T0
LAPORAN
NERACA PEMBAYARAN
INDONESIA
Realisasi Triwulan I 2016
Agustus 2013 Mei 2016Alamat Redaksi:
Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik
Bank Indonesia
Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai 15 Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10350 Telepon : (021) 29816688 Faksimili : (021) 3501935 E-mail : [email protected] Website : www.bi.go.id
LAPORAN
NERACA PEMBAYARAN INDONESIA
Realisasi Triwulan I 2016
RINGKASAN
PERKEMBANGAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA TRIWULAN I 2016
1 3
TRANSAKSI BERJALAN 4
Neraca Perdagangan Barang 4
Neraca Perdagangan Nonmigas 4
Neraca Perdagangan Migas 11
Neraca Perdagangan Jasa 13
Neraca Pendapatan Primer 14
Neraca Pendapatan Sekunder 14
TRANSAKSI MODAL DAN FINANSIAL 15
Investasi Langsung 15
Investasi Portofolio 17
Investasi Lainnya 19
INDIKATOR SUSTAINABILITAS EKSTERNAL 23
PROSPEK NERACA PEMBAYARAN INDONESIA 25
Boks 1: Perubahan Angka Statistik NPI
Dibandingkan Publikasi Triwulan IV 2015 27
LAMPIRAN 29
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
Hal Hal
Tabel 1 Ekspor Nonmigas menurut Kelompok Barang (Berdasarkan SITC)
6 Tabel 6 Impor Nonmigas (c.i.f) menurut Negara Asal Utama 11
Tabel 2 Ekspor Nonmigas menurut Negara Tujuan Utama 6 Tabel 7 Perkembangan Ekspor Minyak 12 Tabel 3 Perkembangan Ekspor Komoditas Nonmigas Utama
(Berdasarkan HS) 9 Tabel 8 Perkembangan Impor Minyak (f.o.b) 12 Tabel 4 Impor Nonmigas (c.i.f) menurut Kelompok Barang 10 Tabel 9 Perkembangan Ekspor Gas 13 Tabel 5 Impor (c.i.f) Komoditas Nonmigas Utama 11 Tabel 10 Indikator Sustainabilitas Eksternal 23
DAFTAR GRAFIK
Hal Hal
Grafik 1 Neraca Pembayaran Indonesia 3 Grafik 14 Perkembangan Investasi Langsung 16 Grafik 2 Transaksi Berjalan 4 Grafik 15 Perkembangan PMA menurut Sektor Ekonomi 16 Grafik 3 Neraca Perdagangan Nonmigas 4 Grafik 16 Perkembangan PMA menurut Negara Asal 17 Grafik 4 Pertumbuhan Ekspor Nonmigas 4 Grafik 17 Perkembangan Investasi Portofolio 18 Grafik 5 Neraca Perdagangan Migas 12 Grafik 18 Perkembangan Posisi Kepemilikan SBI & SUN
oleh Asing 18
Grafik 6 Perkembangan Harga Minyak Dunia 12 Grafik 19 Perkembangan Transaksi Asing di BEI dan IHSG 19 Grafik 7 Perkembangan Neraca Perdagangan Jasa 13 Grafik 20 Perkembangan Indeks Bursa di Beberapa Negara
ASEAN 19
Grafik 8 Pembayaran Jasa Freight 13 Grafik 21 Investasi Portofolio menurut Sektor Institusi 19 Grafik 9 Neraca Jasa Travel 13 Grafik 22 Perkembangan Investasi Lainnya 20 Grafik 10 Perkembangan Neraca Pendapatan 14 Grafik 23 Transaksi Aset Investasi Lainnya Sektor Swasta 20 Grafik 11 Perkembangan Remitansi Tenaga Kerja 14 Grafik 24 Transaksi Kewajiban Investasi Lainnya Sektor Swasta 20 Grafik 12 Posisi Tenaga Kerja Indonesia Tw. I-2016 15 Grafik 25 Perkembangan Pinjaman LN Sektor Publik 21 Grafik 13 Transaksi Modal dan Finansial 15
Defisit transaksi berjalan triwulan I 2016 menurun, terutama didorong oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan. Defisit transaksi berjalan turun dari USD5,1 miliar (2,4% PDB) pada triwulan IV 2015 menjadi USD4,7 miliar (2,1% PDB) pada triwulan I 2016. Penurunan defisit transaksi berjalan terutama ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat sebagai dampak dari penurunan impor nonmigas (-5,2% qtq) yang lebih besar dari penurunan ekspor nonmigas (-2,6% qtq). Meskipun secara keseluruhan menurun, kinerja ekspor beberapa komoditas nonmigas mulai menunjukkan perbaikan. Di sisi migas, neraca perdagangan migas membaik seiring dengan menyusutnya impor minyak karena harga minyak dunia yang lebih rendah. Perbaikan kinerja transaksi berjalan juga disumbang oleh berkurangnya defisit neraca jasa mengikuti turunnya impor barang dan turunnnya pengeluaran wisatawan nasional selama berkunjung ke luar negeri. Sementara itu, defisit neraca pendapatan primer mengalami peningkatan terkait pola pembayaran bunga surat utang pemerintah.
Transaksi modal dan finansial triwulan I 2016 mencatat surplus seiring dengan membaiknya prospek ekonomi domestik dan berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter di negara-negara maju. Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2016 mencapai USD4,2 miliar, terutama ditopang oleh aliran masuk modal investasi portofolio dan investasi langsung. Aliran masuk modal investasi portofolio neto terus meningkat dan mencapai USD4,4 miliar untuk keseluruhan triwulan I 2016. Aliran masuk modal investasi portofolio tersebut bersumber dari penerbitan sukuk global pemerintah, surat berharga negara berdenominasi rupiah, dan saham. Investasi langsung juga tercatat surplus sebesar USD2,2 miliar, meski lebih kecil dibandingkan dengan surplus pada triwulan IV 2015 sebesar USD2,8 miliar. Secara total, surplus transaksi modal dan finansial triwulan I 2016 lebih rendah dibandingkan dengan surplus triwulan sebelumnya. Hal itu terutama karena investasi lainnya yang mengalami defisit sebagai dampak dari masih rendahnya penarikan pinjaman luar negeri swasta.
Secara keseluruhan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2016 mengalami defisit seiring dengan surplus transaksi modal dan finansial yang lebih rendah. Defisit NPI tercatat sebesar USD0,3 miliar. Adapun posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2016 tercatat sebesar USD107,5 miliar. Jumlah cadangan devisa ini cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah
selama 7,7 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional
.
RINGKASAN
T
r
a
n
s
a
k
si
B
e
rj
al
a
n
Di tengah berlangsungnya proses pemulihan perekonomian domestik, keseimbangan eksternal Indonesia menunjukkan perbaikan. Defisit transaksi berjalan pada triwulan I 2016 mencatat penurunan menjadi USD4,7 miliar (2,1% PDB) dari USD5,1 miliar (2,4% PDB) pada triwulan IV 2015. Namun demikian, defisit tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan defisit pada triwulan I 2015 sebesar USD4,1 miliar (1,9% PDB). Penurunan defisit tersebut
terutama didukung oleh perbaikan neraca
perdagangan barang, baik migas maupun nonmigas. Defisit neraca perdagangan migas menyusut sebagai dampak menurunnya impor minyak seiring dengan harga minyak dunia yang lebih rendah. Di sisi nonmigas, surplus neraca perdagangan nonmigas mencatat peningkatan akibat penurunan ekspor nonmigas (-2,6% qtq) yang lebih rendah dari penurunan impor nonmigas (-5,2% qtq). Penurunan defisit transaksi berjalan tersebut juga didukung antara lain oleh turunnya defisit neraca jasa mengikuti
turunnya impor barang dan berkurangnya
pengeluaran wisatawan nasional selama melakukan perjalanan ke luar negeri. Sementara itu, penurunan defisit transaksi berjalan sedikit tertahan terutama akibat defisit neraca pendapatan primer yang mengalami peningkatan terkait dengan pembayaran bunga surat utang pemerintah yang cukup tinggi sesuai dengan polanya.
Persepsi investor yang positif terhadap prospek perekonomian Indonesia masih menjadi faktor pendorong aliran masuk modal asing ke Indonesia pada triwulan I 2016. Sebagian besar dana asing tersebut masuk dalam bentuk investasi portofolio dan investasi langsung. Di sisi lain, kinerja investasi lainnya mengalami defisit, terutama akibat penempatan
simpanan swasta domestik di luar negeri dan neto pembayaran pinjaman luar negeri sektor swasta. Secara keseluruhan, surplus transaksi modal dan finansial triwulan I 2016 tercatat sebesar USD4,2 miliar, menurun dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya (USD9,8 miliar) maupun triwulan yang sama tahun sebelumnya (USD5,0 miliar).
Grafik 1
Neraca Pembayaran Indonesia
Surplus transaksi modal dan finansial yang lebih kecil dibandingkan dengan defisit transaksi berjalan menyebabkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2016 mengalami defisit sebesar USD0,3 miliar, setelah pada triwulan sebelumnya mencatat surplus USD5,1 miliar. Adapun posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2016 tercatat sebesar USD107,5 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2015 sebesar USD105,9 miliar (Grafik 1). Jumlah cadangan devisa per akhir Maret 2016 tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 7,7 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor, sehingga dipandang relatif kuat dalam mendukung ketahanan sektor eksternal dan
0 30 60 90 120 150 -15 -10 -5 0 5 10 15 20 T w .I T w .I I T w .II I T w .IV Tw.I T w .I I T w .II I T w .IV Tw.I T w .I I T w .II I T w .IV Tw.I T w .I I T w .II I T w .IV Tw.I T w .I I T w .II I T w .IV Tw.I T w .I I T w .II I T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016
Trans. Modal & Finansial Trans. Berjalan Neraca Keseluruhan Cadev (RHS)
miliar USD miliar USD
* angka sementara ** angka sangat sementara
PERKEMBANGAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA
TRIWULAN I 2016
kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
TRANSAKSI BERJALAN
Di tengah berlangsungnya proses pemulihan ekonomi domestik, kinerja transaksi berjalan pada triwulan I 2016 membaik. Defisit transaksi berjalan pada triwulan I 2016 tercatat sebesar USD4,7 miliar (2,1% dari PDB), lebih rendah dibandingkan dengan defisit triwulan IV 2015 sebesar USD5,1 miliar (2,4% dari PDB) namun lebih tinggi dibandingkan dengan defisit triwulan I 2015 sebesar USD4,1 miliar (1,9% PDB). Perkembangan transaksi berjalan tersebut didukung oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas, serta menurunnya defisit neraca perdagangan migas dan neraca jasa (Grafik 2).
