6
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Dasar Knowledge Management
2.1.1 Pengertian data, informasi, knowledge dan wisdom
Sebelum munculnya manajemen pengetahuan (Knowledge Management) perbedaan antara data, informasi, knowledge dan wisdom tidak begitu nyata, sedangkan di Knowledge Management ketidakjelasan pembedaan dapat menimbulkan inefisiensi dan kesalahan dalam penerapan. Suatu organisasi bisa saja mengatakan telah menerapkan Knowledge Management, namun kenyataannya baru tahap manajemen data atau informasi (Tobing, 2007, p13).
Penerapan KM harus lebih memperhatikan aspek manusia dan kulturnya, karena munculnya knowledge berasal dari intervensi manusia terhadap informasi melalui interpretasi dan judgment yang dipengaruhi oleh intelektualitas, mentalitas, pengalaman dan value yang dimiliki manusia.
Untuk menghasilkan knowledge yang bernilai tinggi, suatu organisasi akan memerlukan sistem untuk melakukan strukturisasi seluruh data dan informasi yang dimiliki. Transisi dari data sampai ke wisdom digambarkan dalam bentuk hirarki seperti gambar 2.1.
7
Adapun pengertian tentang data, informasi, knowledge dan wisdom adalah :
• Data merupakan fakta-fakta, dapat berupa gambar, angka-angka tanpa konteks ataupun lembar kerja dalam speadsheets tanpa disertai dengan analisis dan interpretasi data. Menurut Tiwana (2000, p39), data merupakan kumpulan dari transaksi-transaksi.
• Informasi adalah data yang tersusun dan disertai dengan hubungan (konteks) yang mempunyai arti, untuk membantu pengambilan keputusan. Menurut Davenport dan Prusak (Tobing, 2007, p15), Informasi adalah proses perubahan data yang melalui beberapa tahapan yang dimulai dengan huruf C, yaitu :
¾ Contextualized : memahami manfaat data yang dikumpulkan.
¾ Categorized : memahami unit analisis atau komponen kunci dari data. ¾ Calculated : menganalisis data secara matematik atau secara statistik. ¾ Corrected : menghilangkan kesalahan (error) dari data.
¾ Condensed : meringkas data dalam bentuk yang lebih singkat dan jelas.
Connectednes information knowledge wisdom understanding data
Gambar 2.1 Hirarki DIKW dari data ke wisdom (Belinger, et al) dalam Tobing, 2007
8
• Knowledge adalah data yang dilengkapi dengan pemahaman pola hubungan dari informasi disertai pengalaman, baik individu maupun kelompok dalam organisasi dan digunakan sebagai dasar untuk bertindak. Menurut Davenport dan Prusak (Tobing, 2007, p18), proses transformasi informasi menjadi knowledge juga melalui empat tahapan yang dimulai dengan huruf C, yaitu :
¾ Comparison : membandingkan informasi pada situasi tertentu dengan situasi lain yang telah diketahui
¾ Consequences : menemukan implikasi-implikasi dari informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan dan tindakan.
¾ Connections : menemukan hubungan-hubungan bagian kecil dari informasi dengan hal lain.
¾ Conversations : membicarakan pandangan, pendapat serta tindakan orang lain terkait informasi tersebut.
• Wisdom adalah knowledge yang digunakan dalam membuat keputusan-keputusan yang menyangkut masa depan.
2.1.2 Siklus Transfer Knowledge
Knowledge terdiri dari dua jenis yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge.
• Tacit knowledge merupakan knowledge yang ada di dalam diri manusia dalam bentuk intuisi, judgement, skill, value dan belief. Knowledge ini sulit untuk diformalisasikan dan dibagikan kepada orang lain.
9
• Explicit Knowledge adalah knowledge yang dapat terkodifikasikan dalam bentuk dokumen sehingga mudah ditransfer dan didistribusikan dengan berbagai media, dapat berupa kaset/cd video, formula, dan audio
Oleh Nonaka dan Takeuchi (1995), kedua jenis knowledge tersebut digambarkan dalam siklus transfer knowledge, yang disebut SECI Process (S: Socialization, E: Externalization, C: Combination, dan I: Internalization), seperti gambar 2.2.
