• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kulit merupakan organ yang menutupi seluruh tubuh manusia dan berfungsi melindungi tubuh dari pengaruh luar, sehingga kulit perlu dilindungi dan dijaga kesehatannya. Proses kerusakan kulit ditandai dengan munculnya keriput, sisik, kering, dan pecah-pecah. Kulit sangat sensitif terhadap berbagai zat- zat kimia yang dapat pula merusak jaringan kulit. Kulit yang tidak dirawat dapat menunjukan gejala seperti warna kulit yang tidak merata karena panasnya sinar matahari dan tidak menggunakan pelindung atau sunblock, radikal bebas dari berbagai polusi seperti asap kendaraan dan asap rokok. Efek untuk kulit wajah karna tidak menggunakan pelembab dan untuk buku-buku jari sehingga kulit kering dan tidak rata yang dapat menimbulkan pengelupasan kulit secara berkala bahkan penuaan (Wahyuningtyas et al, 2015).

Penuaan adalah suatu proses kompleks dimana terjadi perubahan fisiologis dan penurunan kemampuan tubuh untuk melawan stres, penyakit, dan kerusakan yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Proses penuaan dapat membuat kulit menjadi kusam dan timbul garis-garis halus yang pada akhirnya akan menjadi kerutan. Kulit kusam dan kerutan dapat mengganggu penampilan fisik dan menurunkan rasa percaya diri sehingga banyak hal dilakukan untuk menghambat proses penuaan. Salah satunya adalah dengan penggunaan kosmetika anti penuaan atau antiaging (Elsner & Howard, 2000).

Radikal bebas merupakan suatu molekul yang relatif tidak stabil dengan atom yang pada orbit terluarnya memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Radikal bebas menjadi stabil jika berikatan dengan elektron dari molekul lain (Sandra Aulia, dkk, 2005). Radikal bebas dengan jumlah yang sangat berlebih dapat merusak kolagen pada membran sel, sehingga kulit kehilangan elastisitasnya. Selain menghilangkan elastisitas kulit, radikal bebas juga dapat membuat kulit bergaris dan tampak keriput. Untuk mencegah kerusakan kulit

(2)

yang lebih fatal, suatu subtansi penting yaitu antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas (Suryani, dkk, 2015).

Salah satu cara untuk menangkal radikal bebas yaitu dengan antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari radikal bebas (Suryani, dkk, 2015).

Antioksidan adalah senyawa yang dapat membentuk satu atau lebih elektron pada radikal bebas sehingga radikal bebas dapat diredam (Kosasih, dkk, 2006). Akan tetapi dengan bertambahnya usia dapat terjadi penurunan produksi antioksidan, sehingga sistem pertahanan antioksidan tubuh tidak efektif bekerja sebagai penangkal radikal bebas. Hal ini menjadikan adanya kondisi stres oksidatif yaitu aktivitas antioksidan eksogen tidak sanggup mengatasi radikal bebas dalam tubuh (Suryowinoto, 2005).

Antioksidan eksogen dapat diperoleh dari senyawa sintetik maupun subtansi bahan alam seperti dari tumbuhan yang senyawa antioksidannya vitamin C, vitamin A, serta senyawa flavonoid (Saputri, 2007). Ada beberapa tanaman penghasil senyawa antioksidan, salah satunya jambu biji (Psidium guajava L.) dengan menunjukan hasil penelitian terdahulu bahwa ekstrak etanol daun jambu biji berpotensi sebagai sumber flavonoid dan fenolik (Liberman dan Kanig, 1994).

Flavonoid dan fenolik merupakan senyawa yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan yang dapat dimanfaatkan sebagai penangkap radikal bebas (Saputri, 2007). Bahan alami seperti Jambu biji (Psidium guajava L.) yang mempunyai manfaat besar yang mempunyai vitamin A, B, C, dan potassium yang merupakan antioksidan yang baik dan juga berperan sebagai detoks tubuh. Jambu biji (Psidium guajava L.) juga dapat melawan radikal bebas, sehingga kulit tetap bersinar dan bebas dari tanda-tanda penuaan dini seperti keriput dan garis-garis halus (Suryani, dkk, 2015).

Daun jambu biji (Psidium guajava L.) juga memiliki kandungan antioksidan dan terbukti secara klinis mempunyai berbagai manfaat farmakologis, antara lain antibakteri, antijamur, antihipertensi, dan antioksidan. Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa beberapa bahan aktif flavonoid dari ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) seperti kuersetin, glukopiranosida dan morin memiliki aktivitas sebagai bahan penangkap radikal bebas (Suryani, dkk, 2015).

(3)

Penelitian sebelumnya berpendapat bahwa antioksidan adalah senyawa kimia yang dapat menyumbangkan satu atau elektron kepada radikal bebas, sehingga radikal bebas tersebut dapat diredam dan salah satu tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan adalah daun jambu biji (Psidium guajava L.) dari famili myrtaceae yang terbukti secara klinis mempunyai berbagai efek farmakologis (Sandra Aulia, dkk, 2005).

Kandungan antioksidan pada daun jambu biji putih (Psidium guajava L.) diperoleh dari senyawa aktif fenol, flavonoid, steroid, dan kuinon. Ekstrak tersebut tidak mengandung mikroba dan logam berat yang membahayakan kesehatan, sehingga jambu biji putih (Psidium guajava L.) dapat digunakan sebagai salah satu alternatif antioksidan alami (Indriani Susi, 2008). Selain daun jambu biji putih (Psidium guajava L.) bahan yang mempunyai kandungan antioksidan lainnya adalah kopi hijau (Coffea canephora var. Robusta) dengan salah satu kandungannya yaitu asam klorogenat (Clifford, 1999). Selain jambu biji putih (Psidium guajava L.) dan kopi hijau (Coffea canephora var. Robusta) buah tomat (Lycopersicum esculentum Mill) juga memiliki kadar antioksidan dalam kandungan likopen. Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) juga memiliki kandungan flavonoid vitamin C dan vitamin E yang sama dengan jambu biji putih (Psidium guajava L.) (Imam, 2006).

Daun jambu biji putih (Psidium guajava L.) tidak bisa dipilih dengan cara sembarangan karena daun jambu biji putih (Psidium guajava L.) dibuat untuk sediaan lotion yang nantinya dibuat secara berkualitas dalam mengatasi masalah warna kulit yang tidak rata. Jambu biji putih (Psidium guajava L.) yang dipilih adalah tanaman jambu biji (Psidium guajava L.) memiliki struktur daun tunggal dan mengeluarkan aroma yang khas (Jaya, 2018). Bentuk daun jambu biji (Psidium guajava L.) paling dominan adalah daun lonjong dengan pangkal daun yang asimetri (Jaya, 2018). Tepi daun rata dengan ujung daun yang tumpul dan memiliki tekstur menyerupai kertas dengan permukaan daun yang pucat (glaucous) dan terdapat bulu-bulu halus, pendek dan jarang (pubescent) (Jaya, 2018).

Contoh kerusakan kulit yang sering terjadi pada wanita Indonesia adalah warna kulit yang tidak merata. Solusi yang dipilih adalah menggunakan lotion

(4)

dengan kandungan extra whitening untuk meratakan warna kulit dan meningkatkan warna tone kulit. Banyak diantara wanita yang memilih lotion whitening dan tidak memperhatikan efek samping dan tidak memperhatikan dampak serta kandungan yang berada pada lotion tersebut (Prasetyo dan Salim, 2007). Lotion adalah bentuk sediaan setengah padat yang diaplikasikan pada tubuh, mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai dan diformulasikan sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air (Depkes RI, 1995).

Penggunaan lotion dengan bahan alami saat ini sangat digemari oleh konsumen, terutama wanita. Lotion digunakan untuk pemakaian kulit luar sebagai pelindung (Prasetyo dan Salim, 2007). Konsistensi yang berbentuk cair memungkinkan pemakaian yang cepat dan merata pada permukaan kulit, sehingga mudah menyebar dan dapat segera kering setelah pengolesan serta meninggalkan lapisan tipis pada permukaan kulit (Lachman et al., 1994).

Stabilitas suatu sediaan kosmetik merupakan hal yang harus diperhatikan.

Hal ini penting mengingat suatu sediaan biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk sampai ketangan konsumen. Oleh karena itu sediaan tersebut juga perlu diuji stabilitas sesuai prosedur yang telah ditentukan.Sediaan lotion yang stabil yaitu sediaan yang masih berada dalam batas yang dapat diterima selama masa periode penyimpanan dan penggunaan. Stabilitas produk farmasi dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat dan karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat (Vadas, 2000).

Faktor yang dapat mempengaruhi stabilitas dari sediaan farmasi, antara lain stabilitas bahan aktif, interaksi antara bahan aktif dengan bahan tambahan, proses pembuatan bentuk sediaan, kemasan, cara pengemasan dan kondisi lingkungan yang dialami selama pengiriman, penyimpanan, penganan dan jarak waktu antara pembuatan dan penggunaan. Faktor lingkungan seperti temperature, radiasi cahaya dan udara (khususnya oksigen, karbon dioksida dan uap air) juga mempengaruhi stabilitas (Osol et al, 1980; 1990).

(5)

Pada penelitian ini akan dibuat sediaan lotion ekstrak daun jambu biji putih (Psidium guajava L.) dengan menggunakan kadar ekstrak yang berbeda- beda untuk setiap formulasinya yaitu 0,1%, 0,2%, dan 0,3%. Dari latar belakang dan permasalahan di atas, peneliti akan melakukan penelitian mengenai “Uji Karakteristik Fisika Kimia dan Uji Stabilitas Sediaan Lotion Ekstrak Daun Jambu Biji Putih (Psidium guajava L.)”.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana pengaruh variasi kadar ekstrak daun Jambu Biji Putih (Psidium guajava L) kadar 0,1%, 0,2%, 0,3% sediaan lotion terhadap karakteristik fisika (organoleptis, homogenitas, tipe emulsi, viskositas, dan daya sebar) dan kimia (pH)?

1.2.2 Bagaimana pengaruh variasi kadar ekstrak daun jambu biji putih (Psidium guajava L) kadar 0,1%, 0,2%, 0,3% terhadap stabilitas lotion ekstrak daun jambu biji putih (Psidium guajava L)?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Mengetahui pengaruh variasi kadar ekstrak daun Jambu Biji Putih (Psidium guajava L) kadar 0,1%, 0,2%, 0,3% sediaan lotion terhadap karakteristik fisika (organoleptis, homogenitas, tipe emulsi, viskositas, dan daya sebar) dan kimia (pH).

1.3.2 Mengetahui pengaruh variasi kadar ekstrak daun jambu biji putih (Psidium guajava L) kadar 0,1%, 0,2%, 0,3% terhadap stabilitas lotion ekstrak daun jambu biji putih (Psidium guajava L).

1.4 Hipotesis Penelitian

1.4.1 Berpengaruh pada variasi kadar ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) terhadap karakteristik fisika kimia pada sediaan lotion dari formulasi ekstrak daun jambu biji putih (Psidium guajava L).

1.4.2 Berpengaruh pada variasi kadar ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) terhadap stabilitas pada sediaan lotion dari formulasi ekstrak daun jambu biji putih (Psidium guajava L).

(6)

1.5 Manfaat Penelitian

Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut:

1.5.1 Bagi Instansi Penelitian

Sebagai bahan referensi ilmiah bagi mahasiswa yang lainya dalam melakukan penelitian selanjutnya.

1.5.2 Bagi Peneliti

Peneliti dapat mengetahui pengaruh kadar ekstrak daun Jambu Biji Putih (Psidium guajava L) kadar 0,1%, 0,2%, 0,3% sediaan lotion terhadap karakteristik fisika (organoleptis, homogenitas, tipe emulsi, viskositas, dan daya sebar), kimia (pH), dan stabilitas dan sebagai tahap pembelajaran dalam penelitian.

1.5.3 Bagi Masyarakat

Menambah pengetahuan masyarakat tentang pengaruh ekstrak Daun Jambu Biji Putih (Psidium guajava L) kadar 0,1%, 0,2%, 0,3% sediaan lotion terhadap karakteristik fisika (organoleptis, homogenitas, tipe emulsi, viskositas, dan daya sebar), kimia (pH), dan stabilitas.

Referensi

Dokumen terkait

Bagian Peran dalam Manajemen Jurnal berfungsi untuk mengatur pengguna-pengguna yang terdaftar dimasing-masing peran, juga dapat mendaftarkan pengguna baik sudah

Analisa granulometri dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan metode grafis dan metode statistik, dimana metode grafis memuat berbagai macam grafik yang mencerminkan penyebaran

4.9 Gambar Hasil Pengujian Menampilkan dan Mengurutkan Kata. Pada contoh gambar diatas menunjukan bahwa pengguna sedang mencari arti kata “Agar” dalam Bahasa Indonesia

Karakteristik sosial ekonomi yang dijabarkan dalam variabel berikut: Umur (tahun), Status perkawinan, Tingkat pendidikan, Pendapatan responden, Pendapatan keluarga per-bulan,

Penerjemahan bahasa pemprogramana di bedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu assembler, compiler, dan interprenter. 1) assembler : program yang di gunakan untuk menerjemahkan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perangkat uji kompe- tensi merupakan instrumen pengukuran yang dipergunakan untuk menguji kompe- tensi spesifik

Pada skizofrenia, penggunaan kombinasi TEK dengan obat antipsikotik untuk pasien yang mempunyai respon yang baik terhadap TEK adalah lebih unggul untuk pengobatan

Seharusnya para pengajar bukan hanya mementingkan kualitas permainan saja, tetapi juga harus memperhatikan model yang digunakan saat memberikan materi, supaya siswa dapat