KARAKTERISTIKBIODEGRADABLE FILMDARINATA DE CASSAVA
Oleh EVA YULIANA
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
pada
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
PENGARUH KONSENTRASI GLISEROL TERHADAP
KARAKTERISTIKBIODEGRADABLE FILMDARINATA DE CASSAVA
Oleh EVA YULIANA
Biodegradable film merupakan film yang dapat diuraikan secara alami oleh mikroorganisme menjadi senyawa yang ramah lingkungan. Karakteristik
biodegradable film dapat dipengaruhi oleh bahan-bahan yang ditambahkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi gliserol yang tepat untuk
menghasilkan karakteristik terbaik biodegradablefilm darinata de cassava. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi gliserol
berpengaruh terhadap karakteristik biodegradable film dari nata de cassava. Hasil perlakuan terbaik dapat diperoleh pada konsentrasi gliserol 1%, dengan
nilai persen perpanjangan sebesar 3,28%, kuat tarik 32,34 MPa, kelarutan 54,13%
dan dapat terdegradasi selama 3 minggu.
Halaman
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang dan Masalah ... 1
B. Tujuan ... 3
C. Kerangka Pemikiran ... 3
D. Hipotesis ... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Limbah Cair Tapioka ... 6
B. Acetobacter xylinum... 7
C. Faktor-faktor yang Mempengauhi Terbentuknya Nata ... 9
1. Sumber nitrogen ... 9
2. Sumber karbon ... 9
3. Suhu inkubasi ... 10
4. Lama fermentasi... 10
5. pH... 10
6. Ketersediaan oksigen ... 11
7. Starter ... 11
D. Nata de Cassava ... 11
E. Gliserol ... 12
III. BAHAN DAN METODE... 17
A. Tempat dan Waktu Penelitian... 17
B. Bahan dan Alat ... 17
C. Metode Penelitian ... 18
D. Pelaksanaan Penelitian ... 18
1. Prosedur pembuatannata de cassava... 18
2. Persiapan pembuatanbiodegradable film... 20
3. Prosedur pembuatanbiodegradable film... 21
E. Pengamatan... 22
1. Pengamatan bahan baku ... 22
2. Pengamatanbiodegradable film... 23
a. Uji kekuatan tarik ... 23
b. Uji persen pemanjangan ... 23
c. Uji kelarutan ... 24
d. Uji biodegradabilitas... 24
e. Pengamatan visual ... 25
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26
A. Penampakan VisualBiodegradable Film ... 26
B. Kuat Tarik ... 28
C. Persen Pemanjangan ... 31
D. Kelarutan ... 33
E. Biodegradabilitas ... 35
F. Penentuan Perlakuan Terbaik ... 37
V. SIMPULAN DAN SARAN... 41
A. Simpulan... 41
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang dan Masalah
Plastik merupakan salah satu bahan yang banyak digunakan dalam kehidupan
manusia sehari-hari. Sifatnya yang ringan, transparan, murah, mudah dibentuk,
dan dapat dimodifikasi sesuai dengan keperluan telah menjadikan plastik sebagai
bahan yang paling banyak digunakan oleh manusia (Rais, 2007). Namun, plastik
membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terurai sehingga menimbulkan
masalah yang serius karena terjadi penumpukan limbah dengan skala besar.
Selain itu masalah yang dapat ditimbulkan dari plastik ini adalah apabila dibakar
akan menghasilkan asap beracun seperti dioksin yang dapat memicu kanker dan
gangguan saraf (Tanaga, 2010). Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengganti
plastik sintetik, yaitu plastik yang mudah diuraikan oleh mikroorganisme untuk
menyelamatkan lingkungan dari bahaya plastik ini. Plastik yang dapat diuraikan
oleh mikroorganisme secara alami menjadi senyawa yang ramah lingkungan
adalah biodegradable film.
Menurut Griffin (1994),biodegradable filmadalah suatu bahan dalam kondisi dan waktu tertentu mengalami perubahan struktur kimia karena pengaruh
mikroorganisme (bakteri, jamur, algae), sehingga mempengaruhi sifat-sifat yang
terutama di negara maju. Biodegradable filmjuga terbukti memiliki tingkat kekuatan yang sebanding dengan plastik sintetik (Matthysseet al., 2008). Biodegradable filmdapat dibuat dari bahan alami, seperti selulosa.
Selulosa yang biasa digunakan dalam pembuatanbiodegradable filmadalah selulosa tumbuhan, tetapi selain selulosa tumbuhan terdapat juga selulosa bakteri
yang memiliki sifat lebih baik dibandingkan selulosa tumbuhan. Menurut
Krystinowicz (2001), selulosa bakteri mempunyai keunggulan, diantaranya
kemurnian tinggi, derajat kristalinitas tinggi, mempunyai kerapatan antara
300-900 kg/m3, kekuatan tarik lebih tinggi dibanding selulosa tumbuhan, elastis dan
mudah diuraikan. Selulosa bakteri dapat terbentuk dari proses pembuatan nata.
Nata merupakan senyawa selulosa yang dihasilkan dari fermentasi media yang
mengandung unsur karbon, nitrogen dan bersifat asam olehAcetobacter xylinum. Bahan baku media yang sering digunakan adalah air kelapa yang dikenal sebagai
nata de coco. Bahan lain yang berpotensi untuk menghasilkan nata adalah limbah cair singkong. Limbah cair singkong yang berlimpah dihasilkan dari industri
yang umumnya belum termanfaatkan. Oleh karena itu pembuatanbiodegradable filmdarinata de cassava merupakan upaya pemanfaatan limbah dari industri pengolahan singkong.
