• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA ATTACHMENT DENGAN STRATEGI PENANGANAN KONFLIK PADA EMERGING ADULTHOOD DI WILAYAH DKI JAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA ATTACHMENT DENGAN STRATEGI PENANGANAN KONFLIK PADA EMERGING ADULTHOOD DI WILAYAH DKI JAKARTA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA ATTACHMENT DENGAN STRATEGI PENANGANAN KONFLIK PADA EMERGING ADULTHOOD

DI WILAYAH DKI JAKARTA

Nur Fifitri

Psikologi, Universitas Bina Nusantara, [email protected] (Yessy Noerhardiyanty, Katarina Ira Puspita, S.Psi., M.Si)

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat korelasi antara kelekatan (attachment) antar pasangan, dengan strategi penanganan konflik yang diambil ketika pasangan memiliki konflik. Bagaimana pasangan menyelesaikan konflik dengan cara tertentu dengan tipe kelekatan (attachment) yang dimiliki.

Subjek dalam penelitian ini adalah individu dalam kategori usia 18-25 tahun yang sedang menjalani hubungan pacaran ataupun pertunangan dan memiliki rencana menikah ± 1 tahun kedepan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, menggunakan penghitungan statistik terhadap 100 responden. Hasil dari penelitian ini menunjukan terdapat hubungan yang bersifat negatif antara tipe avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik compromise dan terdapat hubungan yang bersifat negatif antara tipe anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik compromise. (NF)

Kata kunci: kelekatan (attachment), strategi, konflik, compromise.

(2)

ABSTRACT

The purpose of this study was to examine the correlations between attachment and conflict resolution strategy are taken when the couple has a conflict. To see how couples resolve conflict in a certain way with the type of they attachment types. Subjects in this study were individuals in the age category 18-25 years old who were dating or engagement relationship and have plans to marry ± 1 years later. The method used in this study is a quantitative method, using a statistical calculation of the 100 respondents.

The results of this study revealed that there are negative relationship between the type of avoidant attachment with conflict resolution strategy is compromised and there is a negative relationship between the type of attachment anxiety to compromise conflict resolution strategies. (NF)

Key words: Attachment, Strategy, Conflict, Compromise

(3)

PENDAHULUAN

Pacaran adalah istilah yang sudah tidak asing lagi didengar oleh masyarakat. Hampir seluruh masyarakat dapat melihat atau menjadi subjek dalam fenomena pacaran ini sendiri. Tracy, Shaver, Albino dan Cooper (dalam Steuber, 2005) menyatakan bahwa pacaran adalah hubungan serius individu yang memiliki perasaan mencintai yang kuat terhadap seseorang yang secara khusus mereka lihat/pacari.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang bisaanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Dari kedua definisi tersebut diketahui bahwa pacaran merupakan bentuk kedekatan antara 2 orang untuk menjalin hubungan menuju komitmen yang lebih serius atau pernikahan.

Pada umumnya ketertarikan terhadap lawan jenis mulai muncul pada masa remaja saat pembentukan identitas seksual (Santrock, 2013). Remaja menghabiskan banyak waktu untuk kencan dan memikirkan tentang kencan (Shulman, Davila, & Shachar-Saphira dalam Santrock, 2013). Menurut Santrock (2013) kencan dan hubungan romantis mulai menuju hubungan yang lebih serius terjadi ketika usia 17-19 tahun, pada saat ini ikatan emosional semakin kuat dan mendekati hubungan romatis dewasa.

Menurut Arnett (dalam Santrock, 2013) usia 18-25 dapat dikategorikan sebagai masa emerging adulthood, yaitu transisi dari remaja ke dewasa. Salah satu karakter pada masa emerging adulthood adalah ekplorasi identitas, khususnya dalam cinta dan pekerjaan (Arnett dalam Santrock, 2013).

