8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu
1. Pada penelitian pertama oleh Setyo Dwi Putranto, dengan judul “Sistem Pendidikan Islam Model Kuttab” di tahun 2016, memiliki persamaan dengan peneliti saat ini, adalah kuttab al-Fatih Malang sebagai objek utama penelitian. Sedangkan perbedaan yang dimiliki peneliti terdahulu dengan peneliti sekarang ialah, menggunakan deskriptif kualitatif. Sedangkan orientasi penelitiannya adalah, memaparkan model pendidikan Islam yang diterapkan di kuttab.
2. Pada penelitian kedua oleh Rizal Pratama, dengan judul “manajemen pendidikan di Kuttab Al-Fatih Semarang”, di tahun 2016 memiliki persamaan dengan peneliti saat ini, adalah peneliti menggunakan studi kasus. Sedangkan perbedaan yang dimiliki peneliti terdahulu dengan peneliti sekarang adalah, peneliti terdahulu meneliti manajemen pendidikan Kuttab. Adapun orientasinya memaparkan manajemen Kuttab.
3. Pada penelitian ketiga oleh Nikmah Nurul Izzah, dengan judul “Sistem Kuttab al-Fatih dan Sekolahnya Manusia Perspektif Peradaban Islam”, di tahun 2015 memiliki persamaan dengan peneliti saat ini adalah, lembaga pendidikan kuttab Al-Fatih. Sedangkan perbedaannya yaitu pada ranah yang diteliti yaitu lembaga pendidikan kuttab perspektif peradaban dan lebih condong pada metode penelitian studi pustaka. Adapun orientasinya adalah Kuttab Al-Fatih perspektif peradaban.
4. Pada penelitian ke empat oleh Aisyah Dewi Saputri dengan judul
“Reaktualisasi Kuttab dalam Pendidikan di Sekolah Tahfidz Tingkat Dasar Tabrok Surakarta”, di tahun 2017 memiliki persamaan dengan peneliti saat ini adalah terkait lembaga pendidikan kuttab Al-Fatih. Sedangkan perbedaannya ialah ranah penelitiannya yaitu reaktualisasi kuttab dalam sebuah pesantren tahfidz. Adapun orientasi penelitiannya pada sebuah lembaga pendidikan Islam atau pesantren tahfidz.
5. Pada penelitian kelima oleh Een Fitriani, dengan judul “Implementasi Pendidikan Akhlak di Kuttab Semarang”, di tahun 2016 memiliki persamaan
9
dengan peneliti saat ini adalah terkait lembaga pendidikan di kuttab Al-Fatih.
Sedangkan perbedaannya ialah ranah penelitiannya yaitu penelitian berfokus pada pendidikan akhlak di sebuah lembaga Kuttab . Adapun orientasi penelitiannya pada sebuah lembaga pendidikan Islam kuttab Al-Fatih.
6. Pada penelitian keenam oleh Dinda Sintia Daiyls, dengan judul “Manajemen Perencanaan kurikulum Kuttab Tangerang Selatan”, di tahun 2019 memiliki persamaan dengan peneliti saat ini ialah terkait lembaga pendidikan kuttab Al-Fatih. Sedangkan perbedaannya ialah ranah penelitiannya yaitu manajemen perencanaan kurikulum Kuttab. Adapun orientasi penelitiannya pada sebuah lembaga pendidikan Islam Kuttab Al-Fatih.
7. Pada penelitian ketujuh oleh Della Shelvira, dengan judul “Manajemen hubungan masyarakat di Kuttab Al-fatih Bandung”, di tahun 2018 memiliki persamaan dengan peneliti saat ini adalah terkait lembaga pendidikan Kuttab Al-Fatih. Sedangkan perbedaannya ialah ranah penelitiannya manajemen hubungan masyarakat. Adapun orientasi penelitiannya pada sebuah lembaga pendidikan Islam Kuttab Al-Fatih.
8. Pada penelitian kedelapan oleh Fahri Hidayat, dengan judul “Pertumbuhan Ideologi Pendidikan di Era Reformasi (kajian terhadap ideologi pendidikan Kuttab Al-fatih Purwokerto)”, di tahun 2017 memiliki persamaan dengan peneliti saat ini adalah terkait lembaga pendidikan Kuttab yang terfokus pada ideologi pertumbuhan nya di era reformasi. Sedangkan perbedaan dengan peneliti saat ini adalah peneliti memfokuskan penelitian pada ideologi pertumbuhan lembaga Kuttab Al-fatih. Adapun orientasi penelitiannya sebuah ideologi pemikiran pertumbuhan Kuttab Al-fatih di Purwokerto.
