• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prvalensi Dermatofitosis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Tangerang Periode 1 Januari 2011 sampai dengan 31 Desember 2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Prvalensi Dermatofitosis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Tangerang Periode 1 Januari 2011 sampai dengan 31 Desember 2011"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

i

PREVALENSI DERMATOFITOSIS DI POLIKLINIK KULIT

DAN KELAMIN

RSUD TANGERANG PERIODE 1 JANUARI 2011 SAMPAI

DENGAN 31 DESEMBER 2011

Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN

OLEH : Ani Oktavia

NIM : 109103000051

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)

iii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

PRVALENSI DERMATOFITOSIS DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUD TANGERANG PERIODE 1 JANUARI 2011 SAMPAI

DENGAN 31 DESEMBER 2011

Laporan Penelitian

Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran

dan

Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

Kedokteran (S.Ked)

Oleh

Ani Oktavia

NIM : 109103000051

Pembimbing 1

dr. Raendi Rayendra Sp.KK, M.Kes

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(4)
(5)

v

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Puji syukur penulis sampaikan kepada zat yang Maha Sempurna,

Allah SWT. Karena atas izin-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian

yang berjudul PREVALENSI DERMATOFITOSIS DI POLIKLINIK KULIT

DAN KELAMIN RSUD TANGERANG PERIODE 1 JANUARI 2011 SAMPAI

DENGAN 31 DESEMBER 2011 dengan baik. Tak lupa salawat serta salam

kepada uswatun hasanah, Nabi Muhammad SAW. kepada keluarga, sahabat,

dan semoga kepada kita semua sebagai umatnya hingga akhir zaman, amin.

Dalam pembuatan penelitian ini, penulis mendapat banyak bimbingan

dan dukungan, baik dalam bentuk moril maupun inmoril, dari berbagai

pihak. Karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. DR. (hc). dr. M.K. Tadjudin, SpAnd selaku dekan Fakultas Kedokteran

dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,

2. DR. dr. Syarif Hasan Lutfie, Sp.KFR, selaku kepala program studi pendidikan

dokter Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta,

3. drg. Laifa Annisa Hendarmin, Ph.D.. Selaku dosen penanggung jawab riset

angkatan 2008 atas kesabarannya dalam mengingatkan penulis menyusun

penelitian,

4. dr. Raendi Rayendra Sp.KK, M.Kes selaku pembimbing 1 yang senantiasa

sabar dan memberikan semangat kepada penulis selama proses penyusunan

penelitian hingga selesai,

5. Seluruh dosen dan staf pengajar Program Studi Pendidikan Dokter yang telah

membimbing dalam pemberian bekal terhadap penulis dalam penyusunan

(6)

vi

6. Orang tua penulis, Supri yadi dan Niha yati yang dengan sabar memberi

dukungan moril maupun materil kepada penulis,

7. Ops Siagara Patmuji, Inti Fikria selaku teman satu kelompok riset yang telah

berperan dalam menyemangati penulis sejak menentukan judul penelitian hingga

selesai.

8. Teman–teman penulis, Program Studi Pendidikan Dokter angkatan 2009, atas

dukungan dan semangatnya selama ini,

9. Serta pihak-pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah

membantu dan memberikan dorongan kepada penulis dalam penyusunan laporan

penelitian.

Tak ada gading yang tak retak. Mungkin peribahasa tersebut adalah

cerminan dari penelitian ini, karena itu segala saran dan kritik yang bersifat

membangun demi kesempurnaan, akan penulis terima dengan senang hati.

Akhir kata, penulis berharap penelitian ini akan bermanfaat bagi pembaca

umumnya, dan bagi penulis sendiri khususnya.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Ciputat, 21 September 2012

(7)

vii ABSTRAK

Latar belakang: Telah dilakukan penelitian dermatofitosis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Tangerang periode 1 Januari 2011 hingga 31 Desember

2011. Tujuan: Untuk mengetahui berapa angka kejadian terjadinya dermatofitosis di RSUD Tangerang periode 1 Januari 2011 hingga 31 Desember

2011 yang meliputi distribusi menurut jenis kelamin, umur, jenis penyakit,

pekerjaan, tempat tinggal, ,iklim, kerokan kulit, pemeriksaan KOH. Hasil: Didapatkan hasil kejadian dermatomikosis di RSUD Tangerang pada bulan

Januari hingga bulan Desember 2011 adalah sebesar 27,89% . Kesimpulan: Kasus dermatofitosis masih cukup banyak diderita oleh penduduk Indonesia

yang merupakan negara tropis.

Kata Kunci : Dermatofitosis

ABSTRACT

Background: Dermatomikosis research has been done in the Dermatology Clinic Hospital Tangerang period 1 January 2011 to 31 December 2011. Purpose: to determine how the incidence of the Tangerang District Hospital deratomikosis

period January 1 2011 to December 31, 2011 which includes the distribution by

sex, age, type of disease. Results: The obtained results dermatomikosis events in Tangerang District Hospital in January to December 2011 was at 27.89%.

Conclusion: this result ahows that dermatomikosis is still a problem in Indonesia as a tropikal county.

