• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KESEHATAN KABUPATEN ACEH TAMIANG TAHUN 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL KESEHATAN KABUPATEN ACEH TAMIANG TAHUN 2013"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL KESEHATAN

KABUPATEN ACEH TAMIANG

TAHUN 2013

(2)

Pembangunan kesehatan secara umum bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dalam mencapai tujuan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang telah menetapkan visi “Terwujudnya Pelayanan Kesehatan Berkualitas, Merata, Menuju Masyarakat Sehat dan Mandiri” yang berarti visi ini mengandung makna tugas dan fungsi yang diemban Dinas Kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan harapan masyarakat dan pemberi pelayanan

(to serve) serta selalu melakukan perbaikan pemenuhan kebutuhan secara benar pada seluruh lapisan masyarakat dalam rangka mewujudkan masyarakat sehat fisik dan mental dengan melibatkan peran aktiif masyarakat. Namun demikian keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kinerja kesehatan semata, melainkan sangat dipengaruhi oleh interaksi dinamis dari berbagai sektor yang ada, antara lain meliputi; perekonomian, pendidikan, keamanan dan sebagainya.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 17 ayat 1 menyebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab terhadap ketersediaan akses informasi, edukasi dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan setinggi-tingginya. Untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan yang dilakukan melalui sistem informasi dan melalui kerjasama lintas sektor.

Sistem informasi kesehatan salah satu tampilan kinerjanya adalah menerbitkan Profil Kesehatan yang dimaksudkan untuk menggambarkan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kinerja pembangunan kesehatan di Kabupaten Aceh Tamiang yang telah dilakukan dalam setahun. Profil Kesehatan adalah satu sarana yang dapat dipergunakan untuk melihat derajat kesehatan dari hasil-hasil pembangunan kesehatan yang berisi berbagai data atau informasi yang merupakan suatu kebutuhan, dimana suatu keputusan atau suatu kebijakan yang dibuat membutuhkan data dan informasi yang akurat, dapat dipercaya dan juga relevan. Profil Kesehatan juga menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat, sekaligus juga sebagai laporan pemantauan dan evaluasi terhadap pencapaian hasil pembangunan kesehatan termasuk kinerja dari penyelenggaraan pelayanan minimal dibidang kesehatan di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu.

(3)

Dalam setiap terbitan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang memuat berbagai data tentang kesehatan dan data pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan, fasilitas kesehatan, pencapaian program-program kesehatan dan keluarga berencana.

Metodelogi Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 ini dilakukan dengan mengumpul data, memvalidasi, analisa, korelasi antar tabel, serta check data dari seluruh program yang dihimpun ke Provinsi. Data dilakukan analisis sederhana dengan sajian data dalam bentuk tabel dan grafik.

Profil ini berupaya untuk menggambarkan secara umum tentang kondisi derajat kesehatan, upaya kesehatan, sumber daya kesehatan dan faktor-faktor terkait lainnya. Dengan demikian jelas bahwa tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 ini adalah dalam rangka menyediakan sarana untuk pemantauan dan mengevaluasi pencapaian pembangunan kesehatan di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 serta untuk pembinaan dan pengawasan pelaksanaan terhadap program-pogram kesehatan. Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 ini terdiri dari atas 6 (enam) bab, yaitu :

Bab – I Pendahuluan. Bab ini menyajikan tentang latar belakang diterbitkannya Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013, serta sistematika penyajian Profil.

Bab II – Gambaran Umum. Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kabupaten Aceh Tamiang, selain uraian tentang letak geografis, dan informasi lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor meliputi yang berpengaruh terhadap kesehatan seperti Geografi Demografi, dan Sosial Ekonomi.

Bab III – Situasi Derajat Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang tentang hasil-hasil pembangunan kesehatan sampai dengan tahun 2013.

Bab IV – Situasi Upaya Kesehatan. Bab ini berisi tentang upaya-upaya kesehatan yang telah dilaksanakan oleh bidang kesehatan sampai dengan tahun 2013, untuk tercapainya dan berhasilnya program-program pembangunan di bidang kesehatan.

Bab V – Situasi Sumber Daya Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

Bab – VI Kesimpulan. Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013. Selain keberhasilan-keberhasilan yang perlu dicatat, bab ini juga

(4)

mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan kesehatan.

Lampiran : Pada lampiran ini berisi tabel resume/angka pencapaian Kabupaten Aceh Tamiang dan 79 tabel data kesehatan serta yang terkait kesehatan. Profil Kesehatan ini dapat disajikan dalam bentuk tercetak (berupa buku) atau dalam bentuk lain (softcopy, tampilan di situs internet dan lain-lain).

(5)

1. Luas Wilayah

Secara garis besar Kabupaten Aceh Tamiang adalah daerah dataran rendah dan perbukitan, yang sangat cocok untuk daerah perkebunan dan persawahan. Hal ini sesuai dengan jenis pekerjaan mayoritas dari penduduk Aceh Tamiang sebagai Petani.

Beberapa Kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang mempunyai potensi tinggi terjadinya bencana banjir seperti Kecamatan Banda Mulia, Bendahara, Karang Baru, Kejuruan Muda, Tamiang Hulu, Kota Kuala Simpang, Tenggulun, Manyak Payed, Rantau, Sekerak dan Seruway.

Kabupaten Aceh Tamiang terletak di pesisir Pantai Timur kepulauan Sumatera yang membentang dari Utara ke Selatan dengan panjang garis pantai sejauh ± 64,66 km secara geografis terbentang pada posisi 03°.53’18.81” - 04°.32’56.76” LU / NL sampai 97°.43’41.51” - 98°.14’45.41” BT/EL mempunyai luas wilayah seluruhnya 1.957.02 Km² yang terletak di pesisir Timur Pulau Sumatera.

Adapun batas wilayah Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebagai berikut:

❖ Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatra Utara.

❖ Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Serba Jadi dan Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Tenggara.

❖ Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gayo Lues.

❖ Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa.

2. Jumlah Kecamatan dan Kampung

Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari 12 Kecamatan dan 213 Kampung. Kampung adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada dibawah kabupaten yang tersebar dalam 12 Kecamatan Kabupaten Aceh Tamiang.

3. Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur

Jumlah penduduk menurut kelompok umur dapat menunjukkan jumlah penduduk produktif dan non produktif. Pengelompokkan penduduk dalam usia produktif dan non produktif dapat digunakan untuk menghitung Angka Beban Tanggungan (ABT) yang merupakan indikator ekonomi disuatu daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik,

(6)

jumlah penduduk kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 sebanyak 264.420 jiwa. Distribusi penduduk menurut kelompok usia tertentu penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan sesuai kebutuhan penduduk sebagai pelaku pembangunan. Keterangan atau informasi tentang penduduk menurut umur ini berkaitan dengan pengembangan kebijakan kependudukan terutama menyangkut dengan pengembangan sumber daya manusia. Kelompok usia produktif dengan komposisi umur 15 sampai 44 tahun yaitu sebesar 129.085 jiwa atau 48,8%, sedangkan komposisi penduduk usia ≥ 65 tahun yaitu 9.214 jiwa atau 3,5%. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Grafik: 2.1

Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur

Kabupaten Aceh Tamiang 2013

(7)

4. Jumlah Rumah Tangga/Kepala Keluarga

Jumlah Rumah Tangga di Kabupaten Aceh Tamiang berjumlah 61.975 KK dengan rata-rata dalam satu rumah tangga dihuni oleh 4 orang anggota keluarga.

5. Kepadatan Penduduk

Rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 adalah 135 orang per kilometer persegi. Daerah yang paling tinggi tingkat kepadatannya adalah Kecamatan Kota Kuala Simpang yaitu 4224 orang perkilometer persegi, sedangkan yang terendah adalah Kecamatan Sekerak 25 orang per kilometer persegi.

Kepadatan penduduk dipengaruhi oleh besarnya wilayah pada masing-masing kecamatan. Kepadatan penduduk dari sektor kesehatan merupakan indikator dalam melihat beberapa kondisi kesehatan yang akan muncul terutama kondisi kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan ketersediaan air minum, air bersih, sistem pembuangan air limbah dan sampah keluarga.