9. Pada penelitian kesembilan oleh Arif Nur Muhammad, dengan judul penelitian “Kajian Fenomenologi Perspektif Guru Terhadap Kurikulum Kuttab Al-fatih Semarang”, di tahun 2019 memiliki persamaan dengan peneliti saat ini ini adalah terkait dengan lembaga pendidikan Kuttab Al-fatih yang berfokus pada ranah kajian fenomenologi kurikulum perspektif guru.
Sedangkan perbedaannya terdapat pada ranah penelitian yang hanya terfokus pada fenomenologi kurikulum Kuttab perspektif guru. Adapun orientasi
10
penelitiannya sebuah fenomenologi kurikulum di lembaga Kuttab perspektif guru di Semarang.
10. Pada penelitian kesepuluh oleh Akhmad Sony, dengan judul “Implementasi metode Reading Aloud Dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Kuttab Al-fatih Semarang”, di tahun 2018 memiliki persamaan dengan peneliti saat ini adalah pada lembaga pendidikan kuttab al fatih yang terfokus pada ranah implementasi metode pembelajaran Bahasa arab. Sedangkan perbedaan yang dimiliki pada ranah penelitian yaitu meneliti metode pembelajaran. Adapun orientasi penelitian hanya terfokus pada metode pembelajaran reading aloud pada mata pelajaran Bahasa Arab di Kuttab al-fatih Semarang.
B. Tinjauan Pustaka
Kurikulum dimaknai oleh beberapa ahli sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Sedangkan kurikulum secara terminologi adalah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancang secara sistematik atas dasar norma norma yang berlaku, yang mana dijadikan sebagai pedoman dalam proses pembelajaran bagi guru dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.1
Sedangkan menurut Ahmad Tafsir, kurikulum dimaknai sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa. Yang mana secara luas kurikulum bukan hanya rencana pembelajaran, akan tetapi semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah.2 Pandangan Ahmad Tafsir inipun sejalan dengan pandangan modern terkait segala seluk beluk kegiatan dan pendidikan yang membawa pada perubahan yang lebih baik ini disebut sebagai kurikulum.
Kurikulum secara garis besar dapat diartikan dengan seperangkat materi pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai. Kurikulum terdiri dari empat aspek yaitu tujuan pendidikan, materi yang diberikan, metode mengajarkannya dan penilaian yang dilakukan.3
1 Dakrir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum (Jakarta:2003), 3
2 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung:2013), 81
3 Jalaludin, Usman Said, Filsafat Pendidikan: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, (Jakarta:1994)
11
Ibnu Taimiyah dalam menetapkan kurikulum pendidikan Islam membagi menjadi dua sisi yang berbeda antara ilmu agama dan ilmu- ilmu aqliyah, namun keduanya diletakkan dalam satu kesatuan, oleh karena itu beliau membaginya dalam dua kelompok yaitu, pertama mencangkup muatan pokok dan yang kedua mencangkup muatan pendukung yaitu studi Al-qur’an dan juga hadist beliau menekankan dalam hal ini pokok materi yang terkandung dalam dua pokok di atas tidak akan dapat ditawar oleh semua subjek baik itu Pendidik maupun peserta didik.4
Ibnu Sina dalam hal kurikulum ini memberikan batasan mengenai prinsip- prinsip pendidikan dengan tidak memulai pembelajaran Al-Qur’an kepada anak yang belum sampai pada usia tingkat kematangan akal dan jasmaninya belum mampu menerima pelajaran yang akan diberikan. Memulai dengan mengajarkan huruf hijaiyah pada peserta didik tingkat awal akan sangat tepat digunakan.
