BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

21 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Telinga Dalam

Telinga dalam berada pada bagian petrosus tulang temporal yang bertanggung jawab pada proses pendengaran dan keseimbangan. Telinga dalam atau labirin terdiri dari bagian membran dan bagian tulang. Labirin bagian membran berisi cairan endolimfe yang tinggi kalium dan rendah natrium, sedang labirin bagian tulang berisi cairan perilimfe yang tinggi natrium dan rendah kalium (Moller 2006).

2.1.1 Koklea

Koklea merupakan struktur tulang yang berbentuk spiral menyerupai rumah siput dengan 2,5 sampai 2,75 kali putaran. Aksis dari spiral tersebut dikenal sebagai modiolus. Dasar dari modiolus secara langsung menuju telinga bagian dalam dan terdapat pembuluh darah dan saraf.Serabut saraf kemudian berjalan menerobos suatu lamina tulang yaitu lamina spiralis oseus untuk mencapai sel-sel sensorik organ Corti (Gacek 2009).

Bagian atas adalah skala vestibuli berisi cairan perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh membran Reissner yang tipis. Bagian bawah adalah skala timpani juga mengandung cairan perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh lamina spiralis oseus dan membran basilaris. Cairan perilimfe pada kedua skala berhubungan pada apeks koklea spiralis tepat setelah ujung buntu duktus koklearis melalui suatu celah yang dikenal sebagai helikotrema. Rongga koklea dibagi menjadi tiga bagian oleh duktus koklearis yang panjangnya 35 mm dan berisi cairan endolimfe (Moller 2006; Gacek 2009).

(2)

Terletak di atas membran basilaris dari basis ke apeks adalah organ Corti, yang mengandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ Corti terdiri dari satu baris sel rambut dalam (3000 sampai 3500), tiga baris sel rambut luar (12000) dan sel penunjang. Pada permukaan sel-sel rambut terdapat stereosilia yang melekat pada suatu selubung di atasnya yang cenderung datar, bersifat gelatinosa, dikenal sebagai membran tektoria (Moller 2006; Gacek 2009).

Di bagian tengah membran tektoria disokong oleh limbus, suatu lempeng sel yang tebal yang terletak pada lamina spiralis oseus. Limbus ini juga bertindak sebagai tempat perlengkatan membran Reissner. Tepi bebas membran tektoria melekat erat dengan sel-sel Hansen, membentuk suatu ruang diantara sel rambut dengan membran tektoria yang berisi silia sel-sel rambut (Moller 2006; Gacek 2009).

Sel-sel rambut menerima beberapa ujung-ujung neuron yang membentuk suatu anyaman disekitar basis. Dijumpai dua tipe ujung saraf, satu berfungsi eferen dan yang lain aferen. Satu neuron akan membagi diri dan berakhir pada sejumlah sel-sel rambut. Neuron-neuron berjalan melalui kanalikuli pada lamina spiralis oseus (Moller, 2006; Gacek 2009).

Setiap bagian disepanjang koklea memiliki struktur dasar yang sama, namun didapati perbedaan karakter berdasarkan fungsinya yang berkembang mulai dari base koklea sampai apeks. Yang pertama, bagian yang kira-kira sepuluh kali lebih lebar pad base dibandingkan di apeks. Kedua, bagian yang memiliki massa lebih banyak di base dibandingkan di apeks dan berfungsi untuk meningkatkan ukuran dan jumlah sel penunjang di organ Corti. Terakhir, bagian dimana base lebih kaku dibanding dengan apeks, lebih besar oleh karena sifat yang dimiliki membran basilaris (Moller 2006; Gacek 2009).

(3)

2.2 Fisiologi Pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga, dialirkan ke liang telinga dan mengenai membran timpani sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan kerangkaian tulang pendengaran ‘ossicle’ yang akan mengamplifikasi getaran tersebut. Selanjutnya stapes menggerakkan tingkap lonjong (foramen ovale) yang juga menggerakkan perilimfe dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui membrana Reissner yang mendorong endolimfe dan membrana basal ke bawah. Perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap bundar (foramen Rotundum) terdorong kearah luar (Adenan 1983).

