• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Model Pembelajaran Interactive Engagement untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 4 Palu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penerapan Model Pembelajaran Interactive Engagement untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 4 Palu"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

19

Penerapan Model Pembelajaran Interactive Engagement

untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Siswa

Kelas XI SMA Negeri 4 Palu

Ma’wa Hamran, Muhammad Ali dan Unggul Wahyono

e-mail: [email protected]

Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako

Jl. Soekarno Hatta Km. 9 Kampus Bumi Tadulako Tondo Palu – Sulawesi Tengah

Abstrak – Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa melalui penerapan model

pembelajaran interactive engagement pada siswa kelas XI SMA Negeri 4 Palu. Jenis penelitian ini menggunakan kuasi eksperimen dengan desain “The Non Equivalen pretest-postest design”. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dan menghasilkan kelas XI MIA 4 sebagai kelas eksperimen dengan menerapkan model interactive engagement dan kelas XI MIA 7 sebagai kelas kontrol dengan menerapkan model problem based learning. Instrumen tes yang digunakan dalam bentuk pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban. Berdasarkan hasil pengolahan data, nilai n-gain yang diperoleh pada kelas eksperimen sebesar 47,97% dan pada kelas kontrol sebesar 43,00%. Kedua nilai n-gain tersebut termasuk dalam kategori sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar fisika pada siswa di kedua kelas setelah diberi perlakuan. Pengujian hipotesis dilakukan dengan teknik statistik uji-t dua pihak. Hasil analisis yang diperoleh thitung = 0,24 dan ttabel = t(1-0,5α) = 1,98 pada taraf signifikan α = 0,05 dengan kriteria

penerimaan H0 jika – t(1-0,5α) < thitung < t(1-0,5α) atau -1,98 < 0,24 < 1,98. Hal ini berarti hipotesis H0 diterima.

Hal ini menjelaskan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar fisika siswa antara kelas eksperimen dengan model pembelajaran interactive engagement dan kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional model

problem based learning.

Kata Kunci: Interactive engagement, problem based learning, hasil belajar.

I. PENDAHULUAN

Tujuan penerapan kurikulum 2013 yang diterapkan saat ini, salah satunya adalah diharapkan mampu untuk meningkatkan atau memperbaiki hasil belajar melalui pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif menekankan pada keaktifan siswa melalui diskusi, tanya jawab dan eksperimen dengan memberikan dan mengungkapkan pendapat atau ide dari apa yang dipahami siswa sehingga hasil belajar yang diperoleh sesuai yang diharapkan.

Salah satu model pembelajaran inovatif adalah model pembelajaran interactive engagement. Model interactive engagement merupakan model yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman konsep fisika melalui hubungan interaktif pada siswa [1]. Model ini digunakan untuk menghasilkan umpan balik pada siswa dalam proses pembelajaran.

Model interactive engagement juga dapat diartikan sebagai model yang berpusat pada kegiatan siswa yang dirancang untuk dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika dan pemecahan masalah fisika pada siswa [2].

Menurut Sindu., et. all [3] model interactive engagement merupakan model pembelajaran

yang menekankan pada pemecahan masalah yang menuntut siswa berperan aktif dalam proses belajar di kelas. Dalam penerapannya siswa dihadapkan pada suatu masalah yang diselesaikan secara individu maupun kelompok. Untuk memperoleh jawaban yang benar, siswa melakukan eksperimen.

Sementara Hake [4] menyatakan bahwa dalam penerapan model pembelajaran interactive engagement, siswa dituntut menyelidiki suatu peristiwa atau fenomena dari permasalahan yang diberikan untuk merumuskan konsep berdasarkan pemahaman mereka sendiri.

Ornek [5] juga menyatakan bahwa jika model interactive engagement dalam penerapannya menggunakan simulasi komputer sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman fisika dan kemampuan memecahkan masalah siswa dalam belajar.

Penerapan model interactive engagement pernah diteliti oleh Antwi., et. all [6]. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa model pembelajaran interactive engagement dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika siswa sehingga tidak adanya lagi miskonsepsi siswa dalam memahami materi fisika terutama dalam memecahkan soal-soal yang berkaitan dengan

(2)

20 fenomena alam atau peristiwa yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari.

II. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan eksperimen kuasi (quasi-experimental designs) yang dimaksudkan untuk menilai pengaruh suatu tindakan terhadap tingkah laku atau menguji ada tidaknya pengaruh tindakan itu. Tindakan tersebut disebut treatment yang artinya pemberian kondisi yang akan dinilai pengaruhnya.

Adapun desain penelitian yang digunakan yaitu “The Non Equivalen pretest-postest design”[7].Desain penelitian yang dipilih dapat digambarkan seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. The Non Equivalen pretest-postest design Kelompok Prates Perlakuan Pascates

E T1 X T2

C T1 Y T2

Keterangan:

X : Perlakuan dengan model pembelajaran interactive engagement

Y : Perlakuan dengan model problem based learning

T1 : Tes awal

T2 :Tes akhir

T1 = T2

Penelitian dilakukan di SMA Negeri 4 Palu kelas XI jurusan Matematika dan Ilmu Alam (MIA) pada bulan November-Desember Tahun Ajaran 2014/2015. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI MIA 4 dan MIA 7. Teknik pengumpulan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Instrumen

Berdasarkan hasil analisis validitas item, dari 35 nomor soal yang diujikan, diketahui 21 diantaranya diterima, artinya layak untuk diujikan pada siswa. Sedangkan 6 nomor soal lainnya diputuskan untuk direvisi, artinya soal tersebut dapat diujikan dengan catatan soal telah diperbaiki baik dari segi isi maupun konstruksinya. Peneliti merevisi 6 nomor soal yang perlu direvisi, sehingga total soal yang diujikan untuk tes awal dan tes akhir dikelas eksperimen maupun kelas kontrol berjumlah 27 soal.

Uji N-Gain

Uji n-gain adalah selisih nilai pretest dan nilai posttest, yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar fisika sebelum perlakuan (pretest) dan sesudah perlakuan (posttest). Perbandingan nilai n-gain hasil belajar fisika yang diperoleh antara kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan pada Gambar 1:

Gambar 1. Perbandingan Nilai N-Gain Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Berdasarkan uji n-gain seperti ditunjukkan pada Gambar 1 diperoleh bahwa baik siswa di kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran interactive engagement maupun di kelas kontrol dengan menerapkan model problem based learning mengalami peningkatan hasil belajar fisika setelah menerima perlakuan. Rerata nilai n-gain yang diperoleh kedua kelas yang menjadi sampel termasuk dalam kriteria sedang berdasarkan interpretasi nilai n-gain. Uji Normalitas

Uji normalitas data hasil penelitian ini menggunakan Chi-kuadrat dengan kriteria penerimaan 2

hitung < 2tabel pada taraf signifikan

= 0,05, dan derajat kebebasan dk = k-3. Hasil uji normalitas pretest dan posttest hasil belajar dari kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Uraian Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol Pretest Posttest

Sampel 28 28 28 28

2

hitung 4,94 4,05 4,40 3,99

2

tabel 7,81 7,81

Ket Normal Normal

Berdasarkan uji normalitas pada Tabel 2 dengan kriteria penerimaan 2

hitung < 2tabel,

dimana untuk pretest baik kelas eksperimen

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

Rerata Rerata Standar N-Gain

Pretest Posttest Deviasi (%)

9,29 17,71 22,38 47,97 10,64 17,50 21,48 43,00

(3)

21 maupun kelas kontrol nilai 2

hitung lebih kecil

daripada nilai 2

tabel. Demikian pula untuk posttest, nilai 2

hitung lebih kecil daripada nilai

2

tabel, baik pada kelas eksperimen maupun

kelas kontrol. Artinya, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol berasal dari populasi yang terdistribusi normal.

Uji Homogenitas

Pengujian data homogenitas menggunakan uji-F dengan kriteria jika Fhitung < Ftabel maka

data dinyatakan memiliki varians yang homogen. Hasil uji homogenitas dari kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas Pretest dan Posttest

Uraian Pretest Posttest Ket

Fhitung 1,42 1,07 Homogen

Ftabel 1,91 1,91

Berdasarkan Tabel 3, hasil uji homogenitas menunjukkan nilai Fhitung < Ftabel baik hasil

belajar pretest maupun posttest. Hal ini berarti kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki varians yang homogen (memiliki varians yang sama).

Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis ini menggunakan statistik parametrik uji-t (uji dua pihak). Kriteria penerimaan H0 jika –t(1-0,5α) < thitung < t(1-0,5α)

pada taraf signifikan  = 0,05. Data hasil uji hipotesis pretest dan posttest dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5.

Tabel 4. Uji Hipotesis Pretest

No Kelas ̅ thitung ( =0,05) ttabel Keputusan

1 Eksperimen 9,29 -1,96 1,98 H0

diterima

2 Kontrol 10,64

Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai -t(1-0,5α) < thitung < t(1-0,5α) atau -1,98 < -1,96 <

1,98 pada taraf signifikan  = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa nilai thitung berada pada

daerah penerimaan H0 atau H0 diterima. Artinya

tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sebelum diberi perlakuan.

Tabel 5. Uji Hipotesis Pretest

No Kelas ̅ thitung ( =0,05) ttabel Keputusan

1 Eksperimen 17,77

0,24 1,98 H0

diterima

2 Kontrol 17,50

Data pada Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai -t(1-0,5α) < thitung < t(1-0,5α) atau -1,98 < 0,24 >

1,98. Nilai thitung yang diperoleh berada pada

daerah penerimaan H0. Dengan kata lain H0

diterima dan H1 ditolak. Hal ini berarti tidak

terdapat perbedaan hasil belajar fisika antara pembelajaran melalui model interactive engagement (kelas eksperimen) dengan pembelajaran konvensional model problem based learning (kelas kontrol).

Analisis Perubahan Hasil Belajar

Perubahan hasil belajar fisika siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat dengan membandingkan rerata hasil pretest dan posttest. Rerata perubahan hasil belajar fisika siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Perbandingan Perubahan Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Gambar 2 menunjukkan bahwa baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol mengalami peningkatan hasil belajar setelah perlakuan berdasarkan rerata pretest dan posttest. Rerata hasil pretest antara kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki selisih sebesar 1,35 dimana rerata pretest kelas kontrol sedikit lebih tinggi dibandingakn kelas eksperimen. Sedangkan rerata hasil posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki selisih sebesar 0,21 dimana rerata pretest kelas eksperimen sedikit lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hasil ini menjelaskan bahwa siswa pada kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran interactive engagement dan kelas kontrol dengan menerapkan model problem based learning memiliki pemahaman materi fisika yang sama setelah diberikan perlakuan.

Pembahasan

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 4 Palu dengan memilih dua kelas yaitu kelas XI MIA 4

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 Standar Standar

Rerata Rerata Deviasi Deviasi

Pretest Posttest Pretest Posttest

9,29 17,71 2,57 4,33 10,64 17,50 2,58 4,12

(4)

22 sebagai kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran interactive engagement dan kelas XI MIA 7 sebagai kelas kontrol dengan menerapkan model problem based learning. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui ada atau tidaknya (1) pengaruh model pembelajaran IE terhadap hasil belajar fisika; dan (2) perbedaan hasil belajar fisika pada kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah perlakuan.

Model pembelajaran interactive engagement dan model problem based learning merupakan model pembelajaran yang menekankan pada pemecahan masalah. Perbedaan kedua model pembelajaran tersebut yaitu terletak pada langkah-langkah proses pembelajaran dimana pada penerapan model problem based learning, masalah diselesaikan secara individu yang dilanjutkan dengan eksperimen. Sedangkan pada penerapan model interactive engagement, masalah yang diberikan diselesaikan secara individu dan kelompok yang dilanjutkan dengan eksperimen melalui bantuan Lembar Kerja Siswa (LKS). Tujuan eksperimen ini yaitu untuk memperoleh jawaban atau konsep yang benar.