6. Rasio Beban Tanggungan

Rasio Beban Tanggungan adalah perbandingan antara banyaknya orang yang belum produktif (usia kurang dari 15 tahun) dan tidak produktif lagi (usia 65 tahun ke atas) dengan banyaknya orang yang termasuk usia produktif (15 – 64 tahun). Saat ini rasio ketergantungan penduduk Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2014 sebesar 58,29 persen.

7. Rasio Jenis Kelamin

Jumlah penduduk laki-laki di Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 131.888 jiwa dan perempuan sebanyak 132.532 jiwa. Seks Rasio adalah 99, berarti terdapat 99 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.

8. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melek Huruf

Melek huruf berumur 10 tahun ke atas adalah penduduk yang berusia 10 tahun ke atas yang mampu membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya. Di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 penduduk berumur 10 tahun keatas yang melek huruf tidak terekam datanya.

(8)

9. Persentase Penduduk Laki-laki dan Perempuan berusia 10 ke Atas Tahun yang Melek Huruf dan Ijazah Tertinggi

Tidak mempunyai ijazah SD adalah tidak memiliki ijazah suatu jenjang pendidikan atau pernah bersekolah di Sekolah Dasar atau yang sederajat (antara lain Sekolah Luar Biasa tingkat dasar, Madrasah Ibtidaiyah, dan lainnya) tetapi tidak/belum tamat. Tamat sekolah adalah menyelesaikan pelajaran pada kelas atau tingkat terakhir suatu jenjang sekolah baik negeri maupun swasta, dan telah mendapatkan tanda tamat/ijazah. Data ini belum dapat disajikan sebagaimana mestinya.

(9)

Perkembangan upaya kesehatan secara menyeluruh dan berkesinambungan menjadi salah satu pilar utama membangun daerah. Derajat kesehatan dipengaruhi 4 faktor utama yaitu; lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan genetika. Situasi derajat kesehatan di Kabupaten Aceh Tamiang dapat digambarkan dalam tampilan capaian indikator pembangunan kesehatan antara lain Angka Kematian (mortalitas), Angka Kesakitan (morbiditas) dan Status Gizi.

Berikut dijelaskan gambaran situasi derajat kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013.

A. ANGKA KEMATIAN (MORTALITAS)

Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian pada suatu kelompok populasi. Mortalitas dapat mengekspresikan jumlah satuan kematian per 1.000 individu dalam periode tertentu. Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat memberikan gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat atau dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Tingkat kematian secara umum berhubungan erat dengan tingkat kesakitan, karena biasanya merupakan akumulasi akhir dari berbagai penyebab terjadinya kematian baik langsung maupun tidak langsung. Salah satu alat untuk menilai keberhasilan program pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini adalah dengan melihat perkembangan angka kematian dari tahun ke tahun. Angka kematian meliputi Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA) dan Angka Kematian Ibu (AKI).

1. Angka Kematian Bayi per 1.000 Kelahiran Hidup

Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator yang paling sensitif untuk menentukan derajat kesehatan di suatu daerah. Angka Kematian Bayi baru lahir terutama disebabkan antara lain oleh Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), Asfiksia dan Infeksi. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan kondisi kehamilan, pertolongan persalinan yang aman, dan perawatan bayi baru lahir. Pembangunan sumber daya manusia tidak terlepas dari upaya kesehatan khususnya upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Ibu pada prinsipnya memiliki peran ganda yaitu sebagai pengasuh anak yang secara makro akan ikut menentukan generasi bangsa yang akan datang secara mikro, ibu juga ikut menentukan ekonomi keluarga. Karena itu pembangunan sumber

(10)

daya manusia harus dimulai sejak dini yakni pada saat janin masih dalam kandungan ibu dan masa awal pertumbuhannya.

Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 sebesar 13 per 1000 kelahiran hidup. Angka tersebut di dapat dari total jumlah bayi (0 – 12 bulan) mati sebanyak 73 kasus dari 5599 kelahiran hidup, yang artinya dari 1.000 bayi lahir hidup terdapat 13 bayi yang meninggal dalam setahun. Namun angka kematian bayi di tahun 2013 ini mengalami penurunan dibandingkan dari tahun 2012 yaitu terdapat 90 kasus kematian bayi dari 5699 kelahiran hidup. Rekaman angka kematian bayi dari kelahiran hidup di kabupaten Aceh Tamiang dua tahun terakhir dapat kita lihat pada grafik 3.1 berikut

:

Grafik 3.1

Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 - 2013

Faktor kematian bayi, secara garis besar dari sisi penyebab kematian bayi tertinggi di Kabupaten Aceh Tamiang adalah karena oleh Asfiksia 18 bayi (24,65%), Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sebanyak 17 bayi (23,28%), Kelainan Jantung 7 bayi bayi (9,59%), Kelainan Kongenital 4 bayi (5,47%), Diare 3 bayi (4,1%), (4,1%), Sepsis 2 bayi (2,7%) dan disebabkan oleh lain‐lain (Infeksi Kepala, Trauma Benturan, Trauma Lahir, Kelainan Asam Darah, An enchepali, Aspirasi Pasi, Hipothermi, Prematur Immaturus dll) sebanyak 22 bayi (30.14%).

2.Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang meningggal sebelum mencapai usia 5 tahun (≤60 bulan) pada periode waktu tertentu per 1.000 Kelahiran Hidup. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak

(11)

balita, seperti gizi, sanitasi, penyakit menular dan kecelakaan. Indikator ini menggambarkan tingkat kesejahteraan ekonomi dan sosial.

Angka Kematian Balita (AKABA) di Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 14,3 per 1000 kelahiran hidup. Angka tersebut di dapat dari total jumlah kematian balita sebanyak 80 kasus dari 5599 kelahiran hidup, yang artinya dari 1.000 kelahiran hidup terdapat 14 balita yang meninggal dalam tahun 2013. Angka ini juga menggambarkan perbaikan pelayanan karena menurunnya AKABA di tahun 2013 dibandingkan tahun 2012.

Grafik 3.2

Angka Kematian Balita Per 1000 Kelahiran Hidup Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 - 2013

Dari grafik diatas Proporsi kematian bayi mencapai 91% dari seluruh kematian balita. Sebagian besar kematian bayi dikontribusi pada periode neonatal, sehingga dapat dilihat Proporsi kematian Neonatal (0-29 hari) mencapai 66,25 % dari seluruh Angka Kematian.

3.Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka Kematian Ibu adalah jumlah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan. Kematian yang dihitung dapat terjadi karena kehamilannya, persalinannya dan masa nifas bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll.

(12)

Jumlah kematian ibu merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. Untuk mengetahui besaran masalah kesehatan ibu, indikator yang digunakan adalah Angka Kematian Ibu (AKI).

Angka Kematian Ibu di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 adalah 321/100.000 LH. Berdasarkan penyebab kematian ibu masih di dominasi oleh perdarahan, Eklamsi Post Partum (Laporan PWS KIA 2013).

Pada tahun 2013 jumlah kematian Ibu dipilah berdasarkan umur ibu; yaitu < 20 tahun (1 orang), 20 – 34 tahun (12 orang) dan

≥ 35

tahun

(5

orang). Dengan demikian di Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2013 tercatat 18 kasus kematian Ibu yang terdiri dari 7 kematian Ibu hamil (38,89%), 4 kematian Ibu bersalin (22,22%) dan 7 kematian pada Ibu nifas (38,89%) dari 5599 kelahiran hidup. Untuk distribusi kematian Ibu dan kategori Ibu dapat dilihat dalam lampiran profil tabel 6.

Jumlah kematian dibandingkan kelahiran hidup dapat dilihat pada grafik berikut ini:

Grafik 3.3

Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 - 2013

Informasi mengenai AKI akan akan bermanfaat untuk pengembangan program peningkatan kesehatan reproduksi, terutama pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan yang aman bebas risiko tinggi (making pregnancy safer),

program peningkatan jumlah persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan sistem rujukan dalam penanganan komplikasi kehamilan, penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran, yang sehat dan aman.

(13)

Salah satu upaya menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Kabupaten Aceh Tamiang adalah dengan membentuk kelas Ibu hamil. Semua permasalahan terkait Ibu hamil dan persalinan dikupas tuntas dalam kelas Ibu hamil ini. Dengan harapan langkah tersebut dapat meningkatkan jangkauan program K4 Ibu hamil, semua persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, dan di fasilitas kesehatan.

B. ANGKA KESAKITAN (MORBIDITAS)

Morbiditas adalah angka kesakitan (insidensi atau prevalensi) suatu penyakit terjadi pada suatu populasi dalam kurun waktu tertentu. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.

Berikut dijelaskan hasil kegiatan penanggulangan penyakit di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013:

1.CNR Kasus Baru BTA+

Penyakit Tuberkulosis (TB) sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena merupakan penyakit infeksi pembunuh utama yang menyerang golongan usia produktif, anak-anak serta golongan sosial ekonomi tidak mampu. Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri berbentuk batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium Tuberculosis

yang lebih sering menginfeksi organ paru-paru sebagai tempat infeksi primer, serta dapat menyerang organ lain seperti kulit, kelenjar limfe, tulang dan selaput otak. Tuberkulosis ditularkan melalui droplet (percikan dahak penderita).

Kasus Baru BTA+ adalah pasien belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). TB BTA+ yaitu penemuan pasien TB melalui pemeriksaan dahak sewaktu – pagi – sewaktu (SPS) dengan hasil pemerisaan mikroskopis :

- Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasil BTA positif.

- Terdapat 1 spesimen dahak SPS dengan hasil BTA positif dan foto thoraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.

- Terdapat 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif atau setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya dengan hasil BTA negative dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. Angka Notifikasi Kasus TB / Case Notification Rate (CNR) adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien TB semua tipe yang ditemukan dan tercatat diantara

(14)

100.000 penduduk pada satu periode di suatu wilayah. Di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 CNR Kasus Baru BTA+ adalah 99,08 per 100.000 penduduk. Untuk distribusi menurut wilayah dan persentase kasus dapat dilihat dalam lampiran profil tabel 7.

2.CNR Seluruh Kasus TB

CNR seluruh kasus TB adalah kasus TB (semua tipe) yang di temukan dan diobati serta tercatat diantara 100.000 penduduk ada satu periode di suatu wilayah. Jumlah seluruh kasus TB di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 adalah 269 penderita, dengan CNR seluruh kasus TB adalah 101,73 per 100.000 penduduk.

3.Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA +

Suspek TB orang memiliki gejala utama yaitu batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak, batuk berdarah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam lebih dari satu bulan.

Jumlah TB Paru BTA Positif di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 berjumlah 312 kasus.

4.Angka Keberhasilan Pengobatan Penderita TB Paru+

BTA+ diobati adalah Pemberian pengobatan pada pasien baru TB BTA Positif dengan OAT selama 6 bulan. Penderita TB Paru (+) sembuh adalah Penderita TB Paru yang setelah menerima pengobatan anti TB paru dinyatakan sembuh (hasil pemeriksaan dahaknya menunjukkan 2 kali negatif). Pengobatan Lengkap adalah Pasien baru TB BTA+ yang telah menjalani pengobatan dengan OAT selama 6 bulan tanpa berhenti.

Angka Kesembuhan Penderita (AKP) tuberkulosis adalah persentase kasus pasien baru yang tercatat positif terinfeksi tuberkulosis yang berobat sendiri atau berobat melalui strategi DOTS secara lengkap dan selesai. Angka keberhasilan pengobatan (Success Rate/SR) sudah mencapai 99.36%. Angka ini dapat secara langsung dipantau secara akurat dalam kontrol pasien yang diobati melalui DOTS. Pengawasan yang efektif melalui penemuan dan penanganan kasus infeksi akan membatasi risiko penyebarannya. Pendekatan yang direkomendasikan untuk mengetahui strategi DOTS sebuah strategi murah dan dapat mencegah pasien dari kematian.

(15)

Radang paru-paru (pneumonia) adalah sebuah penyakit paru-paru dimana pulmonary alveolus (alveoli) yang berfungsi menyerap oksigen dari atmosfer meradang dan terisi oleh cairan. Radang disebabkan oleh bakteria, virus, jamur atau parasit dan penyebab lainnya, seperti kanker paru-paru berlebihan minum alkohol yang ditandai dengan batuk, nyeri dada, dan kesulitan bernafas. Pneumonia dapat menyebabkan kematian, dan umumnya dapat terjadi di seluruh kelompok umur terutama pada balita dan orang tua dengan batuk menahun.

Pneumonia pada balita ditangani adalah penemuan dan tatalaksana penderita pneumonia yang mendapat antibiotik sesuai standar atau pneumonia berat yang dirujuk ke Rumah Sakit disatu wilayah pada kurun waktu tertentu, untuk Kabupaten Aceh Tamiang perkiraan penderita pneumonia berjumlah 2.967.

Perkiraan pneumonia pada balita adalah jumlah perkiraan penderita Pneumonia Balita yaitu 10% dari jumlah balita pada wilayah dan kurun waktu yang sama. Penemuan penderita pneumonia Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 sebanyak 198 penderita atau sebesar 6,7%.

Grafik 3.4

Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013

6.Jumlah Kasus HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus (retrovirus) yang menginfeksi sel-sel imunologi sehingga merusak sistem kekebalan manusia. HIV

(16)

dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi HIV, misalnya melalui hubungan seksual, transfusi darah, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi, dan penularan dari ibu ke anak yang dilahirkan atau disusui. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)

adalah kondisi kesehatan seseorang ketika HIV telah merusak sistem kekebalan terhadap penyakit. Jumlah penderita HIV – AIDS yang dilaporkan pada tahun 2013 adalah 6 kasus, terdiri dari 2 HIV dan 4 AIDS dimana 2 orang diantaranya meninggal dunia.

Grafik 3.5

Jumlah Kasus HIV, AIDS dan Kematian AIDS Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 - 2013

7.Jumlah Kasus Syphilis

Syphilis adalah kasus IMS (infeksi Menular Seksual) yang hasil pemeriksaan laboratorium VDRL (Veneral Disease Research Laboratory) dan TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination) positif. Infeksi Menular Seksual (IMS) disebut juga Penyakit Menular Seksual (PMS) yang cara penularannya melalui hubungan seksual (vaginal, oral, anal) dengan pasangan yang sudah tertular. Di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 adalah ditemukan kasus Syphilis 1 orang.

8.Darah Donor Diskrining terhadap HIV

Uji saring (skrining) darah donor dalam upaya penanggulangan AIDS dilakukan di PMI sejak tahun 1992 berdasarkan Kepmenkes No.622/VII/1992. Skrining darah donor dilakukan dengan rapid test, dimana skrining dilakukan

(17)

bukan pada pendonor tapi darah yang didonorkan. Kalau ada darah donor yang terdeteksi mengandung penyakit termasuk HIV, maka darah itu tidak dipakai dan diberi label atau tanda. Hal ini tidak diberitahu kepada pendonor sehingga mereka akan mendonorkan darahnya sebagai asas kemanusiaan.

Sebaiknya skrining pada pendonor untuk mendeteksi lebih akurat sejumlah penyakit yang diderita oleh pendonor, sebelum mereka mendonorkan darahnya. Skrining hanya untuk memastikan darah yang akan ditranfusikan bebas dari penyakit. Kalau darah seseorang akan dites HIV maka harus ada

informed consent, serta bersifat konfidensialitas (kerahasiaan), harus memberikan konseling sebelum dan sesudah mendonorkan darah kepada pendonor. Di Kabupaten Aceh Tamiang dari jumlah darah donor yang ada belum dilakukan skrining.

9.Kasus Diare dan Ditangani

Penyakit Diare sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan merupakan salah satu penyebab angka kematian dan kesakitan pada anak terutama balita. Secara umum penyakit Diare sangat berkaitan dengan hygiene sanitasi serta perilaku hidup bersih dan sehat, sehingga adanya peningkatan kasus diare yang merupakan cerminan penurunan kualitas kedua faktor tersebut.

Penyakit Diare merupakan salah satu penyakit yang sering mengenai bayi dan balita. Jika bayi atau anak tiba-tiba mengalami perubahan dalam buang air besar dari biasanya, baik frekuensi/jumlah buang air yang menjadi sering dan keluar dalam konsistensi cair. Penyakit Diare ini menyebabkan KLB jika penderita mengalami kematian, di tahun 2013 Kabupaten Aceh Tamiang kematian akibat diare 1 kasus . Meskipun demikian Diare bukan merupakan salah satu penyebab utama kematian pada semua golongan umur, tetapi penyakit Diare merupakan penyakit yang harus diwaspadai, artinya penanganan yang tepat di Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan yang lain seperti Puskesmas dan lain-lain, sangat penting peranannya dalam pencegahan kematian akibat Diare.

Perkiraan jumlah penderita diare yang datang ke sarana kesehatan adalah 10% dari angka kesakitan dikali dengan jumlah penduduk disatu wilayah kerja dalam waktu satu tahun.

Dari grafik 3.10 dibawah ini menunjukkan dari 11.185 perkiraan kasus Diare hanya 5.873 penderita yang ditangani atau 52.5%. Jika dibandingkan dengan data tahun 2012 jumlah perkiraan kasus Diare adalah 11.201 dan Diare

(18)

ditangani 5110 atau 45,6%, berarti adanya peningkatan penemuan kasus Diare pada tahun 2013.

Grafik 3.6

Persentase Diare ditemukan dan ditangani

Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 - 2013

10. Angka Penemuan Kasus Baru Kusta per 100.000 penduduk

Kusta atau Lepra adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae. Penderita kusta adalah seseorang yang mempunyai satu dari tanda utama kusta yaitu : kelainan kulit/lesi dapat berbentu bercak putih atau kemerahan yang mati rasa, penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi sensori, gangguan fungsi motoris, gangguan fungsi otonom dan adanya basil tahan asam (BTA) did lam kerokan jaringan kulit (slit skin smear).

Bila kusta tidak terdiagnosis dan diobati secara dini, maka akan menimbulkan kecacatan menetap. Kusta terbagi 2 tipe yaitu Pausibasilar (PB) yaitu: penderita kusta yang mempunyai tanda utama seperti, jumlah bercak kusta 1 – 5, jumlah penebalan saraf tepi disertai gangguan fungsi hanya 1 saraf dan hasil pemeriksaan kerokan jaringan kulit negatif. Multibasilar (MB) yaitu penderita kusta yang mempunyai tanda utama seperti : jumlah bercak kusta > 5, jumlah penebalan saraf tepi disertai gangguan fungsi lebih dari 1 saraf dan hasil pemeriksaan kerokan jaringan kulit positif. Kasus Kusta di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 berjumlah: kusta PB tidak ada dan Kusta MB berjumlah 5 orang. NCDR (New Case Detection Rate) 1.89/100.000 Penduduk.

(19)

Grafik 3.7

Angka Penemuan Kasus Baru Kusta PB dan MB Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 dan 2013

11. Persentase Cacat Tingkat 2 Penderita Kusta

Cacat tingkat 2 yaitu kecacatan yang terjadi pada tangan dan kaki kadang juga disertai dengan terjadinya kelainan anatomis seperti cacat pada mata, lagoptalmus dan visus sangat terganggu. Angka cacat tingkat 2 adalah jumlah kasus baru dengan cacat tingkat 2 yang ditemukan pada periode satu tahun per 100.000 penduduk. Adapun kasus baru dengan cacat tingkat 2 di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 tidak ditemukan atau nol.

12.Angka Prevalensi Kusta per 10.000 Penduduk

Angka Prevalensi Kusta Per 10.000 penduduk adalah penderita kusta terdaftar (kasus baru dan kasus lama) per 10.000 di Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2013 sebanyak 0.2 per 10.000 penduduk.

13.Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat

RFT (Release From Treatment) PB adalah jumlah kasus baru PB dari periode kohort satu tahun yang sama yang menyelesaikan pengobatan tepat waktu (6 dosis dalam 6 – 9 bulan). RFT MB adalah jumlah kasus baru MB periode kohort satu tahun yang sama yang menyelesaikan pengobatan tepat waktu (12 dosis dalam 12 – 18 tahun).

Pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikan kuman kusta sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh dan tanda-tanda penyakit jadi kurang

(20)

aktif sampai akhirnya hilang. Dengan hancurnya kuman/basil maka sumber penularan dari penderita terutama tipe Multi Basiler (MB) ke orang lain terputus. Penderita yang sudah dalam keadaan cacat permanen, pengobatan hanya dapat mencegah cacat lebih lanjut. Bila penderita kusta tidak minum obat secara teratur maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali, sehingga timbul gejala-gejala baru pada kulit dan saraf yang dapat memperburuk keadaan.

Dari grafik 3.13 dibawah ini menunjukkan penderita yang selesai berobat adalah RFT PB tidak ada, sementara RFT MB 1 orang dari jumlah penderita pada tahun 2013 yang berjumlah 5 orang.

Grafik 3.8

Persentase Penderita Kusta PB dan MB selesai berobat Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 - 2013

14.Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit “Acute Flaccid Paralysis” (AFP) per-100.000 Penduduk < 15 tahun

Acute Flaccid Paralysis (AFP) : Kelumpuhan pada anak berusia < 15 tahun yang bersifat layu (flaccid) terjadi secara akut, mendadak dan bukan disebabkan ruda paksa. AFP rate per 100.000 penduduk usia < 15 tahun jumlah kasus AFP Non Polio yang ditemukan diantara 100.000 penduduk berusia < 15 tahun di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Berdasarkan data surveilans tahun 2013, dilakukan pengamatan terhadap semua kasus AFP pada anak usia < 15 tahun yang merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit Polio. Dari jumlah penduduk Kabupaten Aceh Tamiang yang berusia < 15 tahun berjumlah 88.153 dengan jumlah kasus AFP (Non Polio) sebanyak 1 orang. Jumlah kasus tersebut merupakan data yang ditemukan di

(21)

wilayah kerja puskesmas Simpang Kiri. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut diketahui bahwa AFP Rate (Non Polio) 1.13/100.000 penduduk (Surveilans Dinkes Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013).

15.Jumlah Kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

Kementerian Kesehatan menetapkan bahwa ada beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi diantaranya:

● Penyakit Difteri adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan bakteri

Corynebacterium Diptheriae yang ditandai dengan panas lebih 38 derajat celcius disertai adanya pseudomembran (selaput tipis) pada kerongkongan yang menyebabkan sulit bernafas. Di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 tidak terdapat kasus Difteri.

● Penyakit Pertusis adalah penyakit membrane mukosa pernafasan dengan gejala demam ringan, bersin, hidung berair dan batuk kering. Tahun 2013 tidak terjadi kasus Pertusis

● Penyakit Tetanus adalah penyakit infeksi akut dan sering fatal yang mengenai system saraf yang disebabkan infeksi bakteri dan luka terbuka. Ditandai dengan kontruksi otot tetanik dan hiper-refleksi, yang mengakibatkan trismus (rahang terkunci), spasme glotis, spasme otot umum, opistotonus/spasme respiratoris, serangan kejang dan paralysis. Tahun 2013 tidak terdapat kasus. ● Penyakit Tetanus Neunatorum adalah suatu bentuk tetanus infeksius yang berat, dan terjadi selama beberapa hari pertama setelah lahir. Disebabkan oleh masuknya spora tetanus melalui sisa tali pusat yang dipotong/dibalut dengan alat yang tidak steril, diberi ramu-ramuan yang terkontaminasi oleh spora tetanus dan kekurangan imunisasi maternal. Tahun 2013 terdapat 1 kasus dan meningggal dengan CFR 100% di wilayah kerja Puskesmas Bandar Pusaka.

● Penyakit Campak adalah penyakit akut yang disebabkan Morbilivirus ditandai dengan munculnya bintik merah (ruam), terjadi pertama kali saat anak-anak. Pada Tahun 2013 terdapat 17 kasus campak, penyebaran kasus per Puskesmas dapat dilihat pada lampiran tabel 20.

● Penyakit Polio adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus. Dapat menyerang semua umur, tetapi biasanya menyerang anak-anak usia kurang dari 3 tahun yang menyebabkan kelumpuhan sehingga penderita tidak dapat menggerakkan salah satu bagian tubuhnya.

(22)

● Penyakit Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Hepatitis (A,B,C,D dan E).

16.Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per 100.000 penduduk

Pasien yang menderita Demam Berdarah Dengue (DBD) biasanya menunjukkan gejala seperti demam tinggi, fenomena hemoragik atau perdarahan hebat, yang seringkali diikuti oleh pembesaran hati dan kegagalan system sirkulasi darah. Adanya kerusakan pembuluh darah, pembuluh limfa, pendarahan dibawah kulit yang membuat munculnya memar kebiruan,

trombositopenia dan peningkatan jumlah sel darah merah juga sering ditemukan pada pasien DBD. Penderita penyakit DBD yang memenuhi sekurang-kurangnya 2 kriteria klinis dan 2 kriteria laboratorium yaitu kriteria klinis:

- Panas mendadak 2 – 7 hari tanpa sebab yang jelas.

- Tanda-tanda perdarahan (sekurang-kurannya uji Torniquet positif). - Pembesaran Hati.

- Shock.

Kriteria Laboratorium: - Trombositopenia. - Hematokrit naik > 20%.

Salah satu karekteristik pada tingkat keparahan yaitu adanya kebocoran plasma darah. Fase kritis DBD adalah setelah 2 -7 hari demam tinggi, pasien mengalami penurunan suhu tubuh yang drastis. Pasien akan terus berkeringat, sulit tidur dan mengalami penurunan tekanan darah. Bila terapi dengan elektrolit dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan cepat setelah mengalami masa kritis. Namun bila tidak, DBD dapat mengakibatkan kematian. Jumlah kasus DBD Kabupaten Aceh Tamiang adalah 22 orang, dan kematian berjumlah 1 orang. Dari grafik 3.14 dibawah ini menunjukkan Angka Kesakitan DBD/Insidens Rate kasus DBD di Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2013 adalah 8,3/100.000.

(23)

Grafik 3.9 Incidence Rate DBD

Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 - 2013

17.Angka Kematian Demam Berdarah Dengue (DBD)

Kematian akibat DBD atau Case Fatality Rate (CFR) di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 ditemukan 1 kasus (4,5%).

18.Angka Kesakitan Malaria

Di Indonesia Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih memerlukan perhatian. Target angka kesakitan malaria yang diukur dengan angka API (Annual Parasite Insidence). Meskipun ketersediaan obat malaria oleh pemerintah secara murah atau bahkan gratis tapi karena tidak terjangkau oleh masyarakat karena kendala transportasi, jarak tempuh maka KLB malaria masih tetap terjadi.

Suspek adalah sangkaan kasus dengan gejala klinis malaria (demam tinggi disertai menggigil) tanpa pemeriksaan sediaan darah dengan jumlah suspek 6954, sedangkan Malaria positif adalah kasus dengan gejala klinis malaria (demam tinggi disertai menggigil) dengan pemeriksaan sediaan darah di laboratorium berjumlah 68.

19. Angka Kematian Malaria

Kematian akibat malaria atau Case Fatality Rate (CFR) di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 tidak ditemukan.

(24)

20.Penanganan Penyakit Filariasis

Penyakit Kaki Gajah (Filariasis atau Elephantiasis) adalah golongan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapat pengobatan, dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki.

Kasus baru Filariasis adalah kasus baru Filariasis yang baru ditemukan sedangkan jumlah seluruh kasus adalah kasus Filariasis baik kasus baru maupun kasus lama.

Dikabupaten Aceh Tamiang ditemukan kasus Filariasis dan pada tahun 2013 kasus baru tidak ditemukan, tetapi seluruh kasus filariasis yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang berjumlah 36 kasus dengan Angka Kesakitan Filariasis adalah 14/100.000 penduduk. Ini menunjukkan terjadi penurunan kasus dibandingkan tahun 2011 ditemukan 45 kasus dan tahun 2012 tidak ditemukan kasus.

21.Cakupan Pengukuran Tekanan Darah

Pengukuran Tekanan Darah adalah penduduk usia ≥ 15 tahun yang dilakukan pengukuran tekanan darah disuatu wilayah, pengukuran ini dapat dilakukan di dalam unit pelayanan kesehatan primer, pemerintah maupun swasta, di dalam maupun luar gedung. Cakupan pengukuran tekanan darah di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 belum dapat dilaporkan karena belum ada pencatatan data tersebut secara akurat di sarana kesehatan dasar.

22.Cakupan Pemeriksaan Obesitas

Pemeriksaan obesitas adalah persentase pengunjung puskesmas dan jaringannya yang berusia ≥ 15 tahun yang dilakukan pemeriksaan obesitas dalam kurun waktu satu tahun. Cakupan pemeriksaan obesitas di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 belum dapat dilaporkan karena belum ada pencatatan data tersebut di Puskesmas.

23.Cakupan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan Pemeriksaan IVA+

Pemeriksaan Infeksi Visual dengan Asam asetat (IVA) adalah untuk deteksi dini kanker leher rahim pada perempuan berusia 30 – 49 tahun. Pemeriksaan dengan cara mengamati dengan menggunakan spekulum, melihat leher rahim yang telah

(25)

dipulas dengan asam asetat atau asam cuka (3 – 5%). Pada lesi prakanker akan menampilkan warna bercak putih yang disebut acetowhite epithelium. Deteksi dini yang dimaksud dapat dilakukan di puskesmas dan jaringannya, di dalam maupun diluar gedung. Cakupan pemeriksaan IVA+ di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 belum dapat dilaporkan karena belum ada pencatatan data tersebut di Puskesmas.

24.Cakupan Deteksi Dini Kanker Payudara dengan Pemeriksaan CBE

Pemeriksaan Clinical Breast Examination (CBE) adalah untuk deteksi dini kanker payudara pada perempuan berusia 30 – 49 tahun. Pemeriksaan payudara secara manual oleh tenaga kesehatan terlatih. Deteksi dini yang dimaksud dapat dilakukan di puskesmas dan jaringannya, di dalam maupun di luar gedung. Cakupan pemeriksaan CBE di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 belum dapat dilaporkan karena belum ada pencatatan data tersebut di Puskesmas.

25.Cakupan Desa/Kelurahan terkena KLB ditangani < 24 Jam

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu desa dalam waktu tertentu. Penyakit menular, keracunan makanan, keracunan bahan berbahaya lainnya masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit diare, campak, demam berdarah dengue merupakan penyakit yang sering menimbulkan KLB. Penduduk yang terancam adalah penduduk yang tinggal di desa yang terkena kejadian luar biasa. Attack Rate adalah angka pengukuran yang dipakai untuk menghitung insidens kasus baru selama kejadian KLB terhadap penduduk yang terancam. Sementara CFR (Case Fatality Rate) adalah persentase penderita yang meninggal karena suatu penyakit terhadap seluruh kasus penyakit yang sama.

Salah satu indikator kinerja penanggulangan KLB adalah dengan melakukan kegiatan penyelidikan dan penanggulangan KLB dengan cepat dan tepat yang terlaksana kurang dari 24 jam sejak adanya KLB atau dugaan KLB. Pada Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 terdapat 6 desa yang terkena KLB dan yang ditangani < 24 Jam hanya 4 desa (66,67%) dapat dilihat pada lampiran tabel 28.

(26)

Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi daerah. Adapun upaya kesehatan terdiri dari dua unsur utama yaitu : upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan.

Unsur upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. Upaya kesehatan perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan.

Unsur upaya kesehatan masyarakat adalah promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, kesehatan jiwa, pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pengamanan penggunaan zat adiktif dalam makanan dan minuman, pengamanan narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan. Berikut ini diuraikan situasi upaya kesehatan di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 :

A. PELAYANAN KESEHATAN

Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat dalam memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang – Undang Dasar 1945 pasal 28 ayat (1) dan Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatn. Pembangunan Kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang antara lain diukur dengan penghitungan beberapa indikator dan salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Kabupaten Aceh Tamiang dapat dilihat dari indikator makro antara lain Indikator Angka Harapan Hidup (AHA), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI).

Pelayanan kesehatan masyarakat dilakukan melalui beberapa kegiatan program yang dilakukan di fasilitas kesehatan, baik fasilitas kesehatan dasar (puskesmas dan jaringannya) maupun fasilitas rujukan (RSUD/pemerintah dan swasta). Program prioritas disektor kesehatan antara lain kesehatan ibu dan anak, gizi, imunisasi dan pemberantasan penyakit menular.

Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pelayanan dasar

(27)

secara tepat dan cepat, maka akan memberi makna bahwa sebahagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diketahui dan diatasi. Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta anak prasekolah. Adapun tujuan program kesehatan ibu dan anak adalah tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya untuk atau mempercepat pencapaian target pembangunan kesehatan Indonesia, serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya. Meningkatkan kemampuan ibu (pengetahuan, sikap dan perilaku) dalam mengatasi kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilan. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan K1 dan K4. Beberapa hal yang mempengaruhi cakupan pelayanan antenatal, adalah kelengkapan sarana puskesmas, tenaga kesehatan serta pengetahuan dan sikap ibu hamil di Kabupaten Aceh Tamiang:

1. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1

Cakupan kunjungan ibu hamil K-1 adalah Cakupan ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar pada trimester pertama kehamilannya di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan profesional (Dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, Bidan dan Perawat) kepada ibu hamil pada masa kehamilan.

Indikator K-1 menunjukkan akses pada kesehatan ibu hamil kepada tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Standar minimal yang ditetapkan untuk pelayanan kehamilan adalah 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III. Standar ini terpenuhi dan bermakna terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. Cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil (K1) pada tahun 2013 adalah 6.091 (90,6%), target SPM Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1 tahun 2013 adalah 91%.

2. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-4

Cakupan Kunjungan ibu hamil K-4 adalah ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali.

Pelayanan yang diberikan mencakup minimal: (1) Timbang berat badan dan ukur tinggi badan, (2) Ukur tekanan darah, (3) Skrining status imunisasi tetanus dan

(28)

pemberian Tetanus Toksoid, (4) Ukur tinggi fundus uteri, (5) Pemberian tablet besi 90 tablet selama kehamilan, (6) temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling), (7) Test laboratorium sederhana (Hb, Protein Urine) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAg, Spilis, HIV, Malaria, TBC).

K1 dan K4 akan berperan penting dalam mendeteksi secara dini berbagai permasalahan selama masa kehamilan. Salah satunya adalah mendeteksi ibu hamil risiko tinggi atau dengan komplikasi kehamilan. Cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil (K4) tahun 2013 berjumlah 5.179 (77%), target SPM Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-4 tahun 2013 adalah 91%.

3.Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan

Cakupan Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah jumlah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa sekitar persalinan, hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional) dan persalinan bukan pada fasilitas kesehatan. Pertolongan persalinan merupakan salah satu kualitas pelayanan kesehatan dasar. Hal ini dapat menggambarkan indikator output dari hasil kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan dari pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. Pada prinsipnya penolong persalinan harus memerhatikan beberapa hal, yaitu 1) pencegahan infeksi; 2) metode pertolongan persalinan yang sesuai standar; 3) merujuk kasus yang memerlukan tingkat pelayanan lebih tinggi; dan 4) melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2013 adalah 5.697 (88.8%), target SPM Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan tahun 2013 adalah 90%.

4.Cakupan Pelayanan Nifas

Pelayanan nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 hari sampai 42 hari paska melahirkan oleh tenaga kesehatan. Kontak ibu nifas dengan tenaga kesehatan minimal 3 kali, yaitu 1 kali pada 6 jam pasca persalinan sampai dengan 3 hari; 1 kali pada minggu ke II, dan 1 kali ada minggu ke VI termasuk pemberian vitamin A 2 kali serta persiapan atau pemasangan KB pasca persalinan. Pada tahun 2013 pelayanan kesehatan ibu nifas dan mendapat

(29)

pelayanan kesehatan (KF1) adalah 5.355 (83.4%), target SPM Cakupan Pelayanan Nifas tahun 2013 adalah 89%.

Grafik : 4.1

Cakupan Pelayanan Kesehatan

K1, K4, Persalinan ditolong Nakes dan Ibu Nifas Kabupaten Aceh Tamiang

Tahun 2012 – 2013

5.Cakupan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas

Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A adalah jumlah pemberian vitamin A 2 kali pada ibu bersalin saat periode nifas yaitu 6 sampai 42 hari paska persalinan.

Pemberian kapsul vitamin A ibu nifas (melahirkan) memiliki manfaat penting bagi ibu dan bayi yang di susui. Tambahan vitamin A melalui suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh, dan dapat meningkatkan kelangsungan hidup anak.

Pada ibu hamil dan menyusui, Vitamin A berperan penting untuk memelihara kesehatan ibu selama masa kehamilan dan menyusui. Buta senja pada ibu menyusui, suatu kondisi yang kerap terjadi karena Kurang Vitamin A (KVA). Cakupan pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas di Kabupaten Aceh Tamiang ditahun 2013 adalah 5.668 (88.31%).

(30)

Grafik : 4.2

Cakupan Vitamin A pada Ibu Nifas Kabupaten Aceh Tamiang

Tahun 2012 - 2013

6.Persentase Cakupan Imunisasi TT Ibu Hamil dan WUS

Imunusasi TT Ibu Hamil adalah Pemberian Vaksin TT pada ibu hamil sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan) dengan tujuan memberikan kekebalan seumur hidup. Pemberian TT2 adalah selang waktu pemberian minimal 4 minggu setelah TT1 dengan masa perlindungan 3 tahun. Pemberian TT3 adalah selang waktu pemberian minimal 6 bulan setelah TT2 dengan masa perlindungan 5 tahun. Pemberian TT4 adalah selang waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT3 dengan masa perlindungan 10 tahun. Pemberian TT5 adalah selang waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT4 dengan masa perlindungan 25 tahun. Pemberian TT2+ adalah Imunisasi tetanus yang diberikan minimal 2 kali saat kehamilan (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan).

Imunisasi Toksoid Tetanus (TT) perlu dilakukan oleh wanita sebelum menikah dan pada ibu hamil, karena Imunisasi TT dapat memberikan kekebalan tubuh pada ibu hamil agar janin terhindar dari penyakit Tetanus Neonatorum (TN).

Sebagian besar bayi yang terkena tetanus biasanya lahir dari ibu yang tidak pernah mendapatkan imunisasi TT dan persalinan yang dilakukan tidak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) misalnya kurang steril. Penyakit ini muncul

(31)

biasanya disebabkan oleh masuknya spora tetanus melalui tali pusat yang dipotong dengan alat yang tidak steril maupun tali pusat yang dibalut dengan bahan yg tidak steril atau karena diberikan ramuan-ramuan yang terkontaminasi oleh spora tetanus. Adapun cakupan pemberian TT5 pada ibu hamil di Kabupaten Aceh Tamiang 748 (11.1%) dan TT2+ 5.358 (79.7%).

Imunisasi TT WUS adalah Pemberian imunisasi TT pada Wanita Usia Subur (hamil dan tidak hamil usia 15 – 39 tahun) sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan) yang berguna untuk kekebalan seumur hidup. Adapun cakupan pemberian imunisasi TT5 pada WUS di Kabupaten Aceh Tamiang 1.172 (2,0%) dan TT2+ 4.791 (8,3%)

Grafik : 4.3

Persentase Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil dan WUS Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013

7.Cakupan Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Besi Tablet Fe

Zat besi adalah mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin). Selain itu mineral ini juga berperan sebagai komponen untuk membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat di tulang, tulang rawan dan jaringan penambung), serta enzim. Zat besi juga berfungsi dalam sistim pertahanan tubuh. Saat hamil, kebutuhan zat besi sangat meningkat dua kali lipat dari kebutuhan sebelum hamil.

Kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi) selama hamil dapat berdampak tidak baik bagi ibu maupun janin. Perdarahan yang banyak sewaktu

(32)

melahirkan, beresiko lebih besar pada ibu hamil yang anemia. Kekurangan zat besi juga mempengaruhi pertumbuhan janin sehingga saat lahir berat badannya di bawah normal, yang disebut sebagai bayi berat lahir rendah (BBLR). Akibat lain dari anemia defisiensi besi selama hamil adalah bayi lahir prematur.

Pemberian Fe1 adalah ibu hamil yang mendapat 30 tablet Fe (suplemen zat besi) selama periode kehamilannya di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Pemberian Fe3 adalah ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe (suplemen zat besi) selama periode kehamilannya di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Persentase ibu hamil yang mendapat tablet Fe3 sejumlah 90 tablet Fe selama periode kehamilannya pada tahun 2013 sebesar 5.160 (76.75%).

