• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

A. Kajian pustaka

1. Teori Atribusi (attribution theory)

Menurut Robbins dan Judge (2008), teori hubungan atau teori atribusi (attribution theory) dikemukakan untuk mengembangkan penjelasan tentang cara-cara penilaian individu secara-cara berbeda, tergantung dengan maksud yang dihubungkan dengan perilaku tertentu. Pada dasarnya teori ini mengemukakan bahwa ketika mengobservasi perilaku seorang individu, terlebih dahulu haruslah berupaya untuk menentukan apakah perilaku tersebut disebabkan secara internal atau eksternal. Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang diyakini dipengaruhi oleh kendali pribadi seorang individu. Sedangkan perilaku yang disebabkan secara eksternal dianggap sebagai akibat dari sebab-sebab luar; yaitu, individu tersebut dianggap telah dipaksa berperilaku demikian oleh situasi. Sementara menurut Weiner (1992), attribution theory is probably the most influential contemporary theory with implications for academic motivation. Artinya atribusi adalah teori kontemporer yang paling berpengaruh dengan implikasi untuk motivasi akademik. Hal ini dapat diartikan bahwa teori ini mencakup modifikasi perilaku dalam arti bahwa ia menekankan gagasan bahwa peserta didik sangat termotivasi dengan hasil yang menyenangkan untuk dapat merasa baik tentang diri mereka sendiri.

(2)

Sebenarnya istilah atribusi mengacu kepada penyebab suatu kejadian atau hasil menurut persepsi individu, dan yang menjadi pusat perhatian atau penekanan pada penelitian di bidang ini adalah cara-cara bagaimana orang memberikan penjelasan sebab-sebab kejadian dan implikasi dari penjelasan-penjelasan tersebut. Dengan kata lain, teori ini berfokus pada bagaimana orang bisa sampai memperoleh jawaban atas pertanyaan “mengapa”? (Kelly, 1973). Teori ini mencoba menggambarkan komunikasi seseorang yang berusaha meneliti, menilai dan menyimpulkan sebab-sebab dari suatu tindakan atau tingkah-laku yang dilakukan orang lain. Dengan kata lain teori ini mencoba menjelaskan proses kognitif yang dilakukan seseorang untuk menjelaskan sebab-sebab dari suatu tindakan.

2. Kecerdasan Emosional

Menurut Melandy dan Aziza (2006) kecerdasan emosional adalah kecerdasan untuk menggunakan emosi sesuai dengan keinginan, kemampuan untuk mengendalikan emosi sehingga memberikan dampak yang positif. Kecerdasan emosional dapat membantu membangun hubungan dalam menuju kebahagiaan dan kesejahteraan. Menurut Cooper dan Sawaf (1998) dalam Maslahah (2007) kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energy, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. Sedangkan menurut Salovey dan Mayer dalam Melandy dan Aziza (2006), pencipta istilah “kecerdasan emosional”, mendefinisikan kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan

(3)

untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual.

3. Komponen Kecerdasan Emosional

Goleman (2002) membagi kecerdasan emosional menjadi lima bagian yaitu tiga komponen berupa kompetensi emosional (pengenalan diri, pengendalian diri dan motivasi) dan dua komponen berupa kompetensi sosial (empati dan keterampilan sosial).

Lima komponen kecerdasan emosional tersebut adalah sebagai berikut: a. Pengenalan Diri (Self Awareness)

Pengenalan diri adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui perasaan dalam dirinya dan digunakan untuk membuat keputusan bagi diri sendiri, memiliki tolok ukur yang realistis atas kemampuan diri dan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Unsur-unsur kesadaran diri, yaitu:

1) Kesadaran emosi (emosional awareness), yaitu mengenali emosinya sendiri dan efeknya.

2) Penilaian diri secara teliti (accurate self awareness), yaitu mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri.

3) Percaya diri (self confidence), yaitu keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri.

(4)

b. Pengendalian Diri (Self Regulation)

Pengendalian diri adalah kemampuan menangani emosi diri sehingga berdampak positif pada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati, sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, dan mampu segera pulih dari tekanan emosi (Goleman, 2002). Unsur-unsur pengendalian diri, yaitu:

1) Kendali diri (self-control), yaitu mengelola emosi dan desakan hati yang merusak.

2) Sifat dapat dipercaya (trustworthiness), yaitu memelihara norma kejujuran dan integritas.

3) Kehati-hatian (conscientiousness), yaitu bertanggung jawab atas kinerja pribadi.

4) Adaptabilitas (adaptability), yaitu keluwesan dalam menghadapi perubahan.

5) Inovasi (innovation), yaitu mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan, dan informasi-informasi baru.

c. Motivasi (Motivation)

Motivasi adalah kemampuan menggunakan hasrat agar setiap saat dapat membangkitkan semangat dan tenaga untuk mencapai keadaan yang lebih baik, serta mampu mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif (Goleman, 2002). Unsur-unsur motivasi, yaitu:

1) Dorongan prestasi (achievement drive), yaitu dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan.

(5)

2) Komitmen (commitmen), yaitu menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau lembaga.

3) Inisiatif (initiative), yaitu kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan. 4) Optimisme (optimisme), yaitu kegigihan dalam memperjuangkan sasaran

kendati ada halangan dan kegagalan.

d. Empati (Emphaty)

Empati adalah kemampuan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Mampu memahami perspektif orang lain dan menimbulkan hubungan saling percaya, serta mampu menyelaraskan diri dengan berbagai tipe individu (Goleman, 2002). Unsur-unsur empati, yaitu:

1) Memahami orang lain (understanding others), yaitu mengindra perasaan dan perspektif orang lain dan menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan mereka.

2) Mengembangkan orang lain (developing other), yaitu merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan orang lain.

3) Orientasi pelayanan (service orientation), yaitu mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan.

4) Memanfaatkan keragaman (leveraging diversity), yaitu menumbuhkan peluang melalui pergaulan dengan bermacam- macam orang.

5) Kesadaran politis (political awareness), yaitu mampu membaca arus-arus emisi sebuah kelompok dan hubungannya dengan perasaan.

(6)

e. Ketrampilan Sosial (Social Skills)

Ketrampilan sosial adalah kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, bisa mempengaruhi, memimpin, bermusyawarah, menyelasaikan perselisihan, dan bekerjasama dalam tim (Goleman, 2002). Unsur-unsur ketrampilan sosial, yaitu:

1) Pengaruh (influence), yaitu memiliki taktik untuk melakukan persuasi. 2) Komunikasi (communication), yaitu mengirim pesan yang jelas dan

meyakinkan.

3) Manajemen konflik (conflict management), yaitu negoisasi dan pemecahan silang pendapat.

4) Kepemimpinan (leadership), yaitu membangitkan inspirasi dan memandu kelompok dan orang lain.

5) Katalisator perubahan (change catalyst), yaitu memulai dan mengelola perusahaan.

6) Membangun hubungan (building bond), yaitu menumbuhkan hubungan yang bermanfaat.

7) Kolaborasi dan kooperasi (collaboration and cooperation), yaitu kerjasama dengan orang lain demi tujuan bersama.

8) Kemampuan tim (tim capabilities), yaitu menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.

(7)

4. Perilaku belajar

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, belajar memilki arti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Menurut Davidoff dalam Veronica (2008), Perilaku belajar dapat diartikan sebagai sebuah aktivitas belajar. Konsep dan pengertian belajar sendiri sangat beragam, tergantung dari sisi pandang setiap orang yang mengamatinya. Belajar sendiri diartikan sebagai erubahan yang secara relatif berlangsung lama pada perilaku yang diperoleh kemudian dari pengalaman-pengalaman.

Suwardjono (2004), menyatakan bahwa belajar di perguruan tinggi merupakan suatu pilihan srategik dalam mencapai tujuan individual seseorang. Semangat, cara belajar, dan sikap mahasiswa terhadap belajar sangat dipengaruhi oleh kesadaran akan adanya tujuan individual dan tujuan lembaga pendidikan yang jelas. Kuliah merupakan ajang untuk mengkonfirmasi pemahaman mahasiswa dalam proses belajar mandiri. Pengendalian proses belajar lebih penting daripada hasil atau nilai ujian. Jika proses belajar dijalankan dengan baik, nilai merupakan konsekuensi logis dari proses tersebut. Dalam proses belajar diperlukan perilaku belajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan, dimana dengan perilaku belajar tersebut tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif dan efisien, sehingga prestasi akademik dapat ditingkatkan. Perilaku belajar sering juga disebut kebiasaan belajar yaitu merupakan proses belajar yang dilakukan individu secara berulang-ulang sehingga menjadi otomatis atau spontan. Perilaku ini yang akan mempengaruhi prestasi belajar (Hanifah dan Syukriy 2001).

(8)

Menurut Suwardjono (2004) perilaku belajar yang baik terdiri dari: 1) Kebiasaan Mengikuti Pelajaran

Kebiasaan mengikuti pelajaran adalah kebiasaan yang dilakukan mahasiswa pada saat pelajaran sedang berlangsung. Mahasiswa yang mengikuti pelajaran dengan tertib dan penuh perhatian serta dicatat dengan baik akan memperoleh pengetahuan lebih banyak. Kebiasaan mengikuti pelajaran ini ditekankan pada kebiasaan memperhatikan penjelasan dosen, membuat catatan, dan keaktifan di kelas.

2) Kebiasaan Membaca Buku

Kebiasaan membaca buku merupakan merupakan ketrampilan membaca yang paling penting untuk dikuasai mahasiswa. Kebiasaan membaca harus di budidayakan agar pengetahuan mahasiswa dapat bertambah dan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam mempelajari suatu pelajaran. 3) Kunjungan ke Perpustakaan

Kunjungan perpustakaan merupakan kebiasaan mahasiswa mengunjungi perpustakaan untuk mencari referensi yang dibutuhkan agar dapat menambah wawasan dan pemahaman terhadap pelajaran. Walaupun pada dasarnya sumber bacaan bisa ditemukan dimana-mana, namun tempat yang paling umum dan memiliki sumber yang lengkap adalah perpustakaan.

4) Kebiasaan Menghadapi Ujian

Kebiasaan menghadapi ujian merupakan persiapan yang biasa dilakukan mahasiswa ketika akan menghadapi ujian. Setiap ujian tentu dapat dilewati

(9)

oleh seorang siswa dengan berhasil jika sejak awal mengikuti pelajaran, siswa tersebut.

5. Pengertian kepercayaan diri

Menurut Golemen (2003), kepercayaan diri adalah kesadaran yang kuat tentang harga dan kemampuan diri sendiri. Orang dengan kecakapan ini akan berani tampil dengan keyakinan diri, berani menyatakan keberadaannya, berani menyuarakan pandangan yang tidak popular dan bersedia berkorban demi kebenaran serta tegas, mampu membuat keputusan yang baik kendati dalam keadaan tidak pasti dan tertekan. Sedangkan menurut Rini (2002) kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri. Menurut Fereira (dalam Agustian, 2001), seorang konsultan dari Deloitte and Touche Consulting mengatakan bahwa seseorang yang memiliki kepercayaan diri, di samping mampu mengendalikan dan menjaga keyakinan dirinya, juga akan mampu membuat perubahan di lingkungannya, ini berarti bahwa kepercayaan diri akan mempengaruhi pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial.

(10)

6. Pengertian akuntansi

Definisi akuntansi menurut Suwardjono (2005) dibedakan menjadi dua pengertian yaitu sebagai seperangkat pengetahuan (a body of knowledge) dan fungsi (Function). Sebagai seperangkat pengetahuan Akuntansi didefinisikan sebagai: Seperangkat pengetahuan yang mempelajari perekayasaan penyediaan jasa berupa informasi keuangan kuantitatif unit-unit organisasi dalam suatu lingkungan Negara tertentu dan cara penyampaian (pelaporan) informasi tersebut kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan.

Dalam arti sempit sebagai proses, fungsi, atau praktik, akuntansi dapat didefinisikan sebagai: “Proses pengidentifikasian, pengesahan, pengukuran, pengakuan, pengklasifikasian, penggabungan, peringkasan, dan penyajian data keuangan dasar (bahan olah akuntansi) yang terjadi dari kejadian-kejadian, transaksi-transaksi, atau kegiatan operasi suatu unit organisasi dengan cara tertentu untuk menghasilkan informasi yang relevan bagi pihak yang berkepentingan”. Menurut Suwardjono (2005) pengetahuan akuntansi dapat dipandang dari dua sisi pengertian yaitu sebagai pengetahuan profesi (keahlian) yang dipraktekkan di dunia nyata dan sekaligus sebagai suatu disiplin pengetahuan yang diajarkan di perguruan tinggi. Akuntansi sebagai objek pengetahuan di perguruan tinggi, akademisi memandang akuntansi sebagai dua bidang kajian yaitu bidang praktek dan teori. Bidang praktek berkepentingan dengan masalah bagaimana praktek dijalankan sesuai dengan prinsip akuntansi. Bidang teori berkepentingan dengan penjelasan, deskripsi, dan argumen yang

(11)

dianggap melandasi praktek akuntansi yang semuanya dicakup dalam suatu pengetahuan yang disebut teori akuntansi.

7. Pemahaman akuntansi

Paham dalam kamus besar bahasa indonesia memiliki arti pandai atau mengerti benar sedangkan pemahaman adalah proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan. Ini berarti bahwa orang yang memiliki pemahaman akuntansi adalah orang yang pandai dan mengerti benar akuntansi. Dalam hal ini, pemahaman akuntansi akan diukur dengan menggunakan nilai mata kuliah akuntansi yaitu Pengantar Akuntansi 1, Pengantar akuntansi 2, Akuntansi Keuangan Menengah 1, Akuntansi Keuangan Menengah 2, Akuntansi Biaya, Sistem Informasi Akuntansi, Akuntansi Sektor Publik, Akuntansi Manajemen, Akuntansi Keuangan Lanjutan 1, Akuntansi Keuangan Lanjutan 2, Auditing 1, Auditing 2, Teori Akuntansi.Mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang menggambarkan akuntansi secara umum.

8. Penelitian terdahulu

Tabel 2.1

Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu

No penelitian terdahulu Judul Hasil penelitian

1 - Sri Suryaningsum - Eka Indah Trisniwati (2003) Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi

Kecerdasan emosional tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pemahaman akuntansi

2 -Sri Suryaningsu m Pengaruh Pendidikan Tinggi Akuntansi Terhadap Kecerdasan

Tingkat Kecerdasan emosional mahasiswa junior dan mahasiswa tingkat akhir jurusan akuntansi

(12)

-Sucahyo Heriningsih -Afifah Afuwah (2004)

emosional berbeda secara signifikan, namun perbedaan itu lebih dipengaruhi oleh faktor usia semata.

3 Melandy dan Aziza (2006) Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi, Kepercayaan Diri sebagai Variabel Pemoderasi dengan sampel mahasiswa akuntansi tingkat akhir pada beberapa perguruan tinggi negeri yang ada di Propinsi Bengkulu

terlihat adanya perbedaan tingkat pengenalan diri dan motivasi antara mahasiswa yang memiliki kepercayaan diri kuat dengan mahasiswa yang memiliki kepercayaan diri lemah, sedangkan untuk pengendalian diri, empati dan keterampilan sosial tidak terdapat perbedaan. 4 Tjun, Lauw. dkk.(2009) Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Pemahaman

Akuntansi Dilihat dari Perspektif Gender

Ada pengaruh kecerdasan emosional terhadap pemahaman akuntansi, Tidak terdapat perbedaan kecerdasaan emosional dan ada perbedaan pemahaman akuntansi antara mahasiswa pria dan mahasiswa wanita

5 Hariyoga dan Suprianto (2011)

Pengaruh Kecerdasan Emosional, Perilaku Belajar, dan Budaya terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi, Kepercayaan Diri sebagai Variabel Pemoderasi

Hasil penelitian menunjukkan kecerdasan emosional dan perilaku belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat pemahaman akuntansi mahasiswa

6 - Komang Nova Ariantini -Edy Sujana -Nyoman Trisna Herawati (2014) Pengaruh kecerdasan emosional dan minat membaca terhadap tingkat pemahaman akuntansi engan kepercayaan diri sebagai variabel moderasi (studi empiris pada mahasiswa jurusan akuntansi di Bali)

Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kecerdasan emosional dan minat membaca terhadap tingkat pemahaman akuntansi, terdapat pengaruh signifikan antara kecerdasan emosional dan minat membaca terhadap tingkat pemahaman akuntansi dengan kepercayaan diri sebagai variabel moderasi

(13)

B. Kerangka Pemikiran Variable independen 2. Variabel dependen 3. 4. 5. 6. Variable moderasi 7. C. Pengembangan Hipotesis

1. Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa (Goleman, 1999). Menurut Goleman (1995) dalam Melandy dan Aziza (2006) kecerdasan emosional memiliki peran lebih dari 80% dalam mencapai kesuksesan hidup, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan professional. Untuk menjadi seorang lulusan akuntansi yang

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Perilaku belajar (X2) Kecerdasan emosional (X1) Tingkat pemahaman akuntansi (Y)

(rata-rata nilai mata kuliah akuntansi) Pengendalian diri motivasi empati Keterampilan sosial kebiasaan membaca Mengikuti pelajaran Mengahadapi ujian

Kunjungan perpustakaan Kepercayaan

diri (X3)

Kepercayaan diri kuat Pengenalan diri

(14)

berkualitas diperlukan waktu yang panjang dan usaha yang keras serta dukungan dari pihak lain yang akan mempengaruhi pengalaman hidup lulusan tersebut. Ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosional, yaitu pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Dalam hal ini peneliti menyusun hipotesis berdasarkan pengaruh kecerdasan emosional terhadap tingkat pemahaman akuntansi.Sehingga dengan demikian hipotesis penelitian dirumuskan, sebagai berikut:

H1: Kecerdasan emosional (pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi, empati, keterampilan sosial) berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

2. Pengaruh Perilaku Belajar Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi

Menurut Suwardjono (2004) menyatakan terdapat aspek dalam belajar diperguruan tinggi, yakni : makna kuliah, pengalaman belajar atau nilai, konsepsi dosen, kemandirian dalam belajar, konsep memiliki buku, dan kemampuan berbahasa. Dalam semua aspek ini, pengukuran prestasi akademik merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai mahasiswa dalam belajar.Ini sesuai dengan pendapat Wingkel (1987) dalam Septian dan Edy (2011) yang mengartikan bahwa prestasi adalah bukti keberhasilan usaha yang tercapai. Jadi, jika prestasi akademik mahasiswa baik, maka dikatakan bahwa mahasiswa tersebut telah memperoleh hasil yang baik dari serangkaian proses belajar

(15)

yang ditempuhnya. Dengan demikian hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut:

H2: Perilaku belajar mahasiswa akuntansi (kebiasaan mengikuti pelajaran, kebiasaan membaca buku, kunjungan ke perpustakaan, kebiasaan menghadapi ujian) berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

3. Pengaruh Kecerdasaan Emosional terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi dengan Kepercayaan Diri sebagai variabel pemoderasi.

Menurut Gea et al. (2002) dalam Melandy dan Azziza (2006) menyatakan ada beberapa cara untuk mengembangkan kekuatan dan kelemahan dalam pengenalan diri yaitu intropeksi diri, mengendalikan diri, membangun kepercayan diri, mengenal dan mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh teladan, dan berfikir positif dan optimis tentang diri sendiri. Dari beberapa cara untuk mengembangkan pengenalan diri diatas dapat diketahui bahwa kepercayaan diri merupakan salah satu hal yang dapat mempengaruhi bagaimana mahasiswa mengenal dirinya. Kepercayaan diri mahasiswa akan mempengaruhi kemampuan untuk mengendalikan dirinya. Dengan demikian hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut:

H3: Kepercayaan diri mahasiswa akuntansi memiliki pengaruh sebagai variabel moderating yang mempengaruhi hubungan kecerdasan emosional terhadap tingkat pemahaman mahasiswa akuntansi.

(16)

4. Pengaruh Perilaku Belajar terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi dengan Kepercayaan Diri sebagai variabel pemoderasi

Ahli belajar modern mengemukakan dan merumuskan perbuatan belajar sebagai berikut : belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perolehan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian-pengertian baru, perubahan sikap, kebiasaan-kebiasaaan, keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial, emosional dan pertumbuhan jasmaniah (Hamalik, 1983). Menurut Melandy dan Aziza (2006) kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri.dengan demikian hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut:

H4: Kepercayaan diri mahasiswa akuntansi memiliki pengaruh sebagai variabel moderating yang mempengaruhi hubungan perilaku belajar terhadap tingkat pemahaman mahasiswa akuntansi.

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka Pemikiran Perilaku belajar (X2) Kecerdasan emosional (X1)  Tingkat pemahaman akuntansi (Y) (rata-rata nilai mata kuliah akuntansi) Pengendalian diri motivasi empati Keterampilan sosial kebiasaan membaca Mengikuti pelajaran Mengahadapi

Referensi

Dokumen terkait

Holcim Indonesia Tbk Cilacap Plant adalah pakaian terbuat dari bahan drill, menyerap keringat, melindungi dari suhu, panas dan cairan kimia, maka pakaian kerja yang disediakan

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil produksi yang belum optimal yaitu adalah melakukan panca usahatani dalam mengelola usahataninya agar petani

Berdasarkan studi terhadap pengertian dan karakteristik arsitektur Green Building, serta studi terhadap bangunan dengan pengaplikasian Green Building, maka hal-hal yang

Pembelajaran sejatinya adalah proses penjelajahan terbimbing, memberikan ruang bagi siswa untuk mengalami sendiri, terlibat secara penuh dalam menemukan inti materi

Dengan menjadi bagian dari webometrics, berarti Perguruan Tinggi Raharja siap untuk menjadi salah satu perguruan tinggi yang memiliki performa serta lalu lintas website

Pada dasarnya, sistem pembagian hasil yang akan diterapkan dalam suatu perjanjian kawukan (bagi hasil) ternak sesuai hukum adat Besemah. Sistem pembagian

Ronald Pratama Adiwinoto Ilmu Penyakit Jantung & Pembuluh Darah 73 dr. Muchammad Dzikrul Haq Karimullah Ilmu Penyakit Jantung & Pembuluh Darah 74

Setelah melakukan kegiatan observasi, diskusi, dan tanya jawab, dengan model Problem Based Learning diharapkan peserta didik dapat mengidentifikasi barisan geometri