6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kawasan Konservasi
Kawasan konservasi memiliki arti yang luas, yaitu kawasan konservasi sumber daya alam hayati dilakukan. Dalam peraturan perundang-undang Indonesia yang ada, tidak memuat definisi mengenai kawasan konservasi secara jelas. Definisi kawasan konservasi yang berbeda diberikan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan, yaitu kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, taman buru dan hutan lindung. Sementara itu istilah-istilah yang lebih dikenal adalah kawasan lindung. Dimana secara umum kawasan konservasi mempunyai arti pelestarian yaitu melestarikan/mengawetkan daya dukung mutu, fungsi, dan kemampuan lingkungan secara seimbang. (MIPL,2010).
Konservasi keanekaragaman hayati yang diwujudkan dalam bentuk kawasan konservasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konsep pembangunan berkelanjutan untuk mengelola sumberdaya alam dan ekosistemnya yang meliputi aspek pemanfaatan, pengawetan, dan perlindungan sehingga bermanfaat dan mendukung kehidupan manusia (Saefullah,2017). Hermawan et al. (2014) menyatakan bahwa esensi dari sebuah kawasan konservasi adalah berbasis wilayah tertentu; bertujuan untuk keanekaragaman hayati: membutuhkan suatu pengelolaan: ada otoritas pengelola untuk menjamin penyelenggara upaya konservasi.
7 Di Indonesia istilah kawasan yang dilindungi dikenal dengan kawasan konservasi atau kawasan hutan konservasi. Menurut UU No. 41 Tahun 1990 sebagai berikut :
1. Kawasan Suaka Alam (KSA) adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan, satwa dan ekosistemnya juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.
a. Cagar Alam (CA), adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan kawasan cagar alam. Cagar alam hanya dapat dimanfaatkan secara langsung untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan budidaya.
b. Suaka Margasatwa (SM), adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. Kegiatan yang dapat dilakukan di dalam suaka marga satwa adalah kegiatan bagi kepentingan dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, wisata dalam jumlah yang terbatas (menikmati
8 keindahan alam dengan syarat tertentu) serta kegiatan lainnya yang menunjang budidaya.
2. Kawasan Pelestarian Alam (KPA) adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat atau pun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sisitem peyangga kehidupan, pengawettan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari terhadapn sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Kawasan pelestarian alam terdiri atas:
a. Taman Nasional (TN) kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
b. Taman Hutan Raya (Tahura), kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.
c. Taman Wisata Alam (TWA), kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam
2.2 Pengelolaan Hutan
Pembagian kawasan hutan berdasarkan fungsi dengan kriteria dan pertimbangan tertentu ditetapkan dalam peraturan Pemerintah RI No.34 Tahun 2002 tentang tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan, pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan Pasal 5 ayat (2), sebagai berikut : kawasan
9 hutan konservasi terdiri dari kawasan suaka alam (cagar alam dan suaka marga satwa), kawasan pelestarian alam (taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam), hutan lindung serta hutan produksi. Peraturan pemerintah mempunyai tujuan setiap fungsi pengelolaan hutan masing-masing mempunyai tata ruang dengan konsep berbeda sehingga pelestarian mengenai cagar alam, suaka marga satwa, hutan lindung dan hutan produksi tetap dijaga dengan peraturan yang ditetapkan. Dalam hubungannya antara hutan dan masyarakat, isu akses masyarakat menjadi salah satu aspek yang penting dan perlu perhatian besar (Ruhimat, 2010). Ruhimat menyatakan bahwa optimasi pemanfaatan dan pengelolaan hutan bagi kesejahteraan masyarakat dapat dilakukan dengan memegang prinsip bahwa setiap kawasan hutan harus dikelola dengan tetap memperhatikan sifat, karakteristik dan fungsi pokoknya yaitu fungsi konservasi, lindung dan produksi.