(8)

viii

3.5 Etika Penelitian dan Alur Penelitian ... 14

(9)

ix

4.2 Keterbatasan Penelitian ... 21

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 22

5.2 Saran ... 22

DAFTARPUSTAKA ... 23

LAMPIRAN ... 26

(10)

x

DAFTAR TABEL

2.2 Pengobatan Dermatomikosis ... 10

2.4 Definisi Operasional... 10

4.1 Distribusi Prevalensi Dermatofitosis Berdasarkan Jenis Kelamin ... 16

4.2 Distribusi Prevalensi Dermatofitosis Berdasarkan Usia ... 17

(11)

xi

DAFTAR GAMBAR

2.1 Anatomi kulit ... 6

(12)

1 BAB 1

PENDAHULUAN 1.1LATAR BELAKANG

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari

lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta

merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastik

dan sensitif, bervariasi pada keadaan iklim, umur, jenis kelamin, ras dan juga

sangat bergantung pada lokasi tubuh1.

Pada zaman sekarang ini, dengan berkembangnya kebudayaan dan

perubahan tatanan hidup dari waktu ke waktu, sedikit banyak mempengaruhi

pola penyakit. Begitu pula kemajuan dibidang sosial ekonomi dan teknologi

kedokteran dapat mengubah arti penyakit jamur, yang dahulunya tidak berarti

menjadi berarti dalam kehidupan manusia sekarang ini. Penyakit kulit di

Indonesia pada umumnya lebih banyak disebabkan itu infeksi bakteri, jamur,

virus, parasit, dan penyakit dasar alergi, hal ini berbeda dengan negara barat

yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor degeratif. Disamping perbedaan

penyebab, faktor lain seperti iklim, kebiasaan dan lingkungan juga ikut

memberikan perbedaan dalam gambar klinis penyakit kulit2.

Data epidemiologis menunjukkan bahwa penyakit kulit karena jamur

superfisial (dermatomikosis superfisialis) merupakan penyakit kulit yang banyak

dijumpai pada semua lapisan masyarakat, baik di pedesaan maupun perkotaan,

tidak hanya di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Meskipun

penyakit ini tidak fatal, namun karena bersifat kronik dan residif, serta tidak

sedikit yang resisten dengan obat anti jamur, maka penyakit dapat menyebabkan

gangguan kenyamanan dan menurunkan kualitas hidup bagi penderitanya5. Faktor-faktor yang memegang peranan untuk terjadinya dermatomikosis

adalah iklim yang panas, higiene (kebersihan diri) masyarakat yang kurang,

(13)

2

steroid dan sitostatika yang meningkat, adanya penyakit kronis dan penyakit

sistemik lainnya6.

Dari data rawat jalan di Poliklinik Sub Bagian Jamur Ilmu Kesehatan Kulit

dan Kelamin RS. dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2001 sampai

Desember 2005 didapatkan 80 kasus dermatofita yang disertai dengan pitiriasis

versikolor terdiri dari 61 orang laki-laki dan 19 orang perempuan3.

Tinea adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat taduk, misalnya

lapisan teratas kulit pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan

glongan jamur dermatofita (jamur yang menyerang kulit). Tinea kruris sendiri

merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur pada daerah genitokrural,

sekitar anus, bokong dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah1.

Mikosis superfisialis merupakan penyakit yang banyak ditemukan di

indonesia. Sebagian besar penyakit disebabkan oleh golongan dermatofita

(dermatofitosis), dan yang paling sering ditemukan adalah tinea kruris. Berbeda

dengan daerah yang mempunyai empat musim maupun subtropis, dimana

tinea pedis adalah bentuk klinis yang paling banyak ditemukan4.

Penelitian mikosis superfisialis di divisi unit rawat jalan penyakit kulit

dan kelamin di RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun 2003 sampai dengan 2005,

tenyata kasus mikosis superfisialis masih cukup banyak, dengan kasus

terbanyak yang dijumpai adalah pitiriasis versikolor, disusul dengan tinea

kruris, kemudian tinea korporis. Tinea imbrikata tidak pernah ditemukan pada

tahun 2003-2005. Perbandingan angka kesakitan mikosis superfisialis pada

perempuan lebih besar daripada laki-laki. Kelompok umur terbanyak yang

menderita mikosis superfisialis ialah kelompok usia produktif yaitu 25-44 tahun.

Sedangkan kelompok usia paling sedikit menderita mikosis superfisialis adalah

kelompok balita yaitu usia 1-4 tahun.

Penelitian mikosis superfisialis di divisi unit rawat jalan penyakit kulit

(14)

3

pemeriksaan KOH 20% + tinta Parker pada kasus dermatofitosis ditemukan

elemen jamur berupa hifa dan arthspora, sedangkan pada kandidiasis

ditemukan elemen jamur berupa blastospora. Pada pemeriksan kultur dilakukan

pada semua kasus yang gambaran klinisnya meragukan dan pemeriksan dengan

KOH 20% + tinta Parker menunjukkan hasil yang negative, yaitu sebanyak 51

kasus ( atau 1,96% dari seluruh kasus baru mikosis superfisialis selama tahun

2003-2005), dengan hasil kultur positif ( ada pertumbuhan jamur) sebanyak 19

kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun 2003 sebesar 12,7%, tahun 2004

sebesar 14,1 %, dan tahun 2005 sebesar 13,3%.

