PERAWATAN POSTPARTUM MENURUT PERSPEKTIF BUDAYA JAWA
YUSNANI DEWI MANURUNG NIM 085102067
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2009 Yusnani Dewi Manurung
PERAWATAN POSPARTUM MENURUT PERSPEKTIF BUDAYA JAWA
x + halaman + 61 hal + 6 lampiran
Abstrak
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Secara tradisional, upaya perawatan masa nifas telah lama dilakukan dengan berdasar kepada warisan leluhur dan hal tersebut bervariasi sesuai adat dan kebiasaan pada masing-masing suku, misalnya saja suku Jawa yang memiliki aneka perawatan selama masa postpartum. Namun, tidak semua perawatan yang dilakukan oleh masyarakat suku Jawa tersebut dapat diterima bila ditinjau dari aspek medis. Oleh sebab itu, informasi tentang perawatan masa nifas pada suku Jawa merupakan salah satu aspek penting diketahui para pelayan kesehatan untuk lebih memudahkan memberikan pendekatan dalam pelayanan kesehatan. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi, yang bertujuan untuk mengidentifikasi perawatan masa nifas menurut perspektif budaya Jawa di Desa Sei Rejo Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah delapan orang. Pengumpulan data berlangsung dari tanggal 01 Oktober 2008 - 01 Maret 2009 . Proses pengumpulan data melalui kuesioner data demografi sebagai data dasar dan wawancara mendalam dengan menggunakan alat perekam suara. Untuk analisa data digunakan metode Parse. Adapun hasil penelitian yang didapat mengenai tradisi perawatan masa nifas menurut adat Jawa meliputi: (1) perawatan pemeliharaan kebersihan diri, terdiri dari: mandi wajib nifas, irigasi vagina dengan menggunakan rebusan air daun sirih, dan menapali perut sampai vagina dengan menggunakan daun sirih, (2) perawatan untuk mempertahankan kesehatan tubuh, terdiri dari: perawatan dengan pemakaian pilis, pengurutan, walikdada, dan wowongan, (3) perawatan untuk menjaga keindahan tubuh, terdiri dari: perawatan dengan pemakaian parem, duduk senden, tidur dengan posisi setengah duduk, pemakaian gurita, dan minum jamu kemasan, (4) perawatan khusus, terdiri dari: minum kopi dan minum air jamu wejahan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi petugas pelayan kesehatan khususnya bidan untuk mempermudah memberikan pelayanan tanpa mengabaikan aspek sosiokultural.
Daftar Pustaka : 32 (1983-2008)
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, puji syukur atas kebesaran Wajah-Nya dan keagungan
iradah-Nya. Terima kasih atas limpahan rahmat-Nya kepada penulis, sehingga penyusunan Karya Tulis
Ilmiah mengenai “Perawatan Pospartum Menurut Perspektif Budaya Jawa di Desa Sei Rejo
Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2009” ini dapat terselesaikan.
Shalawat kita persembahkan pada Rasulullah salallahu ‘alaihi wassallam.
Karya Tulis Ilmiah ini merupakan karya ilmiah yang harus penulis susun sebelum
menyelesaikan pendidikan di Program D-IV Bidan Pendidik FK USU. Tugas ini merupakan
salah satu syarat bagi penulis guna mencapai gelar Sarjana Sains Terapan (SST). Telah diketahui
bahwa karya tulis bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam asuhan kebidanan, sehingga
Karya Tulis Ilmiah yang penulis susun mencerminkan penguasaan penulis tentang substansi dan
metodologi penelitian. Selama proses penyusunan penelitian ini penulis banyak menghadapi
beberapa kesulitan, namun dengan bantuan dari berbagai pihak karya tulis ini akhirnya dapat
terselesaikan dengan baik.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Gontar A. Siregar,SpPD-KGEH selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara.
2. dr. Murniati Manik, MSc, SpKK selaku Ketua Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Setiawan, SKp, MNS selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu,
4. dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes, selaku penguji I dan dr. Isti Ilmiati Fujiati, MSc (CMFM),
selaku penguji II yang telah menyediakan waktu, memberikan arahan dan masukan kepada
penulis dalam rangka perbaikan karya tulis ini.
5. Seluruh dosen, staf, dan pegawai administrasi Program Studi D-IV Bidan Pendidik FK USU.
6. Keluarga tercinta, teristimewa kepada Ayahanda H. Jainun Manurung dan Ibunda Hj. Nina
wati Dalimunthe, kepada Kakanda Fakhrizal Manurung, Sp, dan Adinda Bripka. Surya
Bhakti Manurung yang telah memberikan dukungannya dengan kasih sayang, cinta, dan
do’a.
7. Orangtua angkatku Bapak Agus Diharjo dan Ibu Suhartini, Adinda Desi Ariyanti, juga
W’ijong yang telah banyak memberikan bantuan dan do’a.
8. Teman-teman D-IV Bidan Pendidik FK USU T.A 2008/2009, khususnya k’Ratna, Hidayatna,
k’Iwa, k’Juhana, dan Apriani yang telah memberikan bantuan, motivasi dan inspirasi bagi
peneliti. Thank’s for all buat kalian semua.
9. Seluruh partisipan yang telah bersedia untuk menjadi sampel dalam penelitian Karya Tulis
Ilmiah ini.
10.Seluruh jajaran staf pemerintahan Desa Sei Rejo dan seluruh warga Desa Sei Rejo
Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai .
Penulis menyadari bahwa, penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih sangat jauh dari
kategori sempurna, dari itu penulis sangat mengharapkan adanya kritik maupun saran dari
semua pihak guna kesempurnaan karya tulis ini. Akhir kata, penulis berharap semoga Karya
Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan
dalam bidang kesehatan.
Medan, Juni 2009
Penulis,
Yusnani Dewi Manurung
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PERNYATAAN i
PERNYATAAN PERSETUJUAN SIDANG KARYA TULIS ILMIAH ... i
KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang ... 1
B. Pertanyaan Penelitian ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Masa Nifas………….. ... 6
1. Pengertian Masa Nifas... 6
2. Tujuan Masa Nifas ... 6
3. Program dan Kebijakan Teknis dalam Masa Nifas ... 6
4. Perubahan-perubahan Yang Terjadi Selama Masa Nifas ... 8
5. Perawatan-perawatan pada Masa Nifas ... 11
B. Konsep Budaya dalam Perawatan Postpartum ... 13
1. Konsep Budaya ... 13
2. Konsep Budaya tentang Perawatan Masa Nifas ... 15
C. Fenomenologi ... 18
BAB III METODE PENELITIAN ... 20
A.Desain Penelitian... 20
B. Populasi dan Sampel ... 20
C. Tempat Penelitian ... 21
D.Waktu Penelitian ... 21
E. Etika Penelitian ... 21
F. Alat Pengumpulan Data ... 22
G.Prosedur Pengumpulan Data... 22
H.Analisa Data... 23
I. Tingkat Kepercayaan Data ... 24
A. Karakteristik Partisipan ... 20
B. Perawatan Masa nifas Menurut Adat Jawa ... 20
BAB V HASIL PENELITIAN….. ... 20
A. Interpretasi dan Hasil Diskusi ... 21
B. Implikasi…………. ... 21
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 20 A. Kesimpulan……. ... 21
B. Saran………... 22
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Kuisioner Data Demografi
Lampiran 2 : Panduan Wawancara
Lampiran 3 : Lembar Konsultasi Proposal Karya Tulis Ilmiah
PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2009 Yusnani Dewi Manurung
PERAWATAN POSPARTUM MENURUT PERSPEKTIF BUDAYA JAWA
x + halaman + 61 hal + 6 lampiran
Abstrak
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Secara tradisional, upaya perawatan masa nifas telah lama dilakukan dengan berdasar kepada warisan leluhur dan hal tersebut bervariasi sesuai adat dan kebiasaan pada masing-masing suku, misalnya saja suku Jawa yang memiliki aneka perawatan selama masa postpartum. Namun, tidak semua perawatan yang dilakukan oleh masyarakat suku Jawa tersebut dapat diterima bila ditinjau dari aspek medis. Oleh sebab itu, informasi tentang perawatan masa nifas pada suku Jawa merupakan salah satu aspek penting diketahui para pelayan kesehatan untuk lebih memudahkan memberikan pendekatan dalam pelayanan kesehatan. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi, yang bertujuan untuk mengidentifikasi perawatan masa nifas menurut perspektif budaya Jawa di Desa Sei Rejo Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah delapan orang. Pengumpulan data berlangsung dari tanggal 01 Oktober 2008 - 01 Maret 2009 . Proses pengumpulan data melalui kuesioner data demografi sebagai data dasar dan wawancara mendalam dengan menggunakan alat perekam suara. Untuk analisa data digunakan metode Parse. Adapun hasil penelitian yang didapat mengenai tradisi perawatan masa nifas menurut adat Jawa meliputi: (1) perawatan pemeliharaan kebersihan diri, terdiri dari: mandi wajib nifas, irigasi vagina dengan menggunakan rebusan air daun sirih, dan menapali perut sampai vagina dengan menggunakan daun sirih, (2) perawatan untuk mempertahankan kesehatan tubuh, terdiri dari: perawatan dengan pemakaian pilis, pengurutan, walikdada, dan wowongan, (3) perawatan untuk menjaga keindahan tubuh, terdiri dari: perawatan dengan pemakaian parem, duduk senden, tidur dengan posisi setengah duduk, pemakaian gurita, dan minum jamu kemasan, (4) perawatan khusus, terdiri dari: minum kopi dan minum air jamu wejahan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi petugas pelayan kesehatan khususnya bidan untuk mempermudah memberikan pelayanan tanpa mengabaikan aspek sosiokultural.
