PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BANGLI
TAHUN 2016
PEMERINTAH KABUPATEN BANGLI
DINAS KESEHATAN
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), atas Asung Kerta Wara NugrahaNya sehingga Profil Kesehatan Kabupaten Bangli Tahun 2016 ini dapat tersusun.
Profil Kesehatan Kabupaten Bangli merupakan salah satu bagian dari sistem informasi kesehatan yang penting bagi proses perencanaan sampai dengan evaluasi program kesehatan dan merupakan bagian penting strategi pembangunan kesehatan untuk mencapai tujuan keberhasilan pembangunan kesehatan. Namun, hal yang lebih penting adalah bahwa data-data yang disajikan dalam profil ini dapat dijadikan acuan dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kinerja khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli dan masyarakat secara umum.
Profil Kesehatan ini berupaya menampilkan capaian kinerja maupun data lain yang termuat dalam tabel Standar Pelayanan Minimal yang merupakan indikator yang dipakai untuk mengukur kemajuan pembangunan bidang kesehatan. Data-data yang ditampilkan diupayakan dapat menampilkan fokus masalah kesehatan pada puskesmas maupun unit pelayanan kesehatan lain yang ada di Kabupaten Bangli. Hal ini penting mengingat peran dan kontribusi sektor lain termasuk swasta dalam pemberian pelayanan kesehatan di Kabupaten Bangli cukup besar. Pada Profil tahun 2016 ini juga dicoba untuk menampilkan data terpilah berdasarkan Gender, hanya saja belum optimal.
Profil Kesehatan Kabupaten Bangli Tahun 2016 tersusun atas kerjasama banyak pihak yang telah turut ambil bagian dalam pengumpulan data serta proses konsultasi yang memperkaya isi profil. Dalam penyusunan ini, kami yakin tidak semua pihak sepakat dengan seluruh data ataupun analisa yang disampaikan. Walaupun demikian kami berharap semoga pembaca profil ini menemukan keseluruhan kajian serta kesimpulan dalam profil sebagai sumbangan yang berarti dalam wacana pengambilan kebijakan tentang pembangunan kesehatan Kabupaten Bangli.
Upaya penyempurnaan penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Bangli Tahun 2016 akan terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli terutama dalam pendataan, mengingat pentingnya data dalam proses manajemen dan pengambilan keputusan.
`
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
dr. I Nengah Nadi, M.Kes. NIP.19611231 198911 1 015
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... v DAFTAR GAMBAR ... vi BAB I PENDAHULUAN ... 1 A.LATAR BELAKANG ... 1B.TUJUAN PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BANGLI ... 2
C.SISTEMATIKA ... 2
BAB II GAMBARAN UMUM ... 3
A.GEOGRAFI ... 3
1. Letak Wilayah ... 3
2. Luas Wilayah ... 3
3. Iklim ... 3
B.KEPENDUDUKAN... 4
C.KEADAAN SOSIAL EKONOMI ... 5
D.KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN PERILAKU PENDUDUK ... 5
1. Sarana dan Akses Air Minum Berkualitas ... 6
2. Rumah Sehat... 6
3. Sarana dan Akses terhadap Sanitasi Dasar ... 9
4. Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat ... 10
5. Desa Yang Melaksanakan STBM ... 11
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN ... 13
A.MORTALITAS ... 13
1. Angka Kematian Bayi (AKB) ... 13
2. Angka Kematian Balita (AKABA) ... 15
3. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) ... 16
B.MORBIDITAS ATAU ANGKA KESAKITAN ... 18
1. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA (+) ... 18
2. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani ... 18
3. Persentase HIV/AIDS Ditangani ... 19
4. Persentase Diare Ditangani ... 19
5. Persentase Penderita Kusta selesai Berobat ... 19
6. Angka ”Acute Flaccid Paralysis”(AFP) Pada Anak usia <15 Tahun per-100.000 Anak ... 19
7. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) ... 20
8. Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per 100.000 Penduduk ... 20
9. Angka Kesakitan Malaria per-1000 Penduduk ... 21
10. Kasus Penyakit Filaria Ditangani. ... 21
BAB IV UPAYA KESEHATAN ... 23
A.PELAYANAN KESEHATAN DASAR ... 23
1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak ... 23
2. Upaya Peningkatan status Gizi Masyarakat ... 40
3. Pelayanan Imunisasi ... 45
4. PenyakitTidak Menular ... 48
5. Pelayanan Pengobatan/Perawatan ... 51
B.PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN ... 52
1. Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit ... 52
2. Pelayanan Kesehatan Jaminan Kesehatan Nasional ... 54
BAB V SUMBER DAYA KESEHATAN ... 55
A.SARANA KESEHATAN ... 55
1. Puskesmas dan Jaringannya ... 55
2. Rumah Sakit ... 56
B.TENAGA KESEHATAN ... 57
BAB VI PENUTUP ... 59
A.SIMPULAN. ... 59
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Jumlah Keluarga dan Penduduk, Luas Wilayah, Sex Ratio, Kepadatan Serta Rata-rata Jiwa per Keluarga, Dirinci per Kabupaten/Kota Keadaan Terakhir Tahun 2016 ... 4
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Perbandingan Piramida Penduduk Bangli Tahun 2010 dan 2016 ... 5 Gambar 2. Persentase Penduduk Yang Memiliki Akses Air Minum Yang Layak ... 6 Gambar 3. Persentase Rumah Sehat Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 8 Gambar 4. Persentase Penduduk Dengan Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Yang Layak (Jamban Sehat) Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 9 Gambar 5. Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Menurut Puskesmas Di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 11 Gambar 6. Persentase Desa yang Melaksanakan STBM Menurut Puskesmas Di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 12 Gambar 7. Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 KH di Kabupaten Bangli Tahun 2010 – 2016 ... 14 Gambar 8. AKB per 1000 KH Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 14 Gambar 9. Angka Kematian Balita (AKABA) per 1000 KH di Kabupaten BangliTahun 2010 – 2016 ... 15 Gambar 10. AKABA per 1000 KH Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 .... 16 Gambar 11. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) per 100.000 KH di Kabupaten BangliTahun 2010 s/d 2016 ... 16 Gambar 12. AKI per 100.000 KH Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 .... 17 Gambar 13. Persentase Pelayanan K1 dan K4 Ibu Hamil di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016 ... 24 Gambar 14. Persentase Pelayanan K1 Ibu Hamil Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 25 Gambar 15. Persentase Pelayanan K4 Ibu Hamil Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 25 Gambar 16. Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016 ... 26 Gambar 17. Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 27 Gambar 18. Persentase Pelayanan Nifas di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016 ... 28 Gambar 19. Persentase Pelayanan Nifas Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 28
