• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS SUPERVISED BREAST CARE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EFEKTIVITAS SUPERVISED BREAST CARE"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

NASKAH PUBLIKASI

EFEKTIVITAS SUPERVISED BREAST CARE TERHADAP PENCEGAHAN PEMBENGKAKAN PAYUDARA PADA IBU

NIFAS DI RUMAH SAKIT WILAYAH KECAMATAN PONTIANAK SELATAN

HAYATI FAUZIAH NIM I31110003

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

TAHUN 2014

(2)
(3)

EFEKTIVITAS SUPERVISED BREAST CARE TERHADAP PENCEGAHAN PEMBENGKAKAN PAYUDARA PADA IBU NIFAS DI RUMAH SAKIT

WILAYAH KECAMATAN PONTIANAK SELATAN

Oleh :

Hayati Fauziah*

Titan Ligita**

Murtilita**

Abstrak

Latar belakang : ASI mengandung zat antibodi yang melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi.

Namun, besarnya manfaat ASI tidak diimbangi oleh peningkatan pemberian ASI sehingga bayi tidak mendapatkan ASI dengan baik dikarenakan terjadinya masalah dalam menyusui seperti pembengkakan payudara. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegahnya yaitu dengan supervised breast care.

Tujuan : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya efektivitas dari supervised breast care terhadap pencegahan pembengkakan payudara pada ibu nifas.

Metode : Jenis penelitian ini yaitu eksperimen semu dengan post test only non equivalent control group.

Jumlah sampel yaitu 26 ibu nifas yang dilakukan dengan consecutive sampling. Analisa penelitian menggunakan uji statistik Mann Whitney.

Hasil : Berdasarkan analisa data terdapat perbedaan skala pembengkakan payudara setelah dilakukan perawatan payudara, dengan menggunakan uji Mann Whitney didapatkan hasil nilai p = 0,000 dimana nilai p < 0,05.

Kesimpulan : Pada penelitian ini ada perbedaan terjadinya pembengkakan payudara pada ibu nifas antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah dilakukan supervised breast care terhadap kelompok intervensi.

Kata Kunci : Pembengkakan payudara, ibu nifas, supervised breast care

THE EFFECTIVENESS OF SUPERVISED BREAST CARE TO PREVENT BREAST ENGORGEMENT IN PUERPERAL WOMEN IN HOSPITALS IN

SOUTH PONTIANAK

Abstract

Background : Breast milk contains antibodies that protect infants from infectious diseases. However, the benefits of breastfeeding are not followed by the increase of providing breast milk. Consequently, the infants are not breastfed properly since there is a problem in breastfeeding such as breast engorgement. Therefore, supervised breast care is considered to be a good prevention.

Objective : This study was conducted to determine whether there was an effectiveness of supervised breast care to prevent breast engorgement in puerperal women.

Method : This study generated a post test only quasy experimental design with control group. The number of the samples was 26 puerperal women who were obtained from consecutive sampling method.

This study was analized statistically by using Mann Whitney test.

Result : It has revealed that there was a significant difference in breast engorgement scale between the two groups since the p value was 0.000.

Conclusion : In this study, there was a significant difference in breast engorgement scale between the intervention group where supervised breast care was provided for four days to puerperal women.

Keyword : Breast engorgement, puerperal woman, supervised breast care

* Nursing Student Tanjungpura University

** Nursing Lecturer Tanjungpura University

(4)

PENDAHULUAN

Ada beberapa masalah menyusui yang sering terjadi pada masa pascapersalinan dini yaitu seperti puting susu terbenam atau datar, puting susu lecet, saluran susu tersumbat, payudara bengkak, dan akhirnya terjadi mastitis hingga abses (Leveno, 2009). Berdasarkan data WHO tahun 2010, persentase ibu yang menyusui secara eksklusif selama enam bulan pertama di Amerika hanya 13% dan di tahun 2011 sebesar 16,3%, sedangkan di Indonesia sebesar 32% di tahun 2008. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat tahun 2012, persentase bayi yang diberi ASI eksklusif hanya mencapai 44,96% dari 70.227 jumlah bayi dan kota Pontianak hanya mencapai 63,76%. Tentunya persentase ini masih berada dibawah target pencapaian ASI eksklusif yang ditetapkan oleh Depkes RI yaitu sebesar 80%. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Kecamatan Pontianak Selatan merupakan kecamatan dengan jumlah kelahiran tertinggi dan menurut data dari Puskesmas Gang Sehat bahwa Rumah Sakit Bersalin Jeumpa Pontianak memiliki jumlah kelahiran terbanyak dibanding rumah sakit lain dan klinik bidan swasta yang ada di Kecamatan Pontianak Selatan sehingga penelitian akan dilakukan di rumah sakit tersebut. Tercatat jumlah ibu yang melahirkan di bulan Februari 2014 secara normal yaitu sebanyak 28 orang. Selain Rumah Sakit Bersalin Jeumpa Pontianak, penelitian juga dilakukan di Rumah Sakit Bayangkara Pontianak sebagai tempat alternatif jika jumlah sampel belum terpenuhi.