Berdasarkan data tersebut, penulis ingin mencari lebih lanjut tentang

prevalensi dermatomikosis di klinik Kulit Kelamin di Rumah Sakit Umum

Daerah Tangerang.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Berapa prevalensi dermatofitosis di

RSUD Tangerang periode 1 januari 2011 hingga Desember 2011?

1.3TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 Tujuan umum

1.3.2 Untuk mengetahui berapa angka kejadian terjadinya dermatofitosis di

RSUD Tangerang periode 1 januari 2011 hingga 31 Desember 2011. Tujuan

(15)

4

a. Mengatahui prevalensi terjadinya dermatofitosis berdasarkan jumlah pasien

tiap bulan di RSUD Tangerang.

b. Mengetahui jumlah pasien dermatofitosis tiap bulan dan prevalensinya

c. Mengetahui faktor risiko penyakit dermatofitosis berdasarkan bulan

kunjungan dan keterkaitan dengan lingkungan.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Bagi Peneliti :

1. Dapat menerapkan dan memanfaatkan ilmu yang didapat selama

mengikuti pendidikan di Program Studi Pendidikan Dokter.

2. Mendapatkan pengalaman melakukan penelitian terutama di bidang

kesehatan.

3. Peneliti dapat memberikan informasi jumlah kejadian dermatomikosis

1.4.2 Bagi Institutusi Pendidikan :

1. Mengetahui faktor pencetus tersering pada kasus dermatofitosis

2. Mengetahui kelompok umur tersering pada kasus dermatofitosis

3. Menambah referensi penelitian di Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan (FKIK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai upaya nyata

untuk mewujudkan UIN Syarif Hidayatullah sebagai research

university.

4. Menjadi dasar bukti medis secara ilmiah tentang prevalensi

(16)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dermatomikosis

2.1.1. Pengertian

Dermatofitosis adalah penyakit jamur pada jaringan yang menjadi zat

tanduk, seperti kuku, rambut, dan sratum korneum pada epidermis yang disebabkan

oleh jamur dermatofita 7. Dermatofitosis (Tinea) adalah infeksi jamur dermatofit (species microsporum, trichophyton, dan epidermophyton) yang menyerang

epidermis bagian superfisial (stratum korneum), kuku dan rambut. Microsporum

menyerang rambut dan kulit. Trichophyton menyerang rambut, kulit dan kuku.

Epidermophyton menyerang kulit dan jarang kuku. Menurut 1 , dermatofita penyebab dermatofitosis. Golongan jamur ini bersifat mencernakan keratin, dermatofita

termasuk kelas fungi imperfecti. Gambaran klinik jamur dermatofita menyebabkan

beberapa bentuk klinik yang khas, satu jenis dermatofita menghasilkan klinis yang

berbeda tergantung lokasi anatominya.

Dermatofita merupakan kelompok yang secara taksonomi berhubungan

dengan infeksi jamur yang memiliki kemampuan untuk membentuk perlekatan

molekuler ke keratin dan menggunakan keratin sebagai sumber makanan sehingga

dapat berkolonisasi ke dalam jaringan berkeratin8, meliputi stratum korneum, rambut, kuku8,9 dan jaringan tanduk hewan8. Pada penamaan infeksi klinis dermatofitosis, kata tinea mendahului nama latin untuk bagian tubuh yang terkena9.

(17)

6

Gambar 2.1 anatomi kulit16

2.1.3. Faktor – faktor yang mempengaruhi Dermatofitosis.

Menurut Petrus 2005 & Utama 2004 faktor yang mempengaruhi adalah udara

yang lembab, lingkungan yang padat, sosial ekonomi yang rendah, adanya sumber

penularan disekitarnya, obesitas, penyakit sistemik, penggunaan obat antibiotik,

steroid, sitostatika yang tidak terkendali.

2.1.4. Macam – Macam Dermatofitosis

Bentuk – Bentuk gejala klinis Dermatofitosis

1) Tinea Kapitis

Adalah kelainan kulit pada daerah kepala rambut yang disebabkan jamur

golongan dermatofita. Disebabkan oleh species dermatofita trichophyton dan

microsporum. Gambaran klinik keluhan penderita berupa bercak pada kepala, gatal

sering disertai rambut rontok ditempat lesi. Diagnosis ditegakkan berdasar gambaran

klinis, pemeriksaan lampu wood dan pemeriksaan mikroskopis dengan KOH, pada

pemeriksaan mikroskopis terlihat spora diluar rambut atau didalam rambut.