Gambar 20. Persentase Kunjungan Neonatal (KN3) di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016 ... 29 Gambar 21. Persentase Kunjungan Neonatal (KN3) Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 30 Gambar 22. Persentase Penanganan Komplikasi Kebidanan di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016 ... 31 Gambar 23. Persentase Penanganan Komplikasi Kebidanan Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 31 Gambar 24. Persentase PenangananKomplikasi Neonatal di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016 ... 32 Gambar 25. Persentase Penanganan Komplikasi Neonatal Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 33 Gambar 26. Persentase Pelayanan Kesehatan Bayi di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016 ... 34 Gambar 27. Persentase Pelayanan Kesehatan Bayi Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 34 Gambar 28. Persentase Pelayanan Kesehatan Anak Balita di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016 ... 35 Gambar 29. Persentase Anak Balita yang Mendapat Pelayanan Kesehatan (Minimal 8 Kali) Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 36 Gambar 30. Persentase Penjaringan Siswa SD dan Setingkat di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016 ... 37 Gambar 31. Persentase Penjaringan Siswa SD dan Setingkat Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 37 Gambar 32. Persentase Peserta KB Aktif di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016 ... 38 Gambar 33. Persentase Peserta KB Aktif Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 38 Gambar 34. Persentase KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 39 Gambar 35. Persentase Penimbangan Balita (D/S) Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 40 Gambar 36. Persentase Konsumsi Garam Beryodium Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016. ... 41 Gambar 37. Persentase Balita BGM Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 42
Gambar 38. Persentase Ibu Hamil Yang Mendapat Tablet Fe3 (90Tablet) Menurut
Puskesmas di KabupatenTahun 2016 ... 43
Gambar 39. Persentase Pemberian Vitamin A pada Balita (6-59 bulan) Menurut Puskesmas Tahun 2016 ... 44
Gambar 40. Persentase ASI Eksklusif Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 45
Gambar 41. Persentase Imunisasi Dasar Lengkap Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 46
Gambar 42. Persentase Desa/ Kelurahan UCI Per Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 47
Gambar 43. Persentase TT 2+ Pada Ibu Hami Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 48
Gambar 44. Persentase IVA Positif Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 . 49 Gambar 45. Persentase Penderita Hipertensi Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 50
Gambar 46. Persentase Pemeriksaan Obesitas dari PengunjungYang Berusia ≤ 15 Tahun Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 50
Gambar 47. Persentase Pelayanan Kesehatan Usila Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 51
Gambar 48. Pencapaian ALOS dan TOI Rumah Sakit di Kabupaten bangli Tahun 2016 ... 53
Gambar 49. Cakupan Jaminan Kesehatan Menurut Jenis Jaminan Tahun 2016 ... 54
Gambar 50. Jumlah Puskesmas, Pustu, Poskesdes, Polindes dan Pusling Tahun 2016 ... 56
Gambar 51. Ratio Tenaga Kesehatan per 100.000 Penduduk Menurut Jenis Tenaga Kesehatan di Kabupaten Bangli Tahun 2016 ... 57
Gambar 52. Persentase Anggaran Kesehatan Kabupaten Bangli Berdasarkan Sumber Dana Tahun 2016 ... 58
A.
LATAR BELAKANG
Profil Kesehatan Kabupaten/ Kota merupakan salah satu hasil keluaran dari sistem informasi kesehatan, dengan penyajian data yang relatif lengkap yang meliputi data/informasi derajat kesehatan, upaya kesehatan, sumber daya kesehatan dan data/informasi yang terkait. Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 17 ayat 1 menyebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan akses terhadap informasi, edukasi dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Selain itu pada pasal 168 menyebutkan bahwa untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan yang dilakukan melalui sistem informasi dan melalui kerjasama lintas sektor dengan ketentuan lebih lanjut akan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Sedangkan pada pasal 169 disebutkan pemerintah memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh akses terhadap informasi kesehatan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sehingga untuk melaksanakan ketentuan pasal 168 ayat 3, UU RI No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Sistem Informasi Kesehatan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah RI no 46 tahun 2014.
Profil Kesehatan Kabupaten Bangli Tahun 2016 disusun berdasarkan data/informasi yang didapatkan dari puskesmas-puskesmas dan jejaringnya, klinik-klinik, rumah sakit swasta maupun pemerintah yang berada di wilayah Kabupaten Bangli, pengelola program di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli serta Lembaga/ Badan yang terkait seperti Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangli dan Provinsi Bali.
Pada penyusunan Profil Kesehatan Tahun 2016 ini mengacu pada Petunjuk Teknis Penyusunan Profil Kesehatan kabupaten/Kota Tahun 2016 (berdasarkan data terpilah jenis kelamin) yang dikeluarkan Pusat Data dan Informasi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
BAB I
PENDAHULUAN
B.
TUJUAN PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BANGLI
Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Bangli Tahun 2016 merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk menggambarkan secara umum tentang kondisi derajat kesehatan, upaya kesehatan, sumber daya kesehatan dan faktor-faktor lain yang terkait, serta melaporkan hasil pemantauan dan evaluasi terhadap pencapaian hasil pembangunan kesehatan, termasuk kinerja dari penyelenggaraan standar pelayanan
minimal di bidang kesehatan, dan perencanaan target indikator Sustainable Development
Goals bidang kesehatan.
C.
SISTEMATIKA
Bab I – Pendahuluan. Bab ini menyajikan tentang acuan diterbitkannya Profil
Kesehatan Kabupaten Bangli ini serta sistimatika penyajiannya.
Bab II – Gambaran Umum. Bab ini menyajikan tentang letak geografis,
administratif dan informasi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lainnya misal kependudukan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan lingkungan.
Bab III – Situasi Derajat Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang indikator
mengenai angka kematian dan angka kesakitan.
Bab IV – Situasi Upaya Kesehatan. Bab ini menguraikan tentang pelayanan
kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan rujukan
Bab V – Situasi Sumber Daya Kesehatan. Bab ini menguraikan tentang sarana
kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan kesehatan.
Bab VI – Kesimpulan. Bab ini berisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang
perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten Bangli Tahun 2016 selain keberhasilan juga diungkap hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
Lampiran. Berisi resume/angka pencapaian Kabupaten Bangli dan 82 tabel data
A.
GEOGRAFI
Kabupaten Bangli secara administrasi terdiri dari empat kecamatan yaitu Kecamatan Bangli, Kecamatan Tembuku, Kecamatan Susut dan Kecamatan Kintamani sebagai kecamatan terluas. Batas-batas Kabupaten Bangli di sebelah Utara adalah Kabupaten Buleleng,di sebelah selatan adalah Kabupaten Klungkung, di sebelah Timur adalah Kabupaten Karangasem dan di sebelah Barat adalah Kabupaten Gianyar. (Bangli Dalam Angka, 2016)
1. Letak Wilayah
Secara geografis Kabupaten Bangli terletak pada posisi antara 115°13’48” sampai
115°27’24” Bujur Timur dan 8°8’30” sampai 8°31’87” Lintang Selatan. Posisinya berada di
tengah-tengah Pulau Bali, dan Kabupaten Bangli merupakan satu-satunya kabupaten di Bali yang tidak memiliki pantai/laut. Ketinggian dari permukaan laut antara 100-2.152 m. (Bangli Dalam Angka, 2016)
2. Luas Wilayah
Luas wilayah Kabupaten Bangli 520,81Km2 atau 9,25% dari luas wilayah Propinsi
Bali. Kabupaten Bangli terbagi menjadi empat kecamatan yaitu Kecamatan Kintamani
memiliki luas terbesar yaitu sebesar 366,9Km2 atau 70,44% dari luas kabupaten, diikuti
oleh Kecamatan Bangli: 56,3Km2(10,81%), Kecamatan Susut 49,3 Km2 (9,47%),
Kecamatan Tembuku 48,3% (9,28%).
