• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setelah Vakum Setahun, Atlet Tenis Meja Kembali Raih Prestasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Setelah Vakum Setahun, Atlet Tenis Meja Kembali Raih Prestasi"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Setelah Vakum Setahun, Atlet Tenis Meja Kembali Raih Prestasi

UNAIR NEWS – Ada satu lagi mahasiswa Universitas Airlangga yang menorehkan prestasi di ajang keolahragaan. Viviani Nadyaningrum, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tahun angkatan 2016 berhasil menyabet juara III tunggal putri cabang olahraga tenis meja, Minggu (4/12).

Ia mendapatkan juara III setelah dirinya bertanding melawan atlet Persatuan Tenis Meja (PTM) Sukun Kudus dalam Kejuaraan Tenis Meja Nasional Mahasiswa dan Umum dalam memperebutkan

“Rektor Cup UGM”. Kompetisi tersebut berlangsung di GOR Lembah, Universitas Gadjah Mada, tanggal 30 November sampai 4 Desember 2016.

Sebelum lomba berlangsung, Viviani, melakukan persiapan seperti biasa. Viviani menjalani latihan rutin di dua tempat yakni di klub tenis yang ia ikuti, dan Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Tenis Meja. Ia pun tak lupa untuk meminta doa restu kepada kedua orang tua.

Viviani mengaku, ia mengenal dunia tenis meja dari sang ayah yang merupakan mantan atlet. Mahasiswa FEB ini mulai sering berlatih tenis meja sejak ia duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Sejak itu, ia memutuskan untuk lebih aktif lagi dengan bergabung di klub sejak sekolah menengah pertama.

Prestasi kali ini bukan yang pertama dicapai oleh Viviani.

Sebelumnya, mahasiswa angkatan tahun 2016 itu juga pernah meraih prestasi pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Jawa Timur, Olimpiade Olahraga Siswa nasional (O2SN) Jakarta, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur, Pekan Olahraga Pelajar nasional (POPNAS) Kejurnas Kelompok Umur, dan lain sebagainya.

(2)

Meski saat ini Viviani masih aktif menjadi mahasiswa tetapi hal tersebut tidak menjadikan dirinya berhenti mengasah bakat yang ia miliki. Menurutnya, dunia akademis dan non akademis harus berjalan seimbang.

“Di dunia kerja nantinya pintar dalam akademis dan juga harus diimbangi dengan non-akademis. Cara membagi waktu saya antara kuliah dan karir yakni kuliah pagi sampai sore, kemudian disusul dengan latihan pada sore hingga malam. Setelah itu saya lanjutkan membaca buku ataupun mengerjakan tugas agar saya tidak ketinggalan materi kuliah,” ungkap Viviani.

Viviani merasa bangga atas keberhasilannya saat ini, mengingat dirinya sudah vakum selama satu tahun dalam dunia tenis meja.

Kini, dirinya kembali menorehkan prestasi di kancah nasional.

Viviani berharap semoga ke depannya bisa kembali menorehkan prestasi yang lebih baik.

Penulis: Pradita Desyanti Editor: Defrina Sukma S

IDSC, Ajang Internasional Menemukan Ide Stabilitas Finansial

UNAIR NEWS ̶ Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga menyelenggarakan call for paper dan Internasional Development Student Conference (IDSC), pada Senin (21/11).

Tahun lalu, ajang ini masih dalam lingkup nasional, sedangkan tahun ini dibuka untuk lingkup internasional.

Kali ini, IDSC mengangkat tema “Realizing the ASEAN Financial

(3)

Stability Amidst Global Economic System Dynamics”. Kerentanan sektor finansial lebih tinggi dibandingkan dengan sektor non- finansial menjadi latar belakang pentingnya mengkaji bagaimana kestabilan finansial di era masyarakat ekonomi ASEAN ini.

“Banyak konferensi tentang MEA, berbagai upaya menghadapi MEA.

Namun, IDSC lebih terfokus pada kestabilan finansial karena sektor finansial sangat volatile (mudah berubah,red) dan menarik untuk dikaji.” Jelas Zakka Farisy, Ketua acara yang juga mahasiswa jurusan Ekonomi Islam.

Para Juara Call for Paper IDSC 2016 dalam Awarding Night di Aula Fajar FEB UNAIR (Foto : Istimewa)

Call for paper ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri. Dari keseluruhan peserta yang mendaftar, terpilih 15 tim terbaik untuk mempresentasikan gagasannya. Tiga dari peserta terpilih berasal dari luar negeri, yaitu Nina Greig-Towers dari Australia, Sinatrya Shrestha dari Nepal, dan Valencia Joshua

(4)

Brent S dari Filipina.