Kemudian sembari mengajarkan huruf hijaiyah peserta didik diajarkan juga agama dengan menyesuaikan kematangan usia dengan penyampaian yang tepat dan sederhana. Ibnu Sina mengharuskan anak usia 3 sampai 5 tahun diajarkan terkait kebersihan dan juga olah jasmani atau olahraga sedangkan untuk usia 6 sampai 14 tahun barulah anak diajarkan menghafal Al-qur’an, syair, membaca dan olahraga.5
Fadlil Al-Jamali menyatakan bahwa semua jenis ilmu yang terkandung di dalam Alquran harus diajarkan kepada peserta didik. Ilmu – ilmu yang terkandung dalam Al-Quran tersebut meliputi ilmu agama, sejarah, ilmu falak, ilmu bumi, ilmu jiwa,ilmu kedokteran, ilmu pengetahuan, ilmu biologi, ilmu ekonomi, serta bahasa arab.6 Meskipun tidak secara spesifik ilmu – ilmu duniawiyahnya, namun sebagaimana yang diterapkan di kuttab, mata pelajaran yang diajarkan semua turunan dari ayat – ayat Alquran. Kurikulum pendidikan Islam yang mengacu pada Alquran dan mencerminkan idealitas Alquran itu sendiri tak akan terpisahkan antara ilmu duniawi dan ilmu ukhrowi.
4 Tri Anti D., Ari Khairurijal, “Implementasi Konsep Pendidikan Islam Prespektif Ibnu Taimiyah dan Muhammad Abduh dalam RPP K-13,” Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 9 No. 2 (November, 2018)
5 Musdalifah, “Konsep Pendidikan Ibnu Sina Tentang Tujuan Pendidikan, Kurikulum, Metode Pembelajaran dan Guru,” Jurnal Inspiratif Pendidikan, Vol. 8 No.2 (Juli-Desember, 2019)
6 M. H. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:1991), 191
12
Membahas sebuah kajian kurikulum secara substansif sebenarnya Islam telah lebih dulu menawarkan konsepsi keilmuan secara universal tanpa ada ilmu agama yang notabene bersandar pada teks dengan ilmu sosial - humaniora maupun secara filososfis.7 Mengingat bahwa hubungan ilmu agama dan juga sains dewasa ini sangat penting oleh karena itu pada sebuah lembaga pendidikan hendaknya menyikapi secara baik bagaimana seharusnya kurikulum yang diterapkan pada sebuah lembaga pendidikan mempelajari secara imbang antara ilmu umum dan juga ilmu agama.
Mengingat bahwasanya fungsi kurikulum pada sebuah lembaga pendidikan merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan didalamnya kurikulum pun memiliki komponen-komponen penting dalam operasionalnya. Ada empat komponen utama kurikulum yaitu, pertama, tujuan – tujuan yang ingin dicapai.
Kedua, pengetahuan yang berisi informasi-informasi dan data- data yaitu yang disebut mata pelajaran atau isi materi. Kemudian ketiga metode dan cara mengajar yang digunakan oleh guru. keempat metode penilaian dalam hal ini yakni evaluasi yang digunakan untuk mengukur dan menilai kurikulum dan juga hasil proses pendidikan yang direncanakan.8
C. Desain Kurikulum Kuttab
Desain kurikulum pendidikan Kuttab yang digunakan diantaranya adalah : pertama, memiliki tujuan yang dapat di lihat melalui visi dan misi yang diterapkan.
Kedua, mengajar dan menanamkan karakter iman yang meliputi, menghafal al- Qur’an, mengkaji dan membuktikan mukjizat alquran, mempelajari peradaban, dan memiliki kecakapan hidup. Kemudian yang ketiga, membangun generasi berkualitas yang sesuai al-Qur’an. Keempat, evaluasi dalam pengajaran dilakukan melalui tes normatif dan juga sumatif.9
Relevansi dari implementasi desain kurikulum lembaga pendidikan Islam Kuttab dengan lembaga pendidikan islam di Indonesia dilihat dari status kelembagaannya, dimana sistem pendidikan model Kuttab sebagai lembaga yang
7 Ahmad Saefudin, “Problem Dikotomi Kurikulum dan Reorientasi Kurikulum Lembaga Pendidikan Islam,” PROCEDInGS ANCOMS 2017, No. 2 (Mei, 2017)
8 Farida Jaya, “Hadist Tentang Kurikulum Pendidikan Islam,” TAZKIYAH, Vol. 7 No.1 (2018)
9 Basyir Yaman, Fades Br. Gultom, “Islamic Education System: Implementation of Curriculum Kuttab Al-Fatih Semarang,” Journal of Education and Pedagogical Sciences, Vol. 11 No. 12 (2017)
13
memiliki tujuan yang dijadikan acuan untuk dapat menjalankan program pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum.
1. Tujuan Kurikulum Kuttab
Pada ranah kurikulum di sebuah lembaga pendidikan terdapat suatu tujuan yang mana tujuan tersebut memiliki peranan penting untuk dapat mengarahkan seluruh kegiatan baik belajar maupun pembelajaran pada sebuah lembaga pendidikan. Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal, yaitu (1) perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat, (2) didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara. Tujuan dalam pendidikan terbagi menjadi beberapa kategori yaitu, tujuan pendidikan secara umum dan juga khusus, tujuan jangka panjang, menengah dan jangka pendek.10
Komponen tujuan yang telah disebutkan sangat berkaitan dengan arah ataupun hasil yang diharapkan oleh sebuah lembaga pendidikan. Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum pendidikan berkaitan dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut suatu bangsa suatu bangsa dan bahkan rumusan tujuan pengembangan suatu masyarakat yang dicita-citakan. Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah tujuan kurikulum diklasifikasikan menjadi empat yaitu meliputi (1) Tujuan Pendidikan Nasional (TPN), (2) Tujuan Institusional (TI), (3) Tujuan Kurikuler (Tk), serta Tujuan Instruksional atau tujuan pembelajaran (TP). Tujuan diatas merupakan tujuan umum hingga khusus yang bersifat spesifik dan dapat diukur sehingga kemudian dinamakan sebagai kompetensi.11 Untuk lebih mendetailnya akan dijabarkan klasifikasi dari tujuan kurikulum pendidikan di atas:
a. Tujuan Pendidikan Nasional merupakan tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran yang dijadikan sebagai pedoman oleh hampir setiap usaha pendidikan. Tujuan pendidikan umum dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal sesuai dengan pandangan hidup dan filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang. Dalam UU. No. 20 Tahun
10 Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru (Bandung:2013), 51-52
11 Ibid
14
2003 pasal 3 dinyatakan dengan jelas bahwa, tujuan pendidikan nasional bersumber dari sistem nilai Pancasila berfungsi mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar supaya menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan nasional merupakan bentuk dari tujuan jangka panjang yang menjadi dasar dari segala tujuan pendidikan nasional baik pendidikan formal, informal, maupun pendidikan nonformal.12 b. Tujuan Institusional merupakan tujuan yang harus dicapai oleh setiap
lembaga pendidikan, tujuan institusional merupakan suatu tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan oleh setiap jenjang pendidikan, misalnya pada standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan, dan juga jenjang pendidikan tinggi.
c. Tujuan kurikuler merupakan tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Tujuan kurikuler pada dasarnya juga merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan.
Dengan demikian, setiap tujuan kurikuler harus dapat mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional.
d. Tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mereka mempelajari materi pelajaran tertentu dalam mata pelajaran tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik peserta didik yang akan melakukan pembelajaran di suatu sekolah maaupun madrasah, maka menjabarkan tujuan pembelajaran adalah tugas seorang guru.13
12 Ibid
13 Ibid
15
Sudah sangat jelas bahwa suatu tujuan menjadi salah satu komponen terpenting yang dapat mempengaruhi komponen lain dalam sebuah sistem pendidikan oleh karena itu, tujuan daripada Kuttab al-Fatih sendiri adalah untuk melahirkan generasi penegak khalifah diatas manhaj kenabian yang ditandai dengan penaklukan kota Roma sebagaimana nubuwah Nabi Muhammad Sallallahualaihi wasallam.
Berangkat dari tujuan tersebut. Maka terdapat sebuah misi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Visi yang digunakan adalah melahirkan generasi gemilang di usia belia. Adapun langkah yang dilakukan untuk mencapai visi tersebut adalah dengan menerapkan misi yang telah ditetapkan. Yaitu lulusan Kuttab al-Fatih diusahakan dapat memenuhi target dari visi-misi tersebut, yang mana diantara misi nya ialah:
a. Pengajaran dan penerapan karakter iman b. Menghafal Al-Qur’an
c. Menggali, meneliti, dan membuktikan kemajemukan Al- Qur’an
d. Berbahasa peradaban
e. Memiliki keterampilan hidup
Maka dari itu, output kuttab Al-Fatih diharapkan mampu terjun ke masyarakat meskipun secara usia masih tergolong sangat muda.
