• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE TERHADAP KETERAMPILAN MEMBACA BAHASA INDONESIA SISWA KELAS III SD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE TERHADAP KETERAMPILAN MEMBACA BAHASA INDONESIA SISWA KELAS III SD"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE

TERHADAP KETERAMPILAN MEMBACA BAHASA

INDONESIA SISWA KELAS III SD

I Putu Mardika

1

, Dr. Desak Putu Parmiti

2

, Drs. I Wayan Tirka

3 1

Jurusan PGSD,

2

Jurusan TP,

3

Jurusan BK

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected], [email protected],

[email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan keterampilan membaca intensif antara siswa yang menggunakan model pembelajaran TTW dan siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran TTW pada siswa kelas III Semester II di SDN Gugus X Kecamatan Buleleng. Jenis peneltian ini adalah penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas III SDN Gugus X Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 115 siswa. Sampel penelitian ini yaitu kelas III SDN No. 3 Kaliuntu yang berjumlah 22 siswa dan siswa kelas III SD N 1 Kaliuntu yang berjumlah 25 siswa. Metode dalam pengumpulan data dilakukan dengan metode tes yaitu dengan tes obyektif. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial yaitu uji-t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan keterampilan membaca intensif bahasa Indonesia antara siswa yang menggunakan model pembelajaran TTW dan siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran TTW dengan thit= 11,444 > ttab= 2,000 adanya

perbedaan yang signifikan. Berdasarkan hasil analsis data model pembelajaran TTW berpengaruh terhadap keterampilan membaca intensif bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari skor rata-rata siswa yang menggunakan model pembelajaran TTW yaitu 11,04 dan skor rata-rata siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran TTW yaitu 6,92. Perbaikan dilakukan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat untuk meningkatkan keterampilan membaca intensif yang mampu mengatasi kendala-kendala dalam proses pembelajaran dikelas.

Kata-kata kunci: bahasa Indonesia, keterampilan membaca, TTW. Abstract

The aim of this research is to know the significant difference of intensive reading skill between sudents who were taught with and without TTW model of learning of III grade students in II semester in SDN Gugus X Kecamatan Buleleng. This research is a kind of quasi-experimental study. The population that was used in this reseach came from 115 students of the third grade students in Gugus X Elementary School, Buleleng District (2016/2017). The sample that was being taken in this research came from 22 students of the third grade in SDN No.3 Kaliuntu, and 25 third grade students in SD N 1 Kaliuntu. The method that was used in gathering the data was multiple choices test. ). The sample that was being taken in this research came from 22 students of the third grade in SDN No.3 Kaliuntu, and 25 students of the third grade in SD N 1 Kaliuntu. The result of this result shows that there was a difference in intensive reading skill of Indonesian Language between students who were taught and without TTW learning model, in which thit= 11,444

> ttab= 2,000, it means that there was a significant difference. According to the result of

data analyze, TTW learning model affected the intensive reading skill of Indonesian Language. in this case, the differece can be seen from the students’ average score is

(2)

11,04 who were taught with TTW learning model, and 6,92 without TTW learning model. Therefore, The improvement was done in the learning process of Bahasa Indonesia by using TTW learning model assisted with folklore in order to improve the intensive reading skills which could overcome the problems in the learning process in the claasrooms. Keywords: Indonesian, reading skill, TTW.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam menjadikan manusia yang berilmu, berbudaya, bertakwa serta mampu menghadapi tantangan dimasa yang akan datang. Pendidikan tersebut juga akan melahirkan peserta didik yang cerdas serta mempunyai kompetensi dan skill untuk dikembangankan ditengah-tengah masyarakat. Untuk mewujudkan hal ini tidak terlepas dari faktor penentu dalam keberhasilan peserta didik dalam pendidikan.

Pendidikan dalam konteks persekolahan lebih banyak dilaksanakan melalui pembelajaran. Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya mengkondisikan siswa untuk dapat belajar secara efektif. Kegiatan belajar efektif terlihat bahwa ada kegiatan

memilih, menetapkan dan

mengembangkan metode untuk

mencapai hasil yang diinginkan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dan guru. Pendidikan dalam persekolahan diharapakan siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran dikelas. Proses pembelajaran dikelas harus melibatkan siswa secara aktif dalam proses diskusi kelompok. Proses diskusi dikatakan akan lebih efektif apabila menggunakan media pembelajaran yang

mendukung di dalam proses

pembelajaran. Media pembelajaran yang inovatif harus mampu mengajak siswa untuk berpikir secara ilmiah tentang pembelajaran yang disampaikan pada saat proses pembelajaran.

