BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah tentang air merupakan masalah yang dihadapi manusia apabila

Teks penuh

(1)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masalah tentang air merupakan masalah yang dihadapi manusia apabila terlalu berlimpah atau sedikitnya air menjadi masalah yang dihadapi pada musim penghujan dan kemarau. Salah satu masalah yang dihadapi pada musim penghujan yaitu bencana banjir. Banjir terjadi akibat kelebihan air pada jaringan drainase yang menyebabkan air tidak dapat ditampung, sehingga melimpah ke luar jaringan drainase. Limpahan air dari saluran drainase ini yang menyebabkan genangan. Banjir merupakan salah satu jenis bencana alam yang paling banyak terjadi di daerah tropis dan memiliki kekuatan merusak apabila dibandingkan dengan jenis bahaya alami lain, yaitu berkisar 40% dari kerusakan bahaya alami total (Kingma, 1991). Banjir merupakan suatu masalah yang rentan bagi daerah-daerah di hilir yang memiliki kemiringan lereng datar hingga landai. Kawasan dataran rendah tersebut, selain merupakan daerah sasaran banjir juga merupakan daerah yang sangat potensial untuk berbagai prasarana pembangunan dan pengembangan bagi sebagian besar sektor kehidupan manusia seperti permukiman ataupun pertanian (Verstappen, 1983). Kerusakan pada sektor pertanian akan menimbulkan dampak yang cukup serius, bukan hanya untuk daerah tersebut, akan tetapi juga daerah-daerah lainnya dalam hal ketersediaan bahan pangan. Begitu pula dengan sektor permukiman pada lokasi yang terdampak banjir. Di sektor permukiman, dalam hal pembangunan dan pengembangan permukiman akan terhambat karena seringnya daerah tersebut dilanda banjir masyarakat harus mengeluarkan dana ekstra untuk

(2)

2 memitigasi dirinya dan keluarga agar dapat meminimalisir kerugian yang terjadi akibat banjir. Laju pertumbuhan penduduk lebih pesat terjadi di daerah hilir dibandingkan dengan pertumbuhan di daerah hulu DAS. Persoalan banjir menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat dalam beraktivitas, seperti merusak badan-badan jalan dan prasarana lainnya akibat sering tergenang air. Akibat dari kejadian tersebut dapat menimbulkan kerugian materiil bahkan korban jiwa apabila bencana banjir besar terjadi.

Banjir merupakan masalah bagi lingkungan terutama manusia yang diakibatkan oleh peristiwa alam maupun akibat aktivitas dan kegiatan manusia (Kodoatie & Sugiyanto, 2002). Faktor alam yang dapat menyebabkan banjir antara lain curah hujan, pengaruh fisiografis DAS, erosi, sedimentasi, kapasitas sungai, dan kapasitas drainase yang tidak memadai. Faktor manusia yang menyebabkan banjir adalah perubahan kondisi DAS, masalah sampah, kurangnya saluran drainase, kerusakan bangunan pengendali banjir dan perencanaan sistem pengendalian banjir tidak tepat. Parameter DAS yang besar pengaruhnya terhadap karakteristik aliran banjir adalah perubahan fungsi lahan, baik yang terjadi secara alamiah maupun eksploitasi dan pemanfaatan lahan yang sengaja dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan kesejahteraan dari tolak ukur ekonomi. Perubahan fisik yang terjadi di DAS akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan retensi DAS sebagai zona penahan air di bagian hulu (Maryono, 2005).

