Kepastian Hukum Gereja Sebagai Penerima

109  36  Download (0)

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

KEPASTIAN HUKUM GEREJA SEBAGAI PENERIMA

HIBAH HAK ATAS TANAH YANG PERUNTUKANNYA

BUKAN SEBAGAI RUMAH IBADAH

SKRIPSI

MUTIARA HAFIDZAH 1206209053

FAKULTAS HUKUM

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

PEMINATAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA SUB AGRARIA DEPOK

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

KEPASTIAN HUKUM GEREJA SEBAGAI PENERIMA

HIBAH HAK ATAS TANAH YANG PERUNTUKANNYA

BUKAN SEBAGAI RUMAH IBADAH

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana

MUTIARA HAFIDZAH 1206209053

FAKULTAS HUKUM

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

PEMINATAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA SUB AGRARIA DEPOK

(3)
(4)
(5)

iv

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Saya menyadari pula sepenuhnya bahwa skripsi ini dapat tersusun dengan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini perkenankan saya mengucapkan terima kasih kepada:

(1)Ibu Hendriani Parwitasari, S.H. M.Kn, selaku dosen pembimbing yang telah

menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan skripsi ini;

(2)Semua pihak-pihak terkait dari Gereja Kristen Indonesia Kebayoran Baru,

Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor, Badan Perizinan Terpadu Kabupaten Bogor yang telah membantu;

(3)Mama, Papa, Adikku Bunga Shabrina, Bude Rini beserta keluargaku yang

lain yang selalu memberikan semangat, doa dan kasih sayang;

(4)Pacarku, Arga Aulia Rahman Ramli, yang selalu mengingatkan, membantu

serta memberikan semangat dalam hal apapun;

(5)Sahabat-sahabatku di FHUI, Cassandra Nadia Arviani, Devitari, Shastri

Ratimanjari, dan Dea Yufiana yang telah menjadi kawan belajar menyenangkan dan rumah keduaku di kampus;

(6)Teman seperjuanganku “geng agra”, Dwi Handayani, Avie Sekar, Henson

Mulianto, dan Jason Tigris, yang telah berjuang bersama-sama menghadapi halangan dan rintangan perkuliahan di FHUI;

(7)Sahabatku Ditya, Chika, Ajeng, Hilda, dan Resty, yang telah mendukung dan

memberikan semangat meraih mimpiku dari SMA;

(8)Teman-teman “Botak Squad”, Avinta, Putri, Kartika, Ellyah, Dhea, dan Raka

(6)

v ilmu.

Depok, 14 Januari 2016

Penulis

(7)
(8)

vii

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA ABSTRAK

Nama : Mutiara Hafidzah

Program Studi : Ilmu Hukum

Judul : Kepastian Hukum Gereja Sebagai Penerima Hibah Hak

Atas Tanah Yang Peruntukannya Bukan Sebagai Rumah Ibadah

Dalam kehidupan sehari-hari, gereja seringkali mendapatkan hibah dari pemeluknya berupa hak atas tanah dan peruntukannya masih belum ditentukan. Sehingga, pendaftaran atas peralihan hak melalui hibah sering menghadapi berbagai kendala. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kepastian hukum gereja sebagai penerima hibah hak atas tanah yang peruntukannya bukan sebagai rumah ibadah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif. Hasil penelitian menyarankan bahwa peruntukan tanah hibah harus telah ditentukan terlebih dahulu dan perlu dibentuk pengaturan mengenai Izin Peruntukan Penggunaan Tanah agar dapat diterapkan asas transparansi khususnya mengenai persyaratan administratif.

Kata kunci:

Hibah, gereja, rumah ibadah.

ABSTRACT

Name : Mutiara Hafidzah

Study Program : Law

Title : Legal Certainty of Church As Grantee Of The Rights Of

Lands Which Is Not Used For Place Of Worship

In daily life, church often gets grant the rights of land from their adherents and its use has not been determined. Thus, the registration the rights of land from grant often deal with various obstacles. The purpose of this research is analyzing legal certainty of church as grantee of the rights of lands which is not used for place of worship. This research is normative research. The researcher suggests that the use of rights of land from grant should be determined and to create the regulation of Land Use Permit in order to transparency principle could be implemented especially administration requirements.

Key words:

(9)

viii

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERYATAAN ORISINALITAS ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vi

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Pokok Permasalahan ... 6

1.3. Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Kerangka Konsep ... 7

1.5. Metode Penelitian ... 8

1.6. Kegunaan Teoritis dan Praktis ... 9

1.7. Sistematika Penulisan ... 10

BAB II TINJAUAN UMUM HAK-HAK ATAS TANAH YANG DAPAT DIMILIKI OLEH GEREJA 2.1. Tinjauan Umum Tentang Hak-Hak Atas Tanah ... 13

2.1.1. Hak Atas Tanah Primer ... 15

A. Hak Milik ... 15

B. Hak Guna Usaha ... 17

C. Hak Guna Bangunan ... 19

D. Hak Pakai ... 21

2.1.2. Hak Atas Tanah Sekunder ... 23

A. Hak Guna Bangunan ... 24

B. Hak Pakai ... 24

(10)

ix

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

D. Hak Gadai ... 26

E. Hak Usaha Bagi Hasil ... 27

F. Hak Menumpang ... 28

2.2. Tinjauan Umum Gereja Sebagai Pemegang Hak Atas Tanah ... 29

2.2.1. Gereja Sebagai Pemegang Hak Atas Tanah ... 30

2.2.2. Dasar Hukum Gereja Sebagai Pemegang Hak Atas Tanah ... 32

BAB III PERALIHAN HAK ATAS TANAH MELALUI HIBAH HAK ATAS TANAH YANG DILAKUKAN OLEH GEREJA YANG TANAHNYA BUKAN DIPERUNTUKAN SEBAGAI RUMAH IBADAH 3.1. Konsep Peralihan Hak Atas Tanah ... 41

3.1.1. Pendaftaran Tanah Dalam Peralihan Hak ... 43

3.1.2. Macam-Macam Peralihan Hak ... 46

3.1.3. Syarat-Syarat Peralihan Hak Melalui Hibah ... 48

a. Syarat Materiil ... 48

b. Syarat Formill ... 49

3.2. Prosedur Peralihan Hak Melalui Hibah Yang Peruntukannya Sebagai Rumah Ibadah ... 51

A. Ketentuan Materiil ... 51

1. Subyek Hibah ... 51

2. Obyek Hibah ... 52

B. Ketentuan Formil ... 52

1. Sebelum Pembuatan Akta Hibah ... 52

2. Pada Saat Pembuatan Akta Hibah ... 54

3. Sebelum Pendaftaran ... 55

A. Persyaratan Pendirian Rumah Ibadah ... 55

B. Perizinan ... 56

4. Pendaftaran ... 66

3.3. Prosedur Peralihan Hak Melalui Hibah Yang Peruntukannya Bukan Sebagai Rumah Ibadah ... 70

A. Ketentuan Materiil ... 70

(11)

x

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

2. Obyek Hibah ... 71

B. Ketentuan Formil ... 71

BAB IV ANALISIS KEPASTIAN HUKUM GEREJA SEBAGAI PENERIMA HIBAH HAK ATAS TANAH YANG PERUNTUKANNYA BUKAN SEBAGAI RUMAH IBADAH 4.1. Kasus Posisi Peralihan Hak Yang Dilakukan Oleh Gereja ... 72

4.1.1. Peralihan Hak Melalui Hibah Yang Dilakukan Gereja Yang Peruntukannya Bukan Sebagai Rumah Ibadah ... 72

4.1.2. Peralihan Hak Melalui Jual Yang Dilakukan Gereja Yang Peruntukannya Bukan Sebagai Rumah Ibadah ... 73

4.2. Peralihan Hak Melalui Hibah Kepada Gereja Yang Peruntukannya Belum Ditentukan Selain Sebagai Rumah Ibadah ... 73

4.3. Kepastian Hukum Gereja Sebagai Penerima Hibah Hak Atas Tanah Yang Peruntukannya Bukan Sebagai Rumah Ibadah ... 80

4.4.Solusi Penyelesaian Agar Gereja Dapat Menguasai Hak Atas Tanah Yang Diperoleh Dari Hibah Yang Peruntukannya Bukan Sebagai Rumah Ibadah ... 89

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 91

5.2. Saran ... 92

DAFTAR PUSTAKA ... 93

(12)

xi

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA DAFTAR LAMPIRAN

(13)

1

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.1 Bentuk dari hak-hak asasi manusia yang diatur dalam

Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia adalah hak untuk hidup, hak menentukan nasib sendiri, hak menyampaikan pendapat, persamaan didepan hukum, hak beragama dan berkeyakinan, hak memperoleh pendidikan, hak bagi pekerja serta hak untuk penghidupan yang layak.2 Sebagai salah satu bentuk dari hak asasi

manusia, jaminan atas kebebasan beragama telah dikonstruksikan melalui instrumen hukum internasional maupun instrumen hukum nasional.

