BAB 4
Upaya Pemerintah Indonesia Dalam Penanganan Kasus Money Laundering Untuk Mengembalikan Aset Negara Dari Tahun 2014 – 2018
Perkembangan zaman membuat aspek dalam kehidupan semakin berkembang dengan cepat dan canggih. Hal ini juga memberikan pengaruh terhadap para pelaku kejahatan. Perkembangan zaman membuat kejahatan semakin berkembang dan semakin tidak mengenal batas. Para pelaku kejahatan dengan mudah melakukan kejahatannya dimana saja (lintas negara). Kejahatan transnasional tentunya juga dapat terjadi di Indonesia, mengingat posisi Indonesia secara geografis yang berada di posisi silang. Hal ini mendapat perhatian khusus bagi pemerintah Indonesia, sehingga pada tahun 2009, dikeluarkan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang Tindak Pidana Transnasional Yang Terorganisasi). Salah satu bentuk kejahatan transnasional yang sering terjadi di Indonesia adalah pencucian uang. Pencucian uang mendapat perhatian khusus dikarenakan kejahatan ini merupakan kejahatan yang berasal dari kejahatan asal contohnya adalah korupsi.
4.1. Kejahatan Money Laundering tahun 2014 - 2018
Munculnya berbagai bentuk kejahatan di era globalisasi menunjukan bahwa kejahatan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Hal ini juga membuat munculnya modus – modus baru dari para pelaku kejahatan. Dengan adanya globalisasi membuat setiap orang semakin mudah untuk mengakses negara mana saja untuk didatangi. Menghilannya batas-batas negara dikarenakan globalisasi membuat pelaku kejahatan semakin mudah untuk melakukan aksi kejahatannya di negara manapun, tidak terkecuali di Indonesia.
Posisi Indonesia yang terletak di lokasi yang cukup strategis dan cukup rentan membuat keberadaan Indonesia menjadi cukup menarik perhatian bagi para pelaku kejahatan.
Salah satu kejahatan yang cukup menyita perhatian adalah kejahatan pencucian uang. Kejahatan pencucian uang merupakan salah satu bentuk kejahatan yang memiliki potensi dalam mengancam berbagai kepentingan baik dalam lingkup nasional maupun internasional, selain itu pencucian uang dapat juga disebutkan sebagai kejahatan lanjutan yang dilakukan oleh pelaku untuk menyembunyikan hasil kejahatan yang dilakukan sebelumnya. Kejahatan pencucian uang dapat dikategorikan sebagai salah satu kejahatan ekonomi, yang berdampak lansung terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF) mengartikan money laundering sebagai sebuah proses menyembunyikan atau menggelapkan suatu bentuk kejahatan. Proses ini memungkinkan para pelaku kejahatan yang memiliki kepentingan untuk menikmati hasil kejahatannya tanpa mengungkap sumber pendapatan keuntungannya. Yunus Husein dalam bukunya yang berjudul Bunga Rampai Anti Pencucian Uang menjelaskan istilah pencucian uang yang pertama kali berasal dari Amerika Serikat pada tahun 1930 (hal 4 : 2007). Kegiatan pencucian uang dimulai dari kelompok mafia di Amerika yang membeli perusahaan-perusahaan pencucian pakaian (laundry), yang selanjutnya digunakan oleh kelompok mafia tersebut untuk memutihkan uang yang didapatkan dari aksi kejahatan dan bisnis illegal seperti perjudian, pelacuran dan perdagangan minuman.
Di Indonesia, kegiatan pencucian uang sudah mulai berkembang pada awal tahun 2000. Pada tahun 2000 Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memasukkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat pencucian uang yang tinggi dikarenakan beberapa alasan, yaitu :
1. Selama ini pada waktu orang menyimpan uangnya di bank tidak pernah ditanyakan asal usulnya.
2. Indonesia menganut sistem devisa bebas dengan perekonomian yang terbuka. Dalam system devisa bebas siapa saja boleh memiliki devisa, menggunakannya untuk kegiatan apa saja dan tidak ada kewajiban untuk menjualnya kepada negara atau bank sentral.
3. Ketentuan rahasia bank di Indonesia cukup ketat dengan ancaman pidana dan pengecualian yang bersifat terbatas (limitatif).
4. Adanya kondisi yang menunjang yaitu adanya kesenjangan pengeluaran untuk investasi dan tabungan nasional (saving investment gap), yang mengakibatkan Indonesia memerlukan ban yak pinjaman dana dari luar.
5. Adanya tindakan yang keras dari Ameriksa Serikat untuk memberantas money laundering di negaranya dan negara tetangganya, antara lain negara-negara Amerika Selatan terdapat kemungkinan uang hasil tindak pidana, seperti hasil penjualan narkotika lari ke Indonesia untuk dicuci.
Bentuk-bentuk kejahatan yang mendorong pelaku untuk melakukan pencucian uang misalnya perdagangan senjata secara illegal, perdagangan obat- obat terlarang, kegiatan kejahatan terorganisasi, prostitusi, dan korupsi. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.15 Tahun 2002 tentang tindak pidana pencucian uang, menyimpulkan bahwa kegiatan pencucian uang merupakan upaya- upaya yang dilakukan untuk menyembunyikan asal usul harta kekayaan yang berasal dari hasil kejahatannya. Modus yang dilakukan biasanya para pelaku kejahatan akan mengupayakan agar harta kekayaannya tersebut masuk ke dalam sistem keuangan terutama sistem perbankan. Upaya menyembunyikan asal usul harta kekayaan yang berasal dari aksi kejahatan dapat dilakukan di dalam negeri maupun ke negara lain.
Dalam Laporan Tahunan PPATK tahun 2014 (hal. 49), berikut adalah contoh kasus kejahatan pencucian uang di Indonesia yang terjadi di tahun 2014 yang berhasil dibongkar oleh PPATK. Pada tahun 2014 PPATK berhasil mengungkap kasus Labora Sitorus (LS), dimana PPATK telah menemukan lebih dari 1000 kali transaksi maupun penyetoran yang dilakukan LS ataupun orang terdekat LS demi kepentingan LS. Setelah dilakukan pemeriksaan terdapat total dana sebanyak lebih dari Rp 1 trilliun yang ditransaksikan oleh LS. Berdasarkan informasi PPATK, laporan terkait transaksi LS selanjutnya dilimpahkan kepada pihak Kepolisian. Setelah dilakukan pemeriksaan, pada tahun 2014 LS ditetapkan sebagai tersangka atas kasus bisnis BBM (Bahan Bakar Minyak) illegal, pencucian uang dan penebangan hutan illegal. Pada tahun 2014 sendiri, total kerugian negara dikarenakan kasus Labora Sitorus diperkirakan sekitar 15 Miliar.
Selain LS, pelaku lainnya dengan inisial NK yang terlibat dalam kasus pencucian uang dan berhasil diungkap oleh PPATK1. Dalam kasus tersebut, NK merupakan seorang oknum PNS Pemda. NK terlibat dalam kasus penyelundupan BBM di daerah Riau, dan kegiatan tersebut sulit untuk ditelusuri dikarenakan NK melakukan proses transaksi secara tunai. Berdasarkan hasil penulusuran PPATK, ditemukan bahwa NK hampir setiap hari membawa uang tunai dengan nominal
$1000. Transaksi yang dilakukan NK sudah terjadi semenjak tahun 2008, namun baru terdeteksi oleh PPATK pada tahun 2013. Total nilai transaksi yang dilakukan oleh NK berjumlah 1,3 triliun. Berdasarkan hasil penelusuran PPATK ditemukan fakta bahwa adanya pecahan uang dengan nominal lembaran $10.000. Dugaan awal, NK melakukan kegiatan illegalnya di Indonesia dan pembayaran dilakukan di Singapura. Setelah melimpahkan hasil penelusuran tersebut kepada pihak Kepolisian, oleh penyidik dari Polri selanjutnya dilakukan pemeriksaan lebih mendalam sehingga menemukan tersangka lainnya yaitu AM. AM merupakan kakak dari NK. Berdasarkan hasil penelusuran Polri, tersangka melakukan kegiatan penyelundupan BBM kemudian dijual secara illegal di perairan bebas. Selain itu, Polri juga telah menetapkan 5 tersangka dan menyita beberapa aset seperti 6 kendaraan, alat berat, dan kapal dengan kapasitas 200 ton.