Grafik 2 Transaksi Berjalan
Pada triwulan I 2016, kinerja neraca
perdagangan meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya ditopang peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas dan penurunan defisit neraca perdagangan migas. Meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas dipengaruhi oleh penurunan ekspor nonmigas yang lebih kecil dibandingkan dengan penurunan impor nonmigas. Menurunnya ekspor nonmigas akibat penurunan harga komoditas global dan masih lemahnya permintaan dunia, sementara penurunan impor nonmigas akibat masih relatif lemahnya permintaan domestik. Di sisi migas, defisit neraca perdagangan
migas menyusut terutama sebagai dampak dari menurunnya impor minyak seiring dengan pelemahan harga minyak dunia.
Penurunan impor, baik migas maupun
nonmigas, pada triwulan I 2016 berdampak positif pada kinerja neraca jasa melalui penurunan
pengeluaran jasa transportasi barang (freight).
Perbaikan neraca jasa juga dipengaruhi oleh kenaikan surplus jasa travel sebagai dampak dari lebih rendahnya pengeluaran wisatawan nasional selama kunjungan ke luar negeri. Sementara itu, penurunan defisit transaksi berjalan sedikit tertahan oleh peningkatan defisit neraca pendapatan primer dan menurunnya surplus neraca pendapatan sekunder. Defisit neraca pendapatan primer mengalami peningkatan terkait dengan pembayaran bunga surat utang pemerintah yang cukup tinggi sesuai dengan polanya, sedangkan menurunnya surplus neraca pendapatan sekunder akibat lebih rendahnya penerimaan hibah pemerintah dan neto penerimaan remitansi tenaga kerja.
Neraca Perdagangan Barang
Neraca perdagangan barang triwulan I 2016 mencatat surplus sebesar USD2,8 miliar, naik 41,7% dibandingkan dengan surplus triwulan IV 2015 sebesar USD2,0 miliar. Perbaikan kinerja neraca perdagangan barang tersebut dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas dan penurunan defisit neraca perdagangan migas. Namun demikian, surplus neraca perdagangan barang pada triwulan laporan lebih rendah 9,3% dibandingkan dengan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD3,1 miliar. Neraca Perdagangan Nonmigas
Surplus neraca perdagangan nonmigas
pada triwulan I 2016 tercatat sebesar USD3,6 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus triwulan sebelumnya sebesar USD2,9 miliar. Meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas tersebut
-20 -15 -10 -5 0 5 10 15 T w .I T w .II T w .II I T w .I V T w .I T w .II T w .II I T w .I V T w .I T w .II T w .II I T w .I V T w .I T w .II T w .II I T w .I V T w .I T w .II T w .II I T w .I V T w .I T w .II T w .II I T w .I V T w .I* * 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016
Pend. Sekunder Pend. Primer Jasa Neraca Perd. Migas Neraca. Perd. Nonmigas Trans. Berjalan
miliar USD
* angka sementara ** angka sangat sementara
disebabkan oleh impor nonmigas yang terkontraksi 5,2% (qtq), lebih dalam jika dibandingkan dengan kontraksi ekspor nonmigas sebesar 2,6% (qtq).
Namun demikian, surplus neraca perdagangan nonmigas triwulan laporan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan surplus triwulan I 2015 sebesar USD4,3 miliar. Penurunan kinerja tersebut disebabkan oleh ekspor nonmigas yang turun lebih dalam (-9,6% yoy) dibandingkan dengan penurunan impor nonmigas (-8,5% yoy) (Grafik 3).
Grafik 3
Neraca Perdagangan Nonmigas
Ekspor Nonmigas
Ekspor nonmigas pada triwulan I 2016 sebesar USD30,2 miliar. Kinerja ekspor nonmigas terindikasi membaik dengan mencatat penurunan pertumbuhan yang lebih terbatas. Secara triwulanan, pertumbuhan ekspor nonmigas turun 2,6% (qtq), membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang turun 4,1% (qtq). Demikian pula bila dilihat dari pertumbuhan tahunannya, ekspor nonmigas pada triwulan I 2016 hanya menurun 9,6% (yoy), membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang menurun lebih tajam sebesar 16,5% (yoy).
Grafik 4
Pertumbuhan Ekspor Nonmigas
Penurunan ekspor nonmigas secara tahunan yang lebih terbatas didukung oleh perbaikan volume ekspor maupun harga barang ekspor. Di sisi volume, perbaikan terutama terlihat pada ekspor produk manufaktur, sementara ekspor produk primer melambat dipengaruhi perlambatan ekspor produk pertanian serta ekspor produk bahan bakar dan pertambangan yang masih melanjutkan tren penurunan. Penurunan volume ekspor produk manufaktur serta bahan bakar dan pertambangan disebabkan oleh turunnya permintaan dari Tiongkok sejalan dengan melambatnya perekonomian Tiongkok dan lambatnya pemulihan ekonomi Amerika Serikat dan Eropa.
Di sisi harga, penurunan harga ekspor yang lebih terbatas terutama didukung oleh harga ekspor produk manufaktur yang kembali tumbuh positif. Selain itu, koreksi ke bawah pada harga produk primer juga lebih terbatas. Harga ekspor produk primer yang masih menurun sejalan dengan turunnya harga komoditas dunia (Tabel 1).
0 2 4 6 8 10 12 -50 -40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 T w .I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .III T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016 Th o u sa n d s
Impor Ekspor Neraca Perdag. Nonmigas (RHS)
miliar USD
* angka sementara ** angka sangat sementara
miliar USD -20.0 -15.0 -10.0 -5.0 0.0 5.0 10.0
Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I** 2015* 2016 y.o.y q.t.q
Tabel 1
Ekspor Nonmigas menurut Kelompok Barang (Berdasarkan SITC)
Ekspor Nonmigas menurut Negara Tujuan Utama Ekspor nonmigas ke sepuluh negara tujuan utama pada triwulan I 2016 turun 9,1% (yoy), membaik dibandingkan dengan pertumbuhan di triwulan IV 2015 yang tercatat sebesar -13,5% (yoy). Perbaikan kinerja ekspor tersebut ditopang oleh pertumbuhan ekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Singapura, Korea Selatan, Filipina, serta Australia dan Oceania yang membaik dari triwulan sebelumnya meskipun umumnya masih tumbuh negatif, kecuali Filipina dan Australia & Oceania yang sudah tumbuh positif. Di sisi lain, ekspor ke India, Malaysia, dan Thailand menunjukkan penurunan yang lebih dalam (Tabel 2).
Tabel 2
Ekspor Nonmigas menurut Negara Tujuan Utama
Perbaikan ekspor ke Amerika Serikat terutama karena naiknya ekspor minyak nabati dan tekstil, dengan total pangsa 31,4% dari keseluruhan ekspor
A. Produk Primer Nominal 48.7 44.5 -9.0 -9.4 0.8 -13.4 -8.0 -10.2 -5.7 -16.2 -18.4 -12.7 -17.3 Riil 51.4 48.7 -3.4 -10.6 -0.4 0.4 -3.9 14.3 25.7 18.7 12.5 17.5 0.0 Indeks Harga - - -5.8 1.4 1.2 -13.8 -4.4 -21.4 -25.0 -29.5 -27.4 -25.7 -17.3 Produk Pertanian Nominal 30.2 28.5 5.0 2.2 11.1 -3.0 3.5 -12.0 -1.7 -12.0 -13.1 -9.8 -11.4 Riil 31.3 30.6 4.6 1.9 12.6 10.0 6.9 8.8 26.5 21.9 20.3 18.8 9.2 Indeks Harga - - 0.3 0.2 -1.3 -11.8 -3.1 -19.2 -22.3 -27.8 -27.8 -24.1 -18.9 Makanan Nominal 23.7 22.4 10.9 9.1 21.1 3.9 10.8 -9.0 0.6 -13.4 -13.4 -9.0 -11.1 Riil 22.7 21.9 6.5 4.0 18.4 14.6 10.3 11.2 29.3 19.1 16.5 18.5 6.8 Indeks Harga - - 4.1 4.9 2.3 -9.4 0.5 -18.2 -22.2 -27.3 -25.7 -23.2 -16.8 Bahan Baku Nominal 6.5 6.1 -10.0 -15.8 -14.5 -23.4 -15.9 -21.5 -9.2 -6.9 -12.0 -12.6 -12.4 Riil 5.8 6.3 -2.1 -5.2 -4.8 -7.0 -4.8 -1.9 12.0 24.8 25.8 14.0 18.5 Indeks Harga - - -8.1 -11.2 -10.2 -17.6 -11.7 -20.0 -18.9 -25.4 -30.0 -23.3 -26.1
Produk Bahan Bakar & Pertambangan
