• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "NILAI, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI, KEPERCAYAAN, DAN ADAT ISTIADAT 1. Alam Pikiran

Dalam masyarakat Bali, konsepsi alam pikiran ini dianggap relevan dalam tata nilai dan pelaksanaan upacara tradisional daur hidup. Sampai saat ini upacara ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat Bali. Masyarakat Bali memang selalu memegang teguh tradisi mereka. Beberapa konsepsi masyarakat Bali yang terdapat dalam buku Upacara Tradisional Upacara Kematian Daerah Bali (1985:40-42), yaitu:

a. Konsepsi kosmologi

Menurut ajaran Hindu kosmologi dibedakan menjadi dua, yaitu mikrokosmos dan makrokosmos. Keduanya (makrokosmos dan mikrokosmos) adalah alam semesta dan alam tubuh makhluk memiliki sifat yang bersamaan, dan selalu eksistensinya dipelihara dalam hubungan yang harmonis.

b. Konsepsi Rwa Bhineda

Konsepsi ini berdasarkan sistem klasifikasi yang bersifat dualistis.

Fenomena yang sesuai dengan klasifikasi dualistik ini yaitu : siang berlawanan dengan malam, gunung dengan laut, kebaikan dengan kejahatan, sehat dengan sakit, hulu dengan hilir dll. Konsepsi ini manifest dalam sistem penataan dan pelaksanaan upacara tradisional.

c. Konsepsi Tri Hita Karana

Tri Hita Karana artinya : Tiga keharmonisan yang menyebabkan adanya kehidupan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam.

Ketiga komponen ini selalu terpelihara keseimbangan dan keselarasan antara mikromos dan makromosnya.

d. Konsepsi Religius – Magis

Sebelum manusia mengenal religi, mereka telah mengembangkan kepercayaan yang bersifat magis. Dalam kehidupan masyarakat, religius magis terkait sangat erat satu sama lain. Seperti yang dikatakan oleh ahli ilmu antropologi Frazer, bahwa magis berevaluasi ke arah religi.

e. Konsepsi Kepiutangan (berhutang budi)

Dalam pemikiran masyarakat Bali, hubungan orang tua dengan anak dilatarbelakangi oleh pandangan, bahwa yang satu merasa berhutang budi terhadap yang lain. Alam pikiran seperti ini sangat dalam melestarikan upacara daur hidup di kalangan masyarakat Bali.

(2)

Misalnya adalah sebuah kewajiban orang tua (bapak dan ibu) untuk melaksanakan upacara potong gigi bagi anak-anak mereka.

Semua konsepsi-konsepsi ini selalu berkesinambungan mulai dari hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungan sekitar serta hubungan manusia dengan alam. Konsepsi ini masih terpelihara sampai saat ini. Upacara-upacara daur hidup yang dilaksanakan masyarakat Bali didasari oleh konsepsi-konsepsi tersebut.

2. Sistem Kekerabatan

Dalam buku Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Propinsi Bali (1978:40-41), sistem kekerabatan di Bali memiliki fungsi-fungsi tertentu yang meliputi aspek-aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan religi baik dalam segi kehidupan tradisional maupun segi kehidupan modern. Kelompok kekerabatan di Bali ini bermacam-macam, antara lain : keluarga inti, keluarga luas, clan kecil dan clan besar. Keluarga inti ini memiliki fungsi selain merupakan kesatuan tempat adanya hubungan yang mesra dan intim juga merupakan kesatuan ekonomi yang mewujudkan suatu kesatuan rumah tangga, kesatuan dalam pengasuhan, dan pendidikan anak.

Upacara daur hidup adalah serentetan upacara sebagai tingkah laku yang berpola tata kelakuan dan kepercayaan masyarakat yang berkaitan dengan daur hidup tersebut. Menurut masyarakat Bali yang menganut agama Hindu,upacara daur hidup tergolong sebagai upacara manusa yadnya (selama seseorang masih hidup) dan upacara pitra yadnya (setelah seseorang meninggal). Jenis-jenis upacara daur hidup ini misalnya : upacara saat kelahiran, upacara potong rambut pertama, upacara mengantar anak menjadi dewasa, upacara potong gigi, upacara perkawinan, upacara kematian (ngaben).

Upacara daur hidup ini dilakukan sejak seseorang lahir, hingga tumbuh menjadi dewasa kemudian meninggal. Masyarakat Bali masih mempertahankan tradisi ini sampai sekarang karna masyarakat Bali beranggapan bahwa melaksanakan upacara ini merupakan kewajiban untuk hubungan kekerabatan, terutama hubungan antara ayah dengan anak.

(3)

3. Sistem Religi dan Kepercayaan

Menurut buku Upacara Tradisional Upacara Kematian Daerah Bali (1985:39-40), Kepercayaan yang ada di masyarakat Bali dibedakan atas : kepercayaan yang berasal dari zaman pra Hindu dan kepercayaan yang berasal dari zaman Hindu. Kepercayaan dari jaman pra Hindu adalah kepercayaan animisme dan dinamisme. Sedangkan kepercayaan dai zaman Hindu adalah kepercayaan panca cradha yang mencakup : percaya adanya Tuhan, percaya akan konsepsi atma (roh abadi), percaya tentang punarbhawa (kelahiran kembali), percaya terhadap hukum karmapala (buah dari seriap perbuatan), dan percaya adanya moksa (kebebasan jiwa).

Sedangkan dalam buku Pengaruh Migrasi Penduduk Terhadap Perkembangan Kebudayaan Daerah Propinsi Bali (1978:46-47), masyarakat Bali juga melaksanakan upacara-upacara keagamaan yang disebut dengan panca wadnya yaitu : Manusa yadnya, Pitra yadnya, Dewa yadnya, Resi yadnya, dan Bhuta yadnya.

Kepercayaan dan sistem religi masyarakat Bali selalu bersumber dari agama Hindu yang mereka anut. Masyarakat Bali juga sangat menjaga dan melaksanakan kepercayaan yang berasal dari Hindu. Sampai saat ini kepercayaan panca cradha dan upacara panca yadnya masih tetap dilaksanakan di Bali. Kebudayaan Indonesia sangat beragam dan bervariatif. Keanekaragaman ini menandakan bahwa bangsa Indonesia sangat kaya akan sumber daya budaya, sebagai modal dasar pembangunan. Salah satu sub kebudayaan bangsa Indonesia adalah dalam aspek religi atau paham ideologi yang dianut dan diyakini oleh masyarakat pendukung kebudayaan pada masing-masing tempat atau komunitas. Secara faktual, keberadaan komunitas adat masih sangat eksis di Indonesia. Hal ini tidak dapat dipungkiri komunitas adat inilah sebagai sub-sub kebudayaan yang dapat memberikan warna tersendiri sebagai identitas dalam masyarakat.

Komunitas adat semakin berani menonjolkan diri dan telah banyak mendeklarasikan keberadaan komunitasnya sebagai cara untuk dapat eksis dan berkembang dan memperkenalkan corak budayanya. Masing masing komunitas adat memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya.

Hal ini wajar terjadi karena perbedaan ekologi maupun sistem kepercayaan yang dianutnya. Namun dalam mengkaji sebuah masyarakat

(4)

dalam arti yang lebih spesifik yakni kumunitas adat, masih banyak yang mempertahankan ajaran-ajaran leluhurnya sebagai pola bagi kelakuan.

Sebagian besar dari komunitas adat memiliki ciriciri bahwa mereka masih percaya akan kekuatan diluar kemampuan akal manusia. Ritual-ritual sangat menonjol dalam setiap pelaksanaan kegiatan upacara pada setiap fase atau siklus hidup selalu ditandai dengan melakukan penghormatan terhadap roh leluhur

Walaupun dalam jaman modern ini komunitas adat banyak yang telah mengkonfigurasi dengan menganut agama besar seperti agama Islam, Kristen, Hindu, Buda yang ada di Indonesia, namun komunitas adat tidak selalu menghilangkan begitu saja ajaran atau keyakinan local geniusnya.Komunitas adat selalu melakukan akselerasi dan bertahan di tengah pemahaman baru yang muncul diera sekarang ini.Untuk penyebutan komunitas adat di Indonesia sebagai pendukung kebudayaan nasional, masih sangat beragam.Untuk wilayah propinsi Bali istilah komunitas adat kurang menjadi populer namun yang lebih menonjol dalam pengertian di Bali, lebih pada teritorial wilayah seperti penyebutan desa adat. Desa adat atau masyarakat adat secara teritorial di sini akan lebih ditonjolkan. Setiap desa adat di Bali memiliki wilayah teritorial, maupun aturan pranata sosialnya tersendiri

