• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Adhesi Mekanikal Perekat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Teori Adhesi Mekanikal Perekat"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS

TEORI ADHESI MEKANIKAL PEREKAT

Disusun Oleh: Tito Sucipto, S.Hut., M.Si. NIP. 19790221 200312 1 001

DEPARTEMEN KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan

keajaiban-Nya sehingga dapat menyelesaikan karya tulis mengenai “Teori

Adhesi Mekanikal Perekat“.

Karya tulis ini berisi tentang gambaran umum mengenai teori adhesi

mekanikal perekat sebagai dasar memahami perekatan kayu. Penulis berharap

semoga karya tulis ini dapat memperkaya khasanah wawasan dan pengetahuan

di bidang ilmu dan teknologi kayu.

Tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan saran

dan masukan yang konstruktif demi menyempurnakan karya tulis.

Medan, Desember 2009

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

Adhesi Mekanikal ... 1

(4)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

(5)

TEORI ADHESI MEKANIKAL PEREKAT

Adhesi Mekanikal

Menurut Pizzi (1994), sesuai dengan namanya mechanical

entanglement/interlocking theory, pendekatan ini mengemukakan bahwa aksi

bersikunci perekat yang mengeras, secara mekanik dan fisik ke dalam

ketidakteraturan makro dan mikro permukaan subtrat, merupakan faktor utama

dalam perekatan.

Mekanisme dari aksi bersikunci perekat terjadi ketika permukaan substrat

(tempat dimana perekat dilaburkan) porus (sarang), perekat dapat mengalir ke

dalamnya dan mulai mengeras, sehingga berfungsi sebagai jangkar (anchor)

perekatan (Gent dan Hamed, 1983). Namun kemampuan perekat untuk

memasuki sirekat dan kekuatan perekatan, akan berkurang pada saat porositas

sirekat tidak cukup dalam (Packham, 2003). Gambar visualisasi ikatan

mekanikal antara perekat dengan sirekat adalah sebagai berikut.

Sumber: www.specialchem4adhesives.com/resources/adhesionguide/

Gambar 1. Visualisasi adhesi mekanikal antara perekat dengan sirekat

Polimer perekat dan serat kayu yang porus, bersikunci baik secara

mikroskopis maupun molekular, membentuk mechanical interlock, ketika

(6)

permukaan kayu (Gollob dan Wellons, 1990). Namun kontribusi aksi

bersikunci perekat pada kekuatan perekatan, tidak mudah dideteksi dan diukur.

Perekat harus dapat masuk ke dalam kayu, tanpa merusak serat kayu. Agar

terjadi ikatan perekatan yang kuat untuk keperluan struktural, penetrasi perekat

harus mampu masuk ke lapis kedua sampai lapis keenam serat kayu dan

menembus dinding selnya.

Teori adhesi mekanikal menyatakan bahwa perekatan yang baik, hanya

terjadi ketika perekat masuk ke dalam lumen, lubang atau celah dan

ketidakteraturan lainnya dari permukaan substrat sirekat, dan terkunci secara

mekanik pada substrat. Perekat tidak hanya harus membasahi substrat, tapi

juga mempunyai rheologi yang tepat agar dapat masuk ke dalam rongga pada

waktu yang cukup singkat (www. specialchem4adhesives.com).

Permukaan adherend perlu memiliki kekasaran tertentu untuk

meningkatkan kekuatan dan ketahanan perekatan melalui mechanical interlock.

Selain pre-treatment pada permukaan, hal lain yang dapat dilakukan untuk

meningkatkan perekatan melalui mechanical interlock, adalah memperluas

bidang rekat, meningkatkan wetting kinetics, dan meningkatkan plastisitas

perekat (kesesuaian rheologi perekat) (www. specialchem4adhesives.com).

Menurut Packham (http://people.bath.ac.uk/mssdep/dep70yrs.htm), pada

saat perekat tidak dapat membasahi permukaan sirekat secara sempurna (terjadi

karena termodinamika energi permukaan yang tidak serasi antara perekat dan

substrat atau terjadi karena tidak cukup waktu bagi perekat untuk memadat),

maka akan terjadi perekatan yang lemah, karena berkurangnya daerah kontak

atau karena tekanan (stress) terkonsentrasi dengan adanya rongga. Pada saat

perekat dapat membasahi permukaan sirekat dengan sempurna, adsorption

perekat akan terjadi baik pada permukaan kasar maupun permukaan halus.

Namun dapat terjadi perekatan yang lemah karena rendahnya energi

permukaan. Hal tersebut dapat diatasi dengan perlakuan pada permukaan.

Menurut Packham (http://people.bath.ac.uk/mssdep/dep70yrs.htm),

kekasar-an permukaan dapat meningkatkan perekatan karena bidang kontak

(7)

mendistribusikan tekanan (stress) ketika ikatan permukaan terbentuk, sehingga

energi yang menyebabkan terjadinya fracture pada permukaan adherend dapat

dihilangkan, yang akhirnya akan meningkatkan perekatan. Cara lain untuk

meningkatkan perekatan pada permukaan mikroporous adalah dengan

menciptakan stress discontinuities pada interface.

Teori adhesi mekanikal (mechanical theory of adhesion) berhubungan

dengan perekatan pada permukaan yang kasar dan berrongga. Perekatan

tersebut efektif karena energi permukaan yang dimiliki akan meningkatkan

ikatan perekatan. Pada saat ditekan, permukaan yang kasar akan

mendistribusikan kembali stress, seiring dengan hilangnya energi permukaan,

maka akan terjadi kegagalan perekatan.

Konsep ”tentakel” perekat masuk ke dalam rongga sirekat terjadi pada

tingkat molekul, diadaptasi dari konsep teori difusi pada tingkat yang lebih

tinggi (Wool, 2002). Jika tentakel sirekat juga memasuki perekat, maka

disebut dengan interdifusi, yang melibatkan terjadinya pertautan antara rantai

perekat dengan rantai sirekat. Hal ini dimungkinkan jika sirekat membentuk

tentakel dan terdapat kesesuaian yang erat antara perekat dengan sirekat,

sehingga terjadi jaringan perekatan yang kuat, yang terbentuk dari kombinasi

antara ikatan kimia dan ikatan mekanik.

Menurut Packham (2003), saat aksi bersikunci bekerja, tentakel atau

bagian dari perekat, harus cukup kuat untuk menahan beban. Sebenarnya aksi

bersikunci perekat tidak melibatkan interaksi kimia antara perekat dengan

substrat. Namun pada kenyataannya, terdapat gaya gesek (friction forces) yang

mencegah pemisahan antara perekat dan substrat, menunjukkan adanya

interaksi antar permukaan. Aksi bersikunci lebih berpengaruh terhadap shear

forces dibandingkan normal forces dan tergantung pada kekasaran permukaan

(roughness).

Walaupun aksi bersikunci, mungkin tidak dapat menjelaskan mekanisme

terjadinya perekatan pada kebanyakan peristiwa perekatan, kekasaran dan

(8)

distribusi tekanan pada daerah batas antara perekat dan sirekat, merupakan

faktor yang penting (Zalucha and Wax, 1990).

Perekatan berkenaan dengan interaksi antara permukaan adhesive dengan

permukaan substrate. Beberapa teori perekatan menekankan pada aspek

mekanik, sedangkan yang lainnya menekankan pada aspek kimia. Namun pada

kenyataannya, struktur kimia dan interaksinya mempengaruhi sifat mekanik,

dan sifat mekanik mempengaruhi kekuatan ikatan kimia. Dengan demikian

aspek mekanik dan aspek kimia tidak bisa dipisahkan, dalam menjelaskan

(9)

Referensi

Adhesion Theory. www.specialchem4adhesives.com/resources/adhesionguide/

index.aspx?id=theory4.

Frihart, C.R. 2005. Wood Adhesion and Adhesives. In : Rowell, R.M. (Ed.);

Handbook of Wood Chemistry and Wood Composites. CRC Press,

Washington, USA. Chap. 9.

Gent, A.N. and R.M. Hamed. 1983. Fundamentals of Adhesion. In:

Blomquist, R.F., Christiansen, A.W., Gillespie, R.H. and Myers, G.E.

(Eds); Adhesive Bonding of Wood and Other Structural Materials.

Forest Product Technology USDA Forest Service and The University of

Wisconsin. Chap. 2.

Gollob, L. and J.D. Wellons. 1990. Wood Adhesion. In : Skeist, I. (Ed.) ;

Handbook of Adhesives, 3rd edition. Van Nostrand Reinhold. New

York.

Packham, D.E. 2003. The Mechanical Theory of Adhesion. In : Pizzi, A. and

Mittal, K.L. (Eds.) ; Handbook of Adhesive Technology (2nd ed.).

Marcel Dekker, New York. Chap. 21.

Packham, D.E. 2003. A Seventy Year Perspective and Its Current Status.

School of Materials Science. University of Bath. United of Kingdom.

http://people.bath.ac.uk/mssdep/dep70yrs.htm

Pizzi, A. 1994. Advanced Wood Adhesives Technology. Marcel Dekker, Inc.

New York.

Wool, R.P. 2002. Diffusion and Autoadhesion. In : Chaudury, M. and A.V.

Pocius (Eds.); Adhesive Science and Engineering-2: Surfaces, Chemistry

and Applications. Elsevier, Amsterdam. Chap 8. pp. 351-401.

Zalucha, D.J. and S.C.J. Wax. 1990. Adhesive and Adhesion. In : Dostal,

C.A. et al. (Eds.); Adhesives and Sealants, Enginereed Materials

Gambar

Gambar 1.  Visualisasi adhesi mekanikal antara perekat dengan sirekat

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dapat terjadi karena pada operasi putaran rendah, peletakan zeolit pelet perekat ini pada saringan udara motor diesel 4-langkah tidak mempengaruhi laju

Dari ilmu termodinamika, energi bisa berpindah dengan adanya interaksi antara system dengan lingkungan. Interaksi ini disebut kerja dan panas.. untuk menyelesaikan

Koefisien absorbsi suara (α) merupakan perbandingan antara energi suara yang diserap oleh bahan tersebut terhadap energi suara yang menuju permukaan bahan (Sarwono, 2009

Saat proses drawing berlangsung gesekan terjadi antara permukaan punch, dies drawing dengan blank, gesekan akan mempengaruhi hasil dari produk yang dihasilkan

Pada perbandingan ini jumlah perekat UF yang digunakan lebih banyak, sehingga pada saat pencampuran dengan serbuk perekat UF dapat menyebar dengan rata di antara

Pada siklus mesin dua tak ini, proses pembakaran tidak bias berlangsung relative sempurna seperti pada motor empat langkah, karena saat piston menekan campuran

Pada saat campuran udara – bahan bakar dipanaskan pada tempratur yang tinggi dalam ruang bakar, maka akan teroksidaasi secara cepat, sehingga terjadi pembakaran yang tidak sempurna

Pada saat terjadi bulan baru, posisi bulan berada di antara matahari dan bumi, sehingga permukaan bulan yang gelap(tidak terkena sinar matahari) mengahadap ke bumi..