Berdasarkan laporan tahunan KPK pada tahun 2014, KPK juga berhasil menangkap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar atas tindakan korupsi dan pencucian uang yang dilakukan pada kasus sengketa pilkada di Kabupaten Lebak dan beberapa daerah lainnya. Akil Mochtar terbukti melakukan kegiatan pencucian uang setelah menerima suap. Akil Mochtar menyimpan dan menyembunyikan uang hasil suap tersebut ke rekening orang lain dan menggunakan perusahaan keluarga. Total pencucian uang yang dilakukan Akil Mochtar diperkirakan sekitar Rp 161,080 Milliar. Selain itu, ditemukan juga kegiatan pencucian uang yang dilakukan oleh Irjen Djoko Susilo dalam kasus pengadaaan driving simulator untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Kerugian negara dalam kasus ini diperkirakan sebesar Rp 121,830 Miliar. Dalam kasus ini, Djoko Susilo telah melakukan perbuatan menempatkan, mentransfer, mengubah
1 Laporan Tahunan PPATK Tahun 2014 hal.49
bentuk dan/atau menyembunyikan asal usul, sumber, lokasi kepemilikan, dan kegiatan menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembiayaan, harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana2.
Pada tahun 2016, sebuah dokumen berisikan data-data 12 kepala negara (yang masih menjabat dan sudah tidak menjabat) , sekitar 128 politikus, pengusaha serta beberapa pejabat publik yang memiliki perusahaan di yurisdiksi bebas pajak (offshore). Orang-orang yang namanya tercantum dalam dokumen tersebut terkait dengan berbagai perusahaan gelap yang dengan sengaja didirikan di wilayah bebas pajak. Beberapa nama dalam kasus tersebut ada yang terlibat dengan berbagai kasus kejahatan seperti tersangka korupsi, mafia narkoba, pelecehan seksual, dan lain- lain. Berdasarkan data dalam dokumen berjudul Mossack Fonsesca tersebut, ditemukan beberapa nama politikus dan pengusaha asal Indonesia yang membuat beberapa perusahaan cangkang di negara-negara bebas pajak. Dalam dokumen tersebut, terdapat dua orang buronan KPK yang namanya tercantum di dalam dokumen tersebut. Dua orang tersebut adalah Muhammad Riza Chalid seorang pengusaha yang terlibat kasus ‘Papa Minta Saham Setya Novanto” Freeport dan Djoko Soegiarto Tjandra. Selain itu, dalam dokumen tersebut juga terdapat nama Sandiaga Uno, yang pada tahun dokumen tersebut keluar di tengah masyarakat, Sandiaga sedang mencalonkan diri sebagai calon wakil Gubernur DKI Jakarta.
Namun, hingga saat ini belum ada tindakan lanjut dari PPATK dikarenakan dokumen tersebut sejauh ini masih sebatas nama-nama dari pelaku pembuat perusahaan cangkang di negara bebas pajak. Belum ada kelanjutan mengenai nama- nama yang terlibat dalam Panama Papers, hal ini dikarenakan belum ada bukti yang kuat bahwa orang-orang yang namanya tertulis dalam Panama Papers terbukti melakukan pelanggaran hukum ataupun kegiatan pencucian uang. Namun tidak menutup kemungkinan jika orang-orang tersebut berusaha untuk menghindari membayar pajak di negara sendiri.
Laporan Tahunan PPATK Tahun 2017 (hal.6) berhasil menyampaikan analisis transaksi keuangan dugaan pencucian uang dalam kasus First Travel dengan kerugian Rp 924.995.500.000,-. PPATK menjelaskan secara rinci modus
2 Laporan Tahunan KPK Tahun 2014 hal.39
yang dilakukan oleh pelaku. Diduga, pelaku melakukan penipuan dan penggelapan uang terhadap 64.685 jamaah yang hendak umroh. Pelaku menjanjikan kepada calon jamaah untuk berangkat umroh dengan biaya yang cukup murah, namun hingga jadwal waktu yang telah ditentukan, jamaah tidak kunjung berangkat.
PPATK menerima 39 Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM) dan 351 Laporan Transfer Dana dari/ke Luar Negeri (LTKL) terkait First Travel dan menghasilkan 2 Hasil Analisis (HA). Hasil Analisis PPATK mendukung pihak penyidik dalam menemukan aliran dana terkait penggunaan dana jamaah dan menemukan adanya kepemilikan aset di dalam dan luar negeri atas nama tersangka yang diharapkan dapat digunakan sebagai pengganti kerugian para korban.
Kegiatan pencucian uang yang dilakukan oleh pelaku dilakukan dengan menyembunyikan atau menggelapkan asal usul uang hasil penipuan tersebut dan mentransfernya ke rekening pribadi milik pelaku. Dalam kasus First Travel, tidak ditemukan adanya kerugian negara. Namun, berdasarkan keputusan sidang Pengadilan Negeri Depok diputuskan bahwa aset yang dimiliki pelaku akan dirampas untuk negara. Menurut Jaksa, jumlah uang yang disita dari kasus First Travel sebesar Rp 8,8 Miliar.
Selain kasus First Travel, tahun 2017 PPATK juga berhasil menyampaikan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) terhadap kasus E-KTP yang menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 2,3 Triliun. Dalam kasus E-KTP, PPATK menerima 93 LTKM dan 151 LTKL Sejak tahun 2014 hingga saat ini, PPATK telah menghasilkan 11 HA yang telah diserahkan kepada Penyidik terkait. Dalam kasus ini, para pelaku dan pihak terkait melakukan pola transaksi dalam menyembunyikan dan menyamarkan aliran dana. Untuk menindaklanjuti laporan yang diterima, PPATK bekerjasama dengan KPK dan beberapa lembaga intelijen keuangan negara lain untuk mengetahui dugaan aliran dana pihak terkait melalui negara tersebut.
Yunus Husein (mantan ketua PPATK) menyampaikan keterangannya sebagai ahli dalam persidangan kasus E-KTP tersebut bahwa, adanya 4 modus pencucian uang yang dilakukan dalam kasus korupsi E-KTP (Gabrillin, 2018, Ahli: Kasus Korupsi E-KTP Pakai Modus Pencucian Uang), Berikut 4 modus yang dilakukan pelaku dalam kasus korupsi E-KTP :
1. Pelaku menyembunyikan uang hasil korupsi tersebut ke dalam perusahaan yang dimiliki oleh pelaku. Modus ini dilakukan untuk menyembunyikan asal usul uang hasil korupsi tersebut ke dalam rekening perusahaan tersebut yang menyimpan uangnya dari sumber yang sah.
2. Pelaku menggunakan perusahaan orang lain yang sah, tanpa sepengetahuan dari pemilik perusahaan tersebut. Modus ini dilakukan dengan memanfaatkan money changer di Indonesia dan melakukan barter dengan money changer di Singapura. Transaksi yang dilakukan tersebut melibatkan beberapa perusahaan di Singapura yang melakukan kegiatan transaksi yang wajar dan tidak terlibat dalam kasus korupsi
3. Pelaku memanfaatkan kemudahan di negara yang merupakan tax heaven country. Dalam hal ini pelaku memanfaatkan negara Mauritius untuk membuat perusahaan cangkang.
4. Pelaku membeli aset tanpa nama berupa uang dalam money changer.
Selain dari tindak pidana korupsi dan terorisme, pada tahun 2018 PPATK bekerjasama dengan BNN untuk mengungkap kegiatan pencucian uang yang berasal dari tindak pidana awal narkotika (Anonim2, 2018, Pencucian Uang Hasil Penjualan Narkotika di Lapas Terungkap). Dari hasil penelusuran kasus ini ditemukan total Rp 24 milliar pencucian uang dengan barang bukti berupa uang tunai dalam pecahan rupiah dan mata uang asing, rumah, apartemen, mobil, motor, emas, serta beberapa barang bukti lainnya. Kegiatan pencucian uang ini dilakukan oleh Adi Wijaya alias Kwang (pemilik CV Dana Makmur Saudara), Army Roza alias Bobo (Napi Narkotika Lapas Tanggerang), Ali Akbar Sarlak (Napi Narkotika Lapas Tanggerang), Tamia Tirta Anastasya alias Sunny Edward (pacar Ali Akbar pembuat rekening dengan nama palsu), dan Lisan Bahar (Dirut PT Global Surya Aliences). Modus yang dilakukan adalah Ali Akbar memacari Tamia dan meminta Tamia untuk membuka rekening di Indonesia. Army Roza dan Akbar Salak bertugas sebagai penyedia barang, dan Tamia bertugas untuk melakukan transaksi.
Sehingga, walaupun Army dan Akbar berada di dalam lapas, namun mereka memiliki jaringan dan transaksi jual beli narkoba tersebut tetap berjalan. Uang hasil
kejahatan tersebut disembunyikan dengan cara menggunakan perusahaan money changer dan perusahaan tambang emas yang bersifat fiktif.
Pada tahun 2018, PPATK bekerjasama dengan BNN kembali menemukan adanya kegiatan pencucian uang dengan asal kejahatan perdagangan Narkoba. Hal ini masih berkaitan dengan jaringan narkoba Freddy Budiman. Jumlah dana yang digelapkan dalam kasus ini sebesar Rp 6,4 Triliun. Para pelaku melakukan modus pencucian uang dengan membuat enam perusahaan fiktif yang bergerak di bidang ekspor-impor untuk melakukan transaksi keuangan dari sejumlah bandar narkoba.
Selanjutnya para tersangka yaitu Devi Yuliana, Hendi Ramli, dan Fredi Hero melakukan modus seperti mengajak para karyawan mereka untuk berlibur ke luar negeri dan membuka rekening baru atas nama para karyawan tersebut di negara lain. Hal ini dilakukan untuk mempermudah para pelaku melakukan transfer uang hasil perdagangan narkoba dari perusahaan cangkang ke Bank yang ada di negara lain (Pratiwi, 2018, BNN Bongkar Pencucian Uang Rp 6,4 Triliun Geng Freddy Budiman).
Tabel 1
Tabel Kasus Pencucian Uang tahun 2014 - 2018
No Nama Kasus Jumlah dana yang
digelapkan
Tahun
1 Kasus Pencucian Uang Labora
Sitorus
Diperkirakan sekitar Rp 15 Miliar
2014
2 Kasus Oknum PNS Pemda NK Tidak diketahui jumlah
pastinya
2014
3. Kasus Korupsi Ketua MK Akil Mochtar
Rp 161,080 Miliar 2014
4 Kasus Pencucian Uang driving simulator Irjen Djoko Susilo
Rp 121,830 Miliar 2014
5 Kasus First Travel Rp 924.995.500.000 2017
6 Kasus E-KTP Setya Novanto Rp 2,3 Triliun 2017
7 Kasus Narkoba dan Pencucian Uang di dalam Lapas
Rp 24 Miliar 2018
8 Kasus Narkoba Geng Freddy Budiman
Rp 6,4 Triliun 2018
Sumber : Laporan Tahunan PPATK Tahun 2014 ; Laporan Tahunan PPATK Tahun 2016 ; Laporan Tahunan PPATK Tahun 2017; Laporan Tahunan KPK
Tahun 2015
Kerugian negara dikarenakan kasus pencucian uang dapat dinyatakan cukup tinggi. Jika dibandingkan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara- Perubahan (APBN-P) Indonesia pada tahun 2014 desebesar Rp 1.635,4 Triliun jumlah pendapatan negara, sedangkan jumlah anggaran belanja negara pada tahun 2014 sebesar 1.876,9 Triliun. Berdasarkan nominal tersebut masih terdapat defisit anggaran sebesar Rp 241,5 Triliun3. Selain itu, pada tahun 2018 masih terdapat defisit dari pendapatan negara dan belanja negara. Berikut adalah postur anggaran APBN tahun 2018 :
Gambar 1 :
Postur Anggaran APBN 2018
3 Realisasi APBN Tahun Anggaran 2014 oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Sumber : www.kemenkeu.go.id/apbn2018
Kerugian negara yang diakibatkan kegiatan pencucian uang pada tahun 2014 berdasarkan kasus diatas totalnya sebesar Rp 297,910 Miliar. Selain itu, kerugian dari kasus E-KTP sebesar Rp 2,3 Triliun. Tidak hanya itu, pada kasus narkoba Adi Wijaya, barang bukti yang ditemukan berupa uang tunai sejumlah Rp 24 Miliar dan beberapa asetnya akan disita oleh BNN. Berdasarkan video dari akun youtube “humasnewsbnn”4 mengatakan bahwa aset hasil TPPU narkotika para pelaku akan disita oleh BNN dan para pelaku akan dijatuhkan Para tersangka terancam Pasal 3, 4, dan 5 ayat (1) Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dengan ancaman hukuman maksimal pidana penjara selama 20 tahun dan denda maksimal Rp 10 miliar. Jumlah tersebut memang tidak bisa menutupi jumlah defisit dari APBN Indonesia pada tahun 2014, namun jumlah tersebut bisa saja digunakan pemerintah untuk membangun pelayanan umum, meningkatkan pendidikan ataupun mengurangi jumlah hutang negara.
Tabel 2
Perbandingan Utang dari Era Soeharto hingga Jokowi
4 Sumber youtube “Humasnewsbnn BNN News : BNN Miskinkan Bandar Narkoba”
https://www.youtube.com/watch?v=pJH0L_XGK5g diakses pada Senin 28 Oktober 2019 pukul 07.36 WIB
Sumber : Fajrian, (2019)
Berdasarkan beberapa kasus diatas, kasus pencucian uang di Indonesia jumlahnya masih cukup tinggi. Kerugian negara yang dihasilkan dari kegiatan pencucian uang juga masih cukup besar. Selain itu, kegiatan pencucian uang di Indonesia sebagian besar menggunakan modus operandi yang sama, seperti menyembunyikan uang hasil kejahatannya ke perusahaan palsu atau membeli beberapa properti. Sebagian kasus pencucian uang diatas sudah mendapat tindak lanjut oleh lembaga penegak hukum, namun masih ada juga yang belum mendapat tindak lanjut seperti kasus dokumen Panama Papers.
4.2. Upaya PPATK, KPK, dan Polri dalam Penanganan Kasus Money Laundering di Indonesia
4.2.1. Upaya PPATK dalam Penanganan Kasus Money Laundering di Indonesia
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) di Indonesia merupakan sebuah lembaga independen yang bertanggungjawab terhadap segala bentuk laporan transaksi keuangan, menganalisa hasil laporan tersebut dan meneruskannya kepada lembaga penegak hukum. Secara internasional, PPATK merupakan suatu Financial Intelligence Unit (FIU). Lembaga PPATK mulai berdiri
semenjak dibentuknya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang pasal 1 ayat 85. Berdasarkan Keputusan Presiden No. 81 Tahun 2003 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Pusat Pelaporan Dan Analisis Transaksi Keuangan, PPATK berdiri menjadi lembaga independen yang bertanggungjawab langsung terhadap Presiden. Selanjutnya, pada tahun 2012 dikeluarkan Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2012 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Pusat Pelaporan Dan Analisis Transaksi Keuangan. Namun, pada tahun 2016 terjadi perubahan mengenai peraturan tersebut. Perubahan ini dikarenakan adanya penataan kembali dalam organisasi PPATK. Pada tanggal 7 Desember 2016, Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor: 103 Tahun 2016 tentang Perubahan Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.
Struktur PPATK terdiri dari :
Gambar 2
Struktur Organisasi PPATK
Sumber : ppatk.go.id
Undang-Undang mengenai pencucian uang di Indonesia sempat beberapa kali mengalami perubahan. Pada akhirnya diputuskan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Perubahan Undang-Undang ini menjadikan PPATK sebagai lembaga independen
5 UU No.15 Tahun 2002 pasal 1 ayat 8 berbunyi : ‘Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yang selanjutnya disebut PPATK adalah lembaga independen yang dibentuk dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang’.
yang bebas dari campur tangan pihak manapun dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya, selain itu PPATK juga berhak untuk menolak pihak luar yang ingin ikut campur dalam pelaksanaan tugas dan kewenangannya. Dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, PPATK memiliki visi dan misi sebagai berikut :
Visi :
Menjadi lembaga intelijen keuangan independen yang berperan aktif dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme
1. Misi :
1. Meningkatkan kualitas pengaturan dan kepatuhan pihak pelapor.
2. Meningkatkan efektivitas pengelolaan informasi dan kualitas hasil analisis yang berbasis teknologi informasi.
3. Meningkatkan efektivitas penyampaian dan pemantauan tindak lanjut laporan hasil analisis, pemberian nasihat dan bantuan hukum, serta pemberian rekomendasi kepada pemerintah.
4. Meningkatkan kerjasama dalam dan luar negeri di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme.
5. Meningkatkan efektivitas pelaksanaan manajemen internal untuk mewujudkan good governance dengan memanfaatkan teknologi informasi secara efektif dan efisien.
Dalam mewujudkan visi dan misi tersebut, PPATK bekerja dengan menganut nilai-nilai integritas, tanggungjawab, profesional, kerahasiaan dan kemandirian.
Dalam upaya penanganan kejahatan pencucian uang, PPATK telah melakukan beberapa kerjasama untuk menangani kegiatan pencucian uang di Indonesia.