Nominal 18.5 16.0 -24.3 -22.4 -11.2 -25.9 -21.3 -7.4 -11.6 -22.4 -26.5 -17.0 -25.9 Riil 8.7 7.8 -16.3 -22.1 -11.5 -16.2 -16.7 9.6 7.0 -4.9 -14.4 -0.7 -17.5 Indeks Harga - - -9.6 -0.4 0.3 -11.6 -5.4 -15.6 -17.4 -18.4 -14.1 -16.4 -10.1 B. Produk Manufaktur Nominal 49.9 54.0 9.2 8.6 6.8 3.4 6.9 -4.9 -4.5 -4.9 -13.3 -6.9 -1.9 Riil 47.9 50.5 10.3 8.2 3.2 -1.3 5.0 -8.0 -7.4 -4.2 -10.3 -7.4 -2.2 Indeks Harga - - -1.0 0.4 3.5 4.7 1.9 3.3 3.2 -0.7 -3.4 0.5 0.2 C. Lainnya Nominal 1.5 1.6 41.3 20.8 -24.3 -32.2 -4.9 -26.1 -17.8 -14.0 -6.8 -17.0 -21.3 Riil 0.7 0.8 60.6 26.9 -23.4 -28.9 1.1 -22.2 -11.6 -2.1 1.7 -9.7 -11.2 Indeks Harga - - -12.0 -4.9 -1.2 -4.7 -5.9 -4.9 -6.9 -12.2 -8.4 -8.1 -11.4 Total Nominal 100.0 100.0 -0.3 -0.9 3.0 -6.5 -1.3 -8.0 -5.3 -10.9 -15.8 -10.0 -9.6 Riil 100.0 100.0 2.8 -2.6 -0.2 -2.2 -0.7 2.3 7.8 4.7 -3.4 2.8 -1.6 Indeks Harga - - -3.0 1.8 3.2 -4.4 -0.7 -10.0 -12.1 -14.9 -12.8 -12.4 -8.2 *) angka sementara **) angka sangat sementara
Tw. I** 2016 Pertumbuhan Tahunan (% yoy)
Tw. III* Tw. III Tw. II 2014 Tw. IV TOTAL Rincian Pangsa (%) 2015* 2016** Tw. IV* TOTAL 2015 Tw. II* Tw. I Tw. I* 1 Amerika Serikat 11.6 12.2 5.6 -1.1 -0.4 -4.8 -7.6 -3.5 -4.0 2 Jepang 9.9 10.2 -8.7 -5.4 -8.4 -12.9 -17.1 -11.1 -5.8 3 Tiongkok 10.0 9.5 -22.2 -36.5 -13.1 -9.6 -13.8 -19.5 -9.4 4 Singapura 6.5 7.3 11.6 1.7 -19.4 -9.2 -16.8 -11.4 -3.3 5 India 8.8 7.2 -5.6 7.3 18.1 -27.0 -14.2 -5.1 -27.9 6 Malaysia 4.7 4.5 -10.6 3.5 0.2 -7.3 -9.8 -3.4 -12.7 7 Korea Selatan 4.1 4.0 -4.6 0.1 0.4 -6.3 -16.8 -5.7 -11.6 8 Thailand 3.5 3.6 -4.2 -6.4 -4.0 -11.6 -10.2 -8.0 -12.3 9 Filipina 3.0 3.3 3.4 -2.0 4.2 7.2 -7.2 0.8 7.7
10 Australia dan Oceania 2.8 2.5 15.2 -36.4 -17.0 7.4 -21.6 -17.5 5.5
Total 10 Negara 64.9 64.4 -5.5 -9.6 -4.4 -10.0 -13.5 -9.4 -9.1 *) angka sementara
**) angka sangat sementara
Tw. IV TOTAL
2015* 2016
Tw. I** Pertumbuhan Tahunan (%, yoy)
2016** Pangsa (%) TOTAL Rincian 2015* Tw. III 2014* Tw. II Tw. I
ke negara tersebut. Ekspor tekstil, utamanya berupa pakaian jadi (pangsa 26,9%), yang merupakan ekspor terbesar ke Amerika Serikat menunjukkan kenaikan 0,3% (yoy).
Peningkatan ekspor bijih tembaga yang merupakan salah satu komoditas utama (pangsa 9,7%) menjadi penyebab utama perbaikan ekspor ke Jepang. Selain bijih tembaga, ekspor ke Jepang juga didorong oleh naiknya ekspor tekstil (pangsa 9,5% dari keseluruhan ekspor ke Jepang).
Peningkatan kinerja ekspor ke Tiongkok disebabkan oleh naiknya ekspor barang dari logam tidak mulia, asam berlemak, makanan olahan, kayu olahan, dan minyak nabati dengan total pangsa 37,2%. Sementara itu, ekspor batubara yang merupakan komoditas dengan pangsa terbesar (19,3%) masih menunjukkan penurunan.
Ekspor ke Singapura mencatat perbaikan terutama disebabkan oleh meningkatnya ekspor bahan kimia, minyak atsiri, produk farmasi, dan batu bara. Sementara itu, perbaikan ekspor ke Korea Selatan utamanya disebabkan oleh meningkatnya ekspor bijih tembaga, bahan kimia, dan kayu olahan dengan total pangsa sebesar 17,8% terhadap keseluruhan ekspor ke Malaysia.
Peningkatan ekspor ke Filipina disebabkan oleh naiknya ekspor minyak nabati, kertas dan barang dari kertas, makanan olahan, tekstil, serta bijih tembaga dengan total pangsa 32,8% dari keseluruhan ekspor ke negara tersebut.
Naiknya ekspor barang dari logam tidak mulia, kertas dan barang dari kertas, tekstil, dan makanan olahan menjadi penyebab meningkatnya ekspor ke Australia dan Oceania. Total pangsa keempat komoditas tersebut sebesar 47,9% terhadap keseluruhan ekspor ke Australia dan Oceania.
Sementara itu, penurunan ekspor ke India disebabkan oleh turunnya ekspor batu bara dan minyak nabati sebagai komoditas dengan pangsa terbesar dari keseluruhan ekspor ke negara tersebut, yaitu sebesar 71,4%. Selain itu, turunnya ekspor bijih tembaga, bahan kimia, dan tekstil juga menjadi
penyebab turunnya ekspor ke India, dengan pangsa 4,1% dari keseluruhan ekspor ke negara tersebut.
Turunnya ekspor ke Malaysia disebabkan oleh penurunan ekspor minyak nabati, barang dari logam tidak mulia, batu bara, dan tekstil dengan total pangsa 39,8% dari keseluruhan ekspor ke Malaysia. Laju penurunan ekspor ke Malaysia tertahan oleh kenaikan ekspor asam berlemak, makanan olahan, dan karet alam olahan dengan total pangsa 21,2% dari total ekspor ke Malaysia.
Adapun ekspor ke Thailand turun akibat turunnya ekspor minyak nabati, barang dari logam tidak mulia, batu bara, bahan kimia, alat listrik dan tekstil dengan total pangsa 43,5% dari keseluruhan ekspor ke Thailand. Laju penurunan ekspor dapat tertahan oleh naiknya ekspor makanan olahan dan buah-buahan dengan total pangsa 7,4% dari total ekspor ke Thailand.
Ekspor Nonmigas menurut Komoditas Utama Perbaikan kinerja ekspor nonmigas (fob) triwulan I 2016 juga tercermin dari penurunan pertumbuhan ekspor komoditas utama yang lebih terbatas. Nilai ekspor sepuluh komoditas utama pada triwulan laporan tumbuh negatif 14,4% (yoy), lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (-16,3% yoy) ditopang oleh faktor perbaikan harga. Perlambatan penurunan harga terjadi pada hampir seluruh komoditas utama ekspor, sementara ekspor kendaraan dan bagiannya masih melanjutkan tren kenaikan harga.
Di sisi lain, secara riil (volume) ekspor nonmigas masih menunjukkan penurunan, terutama pada ekspor minyak nabati, batubara, tekstil dan produk tekstil, alat listrik, barang dari logam tidak mulia, kendaraan dan bagiannya, dan mesin & mekanik. Sementara itu, permintaan makanan olahan, karet olahan, dan kayu olahan mencatat peningkatan (Tabel 3).
Ekspor minyak nabati, sebagian besar (84,3%) berupa minyak kelapa sawit, turun 16,3% (yoy) di
triwulan I 2016. Penurunan tersebut lebih terbatas dibandingkan dengan triwulan sebelumnya karena penurunan harga yang lebih lambat, sementara volume ekspor turun lebih dalam. Harga ekspor minyak nabati turun 4,4% (yoy) di triwulan I 2016, lebih kecil jika dibandingkan dengan penurunan pada triwulan sebelumnya yang mencapai 17,2% (yoy). Adapun turunnya volume ekspor kelapa sawit pada
triwulan I 2016 dipengaruhi oleh fenomena trekking
yang terjadi pada musim kemarau. Curah hujan yang rendah menyebabkan produktivitas kelapa sawit menurun drastis.
Penurunan ekspor minyak nabati di triwulan I 2016 terutama terjadi untuk ekspor tujuan India (-12,7% yoy), Afrika (-38,0% yoy), dan Belanda (-43,5% yoy). Di sisi lain, ekspor ke Tiongkok dan Pakistan meningkat, masing-masing sebesar 4,4% (yoy) dan 43,5% (yoy).
Berdasarkan informasi GAPKI (Gabungan
Pengusaha Kepala Sawit Indonesia), Pakistan merupakan pasar baru dan diharapkan dapat menjadi salah satu tujuan utama bagi ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke depan. Pasar Pakistan yang semula 100 persen dikuasai Malaysia sebagian besar beralih ke Indonesia. Data GAPKI menunjukkan pada 2015 Pakistan mengimpor 2,19 juta ton dari Indonesia, sedangkan impor dari Malaysia sebesar 500 ribu ton. Pangsa ekspor ke negara tersebut pada triwulan I 2016 sebesar 9,5% dari total ekspor minyak kelapa sawit Indonesia.
Ekspor batubara pada triwulan I 2016 tercatat turun 27,4% (yoy). Penurunan tersebut disebabkan oleh turunnya permintaan dari negara tujuan utama ekspor batubara, yaitu India (37,9% yoy), Jepang (4,8% yoy), dan Tiongkok (37,1% yoy). Pangsa ekspor batubara ke negara-negara tersebut mencapai 58,8% dari total ekspor batubara.
Penurunan ekspor batubara ke India dipicu oleh program Pemerintah India yang menghentikan impor batubara termal untuk digunakan di pembangkit tenaga listrik pada tahun 2017. Sementara itu,
penurunan ekspor batubara ke Tiongkok dipicu oleh
melambatnya aktivitas industri Tiongkok,
berkembangnya penggunaan sumber energi selain batubara untuk pembangkit tenaga listrik, dan kebijakan Pemerintah Tiongkok untuk mengurangi penggunaan batubara.
