JARINGAN LIQO’ (HALAQAH) PKS DALAM GERAKAN SOSIAL 212 (Studi Terhadap Liqo’ PKS Kota Bekasi)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh
Igman Yuda Pratama 11141120000036
PROGRAM STUDI ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1442 H / 2021
i
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME Skripsi yang berjudul
JARINGAN LIQO (HALAQAH) PKS DALAM GERAKAN SOSIAL 212 (Studi Terhadap Liqo PKS Kota Bekasi)
1. Merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dan karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 19 Juli 2021
Igman Yuda Pratama
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI Nama : Igman Yuda Pratama
NIM : 11141120000036
Program Studi : Ilmu Politik
Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul:
JARINGAN LIQO (HALAQAH) PKS DALAM GERAKAN SOSIAL 212 (Studi Terhadap Liqo PKS Kota Bekasi)
dan telah diuji.
Jakarta, 19 Juli 2021
Mengetahui, Menyetujui,
Ketua Program Studi, Pembimbing,
Dr. Iding Rosyidin, M.Si Dr. Sirojjudin Aly, M.A.
NIP: 197010132005011003 NIP: 195406052001121001
iii
NIP: 197010132005011003 NIP: 197704242007102003
NIP: 197201052001121003 NIP: 198503112018012001
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI SKRIPSI
JARINGAN LIQO (HALAQAH) PKS DALAM GERAKAN SOSIAL 212 (Studi Terhadap Liqo PKS Kota Bekasi)
Oleh
Igman Yuda Pratama 11141120000036
Telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal Skripsi Ini Telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Ilmu Politik.
Ketua, Sekretaris,
Dr. Iding Rosyidin, M.Si Suryani, M.Si
Penguji I, Penguji II,
Dr. Nawiruddin, M.Ag. Khoirun Nisa, MA.Pol.
Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat kelulusan pada tanggal 19 Juli 2021 Ketua Program Studi Ilmu Politik
Dr. Iding Rosyidin, M.Si FISIP UIN Jakarta
NIP: 197010132005011003
iv ABSTRAK
Skripsi ini menganalisis tentang jaringan liqo PKS Kota Bekasi sebagai kekuatan civil society yang bertransformasi menjadi sebuah gerakan sosial terutama dalam gerakan sosial 212. Penelitian ini menjelaskan tentang modal sosial yang terdapat dalam jaringan liqo yang berperan penting dalam perekrutan dan keberhasilan jaringan liqo menjadi sebuah gerakan sosial. Selain itu, penelitian ini juga menjelaskan faktor yang memengaruhi jaringan liqo untuk terlibat dalam gerakan sosial 212 dan mendeskripsikan gerakan sosial yang dilakukan oleh jaringan liqo kota Bekasi.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus melalui analisa deskriptif dari keberadaan jaringan liqo Kota Bekasi sebegai kekuatan civil society yang bertransformasi menjadi sebuah gerakan sosial dalam gerakan aksi bela Islam 212. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui wawancara sebagai data primer dan studi pustaka sebagai data sekunder.
Kerangka teori dalam skripsi ini menggunakan teori modal sosial untuk melihat sejauh mana modal sosial yang terdapat di dalam jaringan liqo. Selain itu, penulis juga menggunakan teori gerakan sosial McAdam dan Tarrow untuk menjelaskan konsep dan pola sumber daya jaringan liqo dalam gerakan sosial 212.
Penulis juga menggunakan konsep civil society guna menjelaskan faktor-faktor keterlibatan jaringan liqo dalam gerakan sosial 212.
Penelitian kualitatif ini membuktikan bahwa jaringan liqo PKS Kota Bekasi memiliki modal sosial yang cukup kuat untuk menjadi sebuah kekuatan civil society. Jaringan liqo kemudian bertansformasi menjadi gerakan sosial terutama dalam gerakan sosial 212. Keterlibatan jaringan liqo untuk terlibat dalam gerakan sosial 212 meiliki dua faktor yaitu faktor ideologi dan faktor politik. Pola dan jaringan sumber daya yang diterapkan jaringan liqo Kota Bekasi menggunakan teori kesempatan politik, mobilisasi dan framing cukup berhasil. Hal ini ditandai dengan banyaknya anggota liqo yang terlibat dalam gerakan sosial 212 dan keberhasilan jaringan liqo mencapai tujuannya dalam gerakan sosial 212.
Kata kunci: PKS, Jaringan liqo, Modal Sosial, Gerakan Sosial, Aksi Bela Islam 212
v
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Alhamdulillah penulis panjatkan syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan kemudahan kepada penulis sehingga skripsi ini dengan judul “Jaringan Liqo (Halaqah) PKS Dalam Gerakan Sosial 212 (Studi Terhadap Liqo PKS Kota Bekasi)” dapat terselesaikan. Shalawat serta salam tidak lupa penulis panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi tauladan bagi seluruh umat islam. Hambatan yang dialami dalam penulisan skripsi ini bisa terlewati karena doa yang senantiasa dipanjatkan oleh kedua orang tua dan keluarga. Rampungnya skripsi ini melibatkan begitu banyak orang. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada
1. Prof. Dr. Amany Lubis, M.A, selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beserta seluruh staf dan jajarannya.
2. Prof. Dr. Ali Munhanif, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beserta seluruh staff dan jajarannya.
3. Dr. Sirojjudin Aly, M.A. selaku dosen pembimbing yang dengan baik dan sabar meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing penulis sampai bisa menyelesaikan skripsi ini.
4. Dr. Iding Rosyidin, M.Si, selaku Ketua Program Studi Ilmu Politik yang telah membantu dan memudahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas bimbingan, kritikan dan dorongannya selama ini.
vi
5. Suryani, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Terima kasih atas bimbingan, kritikan dan dorongannya selama ini.
6. Dr. Nawiruddin, M.Ag. dan Khoirun Nisa, MA.Pol., selaku penguji skripsi. Terima kasih atas bimbingan, kritikan dan dorongannya selama sidang dan revisi skripsi untuk menjadi skripsi yang lebih baik lagi.
7. Seluruh dosen pengajar di FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terutama Program Studi Ilmu Politik yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis selama kuliah.
8. Tunggul Pamungkas, Abdul Syarif, dan Riski Sugio. Terima kasih atas kesediaan waktunya untuk memberikan informasi dan bersedia menjadi narasumber dalam penelitian ini.
9. Orang tua Sumadi dan Yaminem, serta adik-adik (Imas dan Lenni) yang selalu memberikan doa, dukungan dan kasih sayangnya kepada penulis untuk dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik
10. Teman sekaligus pendamping hidup Penulis, istriku Anis Suminar dan anak ku yang tercinta Maglic Yada Abqary, yang selalu mendukung segala kegiatan penulis. Terima kasih telah bersedia menghabiskan waktu sejak kuliah hingga lulus universitas.
11. Teman-teman seperjuangan dan kawan-kawanku tercinta Ilmu Politik B 2014, Muhammad Aprizal, Nadya Nurul Milla, Anita Aprilia Sari,
vii
Hisyam Jauhari, Muhammad Mardhiyulloh, serta Hammardan Gazalba Harahap, Alvin Esa Priatna, Harumbi Prasetya, Fitra Aditya, Reno Meidi, Nafiah, Wofa Triansah, Randy Andita, Barri Zilhaq Vindia, Nur Najmawan, Aufarmario, Rizki Syahputra (Kyai), Yasser Pratama Hutabarat, Fahmil Rozi, Indra, Deni Rachmat, Yodi Tri Hutomo. Terima kasih telah menjadi teman sekaligus keluarga.
12. Keluarga besar kelompok KITA 2017. Terima kasih sudah memberikan banyak pelajaran dan pengalaman selama sebulan tinggal bersama di Desa Cileles, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.
13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-satu, terima kasih atas semangat dan dukungan yang diberikan baik berupa doa, moril maupun materil, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis berharap segala dukungan dan doa ini mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Rasa hormat dan terimakasih bagi semua yang telah berkontribusi dalam penulisan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu- persatu. Semoga skripsi ini bisa bermanfaat baik dalam segi akademik maupun praktis.
Jakarta, 12 Juli 2021
Igman Yuda Pratama
viii DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI... ii
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Pernyataan Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 11
B. 1. Pembatasan Masalah……… 11
B. 2. Perumusan Masalah………. 11
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 11
C. 1. Tujuan Penelitian………. 11
C. 2. Manfaat Penelitian………... 12
D. Tinjauan Pustaka……… .. 12
E. Metodologi Penelitian ... 15
F. Sistematika Penulisan... 17
BAB II ... 19
KERANGKA TEORETIS ... 19
A. Teori Modal Sosial ... 19
A. 1. Norma ... 25
A. 2. Kepercayaan (trust) ... 27
A. 3. Jaringan (Network) ... 28
B. Teori Gerakan Sosial ... 30
B. 1. Gerakan Sosial Baru ... 35
a. Teori Kesempatan Politik ... 37
b. Teori Mobilisasi ... 38
c. Teori Proses Framing ... 39
C. Teori Civil Society ... 41
ix
BAB III ... 46
GAMBARAN UMUM JARINGAN LIQO PKS DI KOTA BEKASI DAN GERAKAN SOSIAL 212 ... 46
A. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Bekasi ... 46
A.1. Sejarah Partai Keadilan Sejahtera ... 46
A.2. Profil DPD PKS Kota Bekasi Periode 2015-2020 ... 51
B. Jaringan liqo ... 54
C. Gerakan Sosial 212………... 59
BAB IV ... 66
KETERLIBATAN DAN MOBILISASI JARINGAN LIQO KOTA BEKASI DALAM GERAKAN SOSIAL 212... 66
A. Pemanfaatan Modal Sosial dalam Merekrut dan Mobilisasi Jaringan Liqo Kota Bekasi ... 66
A. 1. Norma ………. 71
A. 2. Kepercayaan. ... 73
A. 3. Jaringan ... 75
B. Faktor-Faktor Keterlibatan Jaringan Liqo Kota Bekasi dalam Gerakan sosial 212 ... 78
B. 1. Faktor Ideologi ... 78
B. 2. Faktor Politik ... 81
C. Pola Keterlibatan dan Jaringan Sumber Daya Jaringan Liqo dalam Gerakan Sosial 212 ... 84
C. 1. Kesempatan Politik ... 86
C. 2. Mobilisasi ... 90
C. 3. Framing... 93
x
BAB V ... 98
PENUTUP ... 98
A. Kesimpulan ... 98
B. Saran ... 101
DAFTAR PUSTAKA ... 103
1 BAB I PENDAHULUAN
A. PERNYATAAN MASALAH
Pada penghujung tahun 2016tepatnya pada tanggal 6 oktober 2016 dini hari, publik dihebohkan dengan munculnya video penghinaan terhadap umat Islam yang dilakukan oleh petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama atau biasa dipanggil dengan nama Ahok. Kejadian tersebut menyita perhatian nasional bahkan internasional. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama dianggap telah melakukan penghinaan terhadap kaum Muslimin. Hal ini terjadi pada pada bulan September 2016 di Kepulauan Seribu. Ahok dituding melakukan penghinaan dengan menyelewengkan kutipan ayat dari Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 pada saat pidato di hadapan sejumlah masyarakat. Jutaan umat Islam marah dan merencanakan aksi gerakan turun ke jalan guna menuntut Ahok agar segera diadili.1
Gerakan umat Islam yang turun ke jalan ini dinamakan Aksi Bela Islam.
Gerakan tersebut merupakan gerakan terbesar dan massif yang diikuti oleh jutaan umat Islam dari berbagai daerah. Gerakan ini pun tidak hanya dilakukan selama satu kali saja, melainkan sampai tiga kali, terhitung dari gerakan 410, 411, dan terakhir 212. Gerakan ini dinamakan sesuai dengan tanggal kejadian perkara,
1 Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20161124075029-12- 174911/kronologi-kasus-buni-yani-penyebar-video-ahok-soal-al-maidah pada tanggal 1 maret 2021.
2
misalnya gerakan 212 berarti gerakan yang dilakukan pada tanggal 2 Desember 2016.2
Serangkaian Aksi Bela Islam mendapati puncaknya pada gerakan 212.
Jutaan umat Islam turun ke Monumen Nasional hingga ke jalan-jalan dalam aksi damai tersebut. Jutaan umat Islam yang datang dari berbagai lapisan dan daerah melakukan sholat Jumat berjamaah di Mesjid Istiqlal Jakarta, kemudian dilanjutkan dengan melakukan orasi untuk menuntut Ahok.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS), partai yang berbasis Islam ini pun tak mau ketinggalam dalam aksi ini. Apalagi lawan dari Ahok dalam pilkada DKI Jakarta adalah Anis Baswedan, calon yang diusung oleh PKS dan didampingi oleh Sandiaga Uno sebagai calon wakil dari partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).
Berbagai warta pun membenarkan bahwa PKS mendukung dan mengajak rakyat Indonesia khususnya umat Islam untuk turut ambil bagian dalam gerakan Aksi Bela Islam ini. Ketua Umum PKS, M Sohibul Iman dalam berbagai wawancaranya dengan media, mengharapkan pastisipasi umat Islam untuk menuntut Ahok yang telah melecehkan agama Islam. Hal ini menjadi momentum yang tepat bagi PKS untuk mendiskreditkan dan menurunkan elektabilitas Ahok di mata masyarakat, dan tentu tujuan utamanya adalah agar pasangan yang diusung oleh PKS dapat memenangkan Pilkada DKI Jakarta periode 2017-2022.3
2 Diakses dari https://www.dw.com/id/menaksir-panjang-napas-gerakan-massa-bela- islam/a-41484176 pada tanggal 1 Mei 2021.
3 Lihat wawancara M. Sohibul Imam di https://nasional.sindonews.com/read/11 59335/12/pks-ajak-warga-ikut-aksi-bela-islam-ii-1480478484, ajakan PKS untuk ikut Aksi Bela Islam di http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/11/29/ohek3d301-pks-ajak- masyarakat-berpartisipasi-dalam-aksi-bela-islam-212 atau https://www.jpnn.com/news/aksi-bela- islam-iii-pks-ajak-masyarakat-berpartisipasi diakses pada tanggal Sabtu, 19 Oktober 2019.
3
Hasil dari gerakan bela Islam 212 dikatakankan berhasil. Anis Baswedan dan Sandiaga Uno berhasil memenangkan pilkada DKI dengan hasil 57,95% suara.
Sedangkan Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saiful Hidayat kalah dengan perolehan 42,05% suara.4 Selain itu, akibat dari desakan masyarakat terutama gerakan aksi bela Islam yang bergelombang. Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dihukum oleh majelis hakim dengan vonis selama dua tahun penjara. Ahok terbukti melanggar Pasal 156 huruf a KUHP tentang penodaan agama.5
Upaya penggalangan massa hingga jutaan orang dalam gerakan aksi bela Islam tentu bukan perkara mudah, terlebih di era modern saat ini, rata-rata orang lebih individualis dan mementingkan kebutuhan pribadi daripada mengikuti gerakan sosial. Lalu, bagaimana strategi PKS untuk menggalang massa dalam gerakan Aksi Bela Islam ini?
Fenomena unik pada partai PKS yang tidak dimiliki partai Islam lainnya adalah adanya proses kaderisasinya. Pengkaderan di kalangan PKS sendiri dibagi menjadi tiga jenis, yaitu tarbiyah, pengkaderan oleh underbow PKS, dan pengkaderan formal kepartaian. Pengkaderan oleh underbouwPKS dilakukan oleh Garda Keadilan (GK), Serikat Pekerja Keadilan (SPK), Perhimpunan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dll. Organisasi-organisasi ini mengembangkan pola dan model pengkaderan sendiri-sendiri. Tetapi, tetap dibawah arahan PKS. Sedangkan pengkaderan formal kepartaian dilakukan secara resmi oleh kepengurusan partai.
4 Dilansir dari https://katadata.co.id/berita/2017/04/20/hitungan-final-kpu-anies-5792- persen-ahok-4205-persen-suara pada tanggal 28 Juni 2020.
5 Dilansir dari https://nasional.tempo.co/read/873676/ahok-dihukum-dua-tahun-putusan- hakim-bulat/full&view=ok pada tanggal 28 Juni 2020.
4
Pengkaderan formal PKS terdiri dari 7 jenjang yaitu TOP 1 (Training Orientasi Partai Satu), TOP II, TD I (Training Dasar 1), TD II, TL 1 (Training Lanjutan 1), TL II, dan TMKS (Training Manajemen dan Kepemimpinan Sosial).6
Program kaderisasi dengan cara tarbiyah dinamakan liqo’, yang secara bahasa berarti pertemuan. Dari ketiga jenis pengkaderan PKS tersebut, pengkaderan dengan cara tarbiyah masih menduduki posisi kunci bagi pengkaderan PKS.7 Liqo’
adalah sarana kaderisasi utama bagi para kader PKS, sebagai adopsi dari organisasi Ikhwanul Muslimin yang berkembang di Timur Tengah.8 Kegiatan Liqo’ diadakan sekali dalam sepekan antara murabbi (pendidik) dan mutarabbi (anak didik).
Kegiatan liqo’ ini diisi dengan pengajian, mentoring, dan diskusi.
Kegiatan Liqo’ diadakan dengan cara duduk melingkar antara murabbi dan mutarabbi. Umumnya kegiatan liqo’ ini dinamakan halaqah. Halaqah sendiri berasal dari kata “halaqa- yahluqu- halqatan” yang berarti lingkaran.9 Sedangkan menurut istilah, halaqah adalah suatu proses belajar mengajar yang dilaksanakan dengan tata cara murid atau anggota melingkari guru yang sedang mengajar. Murid atau anggota yang mengikuti halaqah biasa disebut dengan mutarabbi. Sedangkan guru yang mengajar disebut dengan murabbi.
Biasanya kegiatan halaqah dilakukan dengan duduk dilantai serta berlangsung secara rutin untuk mendengarkan seorang murabbi membacakan dan
6 M. Imdadun Rahmat, Ideologi Politik PKS (Yogyakarta: PT LKis Pelangi Aksara, 2008), h. 238.
7 Ibid., h, 238-239.
8 Yudidarmadi, Halaqoh Tarbawiyah: Sarana Pendidikan Politik Partai Keadilan Sejahtera (Skripsi Program Studi Ilmu Politik, FISIP UI, 2009).
9 Ahmad Warson Munawir, Kamus Al-Munawir Arab-Indonesia (Surabaya: Pustaka Progresif, 2002), h. 290.
5
menerangkan kurikulum yang diajar.10 Halaqah merupakan sarana utama dalam pendidikan tarbiyah guna merealisasikan kurikulum tarbiyah. Dalam tarbiyah ini, di dalam satu kelompok halaqah jumlah anggota tidak lebih dari 12 orang.
Dari penjelasan diatas dapat didefinisikan bahwa halaqah adalah sebuah media tarbiyah (pembinaan), berupa kelompok kecil berjumlah maksimal 12 orang yang terdiri dari murabbi (pembina) dan sejumlah mutarabbi (binaan), dengan manhaj (kurikulum) yang jelas, dan diselenggarakan melalui berbagai macam sarana (perangkat) tarbiyah. Dengan demikian, elemen-elemen halaqah dapat dibagai menjadi 4 bagian yaitu (1) murabbi, (2) mutarabbi, (3) manhaj tarbiyah, dan (4) sarana (perangkat) tarbiyah. Dalam sebuah halaqah, murabbi dan mutarabbi biasa bekerjasama satu sama lain guna melaksanakan manhaj yang ada melalui sarana-sarana (perangkat-perangkat) yang sesuai.11
Liqo’ yang terdapat dalam partai PKS dipimpin dan dibentuk oleh kader PKS sendiri di daerah tempat tinggalnya masing-masing. Dalam satu kelurahan saja bisa terdapat beberapa kelompok liqo’. Liqo’ secara garis besar dibedakan menjadi dua jenis. Jenis liqo yang pertama dipimpin oleh seorang yang dinamakan murabbi.
Anggotanya adalah tamhidi (kader pemula), muayyid (kader muda), dan masyarakat umum. Jenis liqo yang kedua dipimpin oleh seorang yang disebut naqib. Liqo jenis ini disebut dengan liqo usari. Liqo ini adalah liqo khusus yang diikuti oleh kader muntasib (kader madya), muntazhim (kader dewasa) dan kader ahli.12
10 Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), h.290.
11 Abdullah Qadiri, Adab halaqah (Bandung: PT. Al-Ma’arif. 1993). h, 32.
12 Burhanuddin Muhtadi, Dilema PKS: Suara dan Syariah, (Jakarta: Gramedia, 2012), h.
146-147
6
Liqo’ diisi dengan berbagai kegiatan yang tergantung dari keputusan sang Murabbi. Namun terdapat pula kegiatan rutin seperti mengaji, kultum dan sesi mutabaah. Biasanya di akhir liqo ada semacam diskusi untuk membicarakan situasi yang terjadi saat ini. Kegiatan rutin ini umumnya dilakukan sekali dalam seminggu dengan rata-rata berjumlah maksimal 12 anggota. Hal ini tergantung dari kesediaan Murabbi untuk menampung dan mencari masyarakat umum untuk bergabung dalam liqo’. Selain itu, setiap beberapa bulan ada kegiatan rihlah, yakni kegiatan tadabbur alam sekaligus mendekatkan rohani dan jiwa antar sesama anggota liqo. Dengan adanya rihlah diharapkan ikatan antaranggota liqo menjadi semakin erat. Ada juga mabit, yaitu kegiatan bermalam di masjid. Daurah yaitu kegiatan pelatihan dan pendidikan kader maunpun non kader. Mukhayyam yaitu kegiatan camping di gunung dengan disertai tadabur alam dan pendidikan rohani maupun jiwani.
Dari kegiatan-kegiatan tersebut maka dapat kita ketahui bahwa antar sesama anggota liqo’ memiliki ikatan batin yang kuat. Kuatnya ikatan batin terbentuk akibat kuatnya modal sosial yang terjalin antar sesama anggota. Modal sosial yang terjalin antar sesama anggota menjadi masalah penting karena keberhasilan jaringan Liqo tidak hanya berbekal modal finansial semata, namun juga unsur modal sosial yang terdiri dari kepercayaan antar sesama anggota dan norma yang mengikat anggota didalamnya.
Modal sosial dipahami sebagai suatu bentuk di mana sesama anggota menaruh kepercayaan terhadap komunitas atau jaringan dan individu sebagai bagian di dalamnya. Mereka saling membuat aturan kesepakatan bersama sebagai suatu nilai/norma di dalam komunitasnya. Modal sosial berperan sebagai perekat
7
yang mengikat semua orang dalam komunitas/jaringan. Modal sosial dalam sebuah jaringan/komunitas akan tumbuh baik apabila terdapat adanya rasa saling berbagi antar sesama anggota serta pengorganisasian peran (rules) yang diekspresikan dalam hubungan personal, kepercayaan (trust) dan tanggung jawab bersama. Modal sosial yang terjalin mampu menggerakkan partisipasi anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.13
Jumlah kelompok liqo’ ini pun sangat banyak, karena kader PKS sendiri diwajibkan untuk menjadi murabbi di daerahnya masing-masing. Jika seluruh anggota liqo’ dikumpulkan, tentu akan menjadi massa yang sangat besar. Ditambah pula dengan keluarga dari anggota masyarakat umum yang mengikuti liqo’.
Proses rekrutmen dan kaderisasi PKS memanfaatkan sumber daya dari liqo’
sebagai kader, lewat rutinitas diskusi keIslaman, serta menerapkan pola rekrutmen individual dan institusional. Dua pola rekrutmen tersebut bertujuan untuk memobilisasi massa sebanyak mungkin untuk menjadi simpatisan PKS.
Mekanisme rekrutmen seperti ini merupakan karakter dasar PKS yang mementingkan kuantitas dukungan dari masyarakat sebagai tiket memenangkan pemilu.14
Jaringan liqo’ ini pula yang digunakan PKS untuk menggalang massa agar masyarakat mengikuti gerakan aksi bela Islam. Apalagi kader PKS terkenal akan loyalitas dan indoktrinasinya. Dari sekian banyak partai, hanya partai PKS saja yang secara terang-terangan mendukung dan mengerahkan massa untuk gerakan
13 Syahyuti, Definisi, Variabel, Indikatr dan Pengukuran dalam Ilmu Sosial (Bandung:
Angkasa, 2010), h. 33.
14 Burhanuddin Muhtadi, Dilema PKS: Suara dan Syariah, (Jakarta: Gramedia, 2012).
8
aksi bela Islam ini.15 Momentum seperti ini, tentunya tidak akan disia-siakan oleh partai PKS dalam mencapai tujuan mereka yaitu memenangkan Anis Baswedan dalam pertarungan pilkada DKI Jakarta. Hal ini diakui oleh ketua DPP PKS waktu itu yaitu Mardani Ali Sera. Dalam wawancaranya dengan media tempo, Mardani Ali Sera tidak menampik bahwa PKS dalam hal ini memanfaatkan gerakan aksi bela Islam 212 untuk pemenangan pasangan Anis Baswedan-Sandiaga Uno.16
Selain motif politik, ada pula motif agama yang menyebabkan massa kader dan simpatisan PKS terutama di Bekasi ikut terjun dalam gerakan aksi bela Islam 212. Hal ini tidak terlepas dari materi ataupun pendidikan selama di halaqah. Dalam halaqah diajarkan untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar serta membela agama Islam secara kaffah. Dalam kasus gerakan aksi bela Islam 212 ini, Ahok yang merupakan gubernur DKI Jakarta waktu itu melakukan penghinaan terhadap ayat dari Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 51. Tentu, hal ini sesuai dengan salah satu tujuan halaqah yaitu siap berkorban untuk kepentingan membela agama Islam dan siap membawa kesadaran prinsip Islam.17 Untuk itu, jaringan halaqah PKS yang ada di Bekasi ikut serta dalam aksi gerakan bela Islam 212 guna mengamalkan pendidikan tarbiyah yang selama ini mereka dapatkan dan menyelaraskan dengan tujuan halaqah sendiri yaitu membela agama Islam.
15 Dilansir dari https://tirto.id/kenapa-cuma-pks-yang-kerahkan-kader-untuk-reuni-212- daA3 pada tanggal 23 Desember 2019
16 Dilansir dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180712200852-32- 313676/mardani-akui-manfaatkan-aksi-212-untuk-menangkan-anies-sandi pada tanggal 23 Desember 2019
17 Irwan Prayitno, Tarbiyah Islamiyah Harakiyah (Jakarta: Pustaka Tarbiatuna, 2002), h.29.
9
Penulis mencoba melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan jaringan liqo’ dalam gerakan aksi bela Islam 212. Seberapa besar keefektifan jaringan liqo’ ini dalam gerakan aksi bela Islam 212. Penelitian ini dikhususkan pada aksi bela Islam 212 dikarenakan gerakan 212 merupakan gerakan yang paling besar dalam serangkaian aksi bela Islam di Indonesia. Selain itu, efek yang ditimbulkan dalam gerakan 212 mampu merubah pergeseran politik pada waktu itu.
Akibat gerakan 212 juga, Ahok yang menang dalam putaran pertama pilkada DKI menjadi kalah dari Anis dalam pemilihan putara kedua. Ahok pun juga terkena hukuman vonis hakim akibat perbuatannya.
Selain itu, penelitian ini hanya difokuskan pada jaringan liqo’ di Kota Bekasi. Penulis memilih kota Bekasi dikarenakan suara PKS di kota tersebut cukup banyak pada pemilu sebelum terjadinya aksi bela Islam. Pada pemilihan legilatif kota Bekasi sebelumnya yaitu pada tahun 2014, PKS memperoleh suara sebanyak 106.703 suara (9,9 persen) dan menempatkan partainya ke posisi ke-3 suara terbanyak di Kota Bekasi.18 PKS pun mampu menempatkan setiap kader di DPRD di setiap dapil kota Bekasi. PKS menang di setiap dapil kota Bekasi yang berjumlah 6 dapil. Di dapil ke 5, PKS mampu merebut dua kursi DPRD kota Bekasi.19 Selain itu, pada pilkada kota Bekasi tahun 2013, PKS mampu menempatkan kadernya menjadi wakil walikota kota Bekasi. Ahmad Syaikhu yang merupakan DPRD Jawa Barat dari PKS memenangkan pilkada dengan berpasangan dengan Rahmat Effendy dari Golkar. Pasangan Rahmat Effendy dan Ahmad Syaikhu berhasil
18 Dilansir dari https://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/05/14/n5k5aq-di- bekasi-pks-juara-tiga pada tanggal 10 Desember 2019
19 Dilansir dari https://metro.sindonews.com/read/889505/31/ini-nama-nama-50-wakil- rakyat-kota-bekasi-terpilih-1407562514 pada tanggal 10 Desember 2019
10
memenangkan pilkada secara telak dengan perolehan suara sebesar 336.900 suara.
Selisih 50% dengan pemenang kedua yang memperoleh hanya 196.823 suara.20 PKS Kota Bekasi sendiri memiliki 1 DPD (Dewan Pengurus Daerah), 12 DPC (Dewan Pengurus Cabang), dan 56 DPRa (Dewan Pengurus Ranting).
Terdapat 69 kelompok jaringan liqo yang berada di pusat DPD, DPC dan DPRa.
PKS sendiri mewajibkan para kader yang menduduki struktur mulai dari DPD, DPC, dan DPRa wajib menjadi murabbi di lingkungannya masing-masing. Struktur PKS sendiri diisi oleh kurang lebih 50 orang. Artinya terdapat kurang lebih 3.450 jumlah jaringan kelompok liqo yang ada di Kota Bekasi. Jumlah ini sangatlah banyak mengingat setiap kelompok jaringan liqo diisi oleh 6-12 orang mutarabbi.21
Dengan menempatkan kadernya di setiap dapil dan menjadi pemenang pilkada di Kota Bekasi tentunya simpatisan dan kader PKS di kota Bekasi cukup banyak. Jarigan kelompok liqo di Kota Bekasi juga sangatlah banyak terdapat kurang lebih 3.450 kempok liqo yang tersebar di Kota Bekasi. Hal inilah yang menarik penulis untuk memfokuskan penelitian nya di kota Bekasi. Selain faktor tersebut, faktor lainnya adalah jarak antara tempat kejadian aksi belas Islam di Jakarta dan Bekasi cukup dekat. Hal ini memungkinkan untuk pergerakan massa dari Bekasi ke Jakarta cukup mudah dilakukan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka skripsi ini berjudul “Jaringan Liqo’ (Halaqah) PKS Dalam Gerakan Sosial 212 (Studi Terhadap Liqo’ PKS Kota Bekasi)”.
20 Dilansir dari https://megapolitan.kompas.com/read/2012/12/27/09570746 /PAS.Menangi.Pilkada.Kota.Bekasi pada tanggal 10 Desember 2019
21 Wawancara Pribadi dengan Tunggul Pamungkas, pada sabtu 3 Juli 2021
11 B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam dan tidak melebar ke topik lainnya, maka penelitian ini difokuskan pada batasan masalah yaitu pada gerakan sosial 212 dan jaringan liqo’ PKS Kota Bekasi
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pernyataan masalah di atas, maka penulis merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana jaringan liqo Kota Bekasi dalam merekrut dan memobilisi anggota untuk terlibat dalam gerakan sosial?
2. Faktor apa yang menyebabkan jaringan liqo’ PKS Kota Bekasi terlibat dalam gerakan sosial 212?
3. Bagaimana pola jaringan liqo’ PKS Kota Bekasi dalam gerakan sosial 212?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Dari pokok-pokok perumusan masalah di atas, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian berikut ini:
1. Mendeskripsikan pola jaringan liqo’ PKS Kota Bekasi dalam gerakan sosial 212 2. Menjelaskan faktor-faktor yang menjadikan liqo’ PKS Kota Bekasi ikut serta
dalam gerakan sosial 212
3. Mendeskripsikan modal sosial yang digunakan jaringan liqo dalam merekrut dan memobilisi anggota untuk terlibat dalam gerakan sosial 212
12 2. Manfaat Penelitian
Sebagai sebuah penelitian yang berorientasi atas azas manfaat, penulis membagi penelitian ke dalam dua aspek :
1. Manfaat Teoretis
Memberikan gambaran untuk memahami fenomena modal sosial dan gerakan sosial di dalam jaringan liqo’ PKS Kota Bekasi dalam keterlibatannya di gerakan sosial 212
2. Manfaat Praktis
Untuk memenuhi salah satu syarat guna meraih Sarjana Sosial (S.Sos).
D. Tinjauan Pustaka
Dalam penelitian yang berjudul Jaringan Liqo’ (Halaqah) PKS dalam Gerakan Sosial 212 (Studi Terhadap Liqo’ PKS Kota Bekasi), kajian pendahuluan yang dijadikan acuan atau pembanding dalam penulisan penelitian ini, diantaranya:
Pertama, jurnal yang ditulis oleh Nabil Lintang Pamungkas, Agung Widiyantoro, dan Moddie Alvianto Wicaksono yang berjudul Relasi Politik dan Isu Agama: Dinamika Politik PKS dan Aksi Bela Islam pada Pemilu Serentak 2019.
Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan yang di dalamnya terdapat beberapa literatur dan sumber ilmiah yang relevan terhadap fokus permasalahan.
Jurnal ini membahas tentang kecenderungan penggunaan isu agama sebagai instrumen politik dalam momentum pemilihan umum di Indonesia. Jurnal tersebut berfokus kepada konsistensi dukungan politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
13
terhadap Aksi Bela Islam yang mengemuka sebagai gerakan yang mengangkat isu penistaan agama dan kriminalisasi Ulama.22
Kedua, tesis yang ditulis oleh Akbar Sandro Yudho Dhiharso yang berjudul Sistem Pengkaderan di Kalangan Partai Islam (Studi Tentang Tarbiyah PKS di Yogyakarta). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analisis dalam melihat pengkaderan yang dilakukan di dalam tubuh partai PKS di Yogyakarta. Hasil dari temuan penelitian ini adalah sisstem pengkaderan di tubuh PKS menggunakan sistem tarbiyah. Hanya saja sistem tarbiyah ini kurang diterima oleh masyarakat Yogyakarta dikarenakan faktor intenal dan eksternal.
Faktor internal disebabkan oleh minimnya tingkat pengetahuan keIslaman murabbi sedangkan faktor eksternal yaitu kolot dan tertutupnya sistem pengkaderan yang dilakukan oleh partai PKS.23
Ketiga, skripsi yang ditulis oleh Firdausi Nuzula yang berjudul Pola Komunikasi Kelompok dalam Kegiatan Liqo UKM Dakwah Kampus Ulil Albab Universitas Muhammadiyah Jakarta. Skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif deksriptif dalam melihat pola komunikasi yang dilakukan oleh murabbi ke para anggotanya. Hasil dari penelitian ini adalah pola komunikasi bintang yang dilakukan oleh sang murabbi sangat efektif dalam penyampaian materi ataupun berkomunikasi kepada para anggota dalam setiap kegiatan liqo’.24
22 Nabil Lintang Pamungkas, dkk. Relasi Politik dan Isu Agama: Dinamika Politik PKS dan Aksi Bela Islam pada Pemilu Serentak 2019 (Jurnal Sosial Politik Vol 6 No 1, 2020)
23 Akbar Sandro Yudho Dhiharso, Sistem Pengkaderan di Kalangan Partai Islam, Studi Tentang Tarbiyah PKS di Yogyakarta (Tesis Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogayakarta, 2011)
24 Firdausi Nuzula, Pola Komunikasi Kelompok dalam Kegiatan Liqo UKM Dakwah Kampus Ulil Albab Universitas Muhammadiyah Jakarta (Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012)
14
Keempat, jurnal yang ditulis oleh Febrian Taufiq Sholeh yang berjudul Manhaj Tarbiyah dalam Pendidikan Politik Kader PKS. Jurnal ini membahas pendidikan politik kader PKS yang menggunakan sistem manhaj tarbiyah dalam setiap keilmuannya. Manhaj tarbiyah ini mengambil inspirasi dari gerakan ikhwanul muslimin yang ada di Mesir. Selain itu, jurnal ini juga membahas manhaj tarbiyah yang memiliki 10 aspek pelajaran pendidikan politik yang wajib di miliki oleh setiap kader PKS.25
Kelima, jurnal yang ditulis oleh Elsi Anismar yang berjudul Kaderisasi pada Basis Sosial Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Perguruan Tinggi (Studi Kasus Jamaan Tarbiyah UI). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data dan wawancara. Adapun penelitian ini membahas bahwa Jamaah Tarbiyah yang terdiri dari mahasiswa UI memiliki struktur organisasi yang bersubordinasi dengan PKS. Tetapi hal ini ditutupi oleh jamaah tarbiyah UI. Hal ini dilakukan agar strategi PKS dalam rangka mempertahankan basis sosialnya dari kalangan kaum muda terdidik tetap bertahan di lingkungan kampus. Adapun pembahasan ini sendiri merupakan pengembangan dari skripsi mahasiswa sebelumnya, yakni dari Yudidarmadi dengan judul Halaqah Tarbawiyah: Sarana Pendidikan Politik Kader Partai Keadilan Sejahtera pada tahun 2009. 26
Dari keempat penelitian di atas hanya membahas halaqah sebagai proses pengkaderan di partai PKS, serta liqo’/halaqah sebagai proses pendidikan politik
25 Febrian Taufiq Sholeh, Manhaj Tarbiyah dalam Pendidikan Politik Kader PKS (Jurnal SALAM Volume 12 No.1, 2015)
26 Elsi Anismar, Kaderisasi pada Basis Sosial Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Perguruan Tinggi (Studi Kasus Jamaan Tarbiyah UI) (Jurnal Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014)
15
kader atau pun simpatisan partai PKS. Sedangkan satu jurnal meskipun sudah membahas gerakan sosial PKS dalam gerakan 212 tetapi tidak menyinggung jaringan liqo yang ada dalam PKS. Jadi belum ada yang membahas jaringan liqo sebagai sebuah gerakan sosial terutama di gerakan sosial 212 seperti yang penulis ingin teliti. Untuk itu, peneliti ingin membahas dan meneliti liqo/halaqah yang ada di partai PKS sebagai sebuah gerakan sosial yang berperan aktif di aksi gerakan bela Islam 212.
E. Metode Penelitian 1. Pendekatan dan metode
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif.
Pendekatan kualitatif berujuan untuk memahami fenomena atau gejala yang dilihat dengan apa adanya.27 Penelitian ini juga bersifat deskriptif, yang dimaksud deskriptif ialah penelitian mengeksplorasi dan mengklarifikasi mengenai sesuatu fenomena dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah yang ingin diteliti.28 Penelitian ini mengambil dari data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari hasil wawancara penulis dengan para informan yaitu Tunggul Pamungkas (Murabbi dan mantan ketua DPC Jatiasih Kota Bekasi 2 periode 2011-2014 & 2015-2018), Abdul Syarif (Pengajar di sekolah Al-Azhar Bekasi dan kader muda PKS Kota Bekasi, murabbi sekaligus mutarabbi), dan Riski Sugio (Staff di bimbel Nurul Fikri Kota Bekasi, mutarabbi dan non kader PKS).
27 Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2009), h. 27.
28 Sanapiah Faisal, Format-Format Penelitian Sosial (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), h.20.
16
Sedangkan data sekunder diperoleh penulis dari buku, jurnal, artikel, internet, media online dan hasil penelitian-penelitian lainnya.
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah wawancara dan dokumentasi. Wawancara adalah dengan bertemunya peneliti dengan narasumber yang kemudian peneliti mengajukan pertanyaan untuk mengumpulkan data dengan dicatat dan direkam. Selanjutnya peneliti menganalisis hasil dari wawancara tersebut. Dokumentasi adalah pengumpulan data yang bersumber dari data sekunder yang kemudian di analisis oleh penulis. Data yang bersumber dari dokumen dapat dikatakan sebagai bentuk riset yang relatif sederhana, sebab peneliti atau periset tidak perlu mendekati informan.29
3. Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data. Teknik analisis data adalah kegiatan mengolah data menjadi sebuah informasi. Dengan begitu, data yang sudah diolah tersebut dapat dengan mudah dipahami dan dapat menjawab permasalahan dalam penelitian ini. Adapun beberapa langkah dalam menganalisis data, diantaranya adalah:
1) Reduksi Data (Data Reduction), merupakan langkah awal dengan cara merangkum, memilih hal-hal yang pokok, menfokuskan pada hal-hal yang penting, serta mencari tema serta polanya.
29 Ibid., h. 256.
17
2) Penyajian Data (Data Display), setelah reduksi data dilakukan selanjutnya adalah memahami apa yang telah terjadi. Selanjutnya adalah merencanakan berdasarkan apa yang telah dipahami.
3) Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing), merupakan langkah terakhir dengan cara menjelaska inti dari apa yang telah didapat selama proses penelitian berdasarkan teori yang digunakan.30
Ketiga langkah tersebut digunakan penulis untuk menganalisis secara keseluruhan permasalahan dalam penelitian ini.
F. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pemahaman mengenai hasil penelitian ini, maka penulisannya diuraikan dalam beberapa bab sebagai berikut:
Bab 1, penulis memaparkan pernyataan masalah dan pertanyaan masalah yang menjadi titik fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka berdasarkan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang memiliki keterkaitan dengan penelitian liqo’ PKS dengan gerakan aksi bela Islam, sistematika penulisan serta metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini.
Bab 2, penulis menjelaskan konsep dan teori yang dipakai dalam penelitian ini, yaitu teori modal sosial, gerakan sosial dan teori civil society sebagai instrumen analisis yang digunakan dalam menjawab pertanyaan penelitian.
30 Sumadi Suryabrata, Metode Penelitian (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014). h.40-42.
18
Bab 3, penulis memberikan gambaran umum penelitian tentang jaringan liqo’ PKS dan gambaran mengenai gerakan sosial 212, mulai dari kronologis, aktor- aktor yang menggerakan aksi ini, dan ekspresi-ekspresi politik pada aksi gerakan sosial yang dilakukan oleh liqo’ PKS Kota Bekasi.
Bab 4, penulis memaparkan inti dari penulisan skripsi ini yaitu tentang analisis faktor keterlibatan liqo’ PKS di Kota Bekasi dengan menggunakan teori jaringan, gerakan sosial dan masyarakat madani dalam konteks aksi bela Islam 212.
Bab 5, penulis memaparkan hasil temuan berdasarkan bab sebelumnya untuk kemudian dijadikan sebagai kesimpulan dalam penelitian ini serta memberikan jabaran rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.
19 BAB II
KERANGKA TEORITIS
Dalam bab kerangka teoritis ini penulis menggunakan teori modal sosial guna membahas dan menganalisa perkembangan jaringan liqo’ di Kota Bekasi.
Dengan teori modal sosial, penulis dapat melihat bagaimana jaringan liqo’ bisa tumbuh dan mendapat kepercayaaan masyarakat. Jaringan liqo’ ini kemudian menjadi sebuah gerakan sosial pada gerakan aksi bela Islam 212. Untuk itu penulis juga membahas teori gerakan sosial guna memberikan gambaran umum mengenai gerakan sosial yang dilakukan oleh jaringan liqo’ PKS. Selain teori modal sosial dan teori gerakan sosial, penulis juga membahas teori civil society. Teori civil society berguna untuk memberi gambaran kenapa gerakan sosial itu bisa terjadi.
Menurut hemat penulis, gerakan sosial tidak hadir dalam ruang hampa. Tentunya membutuhkan instrument-instrumen sosial untuk menunjang terjadinya gerakan sosial. Instrument-instrumen sosial tersebut terdapat di dalam sebuah civil society atau yang lebih dikenal dengan sebutan masyarakat madani. Masyarakat yang tidak apolitis dan memiliki daya kritis. Masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam bernegara.
A. Teori Modal Sosial
Penggunaan teori modal sosial berguna untuk melihat faktor yang memperkuat hubungan antara sesama anggota atau kelompok dalam sebuah jaringan. Hal ini khususnya dalam jaringan liqo di penelitian ini. Tidak mungkin
20
sesama anggota dalam sebuah jaringan tidak mempunyai suatu faktor yang membuat seseorang tersebut gabung dan loyal terhadap suatu kelompok. Tentunya terdapat sesuatu faktor yang menjembatani hubungan antar anggota dalam suatu kelompok. Jika tidak, kelompok atau jaringan tersebut akan gagal dan tercerai- berai. Faktor penyebab kesuksesan tersebut adalah adanya modal sosial. Modal sosial adalah norma-norma dan jaringan-jaringan kerja yang membuat orang mau bertindak secara kolektif.31
Modal sosial merupakan gabungan dari dua kata yaitu modal (capital) dan sosial (social). Dalam kamus sosiologi kata modal memiliki arti sumber-sumber yang dipergunakan untuk tujuan produktif, persediaan aset material suatu masyarakat atau kekayaan (modal). Sedangkan kata sosial mengandung arti sesuatu yang berkenaan dengan prilaku interpersonal atau yang berkaitan dengan proses sosial. Jika digabungkan keduanya maka kata modal sosial mengandung arti aset- aset yang di miliki umum (social capital).32
Ada beberapa pengertian dari para ahli tentang modal sosial yang umumnya dirumuskan berdasarkan kondisi dan kasus-kasus tertentu yang terjadi di dalam masyarakat pada waktu itu. Misalnya seperti Robert D. Putnam, seorang pakar ilmu politik Amerika, mendefinisikan modal sosial secara berbeda ketika melakukan riset pada tradisi politik di Italia dan riset di masyarakat Amerika. Lalu Piere Bourdieu, seorang sosiolog asal Perancis yang meneliti masyarakat Eropa dan berfokus pada kelas sosial dan ketidakadilan sosial, juga memaknakan modal sosial
31 Suharto Edi, Isu-Isu Tematik Pembangunan Sosial: Konsepsi dan Strategi (Jakarta:
Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial Departemen Sosial RI, 2004), h. 81-82.
32 Soerjono Soekamto, Kamus Sosiologi (Jakarta: Rajawali Press, 1983), h. 55-56.
21
dengan warna yang berbeda pula. Penulis menggunakan kedua pengertian dan teori dari dua ahli ini guna membahas modal sosial yang terdapat dalam jaringan liqo.
Pierre Bourdieu yang lahir di Eropa cenderung mengikuti gaya pemikiran sosiolog Eropa. Hal ini berdampak pada pemikirannya dalam melihat modal sosial dari sudut pandang kelas sosial dan bentuk ketimpangan sosial. Sehingga, pernyataannya tentang modal sosial tidak terlepas dari pembahasan tentang perbedaan distribusi keuntungan ekonomi dan penguasaan terhadap sumber daya oleh aktor-aktor tertentu. Bourdieu melihat aktor-aktor yang memiliki keuntungan dalam menguasai sumber daya tersebut terbentuk secara hierarkis, dalam artian aktor-aktor tersebut memiliki modal sosial yaitu kedekatan hubungan tertentu dan ikatan-ikatan yang bersifat personal antar sesama.33
Bourdieu sendiri mengartikan modal sosial sebagai sumber daya aktual dan potensial yang dimiliki oleh seseorang yang berasal dari jaringan sosial yang terlembaga serta berlangsung terus-menerus dalam bentuk pengakuan dan hubungan timbal balik. Dengan kata lain, keanggotaan dalam kelompok sosial memberikan kepada anggotanya berbagai bentuk dukungan kolektif dan keuntungan.34 Kualitas modal sosial menurut Bourdieu dapat ditentukan oleh seberapa efektif dan seberapa luas jejaring sosial yang dapat mereka kembangkan.
Bourdieu mengelompokkan empat jenis modal sosial yaitu, pertama, modal ekonomi mencakup alat-alat produksi, materi dan uang yang dengan mudah digunakan untuk segala tujuan serta diwariskan dari satu generasi ke generasi
33 Sunyoto Usman, Modal Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2018), h. 22-23.
34 Damsar dan Indriyani, Pengantar Sosiologi Ekonomi (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2012), h. 209.
22
berikutnya. Kedua, modal kultural antara lain mencakup kemampuan menampilkan diri di depan publik, pemilikan benda-benda budaya yang bernilai tinggi, pengetahuan dan keahlian tertentu dari hasil pendidikan. Ketiga, modal sosial yang merujuk pada jaringan sosial yang dimiliki pelaku (individu maupun kelompok) dalam hubungannya dengan pihak lain yang memiliki kuasa. Keempat, modal simbolik yaitu yang bertalian dengan segala bentuk prestise, status otoritas, dan legitimasi. Dari keempat jenis modal sosial ini, modal ekonomi lah akar dari semua jenis modal yang lain. Bordieu mengemukakan bahwa modal ekonomi, modal kultural, modal sosial dan modal simbolik memiliki peran dan fungsinya masing- masing sehingga tidak bisa menggantikan fungsinya satu sama lain, tetapi apabila modal-modal tersebut dikombinasikan dapat menjadi sistem yang mampu mencapai tujuan tertentu.35
Robert D. Putnam seorang ahli ilmu politik asal Amerika mendefinisikan modal sosial sebagai jaringan-jaringan, nilai-nilai, dan kepercayaan yang timbul diantara para anggota perkumpulan, yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama untuk manfaat bersama. Putnam menjelaskan mengenai ide dasar teori modal sosial adalah bahwa jaringan sosial memiliki nilai, dimana kontak sosial antar individu memengaruhi produktivitas individu dan kelompok.36
Riset yang dilakukan Putnam tentang tradisi politik di Italia menemukan bahwa partai politik akan menjadi partai yang besar, kuat, dan terus berjaya, apabila bisa membangun tiga hal, yaitu kepercayaan, norma yang berlaku dan ditaati
35 Fauzi Fashri, Penyingkapan Kuasa Simbol: Apropriasi Reflektif Pemikiran Pierre Bourdieu (Yogyakarta: Juxtapose, 2007), h. 98-99.
36 Damsar dan Indriyani, Pengantar Sosiologi Ekonomi (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2012), h. 210.
23
bersama, dan jejaring yang kuat. Putnam pun menegaskan bahwa organisasi sosial memiliki peran penting dalam upaya pengembangan modal sosial. Organisasi sosial menjadi ajang untuk saling berinteraksi, dan pertukaran ide dan gagasan antara individu yang tergabung di dalamnya.37
Menurut Putnam, organisasi sosial maupun agama selalu ditandai dengan adanya hubungan saling bertanggung jawab atas kelestarian nilai-nilai dan budayanya, menegakkan aturan tingkah laku, dan mendorong norma saling mempercayai. Ketiga elemen ini melahirkan norma kepercayan bersama yang dapat mendorong terciptanya keuntungan sosial dan efisiensi. Dengan norma kepercayaan bersama itulah kelompok sosial maupun keagamaan dapat menjalin hubungan dengan kelompok lainnya.38
Putnam berpendapat bahwa ada dua bentuk modal sosial, yaitu bonding social capital (modal sosial mengikat) dan bridging social capital (modal sosial menjembatani). Menurut Putnam, modal sosial yang mengikat (bonding social capital) didasarkan atas keluarga, teman dekat dan kelompok akrab lain. Hal ini berorientasi ke dalam dan mengikat orang dari posisi sosial serupa. Modal sosial mengikat cenderung meneguhkan identitas eksklusif dan kelompok homogen mereka sendiri. Keanggotaanya biasanya didasarkan atas berbagai kesamaan, seperti kesamaan suku, etnis dan agama, hubungan antar individu bersifat tertutup, lebih mengutamakan solidaritas dan kepentingan kelompok.39
37 Sunyoto Usman, Modal Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2018), h. 29-30
38 Saifudin Asrori, Studi Sosiologis Forum Konsultasi Dan Komunikasi Umat Beragama (FKKUB) Provinsi DKI Jakarta (Depok: Universitas Indonesia, 2008), h. 10-11.
39 John Field, Terj. Nuhardi, Modal Sosial (Bantul: Kreasi Wacana, 2010), h. 106-107.
24
Sebaliknya, modal sosial yang menjembatani menghubungkan orang pada kenalan-kenalan jauh yang bergerak pada lingkaran yang berbeda dengan lingkaran mereka sendiri. hal ini cenderung membangun identitas yang lebih luas. para anggotanya mempunyai latar belakang yang heterogen dan cenderung bersifat inklusif. Orientasi kelompok ini lebih ditekankan upaya-upaya bersama dalam mencari jawaban atas permasalahan bersama dan mempunyai cara pandang yang lebih terbuka.40
Bourdieu maupun Putnam keduanya memiliki pandangan tentang modal sosial yang cukup identik, yaitu keduanya sama-sama mempercayai hubungan antar perorangan mempunyai dampak yang signifikan terhadap perkembangan modal sosial. Hubungan yang saling terjaga tersebut akan menghasilkan unsur-unsur modal sosial yaitu kepercayaan (trust), norma-norma dan jaringan antar perorangan maupun kelompok. Modal sosial yang telah terbentuk tersebut lantas digunakan untuk mencapai tujuan tertentu baik secara personal maupun kelompok.
Penulis menggunakan bentuk modal sosial mengikat (bonding social capital) dalam mengalisa penelitian ini. Modal sosial mengikat cocok digunakan dalam penelitian ini dikarenakan jaringan liqo bersifat homogen dan eksklusif.
Penulis pun hanya sebatas melihat modal sosial yang terdapat dalam lingkaran jaringan liqo (tidak melihat kelompok lain). Selain itu, Penulis juga menggunakan teori modal sosial Bordieu guna melihat sejauh mana ikatan hubungan antar anggota dan hubungan timbal balik antar anggota dan jaringannya.
40 John Field, Terj. Nuhardi, Modal Sosial (Bantul: Kreasi Wacana, 2010), h. 106-107.
25
Unsur-unsur yang terdapat dalam modal sosial sekiranya perlu dibahas lebih lanjut guna melihat lebih jauh modal sosial yang terdapat dalam jaringan liqo. Hal tersebut akan berguna untuk mengetahui norma-norma, kepercayaan maupun jaringan antar personal yang terdapat dalam jaringan liqo. Penulis harap dengan mengetahui unsur-unsur tersebut, penulis akan mengetahui seberapa kuat hubungan antar personal antar anggota liqo dan hal yang mendasari anggota liqo mampu menggerakkan dan mau berpartisipasi dalam aksi gerakan sosial khususnya dalam gerakan 212. Unsur-unsur modal sosial tersebut dibahas sebagai berikut:
1. Norma
Robert Putnam mengatakan bahwa norma terdiri dari pemahaman- pemahaman, nili-nilai, harapan dan tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang. Norma dapat bersumber dari agama, panduan moral, maupun standar-standar sekuler seperti kode etik profesional. Norma-norma dibangun dan berkembang berdasarkan sejarah kerjasama di masa lalu dan diterapkan di masa kini guna mendukung kerjasama. Norma-norma dapat merupakan prakondisi maupun produk dari kepercayaan sosial. Lebih lanjut Putnam menjelaskan bahwa norma sebagai bentuk pra kondisi menjadi pondasi yang melandasi timbulnya rasa saling percaya.41
Sedangkan, Coleman mengartikan norma sebagai pola interaksi yang melembagakan berbagai kewajiban individu dalam sebuah kelompok yang bertujuan sebagai suatu perjanjian dan harapan guna tercapainya kerjasama dalam
41 Rahel Widiawati Kimbal, Modal sosial dan ekonomi industri kecil sebuah studi kualitatif (Yogyakarta: Deepublish, 2015), h. 32
26
kelompok. Lebih lanjut Coleman mengatakan bahwa norma berfungsi sebagai alat yang memungkinkan antar individu ataupun antar kelompok untuk berkerjasama guna memperoleh hubungan timbal balik.42
Arti norma sendiri menurut KBBI adalah aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat, aturan tersebut dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai dan diterima.43 Norma- norma tersebut biasanya terinstusionalisasi dan mengandung sanksi sosial yang berfungsi menjadi pengendali individu untuk berbuat sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang telah disepakati. Aturan kolektif tersebut biasanya tidak tertulis tapi dipahami oleh setiap anggota kelompok atau masyarakat dalam menentukan pola tingkah laku dalam berhubungan sosial.44
Norna yang dianut oleh jaringan liqo ini menjadi salah satu fokus dalam penelitian ini. Sebagaimana yang telah diuraikan diatas, norma penting untuk dibahas karena norma inilah yang menjadi pondasi awal untuk menentukan aturan- aturan dan menjadi pengendali tingkah laku kelompok jaringan liqo. Norma juga menjadi pra kondisi terbentuknya rasa saling percaya antar kelompok guna melakukan kerjasama timbal balik. Tanpa norma yang disepakati dan dapat diterima oleh masing-masing individu, mustahil rasanya jaringan kelompok liqo dapat terwujud.
42 Sunyoto Usman, Modal Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2018), h. 25.
43 Diakses dari kbbi.web.id/norma pada tanggal 5 April 2021.
44 Jousairi Hasbullah, Social Capital (Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia) (Jakarta: MR-United Press, 2006), h. 72.
27 2. kepercayaan (trust)
Putnam mengungkapkan bahwa kepercayaan adalah suatu bentuk keinginan untuk mengambil risiko dalam hubungan-hubungan sosial yang didasari pada perasaan yakin bahwa orang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan selalu bertindak dalam suatu pola yang saling mendukung. Tindakan yang dilakukan tersebut kemungkinan kecil dilakukan dengan tidak merugikan diri sendiri maupun kelompoknya. Rasa saling percaya adalah unsur utama dalam proses modal sosial.45
Lebih lanjut, Putnam menjelaskan bahwa kepercayaan merupakan akibat yang ditimbulkan dari hubungan yang dibangun berlandaskan norma timbal balik.
Kepercayaan menurutnya menyangkut hubungan timbal balik. Bila masing-masing pihak memiliki pengharapan yang sama-sama dipenuhi oleh kedua belah pihak, maka tingkat kepercayaan yang tinggi akan terwujud. Pembangunan kepercayaan antar personal dapat dikatakan berlangsung beriringan dengan proses pembentukan jaringan dan norma. Proses pembentukan nya pun tidak berlangsung secara instan, melainkan secara bertahap.46
Setidaknya ada enam indikator penyebab kepercayaan akan terwujud yaitu, pertama, kedua individu atau kelompok saling kenal. Kedua, individu atau kelompok mempunyai nilai yang sama. Ketiga, kedua individu atau kelompok memiliki kepentingan yang sama. Keempat, kedua individu atau kelompok saling percaya saja. Kelima, kedua individu atau kelompok memiliki espektasi yang bisa
45 Erna Kurniawati dan Elly Esra, Modal Sosial Keluarga Beda Agama (Jurnal Cakrawala, 2016), h. 243.
46 Rusydan Fathi, Modal Sosial: Konsep, Inklusivitas dan Pemberdayaan Masyarakat (Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 6 No. 1, Januari 2019), h. 9.
28
dipenuhi jika keduanya berkerja sama. Keenam, kedua individu atau kelompok berkomitmen pada nilai dan norma yang ada.47
Proses pembentukan kepercayaan menjadi salah satu fokus dalam penelitian ini. Kepercayaan tidak timbul secara instan melainkan dibangun secara bertahap.
Penulis ingin melihat bagaimana proses pembentukan kepercayaan antar anggota jaringan liqo yang nantinya menjadi dasar aksi gerakan sosial yang dilakukan.
Tidak mungkin suatu aksi gerakan sosial bisa dilakukan tanpa ada unsur kepercayaan satu sama lain dan tidak ada unsur kepercayaan kepada sang aktor penggerak.
3. Jaringan (network)
Francis Fukuyama mengartikan jaringan sosial sebagai sekelompok orang yang memiliki norma-norma atau nilai-nilai informal yang sama untuk saling berinteraksi. Pertukaran informasi yang terjadi di dalam suatu jaringan sosial pada akhirnya akan melahirkan kepercayaan di antara mereka. Jaringan sosial tersebut terbentuk karena adanya nilai dan norma yang dipegang teguh bersama yang nantinya akan melandasi lahirnya kerja sama satu sama lain. Namun, kerja sama sosial tidak serta merta muncul begitu saja. Diperlukan faktor-faktor lain guna menciptakan kerja sama sosial dalam suatu jaringan, yaitu menciptakan identitas bersama, pertukaran moral dan pengulangan interaksi.48
Senada dengan Fukuyama, Putnam juga mengungkapkan bahwa individu atau kelompok yang memiliki norma dan nilai yang sama belum tentu dapat
47 Robert M.Z. Lawang. Kapital Sosial Dalam Perspektif Sosiologi; Suatu Pengantar (Jakarta: Fisip UI Press Jakarta, 2005), h. 54-55.
48 Rusydan Fathy, Modal Sosial: Konsep, Inklusivitas dan Pemberdayaan Masyarakat, (Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 6 No. 1, Januari 2019), h. 6-7.
29
menciptakan kerjasama antar individu maupun kelompok. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menciptakan identitas bersama. Putnam juga berpendapat bahwa jaringan-jaringan sosial yang erat akan memperkuat perasaan kerjasama para anggotanya serta menuai manfaat timbal balik. Jaringan memberikan kemudahan untuk saling berkerjasama dalam memperoleh manfaat secara kolektif.49
Penulis juga membahas unsur jaringan dalam modal sosial guna mengerjakan penelitian ini. Unsur jaringan modal sosial penting untuk dibahas karena penulis ingin melihat bagaimana jaringan liqo ini berkejasama dalam membangun dan mempertahankan eksistensi jaringan liqo. Tentunya hal ini ditunjang oleh manfaat timbal balik yang diterima oleh setiap anggoatanya. Penulis ingin melihat manfaat apa yang diterima oleh setiap anggotanya sehingga jaringan liqo ini tetap bartahan dan bisa menambah banyak anggotanya. Seperti yang sudah dibahas diatas, Putnam pun mengatakan jaringan yang baik selalu memberikan kemudahan anggotanya utnuk saling berkerjasama dan mendapatkan manfaat secara kolektif.
Ketiga unsur modal sosial diatas yaitu norma, kepercayaan dan jaringan merupakan indikator dalam mengukur kuatnya modal sosial yang terdapat dalam sebuah kelompok masyarakat. Ketiganya merupakan unsur pembentukkan modal sosial yang saling terkait. Ketiga unsur modal sosial tersebut tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Mereka merupakan satu kesatuan yang saling memengaruhi dan saling terkait satu sama lain. Dengan memiliki norma yang sama, individu-individu yang saling berinteraksi akan menciptakan rasa saling percaya dan memberi
49 John Field, Terj. Nuhardi, Modal Sosial (Bantul: Kreasi Wacana, 2010), h. 16-18.
30
kemudahan untuk saling berkerjasama yang nantinya individu yang saling berkejasama ini akan membentuk sebuah kelompok atau jaringan bersama.
B. Teori Gerakan Sosial
Berbicara tentang gerakan sosial berarti membahas tentang masyarakat atau civil society yang menyuarakan aspirasinya ke pemangku kebijakan. Oleh karena itu, gerakan sosial merupakan reaksi dari masayarakat maupun civil society yang merasa dirinya diperlakukan tidak adil oleh kebijakan yang sedang berlaku.
Kelompok ini semula tidak terorganisir, tidak terarah, dan tidak memiliki perencanaan yang matang. Orang-orang saling membagi duka dan mengeluh tentang situasi terkini yang terjadi di masyarakat. Lalu muncul lah sosok aktor yang memprakarsai sebuah gerakan untuk menyuarakan aspirasi atau tuntutan mereka ke pemangku kebijakan. Kemudian terbentuklah organisasi yang mengakomodir aksi gerakan sosial dan terjadilah aksi gerakan sosial di masyarakat.50
Banyak pakar yang mendifiniskan tentang gerakan sosial diantaranya adalah Anthony Giddens. Giddens menyatakan bahwa “gerakan sosial adalah suatu upaya kolektif untuk mengejar suatu kepentingan bersama atau gerakan mencapai tujuan bersama melalui tindakan kolektif (collective action) di luar lingkup lembaga-lembaga yang mapan”.51
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, gerakan sosial diartikan sebagai tindakan terencana yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat disertai
50 Syamsu A. Kamaruddin, Pemberontakan Petani UNRA 1943; Studi Kasus Mengenai Gerakan Sosial Petani di Sulawesi Selatan Pada Masa Pendudukan Jepang (Jurnal Makara Sosial Humaniora, Vol. 16, No. 1 2012), hal. 21.
51 Fadillah Putra Dkk. Gerakan Sosial (Malang: Averrors Press. 2006), h. 3
31
program terencana dan ditujukan pada suatu perubahan atau sebagai gerakan perlawanan untuk melestarikan pola-pola dan lembaga-lembaga masyarakat yang ada.52 Sedangkan menurut Singh, gerakan sosial biasanya merupakan mobilisasi untuk menentang dan menuntut negara dan sistem pemerintahannya. Gerakan tersebut tidak selalu menggunakan kekerasan dan pemberontakan sosial. umumnya gerakan sosial menyatakan tuntutan dan protes di dalam kerangka nilai-nilai demokratik.53
Tarrow mendefinisikan gerakan sosial sebagai tantangan kolektif yang dilakukan oleh sekelompok orang yang memiliki tujuan dan solidaritas yang sama.
Gerakan dilakukan secara berkelanjutan dengan kelompok elit, lawan, dan penguasa. Menurut Tarrow, terdapat empat kunci dalam memahami gerakan sosial yaitu tantangan kolektif, tujuan bersama, solidaritas kolektif, dan memelihara politik perlawanan.54
Wilson dengan lebih spesifik menekankan gerakan sosial dilakukan dengan cara-cara yang tidak melembaga, gerakan ini tidak ditunjukan untuk memeperoleh posisi-posisi kekuasaan, tetapi sebagai nilai tawar-menawar untuk memengaruhi pembuat kebijakan mengambil keputusan yang menguntukan bagi mereka.55
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa gerakan sosial adalah suatu upaya bersama-sama untuk mengejar suatu kepentingan bersama guna mencapai
52 Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/gerakan%20sosial pada tanggal 8 Juli 2020
53 Dimpos Manalu, Gerakan Sosial dan Perubahan Kebijakan Publik (Jurnal Populasi 18 (1), 2007), h. 31
54 Suharko, Gerakan Sosial Baru di Indonesia: Repertoar Gerakan Petani (Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol.10 No.1 Juli 2006), h. 6.
55 Manalu, Gerakan Sosial dan Perubahan Kebijakan Publik., h. 31.