Telah diketahui bahwa sebagaian besar penduduk pulau Bali adalah beragama Hindu.Agama dan adat di Bali telah menyatu dan saling mengisi. Dalam proses sejarah terhadap pembentukan keyakian yang terjadi di Bali, agama Hindu telah menjadi inti dan adat sebagai pembungkus atau mengkemas jalannya keyakinan terhadap komunitas adat atau desa adat yang ada di Bali. Walaupun dalam keyakinannya telah menunjukan adanya pengaruh ajaran agama Hindu dalam setiap desa adat, namun dalam praktek keagamaannya sangat bervariasi dan beragam. Hal ini sangat dipengaruh oleh paham desa kala patra. Desa artinya tempat, kala adalah waktu dan patra berarti keadaan.

Desa merupakan komunitas kecil atau kesatuan hidup setempat pada masyarakat dan memiliki otonomi dalam bidang penyelenggaraan pemerintahan desa (Surpha, 1993 : 47).Sedangkan adat memiliki arti sebagai habitus. Menurut Prof. Hariaerin adat adalah kehidupan (ranapan) kesusilaan dalam masyarakat yaitu bahwa keadaan-keadaan adat itu sebenarnya berupa keadaan-keadaan kesusilaan yang kebenarannya telah mendapat pangakuan umum dalam masyarakat.

(5)

Adat diartikan sebagai kebiasaan ini berarti adat dipahamkan sebagai tingkah laku yang berulang-ulang (Dhama Yuda, 1990 : 12-13).

Desa Adat adalah suatu lembaga sosial religius yang bersifat Hinduistis, oleh karena Desa Adat berfungsi untuk menata, mengatur dan membina kehidupan sosial warga desanya, terutama sekali di dalam melaksanakan ajaran- ajaran Agama Hindu yang meliputi tattwa, kesusilaan agama dan upacara agama atau upacara yadnya (Surpha, 1992 : 47)

Setiap kebudayaan daerah tentu saja memiliki khasan dan paling tidak adanya perbedaan antara sub kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. Salah satu di antara semua ciri hal yang paling pokok adalah dalam ideologi atau superstruktur masyarakat tradisional adalah sistem keyakinan atau kepercayaan yang dianutnya. Sistem kepercayaan masyarakat akan sangat ditentukan oleh pengaruh ekologi desa maupun faktor-faktor luar yang lainnya. Namun dalam situasi-situasi yang lain juga dipengaruhi oleh kosmologi maupun sejarah geneologi yang membentuknya.

Pada masyarakat Bali umumnya, dalam menjalankan aktivitas keagamaan ditempuh dengan berbagai bentuk dan cara dalam menjalankan kepercyaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Kepercayaan atau agama merupakan satu yang dianggap memiliki nilai yang sangat berharga dalam kehidupan. Mengetahui hal itu tentu saja masyarakat akan melakukan ritual dan aktivitas keagamaan dengan cara yang berbedabeda sesuai dengan kebudayaannya. Setiap komunitas adat atau masyarakat memiliki kebiasaan dan cara dalam mewujudkan apa yang diyakini. Pada masyarakat Bali, sistem kepercayaan dan agama tetap berjalan seiring dan seirama. Keduanya saling melekat dan cair dalam aktualisasinya dikehidupan masyarakatnya. Wujud dan bentuk dari sistem kepercayaan maupun keagamaanya dapat diidentifikasi dengan melihat aktivitas dan penggunaan simbol-simbol yang bersifat sakral atau magis.

Pada masyarakat Bali, menganut kepercayaan dan keagamaan merupakan hal yang sangat penting dalam wujudkan rasa baktinya terhadap Tuhan. Berbagai ritual keagamaan pada masing-masing desa akan dapat dilihat bervariasi bentuk dalam melakukan ritual-ritualnya tersebut. Pada masing-masing ritual yang diselenggarakan memiliki fungsi dan maknanya sendiri. Bagi orang Bali, melakukan persembahan

(6)

dengan menjalankan ritual-ritual keagamaan merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan sebagai wujud bakti dan keiklasannya terhadap Tuhannya. Bagi masyarakat Bali juga mengenal sistem kepercayaan lokal genius yang ada pada setiap komunitas atau desa adat.

Kekuatan-kekuatan yang ada diluar kemampuan berpikir (logika) inilah yang akan mempengaruhi motologi dan keyakinan terhadap yang gaib.

Religi atau kepercayaan diklasifikasi menjadi beberapa bagian dan dalam setiap bagian itu masing masing mempunyai fungsinya sendiri, saling berintraksi dan saling terikat. Berbagai pendekatan telah banyak dilakukan oleh para ahli atropologi terkait dengan varian ritual dalam sistem keyakinan masyarakat. Gejala religi itu tidak adapat diterangkan dengan hipotese taur teori semata. Dengan pengertian itu maka saya sendiri mengusulkan agar untuk keperluan analisa antropologi dan sosiolagi konsep religi dipecahkan ke dalam lima komponen yang mempunyai peranannnya sendiri-sendiri, tetapi yang sebagai bagian dari suatu sistem, berkaitan erat satu dengan lainnya (Koentjaraningrat, 1985:43). Adapun komponen religi tersebut, yaitu: a) Emosi keagamaan;

b) Sistem keyakinan; c) Sistem ritus dan upacara; d) Peralatan ritus dan upacara; e) Umat agama.

Dalam emosi keagamaan, akan ada yang mendorong individu atau kelompok komunitas yang merasakan dirinya sebagai untuk bergerak dengan getaran atau mengerakan jiwa manusia. Di sini emosi keagamaan dimaksud berupa sikap takut terpesona terhadap hal-hal yang gaib serta keramat. Bila dianalisis dengan logika ilmiah mengenai emosi keagamaan tidaklah dapat dijelaskan. Karena hal ini disebabkan oleh pandangan di mana seseorang tidak mampu untuk mengerti fenomena tersebut. Ini berarti pada hakikatnya tidak dapat dijelaskan dengan akal manusia karena diluar dari nalar. Jadi kemponen emosi keagamaan inilah yang merupakan komponen utama dari gejala religi, yang membedakan suatu sistem religi dari semua sistem sosial budaya yang lain dalam masyarakat manusia.

Komponen yang lain dari emosi keagamaan ialah sistem keyakinan.

Dalam sistem ini tentu saja ada ideologi dan pandangan hidup yang hakiki mendasari keyakinan yang dianut. Sistem keyakinan dalam suatu religi berwujud pikiran dan gagasan manusia, yang menyangkut keyakinan dan konsepsi manusia tentang sifat-sifat Tuhan, tentang wujud dari alam gaib (kosmologi), tentang terjadinya alam dan dunia (kosmogoni), tentang

(7)

jaman akhirat(esyatologi) tentang wujud dan ciri kekuatan sakti, roh nenek moyang, roh alam, dewa-dewa, roh jahat, hantu dan mahluk- mahluk halus lainnya. Sistem keyakinan juga menyangkut sistem nilai dan sistem norma keagamaan, ajaran kesusilaan dan ajaran dokrin religi lainnya yang mengatur tingkah-laku manusia.

Sistem keyakinan di dalam masyarakat diimplimentasikan ke dalam berbagai karya sastra baik yang tertulis maupun lisan dari religi atau agama yang bersangkutan. Dalam sastra suci misalnya berisi mengenai ajaran seperti dokrin, tapsir, serta uraiannya, disertai dengan cerita-cerita lokal atau berupa dongeng suci dan mitologi dalam berbagai bentuk prosa ataupun puisi, yang menceritakan dan melukiskan kehidupan roh, dewa, dan mahluk-mahluk halus dalam dunia gaibnya (Koentjaraningrat, 1985:

43-44).

Dalam sistem ritus dan upacara dalam suatu religi berwujud aktivitas dan tindakanmanusia melakukan kebaktiannya terhadap Tuhan, dewa-dewa, roh nenek moyang, atau mahluk halus lainnya, dan dalam usahanya untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan penghui dunia gaib lainnya.