Luas hutan di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2003 mencapai 1.363.719 ha dan menurut fungsinya terbagi menjadi hutan lindung 315.505,3 ha; Hutan produksi 815.086,6 ha; dan Kawasan Konservasi yang terdiri dari Cagar Alam 10.957,9 ha, Suaka Margasatwa 18.008,6 ha, Taman Wisata 297,5 ha, Taman Nasional

(3)

3 175.994,8 ha dan Taman Hutan Raya 27.868,3 ha (Pemerintah Provinsi Jawa Timur, 2005). Luas hutan di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2003 menunjukkan hanya 28,4% dari luas total Provinsi Jawa Timur yang berupa hutan. UU RI No. 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan, UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan PP RI No 60 tahun 2012 mengatakan bahwa secara ideal suatu kawasan luas hutan adalah 30% dari luas daratan. Namun pada kenyataannya, Jawa Timur semestinya masih kekurangan sekitar 76.829 ha untuk mencapai luas hutan yang ideal. Dari luas hutan Jawa Timur tersebut, seluas 660.000 ha atau lebih dari 50% dalam kondisi telah rusak yang diakibatkan oleh illegal logging dan kebakaran (Dinas Kehutanan Pemerintah Propinsi Jawa Timur, 2003). Kondisi luas hutan yang rusak seluas 500.000 ha berada di luar kawasan lindung dan 160.000 ha sisanya berada di kawasan hutan lindung dalam pengelolaan Perhutani. Analisis citra satelit Landsat tahun 2001 menunjukkan bahwa kawasan hutan yang gundul di Jawa Timur seluas 120 ha. Jika dibandingkan dengan tahun 2001 tingkat penggundulan hutan tahun 2003 mengalami kenaikan lebih dari 30% (Kompas, 2003). Turunnya kemampuan retensi DAS akibat perubahan dan alih fungsi lahan tersebut mempengaruhi besarnya angka limpasan dan erodibilitas permukaan yang menyebabkan terjadinya aliran besar dengan konsentrasi sedimen dalam bentuk suspensi yang tinggi.

Bencana banjir termasuk bencana alam yang hampir terjadi pada setiap datangnya musim penghujan. Seperti yang terjadi di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, merupakan lokasi yang mengalami banjir terjadi akibat limpasan air sungai Penguluran yang merusak permukiman warga hingga memakan korban (Malang Post, 2013). Kejadian banjir yang terjadi

(4)

4 di Sitiarjo memiliki debit yang besar dan melimpah dalam waktu singkat membawa material lumpur di dalamnya. Berdasarkan keterangan warga, banjir yang terjadi pada tanggal 7 Juli 2013, air naik dan surut dengan cepat selama 2 jam. Fenomena ini dapat dikategorikan sebagai banjir bandang (flash flood). Angillieri (2008) menjelaskan bahwa fenomena banjir bandang memiliki karakteristik waktu yang singkat, debit puncak tinggi yang mengalir cepat dan menyebabkan kerusakan bangunan. Banjir bandang terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi, lereng yang curam, buruknya penutup vegetasi dan arus air yang tinggi (Xiao Lin, 1999 dalam Angillieri, 2008). Banjir bandang terjadi apabila ciri-ciri antara lain debit puncak yang tinggi dan waktu datangnya banjir yang sangat cepat, sehingga tidak memberikan kesempatan penduduk untuk persiapan mengungsi. Untuk mengurangi dampak yang diakibatkan banjir, perlu dilakukan tindakan pencegahan atau pengendalian, yaitu salah satunya dengan konservasi air.

1.2. Perumusan Masalah

DAS Penguluran merupakan DAS di bawah wilayah kerja BPDAS Brantas yang terdapat di Kecamatan Sitiarjo, Kabupaten Malang. DAS Penguluran merupakan DAS yang memiliki hulu dari mata air di Gunung Gatel, Gunung Watu Gedek, Gunung Kendeng dan Gunung Gantung, Kabupaten Malang dan berhilir di Samudera Hindia. DAS Penguluran memiliki masalah banjir yang selalu terjadi pada musim penghujan. DAS Penguluran memiliki siklus banjir 10 tahunan dengan banjir terbesar pada tahun 1985, 1997, 2003, 2010 dan yang terbesar pada tahun 2013 (Tempo, 2013). Kondisi rumah yang terdampak banjir tahun 2013 didokumentasi oleh Kompas (2013) yang ditunjukkan pada Gambar 1.1.

