Dubes RI untuk Senegal Hadiri Prosesi Wisuda UNAIR
UNAIR NEWS – Salah satu tamu kenegaraan penting yang hadir dalam prosesi wisuda Universitas Airlangga periode bulan Juli 2016 adalah Andradjati yang kini menjabat sebagai diplomat untuk negara-negara di Afrika. Ia kini menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Senegal, Gabon, Gambia, Guinea, Guinea-Bissau, Mali, Pantai Gading, dan Republik Demokratik Kongo.
Kedatangannya jauh-jauh dari Afrika khusus untuk mendatangi warga negara Pantai Gading yang berhasil lulus dan menjadi wisudawan terbaik di Universitas Airlangga Dr. Moro Kadjo Daniel Bitty. Daniel menjadi wisudawan terbaik pada program studi S-3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang dinyatakan lulus pada tanggal 13 Juni 2016.
“Saya melanjutkan support kepada Daniel Bitty selaku wisudawan terbaik UNAIR. Ketika dia bilang bahwa dirinya akan diwisuda dan tidak ada keluarga di Indonesia, saya merasa ada kewajiban untuk hadir dalam prosesi wisuda dirinya. Saya juga memiliki kedekatan batin selama saya berada di Senegal,” tutur Andra.
Di akhir prosesi wisuda, Andra menyempatkan diri untuk diwawancarai kru UNAIR News. Andra mengatakan, kedekatannya dengan Daniel dimulai ketika ia menjabat sebagai dubes di Pantai Gading. Daniel termasuk salah satu warga negara Pantai Gading yang aktif terlibat dalam acara-acara kenegaraan yang diadakan oleh Andra dan rekan-rekan kedutaan.
“Kami termasuk dekat. Karena selama saya berada di Dakar, Senegal, ia sering ikut mendukung kegiatan kedutaan. Jadi, waktu itu kami bikin kegiatan kesenian, dia membantu. Ini yang membuat saya merasa bahwa kedekatan ini harus selalu dibina,”
imbuh lulusan Universitas Libre de Bruxelles, Belgium, ini.
Setelah mahasiswa dinyatakan lulus, implementasi ilmu kepada masyarakat merupakan tantangan bagi lulusan. Menurut Andra, sebagian besar masyarakat masih membutuhkan inovasi-inovasi dari lulusan perguruan tinggi demi tercapainya kemakmuran.
“Sebagian besar dari kita kan, masih membutuhkan ilmuwan- ilmuwan, sehingga sangat diharapkan para lulusan, khususnya dari UNAIR, bisa memperbaiki atau meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di Surabaya, Jawa Timur, dan Indonesia,”
pesan Andra yang pernah menjabat sebagai Direktur Afrika, Kementerian Luar Negeri RI, tahun 2010 – 2012.
Internasionalisasi
Salah satu cara untuk memperluas internasionalisasi pendidikan dan meningkatkan posisi UNAIR terhadap kampus-kampus berkelas dunia adalah dengan melakukan kerjasama dengan kampus di luar negeri.
“Saya kira yang penting adalah kerjasama dengan luar negeri.
Penting bagi masyarakat luar negeri untuk mengetahui predikat atau prestasi dari UNAIR ini. Kalau tidak ada kerjasama, bisa kekurangan informasi. Jadi, perlu ada informasi yang lebih bisa dijangkau oleh masyarakat di luar negeri,” tutur Andra.
Andra tak menampik bahwa wawasan orang Indonesia mengenai pendidikan di Afrika masih terbatas. Sehingga, mindset itu perlu diubah sehingga kampus-kampus di Indonesia bisa berkolaborasi lebih banyak dan intensif.
“Memang masih sangat kurang terutama dari Indonesia dan Afrika. Kita (orang Indonesia) masih kekurangan informasi mengenai Afrika, sehingga banyak yang bertanya bagaimana keadaan di Afrika. Ini yang menjadi kendala buat perwakilan Indonesia untuk Afrika sehingga ini harus diubah. Jadi, kita harus lebih banyak berkolaborasi dengan dunia pendidikan.
Kalau bisa, UNAIR memang harus lebih banyak menampung atau menerima lebih banyak lagi mahasiswa dari Afrika,” tutur Andra.
Penulis : Defrina Sukma S.
Editor : Binti Quryatul M.