Biodegradable filmyang dihasilkan darinata de cassavamasih cenderung kaku sehingga dibutuhkan bahan tambahan seperti gliserol yang dapat membuat film
lebih plastis. Menurut Gontard dan Guilbert (1992), gliserol merupakan
Penelitianbiodegradable filmdengan penambahan gliserol sebagaiplasticizer pada pembuatanbiodegradable filmdari ampas nanas menunjukkan bahwa gliserol mampu merubah sifatbiodegradable filmmenjadi lebih plastis (Satriyo, 2012). Penambahan gliserol juga terbukti berpengaruh terhadap material selulosa
darinata de cocoterhadap kuat tarik dan tekstur permukaan (Pardosi, 2008). Namun belum tersedia informasi tentang penambahan gliserol pada
biodegradable filmyang darinata de cassava. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian pembuatanbiodegradable filmdarinata de cassava dengan penambahan gliserol sebagaiplasticizer.
B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi gliserol yang tepat untuk
menghasilkan karakteristik terbaik biodegradable filmdarinata de cassava.
C. Kerangka Pemikiran
Biodegradable filmmerupakan plastik yang mudah terurai, terbuat dari bahan baku yang mengandung selulosa murni. Salah satu bahan yang mengandung
selulosa murni adalah nata. Nata merupakan selulosa yang dihasilkan oleh
bakteri. Proses fermentasi nata menghasilkan polisakarida (selulosa) bakteri yang
tersusun oleh serat selulosa yang dihasilkan oleh strainAcetobacter xylinum (Philips dan William, 2000). Selulosa bakteri merupakan polimer alam yang
sifatnya seperti hidrogel yang diperoleh dari polimer sintetik. Selulosa ini
memiliki kemurnian tinggi, derajat kristalinitas tinggi, mempunyai kerapatan
antara 300–900 kg/m3, kekuatan tarik tinggi, dan mudah terurai.
Pembuatanbiodegradable filmdiperlukan bahanplasticizer untuk meningkatkan plastisitas, mengurangi kerapuhan, dan ketahanan film terutama jika disimpan
pada suhu rendah (Anonim, 2007). Gliserol merupakan salah satu bahan
plasticizeryang umum digunakan. Pengujian sifat mekanikbiodegradable film dengan penambahan gliserol telah dilakukan oleh Satriyo (2012). Penelitian
biodegradable filmdari ampas nanas dengan penambahan konsentrasi gliserol ini diperoleh hasil terbaik pada konsentrasi gliserol 0,5% (v/b), dengan kuat tarik
199,63 MPa dan persen perpanjangan 11,93%.
Indrarti (2007) menyatakanbiodegradable filmdarinata de coco dengan konsentrasi gliserol 0,5% dengan bahan additif CMC menunjukkan kuat tarik
antara 34, 73–85,296 MPa dengan persen pemanjangan berkisar 13,531-15,632 %.
Pengujian mekanik padabacterial cellulosedarinata de cocomenunjukkan penggunaan konsentrasi gliserol 1% memiliki nilai kuat tarik tertinggi yaitu
14,6691 MPa dengan nilai persen pemanjangan sebesar 25,5714%. Penggunaan
konsentrasi gliserol 2% menunjukkan nilai persen pemanjangan tertinggi yaitu
36,4084% tetapi nilai kuat tarik terendah yaitu 12,4577 (Rohaeti dan Rahayu,
2012). Namun untukbiodegradable filmyang berbahan selulosa bakteri darinata de cassavabelum didapatkan informasi. Oleh karena itu perlu dilakukan
penelitian untuk mendapatkan konsentrasi gliserol yang optimum pada pembutan
D. Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat konsentrasi gliserol
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Limbah Cair Tapioka
Limbah cair tapioka dihasilkan dari proses produksi tapioka. Air merupakan
bahan pembantu utama yang digunakan dalam proses produksi tapioka. Limbah
cair dari industri tapioka jumlahnya berlimpah dan umumnya belum
termanfaatkan. Air limbah yang dihasilkan dalam jumlah yang relatif besar yaitu
mendekati 20 m3/ton tapioka atau 5 m3/ton ubikayu yang terdiri dari air proses
dan air yang terkandung dalam bahan baku (ubikayu). Komponen limbah ini
merupakan bagian sisa pati yang tidak terekstraksi serta komponen selain pati
yang terlarut dalam air. Beberapa jenis singkong mengandung sianida yang
bersifat toksis. Sianida ini larut dalam air dan menguap apabila ada aerasi
terhadap limbah. Limbah cair tersebut akan mengalami dekomposisi secara alami
yang menimbulkan bau. Bau tersebut dihasilkan pada proses penguraian senyawa
yang mengandung nitrogen, fosfor, dan bahan berprotein (Zaitun, 1999).
Limbah cair tapioka yang berasal dari proses pencucian berwarna putih
kecoklatan dengan kisaran pH 6 - 6,5. Kisaran pH ini dapat mengalami penurunan
menjadi 4 jika terjadi aktifitas mikroorganisme yang menguraikan bahan-bahan
air hasil samping produksi tapioka mengandung glukosa 0,185 mg/L, nitrogen
total mencapai 182 mg/L, serta pH 5–5,5 sehingga dapat dimanfaatkan sebagai
substrat untuk membuatnata de cassava. Untuk kandungan proksimat limbah cair tapoka disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Komposisi kimia limbah cair tapioka
Komponen Jumlah (%)
Acetobacter xylinummerupakan bakteri pembentuk nata. Bakteri ini termasuk dalam golonganAcetobacter, yang mempunyai ciri–ciri antara lain sel bulat panjang sampai batang (seperti kapsul), tidak mempunyai endospora, sel–selnya
bersifat gram negatif, bernafas secara aerob tetapi dalam kadar yang kecil (Pelczar
Menurut Suwijah (2011)Acetobacter xylinummerupakan bakteri berbentuk batang pendek, yang mempunyai panjang 2 mikron dan lebar 0,6 mikron, dengan
permukaan dinding yang berlendir. Bakteri ini bisa membentuk rantai pendek
dengan satuan 6–8 sel. Pada kultur sel yang masih muda, individu sel berada
sendiri-sendiri dan transparan. Koloni yang sudah tua membentuk lapisan
menyerupai gelatin yang kokoh menutupi sel dan koloninya.
Acetobacter xylinummembentuk asam dari glukosa, etil alkohol, dan propil alkohol, tidak membentuk indol dan mempunyai kemampuan mengoksidasi asam
asetat menjadi CO2dan H2O. Sifat utama pada bakteri ini yaitu kemampuan
mempolimerisasi glukosa menjadi selulosa dan kemudian membentuk matrik
yang dikenal sebagai nata. Faktor–faktor dominan yang mempengaruhi sifat
fisiologi dalam pembentukan nata adalah ketersediaan nutrisi, derajat keasaman,
temperatur, dan ketersediaan oksigen (Suwijah, 2011).
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Nata
1. Sumber nitrogen
Proses fermentasi dibutuhkan sejumlah senyawa sumber nitrogen dan mineral
(baik mineral makro, maupun mikro). Sumber nitrogen dapat digunakan dari
senyawa organik maupun anorganik. Bahan yang baik bagi pertumbuhan
Acetobacter xylinumdan pembentukan nata adalah ekstrak yeast dan kasein. Urea yang digunakan pada pembuatan nata berfungsi untuk membersihkan bahan baku
dari berbagai kotoran dan memperlancar proses pembuatan bibit nata (Warisno,
2004). Menurut Prihatin (2004), penggunaan sumber nitrogen yang berasal dari
NPK sebanyak 0,25% menunjukkan nilai rendemen tertinggi dibandingkan
dengan urea dan sumber nitrogen dari kecambah kedelai. Namun, amonium sulfat
dan amonium fosfat merupakan bahan yang lebih cocok digunakan dari sudut
pandang ekonomi dan kualitas nata yang dihasilkan (Hati, 2007).
2. Sumber karbon
Sumber karbon yang dapat digunakan dalam fermentasi nata adalah senyawa
karbohidrat yang tergolong monosakarida dan disakarida. Berdasarkan
pertimbangan ekonomis yang banyak digunakan adalah sukrosa atau gula pasir
(Suwijah, 2011). Sumber karbon merupakan faktor penting dalam proses
fermentasi. Bakteri membutuhkan sumber karbon bagi proses metabolismenya
untuk menghasilkan nata. Glukosa akan masuk ke dalam sel dan digunakan bagi
penyediaan energi yang dibutuhkan dalam perkembang biakannya. Jumlah gula
yang ditambahkan harus diperhatikan sehingga mencukupi untuk metabolisme
dan pembentukan pelikel nata. Kebutuhan karbon untuk media umumnya
3. Suhu inkubasi
Suhu ideal bagi pertumbuhan bakteriAcetobacter xylinum adalah pada suhu 28– 31 °C (Anonim, 2004). Sedangkan menurut Warisno (2004), suhu optimum untuk
Acetobacter xylinum adalah 26–27 °C. Pada suhu di bawah 28 °C, pertumbuhan bakteri terhambat. Demikian juga, pada suhu diatas 31°C, bibit nata akan
mengalami kerusakan dan bahkan mati, meskipun enzim ekstraseluler yang telah
dihasilkan tetap bekerja membentuk nata (Astuti, 2011).
4. Lama fermentasi
Lapisan nata akan terbentuk secara optimum bila waktu fermentasi cukup. Waktu
fermentasi yang terlalu cepat mengakibatkan tekstur nata menjadi lembek dan
lapisan nata yang terbentuk tipis sehingga serat yang dihasilkan juga sedikit.
Waktu fermentasi yang terlalu lama menyebabkan aroma nata sangat asam,
lapisan nata tebal, dan tekstur menjadi keras (Natalia dan Sulvia, 2009). Menurut
Putriana (2011), lama fermentasi yang optimum untuknata de cassava adalah 13 hari.
5. pH
BakteriAcetobacter xylinumdapat tumbuh pada pH 3,5–7,5, namun akan tumbuh optimal bila pH nya 4,3. Asam asetat atau asam cuka digunakan untuk
menurunkan pH atau meningkatkan keasaman air kelapa. Asam asetat yang baik
adalah asam asetat glacial (99,8%). Asam asetat dengan konsentrasi rendah dapat
digunakan, namun untuk mencapai tingkat keasaman yang diinginkan yaitu pH
6. Ketersediaan oksigen
Acetobacter xylinumadalah jenis mikroorgnisme aerob sehingga dalam merombak gula dan menyusunnya menjadi nata, bakteri tersebut memerlukan
oksigen yang diperoleh dari oksigen terlarut dalam medium atau oksigen yang
berasal dari udara bebas (Widya, 1984). Acetobacter xylinumsangat memerlukan oksigen sehingga dalam fermentasi tidak perlu ditutup rapat namun hanya ditutup
untuk mencegah kotoran masuk kedalam media yang dapat mengakibatkan
kontaminasi (Anonim, 2008).
7. Starter
Starter merupakan faktor yang penting dalam memproduksi nata karena kualitas
starter sangat menentukan hasil nata yang diperoleh. Pada pembuatannata, starter yang digunakan berasal dari kultur cairAcetobacter xylinum yang telah disimpan selama 3 - 4 hari sejak inokulasi. Pada masa penyimpanan itu, jumlah
mikroorganisme akan mencapai maksimal (Sutarminingsih, 2004).
D. Nata De Cassava
Menurut SNI 01-4317-1996, nata adalah produk makanan berupa gel selulosa
hasil dari fermentasi air kelapa, air tahu, atau bahan lainnya oleh bakteri asam
cuka (Acetobacter xylinum) yang diolah dengan penambahan gula atau tanpa bahan makanan yang diizinkan yang dikemas secara aseptik. Menurut Okiyama
Pemberian nama nata disesuaikan dengan substrat pertumbuhanAcetobacter xylinum, sehingga ada beberapa nama nata diantaranyanata de pinayaitu nata yang diperoleh dari sari buah nanas,nata de mangodari sari buah mangga,nata de soyadari limbah tahu,nata de cacaodari limbah kakao dan lain sebagainya (Pambayun, 2002). Nata de cassavaterbuat dari substrat atau cair yang berasal dari hasil samping pengolahan ubi kayu ataucassava . Nata de cassava adalah untaian atau rajutan selulosa yang dihasilkan dan disekresikan oleh sel-sel
Acetobacter xylinumyang menjerap air. Nata de cassava berbentuk gel, tekstur kenyal, warna putih agak transparan, mengkilap, licin, dengan aroma netral dan
rasa yang tawar. Selulosa dihasilkan olehAcetobacter xylinummelalui proses asimilasi pengubahan glukosa menjadi senyawa karbohidrat yang lebih kompleks
yaitu berupa selulosa (Misgiyarta, 2011).
E. Gliserol
Gliserol adalah senyawa yang netral, dengan rasa manis, tidak berwarna, cairan
kental dengan titik lebur 20oC dan memiliki titik didih yang tinggi yaitu 290oC
dengan rumus molekul CH2OHCHOHCH2OH. Gliserol dapat larut sempurna
dalam air dan alkohol, tetapi tidak larut dalam minyak. Sebaliknya banyak zat
dapat lebih mudah larut dalam gliserol dibanding dalam air maupun alkohol.
Oleh karena itu gliserol merupakan pelarut yang baik (Anonim, 2006).
Gliserol merupakanplasticizeryang efektif karena memiliki kemampuan untuk mengurangi ikatan hidrogen internal pada ikatan molekular (Mochtar, 2001).
elastomer untuk meni
ningkatkan pengolahannya, fleksibilitas, dan ta
enurunkan viskositas leburnya, temperature transi
i produk tanpa mengubah bentuk karakter kimia
1990). Struktur gliserol disajikan pada Gambar
Gambar 2. Struktur kimia gliserol Sumber : Winarno, 1997
ri
imer dariβ-glukosa dengan ikatan β-1-4 antara
). Selulosa merupakan material penyusun jaringa
puran polimer homolog dan biasanya terdapat be
a lainnya serta lignin dalam jumlah bervariasi (S
Gambar 3. Struktur kimia selulosa
Selulosa bakteri merupakan polisakarida mikroba yang dihasilkan melalui proses
fermentasi dari bakteri Acetobacter xylinumyang memiliki struktur kimia yang sama dengan selulosa tumbuhan. Perbedaan selulosa bakteri dan selulosa
tumbuhan adalah selulosa bakteri memiliki serat-serat tunggal yang panjang dan
saling melilit membentuk struktur jaringan (Philips dan William,2000). Selulosa
bakteri bersifat hidrogel yang tidak dijumpai pada selulosa alam. Sifat ini
memberikan daya serap yang baik dan karakteristiknya seperti kulit manusia
sehingga banyak dimanfaatkan untuk kepentingan medis seperti pengganti kulit
sementara pada luka bakar yang serius (Ciechanska, 2004). Scanning Electron
Microscope (SEM) dari selulosa bakteri dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Scanning Electron Microscope (SEM) dari selulosa bakteri Sumber: Biamenta, 2011
Pembentukan selulosa bakteri terjadi karena proses pengambilan glukosa dari
media yang mengandung gula oleh sel-selAcetobacter xylinum . Glukosa tersebut kemudian digabungkan dengan asam lemak membentuk bahan pendahulu nata
(prekursor) pada membran sel. Prekursor ini selanjutnya disekresi dan bersama
enzim mempolimerisasikan glukosa menjadi selulosa di luar sel (Susanto dkk.,
2000). Menurut Krystinowicz (2001) selulosa bekteri mempunyai keunggulan,
antara 300–900 kg/m3, kekuatan tarik tinggi, elastisitas dan terbiodegradas.
Skema mekanisme pembentukan selulosa disajikan pada Gambar 5.
Gambar 5. Mekanisme pembentukan selulosa Sumber: Wankei, 2001
F. Biodegradable Film
Biodegradable filmadalah suatu bahan dalam kondisi dan waktu tertentu
mengalami perubahan struktur kimia karena pengaruh mikroorganisme (Griffin,
1994). Menurut Harumningtyas (2010)biodegradable filmharus dapat menahan air sehingga dapat mencegah kehilangan kelembaban produk, memiliki
permeabilitas selektif terhadap gas tertentu, mengendalikan perpindahan padatan
terlarut untuk mempertahankan warna, pigmen alami dan gizi.
Komponen penyusunbiodegradablefilm dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu: hidrokoloid, lipida, dan komposit. Ketiga jenis komponen penyusun ini memiliki
biodegradable filmyang dibuat dari hidrokoloid diantaranya memiliki kemampuan yang baik untuk melindungi produk terhadap oksigen,
karbondioksida, dan lipid serta memiliki sifat mekanis yang diinginkan dan
meningkatkan kesatuan structural produk. Kelemahannya, film dari karbohidrat
kurang bagus digunakan untuk mengatur migrasi uap air sementara film dari
protein sangat dipengaruhi oleh perubahan pH. Kelebihanbiodegradable film dari lipid adalah memiliki kemampuan yang baik untuk melindungi produk dari
penguapan air, sedangkan kekurangannya yaitu kegunaannya dalam bentuk murni
sebagai pelapis masih terbatas, karena mempunyai kekurangan dari segi
ketahanannya. Biodegradable filmdari komposit dapat meningkatkan kelebihan film dari hidrokoloid dan film dari lipid, serta mengurangi kelemahannya.