Pembelajaran bahasa Indonesia

diarahkan untuk meningkatkan

kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal tersebut dilakukan baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan

kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia.

Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada tanggal 4-5 Januari 2017 dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia dan siswa di SD Gugus X Kecamatan Buleleng menunjukkan bahwa guru belum mampu mengaplikasikan berbagai model yang bervariatif, terlebih guru menerapkan pola pembelajaran dengan menstransfer pengetahuan berupa hafalan tanpa mengaitkan fakta-fakta kedalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran yang demikian

menyebabkan siswa kurang aktif mengikuti pembelajaran.

Pembelajaran yang tidak menggunakan model pembelajaran menyebabkan siswa kurang dalam diskusi kelompok. Siswa yang aktif dalam pembelajaran hanyalah siswa yang pintar, sedangkan siswa yang memiliki kemampuan kurang hanya menjadi pendengar dan hanya menunggu perintah dari guru selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini menyebabkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran rendah. Interaksi dan kerjasama siswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan di dalam kelompok umumnya masih kurang dalam artian sikap individu masih tinggi Sebagian besar siswa yang jarang melakukan tukar informasi dengan teman kelompoknya, ketika diberikan tugas berkelompok dikelasnya dan tidak mau saling membantu dalam memecahkan masalah.

Apalagi dalam proses

pembelajaran guru masih belum mengoptimalkan berbagai media yang dapat mendukung siswa untuk belajar lebih nyata. Penggunaan media pembelajaran masih kurang, ini terlihat guru masih menggunakan media

(3)

seadanya yang ada disekolah, sebenarnya setiap sekolah diberikan LCD proyektor untuk membantu guru mengajar dalam proses pembelajaran, tetapi sebaliknya karena dengan keterbatasan

waktu dan kurang memahami

menggunakan media tersebut maka guru merasa enggan menggunakan media tersebut. Hal ini menyebabkan hasil belajar siswa menjadi rendah.

Mencermati hal tersebut, khususnya pada mata pelajaran bahasa

Indonesia, pembelajaran yang

dilaksanakan oleh guru terdapat permasalahan dalam proses mengajar dikelas khususnya dalam hal keterampilan membaca. Hal ini terlihat dari rata-rata nilai UTS keterampilan membaca intensif siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD Gugus X.

Berdasarkan hal tersebut telah terjadi kesenjangan antara harapan dan kenyataan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya dalam keterampilan membaca intensif, sebagian masih di

bawah KKM. Untuk mengatasi

permasalahan tersebut, diperlukan inovasi dari guru untuk mengemas pembelajaran bahasa Indonesia. Inovasi yang tepat salah satu dengan menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan membaca pada siswa. Salah satu model pembelalajaran yang cocok untuk mengatasi keterampilan membaca siswa yaitu dengan menggunakan model pembelajaran TTW.

Menurut Huda (2013:218) TTW adalah “strategi yang memfasilitasi latihan berbahasa secara lisan dan menulis bahasa tersebut dengan lancar”. TTW ini memacu siswa untuk berpikir, berbicara dan mencatat suatu topik tertentu. Model pembelajaran TTW dapat memberikan peluang kepada siswa untuk berinteraksi

dengan sesama siswa dalam

pembelajaran. Model pembelajaran TTW

menekankan pada kemampuan

komunikasi dan kreativitas berpikir siswa pada tahap-tahap pelaksanaannya. Dalam tahap talk yaitu berbicara, dan mengembangkan kreativitas pada think dan mencatat atau write. Berdasarkan penerapan model pembelajaran TTW

tersebut, maka diduga model

pembelajaran TTW akan dapat memacu

siswa dalam belajar sehingga hasil belajar siswa akan menjadi maksimal.