Hari ini, 835 Lulusan UNAIR Diwisuda
UNAIR NEWS – Universitas Airlangga kembali melaksanakan prosesi pelantikan (wisuda) atas lulusan-lusannya. Untuk itu, pada Sidang Universitas tentang Wisuda pada 16 Juli 2016 ini, Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., mewisuda sebanyak 835 lulusan baru Universitas Airlangga.
Prosesi ini dilaksanakan di Gedung Airlangga Convention Center (ACC), Kampus C UNAIR Jl. Dr. Ir. Soekarno (Mulyorejo) Kota Surabaya.
Para wisudawan baru yang dilantik tersebut berasal dari berbagai jenjang dan program studi, mulai dari Diploma-3 dan Diploma-4 (D-3 dan D-4), sarjana (S-1), Master (S-2), dan Doktor (S-3). Prosesi wisuda ini disaksikan oleh pimpinan universitas, para Guru Besar/Dosen Universitas Airlangga, perwakilan alumni (IKA-UA), undangan Muspida dan jajaran samping, serta yang berbahagia orangtua para wisudawan.
Prosesi wisuda kali ini juga dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk 8 negara di Afrika, Andradjati.
Pada prosesi wisuda kali ini, diantara 835 lulusan wisudawan UNAIR, terdapat 103 lulusan yang semasa kuliah menerima beasiswa Bidikmisi dari pemerintah. Ada pula 15 mahasiswa internasional yang diwisuda dari berbagai negara melalui skema beasiswa.
Wisudawan adalah Pemenang
Dalam sambutannya, Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh Nasih mengucapkan selamat kepada para wisudawan baru UNAIR. Mengapa diucapkan selamat, karena menurut Rektor, para wisudawan ini sejatinya merupakan pemenang, karena mereka mampu memenangkan pertarungan melawan berbagai godaan dalam menyelesaikan kegiatan akademik dan kemahasiswaannya.
”Bisa dibilang bahwa acara wisuda ini adalah sebuah perayaan bagi mahasiswa yang berkualifikasi sebagai sang pemenang. Para wisudawan yang hadir pada acara yang sakral ini adalah para mahasiswa yang mampu memenangkan pertarungan melawan berbagai godaan selama mereka menjalani kehidupan akademik di kampus.
Godaan itu bermacam-macam, antara lain mulai dari sekadar mendapatkan nilai ujian yang jelek, terlambat dalam menyelesaikan perkuliahan, hambatan dalam penyelesaian skripsi dan tesis, bahkan bisa pula sampai putus kuliah,” tutur Guru Besar bidang Akuntansi FEB UNAIR ini dalam sambutannya.
Oleh karena itulah, Rektor menghendaki agar para lulusan baru Universitas Airlangga untuk segera menjawab tantangan dan jawaban yang berkelindan di masyarakat.
“Saya optimis bahwa semua wisudawan ini nantinya akan bisa menghadapi berbagai tantangan yang ada, sebab kampus dengan spirit Excellence with Morality ini telah memberikan bekal yang cukup bagi Anda semua, tinggal bagaimana Anda mengaplikasikannya dalam terjun di masyarakat,” tandas Rektor UNAIR.
Wisudawan dari negara asing
Pada prosesi wisuda bulan Juli 2016, sebanyak 15 mahasiswa internasional turut menjalani prosesi wisuda. Mereka berasal dari berbagai negara diantaranya Malaysia, Timor Leste, Nepal, Afghanistan, Sudan, Senegal, Myanmar, dan Pakistan. Sebagian besar, mereka lolos seleksi skema program Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Selama di UNAIR, mereka memiliki minat pada jurusan yang berbeda-beda. Ada dari mereka yang memilih minat
S-1 Pendidikan Apoteker, S-2 Ilmu Hukum, S-2 Sains dan Manajemen, dan S-2 Keperawatan.
Selama prosesi wisuda yang dilangsungkan pada tahun 2016 (Maret dan Juli), UNAIR sudah meluluskan 24 mahasiswa asing yang terdiri dari 4 lulusan S-1, 2 lulusan profesi, 17 lulusan S-2, dan 1 lulusan S-3.
Penulis : Defrina Sukma S.
Editor : Binti Quryatul M.