Skala media yang menjadi cembung mendesak endolimfe dan mendorong membran basal sehingga menjadi cembung kebawah dan menggerakkan perilimfe pada skala timpani. Pada waktu istirahat ujung sel rambut berkelok-kelok dan dengan berubahnya membran basal, ujung sel itu menjadi lurus. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perubahan ion kalium dan ion natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang-cabang nervus VIII yang kemudian meneruskan rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran diotak (area 39-40) melalui syaraf pusat yang ada di lobus temporalis (Adenan 1983).

2.3 Gangguan Pendengaran Akibat Bising

Gangguan pendengaran akibat bising (GPAB) sering dijumpai pada pekerja industri yang belum menerapkan sistem perlindungan pendengaran dengan baik. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang dalam upaya meningkatkan pembangunan banyak menggunakan peralatan industri yang dapat membantu dan mempermudah pekerjaan. Sebagai akibatnya, timbul bising lingkungan kerja yang dapat berdampak buruk terhadap para pekerja. Menurut OSHA (Occupational Safety & Health Administration) batas aman pajanan bising bergantung pada lama pajanan, frekuensi dan intensitas

(4)

bising serta kepekaan individu dan beberapa faktor lain. Di Indonesia khususnya dan negara lain umumnya, pajanan bising yang dianggap cukup aman adalah pajanan rata-rata sehari dengan intensitas bising tidak melebihi 85 dB selama 8 jam sehari atau 40 jam seminggu (Bashiruddin 2010).

GPAB ialah kurang pendengaran atau tuli akibat pajanan bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama, biasanya disebabkan oleh bising lingkungan kerja (Krishnamurti 2009; Muyassaroh 2011). Sifat ketuliannya adalah tuli sensorineural tipe koklea dan umumnya terjadi pada kedua telinga (Bashiruddin 2010; Sen 2010). Faktor risiko yang berpengaruh pada derajat parahnya ketulian ialah intensitas bising , frekuensi, lama paparan perhari, lama masa kerja, kerentanan individu, umur dan jenis bising (Kujawa 2006 ; Ologe 2008; Carmelo 2010). Berdasarkan hal tersebut dapat dimengerti bahwa jumlah paparan energi bising yang di terima akan sebanding dengan kerusakan yang didapat (Daniel 2007; Muyassaroh 2011). GPAB adalah penyakit akibat kerja yang sering dijumpai pada banyak pekerja industri. Gangguan pendengaran ini biasanya bilateral tetapi tidak jarang yang terjadi unilateral. Gangguan biasanya mengenai nada tinggi dan terdapat takik di frekuensi 4000 Hz pada gambaran audiogramnya (Moller, 2006). Pada tahap awal gangguan ini hanya dapat dideteksi dengan pemeriksaan audiometri. Gejala awal biasanya adanya keluhan berdenging di telinga, gangguan pendengaran jenis sensorineural ini terjadi akibat kerusakan struktur di koklea yaitu kerusakan pada sel-sel rambut di Organ Corti. GPAB dapat terjadi mulai ringan sampai berat akibat pajanan bising yang berlangsung lama, yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel rambut juga terjadi bertahap, perlahan-lahan sehingga tidak disadari oleh para pekerja (Ferrite 2005; Hong 2007; Daniel, 2007). Pada tahap yang berat dapat mengganggu komunikasi, sehingga mempengaruhi kehidupan sosialnya. GPAB ini bersifat menetap dan tidak dapat disembuhkan, oleh karena itu pencegahan sangat penting (Bashiruddin 2010; Attarchi 2010).

(5)

Kemajuan dalam bidang teknologi sejak tiga dekade terakhir ini menyebabkan peningkatan bahaya bising baik dalam jumlah, intensitas, kecepatan dan jumlah orang yang terpajan bising, terutama di negara industri dan negara maju (Nandi 2008; Ketabi 2010). Penelitian-penelitian yang dilakukan secara terpisah-pisah, menunjukkan prevalensi terjadinya gangguan pendengaran akibat bising di tempat kerja berkisar antara 10-30%. Masalah yang dihadapi adalah banyak perusahaan sebagai sektor formal yang belum melakukan Program Konservasi Pendengaran, sebagai perlindungan terhadap pekerjanya, sehingga risiko terjadinya gangguan pendengaran pada pekerja akan meningkat. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala, antara lain adalah kurangnya kesadaran para pekerja tentang bahaya timbulnya gangguan pendengaran akibat bising di tempat kerja (Mallapiang 2008; Bashiruddin 2010).