Model pembelajaran TTW pada dasarnya pembelajaran ini dibangun melalui proses berpikir, berbicara dan menulis. Strategi pembelajaran TTW

dapat menumbuh kembangkan

kemampuan pemecahan masalah. Alur kemajuan pembelajaran dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide dengan temannya sebelum menulis.

Suasana ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok heterogen dengan 3-5 siswa. Dalam kelompok ini siswa diminta membaca, membuat

catatan kecil, menjelaskan,

mendengarkan dan membagi ide bersama teman kemudian mengungkapkannya melalui tulisan. Aktivitas berpikir, berbicara dan menulis ini adalah salah satu bentuk aktivitas belajar mengajar yang memberikan peluang kepada siswa untuk berpartisipasi aktif. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pembelajaran menggunakan tipe ini adalah berpikir (Think), berbicara (Talk), dan menulis (Write).

Pembelajaran akan menjadi lebih menarik apabila model TTW berbantuan cerita rakyat. Perlu diketahui bahwa dengan berbantuan cerita rakyat dapat lebih menumbuhkan minat keterampilan membaca. Hasyim & Muqoddas, (2015:59) menyatakan “cerita rakyat merupakan salah satu keunikan budaya yang dimiliki oleh setiap daerah. Cerita rakyat mampu menjadi sarana pendidikan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh pendahulu kepada generasi mendatang”.

Pembelajaran bahasa Indonesia dituntut siswa untuk memiliki keterampilan membaca intensif. Keterampilan membaca intensif tidak hanya dilakukan pada buku saja melainkan pada cerita rakyat. Dalam cerita rakyat terdapat tanda-tanda baca yang akan dibaca siswa pada saat membaca, seperti titik, koma, seru yang dimana memiliki fungsi yang berbeda dalam setiap tanda baca tersebut.

(4)

Berdasarkan pemaparan di atas, diduga terdapat perbedaan keterampilan

membaca intensif siswa yang

menggunakan pembelajaran model pembelajaran TTW dengan siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran TTW. Oleh karena itu, diperlukan melakukan kajian tentang model pembelajaran yang paling efektif dalam upaya untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa, sehingga difokuskan penelitian yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) Berbantuan Cerita Rakyat Terhadap Keterampilan Membaca Bahasa Indonesia Kelas III Semester Genap di SD Gugus X

Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2016/2017.

METODE

Penelitian ini dilaksanakan di SD Gugus X Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Sedangkan waktu penelitian direncanakan pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017. Penelitian ini mengikuti desain penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment). Rancangan penelitian yang digunakan adalah Posttest Only Control Group Design, seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Desain Penelitian

Kelompok Perlakuan Post-test

Eksperimen X1 O1

Kontrol X2 O2

Karena tidak semua variabel yang muncul dan kondisi eksperimen dapat diatur dan dikontrol secara ketat. “Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil hitung apapun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif dari karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya”. Sudjana (dalam Agung, 2015:7).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas III SD di Gugus X Kecamatan Buleleng tahun pelajaran 2016/2017. Jika dari keseluruhan populasi yang ada, kemudian hanya diambil sebagian menjadi wakil populasi tersebut, maka wakil populasi tersebut dinamakan sampel. Jadi sampel merupakan bagian dari populasi yang secara langsung dikenai penelitian. Sejalan dengan ini, Sudjana (dalam Agung, 2015:8) menyatakan bahwa “sampel merupakan sebagian yang diambil dari populasi”.

“Teknik group random sampling adalah suatu cara pengambilan sampel secara acak, di mana sampel diambil berdasarkan kelas bukan individu, setiap anggota populasi atau bagian dari populasi tersebut mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel” Soewarno (dalam Agung, 2014:164) Teknik group random sampling yang

digunakan untuk menentukan kelas eksperimen dan kontrol dalam penelitian dengan cara undian. Hasil group random sampling menentukan kelas yang akan digunakan sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada saat analisa data, dari setiap kelompok diambil skor keterampilan membaca intensif bahasa Indonesia siswa. Skor-skor tersebut kemudian dianalisis untuk memenuhi teknik analisis data. Informasi mengenai skor keterampilan membaca intensif bahasa Indonesia diperoleh melalui nilai UTS dari masing-masing sekolah. Sebelum dilakukan penentuan sampel penelitian, dilakukan uji kesetaraan pada semua sekolah SD yang ada di gugus X Kecamatan Buleleng. Data yang digunakan dalam uji kesetaraan adalah nilai ulangan tengah semester (UTS) ganjil mata pelajaran bahasa Indonesia kelas III. Uji kesetaraan ini menggunakan analisis Anava A.