• Sosialisasi (Socialization) adalah konversi pengetahuan tacit ke pengetahuan tacit dan proses sharing serta penciptaan pengetahuan tacit melalui interaksi dan pengalaman langsung (Tobing, 2000, p22). Istilah sosialisasi ini digunakan untuk menekankan pentingnya kegiatan bersama antara sumber pengetahuan dan penerima pengetahuan, dapat dilakukan melalui pertemuan tatap muka seperti rapat, diskusi dan pertemuan bulanan.
• Eksternalisasi (externalization), yaitu transfer dari tacit knowledge ke explicit knowledge melalui proses dialog dan refleksi (Tobing, 2000, p22). Melalui cara ini
Gambar 2.2 Empat model konversi knowledge. (SECI proces, Nonaka & takeuchi, 1995) dalam Tobing, 2007
10
pengetahuan terkristalisasikan sehingga dapat didistribusikan ke pihak lain dan menjadi basis bagi pengetahuan baru. Pada tahap ini, pengetahuan tacit diekspresikanan dan diterjemahkan menjadi metafora, konsep, hipotesis, diagram, model atau prototipe sehingga dapat dimengerti oleh semua pihak. Misalnya, penulisan buku, jurnal, majalah dan lain-lain.
• Kombinasi (Combination) adalah transfer dari explicit knowledge ke explicit knowledge yang baru melalui sistemisasi dan pengaplikasian explicit knowledge dan informasi (Tobing, 2000, p22). Dengan cara ini pengetahuan ditukarkan dan dikombinasikan melalui media seperti dokumen-dokumen, rapat-rapat, percakapan telepon dan komunikasi melalui jaringan komputer. Dalam praktiknya kombinasi bergantung pada tiga proses. Pertama, pengetahuan eksplisit dikumpukan dari dalam dan luar organisasi/perusahaan, kemudian dikombinasikan. Kedua, pengetahuan eksplisit disunting atau diproses agar dapat lebih bermanfaat bagi perusahaan. Ketiga pengetahuan ekplisit tersebut disebarkan ke seluruh perusahaan melalui berbagai media.
• Internalisasi (Internalization) adalah transfer dari explicit knowledge ke tacit knowledge merupakan proses pembelajaran dan akuisisi knowledge yang dilakukan oleh anggota organisasi terhadap explicit knowledge yang disebarkan ke seluruh organisasi melalui pengalaman sendiri sehingga menjadi tacit knowledge anggota organisasi (Tobing, 2000, p22). Internalisasi pengetahuan digunakan untuk memperluas, memperdalam serta mengubah pengetahuan tacit yang dimiliki oleh setiapanggota organisasi/perusahaan. Bila pengetahuan berhasildiinternalisasikan ke
11
dalam pengetahuan tacit para individu dalam bentuk model mental bersama maka pengetahuan ini akan menjadi aset yang luarbiasa bagi perusahaan.
2.1.3 Pengertian Knowledge Management
Menurut para ahli, istilah knowledge management (KM) sebetulnya tidak tepat, karena sesungguhnya organisasi tidak dapat mengelola pengetahuan. Yang dikelola oleh organisasi adalah sumber dayanya, seperti keuangan dan barang. Sedangkan orang yang memiliki pengetahuan sebaiknya dipimpin, bukan dikelola. Karena itu istilah yang tepat adalah pengelolaan berbasis pengetahuan (knowledge-based management), namun karena penggunaannya sudah meluas istilah KM tetap digunakan.
Menurut Tobing (2007, p23) definisi tentang knowledge management sangat beragam dan kemungkinan besar akan bertambah seiring dengan semakin berkembang dan beragamnya pemahaman tentang knowledge management. Biasanya dalam perancangan knowledge management pada suatu perusahaan, faktor subjektif para perancangnya turut mempengaruhi pemilihan definisi yang akan diadopsi, disamping kesesuaian dengan strategi dan kerangka yang digunakan dalam implementasinya.
Menurut Amrit Tiwana (2001, p21), pengelolaan knowledge management perusahaan dalam menciptakan nilai bisnis dan menghasilkan keunggulan kompetitif yang berkesinambungan dengan mengoptimalkan proses penciptaan, pengkomunikasian dan pengaplikasian semua knowledge yang dibutuhkan dalam rangka pencapaian tujuan bisnis.
