Skripsi
DiajukanKepadaFakultasIlmuDakwahdanIlmuKomunikasiUntukMemenuhi PersyaratanMemperolehGelarSarjanaIlmu Komunikasi Islam
(S.Kom.I)
Oleh:
ANIA FEBRIANI FASYA NIM :108051000143
KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Semiotika Arti Kasih Ibu dalam Film Semesta Mendukung
Film merupakan salah satu bentuk media komunikasi massa dari berbagai teknologi dan berbagai unsur-unsur kesenian. Sebagai seni ketujuh, film sangat berbeda dengan seni sastra, teater, seni rupa, seni suara, musik, dan arsitektur yang muncul sebelumnya. Seni film sangat mengandalkan teknologi baik bahan baku produksi maupun dalam hal ekshibisi kehadapan penontonnya. Film Islami saat ini sudah banyak diputar oleh berbagai sineas, seperti salah satunya film Semesta Mendukung sebagai yang memvisualisasikan arti kasih ibu.
Maka dalam hal ini, bagaimana repsentasi arti kasih ibu dalam film Semesta Mendukung?
Representasi arti kasih ibu dalam film ini yang khususnya surga di bawah telapak kaki ibu, divisualisasikan dengan adegan dimana saat pemeran utama Arif (Sayef M Billah) bertemu kembali dengan ibunya setelah berpisah selama tujuh tahun dan bertemu kembali setelah Arif melakukan pencarian. Pada saat pertemuan Arif sujud di bawah telapak kaki sang ibu.
Dalam hal ini, peneliti menggunakan teori semiotika Roland Barthes yang menjelaskan makna denotasi dan konotasi, namun dikaitkan dengan komponen
dan elemen tekhnik semiotika Steve Campsall yang menjelaskan unsur-unsur sinematografi dalam adegan-adegan yang diteliti.
Semiotik secara umum didefinisikan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis disetiap kegiatan dan perilaku manusia.
Representasi arti kasih ibu terdapat beberapa adegan dalam film ini. Namun dalam adegan utama yang menjadi pokok penelitian divisualisasikan dengan adegan yang cukup haru ketika Arif berlutut di bawah telapak kaki ibunya
Jadi, film ini menampilkan arti kasih ibu khususnya dalam surga di telapak kaki ibu. Arif sangat merindukan ibunya yang pergi dan Arif pun berusaha mencarinya. Arif pun tidak lupa untuk menjalankan apa yang ibunya pesankan terhadapnya.
Dialah sumber tempat bersandar, dan sumber kenikmatan hidup yang tanpa batas,
Rahmandan Rahim tetap menghiasi asma-Nya, sehingga penulis diberikan
kekuatan fisik dan skripsi untuk dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul
SEMIOTIKA MAKNA ARTI KASIH IBU PADA FILM SEMESTA MENDUKUNG Salawat beserta salam tetap tercurahkan atas penghuluumat Islam Nabi Muhammad SAW beserta para keluarganya, sahabat dan para
pengikutnya yang telah membuka pintu keimanan yang bertauhidkan kebenaran,
kearipan hidup manusia dan pencerahan atas kegelapan manusia serta
uswatunhasanah yang dijadikan sebuah pembelajaran bagi muslim dan muslimah
hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang baik ini, izinkanlah penulis menyampaikan rasa
hormat dan ucapan terimakasih pada semua pihak yang dengan tulus ikhlas telah
memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini, terutama kepada:
1. Dr. Arief Subhan M.A, selaku Dekan Fakultas Dakwah dan
Komunikasi, Drs. WahidinSaputra M.A, selaku Pembantu Dekan ,
Drs. Mahmud Djalal, M.A, selaku Pembantu Dekan Bidang
Administrasi dan Keuangan, dan Drs. Study Rizal, L.K, M.A, selaku
Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan.
2. Drs.Jumroni, M.Si. selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran
berkenan meluangkan waktu untuk memberikan pengarahan dan
inspirasinya yang sangat berharga.
4. Kedua orang tua tercinta, Anwar Alamsyah dan Maria Ulfa atas segala
kasih sayang, perhatian, dorongan yang tak pernah lelah dan bosan
dalam mendoakan untuk kesuksesan putrimu. Khusus untuk mamah,
aku merasakan arti kasih ibu yang sesungguhnya.
5. Adikku tersayang, the best sibling in the world Fachri Fauzi yang
sesalu memberikan motivasi, dukungan moril mau pun materil, serta
kasih sayang yang tak terhingga.
6. Keluarga besar H. Zaini dan Hj. Yumnah Noor serta keluarga besar
Sait dan Cumi yang telah memberikan dukungan, doa dan semangat.
7. Sahabat sejati, Gang Ga Kompak dan Full Team: Azizatul Aghnia, Eva
Pratiwi Rusiana, Melani Khusna Shantika, Hanna Syadzwina yang
mengisi hari-hari dengan semua hal yang menyenangkan dan khusus
buat Om Herry Haryadi terimakasih yang akhirnya telah menemukan
DVD film Semesta Mendukung ini. Serta Rizka Eka Rahayu, Marissa
Suci Syahrani, Fikri Ferdian Fauzi, dan Adiya Gautama.
8. D’ Ribet: Azizatul Aghnia (lagi), Rochmah Afiani, Renita Azhari, Nur
Azima, Rury Wulansari atas 4 tahun yang sangat berhaga, serta KKN
Let’s Go alias Piranha: M. Irfan Faqih, Dang Krissandy, Rifki M.
Irsyad, Leni Cahyani, Samsul Muarif, M. Ade Rifayu, Nurfitriani, Lily
persahabatan, persaudaraan, dan arti berbagi.
9. Teman-teman semiotik seperjuangan Rani Novianty, Uray Noviandy
Taslim, M. Dhiya Ulhaq atas sharing materi skripsi, teman siding
munaqasah Siti Asiyah dan Jati Samudra untuk hari-hari yang sangat
melelahkan dan jangan pernah menyerah karena kita sudah melangkah
sejauh ini.
10.Teman-teman KPI E Multitalenta, untuk cerita dan semua hal berharga
yang kalian berikan dan teman-teman FIDKOM 2008.
11.Dea Rahadian, untuk kamu yang ada di awal dan di akhir perkuliahan,
hadir di detik-detik terakhir setelah sekian lama menghilang, yang
tidak pernah lelah memberikan semangat setiap hari, motivasi, canda
tawa disaat jenuh, serta cerita berwarna.
12.Si pelatih kesabaran, penyemangat hidup, pemberi motivasi,
pendukung terbaik dan my lucky number 7 #tujuh, atas semangat,
dukungan, doa, keyakinan dan semua hal yang telah dilakukan “kita ga
pernah tau sebelum kita nyoba!” Destrian Panducita.
Ciputat, 02 Januari 2013
ABSTRAK ... i A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatsan dan Perumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
B. Tinjauan Umum Tentang Semiotika ... 33
C. Makna Arti Kasih IbuDalamPandangan Islam ... 39
BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG FILM SEMESTA MENDUKUNG A. Film Sebagai Media Dakwah………... 42
B. Sinopsis Film Semesta Mendukung ... 43
C. Profil Pemain Film Semesta Mendukung ... 46
BAB IV SEMIOTIKA ARTI KASIH IBU DALAM FILM SEMESTA MENDUKUNG A. PenandaanMaknaArtiKasihIbu ...57
B. Unsur-unsurGrafis Dan Makna Arti Kasih Ibu ...70
A. Semiotika dalam Adegan Arti Kasih Ibu ...71
B. Interpretasi ... 85
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 88
Tabel 2.2 Tabulasi Analisis Film ...36
Tabel 4.1 Cut of Shot Pengantar Shot “Kerinduan Anak Kepada Ibunya” ... 59
Tabel 4.2 Ikon, Indeks dan Simbol dalam Scene“Rindu Anak Kepada Ibunya” .... 64
Tabel 4.3 Cut of Shot Pengantar Scene “Pertemuan Seorang Anak dengan Ibunya” ... 66
Tabel 4.4 Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Scene“Pertemuan Seorang Anak dengan Ibunya” ... 69
Tabel 4.5 Denotasi dan Konotasi Adegan ... 71
Tabel 4.6 Ikon, Indeks dan Simbol dalam Scene 1 ... 72
Tabel 4.7 Cut of Shotdari Adegan “Arti Kasih Ibu” ... 73
Tabel 4.8 Unsur Sinematografi Adegan ... 75
Tabel 4.9 Dialog dan Gambar Ilustrasi Adegan 1 ...83
Gambar 3.2 John De Rantau ... 45
Gambar 3.3 Lukman Sardi ... 48
Gambar 3.4 Helmalia Putri ... 49
Gamabar 3.5 Revalina S. Temat ... 50
Gambar 3.6 Ferry Salim ... 52
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Semesta Mendukung merupakan film ketujuh yang diproduksi oleh
Mizan Productions setelah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Garuda di Dadaku,
Emak Ingin Naik Haji, dan 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. ini Mizan Productions
bekerjasama dengan Falcon Picture. Film Mestakung merupakan film yang
terinspirasi dari kisah nyata semangat tim olimpiade sains Indonesia sebagai
juara umum olimpiade fisika di Singapura, namun karakter, detail cerita serta
peristiwanya merupakan rekaan.
