Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 1
IDENTITAS TEMPAT
PADA PARIWISATA
KABUPATEN KARO
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting i IDENTITAS TEMPAT PADA PARIWISATA KABUPATEN KARO
Hak cipta © 2016 dalam Bahasa Indonesia Editor : Tim Penulis
Setting : Fitri Sinaga Desain Cover : Fitri Sinaga
Cetakan Pertama, 2016
Penerbit : Magister Teknik Arsitektur Universitas Sumatera Utara ISBN : 978-602-73691-3-9
Hak Cipta © 2016
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak, memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, termasuk memfotokopi dan merekam tanpa izin tertulis dari penerbit.
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan buku Identitas tempat pada Pariwisata Kabupaten Karo. Buku
“Identitas tempat pada Pariwisata Kabupaten Karo” ini terbit sebagai hasil penelitian Unggulan Perguruan Tinggi.
Buku ini bertujuan untuk mengidentifikasi identitas tempat dikawasan wisata Kabupaten Karo, yang dapat bermanfaat bagi program pengembangan pariwisata daerah. Penelitian ini akan dilakukan selama dua tahun (2016- 2017) dengan menggunakan metode campuran. Pada tahun pertama dilakukan penelitian kualitatif dengan observasi dan penelitian kuantitatif dengan menyebarkan kuisioner di lima lokasi penelitian (Bukit Gundaling, Pasar Buah, Desa Lingga, Air Terjun Sipiso-piso, Bukit Kubu). Teori yang digunakan dalam menganalisa identitas tempat kawasan adalah daya tarik pengembangan pariwisata (Yoeti, 1996; Cooper et al, 2006) serta teori identitas tempat (Breakwell, 1986).
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung penyelesaian buku ini, terutama kepada ananda Fitri Sinaga dan Nindya Narisa. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung penyelesaian buku ini. Penulis berharap buku ini dapat menyumbangkan pengetahuan dan pemahaman baru bagi penggunanya. Meski demikian, penulis menyadari buku ini masih memiliki kekurangan dan kelemahan. Untuk itu, berbagai bentuk masukan, kritik, dan saran sangat diharapkan oleh penulis untuk demi perbaikan di masa mendatang. Demikanlah buku ini saya buat dan saya terbitkan, sebelum dan sesudahnya saya mengucapkan banyak terimakasih.
Medan, September 2016
Tim Penulis
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR BAGAN ... xi
BAB I ... 2
PENDAHULUAN ... 2
1. Latar Belakang ... 2
BAB II ... 5
PARIWISATA ... 5
2.1 Perkembangan Pariwisata Kabupaten Karo ... 5
2.2 Latar Belakang Pemilihan Objek Wisata di Kabupaten Karo ... 6
BAB III ... 12
PLACE IDENTITY ( IDENTITAS TEMPAT ) ... 12
3.1 Apakah itu identitas tempat ? ... 12
3.2 Prinsip pembentuk identitas suatu tempat ? ... 12
3.3 Penataan Kawasan berdasarkan Identitas tempat ... 22
BAB IV ... 34
DISTINCTIVENESS... 34
4.1 Landmark ... 34
4.2 Ciri Khas ... 42
4.3 Keunikan ... 47
4.4 Persepsi Yang Berbeda ... 52
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting iv
Bab V ... 59
CONTINUITY ... 59
5.1 Pengalaman ... 60
5.2 Nilai-nilai ... 64
5.3 Keakraban ... 70
BAB VI ... 81
SELF ESTEEM ... 81
6.1 Evaluasi ... 81
6.2 Kebanggaan ... 87
6.3 Rasa terikat dan memiliki ... 91
6.4 Komitmen ... 96
BAB VII ... 104
SELF EFFICACY... 104
7.1 Percaya Diri ... 104
7.2 Kenyamanan ... 109
7.3 Keamanan ... 116
7. 4 Kemudahan Aksesibilitas ... 120
BAB VIII ... 127
PENUTUP ... 127
DAFTAR PUSTAKA ... 134
TENTANG PENULIS ... 138
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting v
DAFTAR GAMBAR
BAB II
Gambar 2. 1. Peta Kabupaten Karo ... 5
Gambar 2. 2. Key Plan Lokasi Wisata Kabupaten Karo ... 7
Gambar 2.3. Air Terjun Sipiso-piso ... 7
Gambar 2.4. Desa Lingga ... 8
Gambar 2.5. Pasar Buah ... 9
BAB IV
Gambar 4.1 Rekreasi Naik Delman di Pasar Buah dan Rekreasi Berkuda di Pasar Buah ... 35Gambar 4.2 Akses masuk Bukit Gundaling ... 37
Gambar 4.3Transportasi Umum diDesa Lingga... 40
Gambar 4.4 Produk yang ditawarkan diBukit Gundaling... 43
Gambar 4.5 Rumah Adat Desa Lingga: (a) Rumah Gerga ; (b) Rumah Belang Ayo ; (c) Griten; (d) Sapo Ganjang Sama ... 45
Gambar 4.6 Gaya Arsitektur Bangunan diBukit Kubu ... 46
Gambar 4.7 Produk yang dijual diPasar Buah ... 48
Gambar 4.8 Produk Yang ditawarkan diAir Terjun Sipiso-piso ... 49
Gambar 4.9 Kerajinan Tradisional Khas Desa Lingga ... 50
Gambar 4.10 View Air Terjun Sipiso-piso ... 56
BAB V
Gambar 5.2 Kegiatan Menunggangi Kuda diBukit Gundaling ... 66Gambar 5.3 Pemandangan Gunung Sinabung dan Kota Berastagi dari Bukit Gundaling ... 67
Gambar 5.4 Panorama Bukit Kubu ... 76
Gambar 5.5 Penginapan diBukit Kubu ... 78
BAB VI
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting vi
Gambar 6.1Toilet Umum dan Pusat Informasi diPasar Buah ... 82
Gambar 6.2Toilet Umum dan Restoran diBukit Gundaling ... 83
Gambar 6.3 Pusat Informasi dan Toilet di Air Terjun Sipiso-piso ... 84
Gambar 6.4 Toilet dan Tempat Makan diDesa Lingga ... 85
Gambar 6.5 Toilet dan Pusat Informasi Bukit Kubu ... 87
BAB VII
Gambar 7.1Tempat duduk dan Tempat Sampah diPasar Buah ... 110Gambar 7.2 Tempat duduk dan Tempat Sampah diBukit Gundaling ... 112
Gambar 7.3 Tempat Sampah dan Tempat duduk diAir Terjun Sipiso-piso ... 113
Gambar 7.4 Tempat duduk dan Tempat Sampah diBukit Kubu ... 115
Gambar 7.5 Jalur Pejalan Kaki Air Terjun Sipiso-piso ... 122
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting vii
DAFTAR TABEL
BAB III
Tabel 3.1 Kerangka Teori Continuity ... 15
Tabel 3.2 Kerangka Teori Self Esteem ... 19
Tabel 3.3 Kerangka Teori Self Efficacy... 21
Tabel 3.4 Kerangka Teori Distinctiveness ... 22
Tabel 3.5 Variabel Identitas Tempat ... 25
Tabel 3.6 Ukuran Sampel pada Tingkat Signifikan (s) 1%, 5% dan 10% ... 26
Tabel 3.7. Indikator yang di observasi ... 27
Tabel 3.8 Pertanyaan Depth Interview ... 28
Tabel 3.9 Variabel Pernyataan Kuesioner... 32
BAB IV
Tabel 4.1 Landmark Pasar Buah ... 35Tabel 4.2 Landmark Bukit Gundaling ... 36
Tabel 4.3 Landmark Air Terjun Sipiso-piso ... 38
Tabel 4.4 Landmark Desa Lingga ... 39
Tabel 4.5 Landmark Bukit Kubu ... 41
Tabel 4.6 Ciri Khas Pasar Buah ... 43
Tabel 4.7 Ciri Khas Bukit Gundaling ... 44
Tabel 4. 8 Ciri Khas Air Terjun Sipiso-piso ... 45
Tabel 4.9 Ciri Khas Desa Lingga ... 46
Taabel 4.10 Ciri Khas Bukit Kubu ... 47
Tabel 4.11 Keunikan Pasar Buah ... 48
Tabel 4.12 Keunikan Bukit Gundaling ... 49
Tabel 4.13 Keunikan Air Terjun Sipiso-piso ... 50
Tabel 4.14 Keunikan Desa Lingga ... 51
Tabel 4.15 Keunikan Bukit Kubu ... 52
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting viii
Tabel 4.16 Persepsi Yang Berbeda Pasar Buah ... 53
Tabel 4.17 Persepsi Yang Berbeda Bukit Gundaling ... 53
Tabel 4.18 Persepsi Yang Berbeda Air Terjun Sipiso-piso ... 54
Tabel 4.19 Persepsi Yang Berbeda Desa Lingga ... 54
Tabel 4.20 Persepsi Yang Berbeda Bukit Kubu ... 55
Tabel 4.21 Kesimpulan Aspek Distinctiveness di Kawasan Kajian ... 57
BAB V
Tabel 5.1 Pengalaman Pasar Buah ... 61Tabel 5.2 Pengalaman Bukit Gundaling ... 62
Tabel 5.3 Pengalaman Air Terjun Sipiso-piso ... 62
Tabel 5.4 Pengalaman Desa Lingga ... 63
Tabel 5.5 Pengalaman Bukit Kubu ... 64
Tabel 5.6 Nilai-nilai Pasar Buah ... 65
Tabel 5.7 Nilai-nilai Bukit Gundaling ... 66
Tabel 5.8 Nilai-nilai Air Terjun Sipiso-piso ... 67
Tabel 5.9 Nilai-nilai Desa Lingga ... 69
Tabel 5.10 Nilai-nilai Bukit Kubu ... 70
Tabel 5.11 Nilai-nilai Pasar Buah ... 71
Tabel 5.12 Keakraban Bukit Gundaling ... 72
Tabel 5.13 Keakraban Air Terjun Sipiso-piso ... 73
Tabel 5.14 Keakraban Desa Lingga ... 74
Tabel 5.15 Keakraban Bukit Kubu ... 75
Tabel 5.16 Kesimpulan Aspek Continuity Di Kawasan Kajian ... 76
BAB VI
Tabel 6.1 Percaya Diri Pasar Buah ... 82Tabel 6.2 Percaya Diri Bukit Gundaling ... 83
Tabel 6.3 Percaya Diri Air Terjun Sipiso-piso ... 84
Tabel 6.4 Percaya Diri Desa Lingga ... 86
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting ix
Tabel 6.5 Percaya Diri Bukit Kubu ... 86
Tabel 6.6 Kenyamanan Pasar Buah ... 88
Tabel 6.7 Kenyamanan Bukit Gundaling... 89
Tabel 6.8 Kenyamanan Air Terjun Sipiso-piso... 89
Tabel 6.9 Kenyamanan Desa Lingga ... 90
Tabel 6.10 Kenyamanan Bukit Kubu ... 91
Tabel 6.11 Keamanan Pasar Buah ... 92
Tabel 6.12 Keamanan Bukit Gundaling ... 93
Tabel 6.13 Keamanan Air Terjun Sipiso-piso ... 94
Tabel 6.14 Keamanan Desa Lingga ... 95
Tabel 6.15 Keamanan Bukit Kubu ... 96
Tabel 6.16 Kemudahan Aksesibikitas Pasar Buah ... 97
Tabel 6.17 Kemudahan Aksesibikitas Bukit Gundaling ... 98
Tabel 6.18 Kemudahan Aksesibikitas Air Terjun Sipiso-piso ... 98
Tabel 6.19 Kemudahan Aksesibikitas Desa Linggga ... 99
Tabel 6.20 Kemudahan Aksesibikitas Bukit Kubu ... 100
Tabel 6.21Kesimpulan Aspek Self Esteem DiKawasan Kajian ... 100
BAB VII
Tabel 7.1 Evaluasi Pasar Buah ... 105Tabel 7.2 Evaluasi Bukit Gundaling ... 106
Tabel 7.3 Evaluasi Air Terjun Sipiso-piso ... 106
Tabel 7.4 Evaluasi Desa Lingga ... 107
Tabel 7.5 Evaluasi Bukit Kubu ... 109
Tabel 7.6 Kebanggaan Pasar Buah ... 110
Tabel 7.7 Kebanggaan Bukit Gundaling ... 111
Tabel 7.8 Kebanggaan Air Terjun Sipiso-piso ... 113
Tabel 7.9 Kebanggaan Desa Lingga ... 114
Tabel 7.10 Kebanggaan Bukit Kubu ... 115
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting x
Tabel 7.11 Rasa Terikat dan Memiliki Pasar Buah ... 116
Tabel 7.12 Rasa Terikat dan Memiliki Bukit Gundaling ... 117
Tabel 7.13 Rasa Terikat dan Memiliki Air Terjun Sipiso-piso ... 118
Tabel 7.14 Rasa Terikat dan Memiliki Desa Lingga ... 119
Tabel 7.15 Rasa Terikat dan Memiliki Bukit Kubu ... 119
Tabel 7.16 Komitmen Pasar Buah ... 120
Tabel 7.17 Komitmen Bukit Gundaling ... 121
Tabel 7.18 Komitmen Air Terjun Sipiso-piso ... 122
Tabel 7.19 Komitmen Desa Lingga ... 123
Tabel 7.20 Komitmen Bukit Kubu... 123
Tabel 7. 21 Kesimpulan Aspek Self Efficacy ... 125
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting xi
DAFTAR BAGAN
Bagan 3.1 Kerangka Penelitian ... 23 Bagan 3.2 Kerangka Analisa Penelitian ... 24
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 1
Bab 1
PENDAHULUAN
P
ariwisata berpotensi bagi kemajuan suatu negara atau kota di kancah nasional maupun internasional. Keadaan ini telah mendorong banyak pihak untuk mengembangkan dan memajukan sektor pariwisata dimasing-masing daerah. Pariwisata merupakan salah satu industri yang paling cepat berkembang (Ramchurjee, 2013) dan mampu meningkatkan perekonomian suatu daerah (Farid, 2015). Selain itu, pariwisata merupakan aspek pembangunan pada suatu daerah atau negara yang dapat menghasilkan devisa dan berdampak besar pada lingkungan serta pada cara hidup masyarakat setempat (Hadinoto ,1996:27 ; Ashworth, 2011 ).Rumah adat Karo Desa Lingga - Sumber : Dokumen pribadi
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 2
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pertumbuhan pariwisata tergolong cepat dan signifikan menjadikannya salah satu sumber devisa terbesar bagi suatu negara (Binns & Nel, 2002; UNWTO, 2012;
Ginting, 2008; Ginting, 2013). Tidak heran jika pariwisata berpotensi bagi kemajuan suatu negara atau kota di kancah nasional maupun internasional. Keadaan ini telah mendorong banyak pihak untuk mengembangkan dan memajukan sektor pariwisata.
Salah satu upaya ini tampak dalam sembilan agenda prioritas pada masa pemerintahan Jokowi-JK yang dinamakan Nawa Cita. Dalam agenda ini disebutkan bahwa Pariwisata termasuk dalam sektor yang berpotensi meningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, namun belum tergarap dengan baik. Pemanfaatan sektor ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat dan daya saing di pasar internasional.
Pentingnya pengelolaan sektor pariwisata ini juga menjadi salah satu visi Universitas Sumatera Utara. Dalam Rencana Strategis 2015-2019, salah satu bidang unggulan yang masuk dalam tujuh bidang kekhususan utama – Tropical Science and Medicine, Agroindustry, Local Wisdom, Energy (Sustainable), Natural resources (biodiversity, forest, marine, mine, tourism), Technology (appropriate), Arts (ethnic) (disingkat TALENTA) – adalah Nature Resources, yang mencakup sektor pariwisata.
Provinsi Sumatera Utara adalah salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata yang besar. Letaknya yang strategis dan berdekatan dengan beberapa negara ASEAN membuat provinsi ini turut diperhitungkan dalam kepariwisataan nasional (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara, 2011).
Pariwisata di Provinsi Sumatra Utara cukup menggambarkan pesona Indonesia yang dikenal akan keindahan alamnya, dimana pariwisata alam menjadi jenis pariwisata yang paling populer di beberapa kota di provinsi ini. Selain potensi alam, keberagaman etnis yang tinggal di wilayah ini juga membuatnya kaya akan budaya.
Kabupaten Karo adalah bagian dari Provinsi Sumatra Utara yang memiliki destinasi-destinasi wisata dengan kekayaan alam dan budaya. Beberapa destinasi wisata yang ada di Kabupaten Karo adalah Gundaling, Gunung Sibayak, Gunung Sinabung, Air Terjun Sipiso-piso, Taman Simalem, Tongging, dan Desa Lingga (Bangkaru, 2001; Dinas Pariwisata Sumut, 2001; North Sumatera Culture and
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 3 Tourism Office, 2011; www.pariwisatasumut.go.id). Selain kaya akan alam dan budaya, Kabupaten Karo yang terletak di wilayah dataran tinggi juga terkenal akan hasil alamnya, seperti buah dan sayur, yang dapat dibeli masyarakat dan wisatawan di Pasar Buah (North Sumatera Culture and Tourism Office, 2011). Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kekayaan ini memang menjadi potensi besar yang belum tergarap dengan baik, sesuai yang disampaikan di dalam Nawa Cita. Salah satu bukti kurangnya pengelolaan ini adalah penataan dan pemeliharaan objek-objek wisata yang kurang dikelola dengan baik sehingga belum bisa dinikmati oleh wisatawan secara optimal. Padahal wisatawan hanya akan mengunjungi suatu destinasi wisata jika ada sesuatu yang ditawarkan untuk dinikmati di tempat itu (Mohamed & Omar, 2008).
Dalam Rencana Strategis 2015-2019 pula, Universitas Sumatera Utara menargetkan suatu capaian untuk menjadi universitas berstandar internasional yang bercirikan kearifan lokal (local wisdom). Usaha pengembangan terhadap ketujuh bidang ilmu khusus yang diajukan, termasuk didalamnya pariwisata, haruslah mampu mewujudkan identitas lokal wilayahnya. Konsep identitas tempat dinilai menjadi jalan keluar yang tepat dalam usaha pengembangan ini. Hal ini karena identitas suatu kawasan atau tempat diperlukan untuk membedakan tempat tersebut dengan tempat lainnya. Identitas tempat itu sendiri dapat terbangun jika manusia yang berada di tempat itu telah memiliki persepsi positif tentang tempat itu dan memiliki jalinan hubungan atau keterikatan dengan tempat tersebut (Twigger-Ross &
Uzzell, 1996). Dengan demikian, penataan berbasis identitas tempat diharapkan akan menambah lengkap packaging dalam sektor pariwisata di kawasan tersebut.
Identitas tempat pada Pariwisata Kabupaten Karo, merupakan salah satu langkah nyata yang sejalan dengan Rencana Strategis Universitas Sumatera Utara.
Pengembangan Pariwisata dan Perwujudan lokal wisdom merupakan tujuan dilakukannya Identitas Tempat pada Pariwisata Kabupaten Karo.
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 4
Bab 2
PARIWISATA
I
ndonesia memiliki banyak daerah yang mempunyai keindahan alam dan budaya, sehingga Indonesia juga memilik beragam adat dan tradisi yang berbeda- beda. Banyaknya wisatawan yang berkunjung keIndonesia menggunakan banyak fasilitas tempat juga jasa, tetapi tidak banyak tempat yang di buat khusus untuk dapat memenuhi kebutuhan dari wisatawan (Ashworth & J. Page, 2011). Ragam kebudayaan yang ada merupakan pariwisata warisan dengan ciri khas yang berbeda di setiap daerahnya. Kekhasan yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lain adalah daya tarik utama bagi wisatawan untuk berkunjung (Ginting dan Wahid, 2015).Pemandangan dari Bukit Gundaling - Sumber : Dokumen pribadi
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 5
BAB II PARIWISATA
2.1 Perkembangan Pariwisata Kabupaten Karo
Kabupaten Karo merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Utara yang memiliki destinasi wisata dengan kekayaan alam dan budaya. Beberapa destinasi wisata yang ada di Kabupaten Karo adalah Gundaling, Gunung Sibayak, Gunung Sinabung, Air Terjun Sipiso-piso, Taman Simalem, Tongging, dan Desa Lingga (Bangkaru, 2001; Dinas Pariwisata Sumut, 2001; North Sumatera Culture and Tourism Office, 2011; www.pariwisatasumut.go.id). Selain kaya akan alam dan budaya, Kabupaten Karo yang terletak di wilayah dataran tinggi yang juga terkenal akan hasil alamnya, seperti buah dan sayur, yang dapat dibeli masyarakat dan wisatawan di Pasar Buah (North Sumatera Culture and Tourism Office, 2011).
Gambar 2. 1. Peta Kabupaten Karo
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kekayaan ini memang menjadi potensi besar yang belum tergarap dengan baik, sesuai yang disampaikan di dalam Nawa
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 6 Cita. Salah satu bukti kurangnya pengelolaan ini adalah penataan dan pemeliharaan objek-objek wisata yang kurang dikelola dengan baik sehingga belum bisa dinikmati oleh wisatawan secara optimal. Padahal wisatawan hanya akan mengunjungi suatu destinasi wisata jika ada sesuatu yang ditawarkan untuk dinikmati di tempat itu (Mohamed & Omar, 2008).
Di kawasan Kabupaten Karo sendiri, potensi pariwisata yang sudah dikenal luas dalam masyarakat adalah pariwisata alam dan budaya (Jurnal Asia, edisi 02 September 2013). Website Pemerintah Daerah Kabupaten Karo mencantumkan berbagai tujuan wisata yang ada di daerah ini, diantaranya Air Terjun Sipiso-piso, Gunung Sibayak, Gunung Sinabung, Tongging, Bukit Gundaling, Danau Lau Kawar, Air Panas Lau Debuk-debuk, Taman Hutan Raya Bukit Barisan, Gunung Sipiso-piso, Desa Budaya Lingga, Penatapan Doulu, Pasar Buah Kota Berastagi, dan banyak lagi destinasi wisata lainnya. Selain itu, Kabupaten Karo juga kaya dengan peninggalan budaya seperti upacara dan tarian tradisional yang masih berlangsung hingga sekarang. Hal ini membuatnya layak disebut sebagai destinasi wisata alam dan budaya.
2.2 Latar Belakang Pemilihan Objek Wisata di Kabupaten Karo
Lokasi Objek Wisata di Kabupaten Karo diantaranya adalah : Bukit Gundaling, Pasar Buah, Desa Lingga, Air Terjun Sipiso-piso dan Bukit Kubu. Kelima lokasi tersebut dipilih karena dinilai sebagai destinasi wisata yang paling dikenal dan diminati masyarakat lokal serta wisatawan. Bukit Gundaling merupakan dataran tertinggi di wilayah tinggi di Karo setelah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak.
Disini wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi atau menaiki jasa tunggang kuda dan delman yang ada di dalam kawasan wisata Gundaling. Di kawasan ini terdapat pula toko-toko yang menjual cinderamata khas. Pasar Buah dipilih dalam lokasi penyebaran kuisioner karena menjadi tempat dimana masyarakat dan wisatawan dapat membeli langsung berbagai hasil kebun masyarakat lokal. Lokasi ketiga yaitu Desa Lingga merupakan desa bersejarah yang memiliki rumah adat yang masih berdiri kokoh meski sudah berusia sekitar 250 tahun. Sementara itu, Air Terjun Sipiso-piso merupakan salah satu destinasi wisata alam yang tidak akan dilewatkan wisatawan yang datang ke Kabupaten Karo. Lokasi terakhir adalah Bukit Kubu, yakni sebuah destinasi wisata artificial berbentuk ruang terbuka hijau menjadi daya tarik lain dalam kepariwisataan Kabupaten Karo.
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 7
Gambar 2. 2. Key Plan Lokasi Wisata Kabupaten Karo
a. Air Terjun Sipiso-piso
Air Terjun Sipiso-piso Terletak tidak jauh dari permukiman masyarakat Desa Tongging, Kecamatan Merek. Hanya terpisah jarak sejauh 35 km Berastagi, Kabupaten Karo dan hanya memerlukan sekitar 45 menit dari Kota Medan. Air Terjun Sipiso-piso terletak di perbukitan yang lebih tinggi dari Desa Tongging. Air terjun ini berada di ketinggian lebih kurang 800 meter dari permukaan laut (dpl) dan dikelilingi oleh bukit yang hijau karena ditumbuhi hutan pinus. Lokasi Wisata Air terjun Sipiso-piso, sering digunakan sebagai tempat pertunjukan kesenian, seperti pertunjukan Band musik.
Gambar 2.3. Air Terjun Sipiso-piso
b. Desa Lingga
Lingga merupakan perkampungan Batak Karo yang memiliki rumah-rumah adat yang diperkirakan berumur 250 tahun dengan kondisi yang masih kokoh.
Air Terjun Sipiso-piso Desa Lingga Pasar Buah Bukit Kubu Bukit Gundaling
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 8 Kampung Lingga terletak di ketinggian sekitar 1.200 m dari permukaan laut, ± 15 km dari Brastagi. Kampung Lingga memiliki bangunan tradisional seperti: rumah adat, jambur, geriten, lesung, sapo page dan museum karo. Karena keberagaman peninggalan sejarah dan budaya yang terdapat di daerah tersebut, hal itu menjadikan Kampung Lingga termasuk dalam potensi wisata budaya di Kabupaten Karo.
Gambar 2.4. Desa Lingga
c. Pasar Buah
Pasar Buah adalah tempat yang wajib dikunjungi oleh wisatawan jika berkunjung ke Kabupaten Karo. Wisatawan dapat menemukan buah-buahan dan sayuran segar di pasar ini. Salah satu buah-buahan khas Berastagi yang populer dibeli oleh wisatawan, yakni buah jeruk dan markisa. Lokasi Pasar Buah, tidak jauh dari Pusat Kota Berastagi, pasar ini sangat menarik dikunjungi oleh para wisatawan, karena tempat ini selalu berlangsung transaksi jual beli, hasil pertanian dari petani langsung kepada pembeli. DiLokasi Pasar Buah terdapat Taman Mejuah-juah Berastagi, taman ini berlokasi diKota Berastagi dengan luas sekitar 6 Ha. Tempat ini ditumbuhi oleh tanaman dan bunga-bunga yang indah, taman ini sering digunakan masyarakat untuk merayakan festival Buah, maupun festival Danau Toba, dan juga untuk berekreasi.
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 9
Gambar 2.5. Pasar Buah
d. Bukit Kubu
Jarak tempuh ke Bukit Kubu hampir 70 km dari Kota Medan menuju Kota Berastagi Bukit yang menyerupai lapangan sepakbola dengan lahan kurang lebih 5 Hektare merupakan salah satu tujuan favorit para wisatawan lokal maupun luar jika ingin berkunjung ke Kota Berastagi. Selain karena pemandangan nya yang asri dan udaranya yang sejuk, tempat ini juga menjadi tempat rekreasi keluarga karena biayanya yang sangat terjangkau.
Gambar 2.6. Bukit Kubu
e. Bukit Gundaling
Bukit Gundaling memiliki jarak ± 3 km dari Brastagi atau ± 66 km dari Medan. Bukit ini memiliki ketinggian 1.575 dari permukaan laut. Karena keindahan panorama alam yang dapat dinikmati dari Bukit Gundaling, menjadikan Bukit
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 10 Gundaling termasuk dalam potensi wisata alam di Kabupaten Karo. Bukit ini ditumbuhi oleh pohon kayu dan bunga-bungaan yang sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda, yang merupakan tempat rekreasi bagi wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Dari puncak Gunung bukit ini akan terlihat panorama kota Berastagi, Gunung Sibayak dan juga Gunung Sinabung.
Gambar 2.7 Bukit Gundaling
Dalam Rencana Strategis 2015-2019 pula, Universitas Sumatera Utara menargetkan suatu capaian untuk menjadi universitas berstandar internasional yang bercirikan kearifan lokal (local wisdom). Usaha pengembangan terhadap ketujuh bidang ilmu khusus yang diajukan, termasuk didalamnya pariwisata, haruslah mampu mewujudkan identitas lokal wilayahnya. Konsep identitas tempat dinilai menjadi jalan keluar yang tepat dalam usaha pengembangan ini. Hal ini karena identitas tempat suatu kawasan atau tempat diperlukan untuk membedakan tempat tersebut dengan tempat lainnya. Identitas tempat itu sendiri dapat terbangun jika manusia yang berada di tempat itu telah memiliki persepsi positif tentang tempat itu dan memiliki jalinan hubungan atau keterikatan dengan tempat tersebut (Twigger- Ross & Uzzell, 1996). Dengan demikian, penataan berbasis identitas tempat diharapkan akan menambah lengkap packaging dalam sektor pariwisata di kawasan tersebut.
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 11
Bab 3
IDENTITAS TEMPAT
S
uatu daerah tentu memiliki karakter tempat yang berbeda dengan tempat lainya, yang menjadi identitas dari tempat tersebut. Identitas tempat dipengaruhi oleh empat faktor yaitu, continuity, distinctiveness, self-esteem dan self-efficacy (Twigger- Ross & Uzzel, 1996). Identitas tempat dapat terbangun jika manusia yang berada di tempat itu telah memiliki persepsi positif tentang tempat itu dan memiliki jalinan hubungan atau keterikatan dengan tempat itu (Twigger-Ross & Uzzell, 1996). Dalam konteks psikologi sosial, Breakwell (1986, 1993 dan dikembangkan lebih lanjut oleh Twigger-Ross dan Uzzel, 1996) menguraikan 4 prinsip pembentuk identitas suatu tempat yaitu: continuity, self-esteem, self-efficacy, distinctiveness.
Bukit Gundaling
Desa Lingga Air Terjun Sipiso-piso
Bukit Kubu
Bukit Kubu – Sumber : Dokumen Pribadi
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 12
BAB III PLACE IDENTITY ( IDENTITAS TEMPAT )
3.1 Apakah itu identitas tempat ?
Terdapat tiga unsur utama dari suatu tempat, yaitu bentuk fisik, aktivitas dan makna (Punter, 1991; Montgomery, 1998; Gieryn, 2000). Ciri suatu tempat yang memiliki makna serta nilai dapat berupa ciri khas budaya, dimana apabila suatu ruang fisik bersatu dengan ciri-ciri budaya maka akan membentuk persepsi (Bott et al, 2003). Tuan (1977) menyatakan bahwa tempat merupakan suatu ruang yang mempunyai makna dan membentuk pengalaman hidup. Apabila ruang telah dianggap penting, maka ruang itu dapat berubah menjadi tempat (Relph, 1976).
Teori identitas tempat merupakan hasil respons manusia terhadap perubahan lingkungan fisik untuk mempertahankan hubungan diri dengan perubahan yang terjadi dalam alam sekitar (Bonaiuto, Breakwell, & Cano, 1996, Gustafson, 2001).
Relph (1976) menyimpulkan bahwa identias suatu tempat adalah kesamaan yang berkesinambungan dan perpaduan yang membuat sebuah tempat dapat dibedakan dari tempat lainnya. Identitas tempat dapat terbangun jika manusia yang berada di tempat itu telah memiliki persepsi positif tentang tempat itu dan memiliki jalinan hubungan atau keterikatan dengan tempat itu (Twigger-Ross & Uzzell, 1996). Dalam konteks psikologi sosial, Breakwell (1986, 1993 dan dikembangkan lebih lanjut oleh Twigger-Ross dan Uzzel, 1996) menguraikan 4 prinsip pembentuk identitas suatu tempat yaitu: continuity, self-esteem, self-efficacy, distinctiveness. Keempat aspek identitas tempat ini harus seimbang untuk mendukung identitas suatu tempat (Breakwell, 1994). Dengan adanya identitas, semakin jelas perbedaan antara hal yang satu terhadap yang lainnya sehingga dapat dihayati oleh pengunjung (Urry, 1994).
3.2 Prinsip pembentuk identitas suatu tempat ?
Ada empat Prinsip pembentuk identitas suatu tempat yaitu : Continuity, self-esteem, self-effiacy, dan distinctiveness.
3.2.1. Continuity
Continuity merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan daripada proses pembentukan identitas tempat; karena ada unsur waktu didalamnya dimana karakter fisik sebuah tempat bukan hal yang penting tetapi lebih kepada nilai-nilai yang
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 13 terkandung didalamnya; kestabilan nilai-nilai yang dianut seseorang dan keterhubungan kenangan seseorang (memori, nostalgia, pengalaman. dimana terdapat karakter fisik tempat, namun lebih mengarah terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, kemantapan nilai yang dianut dan keterhubungan seseorang terhadap kenangan (Ginting & Wahid, 2015)
1.the ”place-referent continuity”, yaitu apabila tempat (place) bertindak sebagai acuan masa lalu dan tindakan, sehingga menghasilkan hubungan antara identitas masa lalu dengan identitas masa kini. Dikatakan demikian, hal tersebut berkaitan dengan tindakan dan persepsi yang terjadi pada suatu tempat akan menjadi identitas bagi tempat tersebut dan akan berkelanjutan dimasa yang akan datang, meski tindakan dan persepsi yang terjadi dimasa yang akan datang terhadap tempat tersebut telah berubah, hal tersebut menjadikan tempat sebagai titik acuan.
2. the ”place-congruent continuity”, yaitu ketidak serasian antara lingkungan dan keinginan, serta nilai-nilai masyarakat setempat. Adanya ketidak serasian antara tindakan dan persepsi yang terjadi terhadap lingkungan, hal tersebut akan berkelanjutan hingga masa yang akan datang.
Gabriel (2000) dan McMurray & Pullen (2008) menyatakan bahwa pengalaman masyarakat di masa lalu kembali teringat akan adanya simbol atau objek, seperti bangunan bersejarah. Menurut Ginting (2014) serta Twigger-Ross &
Uzzel (1996), kesinambungan dengan masa lalu dapat terwujud di suatu kawasan melalui keberadaan bangunan bersejarah (obyek wisata heritage) yang ada di tempat itu dimana keserasian antara tempat dan nilai-nilai di dalamnya bisa dimengerti oleh masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa aspek continuity merupakan salah satu aspek yang membentuk identitas. Ada unsur-unsur yang terdapat dalam aspek continuity yaitu waktu dalam aspek keberlanjutan dimana terdapat karakter fisik tempat, namun lebih khusus terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, keseimbangam nilai yang dianut dan keterhubungan seseorang terhadap kenangan (memori, nostalgia, pengalaman).
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 14 a. Pengalaman
Lalli (1992) mengemukakan bahwa continuity sebagai salah satu aspek pembentuk identitas tempat, merupakan keberlanjutan dengan masa lalu seseorang.
Keberlanjutan yang dimaksud adalah adanya kaitan antara masa lalu seseorang dengan kehidupannya dimasa kini. Seseorang tidak akan lupa dengan daerah tempat ia lahir, karena bagaimanapun tempat tersebut memiliki banyak kenangan, memori dan nostalgia ia saat kecil. Ginting dan Wahid (2015) mendefenisikan continuity di mana seseorang tahu jati dirinya dari tempat orang tersebut tinggal, yang memiliki nilai-nilai dalam hidupnya. Maka dengan begitu orang tersebut akan selalu ingin mengunjungi kembali daerah tempat kelahirannya. Hal tersebut tentunya akan menimbukan adanya pengalaman personal pada pribadi seseorang. Nostalgia digambarkan sebagai memori positif yang unik atau kumpulan ingatan dari masa lalu yang mampu memberikan alternatif jawaban yang lebih disukai dari masa sekarang (Ramshaw & Gammon, 2005 dalam Seifried & Meyer, 2010).
Holbrook dan Schindler,1991 (dalam Seifried & Meyer, 2010) memandang nostalgia sebagai pilihan yang lebih disukai oleh seseorang ketika ia muda. Gabriel (2000) dan McMurray & Pullen (2008) dalam Seifried & Meyer (2010) menyatakan bahwa nostalgia sangat personal dan emosional karena orang-orang dapat dapat terkenang kembali akan masa lalunya lewat objek atau simbol tertentu. Contohnya, elemen fisik, struktur dan bangunan dapat menimbulkan perasaan yang berhubungan dengan nostalgia karena memiliki arti khusus lewat simbol dan pengalaman (Fairley 2003). Holbrook dan Schindler (2003) berpendapat bahwa individu dapat membentuk suatu ikatan dengan obyek fisik untuk menghubungkan pengalaman dengan menganggap sebuah objek menimbulkan ingatan akan pengalaman masa lalu. Seringkali, tradisi yang unik sebagai objek non-fisik dapat memperkuat hubungan antara manusia dengan objek fisik. Pengalaman masa lalu dan nostalgia yang tercermin lewat masyarakat lokal dan sebagian wisatawan akan menjaga kesinambungan akan masa lalu dalam kawasan (Goodwin, dkk, 2009)
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 15 b. Nilai-nilai
Suatu tempat dipilih karena mewakili nilai-nilai, ide-ide, gaya hidup yang dimiliki oleh seseorang, sehingga bukan karena bentuk fisik tempat melainkan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya (Twigger-Ross dan Uzzell,1996 dalam Ginting dan Wahid, 2015). Ginting dan Wahid (2015) mengemukakan nilai- nilai yang dimaksud yaitu terkait dengan nilai-nilai adat, agama, prinsip hidup, kebiasaan atau orang lain. Setiap individu memiliki penilaian tersendiri terhadap suatu budaya, adat istiadat, dan bangunan yang ia kunjungi. Suatu tempat atau bangunan dapat menjadi penting karena memiliki nilai atau arti bagi seseorang, hal tersebut berkaitan dengan diri orang tersebut terhadap lingkungannya. Dalam penelitian ini, nilai-nilai yang dinilai terkait dengan nilai sosial budaya, dan peninggalan bersejarah pada kawasan objek wisata.
c. Keakraban
Sesuatu yang dapat menjadikan seseorang merasa nyaman dan terkesan berada di suatu tempat yang ia kunjungi. Ginting dan Wahid (2015) menyatakan bahwa kualitas fisik tertentu sangat diperlukan untuk daerah pariwisata untuk membentuk persepsi positif melalui karakter membentuk elemen. Sebagai contohnya
Continuity
dimana terdapat karakter fisik tempat, namun lebih mengarah terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, kemantapan nilai yang dianut dan keterhubungan seseorang terhadap kenangan
(Ginting & Wahid, 2015) bentuk continuity: „place-referent continuity‟ yaitu tempat yang bentuk fisiknya mengingatkan tentang masa lalu. „place- congruent continuity‟ yaitu nilai- nilai yang terkandung pada suatu tempat, bukan karena bentuk fisiknya (Breakwell, 1986;
Twigger-Ross & Uzzell, 1996) Keberlanjutan dengan masa lalu seseorang yaitu kaitan antara masa lalu seseorang dengan kehidupannya di masa kini (Lalli, 1992)
Indikator Parameter
Nilai
Nilai sosial, budaya, sejarah, suatu tempat/bangunan
(Ginting & Wahid, 2015)
Nilai Sosial Budaya Nilai Sejarah Nilai Bangunan Pengalaman
Kenangan, memori, nostalgia saat kecil (Ginting & Wahid, 2015) Kaitan antara masa lalu seseorang dengan kehidupan masa kini, maksudnya seseorang tidak akan lupa dengan daerah tempat i a lahir (Lalli, 1992)
Tempat Kelahiran Masa Kecil
Kenangan masa lalu
Keakraban
Sesuatu yang dapat menjadikan seseorang merasa nyaman dan terkesan berada di suatu tempat yang ia kunjungi
(Ginting & Wahid, 2015)
Kesan terhadap kualitas fisik Kesan terhadap kualitas non fisik
Tabel 3.1 Kerangka Teori Continuity
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 16 yaitu seseorang akan merasa ingin mengunjungi kembali suatu tempat karena dia terkesan dengan ketersediaan penginapan di kawasan wisata yang terawat dan bersih. Atau juga karena terkesan dengan objek wisata alam yang ada.
3.2.2 Self Esteem
Self-esteem didefinisikan sebagai suatu evaluasi diri atau kelompok yang positif dengan mana seseorang mengidentifikasikan diri. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa evaluasi personal terhadap lingkungan lokal dan evaluasi positif terhadap lingkungan tersebut oleh orang lain menghasilkan kebanggaan, dan oleh karenanya memberikan kontribusi terhadap self-esteem.
Menurut Twigger-Ross et al (2003) menyatakan bahwa seseorang akan senang dengan tempat yang mempunyai simbol fisik yang menjaga dan membuat adanya rasanya bangga dan akan menghindari suatu tempat yang menimbulkan rasa tidak bangga. “Model Proses Identitas” Breakwell pada intinya juga digunakan untuk memahami pentingnya keterikatan pada sesuatu tempat untuk menyokong atau mengembangkan identitas (Twigger-ross dan uzzell, 1996; Devine-Wright & Lyons, 1997; Speller et al., 2001) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterikatan seseorang pada suatu tempat bermula dengan adanya persepsi positif terhadap tempat tersebut. Dengan adanya persepsi positif tersebut maka akan terjalin ikatan emosi; rasa memiliki dan ia akan bersetuju untuk bekerja; hidup ditempat tersebut bahkan akan menghasilkan perasaan bangga akan hal tersebut. Selain itu, rasa bangga, memiliki, dan terikat yang lebih kuat dapat tumbuh melalui keterlibatan masyarakat lokal untuk menjaga kelestarian kawasan bersejarah (Ginting, 2014).
Rasa keterikatan seseorang pada suatu tempat (attachment) yang merupakan perasaan seperti di rumah (at home) pada suatu tempat(Lalli,1992).
a. Evaluasi
Suatu evaluasi diri atau kelompok yang mengidentifikasikan diri mereka sendiri kepada suatu daerah untuk memberikan penilaian positif atau negatif pada daerah tersebut karena baik atau buruknya suatu daerah dapat memberikan perasaan positif atau negatif tentang diri mereka. Hal ini berkaitan dengan perasaan berharga atau nilai sosial seseorang (Twigger-Ross & Uzzel, 1996). Evaluasi diri seperti ini tidak hanya memberikan pengaruh pada identitas dirinya tetapi juga pada identitas tempatnya (Proshansky, 1983) sehingga dapat menjadikan tempat itu menjadi lebih baik.
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 17 Suatu evaluasi positif atau negatif terhadap tempat itu yang dapat mengetahui bagus tidaknya tempat yang dikunjungi, sehingga dapat menjadikan tempat tersebut menjadi lebih baik (Twigger-Ross & Uzzel,1996). Identitas tempat mempengaruhi sikap pengunjung terhadap dampak pariwisata yang menghasilkan evaluasi yang positif dan negatif (Wang & Xu, 2015). Evaluasi terhadap pariwisata berhubungan dengan faktor- faktor daya tarik pariwisata karena faktor daya tarik menjadi bahan evaluasi sebuah pariwisata (Suwantoro, 2004) dan berhubungan dengan kepuasan pengunjung terhadap tempat wisata (Sulistiyana, 2015) sehingga memiliki pengaruh terhadap perkembangan pariwisata.
b. Kebanggaan
Orang yang tinggal di tempat yang bersejarah akan memiliki rasa bangga pada dirinya (Lalli,1992). Selain itu keberadaan bangunan bersejarah juga memberikan rasa bangga pada penduduk lokal. Hal ini dikarenakan adanya kebanggaan dari kemenangan pada masa lalu sehingga meningkatkan rasa bangga dan rasa memiliki terhadap tempat itu. Mereka harus mampu melihat sejarah bangunan dan kebanggaan dari masa lalu (Ginting & Rahman, 2015). Selain itu seseorang atau kelompok akan lebih memilih tempat yang memiliki simbol-simbol fisik/ciri khas karena dapat meningkatkan self esteem mereka dibanding tempat yang memberikan dampak buruk pada self esteem mereka (Hauge, 2007) serta mereka akan merasa bangga pada tempat yang memiliki ciri khas (Ujang & Zakariya, 2015).
Dengan adanya tempat yang memiliki simbol fisik atau ciri khas serta memiliki nilai sejarah, pariwisata pada tempat itu akan meningkat karena wisatawan maupun penduduk lokal yang berada pada tempat itu merasa bangga.
c. Rasa terikat & memiliki
Self Esteem, menurut Lali adalah aspek yang berhubungan dengan rasa keterikatan seseorang pada suatu tempat (attachment) yang merupakan perasaan seperti di rumah (at home) pada suatu tempat. “Rasa terikat pada suatu tempat”
melibatkan ikatan pengalaman secara positif yang tumbuh sepanjang masa dari ikatan perilaku, afektif, dan kognitif diantara seseorang atau kelompok dengan lingkungan sosial dan fisik yang kadang terjadi tanpa disadari (Brown & Perkins, 1992:284). Sama seperti yang dikemukakan oleh Bernardo dan Palma (2005) bahwa seseorang terikat pada suatu tempat melalui sebuah proses yang mencerminkan tingkah laku mereka, pengalaman kognitif dan emosi dalam lingkungan sosial dan
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 18 fisik. Adanya perkembangan ikatan afektif antara seseorang dengan tempat tertentu (Hidalgo & Hernadez,2001;Ujang,2012).
d. Komitmen
Individu yang memiliki self esteem yang tinggi cenderung lebih berkomitmen daripada individu yang memiliki self esteem yang rendah (Bankone & Ajadune, 2014). Untuk membentuk atau menciptakan sebuah komitmen terhadap suatu tempat, maka self esteem harus ditingkatkan. Komitmen pada suatu tempat membicarakan tentang intensitas keinginan untuk tinggal di suatu kota dan perhatian pada perkembangan tempat di masa depan ( Lalli, 1992). Semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata tersebut, maka tempat wisata itu akan menjadi lingkungan yang favorit dan seperti yang dikatakan Twigger-Ross & Uzzell (1996) bahwa lingkungan yang favorit dapat mendukung self esteem. Semakin meningkatnya kualitas suatu pariwisata, maka semakin meningkatnya komitmen seseorang terhadap tempat wisata itu pun meningkat sehingga individu atau kelompok wisatawan semakin sering pergi ke tempat wisata tersebut dan untuk penduduk lokal akan semakin betah tinggal di sana, serta ada keinginan untuk mengembangkan pariwisata tersebut.
Self Esteem
seseorang akan senang dengan tempat yang mempunyai simbol fisik yang menjaga dan membuat adanya rasanya bangga dan akan menghindari suatu tempat yang menimbulkan rasa tidak bangga (Twigger-Ross,dkk , 2003) Rasa keterikatan seseorang pada suatu tempat (attachment) yang merupakan perasaan seperti di rumah (at home) pada suatu tempat(Lalli,1992)
Indikator Parameter
Evaluasi
Suatu evaluasi positif/negatif terhadap tempat dapat mengetahui bagus tidaknya tempat yang dikunjungi, dan menjadikannya lebih baik lagi (Twigger-Ross & Uzzell,1996)
Penilaian positif tentang suatu tempat Kebanggaan
Kemenangan pada masa lalu dapat
meningkatkan rasa bangga pada suatu tempat (Ginting & Rahman, 2015)
Seseorang akan memilih tempat yang memiliki simbol-simbol fisik/ciri khas dibanding tempat yang tidak memilikinya (Hauge,2007;Ujang &
Zakariya, 2015)
Sejarah suatu tempat (kemenangan masa lalu)
Simbol-simbol fisik/ciri khas
Rasa terikat & memiliki
Adanya perkembangan ikatan afektif antara seseorang dengan tempat tertentu (Hidalgo & Hernadez,2001;Ujang,2012)
Rasa terikat pada suatu tempat Rasa memiliki pada suatu tempat
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 19 Komitmen
membicarakan tentang intensitas keinginan untuk tinggal di suatu kota dan perhatian pada perkembangan tempat di masa depan (Lalli, 1992)
Intensitas keinginan untuk tinggal Perhatian untuk perkembangan tempat di masa depan
Tabel 3.2 Kerangka Teori Self Esteem
3.2.3 Self Efficacy
Self-efficacy didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk berfungsi secara tepat dalam lingkungan fisik dan situasi sosial tertentu yang dihubungkan dengan kebutuhan manusia untuk mengendalikan lingkungan (Belk, 1992). Manusia mempunyai keperluan untuk mengendalikan lingkungan tempat tinggal atau bekerja.
Hal ini dilakukan untuk membolehkan ia berorientasikan dan bekerja dengan tepat, seperti yang diterangkan oleh Twigger-Ross, Uzzel (1996) dan Winkel (1981) sebagai “a manageable environment” dimana ada unsur kenyamanan, keselamatan, kemudahan akses dalam lingkungan sehingga tercapai orientasi yang disebutkan diatas. Lingkungan juga berkaitan dengan perasaan keterikatan individu terhadap tempat yang dapat membentuk ikatan emosi, kepercayaan dan perilaku (Ujang dan Zakaria,2015). Keyakinan terhadap lingkungan akan mempengaruhi perilaku (Sawitri et al, 2015; ernawati 2011). mengatur fungsi di dalam diri manusia melalui proses kognitif, motivasi, afektif, dan proses keputusan sehingga dapat mempengaruhi perilaku individu dalam meningkatkan atau menurunkan usaha (Bandura & Locke, 2003).
a. Percaya diri
Kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya mampu berperilaku seperti yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan (Bandura, 1977 dalam Sudardjo & Purnamaningsih,2003). Individu memiliki kepercayaan diri yang berbeda-beda, tergantung bagaimana menilai lingkungan (Twigger & Uzzel, 1996). Beberapa orang ada yang menilai tempat wisata dari kelebihan lingkungan pariwisata dan mengesampingkan kekurangannya dan ada juga yang sebaliknya. Dalam kadek suhardita (Prayitno, 1995:1) mengatakan bahwa seseorang yang memiliki percaya diri didalam lingkungan sosial, akan menjadi tidak gelisah dan lebih nyaman dengan dirinya sendiri serta mampu mengembangkan prilaku dalam situasi sosial tersebut. Percaya diri itu muncul dari kesadaran bahwa
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 20 ketika seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu, sesuatu itu pula yang akan dilakukan. Pada lingkungan pariwisata sangat diperlukan kepercayaan diri untuk saling berinteraksi baik terhadap lingkungannya maupun individunya. Adanya interaksi timbal balik dilingkungan pariwisata akan memberikan kenyamanan dalam beraktivitas, sehingga berpengaruh juga pada tingkat kepercayaan diri setiap individu. sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya.(Kadek Suhardita,2011).
b. A managable environment
Kenyamanan ada ketika orang merasa puas dengan kebutuhan mereka di suatu tempat sehingga mereka bisa melakukan tindakan secara rasional dan efesien.
Situasi sosial ini terkait dengan kebutuhan manusia untuk mengendalikan lingkungan mereka (belk, 1992), dan mempengaruhi kualitas hidup di tempat sekitarnya.
Keamanan pada suatu tempat sangat penting untuk mencapai kenyamanan dan kepuasan (firouzmakan & daneshpour,2015). Selain itu, keamanan juga merupakan salah satu jasa dari pariwisata (butnaru & miller, 2012) kurangnya keamanan akan merusak identitas suatu tempat dan mempengaruhi keinginan wisatawan untuk datang. Pada efficacy, keberadaan aksesibillitas yang baik juga membantu orang untuk memenuhi pekerjaannya, selain itu, aksesibilitas adalah salah satu hal penting ketika sebuah kawasan wisata menjadi objek wisata (jasen-verbeke, 1995) dan mempengaruhi keberhasilan suatu tempat.
Self Efficacy
Kemampuan seseorang bekerja dengan baik dalam tempat dan situasi tertentu (Belk, 1992)
mengatur fungsi di dalam diri manusia melalui proses kognitif, motivasi, afektif, dan proses keputusan sehingga dapat mempengaruhi perilaku individu dalam meningkatkan atau menurunkan usaha (Bandura & Locke, 2003)
seseorang yakin memiliki kemampuan untuk mememnuhi hal yang ia butuhkan., dimana hal ini dapat diperoleh jika lingkungan dan fasilitas tidak menghambat kegiatan seseorang (a managable environment). (Twigger- Ross,1996)
Indikator Parameter
Percaya Diri
sikap positif seorang
individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya.
(Kadek Suhardita,2011)
Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan
Informasi Positif
A managable environment
adanya unsur kenyamanan, keselamatan, kemudahan akses dalam lingkungan sehingga seseorang bisa berorientasi dan melakukan yang ia ingin lakukan (Winkel,1981;Twigger-Ross,1996)
Nyaman Aman
Kemudahan akses
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 21
Tabel 3.3Kerangka Teori Self Efficacy
3.2.4 Distinctiveness
Distinctiveness, yaitu keinginan untuk memelihara keberbedaan dari yang lain. Distinctiveness berhubungan dengan persepsi positif terhadap keunikan suatu tempat, dan pemanfaatan tempat yang berbeda dengan orang lain pada kawasan lain di kota tersebut (Lalli, 1992). “Distinctiveness” ini menyebabkan seseorang mempunyai hubungan khusus antara dirinya dengan lingkungan huniannya, yang secara jelas berbeda dengan jenis hubungan yang lain (Twigger-Ross & Uzzell, 1996). Identitas tersebut dengan teritori tertentu menyebabkan pengidentifikasian seseorang dengan orang-orang lain yang hidup dalam ruang tersebut.
Distinctiveness berasal dari persepsi seseorang terhadap perbedaan satu tempat dengan tempat yang lain (Berman, 2006). Suatu tempat yang berfungsi sebagai landmark tentunya memiliki identitas. Landmark memiliki keunikan yang membedakannya dengan tempat-tempat lain dalam kota (Lynch, 1960).
a. Landmark
Suatu tempat yang berfungsi sebagai landmark tentunya memiliki identitas.
Landmark memiliki keunikan yang membedakannya dengan tempat-tempat lain dalam kota (Lynch, 1960). Bangunan iconic berperan kuat dalam membangun gambaran kota atau tempat yang mudah dikenali (Jencks, 2005:185), serta merupakan alat dalam mengkomunikasikan status sebuah kota dan menarik pengunjung. Karena itu, bangunan iconic yang menarik secara visual memegang peran penting dalam mempromosikan kota tersebut (Riza dkk, 2011). English Heritage (2005) menyatakan bahwa keunikan merupakan faktor yang sangat penting bagi landmark. Keunikan suatu tempat tampak dari tampilannya, nilai-nilai tertentu, pengalaman sosial budaya dan sejarah secara fisik dan akan selalu diingat oleh para wisatawan. Oleh sebab itu memlihara objek bersejarah dapat membantu dalam membentuk ciri khusus suatu tempat dan menambah pengalaman wisatawan yang datang ke objek bersejarah ini (Ashworth, 1994). Berdasarkan Jansen-Verbeke dalam Page (1995), landmark merupakan elemen utama pariwisata kota yang selayaknya dipelihara dengan baik. Hal ini juga didukung oleh Pretes (2003) yang menyatakan bahwa daerah bersejarah merupakan aset utama pariwisata kota.
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 22 b. Keunikan/ciri khas
Menurut lalli (1992) dan Hummon (1990) distinctiveness berkaitan dengan persepsi yang positif terhadap keunikan suatu tempat dan hal yang bisa dilakukan pada tempat itu berbeda dengan tempat lain. Lalli (1992) juga menjelaskan bahwa disticntiveness sama pengertiannya dengan aspek penilaian luar karena merupakan perbandingan penilaian antara satu tempat dengan tempat lain serta ciri khas khusus yang dimiliki suatu tempat dan keunikan tempat seperti yang dirasakan oleh masyarakat setempat. Sebuah tempat yang berbeda bisa membantu seseorang untuk berorientasi dan memeberikan rasa aman sehingga orang tersebut merasa terhubung dengan tempat tersebut. oleh sebab itu sebuah tempat yang unik atau memiliki ciri khas dapat membedakan suatu tempat dengan tempat yang lain.
Distinctiveness
seseorang mempunyai hubungan khusus antara dirinya dengan lingkungan huniannya, yang secara jelas berbeda dengan jenis hubungan yang lain
(Twigger-Ross & Uzzell, 1996) berasal dari persepsi seseorang terhadap perbedaan satu tempat dengan tempat yang lain (Berman, 2006)
Suatu tempat yang berfungsi sebagai landmark tentunya memiliki identitas.
Landmark memiliki keunikan yang membedakannya dengan tempat- tempat lain dalam kota (Lynch, 1960)
Indikator Parameter
Landmark
Sebuah tempat boleh mempunyai nilai yang berbeda jika mempunyai landmark yang menjadi alat untuk
membedakannya dengan kota-kota lain (Lynch,1960)
Penunjuk orientasi tempat/ikon
Keunikan/ciri khas
Persepsi yang positif terhadapa keunikan suatu tempat dan hal yang bisa dilakukan pada tempat itu dengan tempat lain
(Lalli, 1992)
Ciri khas khusus suatu tempat
Keunikan suatu tempat Persepsi suatu tempat berbeda dengan tempat lain
Tabel 3. 4 Kerangka Teori Distinctiveness
3.3 Penataan Kawasan berdasarkan Identitas tempat
Penelitian ini menggunakan metode campuran. Metode kualitatif dilakukan dengan observasi langsung ke lima destinasi wisata dan depth interview di wilayah Kabupaten Karo. Cresswell (1994) mengatakan bahwa pengamatan kawasan sangat penting dan bermanfaat karena merupakan pengalaman langsung pengkaji dengan kawasan penelitiannya. Dengan melakukan pengamatan kawasan ini pengkaji dapat mengetahui dan mengenal pasti kondisi kawasan penelitiannya. Pengumpulan data fisik kawasan kajian berupa foto-foto aktual pada setiap objek wisata. Teknik ini dilakukan untuk mendokumentasikan ciri-ciri fisik, aktivitas penduduk dan wisatawan, bangunan-bangunan adat, dan hal lainnya yang membutuhkan bukti.
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 23 Metode kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan 360 kuisioner (Sinulingga, 2011) kepada responden yang dipilih di lokasi penelitian. Penyebaran kuisioner dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai identitas tempat kawasan wisata Kabupaten Karo berdasarkan persepsi wisatawan dan penduduk lokal. Adapun kriteria responden adalah orang dewasa (18+) yang merupakan penduduk lokal dan pengunjung di kelima lokasi sampel. Perolehan hasil kuisioner kemudian diolah secara statistik dalam aplikasi SPSS untuk mendapatkan data kuantitatif yang akan digunakan dalam mengkaji apa saja yang menjadi identitas tempat di masing-masing destinasi wisata. Selanjutnya peneliti menggabungkan hasil analisa dari kelima kawasan dan membuat kesimpulan secara menyeluruh mengenai identitas tempat kawasan wisata di Kabupaten Karo. Secara sistematis, alur kerangka penelitian ini digambarkan pada bagan 3.1
Bagan 3.1 Kerangka Penelitian
4.1. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini yang dijadikan acuan bagi peneliti untuk bertanya pada responden mengenai identitas tempat di kawasan kajian adalah something to see, something to do, something to buy, facilities, accessibility (Yoeti, 1996; Cooper et al, 2006) dan continuity, distinctiveness, self-efficacy, dan self-esteem (Breakwell, 1986) (Bagan 4.2).
Teori mengenai pariwisata
Teori mengenai identitas tempat
Identitas Tempat Wisata Karo
Penataan Kawasan Wisata Gundaling & Pasar Buah Berdasarkan Identitas Tempat Data Kuantitatif
Penyebaran Kuisioiner
Data Kualitatif:
Observasi Lapangan dan Depth Interview
Identitas Tempat Laporan Kawasan
Analisa
Teori penataan ruang di kawasan wisata
Analisa & Proses Desain
Pemetaan Kawasan Wisata di Karo
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 24
Bagan 3.2 Kerangka Analisa Penelitian
Berikut adalah variabel identitas tempat yang digunakan pada penelitian ini.
Aspek Identitas Tempat Variabel Indikator
Distinctiveness
Landmark Penunjuk orientasi tempat/ikon
Keunikan/ciri khas
Ciri khas khusus suatu tempat Keunikan suatu tempat Persepsi suatu tempat berbeda dengan tempat lain
Continuity
Nilai
Nilai sosial budaya Nilai sejarah Nilai bangunan
Pengalaman
Tempat kelahiran Masa kecil
Kenangan masa lalu
Keakraban
Kesan terhadap kualitas fisik Interaksi antara penduduk dan pengunjung
Self Esteem
Evaluasi Penilaian positif tentang suatu tempat
Kebanggaan
Kemenangan masa lalu (sejarah suatu tempat)
Simbol-simbol fisik/ciri khas Rasa terikat & memiliki Rasa terikat pada suatu tempat
Rasa memiliki pada suatu tempat
Komitmen
Intensitas keinginan untuk tinggal Perhatian untuk perkembangan tempat di masa depan
Self Efficacy Percaya Diri Kemampuan beradaptasi dengan
Identitas Tempat Pada Pariwisata : Kabupaten Karo | Nurlisa Ginting 25
lingkungan Informasi
A managable environment
Nyaman Aman
Kemudahan akses Tabel 3.5 Variabel Identitas Tempat
4.2. Populasi dan Sampel
Populasi adalah batasan dari objek yang akan diteliti, mempunyai karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti (Sinulingga, 2012). Populasi dalam penelitian ini adalah kabupaten karo yang memiliki jumlah 350.960 jiwa dengan luas wilayah 2127.25 km2.Sampel adalah bagian dari populasi yang tidak menggunakan semua data untuk diambil melainkan hanya perwakilan dari populasi.
Alasan penggunaan sampel untuk mempelajari karakteristik adalah untuk mengefisiensi waktu, biaya dan teknis (Sinulingga, 2012).
Sampel pada penelitian ini adalah warga Kabupaten Karo serta wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang berkunjung di lokasi penelitian, yaitu di Bukit Gundaling, Pasar Buah, Desa Lingga, Air Terjun Sipiso-piso, dan Bukit Kubu.
Penghitungan sampel penelitian ini menggunakan perhitungan yang dilakukan oleh Isaac dan Michael (1997), hal ini dikarenakan ketidakpastian jumlah responden, khususnya wisatawan domestik maupun mancanegara. Dalam penelitian ini digunakan 5% sampling error dengan 95% derajat kepercayaan dari sampel dengan N tidak terhingga sehingga akhirnya menghasilkan jumlah 349 sampel (Tabel 3.2), dengan demikian jumlah sampel dibulatkan menjadi 360 responden. Responden dipilih secara acak yang terdiri dari 50 % penduduk local dan 50 % wisatawan (60%
wisatawan local dan 40 % wisatawan asing).
N S
N S
N S
1% 5% 10% 1% 5% 10% 1% 5% 10%
10 10 10 10 280 197 155 138 2800 537 310 247
15 15 14 14 290 202 158 140 3000 543 312 248
20 19 19 19 300 207 161 143 3500 558 317 251
25 24 23 23 320 216 167 147 4000 569 320 254
30 29 28 27 340 225 172 151 4500 578 323 255
35 33 32 31 360 234 177 155 5000 586 326 257
40 38 36 35 380 242 182 158 6000 598 329 259
45 42 40 39 400 250 186 162 7000 606 332 261
50 47 44 42 420 257 191 165 8000 613 334 263
55 51 48 46 440 265 195 168 9000 618 335 263