Di sisi harga, harga ekspor batubara triwulan laporan terkontraksi 5,5% (yoy) sejalan dengan penurunan harga batubara dunia yang terus menunjukkan penurunan sejak awal tahun 2011. Turunnya konsumsi batubara dari Tiongkok sebagai konsumen terbesar batubara dunia menjadi penyebab utama turunnya harga batubara dunia. Selain itu, berlebihnya persediaan dan produksi batubara dunia juga memberi tekanan pada harga batubara dunia.
Ekspor tekstil pada triwulan I 2016 turun 4,7% (yoy) disebabkan oleh turunnya ekspor tujuan Korea Selatan, Jerman, Tiongkok, dan Malaysia. Ekspor keempat negara tersebut turun masing-masing sebesar 1,7% (yoy), 1,4% (yoy), 17,3% (yoy), dan 14,6% (yoy). Penurunan ekspor tekstil pada triwulan laporan dipengaruhi volume ekspor yang terkontraksi 0,1% (yoy) dan harga ekspor yang masih mengalami koreksi sebesar 4,6% (yoy).
Ekspor alat listrik turun sebesar 8,6% (yoy) di triwulan I 2016, membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang turun 14,7% (yoy). Menurunnya ekspor terutama terjadi pada ekspor ke Singapura (5,6% yoy), Jepang (13,3% yoy), Amerika Serikat (7,6% yoy), dan Tiongkok (1,8% yoy) dengan total pangsa 52,4% dari total ekspor alat listrik. Selain karena penurunan volume ekspor sebesar 7,8% (yoy), penurunan harga ekspor alat listrik sebesar 0,6% (yoy) juga mempengaruhi penurunan ekspor alat listrik pada triwulan I 2016.
Ekspor barang dari logam tidak mulia tercatat turun 24,4% (yoy) pada triwulan I 2016 dipengaruhi oleh turunnya volume maupun harga ekspor, walaupun koreksi harga lebih terbatas. Penurunan ekspor terjadi pada negara tujuan Jepang, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Dengan total pangsa 37%
dari keseluruhan total ekspor barang dari logam tidak mulia, ekspor ke negara-negara tersebut turun masing-masing 43,4% (yoy), 18,4% (yoy), 63,3% (yoy), dan 20% (yoy).
Ekspor makanan olahan meningkat sebesar 1,7% (yoy) di triwulan I 2016 dipengaruhi oleh kenaikan volume ekspor dan penurunan harga yang lebih kecil. Penurunan ekspor terutama terjadi pada ekspor tujuan Malaysia (2,6% yoy), Filipina (17,1% yoy), Kamboja (17%, yoy), dan Australia (8,9% yoy) dengan total pangsa 31,7% dari total ekspor makanan olahan.
Ekspor kendaraan dan bagiannya pada triwulan I 2016 turun 14,1% (yoy), lebih baik dari penurunan ekspor sebesar 16,4% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perbaikan tersebut didukung oleh penurunan volume ekspor yang lebih terbatas dan harga ekspor yang masih tumbuh positif. Penurunan ekspor kendaraan terutama terjadi pada negara tujuan utama, yaitu Thailand (1,5% yoy), Arab Saudi (52,6% yoy), Malaysia (16,2% yoy), dan Singapura (39,1% yoy). Pangsa ekspor ke negara-negara tersebut mencapai 34,8% dari total ekspor kendaraan.
Selanjutnya, ekspor karet olahan triwulan I 2016 juga tercatat turun 13,0% (yoy) yang didorong
penurunan harga ekspor sebesar 23,9% (yoy) meskipun ekspor secara riil masih meningkat sebesar 14,4% (yoy). Penurunan ekspor terjadi pada negara tujuan Amerika Serikat (3,4% yoy), Jepang (22% yoy), dan Tiongkok (28,8% yoy) dengan total pangsa 50,6% dari keseluruhan ekspor karet olahan.
Penurunan harga ekspor karet olahan sejalan dengan penurunan harga karet dunia. Harga karet dunia tertekan oleh turunnya penjualan industri ban, terutama di Tiongkok yang menyerap dua per tiga dari suplai karet alam dunia untuk industri ban. Selain itu dari sisi suplai, pasokan karet masih tinggi terutama dari negara-negara penghasil karet seperti Thailand dan Indonesia.
Meskipun volume ekspor kayu olahan
mengalami peningkatan sebesar 31,8% (yoy) di triwulan I 2016, namun harga ekspor yang turun 26,1% (yoy) menyebabkan ekspor kayu olahan masih mengalami penurunan sebesar 2,7% (yoy) pada triwulan laporan. Namun demikian, laju penurunan ekspor tersebut lebih lambat dibandingkan dengan penurunan ekspor sebesar 3,5% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Kinerja ekspor kayu olahan yang relatif lebih baik tersebut antara lain ditopang oleh peningkatan ekspor ke Tiongkok yang merupakan pangsa terbesar (22,2%).
Tabel 3
Perkembangan Ekspor Komoditas Nonmigas Utama (Berdasarkan HS)
2016 2016 2016
1. Minyak Nabati 13.6 12.3 9.2 -12.6 6.0 -16.9 -17.9 -10.7 -16.3 11.5 11.1 36.2 9.0 -1.0 14.6 -11.9 -2.1 -21.2 -22.4 -23.7 -17.2 -22.1 -4.4
2. Batubara 12.1 10.6 -14.5 -17.7 -24.9 -24.9 -26.5 -23.4 -27.4 -14.3 -7.0 -12.6 -13.2 -19.9 -12.3 -23.1 -0.3 -11.6 -14.1 -13.6 -8.3 -12.6 -5.5
3. Tekstil dan Produk Tekstil 9.4 9.7 0.6 -2.6 -2.7 -5.8 -4.8 -4.0 -4.7 2.1 2.0 2.9 -0.4 0.7 1.5 -0.1 -1.5 -4.5 -5.5 -5.4 -5.5 -5.4 -4.6
4. Alat Listrik, Ukur, Fotografi, dll 6.7 6.6 -5.7 -12.1 -11.8 -14.0 -14.7 -13.2 -8.6 0.0 -5.9 -4.6 -7.8 -12.8 -7.5 -10.9 -5.6 -6.5 -7.5 -6.9 -2.1 -6.1 -0.6
5. Barang dari Logam tdk Mulia 5.8 5.1 5.5 -3.7 -16.1 -18.7 -24.9 -16.2 -24.4 3.7 1.9 -8.5 -0.3 -5.8 -3.3 -12.5 1.7 -5.4 -8.2 -18.4 -20.5 -13.4 -13.8
6. Makanan Olahan 4.8 4.9 17.8 3.5 -0.4 -6.9 1.4 -0.6 1.7 12.1 3.4 -0.4 4.2 13.4 5.1 13.0 5.1 0.1 -0.1 -10.5 -10.6 -5.4 -9.9
7. Kendaraan & Bagiannya 4.1 4.2 14.8 9.4 20.5 3.8 -16.4 3.3 -14.1 12.3 3.0 14.1 1.1 -19.5 -1.4 -16.8 2.2 6.2 5.5 2.7 3.9 4.8 3.1 8. Karet Olahan 4.4 4.1 -24.5 -31.7 -13.2 -6.6 -12.1 -16.8 -13.0 -16.4 -23.8 -4.0 17.2 19.3 -0.2 14.4 -9.7 -10.4 -9.5 -19.8 -26.3 -16.6 -23.9
9. Mesin & Mekanik 3.9 4.0 6.0 -15.8 -13.4 -9.1 -23.1 -15.5 -9.3 6.5 -14.8 -12.4 -8.5 -21.3 -14.3 -7.4 -0.4 -1.3 -1.1 -0.6 -2.4 -1.4 -1.9
10. Kayu Olahan 2.9 3.0 11.3 -2.2 0.4 -4.2 -3.5 -2.3 -2.7 10.1 12.8 31.9 34.8 40.6 29.6 31.6 1.1 -13.3 -23.9 -28.9 -31.4 -24.6 -26.1
Total 10 Komoditas 67.6 64.7 -1.8 -11.0 -8.1 -13.6 -16.3 -12.2 -14.4 -0.6 -2.6 2.9 1.4 -2.9 0.0 -8.3 -1.2 -8.6 -10.6 -14.7 -13.8 -12.3 -9.5 *) angka sementara **) angka sangat sementara
2015* Tw. IV TOTAL Tw. I** Indeks Harga Pertumbuhan (%, yoy) Share (%) 2016** Nominal
Tw. I** Tw. IV TOTAL Tw. I**
2015** Riil
Tw. III Tw. III TOTAL Tw. III
2014* TOTAL 2014* 2014 Uraian Tw. II TOTAL TOTAL Tw. II 2015* Tw. I Tw. IV Tw. I Tw. I 2015* Tw. II
Impor Nonmigas
Impor nonmigas (cif) triwulan I 2016 masih mengalami penurunan sebesar 8,5% (yoy). Namun
demikian, penurunan tersebut lebih lambat
dibandingkan dengan penurunan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 11,4% (yoy) karena penurunan volume permintaan (riil) impor yang lebih kecil. Masih menurunnya impor nonmigas pada triwulan laporan tersebut terutama disebabkan oleh masih lemahnya permintaan domestik sebagai dampak dari melambatnya pertumbuhan ekonomi domestik dan harga impor.
Berdasarkan kelompok barang, penurunan impor nonmigas terjadi pada kelompok bahan baku dan barang modal, sedangkan impor barang konsumsi menunjukkan peningkatan. Meningkatnya impor barang konsumsi dipengaruhi oleh kenaikan permintaan dan harga. Di sisi lain, impor bahan baku menurun akibat penurunan permintaan dan harga. Sementara itu, impor barang modal turun karena
kenaikan harga tidak mampu mengimbangi
penurunan volume permintaan impornya (Tabel 4).
Tabel 4
Impor Nonmigas (c.i.f) menurut Kelompok Barang
Impor barang konsumsi pada triwulan I 2016 naik 27,5% (yoy) dipengaruhi oleh naiknya permintaan maupun harga. Peningkatan impor barang konsumsi utamanya disebabkan oleh naiknya impor beras, buah-buahan (baik segar maupun yang dikeringkan), sayur-sayuran (baik segar maupun beku), senjata dan amunisi, serta obat-obatan (termasuk obat hewan).