Film ini menceritakan tentang Arif, seorang anak yang sangat
mencintai Fisika dan berasal dusun di Pamekasan, Madura. Jauh dari gemerlap
kota dan fasilitas yang memadai sekaligus kesulitan ekonomi yang
dialaminya, tidak memadamkan kecintaannya pada dunia sains khususnya
Fisika.
Beruntung, dia mempunyai guru seperti Ibu Tari, seorang perempuan
Minang yang karena dedikasinya terhadap dunia pendidikan rela terdampar di
Madura untuk menemukan intan-intan pecinta ilmu sains. Di luar
kecerdasannya, Arif tetaplah seorang anak yang merindukan sang ibu yang
lama pergi. Sang ibu yang akhirnya harus dicarinya hingga ke Singapura.
Profesor Johannes Surya, ahli fisika, memiliki istilah menarik untuk
menunjukkan bahwa keinginan kita dibantu oleh alam raya. Kata sang
bisamenghalangi tercapainya keinginan kita tersebut. Istilah menarik itu
adalah “mestakung” atau “semesta mendukung”.Prof. Yohanes Surya, Ph.D,
tampil sebagai bintang tamu dalam salah satu adegan film besutan sutradara
John de Rantau. Dengan menggunakan istilah tersebutlah Mizan Productions
kemudian menjuduli film produksinya.
Film merupakan produk komunikasi massa yang sangat berpengaruh
bagi kehidupan manusia. Kerjanya ibarat jarum hipodemik atau peluru yang
banyak dicetuskan oleh pakar ilmu komunikasi, dimana kegiatan mengirimkan
pesan sama halnya dengan tindakan menyuntikan obat yang dapat langsung
merasuk ke dalam jiwa penerima pesan.1
Film dapat dikatakan sebagai media komunikasi yang unik
dibandingkan dengan media lainnya, karena sifatnya yang bergerak secara
bebas dan tetap, penerjemahannya langsung memalui gambar-gambar visual
dan suara yang nyata, juga memiliki kesanggupan untuk menangani berbagai
subyek yang tidak terbatas ragamnya.2
Film saat ini sudah menjadi keseharian dalam kehidupan modern umat
manusia di dunia. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa
ini, menonton film menjadi sangat mudah didapatkan. Setiap hari bahkan
setiap jam, kita dapat menyaksikan berbagai film, baik itu melalui televisi,
gedung-gedung bioskop, VCD, DVD, hingga internet yang tersebar
dimana-mana. Bahkan kini telah hadir Indivision yang berupa stasiun televisi yang
hanya menyuguhkan film sebagai program acara setiap harinya, oleh
1
Morisan, Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio dan Televisi (Tangerang: Ramdina Prakasa, 2005), h. 12
2
karenanya saat ini sepertinya film mustahil dipisahkan dari kehidupan
manusia, termasuk anak-anak.
Namun menjadikan film sebagai media dakwah tentunya harus bisa
menyesuaikan bagaimana pesan dakwah yang disampaikan dapat diterima
oleh audiensnya tanpa terasa menggurui. Hal ini yang dilakukan oleh seorang
sutradara Indonesia yang bernama John De Rantau. Ia membuat sebuah film
motivasi tentang pendidikan dan arti kasih ibu yang terinspirasi dari
kisah-kisah gemilang putra-putri Indonesia mengangkat nama bangsa Indonesia di
kancah dunia internasional lewat berbagai olimpiade sains dan tidak
menyampingkan arti kasih ibu. Film yang diproduksi Mizan Production dan
Falcon Pictures.
Begitu berat tugas orang tua terutama ibu dalam mendidik anak.
Sehingga diperlukan seluruh potensi kebaikan pada diri ibu, diperlukan
pengetahuan dan pengetahuan praktis tentangnya. Ibu, sebagaimana juga ayah,
perlu mengetahui prinsip dasar pendidikan anak, baik yang bersifat
fundamental dalam syariat Islam maupun ilmu pengetahuan umum yang terus
berkembang. "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya manusia dan batu" (Q.S. At-Tahrim:6) "Surga di bawah telapak kaki
ibu". Pada diri ibu terletak tanggungjawab besar mengantarkan anaknya ke
surga dengan memberikan pendidikan terbaik. Ibu adalah tauladan, ibu adalah
contoh sempurna dalam akhlaq dan tindakan. Kebahagiaan dan kesengsaraan
anak baik di dunia maupun di akhirat sangat dipengaruhi oleh sosok seorang
seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, dan mendidik
putra-putrinya.
Pesan utama yang diangkat dalam film ini tentang kuatnya
persahabatan, kecintaan pada sains dan arti kasih ibu, film ini bercerita tentang
Arif, seorang anak yang sangat mencintai Fisika. Meskipun mengalami
kesulitan ekonomi tidak memadamkan kecintaannya pada dunia sains. Walau
tinggal di sebuah dusun di Pamekasan, Madura yang jauh dari gemerlap kota
dan fasilitas belajar yang memadai, Arif tetapmenekuni Fisika. Arif ikut
olimpiade sains yang diadakan di Singapura, namun Arif mempunyai agenda
tersembunyi yaitu menemukan ibunya di sana, yang terpaksa bekerja menjadi
TKW karena kondisi ekonomi yang serba kekurangan. Setelah bertahun-tahun
belum juga kembali dan tidak pernah memberi kabar.
Dari masalah yang terlihat sepele inilah akan muncul masalah-masalah
lain dan akhirnya banyak hikmah dan pesan-pesan yang bisa dipetik dari
adegan yang secara natural diperankan oleh para pemainnya.
Berdasarkan latar belakang pemikiran diatas, maka peneliti bermaksud
menyusun skripsi dengan judul “ SEMIOTIKA ARTI KASIH IBU DALAM
FILM SEMESTA MENDUKUNG”, karya John De Rantau.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Merujuk pada latar belakang yang telah dijabarkan oleh penulis diatas,
maka penulis membatasi penelitian pada pesan tanda atau simbol yang
mengandung aspek arti kasih ibu yang ada pada film Semesta Mendukung
karena menurut Barthes semua objek kultural dapat diolah secara tekstual.
Dengan demikian semiotik dapat meneliti bermacam-macam teks seperti
berita, film, fiksi, fashion, dan drama.3
Sedangkan rumusan masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah:
1. Bagaimana penandaan makna arti kasih ibu dalam film Semesta
Mendukung?
2. Bagaimana unsur-unsur grafis (visual) makna arti kasih ibu dalam film
Semesta Mendukung?
3. Bagaimana interpretasi pemaknaan arti kasih ibu dalam film Semesta
Mendukung?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pemikiran dan permasalahan diatas, penelitian ini
bertujuan untuk:
1. Untuk memahami makna denotasi, konotasi dan mitos dalam film Semesta
Mendukung.
2. Untuk memahami apa unsur-unsur grafis makna arti kasih ibu dalam film
Semesta Mendukung.
3. Untuk memahami interpretasi pemaknaan arti kasih ibu dalam film
Semesta Mendukung.
3
D. Manfaat Penelitian 1. Segi Akademis
Diharapkan dapat memberikan kontribusi yang baik dan positif
dalam bidang pendidikan melalui media masa, khususnya tentang
penelitian analisis semiotika film Semesta Mendukung sebagai media
dakwah tentang arti kasih ibu melalui media massa yaitu film.