UNAIR Mewisuda 15 Mahasiswa Asing
U N A I R N E W S – L a n g k a h U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a m e n u j u internasionalisasi semakin gencar diwujudkan. Terbukti, jumlah mahasiswa asing yang menjalani perkuliahan semakin bertambah dari tahun ketahun. Pada wisuda periode ini, Juli 2016, UNAIR mewisuda sejumlah mahasiswa asing yang terdiri dari berbagai negara serta jenjang pendidikan.
Ke-15 mahasiswa asing tersebut masing-masing terdiri dari 10 mahasiswa asal Timor Leste, 1 Nepal, 1 Sudan, 1 Myanmar, 1 Pakistan, dan 1 Pantai Gading. Mereka mengambil program studi bermacam-macam, diantaranya S-2 Ilmu Hukum, S-2 Perubahan dan Pengembangan Organisasi, S-2 Sains Psikologi, S-2 Sains Manajemen, S-2 Ilmu Politik, S-2 Ilmu Kesehatan, S-3 Keperawatan, dan S-3 Ilmu Ekonomi.
Moro Kadjo Daniel Bitty mengungkapkan kegembiraannya setelah prosesi wisuda usai. Ia merupakan wisudawan terbaik jenjang S-3 UNAIR asal Pantai Gading yang mengambil program studi Ilmu Ekonomi. Meskipun tidak ada kerabat yang dating dari Pantai
Gading, namun ia bersyukur dikelilingi kerabat dan teman dekat.
“Saya senang dan lebih bersyukur. Mendapat sebuah gelar adalah tanggung jawab. Kita diberi gelar tersebut dan harus diperjuangkan. Saya berterima kasih bisa menjalani studi di Indonesia, terutama di UNAIR,” ujar laki-laki yang lulus dengan IPK sempurna, 4.00.
Pada kesempatan ini, ibu dan bapak kos tempat Daniel menetap di daerah Kacapiring, Surabaya turut hadir dalam prosesi wisuda anak kosnya tersebut. “Saya sangat bangga menjadi ibu wakil dari Daniel. Dia ikut saya 3 tahun, selama ia studi S-3.
Sudah saya anggap anak saya sendiri. Kos di daerah Kacapiring.
Dia sangat lucu sekali dan tidak pernah membuat orang kecewa.
Dia selalu membuat saya bangga,” ujar Budiyo Santoso selaku ibu kos Daniel.
Ketika kuliah, kesibukan lainnya yaitu mengajar berbagi ilmu dengan mahasiswa S-2 yaitu sebagai dosen di UNAIR.
Selain Daniel, ada Madiha Mukhta, wisudawan asal Pakistan yang menempuh studi S-2 Keperawatan. Di UNAIR, Madiha memperoleh beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Ia mengaku sangat bersyukur bisa merampungkan studi S-2 di UNAIR. Diakuinya, penguasaan bahasa adalah problem utama selama Madiha menempuh studi dan hidup sementara di Indonesia.
“Language problem the first one. Karena budaya kami (Pakistan) dengan di sini berbeda. Kadang-kadang mereka mau bilang sesuatu dan itu beda dengan penangkapan kami. Kadang, like feeling sad. Namun ini budaya mereka, dan ini kami. Setelah satu tahun kami bisa adaptasi di sini, dan mereka juga mengerti budaya kami,” ujarnya.
Ada pula Sanju Kumar Singh, mahasiswa S-2 yang menempuh program studi Sains Manajemen asal Nepal. Sanju mengaku, setelah studi masternya selesai, ia belum ada rencana untuk kembali ke negara asalnya.
“Masih ingin jalan-jalan di Indonesia karena sangat indah sekali. Saya ingin lanjut studi di sini lagi (di UNAIR, - red),” ujarnya.(*)
Penulis : Binti Q. Masruroh Editor: Defrina Sukma S.
Konsep Saling Sapa Mantapkan Kualitas dan Sinergitas FISIP
UNAIR NEWS – Kebersamaan merupakan elemen penting dalam menjalankan pendidikan tinggi. Hal itu dipahami benar oleh Dekan FISIP Dr. Falih Suaedi, Drs., M.Si. Maka itu, dia berupaya terus menjaga konsep “Saling Sapa” yang dicetuskan pendiri fakultas, (Alm) Prof Soetandyo Wignjosoebroto. Bahkan, pejabat kelahiran Bojonegoro itu bertekad memantapkan perspektif tersebut.