III. BAHAN DAN METODE
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan
Laboratorium Analisis Hasil Pertanian Universitas Lampung dan Laboratorium
Kimia Fisik, Prodi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Institut Teknologi Bandung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai
September 2013.
B. Bahan dan Alat
Bahan baku utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah starter
Acetobacter xylinum, limbah cair singkong, air, gula pasir, asam asetat 99,8%, ZA, gliserol, H2SO41N, NaOH, dan aquades.
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah nampan plastik, kain saring,
blender, kertas saring, hotplate, panci, pipet tetes, Erlenmeyer, pH meter, water
bath, desikator, gelas ukur, alumunium foil, neraca digital dan Testing Machine
C. Metode Penelitian
Perlakuan disusun secara tunggal dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna
(RKTS) dengan empat ulangan. Faktor tunggal yang digunakan adalah
konsentrasi gliserol yang terdiri dari enam taraf yaitu 0% (G0); 0,25% (G1); 0,5%
(G2); 0,75% (G3); 1% (G4); 1,25% (G5). Data untuk parameter kuat tarik, persen
pemanjangan diolah dengan analisis sidik ragam untuk mendapat penduga ragam
galat serta signifikasi untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar perlakuan.
Kesamaan ragam diuji dengan uji barlet dan kemenambahan data diuji dengan uji
tukey. Data dianalisis lebih lanjut dengan uji BNT pada taraf 5%. Sedangkan
untuk penampakkan visual dan biodegradabilitas disajikan dalam bentuk gambar
yang dibahas secara deskriptif.
D. Pelaksanaan Penelitian
1. Prosedur pembuatannata de cassava
Pembuatannata de cassavadengan metode Misgiyarta (2011) dengan modifikasi lama fermentasi. Limbah cair tapioka disaring menggunakan kain saring. Hasil
saringan sebanyak 750 ml ditambahkan sukrosa 2,5% (b/v), ZA 0,25% (b/v), dan
asam asetat 1,125 ml diaduk hingga homogen sambil tetap dipanaskan selama 10
menit. Media yang sudah dipanaskan dituang ke dalam nampan dan ditutup
dengan kertas dan didinginkan. Media yang telah dingin diinokulasikan starter
Acetobacter xylinum10% dan ditutup kembali dengan kertas. Inkubasi dilakukan selama 6 hari. Setelah 6 hari, nata dipanen dan dicuci bersih. Untuk
siap digunakan untuk pembuatanbiodegradable film. Diagram alir pembuatan nata de cassavaterdapat pada Gambar 6.
Gambar 6. Diagram alir pembuatannata de cassava Sumber : Misgiyarta, 2011 dengan modifikasi
Air buangan
Inkubasi 6 hari suhu ruang Inokulasi
Dituang ke nampan dan ditutup dengan kertas
Pemanenan
Dipanaskan hingga mendidih, t=10 s sambil diaduk hingga homogen
Asam asetat 99,8% sebanyak
2. Persiapan pembuatanbiodegradable film
Nata de cassavayang dihasilkan dipanaskan dengan larutan NaOH 1% selama 60 menit kemudian dicuci bersih dengan air. Selanjutnya direbus kembali dengan
air. Nata de cassavadirendam dengan air selama satu malam. Pembuatan pulp (bubur selulosa) dilakukan dengan pemblenderan nata dengan perbandingan 500
gram nata ditambah 200 ml air. Diagram alir persiapan pembuatanbiodegradable filmterdapat pada Gambar 7.
Gambar 7. Persiapan pembuatanbiodegradable film Sumber: Indrarti, 2007
Nata de cassava
Perebusan dalam larutan NaOH 1% selama 1 jam
Pencucian dengan air bersih
Perebusan dalam air selama 1jam
Pendiaman satu malam
Air rendaman
Pembuatan pulp (bubur selulosa)
(500 gram nata + 200 ml air kemudian diblender) Penirisan
3. Prosedur pembuatanbiodegradable film
Pembuatanbiodegradable filmmenggunakan metode Indrarti (2007). Bubur selulosa yang akan digunakan terlebih dahulu dicuci dan disaring. Sebanyak 35
gram pulp ditambahkan aquades sebanyak 15 ml serta gliserol sesuai perlakuan
dipanaskan dengan suhu 80 °C selama 10 menit. Setelah dipanaskan siap untuk
dicetak. Pencetakkan dilakukan diatas kaca. Sampel yang telah dicetak,
dikeringkan pada suhu ruang.
Gambar 8. Pembuatanbiodegradable film Sumber: Indrarti, 2007
Pulp 35 gram
Penambahan aquades 15 ml dan gliserol (0%, 0,5%, 1%, 1,5%, 2% dan 2,5%)
Pemanasan dengan suhu 80 °C selama 10 menit
Pencetakan pada kaca berukuran 20 x 20 cm
Pengeringan pada suhu ruang
Biodegradable filmdari nata de cassava
E. Pengamatan
1. Pengamatan bahan baku
Pengamatan bahan baku yang dilakukan adalah pengamatan kadar selulosa nata
dengan menggunakan metode Chesson (1981). Pengamatan bahan baku yang
dilakukan adalah pengamatan kadar selulosa nata. Sebanyak satu gram bahan
kering (berat konstan) dimasukkan ke dalam Beaker glass dan ditambahkan
aquades 150 ml. Kemudian sampel dipanaskan selama 2 jam di dalam penangas
suhu 100 ºC. Sampel disaring dan dicuci dengan aquades sampai volume filtrat
300 ml. Kemudian residu dikeringkan pada oven bersuhu 105 ºC hingga beratnya
konstan (a). Residu kering (a) dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml dan
ditambahkan 150 ml H2SO41N, kemudian dipanaskan pada penangas air 100 ºC
selama satu jam. Residu disaring dan dicuci dengan aquades sampai volume
filtrat 300 ml. Residu dikeringkan hingga beratnya konstan dan ditimbang (b).
Selanjutnya residu kering (b) dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml dan
ditambahkan 10 ml H2SO472%. Perendaman selama 4 jam pada suhu kamar
kemudian ditambahkan 150 ml H2SO41 N (untuk pengenceran), dipanaskan pada
penangas air suhu 100 ºC selama 2 jam. Kemudian disaring dan dicuci dengan
aquades hingga volume filtrat 400 ml. Residu dikeringkan hingga beratnya
konstan dan ditimbang (c). Rumus untuk menghitung kadar selulosa sebagai
berikut :
2. Pengamatanbiodegradable film
a. Uji kekuatan tarik
Uji kuat tarik diukur dengan metode ASTM (1983) menggunakan Testing
Machine MPY (Type: PA-104-30, Ltd Tokyo, Japan). Sebelum dilakukan
pengukuran disiapkan lembaranfilmukuran 2,5 x 15 cm dan dikondisikan di laboratorium dengan kelembaban (RH) 50% selama 48 jam. Instron diset pada
initial grip separation 50 mm,crosshead speed50 mm/ menit danloadcell50 kg. Kuat tarik ditentukan berdasarkan beban maksimum. Kuat tarik diukur dengan
rumus :
Uji kuat tarik diukur dengan metode ASTM (1983) menggunakan Testing
Machine MPY (Type: PA-104-30, Ltd Tokyo, Japan). Sebelum dilakukan
pengukuran disiapkan lembaran sampel film ukuran 2,5 x 15 cm dan dikondisikan
di laboratorium dengan kelembaban (RH) 50% selama 48 jam. Instron diset pada
initial grip separation 50 mm,crosshead speed50 mm/ menit danloadcell50 kg. Persen pemanjangan dihitung pada saat film pecah atau robek. Sebelum
dilakukan penarikan, panjang film diukur sampai batas pegangan yang disebut
dengan panjang awal (lo), sedangkan panjang film setelah penarikan disebut
Persen pemanjangan
=
x
100%Keterangan lo: panjang awal
l1: panjang setelah putus
(ASTM, 1983).
d. Uji kelarutan
Uji kelarutan plastikbiodegradabledalam air dilakukan dengan metode Gontard dan Guilbert (1992). Uji kelarutan plastikbiodegradabledalam air dilakukan dengan cara lembaran film plastik digunting dengan ukuran 2x10 cm dan
ditimbang. Plastik tesebut kemudian dimasukkan ke dalam gelas plastik yang
berisi air 500 ml sambil diaduk secara manual. Kelarutan dalam air dinyatakan
persentase bagian film yang larut dalam air setelah perendaman selama satu
minggu. Setelah satu minggu sampel disaring dengan kertas saring. Kemudian
dilakukan pengeringan dengan oven suhu 105 °C hingga beratnya konstan.
Persen Kelarutan = ( )X 100%
Keterangan : a : berat sampel awal (g)
b : berat kertas saring (g)
c : berat kering kertas saring dan sampel (g)
e. Uji biodegradabilitas
Biodegradablefilm yang dihasilkan diuji sifat biodegradabilitas-nya dengan cara film digunting dengan ukuran dikubur 10 x 10 cm. Film tersebut kemudian
dimasukkan ke dalam gelas plastik dan ditimbun dengan tanah hingga gelas
penuh (ketebalan tanah sekitar 12 cm. Proses penimbunan dilakukan selama 3
f. Pengamatan visual
Pengamatan visual dilakukan secara langsung dan didokumentasikan
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan
bahwa penambahan konsentrasi gliserol berpengaruh terhadap karakteristik
biodegradable filmdarinata de cassava. Hasil perlakuan terbaik diperoleh pada konsentrasi gliserol 1%, dengan nilai persen perpanjangan sebesar 3,28%, kuat
tarik 32,34 Mpa, kelarutan 54,13% dan dapat terdegradasi selama 3 minggu.
Hasil penelitian menunjukkan semua perlakuan dapat digunakan sebagai
biodegradable filmsesuai dengan karakteristik masing-masing.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitianbiodegradable filmdari semua perlakuan dapat menjadi acuan untuk dimanfaatkan menjadi plastik yang sesuai dengan
karakteristik masing-masing. Kuat tarikbiodegradable filmdengan konsentrasi gliserol 0% dan 0,25% masing-masing adalah 37,7 MPa dan 36,26 MPa
mendekati dengan kuat tarik plastik jenis Polytetrafluoroethylene yaitu sebesar 36
MPa. Kuat tarikbiodegradable filmdengan konsentrasi gliserol 0,5%, 0,75% dan 1% masing-masing adalah 33,32 MPa, 33,18 MPa, dan 32,34 mendekati dengan
Anonim. 2006. Glycerin.www.pioneerthinking.com/glycerin.html. Diakses pada tanggal 13 Maret 2013.
Anonim. 2007. Teknologi Pengolahan Pangan dan Agroindustri.
http://id.wikipedia.org/ wiki/ pemanfaatan gliserol. Diakses tanggal 15 Januari 2013.
Anonim. 2008. Proses FermentasiNata de Coco.http://inacofood.wordpress.com. Diakses tanggal 18 Maret 2013.
Anonim. 2011. Plastic Strength. http://www.dotmar.com.au/component/. Diakses tanggal 1 Oktober 2013.
Anonim. 2014. Material Selection Guide. http://www.boedeker.com. Diakses tanggal 20 Januari 2014.
ASTM. 1983. Annual Book of ASTM Standards. American Society for Testing and Material Philadelpia.New York. 578 pp.
Astuti, R. 2011.Pengaruh lama penyimpanan terhadap kadar protein edible film dari nata de coco dengan penambahan pati, gliserin, dan kitosan sebagai pengemas bumbu mie instan. (Skripsi). Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara. Medan. 57 hlm.
