• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASPEK Aspek Edukatif Pada Novel Edensor Karya Andrea Hirata: Tinjauan Sosiologi Sastra Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ASPEK Aspek Edukatif Pada Novel Edensor Karya Andrea Hirata: Tinjauan Sosiologi Sastra Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA."

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

ASPEK EDUKATIF PADA NOVEL EDENSOR KARYA ANDREA HIRATA: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA DAN

IMPLEMENTASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRADI SMA

Ratih Bintariyahananingrum A 310 090 183

PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan, Surakarta 57102

Bintari91@gmail.com

ABSTRAK

ASPEK EDUKATIF PADA NOVEL EDENSOR KARYA ANDREA HIRATA: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA

Ratih Bintariyahananingrum, A 310 090 183, Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta 2013, 13Halaman.

(4)

diimplementasikan pada siswa di kelas XI semester 1 (ganjil) dengan standar kompetensi (membaca): 7. Memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/ novel terjemahan dan Kompetensi Dasar 7.2 Menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, pada aspek edukatif pada novel Edensor karya Andrea Hirata ditemukan enam nilaiedukatif dalam novel Edensor karya Andrea Hirata yang dapat diteladani oleh peserta didik, yaitu nilai cinta, nilai toleransi, nilai kerja sama, nilai kebahagiaan, nilai tanggung jawab, dan nilai kesederhanaan.

Kata kunci: aspek edukatif, novelEdensor, teori sosiologi sastra, teori edukatif dan bahan ajar sastra.

A. PENDAHULUAN

Karya sastra lahir karena adanya daya imajinasi yang di dalamnya terdapat ide, pikiran, dan perasaan seorang pengarang. Daya imajinasi yang ada inilah yang mampu membedakan antara karya sastra satu dengan karya sastra yang lainnya. Hal ini di sebabkan masing-masing pengarang mempunyai kemampuan imajinasi dan kepandaian untuk mengungkapkan ke dalam bentuk tulisanyang berbeda-beda.

Karya sastra merupakan hasil karya imajinasi, ekspresi, pikiran dan perasaan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Setiap pengarang menulis karya sastra dengan bahasa masing-masing. Al –Ma’ruf (2010:17) mengemukakan bahwa “karya sastra pada umumnya merupakan karya seni yang merupakan ekspresi pengarang tentang hasil refleksinya terhadap kehidupan dengan bermediumkan bahasa”.

Sastra hadir sebagai wujud nyata imajinasi kreatif dari seorang sastrawan dengan proses yang berbeda antara pengarang yang satu dengan pengarang yang lain, terutama dalam penciptaan cerita fiksi. Proses tersebut bersifat individualis. Artinya, cara yang digunakan oleh tiap-tiap pengarang dapat berbeda. Perbedaan itu meliputi beberapa hal, di antaranya metode, munculnya proses kreatif dan cara mengekspresikan apa yang ada dalam diri pengarang hingga bahasa penyampaiannya yang digunakan (Waluyo, 2002:68). Dengan demikian sebuah karya sastra sangat berpengaruh dengan kepribadian masing-masing tiap pengarang.

Novel merupakan salah satu hasil karya sastra yang diciptakan pengarang dengan penuh imajinasi dan dapat dinikmati oleh pembacanya. Oleh karena itu, novel juga dapat disebut dengan karya fiksi. Fiksi berarti khayalan atau rekaan. Nurgiyantoro (2009:2) menyatakan bahwa karya sastra merupakan karya yang menceritakan sesuatu dengan bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan tidak terjadi dengan sungguh-sungguh.

(5)

pengajaran sastra dapat memberikan sumbangan besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang sulit dipecahkan di dalam masyarakat, karena dengan sastra dapat menciptakan individu-individu yang lebih berkepribadian dan lebih cerdas.Hal ini disebabkan oleh adanya empat cakupan dalam pengajaran sastra yaitu membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang pembentukan watak.

Rumusan masalah dalam penelitian ini: (1) Bagaimanakah struktur yang membangun novel Edensor karya Andrea Hirata?;(2) Bagaimanakah aspek edukatif dalam novel Edensor karya Andrea Hiratadengan tinjauan sosiologi sastra?; dan (3)Bagaimanakah implentasi aspek edukatif dalm novel Edensor karya Andrea Hirata sebagai bahan ajar di SMA?.

Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu: (1) Mendeskripsikan struktur yang membangun novel Ednesor karya Andrea Hirata yang meliputi tema, alur, penokohan, dan latar; (2)Mendeskripsikan aspek edukatif dalam novel Edensor karya Andrea Hiarata dengan tinjauan sosiologi sastra; dan (3) Mendeskripsikan implentasi aspek edukatif dalm novel Edensor karya Andrea Hirata dalam pembelajaran sebagai bahan ajar di SMA.

Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2009:9-10) novel berasal dari bahasa Itali novella(yang dalam bahasa Jerman: novelle). Secara harafiah novella berarti ‘sebuah barang baru yang kecil‘, dan kemudian diartikan sebagai ‘cerita pendek dalam bentuk prosa’. Dewasa ini istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novellet (Inggris: novellete), yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa novel merupakan adalah cerita atau rekaan yang merupakan ungkapan fenomena sosial dalam aspek-aspek kehidupan yang dapat digunakan sebagai sarana mengenal manusia dan zamannya, dan di dalamnya terkandung nilai-nilai kehidupan.

Stuktur berasala dari kata structural (bahasa latin) yang berarti bentuk atau bagunan. Stukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur untuk menganalisis sebuah karya satra, sehingga harus dipertahankan unsur-unsur yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Struktur yang membangun sebuah karya sastra sebagai unsur estetika dalam dunia karya sastra yaitu tema, alur, penokohan, latar , sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat (Ratna, 2004:91-94).

(6)

Strukturalisme merupakan sebuah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sebuah struktur yang terbangun dari unsur yang saling berkaitan anatra satu dengan lainnya secara totalitas dan otonom.Karya sastara yang bersifat otonom, artinya karya sastra terbangun atas unsur-unsur lainnya. Totalitas berarti unsur-unsur yang saling berkaitan menjadi sebuah kesatuan dan tunduk pada kaidah sistem karya sastra (Nurgiyantoro, 2007:56)

Pada dasarnya analisis struktutal bertujuan memaparkan secermat mungkin dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan Nurgiyantoro (2007:37) mengemukakan bahwa langkah-langkah dalam menerapkan teori strukturalisme adalah sebagai berikut: (1) mengindentifikasi unsur -unsur intrinsik yang membangunkarya sastra secara lengkap dan jelas meliputi tema, tokoh, latar dan alur; (2)mengkaji unsur-unsur yang telah didentifikasi sehingga diketahui bagaimana tema, tokoh, latar dan alur karya sastra; (3) mendeskripsikan fungsi masing-masing unsur sehingga diketahui tema, tokoh, latar dan alur dari sebuah karya sastra; dan (4) menghubungkan masing-masing unsur sehingga di ketahui tema, tokoh, latar dan alur sebuah karya sastra.

Berdasarkan uraian di atas, pendekatan struktural dalam pembahasan novel Edensor karya Andrea Hirata mencakup tema, latar, penokohan, dan alur. Keempat unsur tersebut digunakan dalam novel Karena keempat unsur tersebut merupakan unsur yang menunjang jalinan cerita dalam terbentuknya novel Edensor karya Andrea Hirata.

Sosiologi berasal dari kata sosio atau society yang bermakna masyarakat dan logi atau logos yang artinya ilmu. Jadi sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat atau ilmu tentang kehidupan masyarakat (Ekarini, 2003:2). Masyarakat itu sendiri sebenarnya merupakan suatu lembaga yang di dalamnya melibatkan unsur manusia yang saling berinteraksi. Manusia memiliki keunikan tersendiri yang masing-msing individu memiliki penampilan fisik, karakter juga keinginan yang berbeda.

Ritzer (dalam Faruk, 2012:2) menganggap sosiologi sebagai suatu ilmu penegtahuan yang multiparadigma.Maksudnya, di dalam ilmu dapat dijumpai beberapa paradigma yang saling bersaing dalam usaha merebut hegemoni dalam lapangan sosiologi secara keseluruhan.Paradigma itu sendiri diartikannya sebagai satu citra fundamental mengenai pokokannya sebagai suatu ilmu pengetahuan.

(7)

sebagai sesuatu yang nyata, yang berbeda dari berbeda di luar individu.Teori struktural-fungsional dan teori konflik serta metode kuesioner dan interview termasuk dalam paradigma ini.

Ian Watt (dalam Faruk, 2012:5-6) menemukan tiga macam pendekatan yang berbeda.Pertama, konteks sosial pengarang. Hal ini berhubungan dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dna kaitannya dengan masyarakat pembaca. Hal-hal utama yang harus diteliti dalam pendekatan ini adalah : (a) bagaimana pengarang mendapatkan mata pencahariannya; (b) sejauhmana pengarang menganggap pekerjannya sebagai suatu profesi; dan (c) masyarakat apa yang dituju oleh pengarang. Kedua, sastra sebagai cermin masyarakat. Hal-hal utama yang mendapat perhatian adalah: (a) sejauh mana sastra mencerminka masyarakat pada waktu karya sastra itu ditulis; (b) sejauh mana sifat pribadi pengarang mempengaruhi gambaran masyarakat yang ingin disampaiakannya; (c) sejauh mana genre sastra yang digunakan pengaranf dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat. Ketiga, fungsi sosial sastra. Dalam hubungan ini ada tiga hal yang menjadi perhatian: (a) sejauh mana sastra dapat berfungsi sebagai perompak masyarakatnya; (b) sejauh mana sastra hanya berfungsi sebagai penghibur saja, dan (c) sejauh mana terjadi sintesis antara kemungkinan (a) dengan (b) diatas.

Wellek dan Warren (dalam Ekarini, 2003:4) mengatakan bahwa biasanya masalah seputar “sastra dan masyarakat“ bersifat sempit dan eksternal. Sastra dikaitkan dengan situasi tertentu atau dengan sistem ekonomi, politik, dan sosial tertentu. Penelitian dilakukan untuk menjabarkan pengaruh masyarakat terhadap sastra dan kedudukan sastra dalam masyarakat. Pendekatan sosiologis ini terutama dipakai untuk pendukung filsafat tertentu.

Analisis sosiologi memberikan perhatian yang besar terhadap fungsi-fungsi sastra, karya sastra sebgai produk masyarakat tertentu. Konsekuensinya, sebagai timbal balik, karya sastra mesti memberikan masukan, manfaat, terhadap struktuk sosial yang menghasilkannya (Ratna, 2003:1). Permasalah yang berkaitan dengan masyarakat dengan sendirinya lebih beragam sekaligus lebih kompleks dalam sastra regional, dan sastra nusantara.

Damono (2002:2) mengatakan bahwa karya sastra merupakan potret kehidupan masyarakat dan kenyataan sosial pada zamannya.Pendekatan terhadap sebuah fenomena yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan disebut sosiologi.Sosiologi sastra adalah pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan.

(8)

Kedua, pendekatan yang mengutamakan sastra sebgai bahan penelaah. Metode yang digunakan adalah analisis teks untuk mengetahui strukturnya, kemudian dipergunakan untuk memahami lebih dalam lagi sosial di luar sastra. Sosiologi sastra bertujuan untuk mendapatkan fakta dari amsyarakat yang mungkin dipergunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan masyarakat.

Tujuan sosiologi sastra adalah meningkatkan pemahaman terhadap karya sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, dalam hal ini karya sastra direkontruksikan secara imajinatif, tetapi kerang imajinatifnya tidak bisa dipahami di luar karya empirisnya dan karya sastra bukan semata-mata merupakan gejala individual, tetapi gejala sosial Ratna, 2003:11).

Wilayah sosiologi sastra cukup luas. Wellek dan Warrent (1995:111) membagi masalah sosiologi sastra sebagai berikut: (1)sosiologi pengarangyaitu mempersalahkantentang dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang diluar karya sastra; (2) sosiologi karyayaitu mempersalahkan maksudnya isi karya sastra, tujuan serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial; serta (3)sosiologi pembaca yaitu perrmasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra. Sejauh mana sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan, dan perkembangan sosial.

Nilai merupakan sesuatu yang sangat dihargai, selalu dijunjung tinggi, serta manusia dapat merasakan kepuasan dnegan nilai. Nilai jika dihayati akan berpengaruhi pada cara berfikir, cara bersikap, maupun cara bertindak seseoarang dalam mencapai tujuan hidupnya.

Jalaludin (2011: 8) mengemukakan bahwa nilai edukatif merupakan nilai menuju kenaikan dan keluhuran manusia. Menurut Waluyo (2002: 27) makna nilai yang didalam sastra adalah kebaikan yang ada dalam makna karya sastra bagi kehidupan seoarang. Hal ini berarti bahwa dengan adanya berbagai wawasan yang terdapat dalam karya asastra, khususnya novel, akan mengandung berbagai macam nilai kehidupan yang akan sangat bermanfaat bagi pembaca.

Menurut Tillman (2004:4-273) nilai edukatif ada 12 macam antara lain: (1) Nilai Kedamaian, (2) Nilai penghargaan, (3) Nilai Cinta, (4) Nilai Toleransi, (5) Nilai Kejujuran, (6) Nilai Kerendahan hati, (7) Nilai Kerja Sama, (8) Nilai Kebahagiaan, (9) Nilai Tanggung Jawab, (10) Nilai Kesederhanaan , (11) Nilai Kebebasan, dan (12) Nilai Persatuan.

B. METODE PENELITIAN

(9)

Hirata.Subjek penelitian ini adalah novel Edensor karya Andrea Hirata.Data dalam penelitian ini adalah data kualitatif.Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas sumber data primer dan sumber data sekunder.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka dan catat.Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik trianggulasi yaitu trianggulasi teori.Proses analisis data dalam penelitian ini menggunakan pembacaan dialektika.

C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Struktur Novel Edensor Karya Andrea Hirata

Stanton (2007:22) mengatakan bahwa analsis struktural terdiri atas tema, fakta cerita (karakter, alur, dan latar ), dan sarana cerita. Pembahasan struktur novel Edensor karya Andrea Hirata pada penelitian ini mencakup tema, plot, penokohan, dan latar karena keempat unsur tersebut terlihat jelas dan menunjang cerita dalam novel Edensor karya Andrea Hirata.Analisis struktural novel Edensor karya Andrea Hirata sebagai berikut.

a. Tema

a. Tema novel Edensor karya Andrea Hirata perjuangan meraih cita-cita dan pencarian cinta sejati yaitu perjuangan anak muda yang mempunyai tekat kuat dalam menimba ilmu yaitu meraih cita-cita sekolah di Sorbonne meskipun kondisi finansial keluarganya yang sederhana, namun ia berusaha keras dan bertanggung jawab menyelesaikan S1 tepat waktu dengan nilai yang bagus. Ikal dan Arai mengikuti tes beasiswa S2, dan pengorbanan mencari cinta sejati hingga mengelilingi Eropa demi cinta sejatinya yaitu A Ling gadis Hokian yang merupakan cinta pertama Ikal. Sampai akhirnya pertualangan Ikal di Eropa berakhir saat Ikal menemukan desa Edensor yang indah sejuk penuh dengan tanaman dan pagar-pagar rumah yang merupakan gambaran dari sosok A Ling gadis yang dia cintai sejak kecil. Di desa Edensor ini Ikal merasa telah menemukan A Ling kembali.

b. Fakta cerita 1) Alur

Alur cerita novel Edensor karya Andrea Hirata tersebut dirangkai secara kontinuitas dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang tersusun secara beraturan tanpa adanya pengurangan peristiwa.Alur yang digunakan adalah alur campuran atau alur maju mundur.

2) Penokohan

(10)

termasuk ke dalam tokoh protagonis adalah ayah Ikal, Arai, Ikal dan Famke, sedangkan tokoh antagonis adalah Weh, bu Ikal, Dr. Michaella Woodward, dan Simon. Berdasarkan perwatakannya, yang termasuk ke dalam tokoh bulat adalah Ikal, sedangkan tokoh sederhana yaitu Arai, Weh, Ayah Ikal, Ibu Ikal, A Ling, Famke, Dr. Michaella Woodward, Erika Ingeborg, dan Simon.Karakteristik masing-masing  tokoh  berdasarkan tiga aspek, yaitu fisiologis,

psikologis, dan sosiologis. 3) Latar

Latar yang terdapat dalam novel Edensor karya Andrea Hirata di bagi menjadi tiga unsur yaitu tempat, waktu, dan sosial. Latar tempat di ceritakan di Indonesia dan Eropa. Latar waktu tahun 1982 sampai 2005, bahwa penceritaan atau pengisahan cerita kurang lebih selama dua puluh lima tahun. Latar sosial di ceritakan latar sosial budaya masyarakat melayu (budaya timur), dan latar sosial masyarakat Eropa (budaya barat).

2. Aspek Edukatif Pada Novel Edensor Karya Andrea Hirata

Berdasarkan pengamatan peniliti, tidak semua nilai edukatif (dua belas nilai edukatif yang ditemukan Tillman) seperti disebutkan di atas terdapat di dalam novel Edensor.Nilai -nilai edukatif yang menonjol dalam novel Edensor karya Andrea Hirata yaitu nilai cinta dan kasih sayang terhadap sesame umat manusia, nilai toleransi, nilai kerja sama, nilai kebahagiaan, nilai tanggung jawab dan nilai kesederhanaan.Berikut adalah beberapa nilai cinta yang membangun novel Edensor ini, antara lain sebagai berikut.

a. Nilai cinta terhadap Sesama Umat Manusia

Nilai cinta terhadap sesama umat manusia digambarkan oleh Ayah dan Ibu Ikal lebih menuju kea rah empat. Hal ini bisa terjadi karena perasaan jiwa orang tua Ikal di ikuti dengan perasaan tubuh yang sangat mendalam. Hal ini di tunjukkan oleh Orang tua Ikal yang berempati terhadap teman dan kerabat mereka. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Aku masih kecil dan Weh sudah tua ketika kami bertemu.Weh adalah sahabat masa kecil ayah ibuku. Puluhan tahun ia telah hidup di perahu. Perkenalan kami terjadi gara-gara aku disuruh ayahku mengantar beras dan knur lemparkan!” hardiknya melihat benda-benda di tanganku” (Edensor, 2007:3).

(11)

sayang terhadap sesama. Hal ini dibuktikan oleh tokoh Ikal, Ayah dan Ibu Ikal, serta Arai adalah sosok yang mempunyai rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama umat manusia, teman, dan kerabat secara tulus.

b. Nilai Toleransi

Nilai toleransi antar umat beragama dalam novel Edensor ini digambarkan jelas di kampong Belitong. Tokoh A ling yang keturunan cina, ia bersama keluarganya hidup di masyarakat melayu yang lebih cenderung ke agama Islam. Mereka saling menghormati adanya perbedaan agam tersebut, dan mereka hidup rukun dan saling menghargai.Hal ini dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut.

“Belitong menjelang malam, adalah semburan warna dari seniman impresi yang melukis spontan, tak dibuat-buat, dan memikat….. Masjid seperti oase bagi semua anak melayu udik….”(Edensor, 2007:26 ).