Impor bahan baku turun 9,5% (yoy) di triwulan I 2016, namun lebih kecil dibandingkan dengan penurunan impor triwulan sebelumnya sebesar 13,8% (yoy). Lebih terbatasnya penurunan impor bahan baku pada triwulan laporan dipengaruhi oleh melambatnya laju penurunan volume impor.
Penurunan impor bahan baku terjadi pada impor alat penyambung/pemutus listrik (-9,1% yoy), makanan ternak (-1,7% yoy), serta pesawat telekomunikasi dan bagiannya (-13,1% yoy). Penurunan impor lebih lanjut tertahan oleh impor biji gandum serta impor bagian dan perlengkapan kendaraan bermotor yang mencatat pertumbuhan masing-masing sebesar 31,3% (yoy) dan 71,8% (yoy) (Tabel 5).
Sementara itu, impor barang modal turun 18,9% (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, terutama karena turunnya permintaan di saat harga masih tumbuh positif. Penurunan impor pesawat telekomunikasi dan bagian-bagiannya (-20,5% yoy), mesin otomatis pengolah data dan satuannya (-7,7% yoy), mesin lainnya untuk industri tertentu (52,9% yoy), serta pemanas dan pendingin & alat-alatnya (20,1% yoy) menjadi penyebab turunnya impor barang modal. Laju penurunan impor barang modal lebih lanjut tertahan oleh naiknya impor pompa untuk lainnya dan kompresor (14,6% yoy) (Tabel 5). 2016 Barang Konsumsi Nominal 8.7 10.3 -6.1 -8.8 -9.3 -14.9 -6.3 -9.9 27.5 Riil 7.4 8.6 -13.1 -7.7 -7.1 -13.0 -6.1 -8.1 25.6 Indeks Harga - - 8.1 -1.2 -2.4 -2.2 -0.3 -1.9 1.5 Bahan Baku Nominal 69.5 70.6 -3.4 -1.7 -15.2 -17.7 -13.8 -12.3 -9.5 Riil 81.2 82.0 -0.8 5.2 -8.0 -10.3 -6.4 -4.4 -0.8 Indeks Harga - - -2.7 -6.6 -7.9 -8.3 -8.0 -8.3 -8.8 Barang Modal Nominal 21.0 18.7 -4.7 -8.7 -21.7 -20.6 -10.9 -15.6 -18.9 Riil 11.5 9.4 -15.5 -21.5 -32.8 -29.2 -15.7 -26.3 -23.1 Indeks Harga - - 12.8 16.3 16.5 12.2 5.7 14.5 5.5 Total Nominal 100.0 100.0 -3.9 -3.9 -16.3 -17.4 -11.4 -12.4 -8.5 Riil 100.0 100.0 -6.6 -4.7 -16.4 -16.4 -9.1 -11.9 -6.1 Indeks Harga - - 2.8 0.8 0.2 -1.1 -2.5 -0.5 -2.5 *) angka sementara **) angka sangat sementara
Tw. IV* Total 2015
Tw. I** Pertumbuhan Tahunan (% yoy)
Tw. III* Total 2014 Rincian 2015* Pangsa (%) 2016** Tw. II* Tw. I*
Tabel 5
Impor (c.i.f) Komoditas Nonmigas Utama
Impor Nonmigas menurut Negara Asal
Berdasarkan negara asal, perlambatan
penurunan impor nonmigas pada triwulan I 2016 terjadi pada impor dari Jepang, Korea Selatan, Australia dan Oseania, dan Malaysia. Impor dari Thailand bahkan telah tumbuh positif, didorong oleh kenaikan impor makanan olahan dan buah-buahan
dengan total pangsa 24,6% terhadap total impor dari Thailand. Di sisi lain, impor dari Tiongkok,
Singapura, Vietnam, dan Jerman menunjukkan penurunan yang lebih dalam. Selain itu, impor dari Amerika Serikat kembali mengalami penurunan setelah pada triwulan sebelumnya mencatat pertumbuhan positif, terutama disebabkan oleh turunnya impor alat listrik, makanan ternak, dan biji-bijian dengan total pangsa 25,8% terhadap total impor dari Amerika Serikat (Tabel 6)
Tabel 6
Impor Nonmigas (c.i.f) menurut Negara Asal Utama
Neraca Perdagangan Migas
Neraca perdagangan migas triwulan I 2016 mencatat perbaikan, baik secara triwulanan dan tahunan. Defisit neraca migas triwulan I 2016 tercatat sebesar USD0,8 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan defisit triwulan IV 2015 sebesar USD1,0 miliar dan defisit triwulan I 2015 sebesar USD1,3 miliar.
TOTAL IMPOR 100.0 100.0 -3.9 -16.3 -17.4 -11.4 -12.4 -8.5 -4.7 -16.4 -16.4 -9.1 -11.8 -6.1 0.8 0.2 -1.1 -2.5 -0.7 -2.5
I. Barang Konsumsi, a.l: 8.7 10.3 -8.8 -9.3 -14.9 -6.3 -9.9 27.5 -7.7 -7.0 -13.0 -6.1 -8.4 25.6 -1.2 -2.4 -2.2 -0.3 -1.5 1.5
Beras 0.3 1.1 7.8 15.6 -80.1 4.8 -9.4 1,279.1 1.8 13.0 -79.2 -1.5 -11.6 1,262.5 6.0 2.4 -4.4 -1.5 2.4 1.2
Senjata dan Amunisi 0.4 0.7 -63.1 114.2 -12.9 273.8 9.7 574.3 -62.5 118.5 -9.3 284.8 12.7 580.9 -1.6 -2.0 -4.0 284.8 -2.6 -1.0
Buah-buahan, Segar, atau Dikeringkan 0.6 0.6 -31.6 -15.0 -11.8 -3.9 -15.7 39.3 -49.0 -24.4 -16.0 -1.8 -24.1 65.2 34.0 12.5 5.0 -1.8 11.2 -15.7
Obat-obatan (Termasuk Obat Hewan) 0.5 0.5 23.3 28.1 -1.8 -16.4 5.8 12.1 30.5 32.3 -4.1 -13.0 8.6 16.9 -5.5 -3.2 2.5 -13.0 -2.6 -4.1
Hasil Olahan yang Dapat Dimakan 0.5 0.5 8.3 -13.7 2.0 -4.8 -3.0 2.3 8.9 -16.2 -0.9 -12.1 -6.2 -3.9 -0.6 3.0 2.9 -12.1 3.4 6.5
II. Bahan Baku / Penolong, a.l: 69.5 70.6 -1.7 -15.2 -17.7 -13.8 -12.3 -9.5 5.2 -8.0 -10.2 -6.4 -5.0 -0.8 -6.6 -7.9 -8.3 -8.0 -7.7 -8.8
Biji Gandum dan Meslin 1.8 2.3 -0.3 -19.4 -17.1 -11.4 -12.8 31.3 -1.6 -18.3 -17.3 -3.0 -10.9 44.4 1.3 -1.4 0.3 -3.0 -2.1 -9.1
Pesawat Telekomunikasi dan Bagian-bagiannya 1.6 2.3 -31.1 29.2 60.6 84.2 25.3 71.8 -27.3 34.7 66.3 88.6 30.2 80.9 -5.2 -4.1 -3.4 88.6 -3.8 -5.0
Bagian Dan Perlengkapan Kendaraan Bermotor 2.1 2.2 -8.1 -16.8 -12.5 -26.4 -15.9 -9.1 -9.3 -18.2 -14.6 -29.0 -17.8 -12.7 1.3 1.7 2.4 -29.0 2.3 4.1 Alat Penyambung atau Pemutus Arus Listrik 2.2 2.1 -1.8 2.5 4.9 14.2 4.9 -1.7 4.1 9.2 12.2 22.5 12.0 6.1 -5.7 -6.1 -6.5 22.5 -6.3 -7.3
Bahan Plastik Lainnya, Dalam Bentuk Awal 1.9 1.8 -5.0 -17.2 -20.3 -26.0 -17.5 -13.1 -12.4 -22.3 -24.2 -29.7 -22.4 -17.2 8.5 6.6 5.2 -29.7 6.3 5.0
III. Barang Modal, a.l: 21.0 18.7 -8.7 -21.7 -20.6 -10.9 -15.6 -18.9 -21.5 -32.8 -29.2 -15.8 -25.0 -23.1 16.3 16.5 12.2 5.7 12.5 5.5 Mesin Otomatis Pengolah Data dan Satuannya 2.0 1.9 9.5 -27.2 -15.6 7.4 -6.2 -20.5 12.1 -26.2 -14.0 10.4 -4.3 -18.7 -2.3 -1.3 -1.9 10.4 -2.1 -2.2
Mesin Lainnya Untuk Industri Tertentu 1.7 1.5 -6.9 -5.2 -9.6 -15.8 -9.2 -7.7 -4.7 -3.0 -7.8 -13.8 -7.2 -6.4 -2.3 -2.3 -1.9 -13.8 -2.2 -1.4
Pesawat Telekomunikasi dan Bagian-bagiannya 2.6 1.5 -20.5 -37.4 -35.0 -22.9 -29.2 -52.9 -16.2 -34.8 -32.7 -21.0 -26.4 -50.4 -5.2 -4.1 -3.4 -21.0 -3.8 -5.0
Pompa untuk Lainnya dan Kompresor 1.1 1.1 -2.1 -13.2 -7.2 26.6 0.0 14.6 -4.6 -15.4 -9.7 23.0 -2.7 10.5 2.6 2.6 2.8 23.0 2.7 3.7 Pemanas dan Pendingin & Alat-alatnya 1.1 0.9 20.6 -42.9 18.4 27.1 7.3 -20.1 18.5 -43.9 16.4 24.2 5.3 -21.7 1.8 1.7 1.7 24.2 1.9 2.1
*angka sementara ** angka sangat sementara
2016 2016 2016 TW.I ** Tw. I* 2015 TOTAL* Tw. III
TW.I ** Tw. III TW.I **
2016**
Tw. II Tw. II
Tw. I* Tw. I* Tw. II Tw. IV*
Rincian (by BEC & SITC 3 DG)
2015* Pertumbuhan (y.o.y, %) Harga Tw. IV* Pangsa (%) Nominal Riil 2015 TOTAL* 2015 TOTAL* Tw. III Tw. IV* 1 Tiongkok 24.7 26.0 3.3 4.3 -9.6 -7.0 -4.1 -4.2 -4.2 2 Jepang 11.2 10.9 -11.2 -11.5 -20.9 -30.0 -22.7 -21.3 -19.1 3 Thailand 6.8 8.1 -8.8 -9.5 -21.9 -20.9 -16.3 -17.3 11.8 4 Singapura 7.6 6.4 4.8 -13.0 -11.8 -7.9 -4.3 -9.2 -6.4 5 Amerika Serikat 6.4 5.7 -7.9 -6.8 -7.5 -14.0 3.3 -6.3 -10.9 6 Korea Selatan 5.3 5.1 -8.8 -5.6 -30.5 -21.8 -26.3 -21.6 -18.8
7 Australia dan Oseania 4.5 4.4 10.5 -7.7 -6.8 -27.3 -22.6 -16.2 -11.2
8 Malaysia 4.2 4.1 -2.7 -12.0 -12.8 -15.6 -12.8 -13.2 -12.1 9 Vietnam 2.7 2.9 19.6 25.2 -15.4 -12.0 -2.6 -1.9 -6.5 10 Jerman 2.9 2.6 -6.5 -0.5 -24.2 -21.9 -15.7 -16.0 -26.0 Total 10 Negara 76.3 76.3 -2.3 -4.2 -15.1 -16.6 -11.3 -12.4 -8.8 *) angka sementara 2016 Tw.I** Pangsa (%) 2016** TOTAL
Pertumbuhan Tahunan (%, yoy) 2015 Tw.IV* Tw. III* Tw. II* 2014 TOTAL Rincian 2015* Tw. I*
Perbaikan neraca migas didorong oleh penyusutan impor minyak seiring dengan penurunan harga minyak dunia (Grafik 4).
