48
Kecamatan Polokarto yaitu sebesar 6.218 Ha. Jarak dari Barat ke Timur yaitu
±20 km dan jarak dari Utara ke Selatan yaitu ±8 km. Jarak dari ibukota kecamatan ke ibukota Kabupaten Sukoharjo yaitu ± 9 km. Topografi Kecamatan Polokarto secara keseluruhan berupa dataran dengan ketinggian 96 meter diatas permukaan laut. Sebagian besar wilayah Kecamatan Polokarto merupakan daerah bukan sawah dengan presentase 55,59% atau seluas 3.062 Ha dan lahan sawah seluas 2.446 Ha dengan presentase 39,33%. Lahan bukan sawah terdiri dari lahan tegal sebesar 1.039 Ha atau 16,71%, lahan pekarangan 1.842 atau 29,62% dan lainnya 2,91% (BPS Kabupaten Sukoharjo, 2020).
Kecamatan Polokarto merupakan daerah yang beriklim tropis dan bertemperatur sedang. Suhu udara di Kecamatan Polokarto bekisar antara 24◦C sampai dengan 29◦C. Banyaknya hari hujan dalam 1 tahun ada 83 hari serta banyaknya curah hujan 1.417 mm/tahun dengan rata-rata curah hujan dalam 1 tahun yaitu 118 mm/bulan. Kondisi geografis tersebut membuat Kecamatan Polokarto cocok untuk ditanami padi, jagung, kacang tanah, kedelai, dan ubi.
Adapun batas wilayah Kecamatan Polokarto sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kecamatan Mojolaban Sebelah Timur : Kecamatan Karanganyar Sebelah Selatan : Kecamatan Bendosari Sebelah Barat : Kecamatan Grogol
Luas wilayah Kecamamatan Polokarto merupakan 13,32% dari keseluruhan luas wilayah Kabupaten Sukoharjo. Kecamatan Polokarto terbagi dalam 17 Desa yaitu Pranan, Bugel, Karangwuni, Ngombakan, Bakalan, Godog, Kemasan, Kenokorejo, Tepisari, Bulu, Rejosari, Polokarto, Mranggen, Wonorejo, Jatisobo, Kayuapak, Genengsari. Wilayah-wilayah tersebut terdiri dari 53 dusun, 124 RW (Rukun Warga) dan 378 RT (Rukun Tetangga).
Kemacatan Polokarto dalam Angka Tahun 2020).
Gambar 4. 1 Sketsa Wilayah Polokarto Tahun 2020.
1. Keadaan Penduduk menurut Lapangan Usaha
Keadaan penduduk menurut lapangan usaha digunakan untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi dan karakteristik daerah dengan melihat lapangan usaha yang menjadi mata pencaharian penduduk. Berikut keadaan penduduk menurut lapangan usaha di Kabupaten Sukoharjo:
Tabel 4.1 Keadaan Penduduk menurut Lapangan Usaha Kabupaten Sukoharjo Tahun 2021
Jenis Pekerjaan (1)
Pekerja Laki-laki
(2)
Pekerja Perempuan
(3)
Jumlah (orang)
(4) Pertanian, Peternakan,
Kehutanan, Perburuan, dan Perikanan
38.600 10.980 49.580
Pertambangan dan Penggalian 333 0 333
Industri Pengolahan 58.709 66.093 124.802
Listrik, Gas, dan Air 1.075 667 1.742
(1) (2) (3) (4)
Konstruksi 38.771 0 38.771
Perdagangan Besar, Eceran, dan Rumah Tangga
45.204 41.703 86.907 Angkutan, Pergudangan, dan
Komunikasi
15.126 1.386 16.512
Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan dan Jasa
6.437 4.728 11.165
Jasa Kemasyarakatan Sosial 45.691 53.593 99.284 Kegiatan yang belum jelas
batasnya
10.576 14.747 25.323
Jumlah 260.522 193.897 454.419
Sumber: Kabupaten Sukoharjo dalam Angka Tahun 2021
Berdasarkan tabel data 4.1 dapat diketahui bahwa lapangan usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja paling sedikit di Kabupaten Sukoharjo yaitu pertambangan dan penggalian dengan jumlah yaitu 333 orang, sedangkan lapangan usaha terbanyak di Kabupaten Sukoharjo yaitu sektor Industri Pengolahan dengan jumlah 124.802 orang. Keadaan ini didukung oleh kondisi wilayah di Kabupaten Sukoharjo yang sudah mulai dipadati industri- industri besar. Lapangan usaha dengan tenaga kerja terkecil di Kabupaten Sukoharjo yaitu sektor pertambangan dan penggalian yaitu sejumlah 333 orang. Keadaan ini didukung oleh kondisi wilayah di Kabupaten Sukoharjo bukan areal pertambangan ataupun ada areal pertambangan tapi sangat sedikit.