Grafik : 4.4

Cakupan Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 & 2013

8.Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani

Komplikasi kebidanan adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi. Cakupan komplikasi kebidanan adalah jumlah kasus komplikasi ibu hamil, bersalin dan ibu nifas yang mendapat pelayanan sesuai standar di pelayanan dasar maupun PONED dan fasilitas rujukan RSUD Kabupaten Aceh Tamiang. Penanganan definitif adalah penanganan/pemberian tindakan terakhir untuk menyelesaikan permasalahan setiap kasus komplikasi kebidanan. Perhitungan jumlah ibu dengan komplikasi kebidanan di

(33)

satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama dihitung berdasarkan angka estimasi 20% dari Total Ibu Hamil disatu wilayah pada kurun waktu yang sama. Jumlah perkiraan komplikasi kebidanan adalah 1.345 orang dan yang ditangani berjumlah 722 (53.7%), target SPM Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani tahun 2013 adalah 78%.

9.Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani

Neonatus komplikasi adalah Neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian. Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus neonatorum, infeksi/sepsis, trauma lahir, BBLR (Berat Badan Lahir Rendah < 2500 gr), sidroma gangguan pernafasan, kelainan kongenital. Neonatus komplikasi yang ditangani adalah Neonatus komplikasi yang mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, dokter dan bidan di sarana pelayanan kesehatan. Perhitungan sasaran neonatus dengan komplikasi dihitung berdasarkan 15% dari jumlah lahir hidup yaitu 5599. Dari perkiraan komplikasi neonatal resti 840 orang dan yang ditangani sebesar 250 (29.8%), target SPM Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani tahun 2013 adalah 55%.

Grafik : 4.5

Cakupan Penanganan Komplikasi Kebidanan dan Neonatal Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 & 2013

(34)

10.Persentase Peserta KB Aktif menurut Jenis Kontrasepsi

Pelayanan Keluarga Berencana (KB) yaitu gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran, dengan kata lain KB adalah perencanaan jumlah keluarga. Pencapaian peserta KB aktif merupakan salah satu indikator kuantitatif keberhasilan pelaksanaan program KB. Persentase proporsi peserta KB Aktif menurut jenis kontrasepsi di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 yang tertinggi adalah dengan metode pil 11.924 (44.8%) dan suntik 11.279 (42.4%). Jenis Kontrasepsi yang dimaksud antara lain; Metode Kontrasepsi Janka Panjang (MKJP) yang meliputi IUD, MOW (Medis Operasi Wanita) / MOP (Medis Operasi Pria) dan Implant; Metode Kontrasepsi Bukan Jangka Panjang (Non MKJP) yang meliputi suntik, pil, kondom dan obat vagina. Target SPM Persentase Peserta KB Aktif menurut Jenis Kontrasepsi tahun 2013 adalah 65%.

11. Persentase Peserta KB Baru menurut Jenis Kontrasepsi

Peserta KB Baru adalah Pasangan Usia Subur yang baru pertama kali menggunakan salah satu cara/alat kontrasepsi dan/atau pasangan usia subur yang menggunakan kembali salah cara/alat kontrasepsi setelah mereka berakhir masa kehamilannya. Banyak hal yang mempengaruhi akseptor dalam memilih alat kontrasepsi antara lain adalah pertimbangan medis, latar belakang sosial budaya, sosial ekonomi, pengetahuan, pendidikan dan jumlah anak yang diinginkan. Disamping itu adanya efek samping yang merugikan dari suatu alat kontrasepsi juga berpengaruh dalam menyebabkan bertambah atau berkurangnya akseptor memilih suatu alat kontrasepsi. Persentase peserta KB Baru menurut jenis kontrasepsi di Kabupaten Aceh Tamiang untuk tahun 2013 yang terbanyak adalah dengan metode suntik 6.056 (44%) dan pil 5.841 (42.5%).

12.Persentase Berat Badan Bayi Lahir Rendah

Bayi lahir ditimbang adalah jumlah bayi lahir hidup yang ditimbang. BBLR adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram yang ditimbang pada saat lahir sampai dengan 24 jam pertama setelah lahir. Bayi berat lahir rendah (BBLR) tidak memandang masa gestasi atau masa pembentukan janin dalam uterus yaitu setelah proses fertilisasi/hamil hingga kelahiran. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. Di Kabupaten Aceh Tamiang

(35)

tahun 2013 jumlah lahir hidup 5.599 bayi dan 100% semua ditimbang saat baru lahir, serta ditemukan 66 bayi yang BBLR (1,2%).

13.Cakupan Kunjungan Neonatus

Dalam pelaksanaan pelayanan neonatal, petugas kesehatan melakukan konseling pada ibu melahirkan. Pelayanan kesehatan neonatal dasar pada ibu yaitu; tindakan resutasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan ekslusif, pencegah infeksi berupa perawatan luka, perawatan tali pusat, perawatan kulit dan pemberian imunisasi. KN1 adalah pelayanan kesehatan neonatal dasar, kunjungan pertama pada 6 – 24 jam setelah lahir. KN lengkap adalah pelayanan kesehatan neonatal dasar meliputi pemberian ASI ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, pemberian vitamin K1 injeksi bila tidak diberikan pada saat lahir, pemberian imunisasi hepatitis B1 bila tidak diberikan pada saat lahir, dan manajemen terpadu bayi muda. Dilakukan sesuai standar sedikitnya 3 kali, pada 6 – 24 jam setelah lahir, pada 3 – 7 hari dan pada 8 – 28 hari setelah lahir.

Cakupan kunjungan neonatal (KN1) di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 sebesar 100% dan kunjungan neonatal yang ke 3 kali (KN Lengkap) adalah 98,5%, target SPM cakupan kunjungan neonatal (KN1) tahun 2013 adalah 93% dan target SPM cakupan kunjungan yang ke 3 kali (KN Lengkap) tahun 2013 adalah 78%.

Grafik : 4.6

Cakupan Kunjungan Neonatal

(36)

14.Cakupan Bayi yang Mendapat ASI Ekslusif

Bayi yang mendapat ASI ekslusif adalah bayi yang hanya mendapat ASI (Air Susu Ibu) saja sejak lahir sampai umur 6 bulan. ASI merupakan makanan khusus bayi supaya kebutuhan nutrisinya akan kalori, asam lemak, laktosa dan asam amino dapat terpenuhi dalam proporsi yang tepat. ASI juga memberikan perlindungan pada bayi baru lahir karena kaya akan immunoglobulin (antibody yang diperlukan untuk kekebalan tubuhnya).

Pemberian ASI ekslusif harus dilakukan selama 6 bulan, persentase bayi yang diberi ASI ekslusif tahun 2013 baru mencapai 28,5%. Rendahnya cakupan ini banyak dipengaruhi oleh budaya memberikan makanan dan minuman terlalu dini kepada bayi baru lahir, akibat dari pengetahuan keluarga tentang ASI ekslusif yang masih sangat minim. Disamping itu gencarnya propaganda susu formula terutama bagi ibu yang bekerja juga menjadi penyebab lainnya, target SPM Cakupan Bayi yang Mendapat ASI Ekslusif tahun 2013 adalah 35%.

15.Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi

Cakupan Pelayanan Kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan pada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode 29 hari sampai dengan 11 bulan setelah lahir di sarana pelayanan kesehatan (polindes/poskesdes, pustu, puskesmas rumah bersalin dan rumah sakit) maupun kunjungan rumah, posyandu. Pelaksanaan pelayanan kesehatan bayi yaitu 1 kali pada umur 29 hari – 2 bulan, 1 kali pada umur 3 – 5 bulan, dan 1 kali pada umur 6 – 8 bulan dan 1 kali pada umur 9 – 11 bulan.

Kunjungan bayi bertujuan untuk meningkatkan akses bayi pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila terdapat kelainan pada bayi

Pelayanan kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/HB1-3, Polio 1 – 4, Campak), stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) dan penyuluhan perawatan kesehatan. Penyuluhan perawatan kesehatan bayi meliputi : konseling ASI ekslusif, pemberian makanan pendamping ASI sejak usia 6 bulan, perawatan dan tanda bahaya bayi sakit (sesuai MTBS), pemantauan pertumbuhan dan pemberian vitamin A kapsul biru pada usia 6 – 11 bulan. Persentase cakupan kunjungan bayi di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 sebesar 4.755 (84,9)%, target SPM Cakupan Kunjungan Bayi tahun 2013 adalah 78%.

(37)

16.Cakupan Desa Universal Child Immunization (UCI)

Desa Universal Child Immunization (UCI) adalah desa dimana ≥ 80% dari jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun.

