• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis dan Pembahasan Manajemen

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Analisis dan Pembahasan Manajemen"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

Pembahasan

Manajemen

(2)

operasional di bidang penambangan, pengolahan dan

pengelolaan sumber daya timah melalui investasi terukur dan

terencana disertai semangat untuk berinovasi dan semangat

menggalang kesatuan langkah seluruh pemangku kepentingan

di industri pertimahan ditingkat lokal maupun nasional.

(3)

Memastikan kesiapan Perseroan

menyambut peluang sekaligus

tantangan untuk menjadi pemain

sektor industri pertimahan skala

global dengan memperkuat

fondasi operasional di bidang

penambangan, pengolahan dan

pengelolaan sumber daya PT

TIMAh melalui investasi terukur

dan terencana disertai semangat

untuk berinovasi dan semangat

menggalang kesatuan langkah

seluruh pemangku kepentingan di

industri pertimahan di tingkat lokal

maupun nasional

(4)

TINjAuAN uMuM

Tinjauan Industri Timah Global dan Nasional

Logam timah memiliki titik didih relatif rendah untuk ukuran logam, menghantarkan listrik dengan baik dan mampu merekatkan logam pada pembuatan komponen elektronika. Sifat-sifat fisik dasar yang unik tersebut membuat hingga saat ini logam timah belum tergantikan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan beragam peralatan elektronika. Berkembangnya barang-barang berteknologi tinggi dan perangkat elektronik, sehari-hari seperti telepon genggam dan komputer tablet, membuat penggunaan logam timah cenderung stabil dari tahun ke tahun.

Selain itu, logam timah juga digunakan sebagai bahan untuk cat, gelas, dan sebagai campuran yang esensial dalam berbagai industri.

International Tin Research Institute (ITRI) memprakirakan produksi dan pasokan logam timah ke pasar dunia di tahun 2014 sedikit meningkat dari tahun 2013, yakni sekitar 356,7 ribu ton, naik 4,7% dari 340,8 ribu ton.

Sementara permintaan mengalami kenaikan sebesar 1,6%, dari 348,7 ribu ton menjadi 354,3 ribu ton di 2014.

Hal ini terutama karena produsen barang elektronik di Tiongkok, yang kendati pertumbuhannya melambat, tetap menghasilkan produk-produk kompetitif dari segi harga bagi konsumen di seluruh dunia. Meningkatnya produksi di tengah stagnannya konsumsi menyebabkan kenaikan neraca persediaan timah dunia sebesar 2.400 ton.

Sebagaimana diketahui, Tiongkok merupakan produsen timah terbesar, sekaligus konsumen utama timah. Adapun produsen timah terbesar lainnya, adalah Indonesia. Konsumsi domestik timah di Indonesia relatif kecil karena industri elektroniknya belum berkembang pesat, sehingga sebagian besar produksi timah Indonesia diekspor.

Dengan demikian Indonesia adalah pemasok utama timah di pasar global. Gambaran produsen dan konsumen utama timah dunia adalah sebagai berikut.

Produsen LoGAM TIMAH dunIA

(dalam ribu ton)

negara Wilayah 2014 2013 % Perubahan

Tiongkok 168,00 158,10 6,3%

Indonesia 66,00 54,80 20,4%

Malaysia 32,19 32,68 -1,5%

Thailand 16,11 22,99 -29,9%

Asia Lainnya 8,40 8,40 0,0%

Amerika Tengah dan Selatan 51,00 49,86 2,3%

Eropa 14,42 13,35 8,0%

Lainnya 0,60 0,60 0,0%

Jumlah 356,72 340,78 4,7%

(5)

KonsuMen TIMAH dunIA

(dalam ribu ton)

negara Wilayah 2014 2013 % Perubahan

Tiongkok 162,10 156,00 3,9%

Jepang 26,40 27,00 -2,2%

Asia Lainnya 56,00 57,50 -2,6%

Amerika Tengah dan Selatan 10,86 11,04 -1,6%

Eropa 58,00 56,30 3,0%

Amerika Utara dan Amerika Serikat 37,94 37,86 0,2%

Lainnya 3,00 3,00 0,0%

Jumlah 354,30 340,70 1,6%

Dua faktor utama yang mempengaruhi kondisi penawaran dan permintaan logam timah dunia di tahun 2014 adalah kembalinya Tiongkok menjadi eksportir netto mulai kuartal pertama hingga kuartal ke-3. Disisi lain, Indonesia telah memberlakukan regulasi baru ekspor timah (Peraturan Menteri Perdagangan No. 32 Tahun 2013; dijelaskan lebih lanjut di bagian selanjutnya) yang mengatur bahwa seluruh ekspor logam timah hanya dapat dilakukan melalui Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) sejak Agustus 2013. Kondisi tersebut dipertegas melalui pemberlakuan Peraturan Menteri Perdagangan no44/2014 sejak November 2014.

Hal ini berdampak kepada ekspor timah dari Indonesia yang cenderung mengalami perlambatan selama beberapa bulan setelah pemberlakuan peraturan tersebut, karena banyak pihak baik penjual maupun pembeli yang harus mendaftarkan diri ke BKDI untuk dapat bertransaksi.

harga Timah Dunia

Harga timah di tahun 2014 berkisar antara USD 19.830-23.410 per metrik ton untuk pembelian tunai di LME. Harga jual rata-rata satu tahunnya adalah USD 21.965/Mton, turun 1,44% dari harga rata-rata tahun 2013, yang sebesar USD 22.287/Mton.

Pada tahun 2014 harga logam timah mencapai titik tertingginya di bulan April kemudian menunjukkan pergerakan menurun hingga bulan Oktober 2014, untuk selanjutnya relatif datar hingga akhir tahun. Harga timah di akhir tahun adalah sebesar USD19.829/Mton merupakan harga terendah selama periode perdagangan tahun 2014.

Kondisi Perekonomian Indonesia

Pada tahun 2014, sekalipun perekonomian Amerika Serikat terus membaik, perekonomian Eropa, Jepang, Tiongkok, dan negara berkembang lainnya masih mengalami perlambatan. Untuk kawasan Asia, perekonomian Tiongkok untuk tahun ketiga secara berturut-turut, menunjukan penurunan dan hanya mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,4% di tahun 2014. Demikian juga Jepang yang masih belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang resesi.

Kondisi tersebut membuat permintaan produk komoditas primer Indonesia melemah, mengakibatkan defisit perdagangan melebar. Salah satu penyumbang defisit adalah neraca energi, yakni kebutuhan impor BBM, yang menyebabkan subsidi membengkak. Pemerintah pada akhirnya menyesuaikan harga BBM di bulan November

(6)

Inflasi akhirnya berada pada level 8,36%, lebih tinggi dari target inflasi sebesar 4,5 +1%, hanya sedikit lebih rendah dari 8,38% di tahun 2013. Penyesuaian harga BBM dan penyesuaian tarif dasar listrik menjadi penyebab utama terhadap naiknya inflasi tersebut. Indikator makro ekonomi lainnya menunjukan trend berikut; tingkat bunga rujukan berada pada level 7,75%, naik dari posisi 7,50% diakhir tahun 2013, cadangan devisa per akhir Desember 2014 sebesar US$ 111,86 miliar serta kurs rupiah berada pada level US$12.440/US$, melemah 2,06%

dari Rp12.189/US$.

Sehingga secara keseluruhan, tahun 2014 masih merupakan tahun konsolidasi bagi perekonomian Indonesia.

Kondisi tersebut membuat permintaan produk elektronik dan produk-produk yang menggunakan timah sebagai bahan penolong melemah. Sebagai akibat lanjutannya, permintaan timah di pasar domestik, termasuk produk hilir timah seperti solder dan tin chemical tetap rendah. Kondisi tersebut membuat pemasaran produk timah masih akan lebih terfokus pada pasar global di masa mendatang.

Kondisi Industri Timah Indonesia

Industri pertimahan di Indonesia mengalami perubahan substansial sejak tahun 2013 dengan diberlakukannya sejumlah peraturan baru oleh Pemerintah. Salah satu peraturan yang paling penting adalah Peraturan Menteri Perdagangan No. 32 Tahun 2013, yang mengharuskan seluruh ekspor logam timah dari Indonesia ditransaksikan melalui satu koridor, yakni Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI). Ketentuan tersebut kemudian disempurnakan dengan pemberlakuan Peraturan Menteri Perdagangan No.44 tahun 2014 mulai November 2014.

Hal tersebut menyebabkan semua logam timah yang dijual melalui BKDI wajib memenuhi persyaratan kualitas yang standar (kadar Sn di atas 99,9%) dan asal-usul bijih yang jelas. Dengan demikian, logam timah yang dijual oleh smelter-smelter di Indonesia harus bersumber dari IUP yang sah dan disertifikasi oleh lembaga surveyor independen.

Pemberlakuan Peraturan Menteri Perdagangan No. 32/2013 dan no.44/2014 berdampak tidak langsung terhadap penurunan total ekspor dan berkurangnya kegiatan penambangan timah secara ilegal di Bangka dan Belitung.

Sebagai negara pengekspor timah terbesar di dunia, pemberlakuan peraturan ini berdampak positif dan signifikan bagi Indonesia secara umum. Mengingat selama bertahun-tahun sebelumnya ekspor dan produksi bijih timah jauh lebih banyak dibandingkan logam timah. Aturan baru tersebut membuat ekspor bijih dan logam timah secara ilegal untuk dilebur ulang di luar negeri dapat dicegah. Berkurangnya penambangan ilegal akan berdampak positif terhadap pendapatan dan profitabilitas pelaku industri timah resmi di Indonesia.

Selain itu, karena BKDI memperdagangkan logam timah dalam bentuk fisik, harganya tidak bergantung pada harga timah yang diperdagangkan di LME ataupun KLTM, yang selama ini merupakan pedoman produsen dan konsumen timah dunia. Dengan demikian, Indonesia dapat memperkuat perannya sebagai penentu harga timah dunia di masa mendatang.

Kondisi usaha PT TIMAh

Sebagai pelaku utama industi pertimahan di Indonesia, Perseroan terus melanjutkan proses penyempurnaan skema usahanya di sektor operasi yakni meningkatkan kompetensinya dalam mengelola penambangan mandiri, sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang Minerba No. 4 Tahun 2009, yang mengharuskan setiap perusahaan

(7)

tambang untuk melakukan kegiatan penambangan di atas IUP-nya sendiri. Meskipun demikian, diberlakukannya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 24/2012, yang mengizinkan BUMN dan BUMD untuk melakukan kemitraan dalam hal penambangan timah aluvial, telah memberikan periode yang lebih panjang bagi Perseroan untuk melakukan transisi tersebut.

Bagi Perseroan, pemberlakuan Peraturan Menteri Perdagangan No. 32 Tahun 2013 sejak 30 Agustus 2013 yang disempurnakan melalui Peraturan Menteri Perdagangan No.44/2014 tersebut, memberi dampak tersendiri.

Dampak utamanya adalah Perseroan kini tidak lagi melakukan penjualan logam timah melalui kontrak-kontrak jangka panjang maupun spot secara langsung dengan pembeli, namun harus bertransaksi melalui BKDI. Seluruh penjualan ekspor PT TIMAH sejak akhir tahun 2013 tidak lagi dilakukan berdasarkan kontrak langsung dengan pembeli, melainkan melalui penjualan spot di BKDI.

Prospek usaha Timah

Mengingat mayoritas produk dijual ke pasar global, kinerja Perseroan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan perekonomian dunia. Kondisi perekonomian global yang kurang kondusif membuat permintaan barang-barang konsumsi, termasuk alat elektronik melemah. Tiongkok yang kini menjelma menjadi kekuatan ekonomi utama di dunia selama tiga tahun berturut-turut mencatatkan pelemahan laju pertumbuhan ekonomi, akibat lemahnya perekonomian global.

Akibatnya dalam beberapa tahun terakhir Tiongkok yang biasanya menjadi net importir timah, dalam dua tahun terakhir berubah menjadi net eksportir timah, sehingga cadangan timah di pasar global meningkat dan harga jual tertekan.

Penggunaan timah selama bertahun-tahun tidak berubah secara radikal, masih didominasi penggunaan pada industri elektronika, barang-barang rumah tangga dan pembuatan pipa plastik.

Penggunaan timah menurut industri.

2014

52%

16.3%

13%

5.5%

1.9%

11.3%

Keterangan : Solder Tinplate Chemicals Bass&Bronze Glass Others

(8)

Dengan kegunaannya yang hingga saat ini tak tergantikan, maka permintaan timah di masa-masa mendatang berpeluang meningkat kembali seiring dengan pulihnya kondisi perekonomian global, terutama perekonomian Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat sebagai konsumen timah utama di dunia.

PROGRAM PENGEMbANGAN usAhA

Sebagaimana telah disampaikan, PT TIMAH mengembangkan usaha berlandaskan pada pembangunan empat pilar bisnis Perseroan, yaitu:

• Pertimahan (kompetensi inti)

• Diversifikasi pertambangan non timah

• Hilirisasi logam timah dan non timah

• Bisnis berbasis kompetensi

Pada pilar pertama, PT TIMAH di tahun 2014 telah selesai melakukan evaluasi terhadap operasional Bucket Wheel Dregde (BWD) dan menyimpulkan untuk melakukan penggantian beberapa kapal keruk yang menggunakan teknologi tua dalam proses penambangan lepas pantai, digantikan dengan kapal yang menggunakan teknologi yang lebih baru, termasuk teknologi BWD maupun kapal isap.

Dalam rangka meningkatkan kinerja dan profitabilitas operasional dari bisnis pertimahan, program efisiensi di segala bidang akan terus direalisasikan, termasuk pengalihan penggunaan bahan bakar gas, menggantikan BBM dalam operasional pembangkitan listrik maupun operasional smelter. Perseroan juga berupaya menyehatkan sistem dan prosedur kerja internal untuk mendukung tercapainya program efisiensi tersebut.

Selain penggantian dan perbaikan fasilitas pertambangan dan fasilitas produksi, Perseroan juga berupaya meningkatkan intensitas kegiatan eksplorasi sumber daya timah maupun mineral ikutan lainnya untuk mendapatkan gambaran ketersediaan sumber daya, mendapatkan perhitungan cadangan ekonomis yang ada serta merancang pola penambangan yang efisien. Gambaran sumber daya mineral ikutan dipergunakan untuk pengembangan pengolahan mineral ikutan. Perseroan mengembangkan pengolahan rare earth dari mineral ikutan.

Pada pilar kedua, Perseroan semakin intens melakukan due diligence atas beberapa perusahaan tambang di Kalimantan dan Sumatera untuk diakuisisi atau dilakukan kerjasama operasi. Perusahaan merealisasikan dan berupaya menuntaskan program kajian studi kelayakan untuk bisnis mineral logam dan batubara beserta turunannya. Kajian pengembangan bisnis difokuskan pada bidang-bidang yang memiliki kaitan erat dengan kompetensi eksisting Perseroan.

Pada pilar keempat, Perseroan mulai merealisaskan pembangunan fasilitas produksi untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi produk-produk hilir timah, seperti tin plate dan tin chemical. Selain itu, Perseroan mulai merealisasikan pembangunan miniplant monasit yang memiliki nilai jual tinggi, sekaligus sebagai cikal bakal pembangunan kawasan industri di Tanjung Ular, Mentok, Bangka.

(9)

Pada pilar keempat, Perseroan berupaya menangkap peluang meningkatnya permintaan untuk jasa pelayanan kesehatan di daerah operasinya di Bangka Belitung dan Kundur, dengan merealisasikan pembangunan fasilitas perawatan dan peningkatan kualitas pengelolaan Rumah Sakit Bangka (RSBT) agar sejajar dengan rumah sakit yang profesional lain di Indonesia. Peningkatan kualitas pengelolaan rumah sakit tersebut akan membuat perawatan kesehatan karyawan semakin baik. Perseroan selanjutnya akan bekerja sama dengan lembaga pengelola BPJS dalam menjamin kesehatan karyawan.

Perseroan juga mulai merealisasikan program pengembangan usaha kawasan industri (real estate). Perseroan telah menyelesaikan penyusunan roadmap mengenai bisnis properti. Kawasan yang menjadi fokus pertimbangan Perusahaan untuk tujuan bisnis ini adalah di Tanjung Ular, Bangka. Kawasan ini dipilih mengingat letaknya yang strategis, posisinya pada wilayah geografis yang menguntungkan (laut lepas), dan kondisi geologis yang relatif stabil. Sebagai tindak lanjut program dimaksud Perseroan telah menyusun Rancangan kerja sama dengan BUMN yang bergerak di bidang properti.

belanja Modal 2014

Untuk mendukung realisasi pengembangan usaha tersebut, untuk tahun 2014 Perseroan telah menganggarkan sejumlah dana belanja modal dengan jumlah total mencapai Rp1.309 miliar, dengan rincian sebagai berikut:

• Peningkatan pilar bisnis timah : Rp895 miliar

• Peningkatan pilar bisnis tambang mineral lainnya : Rp104 miliar

• Peningkatan pilar bisnis hilir timah dan non timah : Rp200 miliar

• Pengembangan bisnis kompetensi : Rp110 miliar

Dalam rancangan pengembangan Perseroan, seluruh rencana belanja tersebut dialokasikan pada masing-masing anak perusahaan yang bergerak di bidang-bidang yang relevan dengan rencana peningkatan empat pilar bisnis Perseroan. Hingga akhir tahun 2014 realisasi belanja modal dari total rencana tersebut adalah sebesar Rp856,4 miliar, atau 65% dari rencana awal.

Seluruh kebutuhan investasi tersebut dibiayai melalui kas internal. PT TIMAH belum berencana untuk mendapatkan pinjaman bank maupun menerbitkan obligasi.

Eksplorasi untuk Pengembangan Timah

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pertimahan, perhitungan mengenai ketersediaan cadangan timah untuk jangka panjang merupakan faktor penentu keberlanjutan usaha. Oleh karenanya, kegiatan eksplorasi dalam rangka mengevaluasi potensi sumber daya timah dan mencari lahan baru merupakan bagian operasi strategis Perseroan.

Kegiatan eksplorasi terdiri dari proses pemetaan atau survei awal, pengambilan sampel timah dengan teknik bor tanah, analisis di laboratorium, hingga pemetaan akhir secara geologis, dengan tujuan akhir mengetahui dan mengukur jumlah sumber daya mineral timah yang terkandung di wilayah tersebut.

Dua jenis kegiatan eksplorasi yang dilakukan meliputi kegiatan pengeboran laut dan pengeboran darat.

Pengeboran laut difokuskan pada penemuan sumber daya timah placer, sementara pengeboran darat difokuskan

(10)

Perseroan menyadari makna strategis dari kegiatan eksplorasi tersebut, dan menganggarkan dana yang memadai untuk merealisasikan kegiatan eksplorasi sumber daya di darat maupun di laut. Sebagian dana anggaran belanja modal digunakan untuk mendukung kegiatan eksplorasi.

Adapun realisasi kegiatan eksplorasi sepanjang tahun 2014 disampaikan pada tabel berikut.

no Jenis Kegiatan satuan

rKAP

2014 reAL

2014 reAL 2013 %

a b c b : a b : c

surVeY SURvEy DARAT

1 Survey Geologi Km2 100 95 135 95% 71%

2 Survey Geofisika Km 120 60 48 50% 125%

3 Interest Area Ha 620 2.270 775 366% 293%

SURvEy LAUT

1 Survey Geologi Km2 150 115 770 77% 15%

2 Survey Geofisika Km 1.000 747 1.055 75% 71%

3 Interest Area Ha 3.000 2.280 1.990 76% 115%

PeMBorAn PEMBORAN DARAT

1 Bor Prospeksi Primer mtr 5.800 9.424 6.981 162% 135%

2 Bor Prospeksi-Produksi Alluvial mtr 11.750 20.700 - 176% -

3 Cek Bor Alluvial mtr 38.125 33.166 - 87% -

PEMBORAN LAUT

1 Bor Prospeksi mtr 26.000 7.679 17.995 30% 43%

2 Bor Rinci mtr 100.000 56.971 64.757 57% 88%

3 Bor Pemantapan mtr - 223 - - -

PeroLeHAn suMBer dAYA

PEROLEHAN SUMBER DAyA TIMAH DARAT PRIMER

1 Inferred ton 6.000 21.231 17.599 354% 121%

Tdh kg/m3 0.20 1.347 0,44 673% 306%

2 Indicated ton 2.000 994 - 50% -

Tdh kg/m3 0.20 0.222 - 111% -

3 Measured ton 2.000 - - - -

Tdh kg/m3 0,35 - - - -

PEROLEHAN SUMBER DAyA TIMAH DARAT ALLUvIAL

1 Inferred ton 384 181 - 47% -

Tdh kg/m3 0,10 0,06 - 60% -

2 Indicated ton - 149 - - -

Tdh kg/m3 - 0,06 - - -

3 Measured ton 2.000 539 989 27% 54%

Tdh kg/m3 0.20 0,15 0,18 75% 83%

(11)

hasil Perhitungan Cadangan & sumber Daya

Untuk menjamin keberlanjutan usahanya, Perseroan melakukan validasi data sumber daya dan cadangannya.

Perseroan juga terus berupaya menambah sumber daya dan cadangan yang dimilikinya dengan melakukan kegiatan pemboran dan konsolidasi data cadangan. Dari kegiatan eksplorasi yang dilaksanakan tersebut, Perseroan menghitung besaran cadangan sumber daya timah.

Total sumber daya timah yang dimiliki oleh PT TIMAH per 31 Desember 2014 adalah 695.029 ton Sn (2013:

699.325 ton Sn) dengan cut off grade 0,2 kg/m3, yang tersebar di seluruh wilayah IUP yang dikelolanya. Sebanyak 65% dari sumber daya tersebut terdapat di laut, yakni di perairan Bangka Belitung dan Kundur. Per 31 Desember 2014, total cadangan timah Perseroan tercatat sebanyak 313.238 ton Sn, naik 21% dari cadangan per akhir 2013 sebanyak 259.432 ton Sn. Lebih dari 92% cadangan timah Perseroan berada di laut.

nerAcA cAdAnGAn TIMAH

Kategori Per 31 desember 2014 Per 31 desember 2013

sumber daya 695.029 699.235

Darat 245.831 228.937

Laut 449.197 470.388

cadangan 313.238 259.432

Darat 29.261 19.697

Laut 283.977 239.735

(12)
(13)

Hingga akhir tahun 2014 segmen bisnis Perseroan sebagian

besar berkaitan dengan usaha di bidang pertimahan.

Untuk menyeimbangkan

kinerja, Perseroan bertekad

mengembangkan usaha sesuai

kompetensi dan sumber daya

yang tersedia.

(14)

segmen bisnis

Sebagaimana disinggung pada uraian mengenai Profil Perusahaan, hingga akhir tahun 2014 segmen bisnis Perseroan sebagian besar berkaitan dengan usaha di bidang pertimahan. Hanya sebagian kecil segmen usaha di luar pertimahan yang dijalankan. Pada dasarnya Perseroan memiliki 4 pilar usaha, terdiri dari 1 pilar usaha utama, yakni penambangan, pengolahan dan perdagangan logam timah, yang langsung dikelola oleh PT TIMAH (Persero) Tbk, dan tiga segmen usaha lain yang dijalankan oleh anak perusahaan. Tiga segmen usaha lain tersebut adalah:

segmen usaha mineral non timah termasuk batubara; segmen hilir produk timah dan segmen bisnis kompetensi, termasuk di dalamnya jasa konstruksi, listrik dan perbengkelan, jasa galangan kapal dan jasa asuransi.

Segmen usaha logam timah, sebagai bidang kegiatan utama, masih memberikan kontribusi dominan terhadap pendapatan Perseroan dengan kisaran sebesar 98%, sementara sisanya adalah kontribusi dari penjualan produk hilir timah (tin chemical), jasa galangan kapal, jasa konstruksi dan penjualan produk non timah lainnya (batubara).

Pada tahun-tahun mendatang sektor usaha yang dijalankan akan bertambah, seiring dengan komitmen PT TIMAH untuk mengembangkan pilar bisnis keempat, yakni bisnis berbasis kompetensi. Perseroan kini mulai merintis pengembangan usaha di sektor properti dan jasa layanan kesehatan, bekerja sama dengan mitra strategis.

Perseroan menargetkan usaha baru tersebut akan dapat menambah sumber pendapatan pada tahun-tahun mendatang.

Produksi bijih & Logam Timah

Kegiatan penambangan timah oleh Perseroan dilakukan di darat dan di laut. Penambangan darat dilakukan di Pulau Bangka dan Pulau Belitung, sedangkan di laut berada di perairan Pulau Bangka – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan perairan Kepulauan Kundur – Provinsi Kepulauan Riau. Perseroan menjalankan usaha penambangan timah secara terintegrasi, mulai dari tahapan eksplorasi, penambangan, pengolahan, peleburan, pemrosesan produk hilir timah dan pemasaran produk timah beserta turunannya.

skema Penambangan Timah Terpadu

Seluruh kegiatan penambangan timah yang dilakukan oleh Perseroan berada di dalam wilayah-wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP). Per akhir tahun 2014, total luas wilayah IUP yang dimiliki oleh PT TIMAH sebesar 512.480 hektar. Rincian luasan IUP PT TIMAH di masing-masing kawasan operasional, beserta fasilitas produksi per akhir 2014, adalah sebagai berikut.

EKSPLORASI

PENAMBANGAN

TAMBANG LAUT : KAPAL KERUK TAMBANG DARAT:

GRAVEL PUMP DOMESTIK 5%

EKSPOR 95%

PELEBURAN DAN PEMURNIAN

PENCUCIAN BIJI TIMAH

MARKET

(15)

Luas Wilayah darat nilai satuan

Pulau Bangka & Lintas Kabupaten 278.444,25 Ha

Pulau Belitung 49.079,92 Ha

Luas Wilayah Laut

Pulau Bangka & Lintas Kabupaten 108.752,83 Ha

Pulau Belitung 30.075,00 Ha

Pulau Karimun & Kundur, Provinsi Kep. Riau, Lintas Provinsi 45.009,20 Ha

Total Luas IUP PT TIMAH 117 Buah

Cadangan timah Terbukti 313.238,00 Ha

Jumlah Izin usaha Pertambangan 117,00 Ha

Luas IuP Bangka 387.197,08 Ha

Luas IuP Belitung 79.154,92 Ha

Luas IuP Kep. riau 45.009,20 Ha

cadangan Timah Terbukti 313.238,00 Ha

Jenis Kapal Jumlah satuan

Kapal Keruk 8 Buah

Kapal Isap Produksi 20 Buah

Kapal Isap Stripping 4 Buah

Kapal Keruk Stripping 0 Buah

Adapun realisasi produksi bijih logam timah di tahun 2014 mencapai volume sebesar 32.053 ton, naik 22,3% dari tahun 2013 sebesar 26.204 ton. Dari total produksi bijih timah tersebut sebagian besar (65,5%) merupakan hasil operasi penambangan di laut, sisanya dari tambang darat.

rKAP 2014

28.380 ton Aktual 2013

26.204 ton Aktual 2014

32.319 ton

Produksi Bijih Timah 2013-2014

Hasil operasi tambang laut di tahun 2014 adalah sebesar 21.112 ton, naik 6,9% dari volume sebesar 19.744 di tahun 2013. Sedangkan tambang darat menghasilkan bijih timah sebesar 11.207 ton, naik signifikan sebesar 73,5% dari 6.460 ton di tahun 2013.

(16)

Produk hilir & Diversifikasi usaha Non Timah

Peningkatan perolehan bijih timah dari tambang darat merupakan hasil dari beberapa inisiatif strategis yang dirintis sejak tahun 2013, mencakup: penggunaan teknologi tuntuk mengelola cadangan-cadangan skala kecil yang tersebar secara acak (spotted), ramah lingkungan, dan tanpa memerlukan lapangan yang luas, serta keberhasilan Perseroan dalam mendapatkan izin operasi tambang darat di area penambangan baru.

Sementara peningkatan produksi bijih timah dari laut merupakan realisasi semboyan Perusahaan “Go Offshore, Go Deeper”. Meningkatnya jumlah operasional kapal keruk Bucket Wheel Dredge (BWD) yang mampu melakukan kegiatan penambangan lepas pantai yang memiliki cadangan pada kedalaman lebih dari 60 meter berkontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi bijih timah dari laut.

Perseroan sejak beberapa tahun terakhir membuat dan menginisiasi pengoperasian Ponton Isap Produksi (PIP)—

unit ekstraktor bijih timah yang sederhana dan fully mechanized, sehingga memenuhi aspek keamanan, sederhana dan ramah lingkungan. Inisiatif ini merupakan salah satu solusi penambangan ilegal di sekitar pesisir wilayah IUP Perseroan dan di sekitar operasional kapal-kapal produksi.

PIP tersebut diserahterimakan kepada masyarakat melalui BUMD dan atau koperasi Desa dengan perjanjian kemitraan penambangan. Bijih timah yang dihasilkan kemudian diserahkan kepada Perseroan.

Produksi Logam Timah

Bijih timah dari kegiatan penambangan di darat dan laut kemudian menjalani proses pengolahan guna meningkatkan kadar timah yang dikandungnya dan memisahkan mineral ikutan sebelum diangkut ke fasilitas peleburan untuk dilebur dan dimurnikan menjadi logam timah. Perseroan mengoperasikan peleburan yang berlokasi di Muntok, Kepulauan Bangka Belitung, dan di Kundur, Kepulauan Riau.

Pada tahun 2014, total logam timah yang diproduksi di peleburan tersebut mencapai 27.750 Mton, naik 17%

dari pencapaian tahun 2013, sebesar 23.718 Mton. Angka tersebut berarti mencapai 99,3 % dari target yang ditetapkan dalam RKAP.

rKAP 2014 27.940 Mton

Aktual 2013 23.718 Mton Aktual 2014

27.550 Mton Produksi Logam Timah 2013-2014

(17)

Sejak tahun 2013, proses pemisahan bijih timah yang bernilai ekonomis dilakukan pada tahapan awal dari proses pengolahan, sehingga recovery produksi logam timah lebih optimal.

Perseroan konsisten berupaya meningkatkan kualitas pengolahan bijih timah dengan melakukan investasi pada upaya inovasi teknologi pemurnian dan peleburan timah, untuk meningkatkan recovery peleburan dan pemurnian timah. Berbagai upaya tersebut membuat Perseroan kini mampu memproses bijih timah berkadar rendah (sekitar 40%) dari tambang- tambangnya, tidak lagi terbatas dengan kadar Sn di atas 70%.

Persediaan Timah Olahan

Persediaan timah olahan (logam timah dan solder timah) dan timah dalam prosesper akhir tahun 2014 meningkat 50,4% menjadi total 16.928 Mton dari 11.257 Mton di tahun 2013. Turunnya harga dan banyaknya pasokan logam timah di pasar menjadi salah satu penyebab bertambahnya persediaan tersebut.

Tabel Persediaan Timah, 2014

Wujud Jumlah

(ton atau metrik ton)

nilai (Rp juta)

Bahan Baku (Bijih Timah) 3.624 1.002.327

Barang dalam Proses 8.839 1.236.993

Barang Jadi (Logam Timah) 5.097 617.405

Barang Jadi (Logam Solder) 27 12.642

Total 17.587 2.869.367

Catatan: Nilai Persediaan belum termasuk Tin , barang gudang dan provisi penurunan persediaan.

Produk hilir dan Produk Khusus Timah

Selain logam timah, Perseroan juga memproduksi berbagai produk khusus dan produk hilir berbahan dasar timah sebagai strategi peningkatan nilai tambah bagi produk-produknya. Produk-produk hilir dan khusus yang diproduksi dan dipasarkan timah selama tahun 2014 adalah solder, tin chemical, tin ball, tin shot, dan produk cor.

Analisis dan Evaluasi

Sejak tahun 2012 Perseroan membentuk satuan kerja Analisa Evaluasi Operasi Produksi (AEOP) untuk memastikan bahwa seluruh program kerja berjalan sesuai rencana, anggaran dan waktunya. Satuan kerja AEOP juga bertugas membantu mengembangkan solusi dan kebijakan yang mampu mengatasi kendala-kendala yang ada di setiap unit produksi dan kinerja unit secara keseluruhan.

Memperhatikan kondisi usaha di tahun 2014, AEOP merekomendasikan sejumlah solusi dan usulan untuk meningkatkan kinerja operasional perusahaan, antara lain :

1. Pemeriksaan ulang seluruh fungsi komponen peralatan produksi agar sesuai dengan standar serta melakukan pelatihan dan pembinaan operator sebagai upaya optimalisasi produksi.

2. Kegiatan pengawasan terhadap objek produksi perusahaan lebih diangkatkan agar terhindar dari upaya pelemahan sistem.

3. Pembukaan tambang baru sekelas Tambang Besar atau Tambang Mekanik pada cadangan utama di IUP darat.

4. Intensifikasi dan ektensifikasi kegiatan eksplorasi sebagai upaya dalam menemukan cadangan baru.

(18)

5. Penyelesaian cadangan yang tumpang tindih dengan HGU/IUP serta peruntukan lain.

6. Standarisasi proses pengolahan dan peleburan timah.

7. Percepatan proses AMDAL Ponton Isap Produksi dengan melakukan koordinasi secara intensif dengan pihak Pemda terkait agar kegiatan operasional dapat segera dilaksanakan.

8. Melakukan kajian terhadap kinerja operasi BWD Kundur 1 sebagai langkah persiapan pelaksanaan proyek BWD selanjutnya.

9. Menata ulang Sistem dan Prosedur beserta SOP di seluruh kegiatan operasi produksi.

10. Melakukan Review Struktur Organisasi agar lebih efektif dan efisien sesuai proses bisnis saat ini.

11. Meningkatkan disiplin K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di lingkungan operasi produksi.

Dampak dan Mitigasi Perubahan Iklim terhadap Kegiatan Operasional

[G4-EC2]

Perubahan iklim dan kondisi cuaca berpengaruh signifikan terhadap kelancaran kegiatan penambangan Perseroan, mengingat operasi penambangan kini mayoritas dilakukan di laut lepas. Oleh karenanya PT TIMAH menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk meminimalisir dampak perubahan iklim tersebut terhadap keseluruhan kinerja Perseroan.

Keberhasilan kegiatan penambangan timah, khususnya di laut, sangat bergantung pada faktor cuaca dan iklim.

Cuaca buruk yang ekstrem menurunkan kemampuan kapal-kapal Perseroan untuk berproduksi sesuai kapasitas.

Perseroan memiliki prioritas untuk melindungi keselamatan karyawan dan peralatannya dalam bekerja, sehingga setiap tindakan dilakukan secara hati-hati dan bertanggung jawab khususnya saat menghadapi kondisi laut yang tak bersahabat. Perseroan mengevaluasi kinerja kapal-kapalnya secara berkala agar tetap dapat melakukan kegiatan penambangan bijih timah secara ekonomis sekaligus menjamin keselamatan awaknya.

Untuk mengeliminasi atau mengurangi risiko operasi yang disebabkan oleh faktor Iklim/cuaca, Perseroan juga melakukan inspeksi rutin terhadap peralatan, pelatihan keselamatan kerja dan safety talk secara rutin dilaksanakan, dan secara periodik bekerja sama dengan inspektur tambang dari instansi departemen atau dinas pertambangan baik pusat maupun daerah.

Sementara itu dalam rangka menjaga kinerja produksi bijih timah agar tetap dapat mencapai target yang ditetapkan dan mampu merespon kebutuhan pasar, Perseroan konsisten meningkatkan kompetensi dan efektivitas serta efisiensi teknik penambangan di darat. Sehingga saat kondisi penambangan di laut terhambat oleh buruknya cuaca, maka penambangan darat mampu mengkompensasi perolehan bijih timah. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan bijih timah di tahun 2014, dimana hasil produksi tambang darat meningkat lebih tinggi, dan mampu mengkompensasi perolehan tambang laut yang terkendala cuaca.

PRODuK NON-TIMAh DAN PRODuK DIvERsIFIKAsI usAhA

Perseroan memproduksi barang dan jasa lain selain timah melalui beberapa anak perusahaan. Selain produk eksisting, Perseroan juga tengah mengembangkan lini usaha baru memanfaatkan kompetensi dan ketersediaan sumber daya yang dikelola. Penjelasan ringkas perkembangan usaha produk non-timah dan produk diversifikasi dimaksud adalah sebagai berikut.

(19)

Batubara

Produk batubara dikelola oleh anak perusahaan PT Tanjung Alam Jaya dan PT Truba Bara Tanjung Enim. PT Tanjung Alam Jaya (TAJ) memiliki konsesi pertambangan batubara di Kalimantan Selatan. Pelemahan harga batubara dan menurunnya cadangan yang dapat ditambang secara ekonomis dengan tingkat harga terkini membuat produksi menurun. Pada tahun 2014 Perseroan memutuskan untuk menjual kepemilikan saham di TAJ.

Teknik Perkapalan

Jasa teknik perkapalan disediakan oleh PT Dok dan Perkapalan Air Kantung (PT DAK), anak perusahaan dengan kepemilikan 100%, yang menyediakan layanan pembangunan kapal baru dan reparasi kapal-kapal milik kelompok usaha Perseroan maupun milik pihak eksternal.

Volume Jasa Teknik Perkapalan (unit), 2013-2014

real

2014 real

2013 Internal

• Reparasi Unit 10 10

• Pembangunan Kapal Baru/Ponton Unit 5 11

sub Total unit 15 21

eksternal

• Reparasi Unit 11 11

• Pembangunan Kapal Baru/Ponton Unit - 1

Sub Total Unit 11 12

Total unit 26 33

Produk Mineral Ikutan

Kegiatan penambangan PT TIMAH menghasilkan beberapa mineral ikutan yang terbawa bersama dengan timah, yaitu zircon, ilmenite, monazite, dan xenotime. Beberapa mineral tanah jarang (rare earth) yang bernilai ekonomis tinggi dikumpulkan oleh Perseroan dari kegiatan penambangannya. Peningkatan perolehan mineral-mineral ikutan ini diupayakan dengan penyempurnaan teknologi perolehan/pengolahan, serta fasilitas dan kemampuan eksplorasi.

Perseroan kini tengah berupaya merealisasikan produksi mineral tanah jarang dengan membangun fasilitas pemurniannya. Perseroan menargetkan realisasi produksi komersial mineral tanah jarang pada tahun 2015, dengan volume produksi disesuaikan dengan ketersediaan cadangan dan volume persediaan eksisting.

(20)

XenIoTIMe yttrium

Y

Kegunaan Laser, Superkonduktor, Filter Gelombang Mikro

MonAZITe

ce

Cerium

Kegunaan Oksidator, Katalisator,

Pewarna Kuning MonAZITe Lanthanum

La

Kegunaan Baterai, obat-obatan,

katalisator MonAZITe

Th

Cerium Kegunaan Bahan bakar nuklir, paduan

logam berkualitas tinggi

ZIrcon Zirconium

Zr

Kegunaan Bahan abrasif

Insulator refraktor

ILMenITe

Tio

2

Titanium dioksida Kegunaan Bahan Pigmen untuk cat,

kertas, plastik

TIMAh

nikel

Perseroan, melalui anak perusahaan, PT Timah Eksplomin, memiliki fasilitas penambangan bijih nikel dan produksi pasir industri, serta batu besi (hematit) yang per akhir tahun 2013 tidak dioperasikan karena berbagai pertimbangan.

Sedangkan produksi pasir industri dihentikan sejak Februari 2013 dengan pertimbangan tingginya Harga Pokok Produksi pasir industri.

Produk Jasa Lainnya

Seperti telah disinggung pada uraian “Pengembangan Usaha”, Perseroan di tahun 2014 mulai merintis pengembangan usaha sesuai kompetensi dan ketersediaan sumber daya yang dimiliki. Dua jenis produk yang tengah dikembangkan dengan menjalin kerja sama dengan mitra strategis adalah sektor usaha properti (hunian dan kawasan industri) dan sektor jasa layanan rumah sakit.

PENELITIAN DAN PENGEMbANGAN

Dalam rangka mendukung upaya pengembangan produk-produk baru guna menambah, meningkatkan sumber pendapatan, serta meningkatkan efisiensi operasional, Perseroan melakukan serangkaian kegiatan Penelitian dan Pengembangan dengan intens.

(21)

Kegiatan Penelitian dan Pengembangan yang sedang berlangsung di tahun 2014 antara lain adalah:

1. Uji coba penambangan darat dengan menggunakan alat Borehole Tin Mining untuk menguji teknologi dan desain sistem penambangan sebelum dioperasikan secara luas di operasional. Borehole tin mining diharapkan dapat menurunkan harga pokok penambangan bijih timah, dapat diperasikan dengan safety yang lebih baik, kerusakan lingkungan minimal dan dapat digunakan di lokasi sumberdaya PT TIMAH tersebar dan grade yang lebih rendah. Alat yang ditemukan oleh tim Research & Development (R&D) PT TIMAH ini telah didaftarkan patennya ke HAKI Menkumham.

2. Kajian implementasi CNG (Compressed Natural Gas) untuk pembangkit dan alat produksi PT TIMAH sebagai alternatif energi selain BBM. Hasil kajiannya cukup layak untuk pembangkit listrik dan akan dilakukan uji coba pembangkit 1 MW di tahun 2015 untuk menguji nilai penghematan dan kestabilan logistik

(22)

3. Kajian gasifikasi batubara untuk pembangkit. Penelitian masih berlangsung sampai dengan saat ini dengan bekerjasama dengan beberapa mitra. Teknologi ini dikaji untuk kemungkinan mendapatkan alternatif energi selain BBM.

4. Feasibility Study teknologi Fuming untuk ekstraksi terak 2. Hasil FS menyatakan layak, akan ditindaklanjuti dengan pembangunan fuming plant di tahun 2015 untuk peningkatan produksi logam timah.

5. Penelitian untuk pemrosesan bijih timah primer yang mengandung impuritis Fe, Sb dan As tinggi. Penelitian dilakukan dengan metoda pyrometalurgi dan hydrometalurgy. Hasil penelitian skala laboratorium adalah positif dan akan ditingkatkan dengan penelitian skala pilot di tahun 2015.

6. Pembangunan mini plant pengolahan monasit untuk mendapatkan Logam tanah Jarang dalam bentuk Re(OH)3. Pembangunannya bekerjasama dengan BATAN.

(23)

Seiring dengan naiknya pendapatan, Perseroan

meningkatkan jumlah distribusi nilai perolehan ekonomi.

Hal tersebut menunjukan komitmen PT TIMAH untuk berkembang bersama, memberikan peningkatan kesejahteraan para pemangku kepentingan seiring dengan kemajuan usaha.

jumlah Nilai Ekonomi yang Didistribusikan

(dalam Rp juta) 8.184

6.951

(24)

Uraian mengenai tinjauan kinerja keuangan berikut adalah cerminan hasil operasional Perseroan yang dijelaskan pada Sub-Bab Program Pengembangan Usaha dan Tinjauan Bisnis sebagai satu kesatuan uraian “Diskusi dan Analisa Manajemen”. Pembahasan dan analisis berikut mengacu pada Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2014 dan 2013 yang dilampirkan dalam buku Laporan Tahunan ini.

Laporan Keuangan Konsolidasian tersebut telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Tanudiredja, Wibisana & Rekan (PricewaterhouseCoopers). Pemahaman atas uraian tinjauan keuangan ini harap memperhatikan penjelasan pada catatan Laporan Keuangan Konsolidasi dari pihak eksternal auditor tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan Tahunan ini.

Pemahaman tersebut juga harap dengan memperhatikan adanya Penyajian Kembali atas beberapa akun dari Laporan Audited Tahun 2013 yang dilakukan sebagai dampak penerapan PSAK no.25, yang berlaku restropektif.

Lima akun dari laporan tahun 2013 yang angkanya disajikan kembali dan mengalami perubahan dari pencatatan sebelumnya adalah: “Properti investasi”, “Total Aset”, “Saldo Laba”, “(Kerugian)/pendapatan lain-lain, neto”

dan “Laba tahun berjalan”. Penjelasan lebih lanjut, termasuk besaran angka perubahan disajikan pada sub judul

“Penyajian Kembali” serta diterangkan lebih lanjut pada Catatan 4 Laporan Keuangan Audit Konsolidasian.

Perolehan & Distribusi Nilai Ekonomi

[G4-EC1]

Tabel Perolehan dan distribusi nilai ekonomi

desKrIPsI 2014 2013 Perubahan

(Dalam Rp juta) (Dalam Rp juta) %

Perolehan nilai ekonomi

Pendapatan Usaha 7.371.212 5.852.453 25,95%

Pendapatan bunga bank dan deposito 16.105 20.752 -22,39%

Pendatan/Pengeluaran Lain-lain 9.362 0 0,00%

Jumlah nilai ekonomi diperoleh 7.396.679 5.873.205 25,9%

Pendistribusian nilai ekonomi

Biaya Operasional 5.599.909 4.401.910 27,2%

Gaji Karyawan dan benefit lainnya 861.463 1.052.371 -18,1%

Pembayaran kepada penyandang dana :

- Pemegang saham (Dividen) 283.351 215.747 31,3%

- Bank (bunga pinjaman) 111.846 38.821 188,1%

Jumlah pembayaran kepada penyandang dana: 395.197 254.568 55,2%

Pengeluaran untuk Pemerintah (pajak, royalty, dsb) 1.297.105 1.205.553 7,6%

Pengeluaran untuk masyarakat 30.638 36.148 -15,2%

Jumlah nilai ekonomi Yang didistribusikan 8.184.312 6.950.550 17,8%

nilai ekonomi yang ditahan sebelum dividen (504.282) (861.598) -41,5%

nilai ekonomi Yang ditahan (787.633) (1.077.345) -73,1%

(25)

Pada tahun 2014 jumlah perolehan nilai ekonomi Perseroan adalah Rp7.469,3 miliar, yang terdiri dari pendapatan usaha sebesar Rp7.371,2,0 miliar dan pendapatan bunga sebesar Rp16,1 miliar, serta total pendapatan/

pengeluaran lainnya sebesar (net) Rp82,0 miliar. Jumlah ini naik 26,6% dibandingkan total perolehan nilai ekonomi tahun 2013 sebesar Rp5.909,2 miliar.

Nilai ekonomi yang didistribusikan oleh Perseroan di tahun 2014 mencapai Rp7.130,4 miliar, naik 30,5% dari tahun 2013 sebesar Rp5.465,3,7 miliar. Nilai ekonomi didistribusikan oleh Perusahaan dalam bentuk biaya operasional, gaji dan tunjangan karyawan, dividen, bunga pinjaman jangka pendek, kontribusi kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, serta kontribusi kepada masyarakat.

Peningkatan jumlah distribusi perolehan nilai ekonomi kepada para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan komitmen PT TIMAH untuk berkembang bersama, memberikan peningkatan kesejahteraan seiring dengan kemajuan usaha. Sementara nilai yang ditahan menunjukkan tekad Perseroan untuk mengembangkan usaha di masa-masa mendatang, dan menjaga likuiditas dalam rangka menjaga kepercayaan para penyandang dana.

KONTRIbusI bAGI NEGARA

Sebagai salah satu BUMN yang senantiasa mencatatkan kinerja keuangan cukup baik, Perseroan memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara pada setiap periode operasionalnya.

Untuk tahun 2014, total kontribusi kepada negara mencapai nilai sebesar Rp850,1 miliar, naik 16,0% dari nilai sebesar Rp732,8 miliar ditahun 2013. Kontribusi Perseroan terhadap pendapatan negara diberikan dalam bentuk pembayaran pajak, dividen, royalti, dan lain-lain. Kenaikan kontribusi tersebut selaras dengan naiknya kinerja operasional, berupa bertambahnya volume produksi bijih timah, dan kinerja keuangan berupa naiknya pendapatan dan laba bersih perusahaan.

Bentuk Kontribusi (dalam rp juta) 2014 2013 +/- (%)

Iuran Izin Usaha Pertambangan dan lainnya 25.357 21.860 16%

Pajak Bumi dan Bangunan 72.051 61.102 16%

Pajak Pertambahan Nilai & Pajak Penghasilan 380.172 292.111 30%

Bea Materai/Masuk 80 885 -91%

Royalti 182.719 187.212 8%

Dividen 184.151 140,266 31%

JuMLAH 844.530 732.800 16%

KONTRIbusI bAGI DAERAh [G4-EC8]

Selain berkontribusi langsung kepada negara dalam bentuk pembayaran dividen, pajak dan royalti, PT TIMAH memberikan andil yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi daerah khususnya pada daerah-daerah yang menjadi lokasi dari kantor operasional dan kantor pendukung operasional milik Perseroan.

(26)

Kegiatan operasional Perseroan yang berlangsung di areal cukup luas, berlokasi di beberapa pulau utama di Bangka, Belitung maupun Kepulauan Riau membutuhkan dukungan transportasi dan logistik yang cukup besar.

Jumlah pegawai lapangan yang cukup besar juga membutuhkan kawasan perumahan baru, pusat perbelanjaan, penginapan dan sektor riil lainnya, yang akhirnya membentuk kawasan ekonomi baru.

Kawasan ekonomi baru tersebut sangat positif dampaknya bagi daerah dalam menyerap tenaga kerja, mengoptimalisasikan sumber daya setempat sebagai pendukung kegiatan ekonomi, dan meningkatkan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi, pajak daerah, dan sebagainya. Keseluruhan kegiatan tersebut memberi gambaran dampak langsung maupun tidak langsung dari kegiatan PT TIMAH.

LAPORAN LAbA RuGI KOMPREhENsIF KONsOLIDAsI

Laba rugi Komprehensif Konsolidasi tahun 2013 dan 2014

KeTerAnGAn (dalam rp juta) 2014 2013* Pertumbuhan

2014/2013

Pendapatan Usaha 7.371.212 5.852.453 26%

Beban Pokok Pendapatan 5.772.925 4.408.732 31%

Laba Bruto 1.598.287 1.443.721 11%

Laba Sebelum Pajak Penghasilan 1.023.102 866.970 18%

Laba Tahun Berjalan dari operasi yang berjalan 677.368 609.869 11%

Laba Tahun Berjalan 637.954 580.570 10%

Laba Komprehensif Tahun Berjalan 638.699 615.165 4%

Laba Komprehensif Tahun Berjalan yang

diatribusikan kepada pemilik entitas induk 637.968 580.544 10%

Laba Komprehensif Tahun Berjalan yang diatribusikan kepada kepentingan non

pengendali (14) 26 -154%

Laba Bersih per saham dasar (nilai penuh) 86 78 -10%

Catatan: 2013 (*) – Disajikan kembali.

PENDAPATAN usAhA

Perseroan membukukan pendapatan total senilai Rp7.371,2 miliar di tahun 2014, naik 26,0% dari pendapatan usaha tahun 2013 yang mencapai Rp5.852,5 miliar. Peningkatan pendapatan tersebut disebabkan terutama oleh naiknya volume penjualan logam timah sepanjang tahun 2014, sebesar 15,8% seperti telah disampaikan sebelumnya pada pembahasan “Aspek Pemasaran dan Penjualan”, yakni dari 23.237 Mton di tahun 2013 menjadi sebesar 26.907 Mton di tahun 2014.

Harga jual rata-rata logam timah Perseroan selama tahun 2014, menurun sebesar 5%, dari sebesar USD22.751/

Mton ditahun 2013, menjadi sebesar USD21.686/Mton di tahun 2014. Namun demikian pelemahan nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2014, berdampak pada peningkatan nilai pendapatan Perseroan yang disajikan dalam mata uang rupiah.

(27)

Kontributor utama pendapatan Perseroan adalah penjualan logam timah dan produk-produk turunan utamanya yakni solder, dengan kontribusi mencapai 98%, sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Kontributor pendapatan usaha lainnya adalah penjualan nikel dan tin chemical, sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut.

rincian Pendapatan Menurut segmen usaha

KeTerAnGAn (dalam rp juta) 2014 2013 +/- (%)

Logam timah dan tin solder 7.221.585 5.666.712 27%

Batubara 34.416 45.578 -25%

Tin chemical 103.671 114.651 -10%

Jasa galangan kapal 11.540 11.113 4%

Jasa eksplorasi - 14.399 -100%

Jasa listrik dan perbengkelan - -

ToTAL 7.371.212 5.852.453 26%

Produk lain yang juga berkontribusi pada kenaikan pendapatan Perseroan penjualan tin chemical yang mencapai Rp103,7 miliar turun 9,6% dari Rp114,7 miliar di tahun 2013. Selain itu, pendapatan Perseroan berasal dari penjualan jasa galangan kapal yang naik sebesar 3,8% dari Rp11,1 miliar menjadi Rp11,5 miliar di tahun 2014.

Kontribusi penjualan batubara menurun signifikan karena dua sebab, yakni rendahnya harga jual dan rendahnya volume penjualan yang diantarnya diakibatkan oleh penghentian kegiatan penambangan pada akhir tahun 2014.

bEbAN POKOK PENDAPATAN

rincian Beban Pokok Pendapatan

KeTerAnGAn (dalam rp juta) 2014 2013* +/- (%)

Bahan baku bijih timah 3.392.196 2.445.469 39%

Bahan bakar 883.515 679.238 30%

Gaji dan tunjangan 646.367 644.968 1%

Penyusutan dan amortisasi 373.701 301.409 24%

Jasa pihak ketiga 179.023 196.640 -9%

Royalti 182.719 178.554 2%

Pemakaian suku cadang 211.121 154.298 37%

Bahan baku tin chemical 88.904 77.754 14%

Pemakaian bahan langsung 26.290 76.473 -66%

Pajak 69.606 61.623 13%

Transportasi 33.228 26.991 23%

Lain-lain 114.618 126.296 -9%

Persediaan (timah, tin chemical, batubara) (428.363) (560.981) -24%

(28)

Beban Pokok Pendapatan (BPP) pada tahun 2014 mengalami kenaikan 30,9% dari Rp4.408,7 miliar menjadi Rp5.772,9 miliar, selaras dengan meningkatnya kegiatan operasional.

Bahan baku bijih timah sebagai sumber komoditas utama Perseroan berkontribusi sekitar 58,8% terhadap total jumlah beban pokok pendapatan. Untuk tahun 2014 nilai bahan baku bijih timah ini naik 38,7% dari Rp2.445,5 miliar menjadi Rp3.392,2 miliar, selaras dengan naiknya volume produksi timah di tahun 2014.

Kenaikan volume pemakaian dan naiknya bahan bakar membuat komponen bahan bakar berkontribusi cukup signifikan, dengan mengalami peningkatan sebesar 30,1% menjadi sebesar Rp883,5 miliar dari Rp679,2 miliar di tahun sebelumnya.

Kontributor utama kenaikan BPP di tahun 2014 lainnya yang juga mengalami kenaikan signifikan adalah beban penyusutan dan amortisasi yang naik 24,0% menjadi sebesar Rp373,7 miliar dan biaya pemakaian suku cadang yang naik 36,8% menjadi sebesar Rp211,1 miliar. Kenaikan dua komponen biaya tersebut berkaitan erat dengan upaya perbaikan peralatan produksi, termasuk perbaikan kapal dan penambahan armada KIP serta kegiatan investasi lainnya.

Sementara komponen gaji dan tunjangan hanya mengalami peningkatan terbatas, sebesar 0,2% menjadi Rp646,4 miliar, walaupun demikian Perseroan tetap merealisasikan perbaikan struktur remunerasi yang dikaitkan dengan penilaian kinerja.

Komponen royalti, pajak dan kegiatan transportasi, meningkat selaras dengan kenaikan produksi bijih timah dan produksi timah.

Inisiatif efisiensi – Mengelola Biaya Memaksimalkan Laba

Dalam rangka meningkatkan efisiensi di segala aspek operasional, sejak beberapa tahun terakhir, Perseroan menerapkan berbagai inisiatif strategis dibidang operasional, untuk tahun 2014, berbagai inisiatif yang diterapkan mencakup:

• Sinergi antar unit kerja dan antar anak perusahaan dalam Grup PT TIMAH dengan tujuan meningkatkan efektivitas kerja yang pada akhirnya menghasilkan efisiensi operasional.

• Perbaikan sarana pendukung proses produksi secara mandiri, seperti misalnya reparasi generator pembangkit listrik.

• Penerapan program manajemen energi dan kontrol distribusi BBM pada unit-unit yang menggunakan sumber energi dalam jumlah substansial.

• Pengalihan pasokan sumber energi dari pembangkit swadaya menggunakan solar, menjadi pasokan berbasis PLN.

• Pengalihan sumber bahan bakar pembangkit dari solar (BBM) ke gas.

Laba Bruto

Program efisiensi yang diterapkan dengan konsisten di seluruh aspek operasional membuat Perseroan berhasil mengelola Beban Pokok Pendapatan (BPP). Sehingga persentase kenaikan BPP dapat dikelola berada di bawah kenaikan volume produksi dan kenaikan pendapatan. Hasilnya, laba bruto meningkat sebesar 10,7% dari

(29)

Beban umum dan Administrasi

Sebagaimana halnya pada BPP, konsistensi dalam menerapkan program efisiensi di seluruh aspek operasional, membuat Perseroan berhasil mengelola besaran beban umum dan administrasi, sehingga secara keseluruhan turun 0,3% dari sebesar Rp576,8 miliar menjadi Rp575,2 miliar.

Komponen-komponen Beban (Pendapatan) tahun 2013 dan 2014.

KeTerAnGAn (dalam rp juta) 2014 2013 +/- (%)

Beban umum dan administrasi 618.557 570.272 9%

Beban penjualan 54.631 44.397 23%

Beban keuangan 111.846 34.832 221%

Bagian atas rugi neto entitas asosiasi (96) 3.604 -103%

Pendapatan bunga (16.105) (15.633) 3%

(Keuntungan)/Kerugian lain-lain, neto (193.648) (60.722) 219%

ToTAL 575.185 576.750 -1%

Beban umum dan administrasi, sebagai kontributor utama beban umum dan administrasi pada tahun 2014 naik 8,5% dari Rp570,3 miliar menjadi Rp618,6 miliar. Komponen utama dari beban umum dan administrasi adalah pengeluaran untuk gaji dan tunjangan pegawai. Komponen lainnya adalah perjalanan dinas dan pendidikan, pensiun, jasa profesional, sosial dan sumbangan, penyusutan.

Komponen lain yang mengalami kenaikan substansial dari akun beban ini adalah pengeluaran beban keuangan dan beban penjualan. Sementara komponen yang berkontribusi signifikan pada penurunan beban ini adalah keuntungan lain-lain.

Beban Penjualan

Beban penjualan naik 23,1% dari Rp44,4 miliar di 2013 menjadi Rp54,6 miliar di tahun 2014, terutama akibat meningkatnya biaya yang dibayarkan untuk pengangkutan, selaras dengan naiknya volume produksi bijih besi dan produksi logam timah.

Beban Keuangan

Beban keuangan naik 221,1% dari Rp34,8 miliar menjadi sebesar Rp111,9 miliar. Kenaikan biaya ini adalah konsekuensi dari peningkatan jumlah pinjaman jangka pendek maupun jangka panjang yang dilakukan untuk mendukung program pengembangan usaha, baik untuk menutupi kebutuhan investasi maupun modal kerja.

Selain kenaikan saldo pinjaman, naiknya suku bunga pinjaman perbankan yang dipengaruhi oleh ketatnya likuiditas perbankan turut memegang peranan penting terhadap kenaikan beban bunga.

Bagian Atas rugi neto dari entitas Asosiasi

Bagian atas rugi neto dari entitas asosiasi merupakan kerugian dari investasi pada entitas asosiasi, di mana Perseroan mempunyai pengaruh signifikan namun tidak mempunyai pengendalian atau pengendalian bersama

(30)

melalui partisipasi dalam pengambilan keputusan atas kebijakan finansial dan operasional investee. Tahun 2014 Perseroan membukukan laba neto dari entitas asosiasi, senilai Rp96 juta, sementara pada tahun 2013 membukukan rugi hingga sebesar Rp3,6 miliar.

Keuntungan / Kerugian Lain-lain

Perseroan membukukan keuntungan lain-lain, neto yang naik 218,9% dari Rp60,7 miliar menjadi sebesar Rp193,7 miliar, sebagai hasil revaluasi atas aset Perseroan berupa tanah-tanah yang berlokasi di daerah yang cukup strategis.

Laba sebelum Pajak Penghasilan

Dengan rincian pendapatan dan pengeluaran tersebut, pada tahun 2014 Perseroan membukukan laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp1.023,1 miliar, naik 18,0% dari Rp867,0 miliar di tahun 2013. Margin laba sebelum pajak penghasilan tetap sebesar 14%.

Beban Pajak Penghasilan

Beban pajak penghasilan yang harus ditanggung Perseroan di 2014 naik menjadi Rp345,7 miliar atau 34% dari tahun 2013, sebagai konsekuensi naiknya laba sebelum pajak penghasilan di tahun 2014.

Laba Tahun Berjalan dari operasi yang Berjalan

Perseroan membukukan laba tahun berjalan dari operasi yang berjalan sebesar Rp677,4 miliar, naik 11,1% dari Rp609,9 miliar di tahun 2013, sejalan dengan naiknya laba sebelum pajak penghasilan.

Laba Komprehensif Tahun Berjalan

Laba komprehensif tahun berjalan di tahun 2014 menjadi Rp638,7 miliar, naik 3,8% dari Rp615,1 miliar di tahun 2013.

Di tahun 2014, Perseroan membukukan kerugian dari operasi yang dihentikan sebesar Rp39,4 miliar, sementara pada tahun 2013 telah dibukukan rugi dari operasi yang dihentikan sebesar Rp29,3 miliar. Selain itu, juga terjadi selisih kurs akibat penjabaran laporan keuangan senilai Rp701 juta, turun 97,9% dari Rp34,2 miliar di tahun 2013.

Dari nilai total laba komprehensif tersebut, yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi sebesar Rp638,0 miliar, atau naik 3,8 %, sementara yang diatribusikan kepada kepentingan non pengendali adalah rugi Rp14 juta.

Laba Persaham

Pada tahun 2014 Perseroan membagikan saham bonus sejumlah 2.414.733.455 lembar saham. Sehingga total jumlah saham beredar per akhir tahun 2014 menjadi sebesar 7.447.753.454 lembar saham. Dengan perubahan jumlah saham tersebut maka rata-rata tertimbang saham beredar adalah 6.240.386.727 lembar.

Laba bersih yang digunakan untuk menghitung laba bersih per saham dasar untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2014 and 2013 adalah masing-masing Rp638,0 miliar dan Rp580,6 miliar.

Dengan demikian maka laba bersih per saham Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2014 dan 2013 masing-masing adalah senilai Rp86 dan Rp78.

(31)

LAPORAN POsIsI KEuANGAN KONsOLIDAsIAN AseT

Aset Per 31 desember 2013 dan 2014

KeTerAnGAn (dalam rp miliar) 2014 2013 +/- (%)

Aset lancar 6.552 5.249 25%

Aset tidak lancar 3.200 2.995 7%

ToTAL 9.752 8.244 18%

Total aset PT TIMAH per 31 Desember 2014 adalah Rp9,8 triliun, di mana 67,2% terdiri aset lancar dan sisanya 32,8% berupa aset tidak lancar. Total aset per akhir tahun 2014 naik 18% dari Rp8,2 triliun per akhir 2013. Kenaikan jumlah aset PT TIMAH di tahun 2014 dikontribusikan oleh naiknya aset lancar sebesar Rp 1,3 triliun atau 24,8%

dari tahun 2013, dan naiknya aset tidak lancar sebesar Rp205 miliar atau 7%.

Aset Lancar

Aset lancar PT TIMAH naik 24,8% dari Rp5.249 miliar di tahun 2013 menjadi Rp6.552 miliar per 31 Desember 2014.

Aset Lancar Per 31 desember 2013 dan 2014

KeTerAnGAn (dalam rp miliar) 2014 2013 +/- (%)

Kas dan setara kas 346 614 -44%

Aset keuangan lainnya 1 1 0%

Piutang usaha pihak ketiga 1.453 1.055 38%

Piutang lain-lain pihak ketiga 13 22 -41%

Piutang lain-lain pihak berelasi 7 5 40%

Persediaan – bersih 3.384 2.345 44%

Pajak dibayar di muka 795 821 -3%

Aset lancar lain-lain 321 122 163%

Aset yang dimiliki untuk dijual 230 265 -13%

ToTAL 6.550 5.250 25%

Kenaikan jumlah aset lancar disebabkan oleh kenaikan atau penurunan dari beberapa akun berikut:

1. Kas dan Setara Kas

Per 31 Desember 2014, saldo kas dan setara kas adalah Rp346,5 miliar, di mana sebesar 39% ditempatkan dalam bentuk deposito berjangka, sementara sisanya dalam bentuk kas dan kas di bank.

(32)

KeTerAnGAn (dalam rp miliar) 2014 2013* +/- (%)

Kas 4 9 -56%

Bank 207 251 -18%

Deposito berjangka 135 354 -62%

ToTAL 346 614 -44%

Catatan: 2013 (*) – Disajikan kembali.

Perseroan menempatkan dana setara kas di bank dan dalam bentuk deposito berjangka dalam mata uang Rupiah ditempatkan di beberapa bank BUMN dan bank swasta nasional, seperti Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Tabungan Negara, serta Bank Pembangunan Daerah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Sementara kas di bank dan deposito berjangka dalam dolar AS ditempatkan di Bank Negara Indonesia dan Bank Mandiri.

Atas penempatan dana tersebut Perseroan mendapatkan bunga bank dengan kisaran suku bunga penempatan sebesar 4,50%-10,5% untuk Rupiah dan 0% untuk mata uang asing.

2. Piutang Usaha Pihak Ketiga

Jumlah piutang usaha per 31 Desember 2014 naik 37,7% dari Rp1.055,2 miliar per akhir 2013. Kenaikan ini disebabkan oleh naiknya volume dan nilai penjualan logam timah.

3. Persediaan

Persediaan Per 31 desember 2013 dan 2014

KeTerAnGAn (dalam rp miliar) 2014 2013 +/- (%)

Timah 2.869 1.892 52%

Tin chemical 160 165 -3%

Barang gudang 359 393 -17%

Provisi penurunan nilai persediaan (105) (105) 0%

ToTAL 3.383 2.345 44,3%

Jumlah persediaan bersih per 31 Desember 2014, meningkat 44,3% dari Rp2,4 triliun di akhir 2013 menjadi Rp3,4 triliun. Kenaikan ini sepenuhnya dikontribusikan oleh kenaikan persediaan logam timah dari Rp1,9 triliun di akhir 2013 menjadi Rp2,9 triliun di akhir 2013. Peningkatan jumlah persediaan salah satunya adalah sebagai bentuk penyesuaian atas perubahan mekanisma perdagangan timah melalui lelang BKDI, dan antisipasi atas pemberlakuan ketentuan perdagangan timah yang baru. Penyebab lainnya adalah kecenderungan penurunan harga jual sebagai dampak kelebihan pasok di pasar, yang disebabkan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, konsumen terbesar timah dunia. Perseroan menahan jumlah pasokan ke pasar, untuk menyeimbangkan jumlah peredaran logam timah agar harga menjadi lebih baik.

(33)

Persediaan timah tersebut tidak diasuransikan dari risiko kebakaran dan kerusakan fisik lain karena manajemen berkeyakinan bahwa beban yang akan dikeluarkan untuk mengasuransikan persediaan ini akan melampaui manfaat yang akan diterima. Manajemen telah memperhitungkan risiko dari kebijakan tersebut.

Sementara itu, persediaan barang gudang telah diasuransikan dengan nilai pertanggungan yang dianggap telah memadai.

4. Pajak dibayar dimuka

Posisi pajak dibayar di muka per 31 Desember 2014 adalah Rp795,1 miliar, turun 3,1% dari Rp821 miliar per akhir 2013. Penurunan ini terutama dikontribusikan oleh turunnya PPN yang harus dibayarkan Perusahaan.

5. Aset Lancar Lain-lain

Per 31 Desember 2014, aset lancar lain-lain mengalami kenaikan 163,9% atau bertambah sebesar Rp199,5 miliar dari tahun sebelumnya, menjadi Rp321,2 miliar

6. Aset Yang dimiliki untuk dijual

Per 31 Desember 2014 Perseroan mencatatkan pos aset yang dimiliki untuk dijual sebesar Rp230,2 miliar, turun dari nilai sebesar Rp 265,2 miliar per akhir 2013.

AsET TIDAK LANCAR

Per akhir tahun 2014, total aset tidak lancar PT TIMAH berjumlah Rp3,2 triliun, naik 10,3% dari posisinya per akhir 2013 yang mencapai Rp2,9 triliun.

Aset Tidak Lancar 31 desember 2013 dan 2014

KeTerAnGAn (dalam rp miliar) 2014 2013* +/- (%)

Piutang lain-lain 103 86 20%

Investasi pada entitas asosiasi 173 132 31%

Aset tetap 2.017 2.005 1%

Properti investasi 639 432 48%

Properti pertambangan 176 167 5%

Pajak dibayar di muka 38 33 15%

Aset pajak tangguhan 38 119 -68%

Aset tidak lancar lainnya 16 21 -23%

ToTAL 3.200 2.995 7%

Catatan: 2013 (*) – Disajikan kembali.

Kontributor utama perubahan posisi aset tidak lancar berikut penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Aset Tetap.

Aset tetap per akhir 2014 meningkat sebesar Rp11,7 miliar atau 0,6% dari posisinya per akhir 2013. Kenaikan tersebut disebabkan oleh realisasi investasi yang dilakukan Perseroan, baik dalam rangka memperbaiki

(34)

Beberapa realisasi investasi yang menyebabkan pertambahan aset tetap meliputi pembuatan kapal isap produksi, pembangunan fasilitas produksi logam-logam rare earth, pembangunan fasilitas pendukung penambangan baru dan sebagainya.

2. Properti Investasi

Properti investas per 31 Desember 2014 meningkat 47,7% dari nilai sebesar Rp432 miliar per akhir 2013 menjadi sebesar Rp639 miliar. Kenaikan lebih disebabkan oleh pertambahan nilai atas tanah yang dimiliki sebagaimana disampaikan oleh pihak penilai independen. Tanah dimaksud terletak di Kota Legenda Mustikasari, Bekasi dan Dago, Bandung.

3. Investasi pada entitas Asosiasi

Nilai investasi pada entitas asosiasi naik 31,3% dari sebesar Rp132,0 miliar menjadi sebesar Rp173,2 miliar, sebagai konsekuensi dari realisasi penambahan kepemilikan saham pada anak perusahaan, yakni PT Truba Bara Banyu Enim (TBBE) dan Asuransi Jiwa Tugu Mandiri (AJTM).

4. Properti Pertambangan

Properti pertambangan per akhir 2014 jumlahnya adalah Rp176,1 miliar, naik 5,2% dari Rp167,4 miliar per akhir 2013. Penyebabnya adanya pengembangan kawasan pertambangan baru untuk mendukung target peningkatan produksi bijih timah di tahun mendatang. Realisasi investasi untuk pengembangan kawasan pertambangan baru tersebut adalah sebesar Rp32,5 miliar.

LIAbILITAs

Liiabilitas Per 31 desember 2013 dan 2014

KeTerAnGAn (dalam rp miliar) 2014 2013* +/- (%)

Liabilitas jangka pendek 3.513 2.440 44%

Liabilitas jangka panjang 631 551 15%

ToTAL 4.144 2.991 39%

Catatan: 2013 (*) – Disajikan kembali.

Per 31 Desember 2014, jumlah liabilitas PT TIMAH adalah Rp4,1 triliun, naik 38,5% dari Rp3,0 triliun per akhir tahun 2013. Kenaikan ini terutama didorong oleh meningkatnya liabilitas jangka pendek sebesar 44,0% atau senilai Rp1,1 triliun pada periode tahun 2014. Sebesar 84,8% dari jumlah liabilitas merupakan liabilitas jangka pendek, sementara sisanya adalah liabilitas jangka panjang.

Peningkatan liabilitas terjadi sehubungan dengan penarikan dana untuk mendukung kebutuhan modal kerja dan realisasi rencana investasi Perseroan.

(35)

Liabilitas Jangka Pendek

Liabilitas Jangka Pendek per 31 desember 2013 dan 2014

KeTerAnGAn (dalam rp miliar) 2014 2013* +/- (%)

Utang bank jangka pendek 2.334 1.355 72%

Utang usaha 851 404 111%

Utang royalti - 3 -100%

Utang pajak 53 158 -67%

Utang dividen 1 1 0%

Beban akrual 185 418 -56%

Provisi biaya rehabilitasi lingkungan 14 38 -63%

Liabilitas jangka pendek lainnya 20 17 18%

Liabilitas yang terkait langsung dengan aset

yang dimiliki untuk dijual 54 44 23%

ToTAL 3.512 2.438 44%

Catatan: 2013 (*) – Disajikan kembali.

Total liabilitas jangka pendek per tanggal 31 Desember 2014 adalah Rp3,5 triliun, naik 44% dari Rp2,4 triliun per akhir 2013. Pos-pos utama liabilitas jangka pendek yang berkontribusi signifikan terhadap perubahan di tahun 2014 beserta penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. utang Bank Jangka Pendek

Pada tanggal 31 Desember 2014, jumlah utang bank jangka pendek PT TIMAH naik dari Rp1.354,8 miliar menjadi Rp2.334,2 miliar. Hal ini disebabkan oleh penambahan utang ke kepada pihak ketiga, yaitu Bank of Tokyo – Mitsubishi UFJ, dan kepada pihak berelasi, yaitu Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Negara Indonesia sebesar masing-masing Rp1.008,1 miliar, Rp817,6 miliar, Rp498,6 miliar, Rp9 miliar.

Peningkatan liabilitas jangka pendek terjadi karena jatuh temponya beberapa fasilitas pinjaman jangka panjang Perseroan.

Komponen utang bank jangka pendek yang paling besar adalah utang kepada Bank of Tokyo – Mitsubishi UFJ, yang mencapai 43,2% dari total. Komposisi utang bank jangka pendek meliputi 45,1% Rupiah dan 54,9% dolar AS, dengan suku bunga berkisar antara 9,5-11,5% untuk Rupiah dan 1,85%-3,50% untuk dolar AS.

2. utang usaha

Per 31 Desember 2014, utang usaha Perseroan mencapai Rp851,1 miliar, naik 110,6% dari Rp404,5 miliar per akhir 2013. Seluruh utang usaha Perusahaan merupakan utang kepada pihak ketiga. Sebesar 92,5% dari total utang usaha merupakan utang dalam rupiah, sedangkan sisanya 7,5% dalam mata uang asing.

Gambar

Tabel Persediaan Timah, 2014
Tabel Perolehan dan distribusi nilai ekonomi

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini berarti bahwa kontribusi variabel bebas yang terdiri dari Penempatan Berdasarkan Kesesuaian Pengetahuan (X 1 ), Penempatan Berdasarkan Kesesuaian Keterampilan

Setelah dilakukan pengkajian dan analisa kasus muncul empat diagnosa pada pasien : Gangguan rasa nyaman; nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan SC,

Sehubungan dengan hal tersebut maka dibutuhkan suatu aplikasi yang dapat melakukan pemisahan gambar obyek dengan latar belakang dan gambar obyek ini dapat harus

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

Kegiatan ini berisi tentang pembuatan modul pelatihan (hardcopy) pembuatan peta secara digital berdasarkan kaidah kartografi dan penyusunan data informasi geospasial

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Minahasa Tenggara Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2007 tentang Susunan dan Tata Kerja

Populasi : sekelompok individu dalam satu spesies yang menempati suatu habitat yang menggunakan.. sumberdaya dengan cara yang sama dan dipengaruhi oleh

Hasil dari kuisioner audit awal (yang berfokus pada domain Monitor and Evaluate) digunakan sebagai nilai pembanding dengan hasil analisa kontrol dan analisa evaluasi