Daftar Pustaka : 32 (1983-2008)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama 6 -
8 minggu. Periode nifas merupakan masa kritis bagi ibu, diperkirakan bahwa 60% kematian
ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, yang mana 50% dari kematian ibu tersebut
terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan. Selain itu, masa nifas ini juga merupakan
masa kritis bagi bayi , sebab dua pertiga kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah
persalinan dan 60% kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir
(Saifuddin et al, 2002). Untuk itu perawatan selama masa nifas merupakan hal yang sangat
penting untuk diperhatikan.
Perawatan masa nifas mencakup berbagai aspek mulai dari pengaturan dalam
mobilisasi, anjuran untuk kebersihan diri , pengaturan diet, pengaturan miksi dan defekasi,
perawatan payudara (mamma) yang ditujukan terutama untuk kelancaran pemberian air susu
ibu guna pemenuhan nutrisi bayi, dan lain-lain (Rustam Mochtar, 1998 dan Saifuddin et al,
2002).
Selain perawatan nifas dengan memanfaatkan sistem pelayanan biomedical, ada juga
ditemukan sejumlah pengetahuan dan perilaku budaya dalam perawatan masa nifas. Para ahli
antropologi melihat bahwa pembentukan janin, kelahiran, dan masa pasca kelahiran pada
umumnya dianggap oleh berbagai masyarakat di berbagai penjuru dunia sebagai
berbagai peristiwa kehidupan ini bersifat budaya, yang tidak selalu sama pada berbagai
kelompok masyarakat (Swasono, 1998).
Pada masyarakat Bandanaera, Kabupaten Maluku Tengah, perawatan postpartum
dilakukan dengan memberikan minuman yang salah satu bahannya dari jeruk nipis,
pemberian makanan berupa rujak dalam beberapa jam setelah persalinan selesai,
penyembuhan luka jalan lahir dengan menggunakan pasir panas, perawatan dengan
pengurutan, penguapan badan, konsumsi jamu-jamuan dan aneka perlakuan lainnya yang
bertujuan untuk kesejahteraan ibu dan bayinya (Swasono, 1998).
Pada masyarakat Bajo di Saloso, Kabupaten Kendari, untuk keselamatan ibu dan
bayinya dilakukan upacara adat dengan berbagai syarat dan aturan yang harus dipenuhi
selama proses maupun sebelum proses upacara tersebut terlaksana. Begitu juga pada
masyarakat Aceh yang memiliki aturan berupa pantangan meninggalkan rumah selama 44
hari bagi wanita yang baru melahirkan. Anjuran untuk berbaring selama masa nifas,
perawatan nifas dengan pengurutan , penghangatan badan, konsumsi minuman berupa
jamu-jamuan dan pantangan makan - makanan tertentu (Swasono, 1998).
Berbeda dengan etnis Tionghoa, yang merupakan salah satu etnis pendatang di
Indonesia yang jumlahnya cukup besar dibandingkan masyarakat pendatang lainnya, yang
memiliki aturan bagi perempuan selama masa nifas meliputi pantangan bagi wanita nifas
untuk keluar rumah selama satu bulan, tidak boleh mandi dan keramas selama satu bulan
dengan alasan kondisi ibu yang dianggap dingin setelah melahirkan sehingga bila terpapar
sesuatu yang dingin lagi akan menyebabkan masuk angin. Pantangan makan makanan yang
bersifat dingin, kekhususan dalam mengolah makanan, juga penyajian makanan yang juga
Berdasarkan fakta yang terjadi pada masyarakat di atas, dapatlah dikatakan bahwa
memang benar ada beberapa nilai kepercayaaan masyarakat yang berhubungan dengan
perawatan postpartum. Mengingat bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang
multikultural, maka fenomena tersebut sangat wajar terjadi. Dan pengetahuan tentang aspek
budaya merupakan hal penting diketahui oleh pelayan kesehatan untuk memudahkan dalam
melakukan pendekatan dan pelayanan kesehatan. Sebab, tidak semua perawatan yang
dilakukan dengan berpedoman pada warisan leluhur tersebut bisa diterima sepenuhnya, bisa
saja perawatan-perawatan yang dilakukan tersebut memberikan dampak kesehatan yang
kurang menguntungkan bagi ibu dan bayinya. Hal ini tentu saja memerlukan perhatian
khusus untuk mengatasinya (Swasono, 1998).
Dari uraian di atas, peneliti merasa tertarik untuk mengadakan penelitian tentang
aspek budaya, khususnya budaya Jawa, mengingat bahwa masyarakat suku Jawa adalah
masyarakat yang banyak tersebar di berbagai kepulauan di Indonesia, yang salah satunya
adalah pulau Sumatera. Selain itu setelah penulis melakukan tinjauan literatur, belum pernah
ada penelitian yang khusus mempelajari dan membahas perawatan postpartum menurut
perspektif budaya Jawa. Oleh karena itu, penelitian tentang perawatan postpartum menurut
perspektif budaya Jawa penting dilakukan.
Bagaimana perawatan postpartum pada masyarakat suku Jawa di Desa Sei Rejo,
Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara?
C. Tujuan Penelitian
Identifikasi cara perawatan postpartum yang dilakukan oleh Ibu suku Jawa di Desa
Sei Rejo, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Propinsi Sumatera Utara.
D. Manfaat Penelitian
1. Pelayanan Kesehatan/Kebidanan
Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat menjadi sumber
pengetahuan dan strategi bagi pelayan kesehatan dalam memberikan asuhan yang lebih
komprehensif pada ibu postpartum dengan memperhatikan aspek budaya setempat yang
dapat dikembangkan tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar budaya itu sendiri, serta tidak
mengikutsertakan hal - hal yang dapat merugikan kelangsungan proses nifas yang dapat
memberikan dampak kesehatan kurang menguntungkan baik bagi ibu maupun bagi bayi yang
dilahirkannya.
2. Perkembangan ilmu kebidanan khususnya asuhan kebidanan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebagai bekal mahasiswa nantinya
dalam menerapkan asuhan kebidanan secara komprehensif pada ibu nifas dengan
memperhatikan aspek budaya setempat dan dikembangkan tanpa meninggalkan nilai dasar
budaya. Namun, tidak mengikutsertakan hal-hal yang membawa pengaruh negatif.
3. Penelitian Kebidanan
untuk populasi ibu postpartum yang bersuku Jawa di Desa Sei Rejo, Kecamatan Sei
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Masa nifas
1. Pengertian Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa ini berlangsung selama 6-8 minggu
(Saifuddin et al, 2002). Asuhan selama periode nifas sangat diperlukan karena merupakan masa
kritis baik bagi ibu maupun bagi bayi yang dilahirkannya. Diperkirakan bahwa 60% kematian
ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, yang mana 50% kematian ibu pada masa nifas
terjadi dalam 24 jam pertama. Di samping itu, masa tersebut juga merupakan masa kritis dari
kehidupan bayi, karena dua pertiga kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan
60% kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir (Winkjosastro et al, 2002).
2. Tujuan Asuhan
Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik. Mendeteksi masalah,
mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. Memberikan
pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui,
pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. Memberikan pelayanan keluarga
berencana (Winkjosastro et al, 2002).
3. Program dan kebijakan teknis dalam asuhan masa nifas
Pada masa nifas dilakukan paling sedikit 4 kali kunjungan, hal ini dilakukan untuk
menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah mendeteksi dan menangani
masalah-masalah yang terjadi. Kunjungan pertama, dilakukan pada 6-8 jam setelah persalinan. Kunjungan
dan merawat penyebab lain perdarahan, dan merujuk bila perdarahan berlanjut. Memberikan
konseling kepada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa
nifas karena atonia uteri. Pemberian ASI awal, membantu melakukan hubungan antara ibu dan
bayi baru lahir, juga menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia (Winkjosastro et
al, 2002).
Kunjungan kedua, dilakukan pada 6 hari setelah persalinan. Kunjungan ini dilakukan
dengan tujuan untuk memastikan involusi uterus berjalan normal, yaitu uterus berkontraksi dan
fundus di bawah umbilikus. Menilai adanya tanda-tanda infeksi atau perdarahan abnormal.
Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat. Memastikan ibu menyusui
dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit. Memberikan konseling pada ibu
mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
Kunjungan ketiga dilakukan pada dua minggu setelah persalinan, yang mana kunjungan
ini tujuannya sama dengan kunjungan yang kedua. Setelah kunjungan ketiga maka dilakukanlah
kunjungan pada 6 minggu setelah persalinan yang merupakan kujungan terakhir selama masa
nifas, yang mana kunjungan ini bertujuan untuk menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit
yang ia atau bayi alami, juga memberikan konseling untuk mendapatkan pelayanan KB secara
dini (Saifuddin et al, 2002).
4. Perubahan- perubahan fisiologis yang terjadi selama nifas
Dalam masa nifas alat-alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur
keseluruhannya disebut involusi. Disamping involusi ini, terjadi juga perubahan penting lain,
seperti timbulnya laktasi yang dipengaruhi oleh Lactogenic Hormone dari kelenjar hipofisis
terhadap kelenjar-kelenjar mamma (Saifuddin et al, 2002).
Setelah janin dilahirkan fundus uteri kira-kira setinggi pusat; segera setelah plasenta
lahir, tinggi fundus uteri kurang lebih 2 jari di bawah pusat. Uterus menyerupai suatu buah
advokat gepeng berukuran panjang kurang lebih 15 cm, lebar kurang lebih 12 cm dan tebal
kurang lebih 10 cm. Dinding uterus sendiri kurang lebih 5 cm, sedangkan pada bekas implantasi
plasenta lebih tipis daripada bagian lain. Pada hari ke-5 postpartum uterus kurang lebih setinggi
7 cm di atas simfisis atau setengah simfisis pusat, sesudah 12 hari uterus tidak dapat diraba lagi
di atas simfisis. Bagian bekas implantasi plasenta merupakan suatu luka yang kasar dan
menonjol ke dalam kavum uteri, setelah persalinan. Penojolan tersebut, dengan diameter kurang
lebih 7,5 cm, sering disangka sebagai suatu bagian plasenta yang tertinggal. Sesudah 2 minggu
diameternya menjadi 3,5 cm dan pada 6 minggu telah mencapai 2,4 mm (Saifuddin, et al, 2002
& Mochtar, 1998).
Uterus gravidus a term beratnya kira-kira 1000 gram. Satu minggu postpartum berat
uterus akan menjadi kurang lebih 500 gram, 2 minggu postpartum menjadi 300 gram, dan
setelah 6 minggu postpartum, berat uterus menjadi 40 sampai 60 gram(berat uterus normal
kurang lebih 30 gram). Otot-otot uterus berkontraksi segera postpartum. Pembuluh-pembuluh
darah yang berada di antara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan
menghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan (Saifuddin, et al, 2002).
Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks ialah segera postpartum bentuk serviks
agak menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan
korpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin. Warna serviks sendiri merah
kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah. Konsistensinya lunak. Segera setelah janin dilahirkan,
tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri. Setelah dua jam hanya dapat
dimasukkan 2-3 jari, dan setelah 1 minggu, hanya dapat dimasukkan 1 jari ke dalam kavum
uteri (Saifuddin, et al, 2002 & Mochtar, 1998).
Perubahan-perubahan yang terdapat pada endometrium ialah terjadi degenerasi, dan
nekrosis di tempat implantasi plasenta. Pada hari pertama endometrium yang kira-kira setebal
2-5 mm itu mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin. Setelah
3 hari, permukaan endometrium mulai rata akibat lepasnya sel-sel dari bagian yang mengalami
degenerasi. Sebagian besar endometrium terlepas. Regenerasi endometrium terjadi dari sisa-sisa
sel desidua basalis, yang memakan waktu 2 sampai 3 minggu. Jaringan-jaringan di tempat
implantasi plasenta mengalami proses yang sama, ialah degenerasi dan kemudian terlepas.
Pelepasan jaringan berdegenerasi ini berlangsung lengkap. Dengan demikian, tidak ada
pembentukan jaringan parut pada bekas tempat implantasi plasenta (Winkjosastro, 2002).
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan
dan partus, setelah janin lahir, berangsur-angsur ciut kembali seperti sediakala. Tidak jarang
ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan uterus jatuh ke belakang. Tidak
jarang pula wanita mengeluh “kandungannya turun” setelah melahirkan oleh karena ligament,
fasia, jaringan penunjang alat genitalia menjadi agak kendor. Luka-luka jalan lahir, seperti
bekas episiotomi yang telah dijahit, luka pada vagina dan serviks bila tidak seberapa luas akan
mudah sembuh, kecuali bila terdapat infeksi (Winkjosastro et al, 2002).
Sejak kehamilan muda, sudah terdapat persiapan-persiapan pada kelenjar-kelenjar
lain: 1) proliferasi jaringan, terutama kelenjar-kelenjar dan alveolus mamma dan lemak, 2) pada
duktus laktiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat dikeluarkan, cairan tersebut
berwarna kuning (kolostrum), 3) hipervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada
bagian dalam mamma. Pembuluh-pembuluh vena berdilatasi dan tampak dengan jelas, 4)
setelah partus, pengaruh menekan dari estrogen dan progesteron terhadap hipofisis hilang.
Timbul pengaruh hormon-hormon hipofisis kembali, antara lain lactogenic hormone (prolaktin)
yang akan dihasilkan pula. Mamma yang telah dipersiapkan pada masa hamil terpengaruhi,
dengan akibat kelenjar-kelenjar berisi air susu. Pengaruh oksitosin mengakibatkan mioepitelium
kelenjar-kelenjar susu berkontraksi, sehingga pengeluaran air susu dilaksanakan. Umumnya
produksi air susu baru berlangsung betul pada hari ke-2 sampai ke-3 postpartum (Rachimhadhi
et al, 2002).
Suhu badan wanita inpartu tidak lebih dari 37,20 Celcius. Sesudah 12 jam pertama
melahirkan, umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila suhu badan lebih dari 38,00
Celcius, mungkin ada infeksi. Nadi umumnya berkisar antara 60-80 denyutan permenit. Segera
setelah partus dapat terjadi bradikardia. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih labil
dibandingkan dengan suhu badan (Winkjosastro et al, 2002).
Pada sistem pernapasan, fungsi pernapasan kembali pada rentang normal dalam jam
pertama pascapartum. Napas Pendek, cepat, atau perubahan lain memerlukan evaluasi adanya
kondisi-kondisi abnormal (Varney, 2003).
Lokhea adalah sekret yang keluar dari kavum uteri dan vagina pada masa nifas. Pada
hari pertama dan kedua lokhea rubra atau kruenta, terdiri atas darah segar bercampur sisa-sisa
selaput ketuban, sel-sel desidua, sisa-sisa verniks kaseosa, lanugo, dan mekonium. Pada hari
sampai ke-14 cairan yang keluar berwarna kuning, cairan ini tidak berdarah lagi, setelah 2
minggu, lokhea hanya merupakan cairan putih yang disebut dengan lokhea alba (Mochtar,
1998).
5. Perawatan -perawatan pada masa nifas
Umumnya wanita sangat lelah setelah melahirkan. Karenanya, ia harus cukup dalam
pemenuhan istirahatnya. Dari hal tersebut ibu harus dianjurkan untuk tidur terlentang selama 8
jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring-miring ke kanan dan ke kiri, untuk mencegah
adanya thrombosis. Pada hari ke-2 barulah ibu diperbolehkan duduk, hari ke-3 jalan-jalan, dan
hari ke-4 atau ke-5 sudah diperbolehkan pulang (Winkjosastro et al, 2002 & Mochtar, 1998).
Diet yang diberikan harus bermutu tinggi dengan cukup kalori, mengandung cukup
protein, cairan, serta banyak sayur-sayuran dan buah-buahan (Winkjosastro et al, 2002 &
Mochtar, 1998).
Miksi atau berkemih harus secepatnya dapat dilakukan sendiri. Kadang-kadang wanita
mengalami sulit kencing karena sfingter uretra tertekan oleh kepala janin, sehingga fungsinya
terganggu. Bila kandung kemih penuh dan wanita tersebut tidak dapat berkemih sendiri,
sebaiknya dilakukan kateterisasi dengan memperhatikan jangan sampai terjadi infeksi
(Winkjosastro et al, 2002).
Defekasi atau buang air besar harus ada dalam 3 hari postpartum. Bila ada obstipasi
hingga skibala tertimbun di rectum, dapat dilakukan klisma atau diberikan laksans per oral atau
per rectal. Namun dengan diadakannya mobilisasi secara dini, tidak jarang retensio urin et alvi
dapat diatasi. Di sini dapat ditekankan bahwa wanita baru bersalin memerlukan istirahat dalam
wanita yang baru bersalin itu bukan seorang penderita dan hendaknya jangan dirawat seperti
seorang penderita. (Winkjosastro et al, 2002).
Bila wanita itu sangat mengeluh tentang adanya after paints atau mules, dapat diberi
analgetik atau sedatif supaya ia dapat beristirahat atau tidur. Delapan jam postpartum wanita
tersebut disuruh mencoba menyusui bayinya untuk merangsang timbulnya laktasi. Kecuali bila
ada kontraindikasi untuk menyusui bayinya, seperti wanita yang menderita tifus abdominalis,
tuberculosis aktif, diabetes mellitus berat, psikosis, putting susunya tertarik ke dalam dan
lain-lain. Bayi dengan labio palato skiziz (sumbing) tidak dapat menyusu oleh karena tidak dapat
menghisap. Hendaknya hal ini diketahui oleh bidan atau dokter yang menolongnya.
