772
PENGARUH PENYULUHAN KELAS PRENATAL PLUS TERHADAP
PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS MAMBORO KECAMATAN PALU UTARA
KOTA PALU PROVINSI SULAWESI TENGAH
Widya Pani
1, Masni
2dan Burhanuddin Bahar
3Abstrak: Kelas Ibu Hamil merupakan suatu aktifitas belajar kelompok dalam kelas dengan anggota beberapa ibu hamil dibawah bimbingan satu atau beberapa fasilitator (pengajar). Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penyuluhan kelas prenatal plus terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Mamboro Kecamatan Palu Utara Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2013. Metoda Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian quasi experiment design (pre test dan post test dengan control group design) yaitu penelitian yang melibatkan dua kelompok subjek yang diuji pre test dan post test.Satu kelompok diberikan penyuluhan kelas prenatal plus dan satu kelompok lainnya tidak mendapatkan penyuluhan kelas prenatal plus, dengan jumlah sampel 96 responden. Analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney U. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa, setelah intervensi skor pengetahuan responden tentang penyuluhan kelas prenatal plus pada kelompok intervensi terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 32,68%. Sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata skor pengetahuannya turun menjadi 1,64%. Skor Sikap pada kelompok intervensi meningkat 13,11%, dan pada kelompok kontrol turun 0,03%. Sudah ada perbedaan skor pengetahuan responden antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,000) dan skor sikap antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,000). Disimpulkan bahwa ada pengaruh penyuluhan kelas prenatal plus terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil, serta ada perbedaan pengetahuan dan sikap ibu hamil pada kelas prenatal dan kelas prenatal plus
.
Kata Kunci: Penyuluhan Kelas Prenatal Plus, Pengetahuan, Sikap
Abstract: Pregnancy class is a group learning activity in the classroom with some members of pregnant women under the guidance of one or more facilitators (teachers). Objective This study aimed to analyze the effect of prenatal education classes plus the knowledge and attitude of pregnant women in the Work Area Health Center Mamboro Northern District of Palu Palu Central Sulawesi Province in 2013.Methode Type of of research which used is research quasi experiment design (pre test and post test with control group design) namely research which involving two groups of subjects who tested pre test and post test, one group is given counseling prenatal classes plus and one other group not get counseling the class prenatal plus, with number of sample of 96 of respondents. Analysis the data which used is test Wilcoxon and test Mann-Whitney U.ResultsResearch shows that, after the intervention, knowledge score of the respondents plus prenatal education classes in the intervention group increased by 32.68% knowledge. Whereas in the control group, the average knowledge scoredropped to 1.64%. Attitude scores in the intervention group increased 13.11%, and in the control group fell 0.03%. Already there are differences in the respondents' knowledge scores between the intervention group and the control group (p = 0.000) and attitude scores between the intervention group and the control group (p = 0.000). Concluded that no effect of prenatal education classes plus the knowledge and attitude of pregnant women as well, there is a difference knowledge and attitudes of pregnant women in prenatal classes and prenatal classes plus.
Keywords:Counseling Class Prenatal Plus, Knowledge, Attitude PENDAHULUAN
Ibu hamil dan melahirkan merupakan salah satu kelompok paling beresiko terkena bermacam gangguan kesehatan (kesakitan) dan kematian, yang memerlukan pelayanan maksimal dari petugas kesehatan. Survei saat ini menunjukkan angka kematian ibu telah
mengalami penurunan, dimana pada tahun 2002-2003 yaitu 307/100 ribu ibu melahirkan turun menjadi 226/100 ribu ibu melahirkan pada tahun 2008.Namun demikian, jika kita melihat kembali target MDGs tahun 2015 masih cukup jauh, dimana target yang diharapkan yaitu 125/100 ribu ibu melahirkan (Sulistiyo, 2010).