Pengaturan mengenai kebebasan beragama dalam instrumen hukum internasional diatur dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang menyatakan bahwa:

Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan agama; dalam hal ini termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan, dengan kebebasan

1Indonesia I, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Undang-Undang Hak Asasi Manusia. LN No. 165 Tahun 1999. TLN No. 3886, pasal 1 ayat (1).

2Equitas, “Hak Asasi Manusia (HAM)”

(14)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

untuk menyatakan agama atau kepercayaan dengan cara mengajarkannya, melakukannya, beribadat dan mentaatinya, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, di muka umum maupun sendiri.

Selain itu, Indonesia telah melakukan ratifikasi terhadap suatu kovenan internasional melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant On Civil And Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik). Dalam kovenan tersebut, kebebasan beragama diatur dalam pasal 18 yang menyebutkan bahwa:

Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, keyakinan dan beragama. Hak ini mencakup kebebasan untuk menetapkan agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri, dan kebebasan, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, baik di tempat umum atau tertutup, untuk menjalankan agama dan kepercayaannya dalam kegiatan ibadah, pentaatan, pengamalan, dan pengajaran.

Sebagai konsekuensi dilakukannya ratifikasi terhadap kovenan tersebut, maka Indonesia terikat untuk menjamin hak setiap orang atas kebebasan berfikir, berkeyakinan dan beragama, serta perlindungan atas hak-hak tersebut, hak untuk memiliki pendapat tanpa campur tangan pihak lain dan hak atas kebebasan untuk menyatakan pendapat persamaan kedudukan semua orang di depan hukum dan hak semua orang atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi dan tindakan untuk melindungi golongan etnis, agama atau bahasa minoritas yang mungkin ada di negara pihak.

Dalam instrumen hukum nasional, hak kebebasan beragama diatur dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan lainnya. Konstitusi sebagai hukum tertinggi memberikan pedoman kebebasan beragama dalam tiga pasal sekaligus. Pertama, dalam Pasal 28E ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan:

(15)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

Kedua, adalah dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan:

Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut, adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.

Ketiga adalah Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan:

“negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk

agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.”

Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia diatur juga mengenai kebebasan beragama yaitu dalam Pasal 22:

Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Negara menjamin kemerdekaan setiap orang untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Dari adanya pengaturan kebebasan beragama dalam instrumen hukum internasional dan nasional maka telah disepakati oleh masyarakat dunia bahwa hak kebebasan beragama sebagai hak individu yang melekat secara langsung, yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Sebagai konsekuensi dari adanya kebebasan beragama, Indonesia memberikan pengakuan terhadap enam agama resmi.3 Enam agama tersebut

adalah Islam, Kristen Protestan, Katolik, Budha, Hindu dan Konghucu. Dalam menjalankan kebebasan beragama bagi para penganutnya, negara memberi

(16)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

keleluasaan kepada para penganut masing-masing agama untuk mendirikan rumah-rumah ibadah.

Untuk mendirikan rumah-rumah ibadah tersebut, negara memberikan hak atas tanah berupa hak milik atas tanah melalui badan keagamaan sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Undang-Undang Pokok Agraria (untuk selanjutnya disebut sebagai UUPA) yang menyebutkan bahwa:

Hak milik tanah badan-badan keagamaan dan sosial sepanjang dipergunakan untuk usaha dalam bidang keagamaan dan sosial diakui dan dilindungi. Badan-badan tersebut dijamin pula akan memperoleh tanah yang cukup untuk bangunan dan usahanya dalam bidang keagamaan dan sosial.

Sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 21 ayat (2) UUPA, lahirlah Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 1963 tentang Penunjukan Badan-Badan Hukum Yang Dapat Mempunyai Hak Milik Atas Tanah. Dalam Pasal 4 PP No. 38 Tahun 1963, badan-badan keagamaan dan sosial dapat mempunyai hak milik atas tanah yang dipergunakan untuk keperluan-keperluan yang langsung berhubungan dengan usaha keagamaan dan sosial. Mengenai keperluan keagamaan bagi gereja diatur lebih lanjut dalam Keputusan Direktur Jenderal Agraria dan Transmigrasi Nomor 1/Dd-AT/Agr/67 tentang Penunjukan Badan-Badan Gereja Roma Katolik sebagai Badan-Badan Hukum dan Keputusan Direktur Jenderal Agraria dan Transmigrasi Nomor SK.22/HK/1969 tentang Penunjukan Badan Gereja Protestan di Indonesia Bahagian Barat sebagai Badan Hukum yang dapat mempunyai tanah dengan hak milik.

(17)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

diatur lebih lanjut dalam Peraturan Bersama Menteri Agama Dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan Nomor 9 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat.

Disamping keperluan agama yang disebutkan dalam kedua keputusan tersebut, gereja dapat memiliki sarana-sarana penunjang lainnya yang tidak diperuntukan langsung untuk rumah ibadah seperti rumah retreat, panti asuhan4

atau panti werdha/jompo5. Sehingga untuk membangun sarana penunjang

tersebut, hak atas tanah yang diperbolehkan adalah hak atas tanah selain hak milik.6 Adanya kedudukan gereja sebagai pemegang hak atas tanah menunjukan bahwa gereja adalah subyek hukum. Dalam hal ini gereja merupakan badan hukum yaitu badan-badan atau perkumpulan-perkumpulan yang memiliki hak dan dapat melakukan perbuatan hukum seperti seorang manusia.7 Dalam kehidupan

sehari-hari, gereja seringkali menerima bantuan atau sumbangan yang dapat berupa hibah tanah dari para pemeluknya. Hibah hak atas tanah termasuk kedalam peralihan hak sehingga memiliki persyaratan sama halnya dengan jual beli. Untuk melakukan peralihan hak atas tanah melalui hibah, harus terpenuhi beberapa persyaratan yaitu tanah yang dialihkan berstatus tanah hak, pihak yang memerlukan tanah memenuhi syarat sebagai pemegang hak dan pemilik hak atas tanah bersedia mengalihkannya.8

Dalam kesempatan ini penulis tertarik untuk membahas mengenai gereja sebagai salah satu badan keagamaan yang dapat menjadi pemegang hak atas tanah. Untuk menjadi pemegang hak atas tanah harus diperhatikan terlebih dahulu

4 Gereja Kristen Indonesia Jemaat Kota Modern, “Parapattan, Panti Asuhan Terbaik 2011 yang Mengutamakan Tuhan” http://www.gkikotamodern.org/artikel/umum/5/parapattan,-panti-asuhan-terbaik-2011-yang-mengutamakan-tuhan/123 diakses pada 18 September 2015 Pukul 19.30 WIB.

5 Panti Werda Kristen Hana, “Profil” http://www.pwkhana.com/ diakses pada 18 September 2015 Pukul 19.30 WIB.

6 Indonesia III, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960, Undang-Undang Pokok Agraria. LN No. 104 Tahun 1960. TLN No. 2043, Pasal 49.

(18)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

peruntukan dari tanah tersebut apakah untuk keperluan keagamaan atau tidak. Dalam permasalahan yang diambil oleh penulis, jemaat memberikan hibah berupa tanah kepada gereja. Tanah yang dihibahkan tersebut belum ditentukan pemanfaatan tanahnya dan rencananya tidak akan dijadikan untuk pembangunan rumah ibadah. Dikarenakan tanah-tanah yang diberikan oleh jemaatnya berupa hak milik, maka sebelum dilakukan peralihan hak perlu dilakukan terlebih dahulu proses penurunan hak. Dalam prakteknya, peralihan hak atas tanah dari jemaat kepada gereja yang belum ditentukan pemanfaatannya banyak menemui kendala. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti hal-hal yang menjadi kendala tidak tercapainya peralihan hak atas tanah tersebut kepada pihak gereja sebagai badan keagamaan.

1.2. Pokok Permasalahan

Berdasarkan hal-hal yang telah dijabarkan sebelumnya di latar belakang, maka muncul pertanyaan-pertanyaan yang menjadi pokok permasalahan dari penelitian ini, yaitu :

1. Bagaimana peralihan hak melalui hibah kepada gereja jika tanahnya belum ditentukan pemanfaatannya khususnya selain untuk rumah ibadah? 2. Bagaimana kepastian hukum gereja sebagai penerima hibah hak atas

tanah yang peruntukannya bukan sebagai rumah ibadah tersebut?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum memiliki tujuan untuk mengkaji kepastian hukum gereja sebagai penerima hibah hak atas tanah yang tanahnya bukan diperuntukan sebagai rumah ibadah dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan terkait.

(19)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

a. Menguraikan sebab mengapa tidak dapat dilakukannya peralihan hak melalui hibah kepada gereja yang tanahnya belum ditentukan peruntukannya.

b. Menganalisa apakah telah tercapai kepastian hukum dalam prosedur peralihan hak kepada gereja sebagai badan keagamaan yang tanahnya bukan diperuntukkan sebagai rumah ibadah.

1.4. Kerangka Konsep

Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam memahami hal-hal yang dibahas di dalam penelitian ini, maka dibawah ini akan ditetapkan definisi yang diambil dari peraturan perundang-undangan, kamus, dan juga pendapat para ahli. Berikut definisi dari istilah-istilah yang akan sering digunakan:

1. Gereja adalah kumpulan umat yang beriman kepada Yesus Kristus atau paguyuban umat beriman kepada Yesus Kristus9.

2. Badan hukum adalah badan-badan atau perkumpulan-perkumpulan yang memiliki hak dan melakukan perbuatan hukum seperti seorang manusia. Badan-badan atau perkumpulan-perkumpulan itu mempunyai kekayaan sendiri, ikut serta dalam lalu lintas hukum dengan perantara pengurusnya, dapat digugat, dan dapat juga menggugat di muka hakim10.

3. Hak atas tanah adalah macam-macam hak atas tanah yang berasal dari hak menguasai negara yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang-orang-orang lain serta badan-badan hukum11.

4. Peralihan hak adalah adalah perbuatan hukum yang tujuannya untuk memindahkan hak atas tanah kepada pihak lain (penerima hak).

5. Hibah adalah suatu persetujuan dengan mana seorang penghibah menyerahkan suatu barang secara cuma-cuma, tanpa dapat menariknya

9 Victorianus, M.H. Randa Puang, Tinjauan Yuridis Gereja Sebagai Badan Hukum Mempunyai Hak Milik Atas Tanah, Cet. Pertama, (Jakarta: Sofmedia, 2012), hlm 5.

10 R. Soebekti, Loc.cit.

(20)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

kembali untuk kepentingan seseorang yang menerima penyerahan barang itu12.

6. Kepastian hukum dimaknai dalam empat hal mendasar yaitu pertama bahwa hukum itu positif, artinya bahwa hukum positif adalah perundang-undangan. Kedua bahwa didasarkan pada fakta. Ketiga, bahwa fakta harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam pemaknaan disamping mudah dilaksanakan. Keempat, hukum positif tidak boleh mudah diubah13.

1.5. Metode Penelitian

Jenis penelitian yang akan dilakukan oleh penulis adalah penelitian normatif yaitu penelitian yang menarik asas-asas hukum penting untuk melakukan penafsiran peraturan perundang-undangan dan penelitian yang menganalisa peristiwa hukum secara kronologis dan melihat hubungannya dengan gejala sosial yang ada. Dalam hal ini penulis menganalisa peristiwa hukum yang terjadi terhadap pemberian hibah hak atas tanah kepada gereja yang peruntukannya belum ditentukan selain sebagai rumah ibadah.

Tipologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah penelitian deskriptif-analitis. Penelitian ini menggambarkan persyaratan-persyaratan agar gereja dapat menjadi penerima hibah tanah yang bukan diperuntukan sebagai rumah ibadah dan menganalisa apakah sudah ada kepastian hukum dalam peralihan hak melalui hibah yang bukan diperuntukan sebagai rumah ibadah kepada gereja dilihat dari peraturan perundang-undangan terkait.

Bentuk penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian hukum normatif sehingga membutuhkan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang harus diperoleh peneliti melalui penelitian langsung terhadap faktor-faktor yang menjadi latar belakang penelitiannya. Data primer yang digunakan dalam

12 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek]. Diterjemahkan oleh Subekti dan R. Tjitrosudibio, (Jakarta : Pradnya Paramita, 2008), pasal 1644.

(21)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

penelitian ini adalah keterangan berbagai pihak seperti pihak pengurus gereja, pihak Kementrian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional RI, pihak Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor serta pihak Badan Perizinan Terpadu Kabupaten Bogor. Pada pengumpulan data sekunder, penulis menggunakan metode studi kepustakaan. Studi kepustakaan (bibliography study) merupakan pengkajian informasi tertulis mengenai hukum yang berasal dari berbagai sumber dan dipublikasikan secara luas. Informasi tertulis tersebut lazim disebut sebagai bahan hukum (law material). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan bahan hukum primer yaitu peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hibah hak atas tanah kepada gereja yaitu

1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960; 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1963; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997;

5. Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 3 Tahun 1997; 6. Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 2 Tahun 1999; 7. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 19 Tahun 2000; 8. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 7 Tahun 2008; 9. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 19 Tahun 2008; 10.Peraturan Bupati Kabupaten Bogor Nomor 37 Tahun 2014.

Untuk bahan hukum sekunder, penulis menggunakan literature, jurnal, tesis, dan disertasi. Sedangkan untuk bahan hukum tersier penulis menggunakan internet. Kemudian, data-data yang diperoleh akan dianalisis dan dikaji secara kualitatif oleh penulis.

1.6. Kegunaan Teoritis dan Praktis

(22)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

tersebut yang kemudian dapat dijadikan suatu bahan penelitian. Sedangkan secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan akan dapat digunakan sebagai suatu acuan oleh pihak-pihak yang berkaitan demi memecahkan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan topik penelitian ini dan juga dipergunakan untuk menjadi bahan pertimbangan pengambilan keputusan di bidang pertanahan.

1.7. Sistematika Penulisan

Adapun Kerangka penulisan skripsi ini adalah:

BAB I PENDAHULUAN

Dalam Bab ini penulis akan menguraikan tentang latar belakang, pokok permasalahan, tujuan penelitian, kerangka konsep, metode penelitian, kegunaan teoritis dan praktis serta sistematika penulisan. Pada Bab ini akan dikemukakan apa yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian tentang peralihan hak melalui hibah kepada gereja jika belum ditentukan pemanfaatannya selain untuk rumah ibadah dan kepastian hukum gereja sebagai penerima hibah hak atas tanah yang peruntukannya bukan sebagai rumah ibadah.

BAB II TINJAUAN HUKUM HAK-HAK ATAS TANAH YANG DAPAT DIMILIKI OLEH GEREJA

Dalam Bab ini penulis akan menguraikan tentang hak atas tanah, gereja sebagai pemegang hak atas tanah, dan dasar hukum gereja sebagai pemegang hak atas tanah.

BAB III PERALIHAN HAK ATAS TANAH MELALUI HIBAH HAK ATAS TANAH YANG DILAKUKAN OLEH GEREJA YANG TANAHNYA BUKAN DIPERUNTUKAN SEBAGAI RUMAH IBADAH

(23)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

peralihan, persyaratan peralihan hak atas tanah, prosedur hibah, persyaratan dan prosedur hibah yang dilakukan oleh gereja yang tanahnya diperuntukan sebagai rumah ibadah dan jika tanahnya tidak diperuntukan sebagai rumah ibadah.

BAB IV ANALISIS KEPASTIAN HUKUM GEREJA SEBAGAI PENERIMA HIBAH HAK ATAS TANAH YANG PERUNTUKKANNYA BUKAN SEBAGAI RUMAH IBADAH

Dalam bab ini penulis akan membandingkan dua kasus peralihan hak yang berbeda yaitu jual beli dan hibah yang dilakukan oleh gereja, meninjau penyebab tidak dapat dilakukan proses peralihan hak melalui hibah kepada gereja jika belum ditentukan peruntukannya khususnya selain untuk rumah ibadah, meninjau kepastian hukum terhadap peralihan hak melalui hibah yang tanahnya bukan diperuntukan sebagai rumah ibadah dengan regulasi pelaksanaan Undang-Undang Pokok Agraria, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1963, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 3 Tahun 1997, Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 2 Tahun 1999, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009, Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 19 Tahun 2000, Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 7 Tahun 2008, Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 19 Tahun 2008, Peraturan Bupati Kabupaten Bogor Nomor 37 Tahun 2014 serta peraturan pelaksana lainnya di Indonesia serta menggali bagaimana gereja dapat menguasai hak atas tanah yang diperoleh dari hibah yang peruntukannya bukan sebagai rumah ibadah.

BAB V PENUTUP

(24)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

(25)

13

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

BAB II

TINJAUAN UMUM HAK-HAK ATAS TANAH YANG DAPAT DIMILIKI

OLEH GEREJA

2.1. Tinjauan Umum Tentang Hak-Hak Atas Tanah

Tanah adalah permukaan bumi yang dalam penggunaannya meliputi sebagian tubuh bumi yang ada dibawahnya dan sebagian dari ruang yang ada diatasnya, sedangkan hak atas tanah adalah hak atas sebagian tertentu permukaan bumi, yang berbatas dan berdimensi dua dengan ukuran panjang dan lebar.14

Dikarenakan hak atas tanah hanyalah hak atas suatu permukaan bumi maka hak tersebut tidak meliputi pengambilan kekayaan alam yang terkandung di dalam tubuh bumi, air dan ruang angkasa.15

Hak atas tanah mengandung kewenangan dan kewajiban bagi pemegang haknya untuk memakai dalam arti menguasai, menggunakan dan mengambil manfaat dari satu bidang tanah tertentu yang dihaki. Pemakaiannya mengandung kewajiban untuk memelihara kelestarian, kemampuannya dan mencegah kerusakannya, sesuai tujuan pemberian dan isi haknya serta peruntukan tanahnya yang ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayah daerah yang bersangkutan. Menurut Soedikno Mertokusumo, wewenang yang dimiliki pemegang hak atas tanah terhadap tanah dibagi menjadi dua, yaitu:16

1) Wewenang Umum

Wewenang yang bersifat umum yaitu pemegang hak atas tanah mempunyai wewenang untuk menggunakan tanahnya, termasuk juga

14 Harsono, Op.Cit., hlm. 18. 15Ibid., hlm. 19.

(26)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

tubuh bumi, air dan ruang yang ada diatasnya sekadar diperlukan untuk kepentingan yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanahnya itu dalam batas-batas menurut UUPA dan peraturan-peraturan hukum lainnya yang lebih tinggi.

2) Wewenang Khusus

Wewenang yang bersifat khusus yaitu pemegang hak atas tanah mempunyai wewenang untuk menggunakan tanahnya sesuai dengan macam hak atas tanahnya, seperti wewenang pada tanah hak milik adalah dapat untuk kepentingan pertanian dan/atau mendirikan bangunan, wewenang pada tanah Hak Guna Bangunan adalah menggunakan tanah hanya untuk mendirikan dan mempunyai bangunan diatasnya atau wewenang pada Hak Guna Usaha adalah menggunakan tanahnya hanya untuk kepentingan perusahaan di bidang pertanian, perikanan peternakan atau perkebunan.

Berdasarkan hierarkis macam-macam hak penguasaan atas tanah yang dikenal dalam hukum tanah nasional,17 diadakan pengelompokan hak-hak atas tanah yang

terdiri dari:

1. Hak atas tanah primer adalah hak atas tanah yang diberikan oleh negara;

2. Hak atas tanah sekunder adalah hak atas tanah yang bersumber pada hak pihak lain.

17 Dalam Hukum Tata Nasional ada bermacam-macam hak penguasaan atas tanah yang disusun dalam jenjang hierarki sebagai berikut:

1. Hak bangsa Indonesia 2. Hak Menguasai dari Negara 3. Hak Ulayat

4. Hak-Hak Individual: a.Hak-hak atas tanah

(27)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

2.1.1. Hak Atas Tanah Primer

Hak atas tanah primer merupakan hak atas tanah yang bersumber pada Hak Bangsa Indonesia yang diberikan oleh Negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Hak atas tanah primer terdiri dari hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai yang diberikan oleh negara.

A. Hak Milik

Hak milik atas tanah adalah hak turun temurun, terkuat, dan terpenuh yang dapat dipunyai orang dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6 UUPA. Makna terkuat dan terpenuh bukan berarti hak yang mutlak atau hak yang tidak dapat diganggu gugat, tetapi hanya sebagai pembeda dengan hak-hak yang lainnya. Maksud sifat terkuat dari hak milik adalah hak atas tanah yang tidak mudah hapus dan musnah serta mudah dipertahankan terhadap hak kepada pihak lain, sedangkan terpenuh maksudnya kewenangan pemengang hak milik itu penuh dengan dibatasi oleh ketentuan Pasal 6 UUPA yaitu fungsi sosial. Maksud dari sifat turun temurun adalah jangka waktu yang tidak terbatas dan dialihkan karena perbuatan hukum atau peristiwa hukum. Hak milik merupakan hak atas tanah sehingga tidak meliputi pemilikan kekayaan alam yang terkandung didalam tubuh bumi dan didalamnya.

Berdasarkan Pasal 9 UUPA Jo. Pasal 21 UUPA, subyek yang dapat menjadi pemegang hak milik atas tanah, hanya perorangan yang berkewarganegaraan Indonesia tunggal saja. Sedangkan untuk badan hukum, hanya yang dikecualikan saja yang dapat menjadi pemegang hak milik atas tanah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1963 sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 21 ayat (2) UUPA, yaitu:

(28)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

Berdasarkan Pasal 22 UUPA, Hak milik dapat terjadi dengan cara-cara sebagai berikut:

1. Menurut hukum adat;

Hak milik atas tanah terjadi dengan jalan pembukaan tanah18 atau

terjadi karena timbulnya lidah tanah (aanslibbing). Yang dimaksud dengan pembukaan tanah adalah yang dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat hukum adat yang dipimpin oleh ketua adat melalui tiga sistem penggarapan, yaitu matok sirah matok galeng, matok sirah gilir galeng dan sistem bluburan. Sedangkan lidah tanah adalah pertumbuhan tanah di tepi sungai, danau atau laut, tanah yang tumbuh dianggap menjadi kepunyaan orang yang memiliki tanah yang berbatasan karena pertumbuhan tersebut sedikit banyak terjadi karena usahanya19. Lidah tanah biasanya muncul karena berbeloknya arus

sungai atau tanah yang timbul di pinggir pantai, dan terjadi dari lumpur, lalu lumpur tersebut mengeras dan akhirnya menjadi tanah.

2. Penetapan pemerintah menurut cara-cara dan syarat-syarat yang

ditetapkan oleh peraturan pemerintah; dan

Hak milik atas tanah pada cara ini berasal dari tanah negara yang dilakukan dengan cara permohonan pemberian hak milik atas tanah oleh pemohon dengan memenuhi prosedur dan persyaratan yang telah ditetapkan. Apabila semua persyaratan telah dipenuhi, maka Badan Pertanahan Nasional (BPN) akan menerbitkan Surat Keputusan Pemberian Hak (SKPH). Kemudian SKPH ini wajib didaftarkan oleh pemohon kepada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota untuk dicatat dalam buku tanah dan diterbitkan Sertipikat Hak Milik atas tanah.

3. Ketentuan Undang-Undang.

Hak milik atas tanah yang terjadi karena undang-undang diatur dalam Pasal I, Pasal II, dan Pasal VII ayat (1) Ketentuan-ketentuan Konversi UUPA. Yang dimaksud dengan konversi adalah perubahan hak atas

(29)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

tanah sehubungan dengan berlakunya UUPA. Hak-hak atas tanah yang ada sebelum berlakunya UUPA diubah menjadi hak atas tanah yang ditetapkan dalam UUPA.20

Mengenai jangka waktunya, hak milik memiliki jangka waktu tidak terbatas dikarenakan memiliki sifat turun temurun dan dapat beralih. Sehingga, hak milik tidak akan berlangsung selama hidup pemiliknya, tetapi akan dilanjutkan oleh ahli warisnya. Berdasarkan Pasal 27 UUPA, hapusnya hak milik dapat terjadi karena beberapa hal, yaitu:

a. Jika tanahnya jatuh kepada Negara, disebabkan karena: 1. Pencabutan hak berdasarkan pasal 18 UUPA; 2. Penyerahan secara sukarela oleh pemiliknya; 3. Ditelantarkan; dan

4. Karena ketentuan Pasal 21 ayat (3) dan Pasal 26 UUPA yaitu hak milik jatuh kepada Warga Negara Asing karena peristiwa hukum dan perbuatan hukum.

b. Tanahnya musnah.

B. Hak Guna Usaha

Hak guna usaha (untuk selanjutnya disebut sebagai HGU) adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2921, guna perusahaan pertanian,

perikanan atau peternakan.22 HGU tidak diperuntukan sebagai tanah bangunan,

20 Effendi Perangin, Hukum Agraria di Indonesia Suatu Telaah dari Sudut Pandangan Praktisi Hukum, (Jakarta: Rajawali, 1989) hlm. 145 Urip Santoso, Hukum Agraria dan Hak-Hak Atas Tanah, cet. 4, (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), hlm. 96.

21 Pasal 29

(1) Hak guna usaha diberikan untuk waktu paling lama 25 tahun;

(2) Untuk perusahaan yang memerlukan waktu yang lebih lama dapat diberikan hak guna usaha untuk jangka waktu paling lama 35 tahun;

(3) Atas permintaan pemegang hak dan mengingat keadaan perusahaannya jangka waktu yang dimaksud dalam ayat 1 dan 2 pasal ini dapat diperpanjang dengan waktu paling lama 25 tahun.

(30)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

sehingga wewenang subyeknya lebih terbatas dibandingkan dengan hak milik atas tanah. Hak ini adalah hak yang khusus untuk mengusahakan tanah yang bukan miliknya sendiri guna perusahaan pertanian, perikanan dan peternakan. Bedanya dengan hak pakai adalah HGU diberikan untuk keperluan diatas dan tanah yang luasnya paling sedikit 5 lima hektar.23

Berdasarkan Pasal 30 UUPA Jo. Pasal 2 PP Nomor 40 Tahun 1996, subyek yang dapat menjadi pemegang HGU adalah Warga Negara Indonesia dan badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. Mengenai jangka waktu, HGU untuk tanaman muda diberikan untuk waktu paling lama adalah 25 tahun, sedangkan untuk untuk tanaman keras yang memerlukan waktu yang lebih lama dapat diberikan dengan jangka waktu paling lama 35 tahun serta HGU tersebut dapat diperpanjang selama 25 tahun.24 Setelah

perpanjangan waktu habis, maka HGU dapat diperbaharui dengan mengajukan permohonan hak baru.25 Berdasarkan Pasal 17 PP Nomor 40 Tahun 1996, HGU

dapat hapus karena beberapa hal, yaitu:

a. Berakhirnya jangka waktu sebagaimana ditetapkan dalam keputsan pemberian atau perpanjangannya;

b. Dibatalkannya hak oleh pejabat yang berwenang sebelum jangka waktunya berakhir karena:

1) Tidak terpenuhinya kewajiban-kewajiban pemegang hak dan/atau dilanggarnya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, Pasal 13 dan/atau Pasal 14;

2) Putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap; c. Dilepaskan secara sukarela oleh pemegang haknya, sebelum jangka

waktu berakhir;

d. Dicabut untuk kepentingan umum berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1961;

23 Indonesia IV. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah. LN No. 58 Tahun 1996 TLN No.3643 Pasal 5.

(31)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

e. Ditelantarkan;

f. Tanahnya musnah; dan

g. Ketentuan Pasal 3 ayat (2) yaitu tanah HGU yang dipunyai pihak yang tidak memenuhi syarat subyek atau pemegang haknya dan dalam jangka waktu yang ditentukan tidak segera dialihkan atau dilepaskan.

C. Hak Guna Bangunan

Berdasarkan Pasal 35 UUPA, Hak guna bangunan (untuk selanjutnya disebut sebagai HGB) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri. Jadi dapat dilihat bahwa wewenang subyek HGB adalah terbatas untuk menggunakannya sebagai tanah bangunan. Subyek yang dapat menjadi pemegang HGB adalah Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.26 HGB sebagai hak atas tanah primer diberikan diatas

tanah negara dan diatas tanah hak pengelolaan.

HGB yang diberikan diatas tanah negara diperoleh melalui mekanisme permohonan hak, yaitu dengan diterbitkan Surat Keterangan Pemberian Hak (SKPH) oleh pejabat yang berwenang dan HGB tersebut lahir setelah dilakukannya pendaftaran. Sedangkan HGB yang diberikan diatas tanah hak pengelolaan terjadi karena perjanjian yang dilakukan dengan pemegang hak pengelolaan. HGB tersebut terbit setelah didaftarkannya keputusan pemberian hak atas usul pemegang hak pengelolaan yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional. Berdasarkan Pasal 22 dan Pasal 23 PP Nomor 40 Tahun 1996, hak guna bangunan ini terjadi sejak keputusan pemberian hak didaftarkan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota untuk dicatat, setelah itu akan diterbitkan sertipikat hak guna bangunan.

Perbedaan antara HGB diatas tanah negara dengan HGB diatas tanah hak pengelolaan dititikberatkan pada adanya perjanjian yang dilakukan oleh

(32)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

pemegang HGB dengan pemegang hak pengelolaan. Sehingga mengenai pengajuan, perpanjangan atau pembaharuan haknya perlu dilakukan atas usul pemegang hak pengelolaan melalui perjanjian. Mengenai hal-hal umum seperti subyek HGB, kewenangan pemegang HGB hingga jangka waktu pemberian HGB, pengaturan antara keduanya adalah sama.

Mengenai jangka waktu HGB, diberikan dengan waktu paling lama 30 tahun dan dapat diperpanjang 20 tahun.27 Setelah berakhir jangka waktu dan

perpanjangannya, pemegang hak dapat melakukan pembaharuan hak dengan mengajukan permohonan baru.28 Berdasarkan Pasal 35 PP No. 40 Tahun 1996,

HGB dapat hapus karena beberapa hal, yaitu:

a. Berakhirnya jangka waktunya sebagaimana ditetapkan dalam keputusan pemberian atau perpanjangannya;

b. Dibatalkannya hak oleh pejabat yang berwenang, pemegang Hak Pengelolaan atau pemegang Hak Milik sebelum jangka waktu berakhir karena:

1) Tidak dipenuhinya kewajiban-kewajiban pemegang hak dan/atau dilanggarnya ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 31 dan Pasal 32, atau

2) Putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap

c. Dilepaskan oleh pemegang haknya, sebelum jangka waktu berakhir; d. Dicabut untuk kepentingan umum berdasarkan Undang-Undang

Nomor 20 Tahun 1961; e. Ditelantarkan;

f. Tanahnya musnah; dan

g. Ketentuan Pasal 20 ayat (2) yaitu tanah HGB yang dipunyai pihak yang tidak memenuhi syarat subyek atau pemegang haknya dan dalam

(33)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

jangka waktu yang telah ditentukan tidak segera dialihkan atau dilepaskan.

D. Hak Pakai

Hak pakai (untuk selanjutnya disebut sebagai HP) adalah hak menggunakan dan/atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya yang bukan perjanjian sewa menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu asal tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan undang-undang ini.29 Penggunaan

kata “menggunakan” dalam HP digunakan untun kepentingan mendirikan bangunan, sedangkan penggunaan kata “memungut hasil” menunjukan bahwa HP digunakan untuk kepentingan selain mendirikan bangunan seperti pertanian, perikanan, peternakan dan perkebunan.30

Hak pakai sebagai hak atas tanah primer terdiri dari HP yang diberikan diatas tanah negara dan HP yang diberikan diatas tanah hak pengelolaan. HP yang diberikan diatas tanah negara diperoleh melalui mekanisme permohonan hak, yaitu dengan diterbitkan Surat Keterangan Pemberian Hak (SKPH) oleh pejabat yang berwenang dan HP tersebut lahir setelah dilakukannya pendaftaran. Sedangkan HP yang diberikan diatas tanah hak pengelolaan terjadi karena perjanjian yang dilakukan dengan pemegang hak pengelolaan. Dalam hal ini HP diberikan dengan keputusan pemberian hak berdasarkan usul pemegang Hak Pengelolaan.31 Hak pakai ini terjadi sejak keputusan pemberian hak pakai

didaftarkan kepada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. Keduanya memiliki pengaturan yang sama baik mengenai kewenangannya, subyeknya, ataupun jangka waktunya. Perbedaannya hanyalah jika HP diatas tanah hak pengelolaan memerlukan usul dari pemegang hak pengelolaan baik mengenai pengajuan, perpanjangan ataupun pembaharuannya.

29 Indonesia III. Op.Cit., Pasal 41. 30 Santoso, Op.Cit., hlm. 115.

(34)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

Untuk jangka waktu hak pakai yang diberikan diatas tanah Hak Pengelolaan, berlaku ketentuan hak pakai yang diberikan diatas tanah negara, sehingga hak pakai ini diberikan pertama kali paling lama 25 tahun dan dapat diperpanjang paling lama 20 tahun, serta dapat diperbarui untuk jangka waktu paling lama 25 tahun, namun perbedaannya perpanjangan dan pembaharuan dapat dilakukan atas usul pemegang hak pengelolaan.32

Mengenai subyek yang dapat menjadi pemegang HP terdiri dari:33

a. Warga negara Indonesia;

b. Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia;

c. Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen dan Pemerintah Daerah;

d. Badan-badan keagamaan dan sosial;

e. Orang asing yang berkedudukan di Indonesia;

f. Badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia; g. Perwakilan negara asing dan perwakilan badan Internasional.