2. Isi Materi Kurikulum Pendidikan Kuttab
Dalam kurikulum pendidikan formal, umumnya semua organisasi isi dari materi kurikulum disusun dalam bentuk mata pelajaran atau bidang studi yang tertuang dalam struktur kurikulum sesuai dengan tujuan institusional masing- masing. Dalam struktur tersebut diatur pula alokasi waktu yang diberikan untuk setiap bidang studi ataupun mata pelajaran pada setiap minggunya. Adapun beberapa jenis struktur kurikulum, yaitu:
a. Pendidikan umum (General Education) merupakan program pendidikan yang bertujuan membina mahasiswa agar menjadi warga negara yang baik. Sifat pendidikan umum ini adalah wajib diikuti oleh setiap siswa pada sebuah lembaga pendidikan serta tingkatannya.
Bidang studi yang termasuk dalam kelompok pendidikan umum,
16
misalnya, pendidikan agama, PPKN, olahraga-kesehatan, kesenian, Bahasa inggris, Bahasa Indonesia.
b. Pendidikan akademik (Academic Education), merupakan program pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan intelektual sehingga diharapkan peserta didik memperoleh kualifikasi pengetahuan yang fungsional menurut tuntunan disiplin ilmu masing- masing.
c. Pendidikan kecakapan hidup (Life Skill Education), merupakan program pendidikan yang bertujuan untuk memperoleh kecakapan an keterampilan tertentu, sebagai bekal hidup peserta didik di masyarakat. Sifat pendidikan ini temporer, artinya sewaktu – waktu dapat diubah sesuai dengan keperluan. Demikian juga sifatnya yaitu elektif artinya setiap peserta didik dapat memilih jalan ketrampilan yang diinginkan.
d. Pendidikan kejuruan (Vocational Education),merupakan suatu program yang dipersiapkan untuk peserta didik untuk dapat memperoleh keahlian atau pekerjaan tertentu sesuai dengan jenis sekolah yang ditempuhnya. Pendidikan kejuruan ini lazimnya terdapat pada sekolah-sekolah kejuruan, bukan pada sekolah umum (SMP dan SMA). Misalnya, untuk SMK ada kelompok bidang studi ekonomi dan kelompok bidang studi teknik. Kadar bobot setiap struktur kurikulum untuk setiap lembaga pendidikan tidaklah sama baik dalam hal jumlah jam pelajaran maupun dalam jumlah mata pelajaran atau bidang studinya.14
Bidang supporting system al-Qur’an, muatan materi yang diajarkan Kuttab meliputi: ilmu al-Qur’an, tahfidzul Qur’an, ilmu hadits, bahasa peradaban, tematik pembelajaran, fiqih, calistung, murofaqot dan keterampilan. Sedangkan dalam kurikulum iman, terdapat materi yang diajarkan ketika pelajaran iman, meliputi : murofaqot IPA yang berisi materi pengetahuan sains, maka dapat
14 Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum (Bandung:2012), 90-91
17
dikombinasikan dengan ayat – ayat al-Qur’an yang sedang dibahas dalam satu tema ataupun sub tema.15
Komponen pendidikan Islam pada zaman Rasulullah saw., memiliki perbedaan dengan pendidikan Islam yang dilaksanakan saat itu. Diantara komponen isi materi saat itu ialah : a) pendidikan tauhid dalam teori dan praktik.
Materi ini difokuskan untuk memurnikan ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as., setelah banyak penyimpangan dari yang sebenarnya., b) pengajaran Al-qur’an yang mana matri dari Al-qur’an lebih terfokus kepada materi baca tulis dan menghafal ayat Al-qur’an serta materi pemahaman.16 Isi materi dari kurikulum pendidikan Islam pada fase ini tidak hanya terbatas pada permasalahan aqidah, ibadah dan akhlak tetapi lebih kompleks serta luas cakupannya.
Kuttab al- Fatih merupakan salah satu cabang dari Kuttab al-Fatih pilar peradaban yang terpusat di Depok Jawa Barat. Yang mana Kuttab al-Fatih mengemban model pendidikan yang berbeda dengan lembaga pendidikan yang diterapkan di Indonesia khususnya. Bukan sengaja tampil berbeda, namun sejatinya yang diemban adalah konsep yang telah lama hadir kurang lebih 1500 tahun yang lalu. Konsep inilah yang kemudian diterapkan sehingga menghasilkan generasi terbaik hingga mampu menguasai dan memakmurkan bumi.
3. Metode dan Proses Pembelajaran Kuttab
Lembaga pendidikan yang menerapkan kegiatan belajar dan mengajar ataupun dalam proses pembelajaran adalah suatu bentuk pengimplementasian kurikulum yang isinya merupakan keseluruhan proses belajar, pembentukan kompetensi, dan karakter peserta didik yang direncanakan.17 Oleh karena itu pembelajaran dalam hal ini merupakan proses interaksi dari seorang pendidik kepada peserta didik serta lingkungannya agar memperoleh perubahan yang mana dalam proses interaksinya akan banyak faktor yang mempengaruhi
15 M. Idris, “Institusi Pendidikan Islam Sebelum Madrasah: masjid dan kuttab,” Jurnal Tarbiyah, Vol. 6 No. 2 (Februari, 2017)
16 Chaerudin B, “Pendidikan Islam Masa Rasulullah SAW,” Jurnal Diskursus Islam, Vol. 1 No.
3 (2013)
17 Mulyasa, Pengembanagan Implementasi Kurikulum 2013 (Bandung:2017), 128
18
perubahan baik itu faktor internal pada individu peserta didik maupun eksternal yang dating dari lingkungan.
Pada umumnya, pembelajaran mencangkup beberapa kegiatan mulai dari kegiatan awal yaitu pembukaan , kegiatan inti yaitu pembentukan kompetensi dan karakter, serta kegiatan akhir yaitu penutup. Agar lebih mudah untuk dipahami maka akan diuraikan penjelasan kegiatan pembelajaran pada sebuah lembaga pendidikan menurut pengembangan implementasi kurikulum 2013 yaitu:
a. Kegiatan awal atau pembukaan menurut implementasi kurikulum 2013 yaitu mencangkup pembinaan keakraban dan pre-test. Tujuan dari kegiatan pembinaan keakraban ini adalah untuk menciptakan iklim yang kondusif untuk peserta didik dalam pembentukan kompetensi, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara fasilitator dalam hal ini yaitu guru dengan peserta didik. Selain untuk menciptakan iklim kondusif pembinaan keakraban ini bertujuan juga untuk mengkondisikan peserta didik agar siap dalam menerima pembelajaran. Pada kegiatan awal ini pun telah disebutkan mengenai pre-test yaitu setelah kegiatan pembinaan keakraban dilakukan maka lanjut dengan kegiatan pre-test yang mana pre-test ini memiliki beberapa fungsi diantaranya : a) untuk mempersiapkan peserta didik dalam proses belajar, dengan pre-test pikiran peserta didik akan terfokus pada soal-soal yang harus dijawab. b) untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini bisa dilakukan dengan membandingkan hasil pre- test dengan post-test. c) untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki peserta didik mengenai bahan ajar yang akan dijadikan topik dalam pembelajaran. d) untuk mengetahui dari mana seharusnya proses pembelajaran dimulai, tujuan mana yang telah dikuasai peserta didik,tujuan mana yang perlu mendapatkan penekanan dan perhatian khusus.
b. Kegiatan inti atau pembukaan kompetensi dan karakter yang mencakup penyampaian informasi, menyampaikan, dan membahas
19
materi juga berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab peserta didik dengan ditandai keikutsertaan pendidik didalamnya (participative teaching and learning). Dalam pelaksanaan kegiatan ini peserta didik di bantu oleh pendidik. Adapun prosedur yang harus ditempuh dalam pembentukan kompetensi dan karakter adalah sebagai berikut: a) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) oleh guru berdasarkan kompetensi dasar dan standar materi, b) guru memberikan materi secara logis dan sistematis serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya sampai materi tersebut benar-benar dikuasai, c) guru memberikan materi pembelajaran atau sumber belajar kepada peserta didik, jika di perpustakaan tidak tersedia maka guru memfotokopi materi tersebut, d) guru membagikan lembaran kegiatan siswa tentang materi yang disampaikan dan telah dijelaskan guru. e) guru memantau kegiatan peserta didik dalam mengerjakan lembaran kegiatan sekaligus memberikan bantuan dan arahan, f) setelah selesai guru meminta peserta didik menukar lembar tugas kepada teman sebangkunya untuk dikoreksi bersama dengan arahan guru, dan g) kekeliruan serta kesalahan diperbaiki oleh peserta didik dengan arahan guru dan jika ada yang kurang jelas guru mempersilahkan peserta didik bertanya.
c. Kegiatan akhir atau penutup pada umumnya dilakukan dengan memberikan tugas, dan post-test. Tugas yang diberikan merupakan tindak lanjut dari pembelajaran inti atau pembentukan kompetensi dan karakter. Fungsinya adalah: a) untuk mengetahui tingkat penguasaan terhadap kompetensi yang telah ditentukan, b) untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai peserta didik, c) untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti remedial dan peserta didik yang perlu mengikuti pengayaan, dan d) sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap komponen modul dan proses pembelajaran yang dilakukan sebelumnya.18
18 Ibid, 129
20
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwasanya Kuttab memiliki desain kurikulum yang telah dijelaskan sebelumnya maka, ada beberapa aspek objek penelitian yang akan digali oleh peneliti terkait masalah yang berhubungan dengan kurikulum Kuttab yaitu:
Lembaga pendidikan Islam Kuttab pada masa klasik terbagi menjadi dua yaitu: pertama, kuttab berfungsi mengajarakan baca tulis dengan teks dasar puisi-puisi arab bukan dari Al-quran karena diyakini bahwa dengan tindakan menghapus lafal Allah berarti menghina dan merendahkan. Kemudian kedua, kuttab berfungsi sebagai pengajaran Al-qur’an dan dasar – dasar agama Islam, untuk model kuttab yang kedua ini pengajaran Al-qur’an sebagai teks baru dimulai setelah jumlah peserta didik yang pandai menghafal Al-qur’an telah banyak.19
Metode dan proses pembelajaran, dimana sebelum memasuki ruang belajar di kuttab para pendidik melakukan metode pada peserta didiknya di semua jenjang nya yaitu seperti, ikrar, pemberian mufrodat atau kosa kata dan juga doa sebelum masuk kelas. Hal ini dilakukan agar peserta didik mulai terbiasa dengan hal yang baik dan juga untuk memberikan tambahan pengetahuan pada pembiasaan seperti pemberian mufrodat atau kosa kata dan doa sebelum masuk kelas termasuk juga adalah doa sebelum belajar.
Metode pembiasaan yang dilakukan di kuttab Al- Fatih Malang tidak hanya saat sebelum masuk kedalam kelas, akat tetapi juga saat mengajarkan mata pelajaran seperti Al- Quran diterapkan metode pembiasaan juga, dengan memurojaah atau mengulang hafalan sebelumnya dan yang akan diajarkan, karena dengan pembiasaan yang dilakukan menurut Syarbini akan membawa kegemaran kebiasaan sehingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kepribadian peserta didik.20
4. Evaluasi Pembelajaran Kuttab
Secara umum, evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum apakah
19 Moh. Toriqul C, “Kuttab Lembaga Pendidikan Islan Klasik,” Al-Murabbi, Vol. 1 No. 2 (Januari, 2015)
20 Nurul Ihsan, Nina Kurnia, “Hubungan Metode Pembiasaan dalam Pembelajaran Terhadap Disiplin Anak Usia Dini,” JURNAL ILMIAH POTENSIA, Vol. 3 No. 1 (2018)
21
akan direvisi atau diganti. Sementara itu, penelitian memiliki tujuan yang lebih luas daripada evaluasi, yaitu mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan data untuk menguji teori atau membuat teori baru. Evaluasi kurikulum sangatlah penting dilakukan karena evalusi dalam kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas, data efisien kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai, dan penggunaan sumber daya, yang mana informasi ini sangatlah berguna sebagai bahan pembuat keputusan apakah kurikulum masih akan tetap dijalankan, tetapi perlu revisi ataukah kurikulum harus diganti dengan kurikulum yang baru. Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, dan kebutuhan pasar yang berubah.
Evaluasi kurikulum dapat menyajikan bahan informasi mengenai area-area kelemahan kurikulum sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan menuju yang lebih baik. Evaluasi ini dikenal dengan evaluasi formatif.
Evaluasi ini biasanya dilakukan waktu proses berjalan. Evaluasi kurikulum juga dapat dinilai kebaikan kurikulum itu apakah kurikulum tersebut masih tetap dilaksanakan atau tidak, yang dikenal sebagai evaluasi sumatif.21
Dalam rangka memberikan hasil yang lebih efektif, efisien dan juga optimal dalam komponen yang terdapat pada kurikulum yang dirancang maka, ada bahan evaluasi yang tentunya dibutuhkan untuk meningkatkan dan juga mengarahkan tujuan pendidikan yang lebih baik melalui kurikulum. Diantara peningkatan yang diinginkan setelah terlaksanakan nya kurikulum adalah, peningkatan efisiensi sumber daya manusia seperti pendidik maupun tenaga kependidikan, sarana dan prasarana sekolah sampai pada mata pelajaran yang diajarkan di kuttab Al- Fatih Malang. Evaluasi yang dilakukan disesuaikan pula dengan kebutuhan lembaga, peserta didik, lingkungan sekitar dan juga orang tua wali.
Lembaga pendidikan di haruskan memberikan perlakuan yang semestinya terhadap ketuntasan belajar peserta didiknya pada proses pembelajaran. Begitu pula dengan kurikulum perlu memberikan ketetapan kriteria hasil belajar demi keberhasilan kurikulum yang dijalankan dengan beberapa kriteria, di antara kriteria yang dijalankan adalah, kriteria jangka pendek yang mana sekurang
21 Rusman, Manajemen Kurikulum (Jakarta:2009),119
22
kurangnya peserta didik memahami isi materi yang diterima saat pembelajaran sampai 75%, kemudian kriteria jangka menengah yaitu setidaknya ada umpan balik yang didapatkan oleh peserta didik. Kemudian yang terakhir adalah kriteria jangka panjang yaitu adanya peningkatan mutu pendidikan, peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan lembaga pendidikan22 khususnya kuttab Al- Fatih seperti yang dijelaskan sebelumnya diatas.
D. Implementasi Kurikulum Pendidikan Kuttab Al-Fatih
Untuk membantu terbentuknya generasi baru dalam pembelajaran al-Qur’an demi terciptanya muslim sejati dan manusia yang lebih baik, guru serta orang tua dibebani sebuah tanggung jawab kepada setiap anak didiknya untuk mengajarkan al-Qur’an sedini mungkin. Pembelajaran al-Qur’an dimulai dengan menanamkan pemahaman terkait tajwid, yang berarti dalam hal ini mengajarkan terlebih dahulu cara mengucapkan dan melafalkan, untuk kemudian selanjutnya membaca dengan benar. Dalam hal ini tajwid hanya bisa dikualifikasi oleh guru al-Qur’an. Karena tanpa pembelajaran yang tepat oleh para ahli di bidang tajwid yang dalam hal ini adalah guru maka, seorang peserta didik tidak akan dapat membaca al-Qur’an dengan baik dan lancar.23
Masing-masing pendidikan memiliki karakter yang berbeda pada setiap materi pembelajarannya, baik itu terkait dengan standar kompetensi lulusan maupun standar konten. Standar kompetensi lulusan menyajikan kerangka konseptual pada target pembelajaran yang ingin dicapai. Sedangkan pada standar konten menyajikan kerangka konseptual terkait dengan aktivitas dan pembelajaran yang diturunkan oleh tingkatan kompetensi dan ruang lingkup materi.24
Implementasi dari kurikulum lembaga pendidikan islam kuttab al-Fatih Malang ini memiliki setidaknya 4 cara pengimplementaisan diantaranya yang pertama, dengan tujuan mencetak generasi gemilang di usia muda diharapkan mampu mewujudkan peserta didik yang cakap dalam menghafal al-Qur’an,
22 Mulyasa, Pengembanagan Implementasi Kurikulum 2013 (Bandung:2017), 132
23 Halim Tamuri, et al., “The Study of Quranic Teaching and Learning: United Kingdom Experience,” Mediterranean Journal of Social Sciences MCSER Publishing, Vol. 5 No. 16 (Juli, 2014), 313-317
24 Zalik Nuryana, “Curriculum 2013 and The Future of Islamic Education in Indonesia,”
International Seminar on Islamic Education 2017, (April, 2017), 257-270
23
memahami peradaban dan dapat hidup dengan mandiri. Kemudian kedua, implementasi kurikulum pada isi materi kuttab ialah kurikulum iman dan al- Qur’an. Ketiga, menggunakan metode pembiasaan. Dan yang keempat, evaluasi tes dan non-tes yang diambil setiap hari refleksi, kehadiran, dan pekerjaan rumah.