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode tes, dengan menggunakan tes obyektif. Tes obyektif digunakan pada saat post-test. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif berfungsi untuk mengelompokkan data,

(5)

memaparkan serta menyajikan hasil olahan. Statistik deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mean (rata-rata), standar deviasi dan varians. Sedangkan statistik inferensial berfungsi untuk menggeneralisasikan hasil penelitian yang dilakukan pada sampel bagi populasi. Statistik inferensial ini digunakan untuk menguji hipotesis melalui uji-t (polled varians) yang diawali dengan analisis prasyarat yaitu uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi data keterampilan membaca intensif bahasa Indonesia siswa kelas III SD Gugus X Kecamatan Buleleng. Variabel dalam penelitian ini adalah keterampilan membaca intensif siswa sebagai perlakuan antara untuk

menentukan kelas eksperimen dan kontrol. Berdasarkan pengundian yang telah dilakukan didapatkan hasil yaitu, SDN No. 3 Kaliuntu sebagai kelas kelompok eksperimen dan SDN 1 Kaliuntu sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda dengan jumlah 15 butir soal. Dalam penelitianini dikelompokkan menjadi dua, yaitu 1) Keterampilan membaca intensif bahasa Indonesia yang mendapatkan perlaku model pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat pada kelompok Eksperimen, dan 2) Keterampilan membaca intensif bahasa Indonesia yang tidak

mendapatkan perlaku model

pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat pada kelompok kontrol. Rekapitulasi hasil perhitungan data hasil post-test disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil Keterampilan Membaca Intensif

Sampel M Md Mo s S2 Skor Maksimal Skor Minimal R Eksperimen 11,04 11,07 11,1 1,24 1,56 13 9 11,04 Kontrol 6,92 6,85 6,83 1,34 1,82 10 5 6,92

Berdasarkan Tabel di atas, diketahui kelompok eksperimen memiliki mean= 11,04, median=11,07, dan modus= 11,1 yang berarti mean lebih kecil dari median dan median lebih kecil

dari modus (Mo>Md>M). digambarkan dalam grafik polygon membentuk kurva juling negative yang berarti sebagian besar skor cenderung tinggi. Adapun kurva disajikan pada Gambar 1. berikut.

Gambar 1. Grafik Poligon Data Keterampilan Membaca Intensif Kelompok Eksperimen Mo=11,1

M=11,04

(6)

Berdasarkan grafik poligon data keterampilan membaca intensif kelompok eksperimen di atas, grafik di atas adalah grafik juling negatif. Artinya, sebagian besar skor cenderung tinggi. Kecenderungan skor ini dapat dibuktikan dengan melihat frekuensi relatif pada tabel distribusi frekuensi. Frekuensi relatif skor yang berada di atas rata-rata lebih besar dibandingkan frekuensi relatif skor yang berada di bawah rata-rata.

Sedangkan kelompok kontrol memiliki mean= 6,92, median=6,85, dan modus= 6,83 yang berarti modus lebih kecil dari median dan median lebih kecil dari mean (Mo<Md<M). digambarkan dalam grafik polygon membentuk kurva juling positif yang berarti sebagian besar skor cenderung rendah. Adapun kurva disajikan pada Gambar 2. berikut.

Gambar 2. Grafik Poligon Data Keterampilan Membaca Intensif Kelompok Kontrol

Berdasarkan Grafik poligon data keterampilan membaca intensif kelompok kontrol di atas, grafik di atas adalah grafik juling positif. Artinya, sebagian besar skor cenderung rendah. Kecenderungan skor ini dapat dibuktikan dengan melihat frekuensi relatif pada tabel distribusi frekuensi. Frekuensi relatif skor yang berada di atas rata-rata lebih kecil dibandingkan frekuensi relatif skor yang berada di bawah rata-rata.

Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu melaukan uji prasyarat analisis. Uji prasyarat analisis data dilakukan sebelum melaksanakan uji hipotesis. Terdapat beberapa persyaratan analisis data yang harus dipenuhi, meliputi: 1) uji normalitas sebaran data, 2) uji homogenitas varians. Uji normalitas sebaran data dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa sampel benar-benar berasal dari populasi yang berdistribusi

normal pada dua kelompok data dalam penelitian ini, yaitu (1) keterampilan membaca intensif bahasa Indonesia pada kelas eksperimen, (2) keterampilan membaca intensif bahasa Indonesia pada kelas kontrol.

Uji normalitas sebaran data dilakukan dengan bantuan SPSS-16.0 for windows uji statistik Kolmogorov-Smirnov pada taraf signifikan 0,05. Uji ini dilakukan terhadap data post-test terhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Apabila nilai signifikansi lebih besar daripada signifikansi (ɑ) maka sampel berasal dari populasi berdistribusi normal. Normalitas sebaran data diuji dengan teknik Kolmogorov-Smirnov dan

Shapiro-Wilk menggunakan bantuan

SPSS-16.0 for windows yang diperoleh hasil seperti yang disajikan pada tabel 2 sebagai berikut.

M=6,92

Md=6,85

(7)

Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Sebaran Data dengan Teknik Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk dengan Taraf Signifikansi 5%

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Eksperimen .167 22 .111 .921 22 .082

Kontrol .157 22 .170 .933 22 .143

a. Lilliefors Significance Correction Berdasarkan data pada tabel 3 diatas, menunjukkan bahwa statistik Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk memiliki angka signifiknsi lebih besar dari 0,05. Maka dapat disimpulkan semua sebaran data keterampilan membaca sudah berdistribusi normal.

Uji homogenitas varians antar kelompok bertujuan untuk memeriksa

kesamaan varians antar kelompok perlakuan. Dalam penelitian ini, uji homogenitas dilakukan terhadap varians pasangan antar kelompok eksperimen dan kontrol. Uji yang digunakan adalah uji-F dengan kriteria data homogen jika Fhit <

Ftab. Rekapitulasi hasil uji homogenitas

varians antar kelompok eksperimen dan kontrol disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas Varians antar Kelompok Eksperimen dan Kontrol

Data Fhit Ftab Kesimpulan

Post-Test Kelompok Eksperimen dan

Kelompok Kontrol 1,16 2,02 Homogen

Berdasarkan tabel 4 diatas, diketahui Fhit keterampilan membaca

intensif kelompok eksperimen dan kontrol adalah 1,16, sedangkan Ftab pada

dbpembilang = 21, dbpenyebut = 24, dan taraf

signifikansi 5% adalah 2,02. Hal ini berarti, varians data keterampilan membaca intensif bahasa Indonesia kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen.

Berdasarkan uji prasyarat analisis data, diperoleh bahwa data keterampilan membaca intensif siswa kelompok eksperimen dan kontrol adalah normal dan homogen.

Setelah diperoleh hasil uji prasyarat analisis data, analisis dilanjutkan dengan pengujian hipotesis penelitian (H1) dan hipotesis nol (H0).

Pengujian hipotesis tersebut dilakukan menggunakan uji-t sampel independent (tidak berkorelasi) dengan rumus polled varians berikut.

Kriteria pengujian adalah tolak H0

jika thit > ttab, dimana ttab diperoleh dari

tabel distribusi t pada taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan db = n1 + n2 – 2. Rangkuman hasil analisis uji-t ditampilkan pada tabel 5.

Tabel 5. Hasil Uji-T

Kelompok N Db Mean s2 t

hit ttab

Eksperimen 22

47 11,04 1,56 11,44 2,000

Kontrol 25 6,92 1,82

Berdasarkan tabel 5 analisis diatas, dapat diketahui thit = 11,444 dan ttab

= 2,000 untuk db = 47 pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan kriteria

pengujian, karena thit > ttab maka H0 ditolak

dan H1 diterima. Artinya, terdapat

perbedaan keterampilan membaca intensif bahasa Indonesia antara kelompok siswa

(8)

yang menggunakan model pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat dan kelompok siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran TTW pada siswa kelas III SD di Gugus X Kecamatan Buleleng tahun pelajaran 2016/2017.