Ritus atau upacara religi itu biasanya berlangsung berulang-ulang baik setiap hari, setiap musim, atau kadang- kadang saja tergantung dari isi acaranya, suatu ritus atau upacara religi biasanya terdiri dari suatu kombinasi yang merangkaikan satu-dua atau berupa tindakan, seperti berdoa, bersujud, berkormban, makan bersama, menari dan menyanyi, berprosesi. Berseni drama suci, berpuasa, intoksikasi, bertapa dan bersemadi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam ritus dan upacara leligi biasanya menggunakan berbagai simbol dan sarana maupun peralatan, tempat melakukan pemujaan. Seperti misalnya di masjid, langgar, gereja, pagoda, stupa dan lainnya. Patung dewa, patung orang suci, alat bunyi- bunyian suci (gendrang, gong, bedug, gambelan, lonceng dan lainnya.

Para pelaku upacara seringkali harus menggunakan kostim atau pakaian yang juga mempunyai sifat suci (jubah pendeta, jubah biksu, mukenah dan lain-lainnya.

Seperti telah diuraikan di atas bahwa religi mengandung 5 (lima) komponen. Dengan mengacu pada konsep tersebut maka komponen yang terakhir adalah umatnya atau kesatuan sosial yang menganut sistem keyakinan dan yang melaksanakan sistem ritus serta upacara.

(8)

Pada komunitas adat atau desa adat Penglipuran senantiasa menjalankan seluruh ritual-ritual penting pada setiap pura Tri Khayangan Tiga sesuai dengan ajaran dasar agama Hindu. Pengaruh agama Hindu pada masyarakat Bali dan masyarakat Penglipuran khususnya selalu menjalankan segala kegiatan dalam upacara menggunakan tiga kerangka dasar, yaitu: Tatwa (Filsafat), Susila (etika), Upacara, memberikan berbagai varian dalam pelaksanaan keagamaan. Kerangka dasar inilah sangat memberikan identitas pada masing-masing desa adat khususnya desa adat penglipuran dan masyarakat Bali pada umumnya. Sistem keyakinan atau kepercayaan di masyarakat secara faktual memiliki varian yang berbeda sesuai dengan keadaan dan tempat atau lingkungannya. Di samping itu waktu juga sangat mempengarui kepercayaan dalam masa seperti masa prasejarah dan juga masa sejarah di Bali. Masa ini sangat mempengaruhi berbagai ideologi yang dijalankan di dalam masyarakat itu sendiri. Keadan inilah yang dapat membedakan ciri identitas menjadi dua bagian antara masa prahindu dan zaman Hindu di Bali dan pengaruhnya terhadap komunitas adat atau desa adat akan pula memiliki varian sesuai dengan kuat tidaknya pengaruh ideologi yang masuk kedalam sistem superstruktur masyarakat itu.

Pada masa pra Hindu ajaran keyakinan yang ada pada masyarakat Bali adalah sistem kepercayaan terhadap berbagai bentuk manifestasi alam sebagai sumber dan dasar untuk melakukan berbagai ritual. Di sini pada desa adat penglipuran juga memiliki corak kepercayaannya tersendiri sebelum masa Hindu berjalan. Masyarakat Penglipuran percaya terhadap keberadaan roh nenek moyang dan percaya bahwa setiap wilayah maupun tumbuhan ada yang memelihara. Dalam masyarakat penglipuran sesungguhnya meyakini hal hal yang gaib dalam dunia niskala. Mereka juga percaya terhadap kekuatan-kekuatan alam dimana seluruh jalanya perputaran kehidupan ditentukan oleh kekuatan yang gaib dan tidak dapat dipikirkan secara logia rasional. Mereka juga percaya terhadap keberadaan roh dan mahluk halus lainnya. Masyarakat penglipuran percaya bahwa setiap tempat dialam ini ada yang mengendalikan dan sebagai penunggu lingkungan tersebut.

Setelah masuknya zaman pra Hindu maka bentuk-bentuk kepercayaan tidaklah menghilang namun menyesuaikan terhadap sistem keagamaan dalam hal ini agama Hindu sebagai yang mempengaruhi lebih dominan.

Kepercayan- kepercayaan lokal masih tetap dipelihara dan terkadang sulit untuk membedakan antara kepercayaan pra Hindu atau zaman Hindu.