Pada hari kedua, Selasa (22/11), presentasi secara keseluruhan menggunakan Bahasa Inggris. Tak sedikit penonton yang terlihat mengapresiasi kemampuan berbahasa Inggris para peserta. Tidak hanya itu, gagasan yang dikemukakan pun bervariasi dan kreatif.

“Berbagai ide yang dipaparkan merujuk pada stabilitas finansial. Salah satu dari ide yang dipaparkan adalah menyamakan currency. Upaya ini dirasa mampu menstabilkan finansial antar negara,” ujar Adindha, salah satu penonton.

Esok harinya, Rabu (23/11), peserta diajak ke wisata Bromo untuk melihat sunrise. Tidak hanya jalan-jalan, para peserta juga menjalin keakraban satu sama lain. Sebelumnya, pada hari pertama mereka saling mengenalkan budaya daerah masing-masing di welcome party.

Setelah field trip, panitia dan peserta melakukan awarding night di Aula Fajar FEB UNAIR. Pada saat itu, diumumkan pemenang dari call for paper. Hasilnya, tim Ajeng Pratiwi dari Universitas Negeri Jember di daulat sebagai juara I. Tim Iqbal Makbul Taher dari Universitas Indonesia meraih juara II, sedangkan juara III diraih oleh Tim Mohammad Zeqi Yasin dari Universitas Airlangga. Ada juga penghargaan Best Delegate yang diperoleh Muhammaf Mulfi dari Universitas Brawijaya, Best Speaker diperoleh Rahmah Yulia Dari Universitas Airlangga, dan Best Paper diraih tim Fajriansyah Hendra dari Institut Pertanian Bogor.

Dengan berakhirnya awarding night, Zakka Farisy berharap, kegiatan ini mampu menjadi prime mover kegiatan-kegiatan bertaraf internasional di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, sekaligus mendukung visi Universitas Airlangga menuju 500 World Class University.(*)

Penulis : Siti Nur Umami Editor : Dilan Salsabila

(5)

Mahasiswa Pascasarjana Pun Bisa Berprestasi di UKM Kampus

UNAIR NEWS – Ada yang menarik dalam gelaran Student Week yang dihelat oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tenis Meja pada 12 November lalu. Seorang mahasiswi Sekolah Pascasarjana mengikuti pertandingan tenis meja “Rektor Cup” di kategori tunggal putri. Perempuan bernama Septin Mauludiyana itu pun berhasil meraih peringkat ketiga. Mahasiswi Prodi Imunologi itu membuktikan, para mahasiswa UNAIR dari berbagai jenjang bisa ikut dalam kegiatan UKM kampus dan berprestasi.

“Sejak kecil, saya memang suka tenis meja. Meski masih dalam tahap amatir. Beberapa waktu lalu, adik saya yang lagi kuliah di Fakultas Kedokteran memberi info tentang Student Week ini.

Alhamdulillah, bisa ikut dan berprestasi,” ungkap dia.

Dia sendiri memiliki minat untuk ikut UKM Tenis Meja. Namun, selama ini dia berdomisili di Malang. Maka itu, keinginan untuk bergabung di UKM secara aktif itu masih menjadi pertimbangan baginya. Meski demikian, dia memastikan, jika pertandingan serupa dilaksanakan kembali, alumnus Fakultas K e d o k t e r a n H e w a n U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a i n i b a k a l berpartisipasi kembali.

Di tempat terpisah, Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana UNAIR Prof. Dr. Anwar Ma’ruf, M.Kes, drh mengungkapkan, mahasiswa Pascasarjana memang selalu diberi ruang berkegiatan di kampus. Yang secara esensi, tidak berbeda dengan mahasiswa S1 kebanyakan. “Kampus tidak mengkotak-kotakan. Apa yang diraih Septin adalah buktinya,” papar dia. (*)

(6)

Penulis: Rio F. Rachman Editor : Dilan Salsabila

Mahasiswa UNAIR Borong Juara di Kompetisi Berkuda

UNAIR NEWS – Salah satu putra terbaik Universitas Airlangga, kembali menorehkan prestasi di bidang olahraga. Kali ini, Zahlul Yussar, mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ilkom) UNAIR angkatan 2014 yang merupakan atlet berkuda, meraih Juara II dan Juara III dalam kompetisi internasional “CINTA Indonesia Open 2016”.