Minumannya harus diberikan melalui sonde. Begitu pula dengan bayi yang dilahirkan dengan
alat seperti ekstraksi vakum atau cunam dianjurkan untuk tidak menyusu sebelum benar-benar
diketahui tidak ada trauma kapitis. Pada hari ketiga atau keempat bayi tersebut baru
diperbolehkan untuk menyusu bila tidak ada kontraindikasi. (Winkjosastro et al, 2002 &
Mochtar, 1998).
Perawatan mamma harus sudah dilakukan sejak kehamilan, areola mamma dan puting
susu dicuci teratur dengan sabun dan diberi minyak atau cream , agar tetap lemas, jangan
sampai kelak mudah lecet dan pecah-pecah. Sebelum menyusui mamma harus dibikin lemas
dengan melakukan massage secara menyeluruh. Setelah areola mamma dan putting susu
dibersihkan, barulah bayi disusui (Winkjosastro et al, 2002 & Mochtar, 1998).
Bayi yang meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara mengadakan pembalutan
kedua mamma hingga tertekan, dan dapat pula diberikan Bromocryptin sehingga pengeluaran
Pengunjung atau tamu sehat boleh mengunjungi wanita postpartum. Hendaknya para
pengunjung harus dalam keadaan sehat dan bersih untuk mencegah kemungkinan terjadinya
penularan penyakit oleh karena wanita dalam masa nifas mudah sekali terkena infeksi.
Pemakaian gurita yang tepat masih dibenarkan pada wanita postpartum. Ketika dipulangkan,
diberi penjelasan dan motivasi tentang cara menjaga bayi, memberi susu dan makanan bayi,
keluarga berencana, hidup dan makanan sehat, dan dipesan untuk memeriksakan diri lagi
(Winkjosastro et al, 2002 & Mochtar, 1998).
B. Konsep Budaya dalam Perawatan Postpartum
1. Konsep Budaya
Kebudayaan merupakan wawasan pegangan yang diambil dari pemahaman makna
realitas yang dikembangkan menjadi pijakan sikap tingkah laku dalam menghadapi hidup dalam
realitas itu, maka kebudayaan dilihat dari potensi-potensi (kemampuan-kemampuan) kreatif
manusia (Mudji Sutrisno, 2006).
Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berfikir, merasa,
mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan,
kebiasaan makan, praktik komunikasi, tindakan-tindakan social, kegiatan-kegiatan ekonomi dan
politik, dan teknologi, semua itu berdasarkan pola-pola budaya (Mulyana, 2002).
Manusia melengkapi dirinya dengan kebudayaan, yaitu perangkat pengendali berupa
rencana, aturan, resep, dan instruksi yang digunakan untuk mengatur terwujudnya tingkahlaku
dan tindakan tertentu (Geertz, 1973). Dalam pengertian ini, kebudayaan berfungsi sebagai “alat”
yang paling efektif dan efisien dalam menghadapi lingkungan (Mudji sutrisno, 2006).
Kebudayaan bukan sesuatu yang dibawa bersama kelahiran, melainkan diperoleh dari
lain, hubungan antara manusia dengan lingkungannya dijembatani oleh kebudayaan yang
dimilikinya. Dilihat dari segi ini, kebudayaan dapat dikatakan bersifat adaptif karena melengkapi
manusia dengan cara-cara menyesuaikan diri pada kebutuhan fisiologis dari diri mereka sendiri,
penyesuaian pada lingkungan yang bersifat fisik geografis maupun lingkungan sosialnya.
Kenyataan bahwa banyak kebudayaan bertahan malah berkembang menunjukkan bahwa
kebiasaan-kebiasaan yang dikembangkan oleh suatu masyarakat disesuaikan dengan
kebutuhan-kebutuhan tertentu dari lingkungannya. Kebiasaan atau kelakuan yang terpolakan yang ada
dalam masyarakat tertentu merupakan penyesuaian masyarakat terhadap lingkungannya, tetapi
cara penyesuaian itu bukan berarti mewakili semua cara penyesuaian yang mungkin diadakan
oleh masyarakat lain dalam kondisi yang sama. Dengan kata lain, masyarakat manusia yang
berlainan mungkin akan memilih cara-cara penyesuaian yang berbeda terhadap keadaan yang
sama. Kondisi seperti itulah yang menyebabkan timbulnya keaneka ragaman budaya (Mudji
Sutrisno, 2006).
2. Konsep Budaya tentang Perawatan Masa Nifas
Terbentuknya janin dan kelahiran bayi merupakan suatu fenomena yang wajar dalam
kelangsungan kehidupan manusia, namun berbagai kelompok masyarakat dengan
kebudayaannya di seluruh dunia memiliki aneka persepsi, interpretasi dan respon perilaku dalam
menghadapinya, dengan berbagai implikasinya terhadap kesehatan (Swasono, 1998).
Menurut pendekatan biososiokultural persalinan, kehamilan dan kelahiran bukan hanya
dilihat semata-mata dari aspek biologis dan fisiologisnya saja. Lebih dari itu, fenomena ini juga
harus dilihat sebagai suatu proses yang mencakup pemahaman dan pengaturan hal-hal, seperti
pandangan budaya mengenai kehamilan dan kelahiran, persiapan kelahiran, para pelaku dalam
penggunaan ramu-ramuan atau obat-obatan dalam proses kelahiran, cara-cara menolong
persalinan, dan pusat kekuatan dalam perawatan bayi dan ibunya (Jordan, 1993).
Berbagai kelompok masyarakat di berbagai tempat yang menitik beratkan perhatian
mereka terhadap aspek kultural dari kelahiran menganggap peristiwa tersebut sebagai tahapan
kehidupan yang harus dijalani di dunia. Pada saat lahirnya, bayi dianggap berpindah dari
kandungan ibu ke dunia untuk menjalankan kehidupan baru sebagai manusia. Begitu pula sang
ibu mulai memasuki tahapan baru dalam kehidupannya sebagai orangtua, untuk menjalankan
peran baru sebagai seorang ibu (Swasono. 1998).
Dalam memahami sikap dan perilaku menanggapi kehamilan, kelahiran serta perawatan
ibu dan bayinya, faktor-faktor sosial budaya sangat mempunyai peranan penting. Sebagian
pandangan budaya mengenai hal-hal tersebut telah diwariskan turun-temurun dalam kebudayaan
masyarakat yang bersangkutan (Swasono, 1998).
Pada masyarakat di Bandanaera, Kabupaten Maluku Tengah, perawatan postpartum
dilakukan salah salah satunya dengan segera memberi minuman pada wanita yang baru
melahirkan, yang minuman tersebut terdiri dari campuran jeruk asam (jeruk nipis), halia (jahe)
yang diparut, gula merah dan lada, yang kesemuanya dimasak hingga menjadi cairan kental.
Kemudian setelah kurang lebih 3 jam pasca persalinan ibu nifas diberi makan rujak, dengan
tujuan agar darah nifasnya keluar, dan dinding peranakan menjadi bersih dari gumpalan darah,
yang disebut kotor banta. Bila ketika melahirkan terjadi “sobekan”, keadaan ini dipulihkan
dengan pasir panas yang dibungkus daun, kemudian dibungkus lagi dengan kain, untuk
ditekan-tekankan kebagian jalan lahir yang sobek selama 9 hari, pada pagi dan sore hari. Bahan yang
Tengah wanita postpartum juga diurut, diuapi, diberi minuman berupa jamu-jamuan, dan aneka
perlakuan lainnya yang bertujuan untuk kesejahteraan ibu dan bayinya (Swasono, 1998).
Pada masyarakat Bajo di Saloso, Kabupaten Kendari, untuk keselamatan perempuan nifas
dan bayinya dilakukan upacara adat salussu. Upacara salussu ini dilaksanakan dengan
menyediakan daun pisang panjang sebanyak dua lembar, yang masing-masing diisi dengan ketan
putih dan hitam, tumpi-tumpi, yakni sejenis ikan yang ditumbuk kemudian dibentuk bulat kecil
sebanyak 40 buah. Seperti halnya dengan upacara adat lainnya, kemenyan, kelapa, dan bedak
kuning senantiasa disajikan sebagai pelengkap upacara. Dalam upacara ini ditambahkan pula dua
buah cincin emas. Apabila bayi yang lahir laki-laki, sajian ditambah lagi dengan dua ekor ayam
jantan, sedangkan jika bayi seorang perempuan, disediakan dua ekor ayam betina. Hidangan
yang dibuat dalam dua bagian tersebut dibagi dua, sebuah diberikan kepada sandro (dukun yang
bertugas sebagai pemimpin acara), sedangkan yang lainnya ditujukan bagi keluarga sang bayi
(Swasono, 1998).