Grafik 5
Neraca Perdagangan Migas
Ekspor Minyak
Pada triwulan I 2016, ekspor minyak turun 15,8% (qtq) menjadi sebesar USD1,3 miliar dari USD1,5 miliar di triwulan sebelumnya (Tabel 7). Penurunan ekspor minyak dipengaruhi oleh turunnya ekspor minyak mentah sebesar 11,9% (qtq) dan produk kilang sebesar 26,6% (qtq). Turunnya ekspor minyak ini terutama disebabkan oleh turunnya harga minyak, baik minyak mentah maupun produk kilang. Sementara itu, volume ekspor minyak mentah pada triwulan I 2016 mengalami peningkatan sebesar 14,5% (qtq).
Peningkatan volume ekspor minyak mentah
triwulan I 2016 terjadi pada saat lifting minyak pada
triwulan yang sama turun 5,0% (qtq) menjadi 0,802 juta barel/hari dari 0,844 juta barel/hari pada triwulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya
peningkatan porsi penggunaan lifting minyak mentah
untuk memenuhi kebutuhan ekspor.
Tabel 7
Perkembangan Ekspor Minyak
Pada sisi harga, penurunan harga ekspor minyak Indonesia tersebut tidak lepas dari penurunan harga minyak dunia. Harga minyak dunia pada triwulan I 2016 bergerak turun. Rata-rata harga minyak jenis SLC, WTI, Brent, dan OPEC turun masing-masing dari USD33,8/barel, USD37,1/barel, USD37,6/barel, dan USD33,5/barel pada triwulan IV 2015 menjadi USD29,7/barel, USD33,2/barel, USD34,3/barel, dan USD30,0/barel pada triwulan I 2016 (Grafik5). Penurunan harga minyak pada periode laporan dipengaruhi oleh berlebihnya suplai minyak mentah dunia dan pelemahan perekonomian Tiongkok.
Grafik 6
Perkembangan Harga Minyak Dunia
Impor Minyak
Impor minyak triwulan I 2016 turun 23,6% (qtq) menjadi USD3,2 miliar dari triwulan sebelumnya sebesar USD4,3 miliar. Penurunan impor minyak didorong oleh faktor turunnya harga di tengah meningkatnya volume impor minyak. Kenaikan volume impor minyak terjadi baik pada impor minyak mentah maupun produk kilang (Tabel 8).
Tabel 8
Perkembangan Impor Minyak (f.o.b)
-4 -2 0 2 4 6 8 10 12 -15 -10 -5 0 5 10 15 Tw .I Tw .II T w .II I Tw .IV Tw .I Tw .II T w .III Tw .IV Tw .I Tw .II T w .II I Tw .IV Tw .I Tw .II T w .II I Tw .IV Tw .I Tw .II T w .II I Tw .IV Tw .I Tw .II T w .III Tw .IV Tw .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016 Th o u san d s
Impor Gas Ekspor Gas Impor Minyak Ekspor Minyak Neraca Perdag. Migas (RHS)
miliar USD
* angka sementara ** angka sangat sementara
miliar USD
Ekspor 1,510 36.6 1,272 40.3 Minyak Mentah 1,111 28.1 39.5 979 32.2 30.4 Produk Kilang 399 8.5 47.0 293 8.1 36.0
¹⁾ nilai ekspor dibagi dengan volume ekspor Sumber: SKK Migas dan Pertamina (diolah) * angka sementara ** angka sangat sementara
2016 Tw. I** Nilai (juta USD) Volume (mbbl) Harga¹ (USD/barel) Tw. IV* Nilai (juta USD) Volume (mbbl) Harga¹ (USD/barel) Rincian 2015 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140
JFMAMJ JASONDJFMAMJ JASONDJFMAMJ JASONDJFMAMJJ ASONDJFMAMJ JASONDJFMAMJ JASONDJFM 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 USD/barel SLC Unit Price WTI OPEC
Sumber: Ditjen Migas, NPI, Bloomberg
Impor 4,253 83.1 3,250 83.5
Minyak Mentah 1,577 36.4 43.3 1,295 36.6 35.3 Produk Kilang 2,675 46.7 57.3 1,956 46.8 41.8
¹⁾ nilai impor dibagi dengan volume impor Sumber: SKK Migas dan Pertamina (diolah) * angka sementara ** angka sangat sementara
2016 Tw. I** Nilai (juta USD) Volume (mbbl) Harga¹ (USD/barel) Tw. IV* Nilai (juta USD) Volume (mbbl) Harga¹ (USD/barel) 2015 Rincian
Ekspor Gas
Ekspor gas pada triwulan I 2016 turun 23,7% (qtq) menjadi USD1,7 miliar, terutama disebabkan oleh turunnya ekspor LNG (22,4% qtq) dan ekspor gas alam (28,7%, qtq). Penurunan ekspor gas tersebut disebabkan baik oleh penurunan volume ekspor maupun faktor harga (Tabel 9).
Tabel 9
Perkembangan Ekspor Gas
Neraca Perdagangan Jasa
Kinerja neraca perdagangan jasa pada triwulan I 2016 membaik dan menopang perbaikan transaksi berjalan. Defisit neraca perdagangan jasa tercatat sebesar USD1,1 miliar, lebih rendah dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar USD1,7 miliar. Penurunan defisit neraca jasa tersebut terutama
karena turunnya pembayaran jasa freight seiring
penurunan impor dan meningkatnya surplus jasa travel seiring pengeluaran wisatawan nasional (wisnas) yang lebih rendah pada triwulan laporan (Grafik 7).
Grafik 7
Perkembangan Neraca Perdagangan Jasa
Pembayaran jasa freight pada triwulan I 2016
tercatat sebesar USD1,5 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan USD1,6 miliar pada triwulan sebelumnya mengikuti penurunan impor (Grafik 8).
Grafik 8
Pembayaran Jasa Freight
Sementara itu, surplus neraca jasa perjalanan triwulan I 2016 mencapai USD1,2 miliar, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD1,0 miliar. Kinerja neraca jasa perjalanan tersebut dipengaruhi oleh turunnya pembayaran jasa perjalanan (-11,3% qtq) yang lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan penerimaan jasa perjalanan (0,8% qtq) (Grafik 9). Pembayaran jasa perjalanan turun menjadi USD1,7 miliar pada triwulan laporan dari USD1,9 miliar pada triwulan sebelumnya. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya pengeluaran wisnas selama kunjungan ke luar negeri,meskipun jumlah wisnas tercatat sedikit meningkat (2,1 juta orang) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (2,0 juta orang).
Grafik 9 Neraca Jasa Travel
Ekspor 2,204 - 1,680
-LNG 1,707 260.1 6.6 1,325 213.5 6.2
Gas Alam 489 80.3 6.1 349 73.9 4.7
LPG 2 3.2 0.7 0 0.1 0.2
Gas Lainnya 6 0.3 19.2 6 0.3 19.2
¹⁾ vol LNG, gas alam, dan gas lainnya dlm juta mmbtu, vol LPG dalam ribu m/t, total volume dlm juta mmbtu ²⁾ harga LNG, gas alam, dan gas lainnya dalam USD/juta mmbtu, harga LPG dalam USD/ribu metric ton Sumber: SKK Migas
* angka sementara ** angka sangat sementara
2016 Tw. I** Nilai
(juta USD) Volume¹ Harga²
Tw. IV* Nilai
(juta USD) Volume¹ Harga²
2015 Rincian -4 -3 -2 -1 0 1 2 T w .I T w .II T w .III T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016
Jasa Lainnya Perjalanan Transportasi Jasa (net)
miliar USD
* angka sementara; ** angka sangat sementara
-3.0 -2.5 -2.0 -1.5 -1.0 -0.5 0.0 -50 -45 -40 -35 -30 -25 -20 -15 -10 -5 0 T w .I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV Tw.I T w .II T w .II I T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016 Th o u san d s
Impor Freight Import (RHS)
miliar USD
* angka sementara; ** angka sangat sementara
miliar USD -3 -2 -1 0 1 2 3 4 T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016
Impor Ekspor Perjalanan (net)
miliar USD
Di sisi lain, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia selama triwulan I 2016 juga tercatat lebih rendah (2,4 juta orang) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (2,5 juta orang). Namun demikian, pengeluaran wisman tercatat sedikit meningkat dibandingkan
dengan triwulan sebelumnya dan mampu
mengimbangi penurunan jumlah wisman sehingga menyebabkan penerimaan jasa perjalanan dari wisman menjadi USD2,9 miliar, relatif sama dengan triwulan sebelumnya.