Salah satu penerapan “Saling Sapa” adalah dengan adanya mata kuliah yang mesti dijalankan bersama-sama oleh tujuh jurusan (S1) berbeda di FISIP. Misalnya, ada mata kuliah penunjang yang ditetapkan untuk diambil oleh mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dan jurusan Politik. Ada juga yang perlu diambil oleh jurusan Administrasi Negara dan jurusan Antropologi.
Demikian seterusnya, dengan konsep perkuliahan yang lintas bidang.
“Melalui program seperti itu, kualitas dan rasa kekeluargaan di FISIP bakal terus menguat,” ujar Falih yang ditemui Jum’at sore lalu (15/7).
Logikanya, mahasiswa di satu jurusan bisa tahu komponen perkuliahan dari jurusan lain. Jadi, pengetahuan dan
wawasannya pun lebih luas. Sebab, problem di kehidupan atau dunia kerja makin beragam. Ekseklusifitas pada satu disiplin ilmu tertentu hanya akan menjadi bantu sandungan. Karena, di luar sana kompleksitas tantangan begitu rumit.
Di samping itu, “Saling Sapa” membuat semua mahasiswa dan dosen dengan latar berbeda dapat lebih bersinergi. Sebab, mereka jadi kerap bertemu dan bekerjasama. Kalau sudah begini, FISIP bakal menjadi satu kesatuan yang kuat. “Di sejumlah kampus, ada fakultas yang jurusan-jurusannya justru menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Terkotak-kotak. Eksklusifitas itu tidak terjadi di FISIP UNAIR,” ungkap Falih. (*)
Penulis: Rio F. Rachman
PIH Motori Forum Komunikasi dan Informasi Diskusi Pendidikan Jatim
UNAIR NEWS – Suasana gayeng terasa dalam Forum Komunikasi dan Informasi Pendidikan Jawa Timur yang dilaksanakan di d’Kampoeng Surabaya Town Square Jum’at malam lalu (15/7).
Kegiatan yang turut digagas Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR itu dihadiri dari ragam elemen masyarakat. Misalnya, dari kalangan wartawan/jurnalis pendidikan, DPRD Surabaya, Dewan Pendidikan Surabaya, Dewan Pendidikan Jawa Timur, perwakilan Dinas Pendidikan Jawa Timur, dan LSM. Tak ketinggalan, dari pihak Humas seluruh perguruan tinggi di Surabaya. Contohnya, ITS, Unitomo, Untag, UPN Veteran Jatim, dan Unesa.
Ketua PIH UNAIR Drs Suko Widodo MSi dalam sambutannya
mengungkapkan, persoalan pendidikan adalah tanggungjawab semua pihak. Bukan hanya dosen dan guru. Namun juga, dunia usaha.
Yang terpenting, semua elemen mesti paham kalau sinergitas merupakan sebuah keniscayaan.
“Melalui forum diskusi ini, ide-ide seputar pengembangan pendidikan di Jawa Timur dirumuskan berbagai pihak. Nantinya, akan disampaikan secara langsung pada pemangku kebijakan,”
ujar pakar komunikasi politik tersebut.
Dia menambahkan, pendidikan yang selama ini teraplikasi di masyarakat lebih banyak yang mengacu pada kecerdasan ilmu pengetahuan. Padahal, yang utama adalah kecerdasan hidup.
“Akibat konsep yang kurang pas tersebut, para pelajar jadi sulit mandiri,” terang dia.
Reni Astuti (mengenakan jilbab) saat memberi penjelasannya dalam diskusi yang dihadiri beragam elemen masyarakat.
Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Martadi mengemukakan, problem pendidikan di Indonesia harus ditelaah dari banyak aspek.
Gagasan lintas sektoral mutlak dibutuhkan. “Karena, eksponen yang ditangani itu banyak. Ada siswa, guru, wali siswa, bahkan
bila ditarik lebih lanjut, terdapat mahasiswa dan kalangan kampus,” tutur dia.
Anggota DPRD Surabaya Reni Astuti yang juga hadir dalam pertemuan itu menyatakan, ada tak kurang dari 512 ribu pelajar usia SD, SMP, dan SMA di Surabaya. “Butuh banyak kepala untuk memikirkan mereka. Membicarakan anak-anak itu sama dengan membicarakan masa depan Kota Pahlawan,” kata dia.