Berdasarkan Laporan Tahunan PPATK tahun 2014 (hal 1), dalam bidang pencegahan, PPATK bekerjasama dengan Singapura dengan mencegah adanya illegal money dari investasi asing oleh Manajer Investasi di luar negeri (global custody). PPATK berhasil menemukan adanya transaksi melalui negara Singapura dengan nominal terbesar sekitar Rp 184 triliun. Dalam transaksi tersebut ditemukan adanya indikasi transaksi yang dilakukan oleh beberapa Warga Negara Indonesia
(WNI). Selain itu PPATK berupaya untuk mengoptimalkan pembatasan penggunaan transaksi tunai. Upaya yang dilakukakan adalah merancang Rancangan Undang – Undang (RUU) tentang Pembatasan Penggunaan Transaksi Uang Kartal.
Dalam rancangan awalnya, PPATK mengusulkan untuk membatasi penggunaan uang kartal oleh setiap orang (perorangan dan korporasi) sebesar Rp100.000.000,00 yang dilakukan baik dalam satu kali transaksi maupun beberapa kali transaksi dalam satu hari kerja yang dilakukan di wilayah Indonesia. Kini, RUU tersebut sudah di tahap pengajuan terhadap DPR.
Selain itu, pada tahun 2014 PPATK terlibat aktif untuk melakukan penelusuran transaksi keuangan mencurigakan terhadap calon kepala daerah beserta keluarganya. Dalam penelusurannya, berdasarkan hasil analisisnya PPATK menemukan adanya 45 transaksi keuangan mencurigakan Kepala Daerah.
Selanjutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan 9 transaksi keuangan mencurigakan yang melibatkan Kepala Daerah dan/atau BUMD. Sebelum memutuskan terkait adanya kegiatan pencucian uang, PPATK akan membuat analisa terkait transaksi keuangan. Selanjutnya, jika ditemukan adanya transaksi yang mencurigakan dan mengindikasikan adanya kegiatan pencucian uang, hasil analisa tersebut akan dilimpahkan ke Penyidik untuk ditelusuri lebih lanjut. Jika hasil analisa yang diberikan oleh PPATK ditemukan bukti-bukti yang kuat dan adanya kegiatan pencucian uang maka laporan tersebut dinamakan hasil penelusuran.
PPATK yang merupakan sebuah lembaga yang memiliki tanggung jawab dalam segala bentuk transaksi keuangan di Indonesia telah memberikan citra yang baik bagi Indonesia di mata internasional dalam penanganan pencucian uang.
Dalam Laporan Tahunan PPATK tahun 2015 (hal. 11), partisipasi aktif PPATK dalam forum internasional telah membawa Indonesia keluar dari daftar hitam atau blacklist FATF. Hal ini menunjukan bahwa Indonesia telah menjadi salah satu negara yang bersih dan patuh terhadap implementasi Revolusi Dewan Keamanan PBB 1267 dan 1373. Selain itu, keputusan ini sekaligus menunjukan tentang terjaganya kualitas integritas sistem keuangan Indonesia. Dengan demikian ada 3 dampak positif dengan keluarnya Indonesia dari daftar blacklist FATF, yaitu :
1. Indonesia menjadi sejajar dengan negara-negara lain, khususnya selaku anggota G20;
2. Status ini diharapkan segera mendorong peningkatan rating investment grade Indonesia, sehingga berperan dalam mendorong investasi, transaksi bilateral dan resiprokal;
3. Memberi sinyal yang kuat tentang komitmen Indonesia terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme, baik di yurisdiksi Indonesia maupun dalam rangka kerjasama regional dan internasional.
Dalam proses penelurusan adanya indikasi kegiatan pencucian uang, PPATK sebagai badan yang bertanggungjawab terhadap analisa transaksi keuangan sebelumnya akan menerima adanya laporan transaksi keuangan yang diberikan oleh Penyedia Jasa Keuangan (PJK). Dalam UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang pasal 1 ayat 5 dan 6 menjelaskan mengenai :
“Ayat 5, Transaksi Keuangan Mencurigakan adalah : a. Transaksi Keuangan yang menyimpang dari profil, karakteristik, atau kebiasaan pola Transaksi dari Pengguna Jasa yang bersangkutan; b. Transaksi Keuangan oleh Pengguna Jasa yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan Transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh Pihak Pelapor sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini; c. Transaksi Keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan menggunakan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana; atau d. Transaksi Keuangan yang diminta oleh PPATK untuk dilaporkan oleh Pihak Pelapor karena melibatkan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana.”
“Ayat 6, Transaksi Keuangan Tunai adalah Transaksi Keuangan yang dilakukan dengan menggunakan uang kertas dan/atau uang logam.”
Pada periode tahun 2014 hingga tahun 2017, terdapat beberapa jumlah laporan transaksi keuangan yang diterima oleh PPATK. Berikut data laporan transaksi keuangan yang diterima oleh PPATK pada tahun 2014 hingga tahun 2017 :
Tabel 3
Laporan Transaksi Keuangan PPATK Tahun 2014-2017
(Sumber : Buletin Statistik Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme
PPATK Januari 2017)
Selain ketiga laporan diatas, PJK juga wajib melaporkan Laporan Transaksi Keuangan Transfer Dana dari/ke Luar Negeri (LTKL). Dalam Buletin Statistik Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme PPATK Januari 2017 LTKL mulai diberlakukan di Indonesia pada tanggal 14 Januari 2014 untuk PJK dan tanggal 1 Desember 2015 untuk PJK selain Bank Umum. LTKL diberlakukan berdasarkan UU TPPU No 8 Tahun 2010 pasal 23 ayat 1. Jumlah LTKL yang diterima PPATK dari Januari 2014 – Januari 2017 terdapat sebanyak 18,3 juta LTKL. Berdasarkan laporan yang diterima, nilai dana yang ditransaksikan ke luar negeri (outgoing) cenderung lebih besar jika dibanding dengan nilai dana yang ditransaksikan ke dalam negeri (incoming). Berdasarkan jenis laporannya, jumlah LTKL yang diterima pada periode 2017, terdapat 6.425.933 jumlah laporan.
Laporan transaksi keuangan yang diterima oleh PPATK berasal dari laporan Penyedia Jasa Keuangan (PJK) dan Penyedia Barang dan/atau Jasa Lain (PBJ). PJK dan PBJ merupakan pihak-pihak pelapor yang ada dalam Undang-Undang. Contoh dari PJK adalah : bank, perusahaan pembiayaan, perusahaan asuransi dan perusahaan pialang asuransi, dana pensiun lembaga keuangan, perusahaan efek, manajer investasi, kustodian, wali amanat, perposan sebagai penyedia jasa giro,
Laporan Transaksi Keuangan
Tahun 2014
Tahun 2015
Tahun 2016
Tahun 2017
Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan
(LTKM)
39.688 51.668 48.527 56.094
Laporan Transaksi Keuangan Tunai
(LTKT)
1.851.086 2.020.790 2.757.236 2.850.093
Laporan Pembawaan Uang Tunai (LPUT)
1.470 18 7.304 6.808
pedagang valuta asing, penyelenggara alat pembayaran menggunakan kartu, penyelenggara e-money atau e-wallet, koperasi yang melakukan kegiatan simpan pinjam, pegadaian, perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan berjangka komoditi dan penyelenggara kegiatan usaha pengiriman uang.
Melalui laporan yang diberikan PJK, berdasarkan laporan transaksi keuangan mencurigakan, selanjutnya akan dianalisa dan hasilnya menjadi Hasil Analisis (HA). Setelah HA selesai dirampungkan, selanjutnya PPATK akan menyerahkan hasilnya kepada penyidik untuk ditindaklanjuti. Bentuk akhir dari hasil analisis yang akan diberikan kepada penyidik adalah Hasil Pemeriksaan (HP). Dalam melaksanakan tugasnya untuk memberantas TPPU, PPATK juga bekerjasama dengan beberapa lembaga terkait. Lembaga-lembaga ini dapat meminta bantuan informasi dari PPATK terkait dengan adanya transaksi keuangan yang dianggap mencurigakan. Permintaan informasi yang diterima oleh PPATK digunakan untuk keperluan pencegahan dan pemberantasan TPPU6. Lembaga-lembaga tersebut seperti KPK, Kepolisian RI, Kejaksaan Agung RI, Badan Narkotika Nasional (BNN), Ditjen Pajak, Ditjen Bea dan Cukai, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Komisi Yudisial (KY), Bank Indonesia (BI), Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Ombudsman, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam), Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) termasuk dari Financial Intelligence Unit (FIU) negara lain.
4.2.2. Upaya KPK dalam Penanganan Kasus Money Laundering di Indonesia
Pencucian uang merupakan salah satu bentuk kejahatan yang termasuk dalam tindak pidana. Kejahatan pencucian uang biasanya dilakukan oleh pelaku dengan tujuan untuk menyembunyikan hasil dari kejahatan awal. Hal ini tentunya membuat
6 Peraturan Kepala PPATK No. 8 Tahun 2013 Pasal 2 tentang Permintaan Informasi ke PPATK
para aparat penegak hukum sulit untuk membongkar kasus-kasus tersebut. Salah satunya adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK merupakan sebuah lembaga yang dibentuk berdasarkan UU No 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. KPK diberikan amanat untuk melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi dengan profesional, intensif, dan berkesinambungan. Sama seperti PPATK, KPK bersifat independen dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sehingga bebas dari kekuasaan manapun. Dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, KPK memiliki visi dan misi seperti berikut :
Visi :
Menjadi lembaga penggerak pemberantasan korupsi yang berintegritas, efektif, dan efisien
Misi :
1. Melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan TPK;
2. Melakukan supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan TPK;
3. Melakukan penyelidikan, penyidikan,dan penuntutan terhadap TPK;
4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan TPK;
5. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintah negara.
Walaupun berfokus pada pemberantasan korupsi, tetapi KPK juga turut berperan dalam pemberantasan kegiatan pencucian uang. Banyaknya kasus kejahatan pencucian uang yang berasal dari kejahatan korupsi menunjukan bahwa dua kejahatan ini menjadi sangat kompleks. Selain itu, pelaku kejahatan korupsi dan pencucian uang berasal dari kalangan masyarakat dengan intelektual yang tinggi, memiliki kekuasaan baik dalam lingkup sosial, ekonomi, maupun politik, sehingga dengan demikian memudahkan pelaku untuk melakukan secara pintar berbagai kemungkinan yang terjadi. Korupsi sebagai predicate of crime sangat berkaitan erat dengan pencucian uang sebagai proceeds of crime. Dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang pada Pasal 74 menjelaskan bahwa “Penyidikan tindak pidana pencucian uang dilakukan oleh penyidik tindak pidana asal sesuai dengan ketentuan hukum acara dan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Dengan demikian, penyidikan terkait tindak pidana pencucian uang yang berasal dari tindak pidana korupsi dapat dilakukan oleh KPK. Pelaku tindak pidana korupsi yang memiliki tujuan untuk memperoleh dan menikmati harta yang didapatkannnya secara illegal pada umumnya akan melakukan kejahatan pencucian uang untuk menyembunyikan asal usul uang yang didapatkannya dari tindak pidana korupsi. Dalam beberapa kasus korupsi yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang, Jaksa Penuntut Umum dari KPK dalam proses penuntutan akan langsung menggabungkan perkara Tindak Pidana Korupsi dengan perkara Tindak Pidana Pencucian Uang.
Penggabungan dua perkara kasus tersebut dinilai cukup efektif dikarenakan dapat memiskinkan pelaku dengan cara merampas harta kekayaanya yang merupakan hasil dari tindak pidana dan hukuman kurungan penjara dapat mencapai maksimal 20 tahun penjara. Contohnya adalah kasus Anas Urbaningrum, Anas Urbaningrum didakwa telah melakukan korupsi dan menerima gratifikasi seperti berikut7 :
Penerimaan gratifikasi berupa uang sebesar Rp 2 milyar dari PT Adhi Karya;
Penerimaan gratifikasi berupa uang dari Nazaruddin (Permai Group) sebesar Rp 84,516 milyar dan USD 36 ribu untuk keperluan persiapan pencalonan ketua umum Partai Demokrat;
Penerimaan gratifikasi berupa uang dari Nazaruddin (Permai Group) sebesar Rp 30 milyar dan USD 5,2 juta untuk keperluan pelaksanaan pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat;
Penerimaan gratifikasi berupa 1 unit mobil Toyota Harrier seharga Rp 670 juta
Penerimaan gratifikasi lainnya senilai ratusan juta rupiah.
7 Sumber internet : Pencucian Uang Anas Urbaningrum
https://acch.kpk.go.id/id/artikel/fokus/pencucian-uang-anas-urbaningrum diakses pada 28 September 2019 pukul 14.00 WIB
Setelah dilakukan penyelidikan, Anas Urbaningrum ditetapkan menjadi tersangka atas tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Melalui vonis yang dijatuhkan oleh Mahkamah Agung (MA), Anas Urbaningrum dikenakan hukuman penjara 14 (empat belas) tahun dikurangi masa tahanan, denda Rp5 miliar subsidair 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan kurungan, uang pengganti Rp57,59 miliar dan USD 5,26 juta subsidair 4 (empat) tahun penjara. Pidana tambahan berupa pencabutan hak untuk dipilih dalam jabatan politik. Hukuman uang pengganti yang dijatuhkan terhadap pelaku dinilai efektif untuk mengembalikan aset negara hasil dari korupsi dan pencucian uang.
Dengan adanya UU yang mengatur mengenai kewenangan KPK dalam melakukan penyidikan dan penuntutan terhadap pelaku TPPU, KPK menggunakan pendekatan follow the money. Pendekatan follow the money merupakan pendekatan yang dilakukan dengan cara mencari uang atau harta kekayaan terlebuh dahulu sebelum mencari pelaku kejahatannya (follow the suspect). Yunus Husein melalui artikel yang ditulis mengenai Follow the Money vs Follow the Suspect) menjelaskan mengenai pendekatan follow the money dilakukan dengan cara melakukan analisa transaksi keuangan (financial analysis). Dengan menggabungkan kedua pendekatan tersebut, pemberantasan tindak pidana asal dinilai lebih berhasil.
Sehingga, dengan melakukan pendekatan follow the money mempermudah untuk ditangkapnya pelaku kegiatan pencucian uang dapat membantu untuk mengurangi angka kriminalitas termasuk mengurangi korupsi di Indonesia. Selain itu, tujuan lain dari sistem anti pencucian uang adalah untuk membuat sistem keuangan dan perdagangan lebih stabil serta terpercaya karena tidak disalahgunakan oleh para pelaku kriminal termasuk oleh koruptor.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kegiatan pencucian uang memiliki kewenangan untuk melakukan penyidikan sesuai dengan yang diatur dalam UU No.8 Tahun 2010 Pasal 74 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang8. Namun dalam hal penuntutan, UU No.8 Tahun
8 UU No.8 Tahun 2010 Pasal 74 berbunyi :’Penyidikan tindak pidana Pencucian Uang dilakukan oleh penyidik tindak pidana asal sesuai dengan ketentuan hukum acara dan ketentuan peraturan perundang-undangan, kecuali ditentukan lain menurut Undang-Undang ini’.
2010 tidak menyebutkan kewenangan KPK untuk melakukan penuntutan. Tetapi dalam pasal 75 menyatakan bahwa jika ditemukan adanya tindak pidana TPPU dari penyidikan tindak pidana asal maka penyidik dari KPK dapat menggabungkan keduanya sebagai gabungan tindak pidana (concursus realis). Penggabungan penyidikan dan penuntutan yang dilakukan oleh KPK antara TPPU dan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) harus dilakukan dengan sinergis dan sistematis. Sehingga proses pemeriksaan dan pengusutan harta dan kekayaan dari pelaku kejahatan dapat berjalan dengan optimal dan proses penuntutan Tindak Pidana Pencucian Uang dalam sidang pengadilan lebih berkualitas serta pengusutan harta kekayaan yang akan disita guna mengembalikan kerugian keuangan dan perekonomian Negara dapat dilakukan secara benar dan pasti.
Dalam Laporan Tahunan KPK tahun 2014 (hal. 103), KPK juga mengadakan Pelatihan Peningkatan SDM-APH (Sumber Daya Manusia – Aparat Penegak Hukum). Kegiatan ini dilakukan di 3 kota yaitu , Kupang, Ternate dan Banjarmasin.
Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah anggota Polda, Kejaksaan Tinggi, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) yang diwakili dari tiap daerah serta BPKP perwakilan dari tiap-tiap daerah. Salah satu materi pelatihan yang dibahas dalam pelatihan ini adalah Tipologi Tindak Pidana Pencucian Uang.
