• Tidak ada hasil yang ditemukan

Felix Kasim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Felix Kasim"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

1. Hubungan Mutu Pelayanan Kesehatan dengan Kepuasan Pasien Di Poliklinik RS GL Tobing

(

Felix Kasim

) ... 1-6 2. Hubungan Kualitas Mutu Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Dengan Kepuasan Pasien

Peserta Jaminan Kesehatan Nasional Di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam

(

Beni Satria

) ... 7-11 3. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Pasien Umum dengan Pemanfaatan Layanan

Kesehatan Jauh Di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam

(Marice Simarmata) ... 12-17

4. Pengaruh Dimensi Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Di Puskesmas Plus

Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai

(Balqis Wasliati) ... 18-24

5. Hubungan Indikator Pengukuran Jenjang Karir Dengan Kepuasan Kerja Perawat Di Rs

GL Tobing PTPN II Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang

(Balqis Wasliati) ... 25-29

6. Hubungan Persepsi Tentang Pelayanan Prima Dengan Kepuasan Pasien

(Jon Piter Sinaga) ... 30-34

7. Hubungan Waktu Tunggu Pendaftaran Dengan Kepuasan Pasien Di Tempat Pendaftaran

Pasien Rawat Jalan (TPPRJ) RS Sakit Setio Husodo Kisaran

(Jon Piter Sinaga) ... 35-42

8. Hubungan Mutu Pelayanan Kebidanan Dengan Tingkat Kepuasan Ibu Nifas Di Rumah

Sakit Sri Ratu Medan

(Herlina Matury) ... 43-47

9. Hubungan Fasilitas Ruang Rawat Inap Dengan Kepuasan Pasien Badan Penyelenggara

Jaminan Sosial (BPJS) Di Rumah Sakit Setio Husodo Kisaran

(Harris Rambey) ... 48-52

Volume 8 | No. 2 | Juni - Agustus 2020

(2)

ISSN : 2252-4487

KESMASTRA-JURNAL

JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

Volume : 8 No. 2 Juni - Agustus 2020

Rumah sakit setiohusodo kisaran

DAFTAR ISI

1. Hubungan Mutu Pelayanan Kesehatan dengan Kepuasan Pasien Di Poliklinik RS GL Tobing (

Felix Kasim

) ... 1-6

2. Hubungan Kualitas Mutu Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Dengan Kepuasan Pasien Peserta Jaminan Kesehatan Nasional Di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam

(

Beni Satria

) ... 7-11 3. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Pasien Umum dengan Pemanfaatan Layanan Kesehatan

Jauh Di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam

(Marice Simarmata) ... 12-17

4.

Pengaruh Dimensi Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai

(Balqis Wasliati) ... 18-24

5. Hubungan Indikator Pengukuran Jenjang Karir Dengan Kepuasan Kerja Perawat Di Rs GL Tobing PTPN II Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang

(Balqis Wasliati) ... 25-29

6. Hubungan Persepsi Tentang Pelayanan Prima Dengan Kepuasan Pasien

(Jon Piter Sinaga) ... 30-34

7. Hubungan Waktu Tunggu Pendaftaran Dengan Kepuasan Pasien Di Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Jalan (TPPRJ) RS Sakit Setio Husodo Kisaran

(Jon Piter Sinaga) ... 35-42

8. Hubungan Mutu Pelayanan Kebidanan Dengan Tingkat Kepuasan Ibu Nifas Di Rumah Sakit Sri Ratu Medan

(Herlina Matury) ... 43-47

9. Hubungan Fasilitas Ruang Rawat Inap Dengan Kepuasan Pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Di Rumah Sakit Setio Husodo Kisaran

(Harris Rambey)... 48-52

(3)

1

HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KEPUASAN PASIEN DI POLIKLINIK RS GL TOBING

Felix Kasim1, Harris Rambey2, Reni Aprinawaty Sirait3, Reno Irwanto4 Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Jl. Sudirman No.38 Petapahan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara

e-mail: [email protected]

Abstract

Service and satisfaction are two things that cannot be accepted, because with satisfaction the related parties can mutually correct the services provided are still bad. The main factor in influencing patient satisfaction is the quality of health services, complete equipment, adequate hospital buildings and facilities, and the completeness of supporting facilities in service. This study aims to see the relationship between patient health services and patient satisfaction at the GL Tobing Hospital, Tanjung Morawa District, Deli Serdang Regency. The type of research used is descriptive quantitative research. The number of samples is 84 people who are determined by accidental sampling technique which uses the Lameshow formula whose population is unknown.

The collected data were analyzed using a computer using the Chi-Square test (p <0.05). It is agreed that the quality of health services with patient satisfaction can affect hospital services. It is hoped that the hospital management will motivate the service providers to develop a friendly, smiling, polite and gentle attitude to patients and their families so that patients feel satisfied with the health services provided.

Keywords: Quality of Health Services, Patient Satisfaction

(4)

2

GL I PENDAHULUAN

Harapan dan kebutuhan masyarakat akan mengalami kepuasaan jika tercapai derajat kesehatan yang merupakan tujuan dari pelayanan kesehatan, yang diberikan melalui pelayanan yang efektif. Mutu pelayanan kesehatan harus mengalami peningkatan agar efektif. Mutu adalah sejauh mana layanan kesehatan yang diberikan ke pasien sesuai dengan prosedur tetap medis. Mutu pelayanan kesehatan merupakan pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap asuhan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan norma/etika sehingga pasien merasa puas dan aman (Bustami, 2011).

Kepuasan pasien merupakan kunci berhasilnya suatu pelayanan kesehatan. Menurut Nursalam (2014) mengemukakan bahwa konsep mutu layanan yang berkaitan dengan kepuasan pasien ditentukan oleh lima unsur yang biasa dikenal dengan istilah mutu layanan “SERVQUAL”

(responsiveness, assurance, tangible, empathy dan reliability). Jika pelayanan kesehatan sempurna maka pasien akan puas dan mutu pelayanan kesehatan baik. Rumah sakit yang memberikan pelayanan yang baik terbukti memliki mutu yang baik.

Pasien akan puas jika kinerja layanan kesehatan sesuai dengan harapannya dan sebaliknya jika tidak sesuai pasien akan tidak puas (Pohan, 2007).

Rumah Sakit Umum dr. G. L.

Tobing PT. Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa sebagai salah satu penyedia pelayanan kesehatan yang menerima pasien rawat jalan khususnya poliklinik. Fasilitas dan bangunan dari Rumah Sakit ini bertambah seperti peralatan, tenaga kerja dan poliklinik (dalam, anak, penyakit kulit dan IGD) dengan melayani pasien 6 hari jam kerja sedangkan untuk IGD, loket dan apotek

buka 24 jam setiap hari (Profil Kesehatan RS GL Tobing, 2016).

Menurut hasil penelitian Anna (2009) menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara kepuasan pasien dengan mutu pelayanan. Pasien menyatakan keluhan bahwa tidak menerima informasi yang kurang jelas mengenai penyakitnya, fasilitas yang ada dirumah sakit kurang memadai dan pelayanan yang diberikan petugas lambat. Berdasarkan survei awal yang di lakukan di Poliklinik Rumah Sakit GL Tobing Tanjung Morawa, jumlah pasien rawat jalan sebanyak 18,815. Walaupun jumlah pasien semakin meningkat namun berdasarkan hasil survei diketahui ada pasien yang menunjukkan rasa kecewa dan komplein dengan

pelayanan di poliklinik, jadi diasumsikan bahwasannya pasien merasa kecewa dengan pelayanan yang dilakukan. Selain itu terlihat juga petugas kesehatan di bagian poliklinik tidak peduli dan tidak ada respon pada saat pasien dan keluarga kebingungan. Sehingga diasumsikan pasien kurang puas terhadap pelayanan di Poliklinik Rumah Sakit. Laporan bulanan kunjungan pasien di Rumah Sakit dr Tobing menunjukkan bahwa selama dua bulan terakhir, bulan oktober tahun 2016 sampai dengan bulan november tahun 2016 mengalami penurunan kunjungan pasien, data pasien pengguna pelayanan kesehatan pada bulan oktober tahun 2016, yaitu jumlah kunjungan pasien di poliklinik rawat jalan sebanyak 1,680 pasien (32%), namun pada bulan november tahun 2016 mengalami penurunan sebanyak 1,590 pasien (30%). Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah kunjungan selama dua bulan terakhir telah mengalami penurunan. Hal ini mengindikasikan bahwa kemungkinan adanya ketidakpuasan pasien terhadap kualitas pelayanan yang diberikan, sehingga memengaruhi tingkat pemanfaatan

pelayanan Rumah Sakit

(5)

3 dr GL Tobing. Rumah Sakit dr GL Tobing adalah salah satu rumah sakit umum di kota Tanjung Morawa yang memiliki tujuan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. Berdasarkan data kunjungan rawat jalan diketahui bahwa jumlah pasien rawat jalan mengalami penurunan. Hal ini perlu mendapatkan perhatian serius bagi pihak pimpinan dan seluruh karyawan rumah sakit untuk meningkatkan mutu pelayanan terutama yang terkait dengan beberapa keluhan tersebut (Profil Kesehatan PT. Perkebunan Nusantara II Dinas RS GL Tobing, 2016).