Sementara itu, para wartawan/jurnalis pendidikan mengaku siap mensosialisasikan atau menjadi jembatan informasi. Terkait semua kegiatan yang menjadi konsentrasi dari forum ini. Dengan demikian, masyarakat menjadi paham dengan adanya gerakan sosial/masyarakat tersebut. “Sudah menjadi tugas kami untuk menjadi kontrol sosial dan membantu menyebarkan kabar yang bermanfaat di masyarakat,” ujar Adit Hananta Utama, wartawan harian Bhirawa. (*)
Penulis: Rio F. Rachman
Sampaikan Tesis dalam Tiga Menit, Mahasiswa Asal Indonesia Juarai Kompetisi di Australia
UNAIR NEWS – Belajar di negeri orang biasanya menyisakan pengalaman berharga di benak mahasiswa yang menjalaninya.
Salah satunya adalah Andi Hermansyah, M.Sc, Apt., staf pengajar Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga yang kini menempuh program doktoral di Australia.
Bagi Andi, salah satu pengalaman menarik baginya adalah ketika mengikuti kompetisi 3MTC atau 3 Minutes Thesis Challenge pada O k t o b e r 2 0 1 5 l a l u . K o m p e t i s i 3 M T C p a d a s a a t i t u diselenggarakan di Sydney Southeast Asia Centre, Australia.
Apa itu kompetisi 3MTC? Kompetisi 3MTC adalah kompetisi khusus bagi mahasiswa yang menempuh S-3 untuk menyampaikan orasi ilmiah sesuai dengan topik tesis yang telah dibuat oleh para peserta kompetisi, hanya dalam kurun waktu tiga menit.
Pesertanya berasal dari berbagai negara di belahan dunia.
“Pesertanya ada yang dari Vietnam, Australia dan negara lainnya. Kalau dari Indonesia ada dua,” ujar lulusan program magister Erasmus University, Rotterdam Belanda tersebut.
Andi mengungkapkan, bahwa 3MTC ini memiliki beberapa perbedaan dengan ujian tesis pada umumnya. Fokus utama dari 3MTC ini adalah penyampaian ringkasan penelitian yang menarik perhatian para khalayak luas dalam waktu singkat, selama tiga menit.
“Sedangkan ujian tesis kan ada evaluasi menyeluruh, mulai dari proses hingga hasil akhirnya,” terang Andi. “Keduanya ada benang merahnya, namun tetap tidak bisa dibandingkan. Tentu saja tiga menit tidak akan pernah cukup, tapi itu menunjukkan bagaimana kita bisa menyajikan suatu yang padat dan intens dalam waktu yang singkat,” imbuhnya.
Dalam 3MTC, Andi menyampaikan tesisnya yang bertajuk
“Investigation to practice change in Australian and Indonesian community pharmacy”. Dalam penelitiannya, ia memaparkan perubahan praktik di industri farmasi dan pelayanan kesehatan yang terjadi di Australia dan Indonesia. Tujuannya, untuk mendapatkan wawasan dalam pengembangan praktik di apotek masyarakat Indonesia.
“Alhamdulilah atas ijin Allah, saya mendapatkan juara pertama di kompetisi tersebut,” serunya.
Andi mengatakan, dalam proses mengikuti 3MTC, ada beberapa
tantangan yang harus dihadapinya. Selain penyampaian tesis dalam waktu singkat, penggunaan bahasa inggris dalam meyampaikan tesis juga memiliki tantangan tersendiri.
“Karena ini forum, jadi background-nya orang berbeda-beda, saya kan dari farmasi. Jadi kita harus mencari cara bagaimana orang dengan berbagai latarbelakang berbeda itu, bisa memahami apa yang kita sampaikan dalam Bahasa Inggris,” terang Andi.
Andi berharap, kompetisi ilmiah seperti 3MTC ini dapat dipopulerkan di Indonesia. Pasalnya, negara lain seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, bahkan Malaysia sudah lazim mengadakan kompetisi layaknya 3MTC. Maka tidak menutup kemungkinan kompetisi 3MTC dapat diadakan di Indonesia.
“Karena kita tau penelitian kita banyak, tapi bagaimana menjualnya dengan kemasan yang menarik, dalam waktu singkat selama 3 menit, kan bagus. Bisa di-upload di media sosial untuk jadi pengetahuan bagi khalayak luas,” pungkasnya. (*) Penulis : Dilan Salsabila
Editor : Defrina Sukma S.
MEDSCUPE, Mesin Ergonomis Pencegah Sampel Tertukar di Rumah Sakit
UNAIR NEWS – Sering mendengar kasus tertukarnya hasil laboratorium, sampel darah, sampel jaringan, urin, fases, dsb di rumah sakit? Berangkat dari kasus yang
Merugikan pasien itulah lima mahasiswa Universitas Airlangga
membuat karsa cipta alat “MEDSCUPE” sebuah mesin ergonomis yang mampu mencegah tertukarnya sampel di rumah sakit.
Itulah karya tim Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta (PKM-KC) mahasiswa UNAIR yang dipimpin Mokhammad Dedy Batomi (Otomasi Sistem Instrumentasi 2013), dengan anggota Mokhammad Deny Basri (Otomasi Sistem Instrumentasi 2013), Masunatul Ubudiyah (Keperawatan 2013), Pratama Bagus Baharsyah (Otomasi Sistem Instrumentasi 2013), dan Sucowati Dwi Jatis (Keperawatan 2014).
Mereka bersyukur dengan menjadi salah satu penerima dana hibah PKM dari Kemenristek DIKTI tahun 2016, merupakan kebanggaan tersendiri sebagai wujud kontribusi untuk almamaternya.
Apalagi jika kelak mendapat kesempatan berlaga di PIMNAS ke-29 di IPB Bogor.
“Mau tidak mau, suka tidak suka ini merupakan prinsip dalam hidup kami sebelum masuk UNAIR. Jadi berkontribusi itu wajib hukumnya, apalagi kami kuliah dibiayai oleh negara,” ujar Dedy.
Sependapat dengan Dedy, Masunatul juga punya alasan kenapa ia mengikuti kompetisi ini. “Sebenarnya kami semua tidak hanya melulu ingin masuk nominasi PKM, namun lebih dari itu kami ingin meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit Indonesia melalui inovasi yang kita ciptakan ini,” tambah Masunatul.
Menurut penelitian tim dengan judul “MEDSCUPE: (Medical Specimens Cube Shipper) Alat Ergonomis Pengirim Dan Direct Labelling Spesimen Pasien Berbasis Pengolahan Citra Solusi Kasus Malpraktek Sampel Tertukar Di Laboratorium Medis”, diterangkan bahwa saat ini mungkin masyarakat sudah tidak asing lagi dengan kasus malpraktik, sampel uji tertukar, tidak valid, dan hasil uji lab yang lama tersampaikan, bahkan hilang.
ALAT MEDSCUPE yang dibuat untuk memisah-misah hasil lab: sampel darah, fases, urin, dsb di rumah sakit agar tidak tertukar. (Foto:
Dok Tim)
Sebenarnnya semua itu disebabkan banyak faktor, bisa dikarenakan tenaga kerjanya atau alat yang digunakan, namun melihat semua itu pihak rumah sakit tak hanya tinggal diam.
Kini di sejumlah rumah sakit sudah mulai dibangun mesin pipa penghantar specimen uji ke laboratorium.
Mengapa ini penting? Karena pada dasarnya specimen harus cepat diuji agar komponen di dalamnya tidak berubah. Selain itu juga menghindari peluang sampel tertukar saat semua dikerjakan secara manual. Sayangnya, mesin ini belum secara penuh mengontrol otomatis pengiriman sampel. Sesampainya sampel di ruang laboratorium, petugas masih harus memilah-milah sampel sesuai jenis untuk diantarkan ke tempat uji masiing-masing.
Banyak sekali jenisnya, ada darah, urin, feses, jaringan, sputum dan lain-lain. Darah sendiri masih banyak jenis pemeriksaannya, terdiri dari uji plasma, eritrosit, leukosit, dan lain-lain.
“Hal ini membuka peluang tertukarnya sampel dan memakan waktu
yang lebih lama. Itulah yang mengilhami tim PKM kami membuat sebuah terobosan baru dengan judul seperti diatas,” tambah Dedy.
Medscupe (Medical Specimens Cube Shipper) merupakan alat yang mempunyai sistem kendali dan kontrol spesimen berbasis pengolahan citra warna. Alat ini mampu meningkatkan efisiensi proses pelabelan maupun pengiriman spesimen pasien ke laboratorium, sehingga diharapkan dapat meminimalisir terjadinya kasus malpraktik sampel tertukar di laboratorium medis.