“…Di depan gadis Hokian itu, aku lupa semua namaku. Perasaan indah memancar sampai ke ujung-ujung simpul pembuluh darahk” (Edensor, 2007:29).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam novel Edensor yang awalnya berlatar social di Belitong yang merupakan masyarakat melayu yang kental akan budaya Islam. Namun dalam novel ini berdasarkan pada kutipan-kutipan di atas menjelaskan bahwa masyarakat Belitong menggamabrakan nilai edukatif yaitu berupa nilai toleransi antar umat beragama.

c. Nilai Kerja Sama

Nilai kerja sama ini di gambarkan jelas oleh tokoh Ikal dan Arai. Ada beberapa peristiwa-peristiwa dalam novel ini yang menggambarkan adanya nilai edukatif berupa nilai kerja sama. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini seperti berikut.

“Aku dan Arai seperti tupai sibuk mengumpulkan biji-biji pinang. Kami banting tulang mencari uang. Melalui persengkokolan imagren gelap, aku mendaptkan pekerjaan part time sebagai door man, tukang buka pintu di Restorant La Jaconde DI Goncourt...”(Edensor,148-149).

(12)

Mereka bekerja sama dengan satu tujuan yang sama yaitu meraih cita-cita S2 di Sorbonne dan menjelajahi Eropa.

d. Nilai kebahagiaan

Di dalam novel Edensor nilai edukatif yang berupa nilai kebahagiaan di tunjukkan oleh Ikal dan Arai saat mereka sedang berada di Belitong, mereka menerima surat pengumuman tes beasiswa itu dari Dr. Michaela Woodword, Ikal dan Arai berhasil mendapatkan beasiswa itu. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Aku dan Arai menerima surat pengumuman tes beasiswa itu di Belitong. Dr. Michaella Woodward yang memberi komentar pada pengumuman itu membuat kami berbedar hati….” (Edensor, 2007: 45).

Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bawah novel Edensor karya Andrea Hirata mempunyai nilai edukatif berupa nilai kebahagiaan. Hal ini di gambarkan oleh tokoh Ikal, dan Arai menggambarkan nilai kebahagiaan yang luar biasa dalam hidupnya, dan kebahagiaan untuk keluarga Ikal setelah perjuangan yang mereka lalui. Nilai kebahagiaan tersebut di tandai dengan Ikal dan Arai yang hanya seoarang anak pegawai buruh namun mereka bisa membuktikan mereka dapat lulus SMA. Ikal dapat diterima di ITB dna bekerja di kantor pos. Mereka pus lulus tepat waktu dan coum loude.Ikal dan Arai pun mengikuti tes S2 di Soebonne dan mereka pun dilolos dan sekolah S2 di Sorbonne. Peristiwa-peristiwa tersebut yang menunjukkan kebahagaian

e. Nilai Tanggung Jawab

Dalam novel Edensor karya Andrea Hirata terdapat beberapa nilai tanggung jawab dari tanggung jawab dalam juga tanggung jawab dalam keluarga.Dalam novel Edensor nilai tanggung jawab dapat dilihat pada kutipan berikut.

“….. Dengan sogokan sebungkus kuaci, kuhasut adikku si nomor enam itu untuk menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan pengeras suara masjid. Suarannya yang cadel melolong-lolong seantero kampung”(Edensor, 2007:23).

“Aku dan Ayah kena sidang” Edensor, 2007:23).

(13)

telah Ikal perbuat, dan tokoh Ayah Ikal memiliki rasa tanggung jawab seorang ayah terhadap keluarganya

f. Nilai Kesederhanaan

Dalam novel Edensor karya Andrea Hirata terdapat nilai kesederhaan.Nilai keserderhaan ini ditunjukkan salah satunya oleh Ayah Ikal.Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini seprti berikut.

“Ayah baru pensiun. Mengherankan ia dapat bertahan di tambang selama puluhan tahun. Ayah adalah seorang family man. Sejak muda ia menngencangkan ikat pinggang bekerja membanting tulang. Seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya. Setiap tindak lakunya hanya untuk memberikan yang terbaik pada keluarganya”(Edensor, 2007: 48).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Edensor karya Andrea Hirata mempunyai nilai edukatif yang berupa nilai kesederhaan. Hal ini digambarkan oleh tokoh ayah Ikal merupakan tokoh yang mempunyai nilai kesederhanaan. Hidup sederhana sejak muda yang dilakukan Ayah Ikal membawa kehidupan mereka walaupun Ayah Ikal hanya seorang pegawai PN Timah, namun kebutuhan pendidikan sampai SMA bisa ikal dan Arai tempuh. Hal ini yang menjadi bekal Ikal dan Arai sehingga mereka dapat meraih cita-cita.

Berdasarkan analisis aspek edukatif pada novel Edensor karya Andrea Hirata tinjuan semiotik dapat di ketehui nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam novel Edensor. Ada enam nilai edukatif yang terkandung dalam novel Edensor karya Andrea hirata yaitu: 1) nilai cinta dan kasih sayang terhadap sesama umat manusia; 2) nilai toleransi; 3) nilai kerja; 4) nilai kebahagiaan; 5) Nilai tanggung jawab; dan (6) nilai kesederhanaan.

3. Implenmentasi Aspek Edukatif dalam Novel Edensor sebagai Bahan Ajar Sastra di SMA

(14)

alat simulatif dalam language acquisition; (3) media dalam memahami budaya masyarakat; (4) alat pengembangan kemampuan interpretative; dan (5) sarana untuk mendidik manusia seutuhnya (educating the whole person).

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang dapat memberikan perenungan, penghayatan, dan tindakan pembacanya tentang nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam ceritanya.

a. Relevansi Aspek Edukatif dengan Standar Isi

Materi pembelajaran sastra Indonesia tentang aspek edukatif dalam novel Edensor karya Andrea Hirata, diterapkan pada kelas XI semester 1.Standar Kompetensi (Membaca) 7.Memahami berbagai hikayat, novel Indonesia / novel terjemahan, dan Kompetensi Dasar 7.2 Menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia / terjemahan.

b. Relevansi Pembentukan Kepribadian dalam Diri Peserta Didik

Sastra dapat mendorong orang untuk menerapakan moral yang lebih baik dan luhur dalam kehidupannya, menyadarkan manusia akan tugas dan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan, sosial serta memiliki kepribadian yang luhur hal ini sesuai dengan pendapatnya Nurgiyantoro (2007:323) bahwa fiksi mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh sesuai pandangan mengenai moral.

Aspek edukatif dalam novel Edensor karya Andrea Hirata dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam pembentukan kepribadian dalam diri peserta didik.Pembelajaran bahasa Indonesia termsuk di dalamnya tentang kesustraan berperan besar dalam mengajarakan nilai-nilai luhur kepada anak bangsa. Dengan membaca dan memahami novel tersebut peserta didik diharapakan mampu meledani nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya sehingga terbentuk kepribadian yang positif dan berinteraksi dnegan kehidupan sosialnya. Siswa dapat diberikan contoh keteladanan dan sikap tokoh yang terdapat dalam novel. Sebagai contoh penerapan nilai edukatif cinta trehadap sesama, salah satunya terdapat dalam kutipan berikut.

(15)

Dari kutipan di atas dapat diambil nilai edukatif dari sikap Arai untuk melindungi seseorang dia sayang karena Arai tidak tega melihat saudaranya menghadapi kesulitan. Rasa cinta dan kasih sayang itu ditunjukkan Arai dengan sikap selalu melindungi Ikal dengan menggendong Ikal sampai berpuluh-puluh kilometer dengan keadaan berpuasa hingga kaki Arai berdarah karena terjepit jalanan kasar sepatu karet, namaun ia tetap memikul Ikal sampai dirumah.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa novel Edensor karya Andrea Hirata sangat relevan dengan pembelajaran SMA.Nilai-nilai edukatif dalam novel Edensor karya Andrea Hirata diharapkan dapat membentuk kepribadian peserta didik yang memiliki akhlak dan moral yang baik.

Daftar Pustaka

Al –Ma’ruf. .2010.DimensiSosial dalam Fiksi Indonesia Modern: Fenomena Perkawinan Lintas Aagama dalam Novel Keluarga Permana Karya Ramadhan K.H: Kajian Semiotik Surakart : SmartMedia.

Damono, Sapardi Djoko. 2002. Pedoman Penelitian Sosiologi Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Department Pendidikan Nasional.

______. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Cetakan IV. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Faruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra Dari Strukturalisme Genetik Sampai Pro-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_______. 2012. Pengantar Sosiologi Sastra Dari Strukturalisme Genetik Sampai Pro-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_______. 2012. Pengantar Sosiologi Sastra Dari Strukturalisme Genetik Sampai Pro-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hadiwardoyo, Purwo.1994. Moral dan Masalahnya. Yogyakarta: Kanisius.

Hirata, Andrea. 2007. Edenso. Yogyakarta: PT Bentang.

Jalaludin, H. 2011. Filsafat Pendidikan: Manusi, Filsafat, dan Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

(16)

Jalaludin, H. 2011. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Lazar, Gillian. 1993. Literature and Language Teaching, Answer Guide Teachers and Trainers. United Kingdom: Cambridge University Press.

Mahsun.2005. Metode Penelitian Bahasa; Tahapan Strategis, Metode dan Tekniknya.Jakarta : Rajawali Press.

Moeleong, Lexy. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya

Mursal. 1992. Apresiasi Sastra. Padang: Angkasa.

Nurgiyantoro, Burhan. 2007.Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

_______. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajdah Mada University Press.

_______. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_______. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_______. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra . Yogyakarta: Pustka Pelajar.

Rubiyanto, Rubino dkk. 2004. Landasan Pendidikan. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Sangidu. 2004. Penelitian Sastra, Pendekatan, Teori, Metode Teknik, dan Kiat. Yogyakarta: Unit Penerbitan Sastra Asia Barat Falkultas Ilmu Budaya University Gajah Mada.

Stanton, Robert. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Siswantoro.2005 .Metode Penelitian Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

(17)

Sutopo, HB.2002. Metodologi Penelitian Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

_______. 2006. MetodePenelitian Kualitatif: Teori dan Aplikasinya dalam Penelitian.Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Waluyo, Herman.2002. Apresiasi dan Pengajaran Sastra. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

_____. 2002. Pengkajian Sastra Rekaan. Salatiga: Widyasari Press.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, saya akan mencari materi yang tepat dan menggunakan beberapa teknik untuk mengajar vocabulary seperti menggunakan alat peraga dan permainan.. Solusi tersebut

Tesis : Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: 1) untuk mendiskripsikan karakteristik kegiatan

[r]

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan pembatasan antara fungsi pelaporan pejabat diplomatik dengan kegiatan spionase berdasarkan Konvensi Wina 1961 dan

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung perubahan penggunaan dan tutupan lahan yang terjadi dalam kurun 2 dekade, antara 1989 dan 2006 dengan mengggunakan citra Landsat 5

Tugas Akhir dengan judul “ Proses Pengolahan Berita Citizen Journalism Pada Program Wide Shot Metro TV ” ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan

Catatan peneliti tentang kesepakatan Penyuluh KB dengan PPKB-RW sebagai berikut: penyuluh KB akan segera mendistribusikan formulir pendataan; Kegiatan kunjungan rumah sudah

16 Gereja: GPPD Biskam di Nagapaluh, Gereja Katolik di Napagaluh, Gereja Katolik di Lae Mbalno, Gereja Katolik di Lae Mbalno, JKI Sikoran di Sigarap, GKPPD Siatas, GKPPD