Pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan eksplanasi dan regulasi diri pada mata pelajaran IPA kelas V SD N Percobaan 3 Pakem Yogyakarta - USD Repository

167 

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP

TERHADAP KEMAMPUAN EKSPLANASI DAN REGULASI DIRI

PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD N PERCOBAAN 3 PAKEM YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun oleh: Mita Heny Oktavia

101134223

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP

TERHADAP KEMAMPUAN EKSPLANASI DAN REGULASI DIRI

PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD N PERCOBAAN 3 PAKEM YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun oleh: Mita Heny Oktavia

101134223

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Dengan tulus karya ini saya persembahkan kepada :

 Ayah dan ibuku yang selalu memberikan kasih sayang dan doa yang

sungguh luar biasa

 Adik-adikku yang selalu memberikan dukungan dan semangat

 Saudara-saudaraku yang selalu memberikan nasehat dan dukungan

 Guru-guruku yang telah membimbing

 Sahabat-sahabatku yang telah memberi motivasi dan banyak bantuan

 Semua teman-teman PGSD angkatan 2010 yang telah memberikan

(6)

v

MOTTO

Tidak ada yang terlalu tinggi untuk dicapai manusia, tapi ia harus

memanjatnya dengan hati-hati & penuh keyakinan

-H.C.Andersen-

Anda harus mencintai diri Anda sendiri terlebih dahulu untuk bisa

menyelesaikan apapun yang Anda lakukan di dunia ini

-Lucille Ball-

Urusan kita dalam kehidupan bukanlah mendahului orang lain, tetapi

maju mendahului diri sendiri

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya yang saya tulis tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan pada daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 12 Juni 2014 Penulis

(8)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Mita Heny Oktavia Nomor mahasiswa : 101134223

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul:

“PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP TERHADAP

KEMAMPUAN EKSPLANASI DAN REGULASI DIRI PADA MATA

PELAJARAN IPA KELAS V SD N PERCOBAAN 3 PAKEM YOGYAKARTA” beserta perangkat yang diperlukan (bila ada).

Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya, selama tetap mencatumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 12 Juni 2014 Yang menyatakan,

Mita Heny Oktavia

(9)

viii

ABSTRAK

Oktavia, Mita Heny. (2014). Pengaruh Penggunaan Metode Mind Map terhadap Kemampuan Eksplanasi dan Regulasi diri pada Mata Pelajaran IPA kelas V SD N Percobaan 3 Pakem Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma.

Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengujicobakan metode mind map terhadap kemampuan eksplanasi dan regulasi diri pada siswa kelas V di SD N Percobaan 3 Pakem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mind map terhadap 1) kemampuan eksplanasi dan 2) kemampuan

regulasi diri peserta didik kelas V SD N Percobaan 3 Pakem pada semester genap tahun pelajaran 2013/2014 mata pelajaran IPA materi pesawat sederhana. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi-experimental design

tipe non-equivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD N Percobaan 3 Pakem. Sampel penelitian terdiri dari kelas VA sebanyak 32 siswa sebagai kelompok eksperimen dan kelas VB sebanyak 32 siswa sebagai kelompok kontrol.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Penggunaan mind map

berpengaruh terhadap kemampuan eksplanasi. Hal ini ditunjukkan dengan harga

(10)

ix ABSTRACT

Oktavia, Mita Heny. (2014). The Effect of Using Mind Map Methods for the Student’s Explanations and Self Regulation of Science at Percobaan 3 Pakem Elementary School Grade Fifth. Thesis. Yogyakarta: Elementary Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University.

The background of this study was to test the trialed mind map methods for the student’s interpretation and analysis skill of Science at Panghudi Luhur Elementary School Grade Fifth. The aim of this study is to find out the effect of using mind map for: 1) explanation ability and 2) self regulation ability of student in 5th grade at SD N Percobaan 3 Pakem in second semester 2013/2014 science lesson about simple machine material. This research is belongs to quasi-experimental design type non-equivalent control group design. The population was all of the students of grade fifth at Percobaan 3 Pakem Elementary School. The samples were 32 students of Class VA as a experimental group and 32 students of Class VB as an control group.

The result of research shows that 1) Using mind map having an affect on explanation skill. This is referred by sig. (2-tailed) that is 0,002 (p < 0,05) with M

= 0,68; SE = 0,09; SD = 0,54 for experimental group and M = 0,27; SE = 0,09; SD = 0,48for control group. The improve is 62,25% with coefficient corelation r = 0,79. 2) Using mind map having an affect on self regulation skill.This is referred by sig values (2-tailed) that is 0,011 (p <0,05) with M = 0,55; SE = 0,1; SD = 0,55 for experimental group and M = 0,09; SE = 0,14; SD = 0,82 for control group. The improve is 25,40% with coefficient corelation r = 0,504.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmad-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP

TERHADAP KEMAMPUAN EKSPLANASI DAN REGULASI DIRI PADA

MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD N PERCOBAAN 3 PAKEM YOGYAKARTA” ini dengan baik. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk

memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti mengucapkan terima kasih kepada :

1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. G. Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A., Ketua Kaprodi Studi Pendidikan

Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma sekaligus sebagai dosen pembimbing I yang telah memberikan arahan, motivasi, dan sumbangan pemikiran yang penulis butuhkan dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah memberikan banyak bantuan. 4. Agnes Herlina D.H., S.Si., M.T., M.Sc., selaku dosen pembimbing II yang

telah memberikan bantuan ide, kritik, saran, masukan, serta bimbingannya yang sangat berguna selama penelitian ini.

5. Drs. Paulus Wahana, M.Hum. selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Dra. Sudaryatun, M.Pd. selaku kepala sekolah SD N Percobaan 3 Pakem yang telah mengijinkan peneliti untuk melakukan penelitian ini.

(12)

xi 8. Siswa kelas VA dan VB SD N Percobaan 3 Pakem yang telah bersedia

menjadi subjek penelitian.

9. Bapak, Ibu, dan adik-adik yang selalu memberi doa dan dukungan kepada peneliti.

10. Teman-teman satu payung mind map yang selalu berbagi pengetahuan dan saling memotivasi.

11. Teman-teman PPL di SD N Percobaan 3 Pakem yang telah memberikan semangat kepada peneliti.

12. Semua pihak yang telah memberikan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Semoga skripsi ini juga dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi Program Studi PGSD Universitas Sanata Dharma.

Yogyakarta, 12 Juni 2014 Peneliti,

(13)

xii

KATA PENGANTAR ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

1.5 Definisi Operasional... 6

BAB II LANDASAN TEORI ... 7

2.1 Tinjauan Pustaka ... 7

2.1.1 Teori-Teori yang Mendukung ... 7

2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak ... 7

2.1.1.2 Metode Pembelajaran ... 9

2.1.1.3 Mind Map ... 10

2.1.1.4 Berpikir Kritis ... 13

2.1.1.5 Ilmu Pengetahuan Alam ... 15

2.1.1.6 Materi IPA Pesawat Sederhana ... 17

2.1.2 Penelitian-penelitian yang Relevan ... 19

2.1.2.1 Penelitian Tentang Mind Map ... 19

2.1.2.2 Penelitan Tentang Berpikir Kritis ... 21

2.1.2.3 Literature Map ... 22

2.2 Kerangka Berpikir ... 23

(14)

xiii

BAB IIIMETODE PENELITIAN ... 25

3.1 Jenis Penelitian ... 25

3.2 Setting Penelitian ... 27

3.3 Populasi dan Sampel ... 28

3.4 Variabel Penelitian ... 29

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 29

3.6 Instrumen Penelitian... 30

3.7 Teknik Pengujian Instrumen ... 33

3.7.1 Uji Validitas ... 33

3.7.2 Uji Reliabilitas ... 34

3.8 Teknik Analisis Data ... 35

3.8.1 Uji Normalitas Data ... 35

3.8.2 Uji Pengaruh Perlakuan... 36

3.8.2.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ... 36

3.8.2.2 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest ... 37

3.8.3 Analisis Lebih Lanjut ... 38

3.8.3.1 Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest... 38

3.8.3.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan (Effect Size) ... 39

3.8.3.3 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan... 40

3.8.3.4 Dampak Perlakuan pada Siswa ... 41

3.8.3.5 Konsekuensi Lebih Lanjut ... 42

BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 43

4.1 Implementasi Pembelajaran ... 43

4.1.1 Kelompok Kontrol ... 44

4.1.2 Kelompok Eksperimen ... 45

4.2 Hasil Penelitian ... 46

4.2.1 Pengaruh Penggunaan Mind map terhadap Kemampuan Eksplanasi ... 47

4.2.1.1 Uji Normalitas Data ... 47

4.2.1.2 Uji Pengaruh Perlakuan ... 48

1. Uji Perbedaan Kemampuan Awal ... 48

2. Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I ... 49

4.2.1.3 Analisis lebih Lanjut ... 51

1. Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I ... 51

2. Uji Besar Pengaruh Perlakuan ... 52

3. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan... 53

(15)

xiv

4.2.2.1 Uji Normalitas Data ... 54

4.2.2.2 Uji Pengaruh Perlakuan ... 55

1. Uji Perbedaan Kemampuan Awal ... 55

2. Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I ... 56

4.2.2.3 Analisis Lebih Lanjut ... 58

1. Uji Peningkatan Skor Pretest ke PosttestI ... 58

2. Uji Besar Pengaruh Perlakuan ... 59

3. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan pada Kemampuan Regulasi Diri ... 60

4.3 Pembahasan ... 61

4.3.1 Pengaruh Penerapan Mind Map Terhadap Kemampuan Eksplanasi ... 61

4.3.2 Pengaruh Penerapan Mind Map Terhadap Kemampaun Regulasi Diri ... 63

4.3.3 Dampak Perlakuan Terhadap Siswa ... 64

4.3.4 Konsekuensi Lebih Lanjut ... 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 68

5.1 Kesimpulan ... 68

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 69

5.3 Saran ... 69

DAFTAR REFERENSI ... 70

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data ... 27

Tabel 3.2 Matriks Pengembangan Instrumen... 31

Tabel 3.3 Rubrik Penilaian ... 31

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas ... 34

Tabel 3.5 Kualifikasi Koefisien Reliabilitas ... 35

Tabel 3.6 Uji Reliabilitas ... 35

Tabel 3.7 Pertanyaan Wawancara dengan Guru ... 42

Tabel 3.8 Pertanyaan Wawancara dengan Siswa ... 42

Tabel 4.1 Data Hasil Uji Normalitas Kemampuan Eksplanasi ... 47

Tabel 4.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Kemampuan Eksplanasi ... 48

Tabel 4.3 Perbandingan Selisih Skor Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Eksplanasi ... 50

Tabel 4.4 Perbandingan Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Eksplanasi ... 51

Tabel 4.5 Besar Efek Perlakuan pada Kemampuan Eksplanasi ... 52

Tabel 4.6 Perbandingan Skor Posttest I dengan Posttest II pada Kemampuan Eksplanasi ... 53

Tabel 4.7 Data Hasil Uji Normalitas Kemampuan Regulasi diri ... 54

Tabel 4.8 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Kemampuan Regulasi diri... 56

Tabel 4.9 Perbandingan Selisih Skor Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Regulasi diri ... 57

Tabel 4.10 Perbandingan Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I pada Kemampuan Regulasi diri ... 59

Tabel 4.11 Besar Efek Perlakuan pada Kemampuan Regulasi diri ... 60

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Contoh Mind map ... 11

Gambar 2.2 Contoh Peta Konsep ... 11

Gambar 2.3 Contoh Pesawat Sederhana ... 17

Gambar 2.4. Prinsip Kerja Linggis ... 17

Gambar 2.5 Prinsip Kerja Tuas Golongan I ... 18

Gambar 2.6 (A) Prinsip Pengungkit Golongan II, (B) Prinsip Pengungkit Golongan III ... 18

Gambar 2.7 Katrol (A) Katrol Tetap, (B) Katrol Bebas, (C) Katrol Majemuk ... 19

Gambar 2.8 Literature Map Dari Penelitian Sebelumnya ... 22

Gambar 3.1 Desain Penelitian ... 26

Gambar 3.2 Variabel Penelitian ... 29

Gambar 3.3 Rumus Persentase Peningkatan ... 38

Gambar 3.4 Rumus Besar Efek untuk Data Normal ... 39

Gambar 3.5 Rumus Besar Efek untuk Data tidak Normal ... 40

Gambar 3.6 Rumus Persentase Peningkatan ... 41

Gambar 4.1 Grafik Perbandingan Selisih Pretest-Posttest I Kemampuan Eksplanasi ... 50

Gambar 4.2 Grafik Kenaikan Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Eksplanasi ... 52

Gambar 4.3 Grafik Uji Retensi Pengaruh pada Kemampuan Eksplanasi ... 54

Gambar 4.4 Grafik Perbandingan Selisih Pretest-Posttest I pada Kemampuan Regulasi diri ... 57

Gambar 4.5 Grafik Kenaikan Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Regulasi diri ... 59

(18)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.1 Silabus Kelompok Kontrol ... 74

Lampiran 1.2 Silabus Kelompok Eksperimen ... 78

Lampiran 1.3 RPP Kelompok Kontrol ... 82

Lampiran 1.4 RPP Kelompok Eksperimen ... 94

Lampiran 2.1 Instrumen Penelitian ... 107

Lampiran 2.2 Kunci Jawaban Soal ... 111

Lampiran 2.3 Expert Judgement Intsrumen Soal ... 112

Lampiran 2.4 Expert Judgement Silabus dan RPP ... 113

Lampiran 3.1 Hasil Uji Validitas Soal ... 114

Lampiran 3.2 Hasil Uji Reliabilitas Soal ... 114

Lampiran 4.1 Tabulasi Skor Pretest dan Posttest ... 115

Lampiran 4.2 Uji Normalitas Kemampuan Eksplanasi ... 121

Lampiran 4.3 Grafik Uji Normalitas Kemampuan Eksplanasi ... 122

Lampiran 4.4 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Kemampuan Eksplanasi ... 126

Lampiran 4.5 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Eksplanasi ... 127

Lampiran 4.6 Uji Kenaikan Skor Pretest ke Posttest I Kemampuan Eksplanasi ... 128

Lampiran 4.7 Uji Retensi Pengaruh pada Kemampuan Eksplanasi ... 129

Lampiran 4.8 Uji Normalitas Kemampuan Regulasi diri ... 130

Lampiran 4.9 Grafik Uji Normalitas Kelompok Regulasi diri ... 131

Lampiran 4.10 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Kemampuan Regulasi diri ... 135

Lampiran 4.11 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Regulasi diri ... 136

Lampiran 4.12 Uji Kenaikan Skor Pretest ke Posttest I Kemampuan Regulasi diri ... 137

Lampiran 4.13 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan pada Kemampuan Regulasi Diri ... 138

Lampiran 4.14 Transkip Wawancara Guru ... 139

Lampiran 4.15 Transkip Wawancara Siswa... 141

Lampiran 5.1 Foto-Foto Mind Map Buatan Siswa dan Kegiatan Pembelajaran ... 144

Lampiran 6.1 Surat Ijin Penelitian ... 147

Lampiran 6.2 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 148

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam bab I ini peneliti akan membahas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. Latar belakang berikan tentang alasan-alasan melakukan penelitian. Rumusan masalah berisi masalah yang akan diteliti. Manfaat penelitian berisikan manfaat dari penelitian ini bagi sekolah, guru, peneliti, dan siswa. sedangkan definisi operasional berisikan pengertian kata-kata kunci dalam penelitian.

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada jaman sekarang ini pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi semua orang. Pendidikan Sekolah Dasar merupakan salah satu jenjang pendidikan yang wajib dilaksanakan di Indonesia. Para orang tua berusaha memberikan pendidikan yang paling baik untuk anak-anaknya. Salah satu caranya adalah dengan memasukkan anak mereka ke dalam sekolah yang dianggap berkualitas. Idealnya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui pendidikan, seseorang diharapkan dapat memperoleh ilmu atau pengetahuan sebagai bekal hidupnya. Selain itu, dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan pendidikan yang ideal maka seorang pendidik harus dipersiapkan sebaik mungkin, karena pendidik merupakan satu kunci utama untuk mencetak penerus bangsa.

(20)

2 kualitas pembelajaran matematika dan sains menempatkan Indonesia pada posisi 35 dari 49 negara untuk pelajaran sains. PISA (Programme for International Student Assesment) pada tahun 2009 juga melakukan penelitian dalam bidang bahasa, matematika, dan sains, hasilnya Indonesia berada pada peringkat 57 dari 65 negara yang diteliti dengan skor pada pembelajaran sains sebesar 383. Kemudian pada tahun 2012 PISA melakukan penelitian yang sama dan peringkat Indonesia justru lebih menurun, yaitu berada pada peringkat 64 dari 65 negara dengan skor sains 382.

Selama ini, pemerintah Indonesia sudah berusaha meningkatkan kualitas pendidikan nasional misalnya dengan memperbaharui kurikulum dengan kurikulum baru yang lebih baik dan membantu meningkatkan kesejahteraan guru agar lebih semangat dalam mengajar dengan memberikan sertifikasi guru. Artikel

World Bank PBB (Chang, dkk, 2014: 2) juga menuliskan bahwa ada aturan bagi guru untuk mengajar selama 18 jam per minggu. Selain itu, dalam artikel juga dijelaskan bahwa pemerintah memberikan program seminar atau pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas kemampuan guru. Usaha-usaha tersebut dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Namun, pada kenyataannya usaha-usaha yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan belum terlalu berhasil. Pemberian sertifikasi kepada guru belum mencapai hasil yang diharapkan. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara guru yang memperoleh sertifikasi dan tidak baik dalam hal kompetensi atau hasil belajar siswa (Chang, dkk, 2014: 4). Adanya sertifikasi membuat gaji guru menjadi beban terbesar dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Chang, dkk, 2014: 98), jika hal tersebut terus terjadi dikhawatirkan kualitas pendidikan di Indonesia akan semakin menurun karena anggaran terlalu besar pada gaji guru.

(21)

3 salah satu unsur penting yang menentukan keberhasilan sebuah pengajaran. Seorang guru harus pandai dalam memilih metode pembelajaran yang akan digunakan, karena pada dasarnya setiap mata pelajaran memiliki ciri khas tersendiri.

Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang harus dipelajari di sekolah dasar (Wawancara guru pada tanggal 7 januari 2014). Ilmu Pengetahuan Alam juga merupakan mata pelajaran yang penting untuk dipelajari karena pokok bahasan dalam pelajaran ini banyak berkaitan dengan hidup manusia. Materi IPA menyangkut tentang alam semesta dan benda-benda di dalamnya. Kardi dan Nur dalam Trianto (2010: 136) mendefinisikan IPA sebagai ilmu yang mempelajari tentang berbagai zat, baik yang berhubungan dengan benda mati maupun benda hidup. Fungsi dan tujuan IPA menurut Depdiknas yang dikutip dari Trianto (2010: 138) adalah sebagai berikut: (1) menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; (2) mengembangkan ketrampilan, sikap, dan nilai ilmiah; (3) mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang melek sains dan teknologi; (4) menguasai konsep sains untuk bekal hidup masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

(22)

4 diterapkan dalam pembelajaran, akan tetapi belum dapat membuat siswa untuk berpikir lebih dalam atau berpikir kritis. Untuk pembelajaran IPA peneliti ingin mengujikan metode pembelajaran inovatif yaitu mind map untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pembelajaran IPA.

Mind map merupakan salah satu metode yang menekankan cara mencatat dengan menggambar bagan sesuai dengan tema dan kekreatifan siswa. Dengan menggunakan mind map, siswa dapat menambahkan gambar-gambar yang mereka sukai. Bagan mind map juga dibuat bebas sesuai kekreatifan siswa namun harus tetap sesuai dengan tema. Mind map memiliki banyak manfaat untuk otak, manfaat tersebut menurut Buzan (2008: 13) adalah bahwa mind map dapat mengaitkan setiap informasi baru dengan informasi lama yang telah tersimpan di dalam otak sehingga informasi lama tidak akan menghilang. Peneliti berharap metode mind map dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa terutama aspek eksplanasi dan regulasi diri.

Eksplanasi merupakan salah satu kecakapan berpikir kritis menurut Facione. Kemampuan eksplanasi merupakan kemampuan untuk menjelaskan dan memberikan alasan dari bukti, konsep, metode, kriteria, dan konteks yang digunakan untuk menarik kesimpulan (Facione, 1990). Regulasi diri juga merupakan salah satu dari enam kecapakan berpikir kritis Facione. Regulasi diri

merupakan kemampuan untuk memonitor aktivitas kognitif diri sendiri secara sadar dan juga memonitor unsur-unsur yang ikut memainkan peran dalam aktivitas tersebut (Facione, 1990).

Penelitian ini dibatasi hanya pada pengaruh penggunaan mind map

terhadap kemampuan eksplanasi dan regulasi diri siswa kelas V SD N Percobaan 3 Pakem Yogyakarta pada mata pelajaran IPA semester genap tahun ajaran 2013/2014. Kemampuan eksplanasi dan regulasi diri diukur dari hasil pretest dan

(23)

5

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apakah penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan

eksplanasi siswa kelas V SD N Percobaan 3 Pakem Yogyakarta pada mata pelajaran IPA semester genap tahun ajaran 2013/2014?

1.2.2 Apakah penggunaan mind map berpengaruh terhadap kemampuan regulasi diri siswa kelas V SD N Percobaan 3 Pakem Yogyakarta pada mata pelajaran IPA semester genap tahun ajaran 2013/2014?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Mengetahui pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan

eksplanasi siswa kelas V SD N Percobaan 3 pakem Yogyakarta pada mata pelajaran IPA semester genap tahun ajaran 2013/2014.

1.3.2 Mengetahui pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan

regulasi diri siswa kelas V SD N Percobaan 3 pakem Yogyakarta pada mata pelajaran IPA semester genap tahun ajaran 2013/2014.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Guru

Guru mengetahui manfaat dari metode mind map. Selain itu, guru juga memperoleh pengalaman menggunakan metode baru yaitu metode mind map yang dapat diterapkan untuk mengajar mata pelajaran lain.

1.4.2 Bagi Sekolah

Laporan ini dapat menambah wawasan untuk warga sekolah dan dapat dijadikan tambahan bahan bacaan untuk warga sekolah.

1.4.3 Bagi Siswa

Siswa mendapatkan pengalaman belajar menggunakan mind map yang dapat diterapkan juga pada saat belajar mata pelajaran lain.

1.4.4 Bagi Peneliti

(24)

6

1.5 Definisi Operasional

1.5.1 Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. 1.5.2 Mind map adalah cara mencatat informasi menjadi sebuah gambar

berwarna-warni dengan cabang-cabang yang lebih singkat sehingga mudah diingat dan dipahami.

1.5.3 Metode mind map adalah metode pembelajaran yang menggunakan catatan dengan cabang-cabang dan berwarna-warni untuk menyampaikan materi kepada siswa.

1.5.4 Berpikir kritis adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk dapat menganalisis sampai menyimpulkan informasi yang diperoleh dan menilai kemampuan diri sendiri.

1.5.5 Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi yang terdiri atas kemampuan interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi,

eksplanasi, dan regulasi diri.

1.5.6 Kemampuan eksplanasi adalah kemampuan untuk menjelaskan alasan-alasan dan bukti dari suatu konsep atau hal lain untuk membuat kesimpulan.

1.5.7 Kemampuan regulasi diri adalah kemampuan untuk memonitor aktivitas mental diri sendiri untuk mengevaluasi penalarannya sendiri.

1.5.8 IPA adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala-gejala alam secara ilmiah.

1.5.9 Pesawat sederhana adalah salah satu materi IPA kelas V yang mempelajari tentang alat-alat yang dapat mempermudah pekerjaan manusia.

(25)

7

BAB II

LANDASAN TEORI

Bab ini berisi tinjauan pustaka, penelitian yang terdahulu atau relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis. Tinjauan pustaka berisi teori-teori yang berkaitan dengan metode pembelajaran, proses kognitif, dan hakikat mata pelajaran IPA. Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian-penelitian

mind map. Kerangka berpikir berisikan rumusan atau landasan berpikir dari umum ke khusus. Hipotesis berisi dugaan sementara tentang jawaban suatu rumusan masalah.

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Teori-Teori yang Mendukung

Teori-teori yang mendukung akan membahas teori perkembangan anak, beberapa metode pembelajaran, teori tentang mind map, kemampuan berpikir kritis, dan mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar.

2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak

Setiap anak memiliki pengetahuan yang berbeda-beda. Piaget (dalam Salkind, 2009: 311) mengungkapkan bahwa setiap individu atau anak berkembang secara aktif. Perkembangan dalam pandangan Piaget merupakan proses langsung atau spontan yang mempunyai cakupan luas dan mengakibatkan pertambahan secara kontinu, modifikasi, dan reorganisasi struktur psikologis. Proses perkembangan pada manusia terdiri atas empat faktor yaitu maturasi, pengalaman, transmisi sosial, dan ekuilibrasi (Piaget dalam Salkind, 2009: 313).

Anak-anak memiliki cara berpikir yang berbeda-beda, karena pada dasarnya cara berpikir anak dipengaruhi oleh tahap-tahap perkembangan kognitif anak. Tahap perkembangan kognitif menurut Piaget (dalam Suparno, 2001: 5) dibedakan dalam empat tahap. Tahap kognitif yang pertama adalah tahap

(26)

8 tahun sampai 11 tahun. Terakhir adalah tahap operasional formal dengan usia antara 11 sampai masa dewasa.

Tahap sensorimotor merupakan tahapan paling awal dari tahap kognitif Piaget. Tahapan ini menurut Suparno (2001: 27) merupakan dasar perkembangan persepsi dan inteligensi anak pada tahap-tahap selanjutnya. Inteligensi sensorimotor akan membantu anak untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang mereka alami mulai dari permasalahan-permasalahan sederhana pada masanya. Ciri-ciri kecerdasan anak pada masa sensorimotor dalam Suparno (2001: 46-47) adalah didasarkan pada tindakan praktis dan belum sampai pada representasi yang menyeluruh dan ingatan yang dimiliki anak masih dalam jarak yang pendek.

Kedua yaitu tahap perkembangan praoperasional. Piaget (dalam Suparno, 2001:50) menjelaskan bahwa dalam tahapan ini anak mulai belajar untuk mengenali simbol-simbol atau tanda yang mewakili atau menggambarkan benda-benda. Simbol yang dimaksud merupakan suatu hal yang mirip dengan apa yang digambarkan, sedangkan tanda merupakan sembarang benda yang sama sekali tidak memiliki kesamaan dengan apa yang digambarkan. Menurut Salkind (2009: 335), pada tahap ini anak mulai memiliki kemampuan berbahasa, dan kemampuan berbahasa inilah yang merupakan kejadian yang paling utama dalam tahap ini. Anak pada tahap praoperasional berada pada masa peralihan ke dalam masa operasional konkret.

Tahap ketiga yaitu tahap operasional konkret. Pada masa ini anak sudah dapat memahami sesuatu yang konkret. Anak dapat menambah, mengurangi, dan mengubah hal-hal yang mereka peroleh (Yusuf, 2009: 6). Ciri-ciri anak pada tahap ini menurut Suparno (2001: 86) adalah anak sudah berpikir berdasarkan logika dan mampu untuk berpikir menyeluruh dengan banyak hal yang dipikirkan dalam waktu yang sama. Anak juga mampu menarik kesimpulan dengan pemikiran yang teratur dan terarah, namun dalam hal ini pemikiran anak masih dibatasi pada benda-benda yang konkret.

(27)

9 pokok dalam tahap ini adalah pemikiran deduktif, induktif, dan abstraktif. Kemampuan berpikir dimulai dari mengambil kesimpulan yang umum, kemudian khusus, dan terakhir adalah abstraksi dari objek.

Berdasarkan keempat tahap kognitif Piaget, dapat diketahui bahwa semakin tinggi usia atau tahap berpikir anak, maka tingkat pemikirannya pun akan semakin abstrak dan lebih kompleks. Anak pada usia sekolah dasar jika dihubungkan dengan teori Piaget termasuk dalam tahap operasional konkret yaitu berusia 7-11 tahun. Anak pada masa ini sudah dapat diajak untuk berpikir kritis, karena mampu berpikir secara logis mengenai hal-hal yang konkret. Namun, dalam pembelajarannya dibutuhkan metode pembelajaran yang dapat merangsang pemikiran anak terhadap hal-hal kritis agar kemampuan berpikir kritis anak dapat dimaksimalkan. Metode yang dapat digunakan adalah metode mind map. Mind map mempunyai banyak manfaat yang dapat merangsang otak anak, sehingga anak dapat berpikir lebih kritis dan kreatif. Mind map juga menggunakan cara berpikir logis dan membantu anak menarik kesimpulan dari pembelajaran sehingga sesuai jika diberikan kepada anak dalam tahap operasional konkret yang telah mampu berpikir menggunakan logika dan menyeluruh.

2.1.1.2 Metode Pembelajaran

(28)

10 Metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran menurut Majid (2009: 137-160), antara lain: (1) metode ceramah, yaitu metode yang dalam penyampaian materi atau ilmu pengetahuan dilakukan secara lisan; (2) metode tanya jawab, yaitu metode yang diterapkan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik atau sebaliknya; (3) metode diskusi, merupakan metode yang digunakan untuk membantu siswa memecahkan masalah yang dihadapi dengan menyatukan dua atau lebih siswa untuk saling mengungkapkan pendapat mereka dan mencari pemecahan masalah yang mereka hadapi melalui pembicaraan yang telah disepakati sebelumnya; (4) metode pemecahan masalah (problem solving), merupakan metode pembelajaran yang merangsang anak untuk berpikir tentang suatu masalah dan menganalisisnya untuk menemukan pemecahan atau jawaban dari pertanyaan tadi. Selain itu, ada metode demonstrasi yang dilakukan dengan memperlihatkan sebuah proses/peristiwa/cara kerja suatu alat kepada siswa dengan cara memberikan pengetahuan langsung maupun tidak langsung agar siswa mampu memecahkan masalah (Mulyasa, 2006: 107).

Metode-metode yang diungkapkan tersebut merupakan metode yang sering dijumpai dan digunakan guru dalam proses pembelajaran. Berbagai metode yang telah dijelaskan oleh Majid, belum ada penjelasan tentang metode mind map.

Padahal, mind map merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk merangsang otak anak dan meningkatkan kemampuan memahami materi pelajaran. Selanjutnya akan dijelaskan tentang mind map dan manfaat-manfaatnya.

2.1.1.3 Mind Map

(29)

11 penghubung dalam peta konsep dijelaskan menggunakan kata-kata penghubung. Brinkmann (2003) mengungkapkan bahwa peta konsep mungkin dapat memberikan informasi yang lebih luas, namun peta konsep belum dapat membuka pikiran seseorang dan peta konsep tidaklah sekreatif mind map. Peta konsep digambarkan menggunakan garis-garis lurus sedangkan mind map melengkung dan disertai dengan gambar-gambar sesuai keinginan pembuatnya. Selain itu, topik inti mind map diletakkan di tengah dan setiap cabangnya harus menyentuh topik. Sedangkan pada peta konsep topik utama biasanya diletakkan pada bagian paling atas dan penjelasannya menurun. Berikut ini adalah contoh mind map dan peta konsep.

(Sumber: http://dunianyaanakkita.blogspot.com/2010/08/kumpulan-mind-mapping-materi-pelajaran.html diakses tanggal 4-10-2013)

Gambar 2.1 Contoh Mind map

(30)

12 Cara kerja mind map menggunakan dua faktor utama dari ingatan seseorang yaitu imajinasi dan asosiasi, sehingga mind map dapat bekerja dengan baik dalam membantu orang untuk menajamkan ingatannya. Mind map memiliki banyak manfaat untuk otak, manfaat tersebut menurut Buzan (2008: 13) adalah bahwa mind map dapat mengaitkan setiap informasi baru dengan informasi lama yang telah tersimpan di dalam otak sehingga informasi lama tidak akan menghilang. Sedangkan menurut Michalko (dalam Buzan, 2008: 6-7), mind map

mempunyai manfaat untuk mengaktifkan kerja otak, membuat kita lebih fokus pada topik bahasan, menunjukkan hubungan dari setiap bagian informasi, membantu mengelompokkan dan membandingkan konsep, dan mengalihkan informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.

(31)

13 Berdasarkan manfaat dan kemudahan dalam membuat mind map seperti yang telah diungkapkan di atas, dapat disimpulkan bahwa mind map dapat membantu otak untuk berpikir lebih dalam dan merangsang kerja otak. Mind map

membuat cara berpikir menjadi menyeluruh namun tetap berfokus pada pokok bahasan. Oleh karena itu mind map dapat digunakan sebagai metode yang baik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

2.1.1.4 Berpikir Kritis

Berpikir kritis disebut juga dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Berpikir kritis tidak sama dengan berpikir kreatif, namun keduanya saling berkaitan. Johnson (2007: 183) mengungkapkan bahwa berpikir kritis merupakan kemampuan berpendapat secara teroganisir, kemampuan mengevaluasi, dan sebagai proses yang tersusun secara sistematis untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan kegiatan berpikir lainnya. Kemampuan berpikir kritis dan kreatif menurut Johnson (2007: 183) juga memungkinkan seorang anak untuk mampu memecahkan masalah dengan sistematis, dan merasa tertantang untuk melakukan hal-hal yang baru dan inovatif.

Chaffee (dalam Johnson, 2007: 187) menjelaskan berpikir kritis sebagai suatu proses berpikir yang aktif, teratur, dan penuh makna untuk menemukan pemahaman tentang hidup. Berpikir kritis dilakukan dengan sengaja dan sebanyak mungkin menemukan bukti untuk memperjelas penelitian yang sedang dilakukan. Tujuan dari berpikir kritis adalah agar seseorang dapat memahami segala hal lebih dalam sehingga dapat menemukan maksud dari segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan kita (Johnson, 2007: 185).

Kemampuan berpikir kritis menurut Facione (1990) memiliki dua dimensi, yaitu dimensi kognitif dan dimensi disposisi afektif. Dimensi kognitif terdiri dari enam kecakapan yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi,

(32)

14 penilaian atau pendapat. Kemampuan evaluasi merupakan kemampuan untuk menilai kebenaran dari suatu pernyataan atau ungkapan lain seperti pengalaman, persepsi, situasi, atau opini seseorang. Inferensi merupakan kecakapan untuk mengidentifikasi dan mencari alasan-alasan yang logis untuk menentukan hipotesis atau dugaan sementara mengenai suatu pernyataan, opini, percobaan, data, atau ungkapan lain; kemudian membuat kesimpulan dari dugaan sementara atau hipotesis yang telah dirumuskan. Eksplanasi merupakan kemampuan untuk menjelaskan dan memberikan alasan-alasan dari bukti, konsep, metode, kriteria, dan konteks yang digunakan untuk menarik kesimpulan. Terakhir, regulasi diri

merupakan kecakapan untuk memonitor aktivitas kognitif diri sendiri secara sadar dan juga memonitor unsur-unsur yang ikut memainkan peran dalam aktivitas tersebut. Sedangkan disposisi afektif dibagi dalam dua kecakapan yaitu sikap umum yang membahas cara bersikap dalam masalah-masalah umum, dan sikap khusus yang membahas bagaimana sikap kita menghadapi permasalahan yang bersifat langsung, konkret, dan khusus.

Penelitian ini hanya akan membahas dua kemampuan berpikir kritis, yaitu kemampuan eksplanasi dan regulasi diri. Kecakapan eksplanasi dibedakan ke dalam 3 sub-kecakapan, yaitu kecakapan untuk mengemukakan hasil-hasil penalaran, menjustifikasi prosedur yang digunakan, dan memberikan alasan-alasan yang kuat (Facione, 1990). Kemampuan pertama yaitu menjelaskan penalaran yang dilakukan untuk membuat laporan; mendeskripsikan dan merepresentasikan hasil penalaran seseorang sehingga dapat digunakan untuk menganalisis, mengevaluasi, menyimpulkan data, atau memantau hasil tersebut. Contohnya adalah untuk menyampaikan analisa dan penilaian seseorang tentang sebuah karya seni, dan untuk menyatakan pendapat tentang suatu hal yang mendesak (Facione, 1990).

(33)

15 mengevaluasi sebuah karya, untuk mengungkapkan strategi yang digunakan dalam upaya membuat keputusan yang masuk akal, dan untuk merancang sebuah grafik dari suatu informasi (Facione, 1990).

Ketiga, kemampuan menjelaskan argumen yang digunakan dalam memberikan alasan untuk menerima beberapa pernyataan, dan dapat juga untuk menyatakan keberatannya mengenai sebuah metode, konsep, bukti, atau pernyataan lain. Contohnya adalah untuk menulis makalah dimana seseorang berpendapat agar diberikan sebuah posisi ataupun kebijakan dan untuk mengungkapkan pendapatnya apakah setuju atau tidak setuju mengenai sebuah permasalahan (Facione, 1990).

Kemampuan regulasi diri dibagi dalam 2 sub-kecakapan, yaitu kecakapan untuk eksaminasi diri dan koreksi diri. Kemampuan eksaminasi digunakan untuk: (a) merefleksikan alasan pribadi untuk memverifikasi hasil yang dihasilkan dan aplikasi yang benar; (b) untuk membuat meta-kognitif penilaian diri yang obyektif dan bijaksana dari pendapat seseorang dan untuk mempertahankan alasan dari pendapat tersebut; (c) untuk menilai sejauh mana pemikiran seseorang mengenai objektivitas atau rasionalitas; (d) untuk merefleksikan motivasi seseorang, nilai-nilai, sikap dan minat dengan maksud untuk mengetahui bahwa orang tersebut telah berusaha untuk tidak memihak, berpikiran adil, obyektif, dan rasional terhadap suatu analisis, kesimpulan, ataupun ekspresi (Facione, 1990).

Sedangkan kemampuan koreksi diri digunakan untuk mengungkapkan kesalahan atau kekurangan sesuatu baik prosedur, pendapat, dll, dan untuk merancang prosedur yang baik sebagai langkah untuk memperbaiki kekurangan atau kesalahan yang terdapat dalam suatu pendapat, bacaan, dll, serta untuki mencari tahu penyebab dari kesalahan. Contoh kegiatannya, diberikan kesalahan metodelogis atau faktual, kemudian diminta untuk memperbaiki dan merevisi kesalahan tersebut kemudian mencari tahu apakah revisi yang dibuat dapat memberi perubahan untuk memperbaiki kesalahan sebelumnya (Facione, 1990).

2.1.1.5 Ilmu Pengetahuan Alam

(34)

16 (2010: 136) mengatakan bahwa IPA berawal dari rasa keingintahuan manusia terhadap suatu hal dan membuat manusia mencoba mengamati untuk memahami penyebab dari suatu hal tersebut. IPA menyebabkan orang berpikir ataupun bertindak secara ilmiah. Sedangkan menurut Darmojo (dalam Samatowa, 2011:2) IPA adalah pengetahuan yang mempelajari tentang alam semesta dan segala isinya secara rasional dan obyektif.

Materi IPA menyangkut tentang alam semesta dan benda-benda di dalamnya. Kardi dan Nur (dalam Trianto, 2010: 136) mendefinisikan IPA sebagai ilmu yang mempelajari tentang berbagai zat, baik yang berhubungan dengan benda mati maupun benda hidup. Sedangkan Wahyana (dalam Trianto, 2010: 136) menjelaskan IPA sebagai suatu kumpulan pengetahuan tentang gejala-gejala alam yang tersusun secara sistematis menggunakan metode ilmiah sehingga dapat menghasilkan sikap ilmiah.

Berdasarkan beberapa pengertian yang disebutkan di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa materi atau bahasan IPA adalah tentang gejala-gejala alam. Untuk mengembangkan atau membuktikan gejala-gejala alam tersebut dipergunakan metode yang ilmiah, sehingga diharapkan akan menciptakan sikap yang ilmiah pula bagi para peneliti atau pembelajarannya.

Hakikat IPA sendiri meliputi tentang produk, proses, dan aplikasi. Dimensi produk menjelaskan bahwa IPA merupakan serangkaian konsep dan menghasilkan sebuah pengetahuan baru. Sedangkan sebagai proses, IPA dijadikan suatu proses untuk mempelajari, menemukan, dan mengembangkan produk-produknya. Ketrampilan proses IPA meliputi pengamatan, pengukuran, menarik kesimpulan, merumuskan hipotesis, dan melakukan eksperimen. Terakhir sebagai aplikasi, dikatakan bahwa teori yang lahir dari IPA mampu menciptakan teknologi-teknologi yang semakin berkembang untuk memudahkan kehidupan manusia (Prihantoro dkk dalam Trianto, 2010: 137)

(35)

17 menguasai konsep sains untuk bekal hidup masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

2.1.1.6 Materi IPA Pesawat Sederhana

Pesawat merupakan alat yang dapat mempermudah pekerjaan manusia. Pesawat sederhana menurut Sulistyanto dan Wiyono (2008: 109) adalah alat-alat sederhana yang membantu pekerjaan manusia. Kesederhanaan yang dimaksud adalah mulai dari bentuk alat hingga kegunaannya. Contoh dari pesawat sederhana adalah papan miring, catut, alat pembuka tutup botol, dan lain-lain. Kemudian, jika beberapa pesawat sederhana digabungkan akan membentuk pesawat rumit, misalnya sepeda, mesin mobil, dan lain-lain.

(Sumber: Sulistyanto dan Wiyono (2008:109)) Gambar 2.3 Contoh Pesawat Sederhana

Sulistyanto dan Wiyono (2008: 110) serta Azmiyawati, dkk (2008: 98) sama-sama menjelaskan bahwa ada empat jenis pesawat sederhana, yaitu:

1. Tuas atau pengungkit

Tuas merupakan suatu alat yang prinsip kerjanya menggunakan tiga titik gaya, yaitu beban (B), titik tumpu (TT), dan kuasa (K). Beban disini adalah berat benda, titik tumpu adalah tempat bertumpunya gaya, dan kuasa merupakan gaya yang bekerja atau tempat memberikan gaya. Contoh alat yang termasuk dalam tuas adalah jungkat-jungkit (Sulistyanto & Wiyono, 2008: 109).

(Sumber: Sulistyanto dan Wiyoano, 2008: 110)

(36)

18 Azmiyawati, dkk (2008: 98) menggolongkan tuas atau pengungkit dalam tiga golongan berdasarkan letak beban, titik tumpu, dan kuasanya. Pertama yaitu tuas atau pengungkit golongan I. Pada pengungkit ini, letak titik tumpu berada di antara beban dan kuasa. Contohnya adalah gunting, catut, jungkat-jungkit, gunting kuku, dan sebagainya.

(sumber:Azmiyawati, dkk, 2008: 99) Gambar 2.5 Prinsip Kerja Tuas Golongan I

Kedua yaitu pengunggkit golongan II yang letak bebannya di antara titik tumpu dan kuasa. Contoh alat yang menggunakan prinsip ini menurut Azmiyawati, dkk (2008: 99) adalah pembuka kaleng, alat pemotong kertas, dan sebagainya. Terakhir, yaitu pengungkit golongan III. Pada pengungkit ini, letak kuasa berada di antara beban dan titik tumpu. Contoh alatnya adalah stapler, pinset, dan sapu.

(a) (b)

(sumber:Azmiyawati, dkk, 2008: 100)

Gambar 2.6 (A) Prinsip Pengungkit Golongan II, (B) Prinsip Pengungkit Golongan III

2. Bidang miring

(37)

19 adalah dapat memindahkan barang ke tempat yang lebih tinggi menggunakan gaya yang kecil. Sedangkan kelemahannnya adalah, jarak tempuh untuk memindahkan benda menjadi lebih jauh (Sulistyanto & Wiyono, 2008: 115) 3. Katrol

Katrol adalah alat yang berbentuk seperti roda dan berputar pada porosnya. Sulistyanto dan Wiyono (2008: 117-118) membagi katrol dalam tiga jenis, yaitu katrol tetap, katrol bebas, dan katrol majemuk. Katrol tetap adalah katrol yang tidak berpindah posisi saat digunakan, contohnya adalah katrol pada sumur timba dan tiang bendera. Katrol bebas adalah katrol yang posisinya dapat berubah dan tidak dipasang pada tempat tertentu. Biasanya katrol bebas ditempatkan pada tali sehingga kedudukan atau posisinya dapat berpindah. Katrol bebas dapat ditemukan pada alat pengangkat peti kemas di pelabuhan. Terakhir, katrol majemuk yaitu perpaduan dari katrol tetap dan bebas yang dihubungkan menggunakan tali.

(Sumber: Sulistyanto dan Wiyono, 2008: 117-118)

Gambar 2.7 Katrol (A) Katrol Tetap, (B) Katrol Bebas, (C) Katrol Majemuk

4. Roda berporos

Roda berporos menurut Sulistyanto dan Wiyono (2008: 119) adalah alat berupa roda yang dihubungkan menggunakan sebuah poros yang dapat diputar bersama-sama. Alat ini dapat ditemukan pada stir mobil, stir kapal, roda sepeda, gerinda, dan sebagainya. Roda poros dapat membantu kita mencapai tempat jauh dalam waktu yang lebih cepat.

2.1.2 Penelitian-penelitian yang Relevan 2.1.2.1 Penelitian Tentang Mind Map

Ningsih, Sikumbang, dan Marpaung (2013) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan teknik mencatat mind map

terhadap aktifitas dan hasil belajar siswa. Sampel penelitian adalah siswa kelas X6

(38)

20 dan X7 yang dipilih secara sampling. Data penelitian berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari rata-rata nilai pretest dan postest yang dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney U test dan uji-t. Data kualitatif berupa data aktivitas belajar dan angket tanggapan siswa terhadap penggunaan teknik mencatat mind map yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik mencatat mind map dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa tetapi tidak berpengaruh signifikan dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Aziz (2012) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran peta pikiran terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok getaran dan gelombang di kelas VIII semester II SMP Negri 12 Binjai. Sampel penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Binjai. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen two group pretest posttest design. Nilai rata-rata skor pretest kelas eksperimen adalah 39,89 dan pada kelas kontrol 36,66. Setelah dilakukan perlakuan, nilai rata-rata posttest pada kelas eksperimen adalah 80,33 sedangkan pada kelas kontrol diperoleh nira rata-rata sebesar 64,66. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh yang signifikan pada penerapan metode peta pikiran terhadap hasil belajar siswa, dengan rata-rata 77,5 dengan kategori nilai cukup aktif. Hasil uji-t diperoleh thitung = 6,74 dan ttabel = 1,66 pada taraf nyata α = 0,05 dan dk = 70 dimana thitung > ttabel yang berarti ada pengaruh yang

signifikan penerapan metode pembelajaran peta pikiran terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok getaran dan gelombang di kelas VIII semester II SMP 12 Binjai T.A 2009/2010.

Septiarini (2012) meneliti tentang pengaruh penggunaan mind map

terhadap kemampuan menganalisis dan mengevaluasi pada pelajaran IPA di SD. Sampel penelitian adalah siswa kelas lima SDK Sorowajan dengan jumlah siswa kelas treatmen 28, dan kontrol 28. Hasil penelitian tersebut adalah mind map

dapat mempengaruhi kemampuan menganalisis yang ditunjukkan dengan harga

(39)

21

2.1.2.2 Penelitan Tentang Berpikir Kritis

Ismaimuza (2013) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengupayakan kemampuan berpikir kritis dan kreatif pada mata pelajaran matematika melalui pembelajaran berbasis masalah dengan strategi konflik kognitif (PBLKK). Sampel penelitian adalah 200 pelajar di SMPN 1, SMPN 6, dan SMPN 18. Hasil penelitiannya adalah: (1) keupayaan pemikiran kreatif pelajar terhadap matematik yang menerima PBLKK mendapat keputusan yang lebih baik berbanding pelajar yang menerima pembelajaran konvensional (KV); (2) terdapat perbedaan dalam keupayaan pemikiran kreatif pelajar terhadap matematik berdasarkan pencapaian sekolah dan pengetahuan sedia ada pelajar; (3) tidak terdapat interaksi antara pencapaian sekolah dan model pembelajaran ke atas keupayaan pemikiran kreatif dan kritis terhadap matematik dan tingkah laku pelajar; (4) tidak terdapat interaksi antara pengetahuan pelajar sebelumnya dan model pembelajaran ke atas keupayaan pemikiran kreatif dan kritis terhadap matematik dan tingkah laku pelajar.

Candra (2011) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode inkuiri terhadap prestasi belajar dan berpikir kritis kategori kognitif pada mata pelajaran IPA di SD. Sampel penelitian adalah siswa kelas 5 SDK Demangan Baru 1. Hasil penelitian adalah bahwa metode inkuiri dapat meningkatkan prestasi belajar dengan harga sig. (2-tailed) adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hasil yang kedua adalah metode inkuiri meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada kategori kognitif, yang ditunjukkan dengan harga signifikansi (2-tailed) yang diperoleh sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05.

(40)

22 Penelitian-penelitian tentang mind map dan berpikir kritis yang telah diungkapkan di atas belum ada yang membahas tentang pengaruh mind map

terhadap kemampuan berpikir kritis. Untuk melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya, maka akan dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh mind map terhadap pengetahuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis yang diteliti adalah kemampuan berpikir kritis yang diungkapkan oleh Facione. Namun, dalam skripsi ini tidak membahas enam kemampuan berpikir kritis Facione, tetapi difokuskan dalam dua kemampuan yaitu eksplanasi dan

regulasi diri.

2.1.2.3 Literature Map

Gambar 2.8 Literature Map dari Penelitian Sebelumnya Metode mind map Berpikir kritis

Ningsih, Sikumbang, dan kelas VIII semester II SMP

Negri 12 Binjai.

Metode inkuiri – prestasi belajar dan berpikir kritis konflik kognitif – berpikir

kritis dan kreatif dalam matematika

(41)

23

2.2 Kerangka Berpikir

Pembelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran di SD yang bahasan materinya cukup luas, banyak, dan abstrak. Materi-materi dalam pembelajaran IPA menuntut siswa untuk lebih kritis dalam mengungkapkan gejala-gejala alam berkaitan dengan materi, karena materi IPA akan selalu bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Karena itu, dibutuhkan metode pembelajaran yang dapat menarik perhatian serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Metode mind map menggunakan berbagai macam gambar, warna, dan bentuk yang menarik akan dapat menarik perhatian anak untuk belajar IPA. Selain itu mind map dipercaya dapat mengaitkan informasi-informasi yang telah diperoleh otak dan menghubungkannya dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Mind map juga dapat merangsang otak untuk berpikir lebih kreatif dan menyeluruh sehingga tidaak ada bagian-bagian materi yang terlewatkan.

Berpikir kritis merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Setiap anak atau siswa di dalam pembelajaran diharapkan untuk mampu berpikir kritis mengenai masalah-masalah yang diajarkan oleh guru dan tidak begitu saja menerima pengetahuan dari guru. Pada masa sekarang ini, banyak siswa tidak sampai pada tahap berpikir kritis karena sudah terbiasa dengan metode pembelajaran yang langsung menerima pengetahuan. Kemampuan berpikir siswa akan mempengaruhi prestasi belajarnya. Biasanya siswa yang mampu untuk berpikir kritis akan memiliki prestasi yang lebih baik dari pada siswa yang kurang berpikir kritis.

Berdasarkan manfaat-manfaat yang dimiliki oleh mind map, guru dapat mempergunakan metode mind map untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Jika mind map digunakan pada mata pelajaran IPA untuk siswa kelas V SD N Percobaan 3 Pakem Yogyakarta, penggunaan mind map akan berpengaruh terhadapkemampuan berpikir kritis pada sub kategori eksplanasi dan

(42)

24

2.3 Hipotesis

2.3.1 Penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan

eksplanasi siswa kelas V SD N Percobaan 3 Pakem Yogyakarta pada mata pelajaran IPA semester genap tahun ajaran 2013/2014.

(43)

25

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini membahas metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Pembahasan metode penelitian yaitu mengenai jenis penelitian yang digunakan, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, definisi operasional, instrumen penelitian, uji validitas dan uji reliabilitas instrumen, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuasi eksperimental dengan tipe penelitian nonequivalent control group design (Sugiyono, 2012:118). Penelitian eksperimental menurut Creswell (2012:241-244) terdiri dari empat jenis, yaitu pre-experimental, quasi-experimental, true experimental, dan rancangan single-subject. Penelitian pre-experimental adalah penelitian yang melibatkan satu kelompok yang diberi treatment tertentu kemudian dilanjutkan dengan observasi/pengukuran. Quasi-experimental adalah penelitian yang melibatkan dua kelompok, satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol yang diseleksi tanpa prosedur penempatan acak. Pada penelitian quasi-experimental, kedua kelompok sama-sama diberikan pretest dan posttest, tetapi kelompok yang diberi treatment adalah kelompok eksperimen saja. True experimental adalah penelitian yang menerapkan prosedur random assigment

untuk memilih kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, kedua kelompok juga diberi pretest dan posttest tetapi yang diberi treatment hanya kelompok eksperimen. Rancangan single-subject adalah rancangan yang menerapkan observasi terus menerus pada satu individu utama, dan diberikan treatment setelah dinilai perilaku dasarnya.

Jenis penelitian ini termasuk kuasi eksperimental dengan desain peneilitian

(44)

26 dan B. Untuk menentukan mana kelas eksperimen dan kontrolnya dengan cara undian. Sebelum eksperimen dilaksanakan, akan dilakukan pretest untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki oleh kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kemudian, pada akhir eksperimen juga dilakukan posttest pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen untuk mengetahui kemajuan belajar siswa dan untuk membandingkan hasil belajar antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Campbell dan Stanley (dalam Cohen, 2007: 276) mengungkapkan bahwa hasil penelitian menggunakan pretest dan posttest atau pengaruh kausal dari intervensi dapat dihitung dalam tiga langkah, yaitu: (1) kurangi skor pretest dari nilai posttest untuk kelompok eksperimen untuk menghasilkan skor 1; (2) kurangi skor pretest dari nilai posttest untuk kelompok kontrol untuk menghasilkan skor 2; dan (3) kurangi skor 2 dari skor 1. Kemudian efek dari intervensi eksperimental akan menghasilkan rumus (O2 - O1) – (O4 –

O3). Jika hasilnya negatif maka efek kausal negatif atau tidak ada pengaruh dan

sebaliknya jika hasilnya positif (lebih dari nol) maka kausalnya positif atau ada pengaruh.Desain penelitian yang akan digunakan adalah sebagai berikut (Cohen, 2007: 278):

(Cohen, 2007: 283) Gambar 3.1 Desain Penelitian

Keterangan:

X = treatment/perlakuan dengan metode mind map

O1 = rerata skor pretest kelompok eksperimen

O2 = rerata skor posttest kelompok eksperimen

O3 = rerata skor pretest kelompok kontrol

O4 = rerata skor posttest kelompok kontrol

Garis putus-putus berarti bahwa tidak ada pilihan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang dilakukan secara random. Pada penelitian ini, pemilihan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan menggunakan proses undian. Kemudian kedua kelompok, baik eksperimen maupun kelompok kontrol diberikan pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Setelah itu,

O1 X O2

(45)

27 kelompok eksperimen diberikan treatment berupa pembelajaran menggunakan

mind map, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan treatment dan hanya melakukan pembelajaran seperti biasa yaitu menggunakan metode ceramah.

3.2 Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan sekitar akhir bulan Februari hingga awal Maret. Penelitian dilakukan di SD Percobaan 3 Pakem yang beralamat di Jl. Kaliurang km.17, Sukunan, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Lokasi sekolah terletak tepat di tepi jalan Kaliurang dan di depan RS Panti Nugroho Pakem. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah terfavorit di daerah Pakem. SDN Percobaan 3 Pakem mempunyai banyak prestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik. Pada bidang akademik, sekolah ini selalu mendapatkan ranking lima besar se kabupaten Sleman. Sedangkan pada bidang non-akademik, sekolah juga sering menjuarai perlombaan-perlombaan mulai dari tingkat kecamatan hingga provinsi. Perlombaan-perlombaan yang pernah dimenangkan diantaranya perlombaan dalam bidang olah raga, paduan suara, menggambar, dll. siswa yang bersekolah di SD N Percobaan 3 Pakem rata-rata berasal dari keluarga dengn tingkat ekonomi menengah ke atas. Pekerjaan orang tua siswa juga beragam, di antaranya pegawai swasta, wiraswasta, PNS, dosen, dan sebagainya.

Pemilihan tempat penelitian di SD N Percobaan 3 Pakem adalah karena di sekolah tersebut memang sering digunakan untuk penelitian-penelitian dari mahasiswa dari universitas di Yogyakarta. Selain itu, SD N Percobaan 3 Pakem memenuhi syarat untuk penelitian ekperimen kerena memiliki kelas pararel. Pembagian kelas pararel juga seimbang atau tidak berdasarkan kemampuan siswa. Penelitian dilaksanakan dalam waktu kurang lebih dua minggu. Jadwal pengambilan data dapat dilihat dalam tabel 3.1.

Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data

Kelompok Kegiatan Alokasi

Pembelajaran tentang tentang jenis pesawat sederhana (bidang miring)

(46)

28

Kelompok Kegiatan Alokasi

Waktu Hari/Tanggal

Pembelajaran tentang tentang jenis pesawat sederhana (katrol dan roda berporos)

2 x 35 menit Jumat, 21 Februari 2014

Review materi dari awal sampai

akhir materi pesawat sederhana 2 x 35 menit Sabtu, 22 Februari 2014

Posttest I 2 x 35 menit Kamis, 27 Februari 2014

Posttest II 2 x 35 menit Jumat, 21 Maret 2014

Pembelajaran tentang tentang jenis pesawat sederhana (bidang miring)

2 x 35 menit Selasa, 18 Februari 2014

Pembelajaran tentang tentang jenis pesawat sederhana (katrol dan roda berporos)

2 x 35 menit Sabtu, 22 Februari 2014

Review materi dari awal sampai

akhir materi pesawat sederhana 2 x 35 menit Selasa, 25 Februari 2014

Posttest I 2 x 35 menit Jumat, 28 Februari 2014

Posttest II 2 x 35 menit Jumat, 21 Maret 2014

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi menurut Sugiyono (2012: 119) adalah sekumpulan objek atau benda-benda yang diteliti, sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas V SD N Percobaan 3 Pakem Yogyakarta semester genap tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 64 siswa. Sampel untuk kelompok eksperimen adalah siswa kelas VA dengan jumlah siswa sebanyak 32 dan sampel untuk kelompok kontrol adalah siswa kelas VB dengan jumlah siswa 32. Kelompok eksperimen belajar menggunakan metode mind map dan kelompok kontrol menggunakan metode pembelajaran yang biasa dilakukan yaitu metode ceramah.

(47)

29 Pembelajaran pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol akan dilakukan oleh guru IPA di SDN Percobaan 3 Pakem. Pembelajaran dilakukan oleh guru yang sama pada kedua kelompok agar tidak ada kesenjangan atau perbedaan kemampuan guru dalam mengajar. Peneliti melakukan observasi atau pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung.

3.4 Variabel Penelitian

Variabel merupakan segala sesuatu yang dipelajari atau diteliti oleh peneliti dan akan menghasilkan informasi yang diinginkan oleh peneliti kemudiaan dibuat kesimpulannya (Sugiyono, 2012: 64). Variabel dalam penelitian ini adalah: (1) Metode mind map sebagai variabel independen. Variabel independen adalah variabel penstimulus atau yang menyebabkan adanya perubahan pada variabel dependen (Sugiyono, 2012: 64). (2) Kemampuan

eksplanasi dan regulasi diri adalah sebagai variabel dependen. Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya veriabel independen (Sugiyono, 2012: 64).

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 3.2. Variabel Penelitian

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data menggunakan teknik tes berupa pretest dan

posttest yang dilakukan di kelompok eksperimen serta kelompok kontrol dengan menggunakan instrumen yang sama. Posttest dilaksanakan selama dua kali yaitu

posttest I dan posttest II. Tujuan pemberian posttest II adalah untuk mengetahui retensi pengaruh perlakuan (Krathwohl, 2004: 546). Soal pretest digunakan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa pada kedua kelompok sebelum adanya pembelajaran. Sedangkan soal posttest digunakan untuk membandingkan hasil

Metode Mind map

Kemampuan Eksplanasi

(48)

30 belajar siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Selain itu peneliti juga melakukan wawancara dan observasi untuk lebih mengetahui pengaruh mind map serta kendala-kendalanya, karena Krathwohl (2004: 546) menganjurkan untuk memasukkan penelitian kualitatif dalam penelitian kuantitatif agar lebih dapat dipahami sudut pandang subjek yang diteliti terkait perlakuan dan variabel-variabel yang diteliti.

Proses pengambilan data dilaksanakan dalam waktu dua minggu untuk menghindari bias (Krathwohl, 2004: 547). Pembelajaran dilaksanakan oleh satu guru IPA dan disebut sebagai guru mitra. Guru mitra berperan sebagai penyampai materi dengan metode mind map pada kelompok eksperimen, pada kelompok kontrol menggunakan metode yang biasanya atau tradisional. Sedangkan peneliti selama proses pembelajaran berperan sebagai pengamat atau observer. Semua instrumen penelitian maupun media yang digunakan dalam proses pembelajaran dirancang dan disiapkan oleh peneliti. Untuk lebih mengetahui sensitivitas penelitian, peneliti memberikan posttest II yang dilaksanakan dengan jarak 3 minggu dari posttest I.

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data-data yang akan digunakan oleh peneliti. Penelitian ini memerlukan dua macam data, yaitu skor pretest dan skor posttest. Instrumen yang akan digunakan yaitu tes tertulis berupa tes essay untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa. Tes essay adalah bentuk tes yang memberikan kebebasan bagi siswa dalam menjawab soal sesuai dengan pengetahuan yang mereka ketahui (Widoyoko, 2012: 79). Soal terdiri dari enam buah soal yang masing-masing mewakili setiap kemampuan berpikir kritis Facione, akan tetapi dalam penelitian ini hanya membahas dua variabel yaitu kemampuan eksplanasi dan regulasi diri.

(49)

31 Tabel 3.2 Matriks Pengembangan Instrumen

No Variabel Indikator Nomor soal

1 Eksplanasi

- Menjelaskan gambar pesawat sederhana - Menjelaskan alasan penggunaan pesawat

sederhana

- Menguraikan langkah-langkah menggunakan pesawat sederhana

- Menjelaskan solusi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pesawat sederhana

5

2 Regulasi diri

- Menghargai pendapat teman

- Menilai kesimpulan dari keefektifan pesawat sederhana

- Menilai kelemahan dalam langkah yang tidak diambil

- Menguji argumen teman tentang pesawat sederhana

6

Kriteria penentuan skor atau rubrik penilaian dapat dilihat dalam tabel 3.3. Tabel 3.3 Rubrik Penilaian

No.

Soal Variabel Unsur-Unsur Kriteria Skor

1 Eksplanasi

Menjelaskan gambar, grafik, tabel dsb

Jika dapat menjelaskan prinsip kerja alat dan dapat menceritakan isi gambar

4

Jika dapat menjelaskan prinsip kerja alat namun tidak dapat menceritakan isi gambar

3

Jika tidak dapat menjelaskan prinsip kerja alat namun dapat menceritakan isi gambar

2

Jika tidak dapat menjelaskan prinsip kerja alat dan tidak dapat menceritakan isi gambar namun 1 alasan kurang tepat

3

dapat menjelaskan 1 alasan dengan tepat dan logis

2

dapat menjelaskan 1 alasan tidak tepat dan tidak logis

1

Menguraikan langkah-langkah yang digunakan untuk memecahkan masalah

Jika dapat menjelaskan 3 langkah dengan benar

4

Jika dapat menjelaskan 2 langkah dengan benar

3

Jika dapat menjelaskan 1 langkah dengan benar benar dan alasan yang logis

4

(50)

32

No.

Soal Variabel Unsur-Unsur Kriteria Skor

benar namun alasan tidak logis Jika memberikan pendapat benar

jika tidak mampu mengatasi dan tidak mampu mengungkapkan

Figur

Gambar 2.1 Contoh Mind map
Gambar 2 1 Contoh Mind map . View in document p.29
Gambar 2.3 Contoh Pesawat Sederhana
Gambar 2 3 Contoh Pesawat Sederhana . View in document p.35
Gambar 2.4. Prinsip Kerja Jungkat-jungkit
Gambar 2 4 Prinsip Kerja Jungkat jungkit . View in document p.35
Gambar 2.5 Prinsip Kerja Tuas Golongan I
Gambar 2 5 Prinsip Kerja Tuas Golongan I . View in document p.36
Gambar 2.7 Katrol (A) Katrol Tetap, (B) Katrol Bebas, (C) Katrol Majemuk
Gambar 2 7 Katrol A Katrol Tetap B Katrol Bebas C Katrol Majemuk . View in document p.37
Gambar 2.8 Literature Map dari Penelitian Sebelumnya
Gambar 2 8 Literature Map dari Penelitian Sebelumnya . View in document p.40
Gambar 3.1 Desain Penelitian
Gambar 3 1 Desain Penelitian . View in document p.44
Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data
Tabel 3 1 Jadwal Pengambilan Data . View in document p.45
Gambar 3.2. Variabel Penelitian
Gambar 3 2 Variabel Penelitian . View in document p.47
Tabel 3.2 Matriks Pengembangan Instrumen
Tabel 3 2 Matriks Pengembangan Instrumen . View in document p.49
Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas
Tabel 3 4 Hasil Uji Validitas . View in document p.52
Tabel 3.5 Kualifikasi Koefisien Reliabilitas
Tabel 3 5 Kualifikasi Koefisien Reliabilitas . View in document p.53
Tabel 3.7 Pertanyaan Wawancara dengan Guru
Tabel 3 7 Pertanyaan Wawancara dengan Guru . View in document p.60
tabel 4.1 (Lampiran 4.2).
Lampiran 4 2 . View in document p.65
Tabel 4.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Kemampuan Eksplanasi
Tabel 4 2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Kemampuan Eksplanasi . View in document p.66
grafik berikut:
grafik berikut: . View in document p.68
Tabel 4.4 Perbandingan Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I pada Kemampuan
Tabel 4 4 Perbandingan Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I pada Kemampuan . View in document p.69
Gambar 4.2 Grafik Peningkatan Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Eksplanasi
Gambar 4 2 Grafik Peningkatan Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Eksplanasi . View in document p.70
Tabel 4.7 Data Hasil Uji Normalitas Kemampuan Regulasi diri
Tabel 4 7 Data Hasil Uji Normalitas Kemampuan Regulasi diri . View in document p.72
Tabel 4.9 Perbandingan Selisih Skor Pretest ke Posttest I pada Kemampuan
Tabel 4 9 Perbandingan Selisih Skor Pretest ke Posttest I pada Kemampuan . View in document p.75
Tabel 4.10 Perbandingan Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I pada
Tabel 4 10 Perbandingan Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I pada . View in document p.76
Gambar 4.5 Grafik Peningkatan Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Regulasi Diri
Gambar 4 5 Grafik Peningkatan Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Regulasi Diri . View in document p.77
Gambar 4.6 Grafik Uji Retensi Pengaruh pada Kemampuan Regulasi Diri
Gambar 4 6 Grafik Uji Retensi Pengaruh pada Kemampuan Regulasi Diri . View in document p.79

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (167 Halaman)