Perawatan nifas menurut budaya masyarakat Aceh. Seperti, pantangan untuk
meninggalkan rumah selama 44 wanita yang baru melahirkan. Selama masa nifas perempuan
pada masyarakat Aceh disuruh berbaring pada suatu pembaringan yang ditinggikan yang
dasarnya diberi batu bata panas. Kakinya terlentang dan dirapatkan. Lengannya tidak boleh
diangkat di atas kepala. Ibunya menjaganya, seraya mengawasi supaya perempuan nifas tersebut
tetap mengikuti petunjuk mengenai posisi kaki dan cara berbaring sekali-sekali harus dirubah
supaya seluruh badan wanita dihangatkan. Penghangatan badan dimulai pada hari sesudah
melahirkan dan berlangsung sekurang-kurangnya 20 hari dan paling lama 44 hari. Ibu yang baru
melahirkan mandinya dibatasi agar berkeringat, karena bila ibu postpartum berkeringat dianggap
Selain penghangatan badan, selama minggu pertama ibu postpartum juga diurut oleh
dukun beranak dengan menggunakan minyak kelapa. Dalam minggu pertama ini, wanita yang
baru bersalin bebas makan dan minum apa saja yang diinginkannya. Tetapi sesudah hari ketujuh,
waktu dia diberi minuman yang diramu dari jenis daun-daunan tertentu, dia pantang makan dan
minum beberapa jenis bahan makanan yang paling biasa dikonsumsi masyarakat Aceh,
pantangan makan tersebut berlangsung selama 5 bulan atau lebih. Makanan yang dilarang itu
misalnya adalah ketan, daging kerbau, telur bebek, daging bebek dan semua jenis buah-buahan
(Swasono, 1998).
Dengan berbagai variasi kultur atau budaya di atas, umumnya sering berhubungan
dengan faktor sosial ekonomi dan pendidikan. Oleh karena itu, meskipun petugas kesehatan
mungkin menemukan suatu bentuk perilaku atau sikap yang terbukti kurang menguntungkan
bagi kesehatan, seringkali tidak mudah bagi mereka untuk mengadakan perubahan terhadapnya.
Hal tersebut diakibatkan oleh telah tertanamnya keyakinan yang melandasi sikap dan perilaku itu
secara mendalam pada kebudayaan warga suatu komuniti (Swasono, 1998).
C. Fenomenologi
Fenomenologi berakar pada filsafat tradisional yang dikembangkan oleh Husserl dan
Heidegger yang mana pemikirannya bersumber dari pengalaman hidup manusia. Fenomenologi
adalah suatu penelitian tentang gejala dalam situasi yang alami dan kompleks, yang hanya
mungkin menjadi bagian dari alam kesadaran manusia-sekomprehensif apapun-ketika telah
direduksi ke dalam suatu parameter yang terdefenisikan sebagai fakta, dan yang demikian
terwujud sebagai realitas (Wignjosoebroto, 2001 dalam Bungin, 2006).
Fenomenologi sering digunakan sebagai anggapan umum untuk menunjukkan pada
digunakan sebagai pendekatan dalam metodelogi kualitatif. Fenomenologi merupakan
pandangan berfikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif
manusia dan interpretasi–interpretasi dunia (Moleong, 2007).
Teori fenomenologi terutama membagi tentang isu-isu bahasa, sejauh mana diberikan
kepada peranan dalam membentuk pengalaman. Peneliti dalam pandangan fenomenologi
berusaha memahami arti peristiwa dan kaitannya terhadap orang-orang yang berasal dalam
situasi-situasi tertentu. Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu
bagi orang-orang yang sedang diteliti mereka (Moleong 2007).
Penelitian sosial yang menggunakan pendekatan kualitatif diuraikan oleh Hutomo (1992,
dalam Moleong, 2007), merupakan penelitian sosial yang sumber datanya bersifat ilmiah, artinya
peneliti harus berusaha memahami fenomena sosial secara langsung dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat. Peneliti sendiri adalah merupakan instrumen penelitian yang paling penting dalam
pengumpulan data dan penginterpretasian data. Penelitian kualitatif bersifat memberikan
deskripsi artinya mencatat segala gejala (fenomena) yang dilihat dan didengar. Data dan
informan harus berasal dari tangan pertama. Dan kebenaran data harus dicek dengan data lain,
BAB III
METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan desain fenomenologi yaitu suatu penelitian tentang
gejala dalam situasi yang alami dan kompleks, yang hanya mungkin menjadi bagian dari alam
kesadaran manusia-sekomprehensif apapun-ketika telah direduksi ke dalam suatu parameter
yang terdefenisikan sebagai fakta, dan yang demikian terwujud sebagai realitas (Wignjosoebroto,
2001 dalam Bungin, 2006). Pada penelitian ini peneliti mengidentifikasi perawatan postpartum
yang dilakukan pada masyarakat yang suku Jawa di Desa Sei Rejo Kecamatan Sei Rampah
Kabupaten Serdang Bedagai.
B. Populasi dan sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang bersuku Jawa yang berada di Desa
Sei Rejo, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara yaitu
sebanyak 36 orang, karena berdasarkan pengamatan peneliti sebelumnya, masyarakat di daerah
tersebut masih sangat banyak melakukan kebiasaan/ritual berdasarkan kebudayaan Jawa dalam
melakukan perawatan postpartum.
2. Sampel.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling yang sesuai
dengan kriteria sampel (Notoatmodjo, 2005). Jumlah sampel delapan orang, dengan jumlah
memberikan informasi yang baru), artinya bahwa dengan menggunakan responden selanjutnya
boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang berarti (Nasution, 1998
dalam Sugiyono, 2008).
Adapun sampel yang diambil adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Ibu-ibu yang bersuku Jawa asli.
b. Ibu-ibu yang sedang dalam masa postpartum..
c. Bersedia untuk diwawawancari atau menjadi responden.
C. Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di desa Sei Rejo, kecamatan Sei Rampah, kabupaten Serdang
Bedagai, Sumatera Utara, dengan pertimbangan: peneliti sudah biasa berinteraksi dan mengenal
masyarakat setempat, dan yang paling mendukung adalah masih banyaknya suku Jawa di daerah
tersebut, tepatnya di desa Sei Rejo Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai.
D. Waktu penelitian
Waktu penelitian berlangsung dari 1 Oktober 2008 – 1 Maret 2009.
E. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, penelitian mengajukan surat permohonan kepada Ketua
Jurusan Program Studi Diploma IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara. Kemudian peneliti mengajukan surat permohonan izin penelitian kepada Kepala Desa Sei
Rejo, Kecamatan Sei rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Propinsi Sumatera Utara. Setelah
memperoleh persetujuan, peneliti memulai penelitian dengan menekankan masalah etik yaitu:
Jika responden menolak untuk diteliti, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati
hak-haknya. Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden pada lembar pengumpulan data (
kuesioner ) hanya huruf kode yang digunakan, sehingga kerahasiaan identitas semua informasi
yang diberikan tetap terjaga. Dan seluruh informasi yang diperoleh tidak akan dipergunakan,
kecuali untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan tetap menjaga kerahasiaannya.
F. Alat pengumpul data
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis yaitu kuesioner
data demografi dan panduan wawancara. Kuesioner data demografi berisi pernyataan mengenai
data umum responden pada lembar pengumpulan data (kuesioner), yang terdiri dari : usia,
agama, tingkat pendidikan, pekerjaan, orang yang merawat ibu selama masa nifas, suku yang
merawat ibu selama masa postpartum, pernah tidaknya mendapatkan penyuluhan tentang
perawatan postpartum. Panduan wawancara berisi pertanyaan yang diajukan meliput i :
perawatan diri setelah melahirkan, tujuan perawatan yang dilakukan, serta manfaat yang
dirasakan dari perawatan yang dilakukan tersebut.
G. Prosedur pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: setelah
mendapatkan izin dari Ketua Program Studi Diploma IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara Medan dan Kepala Desa Sei rejo, Kecamatan Sei Rampah,
Kabupaten Serdang Bedagai, peneliti mengadakan pendekatan kepada calon responden untuk
mendapatkan persetujuannya sebagai sampel dalam penelitian.
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara : menggunakan kuesioner
menggunakan tape recorder. Sebelum wawancara, peneliti memperkenalkan diri terlebih dahulu
dan menjelaskan hal-hal yang terkait dengan penelitian. Partisipan menjawab pertanyaan yang
terdapat pada lembaran kuesioner sesuai dengan petunjuk pada masing-masing bagian.
Peneliti memulainya dengan melakukan wawancara dan merekam hasil wawancara.
Peneliti menulis dan membaca transkrip. Peneliti menganalisa data yang ditemukan dan
mengelompokkan data, kemudian menguraikan data ke dalam bentuk narasi dari semua data,
kelompok dan kategori data. Peneliti membahas hasil penelitian sesuai dengan analisa data yang
digunakan. Pengumpulan data selesai dan mencapai saturasi dengan jumlah partisipan delapan
orang.
H. Analisa Data
Analisa data dilakukan pada saat transkrip pertama dilakukan, data diseleksi kata perkata.