Kompetisi yang diadakan di APM Equestrian Center, Tigaraksa, Tangerang tersebut diikuti oleh kurang lebih 40 rider (sebutan untuk atlet berkuda, -red) dari beragam negara. Mulai tanggal 11 hingga 13 November, mereka berkompetisi dalam event yang dianggap favorit bagi para atlet kuda tersebut.

“CINTA Indonesia Open ini termasuk kompetisi internasional, karena pesertanya banyak yang datang dari luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, Singapura dan lainnya,” terang pemilik kursus kuda “Ameg Stable Equestrian” tersebut.

Dalam kompetisi tersebut, mahasiswa yang hobi berkuda sejak kecil itu meraih Juara II di Kategori Show Jumping 100 cm dan Juara III di Kategori 105 cm Young Horse. “Saya bersyukur karena dapat Juara III di Kategori 105 cm Young Horse dan Juara II di Kategori Show Jumping 100 cm,” kata dia.

(7)

Zahlul Yussar (biru) saat menerima medali Juara II kompetisi CINTA Indonesia Open 2016 yang diselenggarakan di Tangerang (Foto : Istimewa)

Terkait persiapan, Zahlul mengungkapkan kurangnya waktu latihan menjadi kendala tersendiri baginya. Pasalnya, ia merupakan mahasiswa aktif. Sehingga, padatnya jadwal perkuliahan terkadang bertabrakan dengan jadwal latihannya.

“Kendala waktu latihan hanya pada jadwal latihan dan kuliah yang padat, jadi tidak bisa optimal dalam latihan berkuda,”

keluhnya.

Namun, kurangnya waktu latihan tak menyudutkan semangatnya untuk terus berprestasi. Bahkan, Zahlul juga meraih prestasi di ajang berbeda namun diselenggarakan di tempat yang sama, World Jumping Challenge.

(8)

“Kalau yang World Jumping Challenge diadakan sejak 6 November, beda ajang tapi tempatnya sama. Diselenggarakan oleh PORDASI (Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia). Saya juga ikut itu, dan mendapatkan Juara III,” ujarnya bangga.

Zahlul memiliki harapan, agar dirinya bisa terpilih untuk mewakili Indonesia di event bertaraf internasional, layaknya Sea games dan juga Asian games. “Harapannya bisa mewakili Indonesia di ajang internasional dan mewakili Indonesia di Sea Games 2018 dan Asian Games,” harapnya optimis. “Semoga bisa menambah torehan prestasi bergengsi lainnya,” imbuhnya mengakhiri. (*)

Penulis : Dilan Salsabila Editor : Nuri Hermawan

6 Mahasiswa FH Torehkan Prestasi pada Kompetisi Debat Nasional

UNAIR NEWS – Jika ada pepatah mengatakan ‘hasil tidak akan menghianati usaha’, rasanya sangat tepat ditujukan bagi enam mahasiswa Fakultas Hukum (FH) UNAIR yang memperoleh posisi Runner Up dalam kompetisi debat nasional. Enam mahasiswa tersebut adalah Mega Indah P. (2013), Virga Dwi E. (2014), Dina Mariana (2015), Fransisca M (2013), Sefrina R (2014), dan Lia Sutini (2015).

Tim yang terdiri dari enam mahasiswa itu mengikuti kompetisi debat yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surakarta (UNS) pada 9-11 November 2016 silam. Dalam pelaksanaan kompetisi, mereka terbagi menjadi dua tim, yakni tim debat dan

(9)

tim research.

Selama satu bulan sebelum lomba berlangsung, berbagai persiapan mereka lakukan. Mulai dari membangun argumen antara pro dan kontra untuk setiap mosi yang diperlombakan, menjalani latihan rutin disela-sela jadwal kuliah, dan berusaha membagi waktu antara mengerjakan tugas kuliah dan persiapan kompetisi.

Pada kompetisi ini, mereka yang mewakili Badan Semi Otonom (BSO) Masyarakat Yuris Muda Airlangga (MYMA), FH UNAIR.

Tidak hanya menduduki posisi Runner Up, salah satu pembicara dari tim debat yakni Virga berhasil menjadi Best Speaker dalam kompetisi yang diikuti oleh 12 perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia ini.

Meski demikian, keberhasilan mereka tak lepas dari bimbingan Dwi Utari Christina Rachmawati S.H., LL.M., dosen yang berperan sebagai pembimbing selama persiapan lomba hingga babak final. Atas usaha tim dan dukungan dari berbagai pihak, akhirnya MYMA berhasil menduduki posisi Runner Up.

Dina salah satu perwakilan dari tim debat mengaku bangga atas kemenangan timnya kali ini. Meski sempat pesimis ketika menunggu pengumuman peserta yang lolos semifinal, namun nyatanya rasa pesimis itu berakhir ketika tiga dewan juri memilih tim debat dari FH UNAIR sebagai salah satu peserta yang lolos untuk masuk final.

Dina berharap, kemenangan timnya dapat menginspirasi dan memotivasi mahasiswa FH UNAIR lainnya. Sehingga FH UNAIR semakin berjaya, baik di kancah nasional maupun internasional.

“Awalnya sempat pesimis apakah bisa masuk atau tidak ke semifinal. Karena lawannya bagus-bagus. Kita mengoptimalkan usaha hingga masuk final. Semoga kemenangan ini banyak menginspirasi dan memotivasi teman-teman yang lain,” ungkap Dina. (*)

Penulis : Pradita Desyanti

(10)

Editor : Binti Q. Masruroh

9 Alumnus UNAIR Duduki Posisi Strategis di Pemerintahan

UNAIR NEWS – Lulusan Universitas Airlangga memang tak diragukan lagi kemampuannya. Buktinya, tak sedikit dari alumni UNAIR yang memegang posisi strategis di kursi pemerintahan.

Ilmu pengetahuan yang mereka dapat saat masih di bangku kuliah, mereka terapkan dalam proses kebijakan publik.

Yuk simak selengkapnya siapa saja alumni UNAIR yang memegang posisi strategis di pemerintahan!

Hatta Ali 1.

Foto : Istimewa

Prof. Dr. H. Muhammad Hatta Ali, S.H., M.H., atau yang biasa

(11)

dikenal dengan Hatta Ali adalah alumnus Fakultas Hukum UNAIR tahun angkatan 1977. Hatta diangkat menjadi Ketua Mahkamah Agung RI periode 2012-2017. Pada tanggal 31 Januari 2015, Hatta yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni (IKA) UNAIR ini meraih gelar guru besar bidang hukum dari UNAIR.

2. M. Saleh

Foto : Istimewa

Prof. Dr. H. Mohammad Saleh, S.H., M.H., yang menjadi Wakil Ketua MA RI ini juga alumnus FH UNAIR tahun 1970. Pada akhir tahun lalu (12/12), Saleh diangkat menjadi Guru Besar FH UNAIR yang ke-14. Dalam pengukuhannya, pria kelahiran Pamekasan 23 A p r i l 1 9 4 6 i n i m e n y a m p a i k a n o r a s i i l m i a h b e r j u d u l

“Problematika Titik Singgung Perkara Perdata di Peradilan Umum dengan Perkara di Lingkungan Peradilan Lainnya.”

3. Ignasius Jonan

(12)

Foto : Istimewa

Sebelum menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan pernah menjadi Direktur PT.

Kereta Api Indonesia tahun 25 Februari 2009-27 Oktober 2014.

Mulai akhir tahun 2014, alumnus program studi S-1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR, tahun 1986 ini diangkat menjadi orang nomor satu di Kementerian Perhubungan.

4. Khofifah Indar Parawansa

(13)

Foto : Istimewa

Kini, Khofifah Indar Parawansa dipercaya untuk mengawal kebijakan publik di bidang sosial oleh Presiden RI Joko Widodo. Perempuan kelahiran 19 Mei 1965 ini merupakan alumnus S-1 Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tahun lulus 1990.

5. Asman Abnur

Foto : Istimewa

Siapa sangka, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (Menpan RB) juga merupakan alumnus UNAIR. Asman Abnur lulus dari S-2 Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana (pada saat itu) tahun 2004. Saat ini, di tengah kesibukannya sebagai menteri, Asman tengah menjalani studi doktoral pada prodi Ilmu Ekonomi Islam, Sekolah Pascasarjana, UNAIR.

6. Muhadjir Effendy

(14)

Foto : Istimewa

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI saat ini, Prof. Dr.

Muhadjir Effendy, M.AP, adalah alumnus UNAIR program studi S-3 Ilmu Sosial, Sekolah Pascasarjana (saat itu). Sejak 17 Juli 2016, Muhadjir didapuk menjadi Mendikbud oleh Presiden RI.

7. Soekarwo

Foto : Istimewa

(15)

Soekarwo atau yang akrab disapa Pakdhe Karwo adalah orang nomor satu di provinsi Jawa Timur. Pakdhe Karwo dipercaya oleh masyarakat Jatim untuk memimpin provinsi dengan luas wilayah 47.922 km2 ini. Soekarwo merupakan alumnus S-1 Ilmu Hukum, FH UNAIR pada tahun 1979, dan diberi gelar doktor kehormatan di bidang ekonomi oleh UNAIR berkat inovasi “Jatimnomics”

miliknya.

8. Awang Faroek Ishak

Foto : Istimewa

Awang Faroek Ishak saat ini menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Timur. Awang merupakan doktor lulusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Pascasarjana (pada saat itu) tahun angkatan 2009.

9. Irianto Lambrie

(16)

Foto : Istimewa

Irianto Lambrie saat ini menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Utara. Pria kelahiran 18 Desember 1958 ini merupakan lulusan doktor Pascasarjana dengan minat Ekonomi Pembangunan.

Penulis : Defrina Sukma S.

Editor : Binti Q. Masruroh

Jadikan Dedikasi Sebuah Prestasi

UNAIR NEWS – Menjadi mahasiswa bukan hanya sebuah identitas semata, yang hanya dipandang dari sisi akademiknya saja. Akan tetapi sisi non akademik juga perlu menjadi perhatian.

Bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo, bagi kedua mahasiswa ini adalah suatu permulaan. Silvester Sili Teka dan Nazyati Syafira belajar mengasah soft skill mereka dengan berorganisasi melalui UKM. Kehidupan berorganisasi di kampus nyatanya memiliki berbagai macam pandangan dan sorotan.

(17)

Ada yang memandang bahwa dengan mengikuti kegiatan organisasi hanya akan menghambat nilai akademik. Namun, tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa dengan bergabung dalam organisasi kampus akan memberikan banyak sekali manfaat bagi dirinya, salah satunya dengan menjadi mahasiswa yang berprestasi di bidang non akademik.

Seperti yang dirasakan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNAIR ini, Silvester dengan kerja kerasnya di tengah kesibukan skripsi dan menjelang kelulusan, berhasil meraih juara 1 senior under 54kg putra dan dinobatkan menjadi

“Atlet Terbaik Senior Putra” di Kejuaraan Nasional Piala Kapolres Semarang yang berlangsung pada 11-13 November lalu.

“Saya merasa ingin lebih berkontribusi kepada UKM Taekwondo UNAIR dengan mempersembahkan sesuatu yang belum pernah saya berikan untuk UKM yaitu medali emas dan sebagai bonus penghargaan atlet terbaik itu,” ujar mahasiswa semester akhir tersebut.

Hal demikian dirasakan pula oleh Nazyati Syafira, mahasiswa Fakultas Vokasi ini juga meraih medali perak pada kejuaraan tersebut. Dia menyatakan bahwa sebenarnya niat untuk mengikuti kejuaraan sudah lama terbersit, latihan pun sudah dimulai sejak lama dan untuk kejuaraan ini memang benar-benar dipersiapkan. Sehingga membuahkan hasil yang memuaskan.

“Jangan berhenti berusaha dan berdoa karena tanpa keduanya semuanya sia-sia”, ungkap Syafira.

Prestasi non akademik yang diraih dan pengalaman organisasi dalam UKM, bagi Silvester bisa menjadi bekal soft skill ketika bersaing di dunia luar dan dapat menjadi nilai tambah jika dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya aktif dalam aktivitas perkuliahan saja. Faktor pengalaman mahasiswa dalam organisasi kampus juga sebagai salah satu faktor penting penunjang suksesnya mahasiswa kelak.

“Tekad dan kemauan kuat itu merupakan syarat mutlak bagi

(18)

sebuah pencapaian. Dedikasikan dirimu, karena dedikasi selalu berbuah prestasi”, ujar Silvester. “Jadi, apa lagi yang kalian tunggu? Ikuti organisasi kampus dan ukir prestasimu!,”

pungkasnya.

Penulis: Yosi Dwi Apriliani Editor: Nuri Hermawan

Juara Kompetisi Paper dan Hasil Penelitian dalam IRIE 2016

UNAIR NEWS – Menyertai pelaksanaan ”Indonesia Research and Innovation Expo” (IRIE) 2016, untuk memeriahkan acara juga diadakan berbagai kegiatan. Misalnya presentasi ilmiah, seminar, lomba-lomba, pameran ternak dan ikan, serta pentas seni sebagai hiburan. Diantara yang bersifat kompetisi itu adalah ”Animal Science Paper Competition” 2016 (ASPC) yang diprakarsai BEM Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR, yang diikuti mahasiswa veteriner secara nasional.