2. METODE

Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien di poliklinik rawat jalan Rumah Sakit dr G.L Tobing Tanjung Morawa. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan accidental sampling. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui dengan menggunakan kuesioner, sedangkan data sekunder di Rumah Sakit GL Tobing Tanjung Morawa Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang dan data dari berbagai sumber yang telah ada. Variabel independen dalam penelitian ini adalah mutu pelayanan kesehatan dan variabel dependen dalam penelitian ini adalah kepuasan pasien.

3. HASIL

Hasil penelitian dijelaskan pada tabel berikut ini:

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden

Jenis Kelamin

Laki-laki 38 45,2

Perempuan 46 54,8

Total 84 100,0

Pendidikan Terakhir

SD 3 3,6

SMP 12 14,3

SMA 43 51,2

D3/S1 20 23,8

S2 6 7,1

Total 84 100,0

Pekerjaan

Wiraswasta 12 14,3

IRT 33 39,3

Petani 11 13,1

PNS 3 3,6

Tidak Bekerja 25 29,8

Total 84 100,0

Tabel 1 menunjukkan jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 84 orang. Mayoritas umur >

35 tahun sebanyak 45 orang (53,6%), jenis kelamin perempuan sebanyak 46 orang (54,8%), pendidikan terakhir SMA sebanyak 43 orang (51,2%), pekerjaan IRT sebanyak 33 orang (39,3%)

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Mutu Layanan Kesehatan

Mutu Layanan F %

Tidak Baik 36 42,9

Baik 48 57,1

Total 84 100,0

Tabel 2 menunjukkan bahwa mutu layanan kategori baik sebanyak 49 orang (57,1%).

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kepuasan Pasien

Kepuasan Pasien F %

Tidak Puas 49 58,3

Puas 35 41,7

Total 84 100,0

Tabel 3 menunjukkan bahwa kepuasan pasien kategori tidak puas sebanyak 49 orang (58,3%).

Tabel 4. Hubungan Variabel Independen dengan Variabel Dependen

Variabel F %

Umur

< 20 tahun 15 17,9

20-35 tahun 24 28,6

> 35 tahun 45 53,6

Total 84 100,0

(6)

4 Variabel

Tidak

Puas Puas f % f % Bukti Fisik

Tidak Baik 40 80,0 10 20,0 Baik 7 20,0 27 80,0 Kehandalan

Tidak Baik 27 51,0 19 49,5 Baik 20 49,0 18 50,5 Ketanggapan

Tidak Baik 34 63,7 12 29,9 Baik 13 36,3 25 70,1 Jaminan

Tidak Baik 29 61,7 18 48,6 Baik 18 38,3 19 51,4 Empati

Tidak Baik 40 80,0 7 20,6 Baik 10 20,0 27 79,4

Tabel 4 menunjukkan bahwa mayoritas kepuasan pasien kategori tidak puas dengan bukti fisik kategori tidak baik sebanyak 40 orang (80%), kehandalan kategori tidak baik sebanyak 27 orang (51%), ketanggapan kategori tidak baik sebanyak 34 orang (63,7%), jaminan dengan kategori tidak baik sebanyak 29 orang (61,7%) dan empati kategori tidak baik sebanyak 40 orang (80%).

4. PEMBAHASAN

Hubungan bukti fisik dengan kepuasan pasien mayoritas kategori tidak baik sebanyak 40 orangHubungan bukti fisik yang tidak menghasilkan responden yang tidak puas sebanyak 40 responden. Bukti fisik yang baik menghasilkan responden tidak puas sebanyak 7 responden dan puas 27 responden.

Menurut Nurachmah (2004) menyatakan bahwa tampilan sarana dan prasarana suatu rumah sakit harus bisa diandalkan sehingga menjadi bukti nyata dalam pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien dan keberadaannya bisa dikenal oleh pihak luar.

Hubungan kehandalan dengan kepuasan pasien mayoritas kategori tidak baik sebanyak 46 orang Hubungan Kehandalan yang baik mayoritas menghasilkan responden tidak puas sebanyak 20 orang.

Hal ini sesuai dengan teori Triwibowo (2013) yaitu tenaga kesehatan dalam melakukan kemampuan rumah sakit memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pasien tanpa kesalahan, sikap yang simpatik dan dengan akurasi yang tinggi, pemberian informasi yang baik sehingga tidak terjadi keluhan pasien.

Dalam pelayanan kesehatan yang bermutu sangat mempengaruhi kepuasan pasien di poliklinik. Disisi lain, penyebab sumber ketidakpuasan pasien sering sering disebabkan karena pasien misalnya terlalu lama,

“Provider” kurang ramah, keterampilan juga kurang, akan membuat pasien kecewa. Faktor kepuasan pasien juga dapat menciptakan presepsi masyarakat tentang citra rumah sakit.

Hubungan ketanggapan dengan kepuasan pasien mayoritas kategori tidak baik sebanyak 34 orang dan pasien puas sejumlah 34 orang.

Menurut Anna (2009) kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat dan tepat kepada pasien dengan penyampaian informasi yang jelas. Pasien akan merasa tidak puas dan timbul sikap negatif jika menunggu tidak dengan alasan yang jelas. Untuk mengatasinya tenaga kesehatan harus memberikan informasi yang jelas sehingga terjalin hubungan yang harmonis.

Hubungan jaminan dengan kepuasan pasien mayoritas tidak baik

(7)

5 sebanyak 47 orang dan tidak puas sejumlah 29 orang.

Menurut Anna (2009) menunjukkan pengetahuan, kesopan satunan dan kemampuan para pegawai rumah sakit menumbuhkan rasa percaya para pasien. Hal ini meliputi beberapa komponen antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy).

Membiarkan konsumen menunggu tanpa ada alasan yang jelas menyebabkan persepsi negatif dalam kualitas pelayanan yang menyatakan bahwa tenaga kesehatan dalam melakukan kebijakan atau memberikan informasi harus efektif sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan terhindar dari compain atau ketidak puasan pasien.

Hubungan empati dengan kepuasan pasien mayoritas kategori tidak baik sebanyak 40 orang.

Menurut Anna (2009) menunjukkan memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan pasien. Dimana suatu perusahaan maupun rumah sakit diharapkan memiliki pengetahuan dan pengertian tentang pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pasien.

5. KESIMPULAN

Kesimpulan pada penelitian ini yaitu:

a. Ada hubungan bukti fisik dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit GL Tobing Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang b. Ada hubungan ketanggapan

dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit GL Tobing Kecamatan

Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang

c. Ada hubungan empati dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit GL Tobing Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, Dedi dan Ratna Muliawati.

2013. Pilar Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Yogyakarta : Nuha Medika.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI). Jakarta : Rineka Cipta.

Asmuji. 2013.Buku Panduan Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. Magelang : Jakarta.

Bustami. 2011. Penjamin Mutu Pelayanan Kesehatan dan Akseptabilitasnya.

Jakarta:Erlangga.

Kepmenkes RI Nomor

66/Menkes/SK/II/1987. Pelayanan Rawat Jalan di Rumah Sakit. 1987.

Jakarta : Menkes RI : 1987.

Lupiyoadi, Rambat dan A. Hamdani.

2010. Jaminan Kepuasan Pelanggan. Jakarta : Salemba Empat.

Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul Chayatin. 2011. Ilmu Kesehatan Masyarakat : Teori dan Aplikasi.

Jakarta : Salemba Medika.

Mukti, Ali Ghufron. 2007. Strategi Terkini Peningkatan Mutu PelayananKesehatan : Konsep Implementasi. Yogyakarta : PT.

Karya Husada Mukti.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2011.

Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi Revisi.Jakarta : Rineka Cipta.

Nursalam. 2014. Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional Edisi 4. Jakarta : Salemba Medika.

Pohan, Imbalo S. 2007. Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan, Dasar-dasar

(8)

6 Pengertian. Jakarta : Kesaint Blanc.

Sabarguna, Boy S. 2008. Quality Assurance Pelayanan Rumah Sakit Edisi Revisi. Jakarta : CV Sagung Seto.

Saryono dan Mekar Dwi Anggraeni.

2013. Metodologi Penelitian Kuantitatif danKualitatif dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika.

Supriyanto, S dan Ernawaty. 2010.

Pemasaran Industri Jasa Kesehatan.Yogyakarta : Andi.

Tjiptono, F. 2012. Prinsip – Prinsip Service Quality and Satisfaction.

Andi Offset : Yogyakarta.

(9)

7

HUBUNGAN KUALITAS MUTU PELAYANAN KESEHATAN RAWAT JALAN DENGAN KEPUASAN PASIEN PESERTA JAMINAN

KESEHATAN NASIONAL DI RUMAH SAKIT GRANDMED LUBUK PAKAM

Beni Satria

1

, Jon Piter Sinaga

2

, Irmayani

3

, Raini Panjaitan

4

, Jul Asdar Samura

5

Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Jl. Sudirman No.38 Lubuk Pakam Kec. Lubuk Pakam Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara

Email: [email protected]

Abstract

The quality of health human resources is closely related to the level of patient satisfaction, this is because the implementation of good workforce performance will be able to complete every responsibility charged so that the patient will be satisfied with the service they receive. The purpose determine the relationship quality of quality of health care human health outpatient with the level of patient satisfaction peseserta national health insurance in hospital Grand Medistra lubuk pakam 2017. Research is an analytical survey research with cross sectional design, and population all patients amounting to 11070 patients.

The sampling technique using accidental sampling which amounted to 73 patients.Based on the results obtained the majority of patients have a category of age less than 30 years of 68.5%, sex peremouan as much as 58.9%, and participan status is PBI of 80.8%. As for the distribution of the quality of human resources, the majority have quite good category 52.1%, and the distribution of satisfaction level of respondents mayorias have quite satisfied category as much as 50.7%. Based on statistical test result with Chi Square test of intrinsic interamotivation with performance show value p = 0,016 meaning p value

<from 0,05 hence hypothesis accepted mean there is relation of health human resource quality in outpatient poly clinic with level of patient satisfaction. Based on this research, it is necessary to improve the quality of health resources in order to increase the level of patient satisfaction.

Keywords: Quality of Human Resources, Patient Satisfaction 1. PENDAHULUAN

Pelayanan kesehatan adalah bentuk pelayanan yang paling penting dan paling berpengaruh dalam meingkatkan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang akan diterapkan untuk memberikan layanan dnegan jangka waktu yang lama dan

terus dilakukan kepada setiap orang yang membutuhkannya. Sarana dalam pelayananan kesehatan akan sangat berdampak bagi para pengguna jika sasaran yang di tuju sesuai dengan membutuhkan dan memiliki tingkat kepuasanan bagi para pengguna tesebut. Salah satu fasilitas yang

(10)

8 menyediakan jasa pelayanan bagi pasien adalah rumah sakit yang ada di lubuk pakam yakni Rumah sakit GrandMed. Rumah sakit adalah sarana dan upaya yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan serta dapat berfungsi sebagi tempat pendidikan bagi tenaga kesehatan serta penelitian.

Rumah sakit memiliki peranan yang sangat penting dalam masyarakat atau pasien karena dapat membantu menyembuhkan penyakit yang diderita.

salah satu fungsi rumah sakit adlah melayani dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi setiap orang.

Pengguna jasa pelayanan kesehatan yang ada di setiap fasilitas kesehatan akan terukur dan bernilai baik jika adanya mutu pelayanan yang diberikan menunjuk pada tingkat kesempurnaan dalam pemberi pelayanan baik satu pihak maupun pihak lainnya.

Mutu adalah tingkat kualitas pelayanan di bidang kesehatan sedangkan mutu pelayanan kesehatan merupakan suatu tindakan untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien yang membutuhkan pertolongan dalam mengurangi penyakit. Pengguna jasa pelayanan kesehatan yang ada di rumah sakit menuntut agar pelayanan yang diberikan harus berkualitas seperti menyangkut kesembuhan, kepuasan, pengetahuan dan keterampilan para petugas dalam memberikan pelayanan serta tersedianya sarana dan prasarana yang memadai dan dapat memberikan kenyamanan bagi setiap orang (Bustami, 2011).

Kepuasan merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan rasa senang, bahagia dalam melakukan segala kegiatan dalam hidupnya terutama dalam mendapatkan fasilitas pelayanan baik dari tindakan, sikap

maupun pelaynan yang diberikan.

dengan adanya tingkatan kepuasan yang diberikan petugas kesehatan kepada pasien dapat meningkatkan rasa percaya dan saling berkontribusi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas.

Salah satu manfaat pelayanan kesehatan yang dapat dirasakan oleh masyarkat luas adalah dengan menggunakan jaminan kesehatan yang di miliki dan sudah terdaftar. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu bentuk pertahanan dan perlindung dalam mendapatan fasiliats kesehatan di rumah sakit. Adapun di lakukan jaminan kesehatan ini adalah untuk mampu meningkatkan derajat kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia khsusnya bagi yang membutuhkan fasilitas kesehatan.

Temuan yang di dapatkan pada saat servi lapangan bahwa adanya suatu keluhan yang diraskan oleh peserta jaminan kesehatan nasional terkait pelayanan yang di dapatkan, sehingga tingkat kepuasan dalam pelayanan kesehatan dalam penggunaan jaminan kesehatan tidak bermanfaat. Harapan dalam penggunaan jaminan kesehatan sangat berkaitan erat terhadap mutu pelayanan dengan mengacu pada paduan sifat-sifat dan karakteristik produk atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan bagi para penggunan dan sangat dipengaruhi oleh kualitas sarana fisik, jenis tenaga yang tersedia, obat dan alat kesehatan, serta proses pemberi pelayanan. Dengan adanya BPJS atau jaminan kesehatan yang lain dapat meningktakan dan mempengaruhi tingkat kepuasan pasien BPJS.

Berdasarkan data tentang keikut sertaan BPJS Kesehatan yang ada di medan berkisar 16.681.834 juta jiwa,

(11)

9 diaman keikut sertaan peserta sekitar 980.018 ribu peserta. Berdasarkan data yang ditemukan berarti jumlah pemakai jaminan sosial sudah banyak, namun tingkat kepuasan dalam penggunan jaminan sosial tersebut belum di dapatan.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitan ini adalah Apakah ada Hubungan kualitas mutu pelayanan dengan kepuasan pasien peserta jaminan kesehatan Nasional di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan desain desriktif analitik dengan pendekatan cross sectional. Dimana peneliti hanya mendiskripsikan hubungan antara kualitas sumber daya manusia kesehatan rawat jalan dengan tingkat kepuasan pasien kepesertaan jaminan kesehatan nasiaonal di rumah sakit Grand Medistra Lubuk pakam. Sampel dalam populasi ini adaah 50 orang dengan teknik pengambilan sampel adalah total sampling.

3. HASIL Univariat

Tabel 1. Distribusi Frekuensi umur, jenis kelamin dan Pendidikan

-laki-laki

-perempuan 32 72,3 Pendidikan

-DIII

-S1 28

22 54,5

45,5

Total 50 100

Berdasarkan hasil penelitian tabel 1 diatas mayoritas umur responden ada pada umur ≥31 tahun sebanyak 35 orang (66,7%), dan pada jenis kelamin mayoritas responden perempuan sebanyak 32 orang (72,3%) dan pada katagori pendidikan mayoritas pada pendidikan DIII yakni 28 orang (54,5%).

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Mutu pelayanan kesehatan dan kepuasaan pasien peserta jaminan kesehatan

Variabel Frekuensi n %

Mutu Pelayanan

-baik 25 50

-Cukup 15 35

-Kurang

Kepuasaan 10 15

pasien

-Baik 28 57,1

-Cukup 15 25,5

-Kurang 7 17,4

TOTAL 30 100,0 Tabel 2 dapat dijelaskan bahwa mayoritas mutu pelayanan yang baik ada sebanyak 25 orang (50%), sedangkan yang miyoritas kurang ada 10 orang (15%), sedangkan pada pioritas kepuasaan pasien mayoritas baik ada sebanyak 28 orang (57,1%) dan pada kepuasan pasien kurang ada sebanyak 7 orang (17,4%).

Variabel Frekuensi

(n) Presentase (%)

Umur -30 tahun

-≥31 tahun 15

35 33,3

66,7 Jenis

kelamin 18 27,7

(12)

10 Bivariat

Tabel 3. Hubungan mutu pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien peserta jaminan kesehatan

Kepuasan Pasien Total p-value

Variabel Puas Cukup Kurang

f % f % f % f %

Mutu

pelayanan 0,002

-baik 30 67,8 18 41,1 2 39,3 50

-cukup 16 25,1 28 50,8 6 50,2 50

-Kurang 4 7,1 5 8,1 1 10,5 10

Hasil uji pada tabel 3 yang dilakukan diperoleh bawah ada hubungan yang signifikan anatara mutu pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien jaminan kesehatan yang ada di rumah sakit GrandMed, dimana diperoleh hasil chi square nilai (p=0,002; p<0,05).

4. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa bawah ada hubungan yang signifikan anatara mutu pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien jaminan kesehatan yang ada di rumah sakit GrandMed.

Tabel 2 dapat dijelaskan bahwa mayoritas mutu pelayanan yang baik ada sebanyak 25 orang (50%), sedangkan yang miyoritas kurang ada 10 orang (15%), sedangkan pada pioritas kepuasaan pasien mayoritas baik ada sebanyak 28 orang (57,1%) dan pada kepuasan pasien kurang ada sebanyak 7 orang (17,4%).

Hasil uji pada tabel 3 yang dilakukan diperoleh bawah ada hubungan yang signifikan anatara mutu pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien jaminan kesehatan yang ada di rumah sakit GrandMed, dimana diperoleh hasil chi square nilai (p=0,002; p<0,05)

Mutu pelayanan kesehatan sangat memperngaruhi tingkat kepuasan pasien, dimana tingkat kepuasan pasien dapat dilihat dari mutu pelayanan kesehatan. Pasien yang menyatakan kepuasannya baik pada umunya mendapat pelayanan yang baik juga.

Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah

membandingkan antara persepsi atau kesannya terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan – harapannya (Kotler, 2004).

5. KESIMPULAN

Kesimpulan pada penelitian ini yaitu:

1. Berdasarkan hasil penelitian tabel 1 diatas mayoritas umur responden ada pada umur ≥31 tahun sebanyak 35 orang (66,7%), dan pada jenis kelamin mayoritas responden perempuan sebanyak 32 orang (72,3%) dan pada katagori pendidikan mayoritas pada pendidikan DIII yakni 28 orang (54,5%).

2. Tabel 2 dapat dijelaskan bahwa mayoritas mutu pelayanan yang baik ada sebanyak 25 orang (50%), sedangkan yang miyoritas kurang ada 10 orang (15%), sedangkan pada pioritas kepuasaan pasien mayoritas baik ada sebanyak 28 orang (57,1%) dan pada kepuasan pasien kurang ada sebanyak 7 orang (17,4%).

3. Hasil uji pada tabel 3 yang dilakukan diperoleh bawah ada hubungan yang signifikan

(13)

11 anatara mutu pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien jaminan kesehatan yang ada di rumah sakit GrandMed, dimana diperoleh hasil chi square nilai (p=0,002; p<0,05).

DAFTAR PUSTAKA

Apriliani. 2010. Hubungan antara mutu pelayanan rawat inap dengan kepuasan pasien.

Bustami. 2011. Penjaminan Mutu Pelayanan Kesehatan dan Akseptabbilitynya. Jakarta:

Erlangga

Nursalam.2011. Manajemen Keperawatan, Aplikasi dalam Praktek Keperawatan Profesional, Jakarta: Selemba Medika

Rahmani, Velma Fidelia. 2009. Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Jalan Terhadap Kualitas Pelayanan RSU Bhakti Tanggerang. Skripsi

(14)

12

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN UMUM DENGAN PEMANFAATAN LAYANAN KESEHATAN JAUH DI RUMAH

SAKIT GRANDMED LUBUK PAKAM

Marice Simarmata

1

, Harris Rambey

2

, Sri Melda Br Bangun

3

, Anggi Isnani Parinduri

4

, Fadlilah Widyaningsih

5

Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Jl. Sudirman No.38 LubukPakamKec. Lubuk Pakam Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara

Email: [email protected]

Abstract

Knowledge and attitudes are the result of knowing through the sensing of a given object and social interaction so that the formation of one's actions.

Utilization of health services is the use of service facilities provided both in the community, affordable, and quality. The purpose of this research is to know the relation of knowledge and attitude of general patient with utilization of outpatient health service at GrandmedLubukPakam Hospital Year 2014. The research design is survey analitik with cross sectional design. Selection of samples with purposive sampling as much as 73 respondents. The data obtained were analyzed by computerized program using chi-square test (x2), at the 95% significance level (α 0,05). Statistical analysis showed that there was a general patient knowledge relationship with utilization of outpatient health service at GrandmedLubukPakam Hospital Year 2014, p = 0,019 (α <0,05).

There is a general patient attitude relationship with utilization of outpatient health service at GrandmedLubukPakam Hospital Year 2014, p = 0,027 (α

<0,05). There is relationship of knowledge and attitude of patient with utilization of outpatient health service at GrandmedLubukPakam Hospital Year p

= 0,011 (α<0,05).

Keywords: Knowledge, Attitude, Utilization of Health Services 1. PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan menurut Undang-Undang Kesehatan tahun 2009 No 36memiliki tujuan untuk menyadarkan, memiliki kemauan serta meningkatkan pola hidup sehat semua kalangan masyarakatdalammewujudkan tingkat derajat kesehatan masyarakat.

Untuk itu sangat perlumelakukan upaya dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan di bidang fasilitas rumah sakit.Perilaku masyarakat merupakan

faktor kedua dalam mempengaruhi tingkat derajat kesehatan baik itu individu, kelompok, ataupun masyarakat, dimana dalam prilaku seseorang memiliki bagian seperti sikap, tindakan dan pengetahuan yang dapat mempengaruhu derajat kesehatan itu sendiri.

Salah satu sarana pelayanan kesehatan yang memilki peranan yang sangat penting dalam memberikan, melakukan tindakan pelayanan

(15)

13 kesehatan kepada individu, kelompok dan masyarakat merupakan istilah atau defenisi dari rumah sakit. Rumah sakit adalah suatu lembaga atau instansi bidang kesehatan dimana memiliki tugas dan peran yang sangat pentingdalam mengembangkan, memelihara untuk memberikan suatu pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat.

Dalam pelayanan yang di berikan rumah sakit untuk menyelenggarakan tindakan perawatan terdapatdua layanan untuk masyarakat yaitupelayanan kesehatan seperti pelayanan medis, rehabilitasi medis dan pelayanan perawatan dan pelayanan administrasi seperti pemberkasan dan lain-lain (Munijaya, 2013).Pada pelaksana pelayanan administrasi atau pelayanan nonmedis diwakili oleh kalangan administrasi (administrator), slah satu tugas utamanya adalah mengelolah kegiatan aspek non-medis rumah sakit sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Dewan Perwalian (penentu kebijakan rumah sakit) (Azwar, 2010).

Cara utama pelayanan jasa kesehatan termasuk pelayanan rawat jalan untuk tetap unggul bersaing adalah memberikan jasa dengan kualitas yang lebih tinggi dari pesaingnya secarakonsisiten.Kuncinya adalah memenuhi atau melebihi harapan pasien tentang kualitas pelayananyangditerimanya.Setelah menerima jasa pelayanan kesehatan pasien akan membandingkan jasa yang dialami dengan jasa yang diharapkan.

Jika jasa yang dialami berada dibawah jasa yang diharapkan, pasien tidak berminat lagi pada penyedia pelayanan kesehatan. Jika jasa yang dialami memenuhi atau melebihi harapan,

pasien akan menggunakan penyedia pelayanan kesehatan itu lagi (Supranto,2013).

Adanya keselapahaman antara pendapat antarapasien dengan pendapat penyedia jasa pelayanan yang saling berkaitan dengan adanya kegagalan penyampaian jasa yang berkualitas. Untuk mengatasi kesenjangan antara persepsi pasien dan persepsi penyedia jasa pelayanan kesehatan rumah sakit adalah mengidentifikasi atau mengenal kebutuhan pasien dan faktor- faktor apa saja yang berpengaruh terhadap mutu pelayanan yang diterimanya (Muninjaya,2012).

Pasien melihat layanan kesehatan yang bermutusebagai suatu layanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan yang dirasakannya dan diselenggarakan dengan cara yang sopan dan santun, tepat waktu, tanggap dan mampu menyembuhkan keluhannya serta mencegah berkembangnya atau meluasnya penyakit. Pandangan masyarakat / pasien ini sangat penting karena pasien yang merasa puas akan mematuhi pengobatan dan mau datang berobat kembali (Pohan,2012).

Adapun kondisi yang menunjukkan masalah kualitas dan keefektifan yang ada di rawat jalan rumah sakit yakni adanya keluhan yang sering terdengar dari pihak pemakai layanan kesehatan yang biasanya menjadi sasaran adalah sikap dan tindakan dokter atau perawat, sikap petugas administrasi, selain itu juga tentang saranayang kurang memadai, kelambatan pelayanan, persediaan obat, tarif pelayanan kesehatan, peralatan medis dan lain-lain diamna, jumlah masyarakat yang memanfaatkan pelayanan kesehatan

(16)

14 rawat jalan di India pada tahun 2013 adalah 42,7 juta orang. Vietnam pada tahun 2014 sebanyak 33,8 juta orang yang memanfaatkan pelayanan kesehatan rawat jalan, sedangkan di bagian lain ASIA tercatat pada tahun2014 sebesar 38,4 juta orang yang memanfaatkan pelayanan kesehatan rawat jalan masih sangat kurang (Lazuardi, 2014).

Dari data Profil Kesehatan Indonesia pada tahun 2010, jumlah pasien yang memanfaatan pelayanan rawat jalan pasien umum di rumah sakitberjumlah1.871.157 orang.

(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011).

Profil kesehatan kabupaten Deli Serdang tahun 2013 melaporkan bahwa jumlah pasien yang memanfaatkan pelayanan rawat jalan secara umum adalah sebanyak 4.396.694 orang.Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam merupakan rumah sakit swasta yang menyelenggarakan pelayanan rawat jalan pasien. Survey awal pada tanggal yang dilakukan peneliti di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam, tentang perkembangan jumlah kunjungan pasien umum selama 3 tahun terakhir menunjukkan jumlah kunjungan pasien rawat jalan pasien umum tahun 2013 sebanyak15.250 pasien (14,62 %), tahun 2012 sebanyak 13.345 pasien (13,07%), dan tahun 2016 mengalami penurunan 12.175 pasien (11,53 %). Berdasarkan data di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Pasien Umum dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk.

2. METODE PENELITIAN

Desain penelitian yang digunakan adalah observasional dengan study cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien umum sebanyak 512 orang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan rumus acciddental sampling yaitu teknik pengambilan sampel secara kebetulan sehingga sampel di dapatkan sebanyak 73 orang.

3. HASIL

Tabel 1.Distribusi Responden berdasarkan karakteristik umur, jenis

kelamin dan agama di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam

Variabel Frekuensi (n)

Presentase (%)

Umur -30 tahun

-≥31 tahun 33

40 45,2

54,8 Jenis

kelamin -laki-laki

-perempuan 30

43 41,1

58,9 Agama

-islam

-Kristen 40

33 54,8

45,2

Total 73 100

Berdasarkan hasil penelitian yang di sajikan dalam tabel 1 maka diperolehnilai mayoritas responden pada karateristik umur ≥31 tahunada sebanyak 40 orang (54,8%), dan pada kelompo umur <30 tahun ada 33 orang dengan presentasi (45,2%). Sementara pada kelompok jenis kelamin pada responden mayoritas perempuan yakni sebanyak 43 orang dengan presentasi (58,9%), jenis kelamin laki-laki yakn ada 30 orang (41,2%). Pada kelompok karakteristik agama mayoritas responden beragama islam yakni 40 orang (54,8%) sedangkan yang beragama kristen ada 33 orang (45,2%).

(17)

15 Tabel 2.Distribusi Frekuensi

Pengetahuan Responden tentang Pemanfa atan Pelayanan Kesehatan di

Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam

Pengetahuan Frekuensi

n %

-Baik -Cukup -Kurang

10 39 24

13,7 53,4 32,9

TOTAL 73 100,0

Tabel 2

Dapat diketahui secara umum bahwa penge tahuan responden tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Grand Medistra menunjukan bahwa dari 73

Responden terdapat 10 orang pasien

(13,7%) yang

Menyatakan pengetahuan baik, terdapat

39 orang pasien (53,4%) yang menyatakan pengetahuan cukup baik, danterdapat 24 orang pasien (32,9%) yang menyatakan pengetahuan kurang baik.

Tabel 3. Distribusi Responden berdasarkan

sikaptentangPemanfaatanPelayananKese hatandi RumahSakit Grand

MedistraLubukPakam

Dari tabel3 dapat diketahui secara umum bahwa sikap responden terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan di RumahSakit Grand Medistra menunjukan bahwa dari 73 responden terdapat 7 pasien (9,6%) yang menyatakan sikap baik, terdapat 41 pasien (56,2%) yang menyatakan sikap cukup baik, dan terdapat 25 pasien (34,2%) yang menyatakan sikap kurang baik.

Pembentukan sikap merupakan hasil intera ksi individu dengan lingkungannya.

Tabel4.Distibusi Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan di RumahSakit Grand

MedistraLubukPakam Pemanfaatan

pelayanan

Frekuensi

n %

-Pemanfaatkan

-Tdk memanfaatkan 21

52 28,8 71,2

TOTAL 73 100,0

Dari tabel 4

Dapat diketahui secara umump emanfaatan pelayanan kesehatan di RumahSakit Grand Medistra menunjukan bahwa dari 73 responden terdapat 21 pasien (28,8%) yang Menyatakan memanfaatkan pelayanan kesehatan, dan terdapat 52 pasien (71,2%) yang menyatakan tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan.

Bivariat

Tabel 5. Hubungan Pengetahuan Pasien Dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Di Rumah Sakit Grand MedistraLubukPakam

Pemanfaatan Pelayanan

Pengetahuan Total p-value

Ya % Tidak %

-Baik 4 60 6 40 16

-Buruk 12 30,8 27 69,2 39 0,05

-Kurang 3 12,5 21 87,5 21

Sikap Frekuensi

n %

-Baik -Cukup -Kurang

7 41 25

9,6 56,2 34,2

TOTAL 73 100,0

(18)

16 Dari tabel 5 dapat diketahui bahwa dari 10 pasien yang menyatakan pengetahuan baik memanfaatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam terdapat 6 pasien (60,0%) dan 4 pasien (40,0%) yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan. Dari 39 pasien yang menyatakan pengetahuan cukup baik memanfaatkan pelayanan kesehatan terdapa 12 pasien (30,8%) dan 27 pasien (69,2%) yang tidak memanfaatkan

pelayanan kesehatan. Dari 24 pasien yang menyatakan pengetahuan kurang baik memanfaatkan pelayanan kesehatan terdapat 3 pasien (12,5%) dan 21 pasien (87,5%) yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan. Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p (0,019) > α (0,05), Hal ini berarti ada hubungan pengetahuan pasien dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam.

Tabel 6. Hubungan Sikap Pasien dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam

Pemanfaatan Pelayanan

Sikap Total p-value

Ya % Tidak % -Baik

-Buruk

18 3

40,9 10,3

26 26

59,1 89,9

44

20 0,011

Berdasarkan tabel 6 di atas maka dapat diketahui bahwa dari 44 pasien yang menyatakan pengetahuan dan sikap baik memanfaatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam terdapat 18 pasien (40,9%) dan 26 pasien (59,1%) yang tidak memanfaatkan. Dari 29 pasien yang menyatakan pengetahuan dan sikap tidak baik memanfaatkan

pelayanan kesehatan terdapat 3 pasien (10,3%) dan 26 pasien (89,7%) yang tidak memanfaatkan. Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p (0,011) < α (0,05), hal ini berarti ada hubungan pengetahuan dansikap pasien dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam

4. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang di sajikan dalam tabel 1 maka diperoleh nilai mayoritas responden pada karateristik umur ≥31 tahun ada sebanyak 40 orang (54,8%), dan pada kelompo umur <30 tahun ada 33 orang dengan presentasi (45,2%). Sementara pada kelompok jenis kelamin pada responden mayoritas perempuan yakni sebanyak 43 orang dengan presentasi (58,9%), jenis kelamin laki-laki yakn ada 30 orang (41,2%). Pada kelompok

karakteristik agama mayoritas responden beragama islam yakni 40 orang (54,8%) sedangkan yang beragama kristen ada 33 orang (45,2%). Menurut pendapat Notoatmodjo (2011) bahwa pengetahuan merupakan respon seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang masih bersifat terselubung.Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang Pembentukan sikap

(19)

17 merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya.Walgito 2001 (dalam Saam, 2012), menyebutkan pembentukan sikap seseorang adalah perpaduan faktor internal dengan faktor eksternal.Faktorinternal seperti keadaan fisiologis, emosi, motif, minat, dan aspek-aspek psikologis lainnya.Faktor eksternal seperti pengalaman,norma- norma nilai, dan pendidikan. Sikap individu terhadap terhadap program pengobatan dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan individu itu sendiri.

Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang, maka sikap individu semakin terbuka untuk menerima apa yang diketahuinya.

Menurut asumsi peneliti, sikap individu dalam menggunakan pelayanan kesehatan tergantung kepada pengetahuan yang dimilikinya, jadi responden yang memilki sikap negatif tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang manfaat dari pelayanan kesehatan tersebut sehingga mereka tidak yakin dan tidak memiliki minat dalam memanfaatkannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan mereka.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang pengetahuan dan sikap pasien umum dengan pemanfaatan layanan kesehatan jauh di rumah sakit grand medistra lubuk pakam di dapatkan yakni:

1. Berdasarkan hasil uji statistik dan pembahasan tersebut diatas bahwa dapat disimpulkan bahwa hubungan pengetahuan dan sikap pasien dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam

2. Ada hubungan pengetahuan pasien dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam (p value = 0,019) 3. Ada hubungan sikap pasien dengan

pemanfaatanpelayanan kesehatan di

rumah sakit Grandmed Lubuk Pakam (p value =0,027).

4. Ada hubungan pengetahuan dan sikap pasien dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di rumah sakit Grandmed Lubuk Pakam tahun 2014 (p value = 0,011).

5. Ada hubungan yang signifikan massa kerja dengan keluhan nyeri leher pada penjahit di Lembaga Latihan Kerja Lubuk Pakam dengan nilai p=0,016 (p<0,05).

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. Sikap Manusia Teori dan Pengukuran. Pustaka Pelajar.

Yogyakarta. 2010.

Munijaya, A.A.Gde, 2013, Manajemen Kesehatan, EGC, Jakarta

Notoatmodjo, S. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.

2011.

Supranto, 2013, Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan : Untuk Menaikkan Pangsa Pasar, Jakarta, Rineka Cipta

Pohan, Imbalo S, 2003, Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan Dasar- Dasar Pengertian, Kesaint Blanc, Jakarta

(20)

18

PENGARUH DIMENSI KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI PUSKESMAS PLUS PERBAUNGAN KABUPATEN

SERDANG BEDAGAI

Balqis Wasliati1, Herlina Maturi2, Irmayani3, Anggi Isnani Parinduri4, Delita Br Panjaitan5

Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jl. Sudirman No.38 Petapahan Lubuk Pakam

Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara e-mail: [email protected]

Abstract

Job satisfaction experienced or perceived by health workers have a positive effect on service quality and ultimately lead to patient satisfaction.

This clearly shows that employee job satisfaction plays an important role to improve the performance of health services .This research explain about two variable that is job satisfaction and employee performance. The approach used in this study is a quantitative approach with survey research method with cross sectional design using purposive sampling technique to all employees of Plus Perbaungan Plus know how the influence of job satisfaction on the performance of employees of Public Health Center Plus Perbaungan. Job satisfaction variables were tested using the 5 dimensions proposed by Fred Luthan and the employee performance variables were tested using the eight dimensions that Faustino Gomez proposed. Data analysis using linear logistic regression test with value and result of research indicate that job satisfaction (wage) that is p value = 0,017 mean have significant influence to employee performance and value B = 2,958 in other words wage variable 2,958 times have an effect on to performance. Positive relationship is formed by the high job satisfaction, the performance of Puskesmas Plus Perbaungan employees is also high.

Keywords: job satisfaction, employee performance, workers

(21)

19 1. PENDAHULUAN

Puskesmas sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kesehatan menjadi ujung tombak dari pelayanan kesehatan di Indonesia.

Puskesmas bertugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Dalam menjalankan tugasnya, puskesmas mempunyai fungsi menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif, berkesinambungan dan bermutu (Permenkes Nomor 75 Tahun 2014).

Kepuasan kerja yang dialami atau dirasakan oleh tenaga kesehatan berpengaruh positif terhadap kualitas pelayanan dan akhirnya mengarah pada kepuasan pasien. Hal ini jelas menunjukkan bahwa kepuasan kerja pegawai berperan penting untuk meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan kepada pasien (Widyaningrum, 2010). Namun ironi bagi Indonesia, negara yang masih berkembang ini masih memiliki produktivitas kerja yang terbilang rendah karena masih banyak dan beragamnya faktor yang menghambat umumnya pada bidang kesehatan.

Mutu sumberdaya dan kinerja masih membutuhkan pembenahan.

Produktivitas pegawai menjadi pusat perhatian dalam upayanya untuk meningkatkan kinerja yang mempengaruhi efisiensi dan efektivitas organisasi. Analisis yang lebih mengkonsentrasikan pada kinerja akan lebih memberi penekanan pada dua faktor utama yaitu beban kerja dan kepuasan kerja. Rendahnya kinerja puskesmas dalam pelayanan kesehatan pada dasarnya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain masih rendahnya kemampuan puskesmas dalam memberikan pelayanan secara handal, akurat dan konsisten sesuai dengan yang dijanjikan; masih kurang baiknya citra Puskesmas (mutu dan

penampilan fisik yang kurang bersih dan nyaman), belum tersedianya sumber daya puskesmas yang memadai (SDM, sarana dan prasarana kesehatan); belum memadainya kemampuan dan kemauan petugas, serta kurangnya tanggung jawab, motivasi, dedikasi, loyalitas petugas puskesmas (Nawawi, 2012).

Pada puskesmas plus Perbaungan upaya untuk mengatasi masalah sumber daya manusia juga sudah jadi perhatian oleh bagian personalianya. Diantaranya pemberian reward untuk karyawan yang dapat menyelesaikan pekerjaannya melebihi target kerja yang telah ditentukan.

Namun dalam beberapa hal tertentu tenyata juga masih ditemukan kondisi yang kontradiktif, yang bila diamati juga akan dapat berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Misalnya adanya kondisi yang dialami karyawan yang rentan mengalami kejenuhan akibat pekerjaan menonton yang dijalani.

Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan kepuasan kerja dan kinerja pegawai yaitu penelitian yang dilakukan Primaharini pada tahun 2008 yang hasilnya ada pengaruh kuat antara kepuasan dan kinerja karyawan yaitu sebesar 0.672. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Nimalathasan pada tahun 2010 bahwa terdapat hubungan positif antara kepuasan kerja dengan kinerja karyawan Bank semenanjung Jaffa.

Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan peneliti, diperoleh bahwa kinerja pegawai puskesmas plus Perbaungan saat ini dapat diakatakan rendah. Hal ini di dukung dengan bahwa pegawai puskesmas plus Perbaungan sering meninggalkan tempat kerja atau pulang lebih cepat dari jam yang telah ditetapkan, yaitu pukul 14.30 wib waktu yang ditetapkan pegawai pulang namun jam masih menunjukkan pukul

(22)

20 13.00 wib para pegawai puskemas sudah banyak yang tidak berada ditempat. Ditinjau dari jumlah absensi seluruh pegawai puskesmas plus Perbaungan yang berjumlah 102 orang dapat dilihat dari 2 bulan terakhir mengalami peningkatan absentisme, yaitu sebanyak 39 ketidakhadiran sudah termasuk alfa, izin, dan sakit dan 26 cuti. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat hadiran pegawai dapat mempengaruhi kurangnya kinerja pegawai untuk melayani pasien yang akan berkunjung, dimana dapat mempengaruhi jumlah kunjungan pasien yang menurun.

2. METODE

Penelitian survei analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan di Puskesmas plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pegawai di Puskesmas.

Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 48 pasien KIA. Metode pengukuran data dalam penelitian ini dengan menggunakaan kuesioner dan lembar observasi.

Analisaunivariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel yang diteliti yaitu variabel independen (kompetensi teknis, akses terhadap pelayanan, hubungan antar manusia, kenyamanan, kelangsungan pelayanan, efisiensi dan efektifitas) dan variabel dependen (kepuasan pasien). Analisis bivariat dialakukan untuk melihat hubungan variabel independen dan variabel dependen dengan melakukan uji chi square dengan derajat kepercayaan sebesar 95%. Sedangkan analisis multivariat bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang mempengaruhi variabel independen dengan variabel dependen. Uji yang

digunakan adalah uji regresi logistik.

Suatu variabek masuk kedalam pemodelan uji regresi logistik dengan ketentuan pada analisis bivariat diperoleh P ≤ 0,25.

3. HASIL

Kepuasan Kerja Responden

Kepuasan kerja responden dinilai dari 5 variabel yaitu, pekerjaan yang dilakukan, upah, promosi, supervisi, dan rekan kerja. Kepuasan kerja responden disajikan pada tabel berikut:

Tabel 1. Distribusi Responden berdasarkan Kepuasan Kerja Kepuasan Kerja n %

Pekerjaan Puas

Tidak Puas 21

14 54,2 45,8

Total 35 100,0

Upah Puas

Tidak Puas 26

9 54,2 45,8

Total 35 100,0

Promosi Puas

Tidak Puas 22

13 45,8 54,2

Total 35 100,0

Supervisi Puas

Tidak Puas 22

13 58,3 41,7

Total 35 100,0

Rekan Kerja Puas

Tidak Puas 23

12 54,2 45,8

Total 35 100,0

Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukkan mayoritas responden merasa puas sebanyak 21 orang (60,7%) atas pekerjaan yang dilakukan, responden merasa puas atas upah yang diberikan sebanyak 26 orang (74,3%), responden merasa puas atas promosi yang diberikan oleh pihak puskemas sebanyak 22 orang (62,9%), responden merasa puas atas supervisi yang diterapkan di puskesmas sebanyak 22 orang (62,9%) dan

(23)

21 responden merasa puas atas perlakuan dari rekan kerja sebanyak 23 orang (65,7%).

Tabel 2. Distribusi Kinerja Pegawai Kinerja Pegawai n %

Baik Tidak Baik

22

13 56,3 43,8

Total 35 100,0

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa mayoritas responden menyatakan kinerja pegawai baik sebanyak 22 orang (56.3%). Hasil penelitian untuk kinerja pegawai diketahui mayoritas responden merasa puas dengan pekerjaan yang dilakukan sebanyak 21 orang (100%) dimana mimiliki kinerja yang baik sebanyak 17 orang (81,0%) dan kinerja yang tidak baik sebanyak 4 orang (19,0%).

Tabel 3. Faktor Dominan yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja

terhadap Kinerja Pegawai

Variabel P

Pekerjaan yang dilakukan Upah

Promosi Supervisi Rekan Kerja

0,018 0,012 0,053 0,053 0,025 Tabel 3 diatas menunjukkan bahwasannya dari ke 5 (lima) variabel independent hanya ada 1 variabel yang memiliki p ≤ 0,05 yaitu variabel upah, dengan p (= 0,017) ≤ α (= 0,05) dengan nilai Exp B = 19,265 yang artinya terdapat pengaruh antara variabel dimensi upah terhadap kinerja dengan besar pengaruh 19,265 dengan kata lain variabel dimensi upah 19,265 kali berpengaruh terhadap kinerja. Hal ini menunjukkan bahwa variabel dimensi upah berpengaruh secara signifikan terhadap variabel kinerja pegawai.

Tabel 4. Pengaruh Dimensi Kepuasan terhadap Kinerja Pegawai

Kinerja Pegawai Kepuasan

Kerja Baik Tidak Baik

Total p f % f % f % Puas 15 83,3 3 16,7 18 100,0 Tidak

Puas

7 41,2 10 58,8 17 100,0 0,026 Total 22 62,9 13 75,5 35 100,0

Berdasarkan Tabel 4 diatas dapat diketahui mayoritas kepuasan kerja responden yaitu merasa puas sebanyak 18 orang (100%) dimana memiliki kinerja yang baik sebanyak 15 orang (83,3%) dan kinerja yang tidak baik sebanyak 3 orang (16,7%).

Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square p value adalah 0,026 yang artinya ada pengaruh dimensi kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai.

4. PEMBAHASAN

Mayoritas responden merasa puas dengan pekerjaan yang dilakukan sebanyak 21 orang (100%) dimana memiliki kinerja yang baik sebanyak 17 orang (81,0%) dan kinerja yang tidak baik sebanyak 4 orang (19,0%).

Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square p value adalah 0,018 yang artinya ada pengaruh dimensi pekerjaan yang dilakukan terhadap kinerja pegawai di Puskesmas Plus Perbaungan.

Pengaruh Dimensi Upah terhadap Kinerja Pegawai

Responden merasa puas dengan upah yang diberikan pihak puskesmas sebanyak 22 orang (100%) dimana memiliki kinerja yang baik sebanyak 18 orang (77,3%) dan kinerja yang tidak baik sebanyak 5 orang (22,7%).

Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square p value adalah 0,012 yang artinya ada hubungan upah dengan kinerja

(24)

22 pegawai. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Nurjani (2015) bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara variabel upah dengan prestasi kerja pegawai. Dengan tingkat keeratan hubungan sebesar 48,1%, dimana semakin tinggi kepuasan kerja berdasarkan upah maka kinerja pegawai pun akan semakin baik.

Menurut International Labour Organization (ILO), menyebutkan upah mempunyai cakupan yang lebih luas dari pada gaji. Upah mencakup pengeluaran yang dikeluarkan oleh perusahaan atau organisasi untuk pekerjaan atau diterima atau dinikmati oleh pekerja, baik secara langsung, rutin atau tidak langsung. Dalam buku manajemen sumber daya manusia, upah dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu upah langsung dan tidak langsung, dimana memberikan peningkatan upah dapat meningkatkan prestasi kerja dan semangat kerja (Ruky, 2009).

Keadaan ini dapat diterima karena peneliti mengansumsikan bahwa responden banyak mengatakan setuju akan imbalan yang diberikan sesuai dengan beban pekerjaan, bonus yang diberikan instansi sesuai dengan beban kerja, baik tunjungan yang diterima sudah sesuai dengan ketentuan instansi.

Pengaruh Dimensi Promosi terhadap Kinerja Pegawai

Mayoritas kepuasan responden berdasarkan dimensi promosi dengan kinerja pegawai di puskesmas plus Perbaungan Kabupaten Serdang yaitu pada kategori puas dimana kinerja pegawai dikategorikan baik sebanyak 18 orang (77,3%) dan kategori tidak baik sebanyak 5 orang (22,7%).

Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square p value adalah 0,053 yang artinya tidak ada pengaruh dimensi promosi terhadap

kinerja pegawai. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Subakti Syaiin (2010) dengan hasil tidak terdapat hubungan signifikan antara kepuasan terhadap promosi dengan kinerja pegawai di klinik Bestari Medan dengan nilai p = 0,927 ( p > 0,005).

Keadaan ini dapat diterima karena promosi yang dilakukan oleh pemimpin menurut pandangan pegawai tersebut tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan dan pengembangan karir mereka, sehingga cenderung menganggap hanya bentuk apresiasi saja dari pimpinan.

Pengaruh Dimensi Supervisi Terhadap Kinerja Pegawai

Dapat diketahui mayoritas responden merasa puas dengan supervisi yang diterapkan sebanyak 22 orang (100%) dimana memiliki kinerja yang baik sebanyak 18 orang (77,3%) dan kinerja yang tidak baik sebanyak 5 orang (22,7%). Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji Chi- Square p value adalah 0,053 yang artinya tidak ada pengaruh dimensi supervisi terhadap kinerja pegawai.

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Kristiani (2010) ada hubungan yang bermakna antara supervise dengan kinerja petugas vaksinasi ( p < 0,05). Nili r = 0,757 menunjukkan keeratan hubungan yang kuat antara supervise dengan kinerja petugas vaksinasi.

Pengaruh Domensi Rekan Kerja terhadap Kinerja Pegawai

Responden merasa puas dengan perlakuan dari rekan kerja sebanyak 23 orang (100%) dimana memiliki kinerja yang baik sebanyak 18 orang (78,3%) dan kinerja yang tidak baik sebanyak 5 orang (21,7%). Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji Chi- Square p value adalah 0,025 yang artinya ada pengaruh dimensi rekan

(25)

23 kerja terhadap kinerja pegawai. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hamdana (2010) bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara hubungan rekan kerja dengan kinerja pegawai vaksinasi (p ≤ 0,05). Nilai r = 0,716 menunjukkan ada keeratan hubungan yang kuat antara hubungan rekan kerja dengan kinerja petugas vaksinasi.

Faktor Dominan Yang Mempengaruhi Variabel Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Pegawai

Diketahui bahwa semua p value pada setiap variabel yang diteliti dari hasil analisis bivariat ≤ 0,25 artinya semua variabel layak untuk diuji selanjutnya dengan menggunakan uji regresi linier logistic, bahwasannya dari ke 5 (lima) variabel independent hanya ada 1 variabel yang memiliki nilai p ≤ 0,05 yaitu variabel upah, dengan nilai p (= 0,017) ≤ α (= 0,05) dengan nilai Exp (B) = 19,265 yang artinya terdapat pengaruh antara variabel upah terhadap kinerja dengan besar pengaruh 19,265 dengan kata lain variabel upah 19,265 kali berpengaruh terhadap kinerja.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Subakti Syaiin (2010) bahwa pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel upah dengan kinerja pegawai. Nilai p = 0,016 dimana semakin tinggi kepuasan kerja berdasarkan upah maka kinerja pegawai pun akan semakin baik.

Pengaruh Dimensi Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai

Kepuasan kerja responden yaitu merasa puas sebanyak 18 orang (100%) dimana memiliki kinerja yang baik sebanyak 15 orang (83,3%) dan kinerja yang tidak baik sebanyak 3 orang (16,7%). Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-

Square p value adalah 0,026 yang artinya ada pengaruh dimensi kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Subakti Syaiin (2010) dimana kepuasan kerja secara kumulatif menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai di Klinik Bestari Medan, dengan nilai p= 0,048.

Keadaan ini menunjukkan bahwa kepuasan kerja pegawai memberikan kontribusi besar terhadap kinerja pegawai. Kepuasan yang dimaksud mencakup kepuasan terhadap gaji yang diterimanya, maupun manajerial, tugas pokok dan fungsinya, serta dukungan sosial dari rekan kerja.

5. KESIMPULAN

Kesimpulan pada penelitian ini yaitu ada pengaruh dimensi dimensi kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Sedang Bedagai yaitu dengan nilai p = 0,026.

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito, W. 2012. Sistem Kesehatan. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada.

Amalia. 2015. Pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan pada agen pt. jasaraharja putera cabang Jakarta. Universitas Indonesia:Skripsi

Brahmasari, I. A. & Suprayetno A.

(2008). Pengaruh Motivasi Kerja, Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan serta Dampaknya pada Kinerja Perusahaan (Studi kasus pada PT. Pei Hai International Wiratama Indonesia).

Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol.10, No.2, Surabaya.

(26)

24 Gomez, Cardoso. Faustino. 2006.

Manajemen Personalia & Sumber Daya Manusia, Yogyakarta:BPFE.

Hamdana, 2010.

Hubungan kepuasan kerja dengan kinerja karyawan bagian secretariat rumah sakit grhasia Yogyakarta, skripsi, FKM UAD, Yogyakarta.

Handoko, H. T. (2009). Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia, Edisi II, Cetakan Keempat Belas. Yogyakarta:BPFE.

Hasibuan, S. P. (2007). Manajemen Sumber Daya Manusia, Cetakan kesembilan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Mahmudi. 2005. Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta : UPP AMP

Hubeis, A.V. (2007). Manajemen Mutu Sumber Daya Manusia. Bogor:

Ghalia Indonesia.

Mangkunegara, A. P. (2012). Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia.

Bandung:Refika Aditama.

Mangkunegara A.P.2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Mubarak, I. 2012. Ilmu Kesehatan Masyarakat : Konsep dan Aplikasi dalam Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.

Nawawi, H., 2012. Manajemen Strategik Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Notoatmodjo,S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Nurjahjani, F.

Pengaruh imbalan eksteinsik terhadap prestasi kerja, jurnal ekonomi modernisasi, vol 03/No 01 2015.

Prawirosentono, S. (2008). Kebijakan Kinerja Karyawan.Yogyakarta:

BPFE. Primaharini, D. 2008.

Pengaruh Kepuasan Terhadap Kinerja Pada Karyawan Tetap dan

Karyawan Outsourcing: Studi Kasus: PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk-Jakkarta. Depok.

Universitas Indonesia. Tesis.

Referensi

Dokumen terkait

Ket : * Apabila hasil pertritungan setelah dikurangi perhitungan konsultan perencanaan a* penga*usm dibawah Rp. Sidondo 400.000.000 APBN Lelang

eksponensial untuk central death rates memberikan error yang lebih kecil. dibandingkan dengan

Skenario use case aplikasi Gitar chord Untuk Pemula yang berbasis mobile dimana aktor yang menggunakan aplikasi ini adalah gitaris pemula, disini system

Pengembangan dan Pengendalian Kawasan Andalan untuk Sektor Minyak dan Gas Bumi. J ll : Pengendalian Kawasan Andalan untuk Minyak dan

Madrasah dalam Meningkatkan Profesionalisme Sumber Daya Manusia (SDM) (Studi Empirik MTs Al-Mawaddah Coper-Jetis-Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012) ”..

“A da beberapa kendala yang masih dikeluhkan dalam menjalankan usaha koperasi yakni masalah permodalan, masih lemahnya sistem manajemen yang digunakan, penurunan

Hasil penelitian menunjukan bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran Keterampilan Komputer Pengelolaan Informasi (KKPI) pada siswa kelas XI di SMK N 1 Pringapus

Dengan keadaan tersebut dan berbgai faktor yang dapat mempengaruhi nasabah untuk menggunakan Go-Mobile maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait