BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Tinjauan tentang Hak Cipta
a. Pengertian Hak Cipta
Istilah hak cipta diusulkan pertama kalinya oleh Prof. St. Moh. Syah, SH pada Kongres Kebudayaan di Bandung tahun 1951 (yang kemudian diterima oleh Kongres tersebut) sebagai penganti istilah hak pengarang yang dianggap kurang luas cakupan pengertiannya.
Terdapat dua jenis hak yang terkandung dalam suatu ciptaan yaitu: hak cipta (copy rights) dan hak terkait (neighboring rights). Kedua jenis hak ini adalah hak istimewa (eksklusif) yang bersifat ekonomis industrialis bagi pemilik suatu ciptaan (Elyta Ras Ginting, 2012:61).
Definisi yang diberikan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, yang memberikan pengertian hak cipta : ”Hak cipta merupakan sebuah hak eksklusif pencipta dimana hak ini timbul secara prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan”.
Batasan-batasan yang diatur dalam peraturan Perundang-undangan tersebut bertujuan agar tidak ada pihak yang menggunakan hak orang lain secara sewenang-wenang. Setiap penggunaan hak cipta tetap harus diperhatikan agar tidak bertentangan atau merugikan kepentingan umum karena sesungguhnya dalam penggunaannya, hak cipta ini tetap didasarkan atas kepentingan umum. Hal ini sebenarnya bertolak dari perpaduan antara sistem individu dengan sistem kolektif (O.K.Saidin,1995:33).
Menurut Rachmadi Usman (2003:86) apabila bunyi Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta diuraikan dan dianalisis, maka terdapat pengertian dan sifat hak cipta yakni:
1) Hak cipta merupakan hak yang bersifat khusus, eksklusif, atau istimewa (Exclusive Rights). Yang artinya bersifat khusus ialah tidak ada orang lain yang dapat menggunakan hak tersebut terkecuali atas izin dari pemegang hak cipta tersebut.
2) Pencipta atau pemegang hak cipta berhak untuk mengumumkan ciptaannya, memperbanyak ciptaanya, dan mengizinkan orang lain untuk memperbanyak hasil ciptaannya.
3) Pemegang hak cipta ataupun orang lain yang diberikan izin mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya harus melaksanakan ketentuan yang diatur menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4) Hak cipta dianggap sebagai benda immaterial yang dapat dialihkan kepada orang lain baik itu seluruh ataupun sebagian.
Dapat disimpulkan bahwa Hak Cipta merupakan hak yang bersifat eksklusif, khusus, atau istimewa karena tidak ada orang lain yang dapat menggunakan hak tersebut kecuali terdapat izin dari pemegang hak cipta tersebut. Pemegang hak cipta berhak untuk mengumumkan ciptaannya, memperbanyak ciptaannya, dan mengizinkan orang lain untuk memperbanyak ciptaannya namun tetap harus mengikuti ketentuan yang diatur di dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Secara hakiki hak cipta termasuk hak milik immaterial karena sebuah ciptaan yang dibentuk merupakan hasil dari ide, gagasan pemikiran, maupun imajinasi dari seseorang yang dapat dituangkan dalam bentuk buku ilmiah, karangan sastra, maupun karya seni.
b. Sejarah dan Perkembangan Hukum Hak Cipta.
Semenjak tahun 1886, di kalangan negara-negara di kawasan Eropa Barat telah diberlakukan Konvensi Bern 1886 untuk perlindungan ciptaan- ciptaan di bidang Sastra dan Seni: suatu pengaturan perlindungan dengan hukum hak cipta yang telah dianggap modern untuk waktu itu.
Kecenderungan negara-negara Eropa Barat untuk menjadi peserta pada Konvensi itu, mendorong negara Kerajaan Belanda untuk memperbaharui Undang-undang Hak Ciptanya yang sudah berlaku semenjak 1881 dengan suatu Undang-undang Hak Cipta baru pada tanggal 1 November tahun 1912 bernama Auteurswet 1912 ((selanjutnya disingkat AW 1912).
Tidak lama setelah pemberlakuan undang-undang ini, kerajaan Belanda mengikatkan diri tanggal 1 April 1913 pada Konvensi Bern 1886 dengan beberapa reservation. Indonesia sebagai negara jajahan Kerajaan Belanda diikutsertakan pada konvensi ini sebagaimana diumumkan dalam Stuatsblad 1914 Nomor 797.
Ketika Konvensi Bern direvisi tahun 1928 di Roma, revisi ini juga dinyatakan berlaku untuk Indonesia dengan Staatsblad Nomor 325 Tahun 1931, Konvensi Bern dengan revisi Roma ini yang kemudian berlaku di Indonesia sebagai jajahan Belanda dalam hubungannya dengan dunia internasional khususnya yang berkenaan dengan hak cipta.
Negara-negara Eropa Barat menjadi peserta Konvensi Bern mendorong Kerajaan Belanda memperbaharui Undang-undang hak ciptanya yang sudah berlaku sejak 1881, pada tanggal 1 November tahun 1912. Tidak lama setelah Auteurswet 1912 diundangkan, Kerajaan Belanda mengikatkan diri pada Konvensi Bern 1886 pada tanggal 1 April 1913 dengan beberapa reservation.
Hindia Belanda sebagai daerah jajahan Kerajaan Belanda diikutsertakan pada konvensi ini sebagaimana diumumkan dalam Staatsblad 1914 Nomor 797 (Harjowidigdo Rooseno, 2005:39).
Auteurswet 1912 terus berlaku setelah Proklamasi Kemerdekaan
Dasar 1945 dan Peraturan Presiden Nomor 2 tanggal 10 Oktober 1945, sampai dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipa. Pada waktu Auteurswet 1912 diberlakukan untuk melindungi ciptaan di Indonesia, masalah hak cipta tidak begitu populer di Indonesia karena ada anggapan bahwa konsep pemikiran terhadap hak cipta datang dan berkembang di dunia Barat serta dianggap terlalu melebihkan hak milk yang bersifat perorangan (Hendra Tanu Atrnaja, 2003:40).
Auteurswet 1912 pada hakekatnya tidak memberi dampak terhadap perlindungan hak cipta. Mengingat masyarakat Indonesia pada masa berlakunya Auteurswet belum cukup mencapai tingkat pemahaman mengenai arti dan kegunaan hak cipta. Selain itu pada kondisi saat itu terdapat kendala kultural atas perlindungan hak cipta pada saat itu.
Pada pasal 2 Auteurwet 1912 menganggap hak cipta itu sebagai barang bergerak, yang dapat diserahkan sebagian atau seluruhnya kepada orang lain;
dapat diwariskan; dapat dimiliki.
Pada masa penjajahan Belanda selama 3,5 abad, Indonesia sebagai koloni Kerajaan Belanda kedudukannya dalam hubungan internasional dan pengaturan hukum nasionalnya sebagai negara jajahan ditentukan dan bergantung sepenuhnya kepada kerajaan Belanda. Dengan kondisi demikian, hukum positif tentang hak cipta yang secara formal berlaku di Indonesia pada zaman penjajahan kerajaan Belanda adalah A.W. 1912 (FVet van 23 September 1912, Staatsblad 1912-600) mulai berlaku 23 September 1912.
Kendati Indonesia pada waktu itu telah memberlakukan A.W. 1912, dalam kenyataannya pentaatan dan penegakan hukum ketentuan-ketentuannya belumlah diaktualisasikan sebagaimana mestinya.