Austin, G.T. 1985. Shereve’s Chemical Process Industries. Mc Graw–Hill
Book Co. Tokyo. 859 pp.
Biamenta, E. 2011. Karakterisasi dan analisa kadar nutrisi edible film dari nata de coco dengan penambahan pati, gliserin, dan kitosan sebagai bahan pengemas makanan. (Skripsi). Universitas Sumatera Utara. Medan. 115 hlm.
Billmeyer, F.W. 1984.Textbook Of Polimer Science, A Willey-Interscience Publication. John Willey and Sons. NewYork. 578 pp.
Chesson, A. 1981. Effects of Sodium Hydroxide On Cereal Straws In Relation to The Enhanced Degradation of Structural Polysaccharides by Rumen
Ciechanka, D. 2004.Multifunctional Bacterial Cellulose/Chitosan Composite Material for Medical Application.Fibers & Textiles. Eastern Europe. 12(4): 69-72.
Darni, Y dan H. Utami. 2010. Studi Pembuatan dan Karakteristik Sifat Mekanik dan Hidrofobisitas Bioplastik dari Pati Sorgum.J. Rekayasa Kimia dan Lingkungan. 7(4): 88-93.
Fessenden, R.J dan J.S. Fessenden. 1999. Kimia Organik Jilid 2. Erlangga. Jakarta. 551 hal.
Gontard, N., and S. Guilbert. 1992. Bio Packaging :Tecnology and Properties of Edible Biodegradable Material of Agricultural Origin, Food Packaging Preservation. The AVI Publ. Inc. Westport.
Griffin, G.J.L. 1994. Test Methods and Standards forBiodegradable Plastic In Chemistry and Technology of Biodegradable Polymer. Blackie Academic and Proffesional.Chapmanand Hall. 154 pp.
Harumningtyas, A. 2010. Aplikasi edible plastik pati tapioka dengan penambahan madu untuk pengawetan buah jerukCitrus sp. (Skripsi). Universitas Airlangga. Surabaya. 101 hlm.
Hati, I.P. 2007. Pengaruh variasi penambahan gula terhadap kadar karbohidrat, protein, dan air pada hasil pembuatan nata de cacao dari pulpa biji buah coklat (Theobroma cacao linn). (Skripsi). Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara. Medan. 57 hlm.
Hidayat, N. 2006.Mikrobiologi Industri. C. V. Andi Offset. Yogyakarta. 198 hal. Indrarti, L. 2007. Bioselulosa Sebagai Bahan Edible Film. Laporan Akhir
Kumulatif Kegiatan Program Kompetitif LIPI. Bandung.
Jenie, B., Ridawati., W.P. Rahayu. 1994. Produksi Angkak olehMonascus purpureusdalam Medium Limbah Cair Tapioka, Ampas tapioka, Ampas Tahu.Buletin Teknologi dan Industri Pangan. 5(3): 60-64.
Krochta, J.M., E.A. Baldwin and M. O. Nisperos-Cariedo. 1994. Edible Coatings and Films To Improve Food Quality. Technomic Publ. Co. FC, Lancaster-Basel. 89 pp.
Krystinowicz. 2001. Biosynthesis of Bacterial Cellulose Its Potential Aplication In the Different Industries. http://biotecnology.pl.com/science/
krystinowicz.htm. Diakses tanggal 3 Januari 2013.
Matthysse, A.G., R. Deora, M. Mishra, and A.G. Torres. 2008. Polysaccharides Cellulose, Poly-β-1,6-n-acetyl-d-glucosamine, and Colanic Acid are Required for Optimal Binding of Escherichia coli o157:h7 Strains to Alfalfa Sprouts and k-12 Strains To Plastic But Not For Binding to Epithelial Cells. J.American Society for Microbiology.74 (8): 2384-2390.
Misgiyarta, 2011. Pemanfaatan Limbah Cair Produksi Pati Kasava Sebagai Substrat Pembuatan Nata De Cassava. Badan Litbang Pertanian. Edisi 18-24 Mei 2011 No.3404 Tahun XLI.
Muller, H. 1990.Plastic Additive Handbook.3rd edition. Hanser Publisher. Munich. 850 pp.
Munawar, M. T. 2009. Bakteri Nata de Coco.
http://muhtaufiqmunawar.blogspot.com/2009/02/pohon-kelapa-termasuk-dalam-keluarga.html. Diakses tanggal 9 Maret 2013.
Natalia, D.R. dan P. Sulvia. 2009. Pemanfaatan buah tomat sebagai bahan baku pembuatan nata de tomato.Prosiding Seminar Tugas Akhir S1. Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro. Semarang.
Nurjannah. 2004. Isolasi dan karakterisasi alginat dari rumput laut
Sargassum sp. untuk pembuatan biodegradable film komposit alginat tapioka. (Skripsi). Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Yogyakarta. 62 hlm.
Okiyama, A. M. Motoki and S. Yamanaka. 1992. Bacterial Cellulose H:
Processing of Gelatinous Cellulose for Food Material. J. Food Hydrocoloid Elsevier. 6 (5): 479-489.
Pambayun, R. 2002.Teknologi Pengolahan Nata de Coco. Kanisius. Yogyakarta. 84 hlm.
Pardosi, D. 2008. Pembuatan material selulosa bakteri dalam medium air kelapa melalui penambahan sukrosa, kitosan, dan gliserol menggunakan Acetobacter xylinum. (Tesis). Universitas Sumatera Utara. Medan. 74 hlm.
Pelczar, M. J. dan Chan, E.C.S. 1988.Dasar–Dasar Mikrobiologi. Jilid 2. UI–
Press. Jakarta. 997 hlm.
Philips, G. O. dan William, P. A. 2000. Handbook of Hydrocolloids. Woodhead Publishing Limited. Cambridge. 450 pp.
Prayitno. 2008. Pemisahan padatan tersuspensi limbah cair tapioka dengan teknologi membran sebagai upaya pemanfaatan dan pengendalian
Prihatin, E. 2004. Pengaruh sumber dan konsentrasi nitrogen terhadap rendemen, sifat fisik, dan organoleptik nata de cassava dari limbah cair tapioka.
(Skripsi). Teknologi Hasil Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 66 hlm.
Putriana, I. 2012. Mutu fisik, kadar serat, dan sifat organoleptik nata de cassava berdasarkan lama fermentasi. (Skripsi). Universitas Muhammadiyah Semarang. Semarang. 39 hlm.
Rais, D. 2007. Pengaruh konsetrasi PEG 400 terhadap karakteristik bioplastik polihidroksialkanoat (PHA) yang dihasilkan oleh Ralstonia eutropha menggunakan substrat hidrolisat pati sagu. (Skripsi). Fakultas Teknologi Pertanian IPB.Bogor. 86 hlm.
Rohaeti, E., T, Rahayu. 2012. Sifat Mekanik Bacterial Cellulose dengan Media Air Kelapa dan Gliserol sebagai Material Pemlastis.Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan, dan Penerapan. Universitas Negeri Yogyakarta.
Satriyo. 2012. Kajian penambahan chitosan, gliserol dan CMC terhadap karakteristik biodegradable film dari bahan komposit nanas. (Skripsi). Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandarlampung. 56 hlm.
Silitonga, L. 2011. Pembuatan material selulosa bakteri dari limbah air kelapa dengan penambahan ekstrak buah nanas menggunakanAcetobacter xylinum. (Tesis). Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara. Medan. 34 hlm.
Susanto, T.,R. Adithia., Yunianta. 2000. Pembuatan Nata de Pina dari Kulit Nanas Kajian dari Sumber Karbon dan Pengenceran Medium Fermentasi.Jurnal Teknologi Pertanian 1(2).
Sutarminingsih,L. 2004.Peluang Usaha Nata De Coco. Kanisius. Yogyakarta. Suwijah. 2011.Pengaruh kadar gula, vitamin C dan kadar serat dari sari buah
markisa ungu (Passiflora Edulis Var Edulis)pada pembuatannata de coco dengan menggunakanAcetobacter Xylinum.(Tesis). Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Medan. 46 hlm.
Syamsir,E. 2008.Mengenal Edible Film. http: //id.shvoong.com/exact-science. Diakses pada tanggal 3 Januari 2013.
Tanaga, N. 2010. Analisis kelayakan ekspansi investasi mesin pengolahan Limbah plastik pada PT Mike Meilindo Tanaga. (Skripsi). Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Jurusan Manajemen. Universitas Bina Nusantara. Jakarta. 96 hlm.
Theresia, V. 2003. Aplikasi dan karakterisasi sifat fisik mekanik plastik biodegradabledari campuran LLDPE dan tapioka. (Skripsi). Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 68 hlm.
Warisno. 2004.Mudah dan Praktis Membuat Nata de Coco. Agromedia Pustaka. Jakarta. 50 hlm.
Wardhani, R.A.K., D.I.Rudyardjo., A.Supardi. 2013. Sintesis dan Karakterisasi Bioselulosa-Kitosan dengan Penambahan Gliserol sebagai Plasticizer. J. Fisika dan Terapannya Universitas Airlangga.1(1): 8-12.
Widya, I.W. 1984. Mempelajari pengaruh penambahan skim milk kelapa, jenisgula dan mineral dengan berbagai konsentrasi pada pembuatan nata de coco. (Skripsi). Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor. 64 hlm.
Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 251 hlm.
Gambar 17. Limbah cair singkong Gambar 18. ZA
Gambar 19. Starter Acetobacter xylinum Gambar 20. Gliserol sebagai plasticizer
Gambar 23. Pencucian nata Gambar 24. Perendaman nata
Gamba 25. Perebusan dengan larutan Gambar 26. Nata setelah direbus
NaOH 1 % dengan NaOH
Gambar 29. Pembuatan biodegradable Gambar 30. Proses pencetakan film (pemanasan dengan
water bath)
Gambar 31. Biodegradable film Gambar 32. Uji yang telah kering
Tabel 4. Data hasil kuat tarik
Perlakuan KELOMPOK Jumlah Rata-rata
I II III IV
Tabel 5. Uji homogenitas (kesamaan) ragam (Bartlett’s test) kuat tarik
Perlakuann db Σ(Xij-Xi.)2 S2 log S2 db.(log S2)
X^2 terkoreksi = 9,181214
X^2 (0,05;5) 11,070 homogen
Tabel 6. Analisis ragam kuat tarik
Tabel 7. Uji BNT kuat tarik
Perlakuan Kuat tarik
Tabel 8. Data hasil persen pemanjangan
Perlakuan KELOMPOK Jumlah Rata-rata
I II III IV
Tabel 9. Uji homogenitas (kesamaan) ragam (Bartlett’s test) persen pemanjangan
Perlakuan db Σ(Xij-Xi.)2 S2 log S2 db.(log S2)
X^2 terkoreksi = -12,7693
X^2 (0,05;5) 11,070 homogen
Tabel 10. Analisis ragam persen pemanjangan
Tabel 11. Uji BNT persen pemanjangan
Tabel 12. Data hasil kelarutan (transformasi)
Perlakuan KELOMPOK Jumlah Rata-rata
I II III IV
Tabel 13. Uji homogenitas (kesamaan) ragam (Bartlett’s test) kelarutan
Perlakuan db Σ(Xij-Xi.)2 S2 log S2 db.(log S2)
X^2 terkoreksi = -31,6206
X^2 (0,05;5) 11,070 homogen
Tabel 14. Analisis ragam kelarutan
Tabel 15. Uji BNT kelarutan