Wisatawan asal Tiongkok, Singapura, dan Malaysia merupakan kelompok wisman terbesar yang berkunjung ke Indonesia selama triwulan I 2016. Adapun tujuan favorit wisman ke Indonesia masih terkonsentrasi pada tiga daerah, yaitu Bali, Jakarta, dan Batam.
Neraca Pendapatan Primer
Kinerja neraca pendapatan primer pada triwulan I 2016 memburuk. Defisit neraca pendapatan primer meningkat menjadi USD7,5 miliar dari triwulan sebelumnya sebesar USD6,7 miliar (Grafik 10). Kenaikan defisit neraca pendapatan primer tersebut dipengaruhi oleh naiknya pembayaran investasi portofolio, terutama pembayaran bunga surat utang pemerintah yang melebihi penurunan defisit pendapatan investasi langsung dan pendapatan investasi lainnya.
Grafik 10
Perkembangan Neraca Pendapatan Primer
Neraca Pendapatan Sekunder
Kinerja neraca pendapatan sekunder juga relatif memburuk. Neraca pendapatan sekunder pada triwulan I 2016 mencatat surplus sebesar USD1,2 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada triwulan sebelumnya sebesar USD1,4 miliar. Kondisi tersebut disebabkan oleh penerimaan hibah oleh Pemerintah dan neto penerimaan transfer personal dalam bentuk remitansi tenaga kerja yang
lebih rendah dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya. Pada triwulan laporan, penerimaan remitansi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebesar USD2,3 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai USD2,4 miliar. Di sisi lain, jumlah pembayaran remitansi Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia relatif stabil yaitu sebesar USD0,8 miliar (Grafik 11).
Grafik 11
Perkembangan Remitansi Tenaga Kerja
Ditinjau dari negara asal remitansi, TKI yang bekerja di kawasan Asia Pasifik menjadi penyumbang remitansi terbesar, yaitu mencapai USD1,2 miliar, diikuti kawasan Timur Tengah dan Afrika yang mencapai USD0,9 juta.
Pada akhir triwulan I 2016 tercatat 3,6 juta penduduk Indonesia bekerja menjadi TKI di luar negeri. Data BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan
dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia)
mengindikasikan bahwa 66,8% dari jumlah TKI tersebut bekerja di wilayah Asia Pasifik dengan porsi terbesar Malaysia, Taiwan, Hongkong, dan Singapura. -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 T w .I T w .I I T w .III T w .IV Tw.I T w .I I T w .II I T w .IV Tw.I T w .I I T w .II I T w .IV Tw.I T w .I I T w .II I T w .IV Tw.I T w .I I T w .II I T w .IV Tw.I T w .I I T w .II I T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016
Pend. Inv. Langsung Pend.Inv. Lainnya Pend. Inv. Portofolio Pendapatan Primer (net)
miliar USD
* angka sementara; ** angka sangat sementara
-1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 T w .I T w .II T w .III T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016
Pembayaran Penerimaan Transfer Personal (net)
miliar USD
Sementara itu, 32,1% dari total TKI bekerja di wilayah Timur Tengah dan Afrika, terbesar berada di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Oman (Grafik 12).
Grafik 12
Posisi Tenaga Kerja Indonesia Tw. I-2016
TRANSAKSI MODAL DAN FINANSIAL
Membaiknya prospek ekonomi domestik dan berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter di negara-negara maju telah mendorong berlanjutnya arus masuk dana asing pada triwulan I 2016. Aliran masuk dana tersebut terutama pada komponen investasi portofolio dan investasi langsung. Pada investasi portofolio, aliran masuk modal portofolio neto terus meningkat dan mencapai USD4,4 miliar untuk keseluruhan triwulan I 2016. Aliran masuk modal tersebut selain bersumber dari penerbitan sukuk global pemerintah, juga berasal dari net beli asing pada instrumen portofolio berdenominasi rupiah, baik SUN maupun saham. Selain itu, investasi langsung juga masih mencatat surplus USD2,2 miliar, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus USD2,8 miliar pada triwulan sebelumnya. Di sisi lain, transaksi investasi lainnya mengalami defisit USD2,4 miliar, terutama dipengaruhi oleh masih minimnya penarikan pinjaman luar negeri swasta seiring melemahnya kegiatan ekonomi domestik.
Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial pada triwulan laporan mencatat surplus sebesar USD4,2 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan IV 2015 sebesar USD9,8 miliar. Surplus tersebut juga lebih rendah
dibandingkan dengan surplus pada triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar USD5,0 miliar (Grafik 13).
Grafik 13
Transaksi Modal dan Finansial
Investasi Langsung
Prospek perekonomian Indonesia masih menarik minat investor asing untuk berinvestasi jangka panjang di Indonesia. Hal ini tercermin dari investasi langsung yang pada triwulan I 2016 mencatat neto arus masuk (surplus) modal sebesar USD2,2 miliar. Namun demikian, surplus investasi langsung tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada periode sebelumnya sebesar USD2,8 miliar, terutama karena menurunnya arus masuk modal investasi langsung sisi kewajiban seiring masih lemahnya kegiatan ekonomi domestik. Meski menurun secara triwulanan, surplus investasi langsung triwulan I 2016 tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD1,7 miliar dipengaruhi oleh penurunan arus keluar investasi langsung sisi aset yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan aliran masuk investasi langsung sisi kewajiban.
Pada sisi kewajiban, investasi langsung mencatat neto arus masuk modal asing (surplus) sebesar USD3,2 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan IV 2015 sebesar USD3,9 miliar maupun triwulan I 2015 sebesar USD5,1 miliar. Penurunan neto arus masuk dana asing berjangka panjang dibandingkan dengan triwulan sebelumnya
Timteng & Afrika, 32.1% Amerika, 0.7% Eropa 0.3% Malaysia, 51.5% Singapura, 3.2% Brunei, 1.0% Hongkong, 4.1% Taiwan, 4.9% Korsel, 0.8% Lainnya, 1.3% Asia Pasifik, 66.8% Sumber: BNP2TKI -15 -10 -5 0 5 10 15 20 T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016
Investasi Lainnya Investasi Portofolio
Investasi Langsung Trans. Modal & Finansial
miliar USD
terutama didorong oleh penurunan arus masuk dana asing dalam bentuk ekuitas, sementara pada saat yang sama neto pembayaran utang kepada afiliasi menurun.
Pada sisi aset, arus keluar invetasi langsung tercatat sedikit menurun dari USD1,1 miliar pada triwulan sebelumnya menjadi USD1,0 miliar. Penurunan arus keluar investasi terjadi pada modal ekuitas, sementara tagihan kepada afiliasi di luar negeri dalam bentuk utang berkurang sebagaimana tercermin dari neto arus masuk instrumen utang meskipun menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Arus keluar aset investasi langsung tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan arus keluar pada triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar USD3,5 miliar (Grafik 14).
Grafik 14
Perkembangan Investasi Langsung
Berdasarkan arah investasi, investasi langsung asing di Indonesia mencatat neto arus masuk modal sebesar USD2,3 miliar terjaga sejalan dengan prospek perekonomian Indonesia yang terus membaik. Namun demikian, neto arus masuk penanaman modal asing (PMA) tersebut lebih rendah dibandingkan dengan arus masuk PMA pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar USD3,2 miliar maupun dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD3,8 miliar.
Secara sektoral, sektor manufaktur, sektor keuangan (termasuk asuransi), dan sektor lain-lain (termasuk jasa dan properti) merupakan sektor- sektor utama yang menarik aliran masuk modal PMA selama triwulan I 2016 (Grafik 15). Ketiga sektor tersebut memiliki pangsa sebesar 73,8% dari total PMA atau senilai USD1,7 miliar, relatif sama dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Namun
jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang tercatat senilai USD0,9 miliar, PMA pada ketiga sektor tersebut mengalami peningkatan.
Grafik 15
Perkembangan PMA menurut Sektor Ekonomi
Berdasarkan negara asal investasi, arus masuk investasi langsung asing didominasi oleh negara di kawasan ASEAN, kemudian disusul oleh Jepang dan
negara emerging market di Asia (termasuk Tiongkok)
(Grafik 16). Ketiga kawasan tersebut melakukan investasi langsung sepanjang triwulan I 2016 dengan total investasi senilai 2,0 miliar atau 89,0% dari total nilai investasi langsung asing. Investasi langsung yang bersumber dari negara di kawasan ASEAN sendiri mencapai USD0,9 miliar atau 37,8% dari total investasi asing langsung. Di sisi lain, investor langsung
dari Amerika Serikat justru mencatat net outflow atau
Grafik 16
Perkembangan PMA menurut Negara Asal
Perkembangan PMA pada triwulan I 2016 yang masih positif tersebut sejalan dengan realisasi PMA
yang dipublikasikan oleh Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM)1. BKPM melaporkan
bahwa selama triwulan I 2016 realisasi PMA tercatat sebesar Rp96,1 triliun (ekuivalen dengan USD6,9 miliar). Realisasi tersebut meningkat sekitar 17,1% dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp82,1 triliun (ekuivalen dengan USD6,6 miliar). Namun demikian, jika dibandingkan dengan triwulan IV 2015, realisasi tersebut berkurang sebesar 3,1%.
