, 1996: 303) memberi rumusan tentang minat sebagai berikut “interest not just in terms of a personal preference or liking for an activity or topic,

but as occurring only when the individuals has both high value for an

activity (choosing to do it, thinking it is important) and high stored

knowledge about the activity or topic”, artinya minat tidak hanya

kecenderungan seseorang untuk menyukai sebuah aktivitas atau topik, tetapi perasaan ketika seseorang memiliki nilai lebih pada sebuah aktivitas (pilihan untuk melakukan sesuatu yang penting) dan pengetahuan yang lebih tentang aktivitas atau topik.

(38)

2.2Jenis-jenis Minat Belajar

Secara garis besar beberapa ahli mengelompokkan minat menjadi beberapa jenis berdasarkan kriteria tertentu. Super & Krites (Suhartini, 2001:25) mengelompokkan minat menjadi empat jenis berdasarkan bentuk pengekspresian dari minat. (a) Expressed interest, minat yang diekspresikan melalui verbal yang menunjukkan apakah seseorang itu menyukai atau tidak menyukai suatu objek atau aktivitas. (b) Manifest interest, minat yang disimpulkan dari keikutsertaan individu pada suatu

kegiatan tertentu. (c) Tested interest, minat yang disimpulkan dari tes pengetahuan atau keterampilan dalam suatu kegiatan. (d) Inventoried interest, minat yang diungkapkan melalui inventori minat atau daftar

aktivitas dan kegiatan yang sama dengan pernyataan.

Surya (Priharini, 2014:15) menggolongkan minat menjadi tiga jenis berdasarkan sebab-musabab atau alasan timbulnya minat. (1) Minat volunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa tanpa adanya pengaruh dari luar. (2) Minat involunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa dengan adanya pengaruh situasi yang diciptakan oleh guru. (3) Minat nonvolunter adalah minat yang timbul dari dalam diri siswa secara paksa atau dihapuskan.

(39)

minat situasional, merupakan minat yang bersifat tidak permanen dan relatif berganti-ganti, tergantung rangsangan eksternal; (c) minat psikologikal, merupakan minat yang erat kaitannya dengan adanya interaksi antara minat personal dengan minat situasional yang terus-menerus dan berkesinambungan.

2.3Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat

Pada dasarnya faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar ada dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan segenap pikiran, emosi, dan persoalan dalam diri seseorang yang mengaduk minat sehingga tidak dapat dipusatkan. Sedangkan faktor eksternal adalah segala sesuatu yang berada di luar diri anak.

(40)

mempengaruhi minat seseorang untuk belajar sesuatu mata pelajaran. Agar siswa memiliki minat belajar yang baik haruslah ketiga faktor tersebut dalam keadaan baik pula.

(41)

2.4Fungsi Minat dalam Belajar

Minat berfungsi sebagai pendorong keinginan seseorang, penguat hasrat dan sebagai penggerak dalam berbuat yang berasal dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dengan tujuan dan arah tingkah laku sehari-hari. Dari pandangan di atas jika dijabarkan minat ini memiliki beberapa fungsi, yaitu: (a) mendorong manusia untuk berbuat, yaitu sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi; (b) menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai dan; (c) menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang serasi guna mencapai tujuan.

(42)

diri siswa; minat untuk melakukan sesuatu berasal dari dalam diri seseorang. Oleh karena itu penghapusan kebosanan dalam studi dari seorang siswa juga hanya bisa terlaksana dengan jalan menumbuhkan minat studi dan kemudian meningkatkan minat itu sebesar-besarnya.

2.5Cara Menumbuhkan Minat Belajar

Minat merupakan salah satu hal yang ikut menentukan keberhasilan seseorang dalam segala bidang, baik dalam studi, kerja dan kegiatan- kegiatan lain, hal tersebut karena minat akan memunculkan perhatian yang spontan terhadap bidang tersebut (Loekmono, 1994 : 62). Ketika seorang siswa mempunyai minat terhadap pelajaran tertentu maka siswa tersebut akan merasakan senang dan dapat memberi perhatian pada mata pelajaran sehingga menimbulkan sikap keterlibatan ingin belajar. Sesuatu yang menarik minat dan dibutuhkan anak, akan menarik perhatiannya, dengan demikian mereka akan bersungguh-sungguh dalam belajar. Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar akan berjalan lancar bila disertai dengan minat belajar sehingga dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang tertentu.