(9)

Untuk melakukan identifiasi terhadap prosesi kepercayaan lokal maka dapat dilihat dari mitologi maupun dalam berbagai bentuk tradisi lokal genius di masing-masing tempat atau komunitas adat atau desa Adat.

Ajaran kepercayaan yang telah terkolaborasi menjadi satu dengan ajaran keagamaan pada kepercayaan komunitas adat Penglipuran terimplimentasi lewat berbagai kegiatan atau aktivitas ritual yang cukup tinggi dalam kehidupan sehari- hari. Dalam menjalankan prosesi ritual itu dapat dilakukan oleh kelompok kerabat ataupun gambungan dari kerabat yang lebih besar maupun komunitas adat. Pada pengaruh Hindu tentu saja dapat dilihat dari ritual-ritual yang berpatokan pada dasar sastra yaitu Weda. Dalam ajaran agama Hindu seluruh jenis upacara pada umumnya di Bali dan Penglipuran khususnya, digolongkan ke dalam lima komponen yang terstruktur yakni disebut dengan panca yadnya, alam arti arfiahnya panca artinya lima dan yadnya artinya korban suci. Adapun lima komponen dari panca yadnya yaitu:

a. Manusia yadnya, yaitu meliputi upacara daurhidup dari masa bayi masih dalam kandungan sampai dewasa.

b. Pitra yadnya, yaitu : merupakan upacara yang ditunjukan kepada roh- roh leluhur, meliputi upacara kematian sampai pada upacara penyucian roh leluhur.

c. Dewa yadnya, yaitu upacara yang dilakukan di pura umum seperti Tri Kahyangan Tiga mapun pura Jagat (pura umum) maupun yang lebih kecil adalah upacara yang dijalankan di pura keluarga.

d. Resi yadnya, merupakan upacara yang berhubungan dengan pentasbihan pendeta.

e. Bhuta yadnya, meliputi upacara yang ditunjukan kepad bhuta dan kala, yaitu roh-roh halus, yang ada dialam dan disekitar manusia sehingga tidak menggangu kehidupan manusia.

Lima komponen tersebut di atas, menjadi pedoman dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban yang tentunya bertujuan untuk mendapatkan keselamatan, kemakmuran atau kesejahteraan terhadap Tuhannya selain lima komponen yang dijadikan dasar juga ada keyakinan-keyakinan lebih khusus terhadap yang gaib. Dalam pandangan agama Hindu dan masyarakat Penglipuran memiliki keyakinan atau kepercayaan dalam konsep “Panca Sradha”. Yang terdiri dari (1) Percaya akan adanya Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), (2) percaya akan adanya atman atau (roh), (3) Percaya akan adanya punarbhawa/renkarnasi(kelahiran kembali), (4) Percaya akan adanya

(10)

Karma Phala (buah dari perbuatan), (5) Percaya akan adanya Moksa (kebebasan jiwa dari lingkaran kelahiran kembali).

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian yang di lakukan dapat diketahui bahwa motivasi memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan PT.. Berdasarkan koefisien korelasi yang di

Jika dilihat dari besarnya hukuman, maka khalwat termasuk pada bagian Ta’zir, yaitu ta’zir yang ketentuan jarimahnya oleh syara tetapi dalam masalah sanksi

Data kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif diuji menggunakan uji T-Test (Paired Samples T-Test) dan dihitung dengan N-gain ternormalisasi. Hasil

Kata sintaksis berasal dari kata Yunani ( sun = ‘ dengan’ + tattein ‘menempatkan’. Jadi kata sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi

Hasil penelitian evaluasi pelaksanaan IB di Kecamatan Gedangan menunjukkan bahwa IB yang dilakukan pada awal birahi memiliki tingkat keberhasilan sebesar 51,3%, pelaksanaan IB

Dari hasil analisa data, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab anak putus sekolah di MI Mathla’ul Anwar Kota Jawa Kecamatan Way Khilau Kabupaten Pesawaran

Iklim komunikasi sebuah organisasi penting karena dapat mempengaruhi.. bagaimana cara hidup kita, kepada siapa kita berbicara, siapa yang

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan maksud untuk memahami perilaku dan menggali lebih dalam mengenai