Indonesia sebagai salah satu anggota dari masyarakat internasional tidak akan terlepas dari perdagangan internasional. Sekarang ini negara sebagai pelaku perdagangan internasional terorganisasikan dalam sebuah wadah yang disebut World Trade Organization (WTO). Salah satu
konsekuensi dari keikutsertaan sebagai anggota WTO maka semua negara peserta termasuk Indonesia diharuskan menyesuaikan segala peraturan di bidang Hak Kekayaan Intelektual dengan standar Trade Related Aspects of lntellectua1 Property Right (TRIP'S) (Muhammad Djumhana, 2006:3).
Pada tanggal 12 April 1982, pemerintah Republik Indonesia telah memutuskan mencabut Auteurswet 1912 Staatblad Nomor 600 Tahun 1912 dan mengundangkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, yang lima tahun kemudian dirubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang Hak Cipta. Perubahan Undang-Undang Hak Cipta ini diakibatkan oleh kemajuan teknologi yg sangat pesat (Hendra Tanu Atrnaja, 2003:55).
Kemajuan teknologi elektronik pada abad 20 ini, khususnya komputer sebagai perangkat lunak merupakan hasil ciptaan yang memerlukan perlindungan hukum. Undang-Undang Hak Cipta bukan hanya melindungi teknologi mikro elektronik dan teknologi komunikasi serat optik, melainkan rekayasa sistem dari komputer.
Secara umum perubahan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta merupakan inisiatif yang positif. Pertama, Indonesia telah memperlihatkan kesediaannya untuk mengubah undang-undang yang berlaku sekarang agar dapat mengikuti perkembangan internasional, antara lain, perlunya memberi perlindungan kepada program komputer. Kedua, jelas bahwa perubahan tersebut mencerminkan pendekatan yang positif terhadap pennasalahan tindakan pemalsuan dan peniruan program komputer yang merajalela dan merugikan masyarakat.
Seiring dengan perkembangan hukum HKI ditingkat Internasional dan keikutsertaan Indonesia dalam WTO, maka Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang Hak Cipta disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang Hak Cipta untuk menyesuaikan dengan TRIPs.
Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang Hak Cipta mengatur tentang pemberian lisensi yang tercantum pada pasal 38 A.
Penambahan pasal baru mengenai perlisensian ini dimaksudkan untuk memberikan landasan pengaturan bagi praktek perlisensian yang berlangsung dibidang hak cipta. Pada dasarnya, perjanjian lisensi hanya bersifat memberi ijin atas hak yang dituangkan dalam akta perjanjian untuk jangka waktu tertentu dan dengan syarat tertentu, menikmati manfaat ekonomi suatu ciptaan yang dilindungi hak cipta. Perjanjian lisensi lazimnya tidak dibuat secara khusus. Artinya pemegang hak cipta tetap dapat memegang hak ciptanya atau memberikan lisensi yang sama kepada pihak ketiga. Perjanjian lisensi dapat pula dibuat secara khusus atau eksklusif, yang berarti secara khusus hanya diberikan kepada pemegang lisensi saja.
Undang –undang hak cipta selanjutnya menggunakan UU No. 19 Tahun 2002 tentang hak cipta lalu disempurnakan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Penyempurnaan ini dilakukan untuk mengutamakan kepentingan nasional dan mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan pemilik hak cipta (pencipta), pemegang hak cipta, atau pemilik hak terkait dengan masyarakat namun tetap memperhatikan ketentuan yang ada.
c. Sifat-Sifat dan Prinsip Hak Cipta 1) Sifat Hak cipta
Sifat-sifat hak cipta antara lain adalah sebagai berikut :
a) Pencipta atau Pemegang Hak Cipta atas karya sinematografi dan Program Komputer mempunyai hak untuk memberikan izin ataupun melarang orang lain untuk menggunakan ciptaannya demi kepentingan yang bersifat komersial tanpa persetujuannya.
b) Hak Cipta dianggap sebagai benda bergerak tidak berwujud. Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan, baik seluruhnya maupun sebagian karena :
(1) Pewarisan;
(2) Wasiat;
(3) Hibah;
(4) Wakaf;
(5) Perjanjian tertulis;
(6) Sebab-sebab lain yang dibenarkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
c) Jika suatu Ciptaan diciptakan oleh dua orang atau lebih, yang dianggap sebagai Pencipta ialah orang yang memimpin dan mengawasi penyelesaian seluruh Ciptaan tersebut.
d) Jika suatu Ciptaan yang dirancang seseorang yang diwujudkan dan dikerjakan oleh orang lain dibawah pimpinan dan pengawasan orang yang merancang, maka Penciptanya adalah orang yang merancang Ciptaan itu.
e) Hak Cipta dapat dijadikan sebagai objek jaminan fidusia.
2) Prinsip Hak Cipta
Prinsip-prinsip dasar dalam hak cipta yaitu:
a) Yang dilindungi hak cipta adalah gagasan atau ide yang telah terwujud dan asli (orisinal).
b) Hak cipta timbul dengan sendirinya atau otomatis.
c) Hak cipta merupakan hak yang diakui hukum (legal right) dan harus dibedakan dari penguasaan fisik suatu ciptaan .
d) Hak cipta bukan hak mutlak melainkan hak yang absolut (Afrillyanna Purba, 2005:22).
d. Ruang Lingkup Hak Cipta
Berdasarkan Pasal 40 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, ciptaan yang mendapat perlindungan hukum terdapat dalam lingkup seni, sastra, dan ilmu pengetahuan. Dari ketiga lingkup ini
1) Buku, pamflet, perwajahan karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya;
2) Ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan sejenis lainnya;
3) Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
4) Lagu dan atau musik dengan atau tanpa teks;
5) Drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;
6) Karya seni rupa dalam segala bentuk seperti lukisan, gambar, ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung, atau kolase;
7) Karya seni terapan;
8) Karya arsitektur;
9) Peta;
10) Karya seni batik atau seni motif lain;
11) Karya fotografi;
12) Potret;
13) Karya sinematografi;
14) Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi;
15) Terjemahan, adaptasi, aransemen, transformasi, atau modifikasi ekspresi budaya tradisional;
16) Kompilasi ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan program komputer maupun media lainnya;
17) Kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli;
18) Permainan video dan;
19) Program komputer.
e. Hak-Hak Yang Terkandung Dalam Hak Cipta
Dalam Konvensi Bern mengatur sekumpulan hak yang disebut dengan hak moral (droit moral). Hak ini adalah hak pencipta untuk mengakui sebagai
pencipta yang dapat digunakan untuk mengajukan keberatan terhadap setiap perbuatan yang bermaksud mengubah, mengurangi, atau menambah keaslian ciptaannya (any mutilation or deformation or other modification or other derogatory action), yang dapat mengganggu martabat dan reputasi pencipta (author’s honor or reputations). Hak moral ini memiliki kedudukan yang sejajar dengan hak ekonomi (economic rights) (Eddy Damian, 2009:57).
Menurut Debois dalam bukunya Le Droit d’auteur berpendapat bahwa hak moral pencipta mengandung empat makna yaitu: (Eddy Damian, 2005:63- 64)
1) Droit de publication, yaitu hak untuk melakukan atau tidak melakukan pengumuman ciptaannya;
2) Droit de repentier, yaitu hak untuk mengganti atau melakukan perubahan atas ciptaannya dan hak untuk mencabut ciptaannya dari peradaran;
3) Droit au respect, yaitu hak untuk tidak menyetujui adanya perubahan atau pergantian atas ciptaannya oleh pihak lain;
4) Droit a la paternite, yaitu hak untuk mencantumkan nama pencipta, hak untuk tidak menyetujui perubahan atas nama pencipta yang akan dicantumkan, dan hak untuk mengumumkan sebagai pencipta setiap waktu yang diinginkan.
Sedangkan Hak-hak yang terkandung dalam Hak Cipta telah di atur dalam Pasal 3 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang berbunyi :
“Undang-undang ini mengatur : a. Hak Cipta; dan b. Hak Terkait”
Dalam Undang-undang ini pula telah dijelaskan pengertian Hak Cipta pada Pasal 4 yang berbunyi :
“Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi”
dan penjelasan mengenai Hak Terkait pada Pasal 20 yang berbunyi:
“Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b merupakan hak eksklusif yang meliputi :
a. Hak moral pelaku pertunjukan;
b. Hak ekonomi pelaku pertunjukan;
c. Hak ekonomi produser fonogram; dan d. Hak ekonomi Lembaga Penyiaran.”
f. Pembatasan Hak Cipta
Perbuatan yang tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak cipta menurut Bab VI Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta adalah:
1) Pendistribusian, pengumuman, dan atau perbanyakan lambung Negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli;
2) Pendistribusian, pengumuman, dan atau perbanyakan segala sesuatu yang diumumkan oleh atau atas nama pemerintah kecuali dinyatakan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan maupun dengan pernyataan pada ciptaan itu sendiri atau ketika ciptaan tersebut didistribusikan, diumumkan, atau diperbanyak;
3) Pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, lembaga penyiaran, dan surat kabar, atau sumber sejenis lain dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap;
4) Penyebarluasan konten Hak Cipta melalui media teknologi dan informasi dan komunikasi yang tidak bersifat komersial atau menguntungkan Pencipta atau pihak terkait, Pencipta tersebut menyatakan tidak keberatan atas penyebarluasan tersebut;
5) Penyebarluasan, pengumuman, dan/atau pendistribusian Potret Presiden, Wakil Presiden, mantan Presiden, mantan Wakil Presiden, Pahlawan Nasional, pimpinan lembaga Negara, Pimpinan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian, dan/atau kepala daerah dengan tetap memperhatikan harkat dan martabat sesuai kewajaran yang berlaku dalam peraturan perundang-undangan.
6) Perbanyakan suatu ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra dalam huruf braile guna keperluan para tunanetra, kecuali jika perbanyakan tersebut bersifat komersial;
7) Perbanyakan hasil ciptaan selain program komputer, secara terbatas dengan cara atau alat apapun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan dan pendidikan, dan pusat dokumentasi, yang non- komersial semata-mata untuk keperluan aktivitasnya;
8) Perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis atas karya arsitektur, seperti ciptaan bangunan;
9) Pembuatan salinan cadangan suatu program komputer oleh pemilik program komputer yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan sendiri.
Sedangkan pembatasan Perlindungan yang diatur dalam Pasal 26 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta tidak berlaku terhadap beberapa hal. Bunyi Pasal 26 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yaitu:
“Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap:
a. penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual;
b. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan;
c. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan
d. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran”.
2. Tinjauan tentang Open Source Software a. Pengertian Open Source Software
Definisi Open Source dalam Kamus Istilah Komputer dan Internet.
Open Source adalah perintah atau kode atau bahasa pemograman yang tersedia secara bebas dan tidak berbayar untuk digunakan oleh masyakarat dan dapat dimodifikasi oleh siapa saja (Luthfi F, 2005:174).
Open Source Software merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk software yang membebaskan sumber kodenya untuk dilihat, dimodifikasi, dan membiarkan orang lain mengetahui cara kerja software tersebut. Open Source Software tidak dikoordinasi oleh salah satu individu/lembaga pusat melainkan oleh beberapa orang/komunitas yang bekerjasama dengan memanfaatkan sumber kode yang sudah tersebar secara luas. Kelebihan menggunakan Open Source Software adalah orang lain dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada pada software tersebut, lisensi Open Source ini terbuka, lebih stabil, dan lebih terproteksi dari serangan virus.
Indonesia sebagai Negara berkembang sangat cocok menggunakan Open Source Software karena dapat mengembangkan tekonologi dan informasinya berbasis pada sumber daya manusia tanpa mengeluarkan uang sepeser pun keluar negeri. Dalam perkembangannya, Open Source Software mendapat respon yang positif dari masyarakat maupun pemerintah, hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Intruksi Presiden Nomor 2 dan nomor 6 tahun 2001 tentang Pengembangan dan Pendayagunaan Telematika di Indonesia mengenai proyek pemerintah P2LBI (Proyek Pengembangan Perangkat Lunak Berbahasa Indonesia) dengan mendistribusi dan mendokumentasikan Program Linux yang tersedia secara bebas untuk publik dan berbahasa Indonesia.
Untuk dapat dikategorikan sebagai Open Source, maka suatu program harus memenuhi syarat-syarat yang terdapat pada definisi Open Source.
Tujuan dari definisi Open Source sendiri yaitu untuk melindungi proses Open Source dan menjamin perangkat lunak yang menggunakan lisensi Open Source. Istilah Open Source tidak semata-mata adanya keterbukaan dalam
mengakses sumber kode suatu perangkat lunak, namun Open Source memiliki arti yang cakupannya lebih luas. Arti Open Source secara luas dapat mengacu pada the Open Source definition version 1.3, yaitu:
1) Free Redistribution
Pendistribusian ulang secara bebas, misalnya distro-distro Linux yang dapat diperoleh secara gratis.
2) Source Code
Source code dari perangkat lunak harus disertakan atau disimpan di tempat yang dapat diakses setiap orang, misalnya melalui jaringan internet dimana setiap orang dapat mengunduh program tanpa dikenakan biaya.
3) Derivad Works
Hasil modifikasi source code atau turunan dari program yang menggunakan lisensi open source, dapat didistribusikan menggunakan lisensi yang sama seperti program asalnya
4) Integrity of The Autor's Source Code
Untuk menjaga integritas source code milik pembuat perangkat lunak, lisensi yang digunakan pada program dapat melarang pendistribusian source code yang telah dimodifikasi, kecuali lisensi itu mengijinkan pendistribusian patch files (potongan file program) yang bertujuan memodifikasi program tersebut dengan disertakan source code dari program asal. Lisensi itu secara eksplisit harus memperbolehkan pendistribusian perangkat lunak yang dibuat dari source code yang telah dimodifikasi. Hal yang mungkin adalah dengan memberikan nama atau versi yang berbeda dari perangkat lunak asalnya.
5) No Discrimination Against Persons or Groups
Lisensi pada open source tidak boleh menciptakan diskriminasi terhadap pihak lain baik secara individu atau kelompok.
6) No Discrimination Against Fields of Endeavor
Tidak boleh membatasi seseorang terhadap pemanfaatan open source dalam suatu bidang tertentu. Sebagai contoh, tidak ada pembatasan program tersebut terhadap penggunaan dalam bidang bisnis, atau terhadap pemanfaatan dalam bidang riset genetik.
7) Distribution of License
Hak-hak yang dicantumkan pada program tersebut harus dapat diterapkan pada semua yang menerima tanpa perlu dikeluarkannya lisensi tambahan oleh pihak-pihak tersebut.
8) License Must Not Be Spesific to a Product
Lisensi tersebut tidak diperbolehkan bersifat spesifik terhadap suatu produk. Hak-hak yang tercantum pada suatu program tidak boleh tergantung pada apakah program tersebut merupakan bagian dari satu distribusi perangkat lunak tertentu atau tidak. Sekalipun program diambil dari distribusi tersebut dan digunakan atau didistribusikan selaras dengan lisensi program itu, semua pihak yang menerima harus memiliki hak yang sama seperti pada pendistribusian perangkat lunak asal.
9) License Must Not Contaminated Other Software
Lisensi tersebut tidak diperbolehkan membatasi perangkat lunak lain.
Sebagai contoh, lisensi itu tidak boleh memaksakan bahwa program lain yang didistribusikan pada media yang sama harus bersifat open source atau sebuah program compiler yang bersifat open source tidak boleh melarang produk perangkat lunak yang dihasilkan dengan compiler tersebut untuk didistribusikan kembali.
10) Conforming License and Sertification
Maksudnya adalah tentang bagaimana berbagai lisensi yang ada dalam masyarakat dapat dicocokkan dengan Open Source Software setelah diuji oleh Open Source Initiative.
Kendati demikian, ada satu hal yang perlu digarisbawahi yakni bahwa definisi free dalam open source software bukan berarti gratis, namun free di sini berarti bebas. Definisi bebas ini dijabarkan ke dalam lima aktivitas, yaitu:
1) Kebebasan menjalankan program untuk keperluan apapun. (The freedom to run the program, for any purpose freedom).
2) Kebebasan untuk mengakses source code program, sehingga dapat mengetahui cara kerja program. (The freedom to study how the program works, and adapt it to your needs freedom).
3) Kebebasan untuk mengedarkan program. (The freedom to redistribute copies so you can help your neighbor freedom).
4) Kebebasan untuk memperbaiki program. (The freedom to improve the program, and release your improvements to the public, so that the whole community benefits freedom Access to the source code is a precondition for this).
5) Kebebasan untuk memperdagangkan (menjual) program baik secara langsung maupun tidak langsung.
Open Source Software tidak berarti selalu gratis, yang tidak ada biayanya sama sekali. Ini benar hanya untuk tingkatan tertentu misalnya tidak perlu biaya izin untuk mendownload atau menggandakan, misalnya IS0 CD Indonesian Go Open Source Nusantara atau Fedora. Namun tidak benar untuk aplikasi Free Open Source Software yang membutuhkan biaya dalam pengemasan, instalasi, support, pelatihan, dan lain-lain. Banyak distro Linux seperti Red Hat, SUSE, Mandnva, Debian, LJbuntu, dan lain-lain dapat diperoleh tanpa biaya lisensi untuk mendownload-nya melalui internet.
Hampir semua biaya lisensi aplikasi Free Open Source Software lebih murah dibandingkan lisensi perangkat lunak proprietary.
Sebelum mengenal adanya Open Source, masyarakat tidak mempunyai alternatif penggunaan software. Di masa yang akan datang jika kontrol
hukum yang ketat, maka pertimbangan komersial terhadap program komputer menjadi penting. Oleh karena itu calon pengguna akan mempertimbangkan program yang berbasis komersil dan akan mempertimbangkan program komputer alternatif yang tersedia bebas dan tidak berbayar dengan kemampuan yang sejenis.
Gambar 1.1 Open Source Software
Maksud dari gambar tersebut yaitu dari pencipta asli Open Source Software, dapat dimodifikasi menjadi ciptaan derivative lalu dapat disebarluaskan dengan tetap mengikuti syarat dan ketentuan yang terdapat dalam lisensi.
b. Kelebihan Open Source Software (OSS) Kelebihan dari Open Source Software yaitu:
1) Biaya Investasi.
a) Biaya lisensi untuk perangkat lunak tidak berbayar atau gratis.
b) Perangkat keras
Pada OSS tidak terlalu bergantung pada jenis perangkat keras tertentu, hal ini berbeda dengan proprietary software. OSS dapat beroperasi pada PC standar dan berbagai jenis perangkat keras.
c) Biaya dikeluarkan untuk perawatan (maintenance) sistem OSS.
2) Kualitas dan Kinerja
creator
derivative share
a) Kualitas dan kinerja OSS dapat selalu ditingkatkan karena kualitas program dibuat dengan memperhatikan reliabilitas terkait dengan keseluruhan sistem yang digunakan.
b) Fleksibilitas sistem
Perangkat lunak yang menggunakan sistem OSS dapat dibilang lebih fleksibel dibanding dengan proprietary software. Hal ini karena penggunaan OSS tidak akan terlalu pengaruh terhadap sistem yang digunakan.
3) Keamanan
Pada OSS, faktor keamanan akan selalu dapat ditingkatkan ataupun diperbaiki. Hal ini dikarenakan akses terbuka pada sumber kode OSS memudahkan untuk mendeteksi jika terjadi kerusakan sistem sehingga dapat segera diperbaiki.
4) Lokalisasi
a) Pengguna OSS dapat mengembangkan atau memodifikasi program sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat sekitar.
b) Dapat meningkatkan kapasitas dari pengguna perangkat lunak lokal.
5) Independensi (kebebasan)
Pada OSS tidak terlalu bergantung terhadap suatu vendor perangkat lunak.
c. Kekurangan Open Source Software (OSS) Kekurangan pada Open Source Software yaitu:
1) Butuh waktu untuk mempelajarinya
Penggunaan OSS akan membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami peningkatan softwarenya.
2) Tidak ramah pengguna
Maksud dari tidak ramah pengguna ini adalah sulitnya penginstalan sistem yang berbasis OSS. Hanya orang yang paham dunia teknologi saja
3) Tidak adanya dukungan dana serta pemasaran yang kecil.
Untuk mengenalkan dan memasarkan perangkat lunak yang berbasis OSS membutuhkan waktu yang lama dikarenakan tidak didukung oleh dana dan pemasaran dari pihak perusahaan. Masyarakat pun masih terlalu asing dengan OSS.
d. Manfaat Open Source Software (OSS)
Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat dihasilkan dan dirasakan atas penggunaan Open Source Software, antara lain:
1) Kesempatan bagi tenaga kerja lokal
Open Source Software memberikan kendali penggunaaan sepenuhnya terhadap sistem operasi dari teknologi yang mereka gunakan. Penyediaan jasa lebih fokus daripada penjualan lisensi pada model bisnis Open Source Software. Jelas hal ini membuat terbukanya kesempatan bagi tenaga kerja lokal yang dapat memanfaatkannya. Secara umum, model Open Source memberikan keuntungan utama bagi pelaku bisnis Teknologi Informasi lokal yaitu:
a) Lebih dekat kepada customer b) Customer yang lebih luas
Di samping partisipasi yang dapat dilakukan tenaga kerja lokal pada penyediaan jasa, terbuka juga kesempatan untuk berpartisipasi dalam hal lainnya, misal:
(1) Menerbitkan tulisan, majalah atau buku, (2) Membuat dokumentasi dari program tersebut, (3) Mencoba program dan memberikan laporan bug, (4) Mendefinisikan requirement dari suatu program, dan (5) Membuat program.
2) Mendorong perbaikan SDM
Seperti telah dipahami bersama, untuk mendapatkan pengetahuan Open Source Software (seperti Linux) membutuhkan waktu dan tingkat kesulitan
yang lebih tinggi untuk mempelajarinya. Linux sendiri dibuat bagi orang- orang yang ingin mempelajari untuk menggunakannya. Linux sangat tepat jika dimanfaatkan dalam lingkungan yang menghendaki perbaikan kualitas SDM melalui pendidikan. Hal ini dikarenakan sifat pengetahuannya yang tidak spesifik terhadap suatu produk tertentu.
3) Pengakuan SDM Indonesia di dunia Internasional
Salah satu masalah terbesar Indonesia dalam era pesaingan global adalah lemahnya kualitas SDM. Kemampuan tenaga kerja TI dari Indonesia di dunia international masih belum sepenuhnya dipercaya. Pola pengembangan Open Source Software seperti pada GNU/Linux memberikan harapan cerah untuk memperkenal-kan kemampuan para tenaga kerja TI Indonesia di pasar dunia. Berbagai hambatan tersebut dapat di atasi dengan memanfaatkan pola pendekatan Open Source Software.
Dengan berpartisipasi dalam proyek Open Source Software berarti programmer telah menimba pengalaman dan berpartisipasi dalam proyek besar. Mereka yang terlibat dalam proyek Open Source Software akan mendapat ``bayaran tambahan'' berupa apresiasi publik, tukar menukar pikiran, pengaruh yang baik pada metode design mendatang. Bagi perusahaan yang ingin mengontrak para pengembang tersebut, paradigma Open Source Software menyebabkan mereka tidak perlu sulit membuktikan kualifikasi dengan pola konvensional, misal reference, atau proses interview yang memakan waktu. Cukup dari hasil kerja dan reputasi dari programmer atau kelompok developer tersebut. Artinya, yang menerima keuntungan bukan saja programmer tetapi juga pihak yang ingin mempekerjakan mereka.
e. Ciptaan Derivative
Hukum hak cipta dihasilkan untuk semua karya cipta satu kali penciptaan. Ketika disetujui kepemilikan hak cipta, siapa saja dapat
yang baru pada sebuah program, misalnya apakah mengandung semuanya atau berbeda dengan kode versi sebelumnya. Versi baru ini merupakan sebuah bentuk pekerjaan pada versi sebelumnya. Terjemahan sebuah dokumen juga dianggap sebagai bentuk turunan dari suatu karya tulis (Firdaus Tjahyadi, 2007:48).
Kebebasan untuk mengakses source code program, sehingga dapat mengetahui cara kerja program akan menghasilkan modifikasi source code atau turunan dari program yang menggunakan lisensi open source, dapat didistribusikan menggunakan lisensi yang sama seperti program asalnya.
Modifikasi yang dibuat dapat dijadikan sebagai bagian dari pengembangan dan penyempurnaan software oleh masyarakat luas sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini sesuai dengan siklus hidup sebuah software yang selalu dinamis seiring dengan perkembangan kebutuhan teknologi informasi yang ada dalam masyarakat.
3. Tinjauan tentang Copyleft a. Lisensi Copyleft
Seiring gencarnya dorongan penegakan Hak Kekayaan Intelektual di bidang hak cipta, muncul pula "bentuk perlawanan" dengan memperkenalkan istilah copyleft sebagai lawan dari copyright. Penggunaan istilah copyleft sendiri terjadi karena right berarti "kanan", sementara left berarti "kiri". Dalam konteks perlawanan tersebut, tidak berarti copyleft menentang perlindungan terhadap hak cipta seseorang, hanya copyleft memanfaatkan aturan copyright untuk tujuan yang bertolak belakang. Artinya, jlka copyright bertujuan melindungi kepemilikan pribadi dari pembajakan, copyleft sebaliknya karena tidak berambisi menjadikannya sebagai milik pribadi, tetapi justru menginginkan agar tetap bebas. Sebagai contoh, dalam karya cipta perangkat lunak mereka yang mendukung copyleft berpandangan bahwa perangkat lunak itu harus tetap bebas (free software). Lisensi GPL (General Public License) merupakan referensi banyak penganut copyleft. Di dalamnya dijelaskan bahwa copyleft
merupakan metode umum untuk membuat sebuah program menjadi perangkat lunak bebas serta menjamin kebebasannya untuk semua modifikasi dan versi- versi berikutnya.
Istilah copyleft, sebenarnya bukan berasal merupakan istilah hukum.
Copyleft dianggap oleh para pendukungnya sebagai sebuah alat hukum untuk merumuskan sebuah tindakan yang menetralkan kekuatan hukum hak cipta dan hukum hak kekayaan intelektual. Tujuan copyleft secara permanen adalah untuk meminimalisir pembatasan atas ciptaan yang diatur oleh sistem hak atas kekayaan intelektual yang telah ada.
Copyleft adalah tipe lisensi yang mencoba memastikan bahwa kebebasan publik tetap dijaga untuk menggunakan, memodifikasi, mengembangkan dan mengedarkan kreasi ciptaan dan semua ciptaan derivatifnya (seperti ciptaan didasarkan ataupun diderivasikan dari copyleft) dibandingkan daripada membatasi kebebasan tersebut.
Istilah copyleft adalah sebuah permainan kata dari copyright, dan hal itu secara superfisial muncul atas copyright karena konsep tersebut terasa istimewa bagi beberapa orang yang menganggap diri mereka sebagai "leftists" dalam sense politik. Meskipun pada kenyataannya, orang dari seluruh spektrum politik, termasuk yang menganggap diri mereka sebagai konservatif sejati, sudah mengakui konsep ini karena tidak semua tentang sosialisme atau philosofi, tetapi lebih kepada persoalan kebebasan kemajuan teknologi komputer, dan manfaat untuk ekonomi dan masyarakat secara keseluruhan (Muhammad Djumhana, 2006:35).
Melalui copyleft sekarang ada banyak media seperti blog, lukisan, lagu, dan siaran televisi yang asalnya dari software komputer. Pada tahun 1980an, ada program yang disebut portable software yang dapat dijalankan pada tipe yang berbeda pada komputer yang dibuat, dimana memperbolehkan user untuk memodifikasi dan mengedarkan software tersebut. Meskipun hal tersebut
menyebabkan peningkatan program dengan hak cipta yang secara eksplisit membatasi modifikasi dan distribusi software. Dikarenakan banyak program, maka kemudian kode sumber atau source code tidak disediakan lagi bagi user sehingga tidak bisa dilakukan modifikasi.
Saat seseorang memilih lisensi copyleft untuk ciptaannya, mereka melakukannya untuk bermacam-macam alasan, dengan tujuan umum memperbolehkan eksploitasi bebas, penggandaan, dan pengedaran kreasi ciptaan dan derivasinya. Hal ini bisa dapat dilakukan dengan menerapkan lisensi terhadap ciptaan. Jenis dan jumlah lisensi sangat banyak dan bermacam- macam, tetapi secara umum memuat aturan yang sama tentang eksistensi lisensi copyleft.
Para pendukung copyleft menempatkan diri mereka sebagai oposisi terhadap para pendukung atas sistem hak cipta yang telah ada dalam bentuk perjuangan politik dan ideologi. Banyak pendukung copyleft menganggap Richard Stallman sebagai Bapak dari gerakan copyleft, seperti sebuah ideologi bagi mereka, melalui berbagai pidatonya, yang mencantumkan tema seperti
"The Dangers of Software Patents" dan "Copyright and Community in the age of computer networks."
Pendukung copyleft tidak bertindak di luar hukum. Keperluan mereka terhadap karya intelektual seperti perangkat lunak dipenuhi dengan mengembangkan perangkat lunak bebas seperti yang dikembangkan oleh GNU Linux dan proyek software bebas dan terbuka lainnya. Mereka mengembangkan yang disebut Lisensi Publik Umum GNU General Public License (GNU) yang bertujuan untuk menjamin kebebasan masyarakat untuk berbagi dan mengubah perangkat lunak bebas-untuk menjamin bahwa perangkat lunak tersebut tetap bebas bagi penggunanya. General Public License ini dapat diberlakukan terhadap hampir semua perangkat lunak Free Software Foundation dan program lain apa pun yang penciptanya mau menggunakan lisensi ini.
Dalam hal software komputer, bentuk fasilitas untuk melakukan modifikasi lebih jauh adalah source code, dan oleh karena itu lisensi copyleft mensyaratkan bahwa source code harus dibuat secara bebas tersedia bagi setiap orang yang membutuhkannya. Source code (juga menunjuk sebagai source atau code) adalah versi software (biasanya sebuah program aplikasi atau operating system) sebagaimana aslinya ditulis (seperti diketik kedalam komputer) oleh manusia dalam plain text, yaitu dapat dibaca manusia dalam bentuk karakter angka dan huruf/alphanumeric. Tidak ada persyaratan untuk membuat versi yang executable atau siap operasi, seperti halnya merubah kode menjadi runnable program atau program yang dapat dijalankan.
Sebagian besar software copyleft dibuat dengan lisensi GNU GPL, yang merupakan lisensi copyleft yang pertama dan sejauh ini merupakan lisensi yang umum digunakan oleh free software. Free software adalah software yang source code-nya bebas tersedia bagi setiap orang untuk tujuan apa saja, termasuk penelitian, penggandaan, modifikasi, dan pengembangan.
Namun tidak semua lisensi free software adalah lisensi copyleft. Sebagai contohnya, BSD style licenses dan MT licenses, dimana keduanya bukan merupakan lisensi copyleft karena mereka tidak mensyaratkan penggandaan dari versi modifikasi untuk dibuat dalam bentuk yang menyertakan source code didalamnya.
Meskipun copyleft menjadi sangat terkenal karena ideologinya, tetapi copyleft juga bisa membuktikan bahwa tentang konsep praktis sebagai promosi untuk pengembangan software komputer dengan kualitas tinggi. Karena hal ini menjamin pengembang software bahwa tidak ada dominasi perusahaan yang dapat mengambil alih ciptaan, dan yang mana ciptaan tersebut akan tersedia bebas bagi siapa saja untuk menggunakan. Bukti kesuksesan copyleft adalah tidak adanya peningkatan drastis proyek copyleft saat ini, tetapi juga sukses yang lebih substansial atas proyek individu, seperti Linux, MySQL, Open Ofice,
4. Tinjauan tentang Keadilan a. Pengertian Keadilan
Secara definitif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Keadilan berasal dari kata adil yang dapat diartikan dengan “sama berat;
tidak berat sebelah; tidak memihak”, sedangkan keadilan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sifat (perbuatan, perlakuan, dan sebagainya) yang adil. (https://kbbi.web.id/keadilan diakses pada tanggal 5 November 2020 pukul 00.58 WIB)
Keadilan hukum (legal justice) adalah keadilan yang telah dirumuskan dalam hukum dan berbentuk hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang dimana apabila hak dan kewajiban tersebut tidak terpenuhi atau dilanggar maka akan ditegaskan melalui proses hukum (Munir Fuady, 2007:118).
Keadilan pada dasarnya merupakan konsep yang relatif. Relatif yang dimaksudkan ialah setiap orang berbeda-beda, adil menurut yang satu belum tentu adil bagi yang lainnya. Konsep adil tersebut harus disesuaikan atau relevan dengan ketertiban umum masyarakat disekitar lingkungannya dimana suatu keadilan diakui (M. Agus Santoso, 2014: 85).
Di Indonesia keadilan digambarkan dalam Pancasila sebagai dasar negara, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam sila lima tersebut terkandung nilai-nilai yang merupakan tujuan dalam hidup bersama.
Adapun keadilan tersebut didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan kemanusiaan yaitu keadilan dalam hubungannya manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan masyarakat, bangsa, dan negara, serta hubungan manusia dengan Tuhannya. Nilai-nilai keadilan tersebut haruslah merupakan suatu dasar yang harus diwujudkan dalam hidup bersama kenegaraan untuk mewujudkan tujuan negara, yaitu mewujudkan kesejahteraan seluruh warganya dan seluruh wilayahnya, mencerdaskan seluruh warganya. Demikian pula nilai-nilai keadilan tersebut sebagai dasar dalam pergaulan antar negara sesama bangsa didunia dan
prinsip-prinsip ingin menciptakan ketertiban hidup bersama dalam suatu pergaulan antarbangsa di dunia dengan berdasarkan suatu prinsip kemerdekaan bagi setiap bangsa, perdamaian abadi, serta keadilan dalam hidup bersama (keadilan sosial).
b. Pengertian Keadilan Menurut Ahli 1) Teori Keadilan Menurut Aristoteles
Keadilan menurut Aristoteles merupakan kelayakan perbuatan manusia. Kelayakan yang dimaksud adalah ketika dua orang mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditentukan, maka masing-masing orang tersebut harus mendapatkan hasil yang sama. Dimana Aristoteles mengungkapkan dengan kalimat “justice consists in treating equals equally and unequalls unequally, in proportion to their inequality.” Yang memiliki arti yaitu: “Untuk hal-hal yang sama diperlakukan secara sama, dan yang tidak sama juga diperlakukan tidak sama, secara proporsional” (O. Notohamidjojo, 1971:7). Aristoteles menyebutkan jenis-jenis Keadilan yaitu: jenis keadilan komutatif, keadilan distributif, keadilan kodrat alam, keadilan konvensional, dan keadilan menurut teori perbaikan. Keadilan distributif menurut Aristoteles merupakan tindakan kepada seseorang sesuai dengan apa yang telah dilakukan orang tersebut. Keadilan komutatif merupakan sebuah tindakan kepada seseorang tanpa melihat apa yang sudah dilakukannya. Keadilan kodrat alam adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang sudah dilakukan orang lain terhadap kita. Keadilan konvensional merupakan keadilan dimana seseorang harus menaati semua hukum dan peraturan yang diperlukan. Sedangkan keadilan menurut teori perbaikan merupakan keadilan untuk mengembalikan reputasi orang lain yang nama baiknya sudah tercemar.
(http://bocc.ubi.pt/pag/Aristoteles-nicomachaen.html diakses pada tanggal 5 November pukul 02.00 WIB).
2) Teori Keadilan Menurut Hans Kelsen
Menurut Hans Kelsen, keadilan merupakan suatu tertib sosial yang memberi perlindungan untuk mencari kebenaran. Karena menurutnya keadilan berarti keadilan kemerdekaan, keadilan perdamaian, keadilan demokrasi, dan keadilan toleransi (Satjipto Rahardjo, 2014: 174).
3) Teori Keadilan Menurut Plato
Keadilan menurut Plato terbagi menjadi dua yaitu keadilan moral dan keadilan prosedural. Keadilan moral merupakan suatu tindakan dikatakan adil apabila sudah mampu memberikan perlakuan yang sejajar antara hak dan kewajiban. Sedangkan keadilan prosedural yaitu keadilan jika seseorang telah mampu melakukan sesuatu secara adil didalam prosedur yang telah ditetapkan. Dan plato juga menyebutkan keadilan dianggap adil apabila mudah dilaksanakan sesuai dengan apa yang diperjanjikan.
4) Teori Keadilan Menurut Thomas Hobbes
Menurut Thomas Hobbes keadilan ialah suatu perbuatan dapat dikatakan adil apabila telah didasarkan pada perjanjian yang telah disepakati.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa keadilan atau rasa keadilan baru dapat tercapai saat adanya kesepakatan antara dua pihak yang berjanji.
Perjanjian disini diartikan dalam wujud yang luas tidak hanya sebatas perjanjian dua pihak yang sedang mengadakan kontrak bisnis, sewa-menyewa, dan lain-lain. Melainkan perjanjian disini juga perjanjian jatuhan putusan antara hakim dan terdakwa, peraturan perundang- undangan yang tidak memihak pada satu pihak saja tetapi saling mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan publik (Muhammad Syukri Albani Nasution, 2017:217-218).
5) Teori Keadilan Menurut Roscoe Pound
Roscoe Pound melihat keadilan dalam hasil-hasil konkrit yang bisa diberikannya kepada masyarakat. Ia melihat bahwa hasil yang diperoleh itu hendaknya berupa pemuasan kebutuhan manusia sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan yang sekecil- kecilnya. Pound sendiri mengatakan, bahwa ia sendiri senang melihat “semakin meluasnya pengakuan dan pemuasan
terhadap kebutuhan, tuntutan atau keinginan-keinginan manusia melalui pengendalian sosial; semakin meluas dan efektifnya jaminan terhadap kepentingan sosial; suatu usaha untuk menghapuskan pemborosan yang terus- menerus dan semakin efektif dan menghindari perbenturan antara manusia dalam menikmati sumber-sumber daya, singkatnya social engineering semakin efektif.” (Satjipto Rahardjo, 2014:174).
6) Teori Keadilan Pancasila
Di dalam Pancasila kata adil terdapat pada sila kedua dan sila kelima.
Nilai kemanusiaan yang adil dan keadilan sosial mengandung suatu makna bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan berkodrat harus berkodrat adil, yaitu adil dalam hubungannya dengan diri sendiri, adil terhadap manusia lain, adil terhadap masyarakat bangsa dan negara, adil terhadap lingkungannya serta adil terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Konsekuensi nilai-nilai keadilan yang harus diwujudkan meliputi: (M. Agus Santoso, 2014:91).
a) Keadilan distributif, yaitu suatu hubungan keadilan antara negara terhadap warganya, dalam arti pihak negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk keadilan membagi, dalam bentuk kesejahteraan, bantuan, subsidi serta kesempatan dalam hidup bersama yang didasarkan atas hak dan kewajiban;
b) Keadilan legal, yaitu suatu hubungan keadilan antara warga negara terhadap negara dan dalam masalah ini pihak warg alah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam negara; dan
c) Keadilan komutatif, yaitu suatu hubungan keadilan antara warga satu dengan yang lainnya secara timbal balik.
Di dalam teori pancasila juga dikemukakan oleh Notonegoro dimana menurut Notonegoro yang mengungkapkan bahwa keadilan yaitu suatu
berlaku. Sejak tahun 2003, berdasarkan TAP MPR no. I/MPR/2003, 36 butir pedoman pengamalan Pancasila telah diganti menjadi 45 Butir-Butir Pengamalan Pancasila. Makna sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dalam butir-butir pengamalan Pancasila tersebut yaitu:
a. Mengembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong–royong;
b. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama;
c. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban;
d. Menghormati hak orang lain;
e. Suka memberikan pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri f. Tidak menggunakan hak milik usaha–usaha yang bersifat pemerasan
terhadap orang lain;
g. Tidak menggunakan hak milik untuk hal–hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah;
h. Tidak menggunakan hak–hak milik untuk hal– hal yang bertentangan dengan kepentingan umum;
i. Suka bekerja keras;
j. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama;
k. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
5. Tinjauan tentang Kepastian Hukum
Hans Kelsen menyebutkan bahwa hukum merupakan sistem norma.
Dimana norma adalah sebuah pernyatakan yang bersifat das sollen yaitu hukum sebagai apa yang dicita-citakan atau bagaimana hukum seharusnya dilaksanakan. Undang-undang yang memuat aturan-aturan bersifat umum yang menjadi tolak ukur masyarakat dalam menjalankan kehidupan. Di dalam aturan-aturan tersebut terdapat batasan-batasan yang membatasi masyarakat dalam melakukan sebuah tindakan atau bertingkah laku. Pelaksanaan aturan-
aturan tersebut yang menimbulkan kepastian hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2008:58).
Menurut Utrecht, kepastian hukum memiliki dua pengertian, yakni pertama, terdapat peraturan yang bersifat universal atau umum yang berisi hal- hal apa yang diperbolehkan atau tidak untuk diketahui oleh masyarakat, dan kedua yaitu kepastian hukum juga merupakan suatu aturan yang dibuat untuk keamanan hukum masyarakat dari tindak sewenang-wenang pemerintah (Riduan Syahrani, 1999:23).
Ajaran kepastian hukum ini berasal dari ajaran yuridis-dogmatik dimana ajaran ini berdasarkan aliran pemikiran positivistis di dunia hukum yang berpandangan bahwa hukum adalah sekumpulan aturan-aturan yang mempunyai tujuan untuk menjamin terwujudunya kepastian hukum. Sifat umum dalam aturan-aturan hukum yang membuktikan bahwa hukum tidak bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kemanfaatan, melainkan semata- mata untuk kepastian hukum (Achmad Ali, 2002:82-83).
Untuk mencegah penyalahgunaan kepastian hukum, diperlukan Rule of Law seperti yang ditulis oleh Satjipto Rahardjo. Pada awalnya, Rule of Law menjanjikan kepastian hukum yang berkaitan dengan kesetaraan hukum.
Secara umum, Rule of Law menjanjikan bahwa melalui hukum manusia akan mencapai keadilan dan ketertiban umum. Meskipun demikian, harus disadari bahwa ketertiban umum dan kemudian keadilan lewat penyelenggaraan hukum itu hanya bisa dicapai dalam suatu proses sosial. Dalam proses sosial itu, hukum bekerja dan direspon oleh masyarakat secara dinamis dan kritis.
Konsekuensinya, hukum itu sendiri harus memiliki suatu kredibilitas dan hal itu hanya bisa dimiliki bila penyelenggaraan hukum mampu memperlihatkan suatu alat kinerja yang konsisten.
Untuk dapat dirasakan kehadirannya, kepastian hukum harus memiliki kewibawaan yang formal maupun material agar kinerja kepastian hukum
dinilai dan dirasakan melalui dampak keadilan yang dihasilkannya. Namun jika hal tersebut tidak tercapai, maka menurut Satjipto Rahardjo, hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan hukum berbeda dengan apa yang telah dicita-citakan. Agar hal tersebut dapat tercapai, Satjipto Rahardjo menganjurkan agar tidak ada penerimaan hukum secara naïf (Adi Sulistiyono, 2006:29).
6. Tinjauan tentang Perlindungan Hukum a. Pengertian Perlindungan Hukum
Perlindungan Hukum adalah suatu tindakan atau upaya untuk melindungi subyek hukum dalam menjalankan fungsi, hak dan kewajibannya untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia. Menurut Satjipto Rahardjo Perlindungan Hukum adalah adanya suatu cara mengalokasikan suatu kekuasaan sebagai upaya melindungi kepentingan seseorang. Dikatakan selanjutnya bahwa tujuan hukum adalah memberikan perlindungan atau pengayoman terhadap masyarakat yang dapat diwujudukan dengan adanya kepastian hukum (Satjipto Rahardjo, 1983:121). Perlindungan hukum mempunyai unsur-unsur yakni:
1. Adanya pengayoman dari pemerintah terhadap warganya.
2. Jaminan kepastian hukum.
3. Berkaitan dengan hak-hak warganegara.
4. Adanya sanksi hukuman bagi pihak yang melanggarnya.
Menurut Philipus M.Hadjon bahwa perlindungan hukum bagi rakyat sebagai tindakan pemerintah yang bersifat preventif dan represif. Dimana kedua perlindungan tersebut memiliki pengertian sebagai berikut:
1. Sarana Perlindungan Hukum Preventif
Pada perlindungan hukum preventif ini, subyek hukum diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum
suatu keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif.
Tujuannya adalah mencegah terjadinya sengketa.
2. Sarana Perlindungan Hukum Represif
Perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa. Penanganan perlindungan hukum oleh Pengadilan Umum dan Pengadilan Administrasi di Indonesia termasuk kategori perlindungan hukum ini. Prinsip kedua yang mendasari perlindungan hukum terhadap tindak pemerintahan adalah prinsip negara hukum. Dikaitkan dengan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia mendapat tempat utama dan dapat dikaitkan dengan tujuan dari negara hukum. (Phillipus M. Hadjon, 1987:20).
Sedangkan menurut M. Isnaeni perlindungan hukum yang ditinjau dari sumbernya itu dibedakan menjadi dua yaitu perlindungan hukum “internal” dan perlindungan hukum “eksternal” (Moch. Isnaeni, 2016:159). Dimana perlindungan internal yang dimaksud ialah perlindungan yang dikemas sendiri oleh para pihak pada saat membuat suatu perjanjian. Dimana pada waktu mengemas klausula-klausula kontrak, kedua belah pihak menginginkan agar kepentingannya terakomodir atas dasar kata sepakat. Karena atas dasar sepakat inilah, para pihak akan memperoleh perlindungan hukum berimbang atas persetujuan mereka bersama. Perihal perlindungan hukum internal seperti itu baru dapat diwujudkan oleh para pihak, manakala kedudukan hukum mereka relatif sederajad dalam arti para pihak mempunyai bargaining power yang relatif berimbang, sehingga atas dasar asas kebebasan berkontrak masing- masing rekan seperjanjian itu mempunyai keleluasaan untuk menyatakan kehendak sesuai kepentingannya. “Pola ini dijadikan landasan pada waktu para pihak merakit klausula-klausula perjanjian yang sedang digarapnya, sehingga
perlindungan hukum dari masing-masing pihak dapat terwujud secara lugas atas inisiatif mereka” (Moch. Isnaeni, 2016:160).
Perlindungan hukum eksternal yang dibuat oleh penguasa lewat regulasi bagi kepentingan pihak yang lemah, “sesuai hakekat aturan perundangan yang tidak boleh berat sebelah dan bersifat memihak, secara proporsional juga wajib diberikan perlindungan hukum yang seimbang sedini mungkin kepada pihak lainnya.” Sebab mungkin saja pada awal dibuatnya perjanjian, ada suatu pihak yang relatif lebih kuat dari pihak mitranya, tetapi dalam pelaksanaan perjanjian pihak yang semula kuat itu, terjerumus justru menjadi pihak yang teraniaya.
Kemasan aturan perundangan sebagaimana paparan diatas, tergambar betapa rinci dan adilnya penguasa itu memberikan perlindungan hukum kepada para pihak secara proporsional. Menerbitkan aturan hukum dengan model seperti itu, tentu saja bukan tugas yang mudah bagi pemerintah yang selalu berusaha secara optimal untuk melindungi rakyatnya.
Perlindungan Hukum dapat dilakukan oleh pemerintah dengan cara melakukan penegakan hukum. Seperti yang kita ketahui hukum perlu dilaksanakan secara professional untuk melindungi kepentingan manusia.
Penegakan hukum diterapkan untuk menciptakan kepastian hukum. Kepastian hukum itu sendiri ialah kepastian akan aturan hukum yang harus dijalankan dengan baik. Perlindungan hukum di Indonesia bersumber pada Pancasila, dimana di dalam Pancasila terdapat sila-sila yang berfungsi melindungi masyarakat serta bertujuan untuk mencapai cita-cita bangsa yakni mensejahterakan masyarakat.
Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pengertian Perlindungan Hukum adalah segala daya upaya yang dilakukan secara sadar oleh setiap orang maupun lembaga pemerintah, swasta yang bertujuan untuk mengusahakan pengamanan, penguasaan, dan pemenuhan kesejahteraan hidup sesuai dengan hak-hak asasi yang ada.
Pada dasarnya perlindungan tidak dapat membedakan terhadap kaum pria maupun wanita. Indonesia sebagai negara Pancasila harus memberikan perlindungan hukum kepada masyarakatnya karena dari perlindungan hukum ini akan melahirkan pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia yang dalam wujudnya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam wadah negara kesatuan yang menjunjung tinggi semagat kekeluargaan demi mencapai kesejahteraan bersama.
B. Kerangka Pemikiran
Pasal 28D ayat (1) UUD 1945
Open Source Software
UU Hak Cipta
Menggunakan Sumber Kode Open Source milik orang lain tanpa menuliskan
sumber pemilik asli
Perlindungan Hukum Hak Cipta Pemilik
Open Source Software Yang
Berkepastian Hukum Dan Berkeadilan - Menggunakan Teori
Perlindungan Hukum M. Isnaeni - Menggunakan Teori
Keadilan Notonegoro
Kesesuaian dengan :
UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
Untuk mengetahui Perlindungan Hukum Hak Cipta Pemilik Open Source Software Yang Berkepastian Hukum Dan
Berkeadilan
Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Keterangan:
Menurut Pasal 28D Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. Open Source Software yang termasuk dalam ciptaan yang memiliki hak cipta merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk software yang membebaskan sumber kodenya untuk dilihat, dimodifikasi, dan membiarkan orang lain mengetahui cara kerja software tersebut. Namun untuk tetap ingin menggunakan sumber kode Open Source ini, pengguna yang lain harus tetap mencantumkan sumber atau nama pemilik asli yang menciptakan sumber kode Open Source tersebut.
Pelanggaran yang dilakukan pihak yang tidak mencantumkan sumber kode asli milik penciptanya inilah yang perlu dianalisis. Hal inilah yang menjadi permasalahan dalam perlindungan hak cipta Open source software. Di Indonesia sendiri perlindungan Program Komputer diatur dalam Pasal 40 ayat 1 huruf (s) Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Namun untuk pengaturan Open source software, belum terdapat peraturan khusus yang mengatur. Oleh karena permasalahan tersebut, maka karya tulis ini membahas lebih dalam tentang perlindungan hukum hak cipta pemilik Open Source Software yang berkepastian hukum dan berkeadilan.