Prevalensi ibu-ibu yang mengalami pembengkakan payudara di Indonesia masih belum terdeteksi. Begitu pula di Kalimantan Barat, khususnya kota Pontianak, belum ada data yang pasti mengenai masalah ini karena belum ada data statistik yang mendukung sehingga penulis melakukan studi pendahuluan di Puskesmas Gang Sehat Kecamatan Pontianak Selatan dengan mewawancarai salah satu bidan dan ibu-ibu yang masih menyusui bayinya. Menurut bidan yang bertugas di sana, banyak ibu-ibu pascapersalinan hari ketiga mengeluh payudaranya bengkak dan nyeri. Hal ini didukung pula oleh pernyataan ibu-ibu yang mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami bengkak-bengkak dan merasa sakit ketika menyusui bayinya.

Pembengkakan payudara merupakan suatu kondisi yang terjadi karena ibu menunda atau menolak menyusui bayi ketika payudara

terasa penuh. Selain itu bisa disebabkan oleh statis aliran vena dan limfatik, peningkatan kongesti dan vaskularitas, dan akumulasi serta statis ASI. Tanda dan gejala yang muncul seperti kulit menegang, mengilat, kemerahan, payudara terasa hangat, nyeri tekan, keras, dan dapat disertai demam (Sinclair, 2010).

Payudara yang mulai terasa kencang, bengkak, dan tidak nyaman terjadi ketika ASI mulai diproduksi. Namun agar tidak mengalami kesulitan selama menyusui, perlu dilakukan perawatan payudara setelah melahirkan dan menyusui bayi segera dan sesering mungkin (Indivara, 2009). Adapun penelitian yang dilakukan oleh Nur Sholichah (2011) yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara perawatan payudara ibu postpartum dengan kelancaran pengeluaran ASI. Sama halnya dengan Sholichah (2011), penelitian yang dilakukan oleh Ayu Fitria (2012) mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kelancaran produksi ASI pada ibu menyusui, salah satu faktor yang mempengaruhi kelancaran produksi ASI yaitu dengan melakukan perawatan payudara.

Perawatan payudara merupakan perawatan yang dapat dilakukan pada ibu masa nifas dengan melakukan beberapa tindakan seperti penggunaan bra yang tepat, posisi dan perlekatan menyusui yang baik, kompres hangat dan pengeluaran susu secara manual ataupun dengan alat pompa payudara. Ada 2 macam perawatan payudara yang dilakukan yaitu secara supervisi dan mandiri. Supervised breast care dilakukan dengan memberi pendidikan kesehatan dan mengawasi ibu-ibu yang baru melahirkan untuk melakukan perawatan payudara selama 3 hari berturut-turut dan akan dilihat pengaruh perawatan payudara tersebut terhadap pembengkakan payudara pada hari keempat. Namun, perawatan payudara secara mandiri hanya diberi sekali pengajaran atau di hari pertama saja, hari kedua sampai hari ketiga dilakukan sendiri oleh ibu dan dihari keempat dilihat juga pengaruh perawatan payudara tersebut. Kemudian dibandingkan terjadinya pembengkakan payudara antara supervisi dengan mandiri.

Belum adanya penelitian mengenai supervisi perawatan payudara pada ibu masa nifas membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang efektivitas supervised breast care terhadap pencegahan pembengkakan payudara pada ibu nifas di rumah sakit wilayah Kecamatan Pontianak Selatan.