2.4 Bising

Bising memiliki pengertian baik secara physical, physiological dan psychological yang masing-masing berbeda. Secara fisik bising merupakan bunyi kompleks yang memiliki periodisitas yang kecil atau tidak sama sekali yang dapat diukur atau dianalisa. Secara fisiologi dapat diartikan sebagai signal yang tidak memiliki informasi dan memiliki berbagai intensitas yang acak. Sedangkan secara psikologi bising merupakan bentuk suara atau bunyi apapun tanpa memandang jenis gelombangnya, dimana bunyi tersebut mengganggu atau tidak dikehendaki (Atmaca 2005; Seidman 2010)

Bunyi dinilai sebagai bising sangatlah relatif sekali, suatu contoh misalnya: musik di tempat-tempat diskotik, bagi orang yang biasa mengunjungi tempat itu tidak merasa suatu kebisingan, tetapi bagi orang-orang yang tidak pernah berkunjung di tempat diskotik akan merasa suatu kebisingan yang mengganggu (Yahya 2012).

(6)

Bising sama seperti bunyi, memiliki durasi tertentu, spektrum frekuensi yang diukur dalam Hertz (Hz), intensitas diukur dalam Sound Level Meter dengan satuan besaran yang dinyatakan dalam desibel (dB).

Berdasarkan sifat dan spektrum frekuensi bunyi, bising dapat dibagi atas (Buchari 2007)

1. Bising kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas. Bising ini relatif tetap dalam batas kurang lebih 5 dB untuk periode 0,5 detik berturut-turut. 2. Bising yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang sempit. Bising ini relatif tetap, akan tetapi hanya mempunyai frekuensi tertentu saja (pada frekuensi 500, 1000, dan 4000 Hz).

3. Bising intermitten. Bising disini tidak terjadi secara terus menerus, melainkan ada periode relatif tenang.

4. Bising impulsif. Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengaran.

5. Bising impulsif berulang. Sama dengan bising impulsif, hanya saja disini terjadi secara berulang-ulang.

(7)

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER. 13 tahun 2011 tentang nilai ambang batas faktor fisik dalam lingkungan kerja, termasuk didalamnya tentang kebisingan (KEPMEN, 2011).

Tabel 2.1. Intensitas bunyi dan waktu paparan yang diperkenankan (KEPMEN,2011) .

Intensitas Bising

(dB)

Waktu paparan perhari

(jam)

85 8

88 4

91 2

94 1

2.5 Patogenesis dan Histopatologi

Mekanisme dasar terjadinya GPAB merupakan kombinasi dari faktor mekanis dan metabolik yakni adanya paparan bising kronis yang merusak sel rambut koklea dan perubahan metabolik yang menyebabkan hipoksia akibat vasokontriksi kapiler oleh karena bising (Ferrite, 2005). Gangguan pendengaran akibat bising juga merupakan interaksi dari faktor lingkungan dan faktor genetik (Laer 2006).

Penilaian GPAB secara histopatologi menunjukkan adanya kerusakan pada organ korti dikoklea terutama sel-sel rambut. Kerusakan yang terjadi pada struktur organ tertentu bergantung pada intensitas dan lama paparan. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar separti stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kaku. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan di jumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya

(8)

stereosilia, kerusakan pada stria vaskular, kolaps sel-sel penunjang, hilangnya jaringan fibrosit dan kerusakan serabut saraf (Kujawa 2009; Daniel 2007).

2.5.1 Kerusakan sel-sel rambut koklea

Paparan bising secara primer akan merusak sel-sel rambut koklea. Pada awalnya kerusakan terjadi pada sel-sel rambut luar, namun jika paparan bising terus berlanjut kerusakan dapat merusak sel-sel rambut dalam. Pada kasus-kasus yang berat, dapat terjadi kerusakan total dari sel-sel organ korti (Gambar 2.1, 2.2, 2.3). Daerah yang paling sering mengalami kerusakan biasanya sekitar 10-30 mm dari tingkap bundar (Gambar 2.4). Daerah inilah frekuensi antara 3-6 kHz diterima, dimana dapat dijelaskan pada frekuensi 4 kHz sering terjadi takik yang menggambarkan gangguan pendengaran akibat bising (Maltby 2005).