Pembelajaran yang menggunakan model pembalajaran TTW membuat siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran tentu saja dalam hal ini untuk meningkatkan keterampilan membaca intensif siswa. Dapat dilihat dari pembelajaran model TTW berbantuan cerita rakyat lebih banyak menekankan keterlibatan siswa dalam menemukan sendiri pengetahuannya dengan melakukan kegiatan diskusi kelompok sedangkan guru hanya bertugas sebagai fasilitator dan motivator dalam pembelajaran.

Model pembelajaran TTW adalah strategi yang memfasilitasi latihan berbahasa secara lisan dan menulis bahasa itu dengan lancar (Huda, 2014). Model pembelajaran ini menjadikan siswa sebagai pusat pembelajar. Siswa menjadi aktif untuk memecahkan suatu masalah yang diberikan oleh guru. Adanya bantuan cerita rakyat menyebabkan siswa lebih tertarik untuk membaca dan mengikuti proses pembelajaran.

Hasyim & Muqoddas (2015) menyatakan cerita rakyat merupakan salah satu keunikan budaya yang dimiliki oleh setiap daerah. Cerita rakyat mampu menjadi sarana pendidikan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh pendahulu kepada generasi mendatang. Berbantuan cerita rakyat sangat baik digunakan dalam kegiatan pembelajaran dikelas. Siswa diajak untuk memaknai isi cerita dan dapat melatih keterampilan membaca intensif siswa dalam membaca. Sehingga setiap tanda baca yang terdapat pada cerita rakyat siswa mampu mengucapkan dengan baik.

Penelitian lain yang mendukung adalah penelitian yang dilakukan oleh Jano (2015), dalam penelitian yang

berjudul Pengaruh Model TTW

Berbantuan Media Gambar Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia. Penelitian ini ditemukan bahwa banyak menekankan keterlibatan siswa dalam menemukan sendiri pengetahuannya dengan

melakukan kegiatan diskusi kelompok sedangkan guru hanya bertugas sebagai fasilitator dan motivator dalam pembelajaran. Dita (2016) dalam penelitian yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Think Talk Write terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia. Penelitian ini lebih banyak siswa aktif dalam proses pembelajaran. Siswa terlihat antusias, senang dalam mengikuti proses pembelajaran. Dari

penyampaian materi, siswa

mendengarkan penjelasan guru dengan antusias dan selalu berkonsentrasi dalam pembelajaran. Selain itu, saat siswa dihadapkan pada tugas kelompok, siswa terlihat aktif mendiskusikan dan memecahkan pemasalah yang yang diberikan. Keterlibatan langsung siswa dalam pembelajaran dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk

menggunakan pengetahuan yang

dimilikinya pada saat berinteraksi dengan teman kelompoknya dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

Selain itu, pada saat kelompok dibentuk secara heterogen, siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi semangat membantu siswa yang memiliki kemampuan rendah dalam hal mengingat materi dan memecahkan permasalahan yang diberikan guru. Dalam kelompok, mereka aktif berinteraksi satu sama lain sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan pembelajara dapat berjalandengan maksimal.

Hasil penelitian ini ditemuankan bahwa model pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat sangat

memberikan pengaruh terhadap

keterampilan membaca intensif. Tentu saja dalam hal ini keterampilan membaca intensif siswa meningkat. Hal ini dapat dari model pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat lebih menekankan siswa dalam membaca agar mendapatkan pengetahuan yang baru serta terlibat aktif dalam diskusi kelompok sedangkan guru hanya sebagai fasilitator bagi siswa dalam proses pembelajaran.

Dengan demikian hasil penelitian

ini membuktikan bahwa model

pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat dapat memberikan pengaruh

(9)

terhadap keterampilan membaca intensif siswa.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan pembahasan, maka temuan dalam penelitian ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan keterampilan membaca bahasa Indonesia

antara kelompok siswa yang

menggunakan model pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat dan kelompok siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat. Hasil analisis menunjukkan bahwa thit = 11,04 dengan ttab = 2,000 hal ini

berarti nilai thit > ttab. Kualifikasi

keterampilan bahasa Indonesia siswa yang menggunakan model pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat berada pada kategori tinggi sedangkan keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran TTW berada pada kategori rendah.