(43)

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam upaya memperkuat dan menumbuhkan minat adalah dengan memelihara minat yang telah dimiliki siswa, pihak di luar siswa khususnya guru pun dapat membantu hal tersebut. Tanner dalam Slameto (2010:181) menjelaskan bahwa selain memanfaatkan minat yang sudah ada, pengajar juga berusaha membentuk minat-minat baru pada diri siswa. Hal ini dapat dicapai dengan jalan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan suatu bahan pengajaran yang lalu, menguraikan kegunaannya kepada siswa dimasa yang akan datang.

(44)

3. Project-Based Learning

3.1 Project-Based Learning

Menurut Buck Institute for Education (Sutirman, 2013) menyatakan bahwa Project-Based Learning adalah suatu metode pengajaran sistematis yang melibatkan para siswa dalam mempelajari pengetahuan dan keterampilan melalui proses yang terstruktur, pengalaman nyata dan teliti yang dirancang untuk menghasilkan produk. Menurut Guarasa (Sutirman, 2013) Project-Based Learning adalah strategi yang berpusat pada siswa yang mendorong inisiatif yang memfokuskan siswa pada dunia nyata, dan dapat meningkatkan motivasi mereka.

Proyek yang dibuat dapat merupakan proyek dari satu guru, atau proyek bersama dari beberapa guru yang mengasuh pelajaran yang berbeda. Siswa dilatih untuk melakukan analisis terhadap permasalahan, kemudian melakukan eksplorasi, mengumpulkan informasi, interpretasi, dan penilaian dalam mengerjakan proyek yang terkait dengan permasalahan yang dikaji. Pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk mengembangkan kreativitasnya dalam merancang dan membuat proyek yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah. (Sani, 2014: 17).

Secara teoretik dan konseptual, pendekatan Project-Based Learning ini juga didukung oleh teori aktivitas (Hung dan Wong 2000;

(45)

dengan perantara (d) alat-alat, (e) peraturan kerja, dan (f) pembagian tugas. Penerapan model Project-Based Learning dikelas bertumpu pada kegiatan belajar yang lebih menekankan pada kegiatan aktif dalam

bentuk melakukan sesuatu dari pada kegiatan pasif “menerima” transfer

pengetahuan dari pengajar.

(46)

3.2Karakteristik Model Project-Based Learning

Menurut Buck Institute for Education (Wena, 2009:145) belajar berbasis proyek memiliki karakteristik berikut. (a) Siswa membuat keputusan dan membuat kerangka kerja. (b) Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya. (c) Siswa merancang proses untuk mencapai hasil. (d) Siswa bertanggungjawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan. (e) Siswa melakukan evaluasi secara kontinyu. (f) Siswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan. (g) Hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya. (h) Kelas memiliki atmosfir yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan.

3.3Prinsip-prinsip Model Project-Based Learning

Menurut Thomas (Wena, 2009: 145) pembelajaran berbasis proyek memiliki beberapa prinsip dalam penerapannya. Prinsip-prinsip tersebut adalah: sentralistis, pertanyaan penuntun, investigasi konstruktif, otonomi, dan realistis.

Sentralistis, maksudnya adalah model pembelajaran ini

merupakan pusat dari strategi pembelajaran, karena siswa mempelajari konsep utama dari suatu pengetahuan melalui kerja proyek. Pekerjaan proyek merupakan pusat dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa di kelas.

Pertanyaan penuntun, hal ini mengandung makna bahwa pekerjaan

(47)

bidang tertentu. Dalam hal ini aktivitas bekerja menjadi motivasi eksternal yang dapat membangkitkan motivasi internal pada diri siswa untuk membangun kemandirian dalam menyelesaikan tugas.

Investigasi konstruktif, artinya bahwa dalam pembelajaran berbasis

proyek terjadi proses investigasi yang dilakukan oleh siswa untuk merumuskan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengerjakan proyek. Oleh karena itu guru harus dapat merancang strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk melakukan proses pencarian atau pendalaman konsep pengetahuan dalam rangka menyelesaikan masalah atau proyek yang dihadapi.