Secara sektoral, BKPM mencatat bahwa realisasi PMA terkonsentrasi pada sektor industri kertas, barang dari kertas, dan percetakan senilai USD1,9 miliar (pangsa 27,5% dari total PMA); industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi senilai USD0,9 miliar (pangsa 13,8%); industri alat angkutan dan transportasi lainnya senilai USD0,8 miliar (pangsa 12,0%); dan industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik senilai USD0,7 miliar (pangsa 10,1%). Sementara itu, jika ditinjau dari negara asal investasi, Singapura, Jepang, Hongkong, Tiongkok,
1
Data realisasi PMA BKPM mencatat keseluruhan nilai proyek yang direalisasikan pada suatu periode dan tidak mencakup investasi di sektor migas, perbankan dan lembaga keuangan lainnya, serta industri rumah tangga. Sementara, data PMA yang tercatat di NPI mencakup hanya data aliran modal yang diterima perusahaan PMA dari investor langsungnya dan perusahaan dalam satu grup di luar negeri selama suatu periode dan meliputi investasi langsung di seluruh sektor ekonomi.
dan Belanda merupakan negara asal investasi dengan nilai realisasi terbesar, masing-masing senilai USD2,9 miliar, USD1,6 miliar, USD0,5 miliar, USD0,5 miliar, dan USD0,3 miliar dengan pangsa mencapai 82,3% dari total PMA.
Investasi Portofolio
Di tengah berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter di negara-negara maju dan pelemahan ekonomi Tiongkok, neto aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi portofolio (sisi kewajiban investasi portofolio) dari Januari sampai Maret 2016 terus mengalami peningkatan dan mencapai US$4,6 miliar untuk keseluruhan triwulan I 2016. Aliran masuk modal asing tersebut meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD4,4 miliar. Perkembangan tersebut terutama didorong oleh aksi investor asing yang menambah kepemilikannya baik atas surat berharga swasta domestik berupa saham maupun surat utang pemerintah jangka panjang berdenominasi rupiah. Selain itu, pada Maret 2016 tercatat adanya penerbitan global sukuk pemerintah dalam jumlah yang cukup besar.
Sementara itu, di sisi aset, penduduk Indonesia masih melakukan neto penempatan di luar negeri (defisit) sebesar USD0,2 miliar, berbalik arah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang
secara neto penduduk Indonesia melepas
kepemilikannya atas surat berharga asing (surplus) sebesar USD0,4 miliar. Dengan perkembangan tersebut, neto investasi portofolio pada triwulan I 2016 mencatat surplus sebesar USD4,4 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya sebesar USD4,9 miliar (Grafik 17). -1,500 -1,000 -500 0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 3,500
Jepang AS Eropa Emerging Market Asia
(termasuk China) ASEAN Lain-lain Juta USD
Tw.IV-14* Tw.I-15* Tw.II-15* Tw.III-15* Tw.IV-15* Tw.I-16**
* angka sementara ** angka sangat sementara
Grafik 17
Perkembangan Investasi Portofolio
Jika dilihat lebih jauh selama triwulan I 2016,
aliran masuk dana asing pada instrumen Surat
Utang Negara (SUN) berdenominasi rupiah
mencapai USD3,5 miliar, meningkat dari triwulan sebelumnya yang mencatat neto aliran masuk dana asing sebesar USD2,6 miliar. Sejalan dengan itu, posisi kepemilikan asing pada SUN berdenominasi rupiah juga meningkat menjadi sekitar USD44,3 miliar (44,0% dari total posisi SUN rupiah) di akhir
triwulan laporan dari posisi akhir triwulan
sebelumnya sebesar USD39,2 miliar (42,9% dari total posisi SUN rupiah). Sementara itu, investor asing pada triwulan I 2016 tercatat melakukan net beli Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebesar
USD0,1 miliar, meningkat dibandingkan dengan
triwulan sebelumnya yang hanya mencatat net beli sebesar USD2 juta. Kondisi ini menyebabkan
posisi SBI oleh asing meningkat menjadi USD0,1 miliar (1,3% dari total posisi SBI) dibandingkan dengan posisi nihil pada triwulan sebelumnya karena neto transaksi asing yang sangat terbatas pada SBI (Grafik 18).
Grafik 18
Perkembangan Posisi Kepemilikan SBI & SUN oleh Asing
Selain itu, tercatat aliran masuk dana asing dari penerbitan global sukuk pemerintah sekitar USD2,3 miliar dari total penerbitan sebesar USD2,5 miliar pada triwulan laporan. Secara keseluruhan, neto aliran masuk modal asing pada instrumen surat utang sektor publik sepanjang triwulan I 2016 tercatat sebesar USD4,9 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan aliran masuk pada triwulan sebelumnya sebesar USD5,7 miliar, antara lain dipengaruhi
penerbitan global bonds (GMTN) untuk pre-funding
fiskal 2016 yang telah dilakukan di triwulan IV 2015
dan adanya global bonds pemerintah yang jatuh
tempo pada Januari 2016.
Di pasar saham, meskipun masih terdapat ketidakpastian di pasar keuangan global
pasca-pernyataan tentang kenaikan the Fed Fund Rate
(FFR) yang akan dilakukan bertahap selama 2016, namun perkembangan bursa sepanjang triwulan I
2016 menunjukkan kinerja positif. Investor
nonresiden membukukan neto beli sebesar USD0,3 miliar, berbalik dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya yang mencatatkan neto jual sebesar USD0,7 miliar.
Kinerja positif di pasar saham pada triwulan I 2016 juga ditunjukkan oleh Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) yang secara point-to-point
mengalami peningkatan dan ditutup pada level 4.845,4 dari posisi akhir triwulan IV 2015 sebesar 4.593,0.
Grafik 19
Perkembangan Transaksi Asing di BEI dan IHSG
Pada triwulan I 2016, IHSG bergerak searah dengan pergerakan indeks harga saham di bursa regional Asia Tenggara yang berada dalam tren peningkatan. Harga saham di bursa regional ditutup menguat dibandingkan dengan harga penutupan akhir triwulan IV 2015 (Grafik 20).
Grafik 20
Perkembangan Indeks Bursa di Beberapa Negara ASEAN
Aktivitas pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada triwulan I 2016 ditopang oleh tambahan tiga emiten baru yang melakukan penawaran saham
perdana (IPO) yaitu Bank Artos Indonesia Tbk. (ARTO), Mitra Pemuda Tbk (MTRA), dan Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) dengan total emisi senilai Rp0,2 triliun atau setara dengan USD12,9 juta. Namun demikian, nilai emisi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan total nilai emisi yang tercatat pada triwulan sebelumnya sebesar Rp2,2 triliun atau setara dengan USD163,0 juta dari lima emiten baru.
Dengan perkembangan tersebut, surplus
investasi portofolio neto pada triwulan I 2016 terutama disumbang oleh sektor publik yang mencatat neto arus masuk investasi portofolio sebesar USD4,9 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan arus masuk (surplus) pada triwulan sebelumnya sebesar USD5,7 miliar. Sementara itu, investasi portofolio sektor swasta secara neto mencatat arus keluar (defisit) sebesar USD0,6 miliar, lebih rendah dari arus keluar (defisit) USD1,3 miliar pada triwulan sebelumnya (Grafik 21).
Grafik 21
Investasi Portofolio menurut Sektor Institusi
Investasi Lainnya
Transaksi investasi lainnya pada triwulan I 2016 mengalami defisit US2,4 miliar, berkebalikan dengan periode sebelumnya yang mencatat surplus sebesar USD2,5 miliar, namun masih lebih kecil dibandingkan dengan defisit di triwulan I 2015 sebesar USD5,3 miliar. Defisit pada triwulan laporan tersebut terutama dipengaruhi oleh pinjaman luar negeri swasta yang mencatat neto pembayaran (Grafik 22) karena
penarikan pinjaman yang lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya seiring dengan masih relatif lemahnya kegiatan ekonomi domestik.
Grafik 22
Perkembangan Investasi Lainnya
Pada sisi aset, transaksi investasi lainnya sektor swasta pada triwulan laporan mengalami surplus (arus masuk bersih) USD0,1 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus USD1,0 miliar pada triwulan sebelumnya. Penurunan surplus tersebut terutama dipengaruhi sektor swasta yang berbalik melakukan penempatan simpanan di luar negeri setelah pada triwulan sebelumnya menarik simpanan tersebut (Grafik 23).
Grafik 23
Transaksi Aset Investasi Lainnya Sektor Swasta
Pada sisi kewajiban, transaksi investasi lainnya di sektor swasta pada triwulan laporan mencatat defisit sebesar USD2,3 miliar, berbalik dari surplus triwulan sebelumnya sebesar USD1,1 miliar. Defisit tersebut dipengaruhi oleh sektor bank yang tercatat melakukan neto pembayaran pinjaman luar negeri setelah pada triwulan sebelumnya menarik pinjaman luar negeri dalam jumlah cukup besar terutama dari Tiongkok. Selain itu, kewajiban dalam bentuk simpanan nonresiden di perbankan domestik juga tercatat outflow (Grafik 24).
Grafik 24
Transaksi Kewajiban Investasi Lainnya Sektor Swasta
Sementara itu, transaksi investasi lainnya di sisi kewajiban untuk sektor publik pada triwulan I 2016
mencatat defisit sebesar USD0,1 miliar, berbalik arah dari surplus USD0,4 miliar pada periode
sebelumnya (Grafik 25). Defisit tersebut disebabkan
oleh lebih rendahnya neto penarikan pinjaman luar negeri pemerintah sebagaimana pola yang
terjadi pada triwulan I dibandingkan dengan triwulan IV pada tahun-tahun sebelumnya. Meskipun
lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV 2015,
penarikan pinjaman luar negeri pemerintah
pada triwulan I 2016 lebih besar dibandingkan -12 -10 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 10 T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I* * 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016
Inv. Lainnya - Kewajiban Inv. Lainnya - Aset Investasi Lainnya (net)
miliar USD
* angka sementara; ** angka sangat sementara
-12 -10 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .III T w .IV T w .I* * 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016
Aset lainnya Uang & Simpanan Pinjaman Investasi Lainnya - Aset
miliar USD
* angka sementara; ** angka sangat sementara
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I* * 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016 Utang Dagang Kewajiban lainnya Uang & Simpanan Pinjaman Investasi Lainnya - Kewajiban
miliar USD
* angka sementara; ** angka sangat sementara