Kegiatan ini dilakukan mengingat, ada banyak pelaku korupsi yang menggunakan modus-modus untuk menyembunyikan hasil kejahatannya. Selain itu, KPK juga melakukan beberapa pertemuan dan kerjasama dengan beberapa lembaga anti korupsi negara lain. Contohnya pada bulam Maret 2019, KPK menggandeng Independent Commission Againts Corruption (ICAC) Hong Kong. Pertemuan ini dilakukan untuk saling berdiskusi dan saling bertukar pengalaman terkait metode pemberantasan korupsi dan pencucian uang (Anonim3, 2019, Berbagi Pengalaman Bersama ICAC Hong Kong). Pada tahun 2016, KPK juga sudah bekerjasama dengan ICAC dalam bidang capacity building, benchmarking, serta penyelidikan
UU No.8 Tahun 2010 Pasal 75 berbunyi : ‘Dalam hal penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup terjadinya tindak pidana Pencucian Uang dan tindak pidana asal, penyidik
menggabungkan penyidikan tindak pidana asal dengan penyidikan tindak pidana Pencucian Uang dan memberitahukannya kepada PPATK’.
kasus korupsi. Pada tahun 2017, KPK juga telah mengirimkan 3 petugas untuk berpartisipasi dalam seminar internasional yang dilakukan oleh ICAC Hong Kong.
4.2.3. Upaya Polri dalam Penanganan Kasus Money Laundering di Indonesia
Polri merupakan salah satu aparat penegak hukum yang diberikan wewenang oleh Undang-Undang untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap tindak pidana, termasuk tindak pidana pencucian uang. Dalam melaksanakan wewenangnya Polri menjadi pelaksana terdepan dalam penanganan tindak pidana yang dilaporkan oleh masyarakat maupun laporan hasil analisis transaksi keuangan yang berasal dari PPATK. Selain itu Polri juga telah melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan TPPU dengan membentuk Sub Direktorat Tindak Pidana Pencucian Uang pada Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri pada tingkat Mabes Polri serta Direktorat Reserse Kriminal Khusus di masing- masing Polda, dimana dalam tiap-tiap direktorat tersebut memiliki Subdit Tindak Pidana Pencucian Uang dan Perbankan yang bertugas khusus menangani kejahatan pencucian uang. Selain itu, Polri juga memiliki Sub Bagian Kejahatan Transnasional Ekonomi dan Khusus dalam Divisi Hubungan Internasional Polri NCB Interpol Indonesia yang bertugas untuk menangani kejahatan pencucian uang yang bersifat transnasional.
Dalam wawancara yang penulis lakukan via telepon kepada AKBP Reinhard Hutagaol (mantan Kasubbag Kejahatan Ekonomi dan Khusus NCB Interpol Indonesia), dalam hal pencucian uang, aparat kepolian lebih berfokus kepada pelaku pencucian uang sedangkan terkait dengan transaksi dan proses aliran dana adalah tugas utama dari PPATK. Oleh karena itu, NCB Interpol Indonesia banyak melakukan kerjasama dengan kepolisian negara lain dalam penangkapan tersangka kegiatan pencucian uang. Kerjasama yang dilakukan seperti pertukaran informasi dalam sistem I24/7, Notice dan terlibat dalam diskusi dalam penangan pencucian uang. NCB Interpol Indonesia juga bekerjasama dengan PPATK mengenai pertukaran informasi melalui I24/7. Selain itu, NCB Interpol Indonesia dan Bareskrim Polri dapat mengajukan Mutual Legal Assistance (MLA) kepada polisi di negara lain untuk melakukan penyelidikan atau pencarian pelaku dan barang bukti di negara lain.
Dalam melaksanakan tugasnya, Polri berpedoman dengan KUHAP dan UU TPPU. Sebelum menetapkan adanya indikasi pencucian uang yang dilakukan oleh pelaku, Polri harus memperhatikan 3 hal berikut yaitu, adanya tindak pidana asal, ada uang hasil kejahatan, dimasukkan kembali ke dalam sistem keuangan. Jika dalam penyelidikan tidak ditemukan 3 hal diatas maka kegiatan pencucian uang dapat dikatakan tidak ditemukan. Namun, jika ketiga hal ditemukan, maka Polri akan meminta laporan terkait melalui sumber PPATK dan laporan masyarakat. Jika ditemukan adanya indikasi kegiatan pencucian uang, PPATK akan memberikan Laporan Hasil Analisis (LHA) LTKM. Laporan tersebut selanjutnya akan diselidiki lebih lanjut oleh Polri untuk mengumpulkan bukti adanya kegiatan pencucian uang oleh seseorang. Sedangkan untuk sumber laporan dari masyarakat, Bareskrim Polri akan menerima laporan dari Polda (yang mendapatkan laporan adanya indikasi pencucian uang yang dilaporkan oleh masyarakat). Setelah menerima laporan tersebut, Bareskrim Polri akan meminta LHA dari PPATK terkait transaksi keuangan yang dilakukan oleh tersangka yang dilaporkan.
Selain kerjasama dengan PPATK dalam hal permintaan Laporan Hasil Analisis (LHA), Polri juga dapat meminta bantuan PPATK untuk mencari informasi terkait rekening pelaku TPPU. PPATK juga dapat membantu kepolisian- kepolisian yang ada di daerah yang masih belum mengerti mengenai pencucian uang dengan memberikan penjelesan mengenai semacam gelar perkara dengan penyidik. Dengan demikian, PPATK bertugas menganalisis laporan dan informasi transaksi keuangan yang berindikasi pencucian uang. Apabila ditemukan adanya fakta yang dapat dijadikan bukti awal tindakan pencucian uang maka pelaku akan ditangkap, selanjutnya akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut oleh penyidik untuk mengetahui kemana aliran dana tersebut mengalir. Investigasi mengenai pencucian uang bertujuan untuk mendeteksi kejahatan asal. Sebagian besar kegiatan pencucian uang berawal dari kejahatan asal seperti narkoba, korupsi, penggelapan dan sebagainya. Tujuan berikutnya adalah untuk menangkap siapa pelaku kejahata. Berdasarkan hasil laporan yang diterima oleh PPATK dan dengan menggunakan follow the money akan membantu untuk menemukan siapa pelaku kegiatan pencucian uang.
4.3. Kerjasama Internasional Pemerintah Indonesia dalam Menangani Kasus Kejahatan Pencucian Uang
Perkembangan zaman yang cukup canggih membuat para pelaku kejahatan semakin mudah untuk melakukan aksinya dan menyembunyikan hasil kejahatannya di negara lain. Begitu juga dengan kejahatan pencucian uang, yang merupakan kejahatan yang berasal dari kejahatan asal. Kegiatan pencucian uang hadir dikarenakan adanya kejahatan asal, dimana pelaku yang telah melakukan kejahatan seperti perdagangan narkoba, akan menyembnyikan hasil dari kejahatannya untuk dinikmati tanpa ketahuan oleh aparat penegak hukum. Tidak sedikit pelaku kejahatan pencucian uang yang melakukan kejahatannya di negara lain. Hal ini membuat aparat negara yang bertanggungjawab atas hal tersebut kesusahan untuk mencegah dan memberantas kejahatan pencucian uang. Selain itu, susahnya untuk mendapatkan akses penyelidikan di negara lain menjadi salah satu penghambat dalam penanganan kejahatan pencucian uang.
Dalam meningkatkan kinerjanya untuk mencegah pencucian uang di Indonesia, PPATK melakukan kerjasama internasional dengan beberapa lembaga di negara lain. Sesuai dengan UU TPPU, pada tahun 2014 PPATK mulai memberlakukan Laporan Transaksi Keuangan Transfer Dana Dari dan Ke Luar Negeri (LTKL). LTKL digunakan sebagai salah satu sumber informasi untuk menganalisa aliran dana pelaku kejahatan yang mengindikasikan adanya kegiatan pencucian uang dari dalam negeri ke luar negeri, begitu juga sebaliknya. Dalam salah satu kasus kejahatan transnasional, PPATK bekerjasama dengan penyidik dari Polri, Australian Transaction Reports and Analysis Centre (AUSTRAC), dan Lembaga Penegak Hukum di Australia, dengan memanfaatkan dan mengeksplorasi informasi transaksi keuangan dalam LTKL. Kerjasama tersebut dilakukan untuk pencegahan adanya kegiatan pencucian uang dan aliran dana untuk kegiatan terorisme. Selain itu, informasi transaksi keuangan lainnya khususnya terkait transaksi antara Indonesia dan Australia telah berhasil mengidentifikasi aktor intelektual dan penerima keuntungan utama dalam kasus tersebut. Tidak hanya itu, dengan adanya LTKL, dapat diitemukan adanya sindikat kejahatan lainnya yang
lebih besar9. Selain itu, PPATK juga melakukan berinisiatif dalam kegiatan pertukaran informasi dengan Financial Intelligence Unit (FIU) negara lain melalui Egmont Secure Web (ESW) dalam rangka mendukung implementasi strategi global dalam pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang10. Egmont Secure Web merupakan sistem database serta sarana komunikasi yang aman dan dirancang oleh negara-negara anggota The Egmont Group untuk saling bertukar informasi dengan FIU dari negara lain. The Egmont Group merupakan organisasi yang mewadahi kerjasama bagi seluruh FIU di seluruh dunia. PPTK resmi bergabung dengan The Egmont Group pada tahun 2004. Kehadiran The Egmont Group merupakan rekomendasi dari FATF terkait dengan pencegahan adanya aliran dana terhadap kelompok teroris dan pencegahan pencucian uang (Fadholi, 2017). Selain itu, The Egmont Group hadir dikarenakan adanya interaksi antar FIU yang memiliki kesamaan dan kepentingan dalam pencegahan dan pemberantasan kegiatan pencucian uang di negaranya. PPATK yang merupakan FIU dari Indonesia merasa perlu bergabung dengan organisasi tersebut mengingat pada saat itu, terjadi banyak kasus terorisme di Indonesia. Kasus terorisme yang terjadi di Indonesia juga merupakan kasus terorisme lintas negara, hal ini membuat PPATK perlu melakukan kerjasama dengan negara lain. Kerjasama yang terjalin dalam The Egmont Group berupa pertukaran informasi antar FIU negara lain terkait pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Seperti pemikiran kelompok liberal institusionalis mengenai pentingnya institusi untuk meningkatkan kerjasama antar negara, maka sejak tahun 2014 hingga tahun 2016, PPATK telah menandatangani MOU dengan 6 FIU negara lain.
