• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1.1. Kajian Teori

1.1.1. Hakikat IPA SD

IPA atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memegang peranan sangat penting dan alam kehidupan manuasia. Hal ini disebabkan karena kehidupan kita sangat tergantung dari alam, zat terkandung di alam, dan segala jenis gejala yang terjadi di alam. IPA merupakan rumpun ilmu, memiliki karakteristik khusus yaitu mempelajari fenomena alam yang faktual (factual), baik berupa kenyataan (reality) atau kejadian (events) dan hubungan sebab akibatnya.

Pada hakikatnya IPA dibangun atas dasar produk ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah. Selain itu IPA dipandang pula sebagai proses, sebagai produk, dan sebagai prosedur Marsetio Donosepoetro (dalam Trianto 2014: 137). Sebagai proses diartikan semua kegiatan ilmiah untuk menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupun untuk menemukan pengetahuan baru. Sebagai produk diartikan sebagai hasil proses, berupa pengetahuan yang diajarkan dalam sekolah atau di luar sekolah ataupun bahan bacaan untuk penyebaran dissiminasi pengetahuan.

Sementara itu, menurut Laksmi Prihantoro dkk (dalam Trianto 2014: 137) mengatakan bahwa IPA hakikatnya merupakan suatu produk, proses, dan aplikasi. Sebagai produk, IPA merupakan sekumpulan pengetahuan dan sekumpulan konsep dan bagan konsep. Sebagai suatu proses, IPA merupakan proses yang dipergunakan untuk mempelajari objek studi, menemukan dan mengembangkan produk – produk sains, dan sebagai aplikasi, teori – teori IPA akan melahirkan teknologi yang dapat memberi kemudahan bagi kehidupan.

(2)

Secara khusus fungsi dan tujuan IPA berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi Depdiknas (dalam Trianto 2014: 138) adalah sebagai berikut.

a. Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. b. Mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai ilmiah.

c. Mempersiapkan siswa menjadi warga Negara yang melek sains dan teknologi.

d. Menguasai konsep sains untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Secara umum IPA dipahami sebagai ilmu yang lahir dan berkembang melewati langkah – langkah observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesismelalui eksperimen, penarikan kesimpulan, serta penemuan teori dan konsep.

Sebagai alat pendidikan yang berguna untuk mencapai tujuan pendidikan maka pendidikan IPA di sekolah mempunyai tujuan – tujuan tertentu, yaitu:

1. Memberikan pengetahuan kepada siswa tentang dunia tempat hidup dan bagaimana bersikap;

2. Menanamkan sikap hidup ilmiah;

3. Memberikan keterampilan untuk melakukan pengamatan;

4. Mendidik siswa untuk mengenal, mengetahui cara kerja serta menghargai para ilmuwan penemunya;

5. Menggunakan dan menerapkan metode ilmiah dalam memecahkan permasalahan. Prihantro Laksmi (dalam Trianto 2014: 142).

Menurut Kardi dan Nur (dalam Trianto 2014: 136), bahwa hakikatnya IPA mesti tercermin dalam tujuan pendidikan dan metode mengajar yang digunakan. Demikian demikian, pembelajaran IPA pada tingkat pendidikan manapun harus dikembangkan dengan memahami berbagai pandangan tentang makna IPA, yang dalam konteks pandangan hidup dipandang sebagai satu instrument untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan sosial media. Tujuan pembelajaran IPA secara khusus dalam pendidikan taksonomi Bloom bahwa :

Diharapkan dapat memberikan pengetahuan (kognitif), yang merupakan tujuan utama dari pembelajaran. Sehingga dapat bermanfaat untuk kehidupan

(3)

sehari-hari. Pengetahuan secara garis besar tentang fakta yang ada di alam untuk dapat memahami dan memperdalam lebih lanjut, dan melihat adanya keterangan serta keteraturannya. Di samping hal itu, pembelajaran sains diharapkan memberikan keterampilan (psikomotorik), kemampuan sikap ilmiah (afektif), pemahaman, kebiasaan dan apresiasi. Di dalam mencari jawaban terhadap suatu permasalahan. Prihantro Laksmi (dalam Trianto: 142).

Proses belajar mengajar IPA lebih ditekankan pada pendekatan keterampilan proses, hingga siswa dapat menemukan fakta - fakta, membangun konsep - konsep, teori - teori dan sikap ilmiah siswa itu sendiri yang akhirnya dapat berpengaruh positif terhadap kualitas proses pendidikan maupun produk pendidikan. Selama ini proses belajar mengajar fisika hanya mengahafalkan fakta, prinsip atau terori saja. Untuk itu perlu dikembangkan suatu model pembelajaran IPA yang melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide - idenya. Guru hanya memberi arahan yang membantu siswa untuk mencapai tingkat pemaham yang lebih tinggi. Nur dan Wikandari (dalam Trianto 2014: 143).

1.2. Model Pembelajaran

Menurut Dick & Carey, Weils, Benety (dalam Asih Widi Wisudawati dan Eka Sulistyowati 2014: 47) pendekatan pembelajaran adalah muatan – muatan etis-pedagogis yang menyertai kegiatan proses pembelajaran yang religious atau spiritual, rasional atau intelektual, emosional, fungsional, keteladanan, pembiasaan dan pengalaman. Stategi pembelajaran adalah cara – cara tertentu yang digunakan secara sistematis dan prosedural dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Metode pembelajaran adalah cara – cara yang berbeda untuk mencapai hasil belajar yang berbeda, dalam kondisi yang berbeda berdasarkan kompetensi pembelajaran yang ditetapkan (ceramah, diskusi, tanya jawab, dan lain – lain). Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur secara sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.

(4)

Jadi, model pembelajaran adalah proses pembelajaran yang mencakup pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran.

1.2.1. Model Example Non Example

Model pembelajaran Example Non Example merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media untuk menyampaikan materi pelajaran, yang bertujuan untuk mendorong siswa untuk belajar berpikir kritis untuk memecahkan permasalahan yang termuat dalam contoh – contoh gambar yang disajikan. Penggunaan media gambar dirancang agar siswa dapat menganalisis gambar yang disajikan, kemuadian dideskripsikan secara singkat isi dari sebuah gambar. Gambar dapat ditampilkan melalui OHP, proyektor, atau yang paling sederhana, yaitu poster. Gambar harus jelas terlihat meski dari jarak jauh, sehingga siswa yang berada di bangku belakang dapat melihat dengan jelas.

Model pembelajaran Example Non Example ditujukan untuk mengajarkan siswa dalam belajar memahami dan menganalisis sebuah konsep. Konsep pada umumnya dipelajari melalui dua cara yaitu pengamatan dan definisi.

Langkah – langkah penerapan model pembelajaran Example Non Example dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Guru menyiapkan gambar – gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. b. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.

c. Guru membentuk kelompok – kelompok yang masing – masing terdiri dari 2-3 siswa.

d. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk memperhatikan dan/atau menganalisis gambar.

e. Mencatat hasil diskusi dari analisis gambar pada kertas.

f. Memberi kesempatan bagi tiap kelompok untuk membacakan hasil diskusinya.

g. Berdasarkan komentar atau hasil diskusi siswa, guru menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.

(5)

Menurut Buehl (dalam Miftahul Huda 2013: 235), model pembelajaran Example Non Example melibatkan siswa untuk:

1. Menggunakan sebuah contoh untuk memperluas pemahaman sebuah konsep dengan lebih mendalam dan lebih kompleks;

2. Melakukan proses discovery (penemuan), yang mendorong mereka membangun konsep secara progresif melalui pengalaman langsung terhadap contoh – contoh yang mereka pelajari; dan

3. Mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non example yang dimungkinkan masih memiliki karakteristik konsep yang telah dipaparkan pada bagian example. Kelebihan model pembelajran Example Non Example adalah:

a. Siswa lebih kritis dalam menganalisis gambar;

b. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar; dan c. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

Model pembelajran Example Non Example memiliki kelemahan yaitu tidak semua materi pelajaran dapat disajikan dalam bentuk gambar, dan persiapannya yang terkadang membutuhkan waktu lama.

1.2.2. Komponen – Komponen Model Pembelajaran Example Non

Example

Joyce dan Weill (dalam Miftahul Huda 2013: 73) mendeskripsikan model pengajaran sebagai rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, mendesain materi – materi instruksional, dan memandu proses pengajaran di ruang kelas atau di setting yang berbeda. Model pengajaran dirancang untuk tujuan – tujuan tertentu, pengajaran konsep – konsep informasi, cara – cara berpikir, studi nilai – nilai sosial dan sebagainya dengan meminta siswa untuk terlibat aktif dalam tugas – tugas kognitif dan sosial tertentu. Implementasi setiap model dideskripsikan dalam aspek struktur umum, antara lain: sintak, sistem sosial,tugas/peran guru, dan pengaruh model.

(6)

1. Sintak

Sintak (tahap – tahap) model pengajaran merupakan deskripsi implementasi model lapangan, merupakan rangkaian sistematis aktivitas – aktivitas dalam model pembelajaran.

Tahap – tahap pelaksanaan pembelajaran IPA dengan model Example non

example.

Kegiatan guru Tahap pelaksanaan Kegiatan siswa Guru menyajikan gambar

yang ditampilkan di papan tulis / ohp

Menganalisis gambar yang ditampilkan di papan tulis / ohp

Mengamati gambar, menganalisis isi gambar maka akan timbul rasa ingin tahu pada diri siswa. Guru memancing siswa

untuk bertanya mengenai gambar

Pemberian petunjuk mengenai gambar

Siswa menggali

informasi dari petunjuk yang dinerikan guru melalui diskusi kelompok Guru memberi

kesempatan untuk menuliskan informasi yang di dapat siswa dari pengetahuannya

berdasarkan gambar

Perumusan tugas Membacakan hasil diskusi

Guru memberi

kesempatan siswa untuk mengemukakan

pendapatnya berdasarkan gambar

Mendaur ulang aktifitas siswa

Tanya jawab menegenai hasil diskusi .

(7)

2. Sistem sosial

Sistem sosial mendeskripsikan peran dan relasi antara guru dan siswa. Dalam model ini guru sebagai fasilitaor, guru memberi petunjuk dari proses pembelajaran, dan bagaimana siswa merespon pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan model example non example.

3. Tugas/Peran Guru

Tugas/Peran Guru mendeskripsikan bagaimana seorang guru harus memandang siswanya dalam merespon apa yang dilakukan siswanya. Guru menciptakan siswa berpartisipasi dalam pembelajaran, sehingga siswa merespon dan aktif dalam pembelajaran dan memberi pengalaman baru terhadap siswa.

4. Sistem Dukungan

Sistem Dukungan mendeskripsikan kondisi – kondisi yang mendukung yang seharusnya diciptakan atau dimiliki oleh guru dalam menerapkan model pembelajaran. Dengan media gambar sebagai sarana belajar siswa diharapkan mampu menganalisis isi gambar dan memperoleh informasi dari gambar.

5. Pengaruh

Pengaruh merujuk pada efek – efek yang ditimbulkan oleh setiap model. pengaruh ini terbagi menjadi dua: Instruksional dan pengiring. Pengaruh intruksional merupakan pengaruh langsung dari model tertentu yang disebabkan oleh konten atau skill yang menjadi dasar pelaksanaannya. Pengaruh pengiring merupakan pengaruh yang sifatnya implisit dalam lingkungan belajar, pengaruh ini merupakan pengaruh tidak langsung dari model pengajaran tertentu. Pengaruh instruksional secara khusus yang terdapat dalam pembelajaran IPA dengan materi Hubungan sumber daya alam dengan lingkungan melalui model pembelajaran example non example adalah kemampuan mengidentifikasi Berbagai jenis sumber daya alam berdasarkan manfaatnya dan ketersediannya serta menggolongkan menurut jenisnya. Pengaruh pengiring yang secara khusus akan didapatkan siswa dalam pembelajaran IPA dengan materi gaya melalui model example non example

(8)

adalah kritis, kerja sama, tanggung jawab, percaya diri. Pengaruh instruksional dan dampak pengiring dalam model example non example digambarkan dalam bagan berikut.

Bagan 2.1

Pengaruh intruksional dan pengiring model pembelajaran example non

example Example non example Kritis Kerja sama Tanggung jawab Percaya diri Mampu menggolongkan sumber daya alam Berdasarkan manfaatnya

Mampu

menggolongkan sumber daya alam berdasarkan jenisnya. Mampu

menggolongkan sumber daya alam berdasarkan ketersediannya

(9)

1.2.3. Model Make A Match

Model make a match dikembangkan pertama kali pada 1994 oleh Lorna Curran, strategi make a match menjadi salah satu strategi penting dalam ruang kelas . Langkah – langkah penerapan strategi model make a match sebagai berikut:

a. Membuat bebrapa pertanyaan yang sesuai dengan materi yang dipelajari (jumlahnya tergantung tujuan pembelajaran) kemudian menulisnya dalam kartu – kartu pertanyaan.

b. Membuat kunci jawaban dari pertanyaan – pertanyaan yang telah dibuat dan menulisnya dalam kartu – kartu jawaban. Akan lebih baik jika kartu pertanyaan dan kartu jawaban berbeda warna.

c. Membuat aturan yang berisi penghargaan bagi siswa yang berhasil dan sanksi bagi siswa yang gagal (disini, guru dapat membuat aturan ini bersama – sama dengan siswa).

d. Menyediakan lembaran untuk mencatat penskoran presentasi. Kelebihan strategi make a match antara lain:

1. Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik.

2. Karena ada unsur permainan, metode ini menyenangkan.

3. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

4. Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi. 5. Efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu belajar.

Adapun kelemahan strategi make a match adalah:

a. Jika strategi ini tidak dipersiapkan dengan baik, akan banyak waktu terbuang.

b. Pada awal – awal penerapan metode, banyak siswa yang akan malu berpasangan dengan lawan jenisnya.

c. Jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baik, akan banyak siswa yang kurang memperhatikan pada saat presentasi pasangan.

(10)

d. Guru harus hati – hati dan bijaksana saat memberi hukuman pada siswa yang mendapat pasangan, karena mereka bisa malu.

e. Menggunakan metode ini terus menerus akan menimbulkan kebosanan.

1.2.4. Komponen – Komponen Model Pembelajaran Make A Match

Joyce dan Weill Joyce (dalam Miftahul Huda 2013: 73) mendeskripsikan model pengajaran sebagai rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, mendesain materi – materi instruksional, dan memandu proses pengajaran di ruang kelas atau di setting yang berbeda. Model pengajaran dirancang untuk tujuan – tujuan tertentu, pengajaran konsep – konsep informasi, cara – cara berpikir, studi nilai – nilai sosial dan sebagainya dengan meminta siswa untuk terlibat aktif dalam tugas – tugas kognitif dan sosial tertentu. Implementasi setiap model dideskripsikan dalam aspek struktur umum, antara lain: sintak, sistem sosial,tugas/peran guru, dan pengaruh model.

1. Sintak / Lagkah – langkah

Tahap – tahap pelaksanaan pembelajaran IPA dengan model make a match. Kegiatan guru Tahap pelaksanaan Kegiatan siswa Guru menyiapkan beberapa

kartu sesuai dengan topik.

Setiap siswa mendapat sebuah kartu yang bertuliskan soal dan jawaban.

Memikirkan jawaban, mencari jawaban dan soal yang tepat.

Guru memberi kesempatan siswa untuk mencari jawaban/ soal dari kartu.

Menimbulkan rasa keingintahuan siswa untuk menemukan soal/ jawaban dari kartu.

Menggali informasi dari jawaban/ soal.

Guru memberi point kepada siswa yang jawabannya tepat.

Membuat kesimpulan. Menyimpulkan bersama mengenai soal dan jawaban.

(11)

2. Sistem sosial

Guru memberi kesempatan siswa untuk memperoleh materi pelajaran baru dengan cara yang baru yaitu dengan mencari pasangan dari pertanyaan terhadap jawaban, melalui teman satu kelasnya.

3. Tugas/peran guru

Guru sebagai fasilitaor membantu proses pembelajaran agar menciptakan suasana yang menyenangkan. Memberi arahan siswa untuk meneka – neka jawaban/soal.

4. Sistem Dukungan

Guru memberi kebebasan siswa untuk memperoleh jawaban yang tepat dari kartu pertanyaan dan jawaban yang disediakan guru, guru membantu mengarahkan proses berlangsungnya pembelajaran.

5. Pengaruh

Pengaruh merujuk pada efek – efek yang ditimbulkan oleh setiap model . pengaruh ini terbagi menjadi dua: Instruksional dan pengiring. Pengaruh intruksional merupakan pengaruh langsung dari model tertentu yang disebabkan oleh konten atau skill yang menjadi dasar pelaksanaannya. Pengaruh pengiring merupakan pengaruh yang sifatnya implisit dalam lingkungan belajar, pengaruh ini merupakan pengaruh tidak langsung dari model pengajaran tertentu. Pengaruh instruksional secara khusus yang terdapat dalam pembelajaran IPA dengan materi Hubungan sumber daya alam dengan lingkungan melalui model pembelajaran make a match adalah kemampuan mengidentifikasi Berbagai jenis sumber daya alam berdasarkan manfaatnya dan ketersediannya serta menggolongkan menurut jenisnya. Pengaruh pengiring yang secara khusus akan didapatkan siswa dalam pembelajaran IPA dengan materi gaya melalui model make a match adalah

(12)

demokratis, kerja sama, tanggung jawab, percaya diri. Pengaruh instruksional dan dampak pengiring dalam model make a match digambarkan dalam bagan berikut.

Bagan 2.2

Pengaruh intruksional dan pengiring model pembelajaran make a match make a match Demokratis Kerja sama Tanggung jawab Percaya diri Mampu menggolongkan sumber daya alam Berdasarkan manfaatnya

Mampu

menggolongkan sumber daya alam berdasarkan jenisnya. Mampu

menggolongkan sumber daya alam berdasarkan ketersediannya

(13)

1.3. Efektifitas

Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti berhasil. Efektifitas pada dasarnya menunjukkan taraf tercapainya hasil yang menekankan pada aspek yang akan dilampaui, dengan menunjukkan sejauh mana rencana dapat tercapai. Efektifitas merupakan salah satu dimensi dari produktivitas, yaitu mengarah kepada pencapaian untuk kerja yang maksimal, yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan dalam pembelajaran yaitu kemampuan guru dalam menggunakan metode pembelajaran. Dimana metode pembelajaran dipengaruhi oleh faktor tujuan, siswa, situasi, fasilitas, dan pengajar. Menurut Soemosasmito dalam Trianto (2009: 20) menyatakan bahwa suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif apabila memenuhi beberapa persyaratan utama yaitu presentasi waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap kegiatan belajar mengajar, rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi di antara siswa, ketepatan antara kandungan materi ajaran dengan kemampuan siswa, dan mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif.

1.4. Hasil Belajar

Ahmad Susanto (2013: 5) menyatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan - perubahan yang terjadi kepada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar.Secara sederhana yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapkan tujuan pembelajaran.

Hasil belajar siswa merupakan hasil dari suatu proses yang di dalamnya terlibat sejumlah faktor yang saling mempengaruhinya. Tinggi rendahnya hasil belajar seseorang dipengaruhi oleh faktor - faktor tersebut. Ruseffendi (dalam Ahmad Susanto 2013: 14) mengidentifikasi faktor - faktor yang mempengaruhi hasil belajar dalam sepuluh macam, yaitu: kecerdasan, kesiapan anak, bakat anak,

(14)

kemauan belajar, minat anak, model penyajian materi, pribadi dan sikap guru, suasana belajar, kompetensi guru dan kondisi masyarakat.

1.5. Hasil Peneliatian Yang Relevan

Beberapa penelitian terdahulu berhasil membuktikan bahwa model pembelajaran Examples Non Examples digunakan dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan model pembelajaran konvensional. Defri Haryono (2012) dalam skripsi yang berjudul “Pengaruh model pembelajaran examples non examples terhadap hasil belajar IPA kelas IV SDN Mangunsari 04 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga Semester II Tahun Ajaran 2011 / 2012”. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dibahas pada bab IV dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pengaruh model pembelajaran examples non examples dengan pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Mangunsari 04 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga Semester II Tahun Ajaran 2011/2012. Berdasarkan hasil rata-rata (mean) menunjukan bahwa hasil belajar siswa kelas eksperimen sebesar 19,4848, sedangkan nilai rata-rata siswa kelas kontrol sebesar 8,2500. Hal tersebut menunjukan pengaruh pada kelas yang menggunakan model pembelajaran examples non examples (kelas eksperimen). Artinya bahwa rata-rata nilai kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Dan hasil dari uji t-tes diketahui nilai signifikansi pada uji F adalah 0,242 lebih besar dari 0,05, maka Ho diterima, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian sama (varian kelompok kelas eksperimen dan kontrol adalah sama). Dengan ini penggunaan uji t menggunakan equal variances assumed (diasumsikan kedua varian sama) untuk itu dibandingkan t hitung dengan t tabel dan probabilitas. Oleh karena t hitung > t tabel (4,759 > 1,996) dan signifikansi (0,000 < 0,05), maka Ho ditolak, artinya bahwa ada perbedaan antara rata-rata nilai kelas eksperimen dengan rata-rata nilai kelas kontrol. Nilai t hitung positif, berarti rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Sedangkan perbedaan rata-rata (mean diference) sebesar 1.23485 (19,4848 8,2500) dan perbedaan berkisar antara 6,52277 sampai 15,94693

(15)

Beberapa penelitian terdahulu berhasil membuktikan bahwa model pembelajaran Make A Match efektif digunakan dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan model pembelajaran konvensional. Nofiyanto ( 2013 ) dalam skripsi berjudul “Pengaruh penggunaan model pembelajaran make a macth terhadap hasil belajar IPA pada siswa kelas V SD Negeri 1 Babadan di kecamatan Pagentan Kabupaten Banjarnegara semester II tahun ajaran 2012/2013” Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan dianalisis serta pembahasan yang telah dilakukan pada bab 4, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Bahwa penggunaan metode pembelajaran make a match dalam pembelajaran IPA berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar IPA pada siswa kelas 5 semester 2 di SD Negeri 2 Babadan dibandingkan denganmetode ceramah dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas 5 di SD Negeri 1 Babadan. Dan terdapat perbedaan hasil belajar IPA pada siswa di kedua SD tersebut. Pada kelas eksperimen yang pembelajarannya menggunakan metode pembelajaran make a match diperoleh rata-rata nilai sebesar (79,79), sedangkan pada kelas kontrol yang menggunakan metode ceramah diperoleh rata-rata nilai sebesar (60,24). Jadi terdapat pengaruh yang signifikan, penggunaan metode pembelajaran make a match terhadap hasil belajar IPA pada siswa kelas 5 SD.

Esti Parwanti (2012) dalam skripsi berjudul “ Pengaruh penggunaan model pembelajaran Make A Match dengan media gambar terhadap hasil belajar IPA”. B ahwa dengan penggunaan Make A Match menggunakan media gambar dalam pem belajaran IPA pada materi sumber daya alam dapat berpengaruh positif dan signifi kan terhadap hasil belajar siswa kelas IV semester II SD Negeri Kertosari Kecama tan Jumo, Kabupaten Temanggung?” Terdapat perbedaan hasil belajar IPA pada materi Sumber Daya Alam ditinjau dari perbedaan penggunaan pendekatan pembe lajaran. Pada kelas eksperimen yang pembelajarannya menggunakan model pemb elajaran Make A Match dengan media gambar diperoleh rata-rata nilai sebesar (65, 38), sedangkan pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran secara konvensional (ceramah) diperoleh rata-rata nilai sebesar (55,28) sehingga hasil bel ajar siswa kelas IV SD Negeri 2 Kertosari meningkat.

(16)

1.6. Kerangka Berpikir

Model Pembelajaran example non example yaitu, guru menjelaskan materi sebagai pengantar, kemudian guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan materi yang diberikan. Kemudian setiap kelompok diminta untuk melakukan presentasi secara suka rela. Dan kelompok mengirimkan anggota mereka untuk membagikan hasil diskusi kelompok mereka. Kemudian kembali pada keadaan semula dan materi diakhiri dengan membuat kesimpulan yang dipandu oleh guru.

Model pembelajaran make a match (mencari pasangan) merupakan salah satu metode pengajaran yang berbasis cooperative learning yang menarik dan menyenangkan sehingga siswa dengan mudah memahami pelajaran yang diberikan khususnya pembelajaran kosa kata dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Pengajaran dengan penggunaan metode make a match (mencari pasangan), siswa dapat mengilustrasikan apa yang mereka dapatkan sehingga muncul motivasi terhadap mata pelajaran yang disajikan terutama dalam pembelajaran kosa kata yang menurut mereka sulit. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang kosa kata dengan menggunakan metode make a match (mencari pasangan).

Kerangka berpikir model pembelajaran example non example dan make a match dapat digambarkan sebagai berikut:

(17)

Bagan 2.3

Kerangka berpikir penggunaan model Example Non Example Example Non Example

Sintak / langkah – langkah

Mampu

menggolongkan sumber daya alam berdasarkan

manfaatnya Mampu

menggolongkan sumber daya alam berdasarkan

ketersediaannya Mampu

menggolongkan sumber daya alam berdasarkan jenisnya. Penyajian Masalah Eksplorasi Reaksi Permasalahan Analisis Kemajuan dan Proses Mendaur Ulang Aktivitas Kritis Tanggung Jawab Kerjasama Rasa Ingin Tahu Minat Siswa Muncul Percaya Diri Hasil Belajar

(18)

Bagan 2.4

Kerangka berpikir penggunaan model Make A Match Make A Match

Sintak / langkah – langkah

Mampu

menggolongkan sumber daya alam berdasarkan

manfaatnya Mampu

menggolongkan sumber daya alam berdasarkan

ketersediaannya Mampu

menggolongkan sumber daya alam berdasarkan jenisnya. Penyajian Masalah Menggali Informasi Analisis Kemajuan dan proses Penjelasan Mendaur Ulang Aktivitas Kritis Tanggung Jawab Kerjasama Rasa Ingin Tahu Minat Siswa Muncul Percaya Diri Hasil Belajar

(19)

1.7. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban yang masih bersifat sementara dan bersifat teoritis, hipotesis dapat dilakukan dengan menghubungkan teori yang relevan dengan kenyataan yang ada atau fakta. Pengujian hipotesis dilakukan untuk menentukan apakah hipotesis yang diajukan di terima atau ditolak sesuai dengan keadaan data yang sebenarnya. Hipotesis nihil merupakan hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan atau tidak ada hubungan antara variabel, secara hipotesis dinyatakan dengan H0, hipotesis alternatif diposisikan sebagai bentuk batasan ilmu pengetahuan setelah diperoleh dari kajian teoritis, secara simbolis hipotesis alternativ sering dinyatakan dengan Ha. Maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Ho : Tidak ada perbedaan hasil belajar siswa kelas IV SD dalam pembelajaran menggunakan model Example Non Example dan model Make A Match.

Ha : Ada perbedaan hasil belajar siswa kelas IV SD dalam pembelajaran

Referensi

Dokumen terkait

Definisi menurut Tata Sutabri pada buku Analisis Sistem Informasi (2012:117) , Data Flow Diagram adalah sebagai berikut : “Data Flow Diagram ini adalah

konservatif berusaha melestarikan status quo, sementara yang lainnya berusaha kembali kepada nilai-nilai dari zaman yang lampau, Orang-orang konservatif memusatkan konsentrasi

The sustainability of cocoa production in Tanggamus faced some weaknesses i.e: (1) low availability of high yielding planting materials and that resistant to pest and

Untuk mendeskripsikan relevansi nilai-nilai materi pendidikan agama Islam yang terkandung pada novel Cinta dalam 99 Nama-Mu karya Asma Nadia dengan

Hasil penelitian menunjukan bahwa pekerja fabrikasi, bekisting dan pengecoran di PT X memiliki karakteristik pekerja yaitu usia sebagian besar memiliki usia dengan

Penentuan kadar air dilakukan dengan cara menimbang 1-2 gram serbuk cabe jawa pada.. botol timbang yang bertutup yang telah diketahui

Hasil penelitian peningkatan kreativitas anak dengan menggunakan bahan sisa di Taman Kanak-kanak Aisyiyah 2 Duri, diperlukan pembahasan guna menjelaskan dan

average-based fuzzy time series models , hasil yang di dapat dari penelitian tersebut adalah dilihat dari nilai AFER menunjukkan bahwa metode ini mendekati nilai