Proses penangulangan perubahan iklim
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Perubahan iklim mengacu pada variasi signifikan variabel pada iklim yang terjadi dalam periode jangka panjang. Perubahan iklim dapat disebabkan karena faktor internal yang lebih dikenal sebagai proses alam dan faktor eksternal sebagai akibat adanya intervensi dari manusia. Faktor ekstenal tersebut adanya perubahan perilaku manusia yang mempengaruhi komposisi penggunaan lahan dan kondisi ekosistem. Secara umum kenaikan air laut merupakan dampak dari perubahan iklim. Kenaikan air laut yang salah satunya disebabkan perubahan iklim dapat menimbulkan krisis dari berbagai dimensi ekonomi, sosial, lingkungan, kesehatan masyarakat, produksi pangan. Bencana yang berkorelasi dengan kerentanan dan kapasitas masyarakat berpengaruh terhadap risiko terutama masyarakat miskin.
bencana tambahan lainnya, seperti tanah longsor, kekeringan, abrasi, dan angin topan, dll.
Penilaian kerentanan dari berbagai dimensi dan kapasitas diperlukan untuk mengetahui risiko yang terjadi. Dengan mengetahui risiko yang terjadi maka program dan strategi pengurangan dampak banjir rob dapat ditentukan dengan efektif dan efisien.
Level kerentanan menggambarkan derajad atau tingkat kerugian yang mungkin terjadi dari suatu bencana. Tekanan lingkungan dan masyarakat dalam sebuah sistem perkotaan akan memicu semakin tingginya level kerentanan. Lankao, et. Al., 2011 telah mendefinisikan level kerentanan sebagai dampak akibat bencana yang tidak hanya dipengaruhi oleh sistem alami, tetapi juga adanya kombinasi parameter, seperti kondisi infrastruktur perkotaan, kemiskinan, sosial kemasyarakatan, dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba merumuskan level kerentanan sektoral di Kota Semarang yang dibedakan menjadi, tiga yaitu sektor ekonomi, sosial-pemberdayaan masyarakat, dan infrastruktur perkotaan.
juga melakukan kajian terhadap motivasi pemilihan tempat tinggal di kawasan banjir rob di Kelurahan Tanjung Mas. Indikator dalam penentuan motivasi adalah kenyamanan lingkungan kawasan hunian, kemudahan mobilitas karena kestrategisan, ketersediaan prasarana dan sarana yang memadai.
Hal-hal yang perlu diperbaharui dalam penelitian saat ini adalah melihat respon dalam sudut pandang ekonomi; sosial; lingkungan; dan bentuk adaptasi masyarakat dalam cakupan kawasan kepesisiran Kota Semarang. Sehingga dalam penelitian ini fokus pada kajian banjir rob yang dialami masyarakat yang akan menimbulkan respon untuk mereduksi risiko. Selain itu, penelitian ini juga didukung kajian-kajian Pemerintah Kota Semarang dan Rencana Strategis Kawasan Pesisir Kota Semarang Tahun 2011-2031.
Ketahanan dan adaptasi merupakan kesatuan dari proses mereduksi risiko banjir rob. Ketahanan dan adaptasi sebagai respon untuk mereduksi level kerentanan. Hanya saja adaptasi lebih bersifat lokal, sedangkan ketahanan akan mendukung sistem perkotaan. Adaptasi dan ketahanan masyarakat perlu mempertimbangkan penilaian resiko, kerentanan, dan kapasitas institusi (Wisner, 2004 dalam Solecki, 2011).
mereduksi risiko Banjir rob (Disaster Risk Reduction). Oleh karena itu, adaptasi dan ketahanan membentuk konektivitas dan sinergi terhadap risiko, bahaya, ketidakpastian, dan kerentanan bencana (Solecki, 2011).
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan perubahan iklim? 2. Mengapa perubahan iklim dapat terjadi?
3. Dampak apa yang ditimbulkan oleh perubahan iklim itu?
4. Bagaimana cara untuk mengatasi perubahan iklim yang terjadi sekarang?
1.3 METODE
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perubahan Iklim
Perubahan iklim adalah terjadinya perubahan kondisi atmosfer, seperti suhu, san cuaca yang menyebabkan suatu kondisi yang tidak menentu. Perubahan ini sangat berdampak luas bagi kehidupan manusia dalam berbagai sector.1
Perubahan iklim juga dapat dikatakan sebagai, keadaan dimana temperatur di bumi mengalami kenaikan dan pergeseran musim. Kenaikan temperatur ini akan menyebabkan terjadinya pemuaian massa air dan permukaan air laut.
