SESAT PIKIR “AD HOMINEM”
DALAM TUTURAN WARGANET DI YOUTUBE
Yoga Tri Adhi
Universitas Lambung Mangkurat [email protected]
Abstract
Era kelimpahan informasi membuat media sosial memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Era saat ini telah berkembang pesat, membuat tipisnya batas atau dapat juga disebut era borderless. Semakin menghilang batas kabupaten/kota, provinsi, dan negara. Artinya, teknologi memungkinkan semua orang untuk saling terhubung tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Indonesia menduduki peringkat keempat sebagai negara yang memiliki penduduk paling aktif dalam menggunakan media sosial. Data menyebutkan bahwa Youtube merupakan media sosial yang paling banyak digunakan sepanjang tahun 2020. Banyak inovasi yang muncul sejak ada media sosial. Pertumbuhannya semakin masif karena daya kreativitas warga internet (warganet) yang tidak terbatas, termasuk dalam aktivitas bertutur atau menyampaikan pendapat. Sering kali tuturan yang disampaikan oleh warganet pada konten informasi tertentu disampaikan dengan logis. Namun, ada juga beberapa komentar yang dituturkan di media sosial tersebut tidak logis. Kajian yang membahas mengenai ketidaklogisan kalimat atau tuturan disebut sesat pikir. Sesat pikir dalam tuturan warganet memiliki banyak bentuk. Namun, terdapat satu jenis sesat pikir yang paling sering terjadi, yaitu ad hominem. Sesat pikir ad hominem harus dihindari karena membuat suatu argumen menjadi tidak valid. Hal ini dikarenakan tuturan yang disampaikan tidak memiliki hubungan yang didasarkan pada konteks tetapi membuat argumen pada ranah pribadi. Ad hominem terbagi menjadi empat bentuk secara spesifik, yakni: abusive, circumstantial, guilt by association, dan tu quoque.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif karena berfokus pada tuturan yang memiliki bentuk logika sesat pikir ad hominem. Data yang digunakan adalah tuturan warganet yang mengandung sesat pikir ad hominem dan sumber data yang digunakan adalah media sosial Youtube.
Keywords: sesat pikir, ad hominem, tuturan, youtube
PENDAHULUAN
Media sosial merupakan suatu aplikasi yang memungkinkan setiap orang untuk memiliki jejaring sosial. Media sosial digunakan oleh warga internet (warganet) untuk saling berinteraksi dan berbagi informasi. Informasi yang dibagikan terkadang bermanfaat tetapi juga kadang merugikan. Indonesia menduduki peringkat keempat
sebagai pengguna media sosial terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Dahono (2021), Youtube menjadi media sosial terbesar di Indonesia, melampaui WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Twitter. Penggunaan media sosial yang besar tentu akan memiliki dampak yang luas dalam aktivitas bermasyarakat. Setiap orang memiliki kemampuan untuk berpikir sebagai aktivitas mental.
Seseorang tidak bisa lepas dari aktivitas berpikir. Hal tersebut tumbuh sejak lahir dan berkembang bersama pertumbuhan otak, panca indra, dan budaya setempat yang turut berperan dalam membentuk pola pikir. Kegiatan berpikir bukan hanya dilakukan ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain melainkan dengan diri sendiri, seseorang dapat melakukan aktivitas berpikir yang diwujudkan dalam sebuah kontemplasi. Memiliki pemikiran yang logis menjadi penting karena akan membuat seseorang terhindar dari sesat pikir.
Sesat pikir adalah kekeliruan dalam melakukan penalaran dalam penarikan simpulan dari premis yang menimbulkan keputusan yang keliru. Ad hominem, merupakan satu dari sekian banyak jenis sesat pikir yang sering dijumpai karena jenis sesat pikir ini bertujuan untuk melakukan penyerangan pada ranah pribadi, bukan pada argumen itu sendiri. Setiap orang harus mempunyai pemikiran logis dalam melakukan suatu kegiatan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat (Indah & Kusuma, 2015) yang menyebutkan bahwa kesalahan yang dibuat dalam penalaran terjadi ketika alasannya tidak cukup mendukung klaim. Tanpa pemikiran logis, seseorang tidak akan bisa melakukan penarikan simpulan dengan benar.