2. Segi Praktis
Untuk menambah wawasan bagi praktisi komunikasi dan
pendakwah tentang pentingnya manfaat segala bentuk media yang ada
sebagai alat bantu, juga setiap manusia juga bisa ikut berperan dalam
memajukan pesan dakwah, tidak terkecuali para seniman sastra yang
mementingkan nilai arti kasih ibu. Dan juga penelitian ini diharapkan
dapat mengembangkan pemikiran serta pengetahuan mengenai
simbol-simbol dan tanda-tanda dibalik sebuah film. Serta dapat menghargai
sinema Indonesia dan lebih kritis dalam memilih film yang bermutu.
E. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
deskriptif kualitatif, dimana hasil temuan akan dideskripsikan kemudian
ditinjau kembali untuk dianalisis dari hasil pengamatan lapangan dan
penelusuran pustaka. Sedangkan taraf analisis dalam penelitian ini adalah
deskriptif. Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan
deskriptif kualitatif adalah proses pencarian data untuk memahami
masalah sosial yang didasari pada penelitian yang menyeluruh(holistic).
2. Jenis Data
Adapun sumber data dalam penelitian ini terbagi dalam dua
kategori yaitu data primer dan data sekunder. Sumber data primer yaitu
data yang dikumpulkan oleh peneliti, seperti wawancara langsung, dan
merupakan sasaran utama dalam penelitian ini, sedangkan sumber data
sekunder digunakan untuk diaplikasikan guna mempertajam anlisis data
primer, yaitu sebagai pendukung dan penguat data primer dalam
penelitian.
Sumber Data Primer:
Yaitu data yang diperoleh dari hasil analisis semiotik adegan yang
mengandung makna pesan dakwah tentang arti kasih ibu yang terdapat
pada film Semesta Mendukung.
Sumber Data Sekunder:
yaitu data bersumber pada berbagai referensi seperti buku, film,
media internet, dan terbitan lain yang ada relevansinya dengan maslah
penelitian.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah film Semesta Mendukung karya John
De Rantau. Dan objek penelitian ini adalah scene dalam film Semesta
4. Teknik Pengumpulan Data
Adapun tahapan-tahapan dalam pengumpulan data penulis
menggunakan metode sebai berikut:
a. Observasi atau pengamatan yaitu metode pertama yanng dugunakan
dalam penelitian ini dengan melakukan pengamatan dan pencatatan
dalam fenomena-fenomena yang diselidiki. Di sini penulis membaca
dan memahami isi pesan dan makna dari tanda atau simbol yang ada
pada film Semesta Mendukung ini. Setelah itu penulis mengutip
kemudian mencatat dialog ataupun paragraf yang mengandung pesan
pada film ini untuk dijadikan codingsheet, yakni rangkaian
pencatatanlambang atau pesan secara sistematis untuk kemudian
diberikan interpretasi.4
b. Metode wawancara (interview) adalah metode pengumpulan data
dengan melakukan komunikasi tatap muka (face to face) antara
peneliti dan sumber penelitian. Dalam hal ini penulis melakukan
wawancara dengan John De Rantau sebagai sutradara dari film
Semesta Mendukung.
c. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, buku-buku yang menunjang penulisan skripsi ini,
internet dan lain sebagainya.
Langkah selanjutnya ialah mengumpulkan datayang diperoleh dari
hasil pemilihan dialog, wawancara, serta dokumentasi. Lalu mengolah
hasil temuan atau data dan meninjau kembali data yang telah
4
terkumpul. Seluruh data tersebut nantinya akan dipaparkan dengan
didukung oleh beberapa hasil temuan studi pustaka yang kemudian
dianalisis.
5. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
anlisis semiotik yang bersifat kualitatif. Secara sederhana semiotik adalah
ilmu tentang tanda-tanda. Semiotik mempelajari sistem-sistem,
aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut
berarti. Semiotik adalah studi tentang bagaimana bentuk-bentuk simbolik
diinterprestasikan. Kajian ilmiah mengenai pembentukan makna. Secara
subtansial, semiotika adalah kajian yang consern dengan dunia simbol.
Metode ini memperkaya pemahaman kita terhadap teks, sebagai
sebuah metode, semiotik bersifat interpretatif, dan konsekuensinya sangat
subjektif. Namun hal ini tidak mengurangi nilai semiotik karena semiotik
adalah ilmu tentang memperkaya pemahaman kita terhadap teks. Peneliti
menggunakan metode semiotik model Roland Barthes. Di sini tanda
dimaknai secara denotasi dan konotasi tanpa mengesampingkan mitos
yang ada, untuk memperoleh gambaran atau pengertian yang bersifat
umum dan relatif menyeluruh dan mencakup permasalahan yang diteliti.
Ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang
menjadi makna denotasi, makna denotasi tersebut menjadi mitos.
Dalam proses penelitian, tahap pertama dilakukan adalah tahap
pemilihan tanda, yang dilakukan setelah peneliti mengamati secara
Semesta Mendukung menjadi miteme-miteme (sign) yang membentuknya.
Proses pereduksian teks film hingga menjadi miteme ini didasarkan pada
tanda-tanda dominan yang mampu merepresentasikan makna arti kasih ibu
dalam film tersebut.
6. Teknik Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini, penulis berpedoman pada buku
“Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, dan Desertasi” yang
diterbitkan oleh CeQDA Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
F. Tinjauan Pustaka
Dalam menentukan judul skripsi ini penulis sudah mengadakan
tinjauan pustaka, ternyata penulis belum menemukan skripsi mahasiswa/i yang
meneliti tentang judul ini. Hanya saja ada beberapa skripsi mahasiswa/i yang
hampir serupa, diantaranya yaitu:
Analisis Semiotik Film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta disusun oleh
Sinthiani, mahasiswa konsentrasi Jurnalistik UIN Jakarta. NIM:
107051102569, Tahun 2011.Shintianimenyebutkandalam penelitian tersebut
objek yang diteliti adalah setiap adegan yang mengandung makna toleransi
beragama dalam film “3 HATI DUA DUNIA SATU CINTA” dengan
menggunakan analisis semiotik Roland Barthes. Simbol-simbol itu pada film
dipresentasikan melalui penampilan (appearance) perilaku tokoh dalam
film.Penelitiantersebutsama-samamenggunakananalisissemiotika model
danperbedaaandenganpenelitianiniadalahdenganmenambahkananalisissemioti
ka model StiveCampsall.
Analisis Semiotik Film 3 Doa 3 Cinta disusun oleh Fikri Ghazali,
mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UIN Jakarta. NIM: 206051003915,
Tahun 2010. MenurutFikri dalam penelitian tersebut objek yang diteliti adalah
setiap adegan yang mengandung pesan moral dalam pesan moral film“3 DOA
3 CINTA” dengan menggunakan analisis semiotik Roland Barthes.
Simbol-simbol itu pada film dipresentasikan melalui penampilan (appearance)
perilaku tokoh dalam film.
Dari beberapa skripsi tersebut maka penulis mengambil kesimpulan
bahwa belum ada mahasiswa/i yang meneliti tentang Analisis Semiotika film
Semesta Mendukung di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Oleh karena itu
penulis menggunakan analisis semiotika untuk film Semesta Mendukung ini.
G. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan terarah maka penulis
membagi pembahasannya ke dalam lima bab yang dibagi ke dalam sub-sub
bab sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN
Pendahuluan ini menguraikan secara singkat mengenai alasan
pemilihan judul, perumusan dan pembatasan masalah, tujuan dan kegunaan
penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, serta sistematika
penulisan.
Bab ini menerangkan tentang tinjauan umum tentang film, yang berisi
seputar pengertian, sejarah dan perkembangan, jenis, unsur, struktur, dan
klasifikasi film, konsep dan pengertian semiotika secara etimologis dan
terminologis, film sebagai pesan dakwah dan arti kasih ibu.
BAB III: SEKILAS TENTANG FILM SEMESTA MENDUKUNG
Pada bab ini berisikan tentang konsep dasar pembuatan film Semesta
Mendukung, sinopsis film Semesta Mendukung, profil sutradara film Semesta
Mendukung dan yang terkahir profil pemain film Semesta Mendukung.
BAB IV: ANALISIS SEMIOTIK FILM SEMESTA MENDUKUNG Dalam bab ini menjelaskan tentang pesan dari tanda dan simbol yang
mempunyai makna dari film Semesta Mendukung, serta makna dari judul
Semesta Mendukung.
BAB V: PENUTUP
Dalam bab akhir ini, penulis memberikan kesimpulan terhadap apa
yang telah diteliti oleh penulis dalam karya ini, serta memberikan saran-saran
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. FilmSebagai Media Dakwah
Dakwah secara etimologi atau bahasa, kata dakwah berasal dari
bahasa arab, yaitu da’a-yad’u-da’watan, artinya mengajak, menyeru,
memanggil. Warson Munawir, menyebutkan bahwa dakwah artinya adalah
memanggil (to call), mendorong (to invite), mengajak (to summon),
menyeru (to propose), mendorong (to urge), dan memohon (to pray).1
Dakwah secara terminologi, didefinisikan menurut beberapa ahli
diantaranya:
a. Menurut M. Natsir
Dakwah adalah usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan
kepada perorangan manusia dan seluruh umat manusia konsepsi Islam
tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, dan yang
meliputi al-amar bi al-ma’raf an-nahyu an al-munkar dengan berbagai
macam dan cara dan media yang diperbolehkan akhlak dan membimbing
pengalamannya dalam prikehidupan bermasyarakat dan prikehidupan
bernegara.
b. Menurut Dr. M. Quraish Shihab
Dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha
mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik
terhadap pribadi maupun masyarakat. Terwujudnya dakwah bukan hanya
sekedar usaha peningkatan pemahaman dalam tingkah laku dan pandangan
1
hidup saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih luas. Apalagi pada masa
sekarang ini, ia harus lebih berperan menuju kepada pelaksanaan ajaran
Islam secara lebih menyeluruh dalam berbagai aspek.2
c. Menurut Ibnu Taimiyah
Dakwah merupakan suatu proses usaha untuk mengajak agar orang
beriman kepada Allah SWT, percaya dan menaati apa yang telah
diberitakan oleh Rasul serta mengajak agar dalam menyembah Allah SWT
seakan-akan melihatnya.
Dakwah adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar dalam
rangka menyampaikan pesan-pesan agama Islam kepada orang lain agar
mereka menerima ajaran Islam tersebut dan menjalankan dengan baik
dalam kehidupan individual maupun bermasyarakat untuk mencapai
kebahagiaan manusia baik di dunia maupun di akhirat, dengan
menggunakan media dan cara-cara tertentu.
Salah satu media yang cukup berkembang saat ini adalah film.
Film merupakan salah satu jenis seni yang dapat memberikan pengaruh
cukup besar kepada pola pikir masyarakat umum. Ini berarti film dapat
menjadi media yang cukup efektif dalam menjalankan dakwah.
Dilihat dari perspektif lain, bagaimana muslim Indonesia mencari
visibilitas dan legitimasi di ruang publik nasional. Islam atau dakwah
ditampilkan dengan cara yang menarik, segar, dan hybrid dalam rangka
2
Dr. M. Quraish Sihab, Membumikan Al-Qur’an, fungsi dan Peran Wahyu Dalam
membuatnya sebuah alternatif yang menarik bagi budaya kapitalis
perkotaan.3
1. Dakwah Fardiyah Melalui Komunikasi Antar Pribadi
Muh. Nuh mendefinisikan Dakwah Fardiyah adalah “konsenstrasi
dengan dakwah atau berbicara dengan mad’u secara tatap muka atau
dengan sekelompok kecil dari manusia yang mempunyai ciri-ciri dan
sifat-sifat khusus.4
Komunikasi memegang peranan sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari baik di ruang lingkup keluarga, organisasi formal, organisasi
nonformal dan masyarakat. Manfaat ilmu komunikasi bagi individu di
antaranya untuk pembentukan dan pengembangan pribadi dan kontak
sosial. Meningkatkan kemampuan seseorang dalam memahami kejadian
sekelilingnya dan lebih mamapu membaca situasi beserta lebih mudah
mengatasi situasi.5
Asumsi dasar komunikasi antarpribadi adalah bahwa setiap orang yang
berkomunikasi akan membuat prediksi tentang efek atau prilaku
komunikasinya yaitu bagaimana pihak yang menerima pesan memberikan
reaksinya. Jika menurut persepsi kamunikator reaksi komunikan
menyenangkan atau positif, maka ini merupakan suatu pertanda bagi
komunikator bahwa komunikasinya berhasil.6
3
Eric sasono, Mau Dibawa Kemana Sinema Kita?. h.59.
4
Armawati Arbi, Dakwah dan Komunikasi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), cet.1, h. 113.
5
Ibid, h. 130 6
Komunikasi antarpribadi disefinisikan oleh Joseph A. Devito dalam
bukunya “The interpersonal Communcation Book” sebagai “proses
pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara
sekelompok kecil orang-orang dengan beberapa efek dan beberapa umpan
balik seketika.”7
2. Definisi dan Konsep Film
a. Pengertian Film
Dalam mendefinisikan film ada beberapa tokoh yang
mengartikannya dengan berbagai macam pemikiran. Menurut Askurifai
Baskin, Film merupakan salah satu bentuk media komunikasi massa dari
berbagai teknologi dan berbagai unsur-unsur kesenian. Sebagai seni
ketujuh, film sangat berbeda dengan seni sastra, teater, seni rupa, seni
suara, musik, dan arsitektur yang muncul sebelumnya. Seni film sangat
mengandalkan teknologi baik sebagai bahan baku produksi maupun dalam
hal ekshibisi kehadapan penontonnya.8
Berbeda halnya menurut John Vivian dalam bukunya teori
komunikasi massa, film adalah bagian dari kehidupan sehari-hari kita
dalam banyak hal. Bahkan cara kita bicara sangat dipengaruhi oleh
metafora film. Majalah New Yorker menggunakan metafora ini dalam edisi
7
Onong Uchana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), h.59-60.
8
khusus tentang Hollywood, “Skenario pribadi kita terentang dalam urutan
Flashback, percakapan, dan peran.”9
Film juga disebut sebagai Moving Images (gambar
bergerak).Menurut Prof. Dr. Azhar Arsyad, M. A, film atau gambar hidup
merupakan gambar-gambar dalam frame dimana frame demi frame
diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar
terlihat gambar itu hidup. Film bergerak dengan cepat dan bergantian
sehingga memberikan daya tarik tersendiri.10
Film mengandung dua jenis pengkodean atau rekaman: gambar dan
suara (nada). Dalam film terpadukan tindakan, bahasa, bunyi, dan musik.
Yang pertama-tama ialah gambar yang bergerak, penyusunan “teks
gambar” yang meningkatkannya menjadi media tersendiri.11
Proses pembuatan film sendiri membutuhkan waktu yang sangat
panjang yakni masa pra produksi, produksi sampai pasca produksi. Pada
masa pra produksi yang dilakukan biasanya hunting lokasi, pengambilan
shot-shot lokasi yang akan dipakai, break down secenario, reading, serta
menyiapkan equipment yang akan dipakai saat shoting. Kemudian pada
saat produksi waktunya untuk eksekusi, yakni merealisasikan jadwal yang
sudah dibuat oleh manajer produksi agar semua kegiatan berjalan sesuai
dengan literatur yang sudah disepakati, sebab kalau shoting tidak sesuai
9
John Vivian, Teori Komunikasi Massa Edisi ke-8, (Jakarta: Kencana Media Group, 2008), cet. Ke-1, h.160.
10
Azhar Arsyad, Media Pengajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), cet. Ke-5, h.48.
jadwal maka resikonya berkaitan dengan dana. Sedangkan paska produksi
biasanya insan perfilman menyebutnya post, berkaitan dengan proses
editing yang dilakukan oleh editor. Barulah kemudian film tersebut bisa
dipasarkan, mau ketelevisikah atau bioskop-bioskop atau yang sekarang
lebih dikenal dengan 21atau XXI.