Secara fisik di sebelah selatan merupakan daerah dengan dataran rendah dan daerah sebelah utara adalah daerah pegunungan. Puncak tertinggi adalah Puncak Penulisan. Di Kabupaten Bangli juga terdapat Gunung Batur dengan kepundannya dan Danau Batur yang mempunyai luas sekitar 1.067,50 Ha. Jarak dari ibu kota kabupaten ke ibu kota propinsi sekitar 40 km. (Bangli Dalam Angka, 2016)
3. Iklim
Kabupaten Bangli sebagian besar daerahnya merupakan dataran tinggi, hal ini berpengaruh terhadap keadaan iklim di wilayah ini. Keadaan iklim dan perputaran atau pertemuan arus udara yang disebabkan karena adanya pegunungan di daerah ini yang
BAB II
GAMBARAN UMUM
menyebabkan curah hujan di daerah ini pada Tahun 2015 relatif tinggi. Hal ini terjadi pada bulan-bulan Januari, Februari, dan bulan Desember. (Bangli Dalam Angka, 2016)
B.
KEPENDUDUKAN
Jumlah penduduk di Kabupaten Bangli berdasarkan hasil sensus penduduk Tahun 2010 dan perhitungan proyeksi untuk penduduk Tahun 2016 sebesar 223.800 jiwa bersumber dari kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangli. Adapun keadaan penduduk di Kabupaten Bangli secara garis besar dapat dilihat pada tabel di ini.
Tabel 1. Jumlah Keluarga dan Penduduk, Luas Wilayah, Sex Ratio, Kepadatan Serta Rata-rata Jiwa per Keluarga,
Dirinci per Kabupaten/Kota Keadaan Terakhir Tahun 2016
Kecamatan Luas Wilayah (Km2) Penduduk Sex Ratio Kepadatan Penduduk/ km2
Laki Perempuan Jumlah
1 2 4 5 6 7 8 Bangli Tembuku Susut Kintamani 56,3 48,3 49,3 366,9 25.570 17.540 22.320 47.670 25.310 17.170 22.090 46.130 50.880 34.710 44.410 93.800 101,0 102,2 101,0 103,3 903,7 718,6 900,8 255,7 Tahun 2016 520,8 113.100 110.700 223.800 102,2 429,7 Akhr Th 2016 Akhir Th 2015 Akhir Th 2014 Akhir Th 2013 Akhir Th 2012 Akhir Th 2011 520,8 520,8 520,8 520,8 520,8 112.600 112.000 111.900 111.400 106.637 110.000 109.300 109.500 108.800 107.171 222.600 221.300 221.400 220.200 215.729 102,4 102,5 52,58 102,39 99,42 427 425 425 423 414
Sumber: Hasil perhitungan proyeksi BPS kabupaten Bangli
Berdasarkan jumlah penduduk hasil sensus Tahun 2010 dan perhitungan proyeksi untuk penduduk tahun 2016, dapat diperoleh gambaran piramida penduduk sebagai berikut :
Gambar 1. Perbandingan Piramida Penduduk Bangli Tahun 2010 dan 2016
Sumber : BPS Kabupaten Bangli
Kalau dilihat secara seksama perubahan komposisi penduduk antara Tahun 2010 dengan tahun 2016 tidak ada perbedaan yang berarti, tapi pada kelompok umur 0-4 tahun terlihat terdapat perbedaan dengan kelompok umur 5-9 tahun, mungkin karena cakupan KB aktif yang meningkat pada Tahun 2016 dibandingkan dengan cakupan Tahun 2010
C.
KEADAAN SOSIAL EKONOMI
Gambaran mengenai keadaan perekonomian di Kabupaten Bangli dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yaitu PDRB perkapita harga berlaku yang merupakan gambaran rata-rata pendapatan yang dihasilkan oleh setiap penduduk dalam satu tahun menunjukkan peningkatan yang signifikan sebesar 13,89% yaitu dari 4.381.648,8 juta rupiah di Tahun 2014 menjadi 4.990.418,3 juta rupiah di tahun 2015. Dimana struktur ekonomi Kabupaten Bangli ditunjukkan dengan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang mempengaruhi sepertiga nilai PDRB Bangli.(Bangli Dalam Angka 2015)
D.
KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN PERILAKU
PENDUDUK
Dalam menggambarkan keadaan lingkungan untuk pembangunan kesehatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai
investasi bagi pembangunan sumberdaya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Ada beberapa indikator sebagai berikut:
1. Sarana dan Akses Air Minum Berkualitas
Syarat-syarat kualitas air minum sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010, diantaranya adalah sebagai berikut :
- Parameter mikrobiologi E coli dan total Bakteri Koliform, kadar maksimum yang
diperbolehkan 0 jumlah per 100 ml sampel,
- Syarat fisik : Tidak bau, tidak berasa dan tidak berwarna,
- Syarat kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, kesadahan
(maks 500 mg/ l), pH 6,5-8,5.
Kalau dilihat dari distribusinya persentase kualitas cakupan air minum layak per kecamatan di Kabupaten Bangli adalah sebagai berikut
Gambar 2. Persentase Penduduk Yang Memiliki Akses Air Minum Yang Layak Menurut Puskesmas Di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber: Seksi PL Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Cakupan penduduk dengan akses berkelanjutan terhadap air minum yang layak di Kabupaten Bangli sudah mencapai 93%, namun masih ada wilayah puskesmas dengan akses air minum yang layak yang masih rendah yaitu pusk kintamani V hanya sebasar 41%. Hal ini disebabkan karena kondisi geografis wilayah Puskesmas Kintamani V yang sulit dijangkau yang merupakan wilayah pegunungan dengan sumber air bersih yang terbatas.
2. Rumah Sehat
Menurut WHO perumahan (housing) adalah suatu struktur fisik di mana orang menggunakannya untuk tempat berlindung, di mana lingkungan dari struktur tersebut
termasuk juga semua fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani, rohani dan keadaan sosial yang baik untuk keluarga dan individu.
Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menurut keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/1999 meliputi parameter sebagai berikut:
a. Lokasi
- Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran
lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa dan sebagainya.
- Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau
bekas tambang
- Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti jalur
pendaratan penerbangan. b. Kualitas Udara
Kualitas udara di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas beracun dan memenuhi syarat baik mutu lingkungan sebagai berikut:
- Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi
- Debu dengan diameter kurang dari 10 g maksimum 150 g/m3
- Gas SO2 maksimum 0,10 ppm
- Debu maksimum 350 mm3/m2 per hari
c. Kebisingan dan Getaran
- Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A
- Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik
d. Kualitas tanah di daerah perumahan dan pemukiman
- Kandungan timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
- Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
- Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
- Kandungan Benzo(a)pyrene maksimum 1mg/kg
e. Prasarana dan Sarana Lingkungan
- Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan konstruksi
yang aman dari kecelakaan.
- Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor penyakit
- Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan tidak
penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar pengaman, lampu penerangan jalan tidak menyilaukan mata.
- Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas yang memenuhi
persyaratan kesehatan
- Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus memenuhi syarat
kesehatan
- Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi, tempat kerja,
tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian dan lain sebagainya.
- Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya
- Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi kontaminasi
makanan yang dapat menimbulkan keracunan. f. Vektor Penyakit
- Indeks lalat harus memenuhi syarat
- Indeks jentik nyamuk dibawah 5%
g. Penghijauan
- Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan pelindung dan
juga berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian alam.