B. Keadaan Sosial Ekonomi
1. Keadaan Penduduk berdasarkan Usia
Usia adalah umur individu yang dihitung mulai saat dilahirkan sampai ulang tahun. Semakin cukup umur, maka kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan dalam bekerja (Nursalam, 2009).
Adapun data jumlah penduduk Kecamatan Polokarto berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur di Kecamatan Polokarto Tahun 2020
No. Kelompok Usia (tahun) Jiwa
1. 0-14 17.555
2. 15-64 50.861
3. ≥ 65 7.308
Jumlah 75.724
Sumber: Profil Kecamatan Polokarto 2020
Penduduk Kecamatan Polokarto dengan usia 15-64 tahun sebanyak 50.861 jiwa. Rentang usia diatas merupakan usia produktif, dimana seseorang dikatakan sudah mampu untuk bekerja. Adapun penduduk dengan usia tidak produktif sejumlah 24.863 jiwa, yang terbagi dari rentang usia 0-14 tahun dan lebih dari 65 tahun, kelompok dengan rentang usia 0-14 tahun sebanyak 17.555 dan lebih 65 tahun sebanyak 7.308 jiwa. Hal tersebut menunjukkan bahwa penduduk Kecamatan Polokarto mayoritas berada pada usia produktif.
2. Keadaan Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin dibedakan menjadi laki-laki dan perempuan. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat menunjukkan sex ratio. Kepadatan penduduk menurut jenis kelamin sangat berguna dalam mengetahui perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan (sex ratio). Sex ratio adalah nilai perbandingan antar jumlah penduduk laki- laki dengan jumlah penduduk perempuan (Mantra, 2000). Jumlah penduduk Kecamatan Polokarto berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut:
Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Kecamatan Polokarto Tahun 2020
No. Jenis Kelamin Jiwa Persentase
1. Laki-laki 37.572 49,61
2. Perempuan 38.152 50,39
Jumlah 75.724 100,00
Sumber: Profil Kecamatan Polokarto Tahun 2020
Berdasarkan Tabel 4.3 menurut data jenis kelamin, dapat dilihat persentase perbandingan antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan
atau disebut dengan sex ratio. Sex ratio dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
% 100 perempuan x penduduk
laki laki penduduk ratio
Sex =
−= 98,48%
Berdasarkan Tabel 4.2 diatas dapat diketahui jumlah penduduk laki-laki di Kecamatan Polokarto sejumlah 37.572 jiwa dengan persentase 49,61%.
Jumlah penduduk perempuan di Kecamatan Polokarto lebih banyak daripada jumlah penduduk laki-laki, yaitu sejumlah 38.152 jiwa dengan persentase 50,39%. Berdasarkan data tersebut, maka diperoleh angka sex ratio sebesar 98,48%. Artinya, apabila digunakan angka pendekatan 100 orang maka dari setiap 100 penduduk perempuan terdapat kurang lebih 98 orang laki-laki.
Penduduk di Kecamatan Polokarto memiliki kapasitas yang sama dalam melakukan kegiatan usaha tani, baik laki-laki maupun perempuan.
3. Sarana dan Prasarana Kesehatan di Kecamatan Polokarto
Sarana prasarana pelayanan kesehatan dapat didefinisikan sebagai proses kerjasama pendayagunaan semua sarana dan prasarana kesehatan secara efektif dan efisien untuk memberikan layanan secara profesional dibidang sarana dan prasarana dalam proses pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien pula. Kelengkapan sarana prasarana yang baik merupakan hal yang sangat penting dalam menciptakan kepuasan pelanggan (Ristiani, 2017).
Untuk menunjang tingkat kesehatan yang baik, diperlukan sarana dan prasarana yang memadai. Jumlah sarana dan prasarana kesehatan yang ada di Kecamatan Polokarto dapat dilihat pada table 4.4 sebagai berikut:
Tabel 4.4 Jumlah Sarana dan Prasarana Kesehatan di Kecamatan Polokarto
No Sarana dan Prasarana Unit
1. Puskesmas 1
2. Puskesmas Pembantu 5
3 Balai Pengobatan 7
4 Poskesdes 17
Jumlah 30
Sumber: Profil Kecamatan Polokarto 2020
Berdasarkan data tabel 4.4 maka dapat diketahui bahwa dalam menunjang kesehatan penduduk yang baik, Kecamatan Polokarto mempunyai 1 Puskesmas utama yang berada di Desa Mranggen 1 dan 5 puskesmas pembantu. Kecamatan Polokarto memiliki 7 balai pengobatan yang masing masing tersebar pada 1 unit di Desa Karangwuni, Kemasan, Wonorejo, dan 4 unit di Desa Mranggen. Kecamatan Polokarto juga mempunyai Poskesdes yang dibentuk dalam rangka menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat yang berjumlah 17 unit.
4. Sarana dan Prasarana Ibadah di Kecamatan Polokarto
Sarana dan prasarana ibadah merupakan sebuah tempat yang digunakan oleh umat beragama untuk beribadah menurut ajaran agama atau kepercayaan masing-masing. Ibadah merupakan salah satu cara manusia dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sarana dan prasarana ibadah yang memadai akan membuat seseorang merasa nyaman dan aman dalam berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (Lestari,2013). Mayoritas penduduk Kecamatan Polokarto memeluk agama Islam. Sarana dan prasarana ibadah di Kecamatan Polokarto dapat dilihat pada tabel 4.5 sebagai berikut:
Tabel 4.5 Jumlah Sarana dan Prasarana Ibadah di Kecamatan Polokarto Tahun 2019
No Sarana dan Prasarana Unit
1. Masjid/Musholla 213
2. Langgar/Surau 74
3. Gereja 1
Jumlah 288
Sumber: Profil Kecamatan Polokarto Tahun 2020
Berdasarkan tabel data 4.5, dapat diketahui bahwa Kecamatan Polokarto memiliki Masjid/Mushola sebanyak 213 unit. Jumlah Langgar/Surau sebanyak 74 unit yang terletak tersebar di seluruh desa di Kecamatan Polokarto kecuali pada Desa Rejosari. Jumlah Gereja di Kecamatan Polokarto berjumlah 1 unit yang terletak di Desa Polokarto 5. Sarana dan Prasarana Perekonomian di Kecamatan Polokarto
Kegiatan perekonomian Polokarto dibagi menjadi beberapa pasar hewan dan pasar umum. Jumlah pasar di Kecamatan Polokarto sebanyak 9
unit yaitu 8 pasar umum yang terletak di 4 Desa yaitu Desa Pendem, Desa Ngandul, Desa Kacangan, dan Desa Ngargoterto. Pasar hewan hanya tersedia 1 unit yaitu bertempat di Desa Ngandul. Masyarakat Kecamatan Polokarto menggunakan sarana dan prasarana perekonomian yang ada tersebut untuk digunakan transaksi ekonomi serta sebagai sumber pendapatan dari kegiatan berdagang.
Tabel 4.6 Jumlah Sarana dan Prasarana Perekonomian di Kecamatan Polokarto Tahun 2019
No Sarana dan Prasarana Unit
1. Pasar Umum 8
2. Pasar Hewan 1
3. Minimarket 1
4. Toko Kelontong 641
5. Kedai Makanan 420
Jumlah 1.071
Sumber: Profil Kecamatan Polokarto Tahun 2020
Berdasarkan tabel data 4.6 dapat diketahui bahwa Kecamatan Polokarto memiliki beberapa sarana prasarana perekonomian yaitu pasar umum, pasar hewan, minimarket, toko kelontong, dan kedai makanan. Kecamatan Polokarto memiliki pasar umum yang tersebar di beberapa desa yaitu Desa Bugel, Bakalan, Godog, Bulu, Mranggen, Kayuapak sebanyak 1 unit dan pada Desa Ngombakan sebanyak 2 unit. Satu-satunya pasar hewan yang ada pada Kecamatan Polokarto berada di Desa Bulu dan satu-satunya minimarket yang ada di Kecamatan Polokarto berada di Desa Mranggen. Kecamatan Polokarto mempunyai toko kelontong sebanyak 641 unit dan kedai makanan sebanyak 420 unit yang tersebar di seluruh desa.
C. Keadaan Pertanian 1. Kondisi Pertanian
Kondisi pertanian menjadi salah satu indikator kemampuan suatu wilayah dalam mengelola sumber daya alam serta mencukupi kebutuhan pangan penduduk di wilayah tersebut. Kondisi pertanian di Kecamatan Polokarto mempengaruhi pendapatan penduduk, karena sebagian besar penduduk desa
bekerja di bidang pertanian. Luas lahan tanam menurut masing-masing desa di Kecamatan Polokarto dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7 Luas Lahan Kecamatan Polokarto tahun 2019 No. Desa
(1)
Luas Lahan Sawah (ha) (2)
1. Pranan 135
2. Bugel 96
3. Karangwuni 119
4. Ngombakan 119
5. Bakalan 214
6. Godog 189
7. Kemasan 203
8. Kenokorejo 190
9. Tepisari 140
10. Bulu 97
11. Rejosari 95
12. Polokarto 135
13. Mranggen 258
14. Wonorejo 142
15. Jatisobo 140
16. Kayuapak 70
17. Genengsari 104
Jumlah 2.446
Sumber: Profil Kecamatan Polokarto Tahun 2020
Berdasarkan dari Tabel 4.7 diketahui bahwa luas lahan sawah di Kecamatan Polokarto seluas 2.446 Hektar. Hamparan sawah di Kecamatan Polokarto tersebut umumnya terdiri dari tanaman pangan, seperti padi, dan palawija. Kecamatan Polokarto memiliki luas wilayah kurang lebih 6,218 Hektar, dimana sebagian wilayah dijadikan lahan pertanian. Lahan pertanian di Kecamatan Polokarto dapat dikatakan memiliki lahan yang cukup luas. Hal tersebut dibuktikan dengan masih banyaknya hamparan sawah di perbatasan desa.
Ada beberapa komoditas utama di Kecamatan Polokarto yang menjadi andalan bagi petani untuk menanamnya, komoditas utama dapat dilihat pada tabel 4.8 sebagai berikut:
Tabel 4.8 Luas Panen dan Produksi Tanam Komoditas Utama Kecamatan Polokarto Tahun 2019
No Komoditas Luas Tanam (Ha)
1. Padi 6.054
2. Jagung 898
3. Kacang Tanah 270
4. Kedelai 454
5. Ubi Kayu 122
Jumlah 7.798
Sumber: Profil Kecamatan Polokarto Tahun 2020
Berdasarkan Tabel 4.8 diketahui bahwa luas lahan tanam komoditas utama di Kecamatan Polokarto seluas 7.798 Hektar. Terdapat 5 komoditas utama yaitu padi, jagung, kacang tanah, kedelai, dan ubi kayu. Komoditi yang paling besar berdasarkan data tersebut yaitu padi dengan luas tanam 6.054 hektar yang disusul dengan komoditi jagung 898 hektar, komoditi kacang tanah 270 hektar, komoditi kedelai 454 hektar, dan komoditi cabai sebesar 38 hektar.
D. Gambaran Umum Program Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo
Program PATB adalah program peningkatan produksi padi dengan memanfaatkan lahan baru yang belum pernah ditanami seperti tumpangsari dengan areal perkebunan, kehutanan, lahan rawa, lahan galian eks tambang.
Pemerintah memberi dukungan yang sangat besar guna untuk mengsukseskan program PATB. Dukungan tersebut berupa beberapa bentuan seperti benih, pupuk, dan sumur yang bersifat stimulus yang diberikan oleh pemerintah kepada para petani yang mengikuti program PATB.
Berdasarkan hal tersebut maka Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo melakukan sosialisasi mengenai program PATB. Hasil sosialisasi menunjukkan bahwa terdapat 5 Kecamatan di Kabupaten Sukoharjo yang mengajukan lahan mereka untuk diikutkan program PATB diantaranya yaitu Kecamatan Bulu, Kecamatan Bendosari, Kecamatan Sukoharjo, Kecamatan Nguter, dan Kecamatan Polokarto dengan total lahan yang diajukan yaitu 330 Ha.
Kecamatan Polokarto merupakan kecamatan tertinggi yang mengajukan lahan petani mereka untuk diikutkan dalam program PATB yaitu seluas 135 Ha
(Dinas Pertanian Sukoharjo, 2020). Petani yang mengikuti program PATB di Kecamatan Polokarto berjumlah 254 orang yang tersebar dalam 6 Desa dan 7 kelompok tani yang berbeda. 6 desa yang mengikuti program PATB di Kecamatan Polokarto yaitu Desa Polokarto, Genengsari, Tepisari, Bulu, Rejosari, dan Desa Mranggen. Adanya program PATB ini tentunya membuat lahan padi sawah di Kecamatan Polokarto bertambah, berikut data kenaikan lahan padi sawah di Kecamatan Polokarto:
Gambar 4. 2 Grafik Kenaikan luas lahan pertanian padi setelah adanya program PATB tahun 2020
Sumber: Analisis Data Sekunder Tahun 2021
Berdasarkan gambar 4.2 dapat dilihat kenaikan lahan padi sawah yang terjadi seiringan dengan adanya program PATB. Kenaikan lahan padi sawah diharapkan dapat menambah hasil panen padi petani di daerah Kecamatan Polokarto. Kenaikan hasil panen inilah yang diinginkan dari program PATB untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional dalam menghadapi pandemi covid-19.
Program PATB dalam mewujudkan perluasan areal tanam baru padi mendapat dukungan dari pemerintah yang bersifat stimulan. Bantuan yang diberikan pemerintah yaitu berupa benih, pupuk, dan yang terpenting yaitu dana untuk pembuatan sumur bor. Sumur bor ini dapat dibilang merupakan bantuan yang terpenting dari program PATB ini karena dengan adanya sumur bor petani
5950 6000 6050 6100 6150 6200
Sebelum Sesudah
Grafik Penambahan Luas Lahan Tahun 2020
Luas Lahan
yang biasanya hanya mengandalkan air tadah hujan sekarang dapat menanam padi sepanjang tahun.
Program PATB di Kecamatan Polokarto mendapatkan respon yang baik dari para petani. Terbukti dengan adanya sebanyak 254 orang yang mengikuti program PATB di Kecamatan Polokarto. Salah satu syarat utama untuk mengikuti Program PATB yaitu memiliki lahan yang sesuai kriteria progtam yaitu seperti lahan tumpangsari dengan areal perkebunan, kehutanan, lahan rawa, lahan galian eks tambang. Petani yang memiliki lahan yang masuk sesuai dengan kriteria dapat mengajukan lahannya untuk mengikuti Program PATB.
Gambar 4. 3 Lahan Petani Program PATB di Kecamatan Polokarto
Sumber: Data Sekunder Tahun 2021
Lahan yang digunakan dalam Program PATB di Kecamatan Polokarto merupakan lahan petani yang sebelumnya tidak digunakan untuk melakukan kegiatan usahatani atau lahan perkebunan dan kehutanan. Lahan perkebunan dan kehutanan milik petani sebelumnya tidak digunakan untuk usahatani padi karena tidak adanya sumber air yang mencukupi. Adanya program PATB ini mendorong minat petani untuk melakukan usahatani padi di lahan-lahan mereka yang sebelumnya tidak digunakan karena adanya bantuan dari pemerintah yang berupa benih, pupuk, dan uang untuk membuat sumur bor yang dapat
memudahkan para petani mendapatkan cukup air untuk melakukan kegiatan usahatani padi.
Gambar 4. 4 Bantuan Sumur Bor yang diterima oleh salah satu Kelompoktani di Kecamatan Polokarto
Sumber: Data Sekunder Tahun 2021
Program PATB dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2020. Petani mulai melakukan usahatani padi pada lahan baru mereka pada bulan September dan panen pada bulan Desember tahun 2020. Petani pada bulan Desember tahun 2020 sudah dapat melakukan panen pada lahan baru mereka dan mendapatkan penghasilan dari lahan yang sebelumnya tidak digunakan tersebut.
Hasil panen petani pada lahan baru Program PATB di Kecamatan Polokarto pada bulan Desember kurang baik dikarenakan adanya serangan hama tikus. Petani sebenarnya sudah merasakan manfaat dari mengikuti Program PATB walaupun belum maksimal karena hasil panen mereka terganggu dengan adanya hama tikus. Kondisi hama tikus yang tidak dapat dikendalikan membuat para petani memutuskan untuk tidak menanam padi terlebih dahulu untuk musim tanam selanjutnya dikarenakan para petani tidak ingin merugi.