(18)

7

Adalah infeksi jamur kronis terutama oleh trychophiton schoen lini,

trychophithon violaceum, dan microsporum gypseum. Penyakit ini mirip tinea kapitis

yang ditandai oleh skutula warna kekuningan bau seperti tikus pada kulit kepala, lesi

menjadi sikatrik alopecia permanen. Gambaran klinik mulai dari gambaran ringan

berupa kemerahan pada kulit kepala dan terkenanya folikel rambut tanpa kerontokan

hingga skutula dan kerontokan rambut serta lesi menjadi lebih merah dan luas

kemudian terjadi kerontokan lebih luas, kulit mengalami atropi sembuh dengan

jaringan parut permanen. Diagnosis dengan pemeriksaan mikroskopis langsung,

prinsip pengobatan tinea favosa sama dengan pengobatan tinea kapitis, hygiene harus

dijaga.

3) Tinea Korporis

Adalah infeksi jamur dermatofita pada kulit halus (globurus skin) di daerah

muka, badan, lengan dan glutea. Penyebab tersering adalah T. rubrum dan T.

mentagropytes. G tepi lebih aktif dengan tanda peradangan yang lebih jelas. Daerah

sentral biasanya menipis dan terjadi penyembuhan, sementara tepi lesi meluas

sampai ke perifer. Kadang bagian tengahnya tidak menyembuh, tetapi tetap meninggi

dan tertutup skuama sehingga menjadi bercak yang besar. Diagnosis ditegakkan

berdasarkan gambaran klinik dan lokalisasinya serta kerokan kulit dengan

mikroskop langsung dengan larutan KOH 10-20% untuk melihat hifa atau spora

jamur.

4) Tinea Imbrikata

Adalah penyakit yang disebabkan jamur dermatofita yang memberikan

gambaran khas berupa lesi bersisik yang melingkar-lingkar dan gatal. Disebabkan

oleh dermatofita T. concentricum. Gambaran klinik dapat menyerang seluruh

permukaan kulit halus, ambaran klinik biasanya berupa lesi terdiri atas

bermacam-macam efloresensi kulit, berbatas tegas dengan konfigurasi anular, arsinar, atau

polisiklik, bagian sehingga sering digolongkan dalam tinea korporis. Lesi bermula

sebagai makula eritematosa yang gatal, kemudian timbul skuama agak tebal terletak

(19)

8

penyembuhan dibagian tangahnya. Diagnosis berdasar gambaran klinis yang khas

berupa lesi konsentris.

5) Tinea Kruris

Adalah penyakit jamur dermatifita didaerah lipat paha, genitalia dan sekitar

anus, yang dapat meluas kebokong dan perut bagian bawah. Penyebab E. floccosum,

kadang-kadang disebabkan oleh T. rubrum. Gambaran klinik lesi simetris dilipat paha

kanan dan kiri mula-mula lesi berupa bercak eritematosa, gatal lama kelamaan

meluas sehingga dapat meliputi scrotum, pubis ditutupi skuama, kadang-kadang

disertai banyak vesikel kecil-kecil. Diagnosis berdasar gambaran klinis yang khas

dan ditemukan elemen jamur pada pemeriksaan kerokan kulit dengan mikroskopis

langsung memakai larutan KOH 10-20%.

6) Tinea Manus et Pedis

Merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita

didaerah kilit telapak tangan dan kaki, punggung tangan dan kaki, jari-jari tangan dan

kaki serta daerah interdigital. Penyebab tersering T. rubrum, T. mentagrophytes, E.

floccosum.

Gambaran klinik ada 3 bentuk klinis yang sering dijumpai yaitu:

(a) Bentuk intertriginosa berupa maserasi, deskuamasi, dan erosi pada sela

jari tampak warna keputihan basah terjadi fisura terasa nyeri bila disentuh, lesi dapat

meluas sampai ke kuku dan kulit jari. Pada kaki lesi sering mulai dari sela jari III, IV

dan V.

(b) Bentuk vesikular akut ditandai terbentuknya vesikula-vesikula dan bila

terletak agak dalam dibawah kulit sangat gatal, lokasi yang yang sering adalah

telapak kaki bagian tengah melebar serta vesikulanya memecah.

(c) Bentuk moccasin foot pada bentuk ini seluruh kaki dan telapak tepi

sampai punggung kaki terlihat kulit menebal dan berskuama, eritema biasanya ringan

terutama terlihat pada bagian tepi lesi.

Diagnosis ditegakkan berdasar gambaran klinik dan pemeriksaan kerokan

kulit dengan larutan KOH 10-20% yang menunjukkan elemen jamur.

(20)

9

Adalah kelainan kuku yang disebabkan infeksi jamur dermatofita. Penyebab

tersering adalah T. mentagrophites, T. rubrum. Gambaran klinik biasanya menyertai

tinea pedis atau manus penderita berupa kuku menjadi rusak warna menjadi suram

tergantung penyebabnya, distroksi kuku mulai dari dista, lateral, ataupun

keseluruhan. Diagnosis ditegakkan berdasar gejala klinis pada pemeriksaan kerokan

kuku dengan KOH 10-20 % atau biakan untuk menemukan elemen jamur.

Pengobatan infeksi kuku memerlukan ketekunan, pengertian kerjasama dan

kepercayaan penderita dengan dokter karena pengobatan sulit dan lama.

No

Obat anti jamur topical Obat anti jamur sistemik

(21)

10

16

Haloprogin

Table 2.2 pengobatan dermatomikosis12

2.2 Kerangka Konsep

Gambar 2.3 Kerangka Konsep

2.3 Definisi Operasional

Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Skala

Dermatofitosis penyakit pada

Rekam medis Rekam medis Kategorik

(22)

11

Jenis kelamin Identitas pasien

(23)

12 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi deskriptif kategorik. Sumber

data yang digunakan berasal dari data sekunder yang diperoleh dari rekam medik

pasien untuk mengetahui prevalensi penderita Dermatomikois di RSUD

Tangerang pada bulan Januari 2011 hingga bulan Desember 2011.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di bagian rekam medik RSUD Tangerang. Waktu

penelitiin adalah pada bulan 1 April – 1 september 2012

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah data yang diperoleh di rekam medik pasien

dermatomikosis di RSUD Tangerang pada tanggal 1 januari 2011 sampai dengan 31

desember 2011.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling dari

rekam medik di RSUD Tangerang pada tahun 2011. Besar sampel yang ditargetkan

pada penelitian ini adalah sebanyak orang.

Dihitung dengan rumus yang menggunakan :

Dihitung dengan rumus :

) ))

Berdasarkan perhitungan rumus di atas maka besar sampel yang diambil

dalam penelitian ini dapat dihitung sebagai berikut:

Jumlah Sampel = ) ))

(24)

13

n = 177,2

n = 178 orang

Jadi, sampel yang dibutuhkan adalah sebanyak 178 pasien yang diambil dari

rekam medik.

Keterangan:

 Ζα = 1,96 (table kurva normal / Tingkat Kemaknaan)

 P = persentase taksiran hal yang akan diteliti / proporsi variable yang

diteliti, diambil dari prevalensi penelitian sebelumnya = 13,3 % =

 Data pasien yang berasal dari Tangerang

 Data pasien yang memenuhi data umur, jenis kelamin, pendidikan,

alamat dan bulan kunjungan.

B. Kriteria ekslusi :

 Tidak mendapat persetujuan rumah sakit

 Data pasien tercantum tidak lengkap di rekam medik

 Data pasien yang tidak terdiagnosa pasti mikosi yang diperoleh dari rekam medik

 Data pasien yang tidak memenuhi data umur, jenis kelamin,

(25)

14 3.5Cara Kerja Penelitian

3.5.1 Identifikasi Variabel

Dalam penelitian ini terdapat berbagai variable yang akan diteliti yaitu :

-Variabel Bebas = Prevalensi

-Variabel Terikat = Dermatofitosis

3.5.2 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan menggunakan data sekunder

berupa rekam medis dari pasien yang datang memeriksakan diri di

RSUD Tangerang Tahun 2011. Kemudian peneliti meminta izin

kepada bagian rekam medis untuk menyiapkan rekam medis pasien

dan peneliti mengisi lembar penelitian berdasarkan data dalam

rekam medis.

3.5.3 Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan sistem komputerisasi melalui

beberapa proses sebagai berikut:

1. Editing, untuk memastikan data yang di peroleh terisi

semua atau lengkap dan dapat dibaca dengan baik,

relevan, serta konsisten.

2. Coding, dapat diperoleh dari sumber data yang sudah

diperiksa kelengkapannya kemudian dilakukan

pengkodean sebelum diolah dengan komputer.

3. Entry data, data yang telah di coding diolah dengan

bantuan progam komputer.

4. Cleaning, proses pengecekan kembali data yang sudah

dientry apakah ada kesalahan atau tidak.

5. Manajemen data, proses memanipulasi atau merubah

(26)

15

6. Analisi data, proses pengolahan data serta menyusun

hasil yang akan di laporkan.

Data di input ke dalam SPSS 16.0 yang kemudian diverifikasi.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan prevalensi dan distribusi

frekuensi. Data lalu disajikan secara deskriptif dalam bentuk

narasi, teks, tabel dan grafik.

3.5.4 Etika Penelitian dan Alur Penelitian

Peneliti meminta izin kepada RSUD Tanggerang. Penelitian dilakukan

dengan aspek kerahasiaan terhadap rekam medik yang dianalisis tanpa

informed consent terhadap pasien. Penelitian dilaksanakan dalam beberapa

tahap yaitu :

1. Pembuatan proposal

2. Pencatatan rekam medis

3. Pemasukkan dan pengolahan data ke SPSS

4. Analisis data

(27)

16 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil

4.1.1 Prevalensi Dermatofitosis di RSUD Tangerang tahun 2011

Dari hasil pengumpulan data di Bagian Rekam Medik RSUD tangerang,

didapatkan jumlah keseluruhan pasien pada bulan januari 2011 hingga desember

2011 sejumlah 7954 orang, kemudian didapatkan jumlah seluruhnya pasien

dermatofitosis sejumlah 638 orang. Dengan berdasar pada data tersebut,

prevalensinya adalah:

Keterangan: Ʃ=Jumlah, Konstanta = 100%

Maka prevalensi pasien Dermatofitosis di RSUD Tangerang tahun

2011 sebesar:

4.1.2 Pola Distribusi Dermatofitosis Berdasarkan Jenis Kelamin

Table 4.1 Distribusi Prevalensi Dermatofitosis Berdasarkan Jenis Kelamin

Variable Karakteristik Jumlah (n) Present (%)

Jenis kelamin Perempun 99 55,6

Laki-laki 79 44,4

Total 178 100,0

Point Pravalence Rate = Ʃ pasien Dermatomikosis x Konstanta

Ʃ pasien keseluruhan selama satu periode

Point Pravalence Rate = 178 x 100 % = 27,89 %

(28)

17

Berdasarkan hasil penelitian di Divisi Mikologi URJ Kulit Kelamin

RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 2003-2005, perbandingan angka kesakitan

mikosis superfisialis pada perempuan lebih besar daripada laki-laki17.