Otonomi, dalam pembelajaran berbasis proyek siswa diberi

kebebasan atau otonomi untuk menentukan target sendiri dan bertanggungjawab terhadap apa yang dikerjakan. Guru berperan sebagai motivator dan fasilitator untuk mendukung keberhasilan siswa dalam belajar.

Realistis, proyek yang dikerjakan siswa merupakan pekerjaan nyata yang sesuai dengan kenyataan dilapangan kerja atau masyarakat. Proyek yang dikerjakan bukan dalam bentuk simulasi atau imitasi, melainkan pekerjaan atau permasalahan yang benar-benar nyata.

(48)

3.4Kelebihan Model Project-Based Learning

Menurut Moursund (Wena, 2009: 147) keuntungan pembelajaran berbasis proyek adalah meningkatkan motivasi, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, meningkatkan kemampuan studi pustaka, meningkatkan kolaborasi, meningkatkan keterampilan manajemen sumber daya.

Pengalaman yang dilakukan oleh Intel Corporation melalui Intel Teach Program (Sutirman, 2013: 45) menunjukkan bahwa penerapan Project-Based Learning membawa keuntungan terutama bagi siswa,

yaitu: (1) meningkatkan frekuensi kehadiran, menumbuhkan kemandirian, dan sikap positif terhadap belajar; (2) memberikan keuntungan akademik yang sama atau lebih baik dari pada yang dihasilkan oleh model lain, dimana siswa yang terlibat dalam proyek memiliki tanggungjawab yang lebih besar untuk pembelajaran mereka sendiri; (3) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan yang kompleks, seperti berpikir tingkat tinggi, pemecahan masalah, bekerjasama, dan berkomunikasi; (4) memperluas akses belajar siswa sehingga menjadi strategi untuk melibatkan siswa dengan beragam budaya.

(49)

kompleks. (4) Meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerjasama. (5) Mendorong siswa mempraktikkan keterampilan berkomunikasi. (6) Meningkatkan keterampilan siswa dalam mengelola sumber daya. (7) Memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengorganisasi proyek, mengalokasikan waktu, dan mengelola sumber daya seperti peralatan dan bahan untuk menyelesaikan tugas. (8) Memberikan kesempatan belajar bagi siswa untuk berkembang sesuai kondisi dunia nyata. (9) Melibatkan siswa untuk belajar mengumpulkan informasi dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata. (10) Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan.

3.5Kekurangan Model Project-Based Learning

Sani (2014: 177) mengatakan beberapa kekurangan model Project-Based Learning, yaitu: (a) membutuhkan banyak waktu untuk

menyelesaikan masalah dan menghasilkan produk; (b) membutuhkan biaya yang cukup; (c) membutuhkan guru yang terampil dan mau belajar; (d) membutuhkan fasilitas, peralatan, dan bahan yang memadai; (e) tidak sesuai untuk siswa yang mudah menyerah dan tidak memiliki pengetahuan serta keterampilan yang dibutuhkan; (f) kesulitan melibatkan semua siswa dalam kerja kelompok.

3.6Langkah-langkah Project-Based Learning

Wena (2009: 108) membagi tahap pelaksanaan model Project-Based Learning menjadi tiga tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap

(50)

siswa; merumuskan strategi pembelajaran; membuat jobsheet; merancang kebutuhan sumber belajar; dan merancang alat evaluasi. Tahap pelaksanaan mencakup aktivitas mempersiapkan sumber belajar yang diperlukan; menjelaskan tugas-tugas proyek; mengelompokkan siswa sesuai dengan tugas; dan mengerjakan proyek. Tahap evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran oleh siswa. Hasil evaluasi menjadi bahan masukan bagi siswa dan bagi guru untuk merancang pembelajaran selanjutnya.

(51)

yang dilakukan, serta mengukur sejauh mana kualitas produk yang dihasilkan.

Sedangkan Sani (2014:180) mengemukakan lima tahapan dalam pelaksanaan model Project-Based Learning dengan rincian sebagai berikut: (1) mengajukan pertanyaan esensial atau pertanyaan penting. (2) membuat perencanaan. (3) membuat penjadwalan. (4) mengawasi atau memonitor kemajuan belajar. (5) melakukan penilaian.

Berdasarkan beberapa uraian tahapan model Project-Based Learning diatas, dapat disimpulkan bahwa tahapan-tahapan dalam model

Project-Based Learning adalah penyajian permasalahan, membuat

perencanaan, menyusun penjadwalan, pembuatan proyek, memonitor pembuatan proyek, melakukan penilaian, dan evaluasi.

Penyajian Permasalahan, permasalahan diajukan dalam bentuk

pertanyaan. Pertanyaan awal uang diajukan adalah pertanyaan esensial (penting) yang dapat memotivasi siswa untuk terlibat dalam belajar. Permasalahan yang dibahas adalah permasalahan dunia nyata yang membutuhkan investigasi mendalam. Guru harus memastikan bahwa permasalahan relevan untuk siswa agar mereka terlibat secaramental.

Membuat perencanaan, guru perlu merencanakan standar

(52)

melakukan curah pendapat yang mendukung inkuiri untuk penyelesaian permasalahan.

Menyusun penjadwalan, siswa harus membuat penjadwalan

pelaksanaan proyek yang disepakati bersama guru. Siswa mengajukan tahapan pengerjaan proyek dengan menetapkan acuan yang akan dilaporkan pada setiap pertemuan di kelas, sehingga pembuatan proyek dapat selesai tepat waktu sesuai dengan perencanaan sebelumnya.

Pembuatan proyek, setelah melakukan perencanaan dan membuat penjadwalan terhadap proyek yang akan dibuat, tahapan selanjutnya adalah pembuatan proyek. Pembuatan proyek ini dilakukan secara mandiri oleh siswa secara berkelompok, guru hanya berperan sebagai motivator dan vasilitator. Pembuatan proyek ini dilakukan sesuai dengan perencanaan dan penjadwalan yang telah dibuat sebelumnya, sehingga pembuatan proyek dapat berjalan secara sistematis dan tepat waktu.

Memonitor pembuatan proyek, pelaksanaan pekerjaan siswa harus

dimonitor dan difasilitasi prosesnya, paling sedikit pada dua tahapan yang dilakukan oleh siswa (Checkpoint). Fasilitasi yang juga perlu dilakukan adalah memberikan kesempatan pada siswa untuk bekerja di laboratorium atau fasilitas lainnya jika dibutuhkan. Guru perlu melakukan mentoring pelaksanaan proses, serta menyediakan rubrik dan instruksi tentang apa yang harus dilakukan untuk setiap konten pembelajaran.

Melakukan penilaian, penilaian dilakukan secara autentik dan guru

(53)

merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode atau waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, dan penyajian data.

Evaluasi, evaluasi dimaksudkan untuk memberikan kesempatan

pada siswa dalam melakukan refleksi pembelajaran yang dilakukan baik secara individual maupun kelompok. Siswa perlu berbagi perasaan dan pengalaman, mendiskusikan apa yang sukses, mendiskusikan apa yang perlu diubah, dan berbagi ide yang mengarah pada inkuiri baru

C. Kerangka Berpikir

Proses pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor tersebut bisa berasal dari siswa, guru, lingkungan dan lain-lain. Apabila faktor-faktor tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik, maka akan memunculkan berbagai permasalahan dalam pembelajaran sejarah. Salah satu masalah yang sering ditemui dalam pembelajaran sejarah adalah masih banyaknya guru yang menggunakan paradigma konvensional, yaitu paradigma guru menjelaskan dan murid mendengarkan. Model pembelajaran sejarah seperti ini kurang menantang bagi siswa dan telah menjadikan pelajaran sejarah semakin membosankan.

(54)

Project-Based Learning. Model Project-Based Learning merupakan model

pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam merancang tujuan pembelajaran untuk menghasilkan produk atau proyek yang nyata.