Gambar 2.1. Kerusakan organ korti karena paparan bising: (a) organ korti normal; (b) sel rambut luar tampak menghilang; (c) sel rambut luar dan dalam menghilang dan struktur penunjang kolaps; (d) Keseluruhan organ korti kolaps. (Maltby 2005)

(9)

Gambar 2.2. Kerusakan minimal pada sel-sel rambut luar (Maltby 2005)

Gambar 2. 3. Kerusakan sel-sel rambut luar yang luas dan minimal pada sel-sel rambut dalam (Maltby 2005)

(10)

Gambar 2.4 (A) Telinga; (B) Daerah koklea yang paling sering mengalami kerusakan akibat paparan bising (Kurmis 2007)

2.6 Gejala

Dampak bising akan menyebabkan hilangnya pendengaran yang bisa disertai dengan tinitus. Berat gangguan pendengaran berhubungan dengan

(11)

keparahan tinitus. (Mazurek 2010). Biasanya gangguan pendengaran akibat bising ini diketahui dengan adanya penurunan kemampuan berkomunikasi (seringnya dikenali oleh anggota keluarga atau orang-orang terdekatnya) dan kegiatan sehari-hari seperti menonton televisi dan penggunaan telepon. Secara klinis gangguan pendengaran akibat bising menunjukkan penurunan pengenalan suara pada frekuensi tinggi. Hal ini dapat menyebabkan penderita malah jatuh pada perasaan terisolasi dan depresi dari lingkungan sekitar dari pada mencari pengobatan untuk pendengaran. GPAB bersifat sensorineural, hampir selalu bilateral (Humann 2011).

Derajat ketulian menurut International Standard Organization (ISO) : 1. Normal : peningkatan ambang batas antara 0 -<25 dB 2. Tuli ringan : peningkatan ambang batas antara 26-40 dB 3. Tuli sedang : peningkatan ambang batas antara 41-55 dB 4. Tuli sedang berat : peningkatan ambang batas antara 56-70 dB 5. Tuli berat : peningkatan ambang batas antara 71-90 dB 6. Tuli sangat berat : peningkatan ambang batas antara >90 dB

2.7 Bising dan Gangguan Pendengaran

Bising berpengaruh terhadap tenaga kerja, sehingga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan secara umum, antara lain gangguan pendengaran, gangguan fisiologi lain serta gangguan psikologi (Nadya 2010).

Gangguan fisiologi dapat berupa peningkatan tekanan darah, percepatan denyut nadi, peningkatan metabolisme basal, vasokonstriksi pembuluh darah, peningkatan peristaltik usus serta peningkatan ketegangan otot (Penney 2004; Atmaca 2005; Mallapiang 2008). Efek fisiologi tesebut dapat disebabkan oleh peningkatan rangsang sistem saraf otonom. Keadaan ini sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap keadaan bahaya yang terjadi spontan (Bashiruddin 2010).

(12)

Gangguan psikologi dapat berupa stres tambahan apabila bunyi tersebut tidak diinginkan dan mengganggu, sehingga menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan melelahkan. Hal tersebut diatas dapat menimbulkan gangguan sulit tidur, emosional, gangguan komunikasi dan gangguan konsentrasi yang secara tidak langsung dapat membahayakan keselamatan tenaga kerja (Cook 2006; Huboyo 2008)

Bashiruddin, J. (2009) dalam tulisannya menyebutkan bahwa beberapa faktor risiko yang berpengaruh pada derajat parahnya ketulian pekerja ialah intensitas bising, frekuensi, lama pajanan perhari, lama masa kerja, kepekaan individu, umur dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian. Penelitian yang dilakukan oleh Juwarna, W. (2012) untuk melihat besaran risiko intensitas kebisingan terhadap terjadinya GPAB di pabrik kelapa sawit memperoleh hasil bahwa pekerja yang bekerja dengan intensitas kebisingan >85 dB berisiko 6,67 kali akan mengalami GPAB dibandingkan pekerja yang bekerja dengan intensitas kebisingan ≤85 dB (RP=6,67).

