BAB III
PEMIKIRAN UMUM IBN RUSYD
A. Pengaruh Pemikiran Ibnu Rusyd di Eropa
Ibn Rusyd merupakan satu-satunya filosof Muslim yang paling besar pengaruhnya ke Barat. Pokok pikiran Ibn Rusyd yang paling istimewa ialah merekonsiliasikan antara agama (wahyu) dan filsafat (akal) atau secara kasarnya mempertemukan antara Aristoteles dan Muhammad. Usaha rekonsiliasi ini dipandang ciri terpenting dalam filsafat Islam. Menurut Ibn Rusyd, filsafat adalah mempelajari segala yang wujud (maujudat) dan merenungkan sebagai suatu bukti tentang adanya Pencipta. Ibn Rusyd menjelaskan bahwa segala yang ada ini sebagai suatu ciptaan menujukkan adanya Penciptanya. Untuk mengetahui Pencipta tersebut harus mengetahui ciptaan atau sunatullah-Nya. Justru itulah menurut Ibn Rusyd semakin sempurna pengetahuan terhadap ciptaan-Nya niscaya semakin sempurna pula pengetahuan tentang Sang Pencipta. Menurut Ibn Rusyd antara filsafat dan agama tidak bertentangan, karena kebenaran tidaklah berlawanan dengan kebenaran tetapi saling memperkuat. Dengan kata lain, filsafat adalah saudara agama, anatar filsafat dengan agama seperti halnya sahabat yang pada hakikatnya saling mencintai.
Ibn Rusyd mengungkapkan, apabila penelitian akal menghasilkan pengetahuan tentang sesuatu, akan terjadi dua alternatif: sesuatu itu tidak disebut oleh agama atau sesuatu itu disebutkan oleh agama. Jika sesuatu itu tidak disebutkan oleh agama, tidak ada persoalan, dengan arti sesuatu yang dihasilkan itu dapat dijadikan pegangan. Hal ini kedudukannya sama dengan hukum yang tidak disebutkan dalam syara‟ sehingga ahli fiqh menggunakan kias syar‟i. Jika ahli fiqh menggunakan kias syar‟i, maka tidak ada salahnya filosof (ahl al-urhan) menggunakan kias akli. Justru itu tidak ada alasan untuk menuduh bid‟ah terhadap orang yang menggunakan kias akli karena sama kondisinya dengan orang yang menggunakan kias syar‟i. Sementara itu, penggunaan kias syar‟i ini dalam
26
masalah-masalah fiqh yang sudah dilakukan oleh ulama salaf sejak awal islam.
Jika sesuatu itu disebutkan oleh agama, terjaadi dua alternatif, yakni nashnya sesuai dengan hasil penelitian akal atau nashnya bertentangan dengan nash, nash mesti di takwilkan. Takwil ialah meninggalkan arti lafzi dari maknanya yang hakiki ke maknanya yang metaforik, tanpa melanggar kebiasaan bahasa Arab dalam memberikan metaforik, seperti mengataka sesuatu dengan serupanya, atau sebabnya, atau akibatnya, atau sesamanya atas lain yang tercakup dalam kaidah pemakaian makna metaforik. Menrurut Ibnu Rusyd, kalau ahli fiqh banyak melakukan hal ini dalam berbagai hukum agama, semestinya filosof lebih berhak melakukan hal yang serupa. Padahal ahli fiqh hanya melakukan kias zanny semata sedangkan filosof muslim melakukan kias yaqiny, yang lebih utama dari kias zanny.33
Di tangan Ibnu Rusyd, filsafat menjadi demikian menantang dan menarik minat banyak orang untuk mendalaminya. Paham rasional yang dikembangkannya menjadi titik terang bagi bangsa Eropa untuk meneropong persoalan peradaban dan keagamaan mereka. Kias rasional, takwil dan pengetahuan burhani merupakan bentuk tertinggi dalam pemikiran Muslim yang menjadikan peradaban Muslim unggul dan maju adalah tantangan secara diametreal bagi paham keagamaan Kristen yang terbelakang karena tertutup, otoriter dan dogmatis.
Disamping kelompok pengidola, ternyata paham filsafat Ibnu Rusyd juga mendapat penolakan bangsa Eropa yang datang dari kalangan gereja, seperti Keuskupan Paris “mengharamkan” kajian-kajian terhadap buku-buku Ibnu Rusyd di berbagai perguruan tinggi pada abad ke-13. Fakta-fakta diatas terkesan berlawanan, tetapi sebenarnya disanalah kekuatan pengaruh filsafat Ibnu Rusyd yang tidak habis dan henti-hentinya dibahas bangsa Eropa, secara sembunyi- sembunyi sekalipun. Karena itu sekali pun para Rahib dilarang mempelajari hal- hal yang berbau duniawi tetapi mereka tetap mengkaji dan mendiskusikan Ibnu Rusyd.
33 Zar Sirajuddin, 2014, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, hal. 252-256.
Dinamis dan semaraknya perkembangan ilmu pengetahuan ditangan umat Islam di Andalusia dan Sisilia akhirnya menarik minat orang-orang dari kalangan Yahudi dan Kristen untuk menuntut ilmu ke wilayah itu dan melakukan penerjemahan-penerjemahan atas seluruh karya-karya Aristoteles, seperti yang dilakukan St. Thomas Aquinas dengan meminta rekannya, William Moerbeke untuk melakukan penerjemahan tersebut. Setelah penerjemahan tersebut, tampak bahwa Ibnu Rusyd tidak melakukan kesalahan dalam intisari filsafat. Oleh kalangan Yahudi dan Nasrani, mereka mengenal Ibnu Rusyd sebagai sang pemberi penjelasan atau komentator filsafat Aristoteles. Dante dalam syairnya Divine Comedy, mengatakan Ibnu Rusyd sebagai komentator terbesar terhadap filsafat Aristoteles dimasanya. 34
Menurut Ibrahim Madkur, ada beberapa alasan yang menimbulkan perhatian barat terhadap terhadap pemikiran filsafat Ibnu Rusyd.35
1. Frederick II sebagai pencinta ilmu pengetahuan dan filsafat lebih banyak tertarik pada komentar-komentar Ibnu Rusyd terhadap Aristoteles.
Komentar tersebut diterjemahkan, kemudian tersebar luas di Eropa.
2. Orang-orang yahudi, penganut filsafat Ibnu Rusyd, berusaha menerjemahkan karya Ibnu Rusyd dalam bahasa-bahasa ibrani dan latin.
Kemudian mereka bertindak sebagai perantara filsafat Ibnu Rusyd dan filsafat barat (kristen).
3. Sebagai pengkaji filsafat memandang bahwa untuk memahami filsafat Aristoteles, sebaiknya membaca karya Ibnu Rusyd. oleh karena itu, menerjemahkan kembali karya-karya Ibnu Rusyd pada abad ke-16 ditujukan untuk lebih memahami Aristoteles daripada Ibnu Rusyd sendiri.
Pemikiran Ibnu Rusyd merembes ke Eropa melalui berbagai penerjemah dan penerbitan. Penerjemahan dilakukan oleh murid-muridnya yang datang dari berbagai pelosok Eropa dan oleh orang-orang yahudi. Disaat akhir hayatnya
34 http://3kh4.wordpress.com/2008/05/06/ibnu-rusyd-kritik-terhadap-al-ghazali-averroisme-dan- pengaruhnya-di-eropa/
35 Ibrahim Madkur, 1986, “ Falsafat dan Renaisans Eropa,” dalam sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Kebudayaan, Terj. Ahmad Tafsir, Bandung: Pustaka, hal. 136-137.
seorang Archbishop, Raimond I melakukan penerjemahan besar-besaran di Teledo sehingga Teledo menjadi pusat penerjemahan di Eropa. Di antara penerjemah lain yang terkenal ialah Michael Scot dari Scotlandia, Hermann dari Jerman, dan Clunimus ben Clunimus (yahudi),. Terjemahan ini diterbitkan berkali-kali di Venesia Napoli, Bologna, Paris, Lyons, Strasborg, dan Jenewa.36 Di samping itu buku-buku itu menjadi pelajaran wajib di pelbagai perguruan tinggi Eropa.37
Perlu dijelaskan bahwa pengaruh Ibnu Rusyd ke Eropa bukan secara langsung tetapi melalui murid-muridnya dari Eropa yang belajar ke Spanyol. Mereka ini dikenal dengan nama Averroisme. Menurut Philip K. Hitti, mulai dari akhir abad ke-12 sampai dengan akhir abad ke-16 Averroisme menjadi aliran pemikiran, yang dominan meskipun keberadaanya menimbulkan reaksi dari tokoh-tokoh agama (gerejawan) yang ortodoks. Sebelum Averroisme, Eropa kosong dengan ilmu pengetahuan, berfikir sempit dan tidak ada menghargai akal. Bagi mereka dikala itu satu-satunya sumber kebenaran adalah agama kristen (gerejawan) sehingga apa saja yang tidak sesuai dengan dogma kristen dianggap salah. Akan tetapi, setelah ajaran Averroisme berkembang di Eropa mulai menghargai akal.
Kendatipun Averroisme ini namanya dibangsakan kepada filosof muslim, Ibnu Rusyd namun ajaran keduanya terdapat perbedaan yang mendasar. Hal ini disebabkan oleh latar belakang agama yanng berbeda. Ibnu Rusyd dilatarbelakangi oleh ajaran islam yang rasional dan dinamis. Didalam islam ajaran islam yang dogmatis (qath‟i al-dalalah) amat sedikit jumlahnya. Adapun yang terbanyak ialah ajaran islam yang bersifat zhanny al-dalalah. Ia datang hanya dalam bentuk prinsip-prinsip pokok.
36 Poeradisastra, 1981, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan Modern, Jakarta:
Giramukti Pustaka, hal. 61.
37 Hasbullah Bakry, 1962, Di sekitar Filsafat Scholastik Islam, Solo: Ab Siti Syamsiah, hal. 89
B. Sebagai Filosof
Tidak di pungkiri bahwa filsafat Islam terpengaruh oleh filsafat Yunani, terutama pemikiran Aristoteles dan Plotinus. Sehingga banyak filosof-filosof muslim mengambil dan berguru kepada mereka. Akan tetapi berguru bukan berarti mengekor dan hanya mengutip saja, karena filsafat Islam telah banyak menampung dan mempertemukan berbagai sumber aliran pemikiran di samping itu para filosof muslim pada umumnya hidup dalam lingkungan dan suasana yang berbeda dari apa yang di alami oleh filosof-filosof lainnya dan oleh karena itu dunia Islam telah berhasil membentuk suatu filsafat yang sesuai dengan prinsip- prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam sendiri.
Ibnu Rusyd lebih dikenal dan berpengaruh besar di Eropa sebagai intelek yang telah menjembatani orang-orang Barat dalam mempelajari kembali filsafat Yunani secara orisinil setelah lama terkubur di abad pertengahan. Sehingga muncullah aufklarung (Renaissan) setelah lama terjadi kemandekan dan pergulatan. Di sini Ibnu Rusyd sebagai komentator terbesar karya Aristoteles banyak berperan. Pengaruh besar Ibnu Rusyd tidak lepas dari metode dan pendekatan yang dipakai dalam pemikiran filosofisnya. Ibnu Rusyd yang datang di tengah-tengah penguasaan dogma agama dan pertentangan besar agama (wahyu) dan filsafat (akal) merekonsiliasikan antara agama dan wahyu atau mempertemukan pertentangan tersebut dengan mengemukakan argumen-argumen yang dapat diterima akal dan kaum agamawan. Persamaan tujuan dalam pencarian kebenaran menjadi senjata dalam menemukan benang merah pertentangan agama dan filsafat. Sebagai agamawan Islam, Ibnu Rusyd dalam filsafatnya mengetengahkan justifikasi Alquran (agama) terhadap filsafat yang sebelumnya ditolak. Lewat penyatuan akal dan wahyu inilah pengaruh Ibnu Rusyd terus membesar. Menurut Ibrahim Madkur, ada beberapa alasan yang menyebabkan perhatian Barat terhadap filsafat Ibnu Rusyd demikian besar, yaitu; Ketertarikan Frederick II sebagai pecinta ilmu pengetahuan dan filsafat terhadap komentar- komentar Ibnu Rusyd akan filsafat Aristoteles dan bagaimana dia dapat menjaga
kemurniannya setelah tercampur dengan Platonisme. Ketertarikan ini mendorongnya untuk menerjemahkan dan menyebar luaskan pemikiran Ibnu Rusyd di Eropa. Selain itu, banyak orang-orang Yahudi penganut filsafat Ibnu Rusyd juga menerjemahkan pemikiran-pemikirannya. Dan sebagai komentator besar Arestoteles, banyak para pengkaji filsafat membaca karyanya demi mendapatkan keorisinilan pemikiran Arestoteles.38
Pengaruh besar Ibnu Rusyd di Eropa ditandai dengan lahirnya gerakan Averroisme yang menghidupkan dan mengembangkan pemikiran filosofis Ibnu Rusyd. Meskipun apa yang mereka kembangkan pada akhirnya jauh berbeda dengan pemikiran asli Ibnu Rusyd. Hal ini tidak lebih dikarenakan perbedaan latar belakang saja yang mempengaruhi pemikiran. Kelahiran aliran ini telah membuktikan pengaruh besar Ibnu Rusyd di Eropa. Meskipun banyak juga yang menentang pemikiran Ibnu Rusyd, seperti Thomas Aquinas, Raymond Lull, Albert the Great dan lainnya. Bahkan para gerejawan berusaha membendung pengaruh pemikiran rasional Averroisme dengan berbagai cara. Salah satu ancaman yang paling tragis adalah ancaman pembunuhan dan penjara.39
Ketika kita membaca sejarah Ibnu Rusyd, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih menonjol pada dirinya, yakni pemikirannya di bidang filsafat (estetika, logika, dan filsafat) yang hampir kita temukan di hampir semua karya- karya tulisannya. Menurutnya, nilai filsafat dan logika itu sangat penting, khususnya dalam menta‟wilkan dan menafsirkan Al-Quran sebagai kitab teks yang selalu membutuhkan artikulasi makna dan bukan artikulasi lafadz. Ibnu Rusyd melanjutkan, bahwa Islam sendiri tidak melarang orang untuk berfilsafat, bahkan Al-Quran sendirti dalam banyak ayat memerintahkan umatnya untuk mempelajari filsafat. Menurut Ibnu Rusyd, takwil (penafsiran) dan interprestasi teks dibutuhkan untuk menghindari adanya pertentangan antara pendapat akal dan filsafat serta teks Al-Quran. Ia memaparkan, takwil yang dimaksud di sini adalah
38 Sirajuddin Zar, 2004, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, hal. 255
39Abu Ahmadi, 1982, Filsafat Islam, Semarang: CV. Toha Putra, hal. 199-200.
meninggalkan arti harfiyah ayat dan mengambil arti majasinya (analogi) hal ini pula yang dilakukan oleh para ulama klasik periode awal dan pertengahan. Dalam kaitannya dengan kedudukan Al-Quran, Ibnu Rusyd membagi manusia menjadi tiga kelompok; awam, pendebat, dan ahli fikir. Untuk kelompok orang awam, Al- Quran tidak dapat ditakwilkan, karena mereka hanya bisa memahami secara tertulis. Demikian juga bagi kelompok pendebat, takwil sudah diterapkan. Takwil secara tertulis dalam bentuk karya, hanya bisa diperuntukkan bagi kelompok ahli fakir. 40
Dalam cara pandang itulah takwil atas teks secara benar dapat dilakukan dan dipahami oleh ahli fikir. Pemikiran Ibnu Rusyd ini kemudian dikenal dengan teori perpaduan agama dan filsafat. Sementara itu, menyangkut pemaknaan Al-Quran, Ibn Rusyd berpendapat bahwa A-Quran memiliki dua makna, makna batin dan makna lahir. Berkaitan dengan penciptaan alam, Ibnu Rusyd dengan menganut teori kasualitas (hukum sebab akibat), berpendapat bahwa memahami alam harus dengan dalil-dalil tertentu agar dapat sampai kepada hakekat daneksistensi alam.
Setidaknya ada tiga dalil untuk menjelaskan teori ini. Pertama, dalil inayah (pemeliharaan). Kedua, dalil ikhtira‟ (penciptaan). Ketiga dalil penggerak. Dalil inayah yakni dalil yang mengemukakan bahwa alam dan seluruh kejadian yang ada di dalamnya, seperti siang dan malam, matahari dan bulan, semuanya menunjukkan adanya penciptaan yang teratur dan rapi yang didasarkan atas ilmu dan kebijaksanaan. Dalil ini mendorong orang untuk melakukan penyelidikan dan penggalian yang terus menerus sesuai dengan pandangan akal pikirannya. Dalil ini pula yang akan membawa kepada pengetahuan yang benar sesuai dengan ketentuan dalam Al-Quran. Sedangkan dalil ikhtira‟ merupakan asumsi yang menunjukkan bahwa penciptaan alam dan makhluk di dalamnya tampak jelas dalam gejala-gejala yang dimiliki makluk hidup, semakin tinggi tingkatan makhluk hidup itu, semakin tinggi pula berbagai macam kegiatan dan pekerjaannya. Hal ini tidak terjadi secara kebetulan, sebab apabila terjadi secara kebetulan tentu saja tingkatan hidup ini tidak berbeda-beda. Inilah yang
40Ahmad Fuad al-Ahwani,1997, Filsafat Islam, Jakarta : Pustaka Firdaus, hal. 97
menunjukkan bahwa semuanya ada yang menciptakan dan mengaturnya. Dalil ini sesuai dengan syariat Islam, dimana banyak ayat yang menunjukkan perintah untuk memikirkan seluruh kejadian di alam ini. Adapun dalil yang ketiga yakni gerak atau disebut juga sebagai penggerak pertama diambil dari aristoteles. Dalil ini mengungkapkan bahwa alam semesta bergerak dengan sesuatu gerakan yang abadi, dan gerakan ini mengandung penggerak pertama yang tidak bergerak dan berbeda, yaitu Tuhan. Menurut Ibnu Rusyd, benda-benda langit beserta gerakannya dijadikan oleh Tuhan dari tiada dan bukan dalam zaman. Sebab zaman tidak cukup mendahului wujud perkara yang bergerak, selama zaman itu masih kita anggap sebagai ukuran gerakannya. Jadi gerakan menghendaki adanya penggerak pertama atau suatu sebab yang mengeluarkan dari tiada menjadi ada.
Substansinya yang lebih dahulu itu yang memberikan wujud kepada substansi yang kemudian tanpa memerlukan kepada pemberian form (Tuhan) yang ada di luarnya.41
Pemikiran Ibnu Rusyd memang sangat popular di Barat karena gagasan integrasi filsafat dan agmanya. Masalah agama dan falsafah atau wahyu dan akal adalah bukan hal yang baru dalam pemikiran islam, hasil pemikiran pemikiran islam tentang hal ini tidak diterima begitu saja oleh sebagian sarjana dan ulama islam. Ibnu Rusyd tampil membela keabsahan pemikiran yang membenarkan kesesuain ajaran agama dengan pemikiran falsafah. Menurut Ibnu Rusyd, Syara‟
tidak bertentangan bertentangan dengan filsafat, karena fisafat itu pada hakikatnya tidak lebih dari bernalar tentang alam empiris ini sebagai dalil adanya pencipta.
Dalam hal ini syara‟pun telah mewajibkan orang untuk mempergunakan akalnya, seperti yang jelas dalam firman Allah : “Apakah mereka tidak memikirkan (bernalar) tentang kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.” (Al-Araf: 185).
Pemikirannya tersebar luar di eropa dan banyak diterapkan di gereja gereja sehingga menjadi gerakan Averrois. Namun averroism tidaklah murni mengikuti
41Ahmad Hanafi,1996, Pengantar Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, hal. 122
ajaran Ibnu Rusyd tetapi telah tercampur dengan aristotelianisme radikal dan heterodok. Ide utamanya adalah: Filsafat dan wahyu. Dikenal dengan teori kebenaran ganda, keabdian alam, kesatuan akal manusia dan kebangkitan orang mati. Dari abad 13-16 Averroism terus berkembang menjadi tren pemikiran barat yang dominan, khususnya di Prancis. Selain dikritik, pemikiran Ibnu Rusyd Dalam rangka membela falsafat dan para filosof muslim dari serangan para ulama, terutama serangan dari al-Ghazali, Ibnu Rusyd antara lain menegaskan bahwa antara agama (Islam) dan falsafat tidak ada pertentangan.
Falsafat pada hakikatnya tidaklah lain dari berfikir tentang semua yang dijumpai untuk mengetahui pencipta/penyebab segala yang ada. Al-Qur‟an juga menyuruh manusia berfikir tentang alam yang tampak. ini dalam rangka mengetahui Tuhan.
Dengan demikian, sebenarnya AI-Quran menyuruh umat manusia untuk melakukan aktivitas falsafat dan dapat disimpulkan berdasarkan perintah al- Qur‟an itu bahwa kaum muslimin wajib melakukan aktivitas falsafat itu atau paling kurang dianjurkan berfalsafat atau mempelajari falsafat, dan bukan dilarang atau diharamkan.
Menurut Ibnu Rusyd, bila ada teks wahyu yang dalam arti lahiriahnya bertentangan dengan pendapat akal, maka teks wahyu itu haruslah ditakwilkan atau ditafsirkan sedemikian rupa sehingga menjadi sesuai dengan pendapat akal.
Dunia barat (Eropa) pantas berterima kasih pada Ibnu Rusyd. Sebab, melalui pemikiran dan karya-karyanyalah Eropa melek peradaban. “Suka atau tidak, filosofi Cordova dan mahagurunya, Ibnu Rusyd, telah menembus sampai ke Universitas Paris,” tulis Ernest Barker dalam The Legacy of Islam.
Apresiasi dunia barat yang demikian besar terhadap karya Rusyd,
“Averroisme merupakan faktor yang hidup dalam pemikiran Eropa sampai kelahiran ilmu pengetahuan eksperimental modern. Ibnu Rusyd adalah seorang rasionalis, dan menyatakan berhak menundukkan segala sesuatu kepada pertimbangan akal, kecuali dogma-dogma keimanan yang diwahyukan.Pemikiran pokok Ibnu Rusyd yang cenderung rasional dan menundukan segalanya kepada pertimbangan akal (kecuali dogma-dogma keimanan yang diwahyukan) ini
mempengaruhi dunia islam yang sekarang. Atas sumbangsih pemikiran rusyd, Islam berhasil dijadikan sebuah bentuk perlawanan terhadap aksi kelompok fundamental yang menebar terrorisme. Kemunculannya membuat Islam sebagai salah satu alternatif versi Islam yang berkembang masa kini dan tentu diminati banyak kalangan. Dialog-dialog keagamaan yang mengarah pada tatanan yang damai, toleran, dan berkeadilan merupakan indikasi bahwa sumbangsih pemikiran Ibnu Rusyd masih sangat berpengaruh sampai sekarang. Model islam secara moderat sebagai pilihan dan tuntutan terhadap islam untuk menjadi solusi bagi peradaban dunia dan umat manusia. Moderatisme juga dinilai paling kondusif di masa kini. Konsep “Islam moderat” merujuk pada makna ummatan wasathan (QS al-Baqarah [2]: 143). Kata wasath dalam ayat tersebut berarti khiyar (terbaik, paling sempurna) dan „adil (adil). Dengan demikian, makna ungkapan ummatan wasathan berarti umat terbaik dan adil dalam koridor syariah. Inilah yang membuat Islam pantas menjadi alternatif dan solusi. Dalam praktiknya, Islam moderat selalu mencari jalan tengah dalam menyelesaikan persoalan. “Perbedaan”
dalam bentuk apa pun dengan sesama umat beragama diselesaikan lewat kompromi yang menjunjung tinggi toleransi dan keadilan sehingga dapat diterima oleh kedua belah pihak. Melalui cara itu pula, masalah yang dihadapi dapat dipecahkan tanpa jalan kekerasan.42
1. Peranan Akal dalam Filsafatnya
Ibnu Rusyd merupakan seorang filsuf Islam yang mementingkan akal daripada perasaan. Ibnu Rusyd menegaskan bahwa logika harus dipakai sebagai dasar segala penilaian tentang kebenaran. Dalam mempelajari agama, orang harus belajar memikirkannya secara logika. Akan tetapi, di samping mementingkan logika sendiri dalam memecahkan masalah yang gaib dan aneh yang berhubungan dengan agama. Mengenai tujuan agama sendiri Ibnu Rusyd mrngatakan bahwa pokok tujuan syariat Islam yang sebenarnya ialah pengetahuan yang benar dan amal perbuatan yang benar (al-ilmuhaq wal-amalul-haq). Maksud Amal yang
42https://hendrasunandar.wordpress. com/2012/05/08/pemikiran-ibnu-rusyd-dan-pengaruhnya- hingga-masa-kini/
benar ialah mengerjakan dan menjauhkan pekerjaan-pekerjaan yang akan mengakibatkan penderitaan. Mengetahui tentang amal perbuatan seperti inilah yang dinamakannya ilmu yang praktis (al-ilmul-amaliah).43
Menurutnya semua persoalan agama harus dipecahkan dengan kekuatan akal.
Dalam hal ini termasuk ayat-ayat berkaitan erat dengan akal. Menurut Ibnu Rusyd, logika harus dipergunakan sebagai dasar semua penilaian terhadap kebenaran. Dalam mempelajari agama, orang harus belajar memikirkannya secara logika.Mengenai tujuan agama sendiri, Ibnu Rusyd mengatakan bahwa pokok tujuan syariat Islam yang sebenarnya ialah pengetahuan yang benar dan amal perbuatan yang benar.Mengenai pengetahuan, menurut Ibnu Rusyd maksudnya untuk mengetahui dan mengerti adanya Allah Ta‟ala serta segala alam yang tercipta ini pada hakikatnya yang sebenarnya apa maksud syari‟at itu, dan mengerti apa pula sebenarnya yang dikehendaki dengan pengertian kebahagiaan di akhirat (surga) dan kecelakaan di akhirat (neraka). Maksud amal yang benar ialah mengerjakan dan menjauhkan pekerjaan-pekerjaan yang akan mengakibatkan penderitaan. Mengetahui tentang amal perbuatan seperti inilah yang dinamakan ilmu yang praktis.44
C. Sebagai Dokter
Dalam bidang kedokteran Ibnu Rusyd memiliki sebuah kitab yang dibuat menjadi semacam ensiklopedia, al-Kulliyat fi ath-Thibb. Sebuah kitab yang berisi tujuh jilid buku dengan tema-tema yang berhubungan dengan anatomi, fisiologi, patologi umum, diagnosis, materia medika, kesehatan dan terapi umum. Sebuah karya yang dibuat dengan tujuan seperti yang dikatakan al-Jabiri untuk mensistemastisasi ilmu kedokteran di atas pondasi ilmu pengetahuan, terutama fisika.45 Kitab ini oleh orang-orang Kristen, di masa lalu dijadikan sebagai buku panduan, setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, di berbagai universitas.
43 Sudarsono, 2010, Filsafat Islam, Jakarta: Rineka Cipta, hal 97-98
44Poerwantana, dkk, 1991, Seluk Beluk Filsafat Islam, Bandung : Remaja Rosdakarya, hal. 201
45Zuhairi Misrawi, 2007, Ibnu Rusyd, Gerbang Pencerahan Timur dan Barat, Jakarta: P3M, hal.
158
Karya besar yang di tulis oleh Ibnu Rusyd adalah Kitab Kuliyah fith-Thibb (Encyclopaedia of Medicine) yang terdiri dari 16 jilid, yang pernah di terjemahkan kedalam bahasa Latin pada tahun 1255 oleh seorang Yahudi bernama Bonacosa, kemudian buku ini diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan nama “General Rules of Medicine” sebuah buku wajib di universitas-universitas di Eropa. Karya lainnya Mabadil Falsafah (pengantar ilmu falsafah), Taslul, Kasyful Adillah, Tahafatul Tahafut, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Tafsir Urjuza (menguraikan tentang pengobatan dan ilmu kalam), sedangkan dalam bidang musik Ibnu Rusyd telah menulis buku yang berjudul “De Anima Aristotles”
(Commentary on the Aristotles De Animo). Ibnu Rusyd telah berhasil menterjemahan buku-buku karya Aristoteles (384-322 SM) sehingga beliau dijuluki sebagai asy-Syarih (comentator) berkat Ibnu Rusyd-lah karya-karya Aristoteles dunia dapat menikmatinya. Selain itu beliaupun mengomentari buku- buku Plato (429-347 SM), Nicolaus, Al-Farabi (874-950), dan Ibnu Sina (980- 1037).46
Latar belakang keluarganya itulah yang sangat mempengaruhi proses pembentukan tingkat intelektualitas Ibnu Rusyd di kemudian hari. Ibnu Rusyd adalah seorang tokoh perintis ilmu jaringan tubuh (histology). Ibn Rusyd pun berjasa dalam bidang penelitian pembuluh darah dan penyakit cacar. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang dokter dan hakim agung, Ibnu Rusyd menyempatkan diri menulis. Ibn Rusyd menghasilkan lebih dari dua puluh buku kedokteran. Salah satunya adalah al-Kulliyyat fi al-Thibb, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin. Buku yang merupakan ikhtisar kedokteran yang terlengkap pada zamannya ini diterbitkan di Padua pada tahun 1255.
Sementara itu, salinannya dalam versi bahasa Inggris dikenal dengan judul General Rules of Medicine. Salinan tersebut sempat dicetak ulang sebanyak beberapa kali di Eropa. Para penulis sejarah mengungkapkan kedalaman pemahaman Ibnu Rusyd dalam bidang kedokteran dengan berkata, “Fatwanya
46https://khofif.wordpress.com/2010/04/29/pola-pemikiran-ibnu-rusyd-tentang-pendidikan-agama- islam-2/
dalam ilmu kedokteran dikagumi sebagaimana fatwanya dalam fikih. Semua itu disebabkan kedalaman filsafat dan ilmu kalamnya.”47
Disamping itu, Ibn Rusyd belajar ilmu kedokteran dari Abu Ja‟far Harun dan Abu Marwan ibn Jarbun al-Balansi. Ia juga mempelajari sastra Arab, matematika, fisika, dan astronomi. (Paul Edward, The Encyclopedia of Philosophy, vol 1 & 2 (New York: Macmilan, 1972), hal. 220). Di bidang kedokteran, Ibn Rusyd menulis kitab al-Kulliyat, Syarah al-Arjuzah al-Mansubah ila Ibn Sina fi al-Thib, Talkhis Kitab al-Mazaj li Jalinus, Talkhis Kitab al-Quwa al-Thabi‟iyah li Jalinus, Talkhis Kitab al-„Ilal wa A‟radl li Jalinus, dan Maqalah fi al-Mazaj.
Al-Kulliyat merupakan buku pertama yang ditulis Ibn Rusyd. Kitab tersebut sangat populer di Eropa dan diajarkan di universitas-universitas di kawasan tersebut. Tetapi dalam beberapa waktu, ia kalah dengan Qanun fi al-Thib-nya Ibn Sina. Padahal, al-Kulliyat, sesuai namanya, membahas secara komprehensif tentang kesehatan tubuh dan penyakit-penyakitnya. Di bidang ilmu alam, Ibn Rusyd menulis kitab al-Hayawan. ada tahun 1153 Ibn Rusyd pindah ke Maroko¸untuk memenuhi permintaan khalifah „Abd al-Mu‟min, khalifah pertama dinasti Muwahhidin. Ia meminta Ibn Rusyd untuk membantunya mengelola lembaga-lembaga ilmu pengetahuan yang didirikannya. (Abduh al-Syamâli, Dirasat fî Tarikh al-Falsafah al-„Arabiyah al-Islamiyah, hal. 645.) Selanjutnya pada tahun 1169 risalah pokok tentang medis, berjudul al-Risalah, telah diselesaikannya. Pada tahun ini ia dikenalkan kepada khalifah Abu Ya‟kub oleh Ibn Thufail. Hasil dari pertemuan itu Ibn Rusyd diangkat menjadi qadhi di Saville. Jabatan tersebut ia memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.48
47http://serunaihati.blogspot.com/2012/09/biografi-ibnu-rusyd-perintis-ilmu.html
48http://insistnet.com/ibn-rusyd-ilmuwan-haus-ilmu/