Berikut adalah distribusi persentase rumah sehat per puskesmas di Kabupaten Bangli :
Gambar 3. Persentase Rumah Sehat Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi PL Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Persentase Rumah Sehat di Kabupaten Bangli terendah adalah di wilayah Puskesmas Kintamani V sebesar 47,1% dan Puskesmas Susut II sebesar 72,9%, sedangkan puskesmas lain sudah mencapai lebih dari 80%. Ini disebabkan karena
kurangnya sosialisasi petugas kepada masyarakat tentang rumah sehat dan dana yang terbatas untuk sosialisasi ke lapangan. Adapun upaya pemecahan masalah yang akan dilaksanakan selanjutnya adalah dengan meningkatkan penyuluhan tentang rumah sehat dan mengalokasikan dana untuk biaya sosialisasi kepada masyarakat.
3. Sarana dan Akses terhadap Sanitasi Dasar
Sanitasi dasar berhubungan dengan penyediaan lingkungan sehat yang memenuhi syarat kesehatan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Upaya sanitasi dasar meliputi penyediaan air bersih, pembuangan kotoran manusia (jamban), pengelolaan sampah dan saluran pembuangan air limbah. Adapun persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat pada tahun 2016 sebesar 84,1%, angka ini menurun dari tahun 2015 yang mencapai 79,2%. Hal ini dikarenakan pertambahan jumlah penduduk dan mobilitas penduduk di Kabupaten Bangli tidak diikuti dengan penyediaan sarana sanitasi (jamban). Disisi lain perilaku penduduk yang masih BABS menjadi kendala yang penting untuk segera diselesaikan.
Beberapa upaya yang ditempuh dalam peningkatan akses sanitasi adalah pemicuan perubahan perilaku melalui strategi STBM. Sehingga diharapkan penduduk mau mengakses jamban sehat dan pada akhirnya mau membangun sarana sanitasinya sendiri. Capaian pemanfaatan jamban sehat di masing-masing kecamatan di Kabupaten Bangli Tahun 2016, seperti gambar berikut :
Gambar 4. Persentase Penduduk Dengan Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Yang Layak (Jamban Sehat) Menurut Puskesmas
di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi PL Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Dari Gambar di atas Penduduk dengan akses jamban sehat tetinggi adalah wilayah Puskesmas Bangli sebesar 100% dan terendah di wilayah Puskesmas Kintamani V yang hanya mencapai 37,9%. Akses terhadap Jamban Sehat di Kecamatan Kintamani
rendah dikarenakan oleh keadaan geografis yang menyebabkan sulit air dan masih banyak masyarakat yang belum paham pentingnya manfaat jamban.
4. Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat
Perilaku Hidup Bersi dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di Rumah Tangga merupakan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.Rumah Tangga sehat merupakan rumah tangga yang melakukan 10 PHBS di rumah tangga yaitu :
a. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan b. Memberi bayi ASI eksklusif
c. Menimbang bayi dan balita d. Menggunakan air bersih
e. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun f. Menggunakan jamban sehat
g. Memberantas jentik di rumah h. Makan buah dan sayur setiap hari i. Melakukan aktifitas fisik setiap hari j. Tidak merokok di dalam rumah
Manfaat PHBS bagi rumah tangga antara lain :
a. Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit b. Anak tumbuh sehat dan cerdas
c. Anggota keluarga giat bekerja
d. Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga
Manfaat PHBS bagi masyarakat antara lain :
a. Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat
b. Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan c. Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti posyandu, tabungan ibu bersalin, arisan jamban, ambulans desa dan lain-lain.
Gambar 5. Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Menurut Puskesmas Di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi PKM/PSM dan JPK Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Tatanan rumah tangga yang menerapkan PHBS untuk Tahun 2015 mencapai 83,1% meningkat dibandingkan Tahun 2015 yang mencapai 73,1%. Capaian PHBS terendah Tahun 2015 adalah di wilayah kerja Puskesmas Kintamani II. Diperkirakan peningkatan ini dikarenakan oleh sudah disosialisasikannya secara aktif Perda KTR ke masyarakat yang berkoordinasi dengan Pokja KTR Kabupaten Bangli.
5. Desa Yang Melaksanakan STBM
Dalam rangka memperkuat upaya perilaku hidup bersih dan sehat, mencegah penyebaran penyakit berbasis lingkungan, meningkatkan kemampuan masyarakat, serta meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar, perlu menyelenggarakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.
Seperti yang tertuang dalam Permenkes RI Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat terdapat lima pilar yang akan mempermudah upaya meningkatkan akses sanitasi masyarakat yang lebih baik serta mengubah dan mempertahankan budaya hidup bdersih dan sehat yang terdiri dari :
a. Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) b. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)
c. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT) d. Pengamanan Sampah Rumah Tangga
Jumlah desa yang telah melaksanakan STBM hingga tahun 2016 sebanyak 64 desa (88,9%) dari 72 desa yang ada di Kabupaten Bangli,mengalami peningkatan dari tahun 2015 yang hanya 59 desa (81,9%). Berikut adalah capaian pelaksanaan STBM di Kabupaten Bangli :
Gambar 6. Persentase Desa yang Melaksanakan STBM Menurut Puskesmas Di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi PL Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Cakupan pelaksanaan STBM yang masih rendah berada di wilayah kerja Puskesmas Kintamani VI sebesar 66,7%. Penyebabnya rendahnya cakupan STBM di Puskesmas Kintamani VI adalah karena rendahnya kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, Untuk itu pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam menunjang kegiatan STBM.
Gambaran situasi derajat kesehatan masyarakat sering dipaparkan dengan berbagai indikator yang secara garis besar terdiri dari 2 (dua) aspek yaitu mortalitas dan morbiditas. Data dan informasi tentang derajat kesehatan untuk Tahun 2016 dinyatakan dalam angka kematian bayi, angka kematian balita, angka kematian ibu maternal dan angka kematian kasar berdasarkan data yang terkumpul, sehingga dapat memberikan gambaran tentang derajat kesehatan yang lebih banyak diperoleh dari laporan program puskesmas di Kabupaten Bangli.
A.
MORTALITAS
Kejadian kematian dalam suatu kelompok populasi dapat mencerminkan kondisi kesehatan masyarakatnya. Keberhasilan pelayanan kesehatan dan berbagai program pembangunan kesehatan lainnya juga dapat diukur melalui tingkat kematian yang ada. Angka kematian secara umum sangat berhubungan/dipengaruhi oleh tingkat kesakitan dan status gizi. Sebab-sebab kematian ada yang dapat diketahui secara langsung dan tidak langsung diantaranya adalah faktor-faktor lain yang secara bersama-sama atau sendiri berpengaruh terhadap tingkat kematian di masyarakat. Gambaran kejadian kematian di Kabupaten Bangli dapat dilihat dari:
1. Angka Kematian Bayi (AKB)
Infant Mortality Rate atau Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKB tidak hanya mencerminkan besarnya masalah kesehatan berkaitan dengan penyakit diare, ISPA, masalah gizi dan penyakit infeksi lainnya tetapi juga berhubungan dengan tingkat kesehatan ibu, gizi keluarga, tingkat pendidikan ibu, serta pendapatan dan sosial ekonomi keluarga. Gambaran perkembangan angka kematian bayi di Kabupaten Bangli dapat dilihat dari gambar berikut:
BAB III
Gambar 7. Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 KH di Kabupaten Bangli Tahun 2010 – 2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Angka Kematian Bayi di Kabupaten Bangli pada tahun 2016 sebesar 8,6 per 1000 KH, angka ini meningkat dari tahun 2015 yang sebesar 7 per 1000 KH. Namun apabila dilihat dari periode 2010-2016 cenderung berfluktuasi dari tahun 2010-2016 dan secara trend cenderung menurun. Terlihat pada gambar grafik di atas tahun 2010 AKB sebesar 11,5 per 1000 KH hingga tahun 2016 menjadi 8,6 per 1000 KH. .