Maka dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran dengan model

pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat berpengaruh positif terhadap keterampilan membaca bahasa Indonesia kelas III Semester Genap di SD Gugus X Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2016/2017.

Berdasarkan temuan-temuan dalam penelitian ini, dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut.

1. Siswa dalam mengikuti proses pembelajaran diharapakan selalu terlibat secara aktif agar nantinya dapat meningkatkan keterampilan

membaca dan mendapatkan

pengetahuan baru melalui

pengalaman yang ditemukannya sendiri.

2. Guru dalam menyampaikan materi pelajaran di kelas hendaknya lebih berinovasi dalam memilih model pembelajaran yang mana model pembelajaran yang dipilih nantinya mampu mengatasi kebutuhan belajar dan karakteristik siswa.

3. Kepada sekolah, khususnya sekolah dasar hendaknya dapat menjadikan model pembelajaran TTW menjadi salah satu model pembelajaran yang

harus diterapkan dalam

pembelajaran, pada aturan guru mengajar dikelas.

4. Peneliti lain yang akan mengadakan penelitian lebih lanjut tentang pembelajaran TTW berbantuan cerita rakyat dalam bidang pelajaran bahasa Indonesia maupun pelajaran lainnya yang sesuai agar memperhatikan kendala-kendala yang dialami dalam penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan dan penyempurnaan penelitian yang akan dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA

Agung, A. A. G. 2014. Buku Ajar Metodelogi Penelitian Pendidikan. Singaraja: Aditya Media Publishing. Agung, A. A. G. 2015. Statistik Inferensial.

Singaraja: Fakultas Ilmu Pendidikan, UNDIKSHA.

Hasyim & Muqoddas. 2015. “Inventarisasi Cerita Rakyat dari Kabupaten Demak Melalui Aplikasi Buku Digital (E-Book) Interaktif”. Andharupa, Vol.01 No.02 (hlm 59--68).

Huda, Miftahul. 2013. Model-model

Pengajaran dan Pembelajaran.

Yogyakarta: Pusataka Belajar. Koyan, I Wayan. 2011. Asesmen dalam

Pendidikan. Singaraja: Undiksha

Press.

Koyan, I Wayan. 2012. Statistik Pendidikan Teknik Analisis Data Kuantitatif. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Press.

Shoimin, Aris. 2014. 68 Model

Pembelajaran Inovatif dalam

Krikulum 2013. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.

Sudiana, I Nyoman. 2007. Membaca. Malang: Universitas Pendidikan Malang.

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berbasis Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Gambar

Tabel 2. Hasil Keterampilan Membaca Intensif
Gambar 2. Grafik Poligon Data Keterampilan Membaca Intensif Kelompok Kontrol  Berdasarkan  Grafik  poligon  data

Referensi

Dokumen terkait

.HPHQDQJDQ -RNRZL - -. GL -DZD 7HQJDK DZDOQ\D GLSUHGLNVL WLGDN VDSX EHUVLK VHOXUXK NDEXSDWHQ NRWD EHUFHUPLQ GDUL KDVLO SHPLOX OHJLVODWLI .DEXSDWHQ &amp;LODFDS PHUXSDNDQ VDODK VDWX

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat analgesik yang paling banyak digunakan pada ibu pasca melahirkan normal yaitu asam mefenamat tablet dan pasca

REMEDIASI PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) PADA MATERI HUKUM NEWTON TENTANG GRAVITASI UNTUK

[r]

Dengan demikian, penjelasan tujuan dan sasaran pada hakekatnya merupakan penegasan kembali tentang visi dan misi RPJMD Kabupaten Kerinci Tahun 2014-2019 secara

Maka dalam menjalankan berbagai fungsi dan tugasnya dimana para konsul bertindak sebagai wakil Negara maka mereka diberikan pelayanan terbaik dari Negara penerima

bersyarat, IFC masih mempunyai saham yang belum terbeli (i) IFC dapat menjual seluruh atau sebagian saham yang tidak terbeli tersebut kepada pihak ketiga sesuai dengan pilihannya

Pelaksanaan program Pemitra bagi pengembangan produk olahan tepung sayuran di desa Sindon kecamatan Ngemplak kabupaten Boyolali dengan tujuan utama untuk meningkatkan