1) Jurusan Kebidanan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu 2) Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin 3) Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin
773 Penyebab utama kematian ibu yang langsung adalah perdarahan 28%, eklamsia 24%, dan infeksi 11%. Penyebab tidak langsung adalah anemi 51%, terlalu muda usia untuk hamil (< 20 tahun) 10,3 %, terlalu tua usia untuk hamil (< 35 tahun) 11,0%, terlalu banyak anak (> 3 orang) 19,3%, terlalu dekat jaraknya (< 24 bulan ) 15% (Depkes, 2009).
Sementara itu di Sulawesi Tengah, pada tahun 2011 angka kematian ibu sebesar 220,9 per 100.000 kelahiran hidup lebih rendah dari tahun 2010 yaitu sebesar 247,9 per 100.000 kelahiran hidup, walaupun angka tersebut lebih rendah dari target nasional tetapi masih lebih tinggi dari target MDGs yaitu 125/100.000 kelahiran hidup. (Profil Kesehatan Dinkes Prov. Sulteng, 2011). Angka kematian ibu di Kota Palu sebesar 171,5/100.000 kelahiran hidup, dimana pada kecamatan Palu Utara terdapat angka kematian ibu dengan resiko tinggi (umur ≥ 35 tahun) sebanyak 3 orang, yaitu di Puskesmas Mamboro 2 orang dan Puskesmas Tawaeli 1 orang (Profil Kesehatan Dinkes Kota Palu, 2011). Salah satu program kesehatan yang diharapkan turut berperan dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kehamilan, persalinan dan nifas adalah pemakaian buku Kesehatan Ibu dan Anak (buku KIA). Namun tidak semua ibu mau/bisa membaca buku KIA, Penyebabnya bermacam-macam, ada ibu yang tidak punya waktu untuk membaca buku KIA, atau malas membaca buku KIA, sulit mengerti isi buku KIA, ada pula ibu yang tidak dapat membaca. Oleh sebab itu ibu hamil perlu diajari tentang isi buku KIA dan cara menggunakan buku KIA. Salah satu solusinya yaitu melalui penyelenggaraan Kelas Prenatal (Wijaya,
2009).Kelas ibu hamil merupakan sarana belajar bersama yang perlu diikuti oleh ibu hamil agar memperoleh pengetahuan yang cukup sehingga dapat mencegah komplikasi dan meningkatkan cakupan K4 serta melakukan persalinan pada tenaga kesehatan.
Kunci mencetak anak yang sehat dan
cerdas justru ada di 365 hari pertama
kehidupannya. Sayangnya, tak banyak yang
mengetahui fakta ini sehingga masih banyak
anak di Indonesia yang kekurangan asupan
nutrisi sehingga proses tumbuh kembangnya
terhambat. Hal ini diungkapkan pada
“Diskusi Kegiatan Lintas Sektoral Terkait
Perbaikan Gizi” di kantor Kemendiknas RI.
Diskusi ini juga mengungkapkan hasil
laporan State Of The World's Mothers
2012.Ternyata, 170 juta anak di dunia tidak
mendapatkan gizi yang diperlukan dalam
365 hari pertama kehidupannya (Nova,
2012). Menurut penelitian Fisher, (2012)
yang diterbitkan Allina Hospitals Clinics,
AS
beberapa waktu silam, keberhasilan istri
dalam mencukupi kebutuhan ASI untuk si
bayi kelak sangat ditentukan oleh seberapa
besar peran dan keterlibatan suami dalam
masa-masa
kehamilannya.
Kurangnya
pengetahuan (deficient knowledge) terutama
disebabkan oleh kurang terpapar informasi
dan kesalahan dalam mengintepretasikan
informasi, selain faktor lain seperti kurang
daya ingat, keterbatasan kognitif, kurang
minat untuk belajar dan tidak familiar
terhadap sumber informasi. Faktor yang
774
memegang
peranan
penting
dalam
perubahan sikap, kemungkinan adalah
reaksi/respon terhadap kelas ibu hamil,
selain karena keterlibatan faktor perasaan
dan emosi. Reaksi tersebut terdiri atas suka
dan tidak suka terhadap materi yang
disampaikan dalam kurikulum kelas ibu
hamil.