(5)

5

Gambar 1.1 Kondisi salah satu rumah yang tertutup material lumpur akibat banjir di Desa Sitiarjo (Kompas, 2013)

Pada Tahun 2003 terjadi banjir bandang di DAS Penguluran, Sitiarjo setinggi 2 meter yang menyebabkan 149 bangunan rusak diantaranya rumah, sekolah dasar dan tempat ibadah, 6 ha perkebunan rusak dan 3 korban tewas (Tempo, 2003). Dilansir dari Tempo (2006), Perum Perhutani Malang menjelaskan bahwa sebagian besar hutan di bukit di sekeliling Sitiarjo telah berkurang dalam kurun 1998-1999 berganti ladang yang ditanami sayur-sayuran seperti kacang tanah, singkong dan jagung. Luas lahan kritis di Kabupaten Malang tahun 2006 yang terdiri dari hutan lindung seluas 2.435 ha, hutan konservasi 2.012 ha, dan hutan produksi 5.621 ha. Sebagian besar lahan kritis berada di wilayah Malang Selatan. Kecamatan Sumbermanjing Wetan menjadi daerah yang memiliki lahan kritis terluas yakni 5.869 ha (Tempo, 2006).

Pada tahun 2007, banjir terjadi di Desa Sitiarjo, yakni Dusun Palung, Dusun Pulungrejo dan Dusun Rawateratai. Sekitar 3.000 jiwa dievakuasi karena rumah warga terendam air (Jasa Raharja, 2007). Banjir yang sering terjadi menyebabkan Pemerintah Kabupaten menetapkan Desa Sitiarjo sebagai Rawan I bencana banjir. Tahun 2013 merupakan salah satu kejadian bencana banjir yang terbesar melanda

(6)

6 Desa Sitiarjo selama kurun waktu 25 tahun (1985-2015). Berdasarkan data BPBD terdapat 847 keluarga dari 2.928 keluarga di Desa Sitiarjo yang menjadi korban banjir bandang (BPBD, 2013). Kerusakan pada beberapa rumah di bagian hilir yang diakibatkan banjir pada tahun 2013 ditunjukkan pada Gambar 1.2. Ketinggian banjir mencapai 1-2 meter menyebabkan ratusan rumah tenggelam dan menghanyutkan ratusan hewan ternak (Malang Post, 2013).

Gambar 1.2 Kondisi rumah warga yang rusak akibat terjangan banjir di Desa Sitiarjo (Surya Online, 2013)

Kejadian banjir mengindikasikan perlu adanya pengelolaan air di DAS Penguluran. Pengelolaan air perlu dilakukan untuk mengurangi limpasan dan memperlambat laju air menuju hilir sehingga konsentrasi debit air di hilir tidak meningkat dalam waktu singkat. Pengelolaan yang dilakukan salah satunya adalah pemanenan air hujan (Rainwater Harvesting). Pemanenan air hujan bertujuan agar air hujan yang jatuh tidak langsung menjadi limpasan permukaan, namun dapat ditampung dan dikelola agar dapat mengurangi proses hujan menjadi aliran

(7)

7 permukaan. Salah satu metode pemanenan air hujan yang digunakan yaitu dengan sumur resapan. Sumur resapan berfungsi sebagai tempat menampung air hujan sementara yang jatuh di atas atap rumah, kemudian air hujan tersebut akan diserap oleh tanah secara perlahan sehingga limpasan air hujan tidak langsung mengalir ke saluran drainase (Kusnaedi, 2000). Sumur resapan memiliki banyak fungsi, salah satunya yang berkaitan dengan banjir yaitu memperkecil puncak hidrograf di hilir dan konservasi air tanah (Sunjoto, 2011). Keunggulan teknik konservasi air berupa sumur resapan merupakan pengelolaan air berbasis masyarakat. Berbasis masyarakat adalah masyarakat menjadi penentu utama dalam keberhasilan pengelolaan air hujan di DAS Penguluran, sehingga dibutuhkan adanya partisipasi masyarakat secara aktif di dalamnya (Samadikun et al., 2012). Masyarakat dapat membangun sumur resapan secara individual maupun komunal. Untuk mengurangi limpasan permukaan dari hujan, sumur resapan dibuat secara individual di setiap rumah untuk menampung limpasan yang ditangkap oleh atap rumah lalu disalurkan melalui talang yang dialirkan menuju sumur resapan. Sumur resapan komunal dapat dibuat dengan volume tertentu yang dapat menampung limpasan yang ditangkap oleh atap beberapa rumah.

