i
AUDIT TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI BERBASIS COBIT 5 (DSS05) UNTUK EVALUASI KEAMANAN SISTEM INFORMASI PADA DINAS
KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN KENDAL
Disusun Oleh:
Nama
:Tri Rachmawati Sari
NIM
:A12.2012.04719
Program Studi
:Sistem Informasi - S1
FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO
SEMARANG
2016
ii
AUDIT TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI BERBASIS COBIT 5 (DSS05) UNTUK EVALUASI KEAMANAN SISTEM INFORMASI PADA DINAS
KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN KENDAL
Laporan ini disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi Sistem Informasi S-1 pada Fakultas Ilmu Komputer
Universitas Dian Nuswantoro
Disusun Oleh:
Nama
:Tri Rachmawati Sari
NIM
:A12.2012.04719
Program Studi
:Sistem Informasi - S1
HALAMAN JUDUL
FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO
SEMARANG
2016
iii
NB: Halaman ini tidak perlu dihapus dan dicetak Silakan download halaman ini di siadin setelah ujian
iv
Silakan download halaman ini di siadin setelah ujian
v
Silakan download halaman ini di siadin setelah ujian
vi
NB: Halaman ini tidak perlu dihapus dan dicetak Silakan download halaman ini di siadin setelah ujian
vii
Pengasih dan Maha Penyayang yang telah melimpahkan segala rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada penulis sehingga laporan tugas akhir dengan judul “Audit Tata Kelola Teknologi Informasi Berbasis COBIT 5 (DSS05) Untuk Evaluasi Keamanan Sistem Informasi Pada Dinas Komunikasi Kabupaten Kendal” dapat penulis selesaikan sesuai dengan rencana karena dukungan dari berbagai pihak tidak ternilai besarnya. Oleh karena itu penulis menyampaikan terimakasih kepada:
1. Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kom, selaku Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
2. Dr. Abdul Syukur, MM, selaku Dekan Fakultas Ilmu Komputer.
3. Affandy, Ph. D, selaku Ketua Progam Studi Sistem Informasi-S1.
4. Wellia Shinta Sari, M.Kom, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan ide penelitian, memberikan informasi referensi yang penulis butuhkan dan bimbingan yang berkaitan dengan penelitian penulis.
5. Dosen-dosen pengampu di Fakultas Ilmu Komputer Sistem Informasi-S1 Universitas Dian Nuswantoro Semarang yang telah memberikan ilmu dan pengalamannya masing-masing, sehingga penulis dapat mengimplementasikan ilmu yang telah disampaikan.
6. Abd. Salam S.E, selaku Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal yang telah memberikan ijin, saran dan arahan terkait penelitian ini.
7. Heri Aryanto, S.H, M.Kom beserta seluruh staff Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal yang telah memberikan data-data, arahan dan kerjasama yang penulis butuhkan untuk menyusun tugas akhir ini.
8. Bapak, Ibu, Kakak dan sahabat-sahabat (Wulan, Prastica, Dana, Doni, Andhika, Wanti, Cicik, dll) yang telah memberikan dukungan moril, doa dan kasih sayang serta memberikan referensi informasi tambahan kepada penulis.
9. Semua pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah berkontribusi dalam penyusunan tugas akhir ini.
Semoga Tuhan yang Maha Esa memberikan balasan yang lebih besar kepada beliau-beliau, dan pada akhirnya penulsi berharap bahwa penulisan laporan tugas akhir ini dapat bermanfaaat dan berguna sebagaimana fungsinya.
Semarang, 3 Februari 2016
Penulis
ix
adanya masalah mengenai tidak rutinnya melakukan monitoring back up data, jaringan yaitu koneksi yang tidak stabil dan putusnya koneksi secara tiba-tiba juga menjadi permasalahan pada jaringan. Dari permasalahan tersebut, maka diperlukan sebuah kegiatan audit tata kelola teknologi informasi untuk evaluasi keamanan sistem informasi berdasarkan domain deliver, service and support (DSS05) yang mengacu pada COBIT 5 dengan mengumpulkan hasil studi dokumen, wawancara dan kuesioner. Proses selanjutnya akan diolah untuk mengetahui hasil penelitian yang diperoleh dari hasil tingkat kapabilitas dan analisis kesenjangan. Setelah dilakukan pengukuran tingkat kapabilitas maka diperoleh hasil sebesar 76,45% atau setara dengan 2,76% dengan status Largely Achieved dimana pengkomunikasian mengenai perencanaan, pengawasan dan penyesuaian dari performa proses pada keamanan sistem informasi belum sepenuhnya dikelola dengan baik. dari hasil analisa pengukuran tingkat kapabilitas mengacu target level 3 masih terdapat kesenjangan (gap) untuk dapat mencapai hasil maksimal. Dengan begitu Dinas Kominfo Kabupaten Kendal dapat melakukan strategi perbaikan yang dilakukan secara bertahap dari proses atribut level 1 sampai dengan level 3.
Kata kunci : COBIT 5, Audit Tata Kelola TI, Deliver, Service and Support (DSS05), Tingkat Kapabilitas, Kesenjangan.
xv + 117 halaman; 9 gambar; 14 tabel Daftar Acuan: 13 (2009 – 2015)
x
Persetujuan Laporan Tugas Akhir ... iii
Pengesahan Dewan Penguji ... iv
Pernyataan Keaslian Tugas Akhir ... v
Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah Untuk Kepentingan Akademis .. vi
Ucapan Terimakasih ... vii
Abstrak ... ix
Daftar Isi ... x
Daftar Gambar... xiii
Daftar Tabel ... xiv
Daftar Lampiran ... xv
Bab 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Batasan Masalah ... 3
1.4 Tujuan Penelitian ... 4
1.5 Manfaat Penelitian ... 4
Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Tinjauan Pustaka ... 5
2.2 Tata Kelola TI (IT Governance) ... 7
2.3 Audit Tata Kelola Teknologi Informasi... 9
2.4 COBIT (Control Objectives for Information and related Technology) .. 10
2.5 COBIT 5 ... 11
2.5.1 Model Referensi Proses COBIT 5 ... 13
2.5.2 Model Kapabilitas Proses Pada COBIT 5 ... 17
2.5.3 Skala Penilaian ... 22
2.6 Analisis Kesenjangan (Gap Analysis)... 23
2.7 COBIT 5 Proses Deliver, Service and Support (DSS05)... 23
2.8 RACI Chart... 25
2.9 Keamanan Sistem Informasi ... 26
2.10 Pentingnya Keamanan Sistem Informasi ... 26
2.11 Manajemen Keamanan Sistem Informasi ... 28
2.12 Tipe Ancaman Informasi ... 28
2.13 Pengamanan Jaringan ... 29
Bab 3 METODE PENELITIAN ... 32
3.1 Metode Pengumpulan Data ... 32
3.3.1 Jenis Data dan Sumber Data... 33
3.2 Metode Analisis ... 34
Bab 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 36
4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 36
4.2 Visi dan Misi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal .. 36
4.3 Tugas Pokok dan fungsi Dinas Komunikasi Kabupaten Kendal ... 37
4.4 Struktur Organisasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal... ... 38
4.4.1 Deskripsi Tugas Pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal ... 38
4.5 Hasil Pengumpulan Data ... 40
4.5.1 Hasil Studi Dokumen ... 41
4.6 Hasil Wawancara ... 41
4.7 Hasil Kuesioner... 44
4.8 Analisis dan Pembahasan... 45
4.9 Analisis Kesenjangan ( Gap Analysis)... 67
4.10 Strategi Perbaikan ... 70
Bab 5 PENUTUP ... 74
5.1 Simpulan ... 74
5.2 Saran ... 75
DAFTAR PUSTAKA ... 76
LAMPIRAN ... 78
xiii
Gambar 2.2 Sejarah Perkembangan COBIT ... 11
Gambar 2.3 Lima Prinsip Utama COBIT ... 12
Gambar 2.4 Model Referensi COBIT 5 ... 14
Gambar 2.5 Model Kematangan proses COBIT 4.1 ... 18
Gambar 2.6 Model Kapabilitas Proses COBIT 5 ... 19
Gambar 2.7 Diagram RACI ... 26
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal ... 38
Gambar 4.2 Grafik Kesenjangan Kapabilitas ... 67
xiv
Tabel 2.1 Penelitian Terkait Analisis Tata Kelola TI Berdasarkan COBIT 5 ... 6
Tabel 4.1 Ringkasan Hasil Wawancara ... 41
Tabel 4.2 Ringkasan Pencapaian Level Kuesioner ... 44
Tabel 4.3 Hasil dan Pembahasan Pencapaian Level 0 ... 45
Tabel 4.4 Hasil dan Pembahasan Pencapaian Level 1 PA 1.1 Process Performance ... 46
Tabel 4.5 Hasil dan Pembahasan Pencapaian Level 2 PA 2.1 Performance Management ... 50
Tabel 4.6 Hasil dan Pembahasan Pencapaian Level 2 PA 2.2 Work Product Management ... 52
Tabel 4.7 Hasil dan Pembahasan Pencapaian Level 3 PA 3.1 Work Process Definition ... 54
Tabel 4.8 Hasil dan Pembahasan Pencapaian Level 3 PA 3.2 Process Deployment ... 57
Tabel 4.9 Hasil dan Pembahasan Pencapaian Level 4 PA 4.1 Process Measurement ... 59
Tabel 4.10 Hasil dan Pembahasan Pencapaian Level 4 PA 4.2 Process Control . 61 Tabel 4.11 Hasil dan Pembahasan Pencapaian Level 5 PA 5.1 Process Innovation ... 64
Tabel 4.12 Hasil dan Pembahasan Pencapaian Level 5 PA 5.2 Process Optimization ... 66
Tabel 4.13 Analisis Kesenjangan Proses Atribut Level 1-3 ... 68
xv
Lampiran 2. Pengamanan Sistem ... 80
Lampiran 3. Identifikasi Hukum dan Kebijakan ... 82
Lampiran 4. Hasil Scan Penyebaran Kuesioner ... 86
Lampiran 5. Wawancara ... 105
Lampiran 6. Hasil Kuesioner ... 110
Lampiran 7. Hasil Scan Surat Keterangan Penelitian Tugas Akhir ... 116
1 1.1 Latar Belakang Masalah
Pemanfaatan teknologi informasi saat ini sudah menjadi bagian yang sangat penting bagi semua sektor. Sektor pemerintahan merupakan salah satu yang turut menggunakan pemanfaatan teknologi informasi. Karena dengan adanya teknologi informasi dapat membantu berbagai proses aktivitas yang dilaksanakan setiap harinya dan penambah nilai potensi yang ada. Untuk menjaga agar teknologi informasi menjadi penambah nilai bagi pemerintah, diperlukan sebuah tata kelola teknologi informasi agar dapat menyelaraskan strategi, mengatur dan mengontrol semua yang berhubungan dengan teknologi informasi untuk mencapai tujuan dengan pertambahan nilai serta menyeimbangkan resiko yang ada [1].
Di hampir semua sektor pemerintahan sudah menerapkan pemanfaatan teknologi informasi. Sesuai dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika selaku Ketua Harian Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional Nomor 08/KEP/M/KOMINFO/02/2007 tentang Pembentukan Tata Pamong Teknologi Informasi dan Komunikasi (IT Governance) [2]. Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal merupakan salah satu sektor pemerintah yang telah menerapkan pemanfaatan teknologi informasi. Dalam menerapkan pemanfaatan tekonologi informasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal menyadari perlunya sebuah prosedur pengamanan sistem informasi.
Sistem informasi merupakan sebuah aset yang sangat penting bagi organisasi untuk dilindungi terhadap ancaman-ancaman keamanan yang sekarang ini menjadi lebih luas dan rumit sehingga nantinya dapat merugikan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal.
Keamanan sistem informasi merupakan masalah utama bagi organisasi, perusahaan dan pemerintahan. Dalam Dinas Komunikasi dan Informatika
Kabupaten Kendal belum mendefinisikan secara jelas terkait SOP (Standar Operasional System) untuk menangani permasalahan pada sistem informasi dan telekomunikasi. Dalam permasalahan sistem penanganan keamanan yang sering dialami pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal yaitu pada sentra sentra pengolahan / penyimpanan data, karena tidak rutinnya melakukan monitoring back up data, Serta jaringan yang tidak stabil dan putusnya koneksi secara tiba-tiba juga menjadi permasalahan pada jaringan dan server. Pada laporan ancaman keamanan internet yang dirilis oleh Symantec tahun 2013 menujukkan bahwa sektor pemerintahan menjadi target utama dalam data breach, kemudian diikuti dengan pengungkapan tidak sengaja dan pencurian atau kehilangan laptop, komputer, flashdisk dan lain sebagainya. Tentunya hal ini meresahkan karena sektor pemerintahan merupakan lembaga yang akuntabel dalam melayani kepentingan rakyat [3]. Berdasarkan informasi tersebut, diperlukan suatu audit tata kelola teknologi informasi terkait keamanan sistem informasi pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal.
Salah satu tools tata kelola teknologi Informasi adalah COBIT (Control Objective for Information & Related Technology). COBIT merupakan kumpulan IT best practice untuk tata kelola IT yang dapat membantu pengguna, manajemen organisasi dalam menganalisa kesenjangan (gap) antara kebutuhan bisnis, kebutuhan control dan kebutuhan Teknis IT. Salah satu penelitian mengenai penggunaan kerangka kerja COBIT adalah “ Audit Keamanan Sistem Informasi Pada Kantor Pemerintah Kota Yogyakarta Menggunakan COBIT 5” yang menghasilkan temuan tingkat model kapabilitas pada skala 1 (Performed Process) dimana masih kurangnya pendokumentasian laporan, pedoman atau SOP terkait keamanan SI di pemerintah Kota Yogyakarta dan cenderung mengabaikan membuat laporan atau dokumentasi proses [3].
Terdapat lima macam domain dalam COBIT 5 salah satunya adalah DSS (Deliver, Service and Support), yang berkaitan dengan memberikan pelayanan, pengelolaan keamanan, dukungan bagi pengguna, manajemen data dan fasilitas operasional.
Domain DSS proses DSS05 (manage security service), dipilih karena pada proses
ini melindungi informasi organisasi untuk mempertahankan tingkat resiko keamanan informasi yang dapat diterima organisasi sesuai dengan kebijakan keamanan [1]. Dari uraian diatas, maka penulis akan melakukan penelitian yang berjudul “Audit Tata Kelola Teknologi Informasi Berbasis COBIT 5 (DSS05) Untuk Evaluasi Keamanan Sistem Informasi Pada Dinas Komunikasi Dan Informatika Kabupaten Kendal”. Dengan adanya evaluasi ini nantinya diharapkan dapat berguna untuk menjaga integritas keamanan sistem informasi, meminimalkan rentan keamanan sistem informasi, dapat menjaga aset sistem informasi dan dapat mengetahui tingkat kapabilitas keamanan sistem informasi yang ada pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian sebelumnya, yang menjadi titik pembahasan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kualitas keamanan sistem informasi yang diterapkan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal menggunakan domain deliver, service and support (DSS05) yang dilihat dari analisis tingkat kapabilitas berdasarkan COBIT 5?
2. Apa yang harus diperbaiki untuk meminimalisir resiko yang mungkin terjadi pada keamanan sistem informasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal, dari hasil analisis kesenjangan?
1.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini hanya akan membahas :
1. Evaluasi keamanan sistem informasi pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal menggunakan COBIT 5 domain DSS05 (Manage Security Service).
2. Data acuan yang digunakan adalah hasil observasi, wawancara dan kuesioner yang dilakukan pada panduan COBIT 5.
3. Evaluasi yang dilakukan hanya terkait keamanan data, jaringan dan server.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah
1. Mengidentifikasi kualitas keamanan sistem informasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal saat ini dan yang diharapkan, dengan mengukur tingkat kapabilitas proses keamanan sistem informasi yang relevan menggunakan deliver, service and support (DSS05) berdasarkan COBIT 5.
2. Dari hasil analisis kesenjangan (gap) dapat membuat rencana strategis untuk meningkatkan kualitas keamanan sistem informasi sesuai yang diharapkan Dinas Komunikasi dan Informatika berdasarkan COBIT 5.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah
1. Dapat memberikan saran dan rekomendasi terhadap penerapan tata kelola TI Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal.
2. Dapat memberikan informasi pendukung berikutnya melalui COBIT 5.
5 2.1 Tinjauan Pustaka
Terdapat beberapa penelitian mengenai audit tata kelola TI menggunakan COBIT 5, diantaranya adalah penelitian yang membahas mengenai tata kelola keamanan sistem informasi menggunakan COBIT 5 dengan judul “Audit Keamanan Sistem Informasi Pada Kantor Pemerintah Kota Yogyakarta Menggunakan COBIT 5”.
Permasalahan dalam penelitian ini yaitu sejak tujuh tahun berlalu ditetapkan Peraturan walikota tentang standar operasional dan prosedur manajemen pengamanan sistem informasi Pemerintah Kota Yogyakarta belum pernah melakukan audit terhadap keamanan sistem informasi. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kapabilitas keamanan sistem informasi pada Pemerintah Kota Yogyakarta. Penelitian melakukan pengumpulan data dari kuesioner berdasarkan COBIT 5. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu mencapai level yang ditargetkan yaitu level 3 (Established Process). Penelitian dilakukan melalui 5 proses dalam COBIT 5 dan hanya mampu mencapai level 1 (Incomplete Process) dengan rincian Proses EDM03 dengan nilai sebesar 1,13. Proses APO12 dengan nilai sebesar 1,24. Proses AP013 dengan nilai 1,22. Proses BAI06 dengan nilai 1,18 dan Proses DSS05 dengan nilai 1,54 [3].
Penelitian lain mengenai tata kelola TI menggunakan COBIT 5 yaitu “Audit TeNOSS Menggunakan COBIT 5 pada Domain Deliver, Service and Support (DSS) pada PT Telkom Malang. Permasalahan pada aplikasi TeNOSS ini masih terjadi loading yang lama dan rumitnya dalam melakukan input data pelanggan, sehingga penelitian ini dilakukan untuk dapat merekomendasikan perbaikan atau pengembangan TeNOSS. Penelitian melakukan pengumpulan data dari kuesioner, interview dan observasi berdasarkan COBIT 5. Hasil dari penelitian didapat dari domain DSS (DSS02, DSS05 dan DSS06) diperoleh capability level dari kondisi
saat ini DSS02 dan DSS06 berada pada level 3 (Established Process) target yang ingin dicapai level 4 (Predictable Process) dan DSS05 berada pada level 2 (Managed Process) target yang ingin dicapai level 3 (Established Process) dari perbandingan hasil dan yang ingin dicapai didapatkan nilai gap sebesar 1 [4].
Tabel 2.1 Penelitian Terkait Analisis Tata Kelola TI Berdasarkan COBIT 5
No
Nama Peneliti dan Tahun
Masalah Metode Hasil
1. Dewi
Ciptaningrum ,dkk, 2015
Sejak tujuh tahun ditetapkan Peraturan walikota tentang standar operasional dan prosedur manajemen
pengamanan sistem informasi Pemerintah Kota Yogyakarta
belum pernah
melakukan audit terhadap keamanan sistem informasi.
Sehingga diperlukan audit keamanan sistem informasi yang diharapkan mampu mengetahui tingkat kapabilitas keamanan sistem informasi.
Kerangka kerja COBIT 5 (Proses EDM03, APO12, APO13, BAI06 dan DSS05).
Kelima proses hanya bisa mencapai level 1 dan tidak ada proses yang mampu
mencapai level yang ditargetkan yaitu pada level 3.
No
Nama Peneliti dan Tahun
Masalah Metode Hasil
2. Desepta Isna Ulumi,dkk, 2015
Pada aplikasi
TeNOSS masih
terjadi loading yang lama dan rumit dalam melakukan input data pelanggan dan dalam penerapanya tidak ada tindak lanjut dari PT.
Telkom, sehingga diperlukan Audit
TeNOSS untuk
rekomendasi
perbaikan dan pengembangan
sistem.
Capability Level COBIT 5 (Proses DSS02, DSS05 dan DSS06).
Capability Level yang diperoleh dari DSS02, DSS06 adalah
level 3
(Established Process) dengan gap sebesar 1 untuk mencapai level 4 dan DSS05 adalah
level 2
(Managed
Process) dengan gap 1 untuk mencapai level 3.
2.2 Tata Kelola TI (IT Governance)
Tata kelola TI merupakan suatu kebijakan, proses/ aktivitas yang mencakup sistem informasi, teknologi dan komunikasi, bisnis dan hukum serta isu-isu lain yang melibatkan hampir seluruh pemangku kepentingan organisasi, baik direktur, manajemen eksekutif, pengguna TI bahkan pengaudit SI/TI yang dapat mendukung pengoperasian TI agar dapat memperluas strategi dan tujuan perusahaan [5].
Tujuan dari tata kelola TI adalah menyelaraskan bisnis dan TI untuk menjamin kinerja TI memenuhi dan sesuai dengan tujuan, sebagai berikut [5]:
1. Menyelaraskan TI dengan strategi dalam organisasi untuk merealisasikan keuntungan-keuntungan yang telah dijanjikan dalam penerapan TI.
2. Penggunaan TI memungkinkan organisasi dapat memaksimalkan manfaat yang ada serta dapat memperbesar peluang-peluang dari hasil menerapkan TI.
3. Pertanggungjawaban dalam penggunaan sumber daya TI untuk mendukung strategi dan tujuan bisnis TI.
4. Manajemen yang sesuai dengan resiko-resiko yang berkaitan dengan TI.
Fokus utama dari area tata kelola TI dibedakan menjadi lima bagian area utama yaitu [5]:
Gambar 2.1 Fokus Area Tata Kelola TI [5]
Penjelasan singkat mengenai tata kelola TI pada gambar 2.1 adalah sebagai berikut :
1. Strategic Alignment, berfokus pada kepastian terhadap keterkaitan antara startegi bisnis dan TI serta penyelarasan antara operasional TI dengan bisnis.
2. Value Delivery, berfokus pada penyampaian nilai untuk memastikan bahwa TI dapat memenuhi manfaat yang dijanjikan dengan memfokuskan pada pengoptimalan biaya dan pembuktian nilai hakiki keberadaan TI.
3. Resource Management, berkaitan dengan pengoptimalan dan pengelolaan secara tepat dari sumber daya TI yang kritis, meliputi : aplikasi, informasi, infrastruktur dan SDM. Hal-hal penting yang berkaitan dengan area ini adalah pengoptimalan pengetahuan dan infrastruktur yang ada.
4. Risk Managemet, fokus pada resiko dan bagaimana perhatian perusahaan terhadap keberadaan resiko, pemahaman kebutuhan akan kepatutan, transparasi akan resiko terhadap proses bisnis perusahaan serta tanggung jawab untuk mengatasi resiko-resiko yang masuk ke dalam organisasi.
5. Performance Measurement, pengukuran dan pengawasan implementasi dari kinerja teknologi informasi yang berjalan, penggunaan SDM dan kinerja proses sesuai dengan tujuan kebutuhan bisnis organisasi yang akan dicapai.
2.3 Audit Tata Kelola Teknologi Informasi
Audit tata kelola TI dapat diartikan sebagai aktivitas pengumpulan dan pengevaluasian dari bukti-bukti yang ada untuk proses penentuan apakah proses TI yang berlangsung dalam organisasi tersebut telah dikelola sesuai dengan standar dan dilengkapi dengan objektif kontrol untuk mengawasi penggunannya serta apakah telah memenuhi tujuan bisnis organisasi secara efektif dengan menggunakan sumber daya yang efektif [5].
Elemen utama dalam aktivitas audit tata kelola TI dapat diklasifikasikan dalam tinjauan penting berikut [5] :
1. Tinjauan terkait dengan fisik dan lingkungan, mencakup hal-hal yang tekait dengan keamanan fisik, sumber daya, temperatur dan faktor lingkungan lainnya.
2. Tinjauan administrasi sistem, yaitu mencakup tinjauan keamanan sistem informasi, database seluruh prosedur administrasi sistem.
3. Tinjauan perangkat lunak, tinjauan yang mencakup aplikasi bisnis organisasi berupa sistem berbasis web yang menjadi inti dari jalannya proses bisnis suatu organisasi.
4. Tinjauan keamanan jaringan, yang mencakup jaringan internal maupun eksternal yang terhubung dengan sistem dalam organisasi. Tinjauan terhadap tingkat keamanan serta pendeteksian akan gangguan ancaman yang masuk ke dalam sistem.
5. Tinjauan kontinuitas bisnis, memastikan ketersedian backup data dan penyimpanan jika sewaktu-waktu terjadi bencana.
6. Tinjauan integritas bisnis, memastikan ketelitian data yang sedang beroperasi.
2.4 COBIT (Control Objectives for Information and related Technology) COBIT merupakan salah satu kerangka kerja TI yang dapat digunakan untuk membantu penyelasaran strategi bisnis dan tujuan tata kelola TI. Pengertian COBIT adalah suatu standar dalam kerangka kerja domain yang terdiri dari sekumpulan proses TI dan sekumpulan dokumentasi best practices untuk aktivitas dalam tata kelola TI yang dapat digunakan untuk membantu pendefisian strategi dan kontrol pada manajemen tingkat atas dalam menganalisa kesenjangan gap antara resiko bisnis, kebutuhan pengendalian dan permasalahan-permasalan yang yang ada dan dapat dipakai sebagai acuan langsung terkait pengelolaan TI.
COBIT dibuat oleh IT Governance Institute (ITGI) dan merupakan bagian dari Information Systems Audit and Control Association (ISACA). COBIT terdiri dari tujuan pengendalian, pedoman audit dan pedoman manajemen serta pelaksanaannya yang sangat berguna untuk para auditor, pemakai TI dan para manajer.
COBIT pertama kali keluar pada tahun 1996 dengan COBIT versi 1 yang lebih menekankan pada audit, kemudian pada tahun 1998 keluar COBIT versi kedua yang menekankan pada pengendalian. Pada tahun 2000 keluar COBIT versi 3 yang berorientasi pada manajemen. Dan kemudian COBIT versi 4 keluar pada bulan desember 2005 dan COBIT versi 4.1 keluar pada bulan mei 2007 yang berorientasi pada tata kelola TI. Dan yang terakhir sampai saat ini COBIT versi 5 keluar pada bulan juni 2012 yang lebih menekankan tata kelola TI pada perusahaan [6].
Gambar 2.2 Sejarah Perkembangan COBIT [6]
2.5 COBIT 5
COBIT 5 menyediakan kerangka kerja yang dapat membantu perusahaan atau organisasi untuk menciptakan nilai yang optimal dari tata kelola TI dengan mempertahankan, menyeimbangkan antara mewujudkan manfaat dan mengoptimalkan tingkat resiko dan sumber daya TI. COBIT 5 memungkinkan tata kelola TI untuk dapat mengatur dan mengelola seluruh bisnis perusahaan atau organisasi yang berkaitan dengan bidang fungsional TI [7].
COBIT 5 didasarkan pada lima prinsip utama untuk tata kelola dan manajemen TI perusahaan. Kelima prinsip ini diharapkan dapat membangun tata kelola perusahaan atau organisasi yang dapat mengoptimalkan tingkat resiko dan memberikan keuntungan bagi perusahaan atau organisasi [7].
Gambar 2.3 Lima Prinsip Utama COBIT 5 [7]
1. Prinsip 1 : Memenuhi Kebutuhan Stakeholder. Perusahaan menciptakan nilai bagi para Stakeholder dengan merealisasikan manfaat dan mengoptimalkan resiko. COBIT 5 menyediakan semua proses yang diperlukan perusahaan untuk memenuhi dalam pencapaian nilai bisnis melalui penggunaan TI.
Karena setiap perusahaan memiliki tujuan yang berbeda sehingga peusahaan dapat menyesuaikan sendiri tujuan bisnisnya melalui COBIT 5.
2. Prinsip 2 : Melingkupi Seluruh Perusahaan. COBIT 5 dapat mencakup semua fungsi di dalam perusahaan, tidak hanya fokus pada fungsi TI, tetapi semua aset yang ada di dalam perusahaan. COBIT 5 mengintegrasikan semua tata kelola TI dan manajemen TI agar dapat digunakan dalam seluruh perusahaan dari segala aspek dan semua sumber daya baik internal maupun eksternal yang berhubungan dengan tata kelola TI dan manajemen TI.
3. Prinsip 3 : Menerapkan Satu Kerangka Tunggal yang Terintegrasi. Banyak standar yang berkaitan dengan TI. COBIT 5 selaras dengan standar kerja yang relevan lainnya dan kerangka kerja tingkat tinggi, dengan demikian COBIT 5 dapat berfungsi sebagai kerangka kerja untuk tata kelola TI dan manajemen TI pada perusahaan.
4. Prinsip 4 : Menggunakan Sebuah Pendekatan yang Menyeluruh. Tata kelola TI dan manajemen TI perusahaan yang efektif dan efisien memerlukan pendekatan dengan mempertimbangkan beberapa komponen yang saling
berinteraksi. COBIT 5 dapat mendefinisikan pendekatan-pendekatan tersebut untuk membantu perusahan atau organisasi dalam mencapai tujuan perusahaan atau organisasi. COBIT 5 mendefinisikan tujuh kategori pendekatan :
a. Prinsip, kebijakan dan kerangka kerja b. Proses
c. Struktur organisasi
d. Budaya, etika dan perilaku e. Informasi
f. Layanan, infrastruktur dan aplikasi
g. Sumber daya, keterampilan dan kompetensi
5. Prinsip 5 : Pemisahan Tata Kelola Dari Manajemen. Kerangka kerja COBIT 5 membuat perbedaan yang jelas antara tata kelola dan manajemen. Dua disiplin mencakup berbagai jenis kegiatan, struktur organisasi dan tujuan.
Pebedaan utama antara tata kelola dan manajemen :
a. Tata Kelola. Tata kelola memastikan kepentingan kebutuhan, kondisi, pilihan yang akan dievaluasi, menetapkan arah perusahaan, pengambilan keputusan, pemantauan kinerja sumber daya dan kepatuhan yang disepakati untuk dapat mencapai tujuan perusahaan yang ingin dicapai.
Pada kebanyakan perusahaan, tata kelola keseluruhan merupakan tanggung jawab dewan direksi di bawah kepemimpinan ketua.
b. Manajemen. Manajemen mempunyai rencana, membangun, menjalankan dan monitoring semua kegiatan supaya dapat sejalan dengan arah yang telah ditetapkan dalam perusahaan serta dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan perusahaan. Pada kebanyakan perusahaan, manajemen adalah tanggung jawab manajemen eksekutif di bawah kepemimpinan CEO.
2.5.1 Model Referensi Proses COBIT 5
Model referensi COBIT 5 merupakan suatu model yang mendefinisikan dan menjelaskan secara rinci mengenai tata kelola dan manajemen. Model tersebut
mewakili semua proses yang ada di organisasi yang berkaitan dengan kegiatan TI, menyediakan model referensi yang mudah dipahami oleh operasional TI dan manajer bisnis. Model referensi COBIT 5 merupakan evolusi dari model referensi COBIT 4.1 yang diitegrasikan dengan model proses RiskIT dan ValIT [7].
Gambar 2.4 Model Referensi COBIT 5 [7]
Gambar di atas menunjukkan 37 proses tata kelola dan manajemen pada proses COBIT 5. Model referensi COBIT 5 dibagi menjadi 2 proses utama yaitu tata kelola dan manajemen [7].
1. Tata kelola (Governance)
Memuat lima proses tata kelola, di dalam domain evaluasi, pengarahan dan pengawasan. EDM (Evaluate, Direct and Monitoring), tujuan domain EDM adalah untuk menetapkan arah melalui prioritas dan pengambilan keputusan,
melakukan pemantauan kinerja dan memberikan arahan kepada TI. Kelima proses tersebut terdiri dari :
a. EDM01 Memastikan adanya pengaturan dan pemeliharaan kerangka kerja tata kelola (Ensure governance framework setting and maintenance).
b. EDM02 Memastikan mendapat manfaat (Ensure benefits delivery).
c. EDM03 Memastikan optimalisasi resiko (Ensure risk optimisation).
d. EDM04 Memastikan optimalisasi sumber daya (Ensure resource otimisation).
e. EDM05 Memastikan transparasi terhadap stakeholder (ensure stakeholder transparency).
2. Manajemen
Memuat empat proses yang sejajar dengan area tanggung jawab dari merencanakan, membangun, menjalankan dan memantau (Plan, Run, and Monitoring). Serta menyediakan cakupan yang menyeluruh dari ruang lingkup TI, yaitu :
a. Domain menyelaraskan, merencanakan dan mengatur. APO (Align, Plan and Organise), tujuan domain APO adalah untuk memberikan taktik dan mengidentifikasi cara terbaik yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk membantu mencapai tujuan dan sasaran perusahaan. Domain APO juga memperhatikan bentuk organisasi dan infrastrukutur guna untuk mencapai hasil yang optimal dan memberikan manfaat dari penggunaan TI. Domain APO terdiri dari 13 proses yaitu :
1) APO01 Mengelola manajemen kerangka TI (Manage the IT management framework).
2) APO02 Mengelola strategi (Manage strategy).
3) APO03 Mengelola arsitektur informasi (Manage enterprise architecture).
4) APO04 Mengelola inovasi (Manage innovation).
5) APO05 Mengelola portopolio (Manage portofolio).
6) APO06 Mengelola anggaran dan biaya (Manage budget and costs).
7) APO07 Mengelola sumber daya manusia (Manage human resources).
8) APO08 Mengelola hubungan (Manage relationships).
9) APO09 Mengelola perjanjian layanan (Manage service agreements).
10) APO10 Mengelola pemasok (Manage suppliers).
11) APO11 Mengelola kualitas (Manage quality).
12) APO12 Mengelola risk (Manage risk).
13) APO13 Mengelola keamanan (Manage security).
b. Domain membangun, memperoleh dan melaksanakan. BAI (Build, Acquire and Implement), tujuan domain BAI adalah untuk mengidentifikasi solusi TI yang perlu dikembangkan dan diterapkan ke dalam proses bisnis perusahaan. Domain BAI terdiri dari 10 proses yaitu : 1) BAI01 Mengelola program dan proyek (Manage programmes and
projects).
2) BAI02 Mengelola definisi kebutuhan (Manage requirements definition).
3) BAI03 Mengelola solusi otomatis (Manage solutions identification and build).
4) BAI04 Mengelola ketersediaan dan kapasitas (Manage availability and capacity).
5) BAI05 Mengelola perubahan pemberdayaan organisasi (Manage organisational change enablement).
6) BAI06 Mengelola perubahan (Manage changes).
7) BAI07 Mengelola penerimaan perubahan dan transisi (Manage Change acceptance and transitioning).
8) BAI08 Mengelola pengetahuan (Manage knowledge).
9) BAI09 Mengelola aset (Manage assets).
10) BAI10 Mengelola konfigurasi (Manage configuration).
c. Domain menghasilkan, melayani dan mendukung. DSS (Deliver, Service and Support), tujuan domain DSS adalah untuk memberikan pelayanan seperti memberikan pelayanan aplikasi di dalam proses TI, pengelolaan
keamanan dan dukungan pelaksanaan proses TI yang lebih efektif dan efisien. Domain DSS terdiri dari 6 proses yaitu :
1) DSS01 Mengelola operasi (Manage operations).
2) DSS02 Mengelola layanan permintaan dan insiden (Manage service requests ans incidents).
3) DSS03 Mengelola permasalahan (Manage problems).
4) DSS04 Mengelola layanan yang berkelanjutan (Manage continuity).
5) DSS05 Mengelola layanan keamanan (Manage security services).
6) DSS06 Mengelola proses bisnis kontrol (Manage business process controls).
d. Domain mengawasi, mengevaluasi dan menilai. MEA (Monitor, Evaluate and Assess), tujuan domain MEA adalah untuk menilai kebutuhan perusahaan terhadap proses TI saat ini terhadap kepatuhan dari peraturan tata kelola. Serta penilaian terhadap proses TI pada kemampuannya untuk memenuhi tujuan bisnis dan proses kontrol perusahaan. Domain MEA terdiri dari 3 proses yaitu :
1) MEA01 Monitor, evaluasi dan menilai kinerja dan kesesuaian (Monitor, evaluate and assess performance and performance).
2) MEA02 Memantau, mengevaluasi dan menilai sistem pengendalian internal (Monitor, evaluate and assess the system of internal control).
3) MEA03 Memantau, mengevaluasi dan menilai kepatuhan dan kebutuhan eksternal (Monitor, evaluate and assess compliance with external requirements).
2.5.2 Model Kapabilitas Proses Pada COBIT 5
Penggunaan COBIT 4.1, dikenal dengan model proses kematangan termasuk dalam kematangan kerangka kerja. Model yang digunakan untuk mengukur kematangan terkait dengan proses tata kelola TI dan untuk mengukur tingkat kesenjangan gap serta menentukan bagaimana meningkatkan proses untuk mencapai tingkatan yang diinginkan [7].
Gambar 2.5 Model Kematangan Proses COBIT 4.1 [7]
Untuk model kapabilitas proses COBIT 5 yang telah diakui secara internasional oleh ISO/IEC 15504 mengenai software egineering dan process assessment. Pada model kapabilitas proses dilakukan penilaian dan proses dukungan perbaikan dengan menyediakan sarana kinerja dari tiap-tiap proses tata kelola dan proses manajemen, dimana akan dilakukan evaluasi atau perbaikan untuk meningkatkan performasinya [7].
Indikator kapabilitas proses adalah kemampuan proses dalam meraih tingkat kapabilitas yang dibentuk oleh atribut proses. Bukti atas indikator kapabilitas proses akan mendukung penilaian atas pencapaian atribut proses [7].
Kapabilitas proses yang ada kemudian dituangkan pada suatau penilaian kapabilitas proses yang disebut Process Assessment Model. Model ini digunakan sebagai dokumen basis referensi untuk menilai peforma kapabilitas TI organisasi serta [8]:
1. Mendefinisikan kebutuhan-kebutuhan minimun untuk melakukan penilaian (output-output yang dibutuhkan).
2. Mendefinisikan proses kapabilitas dalam dua dimensi yaitu proses dan kapabilitas.
3. Menggunakan indikator proses kapabilitas dan proses performa untuk menentukan apakah atribut proses telah terpenuhi.
4. Mengukur performa proses berdasarkan sebuah urutan praktik dasar dan aktivitas-aktivitas untuk memenuhi work product.
5. Mengukur proses kapabilitas melalui pencapaian atribut berdasarkan bukti spesifik (level 1) dan generic (level yang lebih tinggi) practies dan work product.
Dimensi kapabilitas dalam model penilaian proses mencakup enam tingkat kapabilitas. Di dalam enam tingkat tersebut terdapat sembilan atribut proses.
Level 0 mengenai keberadaan proses. Ada perbedaan penilaian antara penilaian untuk level 1 dan level yang lebih tinggi. Hal ini dilakukan karena level 1 menentukan apakah suatu proses mencapai tujuannya, dan oleh karena itu sangat penting untuk dicapai dan juga menjadi pondasi dalam meraih level yang lebih tinggi. Pada level yang tertinggi 5 ini sudah menjadi prestasi yang sangat penting bagi suatu organisasi atau peusahaan. Masing-masing dalam organisasi atau perusahaan harus menentukan berdasarkan biaya manfaat dan kelayakan untuk dapat mencapai tingkatan kapabilitas yang diinginkan.
Gambar 2.6 Model Kapabilitas Proses COBIT 5 [7]
Ada enam tingkatan kapabilitas yang dapat dicapai oleh masing-masing proses, yaitu [8]:
1. Level 0 (Incomplete Process)
Merupakan proses yang gagal mencapai tujuan. Pada tingkat ini, ada sedikit atau tidak ada bukti dari setiap pencapaian sistematis tujuan proses. Proses ini tidak memiliki atribut.
2. Level 1 (Performed Process)
Merupakan proses yang dijalankan. Proses yang telah diimplementasikan dan berhasil mencapai tujuannya. Tingkat ini hanya memiliki “Process Performance” sebagai proses atribut yaitu pengukuran mengenai seberapa jauh tujuan dari suatu proses yang berhasil diraih. Pencapaian penuh atas atribut ini mengakibatkan proses tersebut meraih tujuan yang sudah ditentukan.
3. Level 2 (Managed Process)
Merupakan proses yang teratur. Proses yang telah dijalankan mencapai tujuannya dan diimplementasikan dengan cara yang lebih teratur dengan cara di kelola mencakup perencanaan, pengawasan dan penyesuaian. Work products nya dijalankan, dikendalikan dan dipertahankan dengan tepat.
Ketentuan atribut proses pada level 2 adalah sebagai berikut : a. PA 2.1 Performance Management
Mengukur sampai dimana performa proses dikelola.
b. PA 2.2 Work Product Management
Mengukur sejauh mana hasil kerja yang dihasilkan oleh proses dikelola.
Hasil kerja yang dimaksud dalam hal ini adalah hasil dari proses.
4. Level 3 (Established Process)
Merupakan proses yang tetap. Dimana proses yang telah diimplementasikan dengan cara yang teratur kemudian telah berhasil ditetapkan dan mampu untuk mencapai outcome yang telah diharapkan. Ketentuan atribut proses pada level 3 adalah sebagai berikut :
a. PA 3.1 Process Definition
Mengukur sejauh mana proses standar dikelola untuk mendukung pengerjaan dari proses yang telah didefinisikan.
b. PA 3.2 Process Deployment
Mengukur sejauh mana proses standar secara efektif telah dijalankan seperti yang telah didefinisikan untuk mencapai hasil dari proses.
5. Level 4 (Predictable Process)
Merupakan proses yang dapat diprediksi. Proses yang telah berjalan kemudian dioperasikan dengan batasan yang ditentukan untuk mencapai outcome yang diharapkan. Ketentuan atribut proses pada level 4 adalah sebagai berikut :
a. PA 4.1 Process Measurement
Mengenal seberapa jauh hasil pengukuran digunakan untuk memastikan bahwa performa proses mendukung pencapaian tujuan proses untuk mendukung tujuan organisasi. Pengukuran bisa pengukuran proses ataupun pengukuran produk atau pengukuran kedua-duanya.
b. PA 4.2 Process Control
Pengukuran tentang seberapa jauh suatu proses secara kuantitatif bisa menghasilkan proses yang stabil, mampu dan bisa diprediksi dalam batasan yang telah ditentukan.
6. Level 5 (Optimizing Process)
Merupakan proses optimasi. Proses yang dijalankan diatas ditingkatkan secara berkelanjutan untuk memenuhi tujuan bisnis organisasi baik di saat ini dan di masa depan. Ketentuan proses pada level 5 adalah sebagai berikut : a. PA 5.1 Process Innovation
Mengukur sebuah perubahan proses yang telah diidentifikasi dari analisis penyebab umum dari adanya variasi di dalam performa dan dari investigasi pendekatan inovatif untuk mendefinisikan dan melaksanakan proses.
b. PA 5.2 Process Optimization
Mengukur perubahan untuk definisi, manajemen dan performa proses agar memiliki hasil yang berdampak secara efektif untuk mencapai tujuan dari proses peningkatan.
2.5.3 Skala Penilaian
Skala penilaian digunakan setelah memperoleh hasil dari analisa tingkat kapabilitas. Setiap atribut dinilai menggunakan standar skala penilaian yang dijelaskan dalam standar ISO/IEC 15504. Skala penilaian terdiri atas [8]:
1. N (Not achieved atau Tidak tercapai)
Dalam kategori ini tidak ada atau hanya terdapat sedikit bukti atas pencapaian atribut proses tersebut. Range nilai yang diraih pada kategori ini berkisar 0%
sampai 15%.
2. P (Partically achieved atau Tercapai sebagian)
Dalam kategori ini terdapat beberapa bukti mengenai pendekatan dan beberapa pencapaian atribut atas proses tersebut. Range nilai yang diraih pada kategori ini berkisar antara >15% sampai 50%.
3. L (Largely achieved atau Secara garis besar tercapai)
Dalam kategori ini terdapat bukti atas pendekatan sistematis dan pencapaian signifikan atas proses tersebut, meski mungkin masih ada kelemahan yang tidak signifikan. Range nilai yang diraih pada kategori ini berkisar antara
>50% sampai 85%.
4. F (Fully achieved atau Tercapai penuh)
Dalam kategori ini terdapat cukup bukti atas pendekatan sistematis dan lengkap, dan pencapaian penuh atas atribut proses tersebut serta tidak ada kelemahan terkait atribut proses tersebut. Range nilai yang diraih pada kategori ini berkisar antara >85% sampai 100%.
Suatu proses cukup meraih kategori Largely achieved (L) atau Fully achieved (F) untuk dapat dinyatakan bahwa proses tersebut telah meraih suatu level kapabilitas tersebut, namun proses tersebut harus meraih kategori Fully achieved (F) untuk
dapat melanjutkan penilaian ke level kapabilitas selanjutnya. Jadi misalnya suatu proses untuk meraih level kapabilitas 3, maka level 1 dan level 2 proses tersebut harus mencapai kategori Fully achieved (F), sementara level kapabilitas 3 cukup mencapai kategori Largely achieved (L) atau Fully achieved (F) [8].
2.6 Analisis Kesenjangan (Gap Analysis)
Analisis kesenjangan (gap analysis) dilakukan untuk mencari perbedaan antara tingkat kapabilitas yang diperoleh dengan tingkat yang diharapkan. Analisis dilakukan dengan melakukan identifikasi perbaikan untuk peningkatan tingkat kapabilitas berdasarkan proses atribut kerangka kerja COBIT 5. Hasil dari analisis ini adalah saran perbaikan untuk tata kelola TI [7].
2.7 COBIT 5 Proses Deliver, Service and Support (DSS05)
Domain DSS proses Deliver, Servise and Support (DSS05) merupakan proses yang berfokus pada upaya perlindungan aset informasi pada organisasi untuk mempertahankan tingkat resiko keamanan informasi yang dapat diterima organisasi sesuai kebijakan keamanan. Melakukan pemantauan keamanan dan pengujian berkala serta menerapkan tindakan korektif untuk mengidentifikasi kelemahan keamanan dan insiden keamanan [9].
Tujuan dari proses Deliver, Servise and Support (DSS05) adalah mengklasifikasi masalah proses bisnis dan mencari akar penyebab permasalahan untuk mencegah kerentanan informasi dan insiden. Meningkatkan tingkat layanan kenyamanan pelanggan dan kepuasan pelanggan dengan mengurangi jumlah masalah operasional yang ada [9].
Pada DSS05 mengandung 5 praktek manajemen, diantaranya [9] : 1. DSS05.01 (Protect against malware)
Merupakan praktek untuk memberikan perlindungan terhadap malware.
Praktek tata kelola yang dilakukan adalah menerapkan dan memelihara pencegahan, dan langkah-langkah perbaikan di tempat seluruh organisasi untuk melindungi informasi dan teknologi dari malware seperti virus, worm spyware dan spam.
2. DSS05.02 (Manage network and connectivity security)
Merupakan praktek pengelolaan jaringan dan keamanan konektivitas. Praktek tata kelola yang dilakukan adalah menggunakan keamanan dan prosedur yang terkait untuk melindungi informasi atas keamanan konektivitas.
3. DSS05.03 (Manage enpoint security)
Merupakan praktek mengelola keamanan endpoint. Praktek tata kelola yang dilakukan adalah memastikan perangkat endpoint. Seperti laptop, dekstop, server terjamin pada tingkatan yang sama dengan atau lebih besar dari prosedur keamanan yang telah didefinisikan.
4. DSS05.04 (Manage user identity and logical access)
Merupakan praktek pengelolaan identitas pengguna dan hak akses. Praktek tata kelola yang dilakukan adalah memastikan bahwa semua pengguna memiliki akses informasi hak sesuai dengan kebutuhan mereka.
5. DSS05.05 (Manage physical security)
Merupakan praktek mendefinisikan dan menerapkan prosedur, membatasi dan mencabut akses sesuai dengan kebutuhan bisnis serta keadaan darurat.
Mengelola keamanan akses ke tempat yang berwenang atas akses tersebut.
Memantau orang yang memasuki tempat akses termasuk staf, staf sementara, klien, vendor dan pengunjung atau pihak ketiga.
6. DSS05.06 (Manage sensitive documents and outputs devices)
Merupakan prektek mengelola keamanan dokumen. Praktek tata kelola yang dilakukan adalah membangun pengamanan fisik yang sesuai, inventarisasi dokumen penting dan persediaan manajemen atas aset TI seperti surat berharga, token keamanan.
7. DSS05.07 (Manage Information Security Incidents)
Merupakan praktek pendefinisian dan mengkomunikasikan karakteristik insiden keamanan potensial dan memberikan bimbingan kepada manajemen proses tentang bagaimana untuk menangani insiden keamanan.
8. DSS05.08 (Manage Information Handling)
Mengelola keamanan aset informasi seluruh siklus hidup organisasi.
2.8 RACI Chart
RACI Chart memiliki fungsi pada tingkat proses tanggung jawab untuk peran pada struktur organisasi suatu perusahaan. RACI Chart mendefinisikan kewenangan seseorang di dalam suatu perusahaan yang berbasis TI. RACI Chart terdapat berbagai tingkatan dengan karakter sebagai berikut:
1. Responsible (pelaksana)
Merupakan pihak yang melakukan suatu pekerjaan. Hal ini berkaitan pada peran utama di dalam organisasi untuk memenuhi kegiatan yang telah direncanakan dan menciptakan hasil yang diharapkan.