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa usia dan masa kerja merupakan faktor risiko bagi pekerja untuk mengalami GPAB. Pekerja yang berumur >35 tahun berisiko 3 kali mengalami GPAB dibandingkan pekerja yang berumur ≤35 tahun, sedangkan pekerja dengan masa kerja >10 tahun mempunyai risiko mengalami GPAB 9,5 kali dibandingkan dengan pekerja dengan masa kerja ≤10 tahun.

Penelitian tentang hubungan kebisingan terhadap fungsi pendengaran pekerja, juga dilakukan oleh Salfi, E. (2013). Dari hasil uji statistik yang dilakukan, ditemukan bahwa usia dan masa kerja berpengaruh terhadap fungsi pendengaran pekerja. Sedangkan intensitas bising tidak ada hubungannya terhadap fungsi pendengaran pekerja.

Hubungan keterpaparan musik diskotik dengan kemampuan pendengaran pekerja telah diteliti oleh Adnan, Z. (2001). Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa intensitas suara rata-rata di ruang kerja intensitas tinggi telah melebihi

(13)

nilai ambang batas yang diperkenankan (>85 dB). Namun dari hasil penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan keterpaparan bising dengan terjadinya noise induce hearing loss (NIHL) dan kerusakan telinga binaural.

2.8 Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, riwayat pekerjaan, pemeriksaan fisik dan otoskopi serta pemeriksaan penunjang untuk pendengaran seperti audiometri (Bashiruddin, 2007).

Anamnesis pernah atau sedang bekerja di lingkungan bising dalam jangka waktu yang cukup lama biasanya lima tahun atau lebih. Pada pemeriksaan otoskopi tidak dijumpai adanya kelainan. Pada pemeriksaan audiologi, tes penala didapatkan hasil rinne tes positif, weber lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik dan tes schwabah memendek. Kesan jenis ketuliannya tuli sensorineural. Pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan tuli sensorineural pada frekuensi antara 3000-6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz sering terdapat takik (Nandi 2008; Bashiruddin 2007).

2.8.1 Penentuan ambang dengar

Persiapan

Karyawan perlu diberitahu akan rencana pemeriksaan noise dosimeter, sehingga mereka mengerti tujuan dari pemasangan noise dosimeter dan cara menempatkan alat tersebut.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terhadap penilaian ambang dengar manual antara lain (a) instruksi kepada karyawan, (b) respon terhadap arahan, dan (c) interpretasi audiologist terhadap sikap respon karyawan selama pemeriksaan.

Prosedur dasar untuk menentukan ambang dengar terdiri dari:

a) familiarisasi (membiasakan diri) terhadap signal pemeriksaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan audiologis bahwa pasien mengerti dan

(14)

dapat merespon arahan yang diberikan dengan cara memberikan signal dengan intensitas yang cukup menimbulkan respon yang jelas. b) Penentuan ambang dengar. Prosedur standar yang direkomendasikan

pada pemeriksaan dengan menggunakan audiometri nada murni secara bertahap yang dimulai dengan signal yang tidak dapat didengar. Stimulis nada murni diberikan selama 1 – 2 detik. Ambang dengar didapat dengan menentukan bunyi nada murni yang terlemah pada frekuenasi tertentu yang masih dapat didengar oleh telinga pasien.

2.8.2 Karakteristik audiometri pada tuli akibat bising

Pada pemeriksaan audiometrik, GPAB memberikan gambaran yang khas yaitu notch (takik) berbentuk ‘V’ atau ‘U’ sering diawali pada frekuensi 4000 Hz, tapi kadang-kadang 6000 Hz, yang kemudian secara bertahap semakin dalam dan selanjutnya akan menyebar ke frekuensi didekatnya, dimana khasnya didapati perbaikan pada 8000 Hz. Hal inilah yang membedakannya dari prebiaskusis (HSA, 2007).