Seperti yang disampaikan Prof. Dr. Lucia Tri Suwanti, drh., MP., dari seksi lomba IRIE 2016, dalam ASPC 2016 ini berhasil menjadi juara I adalah tim mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dengan paper yang disampaikan berjudul “EPOT (Eco Poultry Transportation) Desain Transportasi Unggas Terintegrasi Animal Welfare yang Ramah Lingkungan untuk Mengurangi Pencemaran Udara”.

Juara II direbut tim mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB)

(19)

dengan judul paper “Portable Heating Cage for Neonatal and Weaning of Kitten and Puppies: Kandang Penghangat Portabel Sebagai Alat Alternatif untuk Menurunkan Tingkat Kematian pada fase Neonatal dan Fase Sapih Anak Kucing dan Anak Anjing”.

Sedang juara III diraih tim mahasiswa Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya dengan paper bertajuk “Aplikasi SCADA untuk Mengendalikan Gas Amoniak Berbahaya pada Kandang Ayam Broiler Berbasis Cloud Computing”.

Lomba presentasi hasil penelitian; bidang Health Science:

Juara I oleh peneliti Prof. Kuntaman (FK) dengan judul

“Methicilin Resistent Staphylocoscus Aureus (MRSA) Acquistion and Infection in Surgical Wards and Medical Wards in Dr.

Soetomo Hospital Surabaya”. Juara II, peneliti Prof.

Sukardiman dengan judul “Aktivitas Anti Diabetes dari Campuran Ekstrak Sambiloto (Andrographis Paniculata Nees) dengan Ekstrak Biji Mahoni (Swietenia Mahagoni Jacq) pada Mencit yang Diiduksi Aloksan”. Sedang juara III oleh Dr. Purkan dengan judul “Ekspresi Gen Katg Mycibacterium Tuberculosis Isolat Klinis Lokal dan Uji Imunogenitas Proteinnya untuk Konstruksi Vaksin TB yang Potensial”.

Presentasi bidang Life Science: Dr. Erma Savitri, Drh., M.Kes dengan penelitian berjudul “Pemanfaatan Madu Sebagai Upaya Mobilisasi dan Adaptivitas Stem Cell pada Kasus Degenerasi Ovarion Akibat Malnutrisi” menyabet juara I. Sedang juara II diraih Dr. Miratul Khasanah, M.Si, judul penelitiannya

”Deteksi Dini Asam Urat dalam Serum Menggunakan Sensor Pasta Karbon Nanopori Berbasis Imprinting”. Sedangkan posisi III dimenangkan Dr. E. Bimo Aksono, M.Kes., drh yang meneliti tentang ”Genetic Diversity dari Legionella SP Isolat Lokal pada Sampel Beresiko sebagai Upaya Tanggap dan Pengendalian Adanya New Emerging Disease di Surabaya”.

Sementara bidang Social Science, dengan judul penelitian

”Pemarkah Waktu pada Abstrak Tulisan Ilmiah di Bidang Kesehatan, Hayati Sosial dan Fisika”, Deny Arnos Kwary (FIB) meraih yang terbaik. Juara II direbut oleh Prof. Bagong

(20)

Suyanto (FISIP) dengan judul penelitian ”Model Penanganan Perempuan dan Anak Korban Trafficking di Industri Seksual Komersial”. Sedangkan Dr. I Gde Wahyu Wicaksana, sebagai juara III dengan judul penelitian ”Iklim Global Terhadap Keamanan Maritim Indonesia”.

Lomba poster penelitian dimenangkan oleh Handoko (FST) dengan judul “Senyawa Kompleks Pewarna 4zo sebagai Sinsitizer Sel Surya Penghasil Energi Terbarukan”. Sedangkan juara II oleh Poedji Hastutik (FKH) ”Gambaran Histologi Kulit Kelenci Pasca Terapi dengan Salep Crude Extrak Daun Permot”. Sedangkan juara III oleh Dewi Melani Hariadi (Fak. Farmasi) dengan judul poster “Respon Gemunogenitas Mikro Ovalbumin Alginan dan Produk Vaksin”.

Sedangkan penampilan booth, stand FKH tampil sebagai yang terbaik dalam IRIE 2016 ini. Terbaik II oleh booth Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR, sedangkan juara III stand/booth PT Petrosida Gresik. (*)

Penulis : Bambang Bes

Badri Munir Sukoco Raih Penghargaan Alumnus Berprestasi di Taiwan

UNAIR NEWS – Satu lagi sivitas akademika Universitas Airlangga yang berhasil meraih prestasi di luar negeri. Dia adalah Badri Munir Sukoco, Ph.D., yang mendapatkan predikat alumnus berprestasi Fakultas Manajemen, National Cheng Kung University (NCKU), Taiwan.

(21)

Penghargaan itu diserahkan bertepatan dengan Dies Natalis NCKU ke-85 yang jatuh tepat sehari setelah ulang tahun UNAIR, yakni Jumat (11/11). Penghargaan bernama Outstanding Young Alumni Award (OYAA) diserahkan kepada 85 alumnus NCKU. Dari 85 penerima penghargaan tersebut, hanya dua alumnus asing yang menerima penghargaan tersebut. Dari Filipina dan Indonesia.

Dari jumlah itu, 13 di antaranya berasal dari Fakultas Manajemen NCKU. Mereka berasal dari kalangan ABC. Yakni, academics, business, dan consultant. Sebelas orang merupakan lulusan berpaspor Taiwan, sedangkan dua lainnya, termasuk Badri, adalah lulusan non-Taiwan. Seluruhnya bekerja di berbagai perusahaan multinasional, digital start up, dan perguruan tinggi.

Komite Seleksi Penghargaan NCKU Taiwan menetapkan satu kriteria utama dalam memilih alumni berprestasi. Kriteria tersebut adalah alumnus yang berusia di bawah 50 tahun dan memiliki prestasi yang membanggakan.

“Mereka melihat dari konsistensi. Kebetulan NCKU adalah research-based university sehingga mereka melihat konsistensi saya dalam melakukan publikasi penelitian. Karena saya bergerak di bidang pendidikan, maka mereka melihat rekam jejak pelaksanaan kuliah saya kepada mahasiswa. Beberapa kali pernah mendapat penghargaan. Begitu pula dengan publikasi dan pengabdian masyarakat,” tutur Badri yang juga Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNAIR.

Secara pribadi, Badri menganggap bahwa prestasi tersebut merupakan wujud apresiasi perguruan tinggi terhadap alumninya.

Ia bahkan menganggap penghargaan ini merupakan batu lompatan sekaligus dorongan untuk mencapai target-target selanjutnya.

Salah satunya, melakukan publikasi penelitian lebih banyak lagi.

“Saya merasa ini belum optimal. Dosen-dosen di sana penelitiannya harus terpublikasi di jurnal top ten. Ini yang

(22)

saya masih belum bisa,” ujarnya.

Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak, merasa bangga atas prestasi yang dicapai Ketua BPP UNAIR. “Pak Badri itu dosen yang pekerja keras. Karena itulah, kami mempercayainya untuk menjadi Ketua BPP,” terang Prof. Nasih. “Saya berharap, di UNAIR bermunculan akademisi yang juga pekerja keras seperti Pak Badri,” imbuhnya.

Di bidang pendidikan, Badri pernah terpilih sebagai dosen berprestasi I tingkat UNAIR pada tahun 2010 dan 2015. Bahkan, pada tahun 2015, pakar manajemen branding itu menjadi finalis dosen berprestasi tingkat nasional.

Di bidang penelitian, sampai tahun 2016, Badri telah memiliki 34 artikel yang dipublikasikan pada jurnal bereputasi.

Sebanyak 12 artikel di antaranya terindeks pada Thompson Reuters ISI dengan h-indeks sebesar 6 dan sitasi sebanyak 191 kali. Pada Google Scholar, Badri memiliki h-indeks 11 dan penelitiannya tersitasi sebanyak 751 kali.

Sedangkan, di bidang pengabdian masyarakat, dosen kelahiran Lumajang juga aktif dalam kegiatan pengembangan institusi, yakni sebagai Ketua BPP serta anggota Majelis Wali Amanat UNAIR, dan anggota tim percepatan peringkat World Class University Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.

Editor: Rio F. Rachman

(23)

Mahasiswa UNAIR Menangkan Film Inspirasi Terbaik

UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga tak henti- hentinya mengukir prestasi. Kali ini, prestasi membanggakan diraih oleh lima mahasiswa perwakilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sinematografi yang memperoleh penghargaan film inspirasi terbaik melalui Festival Film Pendek Pemuda Kreatif Indonesia 2016.