Penandatanganan MOU tersebut untuk melakukan kerjasama serta bertukar informasi terkait kegiatan pencucian uang atau pemberantasan pencucian uang di negara masing-masing. Kerjasama yang dilakukan tentunya dikarenakan adanya kepentingan yang sama antar negara dalam memberantas kejahatan transnasional seperti pencucian uang. Berikut adalah beberapa MOU kerjasama PPATK dengan FIU negara lain dari tahun 2014 – 2016 :
9 Laporan Tahunan PPATK tahun 2014 halaman 27
10 Ibid
1. PPATK dan Negara Timor Leste ‘Memorandum of Understanding between The Indonesian Financial Transaction Reports And Analysis Center And Financial’ tahun 2014. Ruang lingkup pertukaran informasi, penggunaan informasi, kerahasiaan, penyelesaian sengketa
2. PPATK dan Negara United Kingdom of Great Britain ‘Memorandum of Understanding between The Indonesian Financial Transaction Reports And Analysis Center And Financial Intelligence Unit and United Kingdom Financial Intelligence Unit Concerning Cooperation In The Exchange of Financial Intelligence Related to Money Laundering and Financing of Terrorism’ tahun 2014 Ruang lingkup pertukaran informasi, penggunaan informasi, kerahasiaan, penyelesaian sengketa
3. PPATK dengan Negara Jordan Memorandum of Understanding between The Indonesian Financial Transaction Reports And Analysis Center And Financial Intelligence Unit and Jordan Intelligence Unit Concerning Cooperation In The Exchange of Financial Intelligence Related to Money Laundering and Financing of Terrorism’ tahun 2015. Ruang lingkup pertukaran informasi, penggunaan informasi, kerahasiaan, penyelesaian sengketa
4. PPATK dengan Negara Cambodia ‘Memorandum of Understanding between The Indonesian Financial Transaction Reports And Analysis Center And Financial Intelligence Unit and Cambodia Intelligence Unit Concerning Cooperation In The Exchange of Financial Intelligence Related to Money Laundering and Financing of Terrorism’ tahun 2015. Ruang lingkup pertukaran informasi, penggunaan informasi, kerahasiaan, penyelesaian sengketa
5. PPATK dengan Negara Tajikistan ‘Memorandum of Understanding between The Indonesian Financial Transaction Reports And Analysis Center And Financial Intelligence Unit and Tajikistan Intelligence Unit Concerning Cooperation In The Exchange of Financial Intelligence Related to Money Laundering and Financing of Terrorism’ tahun 2016. Ruang lingkup pertukaran informasi, penggunaan informasi, kerahasiaan, penyelesaian sengketa
6. PPATK dengan Negara Lao PDR ‘Memorandum of Understanding between The Indonesian Financial Transaction Reports And Analysis Center And Financial Intelligence Unit and Lao PDR Intelligence Unit Concerning Cooperation In The Exchange of Financial Intelligence Related to Money Laundering and Financing of Terrorism’ tahun 2016. Ruang lingkup pertukaran informasi, penggunaan informasi, kerahasiaan, penyelesaian sengketa.
Tidak hanya kerjasama yang dilakukan dengan negara lain, beberapa lembaga di dalam negeri juga melakukan kerjasama dalam penanganan kegiatan pencucian uang. Kerjasama yang dilakukan dengan berbagai lembaga di dalam negeri dilakukan mengingat kegiatan pencucian uang merupakan kejahatan yang dilakukan karena adanya kejahatan asal. Oleh karena itu, dalam menangani pencucian uang tentunya perlu untuk bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menelusuri kejahatan asalnya. Berikut adalah kerjasama yang dilakukan beberapa lembaga dalam negeri dengan PPATK terkait penanganan kegiatan pencucian uang :
Tabel 4
Kerjasama PPATK dengan Lembaga Dalam Negeri No Lembaga Judul Perjanjian Ruang
Lingkup
Hak dan Kewajiban
1 Lembaga
Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah (LKPP)
Nota Kesepahaman
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah (LKPP) dan Pusat
Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan tentang
1.Pertukaran Informasi 2.Penggunaan
Informasi 3. Kerahasiaan 4.Penyelesaian
Sengketa
Sesuai dengan ruang lingkup yang
tercantum dalam perjanjian MoU tentang kerjasama
dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana pencucian uang dan
Kerjasama dalam Rangka Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
pendanaan terorisme
2. UIN Alauddin Makassar
Nota
Kesepahaman UIN Alauddin Makassar dan Pusat Pelaporan
dan Analisis Transaksi Keuangan tentang
Kerjasama dalam Rangka Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
1.Pertukaran Informasi 2.Penggunaan
Informasi 3. Kerahasiaan 4.Penyelesaian
Sengketa
Sesuai dengan ruang lingkup yang
tercantum dalam perjanjian MoU tentang kerjasama
dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana pencucian uang dan
pendanaan terorisme
3. Badan Intelijen Negara
Nota Kesepahaman Badan Intelijen Negara dan Pusat
Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan tentang Kerjasama dalam
Rangka Pencegahan dan
Pemberantasan
1.Pertukaran Informasi 2.Penggunaan
Informasi 3. Kerahasiaan 4.Penyelesaian
Sengketa
Sesuai dengan ruang lingkup yang
tercantum dalam perjanjian MoU tentang kerjasama
dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana pencucian uang dan
Tindak Pidana Pencucian Uang
pendanaan terorisme 4. Kementerian
Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah
Nota Kesepahaman
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah dan Pusat Pelaporan
dan Analisis Transaksi Keuangan tentang
Kerjasama dalam Rangka Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
1.Pertukaran Informasi 2.Penggunaan
Informasi 3. Kerahasiaan 4.Penyelesaian
Sengketa
Sesuai dengan ruang lingkup yang
tercantum dalam perjanjian MoU tentang kerjasama
dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana pencucian uang dan
pendanaan terorisme
5. Kesepakatan Bersama antara
Kementerian Keuangan, Bank
Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan
PPATK
Nota Kesepahaman
Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas
Jasa Keuangan dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan tentang Kerjasama dalam
Rangka Pencegahan dan
1.Pertukaran Informasi 2.Penggunaan
Informasi 3. Kerahasiaan 4.Penyelesaian
Sengketa
Sesuai dengan ruang lingkup yang
tercantum dalam perjanjian MoU tentang kerjasama
dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana pencucian uang dan
pendanaan terorisme
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang 6. Lembaga
Pengembangan Perbankan
Indonesia (LPPI)
Nota Kesepahaman
Lembaga Pengembangan
Perbankan Indonesia (LPPI)
dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan tentang Kerjasama dalam
Rangka Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
1.Pertukaran Informasi 2.Penggunaan
Informasi 3. Kerahasiaan 4.Penyelesaian
Sengketa
Sesuai dengan ruang lingkup yang
tercantum dalam perjanjian MoU tentang kerjasama
dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana pencucian uang dan
pendanaan terorisme
7. Badan Nasional Penanggulangan
Terorisme (BNPT)
Nota Kesepahaman Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)
dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan tentang Kerjasama dalam
Rangka Pencegahan dan
1.Pertukaran Informasi 2.Penggunaan
Informasi 3. Kerahasiaan 4.Penyelesaian
Sengketa
Sesuai dengan ruang lingkup yang
tercantum dalam perjanjian MoU tentang kerjasama
dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana pencucian uang dan
pendanaan terorisme
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
8. Badan
Pengawas Berjangka Komoditi (Bappebti)
Nota Kesepahaman Badan Pengawas
Berjangka Komoditi (Bappebti) dan Pusat Pelaporan
dan Analisis Transaksi Keuangan tentang