Adapun penilaian capaian AKB per puskesmas di kabupaten Bangli pada tahun 2016 adalah sebagai berikut :
Gambar 8. AKB per 1000 KH
Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
AKB tertinggi terjadi di wilayah kerja puskesmas Kintamani VI sebesar 14,9 per 1000KH dan terendah di wilayah kerja Puskesmas Kintamani III yaitu tidak ada kematian bayi pada tahun 2016. Kesehatan ibu waktu hamil sangat berperanan terhadap besarnya angka kematian bayi. Gangguan perinatal adalah salah satu dari sekian faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan ibu selama hamil sedangkan gangguan pernafasan kemungkinan besar disebabkan reflek yang kurang baik dan berhubungan dengan perkembangan fungsi dan organ janin yang kurang sempurna, hal-hal tersebut juga berhubungan dengan kesehatan ibu selama hamil serta asfiksia pada penanganan proses persalinan.
2. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka kematian balita (umur 0-5 tahun) menggambarkan tingkat permasalahan anak balita pada pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) atau posyandu. Dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi dan kecelakaan. Gambaran perkembangan angka kematian balita di Kabupaten Bangli dapat dilihat dari gambar berikut:
Gambar 9. Angka Kematian Balita (AKABA) per 1000 KH di Kabupaten BangliTahun 2010 – 2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Angka Kematian Balita (AKABA) di Kabupaten Bangli 2016 sebesar 9,2 per 1000 KH mengalami peningkatan dari tahun 2015 sebesar 8 per 1000 KH. Apabila dilihat dari periode tahun 2010-2016 AKABA secara trend dilihat pada gambar grafik di atas, AKABA cenderung mengalami penurunan. Berikut ini adalah capaian angka kematian balita per puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 :
Gambar 10. AKABA per 1000 KH Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Dari laporan KIA Kabupaten Bangli AKABA tertinggi adalah di wilayah kerja Puskesmas Kintamani I yaitu 15,7 per 1000 KH dan terendah di wilayah kerja Puskesmas Kintamani III tidak ada dilaporkan kematian balita.
3. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) menggambarkan tingkat kesadaran prilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan masa nifas, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat. Gambaran perkembangan angka kematian bayi di Kabupaten Bangli dapat dilihat dari gambar berikut:
Gambar 11. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) per 100.000 KH di Kabupaten BangliTahun 2010 s/d 2016
Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Bangli periode 2010-2016 berfluktuasi, terlihat secara trend pada gambar grafik di atas cenderung menurun. Berikut adalah capaian AKI pada tahun 2016 per puskesmas di Kabupaten Bangli :
Gambar 12. AKI per 100.000 KH Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Pada tahun 2016 terjadi 3 kasus kematian ibu di Kabupaten Bangli yaitu diwilayah kerja Puskesmas Tembuku I sebanyak 1 kasus, Puskesmas Kintamani IV sebanyak 1 kasus dan Puskesmas Kintamani VI sebanyak 1 kasus.
4. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir
Umur harapan hidup bermanfaat untuk mengetahui berapa lama orang dapat hidup sejak dari usia baru lahir. Hal ini dianggap sebagai indikator umum bagi taraf hidup. Angka tersebut diperoleh secara langsung melalui sensus penduduk yang dilakukan sekali setiap 10 tahun dan survey nasional lainnya. Untuk Kabupaten Bangli angka harapan hidup (AHH) Tahun 2016 menunjukan 69,54 tahun, meningkat dibandingkan tahun 2015 AHH Kabupaten Bangli menunjukkan 69,44 tahun.Sedangkan secara konseptual Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indeks komposit yang dihitung sebagai rata-rata sederhana dari indeks harapan hidup, indeks pendidikan (melek huruf dan rata-rata lama sekolah) dan indeks standar hidup layak, sehingga IPM tahun 2015 Kabupaten Bangli yaitu 66,24.
B.
MORBIDITAS ATAU ANGKA KESAKITAN
Morbiditas dapat diartikan sebagai angka kesakitan, baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.
1. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA (+)
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR), yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Disamping itu untuk mengukur keberhasilan pengobatan TB digunakan Angka Keberhasilan Pengobatan (SR=Succes Rate) yang mengindikasikan persentase pasien baru TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan, baik yang sembuh maupun yang menjalani pengobatan lengkap diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat. Succes Rate dapat membantu dalam mengetahui kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. SR tahun 2016 sebesar 90,9% menurun dari tahun 2015 yang hanya mencapai 92,86% .
Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA (+) di Kabupaten Bangli tahun 2016 mencapai 45,5% (15 orang) dari 33 orang yang mendapat pengobatan, meningkat dibandingkan tahun 2015 angka kesembuhan hanya mencapai 57,14 % (24 orang) dari 42 orang yang mendapat pengobatan.
2. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani
Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Persentase Balita dengan Pneumonia yang ditangani di kabupaten Bangli tahun 2016 mencapai 99,1 % dari 46 perkiraan balita pneumonia menurun dari tahun 2015 yang mencapai 5,67 % dari 1.712 perkiraan balita pneumonia. Perubahan ini dikarenakan perubahan perhitungan perkiraan balita pneumonia.
3. Persentase HIV/AIDS Ditangani
HIV/AIDS disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh penderita yang terjadi melalui proses hubungan seksual, transfusi darah, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi secara bergantian, dan penularan dari ibu ke anak dalam kandungan melalui plasenta dan kegiatan menyusui.
Kumulatif penderita HIV/AIDS di Kabupaten Bangli tahun 2016 sebanyak 31 penderita dimana proporsi terbesar sebanyak 21 penderita (67,74%) berada pada interval umur 25-49 tahun. Angka ini menurun dari tahun 2015 yaitu sebanyak 35 penderita.
4. Persentase Diare Ditangani
Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam
Persentase diare ditangani tahun 2016 di Kabupaten Bangli mencapai 85,1% (4.257 penderita) meningkat dari tahun 2015 di Kabupaten Bangli mencapai 74,9% (3.736 penderita).
5. Persentase Penderita Kusta selesai Berobat
Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium Leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan mata.
Ditemukan penderita Kusta pada tahun 2016 sebanyak 3 kasus, di wilayah Puskesmas Bangli (1 kasus) dan Puskesmas Kintamani IV (2 kasus), angka tersebut bertambah dari tahun 2015 ditemukan 2 penderita kusta yang tersebar di wilayah Puskesmas Bangli 1 kasus dan Puskesmas Susut II 1 kasus.
6. Angka ”Acute Flaccid Paralysis”(AFP) Pada Anak usia <15 Tahun
per-100.000 Anak
Kasus Lumpuh layu (AFP) yang ditemukan di Kabupaten Bangli pada tahun 2016 ditemukan 2 kasus (3,6 per 100.000 penduduk anak usia <15 tahun) yaitu 1 Kasus di wilayah kerja Puskesmas Kintamani III dan 1 Kasus di wilayah Puskesmas Kintamani VI.