Data Dinas Kesehatan Kota Palu
(2011)terdapat
12
puskesmas
yang
menyebar di 4 kecamatan. Pada Kecamatan
Palu Utara angka cakupan K4 paling rendah
sebesar 90,2% di Puskesmas Mamboro dan
cakupan pertolongan persalinan oleh nakes
paling rendah sebesar 85,2% di Puskesmas
Pantoloan. Jumlah Ibu Hamil di Puskesmas
Mamboro tahun 2012 sebanyak 214 orang,
yang
telah
mengikuti
kelas
prenatal
sebanyak 106 orang (49,53 %), sedangkan
jumlah ibu hamil bulan Januari sampai
dengan Februari tahun 2013 sebanyak 139
orang, yang telah mengikuti kelas prenatal
sebanyak 96 orang. Menurut penelitian
Pervin
(2012)
rendahnya
cakupan
kunjungan ibu hamil (K4) dan persalinan
yang ditolong oleh tenaga kesehatan serta
ibu yang mengikuti kelas prenatal, dapat
dipengaruhi oleh perilaku ibu dalam
mengikuti kelas prenatal, yang terdiri dari
pengetahuan dan sikap, karena ada beberapa
materi didalam kelas prenatal yang bisa
membuat kecemasan padahal mereka belum
mengalami
atau
bahkan
tidak
mengalaminya,
sehingga
perlu
dikembangkan kelas prenatal plus dimana
ibu bisa mengetahui tentang pajangan
informasi pengasuhan Intra uteri melalui
nutrisi/makanan, mengasuh anak 365 hari
pertama, dukungan suami dan keluarga serta
persiapan persalinan dan pasca melahirkan.
Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah
untuk menganalisis pengaruh penyuluhan
kelas prenatal plus terhadap pengetahuan
dan sikap ibu hamil di Wilayah Kerja
Puskesmas Mamboro tahun 2013.
BAHAN DAN METODE
Lokasi dan Rancangan Penelitian
Lokasi penelitian adalah di wilayah kerja Puskesmas Mamboro, Kecamatan Palu Utara dengan pertimbangan angka kematian ibu terbanyak dengan resiko tinggi (umur ≥ 35 tahun) di Kota Palu sebanyak 2 orang, angka cakupan K4 paling rendah sebesar 90,2% serta jumlah ibu hamil di Puskesmas Mamboro tahun 2012 yang telah mengikuti kelas prenatal sebanyak 49,53 % dibawah target (100%).
Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi experiment design (pre test dan post test dengan control group design). Penelitian ini melibatkan dua kelompok subjek yang diuji pre test dan post test, satu kelompok diberikan penyuluhan kelas prenatal plus dan satu kelompok lainnya tidak mendapatkan penyuluhan kelas prenatal plus.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang telah mengikuti kelas prenatal yang berada di wilayah kerja Puskesmas Mamboro Kecamatan Palu Utara,
775 Kota Palu, sebanyak 96 ibu hamil yang tersebar di 2 kelurahan, yakni Kelurahan Mamboro 54 ibu dan Kelurahan Taipa 42 ibu pada bulan Februari 2013. Sampel yang ditarik dari populasi penelitian disusun sebagai berikut : (a) Unit observasi Adalah ibu hamil yang telah mengikuti kelas prenatal di wilayah kerja Puskesmas Mamboro Kecamatan Palu Utara. (b) Unit analisis. Adalahpengetahuan dan sikap ibu hamil. (c) Besar Sampel.adalah total populasi, semua ibu hamil yang berada di wilayah kerja Puskesmas Mamboro yang telah selesai mengikuti kelas prenatal (ibu hamil) sebanyak 96 orang, yang dibagi menjadi dua kelompok masing-masing terdiri dari 48 orang untuk kelompok intervensi (ibu hamil yang mendapatkan penyuluhan kelas prenatal plus) dan 48 orang untuk kelompok kontrol (ibu hamil yang tidak mendapatkan penyuluhan kelas prenatal plus). Pemilihan kelompok yang diberi intervensi dilakukan secara simple random sampling dengan cara diundi.
Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer diperoleh melalui kuesioner yang diberikan langsung kepada responden dan data sekunder didapatkan melalui buku register ibu hamil, kohor ibu, dan laporan PWS KIA Puskesmas Mamboro maupun data dari Dinas Kesehatan Kota Palu dan Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng.
Analisis Data
Analisis data untuk melihat perbedaan pengetahuan dan sikap responden sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi dan kontrol digunakan Uji Wilcoxondan untuk melihat perbedaan pengetahuan dan sikap
sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi dan kontroldigunakan uji Mann-Whitney U dengan tingkat kepercayaan 95%.
HASIL
Dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif maupun analisis pengaruh penyuluhan kelas prenatal plus terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil, yang secara sistematis disajikan sebagai berikut:
Karakteristik Responden
Umur Ibu sebagian besar responden
berumur 24-29 tahun yaitu pada kelompok intervensi 21 orang (43,75%) dan kelompok kontrol 25 orang (52,08%), sedangkan yang terendah pada kelompok intervensi pada umur 30-35 tahun yaitu 7 orang (14,58%), dan kelompok kontrol pada umur 36-41 tahun yaitu 6 orang (12,50%).
Pendidikan memperlihatkan bahwa,
sebagian besar respondenberpendidikan SMA, pada kelompok intervensi yaitu 20 orang (41,67%) dan kelompok kontrol yaitu 20 orang (41,67%), sedangkan yang terendah pada kelompok intervensi dengan pendidikan S1 yaitu 2 orang (4,16%) dan pada kelompok kontrol dengan pendidikan D3 yaitu 4orang (8,33%).
Paritas memperlihatkan bahwa, baik pada
kelompok intervensi maupun kelompok kontrol sebagian besar dengan Paritas ≤ 2, pada kelompok intervensi sebanyak 33orang (68,75%) dan kelompok kontrol sebanyak 25 orang (52,08%).
Pengetahuan menunjukkan bahwa
rata-rata skor pengetahuan responden tentang penyuluhan kelas prenatal plus pada kelompok
776 intervensi pada saat pre test (sebelum intervensi) adalah 21,75 dengan standar deviasi 3,297 dan median 21,50 sedangkan pada saat post test (setelah intervensi) meningkat menjadi 32,31 dengan standar deviasi 4,557 dan median 32,00. Skor pengetahuan terendah pada saat pre test adalah 15 dan tertinggi adalah 27 sedangkan pada saat post test skor pengetahuan terendah adalah 21 dan tertinggi adalah 52. Rata-rata skor pengetahuan responden tentang penyuluhan kelas prenatal plus pada kelompok kontrol pada saat pre test adalah 24,18 dengan standar deviasi 3,600 dan median 24,50 sedangkan pada saat post test rata-rata skor pengetahuannya turun menjadi 23,79 dengan standar deviasi 3,602 dan median 24,00. Skor pengetahuan terendah pada saat pre test adalah 16 dan tertinggi adalah 37 sedangkan pada saat post test skor pengetahuan terendah adalah 15 dan tertinggi adalah 31 (Tabel 1).
Sikap menunjukkan bahwa rata-rata skor
sikap responden tentang penyuluhan kelas prenatal plus pada kelompok intervensi pada saat pre test (sebelum intervensi)adalah 108,97 dengan standar deviasi 5,744 dan median 110,00 sedangkan pada saat post test (setelah intervensi) meningkat menjadi 125,41 dengan standar deviasi 9,127 dan median 126,00. Skor sikap terendah pada saat pre test adalah 95 dan tertinggi adalah 124 sedangkan pada saat post test skor sikap terendah adalah 107 dan tertinggi adalah 142. Rata-rata skor sikap responden tentang penyuluhan kelas prenatal plus pada kelompok kontrol pada saat pre test adalah 107,25 dengan standar deviasi 8,035 dan median 106,50. Pada saat post test rata-rata skor sikap turun menjadi 107,22 sedangkan meningkat
pada standar deviasi 7,005 dan median 107,00. Skor sikap terendah pada saat pre test adalah 88 dan tertinggi adalah 129 sedangkan pada saat post test skor sikap terendah adalah 84 dan tertinggi adalah 120 (Tabel 2).
Hasil analisis dengan menggunakan uji
Wilcoxon dan Mann-Whitney U semua
memberikan pengaruh signifikan, sebagai berikut:
Pengaruh Penyuluhan Kelas Prenatal Plus terhadap Pengetahuan
Hasil analisis data bahwa, pada kelompok Intervensi, rata-rata skor pengetahuan responden tentang penyuluhan kelas prenatal plus pada pretest 21,75 dan posttest 32,31, atau terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 32,68% . Hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti bahwa ada perbedaan signifikan rata-rata skor pengetahuan responden sebelum dan setelah pelaksanaan penyuluhan kelas prenatal plus.Pada kelompok kontrol rata-rata skor pengetahuan responden, saat pretest 24,18 dan post test 23,79, atau terjadi penurunan pengetahuan 1,64% . Hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai p = 0,535 (p < 0,05) yang berarti bahwa tidak ada perbedaan signifikan rata-rata skor pengetahuan responden sebelum dan setelah pada kelompok kontrol.
Hasil uji Mann-Whitney U, menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan rata-rata skor pengetahuan responden antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada saat pelaksanaan pretest (p = 0,001), demikian halnya pada saat posttest, juga menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor pengetahuan responden antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,000).
777
Pengaruh Penyuluhan Kelas Prenatal Plus terhadap Sikap
Menunjukkan bahwa rata-rata skor sikap responden tentang penyuluhan kelas prenatal plus pada pretest 108,97 dan posttest 125,41, atau terjadi peningkatan sikap sebesar 13,11% . Hasil uji Wilcoxon yang menunjukkan bahwa, ada perbedaan signifikan rata-rata skor sikap responden sebelum dan setelah pelaksanaan penyuluhan kelas prenatal plus (p = 0,000 < 0,005). Rata-rata skor sikap responden pada kelompok control saat pretest 107,25 dan posttest 107,22, atau terjadi penurunan skor yaitu 0,03% . Hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai p value = 0,731 (p < 0,05) yang berarti tidak ada perbedaan signifikan rata-rata skor sikap responden sebelum dan setelah intervensi pada kelompok kontrol.
Hasil uji Mann-Whitney U, menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan rata-rata skor sikap responden antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada saat pelaksanaan pretest (p = 0,073). Sedangkan pada saat posttest menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan rata-rata skor sikap responden antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,000).
PEMBAHASAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan rata-rata skor pengetahuan responden tentang penyuluhan kelas prenatal plus sebelum dan setelah intervensi (p = 0,000). Peningkatan skor pengetahuan pada kelompok intervensi dibandingkan pula dengan hasil pretest dan post test antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hal ini berguna untuk mengetahui apakah perubahan skor pengetahuan
betul-betul karena penyuluhan yang diterima responden. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan rata-rata skor pengetahuan responden antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,001) pada saat pretest, sedangkan pada saat posttest terjadi juga perbedaan signifikan (p = 0,000). Hal ini menunjukkan bahwa sudah ada perubahan pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan, karena ibu hamil yang menjadi responden adalah yang sudah pernah mengikuti kelas prenatal.Pengetahuan bukan hanya didapatkan dari pemberian informasi tetapi dari pengalaman, baik dari pengalaman sendiri maupun orang lain, paritasadalah suatu kejadian yang pernah dialami oleh individu dari dalam dirinya yaitu pengalaman melahirkan anak (Paritas) yang menjadi pengetahuan pada ibu hamil secara subjektif. Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan aspek fisik dan psikologis (mental), dimana aspek psikologis ini taraf berpikir seseorang semakin matang dan dewasa (Notoatmodjo, 2010).
Penelitian ini diarahkan pada tahap edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, merubah sikap yang sehat dalam rangka peningkatan kunjungan antenatal care (ANC).Penelitian yang dilakukan oleh Hastuti, (2011) tentang efektifitas pelatihan kelas ibu hamil di Puskesmas Tladan Kabupaten Magetan menemukan bahwa pendidikan kesehatan melalui kelas ibu hamil secara signifikan meningkatkan pengetahuan responden sebelum dan setelah pelatihan.
Meningkatnya rata-rata pengetahuan responden setelah mendapatkan penyuluhan sejalan dengan beberapa hasil penelitian
778 sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Azeem, (2011) pada 35 ibu hamil di Puskesmas Metro Kecamatan Metro tentang hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap keikutsertaan dalam kelas ibu menunjukkan adanya peningkatan secara signifikan skor pengetahuan responden (nilai p = 0.001) setelah mendapatkan pendidikan kesehatan dengan durasi satu jam. Hasil penelitian Historyati, (2011) di Wilayah Kerja Puskesmas Tembelang juga menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan skor pengetahuan responden setelah mendapatkan penyuluhan, rata-rata skor pengetahuan responden pada saat pre test adalah 8,1 dan meningkat menjadi 12,27 pada saat post test.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pulungan, (2007) di Sumatera Utara untuk melihat pengaruh ceramah terhadap peningkatan pengetahun dan sikap dokter kecil dalam pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah juga menunjukkan adanya peningkatan nilai rerata pengetahuan responden (p = 0,001). Penelitian lain yang dilakukan oleh Hastuti & Andriani (2010) menunjukkan ada pengaruh pendidikan kesehatan gigi menggunakan ceramah dan metode demonstrasi dalam meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan gigi pada siswa (p= 0,0001). Efektifitas penyuluhan dalam meningkatkan pengetahuan juga terlihat pada penelitian yang dilakukan oleh Sefrizon (2011) tentang pencegahan tuberculosis, dimana metode pendidikan kesehatan tersebut berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam pencegahan tuberculosis (p = 0,001).
Penelitian untuk melihat pengaruh penyuluhan terhadap sikap telah banyak dilakukan sebelumnya, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Hutauruk, (2009). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada peningkatan skor sikap secara signifikan (p = 0,001) dalam gambaran pelaksanaan kelas ibu setelah mendapatkan penyuluhan dan media slide.
Penelitian ini juga menggunakan metode pembelajaran dengan media slide dan leaflet untuk mengetahui bagaimana perbedaan pengaruh keduanya terhadap pengetahuan dan sikap responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan (p = 0,000) rata-rata skor pengetahuan responden antara yang mendapatkan penyuluhan dengan yang tidak diberi penyuluhan. Pengujian perbedaan hasil tersebut dilakukan pula menggunakan Uji Wilcoxon dan didapatkan adanya perbedaan signifikan rata-rata peningkatan skor pengetahuan responden pada kedua kelompok penelitian setelah pos test (p=0,000).
Analisis lebih lanjut dengan menggunakan uji Mann-Whitney U membuktikan bahwa kelompok yang berbeda secara signifikan untuk variabel pengetahuan adalah antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,000), perbedaan skor pengetahuan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dapat dilihat pada perbandingan hasil pre test dan post testnya, dimana peningkatan rata-rata pengetahuan responden pada kelompok kontrol lebih tinggi dibanding kelompok intervensi saat pretest, tapi saat posttest kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol artinya peningkatan pengetahuan ibu hamil bukan karena adanya penyuluhan kelas prenatal plus.
779 Hal ini diasumsikan karena ibu hamil yang mendapatkan penyuluhan sudah pernah mengikuti kelas ibu hamil, walaupun materinya berbeda tapi ibu hamil sudah pernah diberikan pendidikan kesehatan artinya ibu hamil sudah ada pengalaman dalam menerima informasi kesehatan. Pengetahuan juga dapat diperoleh dari pendidikan seseorang, makin tinggi pendidikan seseorang maka makin mudah mereka menerima informasi baik dari petugas kesehatan maupun dari orang yang ada disekitarnya, serta pengetahuan dapat juga didapatkan dari kepercayaan yang merupakan suatu sikap untuk menerima suatu pernyataan atau pendirian tanpa menunjukkan pro atau kepercayaan. Sering diperoleh dari orang tua, kakek atau nenek.Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Kepercayaan berkembang dalam masyarakat yang mempunyai tujuan dan kepentingan yang sama. Kepercayaan dapat tumbuh bila berulang kali mendapatkan informasi yang sama (Notoatmodjo, 2010).
Berdasarkan hasil pre-test diketahui tidak ada perbedaan secara signifikan rata-rata skor sikap dan hasil post-test diketahui bahwa ada perbedaan secara signifikan rata-rata skor sikap antara kelompok intervensi dan kontrol. Sikap responden setelah mendapatkan penyuluhan kelas prenatal plus terjadi peningkatan jika dibandingkan sebelumnya, sedangkan dari hasil uji statistic Mann-Whitney U diketahui responden sesudah mengikuti penyuluhan secara signifikan lebih tinggi dibanding sebelum mengikuti penyuluhan. Hal ini membuktikan bahwa penyuluhan kelas kelas prenatal plus
efektif untuk meningkatkan sikap responden terhadap Kesehatan Ibu dan Anak.
Hal ini sesuai dengan pendapat Azwar (2008) bahwa pembentukan sikap terutama terjadi karena pendidikan/pelatihan di samping adanya pengalaman pribadi, pengaruh, kebudayaan, media massa, dan emosional seseorang. Faktor yang memegang peranan penting dalam perubahan sikap responden pada penelitian ini kemungkinan adalah reaksi/respon terhadap penyuluhan, selain karena keterlibatan faktor perasaan dan emosi.Reaksi tersebut terdiri atas suka dan tidak suka terhadap materi yang disampaikan.
Uji Mann-Whitney U memperlihatkan bahwa ada perbedaan signifikan peningkatan skor sikap antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,000 < 0,05). Peningkatan skor sikap antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dapat dilihat pada perbandingan hasil pre test, dimana peningkatan rata-rata skor sikap responden pada kelompok intervensi lebih tinggi dibanding kelompok kontrol meskipun secara statistik perbedaannya tidak signifikan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Pengetahuan dan sikap ibu hamil lebih baik sesudah diberi penyuluhan kelas prenatal plus dibandingkan dengan sebelum diberi penyuluhan kelas prenatal plus.Perubahan pengetahuan dan sikap ibu hamil pada kelas prenatal plus lebih besar dibandingkan kelas prenatal.Penyuluhan kelas prenatal plus dapat dijadikan pilihan dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu khususnya di wilayah kerja Puskesmas Mamboro dan perlu diberikan
780 secara berkala oleh petugas kesehatan terutama oleh bidan yang berada di wilayah kerja puskesmas.
Perlunya pengembangan isi materi penyuluhan kelas prenatal plus sebagai acuan bagi para praktisi kesehatan dalam menigkatkan program promosi kesehatan khususnya kesehatan ibu dan anak.