Menurut IPCC (2001) menyatakan bahwa perubahan iklim merujuk pada variasi rata-rata kondisi iklim suatu tempat atau pada variabilitasnya yang nyata secara statistik untuk jangka waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih).2 Selain itu juga diperjelas bahwa perubahan iklim
meungki terjadi karena proses alam internal maupun ada kekuatan eksternal, atau ulah manusia yang terus menerus merubah komposisi atmosfer atau tata guna lahan.
1 Undang-Undang Dasar, perubahan iklim, Pasal 5 ayat (1), Pasal 11, dan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945;
2.2 Penyebab Perubahan Iklim
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa aktivitas manusia merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Selain itu pertambahan populasi penduduk dan pesatnya pertumbuhan teknologi dan industri ternyata juga memberikan kontribusi besar pada pertambahan GRK (Gas Rumah Kaca). Akibat jenis aktivitas yang berbedabeda, maka GRK yang dikontribusikan oleh setiap negara ke atmosfer pun porsinya berbedabeda.
Ada banyak kejadian yang dapat menyebabkan perubahan iklim. Penyebab-penyebab tersebut adalah :
A. Kehutanan
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan luas hutan terbesar, yaitu 120,3 juta hektar. Sekitar 17% dari luasan tersebut adalah hutan konservasi dan 23% hutan lindung, sementara sisanya adalah hutan produksi (FWI/GFW, 2001).3
Namun dari tahun ke tahun luas hutan berkurang. Hal ini disebabkan oleh penebangan liar atau juga kebakaran hutan (disengaja ataupun tidak disengaja). Padahal hutan sangat berperan sebagai penyerap CO2 dan penghasil O2. Dengan kemampuan hutan tersebut
dapat mengurangi kadar GRK di udara.
B. Pemanfaatan Energi Bahan Bakar Fosil
Saat ini kehidupan manusia sangat tergantung pada energi listrik dan bahan bakar fosil. Ketergantungan tersebut sangat berdampak buruk
bagi kehidupan umat manusia. Penggunaan energi fosil seperti, minyak bumi, batu bara, dan gas alam dalam berbagai kegiatan akan memicu bertambahnya emisi GRK di atmosfer.4
C. Pertanian dan Peternakan
Sektor pertanian juga berperan banyak terhadap meningkatnya emisi GRK, khususnya gas metana (CH4) yang dihasilkan dari sawah yang
tergenang. Berdasarkan penelitian sektor pertanian menghasilkan emisi gas metana tertinggi di banding sektor-sektor lainnya.
Sektor peternakan juga tidak kalah dalam mengemisikan GRK, hal tersebut dikarenakan kotoran ternak yang membusuk akan melepaskan gas metana ke atmosfer.5
D. Sampah
Sampah turut mengasilkan emisi GRK berupa gas metana walaupun dalam jumlah yang cukup kecil. Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan sekitar 50 kg gas metana.
Kegiatan manusia selalu menghasilkan sampah. Sampah merupakan masalah besar yang dihadapi oleh kota-kota besar di Indonesia. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan bahwa pada tahun 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah 0,8 kg per hari dan terus meningkat hingga 1 kg per orang per hari pada tahun 20006
4 http://basoarif10ribu.blogspot.co.id/ 5 http://www.academia.edu/
2.3 Dampak Perubahn Iklim
Perubahan iklim akan memberikan dampak yang sangat besar pada berbagai sektor, diantaranya:
a. Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Pertanian
Perubahan iklim akan menyebabkan pergeseran musim, sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang. Hal ini akan menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan. Sehingga Indonesia harus mengimpor beras dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhannya. Secara otomatis, produktivitas di bidang pertanian juga akan menurun.
b. Dampak Perubahan Iklim terhadap Kenaikan Muka Air Laut
Kenaikan temperatur menyebabkan es dan gletser di Kutub Utara dan Selatan mencair. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan kenaikan permukaan air laut. Hal ini membawa banyak perubahan bagi kehidupan di bawah laut, seperti pemutihan terumbu karang dan punahnya berbagai jenis ikan. Sehingga akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang serta mengancam kehidupan masyarakat pesisir pantai.
Kenaikan muka air laut akan menyebabkan hancurnya tambak-tambak ikan di beberapa daerah, juga dapat merusak terumbu karang yang ada di laut Indonesia.