Sedangkan pada tahun 2015 ditemukan 1 kasus (1,79 per 100.000 anak usia <15 tahun) yaitu di wilayah kerja Puskesmas Susut I.
7. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
a. Tetanus Neonatorum
Tetanus Neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk
ke tubuh melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan oleh pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Kasus TN banyak ditemukan di negara berkembang khususnya dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang rendah.
Pada tahun 2016 tidak ada kasus TN yang dilaporkan, demikian juga dengan kasus tetanus (non Neonatorum). Kasus TN antara tahun 2016 dan 2015 tidak terjadi peningkatan kasus karena sama-sama tidak ada kasusnya. Situasi seperti ini harus tetap dipantau agar tidak terjadi kelengahan sehingga sedapat mungkin menghindari terjadinya KLB pada tahun-tahun mendatang.
b. Difteri
Penyakit Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang sistem pernafasan bagian atas. Penyakit ini memiliki gejala sakit leher, demam ringan, sakit tekak. Difteri juga sering ditandai dengan tumbuhnya membran kelabu yang menutupi tonsil serta bagian saluran pernafasan.
Pada tahun 2016 tidak ada kasus Difteri yang dilaporkan. Kasus Difteri antara tahun 2016 dan 2015 tidak terjadi peningkatan kasus karena sama-sama tidak ada kasusnya. Situasi seperti ini harus tetap dipantau agar tidak terjadi kelengahan sehingga sedapat mungkin menghindari terjadinya KLB pada tahun-tahun mendatang.
c. Campak
Campak disebabkan oleh virus campak. Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak. Penularan dapat terjadi melalui udara yang telah terkontaminasi oleh sekret orang yang telah terinfeksi.
Tahun 2016 dilaporkan 1 kasus campak yaitu di wilayah kerja Puskesmas Bangli Utara, sedangkan tahun 2015 tidak ada kasus dilaporkan, pada tahun 2014 ditemukan 13 kasus yang dilaporkan, 13 kasus di wilayah Puskesmas Kintamani V.
8. Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per 100.000 Penduduk
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur < 15 tahun, namun dapat juga menyerang orang dewasa.
Tahun 2016 angka kesakitan DBD sebesar 559 per 100.000 penduduk yaitu
sebanyak 1251 kasus dengan case fatality rate sebesar 0,1%, angka ini jauh meningkat
dari tahun 2015 dengan angka kesakitan DBD di Kabupaten Bangli mencapai 155,9 per 100.000 penduduk. Peningkatan ini salah satunya dikarenakan belum optimalnya kegiatan surveilans DBD di Kabupaten Bangli, kewaspadaan dini rumah sakit (KDRS) yang belum berjalan, belum dibentuknya kader jumantik di desa, dan sumber daya lain yang belum memenuhi standar pada indikator Keputusan Menteri Kesehatan No. 1116 tentang pedoman penyelenggaraan sistem surveilans epidemiologi kesehatan.
9. Angka Kesakitan Malaria per-1000 Penduduk
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs). Malaria disebabkan oleh hewan bersel satu (protozoa) plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Wilayah endemis malaria pada umumnya adalah wilayah terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik, sarana transportasi dan komunikasi yang sulit, akses pelayanan kesehatan kurang, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang rendah serta buruknya perilaku masyarakat terhadap kebiasaan hidup sehat. Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria suatu wilayah di Indonesia menjadi 4 strata yaitu :
- Endemis Tinggi bila API > 5 per 1000 penduduk
- Endemis Sedang bila API berkisar antara 1 - < 5 per 1000 penduduk - Endemis Rendah bila API 0 – 1 per 1000 penduduk
- Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah pembebasan malaria) atau API = 0.
Di Kabupaten Bangli pada tahun 2016 tidak ditemukan kasus malaria positif (angka kesakitan 0) sama dengan Tahun 2016 tidak ditemukan kasus malaria positif.
10. Kasus Penyakit Filaria Ditangani.
Filariasis adalah penyakit zoonosis menular yang banyak ditemukan di wilayah
tropika seluruh dunia. Penyebabnya adalah sekelompok cacing parasit nematoda yang tergolong superfamilia Filarioidea yang menyebabkan infeksi sehingga berakibat munculnya edema. Gejala yang umum terlihat adalah terjadinya elefantiasis, berupa membesarnya tungkai bawah (kaki) dan kantung zakar (skrotum), sehingga penyakit ini secara awam dikenal sebagai penyakit kaki gajah. Walaupun demikian, gejala pembesaran ini tidak selalu disebabkan oleh filariasis.
Tidak ada kasus filariasis yang ditemukan pada tahun 2016, begitu juga pada tahun 2015 tidak ditemukan kasus filariasis.
Berbagai upaya kesehatan telah dilakukan dalam rangka melaksanakan paradigma sehat sesuai dengan kebijakan pembangunan kesehatan sekarang ini. Paradigma Sehat lebih mengutamakan upaya-upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Upaya-upaya kesehatan yang dilaksanakan di Kabupaten Bangli adalah dalam rangka mewujudkan strategi utama Departemen Kesehatan yaitu meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat yang dilaksanakan di Kabupaten Bangli adalah:
A.
PELAYANAN KESEHATAN DASAR
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat kepada masyarakat oleh fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan dapat mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang ada. Pelayanan Kesehatan Dasar yang dilaksanakan di Kabupaten Bangli adalah:
1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Pelaksanaan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir secara khusus berhubungan dengan pelayanan antenatal persalinan, nifas dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan semua fasilitas kesehatan dari posyandu, puskesmas, rumah sakit pemerintah maupun fasilitas kesehatan swasta.
a. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4)
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan seperti pengukuran berat badan dan tekanan darah, pemeriksaan tinggi fundus uteri, Imunisasi tetanus toxoid (TT) serta pemberian tablet besi kepada ibu hamil selama kehamilannya sesuai pedoman pelayanan antenatal ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hal ini dilakukan untuk menghindari gangguan sedini mungkin terhadap segala sesuatu yang membahayakan kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Hasil pelayanan dapat dilihat dari cakupan pelayanan kunjungan ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk
BAB IV
mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 ibu hamil adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester kedua dan duakali pada trimester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil. Cakupan K1 dan K4 dalam lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 13. Persentase Pelayanan K1 dan K4 Ibu Hamil di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Dari gambar diatas dapat terlihat bahwa ada kesenjangan yang terjadi antara cakupan K1 dan K4 pada lima tahun terakhir yang hampir mencapai angka 10%. Kesenjangan antara cakupan K1 dan K4 menunjukkan angka drop out K1-K4, dengan kata lain jika kesenjangan K1 dengan K4 kecil maka hampir semua ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal selalu berkunjung ke pelayanan kesehatan sampai pada kunjungan ke dua trisemester ketiga kehamilannya dengan kata lain seluruh ibu hamil telah mendapatkan pelayanan kehamilannya sesuai dengan standar. Hal ini dapat meminimalisir kematian ibu melahirkan.Cakupan pelayanan K1 ibu Hamil menurut puskesmas dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 14. Persentase Pelayanan K1 Ibu Hamil Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Persentase K1 tertinggi tahun 2015 adalah Puskesmas Tembuku I yaitu sebesar 102,5 % sedangkan cakupan K1 Terendah adalah Puskesmas Kintamani I yaitu 77,6 %. Hal ini dikarenakan sasaran lebih besar dari ibu hamil yang ada dan adanya ibu hamil yang pindah dan tinggal di luar kabupaten sehingga tidak terjangkau oleh nakes di kabupaten, sama halnya dengan cakupan pelayanan K4 yang juga rendah.
