PETERNAKAN
DITERBITKAN OLEH
FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS UDAYANA
MAJALAH ILMIAH
Volume 20 Nomor 1 Februari 2017
EVALUASI PADANG PENGGEMBALAAN ALAMI MARONGGELA DI KABUPATEN NGADA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Siba, F. G., I W. Suarna, dan N. N. Suryani
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS TELUR KONSUMSI AYAM KAMPUNG DAN AYAM LOHMAN BROWN
Widyantara, P. R. A., G.A.M Kristina Dewi, I N. T. Ariana
PROFIL ASAM LEMAK DAGING BABI BALI ASLI DAN BABI LANDRACE
Sriyani, N. L. P., M. A. Rasna., I N. A. Ariana dan A. W. PugerEFEKTIVITAS SELEKSI DIMENSI TUBUH SAPI BALI INDUK
Warmadewi, D.A., I G. L. Oka, dan I N. ArdikaPENGARUH SUPLEMENTASI MULTI NUTRIENT BLOCK TERHADAP STATUS HEMATOLOGI KELINCI LOKAL
Puger A.W., I M. Nuriyasa, I M. Mastika dan I M. Suasta
PROFIL LIPIDA DAGING ITIK DIBERI RANSUM MENGANDUNG SEKAM PADI TERFERMENTASI DENGAN Aspergilus niger DISUPLEMENTASI
DAUN UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L.)
Susila T.G.O., T. G. Belawa Yadnya, dan N. G. K. RoniPERTUMBUHAN KACANG PINTO (Arachis pintoi) YANG DIBERI PUPUK KAN- DANG SAPI DAN MIKORIZA
Roni, N. G. K., N. N. Candraasih K., N. M. Witariadi, dan N.W. Siti
KARAKTERISTIK ASAM AMINO PADA GELATIN KULIT KAKI TERNAK
DAN KAJIAN POTENSI ANTIBAKTERINYA
Miwada, I N. S. dan I K. SukadaISSN : 0853-8999
FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
PETERNAKAN Volume 20 Nomor 1 Februari 2017
MAJALAH ILMIAH
EVALUASI PADANG PENGGEMBALAAN ALAMI MARONGGELA DI KABUPATEN NGADA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Siba, F. G., I W. Suarna, dan N. N. Suryani ... 1
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS TELUR KONSUMSI AYAM KAMPUNG DAN AYAM LOHMAN BROWN
Widyantara, P. R. A., G.A.M Kristina Dewi, I N. T. Ariana ... 5
PROFIL ASAM LEMAK DAGING BABI BALI ASLI DAN BABI LANDRACE
Sriyani, N. L. P., M. A. Rasna., I N. A. Ariana dan A. W. Puger ... 12
EFEKTIVITAS SELEKSI DIMENSI TUBUH SAPI BALI INDUK
Warmadewi, D.A., I G. L. Oka, dan I N. Ardika ... 16
PENGARUH SUPLEMENTASI MULTI NUTRIENT BLOCK TERHADAP STATUS HEMATOLOGI KELINCI LOKAL
Puger A.W., I M. Nuriyasa, I M. Mastika dan I M. Suasta ... 20
PROFIL LIPIDA DAGING ITIK DIBERI RANSUM MENGANDUNG SEKAM PADI TER- FERMENTASI DENGAN ASPERGILUS NIGER DISUPLEMENTASI DAUN UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L.)
Susila T.G.O., T. G. Belawa Yadnya, dan N. G. K. Roni ... 24
PERTUMBUHAN KACANG PINTO (Arachis pintoi) YANG DIBERI PUPUK KANDANG SAPI DAN MIKORIZA
Roni, N. G. K., N. N. Candraasih K., N. M. Witariadi, dan N.W. Siti ... 29
KARAKTERISTIK ASAM AMINO PADA GELATIN KULIT KAKI TERNAK DAN KAJIAN POTENSI ANTIBAKTERINYA
Miwada, I N. S. dan I K. Sukada ... 33
Jurnal Peternakan
SUSUNAN DEWAN REDAKSI
MAJALAH ILMIAH PETERNAKAN – UNUD
KETUA PENYUNTING KOMANG BUDAARSA
WAKIL KETUA PENYUNTING NI NYOMAN SURYANI
PENYUNTING PELAKSANA 1. I GEDE MAHARDIKA
2. I WAYAN SUARNA 3. ANTONIUS WAYAN PUGER
4. I MADE SUASTA
5. I GUSTI NYOMAN GDE BIDURA 6. I MADE NURIYASA
7. GEDE SURANJAYA 8. I KETUT MANGKU BUDIASA 9. ANAK AGUNG PUTU PUTRA WIBAWA
ADMINISTRASI
I GUSTI AGUNG ISTRI ARIANI NI LUH GEDE SUMARDANI
A. A.A. SRI TRISNADEWI
ALAMAT REDAKSI
Fakultas Peternakan Universitas Udayana Jalan PB Sudirman Denpasar-Bali 80232
Email: [email protected]
PENERBIT
Fakultas Peternakan Univeritas Udayana
ISSN: 0853-8999
Siba, F. G., I W. Suarna, dan N. N. Suryani
EVALUASI PADANG PENGGEMBALAAN ALAMI MARONGGELA DI KABUPATEN NGADA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
SIBA, F. G.1), I W. SUARNA2), DAN N. N. SURYANI 2)
1) Mahasiswa Program Studi Magister Peternakan Pascasarjana Universitas Udayana 2) Dosen Peternakan Universitas Udayana, Denpasar Bali
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Evaluasi terhadap padang penggembalaan alami untuk memperbaiki kualitas hijauan merupakan salah satu strategi penting dalam peningkatan produksi ternak ruminansia. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan database tentang kondisi padang penggembalaan serta pengelolaan padang penggembalaan yang baik di Kabupaten Ngada. Kabupateng Ngada merupakan daerah yang sangat potensial bagi pengembangan ternak sapi karena memiliki padang penggembalaan yang luas. Penelitian dilakukan di padang penggembalaan alami Maronggela Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang berlangsung selama 2 musim, yaitu pada akhir musim hujan (bulan Maret) dan akhir musim kemarau (bulan Oktober). Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah komposisi botani dan kualitas hijauan. Padang penggembalaan alami Maronggela didominasi oleh hijauan jenis Imperata cylindrica dan Themeda aguens, produksi dan kualitas hijauan tertinggi di akhir musim hujan, serta produksi dan kualitas terendah di akhir musim kemarau. Daya tampung padang penggembalaan alami Maronggela dalam satu tahun adalah 1,5 satuan ternak.
Kata kunci: database, padang pengembalaan, sapi
EVALUATION OF NATIVE PASTURE IN MARONGGELA, NGADA REGENCY, EAST NUSA TENGGARA PROVINCE
ABSTRACT
The evaluation of pasture and rangelands to develope the forage quality is one of important strategy to increase productivity of ruminant. This study aims to provide a database on the condition of pastures and rangelands good management in Ngada. Ngada is an area of high potential for the development of cattle as it has vast pastures.
The study was conducted in native pasture Maronggela Ngada, East Nusa Tenggara province, which lasted for two seasons, as of at the end of the rainy season (March) and the end of the dry season (October). The parameters observed in this study are the botanical composition and forage quality. Maronggela natural pasture forage types dominated by Imperata cylindrica and Themeda aguens, the highest forage production and quality at the end of the rainy season, as well as production and quality at the lowest end of the dry season. The capacity of natural pasture Maronggela in one year was 1.5 animal unit.
Keywords: database, rangeland, cattle
PENDAHULUAN
Potensi kekayaan alam yang dimiliki di Indonesia sangatlah berlimpah, salah satunya padang penggem- balaan alami. Namun, padang penggembalaan alami di Indonesia sebagian besar tidak diolah dengan baik sehingga kebutuhan konsumsi pakan untuk ternak di Indonesia sangat minim yang menyebabkan rendahnya produksi ternak. Ada beberapa faktor penyebab rendahnya produksi ternak, yaitu: 1) rendahnya kualitas
padang penggembalaan alami 2) jumlah ternak yang dipelihara pada padang penggembalaan alami tidak sesuai dengan kapasitas tampung dan 3) keadaan dari tanah di padang penggembalaan.
Kabupaten Ngada tergolong daerah yang beriklim tropis dan terbentang hampir sebagian besar padang rumput yang memiliki luas padang penggembalaan sebesar 17.393 ha dengan populasi ternak sapi sebanyak 25.296 ekor (BPS Kabupaten Ngada, 2014). Dinas P3 Ngada (2014) menyatakan bahwa sistem pemeliharaan
Evaluasi Padang Penggembalaan Alami Maronggela di Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur
ternak di Kabupaten Ngada dilakukan secara ekstensif berbasis padang penggembalaan yang menyebabkan rendahnya produksi ternak. Dengan demikian, langkah yang dapat ditempuh dalam meningkatkan produksi ternak ruminansia yang dipelihara di Kabupaten Ngada adalah dengan memperbaiki komposisi botanis sehingga kualitas padang penggembalaan alami menjadi meningkat serta pengaturan penggembalaan ternak pada padang penggembalaan alami sesuai dengan kapasitas tampungnya. Upaya untuk memperbaiki komposisi botanis dan peningkatan kapasitas tampung padang penggembalaan alami dapat dilakukan dengan perbaikan komposisi botanis dan kapasitas tampung di lapangan serta penerapan teknologi tepat guna untuk pengolahan hijauan pakan (hay dan silase).
Hijauan pakan alami tidak saja kita temui pada padang penggembalaan alami tetapi juga banyak ditemui pada berbagai kawasan lahan kosong yang memang sengaja atau tidak disengaja memiliki potensi untuk penyediaan hijauan pakan alami. Penelitian yang dilakukan oleh Setiana et al. (2015) mendapatkan bahwa penyediaan hijauan yang dilakukan secara cut and carry di kawasan padat industri Citeureup memiliki potensi yang rendah namun tanaman pakan tersebut sangat adaptif terhadap kondisi lingkungan. Hiajauan pakan local memiliki potensi untuk ditingkatkan kualitasnya, hal tersebut diungkapkan oleh Onesimus (2015) yang menyatakan bahwa dengan pemupukan yang baik akan dapat memperbaiki kualitas hijauan rumput sudan (Sorghum sudanensis) yang merupakan sumber hijauan local potensial di wilayah Papua.
Daya dukung pakan di padang penggembalaan ditentukan oleh jenis tanaman yang dapat tumbuh yang akan berpengaruh terhadap besar kecilnya ketersediaan hijauan yang dapat dikonsumsi ternak.
Jenis hijauan yang cocok untuk dibudidayakan pada padang penggembalaan adalah hijauan yang memiliki perakaran yang kuat, tahan pijakan, tahan renggutan, dan tahan terhadap kekeringan. Hasil penelitian padang pengembalaan di NTT menunjukkan bahwa perbandingan antara jenis tumbuhan yang disukai dan kurang disukai ternak adalah masing-masing 77,57 dan 22,43 persen. Produksi bahan hijauan segar berkisar antara 221 sampai 1100 gr/m2 dengan rata-rata 650 gr/
m2. Padang savana di NTT memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, produksi bahan segar relatif rendah dan kualitas padang savana rendah. Hal ini terjadi akibat kerusakan padang savana oleh aktivitas manusia yang meliputi pemanfaatan yang tidak terencana dan pembakaran padang penggembalaan pada musim kering (Robinson, 1995).
Sampai saat ini evaluasi mengenai padang penggem- balaan sudah dilakukan di beberapa Kabupaten di Nusa Tengaara Timur. Sedangkan studi yang sama di Kabu-
paten Ngada belum pernah dilakukan. Oleh karenanya, dalam upaya melengkapi informasi mengenai evaluasi padang penggembalaan perlu dilakukan studi “evaluasi padang penggembalaan alami Maronggela di Kabupat- en Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
MATERI DAN METODE
Penelitian dilakukan di padang penggembalaan alami Maronggela Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian berlangsung selama 2 musim, yaitu pada akhir musim hujan (bulan Maret) dan akhir musim kemarau (bulan Oktober) 2015.
Jumlah sampel yang diambil yaitu sebanyak 100 cuplikan, dimana 50 cuplikan diambil di lokasi lereng, 35 cuplikan di lokasi datar dan 15 sampel di lokasi dekat kali. Jumlah pengambilan cuplikan di tiga lokasi (lereng, datar dan dekat kali) didasari oleh topografi padang penggembalaan alami Maronggela yang berbukit-bukit dimana hampir sebagian besar padang penggembalaan merupakan lereng bukit, daerah datar terdapat pada puncak bukit dan daerah kali terletak antara bukit- bukit.
Komposisi botani dihitung untuk mengetahui kom- posisi atau susunan spesies hijauan. Pada penelitian ini komposisi botani dihitung berdasarkan frekuensi (ke- seringan), sedangkan kualitas hijauan ditentukan de- ngan analisis nilai nutrien, meliputi bahan kering (BK), bahan organik (BO), protein kasar (CP), energi (E), serat kasar (SK), kalsium (Ca), fosfor (P). Penelitian yang dilakukan oleh Onesimus et al. (2015) menunjuk- kan bahwa spesies hijauan yang mendominasi padang penggembalaan alam Kebar adalah jenis rumput yaitu Imperata cylindrica, Paspalum conjugatum, dan Isch- aemum rugosum, dan Kyllinga brevifolia. Komposisi botani padang penggembalaan alam lokasi Inam adalah 87,58% rumput, 0,52% legum, dan 11,90% hijauan non pakan, sedangkan lokasi Jandurau berturut-tu- rut 81,88% rumput, 0,75% hijauan dapat dikonsumsi, dan 17,39% hijauan non pakan. Produktivitas padang penggembalaan alam dataran 65 Kebar dapat diting- katkan dengan introduksi spesies yang cocok dan po- tensi produksi tinggi dan/atau perlu dilakukan program pemberian pakan tambahan (dasar hijauan pakan).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan pada musim kemarau dan musim hujan pada tiga lokasi (datar, lereng, dekat kali) padang penggembalaan alami Maronggela, hampir semuanya didominasi oleh Imperata cylindrica, hal ini dikarenakan tanaman ini sangat mudah beradaptasi baik pada musim hujan maupun pada musim kemarau, juga pada lokasi datar, lereng dan dekat kali. Selain
Siba, F. G., I W. Suarna, dan N. N. Suryani
itu Imperata cylindrica merupakan tanaman yang berkembang biak dengan biji atau rhizom (akar rimpang), sehingga dapat berkembangbiak dengan cepat.
Tabel 1. Komposisi botani berdasarkan frekuensi (keseringan) Lokasi Spesies Tanaman Musim Hujan Musim Kemarau
Frekuensi % Frekuensi %
Datar Themeda gigantea 18 51,43 - -
Imperata cylindrica 31 88,57 25 71,43
Mimosa pudica 14 40,00 - -
Leptochloa chinesis 6 17,14 - -
Cyperus rotundus 12 34,29 - -
Themeda arguens 17 48,57 16 45,71
Gulma 33 94,29 22 62,86
Lereng Themeda Gigantea 50 100 - -
Imperata Cylindrica 50 100 32 64
Themeda Arquens 35 70 16 32
Mimosa Pudica 20 40 - -
Gulma 37 74 27 54
Dekat Kali Themeda Gigantea 11 73,33 - -
Imperata Cylindrica 13 86,67 - -
Mimosa Pudica 8 53,33 - -
Themeda arguens - - 11 73,33
Gulma 11 73,33 11 73,33
Themeda arguens merupakan jenis hijauan yang populasinya cukup dominan setelah Imperata cylindri- ca. Hijauan ini sering tumbuh bersama Imperata cylin- drica dan merupakan tumbuhan tahunan, yang mem- bentuk padang sabana. Selain hijauan, dalam padang penggembalaan alami Maronggela juga terdapat gulma yang populasinya cukup tinggi. Jenis gulma yang ter- dapat dalam padang penggembalaan ini adalah Chro- molaena odorata. Gulma jenis ini memliki kemampuan mendominasi area dengan sangat cepat, hal ini didu- kung karena jumlah biji yang dihasilkan sangat melim- pah. Setiap tumbuhan dewasa mampu memproduksi sekitar 80 ribu biji setiap musim. Kepadatan tumbuhan bias mencapai 36 batang tiap m2 yang berpotensi meng- hasilkan kecambah, tunas dan tumbuhan dewasa beri- kutnya (Yadav dan Tripathi 1981).
Berdasarkan produksi hijauan diperoleh bahwa Daya tampung padang penggembalaan alami Maronggela dalam satu tahun adalah 1,5 satuan ternak. Hasil tersebut lebih rendah daripada daya tampung hijauan yang diperoleh Onesimus et al. (2014) yakni sebesar 2 unit ternak per ha padang penggembalaan alami di Papua Barat.
Berdasarkan hasil analisis proksimat yang dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Ternak Ciawi- Bogor, diperoleh rata-rata jumlah kandungan protein hijauan pada musim hujan yaitu 4,16% dan rata-rata kandungan protein hijauan pada musim kemarau yaitu
2,78%. Hal ini menggambarkan rendahnya kualitas hijauan pakan pada padang penggembalaan alami Maronggela. Menurut Siregar (1994), bahwa hijauan dikategorikan pada kualitas rendah bila kandungan protein kasarnya kurang dari 5%, dikatakan sedang bila kandungan protein kasarnya 5-10% dan tinggi bila protein hijauannya lebih besar dari 10%.
Tabel 2. Hasil analisis hijauan padang penggembalaan alami Marong- gela
Komposisi Kimia Hijauan
Musim Hujan
rata-rata Musim Kemarau Rata-
D L DK D L DK rata
Protein (g / 100 g) 4,26 4,09 4,14 4,16 2,46 2,75 3,13 2,78 Energi (Kcal / kg) 3724 3691 3702 3705,67 3559 3683 3545 3595,67 SK (g / 100 g) 39,60 42,7 40,96 41,09 35,93 35,54 39,28 36,92 Abu (g / 100 g) 10,43 10,1 9,85 10,11 11,9 11,19 9,23 10,77 Ca (g / 100 g) 0,31 0,26 0,28 0,28 0,34 0,43 0,36 0,38 P (g / 100 g) 0,08 0,08 0,08 0,08 0,03 0,04 0,05 0,04
Kualitas hijauan pakan tergolong rendah disebabkan karena komposisi botani hijauan sebagian besar adalah jenis rumput alami dan tanpa leguminosa. Kondisi padang penggembalaan ini akan berdampak pada rendahnya produktivitas ternak karena kebutuhan minimal PK bagi ternak ruminansia sebesar 8% tidak terpenuhi. Rumput alam tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrien ternak, dan ternak yang sedang dalam periode pertumbuhan akan memperlihatkan tingkat pertambahan bobot badan yang rendah.
Ketersediaan dan kualitas nutrien rumput alam juga akan makin menurun saat musim kering dan hal ini akan berpengaruh terhadap produktivitas ternak.
SIMPULAN
Komposisi botani padang penggembalaan alami Maronggela didominasi oleh hijauan jenis Imperata cylindrica dan Themeda aguens, produksi dan kualitas hijauan, serta daya tampung padang penggembalaan alami Maronggela mengalami fluktuasi sesuai musim, produksi tertinggi di akhir musim hujan, kualitas terbaik di musim hujan serta produksi dan kualitas terendah di akhir musim kemarau. Daya tampung padang penggembalaan alami Maronggela dalam satu tahun adalah 1,5 satuan ternak.
DAFTAR PUSTAKA
Arismunandar. 1983. Mendayagunakan Tanaman Rumput.
Sinar Baru: Bandung
BPS Kabupaten Ngada, 2014. Kabupaten Ngada Dalam Angka 2014. BPS Kabupaten Ngada.
Evaluasi Padang Penggembalaan Alami Maronggela di Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur
Dinas P3 (Pertanian, Perkebunan dan Peternakan) Ka- bupaten Ngada, 2014. Rencana Strategis (Renstra) Dinas Peternakan Kabupaten Ngada 2010-2015. Dinas Peternakan Kabupaten Ngada.
Onesimus Yoku, A.Supriyantono, T. Widayati dan I. Sumpe.
2014. Produksi padang penggembalaan alam dan potensi pengembangan sapi bali dalam mendukung program kecukupan daging di Papua Barat. J. Pastura, 3 (2): 102 -105.
Onesimus Y. 2015. Potensi Produksi Hijauan dan Komposisi Kimia Rumput Sudan (Sorghum sudanense) Sebagai Sumber Hijauan Pakan Lokal Di Wilayah Papua. Pro- siding Semnas IV HITPI. Purwokerto.
Onesimus Y. A. Supriyantono, T. Widayati dan I. Sumpe.
2015. Komposisi botani dan persebaran jenis-jenis hijauan lokal padang pengembalaan alam di Papua Barat. J. Pastura, 4 (2): 62 -65.
Reksohadiprojo, S. 1994. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. BFFE, Yogyakarta.
Robinson. H. 1995. Komposisi Janis Hijauan pada Padang Savana Penggembalaan diDesa Oemasi, Timor, NTT. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner(Cisarua Bogor, 7-8 Nopember 1995). Bogor;
Puslit Peternakan. Bogor. hlm. 545 –552.
Setiana MA, Ikmahwati S, Yakin A, dan Prihantoro I. 2015.
Pola Penyediaan dan Potensi Hijauan Di Kawasan Industri Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor.
Prosiding Semnas IV HITPI. Purwokerto.
Subagyo I. dan Kusmartono. 1988. Ilmu Kultur Padangan.
Malang: Nuffic, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.
Susetyo, I. Kismono dan B. Suwardi. 1981. Hijauan Makanan Ternak. Direktorat Jendral Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta.
Yadav, A.S. and R.S. Tripathi. 1981 Population dynamics of the rudern weed Eupatarium odoratum and it’s natural regulation. Oikes. 36 (3): 355 -361.
Widyantara, P. R. A., G.A.M Kristina Dewi, I N. T. Ariana
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS TELUR KONSUMSI AYAM KAMPUNG DAN AYAM LOHMAN BROWN
WIDYANTARA, P. R. A.1), G.A.M. KRISTINA DEWI2), I N. T. ARIANA2)
1) Mahasiswa Program Studi Magister Peternakan Pascasarjana Universitas Udayana, 2) Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Denpasar Bali
e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan terhadap kualitas telur ayam kampung dan ayam Lohman Brown. Rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor perlakuan yaitu telur ayam kampung dan ayam Lohmnan Browm dengan 4 faktor lama penyimpanan 0, 7, 14, 21 hari pada suhu ruang dan 3 kali ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 10 butir telur digunakan dalam penelitian ini. Hasi penelitian berupa telur dengan kualitas yang baik dengan lama penyimpanan yang optimal dengan menguji eksterior telur dan interior telur seperti indeks telur, warna kuning telur, pH, Haugh Unit telur serta kandungan atau populasi mikroba yang tumbuh selama penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan terjadi perbedaan yang nyata (P<0,05) pada eksterior yaitu pada kebersihan dan tekstur permukaan telur, dan pada interior juga berbeda nyata secara statistik pada HU telur, sedangkan perlakuan yang lainya tidak berbeda (P>0,05). Dapat disimpulkan bahwa perlakuan penyimpanan 0, 7, 14, 21 hari pada telur ayam kampung dan telur ayam Lohman Brown secara eksterior dan interior mengalami penurunan kualitas namun masih layak dikonsumsi hingga lama penyimpanan 21 hari dalam suhu ruang serta masih menunjukkan nilai grade A dan cemaran mikroba masih dibawah Standar Nasional Indonesia (SNI).
Kata kunci: ayam Lohman Brown, Haugh Unit, kualitas telur, penyimpanan, telur ayam kampong THE EFFECT OF STORAGE DURATION ON EGGS CONSUMPTION QUALITY OF
KAMPUNG CHICKEN AND LOHMAN BROWN
ABSTRACT
The research as conducted to know the influence of eggs prolonged storage on egg quality of kampung chicken and Lohman Brown. The methods used was Randomized Complete Design of Factorial Pattern (RAL) with two treatments, Kampung chicken and chickens Lohman Brown eggs. Four factors duration of storage, consists of 0, 7, 14, 21 days at room temperature with three replications and ten eggs in each replications. The results of good quality of eggs found with optimal retention by testing exterior and interior of eggs, as of: index of egg, yolk colour, pH, Haugh Unit and egg content or microbe population during storage. It showed that differences occurred on the exterior (P< 0.05) such as: texture and hygiene of egg. In contrast, statistic differences also found in the interior as in the real HU eggs, other treatments did not differ (P>0.05). This can be concluded that 0, 7, 14, 21 days treatment of storage on chicken Kampung and Lohman Brown eggs decline but still worth to be consumed up to 21 days of prolonged storage in room temperature. Besides, the value of A grade and microbial impurities are still under the Indonesia national standard (SNI).
Keywords: Lohman Brown chicken, Haugh Unit, quality of egg, storage egg, kampung chicken PENDAHULUAN
Sumber daya manusia berkualitas dapat dicapai apabila asupan makanan yang dikonsumsi cukup dan bergizi. Menurut Sarwono (1995) bahwa pentingnya telur sebagai bahan makanan karena banyaknya zat pembangun (protein) yang terdapat di dalamnya dan itu telur juga merupakan bahan makanan yang paling
mudah dicerna. Menurut Sarwono (1995) bahwa pen- tingnya telur sebagai bahan makanan karena banyaknya zat pembangun (protein) yang terdapat didalamnya dan telur juga merupakan bahan makanan yang paling mudah dicerna. Kondisi ekonomi masyarakat sangat mempengaruhi tingkat konsumsi, sehingga masyarakat membutuhkan sumber gizi yang harganya terjangkau.
Kualitas telur adalah sesuatu yang dinilai, dilihat
Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Telur Konsumsi Ayam Kampung dan Ayam Lohman Brown
dan diamati pada telur untuk perbandingan baik atau tidaknya telur sehingga dapat dipergunakan untuk kebutuhan konsumen. Kualitas eksternal dilihat pada kebersihan kulit, tekstur dan bentuk telur, sedangkan kualitas internal dilihat pada putih bentuk kuning telur dan kekuatan kuning telur. Penurunan kualitas interior dapat diketahui dengan menimbang bobot telur atau meneropong ruang udara (air cell) dan dapat juga dengan memecah telur untuk diperiksa kondisi kuning telur dan putih telur (HU) (Stadelman dan Cotteril, 1973). Indeks putih telur segar berkisar 0,050 – 0,174 sesuai dengan standar SNI 01-3926-2008 (BSN, 2008).
Semakin tua umur telur, maka diameter putih telur akan melebar sehingga indeks putih telur semakin kecil. Perubahan ini disebabkan pertukaran gas antara udara luar dengan isi telur melalui pori-pori kerabang telur dan penguapan air akibat dari lama penyimpanan, suhu, kelembaban dan porositas kerabang telur (Yuanta, 2010). Pada cangkang telur sering terdapat tinja (feses) yang merupakan habitat bakteri koliform. Bakteri ini masuk melalui cangkang secara osmosi. Menurut Pelczar dan Chan (1988) beberapa bakteri seperti Echeriscia coli dan Salmonella yang banyak menimbulkan gangguan kesehatan bagi manusia. Spesies seperti Salmonella dapat menembus pori-pori cangkang telur dan masuk kedalam telur. Cangkang telur sendiri mudah retak dan pecah sehingga sering terjadi kontaminasi bakteri (Jamila et al., 2009).
Mempertahankan kualitas telur agar tetap segar mulai dari produsen sampai ke konsumen, merupakan masalah utama dalam pemasaran telur. Kemungkinan penurunan kualitas bukan hanya disebabkan oleh faktor penanganan dan kondisi lingkungan di tingkat pemasaran. Menurut Hadiwiyoto (1983), telur segar adalah telur yang baru diletakkan induk ayam disarangnya, mempunyai daya simpan yang pendek, makin lama makin turun kesegarannya. Kesegarannya menurun setelah berumur lebih dari satu minggu, ditandai apabila dipecah isinya sudah tidak dapat mengumpul lagi. Penurunan kesegaran telur tersebut terutama disebabkan oleh adanya kontaminasi mikrobia dari luar, masuk melalui pori-pori kerabang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyimpanan terhadap kualitias telur ayam kampung dan ayam ras.
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 3 bulan dari bulan Januari hingga Maret 2016 di Laboratorium Terpadu Nutrisi dan Makanan Ternak, dan Laboratorium Teknologi Hasil Ternak dan Mikrobiologi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial (2 × 4) dimana:
a. Faktor 1 adalah telur ayam kampung dan ayam Lohman Brown.
b. Faktor 2 adalah lama penyimpanan: 0, 7, 14, dan 21 hari dengan
3 kali ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 10 butir telur dengan total telur yang digunakan sebanyak 240 butir
Variabel Penelitian Mikrobiologi Telur
Batas maksimum cemaran mikroba dalam bahan makanan dan telur dalam CFU (Colony forming unit)/g.
Total Mikroba Telur segar Telur kering Telur beku 1 105 < 2,5 ×x 10 3 < 2,5 × 103
< 1 × 102 < 1 × 101 < 1 × 101 1 × 10 1 < 1 × 101 < 1 × 101 Anonimus (2007).
Variabel yang diamati adalah jumlah total Total Plate Count (TPC) selama penyimpanan. Jumlah bakteri yang dihitung:
1 Faktor pengencer x volume inokulan CFU ml Kualitas exterior telur, meliputi:
1. Berat telur, berat telur ditimbang sebelum penyim- panan dan setelah penyimpanan dengan timbang- an untuk mengetahui perbedaan berat telur.
2. Kebersihan kerabang telur, kebersihan telur meliputi ada tidaknya kotoran sisa kotoran tinja/
feses yang menempel dicangkang telur, semakin kotor cangkang telur semakin rendah nilainya.
3. Permukaan telur, penilaian pada permukaan telur dilihat dari bentuk telur, permukaan telur yang kasar atau halus.
4. Indeks Telur, Panjang dan lebar masing2 telur di ukur dengan menggunakan jangka sorong, Indeks telur =
Kualitas interior telur, meliputi:
1. pH telur, putih dan kuning telur dicampur kedalam gelas ukur kemudian diaduk hingga homogen dan diukur dengan pH meter
2. Tebal dan berat kerabang, telur yang sudah dipecahkan kemudian diambil kerabangnya dan diukur ketebalannya dengan Jangka sorong dan Micrometer dan kemudian kerabang ditimbang dengan timbangan digital.
3. Warna kuning telur, untuk menentukan warna kuning telur tersebut dengan Egg Yolk Colour Fan.
Widyantara, P. R. A., G.A.M Kristina Dewi, I N. T. Ariana
4. HU / Haugh Unit, telur ditimbang beratnya lalu dipecah secara hati-hati dan diletakkan ditempat datar. Ketebalan putih telur (mm) diukur dengan mikrometer. Bagian putih telur yang diukur dipilih diantara pinggir kuning telur dan pinggir putih telur (Sudaryani, 2003). Kemudian dihitung Haugh Unit dengan rumus:
HU = 100 log (H + 7,57 - 1,7 W0,37) Keterangan:
HU = Haugh Unit
H = tinggi putih telur kental W = berat telur
Menurut Sudaryani (1996), semakin tinggi nilai HU menunjukan semakin baik kualitas telur.
1. Tingkat AA memiliki skor > 72 HU 2. Tingkat A memliki skor 62 – 72 HU.
3. Tingkat B memiliki skor < 60 HU Analisis Statistik
Data yang didapat kemudian dianalisis dengan sidik ragam (Anova), apabila terdapat interaksi (P<0,05) dilanjutkan dengan uji Duncan’s (Sastrosupadi, 2000) dengan bantuan program SPSS 17.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi perbedaan yang nyata (P>0,05 ) pada berat telur ayam kampung dimana pada H0 lebih tinggi dari pada disimpan 7 hari (H7), disimpan selama 14 hari (H14) dan disimpan selama 21 hari (H21) berturut-turut 40,61; 40,23; dan 40,56 (Tabel 1) dan telur ayam Lohman disimpan 1 hari (H0), disimpan selama 7 hari (H7), disimpan selama 14 hari (H14), disimpan selama 21 hari (H21) berturut- turut 63,60; 63,04; 63,09; 63,09 (Tabel 1), interaksi antara telur ayam kampung dan ayam Lohman tidak berpengaruh terhadap berat telur.
Pada telur ayam Lohman terjadi pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05), hal ini disebabkan induk ayam telah mendapat jumlah protein untuk dikonsumsi mencukupi kebutuhan untuk mencapai berat telur yang optimal. Berat telur juga dipengaruhi oleh genetik, dimana ayam kampung dengan kemampuan genetik rendah hanya akan mampu menghasilkan telur yang optimal sesuai kemampuannya dibanding dengan ayam Lohman. Ayam mampu mengefisienkan penggunaan ransum, sehingga bila terjadi defisiensi zat makanan, kebutuhannya dapat terpenuhi dengan merombak zat- zat makanan dari tubuhnya (Sudaryani, 2000).
Penurunan berat telur ayam kampung dan ayam Lohman merupakan salah satu perubahan yang nyata selama penyimpanan dan berkorelasi hampir linier terhadap waktu di bawah kondisi lingkungan yang konstan. Kecepatan penurunan berat telur dapat
diperbesar pada suhu tinggi dan kelembaban rendah.
Kehilangan berat sebagian besar disebabkan oleh penguapan air terutama pada bagian albumen, dan sebagian kecil penguapan gas-gas seperti CO2, NH3, N2, dan sedikit H2S akibat degradasi komponen protein telur (Kurtini et al., 2011). Telur ayam Lohman yang disimpan pada suhu ruang dengan kelembaban udara yang rendah akan mengalami penyusutan berat lebih cepat dibandingkan dengan telur ayam Lohman yang disimpan pada suhu ruang dengan kelembaban udara yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kelembaban yang rendah selama penyimpanan akan mempercepat penguapan karbondioksida dan air dari dalam telur, sehingga penyusutan berat akan lebih cepat (Stadelman dan Cotterill, 1995).
Kebersihan telur dari perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05) pada telur ayam kampung, dimana H7 menunjukan angka tertinggi (0,38) sedangkan dari H0, H14, H21 berturut-turut 0,33, 0,25 dan 0,11 lebih rendah dari H7. Pada telur ayam Lohman pada H0, H7, H14, H21 berturut-turut 0,12; 0,15; 0,16; dan 0,19 dimana secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05) (Tabel 1). Interaksi antara telur ayam kampung dan ayam Lohman Brown berpengaruh signifikan terhadap kebersihan permukaan telur. Hasil analisis tekstur permukaan telur menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P< 0,05).
Interaksi antara telur ayam Kampung dan ayam Lohman Brown berpengaruh terhadap kebersihan telur yang disebabkan oleh udara yang masuk membawa partikel debu yang menempel pada telur, dimana setiap harinya semakin bertambah debu yang menempel pada telur. Penurunan kebersihan juga dapat disebabkan oleh sisa kotoran yang menempel pada telur pada saat pengambilan telur dari kandang, dimana kotoran tersebut mengering dan mengeras pada cangkang telur. Sedangkan pada ayam Lohman Brown hasil yang didapat menunjukan tidak berbeda nyata (P > 0,05) hal ini dikarenakan telur yang keluar dari induknya langsung menuju ke tempat telur yang ada di kandang ayam sehingga meminimalisir kotoran menempel pada telur, walaupun udara yang membawa partikel debu menempel selama penyimpanan tetapi penurunan kebersihan telur menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata.
Tekstur permukaan pada telur ayam Kampung menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05) dimana H7 menunjukkan angka tertinggi (0,30), sedangkan perlakuan H0, H14, dan H21 berturut-turut 0,26; 0,12;
0,11 lebih rendah dari perlakuan H7. Sedangkan pada telur ayam Lohman Brown pada perlakuan pada telur ayam Lohman Brown pada H0, H7, H14, H21 berturut- turut 0,12; 0,16; 0,17; dan 0,19 dimana secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05) (Tabel 1) dan interaksi
Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Telur Konsumsi Ayam Kampung dan Ayam Lohman Brown
antara telur ayam kampung dan telur ayam Lohman Brown berpengaruh signifikan terhadap tekstur permukaan telur. Hasil analisis tekstur permukaan telur menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P< 0,05) paling tinggi pada H7 pada ayam Kampung dan pada H21 pada ayam Lohman Brown.
Telur yang baru keluar dari tubuh induknya mempunyai mutu yang terbaik. Hal ini disebabkan keadaan kulit telur, besarnya ruang udara, kondisi putih telur dan kuning telur masih dalam keadaan normal.
Semakin lama umur penyimpanan, mutu telur akan semakin menurun, karena terjadinya perubahan beberapa sifat kimia serta sifat fisik telur yang dipengaruhi oleh keadaan lingkungan tempat telur berada.
Tekstur permukaan telur juga bisa terjadi akibat umur induk ayam, dimana umur ayam mempengaruhi penyerapaan mineral pada saluran telur yang mengakibatkan saluran telur tidak lagi optimal menyerap nutrisi (mineral) dari pakan yang diberikan sehingga penyebaran mineral untuk pembentukan cangkang tidak merata dan menyebabkan permukaan telur yang tidak rata atau berbintil. Pakan ayam petelur fase layer harus mengandung 3-4% kalsium (Harms et al., 1996), Pakan yang dikonsumsi pada umumnya sudah habis tercerna pada saat pembentukan cangkang.
Kalsium pakan yang tertinggal di saluran pencernaan sangat sedikit. Jika absorbsi kalsium yang ada tidak memenuhi kebutuhan pembentukan cangkang, kalsium diambil dari tulang (Riczu dan Korver, 2009).
Indeks telur menunjukan perlakuan pada telur ayam kampung pelakuan H14 menunjukan angka tertinggi (79,91), sedangkan perlakuan H0, H7, H21 berturut-
turut 77,20; 77,02; dan 78,56 lebih rendah namun secara statistik menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Sedangkan pada perlakuan pada telur ayam Lohman perlakuan tertinggi pada perlakuan H21 (81,73) sedangkan perlakuan H0, H7 dan H14 berturut- turut 81,08; 81,02; 81,03; lebih rendah dari perlakuan H21 dan secara statistik menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05).
Interaksi antara telur ayam kampung dan ayam Lohman tidak berpengaruh terhadap indeks telur yang disimpan sampai 21 hari pada suhu kamar antar perlakuan penyimpanan 0 hari, 7 hari, 14 hari, dan 21 hari baik telur ayam kampung maupun telur ayam Lohman.
Interaksi antara telur ayam Kampung dan ayam Lohman Brown tidak berpengaruh terhadap indeks telur yang disimpan sampai 21 hari pada suhu kamar antar perlakuan penyimpanan 0 hari, 7 hari, 14 hari, dan 21 hari baik telur ayam Kampung maupun telur ayam Lohman Brown. Hasil yang didapatkan baik sesuai dengan Murtijo (1992) yang menyebutkan bahwa indeks telur yang baik berkisar antara 70-79. Nilai indeks yang besar menunjukan bahwa telur tersebut memiliki bentuk yang lebih bulat sedangkan telur yang lebih lonjong memiliki nilai indeks telur yang lebih kecil. Nilai yang lebih kecil disebabkan karena bagian isi dalam telur yang tidak seimbang (Anonimous, 2011).
Bentuk telur unggas bermacam-macam, umumnya berbentuk hampir bulat sampai lonjong. Perbedaan bentuk ini terjadi karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhi antara lain sifat genetik, umur unggas saat bertelur, serta sifat-sifat fisiologis yang terdapat dalam tubuh induk. Biasanya bentuk telur dinyatakan Tabel 1. Pengaruh penyimpanan terhadap kualitas eksterior telur ayam kampung dan ayam Lohman Brown
Variabel
Perlakuan Ayam Kampung
Penyimpanan (Hari) Lohman Brown
Penyimpanan (Hari) Inter-
aksi3) SEM(4)
H0(1) H7 H14 H21 H0 H7 H14 H21
Eksterior
Berat (g) 40,62a 2) 40,61a 40,23a 40,56a 63,16a 63,04a 63,09a 63,10a ns 0, 72
Kebersihan 0,33b 0,38b(2) 0,25ab 0,11a 0,12a 0,15a 0,16a 0,19a s 0,006
Tekstur permukaan telur 0,26ab 0,30b 0,12a 0,11a 0,12a 0,16a 0,17a 0,19a s 0,005
Indeks 77,20a 77,02a 79,91a 78,56a 81,08a 80,02a 81,03a 81,73a ns 2,149
Interior
Tebal kerabang (mm) 0,328a 0,339a 0,346a 0,338a 0,346a 0,337a 0,339a 0,339a ns 0,002
Berat kerabang(g) 5,36a 5,04a 5,97a 4,93a 6,01a 5,97a 6,09a 6,27a ns 0,178
pH telur 8,03a 7,50a 7,90a 7,83a 8,07a 8,26a 8,09a 7,72a ns 0,305
Warna kuning 8,80a 8,68a 9,80a 8,31a 10,86a 10,32a 10,76a 10,33a ns 0,893
HU 79,14a 77,56a 78,23a 77,68a 80,21a 80,59b 80,66b 79,10ab ns 4,204
Kandungan TPC mikroba
(CFU/g) 1,49 × 102a 1,53 × 102a 1,56 × 102a 1,65 × 102a 1,42 × 101a 1,56 × 101a 1,39 × 101a 2,00 × 101a ns 0,302
Grade AA AA AA AA AA AA AA AA -
Keterangan:
1) H0= lama penyimpanan 0 hari, H7= lama penyimpanan 7 hari, H14= lama penyimpanan 14 hari, H21 = Lama penyimpanan 21 hari
2) Superskrip yang sama pada baris yang sama berbeda tidak nyata (P>0,05) dan superskrip yang berbeda pada baris yang sama menujukkan berpengaruh nyata (P<0,05) 3) Interaksi
4) SEM: Standart Error of the Treatmeant Means
Widyantara, P. R. A., G.A.M Kristina Dewi, I N. T. Ariana
dalam indeks perbandingan antara lebar dan panjang dikalikan 100. Telur dari unggas yang berbeda menghasilkan ukuran yang berbeda pula. Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain jenis unggas, umur, perubahan musim sewaktu unggas bertelur, sifat keturunan, umur pembuahan, berat tubuh induk dan pakan yang diberikan.
Hasil penelitian terhadap kualitas interior telur ayam kampung dan ayam Lohman Brown selama penyimpanan tersaji pada Tabel 1. Tebal kerabang pada ayam kampung pada H14 adalah 0,346 yang lebih tinggi daripada H0, H7, dan H21 berturut-turut 0,328, 0,339, dan 0,338 dimana secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05). Pada telur ayam kampung, tebal kerabang secara stastistik juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05), pada ayam Lohman Brown dimana H0 menunjukkan angka 0,346 lebih tinggi dari H7, H14, dan H21 dimana berturut-turut 0,337;
0,339; 0,339 dan interaksi antara telur ayam kampung dan ayam Lohman tidak berpengaruh terhadap tebal kerabang telur ayam.
Pengaruh perlakuan terhadap kualitas interior telur seperti tebal kerabang memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) (Tabel 1). Rataan tebal kerabang yang didapat berkisar antara 0,34–0,40 cm pada ayam kampung dan 0,39–0,45 cm pada ayam Lohman Brown.
Kualitas kerabang telur dipengaruhi oleh kecukupan gizi ternak, kesehatan ternak, manajemen pemeliharaan, serta kondisi lingkungan peternakan. Kerabang telur mengandung sekitar 95% kalsium dalam bentuk kalsium karbonat dan sisanya seperti magnesium, fosfor, natrium, kalium, seng, besi, mangan, dan tembaga (Gary et al., 2009).
Hasil penelitian yang diperoleh berada diantara hasil penelitian Stadeleman et al. (1973) yaitu 0,33cm.
Secara umum kebutuhan kalsium untuk pembentukan kerabang telur sudah terpenuhi. Peningkatan kualitas kerabang telur dapat dicapai dengan menstablikan aliran kalsium ke pembuluh darah, hal ini dikarenakan sumber utama CaCO3 berasal dari ion bikarbonat dalam darah. Ion bikarbonat terbentuk dari reaksi antara CO2 dan H2O dalam darah dengan batuan enzim karbonik anhydrase (Blakely dan Bade, 1998). Tebal kerabang telur ayam Lohman berkisar antara 0,330 - 0,350 mm.
Tebal kerabang telur dipengaruhi beberapa faktor yaitu:
umur, tipe ayam, zat-zat makanan, peristiwa faal dari organ tubuh, stres, dan komponen lapisan kerabang telur. Kerabang yang tipis relatif berpori lebih banyak dan besar, sehingga mempercepat turunnya kualitas telur akibat penguapan dan pembusukan lebih cepat.
Ketebalan kulit telur ayam Lohman normal adalah sebesar 0,33–0,35 mm (Steward dan Abbott, 1972).
Hargitai et al. (2011) menyatakan tebal tipisnya kerabang telur dipengaruhi oleh strain ayam, umur
induk, pakan, stres dan penyakit pada induk. Salah satu yang mempengaruhi kualitas kerabang telur adalah umur ayam, semakin meningkat umur ayam kualitas kerabang semakin menurun, kerabang telur semakin tipis, warna kerabang semakin memudar, dan berat telur semakin besar (Yuwanta, 2010). Anon (2011) menyatakan masalah kerabang telur tipis dan lembek bisa bersumber dari nutrisi ataupun karena infeksi penyakit. Pada kerabang telur terdapat pori- pori. Banyaknya pori-pori per butir telur ayam Lohman berkisar antara 7.000 - 17.000 yang digunakan untuk pertukaran gas. Pori-pori tersebut berukuran 0,01 - 0,07 µm dan tersebar di seluruh permukaan telur. Kerabang telur pada bagian tumpul memiliki jumlah pori-pori per satuan luas lebih banyak dibandingkan dengan pori-pori bagian yang lain (Kurtini et al., 2011).
Hasil penelitian pada berat kerabang telur ayam kampung menunjukan H14 (5,97g) lebih tinggi dibandingkan dengan H0, H7, dan H21 berturut-turut 5,36 g; 5,04 g; dan 4,93 g secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05). Pada telur ayam Lohman Brown, berat kerabang H21 (6,21g) menunjukan lebih tinggi dibandingkan H0, H7 dan H14 berturut-turut 6,01g;
5,97g; dan 6,09g dimana secara statistik menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) dan interaksi antara telur ayam kampung dan ayam Lohman tidak berpengaruh terhadap berat kerabang telur (Tabel 1).
Kerabang telur merupakan bagian terluar yang membungkus isi telur dan berfungsi mengurangi kerusakan fisik maupun biologis, serta dilengkapi dengan pori-pori kerabang yang berguna untuk pertukaran gas dari dalam dan luar kerabang telur (Sumarni dan Djuarnani, 1995). Komposisi kerabang telur terdiri atas 98,2% kalsium, 0,9% magnesium dan 0,9% fosfor (Stadelman dan Cotteril, 1973).
Kerabang telur dilindungi oleh lapisan kutikula luar dan membran kerabang dalam (Yamamoto et al., 1996).
Pada bagian kerabang telur ditemukan dua selaput (membran), yaitu membran kerabang telur (outer shell membrane) dan membran albumen (inner shell membrane) yang berfungsi melindungi isi telur dari infiltrasi bakteri dari luar (Kurtini et al., 2011).
Berat kerabang dipengaruhi oleh kandungan nutrien ransum, kesehatan, managemen pemeliharaan dan kondisi lingkungan. Cangkang telur mengandung sekitar 95% kalsium dalam bentuk kalsium karbonat dan sisanya magnesium, fosfor, natrium, kalium, seng, besi, mangan, dan tembaga (Gary et al., 2009). Cangkang (shell) terdiri dari kutikula (cutcle), lapisan kapur busa (spongi calcareous layer) dan lapisan mamillaris (mammilary layer). Cangkang telur tersusun dari 94% CaCO3, 1%
MgCO3, 1% CaPO4, dan 4% sisanya adalah bahan organik. Pembentukan cangkang telur membutuhkan penyediaan ion kalsium yang cukup dan adanya ion
Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Telur Konsumsi Ayam Kampung dan Ayam Lohman Brown
karbonat dalam cairan uterus (Hintono, 1995). Mineral banyak terdapat dalam cangkang telur adalah Kalsium.
Defisiensi kalsium dapat menyebabkan kerabang telur menjadi tipis dan produksi akan menurun (Anggorodi, 1985).
Hasil penelitian pada pH telur ayam kampung menunjukkan H0 lebih tinggi (8,03) dibandingkan H7, H14, H21 berturut-turut 7,50; 7,80; 7,93. Secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05). Pada telur ayam Lohman H7 memiliki rataan tertinggi (8,26) dibandingkan dengan H0, H14 dan H21 berturut-turut 8,07; 8,09;
dan 7,72 secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05) dan Interaksi antara telur ayam kampung dan ayam Lohman tidak berpengaruh terhadap pH telur ayam (Tabel 1). Terhadap pH pada telur setelah mendapat perlakuan disimpan tidak berbeda nyata (P>0,05) hal ini dimungkinkan pada waktu penyimpanan hingga 21 hari pada suhu kamar tidak memberikan peluang terhadap mikroba untuk merombak protein maupun lemak pada telur ayam kampung maupun ayam Lohman Brown.
Berbeda dengan kelembaban, semakin tinggi suhu maka CO2 yang hilang lebih banyak, sehingga menyebabkan pH albumen meningkat dan kondisi kental albumen menurun (Indratiningsih, 1984).
Penyimpanan dapat meningkatkan nilai pH telur.
Meningkatnya nilai pH telur terjadi karena penguraian senyawa NaHCO3 menjadi NaOH dan CO2. NaOH yang dibentuk akan diurai menjadi Na+ dan OH- sedangkan CO2 yang dibentuk akan menguap, sehingga meningkatkan pH albumen. Peningkatan pH tersebut akan membentuk ikatan kompleks ovomucin-lysozyme yang menyebabkan kondisi albumen menjadi encer (Budiman dan Rukmiasih, 2007).
Hasil penelitian pada warna kuning telur ayam kampung menunjukan H14 lebih tinggi (9,80) dibandingkan H0, H7, H21 berturut-turut 8,80; 8,68;
8,31. Secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05). Pada telur ayam Lohman H0 memiliki rataan tertinggi (10,86) dibandingkan dengan H7, H14 dan H21 berturut-turut 10,32, 10,76 dan 10,33 secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05) dan Interaksi antara telur ayam kampung dan ayam Lohman tidak berpengaruh terhadap warna kuning telur (Tabel 4.2). Pengaruh perlakuan terhadap warna kuning telur memperlihatkan hasil analisa sidik ragam antar perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05) baik ayam kampung maupun ayam Lohman. Warna kuning telur sendiri dipengaruhi oleh Xantophill dalam ransum yang dikonsumsi ayam saat dipelihara, sebagai mana dikatakan oleh Sudaryani (2003) warna kuning telur yang baik berkisar 9-12.
Argo dan Mangisah (2013) menyatakan warna kuning telur salah satunya dipengaruhi oleh kandungan xanthopyl, betacaroten, klorofil dan cytosan dari ransum. Adanya perbedaan warna kuning telur ini
diduga disebabkan oleh perbedaan kemampuan metabolisme dalam mencerna ransum dan perbedaan dalam menyerap pigmen xantophyl dalam ransum.
Selain itu, telur mengalami perembesan air dari putih telur ke kuning telur yang mengakibatkan perenggangan membran vitelin, sehingga volume kuning telur menjadi lebih besar yang mengakibatkan warna kuning telur menjadi pucat.
Hasil penelitian pada HU telur ayam kampung menunjukan H0 lebih tinggi (79,14) dibandingkan H7, H14, H21 berturut-turut 77,56; 78,23; 77,68. Secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05). Pada telur ayam Lohman Brown H14 memiliki rataan tertinggi (80,66) dibandingkan dengan H0, H7 dan H21 berturut-turut 80,21; 80,59; dan 79,10 secara statistik berbeda nyata (P<0,05) pada Tabel 1 dan interaksi antara telur ayam kampung dan telur ayam Lohman berpengaruh signifikan terhadap HU (P<0,05). Interaksi ini disebabkan oleh genetik ayam Lohman yang berpengaruh terhadap lebar pori-pori kerabang yang berdampak pada penguapan didalam telur
Haugh Unit (HU) yang diperoleh dari telur ayam kampung maupun ayam Lohman Brown yang memperoleh penyimpanan sampai 21 hari memiliki skor berkisar 77-79 pada ayam kampung dan 78-80 pada ayam Lohman Brown. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan skor 60 menurut Haugh (2004). Derajat kesegaran telur dibedakan menjadi tingkat AA memiliki skor >72 HU, tingkat A memiliki skor 62-72 HU, tingkat B memiliki skor < 60 HU (Haugh, 2004). Dengan nilai HU di atas maka menunjukkan kualitas telur masih baik selama penyimpanan dan sesuai dengan grade yang diperoleh AA, semua perlakuan baik ayam kampung maupun ayam Lohman Brown.
Nilai HU pada telur ayam Lohman pada penyimpanan 14 hari nyata (P<0,05) lebih tinggi dari pada penyimpanan 0, 7, dan 21 hari. Hal ini dimungkinkan terjadi karena penurunan penguapan CO2 dan H2O dari dalam telur dikarenakan suhu kamar yang stabil.
Normalnya, telur yang masih baru, pori-porinya masih dilapisi oleh lapisan tipis kutikula yang terdiri dari 90% protein dan sedikit lemak. Fungsi kutikula untuk mencengah penetrasi mikroba melalui kerabang telur dan mengurangi penguapan air yang terlalu cepat (Sirait, 1986). Semakin lamanya waktu penyimpanan, semakin tingginya penguapan CO2 dan H2O sehingga putih telur semakin menurun kekentalannya. Pengenceran putih telur terjadi karena perubahan struktur gelnya, akibat kerusakan fisiko - kimia serabut ovomucin yang menyebabkan keluarnya air dari jala-jala yang telah dibentuknya. Telah diketahui bahwa ovomucin adalah glikoprotein berbentuk serabut dan dapat mengikat air membentuk struktur gel (Sirait, 1986).
Pada telur ayam kampung H21 memiliki rataan
Widyantara, P. R. A., G.A.M Kristina Dewi, I N. T. Ariana
tertinggi (1,65 x 102) dibandingkan dengan H0, H7 dan H14 berturut-turut 1,49 x 102; 1,53 x 102; 1,56 x 102 secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05).
Hasil penelitian pada mikroba telur ayam Lohman H21 menunjukan rataan tertinggi (2,00 × 101) dibandingkan dengan H0, H7, dan H14 berturut-turut 1,42 × 101; 1,56×101; 1,39×101 secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05) (Tabel 1). Kandungan TPC mikroba (cfu/g) pada Tabel 1 penyimpanan H0, H7, H14 dan H21 pada suhu kamar mengalami peningkatan, baik telur ayam kampung maupun telur ayam Lohman Brown tidak berbeda nyata (P>0,05). Peningkatan total mikroba dari masing-masing penyimpanan telur disebabkan karena bahan makanan atau nutrien yang terkandung dalam telur masih tersedia dan adanya hasil metabolisme yang mungkin beracun dapat mengambat pertumbuhan dari bakteri itu sendiri. Persediaan air dalam telur yang mulai terbatas disebabkan terjadinya pengkristalan sehingga air tersebut tidak dapat diserap akibatnya bakteri mengalami kekurangan air (Fardiaz, 1992).
Perbedaan kondisi lingkungan di dalam tubuh induk dengan lingkungan di luar tubuh induk menyebabkan berbagai perubahan pada telur. Alat reproduksi induk mempunyai kelembaban yang tinggi dengan suhu yang hangat, sedangkan kondisi lingkungan di luar tubuh induk mempunyai keadaan yang lebih kering dan suhu yang lebih rendah. Terjadinya ruang udara dan pemisahan membran kulit luar dan dalam disebabkan perubahan suhu tersebut. Besarnya ruang udara dipakai sebagai atribut mutu telur. Permukaan kulit mula-mula diselimuti oleh cairan mukosa yang kental. Pada saat peneluran terjadi pengeringan mukosa tersebut. Pada saat masih basah mukosa mampu melindungi telur dari penetrasi air, gas dan bakteri melalui kulit (Yunita, 2015) dan karena jumlah total mikroba pada telur yang didapat masih dibawah standar yaitu 1 × 105 koloni maka telur tersebut masih layak dikonsumsi (Anonimus, 2007).
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa (1) Kualitas telur ayam kampung dan ayam Lohman tetap memiliki kualitas baik dan masih layak dikonsumsi setelah disimpan selama 21 hari dengan Grade AA. (2) Lama penyimpanan berpengaruh terhadap kualitas eksterior dan interior telur dimana terdapat penurunan selama masa penyimpanan tetapi telur masih layak dikonsumsi. (3) Terjadi interaksi yang signifikan antara perlakuan dengan jenis ayam pada kebersihan telur dan tekstur permukaan telur ayam Kampung dan ayam Lohman Brown selama penyimpanan
DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makan- an Ternak Unggas.PT. Gramedia. Jakarta
Anonimous. 2011. Telur dan Problematikanya. https:// info.
Anonim. co. id/index. php/ artikel/ layer/ penyakit/
telur- dan- problematikanya. Diakses pada tanggal 15 Mei 2015
Budiman, C. dan Rukmiasih. 2007. Karakteristik Putih Telur Itik Tegal. Jurnal Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Gary, D., D. V. M Butcher, dan R. Miles. 2009. Ilmu Unggas.
Jasa Ekstensi Koperasi, Lembaga Ilmu Pangan dan Pertanian Universitas Florida. Gainesville.
Hadiwiyoto, S. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Limbah.
Jakarta: Yayasan Idayu.
Haugh, R. R. 2004. The Haugh Unit for Measuring Egg Quali- ty. U.S Egg Poultry Magazine. No.43, Pages 552-555 and 557-573. (1973)
Hargitai, R., R. Mateo, J. Torok. 2011. Shell thickness and pore density in relation to shell colouration female characterstic, and enviromental factors in the collared flyctcher ficedula albicolis. J. Ornithol.152:579-588.
Harms, R.H., C.R. Douglas, dan D.R. Sloan. 1996. Midnight feeding of commercial laying hens can improve eggshell quality. Journal of Poultry Applied Science Resources 5:1 -5.
Jamila, F., K. Tangdilintin, dan R. Astuti, 2009. Kandungan protein kasar dan serat kasar pada feses ayam yag di- fermentasi dengan Lactobacillus sp. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, Bogor.
Kurtini, T., K. Nova., dan D. Septinova. 2011. Produksi Ter- nak Unggas. Universitas Lampung, Bandar Lampung.
Pelczar, M. J., dan E. C. S. Chan, 1988. Dasar-Dasar Mikro- biologi 2. Penerjemah: Hadioetomo, R. S. Universitas Indonesia Press. Jakarta Hal: 468-469.
Sirait, C. H. 1986. Telur dan Pengolahannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor
Sarwono, 1995. Pengawetan dan Pemanfaatan Telur. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Edisi revisi. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Stadelman, W. J. and O.J. Cotteril, 1973. Egg Science and Technology. Mac Millan Publisher, UK.
Steward, G.F. and J.C. Abbott. 1972. Marketing Eggs and Poultry. Food and Agricultural Organization (FAO).
The United Nations. Rome
Sudaryani, 2003. Kualitas Telur. Penebar Swadaya, Jakarta Yamamoto, T., L. Juneja, R. Hatta, and M. Kim. 1997. Hen
Eggs. CRC Press. New York.
Yuanta, T. 2010. Telur dan Kualitas Telur. Gadjah Mada University Press.
Yunita. 2015. Penentuan mutu telur. http:// kulinologi. co.
id/ acrobat/ index1. php? View & id= 900. Diakses 2015
Profil Asam Lemak Daging Babi Bali Asli dan Babi Landrace
PROFIL ASAM LEMAK DAGING BABI BALI ASLI DAN BABI LANDRACE
SRIYANI, N. L. P., M. A. RASNA., I N. A. ARIANA DAN A. W. PUGER
Fakultas Peternakan Universitas Udayana e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan profil lemak hewani dari dua jenis daging babi dari bangsa (breed) yang berbeda yaitu babi bali asli (babi lokal) dan babi landrace (babi ras). Penelitian ini dilaksanakan dengan mengambil beberapa sampel daging babi bali dan babi Landrace. Daging yang diambil bersumber dari daging yang dijual di Rumah Potong Hewan Tradisional yang berlokasi di Banjar Pegending, Desa Dalung Kuta Utara. Selanjutnya sampel daging dianalisis profil asam lemaknya dengan metode Gas Cromatografi di Laboratorium Terpadu IPB Bogor. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa profil asam lemak penyusun daging babi bali asli maupun daging babi landrace terdiri dari 10 asam lemak jenuh (Saturated Fatty Acids/SFA) yaitu asam caprik, asam laurat, asam miristat, asam pentadecanoat, asam palmitat, asam heptadecanoat, asam stearat, asam arachidat, asam behenik, asam caprilic, empat jenis asam lemak tidak jenuh tunggal (Mono Unsatured Fatty Acids/MUFA) yaitu asam palmitoleat, asam oleat, asam erucic, asam eiucosenoic dan 2 jenis asam lemak tak jenuh ganda (Polly Ansatured Fatty Acids/PUFA) yaitu asam linoleat, asam eicosedienoic.
Kata kunci: profil asam lemak, daging babi bali, dan babi landrace
PROFILE AND FATTY ACID CHARACTERISTICS OF BALI PIG AND LANDRACE MEAT
ABSTRACT
The purpose of this study is to determine the differences of profile and characteristics of fatty acid on bali pig and landrace’s pork. Meat samples are taken from the traditional slaughter housing at Banjar Pegending, Dalung, North Kuta. The fatty acid was analyzed from meat sample with Cromatography Gas method at Bogor Agriculture Institute Laboratorium. The result of study showed that profile of fatty acid forms consists of 10 Saturated Fatty Acids/SFA.
They are capric acid, lauric acid, myristic acid, pentadecanoic acid, palmitic acid, heptadecanoic acid, stearic acid, arachidic acid, behenic acid and caprilic acid. Four mono unsaturated fatty acids (MUFA) are palmitoleic acid, oleic acid, erucic acid, and eiucosenoic acid. Two poly unsaturated fatty acids (PUFA) are linoleic acid and eicosedienoic acid. The differences of pork taste caused by different content of fatty acids.The flavor of bali’s pork caused by higher content of oleic acid compared to Landrace pork.
Key word: profile fatty acid, bali pig’and landrace meat PENDAHULUAN
Penyediaan pangan, termasuk pangan asal hewan akan menjadi tantangan bagi sejumlah negara di dunia.
Hal ini disebabkan kecepatan perkembangan jumlah penduduk, meningkatnya kesadaran gisi masyarakat dan meningkatnya pendapatan penduduk per kapita.
Kalau kita cermati arah kebijakan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan pasca tahun 2014, tampaknya terjadi perubah strategi dari pendekatan swasembada menjadi pemenuhan kebutuhan bahan pangan pokok.
Untuk itu sasaran yang harus dicapai kaitannya dengan budidaya ternak adalah bagaimana produksi dan populasi ternak bisa ditingkatkan. Program pemerintah ini juga menekankan pembangunan sektor peternakan melalui peternakan tangguh berbasis pada sumberdaya lokal (Dirjennak dan Keswan, 2010). Salah satu ternak lokal dan merupakan plasma nuftah pulau Bali yang potensial dikembangkan sebagai sumber pangan hewani adalah ternak babi bali.
Pulau Bali pada umumnya, sebagian besar masyarakat mengkonsumsi daging babi. Hal ini bisa dimaklumi
Sriyani, N. L. P., M. A. Rasna., I N. A. Ariana dan A. W. Puger
karena sebagian besar dari masyarakatnya adalah penganut agama Hindu yang tidak mengharamkan daging babi untuk dikonsumsi. Daging babi yang beredar di pasar tradisional kota Denpasar pada umumnya berasal dari daging babi dari bangsa babi landrace.
Sangat sedikit ditemukan daging babi yang berasal dari breed babi bali (lokal). Beberapa permasalahan pada pemeliharaan babi lokal antara lain kecepatan produksi yang relatif lebih rendah dibandingkan bangsa babi landrace dan penyediaan bibit yang terbatas menjadi penyebab langkanya peredaran daging babi bali di pasar- pasar tradisional. Namun daging babi bali memiliki segmen pasar/konsumen yang khusus terutama bagi konsumen yang menggunakan babi bali sebagai sarana upacara misalnya untuk pembuatan guling babi dan kuliner lainnya yang berasal dari daging babi. Beberapa konsumen yang masih setia terhadap daging babi bali menyatakan pendapatnya bahwa daging babi bali memiliki cita rasa yang jauh lebih gurih dibandingkan daging babi landrace.
Daging adalah salah satu produk peternakan yang potensial sebagai sumber protein hewani asal ternak.
Disamping protein, daging juga mengandung lemak.
Lemak adalah salah satu komponen makanan multi- fungsi yang sangat penting untuk kehidupan. Selain memiliki sisi positif, lemak juga mempunyai sisi nega- tif terhadap kesehatan. Asupan lemak jenuh dalam jumlah banyak akan meningkatkan kadar kolesterol darah yang berarti juga meningkatkan resiko ar- terosklerosis dan selanjutnya dapat meningkatkan resiko penyakit jantung koroner. Sebagaian besar penelitian mengenai asam lemak jenuh yang dikait- kan dengan penyakit kardiovaskuler, biasanya meng- gunakan asam lemak jenuh hewani yang merupakan asam lemak jenuh rantai panjang. Adanya kekwatiran akan produk peternakan terhadap kandungan lemak khususnya lemak jenuh perlu menjadi perhatian dalam pemilihan produk ternak misalnya dalam memilih da- ging yang bersumber bangsa ternak yang berbeda.
Mengacu dari permasalahan tersebut di atas maka peneltian ini dilakukan untuk melihat perbedaan profil dan karakteristik lemak hewani yang terdapat pada daging babi dari dua jenis yaitu babi bali dan babi landrace.
MATERI DAN METODE Materi
Materi dalam penelitian ini adalah daging dari otot longisimus dorsi (LD), dari ternak babi yang memiliki umur dan jenis kelamin yang sama tetapi dengan bangsa (breed) yang berbeda. Sampel ternak tersebut berasal dari ternak babi bali asli dan babi Landrace. Ternak babi bali berasal dari babi yang dipelihara secara tradisonal
di Kecamatan Grokgak, Kabupaten Buleleng dan ternak babi Landarce yang dipelihara secara intensif di Banjar Pegending, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung.
Lokasi
Pemotongan ternak dilaksanakan di tempat pemo- tongan hewan tradisional (RPH) di Banjar Pegending Mengwi Kabupaten Badung. Setelah sampel daging diambil dilanjutkan dengan analisis profil asam lemak daging di Lab Terpadu Institut Pertanian Bogor.
Prosedur Analisis Profil Asam Lemak dengan Metode Gas Cromatografi
Analisis komposisi asam asam lemak dari masing masing sampel daging yang telah diekstrak dilakukan menurut prosedur AOAC (1990). Prosedur analisis dilakukan dengan bantuan instrumen kromatografi gas (GC) dari tipe GC-9AM Shimadzu dan tipe Hewlett Packard (Hp) 6890 series.
Diawali dengan mengekstrak lemak sampel da ging dengan heksana selama ± 6 jam. Sampel lemak di- timbang sebanyak 20-30 mg dan dimasukkan ke dalam tabung bertutup teflon. 1 mL NaOH 0,5 N ditambahkan dalam metanol dan dipanaskan dalam penangas air se- lama 20 menit. Selanjutnya 2 ml BF3 16 % dan 5 mg/ml standar internal, dipanaskan selama 20 menit. Kemu- dian ditambahkan 2 ml NaCI jenuh dan 1 ml heksana, kocok dengan baik. Lapisan heksana dengan bantuan pipet tetes dipindahkan ke dalam tabung yang berisi 0,1 g Na2SO4 anhidrat, dan dibiarkan 15 menit selanjutnya diinjeksikan ke kromatografi gas.
Sebanyak 1µl pelarut diinjeksikan ke dalam kolom.
Bila aliran gas pembawa dan sistem pemanasan sempurna, puncak pelarut akan nampak dalam waktu kurang dari 1 menit. Setelah pena kembali ke nol (baseline) 5 µl campuran standar FAME diinjeksikan.
Bila semua puncak sudah keluar, 5 µl sampel yang telah dipreparasi (A) diinjeksikan. Waktu retensi dan puncak masing-masing komponen diukur. Jika rekorder dilengkapi dengan integrator, waktu retensi dan luas puncak langsung diperoleh dari integrator. Waktu retensi dengan standar dibandingkan untuk mendapatkan informasi mengenai jenis dari komponen-komponen dalam sampel. Untuk metode standar internal, jumlah masing-masing komponen dalam sampel dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:
Ax . R Cs Cx =
AS
Keterangan:
Cx = Konsentrasi komponen x CS = Konsentrasi standar internal Ax = Luas puncak komponen x AS = Luas puncak standar internal
R = Respon detektor terhadap komponen x relatif terhadap standar