Dalam membuat film setidaknya melibatkan tujuh departement di
bawah ini yang masing-masing mempunyai andil dan peran tersendiri,
namun perlu dicatat bahwa dalam pembuatan film merupakan kerja
kolektif, saling melengkapi satu sama lainnya. Tujuh departemen itu
adalah:
a. Departemen produksi
b. Penyutradaraan
c. Penulis sekenario
d. Penata Kamera (Director of Photography/ DOP)
e. Penata Artistik (Art Director)
f. Penata Suara (Sound Designer)
g. Penyunting Gambar (Editor)
Fungsi dari film itu sendiri sebagai media hiburan, namun bukan
hanya media hiburan saja tetapi dapat terkandung fungsi informatif
maupun edukatif bahkan persuasif. Ini sesuai dengan misi perfilman
nasional, bahwa selain sebagai media hiburan tetapi bisa dijadikan sebagai
Film mempunyai karakteristik tersendiri yakni menggunakan layar
Dilihat dari sejarah, penemuan film sebenarnya berlangsung cukup
panjang. Ini disebabkan karena film melibatkan masalah-masalah teknis
yang cukup rumit, seperti masalah optik, lensa, kimia, proyektor, kamera,
roll film bahkan sampai pada masalah psikologi. Usaha untuk mempelajari
bagaimana gambar dipantulkan lewat cahaya, konon telah dilakukan
sekitar 600 tahun sebelum masehi. Perkembangan film baru keliatan
setelah abad ke-18 melalui percobaan kombinasi cahaya lampu dengan
kaca lensa padat, tetapi belum berupa gambar hidup yang bisa bergerak.
Setelah Louis Dagurre bekerjasama dengan Joseph Niepce maka
perkembangan kearah seni fotografi terus dilajutkan. Setelah Niepce
meninggal dunia, kemudian dilanjutkan oleh Dagurre dan George Easman
dalam bentuk celluloid. Uji coba untuk menggerakan gambar berhasil
dilakukan dengan memakai selinder yang nantinya berkembang menjadi
proyektor. Joseph Plateau adalah seorang ilmuan yang telah banyak
memberikan perhatian untuk mempelajari rahasia gambar hidup dengan
seksama, terutama dalam hal kecepatan, waktu dan pewarnaan.
Penyempurnaan baru dicapai lewat kamera oleh asisten ahli listrik terkenal
12
Thomas Alva Edison yang bernama William Dickson pada tahun 1895.
Setelah itu barulah orang Amerika berhasil membuat film bisu yang
berdurasi 25 menit, diantaranya film A Trip to the Moon (1902), Life of
an America Fireman (1903), dan The Great Train Robbery (1903).
Kemudian perusahaan film Warner Brothers dengan bekerjsama dengan
Amerika telepon dan telegraf berusaha mempelajari bagaimana cara
memindahkan suara yang ada dalam telepon ke dalam film. Usaha ini
berhasil pada tahun 1928melalui film The Jazz Singer. Masa keemasan
film berlangsung cukup lama, barulah televisi muncul sebagai media
hiburan.
Sejarah perkembangan film indonesia. Hari film nasional yang
telah disepakati oleh bangsa Indonesia adalah tanggal 30 Maret 1950,
sebagaimana yang telah menjadi aspirasi masyarakat perfilman dan telah
menjadi Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 25 tahun 1999,
semasa pemerintahan BJ Habibie yang berbunyi: butir a. Bahwa tanggal
30 Maret 1950 merupakan hari bersejarah bagi perfilman Indonesia karena
pada tanggal tersebut pertama kalinya film cerita dibuat oleh orang dan
perusahaan Indonesia.13
Dalam beberapa buku dan artikel ada yang menyatakan di
Indonesia, sejarah „gambar idoep’ muncul tahun 1900, dilihat dari
sejumlah iklan di surat kabar masa itu. De Nederlandshe Bioscope
Maatschappij memasang iklan disurat kabar Bintang Betawi
13
menggambarkan dalam beberapa hari lagi akan diadakan pertunjukan
gambar idoep. Di surat kabar terbitan yang sama pada Selasa 4 Desember
1900 itu, ada iklan berbunyi “... besok Rebo 5 Desember pertunjukan
Besar yang Pertama di dalam satu Rumah di Tanah Abang Kebondjae
moelain pukul 7 malam ...”
Tahun 1926 merupakan tonggak bersejarah bagi perfilman
Indonesia. Dengan dibuatnya film cerita pertama dongeng Sunda Loetoeng
Kasaroeng, kemudian (1927) Java film menggarap film kedua Eulis Atjih.
Sebuah drama rumah tangga modern, bukan lagi cerita dongeng, kemudian
Gadis Desa (1949), film berjudul Harta Karoen (1949) dan film yang
berjudul Tjintra (1949). Namun semua film tersebut tidak diakui,
alasannya film-film tersebut bukan oleh orang dan perusahaan pribumi
melainkan oleh perusahaan asing meskipun sutradaranya orang Indinesia.14
Sejarah mencatat bahwasanya film indonesia yang dibuat oleh
orang pribumi dan perusahaan Indonesia adalah film yang berjudul The
Long March atau Darah dan Doa, diproduksi oleh perusahaan bernama
PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia) yang merupakan
perusahaan film nasional pertama, dengan produser Djamaludin Malik dan
sutradara Usmar Ismail. Sedangkan tanggal 30 Maret 1950 merupakan hari
pertama pengambilan gambar atau syuting film Darah dan Doa. Usmar
Ismail adalah tokoh yang paling bersemangat untuk mewujudkan adanya
14
Artikel, Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di
film nasional.15 Untuk itu ia dinobatkan sebagai bapak perfilman
Indonesia.
c. Jenis Film
Secara umum film dapat dibagi menjadi tiga jenis, yakni:
dokumenter, fiksi dan eksperimental. Pembagian ini di dasarkan atas cara
bertuturnya yakni, naratif (cerita) dan non-naratif (non cerita). Film fiksi
memiliki struktur naratif yang jelas sementara film dokumenter dan
eksperimental tidak memiliki struktur naratif. Film dokumenter yang
memiliki konsep realisme (nyata) berada di kutubyang berlawanan dengan
film eksperimental yang memiliki konsep formalisme (abstrak). Sementara
film fiksi berasa persisi di tengah-tengah dua kutub tersebut. Film fiksi
bisa dipengaruhi film dokumenter atau film eksperimental baik secara
naratif maupun sinematik.
a. Film Dokumenter
Kunci utama dari film dokumenter adalah penyajian fakta. Film
dokumenter berhubungan dengan orang-orang, tokoh, peristiwa, dan lokasi
yang nyata. Film dokumenter tidak menciptakan suatu peristiwa atau
kejadian namun merekam peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi atau
orentik. Tidak seperti film fiksi, film dokumenter tidak memiliki plot
namun memiliki struktur yang umumnya didasarkan oleh tema atau
argumen dari sineasnya. Film dokumenter juga tidak memiliki tokoh
protagonis dan antagonis, konflik, serta penyelesaian seperti halnya film
fiksi. Struktur film dokumenter umumnya sederhana dengan tujuan agar
15
memudahkan penonton untuk memahami dan mempercayai fakta-fakta
yang disajikan. Film dokumenter dapat digunakan untuk berbagai macam
maksud dan tujuan seperti informasi atau berita, biografi, pengetahuan,
pendidikan, sosial, ekonomi, politik (propaganda), dan lain sebagainya.16
Dalam menyajikan faktanya, film dokumenter dapat menggunakan
beberapa metode. Film dokumenter dapat merekam langsung pada saat
peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Produksi film dokumenter jenis ini
dapat dibuat dalam waktu yang singkat, hingga berbulan-bulan, serta
bertahun-tahun lamanya.
Film dokumenter memiliki beberapa karakter teknis yang khas
yang tujuan utamanya untuk mendapatkan kemudahan, kecepatan,
fleksibilitas, efektifitas, serta otentitas peristiwa yang direkam. Umumnya
film dokumenter memiliki bentuk sederhana dan jarang sekali
menggunakan efek visual. Jenis kamera umumnya ringan (kamera tangan)
sertamenggunakan lensa zoom, stok film cepat (sensitif cahaya), serta
perekam suara portable (mudah dibawa) sehingga memungkinkan untuk
pengambilan gambar dengan kru yang minim (2 orang). Efek suara serta
ilustrasi musik juga jarang digunakan. Dalam memberikan informasi pada
penontonnya sering menggunakan metode interview (wawancara).
b. Film Fiksi
Berebeda dengan jenis film dokumenter, film fiksi terikat oleh plot.
Dari sisi cerita, film fiksi sering menggunakan cerita rekaan di luar
kejadian nyata serta memiliki konsep pengadeganan yang telah dirancang
16
sejak awal. Struktur cerita film juga terikat hukum kausalitas. Cerita
biasanya juga memiliki karakter protagonis dan antagonis, masalah dan
konflik, penutupan, serta pola pengenbangan cerita yang jelas. Dari sisi
produksi, film fiksi relatif lebih kompleks ketimbang dua jenis film
lainnya, baik masa pra-produksi, produksi, maupun pasca-produksi.