2. Accountable (Bertanggung jawab)
Merupakan pihak yang bertanggung jawab atas semua pekerjaan. Dengan memperhatikan hal tersebut pada tingkat terendah akuntabilitas yang sesuai memiliki tingkat yang paling tinggi pertanggung jawabannya.
3. Consulted (Penasehat)
Merupakan pihak yang dimintai pendapat tentang suatu pekerjaan. Peran ini tergantung pada peran responsible dan accountable untuk mendapat informasi-informasi dari unit-unit lain.
4. Informed (Informasi)
Merupakan pihak yang mendapatkan informasi tentang kemajuan suatu pekerjaan. Peran yang diberi informasi mengenai peran atau penyerahan tugas.
Gambar 2.7 Diagram RACI [9]
2.9 Keamanan Sistem Informasi
Keamanan sistem informasi dapat diartikan sebagai suatu perlindungan dari kejahatan teknologi terhadap sistem yang sudah berbasis informasi dari berbagai ancaman-ancaman seperti penipuan, pencurian data penting, virus, terjadinya perubahan program atau melakukan akses sistem yang tidak sah. Penanganan keamanan sistem informasi dapat ditingkatkan melalui prosedur-prosedur dan peralatan-peralatan pengamanan sistem perangkat keras komputer, jaringan komputer dan data [10].
2.10 Pentingnya Keamanan Sistem Informasi
Keamanan sistem informasi merupakan komponen yang sangat penting bagi organisasi atau perusahaan yang telah menggunakan teknologi berbasis TI.
Keamanan sistem informasi menggambarkan adanya perlindungan terhadap komputer, fasilitas, data dan informasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Namun pada praktek yang terjadi di dalam organisasi atau perusahaan
masalah keamanan sistem informasi ini kurang mendapat kepedulian dari pihak pengelola sistem informasi [10].
Kemampuan dalam sistem informasi sangatlah banyak memberikan fungsi bagi organisasi atau perusahaan, antara lain mudahnya mengakses atau memberikan informasi yang cepat akurat dan efisien, namun sering kali informasi tersebut jatuh ke pihak yang tidak bertanggung jawab dan ini dapat menimbulkan kerugian bagi organisasi atau perusahaan yang memiliki informasi tersebut. Keamanan informasi dimaksudkan untuk mencapai tiga sasaran utama [10], yaitu :
1. Kerahasiaan
Aspek ini lebih ke dalam memberikan perlindungan informasi dan data organisasi atau perusahaan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Inti utama dari aspek kerahasiaan adalah untuk menjaga informasi agar informasi tersebut lebih bersifat privacy dan agar terhindar dari orang-orang yang tidak berhak mengakses informasi tersebut.
2. Ketersediaan
Aspek ini yang menyatakan bahwa informasi tersebut benar-benar asli adanya, atau jika ada orang akan mengakses informasi bahwa informasi tersebut adalah informasi yang benar-benar dimaksud. Biasanya masalah utama dalam ketersediaan adalah pembuktian keaslian dokumen, ini dapat di buktikan menggunakan teknologi watermarking dan digital signature.
Masalah kedua yaitu akses kontrol, berkaitan dengan siapa saja yang berhak mengakses informasi atau dokumen. Dalam hal ini biasanya pengguna menunjukkan bahwa dia sah atau berhak menggunakannya.
3. Integritas
Aspek ini lebih menekankan bahwa informasi tidak boleh diubah tanpa ijin dari pemilik informasi. Adanya ancaman virus, trojan horse atau pengguna lainnya yang mengubah informasi tersebut tanpa seijin pemilik informasi.
2.11 Manajemen Keamanan Sistem Informasi
Manajemen keamanan sistem informasi merupakan suatu perlindungan untuk perangkat komputer supaya sumber daya informasi tetap aman dari orang yang tidak berkepentingan atau tidak berwenang. Serta memberikan perlindungan kepada perusahaan agar sistem informasi tetap berfungsi setelah terjadinya bencana atau kerusakan sistem informasi [10].
Terdapat empat tahapan dalam proses manajemen keamanan sistem informasi : 1. Mengidentifikasi berbagai ancaman yang dapat mengganggu sumber daya
informasi perusahaan.
2. Mengidentifikasi resiko yang dapat ditimbulkan dari ancaman tersebut.
3. Menyusun kebijakan keamanan sistem informasi.
4. Mengimplementasikan kontrol untuk mengatasi tiap-tiap resiko tersebut.
2.12 Tipe Ancaman Informasi
Ancaman informasi merupakan sutau kejadian yang dapat merugikan organisasi atau pihak-pihak terkait yang sedang membutuhkan informasi tersebut. Terdapat beberapa ancaman informasi yang dapat mengganggu kinerja pada suatu organisasi yaitu [11]:
1. Interruption
Merupakan ancaman terhadap informasi dan data yang ada di dalam sistem komputer dirusak atau dihapus sehingga tidak dapat mengaksesnya kembali.
Contoh : server down, penghancuran bagian perangkat keras komputer.
2. Interception
Merupakan ancaman terhadap kerahasiaan. Informasi yang ada di akses oleh orang lain yang tidak memiliki hak akses atas informasi tersebut. Contoh : mencuri data rahasia, mengcopy file tanpa diotorisasi.
3. Modification
Sumber daya yang tidak berhak mengakses berhasil mengakses informasi kemudian merubah nilai dari sumber daya tersebut. Contoh : mengubah
program sehingga program dijalankan akan berbeda hasilnya, mengubah nilai-nilai file data.
4. Fabrication
Sumber daya mampu menyisipkan dan memasukkan objek-objek palsu ke dalam sistem. Contoh: memasukkan pesan palsu ke dalam jaringan, penambahan record ke file.
2.13 Pengamanan Jaringan
Jaringan merupakan yang sangat rentan dengan serangan-serangan dan gangguan.
Untuk itu diperlukan suatu pengamanan jaringan untuk meminimalisir gangguan- gangguan pada infrastruktur jaringan.
Pengamanan jaringan dibagi menjadi 3 yaitu [12] : 1. Pengamanan Sistem Jaringan
a. Penggunaan digest authentication pada web server, sehingga password yang dikirimkan melalui network tidak berupa clear text.
b. Pencatatan log melalui program atau fasilitas yang disediakan.
Administrator sistem berkewajiban melakukan pengecekan terhadap kejadian-kejadian yang terekam dalam log setiap bulan.
c. Menggunakan beberapa program untuk mendeteksi adanya penyusupan (intrusion detection). Beberapa program sederhana yang dapat dilakukan antara lain chkwtmp, tcplogd dan hostsentry.
d. Firewall digunakan untuk membatasi port-port yang dapat diakses dari luar. Sedangkan akses internet dari dalam ke luar untuk situs-situs tertentu dilarang.
e. Switch harus memiliki fungsi Routed Access Control List yang dapat digunakan untuk menjamin hanya user yang memiliki akses saja yang dapat menggunakan secured dan restricted network.
f. Application-Proxy Firewall ini digunakan untuk memfilter informasi- informasi yang lewat dari proxy sever tersebut. Proxy server dapat
memilih informasi-informasi yang akan diteruskan atau tidak berdasarkan setting atau logic dari proxy server tersebut.
g. Backup harddisk secara keseluruhan untuk semua server ke dalam tape.
h. Backup basis data.
2. Pengamanan Sistem Operasi
a. Server tidak diperkenankan menggunakan atau menyediakan floppy drive.
Hal ini untuk menghindari penyusup dapat menggubah password root dengan menggunakan disket boot.
b. Setiap aplikasi yang digunakan wajib menyediakan fungsi login yang memaksa pengguna untuk memasukkan username dan password setiap kali akan menggunakan aplikasi tersebut termasuk ketika melakukan koneksi jaringan.
c. Aplikasi internal tidak dapat diakses dari luar. Untuk mencegah akses dari luar terhadap aplikasi internal, maka digunakan firewall dan IP internal untuk server-server yang digunakan oleh aplikasi internal. Dengan IP internal dan firewall diharapkan server-server tersebut hanya bisa dikenali oleh komputer yang ada pada jaringan lokal saja.
d. Adanya sesi untuk membatasi lamanya koneksi yang idle. Untuk aplikasi- aplikasi berbasis web, jika browser sudah dibuka dan user tidak menggunakan aplikasi yang diakses dalam waktu tertentu atau idle yang diperkenankan tersebut juga dengan lamanya sesi.
e. Mengingat banyak lubang keamanan dikirimkan melalui e-mail, maka penggunaan antivirus yang up-to-date merupakan sebuah keharusan.
Antivirus ini harus dipasang pada setiap workstation dan server.
f. Bagi pemakai aplikasi, pengaksesan basis data harus melalui aplikasi yang sudah dikembangkan.
g. Username dan password untuk mengakses basis data hanya boleh diketahui oleh kalangan terbatas.
3. Pengamanan Jaringan
a. Ruangan tempat menyimpan semua server, router serta data backup berada di ruang yang berbeda dengan ruang kerja. Ruangan tersebut selalu
terkunci dan hanya dapat diakses oleh operation dan network administrator.
b. Server-server yang ada diletakkan pada ruangan server yang khusus.
Pintu masuk dan keluar dari dan ke ruangan ini hanya ada satu pintu.
Tembok dan pintu ruangan ini berupa kaca anti pecah. Pintunya berupa pintu elektronik, diperlukan kartu akses magnetik untuk membukanya.
Lantainya menggunakan raised floor. AC yang digunakan untuk mendinginkan ruangan server merupakan AC central. Perlu juga menyediakan alat untuk memadamkan api, alarm kebakaran, sensor deteksi kebakaran melalui panas dan asap.
c. Mengasuransikan aset-aset yang dimiliki khususnya server dan PC.
d. Menyediakan mesin diesel untuk menyuplai arus listrik secara otomatis jika listrik yang disediakan oleh PLN mengalami gangguan.
e. Menyediakan UPS (Uninterruptible Power Supply) untuk server aplikasi ataupun basis data untuk mencegah kerusakan fisik pada server tersebut.
32
3.1
Metode Pengumpulan DataDalam penelitian ini, sumber data yang digunakan adalah staff pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal. Dimana teknik pengumpulan data yang akan digunakan dengan melakukan studi dokumen, survey kuesioner dan wawancara.
1. Studi dokumen
Studi dokumen yaitu mengumpulkan data dengan cara mempelajari dan menganalisis buku, file dan dokumen, peraturan-peraturan yang berbentuk tulis atau cetak sebagai sumber informasi tentang teori yang berhubungan dengan permasalahan penelitian beserta objek yang akan diteliti. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang COBIT 5 dan keamanan sistem informasi pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada staff Dinas Komunikasi dan Informatika yang yang sudah dipilih oleh peneliti serta mengerti dan mempunyai posisi penting tentang keamanan sistem informasi yang berada pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil gambaran yang jelas mengenai keamanan sistem informasi pada Dinas Komunikasi dan Informatika.
3. Kuesioner
Kuesioner digunakan untuk mengukur tingkat kapabilitas proses tata kelola TI yang terkait pada penelitian yaitu keamanan sistem informasi pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal untuk kondisi saat ini yang sedang berjalan. Kuesioner merupakan kumpulan pertanyaan yang diajukan
secara tertulis dibuat oleh peneliti, kuesioner tersebut kemudian disebarkan kepada staff Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal untuk mendapat jawaban dan informasi yang diperlukan oleh peneliti. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup, artinya alternatif jawaban sudah disediakan. Responden hanya tinggal memilih salah satu alternatif jawaban yang sesuai dengan pendapatnya. Sampel penelitian yang digunakan adalah pihak-pihak yang terkait pada RACI Chart dari domain DSS proses DSS05 (Manage Security Service). Metode ini untuk memperoleh data tentang keamanan sistem informasi dari responden.
3.3.1 Jenis Data dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kuantitaif dan data kualitatif, berikut uraiannya :
1. Data kuantitatif
Data yang dapat dihitung dan diolah dengan skala pengukuran statistika. Data kuantitatif berupa penjelasan yang dinyatakan dalam bentuk bilangan atau angka. Dalam penelitian ini data kuantitatif digunakan adalah jumlah staff Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten kendal yang dijadikan respoden dalam pengisian kuesioner dan hasil kuesioner.
2. Data Kualitatif
Data yang mencakup hampir semua data non-numerik. Data kualitatif dalam penelitian ini untuk menggambarkan dan menganalisa kondisi saat ini pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten kendal berdasarkan data dan fakta yang ada supaya peneliti dapat lebih mengetahui secara mendalam tentang bagaimana keadaan keamanan sistem informasi. Dalam penelitian ini data kualitatif berupa: data dari wawancara kepada staff bagian Aplikasi dan Telematika Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal, visi dan misi, sejarah singkat, sarana dan prasarana, keadaan keamanan sistem informasi saat ini serta permasalahan dan penanganan yang dilakukan pada keamanan sistem informasi yang sedang berjalan saat ini.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder, berikut uraiannya :
1. Data primer
Data yang dikumpulkan, dicatat dan diolah sendiri oleh peneliti langsung dari obyeknya berupa pertanyaan, penjelasan dan keterangan dari staff Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal yang terkait langsung dengan persoalan untuk mengetahui bagaimana keamanan sistem informasi sekarang yang sedang berjalan. Beberapa responden yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah staff Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal bagian aplikasi dan telematika yang memiliki peran utama dalam permasalahan dan penanganan keamanan sistem informasi.
2. Data sekunder
Data yang didapat secara tidak langsung atau data tersebut telah dikumpulkan oleh pihak lain yang dikumpulkan peneliti sebagai penunjang pembuatan penelitian. Atau data-data yang tersusun dalam bentuk dokumen. Seperti : jurnal yang terkait pada topik penelitian, dokumen pendukung yang sudah ada pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal dan kuesioner.
3.2 Metode Analisis
Setelah semua data diperoleh kemudian data dianalisis menggunakan analisis Tingkat Kapabilitas, RACI Chart dan Analisis Kesenjangan (Gap Analysis).
1. Analisis Tingkat Kapabilitas
Analisis Tingkat Kapabilitas menggunakan hasil kuesioner dari tata kelola keamanan sistem informasi pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal yang mengacu pada kerangka kerja COBIT 5 proses DSS05 (Manage Security Service).
Perhitungan kuesioner adalah sebagai berikut :
a. Setiap level yang memiliki proses atribut (PA). Dimana didalam setiap PA terdapat kriteria yang harus dipenuhi dengan standar COBIT 5.
b. Setiap kriteria memiliki skor 1 sampai 4. Skor tersebut merepresentasikan tingkat pencapaian yang dicapai dalam masing- masing kriteria.
c. Dalam setiap kriteria dilakukan penjumlahan dari seluruh kuesioner terhadap skor yang dicapai.
d. Hasil penjumlahan kemudian dirata-rata dengan dibagi terhadap jumlah bobot maksimal lalu dikalikan 100%.
e. Dari hasil tersebut didapatkan hasil akhir yang kemudian dapat dikategorikan sesuai aturan: N (Not Achieved, range 0% sampai 15%) P (Partically Achieved, range > 15% sampai 50%), L (Largely Achieved, range >50% sampai 85%) dan F (Fully Achieved, range >85% sampai 100%).
2. RACI Chart
RACI Chart berfungsi untuk memetakan hasil kuesioner dari responden berdasarkan peran dan tanggung jawab.
3. Analisis Kesenjangan (Gap Analysis)
Berfungsi untuk mengetahui kesenjangan antara tata kelola keamanan sistem informasi yang sedang berjalan saat ini dan tata kelola keamanan sistem informasi yang diharapkan. Serta hasil analisis dapat digunakan untuk memberikan saran perbaikan terhadap tata kelola keamanan sistem informasi kedepannya.
36 4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian
Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Kendal terbentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah yaitu meliputi optimalisasi perangkat daerah dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan keuangan daerah, maka susunan organisasi dan tata kerja Dinas Daerah Kabupaten Kendal sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2007 tentang Susunan, Kedudukan, dan Tugas Pokok Dinas Daerah di Kabupaten Kendal (Lembaran Daerah Kabupaten Kendal Tahun 2007 Nomor 20 Seri D No.2 Dinas Komunikasi dan Informatika merupakan unsur pelaksana otonomi daerah di bidang komunikasi dan informatika.
Dinas Komunikasi dan Informatika mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan di bidang komunikasi dan informatika.
Dinas Komunikasi dan Informatika dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal berada di jalan Soekarno-Hatta No. 193 Kendal.
4.2 Visi dan Misi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal 1. Visi
Terwujudnya masyarakat Kendal yang maju dan mandiri melalui penyelenggaraan komunikasi dan informatika yang efektif dan efisien.