Menurut Shelda (2006, p16), knowledge management merupakan suatu aktifitas untuk mengidentifikasi, menciptakan, mengatur serta menyebarkan aset intelektual yang
12
kritikal dari suatu organisasi untuk jangka waktu yang panjang sehingga keberlangsungan suatu organisasi terus berkesinambungan.
Menurut Widayana (2005, p31), knowledge management merupakan sistem yang dibuat untuk menciptakan, mendokumentasikan, menggolongkan dan menyebarkan knowledge dalam perusahaan. Sehingga knowledge mudah digunakan setiap saat dan oleh siapa saja yang sesuai dengan tingkat otoritas dan kopentensinya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen pengetahuan merupakan upaya terstruktur dan sistematis dalam mengembangkan dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk membantu proses pengambilan keputusan bagi peningkatan kinerja organisasi. Aktivitas dalam manajemen pengetahuan meliputi upaya perolehan, penyimpanan, pengolahan dan pengambilan kembali, penggunaan dan penyebaran, serta evaluasi dan penyempurnaan terhadap pengetahuan sebagai aset intelektual organisasi.
2.1.4 Komponen Knowledge Management
Menurut Collison dan Parcell yang dikutip Ghalib (2004, p.9) Knowledge Management adalah wilayah yang kompleks, yang menjangkau batas-batas pembelajaran dan perkembangan, teknologi informasi dan sumber daya manusia. Model yang dimiliki menggambarkan wilayah kegiatan dimana usaha KM dapat menjadi kekuatan untuk mengkomunikasikan apa yang tercakup dalam organisasi.
Model dari Collison dan Parcell menunjukkan kesuksesan KM dalam berinteraksi diantara tiga elemen pokok, yaitu People, Process dan Technology.
13
Menurut Dilip Bhatt seorang konsultan Knowledge Management, terdapat tiga komponen dalam penerapan knowledge management yang terdiri dari yaitu People, Process, dan Technology (Bhatt, 2000).Seperti ditunjukkan dalam gambar 2.3
Gambar 2.3 Knowledge Management Components (Bhatt, 2000)
• People
Knowledge yang berada pada seseorang akan ditransfer ke orang lain juga, dan people adalah faktor utama dalam penerapan keberhasilan knowledge management. • Process
Proses membantu untuk mengeksternalisasi (tacit menjadi explicit) yang berhubungan dengan perubahan proses kerja, organisasi dan lain sebagainya.
• Technology
Teknologi berperan sebagai enabler dalam knowledge management, dimana teknologi mempunyai fungsi dalam capture, store, update, search dan reuse knowledge atau yang sering kita kenal sebagai KMS (Knowledge Management System).
Keefektifan knowledge management bukan pilihan dari penggunaan software, ruang kelas atau praktek langsung, formal atau informal, ataupun teknik dengan
14
sosial, tetapi menggunakan semua pilihan yang dapat memotivasi karyawan untuk menjadikan pengetahuan memiliki peranan. Hal tersebut tergantung pada kebutuhan setiap individu. Knowledge management terintegrasi pada strategi lembaga yang dilakukan untuk menjaga kompetensi lembaga dalam jangka panjang dengan membangun kompetensi organisasi.
2.1.5 Knowledge Management System
Menurut Maier (2007, p46), Knowledge Management System adalah sistem ICT (Information and Communication Technology) yang mendukung fungsi dari knowledge creation, konstruksi, identifikasi, menangkap (capture), akuisisi, seleksi, penilaian, organisasi, linking, penataan, formalisasi, visualisasi, distribusi, penyimpanan, pemeliharaan, perbaikan, evolusi, mengakses, mencari, dan aplikasi knowledge pada suatu organisasi.
Menurut Turban (2005, p23), Knowledge management system adalah arsitektur enterprise yang meliputi seluruh teknologi informasi dan aplikasi. Adapun aplikasi-aplikasi yang mendukung Knowledge management system antara lain, document management system, portal, forum, e-learning, email, massenger, social network, wikipedia dan lain sebagainya.