Metode yang digunakan adalah metode Parse, yang dimodifikasi untuk menganalisa data. Karena
metode ini cocok dengan pendekatan interpretative (menafsirkan) pada penelitian kualitatif.
Menurut Ruffing dan Rahal (1986) ini adalah salah satu metode yang umum untuk analisa data
dimana peneliti dan responden mengambil bagian dalam suatu diskusi tentang suatu pengalaman
hidup yang direkomandasikan untuk studi fenomenologi (Birns & Grove, 2001).
Adapun Parse mendeskripsikan proses analisa secara sisitematis terdiri dari :
1. Menggali intisari dari uraian kata demi kata. Inti sari yang digali adalah suatu ide pokok yang
dideskripsikan oleh partisipan.
3. Merumuskan suatu perbandingan dari masing-masing uraian partisipan. Perbandingan
tersebut adalah suatu pernyataan terkonsep tidak langsung oleh peneliti yang
menghubungkan intisari yang disintesa dari setiap partisipan.
4. Menggali konsep inti dari perbandingan yang dirumuskan dari setiap partisipan.
5. Mensintesa suatu struktur pengalaman langsung dari konsep yang digali. Yaitu : suatu
pernyataan terkonsep oleh peneliti yang dihubungkan dengan konsep inti tersebut. Struktur
ini dianggap sebagai jawaban yang dikembangkan dari pertanyaan peneliti.
I. Tingkat Kepercayaan Data.
Tingkat kepercayaan data dalam penelitian ini menggunakan uji kredibilitas,
depenabilitas (realibilitas) dan konfirmabilitas (objektivitas).
Yang pertama, uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian
kualitatif dilakukan dengan prolonged engagement dan memberchecking. Prolonged engagement
berarti peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan kembali, wawancara lagi dengan
sumber data yang memang telah dikenal sebelumnya. Dengan prolonged engagement ini berarti
hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin akrab, semakin terbuka dan saling
mempercayai sehingga memungkinkan tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.
Setelah prolonged engagement selesai, maka dilakukan memberchecking. Yang mana
memberchecking ini adalah, proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada partisipan.
Tujuan dari memberchecking ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh
sesuai dengan apa yang diberikan oleh partisipan. Apabila data yang diperoleh disepakati oleh
para partisipan berarti data tersebut valid, sehingga data tersebut dapat dipercaya. Jadi tujuan
Yang kedua, pengujian depenabilitas, uji ini dilakukan dengan melakukan audit terhadap
keseluruhan proses penelitian. Sering terjadi peneliti tidak melakukan proses penelitian ke
lapangan, tetapi bisa memberikan data. Peneliti seperti ini perlu diuji depenabilitasnya. Kalau
proses penelitian tidak dilakukan tetapi datanya ada, maka penelitian tersebut tidak reliable atau
dependable. Untuk itu pengujian depenabilitas dilakukan dengan cara melakukan audit terhadap
keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan oleh auditor yang independen, atau
pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian.
Bagaimana peneliti mulai menentukan masalah fokus, memasuki lapangan, menentukan sumber
data, melakukan analisis data, melakukan uji keabsahan data, sampai membuat kesimpulan harus
dapat ditunjukkan oleh peneliti. Jika peneliti tak mempunyai dan tak dapat menunjukkan “jejak
aktivitas lapangannya”, maka depenabilitas penelitiannya patut diragukan (Faisal, S, 1990 dalam
Sugiyono, 2008).
Yang terakhir adalah pengujian konfirmabilitas. Menguji konfirmabilitas berarti menguji
hasil penelitian, dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Bila hasil penelitian merupakan fungsi
dari proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut telah memenuhi standar
konfirmabilitas. Dalam penelitian, jangan sampai proses tidak ada tetapi hasilnya ada (Faisal, S,
1990 dalam Sugiyono, 2008).
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Penelitian fenomenologi ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tentang
perawatan postpartum menurut perspektif budaya Jawa. Seluruh partisipan dalam penelitian ini
berdomisili di Desa Sei Rejo Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai. Pengumpulan
data dilakukan melalui wawancara secara mendalam.
A. Karakteristik Partisipan
Para partisipan terdiri dari delapan orang ibu yang sedang melalui masa nifas dan bayi
yang dilahirkannya hidup. Umur partisipan berkisar antara 20-36 tahun. Semua partisipan
bersuku Jawa asli dan beragama Islam. Empat orang partisipan sebagai ibu rumah tangga, tiga
orang partisipan sebagai petani, dan seorang partisipan lainnya adalah seorang pedagang. Selama
melalui masa nifasnya dua orang partisipan tinggal dan dirawat oleh mertunya, lima orang
partisipan tinggal dan dirawat oleh orangtua kandungnya, sedangkan satu partisipan lainnya
terpisah dari keluarga dan melakukan perawatan masa nifasnya sendiri. Dua orang partisipan
pernah mengikuti penyuluhan tentang perawatan masa nifas, yang diselenggarakan di balai desa
Sei Rejo bekerjasama dengan pihak pelayan kesehatan di kecamatan Sei Rampah. Dua orang
partisipan mempunyai seorang anak, tiga partisipan mempunyai dua orang anak, dua partisipan
mempunyai tiga orang anak, sedangkan satu orang partisipan lainnya mempunyai empat orang
anak. Tiga partisipan pendidikan terakhirnya SMU, dua partisipan pendidikan terakhirnya SMP,
dua partisipan pendidikan terakhirnya SD, dan satu partisipan lainnya tidak mempunyai latar
Tabel 4.1.
Distribusi partisipan berdasarkan karakteristik demografi
di Desa Sei Rejo Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai
Oktober 2008 - Maret 2009
No Karakteristik Partisipan
1 Usia Ibu 20 – 25 26 – 30 31 – 35 36
4 orang 2 orang 1 orang 1 orang
2 Agama
Islam 8 orang
3 Pendidikan SMU SMP SD
Tidak pernah sekolah
3 orang 2 orang 2 orang 1 orang 4 Pekerjaan
IRT Petani Pedagang 4 orang 3 orang 1 orang
B. Perawatan Masa Nifas Menurut Adat Jawa
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap delapan partisipan yang memiliki
pengalaman langsung dalam hal perawatan masa nifas, peneliti menemukan empat kategori
perawatan masa nifas yang umumnya dilakukan oleh masyarakat suku Jawa dan telah
diidentifikasi melalui para partisipan, meliputi :
(1) perawatan pemeliharaan kebersihan diri (2) perawatan untuk mempertahankan kesehatan (3)
Adapun menurut mereka, perawatan-perawatan tersebut hanya dilakukan sampai 36 hari
postpartum, yang dalam masyarakat suku Jawa dikenal dengan istilah selapan.
Berikut paparan dari masing-masing kategori perawatan masa nifas dalam masyarakat
suku Jawa :
1. Perawatan pemeliharaan kebersihan diri.
Dari hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara dengan partisipan, maka peneliti
mengetahui ada beberapa jenis perawatan masa nifas yang berhubungan dengan perawatan
pemeliharaan kebersihan diri. Adapun perawatan-perawatan tersebut antara lain : mandi wajib
nifas, irigasi vagina dengan air rebusan daun sirih, serta menapali perut sampai ke vagina dengan
menggunakan daun sirih. Berikut uraian dari macam-macam perawatan tersebut :
Yang pertama adalah mandi wajib nifas. Perawatan yang biasa banyak dilakukan wanita
Jawa pada awal memasuki masa nifas adalah mandi wajib nifas. Dari seluruh partisipan, ada
empat partisipan yang memulai perawatan nifasnya dengan mandi wajib nifas. Mandi wajib nifas
ini dimaksudkan untuk menghilangkan najis setelah proses persalinan. Mandi ini hanya
dilakukan satu kali selama masa nifas, tepatnya esok hari setelah proses persalinan, dan
dilakukan pada pagi hari. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan seorang partisipan berikut ini :
Ya…tadi malam melahirkan, jadi pagi…mandi. Kalo misalnya pagi melahirkan, besok paginya baru mandi.
(Partisipan 1)
Pernyataan tersebut didukung oleh informasi dari partisipan lainnya :
Yang pertama, setelah melahirkan, saya mandi nifas, mandinya pake niat, niat“sengaja aku mandi nifas fardhu karena Allah ta’ala.
Ya kalo yang pertama itukan tadi mandi wajib nifas, untuk ngilangin dari najis, kalo nifas itukan termasuk najis besar istilahnya.
(Partisipan 7)
Perawatan kedua, irigasi vagina dengan menggunakan air rebusan daun sirih. Tujuan dari
perawatan ini adalah untuk menghilangkan kuman dan bau vagina. Air rebusan daun sirih
dipakai sebagai irigari vagina sebelum melakukan mandi wajib nifas dan setiap selesai buang air
kecil maupun air besar. Air rebusan daun sirih, yang digunakan untuk irigasi vagina ini
terkadang bagi sebagian wanita nifas dicampur dengan daun sere. Pernyataan tersebut di atas
sesuai dengan pernyataan partisipan berikut :
Kalo siap melahirkan kita ceboknya pake air sirih, biar bagus, direbus biar hangat, biar kumannya hilang.