Penerapan model Project-Based Learning pada pembelajaran sejarah ini dimulai dengan pemberian pertanyaan esensial (penting) yang dapat memotivasi siswa untuk terlibat dalam belajar. Langkah berikutnya adalah siswa membuat perencanaan proyek dengan pendampingan guru. Langkah selanjutnya adalah menyusun penjadwalan, siswa harus membuat penjadwalan pelaksanaan proyek yang disepakati bersama guru serta mengajukan tahapan pengerjaan proyek dengan menetapkan acuan yang akan dilaporkan pada setiap pertemuan di kelas. Setelah itu, guru melakukan Monitoring pelaksanaan proses, serta menyediakan rubrik dan instruksi tentang apa yang harus dilakukan untuk setiap konten pembelajaran. Selanjutnya adalah penilaian, penilaian proyek ini digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan melakukan penyelidikan, dan kemampuan menerapkan keterampilan membuat proyek atau karya. Langkah yang terakhir adalah evaluasi yang dimaksudkan untuk memberikan kesempatan pada siswa dalam melakukan refleksi pembelajaran yang dilakukan baik secara individual maupun kelompok.

(55)
(56)

Gambar 1. Kerangka Berpikir

Aspek Kognitif Aspek Afektif Aspek Psikomotorik Guru

 Materi sejarah membosankan  Model pembelajaran sejarah

kurang menantang

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

(57)

D. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto, 2006: 71). Berdasarkan uraian dalam kerangka berfikir diatas tersebut maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

(58)

44

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif jenis eksperimen. Sugiyono (2010:107) menyatakan bahwa penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Dalam penelitian ini, statistik memegang peranan dalam menganalisa data-data penelitian untuk menjawab permasalahan penelitian.

Penelitian ini membagi kelompok menjadi dua, yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen merupakan kelompok yang mendapatkan perlakuan, yakni dengan menggunakan model Project-Based Learning dalam pembelajaran sejarah. Kelompok kontrol dalam penelitian ini

adalah sebagai kelompok pembanding untuk kelompok eksperimen, yakni menggunakan model konvensional dengan metode ceramah dalam pembelajaran sejarah. Perbandingan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Project-Based Learning terhadap peningkatan minat belajar sejarah siswa.

(59)

eksperimental design adalah bahwa sampel yang digunakan untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol diambil secara acak dari populasi tertentu (Sugiyono, 2010:112).

Adapun bentuk desain True eksperimental design yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pretest-posttest Control Group Design, dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random. (Sugiyono, 2010: 113). Mekanisme penelitian dari kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol digambarkan dalam tabel 3.1 :

Tabel 3.1. Desain Pretest-posttest Control Group Design Kelompok Pretest Perlakuan Posttest

Eksperimen T X T

Kontrol T - T

(Sugiyono, 2010:112) Keterangan :

T : Pretest yang dilaksanakan pada kelas eksperimen T : Pretest yang dilaksanakan pada kelas kontrol

X : Perlakuan berupa model Project-Based Learning yang diberikan pada kelas eksperimen

T : Posttest yang dilaksanakan pada kelas eksperimen T : Posttest yang dilaksanakan pada kelas kontrol

(60)

diberikan postest sebagai nilai akhir. Hasil pretest dan posttest kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol dibandingkan untuk melihat adanya perbedaan minat belajar siswa dengan menggunakan model Project-Based Learning dan yang tidak menggunakan model Project-Based Learning pada

mata pelajaran sejarah.

Prosedur penelitian ini meliputi beberapa tahapan, mulai dari tahap pra lapangan, tahap pelaksanaan penelitian, tahap analisis data, dan membuat simpulan. Tahapan-tahapan ini dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian, agar penelitian dapat berjalan secara sistematis.

(61)

mentabulasikan data hasil uji coba untuk dianalisis, kemudian peneliti menentukan instrumen tes yang memenuhi syarat berdasarkan hasil analisis.

Tahapan selanjutnya adalah tahap pelaksanaan penelitian, tahap pelaksanaan penelitian ini di awali dengan memberikan pre-test kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah di ketahui kondisi awalnya, peneliti memberikan perlakuan kepada satu kelas eksperimen dengan model Project-Based Learning. Pada tahapan ini terdapat dua kegiatan utama, yaitu : Pertama,

kegiatan pelaksanaan pembelajaran dilakukan sesuai RPP yang telah disusun. Kedua, kegiatan observasi yang dilakukan oleh observer. Setelah selesai

memberikan perlakuan pada kelas eksperimen, peneliti memberikan post-test kepada kedua kelas tersebut.

Tahap berikutnya adalah tahap analisis data. Setelah semua materi pembelajaran disampaikan kepada siswa dan tugas-tugas untuk pembelajaran proyek telah dilakukan oleh siswa, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data tes angket. Analisis data dilakukan untuk menguji hipotesis, yaitu untuk mengetahui apakah penggunaan model Project-Based Learning berpengaruh terhadap minat belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gubug tahun ajaran 2014/2015.

(62)

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2015. Dimulai dari observasi, uji coba, pre test, proses pembelajaran dan post test. Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SMA Negeri 1 Gubug yang terletak di Jl. A. Yani No. 171 Gubug Kec. Gubug Kab. Grobogan Jawa Tengah. Alasan pemilihan lokasi tersebut dikarenakan SMA Negeri 1 Gubug merupakan salah satu sekolah favorit di kabupaten Grobogan, khususnya di kecamatan Gubug. Pelajaran sejarah di sekolah tersebut juga diampu oleh guru yang sudah cukup senior sehingga kurang terbuka terhadap inovasi model pembelajaran yang modern seperti model Project-Based Learning.

C. Populasi Peneiltian

(63)

Tabel 3.2 Daftar Siswa Kelas X

No Kelas Jumlah Kelas

1 X MIA 1 40

2 X MIA 2 40

3 X MIA 3 40

4 X MIA 4 40

5 X MIA 5 40

6 X MIA 6 40

7 X MIA 7 40

Jumlah 280

(Sumber: Dokumen SMA Negeri 1 Gubug)

D. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2010: 118). Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik probability sampling tipe simple random sampling. Teknik ini memiliki ciri setiap unsur (anggota) populasi

diberikan peluang yang sama untuk dijadikan sampel. Simple random sampling adalah teknik penentuan sampel secara sederhana. Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu karena populasi dalam keadaan homogen. Berdasarkan pertimbangan tersebut, sampel dalam penelitian ini diambil dua kelas secara acak, satu kelas digunakan sebagai kelas eksperimen yakni kelas X MIA 5 yang menggunakan model Project-Based Learning dan kelas X MIA 6 sebagai kelas kontrol yang tidak menggunakan

(64)

E. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variansi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010: 61). Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat. 1. Variabel Bebas

Variabel bebas (Independent Variable) merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2010: 61). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penerapan model Project-Based Learning

2. Variabel Terikat

Variabel terikat (Dependent variable) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2010: 61). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah minat belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Gubug tahun ajaran 2014/2015.

F. Alat dan Teknik Pengumpulan Data

Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan (Sanjaya, 2011: 205). Penelitian ini memerlukan alat dan teknik yang dapat dipergunakan untuk mengumpulkan data.

1. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah:

(65)

b. Dokumen-dokumen yang berhubungan dengan penelitian ini, seperti daftar nilai sejarah kelas X, daftar nama siswa kelas X, dan sebagainya. 2. Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Observasi

Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara langsung oleh peneliti yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra (Arikunto, 2006 : 156). Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung sebelum maupun selama proses penelitian. Sebelum penelitian dimulai, dilakukan observasi mengenai aktivitas siswa dalam pembelajaran, proses pembelajaran dan kendala-kendala dalam proses pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Gubug terutama kelas X MIA. Saat kegiatan penelitian berlangsung juga dilakukan observasi. Observasi yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran di kelas eksperimen maupun kelas kontrol digunakan lembar pengamatan untuk mengamati aktivitas belajar siswa dalam kelas. Kegiatan pengamatan ini dilakukan oleh peneliti sendiri yang dilaksanakan selama proses pembelajaran dengan mengisi lembar pengamatan aktivitas belajar siswa.

b. Dokumentasi

(66)

SMA Negeri 1 Gubug yang akan menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol secara keseluruhan, gambaran umum sekolah serta foto-foto dalam proses penelitian.

c. Angket

Angket atau kuesioner merupakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2006:151). Angket dalam penelitian ini terdiri dari daftar butir-butir pertanyaan yang dibagikan kepada responden dan dipergunakan untuk memperoleh informasi dari responden yang berkaitan dengan minat belajar dan penerapan model Project-Based Learning dalam pembelajaran sejarah.

Metode angket dilakukan untuk mendapatkan data dari responden secara pribadi. Angket berisi sejumlah pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk diisi dengan check point, jawaban kuesioner ini bersifat tertutup dengan 5 pilihan tiap jenis pertanyaan.

Angket digunakan untuk mengetahui minat belajar sejarah pada siswa. Adapun angket mempunyai kelebihan sebagai berikut:

1. Tidak memerlukan hadirnya peneliti.

2. Dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden.

3. Dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing. 4. Dapat dibuat anonim sehingga responden bebas, jujur, dan tidak

malu-malu menjawab.

(67)

G. Analisis Data

1. Analisis Instrumen

Analisis hasil uji coba instrumen adalah untuk mengetahui item-item dalam angket sudah memenuhi syarat angket yang baik atau tidak. Analisis hasil uji coba instrumen juga menguji apakah angket tersebut valid dan reliabel sehingga dapat digunakan sebagai instrumen penelitian. Analisis yang akan digunakan meliputi validitas dan reliabilitas.

a. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2006: 168). Validitas adalah kemampuan alat ukur yang memenuhi fungsinya sebagai alat ukur itu, alat ukur itu harus mampu mengukur apa yang harus diukur.

Sebelum angket yang sesungguhnya disebar, terlebih dahulu perlu dilakukan uji coba instrumen pada beberapa responden adalah sebagai sampel. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan butir pernyataan yang tidak relevan, mengevaluasi apakah pertanyaan yang diajukan dalam angket mudah dimengerti oleh responden atau tidak, dan untuk mengetahui lamanya pengisian angket.

(68)

rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y N = Jumlah responden

X = Jumlah skor butir soal

Y = Jumlah skor total yang benar (Arikunto, 2007: 72).

Hasil perhitungan rXY dikonsentrasikan dengan taraf signifikansi 5%

dan taraf kepercayaan 95%. Jika didapatkan harga rXY>rtabel maka butir

instrumen dapat dikatakan valid, akan tetapi sebaliknya jika harga rXY <

rtabel maka dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut tidak valid.

Berdasarkan hasil uji coba instrumen kepada 40 responden dengan taraf signifikansi 5% didapat r tabel = 0,312. Kriteria soal dikatakan valid

apabila rxy> rtabel. Contoh perhitungan validitas item soal nomor 1

diperoleh rxy = 0,448 dan rtabel = 0,312. Berdasarkan perhitungan tersebut

rxy> rtabel maka, item soal nomor 1 valid. Hasil perhitungan validitas soal

adalah sebagai berikut :

Tabel 3.3 Hasil Perhitungan Validitas Angket Uji Coba

Kriteria No Butir Soal Jumlah

Valid 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 23, 25, 27, 28, 29, 30, 33, 34, 35

28

Gambar

Gambar 1. Kerangka Berpikir
Tabel 3.1. Desain Pretest-posttest Control Group Design
Tabel 3.2 Daftar Siswa Kelas X
Tabel 3.3 Hasil Perhitungan Validitas Angket Uji Coba
+7

Referensi

Dokumen terkait

menulis materi yang telah disampaikan oleh guru, (2) siswa tidak memiliki. kepercayaan diri untuk bertanya kepada guru terhadap materi yang

Mengajar sejarah dan membuat perserta didik paham dengan materi sejarah yang kita berikan tidaklah mudah, hal ini bisa dikarenakan oleh pembawaan guru-guru bidang

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kedisiplinan belajar merupakan kepatuhan yang didorong oleh kesadaran dan kata hati untuk belajar, maka ini

(2) faktor penyebabnya adalah siswa belum menguasai materi-materi prasyarat, siswa belum memahami konsep- konsep pada topik limit fungsi aljabar, siswa tidak tahu langkah

1.. yang dapat memacu siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Siswa yang pasif cenderung hanya berpedoman pada guru saja. Tidak sedikit siswa yang kurang mampu

2 faktor penyebabnya adalah siswa belum menguasai materi-materi prasyarat, siswa belum memahami konsepkonsep pada topik limit fungsi aljabar, siswa tidak tahu langkah yang

→ Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan beberapa pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi rancangan penelitian yang akan selesai dipelajari

Ini terlihat dari (1) perumusan indikator yang diturunkan melalui KD belum sesuai, (2) urutan materi tidak sistematis dan tidak sesuai dengan KD, (3) masih terdapat