• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA SAMBUTAN. Pembaca yang saya hormati, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA SAMBUTAN. Pembaca yang saya hormati, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

KATA SAMBUTAN

-

Pembaca yang saya hormati,

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan, Syalom..

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu

Puji dan syukur saya persembahkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena oleh perkenananNya, buku profil kesehatan Provinsi Sulawesi Utara tahun 2015 ini dapat terselesaikan.

Saya menyambut gembira terbitnya buku profil kesehatan tahun 2015 ini

sebagai hasil kerja keras para pengelola data mulai dari tingkat Puskesmas sampai

ke tingkat Provinsi khususnya saya memberi apresiasi yang setinggi-tingginya

bagi kepala Balai Data, Surveilans dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas

Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara dan kru seksi Data dan SIK yang telah

berupaya mengumpul data, menyusun dan mencetak buku profil ini, atasnya

Tuhan pasti memberkati.

(3)

ii Buku profil kesehatan adalah buku yang berisi evaluasi terhadap kinerja pelayanan kesehatan di Provinsi Sulawesi Utara selang satu tahun pelayanan, di dalamnya menjelaskan tentang upaya pelayanan kesehatan, derajat kesehatan serta sumber daya kesehatan dan gambaran umum tentang Provinsi Sulawesi Utara yang semuanya saling terkait.

Saya menyadari bahwa perjuangan untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setingi-tingginya tidaklah mudah semudah membalik telapak tangan, tetapi semakin jelas bahwa semua pihak telah berupaya agar kesejahteraan masyarakat dapat meningkat, yang ditunjang sepenuhnya oleh bidang kesehatan, walau masih juga ditemukan berbagai kekurangan yang terlihat dari pencapaian target melalui data profil, misalnya beberapa target MDGs yang masih jauh dari harapan. Hal ini tentu membutuhkan kerja lebih keras lagi di hari-hari ke depan.

Semoga buku profil kesehatan ini akan menjadi acuan dalam menentukan langkah bijaksana pelayanan kesehatan ke depan di bumi nyiur melambai yang kita cintai ini, sekaligus dapat dimanfaatkan oleh semua pihak yang memerlukannya.

Saya sadar bahwa seperti kata pepata

h : “tidak ada gading yang tak retak”,

demikianpun dengan buku profil kesehatan ini, pasti banyak kekurangannya baik

dari segi penyajian datanya, segi interpretasi datanya, penulisannya serta

kekurangan lainnya. Untuk itu diharapkan kritik dan saran bagi penyempurnaan

buku profil kesehatan tahun 2015 ini.

(4)

iii Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih serta penghargaan yang tulus kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dan bekerja dalam memberikan data dan informasi, bahkan telah menyumbangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam pembuatan profil ini,

Tuhan pasti memberkati.

Manado, Oktober 2016 Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara

Dr. Jemmy J. R. Lampus, M.Kes

(5)

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kasihNya semata, profil kesehatan Provinsi Sulawesi Utara tahun 2015 dapat terselesaikan.

Buku profil kesehatan Provinsi Sulawesi Utara 2015 masih mengacu pada juknis tahun 2014. Profil ini merupakan produk yang berisi data kesehatan tahun 2015 yang dikemas dalam 81 tabel lampiran profil kesehatan yang dikeluarkan oleh Pusat Data dan Informasi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Kami sadar bahwa buku profil kesehatan ini banyak kekurangannya, baik angka yang ditampilkan maupun penulisan bahkan argument yang diangkat.

Untuk itu, pada kesempatan ini kami mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak yang sempat membaca profil ini, demi kesempurnaan di masa yang akan datang. Semoga profil ini akan dapat memenuhi kebutuhan pembaca akan data kesehatan Provinsi Sulawesi Utara bagi evaluasi dan perencanaan pelayanan kesehatan yang akan diberikan di Provinsi Sulawesi Utara yang kita cintai ini.

Manado, Oktober 2016 Kepala Balai Data, Surveilans dan Sistem Informasi Kesehatan

Dr. Kartika Devi Tanos, MARS

(6)

v

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN ... i

KATA PENGANTAR… ... iv

DAFTAR ISI... v

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR TABEL ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

BAB II GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK ... 4

2.1 Sejarah Provinsi Sulawesi Utara ... 4

2.2 Letak Geografis ... 4

2.3 Keadaan Kependudukan ... 6

2.4 Keadaan Pendidikan ... 10

2.5 Keadaan Kesehatan Lingkungan ... 12

2.5.1 Sarana Air Bersih yang digunakan dan Akses Air Minum Berkualitas ... 12

2.5.2 Sarana dan Akses Terhadap Sanitasi Dasar ... 14

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN ... 15

3.1 Angka Harapan Hidup Waktu Lahir ... 15

3.2 Mortalitas ... 16

3.2.1 Angka Kematian Bayi Dan Neonatal ... 16

3.2.2 Angka Kematian Balita (AKABA) ... 18

3.2.3 Angka Kematian Ibu ... 19

(7)

vi

3.3 Status Gizi ... 22

3.3.1 Gizi Buruk... 22

3.3.2 Bawah Garis Merah ... 23

3.4 Morbiditas ... 24

3.4.1 Sepuluh Penyakit Menular Menonjol ... 24

3.4.2 Acute Flaccid Paralysis (AFP) ... 25

3.4.3 Penyakit HIV/AIDS ... 26

3.4.4 Penyakit Malaria ... 27

3.4.5 Penyakit Demam Berdarah Dengue ... 28

3.4.6 Tuberculocis Paru ... 30

3.4.7 Penyakit Diare ... 32

3.4.8 Penyakit Rabies ... 38

BAB IV UPAYA PELAYANAN KESEHATAN ... 35

4.1 Pelayanan Kesehatan Dasar ... 35

4.2 Kesehatan Ibu ... 35

4.2.1 Pelayanan Antenatal (K1 dan K4) ... 35

4.2.2 Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan ... 36

4.2.3 Penanganan Komplikasi ... 37

4.3 Kesehatan Anak ... 39

4.3.1 Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi ... 39

4.3.2 Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita ... 40

4.4 Upaya Perbaikan Gizi ... 41

4.4.1 Gizi Buruk... 41

(8)

vii

4.4.2 Prevalensi BGM ... 41

4.4.3 Penimbangan Balita ... 42

4.4.4 Pemberian Kapsul Vitamin A... 43

4.4.5 Balita Gizi Buruk mendapat Perawatan ... 43

4.4.6 Bayi yang mendapat ASI Eksklusif ... 45

4.5 Imunisasi Bayi ... 45

4.6 Kejadian Luar Biasa Penyakit ... 50

4.7 Kesehatan Lingkungan ... 51

4.7.1 Rumah Sehat ... 51

4.7.2 Penduduk dengan Akses Sanitasi Layak (Jamban Sehat) ... 51

4.7.3 Penduduk dengan Akses Berkelanjutan terhadap Air Minum Layak ... 52

4.8 Jaminan Kesehatan Nasional ... 53

4.9 Pelayanan Kesehatan Pengembangan... 55

4.9.1 Kesehatan Gigi dan Mulut... 55

4.9.2 Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia ... 56

4.10 Upaya Pelayanan Kesehatan Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) ... 58

BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN ... 60

5.1 Sarana/Fasilitas Kesehatan ... 60

5.1.1 Pusat Kesehatan Masyarakat dan Jaringannya ... 60

5.1.2 Pos Pelayanan Terpadu ... 61

5.1.3 Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) ... 62

(9)

viii

5.1.4 Desa Siaga... 62

5.1.5 Rumah Sakit ... 63

5.1.6 Sarana Kesehatan Lain ... 65

5.2 Tenaga Kesehatan ... 66

5.2.1 Tenaga Dokter ... 66

5.2.2 Tenaga Perawat dan Bidan ... 67

5.2.3 Tenaga Kefarmasian... 68

5.2.4 Tenaga Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan ... 68

5.2.5 Tenaga Gizi ... 68

5.2.6 Tenaga Keterapian Fisik... 68

5.2.7 Tenaga Teknisi Medis ... 69

5.2.8 Tenaga Kesehatan Lain ... 69

5.3 Pembiayaan Kesehatan ... 69

BAB VI KESIMPULAN... 70 LAMPIRAN

(10)

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta Wilayah Sulawesi Utara ... 5

Gambar 2. Jumlah Desa, Kelurahan dan Kecamatan di Provinsi Sulut Tahun 2015 ... 6

Gambar 3. Jumlah Penduduk Prov. Sulut Tahun 2015 Menurut Jenis Kelamin ... 7

Gambar 4. Prosentasi Kepadatan Penduduk Prov. Sulut Tahun 2015 ... 8

Gambar 5. Piramida Penduduk Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 8

Gambar 6. Tingkat Kepadatan Penduduk Kab/Kota di Prov. Sulut Tahun 2015 ... 9

Gambar 7. Grafik Rata-Rata Lama Sekolah di Provinsi Sulut Tahun 2010-2014 ... 11

Gambar 8. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2010-2015 ... 11

Gambar 9. Prosentase Penduduk yang memiliki Akses Air Minum di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 13

Gambar 10. Prosentase Penduduk dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Layak di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 14

Gambar 11. Tren Angka Harapan Hidup Provinsi Sulawesi Utara ... 16

Gambar 12. Situasi Angka Kematian Bayi Provinsi Sulawesi Utara ... 17

Gambar 13. Distribusi Kematian Bayi Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 17

(11)

x

Gambar 14. Distribusi Kematian Neonatal per Kabupaten/Kota Provinsi

Sulawesi Utara Tahun 2015... 18 Gambar 15. Distribusi Kematian Balita per Kabupaten/Kota Provinsi

Sulawesi Utara Tahun 2015... 19 Gambar 16. Distribusi Kematian Ibu Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 20 Gambar 17. Tren Kasus Kematian Ibu Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2011

s.d 2015 ... 20 Gambar 18. Proporsi Penyebab Kematian Ibu Maternal Provinsi Sulawesi

Utara Tahun 2015 ... 21 Gambar 19. Distribusi Kasus Gizi Buruk per Kabupaten/Kota Provinsi

Sulawesi Utara Tahun 2014... 22 Gambar 20. Distribusi Penimbangan Balita di Bawah Garis Merah (BGM)

di per Kabupaten/ Kota Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 23 Gambar 21. Cakupan Penimbangan Balita (D/S) Kabupaten/Kota Provinsi

Sulawesi Utara Tahun 2015... 24 Gambar 22. 10 (Sepuluh) penyakit menonjol berdasarkan STP ber-basis

Puskesmas di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2016 ... 25 Gambar 23. Distribusi Penemuan Kasus Non Polio AFP Rate Kabupaten/Kota

Tahun 2015 ... 26 Gambar 24. Distribusi Kasus HIV/AIDS Kabupaten/Kota Tahun 2015 ... 26 Gambar 25. Peta Endemisitas Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2015 ... 27

(12)

xi

Gambar 26. Peta Distribusi Kasus dan Kematian DBD berdasarkan Kabupaten/

Kota di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 29 Gambar 27. Case Fatality Rate (CFR = %) DBD di Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2005-2015 ... 30 Gambar 28. Distribusi Penderita dan Kematian DBD Provinsi Sulut

Tahun 2015 ... 30 Gambar 29. Angka Penemuan Kasus TB Paru (CDR) Kabupaten/Kota di

Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014 dan 2015 ... 31 Gambar 30. Angka Penemuan Kasus Baru TB Paru (CNR) Kabupaten/Kota

Tahun 2014 dan 2015 ... 32 Gambar 31. Gambaran antara Target, Penderita dan Cakupan Penderita Diare

per Kabupaten/ Kota Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 33 Gambar 32. Peta Distribusi Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies

(GPHR) Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2015 ... 34 Gambar 33. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1 dan K 4 Kabupaten/Kota

Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 36 Gambar 34. Cakupan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan (PN) Kabupaten/

Kota Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 37 Gambar 35. Cakupan Penanganan Komplikasi Kebidanan Kabupaten/Kota

Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 38

(13)

xii

Gambar 36. Cakupan Kunjungan K4, Salinakes (PN) dan Penanganan

Komplikasi Kebidanan (PK) Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi

Utara Tahun 2015 ... 38 Gambar 37. Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi Kabupaten/Kota Provinsi

Sulawesi Utara Tahun 2016... 39 Gambar 38. Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita Kabupaten/Kota

Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 40 Gambar 39. Distribusi Kasus Gizi Buruk Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2015 ... 41 Gambar 40. Prevalensi Balita BGM Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 42 Gambar 41. Cakupan Penimbangan Balita Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2015 ... 42 Gambar 42. Cakupan Balita Mendapat Vitamin A Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2015 ... 43 Gambar 43. Cakupan Gizi Buruk yang mendapat Perawatan Provinsi Sulawesi

Utara Tahun 2015 ... 44 Gambar 44. Cakupan Bayi Mendapat Asi Ekslusif di Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2015 ... 45 Gambar 45. Cakupan Pemberian Imunisasi Hb < 7 hari dengan DPT-Hb3/

DPT-Hb-Hib3 Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 47 Gambar 46. Cakupan Pemberian Imunisasi BCG Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2015 ... 47

(14)

xiii

Gambar 47. Cakupan pemberian Imunisasi Campak Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2015 ... 48 Gambar 48. Cakupan Pemberian Imunisasi Polio 4 Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2015 ... 48 Gambar 49. Cakupan Desa UCI Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 49 Gambar 50. Cakupan Rumah Sehat Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 51 Gambar 51. Cakupan Penduduk dengan Akses Sanitasi Layak Provinsi

Sulawesi Utara Tahun 2015... 52 Gambar 52. Cakupan Penduduk dengan Akses Berkelanjutan terhadap Air

Minum yang Layak di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 53 Gambar 53. Kepesertaan BPJS Kesehatan Wilayah Sulawesi Utara

Tahun 2015 ... 54 Gambar 54. Distribusi Cakupan Pelayanan Usia Lanjut (USILA) Prov. Sulut

Tahun 2015 ... 58 Gambar 55. Jumlah Puskesmas Rawat Inap dan Rawat Jalan, Jumlah

Puskesmas Keliling dan Puskesmas Pembantu di Provinsi

Sulawesi Utara Tahun 2015... 61 Gambar 56. Persentase Strata Posyandu di Prov. Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 61 Gambar 57. Jumlah Posyandu dan Posyandu Aktif di Provinsi Sulawesi

Utara Tahun 2015 ... 62 Gambar 58. Ketersediaan Poskesdes, Polindes dan Posbindu di Provinsi

Sulawesi UItara Tahun 2015 ... 63

(15)

xiv

Gambar 59. Kondisi Desa/Kelurahan Siaga di Prov. Sulawesi Utara

Tahun 2015 ... 64 Gambar 60. Jumlah Rumah Sakit di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 65 Gambar 61. Sarana Kesehatan Lain di Prov Sulut Tahun 2015 ... 66 Gambar 62. Jumlah dan Rasio Dokter Spesialis, Dokter Umum, Dokter Gigi

dan Dokter Spesialis Gigi di Prov. Sulut Tahun 2015 ... 67 Gambar 63. Perbandingan Rasio Dokter Spesialis, Dokter Umum dan Dokter

Gigi Tahun 2015 dengan Target Rasio berdasar Standar

Permenko Kesra ... 67 Gambar 64. Jumlah dan Rasio Tenaga Bidan, Perawat dan Perawat Gigi di

Prov. Sulut Tahun 2015 ... 68 Gambar 65. Jumlah dan Angka Kematian Neonatal, Bayi dan Balita selang

Tahun 2013-2015 di Provinsi Sulawesi Utara ... 72

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Angka Harapan Hidup Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2011 sampai dengan Tahun 2015 ... 15 Tabel 2. Prevelensi Gizi Buruk Kurang sampai dengan Tahun 2015 ... 23 Tabel 3. Annual Parasite Incidence (API)Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi

Utara Tahun 2012 s.d 2015 ... 28 Tabel 4. Frekuensi KLB Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 50 Tabel 5. Cakupan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Provinsi Sulawesi

Utara Tahun 2015 ... 56 Tabel 6. Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut (USILA) Provinsi

Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 57 Tabel 7. Kabupaten, Kecamatan, Puskesmas dan Nama Pulau yang Termasuk

DTPK di Sulawesi Utara Tahun 2015 ... 59 Tabel 8. Angka Kematian Neonatal, Bayi dan Balita Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2014 dan 2015 ... 71

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam Pembukaan UUD 1945 terdapat tujuan Pembangunan Indonesia yakni:

melindungi segenap bangsa Indonesia serta seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Tujuan ini diejawantakan dalam pembangunan di berbagai sektor, baik pendidikan, sosial, pertahanan keamanan serta sektor lainnya demi mencapai tujuan mulia tersebut.

Penyelenggaraan pembangunan di sektor kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujudnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Hal ini membutuhkan dukungan sumber daya yang cukup serta arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan yang tepat.

Arah, kebijakan dan strategi yang tepat membutuhkan data dan informasi yang tepat, akurat dan cepat pula. Seperti yang disampaikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo bahwa dalam setiap perencanan harus senantiasa berbasis data. Dengan demikian data yang ada haruslah terjamin kebenaran dan ketepatan serta keakuratannya agar dapat menuntun proses pembangunan kesehatan dengan baik dan terarah.

Profil kesehatan merupakan salah satu sumber data dan informasi kesehatan yang menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di satu wilayah dan merupakan salah satu sarana untuk mengevaluasi hasil penyelenggaraan pembangunan kesehatan apakah telah berhasil ataukah perlu pembenahan atau peningkatan. Dengan demikian buku profil kesehatan, akan menjadi sumber referensi dalam perencanaan program di waktu sekarang, atau waktu yang akan datang sesuai dengan kebutuhannya.

Buku profil kesehatan tahun 2015 ini dibuat dengan berpedoman pada Petunjuk Teknis (Juknis) Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten/kota 2013 Edisi Revisi 2014 yang belum ada perubahannya sampai profil ini disusun. Dengan demikian sistematika penulisannya masih sama dengan profil kesehatan tahun 2014 yang lalu.

Berdasar arahan dari Pusdatin Kemenkes RI bahwa jadwal penyelesaian profil provinsi adalah bulan April 2016, namun pada kenyataannya kami baru menyelesaikan pada bulan Agustus, karena kami masih menunggu beberapa data dari 15 kabupaten/kota untuk melengkapi profil provinsi ini, namun sampai buku ini disusun, masih ada pula data yang belum lengkap dari kabupaten/kota. Namun kami telah berupaya menyelesaikannya meskipun ada beberapa data dari kabupaten/kota yang belum lengkap.

Kami menyadari bahwa sistem pengelolaan data di kabupaten/kota masih lemah, hal ini disebabkan karena sumber data tidak dengan tepat waktu memasukkan data meskipun telah

(18)

2

dibuat schedule pemasukan data mulai dari tingkat puskesmas. Ketika melihat permasalahan di sumber data, maka ternyata penyebabnya adalah para pengelola data sering diganti bahkan banyak yang kerja rangkap, selain penyebab lain terkait manajeman sumber data/puskesmas.

Profil kesehatan Provinsi Sulawesi Utara tahun 2015 telah diupayakan mengikuti arahan dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan, terutama menampilkan data secara terpilah, menurut jenis kelamin atau yang sering disebut data gender, di mana data/

informasi tersebut bersumber dari program/bidang di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara dan bersumber dari Dinas kesehatan kabupaten/kota serta data-data pendukung lain yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara.

Agar data/informasi mudah dibaca simpulannya dengan efektif, maka data/informasi tersebut disajikan dalam bentuk teks, tabel, grafik, peta atau kombinasinya. Di mana masing- masing bentuk tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya yang akan disesuaikan dengan jenis informasi yang disajikan.

Adapun sistematika penyajian Profil kesehatan Provinsi Sulawesi Utara tahun 2015 ini adalah sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, bab ini berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan profil kesehatan serta sistematika dari penyajian.

Bab II Gambaran Umum dan Prilaku Penduduk. Bab ini menyajikan tentang gambaran umum provinsi. Selain uraian tentang letak geografis, administratif dan informasi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan meliputi kependudukan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, prilaku dan lingkungan.

Bab III Situasi Derajat Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat.

Bab IV Situasi Upaya Kesehatan. Bab ini nmenguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana. Upaya kesehatan yang diuraikan dalam bab ini jug mengakomodir indikator kinerja standar pelayanan minimal (SPM) bidang kesehatan serta upaya kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh kabupaten/kota.

(19)

3

Bab V Situasi Sumber Daya Kesehatan. Bab ini menguraikan tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

Bab VI Kesimpulan. Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari profil kesehatan di tahun yang bersangkutan. Selain keberhasilan-keberhasilan yang perlu dicatat bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam penyelengaraan pembangunan kesehatan.

Lampiran, pada lampiran ini berisi tabel resume/angka pencapaian kabupaten/kota dan 81 tabel data kesehatan dan yang terkait kesehatan yang responsive gender.

(20)

4

BAB II

GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK

2.1. Sejarah Provinsi Sulut

Sejak pemerintah Indonesia memberlakukan Undang-undang nomor 13 tahun 1964 tanggal 23 September 1964, maka Sulut ditetapkan sebagai daerah otonom tingkat I. dengan Manado sebagai ibu kotanya. Secara de fakto daerah tingkat I sulut membentang dari utara ke selatan barat daya, dari pulau Miangas ujung utara di kabupaten Sangihe Talaud sampai ke Molosipat di bagian barat Kabupaten Gorontalo.

Selanjutnya seiring dengan nuansa reformasi dan otonomi daerah, maka telah dilakukan pemekaran daerah dengan terbentuknya Provinsi Gorontalo sebagai hasil pemekaran dari Provinsi Sulut melalui Undang-undang nomor 38 tahun 2000. Dengan demikian wilayah Provinsi Sulawesi Utara setelah pemekaran provinsi meliputi: Kabupaten Sangihe dan Talaud, Kabupeten Minahasa, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kota Manado dan Kota Bitung, hingga saat ini telah terjadi pemekaran kabupaten dengan ketambahan kabupaten baru yaitu Kabupaten Talaud berdasarkan undang-undang No 8 tahun 2002 serta Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Kota Tomohon berdasarkan UU nomor 10 tahun 2003 dan Kabupaten Minahasa Utara berdasarkan UU Nomor 33 tahun 2003.

Dalam perkembangan selanjutnya, terbentuklah Kota Kotamobagu berdasarakan UU no 4 tahun 2007, Kabupaten Minahasa Tenggara berdasarkan Undang-Undang nomor 9 tahun 2007, Kabupaten Bolmut berdasarkan UU nomor 10 tahu 2007, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro berdasarkan UU no 15 tahun 2007 dan pada tahun 2008 bertambah lagi 2 kabupaten yakni Kabupaten Boltim dengan UU no 29 tahun 2008 dan Kabupaten Bolsel berdasarkan UU no 30 tahun 2008, sehingga jumlah daerah otonom di daerah Prov. Sulut menjadi 11 Kabupaten dan 4 Kota.

2.2. Letak Geografis

Provinsi Sulawesi Utara terletak antara 00ᵒ15’-05ᵒ34’ Lintang Utara dan antara 123ᵒ07’-127ᵒ10’ Bujur Timur, yang berbatasan dengan Laut Sulawesi, Republik Filipina dan Laut Pasifik di sebelah utara serta Laut Maluku di sebelah Timur. Batas sebelah selatan dan barat masing-masing adalah Teluk Tomini dan Provinsi Gorontalo.

(21)

5

Luas wilayah Sulawesi Utara tercatat 15.273 km² yang terbagi atas 11 kabupaten dan 4 kota. Bolaang Mongondow merupakan kabupaten dengan wilayah terluas yaitu 3.022 km² atau 19,78 % dari wilayah Sulawesi Utara (SDA 2015).

Di Sulawesi Utara terdapat 46 gunung yang terletak di sembilan kabupaten/kota.

Sedangkan jumlah danau tercatat ada sebanyak 17 danau dan sejumlah sungai yang mangaliri wilayah sulut sebanyak 30 sungai.

Berdasarkan pencatatan stasion klimatologi Kayuwatu Manado rata-rata temperatur di kota Manado dan sekitarnya sepanjang tahun 2014 adalah sekitar 26,6ᵒC, Rata-rata hari hujan sepanjang tahun adalah 20 hari dan bulan Januari merupakan bulan yang paling sering hujan yakni 28 hari hujan. (Sulut Dalam Angka 2015).

Gambar 1: Peta Wilayah Provinsi Sulawesi Utara

Dari 15 kabupaten/kota yang ada terdapat 169 kecamatan dan 1840 desa/kelurahan, seperti yang terganbar dalam tabel di bawah ini.

(22)

6

Gambar 2: Jumlah Desa, Kelurahan dan Kecamatan di Prov. Sulut Tahun 2015

Sumber : SDA 2015

2.3. Keadaan Kependudukan

Jumlah penduduk provinsi Sulawesi Utara tahun 2015 berdasarkan data yang diperoleh dari Penduduk Sasaran Program yang dikeluarkan oleh Pusdatin Kemenkes RI, maka pada tahun 2014 adalah 2.412.118 jiwa yang terdiri dari laki-laki: 1.230.810 dan perempuan 1.181.308. Seperti terlihat pada gambar 3, di bawah ini di mana jumlah penduduk ini berbeda dengan proyeksi penduduk versi BPS Sulut bahwa jumlah penduduk Provinsi Sulut tahun 2015 adalah 2.386.600 yang terdiri dari 1.217.800 penduduk laki-laki dan 1.168.800 penduduk perempuan.

200 227

145 142 167

125 108 86

135

81 80

0 0 0 15

2 43

22 11 10 6 1 7 9 0 0 87

69

44 18 1

15

25 15 19 17

10 6 10 12 6 5 12

8 5 4

DESA KELURAHAN KECAMATAN

(23)

7

Gambar 3: Jumlah Penduduk Prov. Sulut Tahun 2015 Menurut Jenis Kelamin

Sumber : BPS Sulut Tahun 2016

Dari gambar tersebut, terlihat bahwa jumlah penduduk terbanyak ada di kota Manado dengan jumlah penduduk 425.634 jiwa atau mencapai 18 % dari total jumlah penduduk di prov. Sulut, kemudian di kabupaten Minahasa dengan jumlah penduduk: 329.000 jiwa atau 14

% dari total jumlah penduduk Prov. Sulut, dan selanjutnya di Kabupaten Bolaang Mongondow, kemudian Kabupaten Minahasa Selatan, kota Bitung, Kabupaten Minahasa Utara, Kab. Kep Sangihe, Kota Kotamobagu, Minahasa Tenggara, Kota Tomohon, Kab. Kep Talaud, Kab Bolmong Utara, Kab Bolmong Timur, kab Bolmong Selatan, dan terakhir kab kep Sitaro. Prosentase jumlah penduduk provinsi Sulawesi Utara dapat dilihat dalam gambar 4 di bawah ini sebagai gambaran penyebaran penduduk di Provinsi Sulawesi Utara.

0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000

BOLM ONG

MINA HASA

SANG IHE

TALA UD

MINS EL

MINU T

BOLM UT

SITAR O

MITR A

BOLS EL

BOLTI M

MAN ADO

BITU NG

TOM OHO N

KOTA MOB AGU LAKI-LAKI 121,21 168,21 65,498 45,383 105,83 100,71 39,102 32,397 54,103 32,399 35,876 213,61 105,09 50,576 60,792 PEREMPUAN 111,97 160,78 64,086 43,420 99,153 97,365 37,229 33,185 50,433 29,823 32,816 212,02 100,58 49,797 58,635

(24)

8

Gambar 4: Prosentasi Kepadatan Penduduk Prov. Sulut Tahun 2015

Sumber : BPS Sulut

Dari jumlah penduduk tersebut, terdistribusi berdasar jenis kelamin dan golongan umur yang digambarkan dalam piramida penduduk, seperti yang terlihat pada gambar 5 berikut ini, di mana sumber data jumlah penduduk diperoleh dari data Penduduk Sasaran Program yang dikeluarkan oleh Pusdatin

Gambar 5: Piramida Penduduk Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015

Sumber : Pusdatin

BOLMONG 10%

MINAHASA 14%

SANGIHE 5%

TALAUD 4%

MINSEL MINUT 8%

8%

BOLMUT 3%

SITARO 3%

MITRA 4%

BOLSEL 3%

BOLTIM 3%

MANADO 18%

BITUNG 8%

TOMOHON

4% KOTAMOBAGU 5%

10 8 6 4 2 0 2 4 6 8 10

0-4 yrs.

5-9 yrs.

10-14 yrs.

15-19 yrs.

20-24 yrs 25-29 yrs 30-34 yrs.

35-39 yrs.

40-44 yrs.

45-49 yrs.

50-54 yrs.

55-59 yrs.

60-64 yrs.

65++.

PERCENT AGE

(25)

9

Dari gambar piramida penduduk di atas, maka jenis piramida penduduk Prov. Sulut tahun 2015 mendekati stasioner, di mana angka atau jumlah penduduk dewasa hampir sama dengan angka/jumlah penduduk muda. Hal ini menggambarkan bahwa angka kematian relative tetap, sedangkan angka kelahiran berkurang atau rendah. Menurut beberapa literature hal ini terjadi karena pelayanan kesehatan makin meningkat yang dibuktikan dengan rendahnya angka kematian dan menurunnya angka kelahiran seperti yang dialami oleh negara- negara maju. Dan dari gambar piramida tersebut, terlihat bahwa ada peningkatan jumlah penduduik pada usia lanjut yang didominasi oleh penduduk wanita.

Jika dilihat dari tingkat kepadatan penduduk di Prov. Sulut pada tahun 2015, maka akan terlihat seperti gambar di bawah ini:

Gambar 6: Tingkat Kepadatan Penduduk Kab/Kota di Prov. Sulut Tahun 2015

Sumber : BPS Sulut Tahun 2015

Bila melihat tingkat kepadatan penduduk tahun 2013 yakni 161.13 jiwa/km2, dan pada tahun 2014 naik menjadi 163/km2 dan kemudian pada tahun 2015 juga naik menjadi 165,01jiwa/km2. Hal ini mungkin akan terjadi peningkatan yang sama pada tahun selanjutnya.

BOLMONG MINAHASA SANGIHE TALAUD MINSEL MINUT BOLMUT SITARO MITRA BOLSEL BOLTIM MANADO BITUNG TOMOHON KOTAMOBAGU

77.17 276.78 217.01 87.51

138.65 187.01 39.44

300.59 147.38 34.60

75.97

2550.69 622.94

682.30

2441.77

(26)

10

Kepadatan penduduk tertinggi masih berada di ibu kota Prov Sulut yakni di Kota Manado, kemudian diikuti oleh Kota Kotamobagu dan selanjutnya di 2 kota lainnya yakni Bitung dan Tomohon. Untuk daerah kabupaten, kepadatan tertinggi berada di kabupaten kepulauan Siau Tagulandang Biaro dan Minahasa.S

Dari jumlah penduduk yang ada, penduduk laki laki masih lebih tinggi dibanding dengan penduduk perempuan dengan rasio jenis kelamin: 104, 19 jiwa. Jika dibanding dengan angka ratio jenis kelamin tahun lalu, yakni hanya sebesar 48.916 jiwa, maka ternyata rasio jenis kelamin telah mengalami peningkatan.

Berdasarkan hasil registrasi jumlah warga asing di seluruh Sulawesi Utara tahun 2014 tercatat 3.569 jiwa dan paling banyak berasal dari Singapura yakni sebanyak 1.650 orang.

Pada dasarnya penduduk dapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Penduduk 15 tahun ke atas yang termasuk angkatan kerja mereka yang seminggu yang lalu mempunyai pekerjaan baik yang bekerja maupun sementara tidak bekerja, termasuk mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetapi sedang mencari pekerjaan / mengharapkan pekerjaan. Penduduk 15 tahun ke atas yang bukan angkatan kerja adalah mereka yang selama seminggu yang lalu mengurus rumah tangga dan kegiatan lainnya.

Pada tahun 2014, (Sulut dalam Angka 2015) penduduk usia kerja di Sulawesi utara yang masuk angkatan kerja berjumlah 1.060.752 orang dan dari angkatan kerja yang ada, tercatat 980.756 orang yang sedang bekerja. Sementara yang bukan angkatan kerja berjumlah 707.410 orang dan dari bukan angkatan kerja yang ada tercatat 173.111 orang yang bersekolah dan 420.168 orang yang mengurus rumah tangga.

2.4. Keadaan Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk setiap manusia, sehingga upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan merupakan bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan rakyat.

Pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam megukur tingkat pembangunan manusia di suatu daerah. Pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku masyarakat. Pendidikan juga menjadi pelopor utama dalam rangka penyiapan sumber daya manusia yang merupakan salah satu aspek pembangunan yang merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan pembangunan daerah maupun nasional.

Untuk mengukur IPM (Indeks Pembangunan Manusia), factor pengetahuan menadi salah satu dimensi penentu IPM tersebut dan yang menjadi indikatornya adalah angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah.

(27)

11

Adapun yang dimaksud dengan angka melek huruf adalah penduduk 10 tahun ke atas yang mampu membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya (DO Juknis Profil 2015).

Variable pengetahuan lainnya adalah rata-rata lamanya sekolah. Adapun data melek huruf tahun 2015 belum diperoleh. seperti yang tertera pada lampiran tabel 3, namun angka lamanya sekolah tahun 2010-2014 dan data IPM tahun 2010-2015 telah diperoleh dari BPS Sulut seperti di bawah ini

Gambar 7: Grafik Rata-Rata Lama Sekolah di Provinsi Sulut Tahun 2010-2014

Sumber : BPS Sulut 2016

Gambar 8: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2010-2015

Sumber : BPS Sulut

8.66 8.68 8.71

8.79

8.86

8.55 8.6 8.65 8.7 8.75 8.8 8.85 8.9

2010 2011 2012 2013 2014

67.83

68.31

69.04

69.49

69.96

70.39

66.5 67 67.5 68 68.5 69 69.5 70 70.5 71

2010 2011 2012 2013 2014 2015

(28)

12

2.5. Keadaan Kesehatan Lingkungan

Kesehatan Lingkungan dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, Kesehatan Lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar menjamin keadaan sehat dan manusia.

Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapat perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat. Bersama dengan faktor perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik, lingkungan menentukan baik buruknya derajat kesehatan masyarakat.

Untuk menggambarkan keadaan lingkungan, akan disajikan indikator-indikator seperti: akses terhadap air bersih dan air minum, akses terhadap sanitasi dasar, dan rumah sehat.

2.5.1. Sarana Air Bersih yang Digunakan dan Akses Air Minum Berkualitas

Air minum yang berkwalitas (layak) adalah: Air minum yang terlindung meliputi air ledeng (keran), keran umum, hydrant umum, terminal air, penampungan air hujan (PAH) atau mata air dan sumur terlindung, sumur bor atau sumur pompa, yang jaraknya minimal 10 meter dari pembuangan kotoran, penampungan limbah, dan pembuangan sampah. Tidak termasuk air kemasan, air dari penjual keliling, air yang dijual melalui tanki, air sumur dan mata air tidak terlindung.

Secara umum, gambaran penduduk Provinsi Sulut yang memiliki akses yang berkelanjutan terhadap air minum layak adalah: 59,86 persen atau 1.444.007 jiwa, seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini. Dan ternyata jika dibandingkan dengan data tahun lalu, terjadi penurunan. Dari angka 63,07%. Data tersebut terdapat pada lampiran tabel 59.

(29)

13

Gambar 9: Prosentase Penduduk yang memiliki Akses Air Minum di Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 2015

Sumber : Profil Kab/Kota Tahun 2016

Berdasar grafik di atas, terlihat bahwa prosentase penduduk di kabupaten/kota yang memiliki akses air minum layak terbanyak adalah di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yakni 90,94 % penduduk yang jauh meninggalkan Kota Tomohon yang tahun lalu menduduki peringkat pertama. dan yang paling sedikit adalah Kota Kotamobagu yakni hanya 16,75 % penduduk

2.5.1. Sarana dan Akses Terhadap Sanitasi Dasar

Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Sanitasi layak yang dimaksud adalah ketersediaan jamban sehat bagi penduduk provinsi Sulawesi Utara. Persentase tertinggi penduduk dengan kepemilikan sarana sanitasi layak tahun 2015 adalah penduduk di Kabupaten Kepulauan Sitaro yakni 87,0 %, disusul oleh Kabupaten Kepulauan Sangihe dan selanjutnya kota Tomohon dan Kota Kotamobagu, sedangkan prosentase terrendah adalah Kabupaten Minahasa Selatan dan BolaangMongondow, seperti terlihat pada grafik di bawah ini. Di mana untuk seluruh provinsi adalah : 63,9 %.

- 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 BOLMONG

MINAHASA SANGIHE TALAUD MINSEL MINUT BOLMUT SITARO MITRA BOLSEL BOLTIM MANADO BITUNG TOMOHON KOTAMOBAGU

27.02

69.55

90.86 69.04

57.19 67.89 53.20

90.94 25.98

32.76

76.63 73.21 63.46 58.64 16.75

(30)

14

Gambar 10: Prosentase Penduduk dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Layak di Provinsi

Sulawesi Utara Tahun 2015

Sumber : Profil Kabupaten/Kota Tahun 2016

2.5.2. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

Pendekatan untuk mengubah prilaku higene dan sanitasi meliputi 5 pilar yaitu tidak buang air besar (BAB) sembarangan , mencuci tangan pakai sabun, mengelola air minum dan makanan yang aman, mengelola samoah dengan benar, mengelola limbah cair rumah tangga yang aman dan melakukan pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Desa melaksanakan STBM adalah desa yang sudah melaksanakan pemicuan minimal 1 dusun dan mempu yai tim kerja/natural leader dan mempunyai rencana tindak lanjut untuk menuju sanitasi total. Desa STBM adalah desa yang telah mencapai 100% penduduk melksanakan 5 pilar STBM dan desa Stop BABS adalah desa yang penduduknya 100 % mengakses jamban sehat.

Adapun data STBM dapat dilihat pada lampiran tabel 62 di mana untuk Provinsi Sulut, prosentase desa yang melaksanakan STBM adalah: 9,7 %; prosentase desa STBM adalah 0,38 %. Kecilnay prosentasi ini, disebabkan karena dari15 kabupaten/kota hanya 2 kabupaten/kota yang memasukkan data.

45.2

70.7 80.5 53.2

42.4

70.6 55.2

87.0 46.3

50.0 59.0

68.5 71.0

77.0 76.1

0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 BOLMONG

MINAHASA SANGIHE TALAUD MINSEL MINUT BOLMUT SITARO MITRA BOLSEL BOLTIM MANADO BITUNG TOMOHON KOTAMOBAGU

(31)

15

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Derajat kesehatan di Sulawesi Utara dilihat dengan menggunakan beberapa indikator seperti angka harapan hidup , angka mortalitas , angka morbiditas dan status gizi masyarakat.

3.1 Angka Harapan Hidup Waktu Lahir

Data yang didapatkan dari situs BPS Sulawesi Utara menunjukkan bahwa angka harapan penduduk Sulawesi Utara tahun 2015 adalah 70.99 dengan Kota Manado adalah kota dengan angka harapan hidup tertinggi yaitu 71.28 dan kabupaten Bolaang Mongondow Selatan adalah kabupaten dengan angka harapan hidup terendah yaitu 63.97.

Tabel 1: Angka Harapan Hidup Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2011 sampai dengan Tahun 2015

ANGKA HARAPAN HIDUP

KAB/KOTA ANGKA HARAPAN HIDUP

2011 2012 2013 2014 2015

SULAWESI UTARA 72.22 72.33 72.44 70.94 70.99

BOLAANG MONGONDOW

71.58 71.70 71.83 68.02 68.42

MINAHASA 72.47 72.54 72.61 70.25 70.35

KEP. SANGIHE 73.01 73.19 73.37 69.07 69.17

KEP. TALAUD 71.89 72.12 72.35 69.13 69.33

MINAHASA SELATAN 72.28 72.41 72.54 69.00 69.10

MINAHASA UTARA 72.60 72.73 72.87 70.79 70.79

BOLMONG UTARA 69.91 70.06 70.22 66.64 66.84

KEP. SITARO 68.62 68.71 68.81 69.29 69.59

MINAHASA TENGGARA 70.03 70.10 70.16 69.48 69.48

BOLMONG SELATAN 71.29 71.34 71.39 63.87 63.97

BOLMONG TIMUR 71.35 71.42 71.48 67.11 67.21

KOTA MANADO 72.64 72.70 72.77 71.28 71.28

KOTA BITUNG 70.50 70.59 70.67 70.25 70.45

KOTA TOMOHON 72.62 72.78 72.95 70.45 70.95

KOTA KOTAMOBAGU 71.80 71.96 72.12 69.64 69.64

Sumber : BPS Prov. Sulut, 2016

Angka harapan hidup penduduk Sulawesi Utara mengalami penurunan pada Tahun 2014 dan 2015 jika dibandingkan dengan tahun 2011 s.d 2013. Angka Harapan Hidup penduduk Sulawesi Utara Tahun 2014 dan 2015 adalah sebsar sebesar 70.94 dan 70.99.

(32)

16

Gambar 11: Tren Angka Harapan Hidup Provinsi Sulawesi Utara

Sumber : BPS Prov. Sulut, 2016 3.2 Mortalitas

3.2.1 Angka Kematian Bayi dan Neonatal

Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat 1 tahun.Penyebab kematian ini jika dilihat dari usia bayi dapat bersumber dari 2 sisi penyebab, yaitu pada bayi kurang dari 1 bulan, umumnya disebabkan oleh faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan atau yang dikenal sebagai faktor endogen.

Kematian bayi eksogen adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia 1 bulan sampai menjelang 1 tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.

Menurut hasil SDKI 2007 AKB Sulawesi Utara (35) lebih tinggi dari AKB Nasional (34) sehingga upaya untuk pencapaian target MDG’s tahun 2015 sebesar 23 merupakan upaya yang ekstra keras, mengingat tenggat waktu yang sangat sempit. Angka kematian bayi tahun 2013 berdasarkan SDKI 2012 adalah 33 atau turun 2 poin dari angka SDKI tahun 2007, namun masih diatas angka nasional yang 32. Tren AKB Sulawesi Utara dan Nasional dapat dilihat pada gambar berikut.

(33)

17

Gambar 12: Situasi Angka Kematian Bayi Provinsi Sulawesi Utara

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh program kesehatan anak, didapatkan bahwa sepanjang tahun 2015 terdapat 286 kasus kematian bayi dimana Kota Manado adalah kota yang berkontribusi besar terhadap tingginya kasus kematian bayi yaitu 38 kasus diikuti Kabupaten Minahasa dengan 33 kasus. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dan Kabupaten Kepulauan Sitaro dan Kabupaten Minahasa Utara adalah daerah di Provinsi Sulawesi Utara dengan kontribusi kasus kematian bayi yang rendah. Distribusi Kasus kematian bayi Provinsi Sulawesi Utara dilihat per kabupaten/kota sebagaimana dapat dilihat pada gambar berikut ini

Gambar 13: Distribusi Kematian Bayi Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015

16 33

30

10 28

7 24

5 26

7 4

38

13 20

25

0 5 10 15 20 25 30 35 40

KEMATIAN BAYI

Sumber : Prog. Kes. Anak Prov. Sulut, 2016

(34)

18

Tahun 2015 Kematian Neonatal di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 244 kasus. Kematian neonatal tertinggi ada di Kabupaten Minahasa dan Kota Manado dengan 31 kasus dan terendah di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dan Kabupaten Kepulauan Sitaro dengan 4 (empat) kasus. Distribusi Kematian Neonatal dapat dilihat pada tabel 1.

Gambar 14: Distribusi Kematian Neonatal per Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015

16 31

26

9 23

7 24

4 21

7 4

31

8 19

14

0 5 10 15 20 25 30 35

KEMATIAN NEONATAL

Sumber : Prog. Kes. Anak Prov. Sulut, 2016 3.2.2 Angka Kematian Balita (AKABA)

Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru lahir, yang berusia 0 sampai menjelang 5 tahun (4 tahun , 11 bulan, 29 hari).Pada umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun. Angka kematian balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi).

Akaba menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak Balita seperti gizi, sanitasi, penyakit menular dan kecelakaan.Indikator ini menggambarkan tingkat kesejateraan sosial dan tingkat kemiskinan penduduk.

Akaba diIndonesia menurut SDKI 97, 2002-2003,2007 dan 2012 adalah 58,46,44 dan 40.

(35)

19

Akaba di Provinsi Sulawesi utara menurut SDKI 2013 adalah 37 yang masih lebih rendah dari angka nasional.

Menurut data dari program kesehatan anak Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara tahun 2016 kematian balita (umur 12-59 bulan) sepanjang tahun 2015 sebanyak 298 kasus dengan kasus terbanyak berasal dari Kota Manado sebanyak 42 kasus, Kabupaten Minahasa sebanyak 35 kasus dan Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan 30 kasus.

Penyebab Kematian balita di Provinsi Sulawesi Utara Paling banyak adalah BBLR dengan 86 kasus, Lain-lain 85 kasus, Asfiksia 70 kasus, Kelainan bawaan 24 kasus, Sepsis 16 Kasus, Pnemonia 9 (sembilan) kasus, Diare 6 (enam) Kasus dan Bemam Berdarah Dengue 2 (dua) Kasus

Gambar 15: Distribusi Kematian Balita per Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015

16

35 30 10

29 7

24 7

26 7

4

42 16

20 25

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

BOLMONG MINAHASA KEP. SANGIHE KEP.TALAUD MINAHASA SELATAN MINAHASA UTARA BOLMONG UTARA KEP.SITARO MINAHASA TENGGARA BOLMONG SELATAN BOLMONG TIMUR KOTA MANADO KOTA BITUNG KOTA TOMOHON KOTA KOTAMOBAGU

KEMATIAN BALITA

Sumber : Prog. Kes. Anak Prov. Sulut, 2016 3.2.3 Angka Kematian Ibu

Kematian ibu adalah kematian yang terjadi selama masa kehamilan atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan tanpa melihat usia dan lokasi kehamilan, oleh setiap penyebab yang berhubungan dengan dan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya tetapi bukan oleh kecelakaan atau indental (faktor kebetulan).Bila angka kematian tinggi maka dapat berarti bahwa jumlah kematian ibu yang meninggal mulai saat hamil hingga 6 minggu setelah persalinan per 100.000 persalinan tinggi atau angka kematian yang melebihi dari angka target nasioanal.Tingginya angka kematian berarti rendahnya standar kesehatan dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan dan mencerminkan besarnya masalah kesehatan.

(36)

20

Kasus kematian ibu Provinsi Sulawesi Utara tahun 2015 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2014, dimana pada tahun 2015 terdapat 71 kasus meningkat dibandingkan dengan tahun 2014 yang hanya 58 kasus kematian. Kasus kematian ibu dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 16: Distribusi Kematian Ibu Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015

5 10

4 5

6

2 3

4 9

0 3

12

4

0 4

0 2 4 6 8 10 12 14

KEMATIAN IBU

Sumber : Prog. Kes. Ibu Prov. Sulut, 2016

Gambar 17: Tren Kasus Kematian Ibu Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2011 s.d 2015

71

49

77

58

71

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

2011 2012 2013 2014 2015

KEMATIAN IBU

Sumber : Prog. Kes. Ibu Prov. Sulut, 2016

(37)

21

Jika dilihat dari penyebab kematian, maka kematian ibu bersalin sebagian besar disebabkan oleh pendarahan 22 kasus, Hipertensi dalam kehamilan 13 kasus, infeksi 5 (lima) kasus, dan lain-lain 31 kasus. Oleh karena itu dalam rencana penurunan angka kematian ibu maternal , mungkin pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya pendarahan akibat melahirkan perlu lebih ditingkatkan. Proporsi penyebab kematian ibu maternal diSulawesi Utara dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 18: Proporsi Penyebab Kematian Ibu Maternal Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015

Pendarahan, 22

Hipertensi dalam kehamilan, 13

Infeksi, 5

Abortus, 0 Partus Lama, 0 Lain-lain, 31

JUMLAH, 71

Sumber : Prog. Kes. Ibu Prov. Sulut, 2016

Meskipun secara nasional AKI menurun dari 390 (1991) menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2007), namun jika menyesuaikan dengan target Millenium Development Goals (MDG’s) menyangkut kesehatan ibu, dimana target tahun 2015 adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup, maka dapat dibayangkan betapa upaya yang sangat keras dan komitmen penuh dengan leadership yang tangguh untuk pencapaian target AKI tersebut. Perlu secara nyata dilaksanakan strategi penurunan AKB tersebut yang meliputi:

1) Peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu & bayi baru lahir/anak berdasarkan bukti ilmiah.

2) Kerjasama lintas program dan lintas sektor terkait mitra lain, pemerintah,DPR, Organisasi Profesi,Swasta.

3) Pemberdayaan perempuan dan keluarga 4) Pemberdayaan masyarakat.

(38)

22

Tanpa pelaksanaan strategi yang sudah ditetapkan maka besar kemungkinan

pencapaian target MDGs untuk peningkatan kesehatan ibu melalui penurunan AKI tersebut tidak tercapai.

3.3 Status Gizi 3.3.1 Gizi Buruk

Sepanjang tahun 2015, jumlah kasus gizi buruk balita di Sulawesi Utara menurut program Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara adalah sebanyak 39 kasus terjadi penurunanan dibandingkan tahun 2014 yaitu 47 kasus, di mana Kabupaten Kepulauan Sangihe merupakan daerah yang mempunyai kontribusi terbesar dalam jumlah kasus gizi buruk bayi di Sulawesi Utara yaitu masing-masing 13 kasus, sedangkan Kota Tomohon dan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur adalah daerah di Provinsi Sulawesi Utara yang sepanjang tahun 2015 tidak ada kasus gizi buruk. Distribusi kasus gizi buruk balita di Sulawesi Utara sebagaimana terlihat pada gambar berikut.

Gambar 19: Distribusi Kasus Gizi Buruk per Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014

1 1 13

3 1

4

0 2

4 2

3 2

1 0

2

0 2 4 6 8 10 12 14

KASUS GIZI BURUK

Sumber : Prog. Gizi Dinkes Prov. Sulut, 2016

Menurut hasil Riskesdas 2010, perkiraan pencapaian status gizi pada tahun 2013 di Sulawesi Utara menurut Kabupaten/Kota adalah seperti pada tabel 3. Jika tidak ada kondisi- kondisi yang dapat merupah variabel-variabel pembentuk status prevalensi gizi, maka Kota Bitung nampaknya belum dapat memecahkan masalah status gizi hingga tahun 2015.

(39)

23

Tabel 2: Prevelensi Gizi Buruk Kurang sampai dengan Tahun 2015

Sumber : Riskesdas, 2012 3.3.2 Bawah Garis Merah

Pada tahun 2015, balita yang ditimbang dengan berat badan dibawah garis merah di Provinsi Sulawesi Utara sebanyak 3500 balita (2,1%), dimana Kabupaten Kepulauan Sangihe merupakan kabupaten yang tertinggi jumlah balita yang ditimbang dibawah garis merah sebanyak 743 (8,9 %) balita dan Kota Tomohon merupakan kabupaten yang terendah jumlah balita yang ditimbang dibawah garis merah dengan 20 (0,4%) balita. Ini dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 20: Distribusi Penimbangan Balita di Bawah Garis Merah (BGM) di per Kabupaten/

Kota Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015

263

96 741

261 382

248296

79 135

237

53 432

132 20

125

0 100 200 300 400 500 600 700 800

KASUS BGM

Sumber : Prog. Gizi Dinkes Prov. Sulut, 2016

(40)

24

Pada gambar 20, memperlihatkan cakupan penimbangan balita di Provinsi Sulawesi Utara sepanjang tahun 2015. Dari gambar tersebut terlihat bahwa sebagian besar kabupaten/kota di Sulawesi Utara mempunyai cakupan D/S yang rendah.

Dari 15 kabupaten/kota di Sulawesi Utara hanya 3 (tiga) kabupaten yang memiliki cakupan D/S diatas 85 % yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow (88,96 %, ) Kabupaten Minahasa (88,34 %) dan Kepulauan Sangihe (86,63%),.

Gambar 21: Cakupan Penimbangan Balita (D/S) Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015

88.96 88.34 86.63 81.88 80.62 80.50 79.52 78.50 77.93 76.30 76.03 74.81 73.47 63.78 54.18

78.64

BOLMONG MINAHASA KEP. SANGIHE KEP.TALAUD MINAHASA SELATAN MINAHASA UTARA BOLMONG UTARA KEP.SITARO MINAHASA BOLMONG SELATAN

BOLMONG TIMUR KOTA MANADO KOTA BITUNG KOTA TOMOHON KOTA KOTAMOBAGU SULAWESI UTARA

% PENIMBANGAN (D/S)

Sumber : Prog. Gizi Dinkes Prov. Sulut, 2016 3.4 Morbiditas

Angka kesakitan penduduk diperoleh dari beberapa sumber seperti laporan program khusus penyakit khususnya penyakit menular termasuk didalamnya laporan penyakit menular terpilih yang dilaporkan melalui Surveilans Terpadu Puskesmas (STP) Kabupaten/Kota.

3.4.1 Sepuluh Penyakit menular menonjol

Sepanjang tahun 2015, berdasarkan laporan-laporan STP berbasis puskesmas yang dikirimkan oleh puskesmas dan diolah di kabupaten, maka penyakit Influensa, Hipertensi, dan Diare merupakan 3 (tiga) penyakit menular yang paling menonjol pada tahun 2014 sma seperti Tahun 2013, dapat dilihat pada gambar 22, meskipun demikian data 10 penyakit menonjol tersebut sangat dipengaruhi oleh kelengkapan laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang merupakan indikator utama dari pelaksanaan surveilens terpadu penyakit.

(41)

25

Gambar 22: 10 (Sepuluh) penyakit menonjol berdasarkan STP ber-basis Puskesmas di Provinsi

Sulawesi Utara Tahun 2016

63839

24965 16127

7223 3652 1920 790 403 503 364

JUMLAH KASUS

Sumber : Seksi Surveilans dan Litbangkes, 2016 3.4.2 Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Polio merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem saraf.Penyakit ini umumnya menyerang anak usia 3 tahun ini dan dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, lumpuh layu (kecacatan) bahkan kematian. Penyakit ini tidak dapat diobati dan hanya bisa dicegah dengan pemberian imunisasi polio sebanyak empat kali pada bayi umur dibawah 1 tahun.

Setelah cacar, polio merupakan penyakit yang dapat dieradikasi dari muka bumi. Pada hakekatnya, polio belum sepenuhnya dapat diberantas total dan masih menjadi masalah kesehatan yang perlu ditangani secara seksama. Pengamatan kasus polio dilaksanakan melalui surveilans AFP.

Sepanjang tahun 2015, terdapat 20 kasus AFP yang didapatkan melalui surveilans AFP dengan non polio AFP rate sebesar 3,22 kasus setiap 100.000 populasianak usia, 15 tahun. Pada Tahun 2015, di Provinsi Sulawesi Utara ada 6 (enam) kabupaten/kota yang memiliki kasus AFP, sedangkan sebanyak (sembilan) Kabupaten Kota yang tidak ada kasus AFP.

(42)

26

Gambar 23: Distribusi Penemuan Kasus Non Polio AFP Rate Kabupaten/Kota Tahun 2015

0 1

4

0 0

6

0 0

1

0 0

6

0 0

2

KASUS AFP

Sumber : Seksi Surveilans dan Litbangkes, 2016 3.4.3 Penyakit HIV/AIDS

Sejak ditemukannya kasus HIV di Sulawesi Utara pada tahun 1997 maka terlihat pertambahan kasus baru yang semakin membesar pada 5 tahun terakhir. Kasus dan tercatat hingga bulan Desember 2014 penderita HIV/AIDS di Sulawesi Utara sebanyak 1.937 kasus.

Pada sepanjang tahun 2015 di temukan 69 kasus HIV baru dan 199 kasus AIDS. Distribusi kasus HIV dan AIDS hingga Desember 2015 terlihat pada gambar 24.

Jika dilihat secara kumulatif maka, Kota Manado, Kota Bitung, Dan kabupaten Minahasa masih menjadi daerah dengan jumlah kasus HIV dan AIDS terbanyak di Sulawesi Utara sampai tahun 2015, sedangkan kabupaten yang tidak mempunyai kasus HIV adalah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

Gambar 24: Distribusi Kasus HIV/AIDS Kabupaten/Kota Tahun 2015

4 10

2 1 3 3

0 0 0 1 0

24

13

4 4

5 23

13 5

13 13

0 1

4 3

0 60

24

15

20 HIV

AIDS

Sumber : Program HIV/AIDS Dinkes Prov. Sulut, 2016

(43)

27

Penambahan jumlah kasus baru tersebut tidak lepas dari pelayanan VCT dirumah sakit. Hingga akhir 2008 terdapat lima rumah sakit disulawesi utara yang memberikan layanan terapi anti-retoviral (ARV) dan Voluntary Counselling and Testing (VCT) yaitu RSU.Prof.DR.R.D.Kandou Manado, RS TNI Teling Manado, RS Prof.Ratumbuisang Manado, RSUD Bitung dan RSU Beteshda Tomohon. Perubahan status HIV ke AIDS yang memerlukan waktu pada akhirnya akan mempengaruhi gambaran kurva dari tahun ke tahun pada waktu data diupdate. Diharapkan dengan pemberian ARV yang adekuat, maka proses perubahan status HIV ke AIDS menjadi lebih lama atau bahkan tidak sama sekali.

3.4.4 Penyakit Malaria

Penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan dunia pada umumnya dan pada khususnya di Provinsi Sulawesi Utara, ini ditandai dengan banyaknya kasus klinis dan positif malaria dibeberapa kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Utara khususnya daerah kepulauan, daerah terpencil yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan.

Tahun 2014 daerah endemis Malaria di Provinsi Sulawesi Utara yaitu Kabupaten Minahasa Tenggara, sedangkan tahun 2015 daerah endemis Malaria di Provinsi Sulawesi Utara adalah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 25: Peta Endemisitas Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015

PETA ENDEMISITAS KABUPATEN/KOTA SE PROPINSI SULUT TAHUN 2015

MERAH : API > 5/1000 PENDUDUK KUNING : API 1 – 4/1000 PENDUDUK HIJAU : API < 1/1000 PENDUDUK

TALAUD

SANGIHE

SITARO TAGUL

BITUNG MINAHASA UTARA MANADO

MINAHASA TOMOHON MINAHASA SELATAN

MINAHASA TENGGARA

BOLMONG TIMUR

BOLMONG SELATAN BOLAANG MONGONDOW

KOTAMOBAGU BOLMONG UTARA

Sumber : Program Malaria Dinkes Prov. Sulut, 2016

Annual Parasite Incidence (API) yang digunakan untuk mengetahui insiden penyakit malaria pada satu daerah tertentu selama 1 tahun berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, Oleh karena itu penghitungannya dengan membagi jumlah penderita malaria positif dengan jumlah

(44)

28

penduduk dikali dengan 1000 0/00. Saat ini jumlah penderita positif malaria didapatkan dari hasil pemeriksaan yang dikonfirmasi positif ataupun melalui tes diagnostic cepat/Rapid Diagnostic Test (RDT) yang ditemukan melalui kegiatan ACD dan PCD.

API tertinggi sepanjang tahun 2015 adalah di Kabupaten Kepulauan Sangihe (6,05 %) dan sedangkan yang paling rendah di Kota Kotamobagu (0,01). API Provinsi Sulawesi Utara adalah 0,95 0/00. API dari Tahun 2012 s.d 2015 dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3: Annual Parasite Incidence (API)Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2012 s.d 2015

KAB/KOTA A P I

2012 2013 2014 2015

MANADO 0.74 0.62 0.25 0.28

BITUNG 4.39 1.61 1.65 1.36

TOMOHON 1.23 0.96 0.55 0.58

KOTAMOBAGU 0.07 0.03 0.02 0.01

MINAHASA 0.88 0.46 0.27 0.22

MINAHASA SELATAN 1.37 1.30 0.89 0.93

MINAHASA UTARA 1.36 0.75 0.55 0.28

MINAHASA TENGGARA 17.16 15.96 10.91 4.56

BOLAANG MONGONDOW 0.74 0.47 0.34 0.07

BOLMONG UTARA 0.55 0.52 0.23 0.11

SANGIHE 15.08 5.36 4.40 6.05

SITARO 0.87 2.59 1.87 0.66

TALAUD 1.17 0.55 0.29 1.16

BOLMONG TIMUR 0.75 0.41 1.59 1.01

BOLMONG SELATAN 0.74 0.74 0.25 0.17

PROVINSI 2.76 1.79 1.26 0.95

Sumber : Program Malaria Dinkes Prov. Sulut, 2016 3.4.5 Penyakit Demam Berdarah Dengue

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegepti ini telah berkembang menjadi masalah kesehatan yang semakin serius. Selain faktor nyamuk penularan serta keganasan virus yang telah berevolusi seiring dengan perubahan iklim (pemanasan global), serta keterlambatan mencari pengobatan dan kurangnya kesadaran akan kebersihan lingkungan, menyebabkan kasus (incidence rata) penyakit DBD ini masih muncul dari tahun ke tahun.

Target atau sasaran pengendalian DBD adalah menjaga Case Fatality Rate dibawah 1% dengan menurunkan incidence rate dan casual fatality rate.

Sepanjang tahun 2015 tercatat hanya 1562 kasus DBD yang terjadi di wilayah Sulawesi Utara dengan jumlah kematian sebanyak 25 kasus atau angka kematian (CFR)= 1,34.

Gambar

Gambar 1: Peta Wilayah Provinsi Sulawesi Utara
Gambar 5: Piramida Penduduk Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2015
Gambar 6: Tingkat Kepadatan Penduduk  Kab/Kota di Prov. Sulut Tahun 2015
Gambar 7: Grafik Rata-Rata Lama Sekolah di Provinsi Sulut Tahun 2010-2014
+7

Referensi

Dokumen terkait

Plasma nutfah jagung yang di-evaluasi ketahanannya terhadap lalat bibit (Atherigona exigua) sebanyak 100 varietas jagung lokal, dengan kontrol peka varietas Arjuna dan kontrol

Hasil ini menunjukan bahwa praktik penyampaian laporan keuangan secara tepat waktu oleh manajemen perusahaan tidak hanya didasarkan pada opini audit yang baik, jumlah

Fokus dari sistem informasi konvensional adalah menggunakan teknologi untuk mengganti tenaga manusia, sedang fokus sistem informasi stratejik adalah sebagai alat

sebab yang lain, pada tahap yang sangat penting, justru ketika mereka telah memungkinkan untuk mencapai kekuatan yang lebih besar, baik itu bahan-bahan,

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah hasil belajar akuntansi

Berdasarkan pernyataan kedua narasumber tersebut, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa pelaksanaan kependidikan kepegawaian di MAN 2 Kepahiang yaitu melaksanakan

+alam kegiatan magang kerja yang erhuungan dengan strategi  pemasaran, mahasiswa menjadi mampu untuk mengemangkan strategi dalam kegiatan pemasaran

Analisis SEM AMOS dijalankan adalah bagi melihat sama ada terdapat hubungan dan pengaruh secara langsung dan tidak langsung kesediaan untuk berubah guru terhadap pelaksanaan