Efisiensi Medscupe terletak pada bagian pipa terakhir yang berhenti di ruang Lab medis rumah sakit. Medscupe memberikan percabangan otomatis yang memiliki kamera scanning citra solusi dan slot khusus pemisah sesuai warna yang dideteksi.
Dengan begitu, specimen dengan cepat akan terklasifikasi dan sampai di tempat analisis jenis specimen masing-masing dengan tepat.
Berbicara kendala, Deny mengatakan sejak awal dalam proses pembuatan prototype alat ini memang sering ditemukan banyak kendala, mulai dari pembelian komponen sampai tahapan akhir yaitu programming dan scanning.
“Kita sekelompok tidak dari satu fakultas, yaitu dari dua fakultas: Voaksi dan Keperawatan, sehingga bisa dipastikan jam kuliah kami juga berbeda. Dampaknya, waktu untuk berkumpul untuk sekadar diskusi atau menyelesaikan alat ini juga susah, sehingga waktu ba’da salat maghrib sampai jam 22.00 malam selalu kami sisihkan untuk membuat alat ini setiap minggunya,”
tambahnya.
Saat ditanya harapan kedepannya tentang prototype ini, Deny mempunyai harapan besar untuk bisa menjalin mitra dan alatnya bisa diterapkan mengingat urgency kebutuhan di pelayanan kesehatan.
“Saya berharap alat ini nanti bisa dipatenkan dan terlebih
bisa digunakan di pelayanan kesehatan, dan juga semoga PKM KC ini mempu menembus PIMNAS dan pulang membawa juara untuk Universitas Airlangga,” katanya berharap. (*)
Penulis : Sucowati Dwi Jatis.
Editor : Bambang Bes.
Rangkuman Berita UNAIR di Media (15/7)
Operasi Dua Bayi Setiap Minggu
Tidak sedikit bayi lahir dengan kelainan jantung bawaan.
Kebanyakan, berjenis atrial septal defect (ASD) dan ventricular septal defest (VSD). ASD merupakan lubang pada dinding yang memisahkan serambi jantung. Sedangkan pada pasien VSD, sekat kedua bilik jantungnya berlubang. Bayi yang mengalami VSD biasanya akan menampakkan gejala kesulitan menyusu, gangguan pertumbuhan, napas pendek, dan mudah lelah.
Menurut spesialis kebidanan dan kandungan RSUD dr Soetomo, dr.Agus Sulistiyono, SpOG(K) dari Universitas Airlangga, pemeriksaan untuk kelainan jantung bisa dilakukan saat anak masih dalam kandungan. Pemeriksaannya memerlukan USG khusus, yakni fetal echocardiography. Jika sudah diketahui ada kelainan, memang tidak bisa dilakukan terapi. Hanya, mengetahui kelainan sejak masih di dalam kandungan akan mempermudah antisipasi pada awal kehidupan.
Jawa Pos , 15 Juli 2016 halaman 36
Perpanjangan Pendaftaran Jalur Mandiri Bidikmisi
Kesempatan kuliah gratis bagi mahasiswa kurang mampu masih
terbuka lebar. Pemohon bantuan biaya pendidikan mahasiswa miskin berprestasi atau bidikmisi bisa mendaftar jalur mandiri perguruan tinggi negeri (PTN). Di Universitas Airlangga, pendaftaran mandiri bidikmisi dibuka hingga 19 Juli. Rektor UNAIR, Prof.Moh Nasih mengungkapkan, bahwa jumlah pemohon bidikmisi UNAIR mencapai 5 ribu orang. Namun, saat ini UNAIR masih menerima 666 mahasiswa bidikmisi dari SNMPTN sebanyak 373 mahasiswa, dan dari SBMPTN sejumlah 293 mahasiswa.
Sementara itu, pendaftaran penerimaan mahasiswa baru (PPMB) Mandiri UNAIR ditutup tadi malam, dengan jumlah pendaftar mencapai 10 ribu. Pada pukul 13.00 WIB kemarin, jumlah pendaftar mandiri ada 10.143 pendaftar.
Sindo, 15 Juli 2016 halaman 28 Penulis :Afifah Nurrosyidah Editor : Dilan Salsabila