Langkah-langkah penerapan model interactive engagement di kelas eksperimen dan model problem based learning di kelas kontrol tidak mempengaruhi hasil eksperimen yang dilakukan siswa. Hanya saja, tanggapan siswa yang mendekati jawaban benar sebelum eksperimen lebih banyak pada kelas eksperimen dibandingkan kelas kontrol. Hal ini disebabkan masalah yang diberikan dalam penerapan model interactive engagement diselesaikan melalui diskusi kelompok sebelum melakukan eksperimen. Hasil ini didukung dengan pernyataan Sindu., et. all [3] bahwa melalui diskusi akan terjalin komunikasi dan terjadi interaksi antara siswa satu dengan siswa lain yang saling berbagi ide dan memberikan kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya, serta dengan belajar secara berkelompok siswa yang lebih pandai dapat memberikan bantuan kepada siswa yang kurang pandai.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dalam menerapkan model pembelajaran interactive engagement diperoleh bahwa beberapa siswa mengalami perubahan jawaban terhadap masalah yang diberikan setelah diskusi kelompok yang sebelumnya diselesaikan secara individu. Beberapa tanggapan siswa berubah mendekati jawaban benar setelah melakukan diskusi kelompok dibandingkan secara individu. Hasil ini didukung dengan pernyataan Hake [4] bahwa melalui diskusi

akan terjadi interaksi antar siswa yang akan memunculkan umpan balik dimana siswa dapat saling mengoreksi dan mengungkapkan gagasan sehingga siswa dapat memperoleh jawaban yang benar dan beralasan.

Hasil analisis data diperoleh rerata skor pretest dan posttest hasil belajar fisika pada kelas eksperimen sebesar 9,29 dan 17,71 serta hasil uji n-gain yang diperoleh sebesar 47,97% yang termasuk dalam kategori sedang. Sedangkan pada kelas kontrol, diperoleh rerata skor pretest dan posttest sebesar 10,64 dan 17,50 serta hasil uji n-gain diperoleh sebesar 43,00% yang juga termasuk dalam kategori sedang. Hasil analisis tersebut menunjukkan model pembelajaran interactive engagement yang diterapkan pada kelas eksperimen dan model problem based learning yang diterapkan pada kelas kontrol dapat meningkatkan hasil belajar fisika pada siswa.

Berdasarkan analisis data terhadap uji normalitas kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh masing-masing sebesar 4,94 dan 4,05 dimana nilai tabelnya sebesar 7,81. Sedangkan hasil uji homogenitas kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh sebesar 1,42 dan nilai tabelnya sebesar 1,91. Hasil uji normalitas dan uji homogenitas tersebut dapat dilihat bahwa nilai hitung yang diperoleh lebih kecil dibandingkan dengan nilai tabelnya. Hal ini menjelaskan bahwa kelas yang dijadikan sebagai sampel penelitian berasal dari populasi yang terdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen.

Setelah melakukan uji hipotesis dari data hasil penelitian dengan menggunakan uji-t dua pihak diperoleh nilai thitung sebesar 0,24 dan

nilai ttabel berdasarkan tabel distribusi t sebesar

1,98 pada taraf signifikan α = 0,05. Nilai thitung

yang diperoleh berada pada daerah penerimaan H0 dengan kriteria penerimaan jika – t(1-0,5α) < t

< t(1-0,5α) atau -1,98 < 0,24 < 1,98 yang berarti

H0 diterima dan hipotesis H1 ditolak. Hasil ini

menunjukkan tidak terdapat perbedaan hasil belajar fisika antara pembelajaran melalui model interactive engagement dengan pembelajaran konvensional model problem based learning, yang berarti bahwa model pembelajaran interactive engagement dan model problem based learning memberikan pengaruh yang sama terhadap hasil belajar fisika pada siswa.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa

(5)

23 (a) penerapan model pembelajaran interactive engagement dapat meningkatkan hasil belajar fisika pada siswa kelas XI SMA Negeri 4 Palu. Hal ini terbukti dari hasil analisis uji n-gain yang diperoleh sebesar 47,97% yang termasuk dalam kriteria sedang berdasarkan interpretasi kriteria n-gain; (b) tidak terdapat perbedaan hasil belajar fisika antara pembelajaran melalui model interactive engagement dengan pembelajaran konvensional model problem based learning pada siswa kelas XI SMA Negeri 4 Palu. Hal ini terbukti dari hasil uji hipotesis diperoleh nilai thitung = 0,24 berada pada daerah

penerimaan Ho jika – t(1-0,5α) < thitung < t(1-0,5α)

atau -1,98 < 0,24 < 1,98 pada taraf signifikan α = 0,05 yang berari H0 diterima, yang berarti

bahwa model pembelajaran interactive engagement dan model problem based learning memberikan pengaruh yang sama terhadap hasil belajar fisika pada siswa.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Ruo, L.L. (2002). Interactive Engagement Methods - A

Model for Coherent and Effective Physic Instruction.

[Online]. Tersedia : http://serc.carleton.edu/introgeo/ models/IntEng.pdf. [6 Oktober 2013].

[2] Turpen, C. and Finkelstein, N.D. (2009). Not All

Interactive Engagement is the Same : Variations in Physics Professors’ Implementation of Peer Instruction. Dalam Physical Review Special

Topics-Physics Education Research 5. [Online], Vol 5 (2), 18 Halaman. Tersedia: http://www.colorado.edu/physics/ EducationIssues/papers/Turpen_etal/Turpen_Peer_Ins truction.pdf. [6 Oktober 2013].

[3] Sindu, I.G.P., Agustini, K., and Kesiman, M.W.A.

(2012). “Pengaruh Penerapan Pembelajaran

Interactive Engagement (IE) Berbantuan Lembar Kerja

Siswa (LKS) terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMA Negeri 3 Singaraja Tahun Ajaran 2010/2011”.

Jurnal Nasional Pendidikan Teknik Informatika (JANAPATI). 1, (1), 1-9.

[4] Hake, R.R. (1998). “Interactive-Engagement Versus Traditional Methods: A Six-Thousand-Student Survey of Mechanics Test Data for Introductory Physics Courses.” American Journal of Physics, 66, (1), 64-74. [5] Ornek, F. (2007). “Evaluation Novelty in Modeling-Based and Interactive Engagement Instruction”.

Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education. 3, (3), 231 237.

[6] Antwi, V. et. all. (2011). “The Impact of Interactive-Engagement (IE) Teaching on Students Understanding of Concepts in Mechanics: The Use of Force Concept Inventory (FCI) and Mechanics Baseline Test (MBT)”.

International Journal of Educational Planning & Administration. 1, (1), 81-90.

[[7] Arikunto, S. (2007). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Gambar

Tabel 1. The Non Equivalen pretest-postest design  Kelompok  Prates  Perlakuan  Pascates
Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas Pretest dan Posttest  Uraian  Pretest  Posttest  Ket

Referensi

Dokumen terkait

1) Memberikan pengetahuan kepada khalayak tentang framing atau bingkai yang dilakukan oleh Tempo.co dan Detik.com, dalam memberitakan isu pengangkatan Basuki Tjahaja

Dalam Putusan MK Nomor 46/PUU-XII/2014, MK mengabulkan seluruh permohonan pemohon untuk seluruhnya dan menyatakan bahwa Penjelasan Pasal 124 UU tentang PDRD yang

Abstrak: Penelitian studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui miskonsepsi siswa pada materi himpunan di kelas VII SMP Santa Monika Kubu Raya dan

transformasi realitas; hubungan siswa-siswa, harus mencerminkan kesetaraan mereka tanpa diskriminasi yang bertentangan dengan kemanusiaan yang adil dan beradab;

Responden sumber data yaitu guru kelompok B4 yang berjumlah 1 orang.Berdasarkan hasil penelitian guru sudah menerapkan pendekatan saintifik dalam pengembangan

Pengaruh Environmental Management Accouting Terhadap Firm Performance Dengan Green Innovation Sebagai Variabel Intervening (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang

a. Audit internal yang terkadang disebut audit pihak pertama, dilaksanakan oleh, atau atas nama organisasi itu sendiri untuk kaji ulang manajemen dan tujuan internal lainnya,

System pengelolaan zakat infaq dan shodaqoh dalam program rumah sehat BAZDA Kabupaten Rembang berjalan dengan baik dan telah memenuhi fungsi-fungsi manajemen dalam