Manajemen produksinya juga lebih kompleks karena biasanya
menggunakan pemain serta kru dalam jumlah yang besar. Produksi film
fiksi juga memakan waktu relatif lebih lama. Persiapan teknis seperti
lokasi syuting serta setting dipersiapkan secara matang baik di studio
maupun non studio. Film fiksi juga bisanya juga menggunakan
perlengkapan serta peralatan yang jumlahnya relatif lebih banyak,
bervariasi, serta mahal.
Film fiksi berada di tengah-tengah dua kutub, nyata dan abstrak,
sering kali memiliki tendensi ke salah satu kutubnya, baik secara naratif
maupun sinematik. Film fiksi sering menggunakan teknik gaya
dokumenter.17
c. Film Eksperimental
Film eksperimental merupakan jenis film yang sangat berbeda
dengan dua jenis film lainnya. Para sineas eksperimental umumnya bekerja
di luar industri film utama (mainstream) dan bekerja pada studio
independen atau perorangan. Mereka umumnya terlibat penuh dalam
seluruh produksi filmnya sejak awal hingga akhir. Film eksperimental
tidak memiliki plot namun tetap memiliki struktur. Strukturnya sangat
17
dipengaruhi oleh insting subjektif sineas seperti gagasan, ide, emosi, serta
pengalaman batin mereka, film eksperimantal juga umumnya tidak
bercerita tentang apapun bahkan kadang menentang kausalitas, seperti
yang dilakukan para sineas surealis dan dada. Film-film eksperimental
umumnya berbentuk abstrak dan tidak mudah dipahami. Hal ini
disebabkan karena mereka menggunakan simbol-simbol personal yang
mereka ciptakan sendiri.18
d. Unsur-unsur Pembentuk Film
Film, secara umum dapat dibagi atas dua unsur pembentuk yakni,
unsur naratif dan unsur sinematik. Dua unsur tersebut saling berinteraksi
dan berkesinambungansatu sama lain untuk membentuk sebuah film.
Masing-masing unsur tersebut tidak akan dapat membentuk film jika
hanya berdiri sendiri. Bisa kita katakan bahwa unsur naratif adalah bahan
(materi), yang akan diolah, sementara unsur sinematik adalah cara (gaya)
untuk mengolahnya. Dalam film cerita, unsur naratif adalah perlakuan
terhadap cerita filmnya. Sementara unsur sinematik atau juga sering
diistilahkan gaya sinematik merupakan aspek-aspek teknis pembentuk
film. Unsur sinematik terbagi menjadi empat elemen pokok yakni,
mise-en- scene, sinematografi, editing, dan suara. Masing-masing elemen
sinematik tersebut juga saling berinteraksi dan berkesinambungan satu
sama lain untuk membentuk gaya sinematik secara utuh.19
a. Unsur Naratif
18
Himawan Pratista, Memahami Film (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), h. 7-8.
19
Unsur naratif berhubungan dengan aspek cerita atau tema film.
Setiap film cerita tidak mungkin lepas dari unsur naratif. Setiap cerita pasti
memiliki unsur-unsur seperti tokoh, masalah, konflik, lokasi, waktu serta
lainnya. Seluruh elemen tersebut membentuk unsur naratif secara
keseluruhan. Elemen-elemen tersebut saling berinteraksi serta
berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk sebuah jalinan
peristiwa yang memiliki maksud dan tujuan. Seluruh jalinan peristiwa
tersebut terikat oleh sebuah aturan yakni hukum kausalitas (logika
sebab-akibat). Aspek kausalitas bersama unsur ruang dan waktu adalah
elemen-elemen pokok pembentuk naratif.
b. Unsur Sinematik
Unsur sinematik merupakan aspek-aspek teknis dalam produksi
sebuah film. Mise-en-scene adalah segala hal yang berada di depan
kamera. Mise-en-scene memiliki empat elemen pokok yakni, setting atau
latar, tata cahaya, kostum dan make up, serta akting dan pergerakan
pemain. Sinematografi adalah perlakuan terhadap kamera dan filmnya
serta hubungan kamera dengan obyek yang diambil. Editing adalah transisi
sebuah gambar (shot) ke gambar (shot) lainnya. Sedangkan suara adalah
segala hal dalam film yang mampu kita tangkap melaui indera
pendengaran. Seluruh unsur sinematik tersebut saling terkait, mengisi,
serta berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk unsur sinematik
secara keseluruhan.20
e. Struktur dalam Film
20
Secara fisik sebuah film dapat dapat dipecah menjadi unsur-unsur,
yakni shot, adegan dan sekuen. Pemahamn tentang shot, adegan dan
sekuen nantinya banyak berguna untuk memebagi urutan-urutan
(segmentasi) plot sebuah film secara sistematik. Segmentasi plot akan
banyak membantu melihat perkembangan plot sebuah film secara
menyeluruh dari awal hingga akhir.
a. Shot
Shot selama produksi film memiliki arti proses perekaman gambar
sejak kamera diaktifkan (on) hingga kamera dihentikan (off) atau juga
sering diistilahkan satu kali take (pengambilan gambar). Sementara shot
setelah film telah jadi (pasca produksi) memiliki arti satu rangkaian
gambar utuh yang utuh yang tidak terintrupsi oleh potongan gambar
(editing). Shot merupakan unsur terkecil dari film. Dalam novel, shot bisa
diibaratkan satu kalimat. Sekumpulan beberapa shot biasanya dapat
dikelompokan menjadi sebuah adegan. Satu adegan bisa berjumlah belasan
hingga puluhan shot. Satu shot dapat berdurasi kurang dari satu detik,
beberapa menit, bahkan jam.
b. Adegan (Scene)
Adegan salah satu segmen pendek dari keseluruhan cerita yang
memperlihatkan satu aksi berkesinambungan yang diikat oleh ruang,
waktu, isi (cerita), tema, karakter, atau motif. Satu adegan umumnya
terdiri dari tiga puluh sampai lima puluh buah adegan. Adegan adalah yang
paling mudah dikenali sewaktu menonton film.
c. Sekuen (Sequence)
Sekuen adalah satu segmen besar yang memperlihatkan satu
rangkaian peristiwa yang utuh. Satu sekuen umumnya terdiri dari beberapa
adegan yang saling berhubungan. Dalam karya literatur, sekuen bisa
diibaratkan seperti sebuah bab atau sekumpulan bab. Dalam pertunjukan
teater, sekuen bisa disamakan dengan satu babak. Satu sekuen biasanya
dikelompokkan berdasarkan satu periode (waktu), lokasi, atau satu
rangkaian aksi panjang. Biasanya film cerita terdiri dari delapan samapai
lima belas sekuen. Dalam beberapa kasus film, sekuen dapat dibagi
berdasarkan usia karakter utama, yakni masa balita, kanak-kanak, remaja,
dewasa, serta lanjut usia. Dalam film-film petualangan yang umumnya
mengambil banyak tempat, sekuen biasanya dibagi berdasarkan lokasi
cerita.21
f. Klasifikasi dalam Film
Fungsi utama genre adalah untuk memudahkan klasifikasi sebuah
film. Istilah genre berasal dari bahasa Perancis yang bermakna “bentuk”
atau “tipe”. Kata genre sendiri mengacu pada istilah Biologi yakni, genus,
sebuah klasifikasi flora dan fauna yang tingkatannya berada diatas spsies
yang memiliki kesamaan ciri-ciri fisik tertentu. Dalam film, genre dapat
didefinisikan sebagai jenis atau klasifikasi dari sekelompok film yang
memiliki karakter atau pola sama (khas) sepertisetting, isi dan subyek
21
cerita, tema, struktur cerita, aksi atau peristiwa, periode, gaya, situasi,
ikon, mood, serta karakter. Klasifikasi tersebut menghasilkan genre-genre
seperti aksi, petualangan, drama, komedi, horor, western, thriller, film
noir, roman dan sebagainya.
Fungsi genre selain untuk memudahkan mengklasifikasikan film,
genre juga dapat membantu untuk memilih film sesuai dengan
spesifikasinya. Industri film sendiri sering menggunakannya sebagai
strategi marketing. Selain untuk klasifikasi, genre juga dapat berfungsi
sebagai antisipasi penonton terhadap film yang akan di tonton.22
Hollywood sebagai industri film terbesar di dunia sejak awal
dijadikan sebagai titik tolak perkembangan genre-genre besar dan
berpengaruh. Genre-genre besar ini jumlahnya hingga kini telah mencapai
puluhan. Genre-genre besar ini kan kita bagi menjadi dua kelompok, yakni
genre induk primer dan genre induk sekunder.