2.3 Presepsi Masyarakat
Persepsi merupakan proses pemahaman atau pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus (Suriyana, Muhammad, Legrans, Wantasen dan Lainawa, 2014). Persepsi masyarakat yang baik didukung oleh pengetahuan yang baik pula. Masyarakat merupakan sekelompok manusia yang hidup secara bersama-sama dan saling berhubungan dalam tatanan serta satu kesatuan secara sosial. Persepsi masyarakat menggambarkan sebuah proses dimana sekelompok individu yang hidup dan tinggal bersama dalam wilayah tertentu, memberikan tanggapan terhadap hal-hal yang dianggap menarik dari lingkungan tempat tinggal mereka (Soekanto, 2012).
10 Menurut (Walgito, 2010), seorang mengenali suatu objek dari dunia luar dan ditangkap melalui indranya. Seseorang yang menyadari dan merespon inderanya disebut dengan proses terjadinya persepsi. Proses terjadinya persepsi dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Proses fisik atau kealaman, merupakan tanggapan ketika dimulai dengan objek yang menimbulkan stimulus dan akhirnya stimulus itu mengenai alat indra.
b. Proses fisiologis, merupakan stimulus yang diterima oleh alat indra kemudian dilanjutkan oleh saraf sensorik ke otak.
c. Proses psikologis, merupakan proses yang terjadi dalam otak sehingga seseorang dapat menyadari apa yang diterima dengan reseptor itu sebagai suatu akibat dari stimulus yang diterimanya. Proses terjadi persepsi itu berawal dari objek yang menimbulkan stimulus, lalu mengenai alat indra, kemudian dilanjutkan ke saraf sensorik ke otak, dalam otak stimulus itu diproses sehingga seseorang dapat menyadari apa yang diterima dengan reseptor.
Masyarakat yang tinggal disekitar hutan mempunyai akses langsung maupun tidak langsung terhadap kawasan hutan dan memanfaatkan sumber daya hutan adalah suatu realita yang tidak dapat diabaikan. Sejalan dengan hal tersebut (Nurani dan Tabba, 2013), mengungkapkan bahwa kondisi ini diperparah dengan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat lokal yang rentan terhadap budaya luar yang konsumtif, sehingga menyebabkan masyarakat tidak lagi memanfaatkan sumber daya hutan dengan arif dan bijaksana namun cenderung melakukan perubahan dan eksploitasi yang tidak terkendali (Queen dalam Sarwono, 2012;
11 93). Persepsi adalah proses kombinasi dari sensasi yang diterima oleh organ dan hasil interpretasi (hasil olah otak). Berdasarkan beberapa definisi persepsi di atas, dapat diringkas pengertian persepsi merupakan suatu proses yang diawali adanya stimulus yang diterima oleh alat indra kemudian diinterpretasikan oleh otak sehingga menghasilkan respon terhadap suatu objek atau peristiwa.
2.4 Komponen-Komponen Persepsi
Ahmadi dalam Angisni (2013); 27, menyatakan bahwa hakikatnya persepsi dapat mencerminkan suatu interaksi dari proses untuk mencapai tujuan sistem. Komponen-komponen persepsi dibagi atas tiga macam, yaitu;
a. Komponen kognitif, merupakan komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang objek.
Berdasarkan pengalaman kemudian akan dibentuk suatu kepercayaan tentang objek tersebut.
b. Komponen afektif, merupakan berhubungan dengan rasa bahagia dan tidak bahagia, sehingga sifatnya langsung yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimiliki.
c. Komponen konatif, merupakan persiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan objek sikapnya.
Pengertian persepsi mengandung komponen perseptual dan juga komponen perilaku, yaitu sikap. Sikap merupakan posisi untuk berbuat atau berperilaku. Sikap berkaitan dengan perilaku, posisi untuk berbuat atau berperilaku. Berdasarkan gambaran di atas dapat dikemukakan bahwa persepsi mengandung komponen konseptual, komponen emosional dan komponen perilaku,yaitu kesediaan untuk bertindak dan berperilaku (Walgito, 2010).
12 2.5 Syarat dan Pr oses Terjadinya Persepsi
Menurut Kotler dalam Twintinio (2013), orang yang dapat memiliki persepsi yang berbeda atas objek yang sama karena tiga persepsi yaitu ;
a. Perhatian selektif orang mengalami sangat banyak rangsangan setiap hari, kebanyakan orang dapat dibanjiri oleh lebih dari 1.500 iklan per hari.
b. Distorsi selektif kecenderungan menafsirkan informasi sehingga sesuai dengan prakonsepsi kita. Konsumen akan sering memelintir informasi sehingga menjadi konsisten dengan keyakinan awal mereka atas merek dan produk (pandangan mengenai produk).
c. Ingatan selektif orang akan melupakan banyak hal mereka pelajari, tapi karena adanya ingatan selektif, orang akan cenderung mengingat hal-hal baik yang disebut tentang produk pesaing.
Proses terjadinya persepsi dapat dilihat pada gambar dibawah ini;
Gambar 2.I Bagan Terbentuknya Persepsi
Sedangkan menurut Miftah dalam Muhana (2014), proses terbentuknya persepsi didasari pada beberapa tahapan, yaitu:
13 a. Stimulus atau Rangsangan: terjadinya persepsi diawali ketika seseorang
dihadapkan pada suatu stimulus/rangsangan yang hadir dari lingkungan.
b. Registrasi: suatu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik yang berupa penginderaan dan syarat seseorang berpengaruh melalui alat indera yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang terkirim kepadanya, kemudian mendaftar semua informasi yang terkirim kepadanya tersebut.
c. Interpretasi: suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya. Proses interpretasi tersebut tergantung pada cara pendalaman, motivasi dan kepribadian seseorang.
Menurut Sunaryo (2013) dengan adanya persepsi, individu dapat menyadari dan memahami keadaan lingkungan sekitar mereka, serta dapat menyadari dan memahami keadaan diri yang bersangkutan (self perception).
Persepsi terjadi melalui proses yang didahului dengan penginderaan. Pertama, stimulus diterima oleh reseptor, kemudian diteruskan ke otak atau pusat saraf yang yang diorganisasikan, dan diinterpretasikan sebagai proses psikologi.
Akhirnya, individu menyadari tentang apa yang dilihat dan didengar. Terdapat beberapa syarat terjadi, persepsi yaitu :
a. Adanya objek. Objek berperan sebagai stimulus, sedangkan panca indera berperan sebagai reseptor.
b. Adanya perhatian sebagai langkah pertama untuk mengadakan persepsi.
c. Adanya panca indra sebagai reseptor penerima stimulus
14 d. Saraf sensorik sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak (pusat saraf atau pusat kesadaran). Kemudian, dari otak dibawa melalui saraf motoric sebagai alat untuk mengadakan respons.
Persepsi terjadi melalui tiga proses yaitu proses fisik, proses fisiologis dan proses psikologis. Proses fisik terjadi melalui kealaman, yakni objek diberikan stimulus, kemudian diterima oleh reseptor atau panca indra. Sementara itu, proses fisiologis terjadi melalui stimulus yang dihantarkan ke saraf sensorik lalu disampaikan ke otak. Terakhir, proses psikologis merupakan proses yang terjadi pada otak sehingga individu menyadari stimulus yang diterima. Jadi, ketiga syarat tersebut sangat diperlukan demi terciptanya suatu persepsi yang baik.
2.6 Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
Menurut Gipson, dkk dalam Rahmatullah (2014), ada dua faktor yang mempengaruhi persepsi, faktor tersebut adalah;
1. Faktor internal yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-faktor yang dapat dalam diri individu yang mencakup beberapa hal antara lain:
a. Fisiologis informasi masuk melalui alat indra, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.
b. Perhatian individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu objek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian terhadap objek juga berbeda, dan hal ini juga akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu objek.
15 c. Minat persepsi terhadap suatu objek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digunakan untuk mispersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
d. Kebutuhan yang searah faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seorang individu mencari objek-objek atau pesan yang dapat memberikan jawaban yang sesuai dengan dirinya.
e. Pengalaman dan ingatan, pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam pemhertiam luas.
f. Suasana hati, keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang mood ini menunjukan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi seseorang dalam menerima, dan bereaksi dan mengingat.
2. Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari lingkungan dan obyek-obyek yang terlihat di dalamnya. Elemen- elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseorang merasakan atau menerima nya. Sementara itu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah:
a. Ukuran dan penempatan dari objek atau stimulus faktor ini menyatakan bahwa semakin besarnya hubungan suatu objek, maka
16 semakin mudah dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu objek individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.
b. Warna dari objek-objek yang mempengaruhi cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami dibandingkan dengan yang sedikit.
c. Keunikan dan kekontrasan stimulus lima belas, stimulus luar yang penampilannya dengan latar belakang sekeliligannya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarik perhatian
d. Intensitas dan kekuatan dari luar stimulus akan memberikan makna lebih sering diperhatikan dibandingkan yang hanya sekali dilihat.
Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
e. Motion atau gerakan individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan objek yang diam.
Faktor-faktor yang melandasi persepsi masyarakat terhadap pengelolaan kawasan hutan umumnya berkaitan erat dengan intensif dengan keuangan langsung, manfaat sosial dan konservasi sebagai motivator. Berbagai upaya digunakan untuk mendorong upaya konservasi. Insentif langsung, terutama subsidi keuangan, dan skema lainnya serta konservasi itu sendiri bisa menjadi motivator yang kuat bagi partisipasi masyarakat. Nilai dan ketergantungan masyarakat terhadap lingkungan dapat memotivasi mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan hutan. Selain itu, meningkatnya kesadaran dalam konservasi
17 terutama dengan banyaknya organisasi yang bekerja di daerah tersebut, menekankan akan pentingnya konservasi menjadi alasan lain yang memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan hutan.
2.7 Pengaruh Persepsi Masyarakat Terhadap Pengelolaan Taman Wisata Alam
Persepsi masyarakat terhadap taman wisata alam sangat dipengaruhi dari sudut pandang mana masyarakat tersebut melihatnya. Sikap positif atau negatif terhadap pengelolaan taman wisata alam sangat tergantung bagaimana individu menanggapi objek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya, sebagian besar sikap, tingka laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pengelolaan taman wisata alam antara lain; faktor yang mempengaruhinya, yaitu karakteristik perilaku pribadi persepsi target yang dipersepsikan, dan lingkungan atau situasi dimana persepsi itu dilakukan. Perbedaan persepsi para pemangku kepentingan ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan dampak dari tujuan pengelolaan terhadap kondisi kehidupan. Perbedaan persepsi seringkali menghasilkan fisi yang berbeda terhadap manajemen pada suatu area, dan seringkali memicu terjadinya konflik (Diniati, 2010).
Masyarakat masih belum memahami definisi wisata, keikutsertaan atau partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan mengembangkan taman wisata alam pun sangat kecil. Persepsi masyarakat yang tidak benar mengenai taman wisata alam akan menghasilkan dampak negatif bagi keberlangsungan dalam pengelolaan taman wisata alam, tetapi sebaliknya jika persepsi masyarakat benar mengenai keberadaan taman wisata alam akan menghasilkan dampak positif
18 dalam mengelola taman wisata alam tersebut. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan konservasi adalah berkaitan dengan aktivitas masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Kadir et al. 2012). Dengan demikian jika masyarakat dapat memenuhi kebutuhan ekonominya dari keterlibatan dalam wisata alam maka mereka akan ikut menjaga kelestarian sumber daya alam tersebut. Terjaganya kelestarian alam merupakan modal utama untuk berkelanjutan wisata alam yang artinya menjamin kelangsungan pendapatan masyarakat (Ekayani et al. 2014).
Masyarakat merupakan sekelompok manusia yang hidup secara bersama- sama dan saling berhubungan dalam tatanan serta satu kesatuan secara sosial.
Persepsi masyarakat menggambarkan sebuah proses dimana sekelompok individu yang hidup dan tinggal bersama dalam wilayah tertentu, memberikan tanggapan terhadap hal-hal yang dianggap menarik dari lingkungan tempat tinggal mereka (Soekanto, 2012). Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait persepsi dan perilaku masyarakat terhadap keberadaan hutan yang ada di sekitarnya. Wulandari (2010), menyatakan bahwa persepsi merupakan suatu proses yang memberikan kesadaran kepada individu tentang suatu objek atau peristiwa di luar dirinya melalui panca indra.
Sedangkan menurut Surati (2014), perilaku merupakan perbuatan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya. Ruhimat (2010), menyatakan bahwa optimasi pemanfaatan dan pengelolaan hutan bagi kesejahteraan masyarakat dapat dilakukan dengan memegang prinsip bahwa setiap kawasan hutan harus dikelola dengan tetap memperhatikan sifat, karakteristik dan fungsi
19 pokoknya yaitu fungsi konservasi, lindung dan produksi. Alviya, Salminah, Arifanti, Maryani dan Syahadat (2012), menyatakan bahwa tantangan utama dalam upaya menyelesaikan konflik pengelolaan hutan adalah menyelaraskan antara kebutuhan berbagai kalangan khususnya masyarakat lokal dengan kepentingan kelestarian hutan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh, Dini Novianti O'hara Daily dkk (2017). Dari hasil wawancara yang mereka lakukan, terdapat masyarakat yang memiliki persepsi bahwa hutan berfungsi sebagai penyedia kayu untuk dibuat sebagai rumah. Persepsi ini sebaiknya tidak dilakukan karena ini sangat membahayakan kelestarian hutan dan dapat dikategorikan sebagai illegal logging.
Kegiatan illegal logging ini dapat ditindak sesuai dengan peraturan yang berlaku karena dianggap dapat mengurangi fungsi pokok masing-masing kawasan dan mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan taman nasional, sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Sedangkan hasil penelitian dari Said Khairullah Indra dkk (2016), Menjelaskan bahwa selama beberapa tahun ini banyak kegiatan konservasi yang dijalankan di Gampong Lamteh Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar dan Gampong Pande Kecamatan Kutaraja Kota Banda Aceh dengan dengan melibatkan masyarakat secara partisipatif di wilayah-wilayah tersebut. Hal ini memunculkan berbagai pandangan terhadap keberadaan kegiatan konservasi di wilayah mereka. Pandangan persepsi masyarakat tentang kawasan konservasi di lingkungan sekitarnya diharapkan dapat membantu peningkatan kegiatan.
Pengelolaan hutan mangrove di kedua Gampong lokasi penelitian.
20 Arif Irawan dkk ( 2017) menyatakan masyarakat Desa Lolan terhadap kawasan KPHP Model Poigar dapat diketahui dari sejauh mana tingkat pengetahuan tentang hutan dan fungsi hutan tersebut bagi kehidupan mereka.
Berdasarkan hasil rekapitulasi data dapat diketahui bahwa secara umum tingkat persepsi masyarakat Desa Lolan terhadap keberadaan kawasan KPHP Model Poigar adalah pada kategori baik. Jika dirinci lebih lanjut dari seluruh responden diketahui bahwa 70% responden berada pada tingkat persepsi baik, sedangkan 30% berada pada tingkat persepsi sedang. Sebagian besar responden menyatakan bahwa hutan mampu berpengaruh terhadap kondisi lingkungan serta mampu mencegah terjadinya bencana alam. Masyarakat Desa Lolan beranggapan bahwa rusaknya hutan akan berakibat terhadap ketidakseimbangan kondisi alam yang selanjutnya akan berpengaruh pada kebutuhan masyarakat secara langsung, misalnya dalam hal ketersediaan sumber air. Kegiatan-kegiatan seperti pembukaan lahan dalam kawasan hutan, penebangan kayu secara ilegal, dan kegiatan pertambangan juga merupakan kegiatan yang tidak dibenarkan oleh pandangan masyarakat.
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa masyarakat pada umumnya sudah mengetahui ada lembaga yang menjaga dan mengelola hutan begitupun dengan mereka yang kurang tahu pada umumnya mengetahui ada sebuah lembaga yang menjaga dan mengelola hutan tetapi tidak mengetahui nama lembaga tersebut, perlu dilakukan juga penyuluhan untuk menambah pengetahuan masyarakat, Persepsi masyarakat terhadap suatu lembaga sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan semakin tinggi pendidikan masyarakat maka persepsi masyarakat akan sangat baik.