(15)

2.9 Noise Dosimeter

Gambar 2.6 Noise Dosimeter

Noise Dosimeter adalah alat yang dipakai untuk mengukur tingkat

kebisingan yang dialami pekerja dengan memiliki jam, kalkulator dan memori untuk menyimpan data yang diukur dan dihitung. Jam mencatat waktu, kalkulator menghitung dosis,TWA, dan data lainnya. Dosimeter juga memiliki mikrofon, amplifier, weighting network, dan respon cepat / lambat sama seperti untuk SLM.

Prinsip kerja Noise Dosimeter adalah dengan cara mikropon diarahkan ke sumber suara, setinggi telinga, agar dapat menangkap kebisingan. Cara pemakaiannya adalah sebagai berikut:

1. Sediakan noise dosimeter yang sebelumnya telah dikalibrasi. 2. Alat dipasang dan diatur manual selama 1 jam.

(16)

3. Ketika Noise Dosimeter dihidupkan, display menunjukkan threshold,

exchange rate, criteria level (LC), response, weighting dan dose secara

berurutan. Parameter ini merupakan parameter perhitungan kebisingan. 4. Jika pengukur tidak hidup ketika tombol power ditekan. Periksa baterai

apakah dalam keadaan terpasang dan dalam kondisi yang baik. 5. Setelah selesai , kita tekan tombol Run maka data akan tersimpan.

2.10 Program Konservasi Pendengaran

Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga terhadap bising seperti sumbat telinga (earplug), tutup telinga (earmuff) dan pelindung kepala (helmet). (Bashiruddin, 2007).

Program konservasi pendengaran (PKP) adalah rangkaian kegiatan yang sistematik dan bertujuan untuk mencegah terjadinya ketulian pada pekerja yang terpapar kebisingan tinggi dalam lingkungan industri. Kebisingan yang tinggi diartikan berada pada atau diatas 85 dB dimana ditetapkan untuk pemaparan 8 jam per hari dan 40 jam per minggu. (Dir.Bina Kesehatan Kerja, Depkes RI. 2006)

Pada prinsipnya ada lima elemen pokok PKP ditambah dengan tiga pelengkap sehingga secara keseluruhan diberikan sebagai berikut:

Penilaian awal

Pemantauan pajanan kebisingan

Pengendalian kebisingan secara teknik dan administratif Pendidikan dan motivasi pekerja

Perlindungan telinga

(17)

Pencatatan dan pelaporan data Evaluasi program

2.10.1 Penilaian awal

Penilaian awal (initial review) adalah langkah pertama yang dilakukan dalam persiapan PKP di perusahaan. Langkah ini pada dasarnya adalah menginventarisasikan semua sumberdaya yang ada baik perangkat keras maupun perangkat lunak.

2.10.2 Pemantauan pajanan kebisingan

Ada beberapa jenis pajanan kebisingan yakni: Survei kebisingan dasar (basic noise survey) Survei kebisingan detail

Survei sumber kebisingan engineering

Survei kebisingan dasar dapat mengindentifikasi lokasi kerja dimana kebisingan tidak merupakan problem atau berpotensi memberikan gangguan pendengaran kepada para pekerja. Survei detail dapat menggunakan alat sound level meter (SLM). Peralatan lain yang dapat dipergunakan pada survei kebisingan adalah octave band analyzer dan noise dosimeter.

Survei kebisingan harus dapat memberikan gambaran kebisingan (noise map) pada seluruh lokasi kerja.

2.10.3 Pengendalian kebisingan

Pengendalian kebisingan dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:

Pengendalian pada sumber bising: disain akustik, substitusi peralatan dengan kebisingan yang lebih rendah, mengganti / modifikasi proses produksi

(18)

Pengendalian pada jalur hantaran bising: mengatur jarak pekerja, menutup sumber bising

Pengendalian pada penerima (pekerja): alat pelindung telinga, membuat tempat khusus yang terlindung bising, rotasi pekerja sehingga tidak melampaui NAB dari segi waktu pemaparan, mengganti jadwal kerja karyawan

2.10.4 Pendidikan dan motivasi pekerja

Pendidikan dan motivasi pekerja merupakan kegiatan pokok yang amat penting dalam PKP. Tanpa elemen ini PKP mungkin mengalami kegagalan karena para pekerja mungkin tidak akan mengerti tentang manfaat program dan alasan mengapa mereka harus bekerjasama dengan para petugas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan dalam pendidikan dan motivasi:

Pendidikan dan motivasi dilaksanakan setelah mendapatkan data pemaparan dan noise map dengan memperlihatkan risiko yang ada serta kebijakan perusahaan dalam hal tersebut.