Tabel 2.1.23
Skema Genre Induk Primerdan Sekunder
Genre Induk Primer Genre Induk Sekunder
Aksi
Himawan Pratista, Memahami Film (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), h. 10. 23
Western
a. Genre Induk Primer
Genre induk primer merupakan genre-genre pokok yang telah ada
dan populer sejak awal perkembangan sinema di era 1900-an hingga
1930-an. Tidak semua film sukses dari masa ke masa. Genre-genre seperti aksi,
drama, komedi, horor, fantasi, serta fiksi ilmiah relatif masih populer
hingga kini.
b. Genre Induk Sekunder
Genre induk sekunder adalah genre-genre besar dan populer yang
merupakan pengembangan atau turunan dari genre induk primer. Genre
induk sekunder memiliki ciri-ciri karakter yang lebih khusus dibandingkan
dengan genre induk primer. Genre-genre seperti thriller, bencana,
superhero, serta spionase masih berjaya pada dua dekade belakangan ini.
g. Sinematografi
Dalam sebuah produksi film ketika seluruh aspek mise-en-scene
telah tersedia dan sebuah adegan telah siap diambil gambarnya, pada tahap
inilah unsur sinematografi mulai berperan. Sinematografi secara umum
dapat dibagi menjadi tiga aspek, yakni kamera dan film framing, serta
durasi gambar. Kamera dan film mencakup teknik-teknik yang dapat
dilakukakan melalui kamera dan stok filmnya, seperti warna, penggunaan
lensa, kecepatan gerak gambar, dan sebagainya. Framing adalah hubungan
atau frame, jarak, ketinggian, pergerakan kamera dan seterusnya.
Sementara durasi gambar mencakup lamanya sebuah objek diambil
gambarnya oleh kamera.24
Berikut ini adalah salah satu aspek framing yang terdapat dalam
sinematografi, yakni jarak kamera terhadap objek (type of shot), yaitu:
a. Extreme long shot
Extreme long shot merupakan jarak kamera yang paling jauh dari
obyeknya. Wujud fisik manusia nyaris tidak tampak. Teknik ini umumnya
untuk menggambarkan sebuah obyek yang sangat jauh atau panorama
yang luas.
b. Long shot
Pada Long shot tubuh fisik manusia telah tampak jelas namun latar
belakang masih domninan. Long shot sering digunakan sebagai
estabilising shot, yakni shot pembuka sebelum digunakan shot-shot yang
berjarak lebih dekat.
c. Medium long shot
Pada jarak ini tubuh manusia terlihat dari bawah lutut sampai ke
atas. Tubuh visik manusia dan lingkungan sekitar relative seimbang.
d. Medium shot
24
Pada jarak ini memperlihatkan tubuh manusia dari pinggang ke atas.
Gestur serta ekspresi wajah mulai tampak. Sosok manusia mulai dominan
dalam frame.
e. Medium close-up
Pada jarak ini memperlihatkan tubuh manusaia dari dada ke atas.
Sosok tubuh manusia mendominasi frame dan latar belakang tidak lagi
dominan. Adegan percakapan normal biasanya menggunakan jarak
medium close-up.
f. Close-up
Umumnya memperlihatkan wajah, tangan, kaki, atau sebuah obyek
kecil lainnya. Teknik ini mampu memperlihatkan ekspresi wajah dengan
jelas serta gestur yang mendetail. Close-up biasanya digunakan untuk
adegan dialog yang lebih intim. Close-up juga memperlihatkan lebih
mendetail sebuah benda atau obyek.
g. Estreme close-up
Pada jarak terdekat ini mampu memperlihatkan lebih mendetail
bagian dari wajah, seperti telinga, mata, hidung, dan lainnya atau bagian
dari sebuah objek.
Berdasarkan sudut pengambilan gambar (camera angle):
h. High Angle
Menempatkan objek lebih rendah daripada kamera, atau kamera lebih
tinggi daripada objek, sehingga yang terlihat pada kaca pembidik objek
pengambilan gambar seperti ini memiliki arti yang dramatic yaitu kecil
atau kerdil.
i. Low Angle
Menempatkan kamera lebih rendah dari objek, atau objek lebih
tinggi dari kamera, sehingga objek terkesan membesar. Sudut pengambilan
gambar ini merupakan kebalikan dari high angle . kesan yang ditimbulkan
dari sudut pandang ini yaitu keagungan atau kejayaan.
Berdasarkan pergerakan kamera (moving camera):
j. Pan
Pan merupakan singkatan dari kata panorama. Istilah panorama digunakan
karena umumnya menggambarkan pemandangan secara luas. Pan adalah
pergerakan kamera secara horizontal kanan dan kiri dengan posisi kamera
yang statis.
k. Tilt
Gerakan kamera secara vertikal, ke atas ke bawah atau ke atas dengan
kamera statis. Tilt Up jika kamera mendongkak dan tilt down jika kamera
mengangguk. Tilt sering digunakan untuk memperlihatkan objek yang
tinggi atau raksasa.
l. Tracking
Tracking shot atau dolly shot merupakan pergerakan kamera akibat
perubahan posisi kamera secara horizontal. Kedudukan kamera di tripod
dan diatas landasan rodanya. Dolly In jika bergerak maju dan Dolly Out
m. Crane shot
Crane shot adalah pergerakan kamera akibat perubahan posisi
kamera secara vertikal, horizontal atau kemana saja selama masih diatas
permukaan tanah. Crame shot umumnya menghasilkan efek high-angle
dan sering digunakan untuk menggambarkan situasi lansekap luas, seperti
kawasan kota, bangunan, areal taman, dan sebagainya.
n. Zoom in/zoom out
Kamera bergerak menjauh dan mendekati objek dengam menggunakan
tombol zooming yang ada di kamera.
B. Tinjauan Umum Tentang Semiotika 1. Konsep Dasar Semiotika
Semiotika secara etimologi istilah semiotik berasal dari bahsa Yunani
semion yang berarti “tanda”. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai
sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat
dianggap mewakili sesuatu yang lain. Istilah semion tampaknya diturunkan
dari kedokteran hipokraktik atau aklepiadik dengan perhatiannya pada
simtomatologi dan diagnostik inferensial. Sedangkan secara terminilogis,
semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas
objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda.25
a. Semiotika Komunikasi
Semiotika ini menekankan pada teori produksi tanda. Yang mana
salah satunya mengasumsikan adanya 6 faktor dalam proses komunikasi,
25
di antaranya adalah pengirim, penerima kode (sistem tanda), pesan, saluran
komunikasi, dan acuan (hal yang dibicarakan).
b. Semiotika Signifikasi
Semiotika ini mencoba memberi tekanan kepada teori tanda dan
pemahamannya dalam suatu konteks tertentu.26
2. Konsep Semiotika Roland Barthes
Salah satu pengikut Sausure, Roland Barthes, membuat sebuah model
sistematis dalam menganalisis makna dari tanda-tanda. Fokus Barthes
lebih tertuju pada gagasan signifikasi dua tahap. Roland Barhes
menggunakan istilah order of signification. First order of signification
adalah denotasi. Sedangkan konotasi second order of signification.27
Roland Barthes lahir pada tahun 1915 dari keluarga menengah
Protestan di Cherbourg dan dibesarkan di Bayonne, kota kecil dekat
pantai Atlantik di sebelah barat daya Prancis. Dia dikenal sebagai salah
seorang pemikir stukturalis yang getol mempraktikan model linguistik dan
semiologi sausurean.
3. Konsep Semiotika Film Christian Metz
Christian Metz merupakan salah satu kritikus film yang berasal dari
Perancis. Bukunya yang berjudul Language and Cinema memberikan
pemahaman mengenai film sebagai satuan bahasa yang berbeda dari
bahasa tutur. Semua komponen dalam film merupakan serangkaian kode
yang merepresentasikan sebuah budaya, sejarah dan nilai-nilai. Bagi Metz
26
Alex sobur, Semiotika Komunikasi. h. 15. 27
teori film adalah teori yang mengkaji wacana-wacana sejarah film,
masalah ekonomi film, estetika film dan semiotika film.28
Kontribusi penting Metz dalam memahami film terletak pada
bagaimana dia memperkenalkan sebuah konsep cinematis instutitution.