Film yang memperoleh penghargaan tersebut berjudul Setetes Koin, bertemakan lingkungan dan mengambil setting di tiga tempat yakni di wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Festival film pendek diadakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga dengan mengangkat tema pemuda kreatif Indonesia menjawab tantangan global.

Lima mahasiswa UNAIR itu adalah Rizki Kurniawan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) selaku sutradara, Lafreenda Tialoka Mitadiar (FIB) sebagai talent, Adam Arif Makarim (FIB) sebagai editor, Nindita Naisella (FIB) sebagai art, dan Moch Ilham Prasetya (FST) sebagai talent.

Pemutaran film pendek berlangsung di XXI Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (1/11). Kepada reporter UNAIR NEWS Rizki mengungkapkan, pada mulanya mengalami beberapa kesulitan dalam mencari ide pembuatan film.

“Awalnya susah cari ide, terus deadline mepet banget yaitu tanggal 20 Oktober. Seminggu sebelum lomba kita bikin. Krunya juga apa adanya yang easy going pokoknya. Sempet bolos kuliah juga,” ungkap Rizki sambil tertawa.

Sang sutradara juga mengatakan, ketika ide cerita matang dan jadi, pra produksi hanya dilakukan sekali saja. Padahal sebelum syuting, mestinya pra produksi dilaksanakan berulang kali. Butuh sekitar tiga hari untuk melakukan proses produksi

(24)

disebabkan lokasi yang dibutuhkan beraneka ragam.

Ditambah lagi, deadline pengumpulan film yang semakin mepet, sedangkan tim sinematografi harus berhadapan dengan proses editing yang membutuhkan waktu cukup lama.

“Waktu itu deadline sudah tinggal beberapa jam lagi. Tapi alhamdulillah jadi dan selesai,” ungkapnya.

Film yang telah selesai masa pengeditan dikirim ke alamat email perlombaan. Tanpa disangka-sangka, film yang dibuat dalam waktu cepat tersebut masuk ke dalam sepuluh finalis.

“Sempat heran dan kaget, sih. Diundanglah kita ke Jakarta. Di sana film-film yang diputar adalah lima dari 10 finalis.

Sempat pesimis karena lawannya ‘ngeri’. Tapi pas film awal diputar, wah senang banget bumper sinema diputar, tandanya film Setetes Koin lolos. Itu pertama kalinya seumur hidup nonton film sendiri di bioskop gede sekelas XXI. Maklum biasanya nonton filmnya orang,” ucap Rizki bangga.

Untuk berhasil mendapat juara, tentu proses yang dilalui tidaklah mudah. Rizki juga menceritakan pengalamannya bersama kru yang bersembunyi dari pantauan satpam di Graha Amerta demi mendapatkan angle syuting yang bagus. Karena proses yang sangat merepotkan, Rizki dan kru nekat naik ke atas bangunan yang masih dalam tahap pembangunan tanpa mengantongi izin.

“Pas syuting, ember yang kita pakai jatuh dari rooftop gara- gara kena angin. Bayangkan saja kalau embernya ilang.

Wassalam, kita nggak lanjut syuting. Tapi untungnya ketemu,”

tutupnya. (*)

Editor : Binti Q. Masruroh

Referensi

Dokumen terkait

Bagi pelayanan kesehatan hendaknya lebih mampu mengoptimalkan kesejahteraan anak dengan retardasi mental melalui peningkatan kualitas peran ibu dalam perawatannya dalam

Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa sekitar persalinan, hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan

Indikator lain yang dapat digunakan untuk menentukan efektivitas dalam proses pembelajaran ada tujuh yaitu pengorganisasian materi yang baik, komunikasi yang

Dalam kondisi ini maka “radial displacement” atau biasa disebut juga “relief displacement” (pergeseran relief) dari titik gambar yang sama akan lebih kecil apabila

Penyusunan Tugas Perencanaan Unit Pengolahan Pangan dengan judul “ Perencanaan Unit Sanitasi Pabrik Wafer Cream dengan Kapasitas Produksi 43.200 Kemasan per Hari @ 62,5

Tua ahih manin verb khat peuhpeuh nungah ‘laitak’ behlapna tawh Tuhun Laitak (Present Continuous Tense) kibawl

diberi perlakuan berupa post-tes saja. Metode analisa yang digunakan pada pokok permasalahan satu adalah dengan metode T -tes, sedangkan untuk menjawab pokok

Buku ini memuat dua materi, yaitu Bahan Tayangan Materi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berupa gambaran yang memuat tentang latar belakang, proses