Cakupan pelayanan K4 ibu Hamil menurut puskesmas dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 15. Persentase Pelayanan K4 Ibu Hamil Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Pada Tahun 2016, Puskesmas dengan Persentase pelayanan K4 tertinggi adalah Tembuku I sebesar 99,6 %, sedangkan yang paling rendah adalah Puskesmas Kintamani I yang hanya mencapai 65,5 %.
b. Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan
Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan, hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan terutama yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional). Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 16. Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Bangli cenderung berfluktuasi dari tahun 2011-2016, cakupan tertinggi mencapai 94,9 % pada tahun 2013 dan cakupan terendah pada tahun 2012 dan 2016 kembali meningkat menjadi 94,2%.
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menurut puskesmas tahun 2016 dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 17. Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Pada Tahun 2016 puskesmas dengan cakupan persalinan nakes yang tertinggi adalah Puskesmas Tembuku I yaitu mencapai 112 % dan terendah adalah Puskesmas Kintamani I sebesar 73,3 %. Cakupan K4 yang rendah berpengaruh kepada cakupan persalinan nakes yang rendah
c. Kunjungan Ibu Nifas
Pelayanan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu : 1) kunjungan pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari; 2) kunjungan nifas (KF2) dilakukan pada minggu ke 2 setelah persalinan; 3) kunjungan nifas ke 3 (KF3) dilakukan pada minggu ke 6 setelah persalinan. Diupayakan kunjungan nifas ini dilakukan pada saat dilaksanakannya kegiatan di posyandu dan dilakukan bersamaan pada kunjungan bayi. Cakupan pelayanan nifas dalam lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 18. Persentase Pelayanan Nifas di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Pencapaian pelayanan nifas Kabupaten untuk tahun 2012-2016 cenderung berfluktuasi, cakupan tertinggi pada tahun 2013 yang mencapai 92,4 % dan terendah pada tahun 2012 yang hanya mencapai 90,4 %.Adapun Persentase pelayanan nifas di masing-masing puskesmas di Kabupaten Bangli :
Gambar 19. Persentase Pelayanan Nifas Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Puskesmas dengan Persentase pelayanan nifas terendah adalah puskesmas Kintamani I yaitu sebesar 71,9 % dan tertinggi adalah Puskesmas Tembuku I yaitu 105,6 %. Cakupan Kunjungan Nifas rendah berkaitan dengan Cakupan Persalinan Nakes, semakin rendah Cakupan Persalinan Nakes maka Cakupan Pelayanan Nifas akan semakin rendah. Cakupan Pelayanan Nifas rendah juga dikarenakan adanya ibu nifas yang tidak melakukan kunjungan nifas sesuai standar minimal tiga kali kunjungan.
d. Kunjungan Neonatus
Bayi sampai umur 28 hari merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal tiga kali, yaitu pada 6 jam – 48 jam setelah lahir; pada hari ke 3-7 hari, dan hari ke 8 – 28 hari. Dalam melaksanakan pelayanan neonatal, petugas kesehatan di samping melaksanakan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit dan pemberian imunisasi); pemberian vitamin K; manajemen terpadu balita muda (MTBM); dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA.
Cakupankunjungan neonatal (KN3) dalam lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 20. Persentase Kunjungan Neonatal (KN3) di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016
Persentase KN3 tertinggi selama periode 2012-2016 adalah pada tahun 2014 mencapai 100,3 % dan cakupan terendah pada tahun 2012 yang hanya mencapai 94,3 %. Cakupan kunjungan neonatal (KN3) oleh tenaga kesehatan menurut puskesmas dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 21. Persentase Kunjungan Neonatal (KN3) Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Puskesmas dengan persentase kunjungan neonatus lengkap (KN3) tertinggi adalah Puskesmas Susut I yaitu sebesar 107,8 % dan terendah adalah Puskesmas Kintamani I sebesar 83,7 %. Cakupan Kunjungan Neonatus dipengaruhi oleh persalinan nakes, semakin rendah persalinan nakes maka kemungkinan kunjungan neonatus juga rendah. Selain itu cakupan yang rendah dikarenakan kunjungan neonatus yang tidak sesuai standar yaitu minimal tiga kali kunjungan.
e. Penanganan Komplikasi Kebidanan
Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan puskesmas, ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan, karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan, maka kasus tersebut perlu dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai.
Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risti/komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g%, tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, diastole > 90
mmHg, oedeme nyata, eklampsia, perdarahan per vaginam, ketuban pecah dini, letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, dan persalinan prematur.
Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani dalam lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 22. Persentase Penanganan Komplikasi Kebidanan di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Persentase penanganan komplikasi kebidanan dalam lima tahun terakhir cenderung berfluktuasi, persentase tertinggi mencapai 75,4 % pada tahun 2014 dan terendah 64,8 % pada tahun 2016. Adapun cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani menurut puskesmas di Kabupaten Bangli adalah sebagai berikut :
Gambar 23. Persentase Penanganan Komplikasi Kebidanan Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Pada gambar di atas memperlihatkan cakupan penanganan komplikasi kebidanan menurut Puskesmas tahun 2016, ada tiga puskesmas yang cakupannya melampaui target program (80%), yaitu Puskesmas Tembuku I, Puskesmas Kintamani II dan Puskesmas Kintamani VI, sedangkan sembilan puskesmas lainnya belum mencapai target program dan yang paling rendah terjadi di Puskesmas Kintamani V yaitu hanya sebesar 7,1 %. Hal ini dikarenakan masih rendahnya pemantauan wilayah setempat, sehingga deteksi risti belum terpantau secara maksimal. Yang perlu mendapatkan perhatian bersama terutama pemegang program, untuk puskesmas yang capaiannya masih dibawah target, agar diberikan perhatian khusus agar penanganan komplikasi kebidanan terus meningkat, sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu.
f. Penanganan Komplikasi Neonatal
Neonatus risti/komplikasi meliputi asfksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR, sindroma gangguan pernafasan dan kelainan neonatal. Neonatus risti/komplikasi yang ditangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih yaitu dokter dan bidan di polindes, puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit. Cakupan Penanganan komplikasi neontal dalam lima tahun terakhir adalah sebagai berikut :
Gambar 24. Persentase PenangananKomplikasi Neonatal di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016
Selama periode lima tahun terakhir (2012-2016) persentase penanganan komplikasi neonatal tertinggi dicapai pada tahun 2014 sebesar 73,5 % dan pencapaian terendah pada tahun 2012 sebesar 45 %. Berikut ini adalah persentase pencapaian penanganan komplikasi neonatal menurut puskesmas se-Kabupaten Bangli :
Gambar 25. Persentase Penanganan Komplikasi Neonatal Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Pada tahun 2016 cakupan penanganan komplikasi neonatal tertinggi adalah di Puskesmas Tembuku I yaitu 197,4% dan terendah di Puskesmas Kintamani IV yaitu 13,3 %. Hal ini dikarenakan pemantauan wilayah setempat mengenai komplikasi pada neonatus belum maksimal karena masih ada kasus komplikasi yang tidak terlaporkan oleh bidan koordinator wilayah sehingga mempengaruhi capaian target.