Distribusis waktu kasus mikosis superfisialis di Divisi Mikologi URJ

penyakit Kulit dan Kelamin di RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun 2003-2005

menunjukkan gambaran yang kurang khas. Hal tersebut bisa didapatkan karena

tahun-tahun tersebut pergantian musim di Indonesia sering tidak berjalan

dengan normal selain disebabkan penderita mencari pengobatan saat penyakitnya

sudah diderita agak lama tidak pada saat baru menderita17.

4.1.3 Pola Distribusi Dermatofitosis Berdasarkan Usia A. Hasil Penelitian

Tabel 4.2 Distribusi Prevalensi Dermatofitosis Berdasarkan Usia

Kelompok Usia (tahun) Jumlah (pasien) Presentase (%)

1-14 19 10,7

yang menderita mikosis superfisialis ialah usia produktif yaitu 25-44 tahun17.

Batasan-batasan usia

a. Menurut organisasi kesehatan dunia, WHO, ada empat tahap yakni:

1. Usia Pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun. 2. Lanjut Usia (elderly) ialah antara 60 dan 74 tahun.

3. Lanjut Usia Tua (old) ialah antara 75 dan 90 tahun 4. Usia Sangat Tua (very old) ialah di atas 90 tahun.

(29)

18

1. Fase inventus usia antara 25 – 40 tahun 2. Fase vertilitas usia antara 40 – 50 tahun 3. Fase prasenium usia antara 55 – 65 tahun

4. Fase senium usia antara 65 tahun hingga tutup usia.

c. Menurut Prof DR Ny Sumiati Ahmad Muhammad (alm), Guru Besar Universitas Gajah Mada Fakultas Kedokteran, periodisasi biologis perkembangan manusia dibagi sebagai berikut:

1. Usia 0-1 tahun (masa bayi) 2. Usia 1-6 tahun (masa prasekolah) 3. Usia 6-10 tahun (masa sekolah) 4. Usia 10-20 tahun (masa pubertas)

5. Usia 40-65 tahun (masa setengah umur, prasenium) 6. Usia 65 tahun keatas (masa lanjut usia, senium)

d. Menurut prof. DR. Koesoemanto Setyonegoro, SpKJ, lanjut usia dikelompokkan sebagai berikut:

1) Usia dewasa muda (elderly adulthood) (usia 18/20-25 tahun)

2) Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas (usia 25-60/65 tahun)

3) Lanjut usia (geriatric age)(usia lebih dari 65/70 tahun), terbagi:

1. Usia 70-75 tahun (young old)

f. Referensi lain mengklasifikasikan lansia sebagai berikut : (Depkes RI, 2003) :

1. Pra lansia (prasenilis) yaitu Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun 2. Lansia adalah Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih

(30)

19

4. Lansia potensial adalah Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa

5. Lansia tidak potensial adalah Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

B. Pembahasan Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa kelompok umur yang

terbanyak menderita mikosis superfisialis di Divisi Mikologi URJ penyakit Kulit

dan Kelamin di RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun 2003-2005 adalah kelompok

umur usia produktif yang banyak mempunyai faktor predisposisi, misalnya

pekerjaan basah, trauma, dan banyak berkeringat, sehingga risiko untuk menderita

mikosis superfisialis lebih besar dibandingkan dengan kelompok umur lainnya.

Sedangkan kelompok usia yang paling jarang menderita mikosis superfisialis di

DIvisi Mikologi URJ penyakit kulit dan kelamin RSUD Dr.Soetomo Surabaya

adalah kelompok usia 1-4 tahun yang merupakan golongan balita yang sedikit

mempunyai faktor risiko17.

4.1.3 Pola Distribusi dermatofitosis

A . Hasil Penelitian

Table 4.3 Distribusi Penyakit Dermatofitosis

(31)

20

Total 178 100,0

Dari hasil penelitian di di Divisi Mikologi URJ penyakit Kulit dan Kelamin di RSUD

Dr. Soetomo Surabaya tahun 2003-2005, penelitian ini menunjukkan insidensi

terbanyak adalah dermatofitosis. Mikosis superfisialis yang banyak dijumpai

adalah pitiriasis versikolor, kandidosis, dan dermatofitosis4. Berbeda dengan laporan Budimulja Jakarta tahun 1989 dan Dhina dkk tahun 1994 di Semarang yakni

pitiriasis versikolor menempati urutan pertama disusul dengan dermatofitosis dan

kandidiasis kutis6.

Ditinjau dari masing-masing kasus, pitiriasis versikolor merupakan kasus,

pitiriasis versikolor merupakan kasus yang paling banyak dijumpai dari seluruh

kasus mikosis superfisialis. Pitiriasis versikolor merupakan penyakit infeksi jamur

superfisial pada kulit yang disebabkan oleh Malassezia furfur yang tersebar

diseluruh dunia, terutama banyak ditemukan pada daerah tropis dan subtropis

dengan temperature dan kelembapan relative tinggi18. Penyakit tersebut banyak ditemukan pada penderita dengan social ekonomi rendah dan berhubungan

dengan buruknya hygiene perorangan. Faktor predisposisi sangat berperan pada

terjadinya pitiriasis versikolor18, antara lain genetik, pemakaian kortikosteroid atau antibiotika jangka panjang, gizi kurang, dan banyak keringat10.

Di National Skin Care Singapura pada tahun 1999-2003 didapatkan 12.903

mungkin disebabkan karena kebiasan pemakaian sepatu tertutup dalam aktivitas

atau pekerjaan sehari-hari, hal tersebut berkaitan dengan banyaknya industry di

(32)

21 4.2 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian epidemiologi deskriptif kategorik yang

berarti menganalisa penyakit yang ada dalam suatu populasi tertentu dengan

memaparkan keadaan dan sifat masalah tersebut dalam berbagai variabel

(33)

22 BAB V

PENUTUP 5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanankan di RSUD Tangerang

pada bulan Januari 2011 hingga bulan Desember 2011, maka dapat ditarik

beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Prevalensi dermatomikosis di RSUD Tangerang pada bulan

Januari hingga bulan Desember 2011 adalah sebesar 27,89% .

2. Pola distribusi dermatomikosis berdasarkan jenis kelamin

diperoleh gambaran pada pasien perempuan yaitu 99 (55,5%)

dari 178 pasien.

3. Pola distribusi Dermatomikosis berdasarkan usia di peroleh

gambaran pasien yang tergolong usia.

4. Pola distribusi dermatomikosis berdasarkan jenis penyakit

dermatomikosis didapatkan penyakit yang terbanyak diderita

pasien poli klinik kulik dan kelamin di RSUD tangerang tahun

2011 yaitu.

5.2 Saran

1. Diharapkan untuk penelitian berikutnya dapat menggunakan sampel

(34)

23 DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, A., Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, editor Hamzah Mochtar,

Aisah Siti. Ed.5. Jakarta: FKUI.

2. Siregar, R.S., 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, editor, Huriawati

Hartanto. Ed.2. Jakarta: EGC. pp : 29,57

3. Rayendra, Raendi. 2006. Tinea kruris et korporis et fasialis disertai pitiriasis

versikolor yang diterapi dengan intrakonazol. Penelitian di RS. dr. Hasan

Sadikin Bandung periode Januari 2001 sampai Desember 2005

4. Budimulja, U., 2009. Mikosis. Dalam : Djuanda, A., Ilmu Penyakit Kulit

dan Kelamin, editor Hamzah Mochtar, Aisah Siti. Ed.5. Jakarta: FKUI.

pp:89-105

5. Soebono, H., 2001. Dermatomikosis Superfisialis. Jakarta ; Balai Penerbit

FKUI.

6. Adiguna, MS., 2004. Epidemiologi Dermatomikosis di Indonesia. Dalam:

Dermatomikosis Superfisialis. Jakarta; Balai Penerbit FKUI.

7. Marwali, Harahap, 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrat es. Jakarta.

8. Nelson MM, Martin AG, Heffernan MP. Superficial fungal infections:

dermatophytosis, onychomycosis, tinea nigra, piedra. Dalam: Freedberg IM,

Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, dkk, penyunting.

Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. Edisi ke-6. New York: Mc

(35)

24

9. Sobera JO, Elewski BE. Infections, infestasions and bites: Fungal diseases.

Dalam: Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP, penyunting. Dermatology.

Philadelphia: Mosby;2003.h.1171-98.

10.Klenk AS, Martin AG, Heffernan MP. Yeast infections: Candidiasis,

Pytiriasis (Tinea) versicolor. Dalam: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K,

Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, dkk, penyunting. Fitzpatrick’s

dermatology in general medicine. Edisi ke-6. New York: Mc Graw-Hill

Co;2003.h.2006-16.

11.Hurwitz S. Skin disorders due to fungi. Dalam: Clinical pediatric

dermatology. Edisi ke-2. Philadelphia: W.B. Saunders Co;1993.h.372-90.

12.Lubis, Ramona Dumasari. 2008. Pengobatan Dermatomikosis. Di akses 2

februari 2012.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3399/1/08E00891.pdf

13.Siregar, R.S., 2004. Penyakit Jamur Kulit, editor, Huriawati Hartanto. Ed.2.

Jakarta: EGC. pp : 17,43

14.Mulyati, Ridhawati, Jan Susilo., 2009. M i k o l o g i , D a l a m : B u k u A j a r

P a r a s i t o l o g i K e d o k t e r a , e d i t o r : S u s a n t o i n g e , I s m i d I s

S u h a r i a , S j a r i f u d d i n P u d j i K , S u n g k a r S a l e h a . E d . 4 . J a k a r t a .

p p : 3 0 7 - 3 0 8

15.Gandjar , Indrawati ., 2006. Dermatomikosis . Dalam: Mikologi Dasar dan

Terapan. Ed. 1. Jakarta Pp: 95. http:// books.google.co.id

16.The Lone Ranger .2007. Skin and the Integumentary System . gambar 2.1

anatomi kulit..http://www.freethought-

(36)

25

17.Hidayati, Afif Nurul., Suyoso, Sunarso., P,desy Hinda., Sandra, Emilian.

Mikosis Superfisialis di Divisi Mikologi Unit Rawat Jalan Penyakit Kulit dan

Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya Tahun 2003-2005

18.Rippon JW. Medical mycology. Edisi ke-3. Philadelphia: WB Saunders Co;1988.h.694-5.

(37)

26 LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Ani Oktavia

Tempat Tanggal Lahir : Pangkalan Balai, 05 oktober 1991

Alamat : Jl. Pahlawan XII N0.161 RT 04/01 Desa Petaling Kec.

Banyuasin Kab. Banyuasin III Provinsi Sumatra Selatan

Email : anioktavia@ymail.com

No. Hp : 081286799826

Riwayat Pendidikan

 1997 - 2003 : SDN 01 Petaling Jaya

 2003 - 2006 : SMP N 01 Rantau Bayur

 2006 - 2009 : MAN 01 Pangkalan Balai

 2009 - Sekarang : FKIK Program Studi pendidikan Dokter UIN Syarif

(38)

27 HASIL OUTPUT SPS

Analisis Univariat

Statistics

Jenis Kelamin Responden

N Valid 178

Missing 0

Skewness .228

Std. Error of Skewness .182

Kurtosis -1.970

Std. Error of Kurtosis .362

Jenis Kelamin Responden

Frequency Percent

valid

Percent

Cumulative

Percent

Valid Pr 99 55.6 55.6 55.6

Lk 79 44.4 44.4 100.0

(39)

28 Statistics

Umur Responden

N Valid 178

Missing 0

Skewness -.374

Std. Error of Skewness .182

Kurtosis -.714

(40)

29 Umur Responden

Frequency Percent

Valid

Percent

Cumulative

Percent

valid anak-anak 19 10.7 10.7 10.7

orang muda

dan dewasa 88 49.4 49.4 60.1

orang tua 71 39.9 39.9 100.0

(41)

30 Statistics

Dermatomikosis

N Valid 178

Missing 0

Skewness .873

Std. Error of Skewness .182

Kurtosis -.830

Std. Error of Kurtosis .362

Dermatomikosis

Frequency Percent

Valid

Percent

Cumulative

Percent

valid Tkk 90 50.6 50.6 50.6

t.kapitis 3 1.7 1.7 52.2

t.kruris 38 21.3 21.3 73.6

t.korporis 5 2.8 2.8 76.4

t.aksilaris 2 1.1 1.1 77.5

t.pedis 5 2.8 2.8 80.3

pitiriasis

versikolor 35 19.7 19.7 100.0

(42)

Gambar

Gambar 2.1 anatomi kulit16
Table 2.2  pengobatan dermatomikosis12
Table 2.4 Definisi Operasional
Table 4.1 Distribusi  Prevalensi  Dermatofitosis Berdasarkan Jenis Kelamin
+3

Referensi

Dokumen terkait

Geomorfologi mikro contohnya adalah kajian tentang perubahan aliran di permukaan bumi (mengarah pada fenomena yang lebih luas baik yang disebut fenomena alam

Langkah-langkah menentukan rute terpendek menggunakan algoritma genetika dengan metode roulette wheel selection adalah mendefinisikan rute ke dalam individu dalam

Upaya masyarakat petani budidaya ikan dalam menanggulangi pencemaran lingkungan air kecenderungan baru melakukan tindakan pencegahan setelah menerima akibat musibah ikan

Struktur geologi yang dijumpai di sekitar ketanggugan berupa sesar naik yang berarah barat- timur pada berbukit di selatan Ketanggungan.. Kekar umumnya dijumpai

Melalui penerapan teknologi tersebut di atas Kabupaten Ogan Komering Ilir berpotensi sebagai kontributor dalam Program Ketahan Pangan Nasional dengan memanfaatkan

Menurut Fitriyanto (2010) dengan judul Pengaruh Pengawasan Dan Lingkungan Kerja Non Fisik Terhadap Disiplin Kerja Pegawai Di Kecamatan Kebakkramat Karanganyar Tahun

Indeks berat isi volume (bulk density) Hasil uji berat isi volume tanah menunjukkan bahwa terjadi penurunan indeks pada setiap peningkatan taraf dosis limbah padat

Hasil diatas dapat dilihat bahwa perbandingan tepung kacang tanah dengan tepung ubi jalar merah dan suhu pemanggangan terjadi pengaruh kadar protein kode sampel