Meningkatnya tingkat keasaman dari laut karena bertambahnya karbondioksida di atmosfer akan membawa dampak negatif pada organisme-organisme laut. Misalnya, hilangnya jenis flora dan fauna khususnya di Indonesia.
d. Dampak Perubahan iklim terhadap Sumber Daya Air
Pada pertengahan abad ini, rata-rata aliran air sungai dan kelestarian air di daerah sub polar serta daerah tropis basah diperkirakan akan meningkat sebanyak 10-40%. Sementara di daerah subtropis dan daerah tropis yang kering, air akan berkurang sebanyak 10-30% sehingga daerah-daerah yang sekarang sering mengalami kekeringan akan semakin parah kondisinya.
e. Dampak Perubahan iklim terhadap Kesehatan
Frekuensi timbulnya penyakit seperti malaria dan demam berdarah akan meningkat. Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan.
f. Dampak Perubahan iklim terhadap Sektor Lingkungan
Dengan lingkungan yang rusak, alam akan lebih rapuh terhadap perubahan iklim. Apabila terjadi curah hujan yang cukup tinggi akan berpotensi menimbulkan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.7
2.4 Solusi terhadap Perubahan Iklim
Mengingat perubahan iklim sangat besar dampaknya bagi kehidupan manusia dan bumi, maka kita harus mengadakan solusi untuk mengatasinya. Ada beberapa solusi yang dapat kita lakukan, diantaranya: a. Melakukan perbaikan dari sektor kehutanan. Seperti mengadakan reboisasi, menanamkan prinsip tebang pilih dan tebang tanam pada generasi penerus, juga terhadap pihak-pihak yang bersentuhan langsung dengan hutan.
b. Menyediakan dan mengembangkan energi alternatif yang ramah lingkungan. Seperti mengganti bahan bakar kendaraan dengan bahan bio seperti dari bahan biji-bijian atau minyak lobak. Kita juga arus menghemat bahan bakar tersebut dengan mematikan mesin kendaraan apabila berhenti lebih dari 2 menit. Selain itu kita juga dapat mengganti lampu di rumah, dikantor dan tempat lainnya dengan lampu hemat energi, dan mematikan lampu pada malam hari.
c. Produksi daging membutuhkan air, biji-bijian, tanah, dan lainnya dalam jumlah besar termasuk hormon dan antibiotik, serta menyebabkan polusi tanah, udara, dan air. Untuk menghasilkan satu pon daging sapi membutuhkan sekitar 12.000 galon air, bandingkan dengan 60 galon air untuk satu pon kentang. Jika Anda seorang pemakan daging, untuk pemula, cobalah tidak makan daging sekali dalam seminggu. Menjadi vegetarian atau vegan merupakan pilihan yang sangat berarti bagi lingkungan.
BAB III
PENUTUP
2.1 Kesimpulan
Perubahan iklim adalah terjadinya perubahan kondisi atmosfer, seperti suhu, cuaca yang menyebabkan suatu kondisi yang tidak
menentu. Perubahan iklim juga dapat dikatakan sebagai, keadaan dimana temperatur di bumi mengalami kenaikan dan pergeseran musim. Aktivitas manusia merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim.
Ada banyak kejadian yang dapat menyebabkan perubahan iklim. Penyebab-penyebab tersebut adalah :
1. Kehutanan
Dari tahun ke tahun luas hutan berkurang. 2. Pemanfaatan Energi Bahan Bakar Fosil
Penggunaan energi fosil seperti, minyak bumi, batu bara, dan gas alam dalam berbagai kegiatan akan memicu bertambahnya emisi GRK di atmosfer.
3. Pertanian dan Peternakan
Sektor peternakan berperan mengemisikan GRK, hal tersebut dikarenakan kotoran ternak yang membusuk akan melepaskan gas metana ke atmosfer. Sektor pertanian juga terhadap meningkatnya emisi GRK, khususnya gas metana(CH4) yang dihasilkan dari sawah yang
tergenang.
DAFTAR PUSAKA
http://seeevil13.blogspot.co.id/2015/03/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html
https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=7&cad=rja&uact=8&ved=0ahUK Ewioiteg2pPPAhXCHZQKHYtnAhQQFghDMAY&url=http%3A%2F %2Fetd.repository.ugm.ac.id%2Fdownloadfile%2F68004%2Fpotongan