OLEH:
SITI HARDIYANTI SIBAGARIANG 152101043
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Diploma III
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEUANGAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
yang telah memberikan pengetahuan, pengalaman, kekuatan dan kesempatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini yang berjudul
“Analisis Rasio Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan pada PT Persada Alam Jaya Periode 2014-2016”.Tugas Akhir ini merupakan syarat wajib bagi setiap mahasiswa agar dapat menyelesaikan Program Studi Diploma III Keuangan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatra Utara.
Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis banyak mendapat bimbingan dan arahan dari berbagai pihak sehingga pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ramli SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatra Utara.
2. Bapak Drs. Raja Bongsu Hutagalung, M.Si., selaku Ketua Program Studi Diploma III Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatra Utara.
3. IbuYasmin Chairunisa Muchtar, SP., MBA., selaku Sekeretaris Program Studi Diploma III Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatra Utara.
4. Ibu Inneke Qamariah, SE.,M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang selalu memberikan saran-saran serta petunjuk dan bimbingan kepada penulis.
6. Seluruh Dosen Pengajar dan Pegawai di fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatra Utara.
7. Teristimewa kepada kedua orang tua penulis, yaitu Ayahanda tercinta Abdul Gafur Sibagariang dan Ibunda tercinta Jarminarnis serta yang telah memberikan segalanya kepada penulis, dari kasih sayang, perhatian pengorbanan serta dorongan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatra Utara dan doa yang tiada hentinya kepada penulis dengan tulus dan ikhlas.
Atas bantuan dan dorongan tersebut, penulis hanya bisa berdoa semoga amal baik yang telah diberikan kiranya dibalas oleh Allah SWT, dan penulis berharap semoga Tugas Akhir ini bermanfaat bagi semua pihak.
Medan, juli 2018
Peneliti
Siti Hardiyanti Sibagariang
152101043
DAFTAR TABEL ……… iv
DAFTAR GAMBAR ………... v
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ………. 1
1.2 Rumusan Masalah ……… 7
1.3 Tujuan Penelitian ……….. 7
1.4 Manfaat Penelitian ……… 7
1.5 Jadwal Kegiatan ………... 8
1.6 Sistematika Penulisan ………... 8
BAB II PROFIL PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Singkat ………. 10
2.2 Visi dan Misi Perusahan ………... 11
2.3 Struktur Organisasi ………... 12
2.4 Job Description ………. 13
2.5 Jaringan Usaha Kegiatan ……….. 17
2.6 Kinerja Usaha Terkini ……….. 18
2.7 Rencana Kegiatan ………. 18
BAB III PEMBAHASAN 3.1 Laporan Keuangan Perusahaan ………. 21
3.2 Jenis-jenis Laporan Keuangan ……….. 26
3.3 Rasio-rasio Keuangan ………... 28
3.4 Keunggulan Rasio Keuangan ……… 29
3.5 Jenis-jenis Rasio keuangan ……… 30
3.6 Penyajian Laporan Keuangan ……… 36
3.7 Analisis Rasio Keuangan Perusahaan ……… 39
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan ………. 54
4.2 Saran ………... 55
DAFTAR PUSTAKA ……… 56
LAMPIRAN ………... 57
2014-2015………. 6
2.1 Jadwal Observasi Tugas Akhir …...……… 8
3.1 Standar Industri Rasio Keuangan………... 35
3.2 Rasio Likuiditas akhir tahun 2014 hingga 2016………... 42
3.3 Rasio Profitabilitas akhir tahun 2014 hingga 2016………..….. 45
3.4 Rasio Leverage akhir tahun 2014 hingga 2016…………..……..….. 48
3.5 Rasio Aktivitas akhir tahun 2014 hingga 2016……...……….... 52
3.1 Neraca PT Persada Alam Jaya ……… 36 3.2 Laporan Laba Rugi PT Persada Alam Jaya ……….……..………… 37 3.3 Laporan Arus Kas PT Persada Alam Jaya ……….…… 38 3.4 Laporan Perubahan Ekuitas PT Persada Alam Jaya ……… 39
1.1 Latar Belakang
Masalah keuangan merupakan salah satu masalah yang sangat vital bagi perusahaan dalam perkembangan bisnis di semua perusahaan. Salah satu tujuan utama didirikannya perusahaan adalah untuk memperoleh keuntungan yang maksimal. Namun berhasil tidaknya perusahaan dalam mencari keuntungan dan mempertahankan perusahaannya tergantung pada manajemen keuangan.
Perusahaan harus memiliki kinerja keuangan pada manajemen keuangan yang sehat dan efisien untuk mendapatkan keuntungan atau laba. Oleh sebab itu,kinerja keuangan merupakan gambaran dari pencapaian keberhasilan perusahaan dapat diartikan sebagai hasil yang telah dicapai atas berbagai aktivitas yang telah dilakukan. Dapat dijelaskan bahwa kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar (Fahmi, 2012:2).
Setiap perusahaan yang didirikan dalam bentuk perusahaan dagang,jasa atau industri, baik dalam skala besar maupun kecil, mempunyai tujuanuntuk mendapatkan keuntungan (profit) yang sebesar-besarnya dan menjamin kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan datang. Terlebih lagi dalam situasi globalisasi seperti masa sekarang ini, perusahaan harus mampu bersaing dengan perusahaan pesaingnya agar dapat bertahan. Perusahaan yang berdirijuga harus memberikan informasi dan laporan akan seluruh kegiatan operasi
perusahaan yang dilakukannya dalam satu periode tertentu baik itu mengenai kinerja maupun keuangannya kepada pihak-pihak yang memerlukannya.Kinerja atau performance merupakan sebuah penggambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkansasaran, tujuan, visi, dan misi organisasi yang dituangkan dalam suatu perencanaan strategis suatu organisasi (Moeheriono, 2012:95).
Perusahaan sebagai salah satu bentuk organisasi pada umumnya memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai dalam usaha untuk memenuhi kepentingan para anggotanya. Keberhasilan dalam mencapai tujuan perusahaan merupakan prestasi manajemen. Penilaian prestasi atau kinerja suatu perusahaan diukur karena dapat dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan baik pihak internal maupun eksternal. Rasio keuangan menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan (mathematical relationship), dengan menggunakan analisis berupa rasio maka dapat memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan posisi keuangan suatu perusahaan sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat untuk mencapai tujuannya (Munawir, 2010:64).
Perencanaan yang tepat adalah kunci keberhasilan seorang manajer.
Perencanaan yang baik harus bisa dihubungkan dengan kekuatan dan kelemahan perusahaan itu sendiri. Salah satu analisis untuk membuat perencanaan dan pengendalian keuangan yang baik adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan. Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen
dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau antar komponen yang adadi antara laporan keuangan (Kasmir, 2012:104).
Dari pendapat tersebut dapat diketahui bahwa kinerja merupakan indikator dari baik buruknya keputusan manajemen dalam pengambilan keputusan.
Manajemen dapat berinteraksi dengan lingkungan internal maupun eksternal melalui informasi. Informasi tersebut lebih lanjut dituangkan atau dirangkum dalam laporan keuangan perusahaan.
Perusahaan perlu melakukan analisis laporan keuangan karena laporan keuangan digunakan untuk menilai kinerja perusahaan, dan digunakan untuk membandingkan kondisi perusahaan dari tahun sebelumnya dengan tahun sekarang apakah perusahaan tersebut meningkat atau tidak sehingga perusahaan mempertimbangkan keputusan yang akan diambil untuk tahun yang akan datang sesuai dengan kinerja perusahaannya.
Pada umumnya laporan keuangan itu terdiri dari neraca dan perhitungan laba-rugi serta laporan perubahan ekuitas. Neraca menunjukan/menggambarkan jumlah aset, kewajiban dan ekuitas dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu.
Sedangkan perhitungan (laporan) laba-rugi memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta beban yang terjadi selama periode tertentu, dan laporan perubahan ekuitas menunjukan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan ekuitas perusahaan (Munawir, 2010:5).
Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba-rugi, atau hasil
usaha, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, laporan posisi keuangan (Harahap, 2009:105).
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan untuk perusahaan terdiri dari laporan-laporan yang melaporkan posisi keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu, yang dilaporkan dalam neraca dan perhitungan laba-rugi serta laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas, dimana neraca menunjukkan jumlah aset, kewajiban dan ekuitas perusahaan.
Laporan laba-rugi menunjukkan hasil operasi perusahaan selama periode tertentu.
Sedangkan laporan perubahan ekuitas menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan ekuitas perusahaan.
Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengetahui tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat risiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan (Hanafi, 2009:5).
Analisis laporan keuangan mengunakan perhitungan rasio-rasio agar dapat mengevaluasi keadaan financial perusahaan dimasa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Rasio dapat dihitung berdasarkan sumber datanya yang terdiri dari rasio-rasio neraca yaitu rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca, rasio-rasio laporan laba-rugi yang disusun dari data yang berasal dari perhitungan laba-rugi. Laporan keuangan perlu disusun untuk mengetahui apakah kinerja perusahaan tersebut meningkat atau bahkan menurun dan didalam menganalisis laporan keuangan diperlukan alat analisis keuangan, salah satunya adalah dengan menggunakan rasio-rasio keuangan.
Rasio keuangan dapat digolongkan atas landasan yang berbeda, tergantung sejauh mana rasio keuangan tersebut bermanfaat bagi pemakainya dalam menganalisis dan mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan tersebut. Rasio rasio yang dapat digunakan antara lain adalah Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, Rasio Aktivitas, dan Rasio Profitabilitas.
Analisis rasio keuangan adalah kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainya (Kasmir, 2016:104). Jadi yang dimaksud analisis rasio keuangan itu dapat berguna untuk menentukan kesehatan atau kinerja keuangan dalam perusahaan dengan baik pada saat sekarang maupun di masa yang akan datang sehingga sebagai alat ukur untuk menilai posisi keuangan perusahaan dalam satu periode tertentu untuk mengetahui kekayaan yang dimiliki perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangannya.Laporan keuangan merupakan produk dari manajemen dalam rangka mempertanggungjawabkan (stewardship) pengunaan sumber daya dan sumber dana yang dipercaya kepadanya (Syahyunan, 2013:25).
Kinerja keuangan suatu perusahaan akan dapat diketahui apabila perusahaan menyusun laporan keuangan yang akurat, karena dari laporan keuangan akan dapat diketahui kinerja perusahaan, baik dari laporan neraca maupun laporan laba rugi. Oleh karena itu, kinerja keuangan suatu perusahaan sangat ditentukan oleh laporan keuangan yang disusun dan disajikan perusahaan.
Laporan keuangan yang disajikan tidak akurat akan menyebabkan kinerja perusahaan juga tidak akurat.
Tabel 1.1
Ikhtisar Data Keuangan PT Persada Alam Jaya Tahun 2014, 2015 dan 2016
Tahun Total Aset Lancar
Total Aset Tidak Lancar
Hutang Lancar Ekuitas Laba Bersih
2014 1.151.821.839 23.346.340.487 24.745.478.045 (247.315.719) (870.963.308) 2015 14.407.805.151 66.792.863.440 66.064.674.167 14.595.994.424 (156.689.857) 2016 59.560.329.887 130.778.339.816 49.604.674.167 140.929.147.278 (916.847.146)
Sumber: PT Persada Alam Jaya(Tahun 2014, 2015 dan Tahun 2016)
Tabel 1.1, Berdasarkan data diatas diperoleh gambaran perubahan posisi keuangan PT Persada Alam Jaya pada tahun-tahun tersebut.
Perubahan posisi keuangan tersebut belum cukup untuk menjelaskan perubahan kinerja perusahaan disetiap tahunnya. Diperlukan analisis yang lebih spesifik untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang peningkatan maupun penurunan kinerja perusahaan disetiap tahunnya.
Untuk hal ini digunakan suatu pembanding yang disebut dengan rasio keuangan. Rasio keuangan menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan antara laporan keuangan yang satu dengan yang lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan. Dengan penyederhanaan ini, penulis dapat menilai secara cepat hubungan antara laporan keuangan yang satu dengan yang lain tersebut dan dapat memberikan suatu indikasi mengenai kondisi keuangan melalui laporan keuangan perusahaan.
PT Persada Alam Jaya tidak lepas dari usaha yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan dalam menghasilkan efektifitas dan efisiensi pengelolaan keuangan. PT Persada Alam Jaya dalam mengetahui kondisi keuangan
perusahaannya perlu adanya penilaian kinerja keuangan dengan menggunakan berbagai macam rasio, yaitu rasio likuiditasdan rasio profitabilitas untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk masa yang akan datang.Dari latar belakang masalah tersebut maka penulis menyusun Tugas Akhir dengan judul “Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Perusahaan Pada PT Persada Alam Jaya Periode 2014-2016”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana kinerja keuangan PT Persada Alam Jaya Tahun 2014, 2015 dan 2016 berdasarkan analisis Rasio keuangannya?”.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja keuangan PT Persada Alam Jaya Tahun 2014, 2015 dan 2016 berdasarkan Rasio keuangan.
1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi penelitian
Untuk sarana menambah ilmu pengetahuan dan penerapan teori yang diperoleh dengan praktek yang sesungguhnya.
2. Bagi perusahaan
Dipergunakan sebagai bahan masukkan dalam pengambilan keputusan dan sebagai bahan pertimbangan dalam memutuskan kebijaksanaan yang diambil di masa yang akan datang, sehingga diharapkan perusahaan akan terus mengalami perkembangan yang lebih baik.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Untuk dapat dijadikan sebagai referensi dalam menghadapi masalah yang sama dan sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan.
1.5 Jadwal Kegiatan
Penelitian ini dilakukan oleh penulis pada PT Persada Alam Jaya Jambi Desa Suban, Batang Asam. Penelitian berlangsung mulai tanggal 1 April 2018 sampai 30 Juni 2018, dapat dilihat dari Tabel 1.2 berikut.
Tabel 1.2
Jadwal Kegiatan Observasi Tugas Akhir
No Kegiatan
April Mei Juni
Minggu Ke- Minggu Ke- Minggu Ke- I II III IV I II III IV I II III IV 1. Persiapan
2. Pengumpulan Data 3. Penulisan
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan tugas akhir ini terdiri dari 4 bab, antara lain:
BAB I PENDAHULUAN
Menjelaskan mengenai Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II : PROFIL PERUSAHAAN
Dalam bab ini menjelaskan mengenai Sejarah, Visi, Misi, Struktur Organisasi, Job Description, Jaringan Usaha Kegiatan, Kegiatan Usaha Terkini dan Rencana Kegiatan.
BAB III : PEMBAHASAN
Dalam bab ini memaparkan dan menganalisis data-data yang didapatkan dari hasil pengujian.
BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab ini penulis memberikan kesimpulan dan saran yang akan diajukan untuk pengembangan proses pengolahan data di PT Persada Alam Jaya
BAB II
PROFIL PERUSAHAAN
2.1 Sejarah Singkat
Perusahaan PT Persada Alam jaya bergerak dalam usaha industri pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi crude oil palm (CPO) sehingga nama usaha dan kegiatan adalah pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (PMKS).
Kegiatan usaha perusahaan meliputi pengolahan perkebunan kelapa sawit dan operasi pabrik pengolahan inti sawit. Perkebunan sawit, pabrik dan tanaman terletak di provinsi jambi. Produk perusahaan meliputi minyak sawit mentah, inti sawit, dan minyak inti sawit.
Lokasi kegiatan pembangunan dan operasional PMKS PT Persada Alam Jaya terletak di RT 09 Dusun Suban II Desa Suban Kecamatan Batang Asam Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.
Luas area untuk pembangunan PMKS, kantor, IPAL, mess karyawan, fasilitas umum dan ruang terbuka hijau ± 21 Ha. Pembangunan area tersebut adalah kantor pabrik 200 m2, bangunan pabrik 5.505 m2, bangunan limbah 24 m2, mess direksi 100 m2, rumah manajer 85 m2 rumah assisten 700 m2 rumah mandor 192 m2, rumah karyawan 2.400 m2.
PT Persada Alam Jaya mempunyai waduk berbentuk trapesium berukuran 71,5 m x 242 m; 102 m x 317 m, kedalaman waduk 7 m, dengan demikian volume waduk adalah 169.726,4 m3. Sisa lahan digunakan untuk jalan, areal konservasi dan penghijauan sekitar lokasi pabrik.
Kapasitas PMKS terpasang direncanakan 45 ton TBS/jam. Pemanfaatan litrik/energy 2500 KVA yang bersumber dari generator, pemakaian oil/pelumas 200 liter/minggu, sumber air batu untuk kegiatan pabrik, domestic dan air minum bersumber dari air sungai-sungai kecil/parit yang ada disekitar pabrik dan dari air tanah yang akan ditampung pada waduk (volume waduk adalah 169.726,4 m3).
2.2 Visi dan Misi Perusahaan Visi Perusahaan
Menjadi perusahaan berwawasan nasional yang membangun Indonesia, hebat dan sukses di perkebunan kelapa sawit yang bereputasi dan berkontribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Misi perusahaan
1. Menyediakan produk kelapa sawit dan turunannya yang berkualitas dan berwawasan lingkungan.
2. Menjadi perusahaan yang hebat dengan cara membangun system jalur ganda dalam organisasi orang yang tepat dan sistem yang baik.
3. Membangun budaya disiplin dan sumber daya manusia pembelajaran untuk memaksimalkan kekuatan karyawan dan organisasi.
4. Memiliki kekuatan seperti perusahaan multinasional namun dengan kelincahan seperti sebuah perusahaan kecil.
5. Menjunjung tinggi nilai-nilai professionalism dan tata kelola perusahaan yang baik.
6. Secara konsisten memberikan keuntungan diatas standart pasar atas dana pemegang saham.
2.3 Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi PT Persada Alam Jaya mengunakan sistem organisasi garis dan staft. Berikut ini dapat dilihat susunan atau struktur organisasi PT Persada Alam Jaya.
STRUKTUR ORGANISASI PT PERSADA ALAM JAYA
Sumber: PT Persada Alam Jaya (2017)
Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT Persada Alam Jaya
Struktur organisasi PT Persada Alam Jaya adalah struktur organisasi fungsional yang didalamnya terdapat pembagian kerja berdasarkan fungsinya.
Dalam kegiatan operasional PT Persada Alam Jaya dikelola oleh Manajer Keuangan, Manager Sumber Daya Manusia dan Manager Operasional yang bertanggung jawab terhadap General Manager Operasional/pabrik.
DIREKTUR SDM
DIREKTUR KEUANGAN
MANAGER KEUANGAN MANAGER SDM
ADM
MANDOR TRANSFORTASI
ASKEP KTU DIREKTUR
OPERASIONAL
MANAGER PABRIK
MANDOR BENGKEL KRANI KEPALA BENGKEL
KOMISARIS UTAMA
DEWAN KOMISARIS
DIREKTUR UTAMA
2.4 Job Description
Uraian tugas masing-masing di PT Persada Alam Jaya adalah sebagai berikut:
1. Direktur Utama
a. Direksi wajib dengan iktikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas pengurusan perseroan dengan tetap memperhatikan keseimbangan kepentingan seluruh pihak yang berkepentingan dengan aktivitas perseroan;
b. Mewakili perseroan, baik di luar pengadilan (perjanjian, kesepakatan, dan lain-lain) maupun di dalam pengadilan. Tidak ada pihak lain yang dapat bertindak atas nama perseroan kecuali diberikan kuasa oleh direksi yang berwenang;
c. Direksi dalam memimpin dan mengurus perseroan semata-mata hanya untuk kepentingan dan tujuan perseroan dan senantiasa berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas perseroan;
d. Direksi akan menghindari kondisi dimana tugas dan kepentingan perseroan berbenturan dengan kepentingan pribadi.
2. Direktur
a. Menjabarkan tujuan perusahaan ke dalam kebijakan perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang.
b. Meminta dan menerima laporan-laporan dari manajer serta mengevaluasi tindak lanjut yang diberikan.
c. Mengarahkan serta membina manager dalam melaksanakan dalam tugasnya seraca efektif dan efesien.
d. Mengesahkan sistem dan prosedur hubungan kerja yang jelas antara tiap-tiap bagian dalam perusahaan.
3. Dewan Komisaris
a. Melakukan pengawasan dengan iktikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan;
b. Tidak mempunyai kepentingan pribadi baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan direksi yang mengakibatkan kerugian; dan c. Telah memberikan nasihat kepada direksi untuk mencegah timbul atau
berlanjutnya kerugian tersebut.
4. Direktur Keuangan
Mengolah dan memberdayakan sumber daya keuangan secara tepat guna sehingga tercapainya cash flow, dan biaya operasional perusahaan yang efektif dan efisien
5. Direktur SDM (Sumber Daya Manusia)
a. Mengolah dan memberdayakan sumber daya manusia (SDM)
b. Sarana pendukung lainya sehingga tercapainya kinerja di bidang SDM atau Umum secara optimal.
6. Direktur operasiona
Melaksanakan pemantauan, analisa, evaluasi, memberikan keputusan dan terobosan-terobosan serta memberdayakan sumber daya perusahaan yang ada untuk mencapai kinerja yang optimal.
7. Manajer Pabrik (Operasional)
a. Mengawasi dan merencanakan pekerjaan seluruh operasional pabrik kelapa sawit supaya berlangsung efektif dan efisien.
b. Menilik pengembangan pabrik demi peningkatan daya produktifitasnya sehingga produktifitas unit perusahaan pun turut meningkat.
c. Mencapai target produksi sesuai dengan standar perusahaan.
d. Menuntut seluruh aspek produksi yang ada di pabrik melalui semua tenaga kerja yang berada di bawah naungannya.
8. Manajer Keuangan
a. Mengkoordinir penyelenggaraan akuntasi seracara tertib dan dapat dipertanggung jawabkan.
b. Melaksanakan kebijakan perusahaan dalam bidang akuntansi dan keuangan.
c. Mengawasi kegiatan karyawan bagian akuntansi dan keuangan dalam pelaksanaan tugas.
d. Mengatur kegiatan yang berhubungan dengan perbankan dan perpajakan.
9. Manajer Sumber Daya Manusia (SDM)
a. Mengawasi pelaksanaan pencairan, seleksi, penerimaan, penempatan pegawai pada perusahaan.
b. Menjaga dan mengawasi kedipsiplinan karyawan.
c. Mengawasi dan mengotorisasi pengobatan karyawan sesuai dengan ketentuan peruasahaan.
d. Mengatur keperluan pembelian rumah tangga perusahaan.
10. Kepala Tata Usaha (KTU)
a. Melaksanakan semua sistem dan prosedur administrasi keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di lingkungan perusahaan.
b. Melaksanakan pemeriksaan rutin ke kantor gudang, bengkel, kamar mesin dan laboratorium, untuk memastikan bahwa pencatatan dan pelaporan data serta informasi mengenai produksi, tenaga kerja, persediaan dan pemakaian bahan dan alat-alat, semua surat/dokumen dan bukti transaksi telah diadministrasikan dengan baik dan benar sesuai prosedur yang berlaku.
11. Asuhan Keperawatan (ASKEP)
Mengawasi kinerja staff mereka pada sebuah perkebunan kelapa sawit.
12. Kerani
Untuk mengambil data dan menyesuaikannya dengan fisiknya.
13. Kepala Bengkel
Mengatur dan bertanggung jawab merawat mesin-mesin pabrik, truk-truk dan kendaraan.
14. Mandor Bengkel
Bertugas dan bertanggung jawab merawat mesin-mesin pabrik, truk-truk dan kendaraan.
15. Admintrasi (ADM)
a. Mengatur kegiatan perkebunan (estate) dan memastikannya terpelihara dengan baik.
b. Bertanggung jawab atas pelaksanaan program anggaran untuk perkebunan
c. Memastikan alokasi tenaga kerja yang tepat, kendaraan perkebunan dan peralatan lainnya antara divisi yang berbeda dan kegiatan yang berbeda sehingga tingkat produktivitas yang optimum tercapai dari pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara maksimal.
16. Mandor Transportasi
Pengawas kegiatan truk-truk yang keluar dari pabrik ke lapangan dan mengecek kegiatan yang terjadi baik menyangkut sopir, kernet ataupun yang lainnya.
Suatu perusahaan dapat dikelola seraca terarah dan terkendali dengan baik, efektif jika terdapat distribusi tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang jelas dalam perusahaan tersebut.
Pola distribusi tugas, wewenang dan tanggung jawab dapat dilihat dari stuktur Organisasi perusahaan yang bersangkutan. Dengan adanya pelimpahan wewenang ini, setiap bagian dalam perusahaan wajib dipertanggungjawabkan hasil kerjanya kepada tingkat manajemen yang lebih tinggi, agar manajemen puncak dapat tetap mengawasi jalannya kegiatan operasional perusahaan.
Atas dasar kondisi Organisasi PT Persada Alam Jaya tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa struktur organisasi PT Persada Alam Jaya sudah memberikan otoritas dan tanggung jawab yang jelas antara manajemen puncak dengan manajemen bawah.
2.5 Jaringan Usaha Kegiatan
PT Persada Alam Jaya yang bergerak dalam usaha perkebunan kelapa sawit yang dilengkapi dengan sarana pengolahannya berupa pabrik kelapa sawit.
Kegiatan usaha perusahan PT Persada Alam Jaya terletak diatas luas areal lahan seluas ± 21 Ha terletak di RT 09 Dusun Suban II Desa Suban Kecamatan Batang Asam Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.
2.6 Kinerja Usaha Terkini
Kinerja usaha pada dasarnya merupakan tolak ukur dalam menilai suatu perusahaan baik atau tidak. Kinerja usaha dapat dilihat dari banyak factor dan tergantung dari sudut pandang pihak yang melakukan penilaian. Adapun kinerja usaha terkini yang akan maupun yang telah di capai oleh PT Persada Alam Jaya, antara lain:
1. PT Persada alam jaya mampu mengolah tandam buah segar (CPO) sebanyak 45 Ton TBS/jam menjadi CPO
2. PT Persada Alam Jaya memanfaatkan listrik/energy 2500 KVA yang bersumber dari generator, pemakaian oil/pelumas 200 liter/minggu
3. Sumber air baku untuk kegiatan pabrik, domestic dan air minum bersumber dari sungai-sungai kecil/parit yang ada di sekitar pabrik dan air tanah yang akan ditampung pada waduk (volume waduk 169.726,4 m3).
2.7 Rencana Kegiatan
Perusahaan PT Persada Alam Jaya bergerak dalam usahaindustri pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi clude oil palm (CPO) sehingga nama rencana usaha atau kegiatan adalah pabrik pengolah minyak kelapa sawit (PMKS).
a. Lokasi kegiatan pembangunan dan operasional PMKS PT Persada Alam Jaya terletak di RT 09 Dusun Suban II Desa Suban Kecamatan Batang Asam Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.
b. Sebelah Utara berbatasan dengan kebun sawit milik masyarakat dan hutan sekunder
c. Sebelah Selatan berbatasan dengan kebun sawit milik masyarakat dan Jalan Lintas Timur Riau-Jambi
d. Sebelah Timur berbatasan dengan kebun sawit milik masyarakat
e. Sebelah Barat berbatasan dengan kebun sawit milik masyarakat dan Jalan Lintas Timur Riau-Jambi.
Luas area untuk pembangunan PMKS, kantor, IPAL, mess karyawan, fasilitas umum dan ruang terbuka hijau ± 21 Ha Pembangunan area tersebut adalah kantor pabrik 200 , bangunan pabrik 5.505 , bangunan limbah 24 mess direksi 100 , rumah manajer 85 rumah assisten 700 rumah mandor 192 rumah karyawan 2.400
Kolam IPAL terdiri dari:
1. Cooling pond 2.645 2. Acidification fond 21.000 3. Anaerobic pond primery I 28.000 4. Anaerobic pond primery II 22.400 5. Anaerobic pond secondary 22.400 6. Aerobic pond 16.000 7. Facultative pond 20.800
Dengan demikian total volume kolam IPAL dalah 133.245
PT Persada Alam Jaya mempunyai waduk berbentuk trapesium berukuran 71,5 m x 242 m; 102 m x 317 m, kedalaman waduk 7 m. Dengan demikian volume waduk adalah 169.726,4 . Sisa lahan digunakan untuk jalan, area konservasi dan penghijauan sekitar lokasi pabrik.
Kapasitas PMKS terpasang direncanakan 45 ton TBS/jam. Pemanfaatan litrik/energy 2500 KVA yang bersumber dari generator, pemakaian oil/pelumas 200 liter/minggu, sumber air batu untuk kegiatan pabrik, domestic dan air minum bersumber dari air sungai-sungai kecil/parit yang ada disekitar pabrik dan dari air tanah yang akan ditampung pada waduk (volume waduk adalah 169.726,4 ).
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Laporan keuangan Perusahaan
Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi keuangan suatu perusahaan mengenai posisi keuangan apakah keuangan perusahaan dalam keadaan baik atau sebaliknya. Informasi dalam laporan keuangan ini dapat membantu pihak-pihak yang berkepentingan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Pengertian laporan keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) (2009:1).
Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja keaungan perusahaan tersebut (Fahmi, 2016:21).
Laporan keuangan meliputi bagian dari proses laporan keuangan.
Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas/laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.Laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu (Kasmir, 2016:7).
Suatu informasi yang menggambarkan kondisi laporan keuangan suatu perusahaan dan lebih jauh informasi tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan tersebut (Fahmi, 2012:21).
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Laporan keuangan pada umumnya meliputi Neraca, Laporan Laba/Rugi, Laporan Ekuitas Pemegang Saham, dan Laporan Arus Kas. Laporan Keuangan tersebut merupakan suatu bentuk laporan yang menggambarkan kondisi keuangan perusahaan, perkembangan perusahaan dan hasil usaha suatu perusahaan pada jangka waktu tertentu.
Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi kepada pihak yang membutuhkan tentang kondisi suatu perusahaan dari sudut angka-angka dalam satuan moneter menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pembuatan keputusan bisnis dan ekonomis oleh investor yang ada dan yang potensial, kreditor, manajemen, pemerintah dan pengguna lainnya (Fahmi, 2011:5).
Berdasarkan definisi diatas dapat ditarikesimpulan bahwa tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi kepada orang lain yang membutuhkan agar bisa menilai kondisi perusahaan dan bermanfaat bagi perusahaan dalam mengambil keputusan bisnis perusahaan.
Laporan keuangan merupakan bagian dari pelaporan keuangan.
Kelengkapan sebuah laporan keuangan antara lain:
1. Neraca
2. Laporan laba rugi
3. Laporan Ekuitas Pemegang Saham 4. Laporan Arus Kas
Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan maupu perkembangan perusahaan antara lain:
1. Pemilik perusahaan (pemegang saham)
a. Menilai posisi keuangan perusahaan dan pertumbuhannya b. Menilai prestasi atau hasil yang diperoleh manajemen c. Untuk mengetahui hasil deviden yang akan diterima
d. Sebagai dasar untuk memprediksi kondisi perusahaan dimasa datang dan mempertimbangkan menambah atau mengurangi investasi.
Sangat berkepentingan terhadap laporan tersebut, pemilik perusahaan akan dapat menilai sukses tidaknya manajer dalam memimpin perusahaan dan kesuksesan seorang manajer biasanya diukur dengan laba yang diperoleh perusahaan. Dengan kata lain laporan keuangan diperlukan oleh pemilik perusahaan untuk menilai kemungkinan hasil-hasil yang akan dicapai dimasa yang akan datang sehingga bisa menaksir bagian keuntungan yang akan diterima.
2. Manajemen perusahaan
a. Sebagai alat untuk mempertangungjawabkan pengolahan kepada pemilik atau pemegang saham
b. Mengukur tingkat efisiensi dan tingkat keuntungan perusahaan, devisi, bagian atau segmen
c. Menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan perlu tidaknya diambil kebijaksanaan baru
d. Memenuhi ketentuan dalam UU, peraturan, anggaran dasar, pasar modal, dan lembaga regulator lainnya.
Dengan mengetahui posisi keuangan perusahaan periode yang baru lalu akan dapat menyusun rencana yang lebih baik, memperbaiki sistem pengawasannya dan menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang lebih tepat.
Bagi manajemen yang penting adalah bahwa laba yang dicapai cukup tinggi, cara kerja efesien, aktifa aman dan terjaga baik, struktur permodalan sehat dan bahwa perusahaan mempunyai rencana yang lebih baik mengenai hari depan, baik di bidang keuangan maupun dibidang operasi.
3. Investor
a. Menilai kondisi keuangan dan hasil usaha perusahaan b. Menilai kemungkinan menanamkan dan dalam perusahaan c. Menilai kemungkinan menarik dana/investasi dari perusahaan
d. Menjadi dasar memprediksikan kondisi keuangan perusahaan dimasa yang akan datang
Banker maupun para kreditur lainnya sangat berkepentingan atau memerlukan laporan keuangan perusahaan dimana mereka menanamkan modalnya. Mereka ini berkepentingan terhadap prosepek-prospek dimana mendatang dan perkembangan perusahaan selanjutnya, untuk mengetahui kondisi kerja atau kondisi keuangan jangka pendek perusahaan tersebut.
Dari hasil analisa tersebut para investor, bankers dan para kreditur lainnya akan dapat menentukan langkah-langkah yang harus ditempuhnya.
4. Kreditur dan Bankers
a. Menilai kemampuan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas perusahaan sebagai dasar dalam pertimbangan keputusan kredit
b. Menilai sejauhmana perusahaan mengikuti perjanjian kredit yang disepakati c. Menilai kelayakan perusahaan untuk menerima kredit yang diluncurkan
Sebelum mengambil keputusan untuk memberi atau menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan perlu mengetahui terlebih dahulu posisi keuangan perusahaan yang bersangkutan, posisi atau keadaan keuangan perusahaan pemintaan kredit akan dapat diketahui melalui penganalisaan laporan keuangan perusahaan tersebut.
5. Pemerintah
Badan-badan pemerintahan tertentu, seperti kantor pelayanan pajak atau badan pengembangan pasar modal (Bapepan) berkepentingan terhadap laporan keuangan untuk menentukan besarnya pajak pengasilan yang harus ditanggung perusahaan dan menilai apakah perusahaan memerlukan bantuan atau tindakan lain dan sebagai dasar penetapan kebijakasanaa baru serta menilai kepatuhan perusahaan tehadap aturan yang ditetapkan.
Pemerintah sangat berkepentingan terhadap laporan perusahaan tersebut, disamping untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung perusahaan juga sangat diperlukan oleh biro pusat statistik, dinas perindustrian, perdagangan dan tenaga kerja untuk dasar perencanaan penerintah. Laporan keuangan akan sangat penting bagi buruh terutama bagi
perusahaan yang biasa memberikan bonus atau premi tiap-tiap akhir periode.
Jadi melalui laporan keuangan akan dapat dinilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendek, stuktur modal perusahaan, distribusi aktivanya, keefektifan penggunaan aktiva,
hasil usaha atau pendapatan yang telah dicapai, beban-beban tetap yang harus dibayar serta nilai-nilai buku tiap lembar saham perusahaan yang bersangkutan.
Dengan demikian laporan keuangan dapat dikatakan menjadi suatu titik tolak untuk menilai keadaan tubuh perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang, struktur modal perusahaan, distribusi daripada aktiva, keefektifan pengguna aktiva, hasil usaha yang telah dicapai, serta beban-beban tetap yang harus dibayar.
3.2 Jenis-jenis Laporan Keuangan
Berdasarkan cara penyajiannya, menurut PSAK No. 1 maka laporan keuangan terdiri dari: Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas Informasi, dan Catatan Atas Laporan Keuangan.
1. Neraca
Neraca merupakan salah satu laporan keuangan yang terpenting bagi perusahaan (Kasmir, 2012:30).
Neraca adalah ringkasan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu yang menunjukkan total aktiva dengan total kewajiban ditambah total ekuitas pemilik (Kasmir, 2012:30).
Neraca atau balance sheet adalah laporan yang menyajikan sumber-sumber ekonomis dari suatu perusahaan atau aktiva, kewajiban-kewajibannya atau utang, dan hak para pemilik perusahaan yang tertanam dalam perusahaan tersebut atau modal pemilik pada suatu saat tertentu (Munawir, 2002:39).
2. Laporan Laba Rugi
Laporan Rugi/Laba merupakan bagian dari laporan keuangan yang sangat penting (Raharjaputra, 2011:9). Format dasar dari laporan Rugi/Laba adalah:
Penjualan – Harga Pokok Penjualan – Biaya operasi = Rugi/Laba Laporan laba-rugi merupakan laporan keuangan yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode tertentu (Kasmir, 2012:29).
Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode tertentu (Kasmir, 2014:29). Selisih antara pendapatan dan biaya merupakan laba yang diperoleh atau rugi yang diderita perusahaan. Sedangkan Laporan laba rugi merupakan suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, rugi laba yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu (Munawir, 2010:26).
3. Laporan Ekuitas Pemegang Saham
Laporan ekuitas pemegang saham menyajikan perubahan-perubahan pada pos-pos ekuitas. Pada umumnya rincian pos-pos ekuitas, yaitu modal saham, tambahan modal disetor, laba ditahan, saham perbendaharaan (Syahrial dan Purba, 2013:7).
4. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan, baik yang berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kas (Kasmir, 2012:29).
Laporan arus kas adalah alat pembayaran yang dimiliki perusahaan dan siap digunakan untuk investasi maupun menjalankan operasi perusahaan setiap saat dibutuhkan (Rudianto, 2012:194).
Laporan keuangan disusun secara periodik dan periode pada umumnya
digunakan adalah periode tahunan yaitu mulai tanggal 1 Januari hingga 31 Desember. Periode tahunan tersebut disebut periode kalender atau tahun buku.
Laporan keuangan menggambarkan posisi keuangan perusahaan serta menunjukkan pencapaian perusahaan dalam periode tertentu. Melalui data-data yang disajikan di laporan keuangan dapat dikaji dan dinilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendek, struktur modal perusahaan, distribusi kepada aktivanya, hasil usaha atau laba yang telah dicapai, beban-beban tetap yang harus dibayar, serta nilai-nilai tiap lembar saham perusahaan yang bersangkutan.
Pada awalnya, laporan keuangan digunakan oleh perusahaan sebagai alat uji pekerjaan bagian pembukuan/akuntansi, tapi pada perkembangannya laporan keuangan juga digunakan sebagai dasar dalam menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan, menganalisa dan perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat.
3.3 Rasio Keuangan Perusahaan
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos-pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan berarti (Harahap, 2013:297).
Rasio keuangan ini hanya menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan antara pos tertentu dengan pos lainnya. Rasio keuangan adalah suatu kajian yang melihat perbandingan antara jumlah-jumlah yang terdapat pada laporan keuangan dengan mempergunakan formula-formula yang dianggap repsentatif untuk diterapkan (Fahmi, 2016:49).
Analisis rasio keuangan merupakan analisis yang paling sering dilakukan untuk menilai kondisi keuangan dan kinerja perusahaan dibandingkan dengan alat analisis lainnya (Hery, 2015:164).
3.4 Analisis Rasio Keuangan
Analisis Rasio keuangan adalah analisis yang paling popular untuk mengidentifikasi kondisi keuangan dan kinerja keuangan perusahaan. Disebut rasio karena yang dilakukan pada dasarnya adalah membandingkan (membagi) antara satu item tertentu dengan item lainnya dalam laporan keuangan. Namun rasio keuangan hanya merupakan suatu petunjuk mengenai kondisi keuangan suatu perusahaan, tidak merupakan gambaran lengkap mengenai kondisi keuangan perusahaan yang bersangkutan (Syahyunan, 2013:91).
Analisis rasio dapat digunakan untuk membimbing investor dan kreditor untuk membuat keputusan atau pertimbangan tentang pencapaian perusahaan dan prospek pada masa datang. Salah satu cara pemrosesan dan penginterpretasian informasi akuntansi, yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolut untuk menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu dengan angka yang lain dari suatu laporan keuangan (Wikipedia).
Analisis rasio keuangan menggunakan data laporan keuangan yang telah ada sebagai dasar penilaiannya. Meskipun didasarkan pada data dan kondisi masa lalu, analisis rasio keuangan dimaksudkan untuk menilai risiko dan peluang pada masa yang akan datang. Pengukuran dan hubungan satu pos dengan pos lain dalam laporan keuangan yang tampak dalam rasio-rasio keuangan dapat memberikan kesimpulan yang berarti dalam penentuan tingkat kesehatan keuangan suatu perusahaan. Tetapi bila hanya memperhatikan satu alat rasio saja tidaklah cukup, sehingga harus dilakukan pula analisis persaingan-persaingan yang sedang dihadapi oleh manajemen perusahaan dalam industri yang lebih luas, dan dikombinasikan dengan analisis kualitatif atas bisnis dan industri manufaktur, analisis kualitatif, serta penelitian-penelitian industri. rasio keuangan merupakan salah satu alat untuk menilai kinerja dan kondisi keuangan perusahaan (Sawir, 2009:6).
3.5 Jenis-jenis Rasio Keuangan 3.5.1 Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya (Harahap, 2013:301). Untuk dapat memenuhi kewajiban yang sewaktu-waktu, maka perusahaan harus mempunyai alat-alat untuk membayar yang berupa aset-aset yang jumlahnya harus lebih besar dari pada kewajiban-kewajiban yang harus segera dibayar berupa kewajiban-kewajiban lancar.
1) Current Ratio
Current ratio, menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi
kewajiban-kewajiban lancar. Semakin besar perbandingannya aktiva lancar dengan utang lancar, semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Current ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam likuiditas, sebaliknya current ratio yang terlalu tinggi juga kurang bagus, karena menunjukan banyak dana yang menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampuan perusahaan (Sawir, 2009:10).
Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Standar umum rata-rata industri minimal 200% , artinya dengan hasil rasio seperti itu, perusahaan sudah merasa berada di titik aman dalam jangka pendek (Kasmir,2013:135).
100%
Lancar x Hutang
Lancar Aktiva
ratio Current
2) Cash Ratio
Rasio ini menghitung kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan kas yang tersedia (Sawir, 2009:10).
Standar umum rata-rata industri adalah 100% . kondisi ini menunjukan bahwa perusahaan tidak harus menjual persediaan bila hendak melunasi hutang lancar, tetapi dapat menjual surat berharga atau penagih piutang (Kasmir,2013:138).
100%
Lancar x Hutang
Kas Ratio Cash
3.5.2 Rasio Leverage
Rasio ini menggambarkan hubungan antara utang perusahaan terhadap modal maupun aset. Rasio ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh utang atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh modal (Harahap, 2013:306).
1) Debt Ratio
Debt ratio, merupakan perbandingan antara total hutang dengan total
aktiva. Sehingga rasio ini menunjukkan sejauh mana hutang dapat ditutupi oleh aktiva. Debt ratio merupakan rasio yang memperlihatkan proporsi antara kewajiban yang dimiliki dan dan seluruh kekayaan yang dimiliki (Sawir, 2009:13).
Rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Apabila rasionya tinggi artinya pendanaan dengan utang semakin banyak, maka semakin sulit perusahaan untuk memperoleh pinjaman karena dikkawatirkan perusahaan tidak mampu menutupi utang- utangnya dengan aktiva yang dimilikinya.Standar pengukuran rata-rata industri adalah 35% (Kasmir,2013:156)
100%
Aktiva x Total
Utang Total
Ratio Debt
2) Debt to Equity Ratio
Rasio ini menggambarkan perbandingan hutang dan ekuitas dalam
perusahaan tersebut untuk memenuhi seluruh kewajibannya (Syahyunan, 2013:92).
Standar umum untuk rata-rata industri sebesar 90%, bila diatas rata-rata berarti perusahaan tersebut kurang baik (kasmir,2013:159).
100%
Total x
Utang Total
Equitas Ratio
Equity
Debt
3.5.3 Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang menggambarkan sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimilikinya guna menunjang aktivitas perusahaan, dimana pengguna aktivitas ini dilakukan secara sangat maksimal dengan maksud memperoleh hasil yang maksimal (Fahmi, 2012:77).
1) Total Assets Turnover
Rasio ini mengukur berapa kali total aktiva perusahaan menghasilkan volume penjualan. Total Asset Turnover (TATO)juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan penjualan (Sawir, 2009:15).
Rata-rata standar industri untuk rasio total asset turnover adalah 2 kali, jika dibawah standar berarti perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimiliki dan perusahaan diharapkan meningkatkan penjualan atau mengurangi sebagian aktiva yang kurang produktif (Kasmir,2013:185).
Aktiva Total
Penjualan TotalAssetsTurnover
2) Fixed Assets Turnover
Mengukur efektifitas penggunaan dana yang tertanam pada seluruh aset dalam menghasilkan penjualan (Syahyunan, 2013:92).
Rata-rata standar industri untuk rasio Fixed asset turnover adalah 5 kali, jika dibawah standar berarti perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimiliki (Kasmir,2013:185).
Bersih Tetap
Aktiva
Penjualan
Turnover Assets
Fixed
3.5.4 Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau seberapa efektif pengolahan perusahaan oleh manajemen (Syahyunan, 2013:92).
Pengembalian/imbalan atas investasi (Return On Investment/ROI) yaitu perbandingan antara laba dan biaya setelah bunga dan pajak (laba bersih/EAT) dengan total aktiva perusahaan. Standar umum rata-rata industri adalah 30% , jika dibawah rata-rata maka perusahaan tersebut kurang baik,demikian sebaliknya (Kasmir,2013:202).
100%
Aktiva x Total
Bersih/
Laba EAT
ROI
Tabel 3.1
Standar Industri Rasio Keuangan
No keterangan Rasio Yang Digunakan
Standar Industri
Rasio keuangan
keterangan
1 Rasio Likuiditas
Current Ratio 200 % Baik jika diatas standar rasio
Cash Ratio 100 % Baik jika diatas
standar rasio 2 Rasio
Leverage
Debt Ratio 35 % Baik jika dibawah
standar rasio Debt To Equity
Ratio
90 % Baik jika dibawah standar rasio 3 Rasio
Profitabilitas
Return On Invesment
30% Baik jika diatas standar rasio 4 Rasio
Aktivitas
Total asset turnover
2 kali Baik jika diatas standar rasio Fixed asset
turnover
5 kali Baik jika diatas standar rasio
Sumber : Kasmir (2013)
3.6 Penyajian Laporan Keuangan
PT Persada Alam Jaya NERACA
Per 31 Desember 2014-2016
Sumber: PT Persada Alam Jaya (Tahun 2014, 2015, dan Tahun 2016)
Gambar 3.1 Neraca PT Persada Alam Jaya
PER 31-12-2014 PER 31-12-2015 PER 31-12-2016
ASET aset lancar
kas dan setara kas 459.253.596 739.289.863 16.805.130.225
piutang dagang 0 2.492.552.485 4.620.461.361
persediaan 0 4.149.918.724 13.636.858.053
uang muka 0 40.974.000 9.845.000
pajak dibayar dimuka 692.568.243 6.743.496.833 24.211.702.298
lain - lain 0 241.573.246 276.333.050
jumlah aset lancar 1.151.821.839 14.407.805.151 59.560.329.987
aset tidak lancar
aset tetap - akumulasi penyusutan 836.370.520 66.558.675.290 130.311.320.685
proyek dalam penyelesaian 22.509.969.957 234.188.150 467.019.131
jumlah aset tidak lancar 23.346.340.487 66.792.863.440 130.778.339.816
JUMLAH ASET 24.498.162.326 81.200.668.591 190.338.669.803
KEWAJIBAN DAN EKUITAS kewajiban jangka pendek
hutang usaha 15.508.678.045 43.444.091.094 8.323.908.783
beban yang masih harus dibayar 0 151.000.000 16.000.000
deposit pelanggan 0 0 4.862.700.000
hutang pajak 0 6.715.461.265 25.295.703.872
hutang lain lain 230.000.000 1.287.321.808 161.209.870
hutang pemegang saham 10.006.800.000 15.006.800.000 10.750.000.000
jumlah kewajiban 24.745.478.045 66.604.674.167 49.409.522.525
EKUITAS
modal saham 1.250.000.000 16.250.000.000 143.500.000.000
saldo laba -1.497.315.719 -1.654.005.576 -2.570.852.722
jumlah ekuitas 247.315.719 14.595.994.424 140.929.147.278
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 24.498.162.326 81.200.668.591 190.338.669.803
PT Persada Alam Jaya LAPORAN LABA-RUGI Per 31 Desember 2014-2016
Sumber: PT Persada Alam Jaya (Tahun 2014,2015, dan Tahun 2016)
Gambar 3.2 Laporan Laba Rugi PT Persada Alam Jaya
PER 31-12-2014 PER 31-12-2015 PER 31-12-2016
PENJUALAN 0 67.154.612.626 226.664.860.721
BEBAN POKOK PENJUALAN 0 -62.710.470.695 -231.614.660.005
LABA KOTOR 0 4.444.141.931 13.050.200.716
BEBAN USAHA
beban admintrasi dan umum -540.163.780 -3.998.650.714 -11.132.321.918
LABA (RUGI) USAHA -540.163.780 445.491.217 1.917.878.798
PENDAPATAN (BEBAN) LAIN-LAIN
pendapatan lain-lain 563.969.144 885.797.903 127.452.598
beban lain-lain -894.788.672 -1.487.978.977 -994.794.292
jumlah pendapatan (beban) lain-lain -330.819.528 -602.181.074 -867.341.694
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK PENGHASILAN -870.983.308 -156.689.857 1.050.537.104
BEBAN PAJAK PENGASILAN 0 0 -1.967.384.250
LABA (RUGI) SETELAH PAJAK PENGHASILAN -870.983.308 -156.689.857 -916.847.146
PT Persada Alam Jaya LAPORAN ARUS KAS Per 31 Desember 2014-2016
Sumber: PT Persada Alam Jaya (Tahun 2014, 2015 dan Tahun 2016)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI PER 31-12-2014 PER 31-12-2015 PER 31-12-2016
laba (rugi) bersih -870.983.380 -156.689.857 -916.847.146
beban pajak penghasilan 0 0 -1.967.384.250
penyusutan 10.101.980 3.055.893.165 14.562.807.255
perubahan modal kerja:
penurunan (peningkatan) aset:
piutang dagang 0 -2.492.552.485 -2.127.908.876
persediaan 0 -4.149.918.724 -9.486.939.329
uang muka 0 -40.974.000 31.129.000
pajak dibayar dimuka 0 -6.050.928.590 -17.468.205.456
lain-lain 0 -241.573.246 -34.759.804
peningkatan (penurunan) pada liabilities jangka pendek
0 28.935.413.049 -35.120.182.311
hutang usaha 0 151.000.000 -135.000.000
beban yang masih harus dibayar 0 0 4.862.700.000
deposit pelanggan 0 6.715.461.265 18.580.242.607
hutang pajak 0 1.057.321.808 -1.126.111.938
hutang lain lain 0 5.000.000.000 -4.256.800.000
hutang pemegang saham 0 0 1.967.384.250
pembayaran pajak penghasilan
kas bersih yang diperoleh dari -860.881.400 31.782.452.385 -32.635.876.007
(digunakan untuk) aktivitas operasi
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
penambahan aset tetap 0 -68.778.197.935 -78.315.452.650
proyek dalam penyelesaian 0 22.275.781.817 -232.830.981
kas bersih yang diperoleh dari 0 -46.502.416.118 -78.548.283.631
(digunakan untuk) aktivitas investasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
setoran modal 0 15.000.000.000 127.250.000.000
kas bersih yang diperoleh dari 0 15.000.000.000 127.250.000.000
(digunakan untuk) aktivitas pendanaan
-860.881.400 280.036.267 16.065.840.362 KENAIKAN (PENURUNAN) VERSIH KAS DAN SETARA KAS BERSIH 459.535.596 459.535.596 739.289.863
SALDO KAS DAN SETARA KAS DIAWAL TAHUN -401.345.804 739.571.863 16.805.130.225
SALDO KAS DAN SETARA KAS DIAKHIR TAHUN
PT Persada Alam Jaya
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS Per 31 Desember 2014-2016
Sumber: PT Persada Alam Jaya (Tahun 2014,2015, dan Tahun 2016)
Gambar 3.4 Laporan Perubahan Ekuitas PT Persada Alam Jaya 3.7 Analisis Rasio Keuangan Perusahaan
3.7.1 Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya (Harahap, 2013:301).
1) Current Ratio
Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Standar umum rata-rata industri minimal 200% , artinya dengan hasil rasio seperti itu, perusahaan sudah merasa berada di titik aman dalam jangka pendek (Kasmir,2013:148).
100%
Lancar x Hutang
Lancar Aktiva
ratio Current
2014 =
x 100% = 4,65%
Modal Saham Tambahan Modal Disetor Saldo Laba Jumlah Ekuitas
Saldo Per 1 Januari 2014 1.250.000.000 - -626.332.411 623.667.587
Laba (Rugi) Bersih Tahun 2014 - - -870.983.308 -870.983.308
SALDO PER 31 DESEMBER 2014 1.250.000.000 - -1.497.315.719 -247.315.719
Penambahan Modal Saham 15.000.000.000 - -
Laba (Rugi) Bersih Tahun 2015 - - -156.689.857 -156.689.857
SALDO PER 31 DESEMBER 2015 16.250.000.000 - -1.654.005.576 14.595.994.424
Saldo - 127.250.000.000 - 127.250.000.000
Laba (Rugi) Bersih Tahun 2016 - - -916.847.146 -916.847.146
SALDO PER 31 DESEMBER 2016 16.250.000.000 127.250.000.000 -2.570.852.722 140.929.147.278
2015 =
x 100% = 21,63%
2016 =
x 100% = 120,54%
Berdasarkan perhitungan rasio lancar pada tahun 2014, perusahaan mampu menjamin setiap hutang lancar dengan 4,65% aktiva lancar, artinya perusahaan mampu membayar Rp 1 hutang lancar dengan Rp 0,046 aktiva lancar. Pada tahun 2015, perusahaan mampu menjamin setiap hutang lancar dengan 21,63% aktiva lancar, artinya perusahaan mampu membayar setiap Rp 1 hutang lancar dengan Rp 0,21 aktiva lancar. Dan Pada tahun 2016, perusahaan mampu menjamin setiap hutang lancar dengan 120,54% aktiva lancar, artinya perusahaan mampu membayar setiap Rp 1 hutang lancar dengan Rp 1,20 aktiva lancar.
Dari tahun 2014 sampai 2015 rasio perusahaan mengalami kenaikan sebesar 16,98%. Sedangkan pada tahun 2015 sampai 2016 rasio perubahan mengalami kenaikan sebesar 98,91%. Hal ini berarti, pada tahun 2014 dan 2015 perusahaan belum mampu membiayai utang lancarnya sedangkan pada tahun 2016 nilai rasio telah mencapai 100% artinya pada tahun tersebut perusahaan telah mampu membayar utang lancarnya.
2) Cash Ratio
Rasio ini menghitung kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan kas yang tersedia dan surat berharga (efek) yang segera dapat diuangkan (Sawir, 2009:10).
Standar umum rata-rata industri adalah 100% .Kondisi ini menunjukan bahwa perusahaan tidak harus menjual persediaan bila hendak melunasi
hutang lancar, tetapi dapat menjual surat berharga atau penagih piutang (Kasmir,2008:148).
100%
Lancar x Hutang
Kas Ratio Cash
2014 =
x 100% = 1,85%
2015 =
x 100% = 1,10%
2016 =
x 100% = 34,01%
Berdasarkan rasio kas, pada tahun 2014 perusahaan hanya mampu menjamin setiap hutang lancar sebesar 1,85%, artinya perusahaan dapat membayar Rp 1 hutang lancar dengan Rp 0,018 kas. pada tahun 2015 kemampuan perusahaan menjamin setiap hutang lancar meningkat menjadi 1,10%, artinya perusahaan dapat membayar Rp 1 hutang lancar dengan Rp 0,01 kas. dan pada 2016 kemampuan perusahaan dalam menjamin setiap hutang lancar turun menjadi 34,01%, artinya perusahaan dapat membayar Rp 1 hutang lancar dengan Rp 0,34 kas. Dari tahun 2014 sampai 2015 rasio perusahaan mengalami penurunan sebesar -0,75%. Sedangkan pada tahun 2015 sampai 2016 rasio perusahaan mengalami kenaikan sebesar 32,91%.Hal ini berarti perusahaan tidak begitu baik dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan kas, karena rasio kas yang baik yaitu 100%, maka dari itu sebaiknya perusahaan menghindari hutang lancar yang berlebihan agar perusahaan menjadi likuid.
Tabel 3.2 Rasio Likuiditas
Akhir Tahun 2014 hingga 2016
No
Rasio- Rasio Liquiditas
2014 2015 2016
Perbandinga n 2014 dan
2015
Perbandingan 2015 dan 2016
1 Rasio
Lancar 4,65% 21,63
%
120,54
% 16,98% (+) 98,91% (+) 2 Rasio kas 1,85% 1,10% 34,01% 0,75% (-) 32,91% (+)
Sumber: Hasil Penelitian (Data diolah),2018
Dari Tabel 3.2 Pada tahun 2015, rasio lancar perusahaan mengalami kenaikan sebesar 19,98% dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2014. Hal ini disebabkan hutang lancar perusahaan yang menurun dari tahun sebelumnya dan didukung dengan meningkatnya aktiva lancar perusahaan pada tahun tersebut.
Pada tahun 2016 rasio perusahan mengalami kenaikan sebesar 98,91% dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2015. Hal ini disebabkan hutang lancar perusahaan telah menurun dan didukung dengan meningkatnya aktiva lancar perusahaan pada tahun tersebut.
Pada tahun 2015, rasio kas perusahaan mengalami sebesar 0,75% dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2014. Hal ini disebabkan oleh penurunan pada jumlah kas yang dimiliki perusahaan dan kenaikan pada kewajiban lancar yang tidak sesuai sehingga perusahaan tidak likuid. dan pada tahun 2016 rasio kas perusahaan mengalami peningkatan sebesar 32,91% dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2015. Hal ini disebabkan oleh peningkatan pada jumlah kas yang dimiliki perusahaan dan penurunan pada keajiban lancar yang sesuai sehingga perusahaan