Mengenai jangka waktu HP, dalam Pasal 41 ayat (2) UUPA hanya menentukan bahwa HP dapat diberikan selama jangka waktu tertentu. Sedangkan dalam PP No. 40 Tahun 1996, jangka waktu hak pakai sebagai hak primer atas tanah diberikan paling lama 25 tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 20 tahun.34 Sedangkan khusus hak pakai yang diberikan kepada

Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, Pemerintah Daerah, badan-badan keagamaan dan sosial, perwakilan negara asing dan perwakilan badan-badan internasional diberikan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan tertentu.35

32 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Hak-Hak Atas Tanah Cet. 5, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 263.

(35)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

Berdasarkan Pasal 55 PP Nomor 40 Tahun 1996, penyebab hapusnya hak pakai terdiri dari:

a. Berakhirnya jangka waktu sebagaimana ditetapkan dalam keputusan pemberian atau perpanjangan atau dalam perjanjian pemberiannya;

b. Dibatalkannya hak oleh pejabat yang berwenang, pemegang Hak Pengelolaan atau pemegang Hak Milik sebelum jangka waktu berakhir karena:

1. tidak dipernuhinya kewajiban-kewajiban pemegang hak Pakai dan atau dilanggarnya ketentuan-ketentuan dalam Hak Pakai;

2. putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. c. Dilepaskan secara sukarela oleh pemegang haknya sebelum jangka waktu

berakhir;

d. Hak pakainya dicabut berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1961;

e. Ditelantarkan;

f. Tanahnya musnah; dan

g. Ketentuan Pasal 40 ayat (2) yaitu pemegang hak pakai tidak memenuhi syarat sebagai pemegang hak pakai dan dalam jangka waktu yang telah ditentukan tidak segera dialihkan atau dilepaskan.

2.1.2. Hak Atas Tanah Sekunder

Hak atas tanah sekunder merupakan hak atas tanah yang bersumber pada pihak lain. Macam-macam hak atas tanah ini terdiri dari:36

A. Hak Guna bangunan Atas Tanah Hak Milik; B. Hak Pakai Atas Tanah Hak Milik;

C. Hak Sewa yang terdiri dari Hak Sewa Untuk Bangunan Hak Sewa Tanah Pertanian.

D. Hak Gadai;

(36)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

E. Hak Usaha Bagi Hasil; dan F. Hak Menumpang;

A. Hak Guna Bangunan

Hak guna bangunan sebagai hak atas tanah sekunder jika diberikan pada hak atas tanah pihak lain yaitu HGB atas tanah Hak Milik. Dalam hal ini terjadi dengan pemberian oleh pemegang hak milik dengan akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Mengenai jangka waktu, paling lama diberikan 30 tahun dan tidak ada perpanjangan waktu.37 Namun, atas kesepakatan antara

pemilik tanah dengan pemegang hak guna bangunan dapat diperbarui dengan pemberian hak guna bangunan ini dengan akta yang dibuat oleh PPAT38 dan didaftarkan pada Kantor Peranahan Kabupaten/Kota.

B. Hak Pakai

Hak pakai sebagai hak atas tanah sekunder jika diberikan pada hak atas tanah pihak lain yaitu HP diatas tanah hak milik. Dalam hal ini terjadi dengan pemberian oleh pemegang hak milik dengan akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Mengenai jangka waktu, paling lama diberikan 25 tahun dan tidak ada perpanjangan waktu.39 Namun, atas kesepakatan antara

pemilik tanah dengan pemegang hak guna bangunan dapat diperbarui dengan pemberian hak guna bangunan ini dengan akta yang dibuat oleh PPAT40 dan

didaftarkan pada Kantor Peranahan Kabupaten/Kota.

C. Hak Sewa

Hak sewa terdiri dari hak sewa untuk bangunan dan hak sewa untuk tanah pertanian. Hak sewa untuk bangunan adalah hak yang dimiliki seseorang atau badan hukum untuk mendirikan dan mempunyai bangunan diatas tanah hak milik orang lain dengan membayar sejumlah uang sewa tertentu dan dalam jangka

(37)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

waktu tertentu yang disepakati oleh pemilik tanah dengan pemegang hak sewa untuk bangunan.41 Obyek hak sewa untuk bangunan hanyalah berupa tanah bukan

bangunan dengan hak atas tanah berupa hak milik. Berdasarkan Pasal 45 UUPA, yang dapat mempunyai hak sewa untuk bangunan adalah terdiri dari:

1. Warga Negara Indonesia;

2. Orang asing yang berkedudukan di Indonesia;

3. Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia (badan hukum Indonesia);

4. Badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia.

Hak sewa untuk bangunan terjadi dengan perjanjian persewaan tanah yang tertulis antara pemilik tanah dengan pemegang hak sewa untuk bangunan. Ketentuan mengenai pembayaran uang sewa tergantung pada kesepakatan antara pemilik tanah dapat dilakukan satu kali atau pada tiap-tiap waktu tertentu. UUPA tidak mengatur secara tegas berapa lama jangka waktu hak sewa untuk bangunan. Hal tersebut diserahkan kepada kesepakatan antara pemilik tanah. Hapusnya hak sewa untuk bangunan dapat terjadi karena beberapa hal, yaitu:42

a. Jangka waktu berakhir;

b. Dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir dikarenakan pemegang hak sewa untuk bangunan tidak memenuhi syarat sebagai pemegang hak sewa untuk bangunan;

c. Dilepaskan oleh pemegang hak sewa untuk bangunan sebelum jangka waktunya berakhir;

d. Hak milik atas tanahnya dicabut untuk kepentingan umum; dan e. Tanahnya musnah.

Sedangkan hak sewa tanah pertanian adalah perbuatan hukum dalam bentuk penyerahan penguasaan tanah pertanian oleh pemilik tanah pertanian kepada pihak lain (penyewa) dalam jangka waktu tertentu dengan sejumlah uang

(38)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

sebagai sewa yang ditetapkan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak.43 Hak

sewa tanah pertanian dapat terjadi dalam bentuk perjanjian tidak tertulis atau tertulis yang memuat unsur-unsur para pihak, yang sewa, jangka waktu, hak dan kewajiban bagi pemilik tanah pertanian dan penyewa. Hapusnya hak sewa tanah pertanian dapat disebabkan karena hal-hal berikut:44

a. Jangka waktunya berakhir;

b. Hak sewanya dialihkan kepada pihak lain tanpa persetujuan dari pemilik tanah kecuali hal itu tidak diperkenankan oleh pemilik tanah; c. Hak sewanya dilepaskan secara sukarela oleh penyewa;

d. Hak atas tanah dicabut untuk kepentingan umum; e. Tanahnya musnah.

D. Hak Gadai

Gadai adalah hubungan hukum antara seseorang dengan tanah kepunyaan orang lain yang telah menerima uang-gadai daripadanya. Selama uang gadai belum dikembalikan, tanah tersebut dikuasai oleh pemegang gadai serta selama itu hasilnya merupakan hak pemegang gadai. Pengembalian uang gadai atau yang lazim disebut penebusanm tergantung pada kemuan dan kemampuan pemilik tanah yang menggadaikan.45 Dalam gadai terdapat dua pihak yaitu pihak pemilik

tanah pertanian disebut pemberi gadai dan pihak yang menyerahkan uang kepada pemberi gadai disebut penerima gadai. Lembaga gadai tanah ini semula bertunduk pada hukum adat dan biasanya harus dilakukan dihadapan kepala desa/kepala adat. Dalam praktiknya, dilakukan sepengetahuan kepada desa/kepala adat. Hak gadai hanya dilakukan oleh para pihak dan secara tidak tertulis.

Jangka waktu hak gadai dalam praktek dibagi menjadi dua, yaitu:46

1. Hak gadai yang lamanya tidak ditentukan

43Ibid.

44Ibid., hlm. 146.

(39)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

Dalam hal ini, pemilik tanah pertanian tidak boleh melakukan penebusan sewaktu-waktu. Penebusan baru dapat dilakukan apabila pemegang gadai minimal telah melakukan satu kali masa panen.

2. Hak gadai yang lamanya ditentukan

Dalam hal ini, pemilik tanah dapat menebus tanahnya kalau jangka waktu yang diperjanjikan telah berakhir.

Hapusnya hak gadai dapat disebabkan karena beberapa hal, yaitu:47

a. Telah dilakukan penebusan oleh pemilik tanah; b. Hak gadai sudah berlangsung 7 tahun atau lebih;

c. Adanya putusan pengadilan yang menyatakan bahwa pemegang gadai menjadi pemilik atas tanah yang digadaikan karena pemilik tanah ridak dapat menebus dalam jangka waktu yang telah disepakati;

d. Tanahnya dicabut untuk kepentingan umum; e. Tanahnya musnah.

E. Hak Usaha Bagi Hasil

Hak usaha bagi hasil adalah hak seseorang atau badan hukum (penggarap) untuk menyelenggarakan usaha pertanian diatas tanah kepunyaan pihak lain (pemilik) dengan perjanjian bahwahasilnya akan dibagi antara kedua belah pihak menurut imbangan yang telah disetujui sebelumnya.48 Dalam Undang-Undang

Nomor 2 Tahun 1960 dinyatakan bahwa perjanjian bagi hasil adalah perjanjian dengan nama apapun juga yang diadakan antara pemilik pada satu pihak dan seseorang ata badan hukum pada lain pihak penggarap berdasarkan perjanjian mana penggarap diperkenankan oleh pemilik tersebut untuk menyelenggarakan usaha pertanian diatas tanah pemilik dengan pembagian hasilnya antara kedua belah pihak.

47Ibid., hlm. 138.

(40)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

Mekanisme hak usaha bagi hasil berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1960, perjanjian bagi hasil harus dibuat secara tertulis di muka kepala desa, disaksikan minimal dua orang saksi dan disahkan oleh Camat serta diumumkan dalam kerapatan desa yang bersangkutan. Mengenai jangka waktu, menurut hukum adat hak usaha bagi hasil hanya berlaku satu tahun dan dapat diperpanjang, akan tetapi perpanjangan tersebut tergantung pada kesediaan pemilik tanah. Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1960, lamanya jangka waktu bagi hasil untuk tanah sekurang-kurangnya 3 tahun dan untuk tanah kering sekurang-kurangnya 5 tahun. Hapusnya hak usaha bagi hasil dapat disebabkan karena beberapa hal, yaitu:49

a. Jangka waktunya berakhir;

b. Atas persetujuan kedua belah pihak; c. Pemilik tanah meninggal dunia;

d. Adanya pelanggaran oleh penggarap terhadap larangan dalam perjanjian bagi hasil;

e. Tanahnya musnah.

F. Hak Menumpang;

Hak menumpang adalah hak yang memberi wewenang kepada seseorang untuk mendirikan rumah diatas tanah pekarangan milik orang lain.50 Hak

menumpang biasanya terjadi atas dasar kepercayaan oleh pemilik tanah kepada orang lain yang belum mempunyai rumah dalam bentuk tidak tertulis, tidak ada saksi dan tidak diketahui oleh perangkat desa/kelurahan setempat. Mengenai jangka waktu, tidak ada jangka waktu yang pasti dalam hak menumpang karena sewaktu-waktu dapat dihentikan. Hapusnya hak menumpang dapat disebabkan karena hal-hal berikut:51

(41)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

a. Pemilik tanah sewaktu-waktu dapat mengakhiri hubungan hukum antara pemegang hak menumpang dengan tanah yang bersangkutan;

b. Hak milik atas tanah dicabut untuk kepentingan umum

c. Pemegang hak menumpang melepaskan haknya secara sukarela; d. Tanahnya musnah.

2.2. Tinjauan Umum Gereja Sebagai Pemegang Hak Atas Tanah

Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki keanekaragamaan khususnya agama. Agama yang diakui di Indonesia terdiri dari agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Rata-rata penduduk Indonesia menganut agama Islam52, sedangkan umat kristiani di Indonesia merupakan kaum minoritas. Gereja sebagai pemegang hak atas tanah memiliki kedudukan sebagai badan keagamaan dan badan hukum. Akan tetapi, kerapkali gereja dikaitkan sebagai badan keagamaan yang merupakan tempat ibadah umat kristiani.

Salah satu aspek yang menjadi kajian pada abad pertengahan awal adalah imunitas (kekebalan) politik. Diskusi tentang kekebalan politik oleh Paul Fouracre sebagaimana diuraikan Davis, et.al adalah berkenaan dengan pertanyaan pemberian suatu hukum tertentu kepada pemilik tanah-tanah gerejawi merupakan stimulus penting untuk kemerosotan pada otoritas publik yang menunjukan seolah ada kenaikan keadilan pribadi atau keadilan seigneurial dan kekuasaan. Disini terlihat bahwa kekebalan yang dikembangkan dalam konteks kaum frank cukup spesifik yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan otoritas publik53.

52 Agama yang paling banyak dianut oleh penduduk berturut-turut adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khong Hu Cu dan lainnya. Pemeluk agama Islam pada tahun 2010 tercatat sebanyak 207, 2 juta jiwa (87,17 persen), kemudian pemeluk agama Kristen sebanyak 16,5 juta jiwa (6,96 persen) dan pemeluk agama Katolik sebanyak 6,9 juta jiwa (2,91 persen), diambil dari Badan Pusat Statistik, Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-Hari Penduduk Indonesia (Hasil Sensus Penduduk 2010), (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2011), hlm. 10.

53 Paul Fourarce dalam Wendy Davies, Property and Power in the Early Middle Age,

(42)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

2.2.1. Gereja Sebagai Pemegang Hak Atas Tanah

Sebagai pengecualian asas berkewarganegaraan tunggal bagi perseorangan, ditentukan badan-badan hukum yang dapat menjadi mempunyai hak milik atas tanah berdasarkan Pasal 21 ayat (2) UUPA. Gereja yang telah ditunjuk sebagai badan keagamaan dapat menjadi pemegang hak milik atas tanah berdasarkan Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1963 tentang Penunjukan Badan-Badan Hukum Yang Dapat Mempunyai Hak Milik Atas Tanah. Akan tetapi, pemilikan tanah oleh badan hukum tersebut disertai syarat-syarat mengenai peruntukannya dalam pasal 14 ayat (1) UUPA yang menyebutkan bahwa Pemerintah membuat suatu rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaan tanah untuk keperluan:

1. Pemerintah sendiri (pembangunan);

2. Peribadatan dan keperluan suci lainnya, sesuai dengan Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa;

3. Pusat-pusat kehidupan masyarakat, sosial, kebudayaan, kesejahteraan, dll; 4. Memperkembangkan produksi pertanian, peternakan dan perikanan; dan 5. Memperkembangkan industri, transmigrasi dan pertambangan.

Lebih lanjut dalam Pasal 49 UUPA ditegaskan bahwa untuk keperluan peribadatan dan keperluan suci lainnya, dapat diberikan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dengan hak pakai. Dalam hal ini hak pakai khusus yang diberikan dengan jangka waktu yang tidak dapat ditentukan selama tanahnya masih dipergunakan untuk keperluan keagamaan.54 Sehingga, jika kepemilikan

tanah selain keperluan keagamaan, maka badan keagamaan yakni gereja dianggap sebagai badan hukum biasa.55

Secara etimologis, kata gereja berasal dari bahasa Portugis yaitu Igreja yang merupakan terjemahan dari bahasa latin yaitu Ecclesia yang dalam bahasa Yunani

54 Indonesia IV, Op.Cit., pasal 45 ayat (3).

(43)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

disebut Ekklesia. Dalam Bahasa Yunani, ekklesia berarti memanggil keluar. Sedangkan kata Ekklesia merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani yaitu Qahal

yang artinya pertemuan atau himpunan. Secara Biblis arti harafiah dari gereja (Ekklesia) adalah undangan untuk berkumpul. Hal tersebut berarti himpunan orang-orang yang dipanggil oleh Sabda Allah, supaya mereka membentuk satu umat Allah dan dipelihara oleh Tubuh Kristus, menjadi Tubuh Kristus sendiri.56

Untuk berkumpul dalam rangka ibadah bagi Kristiani, dibutuhkan tempat atau gedung. Gereja sebenarnya bukanlah suatu tempat atau gedung ibadah, akan tetapi orang-orang yang berkumpul di gedung tersebut. Sehingga, gereja merupakan kumpulan umat yang beriman kepada Yesus Kristus atau paguyuban umat beriman kepada Yesus Kristus.57

Sebagai pemegang hak atas tanah, gereja dalam kedudukannya sebagai subyek hukum tergolong ke dalam badan hukum berdasarkan Staatsblad 1927

Nomor 156, 157, 158 dan 532 yang menyatakan “Kerken of Kergenootshcappen alsmede hunne zelfstandige onderdelen bezitten van rechtswege rechtspersoonlijkheid” atau yang diartikan sebagai Gereja-gereja atau Badan-badan gereja, begitupula cabang-cabang yang berdiri sendiri adalah badan hukum “van recthswege”/otomatis.58 Dikatakan sebagai badan hukum, gereja

memiliki karakteristik yang sama dengan badan hukum lainnya, perbedaannya hanyalah pada tujuan yang ingin dicapai.

Dalam sejarahnya, gereja digolongkan sebagai organisasi kemasyarakatan59

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang

56 Victorianus, M.H. Randa Puang, Tinjauan Yuridis Gereja Sebagai Badan Hukum Mempunyai Hak Milik Atas Tanah, Cet. Pertama, (Jakarta: Sofmedia, 2012), hlm. 1-2.

57Ibid., hlm. 5. 58Ibid, hlm. 201.

(44)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

Organisasi Kemasyarakatan.60 Dalam undang-undang tersebut, setiap organisasi

kemasyarakatan berkewajiban untuk memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.61 Sehingga untuk diakui sebagai badan hukum, pertama kali gereja

harus membuat anggaran dasar gereja di hadapan notaris dan menyusun tata dasar gereja sebagai pedoman internal gereja tersebut. Selanjutnya, mendaftarkan dokumen-dokumen tersebut ke Departemen Agama RI/Kementrian Agama RI dalam hal ini Direktur Jenderal Bimas Kristen Protestan/Katolik untuk mendapatkan pengesahan sebagai badan hukum.62 Sebagai badan keagamaan yang

dapat menjadi pemegang hak milik atas tanah, gereja perlu ditunjuk terlebih dahulu oleh Badan Pertanahan Nasional dengan cara mendaftarkan anggaran dasar gereja beserta surat keputusan mengenai pengesahan gereja sebagai badan hukum.63 Persyaratan-persyaratan tersebut diperlukan karena untuk menunjukan

bahwa gereja tersebut merupakan sebuah badan keagamaan.64 Sedangkan untuk

dapat menjadi pemegang hak atas tanah selain hak milik, gereja tidak memerlukan surat penunjukan yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional dikarenakan gereja telah menjadi badan hukum yang dapat menjadi pemegang hak atas tanah.65

2.2.2. Dasar Hukum Gereja Sebagai Pemegang Hak Atas Tanah

A. Staatsblad Tahun 1927 Nomor 155 tentang Ibadah Lembaga-lembaga Gerejani, berisikan Penunjukan lembaga-lembaga, yang dinyatakan sebagai

60 Weinata Sairin. Kerukunan Umat Beragama Pilar Utama Kerukunan Berbangsa, Cet.

Kedua, (Jakarta: Gunung Mulia, 2006), hlm. 78 yang diakses melalui

https://books.google.co.id/books?id=Hg0hYV3Y9ecC&pg=PA78&lpg=PA78&dq=gereja+digolon gkan+sebagai+organisasi+kemasyarakatan&source=bl&ots=3tV3T88XNS&sig=bmz5qMSub8SS vH4b6k2ZbQsVnEs&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjT2NW6vdjJAhUDk5QKHVb8D04Q6AEIJz AC#v=onepage&q&f=false pada tanggal 13 Desember 2015 Pukul 10.00 WIB.

61 Indonesia VI, Op.Cit., pasal 7.

62 Hasil Wawancara dengan Bapak Dedy Arruanpitu, Sekretaris Umum Gereja Kristen Indonesia Kebayoran Baru, pada tanggal 20 Oktober 2015 Pukul 12.30 WIB.

63 Hasil Wawancara dengan Bapak Sutoro, Kepala Seksi PPAT Kementrian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, pada tanggal 22 Oktober 2015 pukul 10.00 WIB.

64 Hal tersebut dilakukan berdasarkan diskresi karena tidak terdapat peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai persyaratan bagi gereja untuk dapat ditunjuk sebagai badan keagamaan yang dapat menjadi pemegang hak milik atas tanah sehingga diskresi yang dilakukan terhadap hal ini bertujuan untuk mengisi kekosongan hukum dan melancarkan penyelenggaraan pemerintahan.

(45)

Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

Gereja atau Lembaga-lembaga Gerejani dan atau sebagian bagian yang berdiri sendiri daripadanya. Berdasarkan Beslit Gubernur Jendral Ned. Indie pada tanggal 5 Mei 1927 Nomor 1927 Nomor 19, ditentkan bahwa dinyatakan sebagai Gereja atau Lembaga-lembaga Gerejani dan atau sebagai bagian yang berdiri sendiri daripadanya:

1. Gereja Protestan di Indonesia (de Protestansche Kerk In Ned. Indie) dan juga jemaat Eropa dan Indonesianya;

2. Wilayah-wilayah gerejani berdiri sendiri dari gereja Roma Katolik di Indonesia, sebagai yang dimaksud dalam “Pengaturan lebih lanjut mengenai hubungan antara Gereja Roma Katolik di Indonesia dengan Pemerintah sehubungan dengan pembentukan Prefektur-prefektur Apostolis di Luar Jawa, termuat di dalam Beslit Gubernemen tanggal 12 Agustus 1913 Nomor 30 (Tambahan Lembaran Negara Nomor 7903);

3. Pengurus-pengurus Gereja dan dana orang miskin Roma Katolik dari stasi-stasi Roma Katolik dalam wilayah-wilayah Gerejani tersebut dalam poin 2 di atas; dan

4. Seminari-seminari Roma Katolik yang berada di Indonesia.

B. Staatsblad Tahun 1927 Nomor 156 tentang Ibadah, Lembaga-lembaga Gerejani dan Badan Hukum. Berdasarkan Beslit Raja tanggal 29 Juni 1925 Nomor 80 mengenai pengaturan kedudukan hukum dari lembaga-lembaga Gerejani, Ratu Wilhemina – Selaku Ratu Kerajaan Belanda – menerima baik dan menetapkan:

1. Gereja-gereja atau Lembaga-lembaga Gerejani, dan juga bagian-bagiannya yang berdiri sendiri merupakan badan hukum berdasarkan hukum;

(46)

alasan-Kepastian Hukum…, Mutiara Hafidzah, FH UI, 2016.

UNIVERSITAS INDONESIA

alasan, sesudah berunding dengan Dewan Ned. Indie (Raad van Ned. Indie);

3. Mengenal Gereja-gereja atau lembaga-lembaga Gerejani yang termasuk dalam atau berhubungan dengan gereja-gereja atau lembaga-lembaga gerejani yang secara sah terkenal pada Pemerintah di Negeri Belanda, oleh Gubernur Jendral dikeluarkan suatu keterangan sebagai yang dimaksud dalam Pasal 2, segera setelah peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuannya mengenai susunan dan pengurusnya secara tertulis telah diberitahukan kepadanya (kepada gub. Jend);

4. Suatu keterangan, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 tidak disyaratkan bagi Lembaga-lembaga, yang sebelum berlakunya beslit ini, oleh Gubernur Jendral dengan beslit telah dinyatakan sebagai Gereja atau Lembaga Gerejani dan atau sebagai suatu bagian yang berdiri sendiri daripadanya;

5. Beslit ini berlaku sejak hari sesudah hari diumumkan Menteri jajahan kami berkewajiban untuk melaksanakan beslit ini, yang tembusannya akan dikirimkan kepada Dewan Negara (Raad van State).

C. Staatsblad Tahun 1927 Nomor 157 mengenai Ibadah, Lembaga-Lembaga Gerejani dan Badan Hukum. Berdasarkan Besluit Raja tanggal 20 Juni 125 Nomor 81, mengenai tambahan Pasal 10 yang termuat dalam Lembaga Negara Indie (Indisch Staatsblad) 1870 No. 64 perihal sifat badan bukan perkumpulan-perkumpulan, Ratu Wilhemina – Ratu Kerajaan Belanda – menetapkan:

1. Pasal 10 Beslit Raja tanggal 28 Maret 1970 Nomor 2 dilengkapi dengan ayat (3) yang berbunyi: “Ketentuan-ketentuan Pasal-pasal terdahulu adalah juga tidak berlaku bagi gereja-gereja atau lembaga gerejani dan bagian-bagiannya yang berdiri sendiri”.

Figur

Grafika, 2008.
Grafika, 2008. p.105

Referensi

Memperbarui...