Pencapaian desa UCI di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 adalah 96,45%, ini sudah mencapai target yang ingin dicapai dari 80%. Imunisasi dasar lengkap pada bayi meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, 1 dosis Campak. Target SPM Cakupan Desa Universal Child Immunization (UCI) tahun 2013 adalah 80%.

Grafik : 4.7

Cakupan Desa Universal Child Immunization (UCI) Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 - 2013

17.Persentase Cakupan Imunisasi Bayi

Program imunisasi pada bayi dikelompokkan menjadi beberapa jenis imunisasi yaitu BCG, HB0, DPT1+HB1, DPT3+HB3, Polio3 dan Campak. Pada tahun 2013 di Kabupaten Aceh Tamiang cakupan BCG mencapai 106%, DPT1+HB1 mencapai 104%, DPT3+HB3 mencapai 105%, Polio4 mencapai 104%, dan Campak mencapai 100%.

Persentasi cakupan imunisasi melebihi 100% karena adanya sasaran pendatang dan mobilitas penduduk lintas kabupaten/provinsi, mengingat sebahagian wilayah Kabupaten Aceh Tamiang berbatasan dengan Provinsi

(38)

Sumatera Utara, serta juga ada sasaran wilayah Puskesmas yang mendapat layanan dari Puskesmas tetangga atau Puskesmas terdekat dengan masyarakat. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi cakupan imunisasi melebihi 100% adalah adanya usia bayi belum masuk dalam kategori penerima layanan imunisasi sesuai Petunjuk Teknis dan ada juga anak kelompok umur di atas 1 tahun yang masih mendapat layanan imunisasi karena status imunisasi belum lengkap. Ketimpangan cakupan ini terjadi menurut Standart Penilaian Mandiri Kualitas Data Rutin (PMKDR) masih dapat disebut Akurat pada kondisi capaian 85% s/d 115%.

18.Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Anak Balita

Vitamin A merupakan zat gizi yang sangat diperlukan bagi bayi dan ibu nifas karena zat gizi ini sangat penting agar proses-proses fisiologis dalam tubuh berlangsung secara normal, termasuk pertumbuhan sel, meningkatkan fungsi penglihatan, meningkatkan imunologis dan pertumbuhan badan. Vitamin A juga membantu mencegah perkembangan sel-sel kanker. Cakupan Bayi mendapat kapsul Vitamin A adalah Cakupan bayi 6 – 11 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dosis 100 µA 1 kali pertahun di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Pemberian Vitamin A yang rutin dilakukan setahun dua kali, yaitu pada bulan Februari dan Agustus. Cakupan pemberian Vitamin A pada bayi di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2013 adalah 5.522 (98.62%).

Cakupan anak balita mendapat kapsul Vitamin A 2 kali/tahun adalah cakupan anak balita umur 12 – 59 bulan mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi 200µA 2 kali per tahun di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Pemberian vitamin A bertujuan untuk menurunkan prevalensi Kekurangan Vitamin A (KVA). Dikalangan anak balita, akibat kekurangan Vitamin A (KVA) akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas, anak mudah terkena penyakit infeksi seperti diare, radang paru-paru, pneumonia dan akhirnya kematian. Akibat lain yang berdampak serius dari KVA adalah buta senja dan tanda-tanda lain dari xeropthalmia termasuk kerusakan (keratomalasia) dan kebutaan. Cakupan anak balita mendapat kapsul Vitamin A 2 kali/tahun di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 adalah sebesar 16.966 (70.50%).

(39)

Grafik : 4.8

Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Bayi, Anak Balita Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 - 2013

19.Cakupan Baduta Ditimbang

Anak Usia 0 – 23 bulan yang ditimbang berat badannya di sarana pelayanan kesehatan termasuk posyandu termasuk penimbangan lainnya guna untuk mendeteksi lebih dini permasalahan tumbuh kembang anak. Baduta ditimbang hasilnya dicatat pada buku KIA atau Kartu Menuju Sehat (KMS) buku tersebut akan terlihat berat badannya naik atau tidak. Baduta dengan berat di Bawah Garis Merah (BGM) adalah jumlah baduta yang hasil penimbangan berat badannya berada di bawah garis merah pada KMS. Pada tahun 2013 balita ditimbang di Posyandu sebesar 9.917 (76,8%), dan dari jumlah tersebut terdapat 241 (2,4%) baduta dengan BGM.

20.Cakupan Pelayanan Anak Balita

Lima tahun pertama kehidupan, pertumbuhan mental dan intelektual berkembang pesat. Masa ini merupakan masa keemasan atau golden period dimana terbentuk dasar-dasar kemampuan dimana terbentuk dasar-dasar kemampuan keinderaan, berfikir, berbicara serta pertumbuhan mental intelektual yang intensif dan awal pertumbuhan moral. Pada masa ini stimulasi sangat penting untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi organ tubuh dann rangsangan pengembangan otak. Upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan dan

(40)

perkembangan pada anak usia dini menjadi sangat penting agar dapat dikoreksi sedini mungkin dan atau mencegah gangguan kearah yang lebih berat.

Pelayanan kesehatan anak balita meliputi pelayanan pada anak balita sakit dan sehat. Pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan sesuai standar yang meliputi:

1. Pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun. 2. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK). 3. Pemberian Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU), 2 kali dalam setahun. 4. Kepemilikan dan pemanfaatan buku KIA oleh setiap anak balita.

5. Pelayanan anak balita sakit sesuai standar dengan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).

Cakupan pelayanan anak balita di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013 adalah sebesar 13.115 (54.5%), target SPM Cakupan Pelayanan Anak Balita tahun 2013 adalah 65%.

21.Cakupan Balita Ditimbang

Penimbangan balita dimaksudkan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan setiap bulan mulai umur 1 tahun sampai 5 tahun di Posyandu. Hal ini diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan balita termasuk deteksi dini gangguan tumbuh kembangnya. Setelah balita ditimbang hasilnya dicatat pada buku KIA atau Kartu Menuju Sehat (KMS). Pada buku tersebut akan terlihat berat badannya naik atau tidak.

Selain itu manfaat/ penimbangan balita setiap bulan di Posyandu adalah: untuk mengetahui apakah balita tumbuh sehat, untuk mengetahui dan mencegah gangguan pertumbuhan balita, untuk mengetahui balita yang sakit, berat badan dua bulan berturut-turut tidak naik, balita yang berat badannnya di Bawah Garis Merah (BGM) dan dicurigai gizi buruk sehingga dapat segera dirujuk untuk mendapat perawatan. Serta juga untuk mengetahui kelengkapan imunisasi, dan untuk mendapatkan penyuluhan gizi.

Pemantauan pertumbuhan balita adalah pengukuran berat badan pertinggi/panjang badan (BB/TB). Ditingkat masyarakat pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran berat badan per umur (BB/U) setiap bulan di Posyandu. Pemantauan perkembangan balita meliputi penilaian perkembangan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian, pemeriksaan daya dengar, daya lihat. Jika ada keluhan atau kecurigaan terhadap anak, dilakukan pemeriksaan untuk gangguan mental emosional,

Gambar

Grafik 3.9  Incidence Rate DBD
Grafik : 5.1  Strata Posyandu

Referensi

Dokumen terkait

Kematian bayi baru lahir masih tinggi hal ini mungkin erat kaitannya dengan komplikasi obstetric dan status kesehatan ibu yang rendah selama kehamilan dan persalinan, sebab

Pelayanan persalinan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu

Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Pidie digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu

Adapun Upaya –upaya yang dilakukan untuk menurunkan angka kematian bayi di Kabupaten Klungkung meliputi: Audit kematian maternal dan perinatal, serta pembinaan/ bimtek PWS

Melihat terjadinya peningkatan kasus kematian bayi di Kabupaten Tabanan pada tahun 2013 yang cukup signifikan, dimana terjadinya peningkatan kasus tersebut

Data dan informasi tentang derajat kesehatan untuk Tahun 2015 dinyatakan dalam angka kematian bayi, angka kematian balita, angka kematian ibu maternal dan

Tingginya kematian ibu dan bayi akibat komplikasi selama masa kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir, maka upaya yang dilakukan dengan Continuity Of care COC bertujuan untuk

Asuhan Kebidanan Persalinan & Bayi Baru Lahir.. Jakarta: Salemba