(Partisipan 2)
Daun sirih itu juga direbus untuk ceboknya awak, itu dicampur sama sere, biar kemaluan kita nggak bau.
(Partisipan 5)
Kitakan nifas jadi darah kotor kita itu keluar terus, biar jangan bau pake itulah cebok sama daun sirih itu.
(Partisipan 7)
Perawatan ketiga, menapali perut sampai ke vagina dengan menggunakan daun sirih.
Tujuan dari perawatan ini dimaksudkan agar tubuh dan vagina tidak bau. Namun sebelum
ditempelkan ke kulit perut, terlebih dahulu daun sirih diganggang di atas api, kemudian diolesi
dengan minyak makan, agar mudah melekat jika ditempelkan. Pemasangan daun sirih ini
dilakukan setelah pemakaian parem dan sebelum pemasangan gurita. Dari hasil penelitian, ada
tiga partisipan dari delapan partisipan yang masih melestarikan perawatan ini. Hal tersebut di
atas sesuai dengan kutipan wawancara dari partisipan berikut :
(Partisipan 1)
Itu sama biar kemaluan kita nggak bau, pokoknya biar sehatlah badan kita inipun siap melahirkan tetap harum. Udah siap pake parem ya…ditempelkanlah itu daun sirihnya, baru diikat sama gurita biar nggak lepas.
(Partisipan 5)
2. Perawatan untuk mempertahankan kesehatan
Sebagian perawatan yang dilakukan oleh wanita selama masa nifas dilakukan atas dasar
kesadaran pentingnya hidup sehat baik pada saat masa nifas yang sedang dilalui, maupun masa
mendatang setelah wanita selesai melalui masa nifasnya. Adapun perawatan-perawatan yang
dilakukan dengan tujuan menjaga kelangsungan hidup sehat bagi wanita nifas terdiri dari :
pemakaian pilis, pengurutan, walikdada, dan wowongan.
Yang pertama adalah pemakaian pilis. Pemakaian pilis ini merupakan perawatan yang
dilakukan oleh seluruh partisipan. Cara perawatan menggunakan pilis dilakukan dengan
mengolesi kening dengan bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, yang telah dihaluskan.
Aturan pemakaian pilis ini, dalam pengolesannya harus dimulai dari sisi kanan kening, dioles
mengarah ke sisi kiri kening. Ramuan untuk pembuatan pilis berasal dari campuran kayu manis,
delingobengle, bengle, dan pala. Bahan-bahan tersebut dihaluskan dengan cara digiling,
kemudian dibentuk dengan dibulat-bulati, setelah itu dijemur. Jika ingin digunakan maka
diencerkan dengan menggunakan campuran air secukupnya. Namun, dari kedelapan partisipan
hanya dua partisipan yang mengolah sendiri pilis yang dipakainya, enam partisipan lainnya
mendapatkan pilis untuk perawatan mereka dari pasar (tempat penjual bunga). Pemakaian pilis
dipercaya dapat mencegah darah putih naik ke mata. Berdasarkan kepercayaan para partisipan
yang didapat dari para terdahulunya, bila wanita selama masa nifas tidak menggunakan pilis,
maka mata mereka akan rusak, misalnya saja menjadi rabun.
Kalo pilis dari kayu manis, delingubengle, sama bengle, sama pala.
(Partisipan 1)
Pilis dioleskan dikening, ngolesnya dari kening kanan ke kiri.
(Partisipan 4)
Kalo pilis itu biar darah putih nggak naik ke mata, biar mata kita tetap terang, nggak pake-pake kaca mata biarpun udah tua.
(Partisipan 6)
Kalo pilis itu biar darah putih yang keluar siap kita melahirkan itu nggak naik ke mata. Karena kok sampek naik ke mata kita bisa rabun gitu loh bu…
(Partisipan 8)
Tapi kalo saya ini dibeli aja di pajak, jadi awak tinggal make aja.
(Partisipan 8)
Perawatan yang kedua adalah kusuk atau pengurutan. Pada perawatan dengan pengurutan
ini daerah yang diurut adalah seluruh bagian tubuh wanita postpartum, kecuali daerah perut.
Perawatan pengurutan dapat dilakukan pada keesokan hari setelah proses persalinan. Tujuan dari
perawatan ini adalah untuk menghilangkan rasa lelah pasca persalinan. Perawatan pengurutan
harus dilakukan sebanyak lima kali dengan interval tiga hari selama masa nifas. Delapan
partisipan dalam penelitian ini kesemuanya melakukan perawatan pengurutan selama masa
nifasnya. Pernyataan para partisipan tentang perawatan pengurutan ini dapat dilihat dari kutipan
wawancara berikut :
Setelah itu saya dikusuk sama dukun kusuk yang sudah biasa ngusuk perempuan siap melahirkan. Ngusuknya itu satu hari setelah melahirkan, ngusuknya itu pagi-pagi, nggak boleh kalo udah siang, dikusuk sampek 6 kali, yang dari satu hari siap melahirkan sampek lima kali waktunya satu minggu dua kali.
(Partisipan 3)
(Partisipan 5)
Kalo kusuk biasa itupun penting kali juga, karena kalo nggak dikusuk matilah, capeknya nggak hilang-hilang, karena itukan capek kali sih buk ngeden-ngedennya.
(Partisipan 8)
Dan yang ketiga adalah walikdada. Walikdada merupakan istilah yang digunakan
masyarakat suku Jawa untuk mengatakan perawatan pengurutan yang terakhir. Walikdada
merupakan perawatan pengurutan atau kusuk yang keenam selama masa nifas, dan daerah yang
diurut adalah perut. Walikdada dilakukan pada hari ke-36 masa nifas. Manfaat dari walikdada ini
ialah untuk mengembalikan posisi rahim ke posisi normal. Menurut para partisipan, apabila
walikdada tidak dlakukan, maka rahim mereka akan turun. Semua partisipan dalam penelitian ini
memilih walikdada sebagai perawatan nifasnya. Pernyataan tersebut sesuai dengan ungkapan
beberapa partisipan berikut ini :
Ya itulah 36 hari, baru dikusuk lagi. Sebelum itu ya…kusuk-kusuk biasa aja, nanti udah 36 hari baru mbetuli peranakan.
(Partisipan 2)
Kalo walikdada itulah baru kusuk yang untuk mbetuli rahim kita biar jangan kengser kemana-mana gitu…, biar balek lagi ke tempat dulunya kayak awak belum hamil itulah…
(Partisipan 5)
Kalo nggak kusuk itulah nanti yang dibilang orang peranakannya turun, itu ya karna nggak dikusuk siap melahirkan, ya…kusuk yang walikdada itulah.
(Partisipan 6)
Perawatan selanjutnya yaitu Wowongan. Wowongan dalam perawatan postpartum
dilakukan dengan menetesi kedua mata setiap kali selesai keramas dengan air dari ujung tetesan
perawatan wowongan adalah agar mata tidak cepat rusak. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan
para partisipan berikut ini :
Kalo kita habis mandi rambut kita diteteskan ke mata, kalo orang Jawa bilang wowongan. Setiap habis mandi sampek 36 hari, mata kita ditetesi pake rambut basah. Tiga kali-tiga kali, kanan-kiri.
(Partisipan 4)
Terus ya…kalo siap mandi saya disuruh sama mertua, kalo siap mandi itu air rambut siap keramas yang netes-netes ditetesin ke mata, tiga kali-tiga kali, kanan-kiri, biar mata kita nggak cepat rusak.
(Partisipan 6)
Kita itukan keramas jadi dari rambut kita inikan netes-netes air karna keramas itu…itu ya…ditetesin ke mata biar mata kita nggak cepat rusak.
(Partisipan 7)
3. Perawatan untuk menjaga keindahan tubuh
Dari berbagai jenis perawatan yang dilakukan selama masa nifas, ada beberapa jenis
perawatan yang mengandung unsur kosmetika, yaitu perawatan yang dilakukan dengan tujuan
untuk menjaga keindahan bentuk tubuh, atau merupakan upaya untuk mengembalikan bentuk
dari bagian-bagian tubuh ke keadaan semula seperti sebelum hamil. Adapun
perawatan-perawatan tersebut meliputi : pemakaian parem, duduk senden, tidur dengan posisi setengah
duduk, pemakaian gurita, dan minum jamu kemasan.
Perawatan pertama yang dilakukan wanita suku Jawa untuk menjaga keindahan tubuhnya
yaitu dengan pemakaian bedak parem. Bedak parem dipakai dengan cara dilulurkan ke seluruh
tubuh. Bahan untuk pembuatan bedak parem berasal dari ramu-ramuan, yang terdiri dari jahe,
kencur, dicampur dengan beras, kemudian dihaluskan/digiling, lalu dibentuk dengan
dibulat-bulati, setelah itu dijemur. Apabila telah kering, maka dapat digunakan. Namun sebelum
digunakan terlebih dahulu dibasahi dengan perasan air jeruk nipis. Perawatan ini dianggap dapat
tubuh setiap kali selesai mandi. Dan dari hasil wawancara menunjukkan bahwa seluruh
partisipan melakukan perawatan ini selama masa nifasnya. Berikut kutipan wawancara dari
beberapa partisipan :
Parem untuk bedak semua tangan, kaki, badan, biar hangat, nggak mudah masuk angin, badan kitapun cepat padet lagi, nggak melar, balik langsing lagilah badannya.
