• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUESIONER PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KUESIONER PENELITIAN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Lampiran 1

KUESIONER PENELITIAN

ANALISIS KESIAPAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) CUT MEUTIA MENJADI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH

(BLUD) DI KABUPATEN ACEH UTARA TAHUN 2015

Kuesioner ini merupakan alat bantu untuk mendapatkan informasi mengenai pendapat informan yang berkaitan dengan kesiapan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Pengisian kuesioner ini dilakukan oleh peneliti pada saat wawancara dengan informan yang terlibat dalam proses persiapan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Penelitian ini semata-mata untuk keperluan akademis, oleh karena itu peneliti mengharapkan informasi serta jawaban yang sesungguhnya (obyektif) dari Bapak/Ibu sesuai dengan kondisi yang dirasakan di tempat kerja.Atas bantuan dan partisipasinya dalam mengisi kuesioner ini kami ucapkan terima kasih.

DENTITAS RESPONDEN 1. Jenis Kelamin : ... 2. Umur : ... 3. Pendidikan Terakhir : ... 4. Lama Bekerja : ... 5. Unit Kerja/Divisi/Bagian :

(2)

...

6. Jabatan :

... 7. Status Perkawinan :

...

8. Riwayat Pekerjaan sebelumnya

:...

PANDUAN KUESIONER

WAWANCARA TIDAK TERSTRUKTUR Informan Sub Indikator Pertanyaan Unsur Pemda

- Ketua Komisi E DPRK

- Sekda Kab. Aceh Utara - Ka. Bapedda - Ka. DPKAD - Ka. Inspektorat Unsur RSUD - Direktur RSUD - Komite Medik RSUD - Komite Keperawatan RSUD - Manajemen RSUD

Unsur Tenaga Ahli

- Konsultan Pendamping Penyiapan Dokumen Persyaratan Pembentukan BLUD

1. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang penyiapan dokumen

persyaratan pembentukan BLUD di RSUD Cut Meutia.

2. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang isi dokumen persyaratan pembentukan BLUD.

3. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang waktu yang begitu lama dalam penyusunan dokumen persyaratan BLUD

Advokasi 4. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang advokasi yang dilakukan untuk menerapkan kebijakan BLUD kepada Pemda dan stakeholder lainnya

5. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang kegiatan dari advokasi yang dilakukan untuk menerapkan kebijakan BLUD.

(3)

- Arsada Penyiapan SDM 6. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang proses penyiapan SDM untuk menerapkan kebijakan BLUD di RSUD Cut Meutia

7. Bagaimana peningkatan pendidikan petugas untuk meningkatkan skil dalam rangka penyiapan SDM untuk BLUD.

8. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang Tim Pembentukan BLUD di RSUD Cut Meutia

(4)

Matriks Penyusunan Dokumen Persyaratan Penetapan BLUD Narasumber Tanggal Wawancara Pendapat Anggota Komisi E DPRK Aceh Utara

07/04/2015 “Belum ada koordinasi khusus mengenai BLUD apakah mereka sedang merancang atau belum diberitahukan, kalaupun duduk dengan manajemen RSUD Cut Meutia berbicara mengenai hal-hal lain. Dimasa periode DPRK sekarang belum dilibatkan, mungkin di periode yang lalu ada dilibatkan.” Asisten III

Setdakab Aceh Utara

10/04/2015 “Ada beberapa dokumen yang harus dipersiapkan antara lain bisnis anggaran harus ada rencana strategi bisnis (bisnis plan). Dilihat dari sisi bisnis jelas akan lebih bagus Cuma persoalan sekarang adalah attitude kita siap tidak masuk dalam kancah bisnis. Dilihat dari segi asuransi BPJS pasti menguntungkan selama penggunaan dana benar dilakukan.”

Kabag. Organisasi Setdakab Aceh Utara

13/04/2015 “Awal saya menjabat sebagai kabag organisasi tahun 2014, saya melihat RSUD Cut Meutia sudah siap untuk BLUD. Saya panggil pihak RSUD untuk buat schedule dalam waktu satu bulan dokumen harus sudah selesai. Setelah dilakukan studi banding tim penilai meminta RSUD untuk memenuhi syarat setelah penetapan BLUD, dengan maksud setelah ditanda tangani Bupati BLUD harus segera jalan. Jadi harus buat RBA segera. Saat ini RBA sedang musyawarah dengan pihak DPKAD. Diharapkan tanggal 1 mei paling lambat sudah bisa ditetapkan dan langsung action.”

Kadis DPKAD

Aceh Utara

06/04/2015 “ Bahan sudah dipersiapkan, namun dilihat dari skor penilaian sudah layak untuk dijadikan BLUD hanya dokumen bisnis plan yang belum siap. Bahan sudah di organisasi diminta ke DPKAD , tapi belum diserahkan. Setelah disiapkan bisnis plan langsung di tanda tangani SK BLUD. Salah satu yang fatal adalah bisnis plan, karena menyangkut keuangan. Bagaimana mengelola keuangan setelah

(5)

ditetapkan BLUD, ini merupakan rohnya BLUD. Isi dokumen saya lihat dari sisi keuangan saja.” Kabid Anggaran

DPKAD Aceh Utara

08/04/2015 “ Langkah penyiapan dokumen BLUD sudah hampir rampung sekitar 80-90 %. Sudah ditempuh sejak tahun 2011 namun selalu mentok tidak mulus berjalan. Saya konsern sejak 2014 kita pacu secepat mungkin RSUD segera BLUD. Karena mengingat sumber daya yang dikelola sangat besar, urgensitas sangat mendesak. Sangat dibutuhkan fleksibilitas pengelolaan keuangan. RBA sangat penting, mereka sudah ada SK tata kelola, SPM, dan lain-lain. RBA belum lengkap, tidak terperinci dan breakdownnya tidak ada, Paling tidak postur RBA memenuhi background RSUD, SDM yang dimiliki, laporan keuangan tahun sebelumnya dan rencana bisnis tahun 2015. masih ada yang kita koreksi, jika RBA selesai baru SK kan dulu PPK-BLUD RSUD. Tim sepakat menyelesaikan RBA karena biar langsung proses terutama di pengadaan barang jasa. Isi dokumen dengan plus dan minus sudah baik atau memenuhi. ” Kabid Perencanaan Pembangunan Bidang Sosbud dan SDM Bappeda Aceh Utara

14/04/2015 “ Dokumen harus buat rencana bisnis. Mereka sudah buat tapi harus diperbaiki dan sudah mengarah ke yang lebih baik. Dari segi dokumen sudah baik. Pemda minta harus lengkap dengan RBA, kalo tidak ada RBA kita tidak bisa membaca arah kemana mereka ingin tuju. Setelah melihat kabupaten tetangga, kita melihat untuk supaya hati-hati agar RSUD tidak kolaps sehingga RSUD masih dapat melayani dengan baik.”

Kepala

Inspektorat Aceh Utara

09/04/2015 “ Dari bobot 80 dapat nilai sudah bisa ditetapkan BLUD penuh. Angka nilai terakhir saya kurang ingat secara keseluruhan isi dokumen sudah bisa dijadikan BLUD. Cut meutia cukup besar peluang, yang membayar sudah ada dari BPJS. Semua pasien sudah ada yang bayar baik JKN maupun JKRA. Informasi yang diberikan ke pimpinan tidak maksimal, sehingga pimpinan ragu setelah di BLUD kan pelayanan menjadi tidak maksimal sehingga waktu pembentukan BLUD ini lama sejak

(6)

tahun 2011. saya menilai RSUD cut meutia sangat layak untuk dijadikan BLUD saat ini. Mengingat SDM dan fasilitas sarana dan prasarana yang sudah baik. Laporan keuangan tidak ada kendala sudah memadai. Banyak kita beri masukan-masukan dan diperbaiki terus, tinggal kita evaluasi per triwulan pelaksanaan BLUD nya.”

Direktur RSUD

Cut Meutia

08/04/2015 “ Penyiapan dokumen sejauh ini sudah siap dan sudah dilakukan penilaian oleh tim penilai dari pemda. Hasil dari penilaian sudah memenuhi syarat untuk dibentuk BLUD. Isi dokumen sebagai persyaratan BLUD baik, dan mudah-mudahan setelah ditetapkan dapat kita aplikasi dengan baik. Masa lalu biarlah berlalu, tidak usah dicari siapa yang salah. Yang pasti saat saya menjabat direktur program ini dapat dilaksanakan dengan baik. Alhamdulillah walaupun sudah sekian lama proses ini berjalan namun pihak pemda pun sudah sangat antusias untuk dapat menetapkan RSUD Cut Meutia menjadi BLUD.”

Wakil Direktur SDM & Umum RSUD Cut Meutia

07/04/2015 “ Tahun 2011 pertama kali dibentuk panitia pembentukan BLUD di RSUD Cut Meutia, setelah itu dipanggil konsultan dari CHSM Unsyiah lalu dilatihlah panitia pembentukan BLUD selama satu minggu. Bimbingan dalam rangka pembuatan dokumen persyaratan pembentukan BLUD yang terdiri dari 4 pokja : pokja renstra, pokja pola tata kelola, pokja SPM, dan pokja laporan keuangan. Setelah pelatihan ini tim vakum. Tahun 2013 setelah pergantian direktur RSUD Cut Meutia diadakan workshop tentang BLUD dengan mengundang narasumber dari kemendagri pada saat itu direktur melihat tim BLUD vakum dan berinisiatif mengganti ketua tim agar pembentukan BLUD bisa lancar. Lalu dianggarkan dana lagi untuk pembuatan dokumen dan lain-lain. Karena ada pergantian-pergantian pejabat maka tim kembali vakum. Setelah dilantik direktur baru pada awal 2014 maka pimpinan yang baru kembali melobi pemda melalui kabag hukum dan kabag

(7)

organisasi, karena direktur komit RSUD harus berubah menjadi BLUD akhir 2014 dimulailah babak baru untuk pembentukan BLUD di RSUD Cut Meutia. ”

Sekretaris Tim Pembentukan BLUD RSUD Cut Meutia

10/04/2015 “ Dalam proses pembentukan BLUD pemda kurang respon. Studi banding sudah dilakukan ke RS persahabatan di jakarta tahun 2013. lalu ke RSUD di Kabupaten Bireun, Sigli dan Meraxa. Secara dokumen kami banyak mengacu ke RSUD Meuraxa Banda Aceh. Saat ini kendala di RBA belum selesai. Format kita buat sesuai dengan Kemendagri namun pas masuk ke pemda harus dibuat lain. Secara administrasi kita udah selesai Cuma RBA sedang disusun sedikit lagi. Kendala dalam penyusunan dokumen pada laporan keuangan di tahun 2013 ada dua dana yaitu JKA dan JKN. Laporan keuangan beda masing-masing format. Terpaksa harus kita padukan lagi sesuai formatnya. SPM sudah lama kita buat dan dari pertama mereka di tiap-tiap ruangan yang membuat targetnya. Kendala lain adalah harus menginput data dari dua Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.”

Komite Medik RSUD Cut Meutia

15/04/2015 “ Dari segi dokumen saya kurang tau, dikepanitiaan dari segi isi kita ada siapkan lima tahun kedepan apa yang harus dilakukan. Kesiapan pemda untuk mendukung pemenuhan alat-alat kesehatan tidak mendukung untuk kesuksesan rumah sakit dengan alasan tidak ada dana. Contoh untuk nambah ruang rawat susah dipenuhi. Initinya pemda kurang mendukung untuk BLUD, mindset mereka tidak mau berubah.”

Komite Keperawatan RSUD Cut Meutia

15/04/2015 “ Penyiapan dokumen BLUD tidak tau dan tidak dilibatkan pihak manajemen RSUD Cut Meutia. Mungkin setelah ada SK BLUD baru disosialisasikan, biasa setelah ada SK baru diadakan sosialisasi. Isi dokumen tidak pernah liat Cuma dengar-dengar sekilas kalo udah BLUD udah mudah dan udah enak gitu-gitu lah. Menurut saya

(8)

pemda berat melepas BLUD karena PAD nya cukup besar. Dari satu sisi harus melepaskan RSUD menjadi BLUD. Saya pesimis BLUD berhasil karena RS swasta banyak di lhokseumawe dokter spesialis pun banyak manganjurkan ke swasta.”

Wakil Ketua Arsada/ konsultan

16/04/2015 “ Pembentukan suatu RSUD menjadi BLUD itu domain pemda, Tidak ada urusan dengan arsada. Arsada sifatnya mendorong teman-teman RSUD jadi tidak ada koordinasi khusus. Kalaupun ada dalam kontek ingin didampingi untuk menyusun dokumen itupun kalau diminta teman-teman RSUD. Kalau mereka telah memenuhi persyaratan sesuai permendagri dan persyaratan akan dinilai oleh tim penilai yang dibentuk pemda. Jika terpenuhi dapat ditetapkan BLUD. Sebetulnya persyaratan itu harus dimiliki RSUD. Laporan keuangan pasti mereka punya. RSB mereka punya renstra. Pola tata kelola mereka punya hospital by law. SPM mereka mutlak harus ada. Jadi mereka bukan membuat ulang, tetapi kalau belum ada dokumen diatas harus membuat. Tidak menuju BLUD pun mereka sebenarnya harus punya dokumen tersebut. ”

(9)

Matriks Advokasi Yang Dilakukan Untuk Penetapan BLUD Narasumber Tanggal Wawancara Pendapat Anggota Komisi E DPRK Aceh Utara

07/04/2015 “ Proses advokasi tidak ada dilakukan dengan DPRK namun pemerintah terkesan kalo ada BLUD program-program tidak dirancang dari awal bisa menimbulkan celah-celah penyelewengan begitu rentan.”

Asisten III Setdakab Aceh Utara

10/04/2015 “ Prospek RSUD Cut Meutia besar jika menerapkan pola PPK-BLUD. Kenapa swasta penuh kenapa RSUD malas berbuat. Kenapa dokter banyak membawa pasien ke swasta apa kelebihan swasta. Dulu ada rencana kita menawarkan cost yang tetap kepada dokter dengan ketentuan dia masuk jam 7.30 wib pulang jam 18.00 wib. Segala fasilitas disiapkan dia berpraktek di RSUD. Sistem perencanaan harus terencana dan konsisten. Kondisi didaerah pergantian pejabat sebentar-sebentar. Setiap dokumen dibuat pejabat lama belum tentu dipakai pejabat baru. Kemauan untuk menjadi BLUD rendah, enak dengan pola lama mungkin. Motivasi kurang, sering kita desak untuk cepat BLUD. Kita mendesak 1 januari 2015 harus diterapkan BLUD sehingga pola anggaran bulat sudah menjadi pernyataan modal pemerintah. Sudah bisa dihitung berapa tahun nanti harus disubsidi sehingga mencapai brake even point.” Kabag.

Organisasi Setdakab Aceh Utara

13/04/2015 “ Ada info seolah-olah pihak eksekutif mempersulit bukan tidak ikhlas. RSUD setiap tahun diberi subsidi tapi kenapa tidak berjalan dengan baik, itu pertimbangan pimpinan untuk memberi BLUD kepada RSUD Cut Meutia. Manajemen setelah BLUD harus siap dan lebih baik lagi tidak manajemen birokrasi lagi. Permenkes menyebutkan 30-42 % boleh di pergunakan untuk remunerasi. Jadi direktur harus pinter-pinter merangkul spesialis agar pelayanan lebih maksimal. ”

(10)

Kadis DPKAD Aceh Utara

06/04/2015 “ Secara personal pihak RSUD sering berhubungan dengan DPKAD dalam hal proses penyiapan dokumen untuk BLUD. Persiapan sudah bisa, sudah layak, tinggal komitmen RSUD harus kuat untuk memberikan pelayanan yang lebih baik.” Kabid Anggaran

DPKAD Aceh Utara

08/04/2015 “ RSUD Cut Meutia merupakan RSUD no 2 terbesar di Aceh. Dari segi anggaran pertahun sekitar 80 miliar. Potensi besar, sayang kalau tidak dikelola dengan baik. Hemodialisa kita punya, RSUD Cut Meutia paling lengkap dibanding RSUD Kabupaten lain. Kita pasang target paling lama 1 mei 2015 sudah ditetapkan menjadi BLUD. Sosialisasi secara menyeluruh belum sebatas personal pribadi ke pribadi instansi. Intensitas pertemuan/ schedule tidak tepat. Rencana disiapkan acara seremonial pembentukan BLUD, supaya masyarakat tau dan Bupati pun bangga RSUD sudah BLUD. Menurut RSUD pihak pemda merumitkan hal dokumen BLUD padahal mirip dengan dokumen BLUD RSUD kabupaten lain. Bukan diteken terus SK nya nanti kita perbaiki terus. dari pihak pemda menilai dokumen belum bagus harus diperbaiki. Masing-masing mengklaim sudah berusaha maksimal. Momentum ada kabag organisasi baru kita membuka lembaran baru. Setelah ada pertemuan pemda, DPKAD, dan RSUD dimulai lagi proses yang dulu vakum. Bisa jadi ada hubungan PAD dengan BLUD, pajak 9% dari JKN tidak ada lagi. Saya meyakinkan kepada pihak pimpinan dengan analogi memang kita tidak mendapatkan PAD tetapi kita tidak perlu mengeluarkan belanja untuk RSUD lebih banyak. Keuntungan lain RSUD biar tidak megap-megap, uang banyak tapi tidak bisa berbuat banyak. Tidak ada fleksibilitas pengelolaan keuangan. Saya perkuat lagi dengan saran BPK dan evaluasi gubernur Aceh. Setiap tahun evaluasi Gubernur diharapkan RSUD menjadi BLUD secara tertulis. Posisi saya yang strategis sebagai TPAD bisa meyakinkan keuda belah pihak. Sebagian besar mindset pimpinan pemda masih kurang tentang

(11)

BLUD. Masih banyak kekhawatiran tidak berjalan baik dan bahkan memperburuk keadaan. Secara aturan BLUD ditetapkan oleh Bupati, kita lapor ke komisi C DPRK nanti diundang kita tim dan kita jelaskan mengapa. ” Kabid Perencanaan Pembangunan Bidang Sosbud dan SDM Bappeda Aceh Utara

14/04/2015 “ Secara personal mereka sering melakukan advokasi intensnya beberapa bulan terakhir ini. Dari segi perencanaan mereka lebih simple dan cepat. Mereka bisa langsung pengadaan yang diperlukan. Yang teknis tidak perlu konsul ke Bappeda tapi secara jangka panjang mereka harus berkoordinasi dengan Bappeda kalo pengelolaannya nanti bagus ya pasti bagus nantinya dengan BLUD. Dari segi pemda APBD nya sudah berkurang, pemda tidak perlu banyak menganggarkan biaya untuk RSUD lagi.”

Kepala

Inspektorat Aceh Utara

09/04/2015 “ Kalau kita lihat idenya saya optimis dengan BLUD dapat memperbaiki pelayanan RSUD Cut Meutia. Pemda sekarang tidak memikirkan lagi tentang PAD, karena sama saja kita tarik PAD tapi kita beri lagi belanja. Kalau di BLUD pengadaan barang jasa pakai kontrak payung dia tidak mengacu pada tahun anggaran tidak mesti tunggu ketuk palu. Secara kegiatan studi banding pihak RSUD Cut Meutia ada melibatkan dari Inspektorat bagaimana memperbaiki pelayanan RSUD melalui BLUD.”

Direktur RSUD

Cut Meutia

08/04/2015 “ Advokasi ada dilakukan baik di RSUD Cut Meutia maupun secara personal ke stakeholder terkait. Ada pertemuan yang kita undang narasumber dari kemendagri.”

Wakil Direktur SDM & Umum RSUD Cut Meutia

07/04/2015 “ Pihak manajemen ada melakukan advokasi secara personal dengan komisi C DPRK yang membidangi masalah anggaran. Dan ada mengundang pemda dan dinas terkait dalam acara sosialisasi BLUD. Serta melakukan studi banding ke RSUD yang telah melakukan pola BLUD di beberapa RSUD. Tim pembentukan sangat intens melakukan

(12)

advokasi secara personal agar pembentukan BLUD ini cepat terealiasasi.”

Sekretaris Tim Pembentukan BLUD RSUD Cut Meutia

10/04/2015 “ Adanya pengaruh pejabat baru di bidang organisasi Setdakab Aceh Utara dan DPKAD untuk terjadi percepatan proses penetapan BLUD. Dulu responnya kurang, mereka sering shering-shering dan bertanya sampai mana udah progresnya. Pemasukan RSUD perbulan sekitar 5 – 6 miliar, pernah kelebihan uang namun sisa tidak bisa diambil masuk ke kas daerah. Advokasi pernah dilakukan tahun 2013. kita berharap setelah kegiatan itu langsung BLUD, namun kenyataannya tidak. Intensnya pertemuan dengan pemda akhir tahun 2014. karena proses pergantian pejabat sedikit menghambat proses penetapan BLUD. Intinya BLUD itukan efesiensi dan efektifitas, harus bisa menghemat tapi efektif.”

Komite Medik RSUD Cut Meutia

15/04/2015 “ Kalau masalah advokasi saya kurang tau, mungkin ada dilakukan pihak manajemen RSUD Cut Meutia. Yang saya lihat pemda kurang mendukung, kalau pemda mendukung saya optimis dengan BLUD RSUD Cut Meutia akan menjadi lebih baik.”

Komite Keperawatan RSUD Cut Meutia

15/04/2015 “ Proses advokasi wacana tentang BLUD belum tau kita. Cuma dengar dari mulut ke mulut.”

Wakil Ketua Arsada/ konsultan

16/04/2015 “ Setiap tahun kemendagri melalui permen tentang penyusunan APBD bagi pemda yang RSUD nya belum BLUD harus wajib menfasilitasi. Hal-hal advokasi dapat diminta bantu ke Kemendagri dan Arsada.”

(13)

Matriks Penyiapan SDM Untuk Penetapan BLUD Narasumber Tanggal Wawancara Pendapat Anggota Komisi E DPRK Aceh Utara

07/04/2015 “ Proses penyiapan SDM untuk penetapan BLUD di RSUD Cut Meutia saya kurang memahami. Yang saya tau staf di RSUD Cut Meutia sudah cukup banyak, apalagi tenaga sukarela. Dokter spesialis sudah memadai saya lihat. Namun secara disiplin mereka masih kurang.”

Asisten III Setdakab Aceh Utara

10/04/2015 “ Saya melihat kemauan dan keberanian dari pihak RSUD Cut Meutia masih lemah. Padahal kita peralatan lebih lenagkap. Dokter lebih lengkap kita dari pada RSUD Kabupaten tetangga yang lebih dulu BLUD. Scaning baru dua di Aceh yaitu di RSUZA dan RSUD Cut Meutia. Alat-alat rontgen lebih baik punya kita. Pengolahan limbah kita sudah baik. Letak, fasilitas baik, kondisi bagus. Segi bisnis sangat menguntungkan jika dikelola secara profesional. Setelah BLUD saya sarankan struktur harus dirubah, harus ada direktur utama dan direktur dibawahnya. Direktur utama adalah seorang pebisnis hotel, kalau RS modern tidak lebih dari hotel. Cuma fungsi saja berbeda.”

Kabag. Organisasi Setdakab Aceh Utara

13/04/2015 “ SDM sudah layak dibanding dengan RSU Meuraxa Banda Aceh dan RSUD Kabupaten lain di Aceh. Diharapkan kedepan buat kerja sama dengan pihak Kedokteran Unimal agar menjadi pendapatan RSUD dan harus masuk dalam dokumen rencana strategi bisnis.”

Kadis DPKAD

Aceh Utara

06/04/2015 “ Persiapan SDM sudah bisa. Sudah layak, tinggal komitmen RSUD Cut Meutia. Data kan SDM juga yang mengolah, menurut saya tanya ke mereka ada orang untuk mengelola keuangan, akuntansi, informasi teknologi dan sebagainya ada. Data nya harus betul jangan tidak akurat. Kita minta bisnis plan dibuat sampai menyeluruh sampai pelaksanaannya.”

(14)

Kabid Anggaran DPKAD Aceh Utara

08/04/2015 “ Proses penyiapan SDM hanya sebatas pembentukan tim untuk mempersiapkan dikumen agar bisa ditetapkan BLUD. Secara kuantitas kita sangat layak, namun secara kualitas perlu ditingkatkan lagi seiring perubahan status RSUD Cut Meutia menjadi BLUD. ”

Kabid Perencanaan Pembangunan Bidang Sosbud dan SDM Bappeda Aceh Utara

14/04/2015 “ Kapasitas SDM, jumlah, keahlian sudah cukup. Dari diri mereka sendiri apakah sudah siap. Dari kuantitas dan kualitas saya rasa sudah cukup sekarang mau atau tidak nya pegawai RSUD itu sendiri tergantung pribadinya.”

Kepala

Inspektorat Aceh Utara

09/04/2015 “ Manajemen harus memperhatikan kualitas pelayanan dan efesiensinya. Harus ada pembenahan tenaga di RSUD Cut Meutia terutama tenaga bakti sukarela. SDM tinggal dibenahi tingkatkan kualitas, SOP benar-benar dilaksanakan. Secara jumlah SDM sudah cukup baik.”

Direktur RSUD Cut Meutia

08/04/2015 “ Secara khusus kita hanya menyiapkan tim pembentukan BLUD. Dimana tugas tim ini adalah menyiapkan dokumen-dokumen sebagai persyaratan BLUD dan diajukan ke Pemda sampai diterbitkannya SK BLUD oleh Bupati. Tim bekerja cukup baik walaupun dibarengi kesibukan lain-lainnya. Namun mereka melakukan pekerjaan ekstra menyiapkan dokumen BLUD. Masing-masing petugas dapat meningkatkan skill baik melalui pelatihan maupun peningkatan jenjang pendidikan sesuai profesi masing-masing. Dalam penyusunan dokumen persyaratan BLUD kita selalu melibatkan komite medik dan komite keperawatan.”

Wakil Direktur SDM & Umum RSUD Cut Meutia

07/04/2015 “ SDM yang menangani di RSUD Cut Meutia saat ini minimal pendidikan D.III. secara kuantitas SDM kita berlebih terutama yang masih ada menggunakan ijazah SMU. Sedangkan secara

(15)

kualitas perlu ditingkatkan lagi melalui pelatihan dan pendidikan. Untuk peningkatan skill dokter harus diplotkan anggaran, namun para dokter cenderung tidak mau memanfaatkan anggaran tersebut dengan alasan tidak mau terikat, lebih suka didanai oleh rep obat.”

Sekretaris Tim Pembentukan BLUD RSUD Cut Meutia

10/04/2015 “ Tenaga non teknis kita banyak sekali yaitu tenaga sukarela. Tim ada beberapa kali di ubah SK nya karena tidak berjalan dengan baik dan vakum kegiatannya. Perlu ada penataan ulang tenaga sukarela sesuai dengan kualifikasinya. Agar dana tidak terserap kepada hal yang tidak perlu.”

Komite Medik RSUD Cut Meutia

15/04/2015 “ Kita tidak pernah difasilitasi untuk menambah ilmu melalui seminar dan pelatihan, dokter kan belajar sepanjang hayat. SDM banyak, namun tidak pernah dilatih secara khusus untuk penggunaan alat. Di up grade ke RS yang lebih baik.”

Komite Keperawatan RSUD Cut Meutia

15/04/2015 “ SDM masih kurang untuk tenaga terlatihnya. Kalau dokter sering ikut sendiri dari rep obat. Dari pemda tidak disiapkan dana untuk pelatihan pengembangan ilmu. Kuantitas banyak tapi kualitas yang kurang. Sertifikat pelatihan itu banyak yang sudah expaied masa aktifnya.”

Wakil Ketua Arsada/ konsultan

16/04/2015 “ Kelayakan tidak dilihat dari SDM nya tapi dilihat dari dokumen yang dipersiapkan untuk menjadi BLUD. Dalam menjalankan kegiatan RSUD setelah BLUD mereka harus mengupayakan SDM yang dibutuhkan.”

(16)

Dokumentasi pada saat melakukan wawancara dengan beberapa informan.

Wawancara dengan Asisten II Aceh Utara Wawancara dengan Anggota DPRK

Wawancara dengan Direktur RSUD Cut Meutia Wawancara dengan Ka. Inpektorat

Wawancara dengan Kabid Anggaran DPKAD Wawancara dengan Kabag Organisasi

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan atraumatic care di Rumah Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara, maka dapat diambil

Bagi Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Umum Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara, sebagai bahan masukan dan informasi berkaitan dengan faktor risiko yang mempengaruhi kasus

Faktor Resiko terhadap Kejadian Penyakit DM Tipe II di Rumah sakit Umum Cut Meutia kabupaten Aceh Utara tahun 2016 ... Hasil Seleksi Variabel yang Dapat Masuk dalam Model

(2) Direktur Rumah Sakit PMI Aceh Utara membantu Yayasan Rumah Sakit PMI Aceh Utara memimpin Rumah Sakit PMI Aceh Utara, mengkoordinasikan, menyiapkan dan melaksanakan

Tn. H, laki-laki berusia 68 tahun diantar oleh keluarga ke IGD RSUD Cut Meutia Aceh Utara dengan keluhan munculnya gelembung-gelembung berisi cairan yang sebagian sudah

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara usia ibu dan paritas dengan kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Umum Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara tahun

Bagi Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Umum Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara, sebagai bahan masukan dan informasi berkaitan dengan faktor risiko yang mempengaruhi kasus

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara usia ibu dan paritas dengan kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Umum Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara tahun