Melalui konsep tersebut Metz mengenalkan, bahwa pengertian film tidak
terbatas pada aspek industri yang memproduksi sebuah film saja,
melainkan juga aspek lain di luar itu, sehingga penonton dapat menjadi
salah satu bagian dari film dengan cara memposisikan penonton sebagai
kesatuan film yang berfungsi sebagai mesin kedua, yaitu bergerak dalam
wilayah psikologis.
Melalui konsep ini, Metz memaparkan setidaknya ada 3 mesin utama
dalam memaknai film secara utuh sebagai bahan penelitian, yaitu outer
machine (film sebagai industri), inner machine (psikologi penonton), third
machine (penulis naskah film - kritikus, sejarahwan, teoretikus).29
film saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Film, tidak
hanya dijadikan sebagai alat hiburan semata, melainkan untuk berbagai
kepentingan politik, ekonomi, propaganda, dan berbagai kepentingan lain
yang kadang sulit untuk kita deteksi.
Maka dari itu, semiotika sebagai sebuah disiplin ilmu yang
mengkaji tanda-tanda dan sistem simbolik memiliki kaitan erat dengan
film sebagai sebuah produk tanda. Di lain pihak, para ahli melihat film
sebagai salah satu media yang dapat memengaruhi para khalayaknya. Dan
28
Zuzana M. Pick, Cinema As Sign and Langguage, h. 200. 29
dari sinilah asal mula dilakukannya berbagai penelitian terhadap simbol
dan ikon dalam film, dan pengaruhnya terhadap masyarakat yang
menyaksikan film tersebut.30
4. Tabel Analisis Film Steve Campsall
Steve Campsall merupakan salah seorang pengajar Studi bahasa
Inggris dan Media di The Beauchamp College. Dalam tabel analisis
filmnya yang diadopsi dari pemikiran Metz, Campsall melihat film sebagai
kesatuan bahasa dan makna. Ini kemudian dipahami Steve sebagai Moving
Image Texts: “Film Language”. Menurutnya, seperti kata-kata, film
memiliki bahasa sendiri dalam menyampaikan pesannya kepada penonton.
Para kru dan sineas bekerja menciptakan makna tersebut melalui gambar
bergerak di dalam film, sehingga kompleksitas komponen film
membuatnya berbeda dengan media lain.
Pergerakan audio visual yang dinamis di dalam film, memunculkan
komponen sendiri di dalam kajian semiotikanya. Hal ini dapat dilihat
melalui skema analisis film yang dibuat Steve berikut ini:
Tabel 2.2.31 Tabulasi Analisis Film
Analysing Moving Image Texts: “Film Language”
Signs, Codes and
Conventions
Semiotika, merupakan sebuah jalan untuk menjelaskan bagaimana tanda itu diciptakan. Di dalam film, tanda-tanda tersebut diciptakan oleh para sineas film atau sutradara. Apa yang
30
Sobur, Semiotika Komunikasi, h. 127. 31
kita dengar, kita lihat dan kita rasakan merupakan sesuatu yang dapat kita persepsikan dan mengandung sebuah ide. Ide tersebutlah yang kemudian disebut dengan „meaning’.
Salah satu contoh pemaknaan penting, misalnya kata-kata pengecut, memiliki lawan heroik. Situasi ini memungkinkan penafsir memiliki pendapat yang berbeda, dan ini
dinamakan Binary Opposite. Ada beberapa
komponen dalam memahami semiotika film. mengerjakan sesuatu. Dan kita sering mengaitkan sesuatu yang konvensional
dengan hasil yang pasti, dan
menganggapnya natural.
Perlu kita ketahui pula bahwa tipe tanda dan kode setidaknya terbagi atas 3:
- Ikon : tanda dan kode yang dibuat untuk menunjukkan sesuatu yang melekat atau identik pada sesuatu. - Indeks : sistem penandaan yang
menggunakan unsur kausalitas atau sebab-akibat
- Simbol : pemaknaan terhadap sesuatu yang melepaskan secara total makna denotasi pada sesuatu tersebut.
Hal lain yang juga penting untuk memahami tanda adalah melalui konvensi. Konvensi merupakan suatu kesepakatan umum yang melekat dalam masyarakat dan dijadikan jalan dalam melakukan suatu pekerjaan. Biasanya konvensi terwujud dalam suatu perbuatan.
Mise-En-Adegan Mise-En-Adegan menjawab beberapa
merupakan segala sesuatu yang dihadirkan
para Director atau sutradara ke dalam
adegan-adegan, dan rekaman-rekaman yang termuat di dalam kamera melalui aspek Setting, Kostum, Tata Rias, dan Pencahayaan.
Editing Editing merupakan suatu proses memotong
dan menggabungkan beberapa potongan film menjadi satu. Membuat film tersebut menjadi cerita yang bersambung, dapat dipahami, realistis, mengalir dan naratif.
Shot Types Shot merupakan pengambilan gambar untuk
membangun sebuah potongan gambar yang naratif dan memberikan makna tersendiri
terhadap objeknya. Biasanya shot terkait
dengan pengambilan kamera. Seperti Close Up
(CU), Point of View (POV) dan Middle Shot
(MS).
Camera Angle Sudut kamera, biasanya selalu menciptakan
makna-makna yang signifikan dengan kondisi
atau situasi objek. Seperti sudut kamera POV
high angle shot yang mencerminkan superioritas atau kekuasaan.
Camera Movement Pergerakan kamera merupakan suatu bentuk
penciptaan makna yang dinamis. Perpindahan
dari zoom out ke zoom in misalnya, memiliki
nilai dan dinamika makna sendiri.
Lighting Pencahayaan merupakan salah satu aspek
penting dalam film. Pencahayaan dapat
menimbulkan suasana dan mood yang
menegaskan makna. Kegelapan di hutan misalnya menciptakan makna ketakutan dan kengerian.
Dieges And Sound Dieges atau diagenic sound di dalam film
merupakan „dunia film’. Dia merupakan bagian dari setiap aksi yang di jalankan aktor. Misalnya suara musik yang mengiringi jalannya aktor dan lainnya.
Visual Effects / SFX SFX merupakan gambar generasi komputer
(CGI) yang mana tujuannya untuk
menciptakan sebuah realitas dan makna melalui efek-efek gambar dan suara.
Narrative Naratif, merupakan unsur film yang memuat
cerita dan kisah khusus di dalam film.
Genre Genre adalah ragam dari naratif yang sedang
dibicarakan di dalam film.
Iconography Ikonografi merupakan aspek penting dari
mendukung karakter koboi.
The Star System Bintang-bintang film tertentu bisa menjadi
bagiam penting dalam ikonografi dan menjadi penegas makna. Bisa menjadi penegas karakter dan aksi.
Realism Media dapat menyuguhkan tingkat realitas
yang sangat tinggi, sehingga sesuatu terkesan benar-benar nyata. Dengan layar yang jernih, jelas, sound yang kuat, dan ruang yang sengaja dibuat gelap, pemirsa dapat merasakan atmosfer realitas yang tinggi.
Demikianlah kompleksitas di dalam semiotika film. Komponen
tersebutlah yang dijadikan acuan untuk mengkaji lebih dalam terkait
sistem tanda di dalam film. Tak dapat dipungkiri lagi, bahwa film
merupakan salah satu produk komunikasi massa yang di dalamnya
memiliki dan menyimpan makna sendiri bagi para penontonnya.
C. Arti Kasih IbuDalamPandangan Islam
Dari Abu Hurairah ra, ia menceritakan, suatu hari ada seorang yang
datang kepada Nabi Muhammad SAW seraya bertanya: "Wahai
Rasulullah, siapa orang yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?"
Rasulullah menjawab: "Ibumu!" Orang itu bertanya lagi: "Lalu siapa?"
"Ibumu!" jawab Beliau. "Lalu siapa lagi, ya Rasulullah?" tanya orang itu.
Beliaupun menjawab "Ibumu!" Selanjutnya orang itu bertanya lagi: "Lalu
siapa?" Beliau menjawab: "Ayahmu."
Hadits di atas memerintahkan agar kita senantiasa berbuat baik pada
kerabat terutama adalah ibu, lalu ayah. Didahulukannya ibu karena ia telah