(Partisipan 3)
Itu nggak usah buat sendiri, biar praktis beli aja di tempat tukang jual-jual bunga, semua pada jual itu, udah taunya itu kalo dibilang mau beli parem…
(Partisipan 5)
Kalo parem itu ditaruh di semua badan biar kencang lagi badan kita, biar hangat, nggak gampang masuk angin.
(Partisipan 5)
Kalo parem bahannya tepung beras, kencur, jahe. Bahan-bahan itu semua ditumbuk, dicampur sama tepung beras, terus dibulat-bulati, dijemur, kalo udah kering ya…udah bisa dipake diairi sama perasan air jeruk nipis”.
(Partisipan 7) Kalo parem itu biar badan kita hangat, nggak mudah masuk angin, biar kencang lagi badan kita siap melahirkan, perut kita yang longgar jadi cepat kecil lagi, nggak turun kulit perut kita. Selama siap melahirkan ini ya…harus pake itulah…kalo udah siap mandi.
(Partisipan 8)
Perawatan kedua, duduk senden. Selama masa nifas wanita tidak dibenarkan melakukan
aktivitas yang berarti, melainkan harus banyak duduk di tempat tidur dengan bantal disusun
dibagian belakang tubuh untuk menopang tubuh agar tetap dalam posisi setengah duduk, dan
kaki dirapatkan. Perawatan ini dimaksudkan untuk menjaga kerapatan vagina. Dari delapan
partisipan, ada empat partisipan yang masih menerapkan perawatan tersebut. Berikut kutipan
wawancara yang diambil dari seorang partisipan :
ngengkang-ngengkang, duduk nggak boleh lasak, kaki diikat pake kain kecil, kayak sapu tangan.
(Partisipan 1)
Pernyataan tersebut didukung oleh pernyataan partisipan lain :
Kalo siap melahirkan gini kita nggak boleh lasak, harus banyak duduk senden di tempat tidur.
(Partisipan 5)
…ya udah…duduk lagilah kita...senden, kayak setengah duduk. Duduknya tapi ditempat tidur dikasi sandaran bantal.
(Partisipan 8)
Perawatan ketiga, tidur dengan posisi setengah duduk. Posisi duduk pada perawatan ini
sama dengan posisi duduk pada duduk senden, namun diterapkan pada keadaan tidur. Hal ini
juga dimaksudkan untuk menjaga kerapatan vagina.
Pernyataan tersebut sesuai dengan ungkapan partisipan sebagai berikut :
…, malampun tidurnya nggak boleh pake bantal satu, harus agak setengah duduk, nggak boleh telentang kayak orang biasa.
(Partisipan 1)
Perawatan keempat adalah perawatan dengan pemakaian gurita. Pemakaian gurita
didaerah perut dilakukan dengan mengikat pada simpul-simpul yang sudah tersedia. Perawatan
ini menurut asumsi masyarakat suku Jawa bermanfaat untuk mempercepat pengecilan perut, dan
agar perut tidak melebar. Pemakaian gurita juga bermanfaat bagi sebagian wanita nifas yang
menapali bagian perutnya dengan daun sirih, agar daun sirih yang tertempel tersebut tidak lepas.
Hal tersebut sesuai dengan ungkapan partisipan berikut :
Kalo perut itulah…dipakein gurita biar perutnya nggak kendur, biar cepat kempes lagi, sekalian untuk ngikat sirih yang ditempeli di perut tadi biar jangan lepas, kalo nggak pake gurita, nggak nempellah sirihnya biarpun udah diolesi minyak makan.
...pake guritalah di perut biar perut kita ini nggak kendor. Biar cepat kecil. Itu diikat kuat biar ketekan perut ini biar cepat kempesnya, kalo nggak gitu lama dia.
(Partisipan 7)
Dan yang kelima minum jamu kemasan. Jamu kemasan yang digunakan untuk perawatan
masa nifas dapat peroleh bebas dari pasaran. Jamu kemasan diolah dengan teknologi modern.
Masyarakat suku Jawa menyebutnya dengan jamu kalengan, karena memang jamu tersebut
dikemas di dalam kaleng. Biasanya dalam satu kemasan kaleng dapat digunakan selama 40 hari
untuk wanita yang sedang dalam masa nifas. Konsumsi dari jamu kemasan dimaksudkan agar
tubuh menjadi sehat dan padat. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan partisipan berikut :
Terus saya minum jamu kalengan yang untuk wanita habis bersalin itu...
(Partisipan 5)
Ada juga jamu kalengan yang cuma untuk orang siap melahirkan, biasanya sebulan udah ganti, itu untuk sebulan aja. Sama kayak perawatan-perawatan yang lainpunkan…cuma sebulan aja, ya kayak pake parem, pilis, segala macamnya itu ya sebulan juga, sampe 36 hari aja.
(Partisipan 6)
4. Perawatan khusus.
Dalam masa nifas, wanita postpartum dalam masyarakat suku Jawa melakukan perawatan
tertentu untuk membantu atau merangsang terjadinya keadaan fisiologis selama masa nifas.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap para partisipan, diketahui bahwa
perawatan-perawatan tersebut antara lain adalah minum kopi dan minum air jamu wejahan.
Selain mandi wajib nifas, sebagian wanita juga memulai perawatan nifasnya dengan
persalinan selesai. Dari delapan partisipan, ada empat partisipan yang mengawali perawatan
nifasnya dengan minum kopi. Adapun kopi yang diminumkan oleh para partisipan merupakan
kopi yang dicampur dengan gula. Menurut mereka tujuan dari minum kopi ini adalah untuk
mempercepat proses pengeluaran darah kotor/gumpalan-gumpalan darah sisa proses persalinan.
Hal ini sesuai dengan pernyataan beberapa partisipan sebagai berikut :
Kalo kopi itu ya…diminum langsung siap melahirkan itu…, biar cepat keluar darah yang gumpal-gumpal itu, darah-darah kotornya. Itu ya…Cuma itu aja, besok-besoknya ya nggak usah lagi.
(Partisipan 2)
Gini ya bu…saya setelah melahirkan hari pertama, pertama-tama yang saya lakukan udah sipa melahirkan dikasi minum kopi, udah disuntik semuakan, pake gurita, minum kopi. Itu maksudnya biar darah-darah sisa melahirkan kita itu yang ada di dalam perut hilang, keluar semua, nggak ada yang ketinggalan, orangtua bilangkan gitu…, kopinya dikasi gula…
(Partisipan 4)
Perawatannya ya pertamanya disuruh minum kopi sama dukun kusuknya, katanya biar darah kotor kita cepat keluar.
(Partisipan 6)
Perawatan selanjutnya adalah minum air jamu wejahan. Jamu wejahan merupakan jamu
yang diolah sendiri, yang ramuannya berasal dari jahe, ketumbar, kunyit, gula jawa, asam jawa,
yang dirajang halus-halus, kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Jika ingin diminum
terlebih dahulu diseduh dengan air panas dan dicampur dengan garam secukupnya. Jamu
wejahan diminum setiap selesai makan (tiga kali sehari). Manfaat dari minum air jamu wejahan
adalah untuk memperlancar dan memperbanyak produksi ASI. Jamu wejahan dapat dikonsumsi
jamu wejahan selama masa nifasnya. Pernyataan-pernyataan tersebut di atas sesuai dengan
pernyataan beberapa partisipan berikut :
Baru duduk minum air jamu wejahan, bahannya dari jahe, ketumbar, kunyit, gula jawa, asam jawa, kasi garam sikit baru diaduk-aduk, itu bahan-bahannya dah diracik, terus ditaruh mangkok ato cangkir besar, diseduh pake air panas baru diminum,…
(Partisipan 1)
Jamu wejahan itu mbuatnya dari jahe, kunyit, asam jawa, gula jawa, diaduk, dikasi garam, terus disiram pake air panas. Itu bahan-bahannya yang tadi diracik dulu, dipotongi kecil-kecil, terus dijemur. Ya kalo udah kering, udah bisa dipake, diseduh, itulah jamu wejahannya. Itu siap melahirkan ya…udah bisa langsung diminum.
(Partisipan 5)
Waktu pertamanya air ASI saya belum keluar, ini…pentil (putting susu) sayapun belum keluar juga, jadi disuruh mamak saya minum jamu wejahan, katanya biar air susu saya banyak.
BAB V PEMBAHASAN
A. Interpretasi dan Diskusi Hasil
Sejak hamil sampai sesudah melahirkan, seorang wanita perlu melakukan
langkah-langkah perawatan agar pada saat hamil maupun setelah melahirkan berada dalam kondisi yang
sehat (Mus