Rubin (dalam Hazan & Shaver, 1994) menyatakan indikator yang bisa menunjukan seseorang yang sedang dalam hubungan dekat adalah frekuensi mereka saling bersama satu sama lain yang menunjukan kuantitas dari cinta pasangan satu sama lain. Selain itu agar hubungan dapat bertahan diperlukan komitmen, yaitu elemen kognitif, yang berbentuk keputusan untuk mencintai dan tetap bersama dengan orang yang dicintai (Papalia & Olds, 1998). Sebenarnya bagaimana hubungan pacaran itu terjalin tergantung dari bagaimana pribadi masing-masing pasangan menjalaninya. Ini adalah bentuk adaptasi seseorang dalam behubungan dengan orang lain dan ini mungkin ada hubungannya dengan kecenderungan dari masa kecil hingga dewasa (Hazan & Shaver, 1994). Dalam beradaptasi satu sama lain, pasangan pasti sering mengalami masalah karena dua orang yang memiliki kepribadian dan sifat yang berbeda harus bertemu satu sama lain dan mencoba memahami satu sama lain. Pietromonaco, Greenwood & Barret (2004) menyatakan bahwa sebenarnya fenomena pacaran sangat dekat dengan konflik. Canary, Cupach, & Messman (dalam Zacchilli, Hendrick dan Hendrick, 2009) menyatakan bahwa kemungkinan besar konflik bisa terjadi dari aktivitas dua orang yang terhubung satu sama lain.

Konflik akhirnya dapat menjadi penyebab putus hubungan antara dua orang yang berpacaran.

Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan terhadap 8 orang mahasiswa Bina Nusantara yang memiliki pasangan, seluruhnya mengatakan bahwa mereka pernah mengalami konflik dengan pasangan.

Seluruhnya setuju bahwa dalam hubungan pacaran pasti terdapat konflik yang muncul karena menyatukan dua pikiran yang berbeda. Penyebab konflik dari setiap pasangan juga berbeda-beda. Dari hasil wawancara lanjutan mengenai beberapa hal yang dapat menimbulkan konflik ternyata cemburu adalah penyebab yang paling sering muncul pasangan akhirnya memiliki konflik, lalu penyebab kesalah pahaman juga dirasa cukup sering menimbulkan konflik, kemudian pasangan dirasa keras kepala dan tidak mau mengalah, masalah sulitnya komunikasi dan merasa tidak diperhatikan lagi merupakan hal yang dianggap dapat menimbulkan konflik selanjutnya dan kemungkinan konflik yang paling jarang terjadi dari hasil wawancara dalah karena rasa bosan dengan pasangan. Walaupun banyak penyebab konflik tetapi mereka menganggap bahwa hal ini wajar dalam suatu hubungan dan akan menjadikan hubungan lebih kuat kalau berhasil diselesaikan dengan baik.

Hasil wawancara singkat peneliti ini sejalan dengan pendapat Guererro, Anderson, & Afifi (dalam Brandenberger, 2007) bahwa konflik terjadi karena ketidakcocokan seseorang dengan pendapat orang lain dalam tujuan tertentu. Konflik akan selalu ada dalam kehidupan manusia (Zacchilli, Hendrick,

& Hendrick, 2009). Walaupun konflik adalah hal yang dianggap wajar, tetapi konflik tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha untuk menyelesaikan atau mencari jalan keluar dari konflik yang muncul dalam hubungan pacaran. Konflik dapat menyebabkan hal buruk terjadi dalam hubungan seperti perpisahan, seperti kasus enam orang selebriti di Indonesia yang mengalami batal menikah ketika pernikahan sudah direncanakan karena konflik yang tidak dapat diselesaikan dengan pasangan

(4)

(Lihat.co.id, 2014). Seperti kasus salah seorang selebritis dengan inisial BS, yang terancam batal menikah karena terjadi konflik dengan pasangan yaitu masalah komunikasi, padahal rencana pernikahan dengan pasangannya sudah direncanakan oleh kedua belah pihak keluarga (Selebuzz, 2014). Ketidakcocokan bisa digambarkan sebagai bentuk tidak mampu menyelesaikan konflik dengan baik. Menurut Rusbult, dkk (dalam Aronson, Wilson dan Akert, 2007) ketika salah satu pasangan sudah bersikap menghancurkan hubungan, dan salah satu berusaha mencoba bersifat membangun, hubungan masih mungkin dapat dilanjutkan dan konflik diselesaikan tetapi jika keduanya sudah sama-sama berperilaku menghancurkan maka hubungan pasti akan berakhir. Hal ini menunjukan konflik yang tidak ditanggapi dengan perilaku yang tepat oleh kedua pasangan akan menyebabkan perpisahan hubungan pada pasangan.

Penyelesaian konflik adalah menyelesaikan ketidakcocokan atau argumen yang berbeda satu sama lain (Mansilla dalam Kintanar, 2010). Penyelesaian konflik harus dilakukan oleh pasangan agar konflik dapat terselesaikan dengan sebaik mungkin dan hubungan bisa dilanjutkan. Karena penyelesaian konflik yang baik dapat meningkatkan kepuasan dalam hubungan (Shi, 1999). Dalam penelitiannya Gotman (dalam Steuber, 2005) mengidentifikasi berilaku berinteraksi dalam menyelesaikan konflik, bagaimana perilaku mereka memengaruhi kepuasan dalam hubungan. Ketika seseorang saling bertukar pesan positif maka akan menghasilkan cinta dan menghargai, sedangkan jika mereka mengirimkan pesan yang hostile maka komunikasi yang bersifat negative tersebut akan menghasilkan ketidakpuasan hubungan (Steuber, 2005). Selain itu dengan mengetahui tipe penyelesaian konflik yang dimiliki oleh pasangan maka akan mudah bagi pasangan untuk memerbaiki hubungan satu sama lain. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Creasay, & Hesson-McInnus (dalam Steuber, 2005) yang penelitiannya berfokus pada bagaimana seseorang menjadikan konflik untuk memprediksi konflik dan mengarahkan kepada kepuasan hubungan.

Terdapat enam strategi penanganan konflik yang dibuat oleh Zacchilli, Hendrick & Hendrick (2009); compromise, domination, submission, avoidance, dan interactional reactivity. Keenam startegi penyelesaian konflik tersebut ada yang bersifat constructive (membangun), destructive (menghancurkan) bahkan diantara keduanya (Zacchilli, Hendrick & Hendrick, 2009). Bagaimana seseorang menyelesaikan konflik berarti akan berhubungan dengan efek selanjutnya dari hubungan pacaran. Jika pasangan mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang constructive maka hubungan akan berjalan dengan baik setelah konflik diselesaikan, tetapi jika destructive (menghancurkan) mungkin akan sebaliknya.

Cara seseorang menangani konflik yang dihadapi berbeda-beda. Lofton (2010) mengungkapkan ada 5 hal yang memengaruhi seseorang dalam bagaimana mereka menaggapi konflik, yaitu sejarah keluarga, pengalaman eksternal, pilihan dan status, norma sosial dan jenis kelamin. Menurut Lofton (2010), sejarah keluarga memengaruhi dalam penanganan konflik karena perilaku yang kita menculkan dipelajari dari keluarga. Keluarga adalah media sosialisasi pertama manusia dalam hidupnya, jadi wajar saja kalau seseorang belajar bagaimana berbicara atau bertindak dalam menyelesaikan konflik dari keluarga atau orang terdekat.

Teori konflik dalam keluarga dimulai dengan hal ketidakharmonisan dalam keluarga dan mengalami konflik (Ray, 2013). Dalam penelitian yang dilakukan Trentacosta, dkk (2012) mendemonstrasikan perubahan signifikan yang terjadi mengenai konflik dan kehangatan selama masa perkembangan. Perkembangan seseorang tentu saja tidak pernah lepas dari peran orang tua, orang tua bisa saja menjadi model anak dalam mengatasi masalah. Anak yang memiliki orang tua yang positif dalam memandang hubungan akan menjadi working model bagi anak untuk berperilaku prososial dan kooperatif, sehingga pada saatnya nanti anak akan mampu membangun hubungan yang hangat dengan ibu mereka (Trentacosta, dkk. 2012)

Hubungan interaksi ibu dan anak, tidak dapat dipisahkan dari proses pengasuhan dan kelekatan (attachment) yang terjadi. Kelekatan (attachment) adalah komponen penting dalam pengalaman hidup manusia; “from the cradle to the grave” (Bowlby, dalam Fraley & Shaver 2000). Hal ini menunjukan bahwa kelekatan (attachment) memiliki peran yang sangat penting dalam awal kehidupan manusia hingga perkembangannya. Fraley & Shaver (dalam Mikulincer & Shaver, 2007) menjelaskan bahwa pola dari ekspektasi, kebutuhan, emosi dan perilaku sosial adalah hasil dari pengalaman kelekatan (attachment) pada masa sebelumnya, bisaanya hubungan ini dimulai dari orang tua.

Konsep secara umum dari teori kelekatan (attachment) pada bayi sebenarnya sama dengan teori kelekatan (attachment) dewasa, karena para ahli tetap berpatokan pada kelekatan (attachment) dari teori Ainsworth (dalam Mikulincer & Shaver, 2007). Terdapat 3 tipe kelekatan (attachment) menurut

(5)

Ainsworth, dkk (dalam Aronson, Wilson & Akert, 2007) yaitu secure attachment style, avoidant attachment style dan anxious/ambivalent attachment style. Jika pada masa bayi pemberi perhatian dalam kelekatan (attachment) adalah pengasuh atau orang tua dari bayi, dalam kelekatan (attachment) dewasa khususnya hubungan berpacaran hal ini agak berbeda. Pada kelekatan (attachment) bayi, anak selalu mencari perhatian dari pengasuh untuk memenuhi kebutuhannya, sedangkan menurut Hazan & Shaver (1994), kelekatan (attachment) dalam hubungan dewasa bersifat timbal balik dari keduanya, setiap pasangan harus bisa menjadi provider maupun caregiver dalam hubungan.

Pada orang dewasa, kelekatan (attachment) itu sendiri didasari oleh dua dimensi yaitu, avoidant dan anxiety (Pratishita, 2008). Menurut Brennan, dkk (dalam Pratishita, 2008) pada dimensi anxiety perasaan seseorang tentang keberhargaan drinya berkaitan dengan seberapa tinggi individu merasa khawatir bahwa dirinya akan ditolak, ditinggalkan dan tidak lagi dicintai oleh pasangan. Dimensi avoidant berkaitan dengan seberapa jauh individu membatasi keintiman dan ketergantungan dengan orang lain. Kedua dimensi ini disebut dengan working model of self and attachment figures. Dalam penelitian ini juga akan melihat kelekatan (attachment) menggunakan dua dimensi besar pada kelekatan (attachment) dewasa tersebut.

Kelekatan (attachment) dalam hubungan berpacaran sering mendapat perhatian dari para peneliti. Bahkan menurut Fraley & Shaver (2000) kelekatan (attachment) dalam pacaran sudah mulai didalami untuk diteliti sejak tahun 1980-an karena kelekatan (attachment) yang ada dalam hubungan pacaran masih berhubungan dengan kelekatan (attachment) pada bayi. Dalam menjalin hubungan pacaran seseorang memerlukan kelekatan (attachment) untuk tetap bertahan pada hubungan mereka. Hal ini disebabkan karena sebenarnya manusia memerlukan perhatian dari orang lain sejak manusia lahir. Seperti yang dijelaskan oleh teori Bowlby dan Ainsworth mengenai bagaimana seorang bayi memiliki ikatan dengan pengasuh atau orang tuanya, jenis ikatan yang dibangun sejak kecil tesebut akan memengaruhi jenis kelekatan (attachment) seorang manusia saat dewasa termasuk saat menjalin hubungan dengan orang lain (Aronson, Wilson & Akert, 2007).

Pietromonaco, Greenwood, & Barret (2004) menyatakan bahwa teori kelekatan (attachment) dianggap bisa membantu dalam membahas konflik pada pasangan. Teori kelekatan (attachment) dapat membahas bagaimana seorang anak berintetraksi dengan orang lain hingga menemukan cara dalam penyelesaian konflik, karena konflik adalah hal dapat menjadi pemicu stress dalam hubungan pacaran, konflik juga dapat menjadi tantangan bagi pasangan untuk mengetahui kemampuan dalam regulasi emosi dan perilaku mereka yang berhubungan dengan proses kelekatan (attachment) (Pietromonaco, Greenwood, & Barret, 2004).

(6)

METODE PENELITIAN

Subyek Penelitian dan Teknik Sampling

Karakteristik subyek penelitian yang akan digunakan oleh penulis adalah pria dan wanita di wilayah DKI Jakarta, berusia 18-25 tahun, memiliki rencana menikah 1 tahun kedepan, dan sedang menjalani hubungan pacaran. Teknik pengambilan sampel adalah dengan menggunakan teknik Purposive Sampling.

Desain Penelitian

Penelitian yang penulis lakukan dapat diklasifikasikan sebagai penelitian kuantitatif. Di dalam penelitian ini, penulis menggunakan desain penelitian berupa penelitian korelasional. Desain korelasional digunakan untuk mengetahui hubungan variabel attachment terhadap variable strategi penanganan konflik pada masyarakat yang memiliki rencana menikah 1 tahun kedepan di wilayah DKI Jakarta

Alat Ukur Penelitian Attachment

Instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur attachment. Dikembangkan oleh Fraley, Waller dan Brennan (2000). Bentuk dari instrumen ini adalah kuesioner. Alat ukur tersebut menggunakan 2 dimensi besar dari attachment yaitu anxiety dan avoidant. Pilihan respon yang diberikan adalah (1) sangat tidak setuju dengan pernyataan, (2) tidak setuju dengan pernyataan, (3) agak setuju dengan pernyataan, (4) netral dengan pernyataan, (5) agak setuju dengan pernyataan, (6) setuju dengan pernyataan, (7) sangat setuju dengan pernyataan. Berikut instruksi yang harus disampaikan kepada partisipan sebelum mengisi kuesioner ini: “Penyataan dibawah ini menyangkut mengenai apa yang Anda rasakan secara emosional dalam masa pacaran. Kami akan melihat bagaimana pengalaman Anda secara umum dalam hubungan pacaran, bukan hanya apa yang terjadi dalam hubungan pacaran. Jawab setiap pernyataan untuk mengidentifikasi seberapa setuju atau tidak setuju Anda dengan pernyataan dibawah.”

Strategi Penanganan Konflik

Pengukuran strategi penanganan konflik dilakukan dengan instrument RPCS (Romantic Partner Conflict Scale) yang dikembangkan oleh Zacchilli, Hendrick dan Hendrick (2009) Instrumen ini menerapkan metode survei dengan menggunakan 5 skala yang tersusun sebagai berikut: (1) Sangat tidak setuju (2) Tidak setuju (3) netral (4) setuju (5) sangat setuju. Berikut instruksi yang harus disampaikan kepada partisipan sebelum mengisi kuesioner ini: “Pikirkan mengenai bagaimana Anda menanggapi konflik dengan pasangan. Secara spesifik, pikirkan mengenai konflik yang signifikan atau sering terjadi dengan pasangan. Gunakan skala dibawah, yang menandakan respon yang paling sering muncul dalam menanggapi masalah. Jika Anda tidak memiliki pasangan, jawab sesuai dengan perasaan anda secara umum mengenai pasangan.”.

Hipotesa Penelitian

Hipotesa pada penelitian ini adalah;

H01: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik compromise pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

Ha1: Terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik compromise pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

H02: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik Interactional Reactivity pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

Ha2: Terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik Interactional Reactivity pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

H03: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik Separation pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

(7)

Ha3: Terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik Separation pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

H04: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik domination pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

Ha4: Terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik domination pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

H05: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik submission pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

Ha5: Terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik submission pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

H06: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik avoidance pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

Ha6: Terdapat hubungan yang signifikan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik avoidance pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

H07: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik compromise pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

Ha7: Terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik compromise pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

H08: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik Interactional Reactivity pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

Ha8: Terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik Interactional Reactivity pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

H09: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik Separation pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

Ha9: Terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik Separation pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

H010: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik domination pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

Ha10: Terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik domination pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

H011: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik submission pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

Ha11: Terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik submission pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

H012: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik avoidance pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

Ha12: Terdapat hubungan yang signifikan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik avoidance pada emerging adulthood di DKI Jakarta.

HASIL DAN BAHASAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan pengolahan serta analisa data yang peneliti lakukan, diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang negatif antara avoidant attachment dengan

(8)

strategi penanganan konflik compromise, tidak terdapat hubungan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik interactional reactivity, tidak terdapat hubungan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik domination, tidak terdapat hubungan antara avoidant attachment dengan stategi penanganan konflik separation, tidak terdapat hubungan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik submission, tidak tedapat hubungan antara avoidant attachment dengan strategi penanganan konflik avoidance. Pada anxiety attachment juga demikian diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang negatif antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik compromise, tidak terdapat hubungan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik interactional reactivity, tidak terdapat hubungan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik domination, tidak terdapat hubungan antara anxiety attachment dengan stategi penanganan konflik separation, tidak terdapat hubungan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik submission, tidak tedapat hubungan antara anxiety attachment dengan strategi penanganan konflik avoidance.

SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hanya terdapat hubungan antara dimensi avoidant attachment dengan compromise dan anxiety attachment dengan compromise pada 100 orang subjek dalam kategori emerging adulthood di wilayah DKI Jakarta. Tidak terdapat antara dimensi attachment dengan strategi penanganan konflik yang lain.

SARAN

1. Untuk subjek perlu diperhatikan dalam status hubungan yang dijalani, sebaiknya menggunakan subjek yang sudah memiliki ikatan pertunangan resmi, karena strategi penanganan konfik dirasa sudah penting dalam status hubungan ini. Akan lebih baik jika subjek dalam penelitian ini juga melibatkan pasangan, bukan hanya dari satu sisi.

2. Untuk mengukur strategi penanganan konflik ada baiknya jika penelitian selanjutnya lebih memperhatikan item agar dimensi lebih jelas.

REFERENSI

Arnett, J. (2000). Emerging Adulthood A Theory of Development From the Late Teens Trough the Twenties. American Psychologist, 469-480.

Arnett, J. (2004). Emerging Adulthood: The Winding Road from Late Teens through the Twenties.

London: Oxford university Press.

Arnett, J. (2007). Emerging Adulthood: What Is It? and What Is It Good For? Society for Research in Child Development , 68-73.

Arnett, J.J., Ramos, K.D., Jensen, L.A. (2001). Ideological Views in Emerging Adulthood: Balancing Autonomy and Community. Journal of Adult Development, 69-79.

Bretherton, I. (1992). The Origin of Attachment Theory: John Bowlby and Mary Ainsworth.

Development Psychology, 759-775.

Christopher J. Trentacosta, Michael M. Criss, D. S., Shaw, E. L., Luke, W. H., dan Thomas, J. D. (2012, September 1). PMC. Retrieved from NCBI:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3174687/

Damayanti, N. (2010). Hubungan antara Tipe Kelekatan (Attachment) dengan Kecemburuan pada Pasangan Berpacaran Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Disertasi tidak diterbitkan. Jakarta: Program Sarjana Universitas Negeri Indonesia.

(9)

Felicia, N. (2013). Hubungan antara Kecemburuan dengan Pola Attachment pada Dewasa Awal yang berpacaran. Disertasi tidak diterbitkan. Jakarta: Program Sarjana Universitas Bina Nusantara.

Fraley, R.C & Shaver, P.R. (2000). adult romantic attachment: theoritical developments, emerging controversies, and unanswered questions. review of general psychology, 132-154.

Fraley, R.C., Waller, N.G., & Brennan, K.A. (2000). An Item Response Theory Analysis of Self-Report Measures of Adult Attachment. Journal of Personality and Social Psychology, 350-365.

Hazan, C & Shaver, P.R. (1994). Attachment as an Organizational Framework for Research on Close Relationships. Psychological Inquiry, 1-22.

Howe, F. (2002). The Value of Intimate Relationships and The Challenge of Conflict. Journal of Invitational Theory and Practice, 15-26.

Indriwati, E.S. dan Fauziah, N. (2012). Attachment dan Penyesuaian Diri dalam Perkawinan. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, 40-50. Retrieved from Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro.

Kintanar, N.S. (2010). Filipino Conflict Resolution Behaviors: An Attachment Perspective. Disertasi tidak diterbitkan. Manila: Degree Master of Arts

Lofton, L. (2013, mei 13). Eximiner.com. Retrieved from AXS Network:

http://www.examiner.com/article/5-factors-affecting-how-people-manage-conflict Mikulincer, M &Shaver, P.R. (2007). Attachment in Adulthood. New York: The Guilford Press.

N.N. (1 Januari 2013). Psychologymania. Retrieved from Psychologymania:

http://www.psychologymania.com/2013/01/pengertian-pacaran.html

N.N. (2014, 10 6). Lihat. Retrieved from lihat.co.id: http://www.lihat.co.id/2014/10/6-Artis Indonesia-ini- Merasa-Ditipu-Akhirnya-batal-Nikah.html#axzz3K9MdGKra

Pietromonaco, P.R., Greenwood., & Barret, L.F. (2004). Conflict in Adult Close Relationship:

Attachment Perspective. Adult Attachment: New Directions and Emerging Issues, 1-49.

Pratishita, N.L. (2008). Attachment Style pada Gay Dewasa Muda. Jurnal FSIP UI. 1-9.

Priyatno, D. (2012). Belajar Cepat Olah Data SPSS. Yogjakarta: ANDI

Santrock, J. W. (2002). Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Jakarta:Penerbit Erlangga Sari, A., Hubeis, V.S., Mangkuprawira, S., dan Saleh, A. (2010). Pengaruh Pola Komunikasi Keluarga dalam Fungsi Sosialisasi. Jurnal Komunikasi Pembangunan, 36-46.

Shaugnessy, J.S., Zerchmester, E.B., Zechmester, .S. (2012). Metode Penelitian dalam Psikologi.

Yogyakarta: Delta Buku

Shi, L. (1999). Conflict Resolution in Romantic Relationships: an Examination of Adult Attachment and Early Attachment Experience. Disertasi tidak diterbitkan. Texas: Degree of Doctor of Philosophy Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabet Bandung.

Steuber. K.R. (2005). Adult Attachment, Conflict Style, and Relationship Satisfaction: A Comprehensive Model. Disertasi tidak diterbitkan. London: Degree of Master Arts in Communication.

Troy. (2014, 12 29). Selebuzz.News. Retrieved from Selebuzz:

http://selebuzz.com/news/2014/12/29/7035/Sakit-Hati-Bella-Shofie-Batal-Nikah.html Widodo, P. (2006). Reliabilitas dan Validitas Konstruk Skala Konsep Diri Untuk Mahasiswa Indonesia.

Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, 1-9.

(10)

Zacchilli, T.L, Hendrick, C., & Hendrick, S.S. (2009). The Romantic Partner Conflict Scale: A New Scale to Measure Relationship Conflict. Journal of Social and Personal Relationships, 1073- 1096.

RIWAYAT PENULIS

Nur Fifitri. Lahir di Jakarta 16 April 1993. Peneliti menamatkan pendidikan S1 Di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Psikologi pada tahun 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara adult attachment style dengan conflict resolution style pada mahasiswa yang memiliki

Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara kualitas kelekatan pasutri dengan strategi manajemen konflik ( positive problem solving )

disimpulkan tidak terdapat hubungan negatif yang signifikan antara konflik peran ganda wanita dengan kepuasan pernikahan... KATA

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara motif berafiliasi dengan konflik interpersonal (r = -0,720; p = 0,000), dimana semakin

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan negatif antara secure attachment dengan romantic jealousy pada

Penelitian yang dilakukan oleh Amanda dan Mujiasih (2017) dengan subjek perawat wanita yang susah berkeluarga menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara

Berdasarkan hasil analisa data, maka diperoleh kesimpulan bahwa Ha yang berbunyi, “ada hubungan antara konflik peran ganda (work family conflict) dengan kepuasan kerja

Hasil penelitian ini menyimpulkan: (1) Terdapat hubungan yang signifikan antara budaya organisasi dengan kinerja Pengurus PODSI Provinsi DKI Jakarta, dengan diperoleh