Dari perumusan masalah tersebut, peneliti tertarik meneliti tentang kejadian banjir yang terjadi di DAS Penguluran, sehingga dapat ditarik pertanyaan penelitian sebagai berikut.

a. Bagaimana model hujan aliran menggunakan metode SCS CN di DAS Penguluran?

b. Bagaimana debit aliran dan ketinggian air yang terjadi pada kejadian banjir tanggal 10 Juli 2013 di DAS Penguluran?

(8)

8 c. Seberapa efektif teknik pengelolaan dengan sumur resapan dapat

mengurangi debit banjir pada tanggal 10 Juli 2013 di DAS Penguluran?

1.3. Tujuan

Dari pertanyaan penelitian yang dikemukakan pada rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

a. Membuat model hujan aliran menggunakan metode SCS CN pada DAS Penguluran.

b. Merekonstruksi banjir yang terjadi pada DAS Penguluran pada kejadian tanggal 10 Juli 2013.

c. Menganalisis efektivitas sumur resapan dalam mengurangi debit banjir yang pada kejadian banjir tanggal 10 Juli 2013.

1.4. Faedah Penelitian

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai terutama dalam hal penanggulangan dan pengendalian banjir daerah pedesaan serta mendukung penetapan keputusan dalam hal pengelolaan air berbasis masyarakat. Selain itu, memberikan sumbangan ilmu pemanenan air hujan khususnya sumur resapan sebagai alternatif untuk melakukan pengurangan debit banjir berbasis masyarakat di daerah pedesaan.

1.5. Penelitian Terdahulu

Werdiningsih (2012) melakukan penelitian tentang rancangan dimensi sumur resapan dengan judul Rancangan Dimensi Sumur Resapan Untuk Konservasi

(9)

9 Airtanah di Kompleks Tambakbayan, Sleman DIY. Penelitian tersebut dilakukan di Kompleks perumahan Tambakbayan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan desain sumur resapan di daerah penelitian dengan menggunakan metode Sunjoto berdasarkan intensitas hujan pada periode ulang 5, 10, 20 dan 50 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bawa di kompleks perumahan Tambakbayan terdapat 8 kelas klasifikasi atap dengan desain kedalaman sumur resapan antara 1,3 meter - 4,7 meter.

Lariosa (2013) melakukan penelitian tentang kajian pengendalian banjir menggunakan sumur injeksi, dengan judul penelitian Assesing Flooding and Rainwater Harvesting In Kaiaka Bay Watershed, O’Ahu, Hawai’i. Adapun tujuan

dari penelitian ini adalah untuk menentukan potensi air hujan yang dapat ditampung menggunakan sumur injeksi. Untuk menentukan efektivitasnya, Lariosa (2013) membandingkan hasil zona banjir sebelum dilakukan pemanenan air hujan dan setelah dilakukan pemanenan air hujan menggunakan ekstensi RAS-1 dalam perangkat lunak WMS (Watershed Modelling System), sedangkan untuk menentukan efektivitas sumur resapan digunakan perangkat lunak WELL untuk mengetahui ketinggian air dapat dipengaruhi melalui sumur resapan dari sepuluh sumur injeksi pada empat cekungan banjir hipotetis. Hasil penelitian berupa potensi besar runoff yang dapat ditampung sumur injeksi dan peta zona banjir dengan dan tanpa pemanenan air hujan.