g. Pelayanan Kesehatan Bayi
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan dan perawat) minimal 4 kali dalam setahun, yaitu satu kali pada umur 29 hari – 3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9 bulan dan 1 kali pada umur 9-11 bulan. Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi imunisasi dasar (BCG, DPT / HB1-3, Polio 1-4 dan campak), stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. Indikator ini merupakan penilaian terhadap upaya peningkatan akses bayi memperoleh pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin adanya kelainan atau penyakit, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit serta peningkatan kualitas hidup bayi. Cakupan kunjungan bayi dalam lima tahun terakhir adalah sebagai berikut :
Gambar 26. Persentase Pelayanan Kesehatan Bayi di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Pencapaian pelayanan kesehatan bayi pada periode tahun 2012-2016 tertinggi mencapai 105,6 % pada tahun 2015 dan terendah pada tahun 2012 mencapai 92,6 %.
Gambar 27. Persentase Pelayanan Kesehatan Bayi Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Cakupan pelayanan kesehatan bayi terendah pada tahun 2016 adalah di wilayah kerja Puskesmas Kintamani II yang hanya sebesar 93,2 %. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memeriksakan kesehatan bayinya minimal empat kali dalam setahun menyebabkan capaian di beberapa puskesmas masih rendah sehingga perlunya peningkatan pemberdayaan masyarakat.
h. Pelayanan Kesehatan Anak Balita
Pelayanan kesehatan anak balita adalah pelayanan kesehatan pada anak umur 12-59 bulan sesuai standar meliputi pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun, pemantauan perkembangan minimal 2 kali setahun dan pemberian vitamin A 2 kali setahun (bulan Februari dan Agustus). Pemantauan pertumbuhan dilakukan melalui penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan di Posyandu, Puskesmas dan Rumah Sakit, Bidan Praktek Swasta serta sarana / fasilitas kesehatan lainnya. Pemantauan perkembangan dapat dilakukan melalui SDIDTK oleh petugas kesehatan. Pemberian vitamin A dilaksanakan oleh petugas kesehatan di sarana kesehatan.Cakupan pelayanan kesehatan anak balita dalam empat tahun terakhir adalah :
Gambar 28. Persentase Pelayanan Kesehatan Anak Balita di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Pada tahun 2016 cakupan pelayanan kesehatan anak balita (12-59 bulan) sebesar 86,4 % menurun dari tahun 2015 yang sebesar 103,5% yang merupakan capaian tertinggi selama periode 2012-2016 dan capaian terendah pada tahun 2013 yang hanya mencapai 54,8 %. Cakupan pelayanan kesehatan anak balita per puskesmas dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.
Gambar 29. Persentase Anak Balita yang Mendapat Pelayanan Kesehatan (Minimal 8 Kali) Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Puskesmas dengan presentase cakupan pelayanan kesehatan anak balita yang masih rendah adalah Puskesmas Kintamani II sebesar 48,5%, Puskesmas Kintamani III sebesar 55,5 % dan Puskesmas Kintamani IV sebesar 55 % . Banyaknya balita yang tidak melakukan kunjungan pemantauan pertumbuhan minimal delapan kali setahun, sehingga mempengaruhi cakupan kunjungan anak balita. Upaya pemecahan masalah kedepannnya adalah dengan kerjasama lintas sektoral untuk lebih mengaktifkan lagi posyandu untuk dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
i. Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah
Monitoring pertumbuhan terhadap anak balita dan pra sekolah dilakukan melalui pemantauan secara dini perkembangan anak, penanganan masalah pertumbuhan dan juga pelayanan rujukan ke tingkat yang lebih mampu.
Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan Setingkat Masalah kesehatan anak usia sekolah semakin komplek, yang biasanya berkaitan dengan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan baik dan benar, mencuci tangan menggunakan sabun. Beberapa masalah kesehatan yang sering dialami anak usia sekolah adalah karies gigi, kecacingan, kelainan refraksi/ketajaman penglihatan dan masalah gizi. Sebelum dilakukan pelayanan kesehatan terhadap siswa SD dan setingkat terlebih dahulu dilakukan penjaringan sasaran. Berikut cakupan penjaringan terhadap anak SD dan Setingkat :
Gambar 30. Persentase Penjaringan Siswa SD dan Setingkat di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016
Sumber : Seksi PKM/PSM dan JPK
Pada periode Tahun 2012-2016, pencapaian terendah adalah pada Tahun 2013 yang hanya sebesar 93,5 % dan tertinggi pada tahun 2014 yaitu mencapai 100%. Adapun Persentase per puskesmas Tahun 2016 adalah :
Gambar 31. Persentase Penjaringan Siswa SD dan Setingkat Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi PKM/PSM dan JPK
Dari gambar di atas, puskesmas yang Persentase penjaringan siswa paling rendah adalah Puskesmas Kintamani IV yang hanya mencapai 84,9%.
j. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Menurut hasil penelitian, usia subur seorang wanita biasanya antara 15 – 49
wanita/pasangan ini lebih diprioritas untuk menggunakan alat/cara KB Tingkat pencapaian pelayanan keluarga berencana salah satunya dapat dilihat dari cakupan peserta KB aktif dan jenis kontrasepsi yang digunakan oleh akseptor, seperti terlihat pada gambar berikut ini :
Gambar 32. Persentase Peserta KB Aktif di Kabupaten Bangli Tahun 2012-2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Pencapaian cakupan peserta KB aktif selama periode Tahun 2012-2016 di Kabupaten Bangli sudah melampaui target program yaitu sebesar 70%. Berikut adalah cakupan peserta KB aktif per puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016 :
Gambar 33. Persentase Peserta KB Aktif Menurut Puskesmas di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Jumlah peserta KB baru di Kabupaten Bangli tahun 2016 sebanyak 2.107 orang (4,7%) dari 44.523 pasangan usia subur, sedangkan cakupan peserta KB aktif tahun 2016 sebesar 89%. Tidak terjadi disparitas yang tinggi antara cakupan tertinggi dengan cakupan terendah di puskesmas, hal ini menunjukkan telah terjadi pemerataan pelayanan KB di seluruh Puskemas di Kabupaten Bangli seperti terlihat pada gambar di atas
UntukPersentase KB aktif menurut jenis kontrasepsi di Kabupaten Bangli tahun 2016 diuraikan pada gambar berikut :
Gambar 34. Persentase KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi di Kabupaten Bangli Tahun 2016
Sumber : Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Berdasarkan gambar diatas cakupan aksetor terendah adalah akseptor MOP yang hanya mencapai 0,7% dari cakupan Kb aktif, untuk meningkatkan cakupan metode kontrasepsi jangka panjang seperti IUD, Implan, MOP dan MOW, Dinas Kesehatan bekerjasama dengan BKKBN telah melaksanakan kegiatan pelayanan KB gratis khusus untuk metode kontrasepsi jangka panjang.
Upaya perbaikan gizi masyarakat dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada kelompok masyarakat antara lain anemi gizi besi, kekurangan vitamin A dan gangguan akibat kekurangan yodium.