(5)

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian quasy experiment (eksperimen semu) dengan post test only non equivalent control group (tidak terdapat pre test dan tidak dilakukan randomisasi). Penelitian ini mengujicoba suatu intervensi pada sekelompok subjek dengan kelompok pembanding dengan cara membandingkan data akhir antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang sudah melahirkan secara normal di Rumah Sakit Bersalin Jeumpa Pontianak dan Rumah Sakit Bayangkara Pontianak. Pengambilan sampel menggunakan teknik non-probability sampling dengan consecutive sampling yaitu memilih sampel dengan memilih semua individu yang dijumpai dan memenuhi kriteria hingga jumlah sampel yang diinginkan terpenuhi. Kriteria sampel pada penelitian ini adalah sudah melahirkan secara normal di Rumah Sakit Bersalin Jeumpa dan Rumah Sakit Bayangkara Pontianak baik primigravida maupun multigravida dan merupakan pasien hari pertama postpartum.

Klien yang melahirkan secara sesar, lebih dari sehari postpartum, dan telah mengalami pembengkakan payudara tidak dimasukkan pada sampel penelitian ini.

Variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian ini yaitu pembengkakan payudara pada ibu nifas, sedangkan variabel bebasnya (independent variable) yaitu intervensi perawatan payudara yang dilakukan secara supervisi atau supervised breast care.

Instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dengan cara observasi dan wawancara. Observasi dilakukan dengan mengamati payudara ibu yang telah memenuhi kriteria inklusi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol, apakah mengalami pembengkakan atau tidak. Kelompok intervensi diberikan perlakuan berupa supervised breast care selama 3 hari berturut-turut dan dilihat efeknya pada hari keempat, sedangkan pada kelompok kontrol hanya dilakukan pada hari pertama saja dan dilihat efeknya pada hari keempat juga. Hasil dari obervasi dimasukkan ke dalam lembar observasi apakah dilakukan perawatan payudara tiap harinya atau tidak dan dilihat skala pembengkakannya. Selain itu juga dilakukan wawancara pada responden untuk mengetahui karakteristik ibu, menanyakan

apakah dilakukan perawatan payudara atau tidak dan apa yang dirasakan payudara ibu setelah mendapatkan intervensi tersebut.

Selain itu, penelitian ini juga menggunakan instrument khusus untuk melihat tingkat pembengkakan payudara dengan menggunakan skala engorgement menurut Hill dan Humenick dalam Whittlestone. Ada 6 nilai skala pembengkakan payudara yaitu, skor 1 = lembut, tidak ada perubahan pada payudara;

skor 2 = sedikit keras pada payudara; skor 3 = keras, tapi payudara tidak perih; skor 4 = keras dan payudara mulai perih; skor 5 = keras dan perih; skor 6 = sangat keras dan sangat perih.

Nilai reliabilitas dari instrumen ini yaitu r = 0,84 (Humenick, 1994 dalam Priya, 2012).

Efektivitas supervised breast care terhadap pencegahan pembengkakan payudara pada ibu nifas dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan uji statistik uji t tidak berpasangan (independen t-test).

HASIL PENELITIAN

Responden dalam penelitian ini adalah 26 ibu nifas yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan masing-masing jumlah responden sebanyak 13 orang.

Analisis univariat menjelaskan tentang karakteristik responden, sedangkan analisis bivariat menjelaskan tentang efektivitas supervised breast care dengan menggunakan uji t tidak berpasangan (independen t-test).

Namun uji t tidak berpasangan ini dapat digunakan apabila distribusi datanya normal dengan diketahui nilai signifikan dari Shapiro- Wilk > 0,05.

Tabel 1 : Uji Normalitas Data Pada Kelompok Intervensi dan Kontrol

Shapiro-Wilk Kelompok Statistic df Sig.

Skala pembengka kan payudara

intervensi .646 13 .000 kontrol .790 13 .005

Berdasarkan tabel 1, didapatkan hasil bahwa distribusi data tidak normal dengan diketahui nilai signifikan untuk kelompok intervensi yaitu 0,000 (p<0,05), sedangkan

(6)

untuk kelompok kontrol yaitu 0,005 (p<0,05).

Oleh karena nilai p<0,05 maka tidak dilakukan independen t-test dan dilanjutkan dengan menggunakan uji alternatif Mann Whitney.

Tabel 2 : Uji Efektivitas Supervised breast care terhadap Nilai Post Test (Skala) Responden

n

Median (minimum- maximum)

p

Kelompok

intervensi 13 1,00 (1,00-2,00) 0,000 Kelompok

kontrol 13 3,00 (2,00-4,00)

Berdasarkan tabel 2, didapatkan data bahwa nilai atau angka significancy dengan uji Mann Whitney yaitu 0,000. Oleh karena nilai p<0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara pembengkakan payudara pada kelompok intervensi yang disupervisi dan pembengkakan payudara pada kelompok kontrol yang tidak disupervisi (mandiri).

PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 26 responden ini didapatkan bahwa ada perbedaan bermakna antara skala pembengkakan payudara pada kelompok intervensi yang disupervisi dan skala pembengkakan payudara pada kelompok kontrol yang tidak disupervisi (mandiri) di RS.

Bersalin Jeumpa Pontianak dan RS.

Bayangkara Pontianak tahun 2014. Hal ini ditunjukkan dari hasil uji Mann Whitney dengan p=0,000, artinya nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05.

Penelitian mengenai supervised breast care pada ibu nifas memang belum ada dilakukan. Menurut Bahiyatun (2009), ASI yang tidak lancar dapat disebabkan oleh akumulasi air susu dan kongesti yang dapat menyebabkan penyumbatan pada saluran limfa dan vena yang terjadi pada hari ketiga postpartum. Keadaan ini dapat memicu terjadinya pembengkakan payudara dan akhirnya terjadi mastitis.

Manajemen yang terbaik untuk pembengkakan payudara adalah pencegahan seperti posisi dan perlekatan menyusui yang

efektif, penggunaan bra yang mendukung atau tidak berkawat dan menyusui tanpa batasan waktu dan sesering mungkin (Lawrence, 2011 dalam Toronto Public Health, 2013). Penelitian ini melakukan perawatan payudara dengan cara yang berbeda yaitu dengan supervised breast care dimana ibu-ibu yang berada pada masa nifas akan diawasi atau disupervisi dalam melaksanakan perawatan payudaranya.

Ada 4 aspek perawatan payudara yang dilakukan. Pertama, penggunaan bra yang tepat.

Menurut Judith dan Anna (2011), untuk ibu yang menyusui harus menghindari bra yang berkawat dan elastis disekitar cup bra karena dapat menekan dan mencegah dari saluran atau aliran ASI, serta tidak menggunakan bra selama tidur. Masih ada beberapa responden dalam penelitian ini yang menggunakan bra berkawat dalam kesehariannya. Alasan ibu menggunakan bra yang berkawat karena persediaan bra yang ada di rumah hanya ada bra yang berkawat dan belum membeli bra yang khusus untuk menyusui. Alasan ini bisa dikarenakan faktor ekonomi ibu yang rendah sehingga tidak mampu untuk membeli bra khusus untuk menyusui yang harganya lebih mahal daripada bra biasa.

Kedua, posisi dan perlekatan menyusui yang baik. Ada beberapa posisi menyusui yang dapat digunakan oleh ibu seperti cross-cradle position, cradle-position, footbal position dan side-lying position (Toronto Public Health, 2013). Perlekatan yang baik juga harus didukung oleh posisi menyusui bayi yang tepat (Varney, 2013). Teori ini didukung oleh fakta yang terjadi di lapangan pada saat penelitian bahwa sebagian besar ibu-ibu dengan posisi dan perlekatan menyusui yang sudah baik, jarang terjadi lecet atau nyeri pada putingnya. Keadaan ini dialami oleh ibu-ibu terutama yang berada di kelompok intervensi karena setiap harinya ibu- ibu tersebut mendapatkan pengawasan dan pengajaran jika ada posisi dan perlekatan menyusui yang kurang baik.

Ketiga, kompres hangat sebelum menyusui. Kompres hangat dilakukan sebelum ibu menyusui selama 15-20 menit guna menstimulasi aliran susu dan refleks letdown (Mohrbacher, 2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Arora S., et. al (2008) yang meneliti tentang perbandingan daun kubis dengan kompres hangat dan dingin sebagai penanganan pada pembengkakan payudara, ternyata kedua perawatan ini sama-sama efektif

(7)

dalam mengurangi pembengkakan payudara dan nyeri payudara pada ibu nifas. Namun, kompres hangat dan dingin lebih efektif dibandingkan daun kubis untuk meringankan nyeri selama pembengkakan payudara. Berbeda dari Arora (2008), penelitian yang dilakukan oleh peneliti hanya menggunakan kompres hangat saja yang dilakukan sebelum ibu memberikan ASI kepada anaknya, sedangkan kompres hangat dan dingin dalam penelitian Arora (2008) yaitu diberikan kepada ibu-ibu nifas yang sedang mengalami pembengkakan payudara dan kompres hangat-dingin tersebut dilakukan secara bergantian mulai dari panas ke dingin guna menstimulus dan meredakan nyeri bengkak. Meskipun terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya, tujuan peneliti melakukan kompres hangat yaitu untuk membantu menstimulus aliran susu dan refleks let down ibu agar ibu yang berada di hari pertama hingga ketiga pascamelahirkan bisa menghasilkan ASI secepatnya dan bayi pun bisa mendapatkan ASI eksklusif.

Keempat, pengeluaran susu secara manual atau pompa payudara bila payudara penuh. Menurut Women and Newborn Health Service (2013), bayi yang sulit untuk mendapatkan ASI dikarenakan payudara ibu yang bengkak dan keras dapat dilakukan pengeluaran ASI secara manual ataupun dengan pompa payudara. Pengeluaran ASI dibutuhkan untuk menjaga atau mempertahankan suplai ASI. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Whittlestone yang melakukan pengeluaran susu pada ibu menyusui dengan menggunakan breast expresser. Breast expresser (pompa payudara) memang lebih efektif dalam mengeluarkan atau mengosongkan ASI dari payudara ibu yang mengalami pembengkakan. Jika dibandingkan dengan pengeluaran ASI secara manual (dengan tangan), pompa payudara memang jauh lebih mahal harganya. Pengeluaran susu secara manual dengan tangan memang lebih ekonomis dan terjangkau daripada menggunakan pompa.

Namun, jika dilihat dari segi tenaga dan waktu, secara manual membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengeluarkan ASI dan ibu harus menggunakan tenaga yang lebih untuk memeras ASI tersebut. Hal ini akan membuat ibu cepat lelah dan besar kemungkinan untuk memberikan susu formula.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan efektivitas supervised breast care terhadap pencegahan pembengkakan payudara pada ibu nifas di rumah sakit wilayah Kecamatan Pontianak Selatan, maka dapat disimpukan bahwa hasil analisis uji statistik Mann Whitney yang didapatkan nilai p=0,000, yaitu p lebih kecil dari 0,05 yang artinya terdapat efektivitas supervised breast care terhadap pencegahan pembengkakan payudara pada ibu nifas di rumah sakit wilayah Kecamatan Pontianak Selatan.

Berdasarkan hasil dalam penelitian ini, diharapkan bagi bidang ilmu keperawatan, perawatan payudara khususnya supervised breast care dapat dijadikan intervensi mandiri perawat dalam mencegah pembengkakan payudara pada ibu nifas dengan memberikan penyuluhan kesehatan mengenai perawatan payudara dan diawasi pelaksanaan tiap harinya.

Bagi institusi pelayanan kesehatan, supervised breast care dapat diaplikasikan dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit atau puskesmas atau layanan praktik kesehatan lainnya khususnya keperawatan maternitas dalam mencegah masalah-masalah dalam menyusui seperti pembengkakan payudara.

Bagi masyarakat, penyuluhan kesehatan mengenai supervised breast care dapat menambah pengetahuan masyarakat akan pentingnya melakukan perawatan payudara pada masa nifas dan dijadikan terapi untuk mencegah pembengkakan payudara selama menyusui dan bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dijadikan sebagai perbandingan bahkan pengembangan untuk penelitian supervised breast care selanjutnya dengan metode dan cara yang berbeda guna meningkatkan kenyamanan ibu-ibu selama memberikan ASI eksklusif ke anak-anaknya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Arora, Smriti, et. al. (2008). A Comparison of Cabbage Leaves vs Hot and Cold Compresses in The Treatment of Breast Engorgement. Indian Journal of Community Medicine, 33(3), 160-162.

2. Bahiyatun. (2009). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. EGC: Jakarta.

3. Fitria, Ayu. (2012). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kelancaran Produksi ASI pada Ibu Menyusui di

(8)

Rumah Bersalin Hartini Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh. Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Diperoleh 13 Februari 2014, dari http://lppm.stikesubudiyah.ac.id/jurnal/A YU_FITRIA-du0-jurnal_ayu_fitria.pdf 4. Hill, P. D., Humenick, S. S. (1994). The

Occurence of Breast Engorgement.

Journal of Human Lactation, 10(2): 79- 86.

5. Indivara, Nadia. (2009). The Mom’s Secret. Pustaka Anggrek: Yogyakarta.

6. Lawrence, R.A., Lawrence, R.M. (2011).

Breastfeeding: A guide for the medical profession. Philadelphia (PA): Elsevier Mosby, 249–252.

7. Leveno, Kenneth J., et al. (2009). Obstetri Williams. EGC: Jakarta.

8. Mohrbacher, Nancy. (2010).

Breastfeeding Made Simple: Seven Natural Laws for Nursing Mothers (2nd ed.). New Harbinger Publications Inc: Oakland.

9. Sholichah, N. (2011). Hubungan Perawatan Payudara pada Ibu Postpartum dengan Kelancaran Pengeluaran ASI di Desa Karang Duren Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang. Jurnal Komunikasi Kesehatan Volume 2. Diperoleh 27 September 2013, dari

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&

q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja

&uact=8&ved=0CCcQFjAB&url=http%

3A%2F%2Fportalgaruda.org%2Fdownlo ad_article.php%3Farticle%3D66339%26 val%3D4799&ei=LSFdU_PdN9GF8gXF s4CoCA&usg=AFQjCNGZxNuuirR2nq4 HXH_85S0_Fdrmrw&bvm=bv.6539761 3,d.dGc

10. Sinclair, Constance. (2010). Buku Saku Kebidanan. EGC: Jakarta.

11. Toronto Public Health. (2013).

Breastfeeding Protocols for Health Care Providers. Diperoleh 22 April 2014, dari

http://www1.toronto.ca/City%20Of%20T oronto/Toronto%20Public%20Health/Co mmunicable%20Disease%20Control/Im munization/protocols.pdf

12. Varney, Helen, et al. (2013). Varney’s Midwifery (5th ed.). World Headquarters:

Jones & Bartlett, 1167.

13.Whittlestone. (__). Efficacy Report of The Whittlestone Breast Expresser as a Treatment for Breast Engorgement.

Diperoleh 19 Februari 2014, dari http://www.whittlestone.com/documents/

breastengorgementtreatment.pdf.

14.Women and Newborn Health Service.

(2013). Breastfeeding and Breast Care.

Diperoleh 2 Maret 2014, dari http://kemh.health.wa.gov.au/brochures/c onsumers/wnhs0159.pdf.

15.World Health Organization. (2010). Infant Nutrition. Diperoleh 10 Maret 2014, dari http://apps.who.int/gho/data/node.main.5 2?lang=en.

Referensi

Dokumen terkait

Hasan al-Banna dan organisasi ikhwanul Muslimin ingin mengembalikan sisten pemerintahan yang berdasarkan Islam seperti sistem Khalifah, karena menurut pandangan mereka

Untuk mengkonversi motor tegangan terminal dari menyusahkan menjadi berguna 5V logika tegangan, papan driver motor menyediakan rangkaian regulator tegangan yang diaktifkan

Untuk merangsang pemanfaatan jenis-jenis rotan yang selama ini belum dimanfaatkan (lesser used species), perlu dilakukan penelitian yang komprehensif dan holistik karena

Begitu juga dengan hasil dari uji coba terbatas menunjukkan bahwa ketiga orang guru kelas IV SD memberi rata-rata skor untuk tiap item yaitu 10,1 atau berada pada

Sumber data sekunder untuk significant others adalah keluarga dari remaja yang didampingi yaitu ibunya NV berusia 40 tahun sebagai informan 1 dan ibunya BI berusia 46 tahun

Pihak pertama adalah pemegang kontrak Pekerjaan Sodetan penghela bendung karet saluran primer grogol kecamatan Kapetakan,, Kabupaten Cirebon dengan alat kerja

Pencapaian CNR tahun 2014 berdasarkan laporan penemuan kasus dari 58 fasyankes yang melaksanakan program P2.TB DOTS yang meliputi 39 Puskesmas, 13 rumah sakit dan 4

Model Hurdle Poisson merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk memodelkan data cacahan (count) dengan excess zero pada data konsumsi rokok dalam