Kerjasama dalam Rangka Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
1.Pertukaran Informasi 2.Penggunaan
Informasi 3. Kerahasiaan 4.Penyelesaian
Sengketa
Sesuai dengan ruang lingkup yang
tercantum dalam perjanjian MoU tentang kerjasama
dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana pencucian uang dan
pendanaan terorisme
9. TNI Angkatan Udara
Nota
Kesepahaman TNI Angkatan Udara
dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan tentang Kerjasama dalam
Rangka Pencegahan dan
Pemberantasan
1.Pertukaran Informasi 2.Penggunaan
Informasi 3. Kerahasiaan 4.Penyelesaian
Sengketa
Sesuai dengan ruang lingkup yang
tercantum dalam perjanjian MoU tentang kerjasama
dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana pencucian uang dan
pendanaan terorisme
Tindak Pidana Pencucian Uang 10. Kementerian
Perhubungan
Nota Kesepahaman
Kementerian Perhubungan dan
Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan tentang
Kerjasama dalam Rangka Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
1.Pertukaran Informasi 2.Penggunaan
Informasi 3. Kerahasiaan 4.Penyelesaian
Sengketa
Sesuai dengan ruang lingkup yang
tercantum dalam perjanjian MoU tentang kerjasama
dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana pencucian uang dan
pendanaan terorisme
Sumber : Laporan Tahunan PPATK tahun 2016
Selain PPATK, KPK juga melakukan beberapa kerjasama dengan negara lain terkait pencegahan kegiatan pencucian uang hasil korupsi. Selain bekerjasama dengan ICAC Hongkong, KPK juga bekerjasama dengan ICAC Mauritius. Nota Kesepahaman diwakili oleh Laode M Syarif (Wakil Ketua KPK) dan Navin Beekary (perwakilan dari ICAC). Dalam nota kesepahaman tersebut, membahas beberapa hal seperti strategi antikorupsi dan pencucian uang, capacity building melalui pelatihan dan konferensi untuk mengadakan penerapan standar hukum internasional dalam melawan korupsi dan pencucian uang (anonim 4, 2018, KPK- ICAC Mauritius Kerjasama Perangi Korupsi,). Kerjasama ini dilakukan dikarenakan pada kasus korupsi e-KTP Setya Novanto, KPK dibantu otoritas Mauritius untuk mengungkap aliran dana hasil korupsi Setya Novanto bisa dibuktikan dan diadili di pengadilan.
4.4. Analisis Keberhasilan Kerjasama Internasional Dalam Menangani Kejahatan Money Laundering
Pencucian uang di Indonesia bukanlah suatu hal yang baru, dikarenakan semenjak tahun 2001, Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak serius dalam menangani isu pencucian uang. Salah satu langkah yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani pencucian uang adalah jalur kerjasama. Kerjasama yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam menangani pencucian uang meliputi kerjasama antar lembaga dalam negeri dan negara lain. Hal ini dikarenakan beberapa pelaku melakukan pencucian uang di dalam negeri atau menyembunyikan asetnya di luar negeri. Dikarenakan oleh hal tersebut, maka diperlukan kerjasama dengan berbagai institusi yang memiliki tujuan yang sama yaitu memberantas kejahatan pencucian uang yang merupakan salah satu bentuk kejahatan transnasional. Indonesia melihat kehadiran institusi tersebut sebagai salah satu peluang untuk mengurangi kejahatan pencucian uang di Indonesia.
Dalam beberapa kasus pencucian uang di Indonesia, Indonesia telah memanfaatkan kerjasama untuk penyelesaian kejahatan pencucian uang.
Contohnya kasus e-KTP yang menyeret Setya Novanto, Indonesia dalam hal ini diwakili oleh KPK melakukan kerjasama dengan negara Mauritius untuk menelusuri aset-aset Setya Novanto yang disembunyikan di negara tersebut dan dijadikan barang bukti di pengadilan. Selain itu, kerjasama internasional yang dilakukan oleh PPATK dengan Singapura pada tahun 2016 terkait dengan adanya illegal money dari investasi asing di Singapura dengan nominal sebesar Rp 184 Triliun. Dalam transaksi ini ditemukan adanya indikasi transaksi mencurigakan yang dilakukan oleh beberapa WNI di Singapura. Dengan adanya hal tersebut membuat PPATK berupaya untuk merancang Rancangan Undang – Undang tentang pembatasan penggunaan transaksi tunai. Tidak hanya melakukan kerjasama dengan institusi internasional, PPATK juga bekerjasama dengan beberapa institusi di dalam negeri. Contohnya KPK, dalam kasus e-KTP KPK bekerjasama dengan PPATK untuk menelusuri transaksi keuangan yang dilakukan oleh para pelaku, dengan Laporan Hasil Analisis (LHA) dari PPATK berujung dengan penetapan Setya Novanto dalam kasus korupsi dan pencucian uang. Tidak hanya KPK,
PPATK juga bekerjasama dengan BNN dalam kasus penjualan narkoba yang terjadi di dalam lapas. Kasus perdagangan narkoba ini berujung dengan pencucian uang dimana para pelaku menyembunyikan aset hasil perdagangan narkoba dalam bentuk perusahaan cangkang dan money changer.
Dalam memberantas pencucian uang, diperlukan adanya kerjasama antar institusi mengingat kejahatan ini terjadi dikarenakan adanya kejahatan asal.
Terlebih jika pencucian uang dilakukan dengan melibatkan negara lain. Selain kerjasama yang dilakukan oleh PPATK, Polri sebagai salah satu lembaga yang bekerjasama dengan aparat keamanan negara lain dalam menangani kasus kejahatan transnasional. Kasus-kasus yang berhubungan dengan kejahatan transnasional dibawahi oleh Divisi Hubungan Internasional Polri (Divhubinter Polri) Ses NCB Interpol Indonesia. Salah satu bentuk kerjasama yang dilakukan adalah dengan pertukaran informasi dalam sistem I-24/7. Sistem komunikasi bagi para kepolisian anggota Interpol tersebut sudah ada sejak tahun 2002. Berdasarkan pengalaman magang yang dilakukan oleh penulis di Ses NCB Interpol Indonesia pada tahun 2017, sistem I-24/7 masih berjalan dengan baik dan masih menjadi sarana yang cukup membantu kepolisian untuk saling berinteraksi dan bertukar informasi. Selama melakukan kegiatan magang di NCB Interpol Indonesia, penulis melihat secara langsung keaktifan aparat kepolisian di Indonesia dalam hal merespon permintaan informasi dari negara lain dalam menangani adanya indikasi kasus kejahatan transnasional.
Kehadiran dan keaktifan Indonesia dalam berbagai forum internasional terkait pemberantas TPPU telah membawa Indonesia keluar dari daftar hitam FATF. Dengan hilangnya status blacklist FATF terhadap Indonesia pada tahun 2015 menunjukan komitmen dan keseriusan Indonesia dalam pencegahan dan pemberantasan kasus pencucian uang. Hal ini tentunya menjadi hal positif bagi Indonesia dan memberikan dampak munculnya kerjasama-kerjasama dengan beberapa FIU dan dapat dipercaya oleh berbagai institusi asing. Hal ini sekaligus menunjukan kemampuan monitoring pemerintah Indonesia terkait pentingnya untuk terlibat aktif dan keluar dari status blacklist FATF. Dengan demikian, Indonesia menjadi salah satu negara yang berkomitmen untuk memberantas kasus
pencucian uang. Bagi institusi internasional, ini merupakan hal yang baik dikarenakan Indonesia memiliki tujuan yang sama dan dapat dipercaya untuk melakukan kerjasama. Hubungan kerjasama yang dilakukan institusi internasional maupun dalam negeri tentunya harus didasari dengan komitmen. Dalam hal pemberantasan kasus pencucian uang yang melibatkan negara Singapura, Indonesia mendapatkan banyak bantuan dari Singapura berupa informasi adanya transaksi mencurigakan illegal money dalam investasi asing di Singapura. Selain itu, komitmen antara Indonesia yang diwakili KPK dan Hongkong yang diwakili oleh ICAC dalam memberantas dan pencegahan pencucian uang dengan melakukan diskusi bersama, kerjasama dalam pengembangan kapasitas, serta keterlibatan 3 petugas KPK dalam seminar internasional yang dilakukan oleh ICAC Hongkong.