2.2 Strategi
Penerapan
Knowledge Management System
Menurut Hansen, Nohria dan Tierney (Setiarso, 2009, p13) mengemukakan bahwa pada dasarnya, strategi organisasi dalam pengetahuan yang dimiliki dibagi atas dua ekstrim yaitu: strategi kodifikasi (codification strategy) dan strategi personalisasi (personalization strategy). Bila pengetahuan diterjemahkan dalam bentuk eksplisit secara
15
berhati-hati (codified) dan disimpan dalam basis data sehingga pengguna yang membutuhkan dapat mengakses pengetahuan tersebut, maka cara mengelola seperti itu dikatakan menganut strategi kodifikasi. Namun pengetahuan tidak hanya eksplisit saja, melainkan juga pengetahuan yang terpikirkan (tacit). Pengetahuan tacit amat sangat sulit diterjemahkan ke dalam bentuk eksplisit, oleh sebab itu pengetahuan dialihkan dari satu pihak ke pihak lain melalui hubungan personal yang intensif, cara mengelola pengetahuan seperti ini disebut strategi personalisasi. Jadi fungsi utama dari jaringan komputer baik internet atau intranet, bukan saja untuk menyimpan atau mendokumentasikan pengetahuan melainkan juga untuk memfasilitasi lalu lintas komunikasi antar individu dalam suatu organisasi merupakan strategi personalisasi. Strategi kodifikasi digunakan untuk menyimpan pengetahuan di dalam tempat penyimpanan yang terstruktur dari pengetahuan sebagai database untuk penggunaan yang berulang-ulang. Davenport dan Prusak, seperti dikutip oleh Tobing (2007 p19). menyatakan bahwa tujuan kodifikasi adalah membuat pengetahuan organisasi ke dalam suatu bentuk yang membuat pengetahuan organisasi tersebut dapat diakses oleh personil yang membutuhkannya. Strategi yang kedua yaitu strategi personalisasi adalah strategi yang diadopsi oleh organisasi untuk memberikan solusi dari masalah biasa sampai masalah yang unik. Kedua strategi tersebut biasanya didetilkan menjadi empat strategi pengetahuan yaitu :
• Intellectual Asset Management Strategy
• Personal Knowledge Asset Responsibility Strategy • Knowledge Creation Strategy
16
2.3 Menentukan Strategi Knowledge Management System
yang
dibutuhkan
Organisasi
Menurut Tobing (2007, p55), Strategi KM merupakan penjabaran dari strategi bisnis perusahaan. Dalam strategi KM diformulasikan visi, misi dan objektif strategis dari pengelolaan knowledge yang mendukung visi, misi, objektif perusahaan.
untuk menyusun suatu strategi perlu didukung dengan : - Analisa terhadap kondisi lingkungan bisnis - Menentukan faktor-faktor kunci sukses
- Menterjemahkan strategi perusahaan dalam rencana kegiatan ke depan - Melakukan identifikasi knowledge yang sudah dimiliki.
a. Faktor keberhasilan Knowledge Management System (sucsess factor)
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan KMS yang sedang berjalan diperlukan pengukuran terhadap penggunaannya. Dari sebuah riset yang dilakukan oleh sebuah perusahaan bernama Teleos menemukan bahwa ada delapan dimensi kinerja pengetahuan dalam organisasi, yang menjadi kriteria Most Admired Knowledge Enterprise (MAKE) Study. MAKE adalah salah satu ajang tempat individu dan organisasi untuk mempelajari KM, sekaligus menjadi ajang pengakuan atas kematangan dalam menjalankan KM dan komitmen pemimpin organisasi.
Delapan kriteria yang menjadi dasar penilaian MAKE dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi penerapkan KM adalah :
1. Menciptakan budaya perusahaan yang didorong oleh pengetahuan (Organizational Culture)
17
a. Mengembangkan dan menyebarkan visi dan strategi organisasi berbasis pengetahuan.
b. Menentukan dan menetapkan kompetensi inti organisasi (nilai/aset pengetahuan)
c. Merancang struktur organisasi dan hubungan-hubungan antara bagian dalam organisasi yang didasarkan pada optimalisasi aset pengetahuan
d. Mengembangkan dan mengelola nilai-nilai organisasi (core values) berbasis pengetahuan
e. Mengembangkan dan mengelola perilaku-perilaku (budaya) yang berorientasi pada pengetahuan
f. Mengembangkan dan mengelola sistem/proses pengetahuan organisasi
g. Menciptakan dan mengelola strategi sumber daya manusia berbasis pengetahuan
2. Mengembangkan knowledge workers melalui kepemimpinan manajemen (Leadership)
a. Mengembangkan dan menyebarkan gaya manajemen yang mendorong perolehan, saling berbagi dan penerapan pengetahuan untuk penciptaan nilai tambah bagi organisasi
b. Menyediakan dukungan perusahaan dalam bentuk finansial maupun nonfinansial untuk mengelola pengetahuan
c. Mendorong dan mendukung implementasi strategi pengetahuan d. Mengembangkan dan melatih knowledge leaders
18
3. Menyajikan produk/jasa/solusi berbasis pengetahuan (Innovation)
a. Mengembangkan dan menyebarkan strategi inovasi dan penciptaan pengetahuan organisasi
b. Mengembangkan dan melatih para pekerja dalam inovasi dan pengembangan ide
c. Melibatkan pelanggan dan supplier dalam pengembangan produk dan pelayanan berbasis pengetahuan
d. Meningkatkan/memperluas pengetahuan organisasi
e. Mengelola perpindahan/penyebaran pengetahuan dan ide sampai pada pengambilan tinadakan
f. Memberikan pengakuan/penghargaan kepada orang-orang yang melakukan inovasi
g. Mengelola proses produksi dan atau pelayanan berbasis pengetahuan h. Mengukur nilai tambah yang tercipta dari inovasi dan karya pengetahuan
4. Memaksimalkan modal intelektual perusahaan (Intelectual Capital Management) a. Mengembangkan dan menyebarkan strategi modal intelektual (Intelectual
Capital) organisasi
b. Mengembangkan dan melatih para karyawan berdasarkan konsep dan perangkat modal intelektual
c. Mengembangkan perangkat dan teknik untuk mengelola dan mengukur modal intelektual
d. Mengelola dan memperluas modal intelektual e. Melindungi aset pengetahuan
19
f. Mengakui/menghargai karyawan yang telah menambah modal intelektual organisasi
5. Menciptakan lingkungan untuk berbagi pengetahuan secara kolaboratif (Knowledge Sharing & Collaboration)
a. Mengembangkan dan mengelola pemasukan/pengumpulan, pengkategorian, dan penggunaan pengetahuan
b. Memetakan sumber daya pengetahuan di seluruh organisasi
c. Mengubah pengetahuan individu (tacit) menjadi pengetahuan organisasi (explicit)
d. Menciptakan sistem mekanisme untuk saling berbagi pengetahuan dan best practices internal dan eksternal
e. Menyediakan program informasi teknologi untuk berbagi pengetahuan f. Mengembangkan communities of practice
g. Efektif dalam mengenali dan menemukan keahlian internal dan eksternal h. Membentuk sistem pengakuan dan penghargaan berdasarkan pengetahuan
6. Menciptakan suatu organisasi pembelajar (Organizational Learning) a. Mengembangkan strategi pembelajaran organisasi
b. Mengembangkan kolaborasi/partnership untuk percepatan pembelajaran
c. Mengembangkan dan/atau mendapatkanberbagai perangkat, teknik dan metodologi pembelajaran
d. Mengubah pengetahuan individu (tacit) menjadi pengetahuan perusahaan (explicit)
20 f. Learning by doing
g. Coaching dan mentoring
h. Mengembangkan infrastruktur perusahaan pembelajar, contohnya internet prusahaan untuk tukar-menukar pengalaman belajar internal dan eksternal
7. Memberikan nilai berdasarkan pengetahuan tentang pelanggan (Customer Knowledge)
a. Mengembangkan dan menyebarkan strategi organisasi yang memberi nilai tambah bagi pelanggan
b. Membuat dan mengelola profil/peta pelanggan berdasarkan nilai tambah (value)
c. Membuat customer values chains
d. Mengembangkan dan/atau mendapatkan perangkat dan teknik untuk mengumpulkan dan mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan pelanggan e. Mengembangkan dan mengelola database pelanggan
f. Mengembangkan perangkat dan teknik untuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan pelanggan
g. Mengukur perubahan dalam rangkaian nilai tambah bagi pelanggan
8. Mentransformasikan pengetahuan perusahaan menjadi nilai bagi pemegang saham atau masyarakat bagi organisasi nirlaba (Organizational Value)
a. Mengembangkan dan menyebarkan strategi organisasi berbasis pengetahuan untuk memberi nilai tambah bagi pemegang saham
b. Memetakan dan mengembangkan rangkaian-rangkaian nilai tambah pengetahuan
21
c. Mengelola dan mengukur rangkaian-rangkaian nilai tambah pengetahuan d. Mengukur perubahan nilai tambah pemegang saham organisasi
e. Mengkomunikasikan/melaporkan hasil nilai tambah berbasis pengetahuan Model keberhasilan KMS menurut DeLone and McLean (1992, p42) terdapat beberapa uraian penting pada tiap dimensi, yaitu:
1. System Quality: Kualitas sistem fokus pada pengukuran sistem dalam hal pemrosesan informasi. Kualitas sistem merupakan karakteristik yang dibutuhkan oleh sistem informasi. Karakteristik yang dibutuhkan antara lain:
- Akurasi Data (Data Accuracy) - Kekinian Data (Data Currency) - Isi-isi Basis Data (Database Contents) - Kemudahan Penggunaan (Ease Of Use) - Kemudahan Dipelajari (Ease Of Learning) - Kenyamanan Akses (Convinience Of Access) - Faktor Manusia (Human Factor)
- Integrasi dari Sistem-sistem (Integration Of Sistems)
- Realisasi dari kebutuhan-kebutuhan pemakai (Realization Of User Requirements) - Kegunaan fitur-fitur dan fungsi-fungsi sistem (Userfulness Of Sistem Features
and Functions)
- Akurasi Sistem (Sistem Accuracy) - Keluwesan Sistem (Sistem Flexibility) - Keandalan Sistem (Sistem Reliability) - Kecanggihan Sistem (Sistem Sophistication)
22
- Pemanfaatan Sumber-sumber Daya (Resources Utilization) - Waktu Respon (Response Time)
- Waktu Pembalikan (Turnaround Time)
2. Information Quality: Kualitas informasi fokus pada keluaran dari sistem informasi. Kualitas informasi merupakan pemenuhan terhadap karakteristik yang diinginkan seperti akurasi, ketepatan, kelengkapan, keringkasan, keterkaitan, kemudahan dalam pemahaman, arti dari informasi, perbandingan dan format.
3. Use: Penggunaan sistem informasi fokus pada kuantitas penggunaan sistem oleh pengguna.Hal ini merupakan ukuran yang paling banyak digunakan untuk mengukur keberhasilan sistem informasi.
4. User Satisfaction: kepuasan pengguna, merupakan tanggapan pengguna terhadap penggunaan sistem informasi.
5. Individual impact : dampak informasi terhadap kebiasaan individu.
6. Organizational impact: fokus pada dampak sistem informasi terhadap kinerja organisasi.
b. Analisa SWOT
Knowledge management system yang akan dikembangkan harus selaras dengan strategi organisasi agar benar-benar sesuai dengan kemampuan inti dari apa yang diperlukan oleh organisasi. Untuk lebih mudah dalam memahaminya dapat dilihat pada kerangka berpikir yang diadaptasi dari model Zack pada Gambar 2.5.
Penyelarasan dimulai dengan melakukan analisis SWOT pada organisasi dan faktor-faktor yang menjadi penentu keberhasilan organisasi sehingga dapat ditentukan sasaran dan strategi organisasi untuk mencapai sasaran tersebut (Setiarso, p53-54).
23
SWOT adalah singkatan dari kekuatan (Strenghts), kelemahan (Weaknesses), peluang (Opportunities) dan ancaman (Threats). Analisa SWOT didasarkan pada asumsi bahwa suatu strategi yang efektif akan memaksimalkan kekuatan dan peluang serta meminimalkan kelemahan dan ancaman.
• Kekuatan adalah sumber daya, ketrampilan atau keunggulan terhadap pesaing dan kebutuhan pasar yang dilayani atau ingin dilayani oleh perusahaan. Kekuatan adalah kompetensi khusus (distinctive competence) yang memberikan keunggulan komparatif bagi perusahaan di pasar.
• Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, ketrampilan dan kapabilitas yang secara serius menghambat kinerja efektif perusahaan.
• Peluang adalah situasi penting yang menguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Trend penting merupakan salah satu sumber peluang. Identitas segmen pasar yang sebelumnya terabaikan, perubahan situasi pesaing atau peraturan, perubahan teknologi, serta membaiknya hubungan dengan pihak luar dapat memberikan peluang bagi perusahaan.
• Ancaman adalah situasi penting yang tidak menguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Masuknya pesaing baru, lambatnya pertumbuhan pasar, meningkatnya kekuatan tawar-menawar bisnis, perubahan teknologi, serta peraturan baru atau yang direvisi dapat menjadi ancaman bagi keberhasilan perusahaan.
Adapun menurut Tiwana (2000) seperti dikutip oleh Setiarso, dalam menentukan knowledge yang dibutuhkan oleh organisasi dapat digunakan kerangka berpikir Zack
24
sebagai alat bantu dalam usaha untuk mengetahui knowledge apa yang harus dimiliki dan yang sudah dimiliki. Kerangka berpikir Zack digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.4 Kerangka Zack, (Setiarso, 2009)
Kemudian pada tahapan selanjutnya dilakukan identifikasi tentang langkah-langkah apa yang harus diterapkan. Seperti pada gambar 2.5.
Gambar 2.5 Penyelarasan KMS dengan strategi organisasi (Setiarso, 2003, p11)
25
2.4 Pengertian
Kinerja
Menurut Wirawan (2009, p5), Konsep Kinerja merupakan singkatan dari kinetika energi kerja (performance). Istilah performance sering disebut sebagai performa. Kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu. Istilah kinerja juga dapat digunakan untuk menunjukkan keluaran perusahaan/lembaga, alat, fungsi-fungsi manajemen (produksi, pemasaran, keuangan), atau keluaran seorang pegawai.
Menurut Gibson seperti dikutip Lestari (2007,p27-28), Kinerja perusahaan/lembaga merupakan indikator tingkatan prestasi yang dapat dicapai dan mencerminkan keberhasilan manajer. Jadi kinerja perusahaan/lembaga merupakan hasil yang diinginkan perusahaan/lembaga dari perilaku orang-orang di dalamnya. Menurut Govindarajan dan Fisher, kinerja perusahaan/lembaga mencakup kinerja perusahaan secara keseluruhan sehingga dihasilkan ukuran kinerja yang obyektif.
Untuk menghasilkan kinerja yang baik, maka perusahaan/lembaga membutuhkan sistem yang baik pula. Sistem ini bukan hanya peraturan atau standar yang ada melainkan juga melibatkan pihak-pihak yang terkait langsung yaitu sumber daya manusianya. Salah satu sistem manajemen yang menawarkan suatu disiplin yang memperlakukan intelektual sebagai aset yang dikelola adalah knowledge management (Honeycutt, 2002) seperti dikutip oleh Kosasih (2007). Dalam prakteknya knowledge management dapat menjadi guidance tentang pengelolaan intangible asset yang menjadi pilar perusahaan/lembaga dalam menciptakan nilai. Perusahaan/lembaga perlu mengetahui sejauh mana knowledge management berperan di dalam meningkatkan kinerja karyawan khususnya di lembaga litbang.
26
2.5 Hipotesis
Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah, dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. (Sugiyono, 2008, p93).
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :
1. H0 : Tidak ada pengaruh signifikan antara People terhadap peningkatan kinerja
karyawan.
H1 : ada pengaruh signifikan antara People terhadap peningkatan kinerja
karyawan.
2. H0 : Tidak ada pengaruh signifikan antara Process terhadap peningkatan kinerja
karyawan.
H1 : ada pengaruh signifikan antara Process terhadap peningkatan kinerja
karyawan.
3. H0 : Tidak ada pengaruh signifikan antara Technology terhadap peningkatan
kinerja karyawan.
H1 : ada pengaruh signifikan antara Technology terhadap peningkatan kinerja