Sebaiknya dilakukan sebelum kegiatan lain seperti pengendalian, audiometrik dan penggunaan alat pelindung telinga (APT).

Manajemen mensosialisasikan komitmen perusahaan tentang PKP dengan sistem insentif dan dis-insentifnya

Pendidikan dan motivasi bagi para penyelia dan level manajemen. Manajemen memberikan pelatihan tentang PKP pada para pelaksana

PKP.

Materi yang diberikan disesuaikan dengan perkembangan yang ada dan menggambarkan bahwa ketajaman pendengaran mempengaruhi kualitas hidup pekerja serta memiliki arti penting secara personal maupun sosial.

(19)

2.10.5 Perlindungan telinga

Salah satu upaya perlindungan telinga adalah dengan menggunakan alat yang disebut alat pelindung telinga (APT). APT adalah garis pertahanan pertama terhadap kebisingan apabila pengendalian rekayasa dan administrative tidak atau belum berhasil mengurangi intensitas kebisingan sampai taraf yang aman. APT dapat mencegah ketulian hanya bila dipakai dengan baik dan diawasi dengan baik.

Pemakaian APT hendaklah dengan pengawasan dan sangsi yang tegas dari pihak pimpinan perusahaan. Bila tidak, maka kemungkinan besar APT ini akan gagal dalam melindungi pekerja. Sebaiknya pemakaian APT bagi mereka yang diharuskan merupakan sarat mutlak pekerjaan dan kepegawaian. Hal ini lebih dikenal dengan prinsip no ear plug no work – tidak memakai APT tidak boleh bekerja.

2.10.6 Pemantauan ketajaman pendengaran

Pemantauan ketajaman pendengaran diukur dengan audiometri. Hasil pengukuran audiometri – disebut audiogram – berkaitan dengan segenap upaya PKP. Audiometri bertujuan untuk menguji ketajaman pendengaran seseorang. Apabila PKP tidak efektif maka akan banyak anggota yang mengalami penurunan ketajaman pendengaran dan mengalami akibat paparan bising.

Evaluasi audiometrik dapat memberikan informasi yang terpercaya apabila dilakukan secara tepat dengan memakai audiometer yang terkalibrasi dan diselenggarakan oleh mereka yang terlatih.

2.10.7 Pencatatan dan pelaporan

Dokumentasi yang baik dari program PKP diperlukan untuk penilaian program, inspeksi dan audit atau proses verifikasi untuk mendapatkan

(20)

kompensasi karena NIHL. Perlu diperhatikan bahwa dokumentasi ini terkait dengan semua kegiatan bukan merupakan aktifitas tersendiri.

2.10.8 Evaluasi program

Evaluasi PKP dapat dilakukan dengan dua pendekatan yakni pendekatan individual dan pendekatan program. Pendekatan individual dilakukan dengan mempelajari audiogram tahunan para peserta PKP. Bila terjadi penurunan ketajaman pendengaran maka mungkin ada kegagalan dalam implementasi program bagi individu tertentu.

Dalam evaluasi audiogram oleh dokter perusahaan atau konsultan, mungkin akan didapatkan adanya gejala ketulian (lost hearing). Bila ada gejala ketulian pada para pekerja yang menadi anggota PKP, maka dokter perusahaan atau konsultan harus mengadakan kajian lebih lanjut apakah ketulian ini berhubungan dengan pekerjaan yakni akibat kebisingan (NIHL = noise induce hearing loss)

(21)

2.11 Kerangka Teori

Diatas NAB (>85dB) Dibawah NAB (<85 dB) ((>85dB)

Auditori Non- Auditori Aman

Gangguan Fisiologi Gangguan Psikologi Kerusakan sel rambut luar koklea Gangguan Pendengaran Akibat Bising

Peningkatan: tekanan darah, denyut nadi, metabolisme basal, peristaltik usus, ketegangan otot Gangguan: sulit tidur, emosional,

komunikasi, konsentrasi Kebisingan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :