• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TRADISI PERNIKAHAN ADAT KERATON KACIREBONAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III TRADISI PERNIKAHAN ADAT KERATON KACIREBONAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

52

Cirebon terletak di pesisir utara pulau jawa. Daerah ini merupakan perbatasan antara jawa barat dengan jawa tengah. Cirebon merupakan dua per tiga dari jawa barat, itu adalah wilayah Cirebon.1 Pada abad ke-15 Cirebon mengalami kejayaan di bawah pemerintahan Sunan Gunung Jati. Kraton Pakungwati sebagai pusat pemerintahan, merupakan salah satu pusat perkembangan agama Islam di pulau Jawa yang pada saat itu memiliki kedudukan sejajar dengan Kerajaan Demak. Cirebon merupakan wilayah Caruban (campuran) yang merupakan tempat berkumpulnya berbagai macam orang beserta budayanya. Banyak peninggalan masa lalu yang masih terasa hingga saat ini, misalnya bangunan keraton yang dihiasi dengan keramik- keramik Cina yang merupakan hasil perpaduan budaya yang berasal dari pusat-pusat peradaban dunia, yaitu Timur Tengah, India dan Cina. Dimana budaya tersebut mengalami akulturasi dengan budaya lokal, yaitu Cirebon, Sunda dan Jawa.2

Berkembangnya Cirebon sebagai sebuah kesultanan pada abad ke-16 mempengaruhi perkembangan sejarah dan budaya dalam hal pengantin Cirebon. Adanya suatu kesultanan secara tidak langsung menciptakan suatu sistem di masyarakat, sehingga adat masyarakat keraton berbeda dengan adat masyarakat pada umumnya. Hal ini juga berpengaruh pada perkembangan tata rias dan upacara pernikahan adat di Cirebon. Terdapat beberapa jenis pengantin di Cirebon yaitu, Pengantin Cilik atau Pengantin Pesisir, Pengantin Keraton, Pengantin Cina, Pengantin Sunnah dan Pengantin Cirebon.3

1 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Senin, 18 April 2016, di Jl. Gerliyawan, No. 4.

2 Inggit Ganati Emot Slamet dan Ratna Herliani Suwandi, Tata Rias Pengantin Cirebon:

Cirebon Kebesaran dan Cirebon Kepangeranan, Cet. I, (Yogyakarta: Deepublish, 2013) hlm. 1.

3 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan Caruban Nagari, Cet. I, (Yogyakarta: Deepublish, 2013) hlm. 2

(2)

Cirebon pada zaman pemerintahan Sunan Gunung Jati merupakan pelabuhan internasional yang disinggahi banyak orang dan merupakan tempat percampuran berbagai macam kebudayaan. Cirebon sebagai entry point dari berbagai pusat peradaban dunia turut mempengaruhi perkembangan budaya pada masyarakat Cirebon. Begitu pula dengan pengantin Cirebon baik dilihat dari cara berpakaian maupun adat istiadatnya.4

Pernikahan adalah gerbang awal untuk mencapai keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Pernikahan dari hari kehari, turun-temurun kemudian berkembang seiring dengan kondisi lingkungan dan agama yang dianutnya, sehingga muncullah produk budaya dalam pernikahan. Begitu pula dengan pengantin Cirebon merupakan bagian dari adat yang telah dilakukan turun-temurun di Cirebon.

Perkawinan menjadi sangat penting dalam siklus kehidupan manusia.

Menurut pandangan dunia perkawinan masyarakat Cirebon dipengaruhi oleh nilai-nilai luhur yang bersumber dari nilai-nilai Islam. Nilai spritualis menjadi sangat mendominasi dari seluruh rangkaian prosesi adat perkawinan.

Tuntunan adicara perkawinan di Cirebon sangat meniggikan peran perempuan. Penghargaan dan penghormatan kepada perempuan menjadi sangat penting, dikarenakan dalam masyarakat Cirebon menyebut istri dengan sebutan “garwa” yang akronimnya adalah sigaraning nyawa (belahan jiwa). Tradisi pernikahan Cirebon sangat mengedepankan kemuliaan drajat perempuan melalui proses panjang yang suci.

Perkawinan merupakan titik penting dalam daur kehidupan yakni momen- momen yang bersejarah. Masyarakat Cirebon menyebut pengantin sebagai raja sedina hal ini menjadi sebuah pemakluman atas kondisi tersebut yang secara budaya memiliki simbol yang disepakati bersama, yang berlangsung lama dan panjang serta diturunkan ke generasi berikutnya. Simbol tersebut tercermin di dalam prosesi ritualnya maupun busana dan tatariasnya.

4 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 4.

(3)

Dari perspektif sosiologis, perkawinan bagi manusia Cirebon adalah upaya untuk manjangaken wong seduluran (memperpanjang ikatan persaudaraan) yang dalam tatanan Islam dapat dipandang sebagai penyambung silaturahmi. Oleh karena itu perkawinan dapat memperkuat integritas sosial budaya yang didalamnya dimulai dengan tata cara yang tidak hanya bernuansa individu, sosial, akan tetapi bernuansa budaya yang dipayungi oleh nilai-nilai luhur yang bersumber nilai-nilai spritualitas yang dianut masyarakatnya.5

B. Sejarah Berdirinya Keraton Kacirebonan

Pada abad ke-18 Belanda sewenang-wenang ikut campur dalam birokrasi di Keraton Cirebon, setelah meninggalnya Pangeran Aria Cirebon dan Belanda meniadakan Keraton Kacirebonan. Pembagian yang dilakukan oleh VOC mengenai simbol kekuasaan, tanah-tanah sesuai ukuran luasnya dan jumlah daerah dengan cacahannya di Keraton Cirebon tidak mengalami perubahan, sehingga menimbulkan perselisihan di kalangan penguasa- penguasa di Cirebon dan banyak para pangeran dan ulama yang keluar dari lingkungan Keraton karena tidak suka dengan sikap Belanda.

Pada masa Kasultanan Kanoman IV yang dipimpin oleh Sultan Khaeruddin Awal, Belanda terang-terangan melibatkan diri dalam urusan pemerintahan, dan menyebarkan budaya-budaya yang dilarang dalam agama, seperti berdansa dan minum-minuman beralkohol. Sehingga membuat qadi Kasultanan Kanoman, yakni Kyai Muqayyim mengundurkan diri dan memilih keluar dari lingkungan Keraton. Kemudian membentuk kekuatan dengan mendirikan pondok-pondok dipedalaman untuk melawan Belanda.6

Setelah Sultan Khaeruddin wafat (1798-1803) keadaan Keraton semakin kacau dan bangsa Belanda semakin merajalela, serta campur tangan dalam berbagai segi, baik menyangkut kasultanan maupun masalah-masalah yang berkaitan dengan agama. Sehingga putra Sultan Khaeruddin yang bernama

5 Bambang Irianto dan Hempi, Pengantin Adat Pesisir,..., hlm. 11-12.

6 Bambang Irianto dan Dyah Komala Laksmawati, Baluarti Keraton Kacirebonan, Cet.

III, (Yogyakarta: Deepublish, 2014) hlm.1.

(4)

Pangeran Raja Kanoman (Pangeran Mohammad Khaeruddin II) memilih pergi meninggalkan Keraton dan bergabung dengan gurunya, yakni Kyai Muqayyim di Buntet. Pangeran Raja Kanoman tidak dinobatkan menjadi Sultan di Keraton Kanoman oleh Belanda karena Pangeran Raja Kanoman dianggap sangat berbahaya dan membangkang. Belanda lebih memilih menobatkan Pangeran Abusoleh Imanuddin. Kemudian Pangeran Raja Kanoman menyebar luaskan desas-desus sehingga rakyat membenci pemerintah Belanda. Semenjak itulah rakyat Cirebon memberontak dan terjadi kericuhan-kericuhan, rakyat meminta agar Pangeran Raja Kanoman di angkat menjadi Sultan.

Perlawanan tersebut meluas hingga ke wilayah Kabupaten Karawang (yang pada waktu itu beribukota di Kandanghaur), di Sumedang arah timur- laut, Palimanan, Lohbener dan Indramayu. Perlawanan tersebut di pimpin oleh Bagus Rangin, yang terkenal dengan nama Perang Kedondong. Mereka merasa tidak puas dengan perlakuan Belanda yang terlalu memberatkan rakyat dan salah urus dalam mengelola pemerintahan kolonial.

Untuk mengembalikan keamanan di Cirebon, Belanda melakukan penangkapan terhadap meraka yang dianggap sebagai perusuh. Kemudian Belanda membuang Pangeran Raja Kanoman yang dianggap sebagai perusuh ke penjara Victoria Ambon. Pada saat itu Belanda menganggap permasalahan sudah selesai, karena salah satu tokoh ulamanya tidak ada lagi. Tetapi tindakan itu malah membuat rakyat semakin berontak dan perlawanan semakin besar. Dalam pemberontakan para ulama mendesak dan menginginkan agar Pangeran Raja Kanoman dipulangkan dari tempat pembuangannya, serta menuntut agar Pangeran Raja Kanoman diangkat sebagai Sultan Cirebon. Perlawanan tersebut dinamakan Perang Santri yang terjadi pada tahun 1803-1806 M. Akhirnya Belanda mengembalikan Pangeran Raja Kanoman ke Cirebon pada tahun 1808 M. Setibanya di

(5)

Cirebon Pangeran Raja Kanoman tidak pulang ke Keraton, tetapi menetap di Blok Lebu Kampung Sunyaragi, dekat Gua Sunyaragi.7

Pada tanggal 13 Maret 1808 M, Pangeran Raja Kanoman diangkat menjadi Sultan dengan gelar Amiril Mukminin Mohammad Chaeruddin II sebagai Sultan Kacirebonan. Selama menjadi Sultan Pangeran Raja Kanoman tidak mempunyai istana (keraton). Selama Sultan Kacirebonan hidup, ia tidak banyak berhubungan dengan pihak Belanda, dan bahkan selama hidupnya tidak menerima bantuan apapun dari Belanda. Setelah gerakan perlawanan tidak berdaya lagi menghadapi kekuatan militer kolonial, sebagai akibat dari konsolidasi kekuasaan Belanda di bidang politik, membuat posisi dan peranan pemimpin pribumi yang diangkat Belanda hanya digunakan sebagai alat saja.

Tahun 1809 M merupakan titik puncak runtuhnya peranan kepemimpinan sultan-sultan di Cirebon, karena daerah Cirebon sejak itu dijadikan hak milik pemerintah kolonial Belanda. Sultan-sultan diangkat sebagai pegawai negeri dengan mendapatkan gaji. Pada tahun 1814 M Amiril Mukminin Mohammad Chaeruddin II wafat. Untuk melanjutkan kelangsungan hidup keturunannya, istri sultan, Ratu Lasminingpuri, meminta hak-hak kerja Sultan Kacirebonan selama hidupnya. Dengan uang gaji yang tidak pernah diambil oleh suaminya, istrinya membangun gedung Keraton Kacirebonan di daerah Pulasaren yang diwariskan kepada keturunannya yang bergelar Pangeran Raja Madenda I.

Keraton Kacirebonan memiliki lambang keraton yang berbentuk ikan berbadan tiga dengan satu kepala yang menggambarkan manunggalnya rasa seorang hamba terhadap Tuhannya yang Maha Esa, serta diatasnya terdapat mahkota yang melambangkan kebesaran seorang raja.8 Adapun silsilah Keraton Kacirebonan, yaitu:9

7 Bambang Irianto dan Dyah Komala Laksmawati, Baluarti Keraton Kacirebonan,..., hlm. 2.

8 Bambang Irianto dan Dyah Komala Laksmawati, Baluarti Keraton Kacirebonan, hlm.4.

9 Bambang Irianto dan Dyah Komala Laksmawati, Baluarti Keraton Kacirebonan,..., hlm. 43-44.

(6)

Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah)

P. Adipati Pasarean (P. Muhammad Arifin)

P. Dipati Carbon I (P. Sedang Kamuning)

Panembahan Ratu Pakungwati I (P. Emas Zainal Arifin) P. Dipati Carbon II (P. Sedang Gayam)

Panembahan Ratu Pakungwati II (Panembahan Girilaya) P. Kartawijaya (Sultan Anom Abi Makarimi Badridin)

Kasultanan Kanoman

Sultan Raja Mandurareja Qadirudin (Sultan Kanoman II) P. Raja Kusumah

P. Tumenggung Bahu Denda

Sultan Raja M. Alimudin (Sultan Kanoman III) Sultan Raja Muhammad Khaeruddin (Sultan Kanoman IV) P. Raja Kanoman (Sultan Amiril Mukminin Mohammad Khaeruddin II)

Sultan Kacirebonan (1808-1814)

P. Raja Madenda I (Sultan Kacirebonan II) (1814-1851) P. Raja Madenda II (Sultan Kacirebonan III) (1851-1914) P. Raja Madenda III (Sultan Kacirebonan IV) (1914-1931)

P. Raja Madenda IV (Sultan Kacirebonan V) (1931-1950) P. Sidik Arjaningrat (Sultan Kacirebonan VI) (1950-1956)

(7)

P. Harkat Natadiningrat (Sultan Kacirebonan VII) (1960-1968) P. Moch. Mulyana Amir Natadiningrat (Sultan Kacirebonan VIII)

(1968-1977)

P. Abdul Gani Natadiningrat (Sultan Kacirebonan IX) (1977-sekarang)

C. Prosesi Pernikahan Adat Keraton Kacirebonan

Pernikahan adalah peristiwa yang sangat bersejarah, khususnya bagi sepasang pengantin, dan umumnya keluarga besar kedua mempelai. Momen tersebut adalah momen yang sangat membahagiakan dan banhkan membanggakan. Semuanya harus dibuat serba istimewa dalam takaran tertentu. Oleh karena itu ada adicara dan tatanan yang melembaga di tengah masyarakat Cirebon, sebagai sebuah prosesi panjang, sakral, dan membahagiakan.10 Upacara adat pengantin Cirebon kebesaran dan kepangeranan keduanya mengikuti upacara adat yang sama. Upacara pengantin keluarga keraton mengacu pada tradisi yang telah dilakukan turun- temurun di Keraton Kacirebonan.11 Ada beberapa tahapan yang harus ditempuh sejak sebelum saat menjelang hingga usai prosesi sebuah pernikahan.

1. Sebelum Upacara Perkawinan

Adapun adat istiadat sebelum terjadinya proses pernikahan diantaranya:

a. Njegog atau tetati (meminang atau lamaran)

Njegog adalah prosesi melamar dari pihak pengantin pria kepada pengantin wanita. Pihak pengantin pria mengirimkan utusan kepada pihak pengantin wanita.12 Adapun pelaksanaanya yaitu, Penyambutan utusan calon pengantin laki-laki datang bersama orang tuanya atau

10 Bambang Irianto dan Hempi, Pengantin Adat Pesisir,..., hlm. 21

11 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 15.

12 Inggit Ganati Emot slamet dan ratna herliani suwandi, Tata Rias Pengantin Cirebon,..., hlm. 27.

(8)

utusannya ke kediaman calon pengantin perempuan. Setelah sampai maka kedua orang tua calon pengantin perempuan menyambut kedatangan calon pengantin laki-laki datang bersama orang tuanya atau utusannya. Dengan maksud menanyakan apakah perempuan tersebut masih bebas atau belum ada yang meminangnya. Bila perempuan tersebut belum dipinang atau belum ada yang meminang, maka orang tua calon pengantin laki-laki menyampaikan pinangan dari putranya kepada orang tua calon pengantin perempuan, apakah bapak dan ibu berkenan menerima pinangan ini.13

Kemudian calon pengantin perempuan dipanggil oleh orang tuanya untuk dimintai persetujuan, lalu calon pengantin perempuan diberi penjelasan oleh ayahnya mengenai kedatangan utusan pihak laki-laki beserta keluarganya yang hendak melamar. Jika perempuan tersebut menerima lamaran itu maka perempuan tersebut memberikan jawaban dihadapan semua saksi yang hadir dengan jawaban “ya” atau menganggukan kepala dan tersenyum. Pada saat itu pihak yang melamar menyerahkan tetali atau pengikat lamaran bisa berupa cincin atupun keris. Kemudian kedua orang tua calon pengantin berembug atau bermusyawarah menentukan hari pernikahan, persyaratan dan hari penyerahan seserahan kepada calon pengantin perempuan, serta hal-hal yang penting yang berhubungan dengan acara pernikahan.14

Adapun makna dari prosesi njegog atau lamaran adalah mencari keriḍaan dan keikhlasan, jika tidak ada keriḍaan dan keikhlasan dari pihak perempuan bagaimana menjalani rumah tangganya. Karena riḍa ini menjadi bekal di dalam rumah tangga.15

13 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 16.

14 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 17.

15 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Senin, 18 April 2016, di Jl. Gerliyawan, No. 4.

(9)

b. Seserahan

Seserahan yaitu, upacara yang ditandai penyerahan harta kekayaan pihak pria kepada pihak wanita secara simbolis. Barang-barang bawaan biyasanya berjumlah ganjil, bisa dimulai dari 5 (lima), 7 (tujuh), 9 (sembilan) dan seterusnya yang berjumlah ganjil. Barang yang diberikan itu barang yang ada manfaatnya bagi calon pengantin, barang yang biasa dipakai, barang yang baru, dan kalau bisa barang yang terbaik. Adapun barang seserahan terdiri dari segala keperluan wanita, baik makanan, buah-buahan, pakaian, make up (alat kecantikan), sandal, tempat tidur, alat-alat rumah tangga perhiasan dan uang tunai dan lain-lain.16

Besar dan banyaknya barang seserahan merupakan hal yang penting karena dapat dinilai status sosial dan ekonomi pengantin pria, dengan kata lain semakin banyak dan besar jumlah barang pasrahan, akan semakin naik pula gengsi dari pengantin pria.17 Acara seserahan biasanya dilakukan satu minggu sebelum acara pernikahan, dan dibawa oleh utusan calon mempelai laki-laki dengan melakukan iring-iringan seserahan dengan menggunakan baju yang seragam. Seserahan lamaran diterima oleh orang tua dan keluarga dekat calon mempelai perempuan dan disaksikan oleh calon mempelai perempuan dan sesepuh.

Adapun makna dari seserahan yaitu dalam rangka membujuk calon penganti perempuan apakah mau menikah dengan calon pengantin laki-laki tersebut, dengan membawa barang seserahan.

Dalam acara ini bisa diketahui sifat calon pengantin laki-laki dilihat dari barang yang dibawa saat acara seserahan.18

16 Wawancara Bpk. Elang Iyan, (Ketua Unit Benda Cagar Budaya Keraton Kacirebonan) Senin, 11 April 2016, di Keraton Kacirebonan.

17 Bambang Irianto dan Hempi, Pengantin Adat Pesisir,..., hlm.15.

18 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

(10)

Apabila seserahan secara resmi telah diterima oleh pihak calon mempelai perempuan, maka utusan calon mempelai laki-laki menanyakan kepastian pernikahan akan dilangsungkan, misalnya jam berapa calon mempelai laki-laki akan dijemput oleh utusan calon mempelai perempuan. Setelah didapat keputusan, diadakan sebuah perjamuan kecil dan ditutup dengan do’a bersama. Sejak itulah calon pengantin perempuan nyandi (melakukan pingitan), pingitan merupakan pengaruh dari budaya jawa. Karena pingitan yang dilakukan pada calon wanita berlangsung selama seminggu. Calon pengantin wanita tidak boleh bepergian, dan tidak boleh bertemu dengan calon mempelai pria, harus selalu berada di dalam rumah untuk mengadakan serangkaian persiapan,19 kecuali hendak melakukan prosesi berziarah menjelang akad nikah.

Calon pengantin perempuan memelihara diri dengan minum jamu, jamu yang diminum dapat berupa jamu wiluntas20 yang dicampur bunga kenanga untuk menghilangkan bau badan, bau ketiak dapat dihilangkan dengan kapur sirih (apu), bau mulut dapat dihilangkan dengan mengunyah kapol, kekumus, dan sedikit cengkeh. Dan melakukan perawatan kecantikan tubuh, misalnya dengan membalurkan boreh (lulur wangi) agar kulit nampak cantik bersinar. Rambut dirawat dengan minyak kelapa “keroncongan” yang direndam dengan pulasari (daun mangkokan) dan bunga rampe (sisir daun pandan).21 Dengan berkembangnya zaman hal tersebut jarang dilakukan karena tidak praktis, karena sudah banyak produk jadi yang sudah disediakan oleh beberapa prosusen kosmetik ternama.

19 Bambang Irianto dan Hempi, Pengantin Adat Pesisir,..., hlm.20.

20 Berupa daun yang beraroma harum

21 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 21.

(11)

2. Menjelang Upacara Perkawinan

Adapun adat istiadat menjelang terjadinya prosesi pernikahan di antaranya:

a. Siram Tawandari

Acara siraman ini disebut siram tawandari, yang berasal dari kata siram yang berarti mandi dan tawandari yang berasal dari kata “tawa dan “andadari” yang berarti membersihkan diri dari seluruh noda sehingga bersinar seperti bulan andadari. Acara ini dilaksanakan Sehari sebelum pernikahan, dilakukan sore hari atau pagi hari menjelang akad nikah diadakan siraman pengantin. Acara siraman pada pengantin Cirebon berbeda dengan di daerah lain, dimana kedua calon mempelai dimandikan pada waktu bersamaan dan secara bersama-sama pula.22

Biasanya sebelum upacara siraman, didahului dengan acara pengajian yang dihadiri oleh sekitar 20 orang terdiri dari ibu-ibu. Dalam acara pengajian membacakan surat-surat yang terdapat di dalam al- Qur’an. Sebelum pengajian dimulai, terlebih dahulu disiapkan sebagian air kembang yang nantinya akan digunakan untuk proses siraman, kemudian diletakkan di tengah ibu-ibu pengajian. Sesudah pengajian berlangsung, dipanjatkan doa untuk berlangsungnya hidup berumah tangga calon pengantin.23

Setelah pengajian, calon mempelai perempuan kemudian menyampaikan ungkapan terima kasih kepada kedua orang tuanya karena telah melahirkan, mengasuh dan menjaganya penuh kasih sayang dari kecil hingga dewasa dan hingga memasuki gerbang pernikahan serta memohon maaf bila selama dalam pengasuhan kedua orang tua ada hal-hal yang tidak berkenan di hati mereka, kemudian

22 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 24.

23 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 24.

(12)

calon mempelai perempuan sungkem kepada ayah dan ibu lalu mencuci kakinya sebagai bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya. 24

Pada waktu yang telah ditetapkan, calon mempelai lak-laki dijemput oleh utusan calon mempelai perempuan untuk dimandikan.

Biasanya mereka berkata “Bapak dan ibu (nama orang tua calon mempelai laki-laki), kami adalah utusan dari (nama orang tua laki-laki utusan calon mempelai perempuan), untuk meminjam dan memohon waktu (nama calon mempelai laki-laki) untuk diajak siraman tawandari”. Besar harapan kami bapak dan ibu merestui sekaligus memberi izin (nama calon mempelai laki-laki) untuk berangkat bersama kami. Kemudian dijawab oleh kedua orang tua calon mempelai laki-laki dengan ucapan restunya dan memerintahkan anaknya untuk berangkat dan memerintahkan anaknya untuk berangkat bersama utusan tersebut untuk melaksanakan siraman tawandari, calon mempelai laki-laki berangkat bersama orang tuanya dengan beberapa sesepuh menuju rumah calon mempelai perempuan.25

Upacara ini hanya dihadiri oleh para sesepuh, sementara para remaja yang hadir tidak boleh melihat. Para kerabat pengantin mempersiapkan semuanya, seperti gentong besar (buyung), yang berisi air dari tujuh sumur yang merupakan perlambang dan makna simbolis dari perlambang ini adalah: Allah menyukai angka yang ganjil, Allah menciptakan langit dan bumi selama 7 (tujuh) hari, jumlah hari ada 7 (tujuh), lapisan langit ada 7(tujuh). 7 (tujuh) sumur tesebut bisa diambil dari air yang ada di Gunung Jati, Masjid Merah Panjunan, Masjid Jagabayan, Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, Keraton Keprabonan, dan diberi wewangian dari

24 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 25.

25 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 26.

(13)

kembang setaman, gayung, dan handuk.26 Adapun perlengkapan dan bahan yang disediakan untuk proses siraman, yaitu:27

 Dua helai kain batik khas keraton Cirebon

 Sebuah rangkaian bunga melati penutup kepala calon mempelai perempuan

 Sebuah selendang dan kain putih

 Sebuah guci atau gentong lengkap dengan gayungnya, gentong ini berisi air yang dicampur dengan bunga tujuh warna (bunga setaman), daun andong merah atau ijo, kembang jambe, dan daun beringin. Sedangkan bunga yang wajib digunakan adalah mawar, melati, kantil (kemana-mana ngintil), kenanga, soka, tiga bunga lainnya dapat di variasai.

 Dua buah kursi yang dibalut kain batik khas Cirebon. Dan semua perlengkapan itu ditempatkan pada lunjuk.

Lunjuk adalah bangunan non permanen yang terbuat dari bambu dan dihias untuk upacara siraman sebelum pernikahan ataupun upacara adat nujuh bulanan. Disekeliling lunjuk biasanya ditutup dengan kain batik khas keraton Cirebon dan dihias dengan tanaman seperti daun kelapa (janur), beringin, soka, mangga, puring, pandan, pisang mini, palem, kemudian disispkan buah-buahan seperti jeruk manis, jeruk bali, mangga dan jambu air, sehingga mirip kebun buah. Dapat pula dihiasai dengan lembaran uang kertas yang di bentuk bendera.28

Sebelum acara siraman, kedua calon pengantin diberi lulur pada dada dan punggungnya agar kulit menjadi bersih dan harum. Calon pengantin perempuan dirias ala kadarnya dan dipakaikan kain khas keraton Cirebon sebatas dada sedangkan calon pengantin laki-laki dipakaikan kain khas keraton Cirebon sebatas perut, sehingga nampak

26 Wawancara Bpk. Elang Iyan, (Kepala Unit Benda Cagar Budaya Keraton Kacirebonan) Senin, 11 April 2016, di Keraton Kacirebonan.

27 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 27.

28 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 28.

(14)

terlihat dadanya. Kedua calon pengantin dibawa ketempat upacara siraman ditemani kedua orang tua dan sesepuh. Pada waktu menuju tempat siraman, kedua calon pengantin ditutup kain putih dibahunya dan diiringi gamelan dengan lagu monggang (emong anggang) yang artinya tidak mau berpisah.29

Calon pengantin duduk di kursi yang telah disediakan dalam lunjuk. Calon pengantin wanita duduk di sebelah kiri calon pengantin laki-laki dan di sebelah kiri calon pengantin wanita terdapat guci untuk memandikan mereka. Calon pengantin perempuan hanya menggunakan kain panjang sampai diatas dadanya, kain panjang yang digunakan adalah kain luson (asal kata dari lusu yang sudah dipakai atau bekas).

Kemudian calon pengantin diberi lulur pada dada dan punggungnya sambil membaca mantera yang berisi do’a pengharapan bagi kedua calon.30

Pada saat siraman kedua mempelai dimandikan dalam satu cungkup oleh keluarga calon mempelai. Pertama memandikan calon pengantin wanita dan yang memandikannya itu berurutan dimulai dari bapak dan ibunya lalu para sesepuh (orang yang sudah mempunyai cucu atau sudah menikahkan putra atau putrinya), kemudian dilanjut dengan memandikan calon mempelai pria dan yang memandikannya itu berurutan dimulai dari bapak dan ibunya lalu para sesepuh (orang yang sudah mempunyai cucu atau sudah menikahkan putra atau putrinya).

Adapun makna dari prosesi siram tawandari adalah agar kedua calon pengantin bisa sama-sama melihat keadaan fisik dan melihat tanda-tanda jasmani dari calon pasangannya, apakah membawa genetik atau ciri jelek atau tidak serta hal ini dikarenakan orang tua calon mempelai perempuan dan krabatnya ingin memberikan persetujuan.31

29 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 29.

30 Inggit ganati Emot slamet dan ratna herliani suwandi, tata rias pengantin cirebon,..., hlm. 35.

31 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

(15)

Dalam siraman pun diiringi dengan lagu moblong, Hal ini dimaksudkan agar calon pengantin menjadi menawan dan memiliki wajah yang bersinar dan mengeluarkan cahaya dari wajahnya seperti bulan purnama. Setelah selesai sisa air siraman biasanya disiram- siramkan oleh keluarga atau sesepuh calon pengantin wanita, hal ini bertujuan agar keluarga atau kerabat yang ada disekitarnya dan terkena ciptratan air tersebut agar kerabat atau keluarga yang belum mendapatkan jodoh bisa cepat dapat jodoh, sehingga menjadi cepat menyusul untuk menikah. Upacara ini namanya bendrong sirat yang berarti air bekas siraman yang disiramkan atau dipercikan kepada para gadis atau jejaka yang belum menikah oleh sesepuh.32 Adapun sajen yang disiapkan pada saat acara siraman adalah:33

 Tumpeng/ panggang ayam

 Juwadah pasar

 Lilin dengan standar yang di nyalakan

 Pedupaan

Sajen ini merupakan simbol kesakralan yang disimpan di sebelah lunjuk atau di tempat yang tidak jauh dari teras rumah. Setelah selesai acara siraman sajen ini diberikan kepada orang yang membacakan kidung pada saat prosesi siraman.34

b. Parasan

Calon pengantin yang telah melakukan acara siraman kemudian masuk ke kamar masing-masing untuk dikeringkan dan berganti pakaian. Khusus untuk calon pengantin wanita upacara dilanjut dengan parasan atau ngerik. Parasan adalah membuang rambut kekebel yang dilakukan oleh juru rias dan diteruskan oleh orang tua pengantin

32 Wawancara Bpk Elang Iyan, (Kepala Unit BCB Keraton Kacirebonan) Senin, 11 April 2016, di Keraton Kacirebonan.

33 Inggit Ganati Emot Slamet dan Ratna Herliani Suwandi, Tata Rias Pengantin Cirebon,..., hlm. 39.

34 Wawancara Bpk. Elang Iyan, (Kepala Unit BCB Keraton Kacirebonan) Kamis, 2 Juni 2016, di Keraton Kacirebonan.

(16)

perempuan, dan boleh disaksikan oleh kerabatnya. Alunan musik yang mengiringi masih lagu moblong yang artinya murub mancur bagaikan bulan purnama.35

Bagian rambut yang dibuang adalah rambut pada bagian atas dahi (parasan keteb), hidung, atas bibir, dagu dan kelopak mata. Kemudian rambut godeg dan bulu kalong yang terdapat dipinggiran kuduk dirapihkan serta membentuk alis wulan tumanggal. Bila calon pengantin menggunakan jilbab, maka bagian rambut yang perlu dibuang hanya pada bagian wajah yang terlihat saja. Potongan rambut dikumpulkan oleh juru rias dan dibungkus dengan kain mori kemudian dikubur di paduraksa (sebelah kiri bagian belakang rumah), hal ini dimaksudkan agar calon pengantin perempuan ulet dalam mengurus rumah tangga. Kuku dirapihkan dan diberi warna menggunakan daun pacar atau menggunakan cutek.36

Adapun makna dari prosesi parasan ini adalah agar calon pengantin terlihat cakep, rapih, bersih. Karena didalam rumah tangga itu istri harus selalu rapih dan cantik, dan cantiknya istri itu hanya untuk suami. Bagi suami “rumahku surgaku”. Bukan hanya pada saat menjadi pengantin saja cantiknya, tetapi selamanya dalam menjalani rumah tangga harus menjaga kecantikannya.37

Pada prosesi ini terdapat sajen yang disiapkan pada saat parasan atau ngerik pengantin perempuan di antaranya:38

 Satu lembar tikar pandan putih ditumpangi kain putih (mor) untuk duduk pengantin wanita.

 Kobokan berisikan tatakan piring dan direndami uang logam (pasatan)

35 Inggit Ganati Emot Slamet dan Ratna Herliani Suwandi, Tata Rias Pengantin Cirebon,..., hlm.37.

36 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 32-33.

37 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

38 Inggit Ganati Emot Slamet dan Ratna Herliani Suwandi, Tata Rias Pengantin Cirebon,..., hlm.39

(17)

 Lilin berstandar yang dinyalakan

 Tumpeng/ panggang ayam

 Wedang kopi 2 lumur/ gelas

 Jawadah pasar/ pedupaan

Sajen ini merupakan simbol kesakralan yang disimpan di dalam kamar pengantin perempuan. Setelah selesai acara parasan sajen ini diberikan kepada juru rias.

c. Ziaran ke Makam Sunan Gunung Jati

Setelah parasan calon pengantin perempuan dirias sederhana, kemudian kedua calon pengantin beserta keluarganya melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung. Dalam adat pengantin Keraton Kacirebonan biasanya calon pengantin yang keesokan harinya hendak melangsungkan pernikahan, maka ziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan memanjatkan doa dan harapan kepada Allah.39 Bagi calon pengantin yang berasal dari kalangan masyarakat biasa hanya bisa memanjatkan do’a di depan gapura pengantin di Gunung Sembung, karena hanya keturunan keraton saja yang boleh memasuki pintu pasujudan. Setelah ziarah kubur kedua calon pengantin beserta keluarganya pulang kerumah masing-masing dan kedua calon pengantin tidak boleh bertemu sama sekali sampai acara akad nikah selesai.40

Adapun makna dari prosesi ziarah ke makam Sunan Gunung Jati adalah kedua calon pengantin dari sebelum nikah calon pengantin sudah pasti yakin akan mengalami kematian. Prosesi ini merupakan nasehat ingat bahwa didunia mencari keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah, tujuannya untuk bekal di akhirat. Batu nisan yang miring melambangkan daun kluwih yang melambangkan ketika berumah tangga di dunia jangan hidup berlebih-lebihan karena kita akan

39 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 34.

40 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

(18)

menerima suatu keadaan yang maha dahsyat bagi pribadi seseorang yaitu kematian, serta agar mengingat bahwa tujuan akhir adalah

“rabbanā ātinā fīddunyā ḥasah wa f īl ākhirati ḥasah wakinā

„aż ābannār”.41 3. Saat Upacara Perkawinan

Ada beberapa tahap upacara adat yang dilakukan menjelang akad nikah, di antaranya sebagai berikut:

a. Tengteng Pengantin

Tengteng pengantin adalah serangkaian acara penjemputan calon pengantin laki-laki. Utusan calon mempelai perempuan menjemput calon pengantin laki-laki, setelah sampai di rumah calon mempelai laki- laki, utusan itu menemui kedua orang tua mempelai laki-laki dan menyampaikan maksud kedatangannya untuk menjemput calon mempelai laki-laki yang akan dinikahkan secara agama Islam.42 Setelah menyampaikan maksud upacara penjemputan, calon pengantin laki-laki ditengteng (dibawa) ketempat upacara pernikahan dikediaman calon pengantin perempuan.43 Namun kedua orang tua mempelai laki-laki tidak ikut berangkat bersama rombongan. Orang tuanya hanya merestui dan mengiringinya dengan do’a, karena dalam adat keraton Kacirebonan kedua orang tua calon pengantin laki-laki tidak diperkenankan hadir pada waktu akad nikah berlangsung. Setelah akad nikah, orang tua mempelai laki-laki hadir ketempat pernikahan. Begitu juga calon pengantin perempuan tidak diperkenankan keluar bersama calon mempelai laki-laki untuk menghadap penghulu, hanya calon

41 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

42 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 35

43 Inggit Ganati Emot Slamet dan Ratna Herliani Suwandi, Tata Rias Pengantin Cirebon,..., hlm.42

(19)

mempelai laki-laki, bapak atau wali dari calon mempelai perempuan, dua orang saksi dan penghulu yang berada di tempat pernikahan. 44

Tengteng pengantin pria dipimpin oleh cucuk lampah (orang yang bertugas mengatur langkah rombongan pengantin pria begitu memasuki area berlangsungnya prosesi pernikahan) bersama wakil orang tua calon pengantin wanita menjemput calon pengantin pria. Begitu rombongan pengantin pria dan penjemput tiba kemudian penjemputan melaporkan kepada orang tua calon pengantin wanita yang di pugari oleh pagar bagus atau pagar ayu di depan pintu utama calon pengantin wanita.45

Adapun makna dari tenteng pengantin adalah sebagai penghormatan untuk calon imam yang akan menuju bahtera rumah tangga. Calon khalifah dalam rumah tangga yang dipercaya oleh pihak keluarga calon pengantin perempuan.46

Pada prosesi ini terdapat sajen yang disiapkan pada saat acara walīmah nikah, di antaranya sebagai berikut:47

 Tumpeng dan ayam panggang utuh

 Kendi bertumpukan ayam mentah

 Selembar tikar pandan putih

 7 tebok kecil berisi: setangkai daun sirih. ulen putih, kuning, biru.

 Dodol/wajik.

 Opak.

 pisang raja.

 Jawadah pasar.

 Pedupaan.

44 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 36.

45 Bambang Irianto dan Hempi, Pengantin Adat Pesisiran,..., hlm. 22.

46 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

47 Inggit Ganati Emot Slamet dan Ratna Herliani Suwandi, Tata Rias Pengantin Cirebon,..., hlm. 39-40.

(20)

Sajen ini merupakan simbol kesakralan yang disimpan dekat tempat prosesi ijab qabul. Setelah selesai ijab qabul sajen ini diberikan kepada naib (orang yang menikahkan).

Adapun makna dari sajen yang ada disetiap prosesi pernikahan adalah: pertama, untuk membuat suasana itu lebih bersungguh- sungguh, bukan main-main, kesungguhan yang dimaksud ini kesungguhan kepada Allah SWT. Kedua, Sodaqoh kepada makhluk lain karena di dalam al-Quran terdapat makhluk lain yang jumlahnya banyak, umurnya panjang dan mereka butuh hidup serta makanan.

Manusia sebagai khalifah dimuka bumi, dan kita sama-sama hidup di dunia, maka kita tidak boleh sombong kepada makhluk lain termasuk jin muslim.

b. Akad Nikah atau Upacara Ijab Qabul

Sebagian besar masyarakat Cirebon merupakan penganut Agama Islam, maka upacara yang dilakukan juga menggunakan sistem Islam.

Dimana upacara akad nikah disaksikan wali dari kedua belah pihak.

Upacara ini dapat dilangsungkan di Masjid atau di rumah calon pengantin perempuan, yaitu dengan memanggil penghulu atau kyai.

Sebelum akad nikah, ada acara khotbah nikah khotbah ini diisi oleh petugas KUA diteruskan ijab qabul atau akad nikah. Adapun tata cara jalannya acara akad nikah, sebagai berikut:48

1) Pada waktu calon mempelai laki-laki menghadap penghulu, sebelum duduk keris harus dilepas. Sebab keris berfungsi sama dengan wakil. Jangan sampai dalam pernikahan ada dua mempelai.

2) Sebelum duduk, calon mempelai laki-laki harus disediakan tikar yang baru. Apabila calon mempelai laki-laki duduk di kursi, di atas kursi diberi alas tikar yang baru. Maksudnya adalah semenjak itulah calon mempelai laki-laki memiliki hak (nampi klasa gumelar).

48 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 37.

(21)

3) Di sebelah tempat duduk calon mempelai laki-laki disediakan nasi tumpeng dan ayam panggang yang nantinya akan diserahkan kepada ahli masjid terdekat, yang merupakan bagian dari sajen akad nikah. Sebagai ungkapan rasa syukur telah dilangsungkannya pernikahan.

Pada saat acara ijab qabul, pengantin laki-laki ditutup dengan kain milik ibu calon pengantin perempuan, sedangkan pengantin wanita itu tidak dihadirkan, diharapkan calon pengantin pria ini benar-benar mandiri untuk mengucapkan sumpah atau janjinya dihadapan Allah dan disaksikan oleh para saksi dan juga petugas KUA. Dalam acara ini dilakukan dialog antara lebe (penghulu) dengan mempelai pria yang diawali dengan upacara ijab qabul dan pembacaan janji nikah dihadapan penghulu dan para saksi. Setelah ijab qabul pengantin wanita dihadirkan, dan selanjutnya sepasang pengantin kemudian membubuhkan tanda tangan diatas surat nikah dan diikuti dengan pemberian sejumlah uang atau perhiasan sebagai tanda maskawin.

c. Salam Temon

Salam temon adalah bertemunya pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan untuk melanjutkan upacara adat pernikahan selanjutnya. Adapun makna dari prosesi salam temon adalah pertemuan pengantin yang merupakan lambang cinta, karena dalam pernikahan ada cinta, pertemuan itu bukan hanya fisik tetapi lahir maupun batin.49 Selanjutnya upacara penyambutan kedua mempelai pengantin yang diselipi dengan acara nyandra, nyandra dilakukan ketika kedua mempelai memasuki tempat resepsi pernikahan.50 Adapun contoh nyandra sebagai berikut:51

49 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

50 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 40.

51 Disalin berdasarkan naskah yang di tulis oleh Pangeran Yusuf Dendabrata, di Cirebon, 30 Juli 1995.

(22)

Lepas tindaking sang kamajaya lan kamaratih miwah sagung para widadari saking kayangan kang arsa nderek tindaking Diajeng Dra.

Sri Hardiyanti kaliyan Dimas Ir. Gatot Handoyono, lajeng Dra. Sri Hardiyani kaliyan Dimas Ir. Surawan Rahadi. Mangkana tindakira daya daya prapta ing mayapada.

Sigeg gantiya ingkang kacapa, kang wonten satehing gedong kacirebonan 73.

Para panisepuh kaliyan para putri putri lan putra-putri katingal waniya andeeeeeeeeeeeeeeeeer.

Malah kenging dipun silakoni kadiya pager bagus lan pager ayu.

Sedaya sami-sami andekaken penganten kekalih hingkang yekti wus dadiya pasangan laki rabi rerimbitan.

Penganten kekalih dasar terahing kusumah, rembesing madu, tendaking amartapada, winjiling andanawarih, lamun lumampah andadosaken pangaribawa gara-gara. Gamelan si lokananta munggal ing awing-awing lintang kerti lintang joar samiya andeeeeeeeer.

Katambihan putra lan mantu ngawangking:

- Sinjang wadasan sawat penganten mangrupi lambing kesuburan dumugi ing dasar.

- Ngawingking rasukan warni sinom parijoto mangrupi lambang kesuburan lan kejayaan.

- Ngawingking duhung ki tembaruk mugiya selaminipun dipun berkahi dumateng Allah subhanahu wa ta‟ala.

- Ngawangking sumping mugiya kekalih sageda nyumpingaken pituwah-pituwah saking tiyang sepuh kekalih.

- Ingkang jaler ngawangking iket mugiya kekalih sageda sami- sami percanten ing jangji nikah.

- Ingkang istri ngawangking aba-aba suri maksudipun tiyang istri kedah saged anyureni ingkang ruwed-ruwed.

- Ugi dipun sarengi kaliyan pajang jene mangrupi simbul panganyoman gesang rerimbitan.

- Gending ingkang kaunekaken nami “monggang” artosipun emong anggang.

- Lenggah ing korsi minangka raja kaliyan ratu sedinten.

Hanging punika warna nira pasewakan ing gedong kacirebonan 73 luber lir samudra bena.

Artinya:

Kepergian prabu Kamajaya dan Kamaratih membuat semua bidadari dari surga mengikuti jejak ananda Dra. Sri Hardiyanti dengan Dimas Ir. Gatot Handoyono, dan ananda Dra. Sri Ir Hardiyani dengan Dimas Ir. Surawan Rahadi. Oleh karena itu sekiranya yang ada di alam semesta.

Menceritakan kembali dengan ucapan yang ada di sekitar gudung Kacirebonan 73.

(23)

Para orang tua dengan putri-putri dan putra-putra dan para keturunannya.

Bahkan dapat dikatakan seperti pager cantik dan pager ganteng.

Semuanya sama-sama menjadikan pengantin yang sudah menjadi pasangan suami istri.

Kedua pengantin ini pada dasarnya keturunan orang-orang hebat, pada tempat pertemuan, maka lahirlah menjadi kedua pengantin itu, jika berjalan pengantin akan mengakibatkan kewibawaan dan membuat heboh orang-orang. Gamelan para dewa yang khusus dikayangan berbunyi di atas langit bintang kecil bintang besar dan keseluruhan alam semesta.

Bertambahnya putra dan menantu memakai:

- Kain wadasan sawat pengantin yang merupakan lambang dasar memilik kesuburan

- Memakai pakaian berwarna hijau dan kuning merupakan lambang kesuburan dan kejayaan.

- Memakai keris yang bernama ki tembaruk semoga selamanya diberikan keberkahan oleh Allah SWT.

- Memakai hiasan di telinga yang terbuat dari kulit semoga kedua pengantin dapat melaksanakan nasehat-nasehat dari orang tua.

- Untuk pengantin laki-laki memakai topi pengantin, semoga kedua pengantin sama-sama dapat percaya kepada sumpah setianya.

- Untuk pengantin perempuan memakai hiasan sisir, maksudnya seorang istri harus mampu menyelesaikan masalah yang rumit.

- Juga diberikan bersama mereka janur kuning yang merupakan simbol untuk hidup berdua.

- irama gamelan yang dilantunkan bernama monggang yang artinya tidak mau berjauhan atau berpisah.

- Duduk di atas kursi seperti raja dan ratu sehari.

Demikianlah penjelasan pada pertemuan di gedung Kacirebonan 73 sehingga kebahagiaanya turut menyebar kepada hadirin yang datang seperti lautan samudra.

Selanjutnya kedua mempelai duduk di pelaminan. Pada saat menuju pelaminan pengantin diiringi dengan karawitan dengan lagu monggang atau mong anggang yang berarti keduanya itu dari mulai mengucapkan ijab qabul sampai akhir hayatnya itu akan selalu bersama atau selalu bersama-sama terus.52 Kemudian pengantin perempuan sungkem kepada suaminya, dilanjutkan dengan prosesi injak telur. Telur

52 Wawancara Bpk. Elang Iyan, (Kepala Unit Benda Cagar Budaya Keraton Kacirebonan) Senin, 11 April 2016, di Keraton Kacirebonan.

(24)

diletakkan di atas pipisan (batu persegi) yang dibalut kain putih atau batik Cirebon, kemudian telur diinjak oleh pengantin laki-laki yang melambangkan perubahan status jejaka dan gadis menjadi suami istri yang hendak membina rumah tangga dan memiliki keturunan. Setelah itu, kaki pengantin laki-laki dibersihkan oleh pengantin perempuan yang melambangkan kesetiaan dan bakti sebagai istri yang siap bersama membangun rumah tangga dan hidup mendampingi suaminya.53

d. Pug-pugan

Pug-pugan berasal dari kata pog yang artinya selesai, selesai ini maksudnya tugas orang tua selesai dan orang tua tidak akan mencampuri urusan rumah tangga anak yang sudah menikah.54 Menaburi kepala pengantin dengan welit yang sudah lapuk (terbuat dari ilalang dan daun kelapa yang sudah lapuk) oleh kedua orang tua kepada kedua mempelai. Hal ini melambangkan kedua pengantin awet jodohnya bagaikan welit yang terikat erat hingga lapuk, dapat memanfaatkan rejeki dari Allah walaupun hanya sedikit demi kepentingan rumah tangga.55 Adapun makna dari prosesi Pug-pugan adalah berakhirnya tanggung jawab orang tua kepada anaknya, sehingga jika terjadi masalah dalam rumah tangga tidak ada lagi intervensi dari orang tua dan orang lain.56

e. Sungkem

Kedua pengantin melakukan sembah sungkem kepada kedua orang tua mereka untuk memberi hormat dan berterima kasih atas segala kasih sayangnya selama selama ini dan telah meriḍoinya.57 Kedua mempelai melakukan sungkem dengan cara mandap (berjongkok), sungkem yang

53 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 44-45.

54 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

55 Inggit Ganati Emot Slamet dan Ratna Herliani Suwandi, Tata Rias Pengantin Cirebon,..., hlm.47.

56 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

57 Bambang Irianto dan Hempi, Pengantin Adat Pesisiran,..., hlm. 23.

(25)

pertama dilakukan kedua mempelai kepada kedua orang tua mempelai laki-laki, secara bergantian. Kemudian kedua mempelai sungkem kepada kedua orang tua mempelai perempuan secara bergantian.58

Adapun makna dari prosesi ini adalah tanda bakti dari istri kepada suami. Dari pengantin kepada orang tuanya. Mohon do’a restunya untuk mulai kehidupan baru dan tidak ada turut campur dari orang tua dan mertua.59

f. Adep-adep Sekul

Upacara adep-adep sekul di pimpin oleh juru rias. Kedua mempelai bersama-sama makan nasi ketan kuning yang sudah menjadi bulatan- bulatan kecil berjumlah 13 buah dilengkapi dengan lauk burung merpati sejodoh. Bulatan ketan ini dimakan dengan cara, orang tua pengantin perempuan menyuapi pengantin sebanyak empat buah secara bergantian. Kemudian kedua orang tua pengantin laki-laki menyuapi pengantin sebanyak empat buah secara bergantian, selanjutnya mempelai saling menyuapi sebanyak empat buah. Sisa yang terakhir diperebutkan oleh kedua mempelai, siapa yang mendapatkan ketan kuning tersebut maka dia mendapat rezeki lebih banyak. Tetapi rezeki yang diperoleh tersebut tidak boleh dimakan sendiri melainkan harus dimakan bersama. Adapun makna dari prosesi adep-adep sekul adalah lambang kemesraan, jadi sesungguhnya kemesraan itu harus dibawa sampai akhir hayat, karena dengan kmesraan itulah kehidupan dalam rumah tangga akan terasa manis dan ada kegembiraan sehingga tidak ada ketegangan.60

Upacara terakhir yaitu memecahkan kendi bersama-sama. Maknanya adalah permasalahan yang ditemui dalam perjalanan rumah tangga,

58 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 46.

59 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

60 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

(26)

hendaknya dipecahkan dan dicarikan jalan keluarnya sama-sama,61 serta tidak ada intervensi dari pihak lain termasuk orang tua.62

g. Sawer atau Surak

Sawer merupakan ungkapan rasa bahagia dari orang tua atas terlaksananya pernikahan putri perempuannya dan merupakan harapan dari orang tua agar kedua mempelai mendapat rezeki dari Allah sehingga dapat melaksanakan amal jariyah, serta dapat berbagi rasa antara suami istri sehingga tercipta keharmonisan dan keserasian.

Kebahagiaan itu diwujudkan dalam bentuk sawer dengan melempar uang receh beserta beras kuning dan kunyit.63 Sawer merupakan simbol yang bermakna sebagai rasa syukur kepada Allah dan buang sial dari berbagai macam penyakit.64 Setelah rangkaian upacara tersebut selesai, kedua mempelai kembali duduk ke palaminan. Kemudian mempersilahkan hadirin atau tamu undangan untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai, setelah itu hadirin atau tamu undangan dipersilahkan untuk langsung menuju tempat hidangan.65

h. Acara Selingan

Dalam acara selingan biasanya berisi hiburan tradisional, seperti tari-tarian, maupun menanggap wayang kulit atau wayang golek cepak dengan lakon dewa kamajaya dan dewi kamaratih sepanjang hari.66 Adapun makna dari prosesi ini sebagai penghibur untuk tamu undangan yang menghadiri acara pernikahan.

61 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 48.

62 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

63 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 49.

64 Wawancara Bpk. R. Agus (Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata) Kamis, 2 Juni 2016, di Keraton Kacirebonan.

65 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 49.

66 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 50.

(27)

4. Sesudah Upacara Perkawinan

Adapun beberapa tahap upacara adat yang dilakukan setelah upacara pernikahan, di antaranya sebagai berikut:

a. Nyorog

Nyorog adalah tradisi mengirimkan sejumlah persembahan sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan yang diwujudkan dalam bentuk sejumlah hidangan, makanan, buah-buahan, kue, dari keluarga pengantin wanita yang di bawa oleh sepasang pengantin kepada keluarga besar pengantin pria, khususnya kepada orang tua pengantin pria.67 Adapun makna dari prosesi ini adalah sebagai lambang silaturaḥim.68

b. Ngunduh Mantu

Ngunduh mantu adalah semacam upacara pesta perkawinan yang diselenggarakan oleh keluarga pengantin pria. Biasanya dilaksanakan kurang lebih satu minggu setelah pesta perkawinan di keluarga pengantin wanita. Acara ini pada umumnya dilakukan karena pihak keluarga pria ingin kerabat, kolega, atau relasi yang lebih luas. Hal ini bertujuan untuk lebih mensyiarkan bahwa puteranya telah menikah dengan seorang pujaan hatinya dan agar lebih banyak yang mendo’akan agar putera-puterinya dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan baik dan bahagia.69

Makna dari prosesi ini adalah silaturaḥim, dan memperkenalkan istri dari pengantin laki-laki kepada tetangga disekitar rumah mempelai laki-laki.70

Itulah serangkaian prosesi pernikahan adat keraton Kacirebonan, yang dilaksanakan oleh keluarga keraton Kacireboanan. Walaupun prosesi pernikahan terkesan rumit dan butuh biaya yang tidak sedikit,

67 Bambang Irianto dan Hempi, Pengantin Adat Pesisir,..., hlm. 23.

68 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

69 Bambang Irianto dan Hempi, Pengantin Adat Pesisir ,..., hlm. 24.

70 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

(28)

namun keluarga keraton mempunyai tujuan yang sangat penting bagi generasi penerusnya, yaitu untuk melestarikan adat yang telah berjalan sebelumnya kepada generasi sesudahnya agar adat ini tidak hilang dimakan oleh perkembangan zaman.71

Prosesi pernikahan adat ini menggunakan hipnotisme Hindu yang dilakukan Sunan Gunung Jati untuk mengajak masyarakat masuk Islam.

Seperti dengan cara sawer, sajen, wayang, tari-tarian, itu semua merupakan ajaran Hindu yang kemudian di Islamkan. Hal ini di karenakan pada saat Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam secara langsung akan diangggap penjajah dan dilempari batu oleh masyarakat sehingga Sunan Gunung Jati menggunakan cara hipnotisme Hindu untuk menarik masyarakat mengant ajaran Islam, dan sampai sekarang adat ini masih digunankan karena merupakan warisan dari para leluhur yang patut untuk dilestarikan. Keraton Kacirebonan mengacu pada Republik Indonesia, sehingga adat istiadat yang ada di keraton merupakan simbol kekayaan Nusantara, sedangkan budaya merupakan identitas negara.

Oleh karena itu, adat yang ada harus dipertahankan dan dilestarikan agar tidak hilang.72

Dalam perkembanganya upacara adat pernikahan ini tidak lagi sesuai dengan pelaksanaan semula. Upacara adat dilakukan begitu sakral dan begitu hikmat, namun terdapat perubahan dalam nilai budaya, dapat dilihat dari peralatan yang digunakan misalnya, melakukan perawatan kecantikan tubuh, misalnya dengan membalurkan boreh (lulur wangi) agar kulit nampak cantik bersinar. Rambut dirawat dengan minyak kelapa “keroncongan” yang direndam dengan pulasari (daun mangkokan) dan bunga rampe (sisir daun pandan).73 Tetapi dengan berkembangnya zaman hal tersebut jarang dilakukan karena tidak praktis, karena sudah

71 Wawancara Bpk. R. Agus, (Ketua Penggerak Pariwisata Keraton Kacirebonan) Kamis, 2 Juni 2016, di Keraton Kacirebonan.

72 Wawancara Bpk. Elang Blue Gun, (Penjaga Malam Keraton Kacirebonan) Kamis, 2 Juni 2016, di Keraton Kacirebonan.

73 Dyah Komala Laksmawati, Inggit Ganati Emot Slamet, dan Ratna Herlina Suwandi, Pengantin Cirebon: Warisan,..., hlm. 21.

(29)

banyak produk jadi yang sudah disediakan oleh beberapa prosusen kosmetik ternama.

Indikator dari perubahan nilai-nilai budaya tersebut diantaranya yaitu; pendidikan masyarakat yang meningkat, sehingga mempengaruhi pola pikir dalam melakukan kegiatan apapun. Masyarakat memilih peralatan yang lebih praktis dan mudah didapat.74

74 Wawancara Bpk. Bambang Irianto, (Pengageng Penata Budaya Keraton Kacirebonan) Selasa, 3 Mei 2016, di Jl. Gerliyawan No. 4.

Referensi

Dokumen terkait

subjek yaitu pendidik dan siswa. 35) mengemukakan “ belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru

Tujuan dari penelitian ini adalah membuat sebuah prototipe perangkat pemberitahuan penggantian oli melalui notifikasi SMS kepada pemilik sepeda motor setiap tercapai jarak

Hasil identifikasi program yang dilakukan di desa Wanasari ditetapkan dua program pioritas yang dilaksanakan di desa ini. Program-program tersebut adalah 1) penguatan

Dengan adanya dewan direksi diharapkan dapat menciptakan hubungan yang baik dengan pihak manajemen sehingga dapat mengambil keputusan permodalan yang optimal yang bertujuan

perusahaan perbankan oleh Sulistyowati (2017) menganalisis pengaruh Good Corporate Governance terhadap kinerja keuangan yang terdiri atas dewan direksi, dewan komisaris,

Jika kita berpikir kritis, maka ketika kita dihadapkan dengan suatu informasi yang tidak kita ketahui secara jelas kebenarannya, maka kita tidak akan menelan mentah-mentah

Disamping aspek-aspek lain yang juga mempengaruhi pencapaian kinerja keuangan yang baik seperti aspek SDM yang berkualitas, suatu perusahaan dalam hal ini Rumah Sakit,