Haliuc & Frantiuc (2013) merekonstruksi kejadian banjir bandang yang terjadi pada tahun 2010 pada DAS Baranca, dengan judul A Study Case Of Baranca Drainage Basin Flash-Floods Using The Hydrological Model Of HEC-RAS.

(10)

10 untuk merekonstruksi banjir yang terjadi pada tahun 2010. Peneliti mencoba perangkat lunak yang tersedia secara gratis dari USACE, hasilnya margin kesalahan dapat diterima untuk pemodelan banjir bandang, sehingga perangkat lunak HEC-GeoRAS dapat digunakan untuk manajemen banjir atau perencanaan DAS untuk mengurangi risiko yang terkait dengan banjir bandang.

Putra (2014) meneliti tentang rancangan sumur resapan di Sub DAS Garang Hilir, dengan judul penelitian Rancangan Sumur Resapan di Sub DAS Garang, Kota Semarang, Jawa Tengah. Sumur resapan didesain berdasarkan nilai intensitas hujan pada periode ulang 10 tahunan. Selain itu penelitian menentukan daerah yang layak untuk dibangun sumur resapan. Penelitian ini menggunakan metode Sunjoto untuk menentukan desain dan volume sumur resapan. Hasilnya berupa intensitas hujan rancangan pada periode ulang 2, 5, 10 dan 25 tahun dan penentuan wilayah prioritas dan desain sumur resapan pada wilayah prioritas.

Penelitian ini meneliti tentang efektivitas sumur resapan dalam pengurangan debit banjir di DAS Penguluran, dengan judul Kajian Pemanenan Air Hujan (Rainwater Harvesting) terhadap Banjir di DAS Penguluran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Persamaan dengan penelitian sebelumnya adalah penggunaan model sumur resapan Sunjoto untuk menentukan desain sumur resapan (Werdiningsih, 2012; Putra, 2014) dan penggunaan model HEC-RAS untuk menentukan zonasi banjir (Haliuc & Frantiuc, 2014). Perbedaan pada penelitian sebelumnya, peneliti menggunakan model hidrograf satuan SCS untuk menentukan debit model. Peneliti merujuk dari penelitian Lariosa (2013) untuk menentukan sumur resapan sebagai salah satu pengelolaan banjir, namun

(11)

11 dalam penelitian ini, tipe sumur resapan yang digunakan dan perangkat lunak untuk menentukan efektivitas sumur resapan berbeda.

(12)

12

Tabel 1.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu Tentang Pemanenan Air Hujan Dalam Pengurangan Dampak Banjir

No Nama

Peneliti Judul Penelitian Tujuan Hasil

1. Werdiningsih (2012)

Rancangan Dimensi Sumur Resapan Untuk Konservasi Airtanah Di Kompleks Tambakbayan, Sleman DIY

1. Menghitung intensitas hujan periode ulang 5, 10, 20, dan 50 tahun

2. Menganalisis desain sumur resapan untuk masing-masing kelas atap

1. Intensitas curah hujan pada periode ulang 5, 10, 20 dan 50 Tahun 2. Peta Kedalaman muka airtanah

daerah penelitian

3. Desain sumur resapan untuk masing-masing kelas atap

2. Lariosa (2013)

Assessing Flooding And Rainwater Harvesting In Kaiaka Bay

Watershed, O‘Ahu, Hawai‘I

1. Mengkaji potensi pengendalian banjir menggunakan sumur injeksi di DAS Teluk Kaiaka, Hawai’i 2. Mengkaji zona banjir dan perkiraan ketinggian banjir

dengan dan tanpa pemanenan air hujan

1. Potensi besar runoff yang dapat ditampung sumur injeksi

2. Peta zona banjir dengan dan tanpa pemanenan air hujan

3.

Haliuc & Frantiuc (2013)

A Study Case Of Baranca Drainage Basin Flash-Floods Using The Hydrological Model Of HEC-RAS

1. Merekonstruksi banjir bandang tahun 2010 menggunakan HEC-GeoRAS

1. Peta Sebaran Genangan Banjir Bandang

2. Peta Sebaran Kecepatan Air 4. Putra

(2014)

Rancangan Sumur Resapan Di Sub DAS Garang Hilir Kota Semarang, Jawa Tengah

1. Mengetahui nilai intensitas hujan periode ulang 10 tahunan

2. Menentukan daerah yang layak dan mendesain sumur resapan

1. Intensitas hujan rancangan pada periode ulang 2, 5, 10 dan 25 tahun 2. Penentuan wilayah prioritas dan

desain sumur resapan pada wilayah prioritas

5. Nurrizqi (2015)

Kajian Pemanenan Air Hujan (Rainwater Harvesting) terhadap Banjir di DAS Penguluran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang

1. Mengkaji proses hujan menjadi aliran pada kejadian banjir tahun 2013 di DAS Penguluran.

2. Merekonstruksi banjir yang terjadi pada DAS Penguluran pada tahun 2013.

3. Menganalisis efisiensi teknik pengelolaan dengan sumur resapan dapat mengurangi debit banjir yang terjadi pada DAS Penguluran.

1. Analisis proses hujan-limpasan pada banjir tahun 2013

2. Hidrograf satuan SCS

3. Peta zona terdampak banjir pada tahun 2013

4. Peta zona banjir dengan dan tanpa sumur resapan

(13)

13 1.6. Definisi Operasional

Daerah Aliran Sungai adalah daerah yang di batasi oleh igir bukit dimana air hujan yang jatuh, akan ditampung dan dialirkan melalui jaringan sungai dari hulu ke hilir (Asdak, 2010).

Banjir adalah peristiwa tidak tertampungnya air dalam jaringan sungai sehingga meluap keluar jaringan sungai.

Banjir Bandang adalah kejadian banjir yang ketinggian air meningkat cepat dan waktu debit menuju puncak berlangsung kurang dari 1 jam sampai beberapa jam setelah terjadinya hujan yang diakibatkan oleh intensitas hujan yang tinggi dan topografi daerah hulu yang curam (Bangira, 2013).

Model Hidrologi adalah sajian sederhana yang menggambarkan proses-proses fisik yang sesungguhnya dari siklus hidrologi, dengan mentransformasikan hujan menjadi limpasan sebagai unit hidrograf tunggal (Linsley et al., 1996) Model Unit Hidrograf adalah model penyajian grafis hubungan antara debit dengan waktu yang dihasilkan dari hujan efektif yang terjadi merata di seluruh DAS dengan intensitas yang tetap.

Rekonstruksi Banjir adalah proses penggambaran kembali kejadian banjir yang terjadi di masa lalu, yang didekati menggunakan kondisi karakteristik DAS dan informasi banjir masa lalu.

Kalibrasi adalah proses verifikasi dari hasil model hidrologi agar hasil yang diperoleh dapat memberikan hasil yang konsisten dan mendekati dengan kondisi di lapangan.

(14)

14 Pengelolaan Air adalah suatu proses pengendalian air hujan agar tidak langsung menjadi aliran dan mengatur waktu aliran agar tidak cepat menuju ke hulu (Arsyad, 1989).

Pemanenan Air Hujan adalah kegiatan pemanfaatan air hujan dengan cara dikumpulkan atau dipanen dari atap bangunan yang dialirkan ke dalam suatu wadah pengumpul air hujan.

Sumur Resapan adalah bangunan resapan air berupa sumur gali yang memiliki kedalaman tertentu yang digunakan untuk menampung sementara air hujan untuk meresap ke dalam tanah (Suripin, 2002).

Figur

Gambar 1.2 Kondisi rumah warga yang rusak akibat terjangan banjir di Desa Sitiarjo  (Surya Online, 2013)

Gambar 1.2

Kondisi rumah warga yang rusak akibat terjangan banjir di Desa Sitiarjo (Surya Online, 2013) p.6

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :