• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS AKHIR (TKA 490) MASJID RAYA JOHOR ARSITEKTUR ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TUGAS AKHIR (TKA 490) MASJID RAYA JOHOR ARSITEKTUR ISLAM"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kecamatan Medan Johor merupakan salah satu dari 21 kecamatan di Medan yang sedang mengalami pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Kompleks perumahan, pemukiman, dan pendidikan saat ini telah mengalami pertumbuhan. Tetapi, pertambahan penduduk ini tidak diikuti dengan menambah fasilitas untuk menunjang kegiatan masyarakat tersebut. Salah satu fasilitas yang kurang adalah fasilitas peribadatan, yaitu masjid. Masjid di kecamatan medan Johor masih kurang. Sehingga, apabila akan melakukan shalat hari raya idul fitri, idul adha, shalat jum’at, masyarakat harus berdesakan dan menempuh masjid yang jauh.

Maka, dari latar belakang masalah tersebut, seharusnya di kecamatan Medan Johor harus dibangun Masjid Raya/Besar yang dapat menampung kegiatan masyarakat di kecamatan tersebut. Karena selain sebagai bangunan sentral dalam Islam untuk beribadah, masjid juga berperan sebagai sebuah ruang pertemuan besar, forum politik, serta ruang pendidikan. Kebutuhan untuk shalat berjamaah secara fisik telah terpenuhi dengan tersedianya masjid lengkap dengan tempat beribadah dan berandanya yang beratap, tempat wudhu, mimbar, dan mihrab. Sedangkan, kebutuhan politis terpenuhi dengan adanya gambar dan hiasan yang indah.

Masjid menjadi refleksi hubungan antara dan hubungan internasional dalam sejarah perkembangan peradaban Islam ketika itu. Dapat dikatakan, arsitektur masjid merupakan contoh yang jelas untuk melukiskan perpaduan budaya antara Islam dan daerah sekitar tempat masjid itu berdiri. Selain dipengaruhi oleh budaya daerah setempat, seni arsitektur masjid juga dipengaruhi oleh bahan baku yang tersedia saat itu di wilayah tersebut, yaitu batu, batu bata, ataupun tanah liat.

Phillip K Hitty dalam bukunya, History of the Arabs, mengatakan, Masjid Nabawi di Madinah merupakan prototipe umum arsitektur mas jid-masjid besar pada abad pertama Islam. Arsitektur masjid ini se derhana, hanya terdiri dari pelataran terbuka yang dikelilingi oleh dindingdinding yang terbuat dari tanah liat yang dikeringkan. Untuk menghalangi sinar matahari, ditambahkan atap untuk menutup seluruh ruang yang terbuka. Atap tersebut terbuat dari batang pohon kurma yang juga dimanfaatkan sebagai tiang

(2)

Tak hanya itu, batang kurma juga diletakkan di atas tanah yang kemudian digunakan Nabi Muhammad sebagai mimbar. Pada awalnya, mimbar merupakan tempat duduk yang ditinggikan atau singgasana yang digunakan oleh penguasa dan tidak terkait dengan peribadatan. Namun, dalam perkembangan arsitektur Islam, khususnya masjid, mimbar dijadikan sebagai tempat untuk me nyampaikan khutbah dan hal ter sebut dimulai dari Masjid Nabawi.

Tidak lama menggunakan batang pohon kurma, Nabi Muhammad kemudian mengganti mimbar dengan sebuah podium dari kayu cedar bertangga tiga. Dari bangunan Masjid Nabawi yang sederhana, gambaran umum arsitektur sebuah masjid terdiri dari tiga hal, yaitu beranda atau pelataran, atap, dan mimbar.

Namun, dalam realitas kehidupan muslim, tidak dapat dipungkiri adanya degradasi keimanan, kesolehan, dan kebaikan. Pada akhirnya hal ini melahirkan penyimpangan dan kesesatan dalam kehidupan. Kondisi dan fenomena ini pernah dialami oleh kaum sebelum kita. Secara eksplisit, Al-Qur`an menggambarkannya dalam ayat berikut ini.

“Maka, datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Oleh karena itu, munculnya generasi terbiasa menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu—seperti yang disebutkan dalam ayat di atas, disebabkan oleh tidak adanya perhatian dari generasi sebelumnya. Pendahulunya tidak memberikan pemahaman dan pembinaan terhadap mereka secara kontinyu. Karena, apabila manusia tidak memiliki pemahaman yang baik tentang agamanya, ia cendrung mengikuti apa yang diinginkan hawa nafsunya. Itulah sebabnya, ketika ia memiliki pemahaman yang tidak baik, atau adanya intervensi syubhat dalam paradigma pemikirannya, atau adanya dominasi syahwat yang berlebihan, ia akan mempunyai kecendrungan meyimpang dari jalan kebenaran.

Salah satu alasan bagi mereka yang malas atau tidak mau melakukan ibadah shalat adalah bahwa ia tidak merasakan dampak dan manfaat apapun dari shalat yang dia lakukan. Memang sering terjadi, sesuatu yang semestinya cukup menjadi tidak cukup, kematian misalnya, yang semestinya cukup menjadi sebuah nasehat namum kerap kali seseorang tidak mampu menghadirkan nasehat itu kedalam relung jiwanya.

(3)

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan studi proyek kasus ini adalah:

 Sebagai fasilitas ibadah umat islam dan pusat kegiatan masyarakat  Mengembalikan fungsi masjid seperti pada zaman Rasulullah SAW

 Memberikan alternatif rancangan masjid yang dapat mengakomodasi kegiatan keagaman umat islam

 Menuntaskan degradasi moral yang terjadi dengan memaksimalkan fungsi masjid yang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan moral.

1.3 Rumusan masalah

Masalah yang ada dalam merancang Masjid Raya Johor adalah:

- Mengaplikasikan dan menyelaraskan simbolisme yang sesuai dasar ajaran islam. - Bagaimana merancang suatu Masjid yang memiliki fungsi utama sebagai tempat

ibadah dan fasilitas pendukung lain (perpustakaan, BAZIS, ruang pengelola, pasar islam, dll) yang menjadi satu kesatuan perencanaan yang baik.

- Memecahkan sistem struktur yang tepat agar memaksimalkan ruang yang ada tanpa menyisakan ruang mati.

- Bagaimana menyelaraskan antara bangunan masjid sebagai pusat dakwah dan pendidikan islam dengan landsekap sebagai pusat interaksi masyarakat.

1.4 Metode Pendekatan

Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang akan dihadapi dalam proses perencanaan dan perancangan Masjid Raya Johor ini, maka dilakukan berbagai pendekatan, terdiri dari :

1. Pendekatan Fungsi :

 Menyediakan suatu fasilitas pendidikan yang dapat meningkatkan moral masyarakat.

 Menyediakan ruang untuk interaksi masyarakat. 2. Pendekatan Desain

 Mendalami dan mengetahui fungsi Masjid

 Merancang bangunan yang menerapkan hasil analisa dari perilaku lebah pada berbagai bagian bangunan masjid ini.

(4)

1.5 Lingkup dan Batasan Proyek

Penyelesaian permasalahan dibatasi pada:

 Perancangan yang dilakukan adalah bangunan yang memiliki fasilitas ibadah (utama) dan fasilitas pendukung seperti perpustakaan, pasar, dll.

 Bagaimana menyelaraskan hubungan antara fungsi ibadah (masjid) dengan fasilitas pendukung lainnya.

Batasan- batasan dalam mendesain adalah:

 Kajian arsitektur akan dibatasi oleh tema dalam penyelesaian kasus ini, yaitu Arsitektur Islma.

 Menerapkan Arsitektur Islamyang sesuai dengan ajaran agama Islam ke dalam Masjid Raya Johor ini.

1.6 Asumsi

Asumsi-asumsi diperlukan terutama yang berkaitan dengan hal-hal berikut :  Asumsi tapak yang terutama berkaitan dengan kondisi dan topografi.

 Asumsi-asumsi penentuan program ruang terutama yang berkaitan dengan pengadaan ruang dan penentuan besaran ruang untuk mewadahi kegiatan tertetu.

(5)

1.7 Kerangka Berfikir

JUDUL PROYEK dan TEMA

Judul Proyek: Masjid Raya Johor Tema : Arsitektur Islam

LATAR BELAKANG

- Perbedaan fungsi masjid pada saat sekarang dan zaman Rasulullah SAW - Semakin tingginya degradasi moral masyarakat.

MAKSUD dan TUJUAN

- Menyediakan fasilitas untuk dakwah dan pendidikan. - Menurunkan degradasi moral yang ada pada masyarakat. - Mengembalikan fungsi masjid seperti zaman Rasulullah SAW.

PERMASALAHAN

- Bagaimana menciptakan bentuk bangunan yang sesuai dengan tema arsitektur Islam. - Bagaimana menyediakan ruang-ruang yang sesuai dengan aktifitas-aktifitas yang ada dan

dapat memberikan kenyamanan pada para pengguna.

STUDI LITERATUR dan STUDI BANDING

- Fasilitas masjid. - Kajian tema dengan

bentuk bangunan. PENGUMPULAN DATA - Studi literatur. - Studi banding. - Studi pustaka. STUDI SITE - Ukuran site. - Peraturan Pemerintah - Sempadan bangunan - Batas bangunan. - Potensi. ANALISA

- Analisa kondisi lingkungan yaitu : analisa matahari, vegetasi, view dari dan ke site, vegetasi - Analisa fungsional yaitu: analisa aktifitas, kebutuhan ruang, besaran ruang, hubungan antar

ruang

- Analisa penerapan struktur pada bangunan. v

KRITERIA dan KONSEP PERANCANGAN

Berdasarkan analisa, Peraturan Pemerintah, konsep tapak, dan konsep bangunan

v

F

eed ba

c

(6)

1.8 Sistematika Penulisan Laporan

Secara garis besar, urutan pembahasan dalam penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:

Bab 1 Pendahuluan

Menguraikan latar belakang, tujuan, lingkup dan batasan, yang mendasari dilakukannya studi. Kerangka berpikir yang digunakan dan pembahasan sistematika laporan.

Bab 2 Deskripsi Proyek

Menguraikan tentang terminologi dari judul atau kasus proyek, deskripsi proyek, tinjauan terhadap konteks lingkungan dan tinjauan kelayakan (kelayakan teknis, kelayakan ekonomi dan kelayakan fungsional) dari proyek.

Bab 3 Elaborasi Tema

Menguraikan tentang pengertian tema, interpretasi tema, analisa penentuan tema, dan studi banding tema sejenis.

Bab 4 Analisa

Menguraikan tentang analisa - analisa fisik tapak dan lingkungan sekitar, analisa nonfisik serta analisa - analisa fungsional yang berkaitan dalam hal perancangan ruang dalam, dimana nantinya dari hasil analisa - analisa tersebut diperoleh suatu konsep perancangan untuk kasus proyek ini.

Bab 5 Konsep Perancangan

Menguraikan tentang konsep - konsep dari hasil analisa yaitu konsep tapak, konsep perancangan ruang dalam, konsep perancangan struktur dan konstruksi, konsep perancangan utilitas, dan konsep perancangan interior yang akan diterapkan pada perancangan.

Referensi

Dokumen terkait

Pembangunan Saluran Drainase Lingkungan (2014) Ibu Kota Kec.. Pembangunan Saluran Drainase Lingkungan (2014) Ibu

Melalui tahapan-tahapan tersebut, diharapkan dapat merangsang siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran yang telah mereka dapatkan sebelumnya, yaitu memberikan

Demonstrate a thorough knowledge of the Code of Ethics and Standards of Professional Conduct by applying the Code and Standards to situations involving issues of

Dijelaskan bahwa ada beberapa kemungkinan sumber dari suatu perubahan bahasa, yaitu kegagalan seorang individu dalam membedakan dua bunyi sehingga terjadilah merger ketika

Tikus dan mencit biasanya dipilih sebagai hewan uji karena ukuranya yang kecil, masa hidupnya relatif pendek, mudah didapat, dan ketersediaan data dari penelitian sebelumnya.Untuk

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : Bagaimana kinerja Sistem Informasi Manajemen dalam

Penerapan teknologi merupakan perubahan perilaku dengan kesadaran dan keyakinan bahwa teknologi yang diterapkan akan memberikan manfaat dengan keuntungan yang diperoleh

dalam praktek penanaman modal ( istitsmar ) dengan menggunakan dana zakat yang terkumpul di lembaga-lembaga amil zakat di