Poespoprodjo (2018) menjelaskan bahwa seorang sastrawan Inggris, Charles Lamb, menyebut dirinya sebagai a bundle of prejudices made up of likings and dislikings atau sebuah prasangka yang terdiri dari suka dan tidak suka. Orang biasanya menganggap benar apa yang disukainya dan apa yang diinginkannya. Prasangka merupakan hal subjektif yang bergantung kepada keadaan seseorang. Berpikir secara objektif sangat sulit jika berpikir hanya didasarkan kepada prasangka.
Berpikir logis adalah proses seseorang menggunakan penalaran secara konsisten untuk sampai pada suatu simpulan. Berpikir logis merupakan dasar bagi manusia untuk mengambil suatu keputusan, dari keputusan kecil sampai keputusan besar.
Kerancuan atau kesesatan dalam berpikir harus semaksimal mungkin dihindari. Inti dari kemanusiaan adalah akal dalam melakukan atau mempelajari apapun. Manusia yang bijaksana tentunya mempertanyakan manfaat dalam melakukan atau mempelajari sesuatu.
Kita tidak mungkin mendapatkan hasil yang benar tindakan yang benar, perkataan yang benar, jika tidak dimulai dengan berpikir benar karena berpikir adalah awal mula terciptanya segala sesuatu. Logika hadir sebagai pengatur cara berpikir seseorang hingga berpikirnya menjadi benar setelah cara berpikirnya benar barulah perkataan tindakan dan hasil yang didapatkan juga dapat ikut benar. Bagaimana bisa kita berbicara mengenai perihal yang benar dan salah tanpa mengetahui bagaimana cara berpikir benar. Apakah setelah kita mempelajari ilmu logika cara berpikir menjadi
selalu dan mutlak benar? Tidak selalu demikian. Bagaimana dengan kita sebagai warga negara Indonesia yang belajar bahasa Indonesia tapi masih banyak kesalahan dalam penggunaannya sehari-hari? Hal tersebut sangat bergantung pada sejauh mana penerapan kaidah-kaidah dari sang pembelajar ilmu logika.
KAJIAN PUSTAKA
Rakhmat (2013) berpendapat bahwa logika merupakan cabang ilmu filsafat yang bersifat praktis berpangkal pada penalaran dan sekaligus juga sebagai dasar filsafat.
Dalam penerapannya, memiliki kemampuan berfilsafat yang baik harus berdasarkan logika agar suatu penalaran menjadi benar. Logika sebagai suatu cabang ilmu filsafat berperan sebagai sarana untuk berpikir secara teratur, sahih, dan dapat dipertanggungjawabkan. Implementasi penerapan ilmu logika yang baik dapat dilakukan melalui bahasa.
Berdasarkan uraian tersebut, Sumanto (2017) menyimpulkan bahwa filsafat dan bahasa memiliki hubungan atau relasi yang sangat erat dan sekaligus merupakan hukum kausalitas sebab-akibat yang tidak dapat ditolak kehadirannya. Kaitan bahasa dengan filsafat memang sudah lama menjadi perbincangan publik yang mendapatkan perhatian penting bagi para filsuf untuk mempelajari dan memperhatikan perbincangan. Perbincangan ini adalah ketika para filsuf menyadari bahwa segala macam permasalahan dalam filsafat dapat dijelaskan melalui suatu analisis bahasa.
Kekeliruan dalam penerapan kaidah-kaidah logika dapat membawa keadaan seseorang mengalami sesat pikir. Sesat pikir memiliki banyak bentuk, yang paling sering terjadi adalah ad hominem, yang terbagi menjadi empat bagian, yakni: abusive, circumstantial, guilt by association, dan tu quoque.
Argumentum ad hominem adalah argumen yang yang digunakan untuk menyerang kelemahan pribadi seseorang. Dalam bahasa latin, ad hominem berarti manusia atau individu. Argumen ini disebut rancu karena dilakukan dengan menyerang kelemahan pribadi seseorang daripada menjawab argumen awal sehingga menjadi tidak logis.
Dalam ilmu logika, Bennett (2020) membuat klasifikasi argumentum ad hominem menjadi 4 bagian.
Pertama, disebut dengan argumen ad hominem kasar atau abusive. Merupakan argumen yang digunakan untuk menyerang kelemahan seseorang secara langsung berkaitan dengan keadaan fisik seseorang atau bahkan memberikan stigma tertentu berkaitan dengan kondisi tertentu secara kasar. Bentuk logika sesat pikir ini adalah sebagai berikut:
- Orang 1 mengklaim Y.
- Orang 1 adalah orang yang ceroboh.
- Oleh karena itu, Y tidak benar.
Sebagai contoh, untuk menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), Anda harus mempunyai badan yang tinggi dan tegap. Melihat postur badannya yang pendek, saya mengira dia tidak akan dapat menjadi anggota TNI. Dari argumen tersebut, dapat dilihat bahwa yang diserang adalah keadaan fisik seseorang. Keadaan fisik tersebut digunakan untuk menentukan bahwa orang tersebut tidak akan dapat menjadi anggota TNI. Padahal, kita tahu memang salah satu standar untuk menjadi TNI adalah badan yang tinggi. Namun, kita tidak bisa menggunakan keadaan fisik seseorang untuk menentukan apakah dia layak atau tidak untuk menjadi anggota TNI karena masih banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan.
Jenis kedua adalah ad hominem circumstantial, merupakan argumen yang digunakan untuk menyerang kelemahan seseorang berkaitan dengan latar belakang seseorang atau memiliki kepentingan tertentu. Bentuk logika sesat pikir ini adalah sebagai berikut.
- Orang 1 mengklaim Y.
- Orang 1 memiliki kepentingan pribadi terhadap Y untuk diwujudkan.
- Oleh karena itu, Y adalah salah.
Contohnya terdapat dalam percakapan berikut.
Penjual : “Mobil ini lebih baik dari rata-rata jarak tempuh dan merupakan salah satu mobil paling andal menurut Consumer Reports.”
Pembeli : “Saya meragukannya. Anda jelas hanya ingin menjual mobil itu kepada saya, kan?
Fakta bahwa penjual memiliki kepentingan dalam menjual mobil tidak berarti dia berbohong. Kemungkinan tersebut memang ada, tetapi bukan sesuatu yang dapat disimpulkan hanya berdasarkan niatnya. Hal tersebut beralasan untuk berasumsi bahwa penjualan produk mereka dikarenakan rasa percaya karena sudah memenuhi syarat dari Consumer Reports.
Jenis ketiga, adalah ad hominem guilt by association, merupakan argumen yang didasarkan pada sumber yang dipandang negatif karena memiliki hubungan atau asosiasi dengan orang atau kelompok lain yang telah dipandang negatif. Bentuk logika tersebut adalah sebagai berikut:
- Orang 1 menyatakan Y adalah benar.
- Orang 2 juga menyatakan Y adalah benar. Namun, dia bagian dari anggota kelompok yang dianggap ceroboh.
- Oleh karena itu, Orang 1 pasti ceroboh.
-
Contohnya, Indi adalah pendukung untuk kesetaraan upah yang sama untuk pekerja. Ini adalah kebijakan yang sama yang didukung oleh semua kelompok ekstrem feminis. Jadi, ekstremis seperti Indi tidak perlu dianggap serius.
Penjelasannya adalah membuat asumsi bahwa Indi adalah seorang ekstrem feminis hanya karena dia mendukung kebijakan yang hampir semua pria dan wanita
juga mendukung, adalah suatu kekeliruan karena asumsi hanya didasarkan pada asosiasi yang kebetulan memiliki tujuan yang sama untuk hal tertentu, yaitu kesetaraan upah pekerja.
Keempat adalah ad hominem tu quoque. Dalam bahasa latin, tu quoque berarti “Anda juga”, merupakan argumen yang meletakkan argumen itu keliru atau menyesatkan dengan menunjukkan bahwa orang yang membuat argumen juga tidak bertindak secara konsisten dengan klaim argumen yang dibuatnya. Bentuk logika ini adalah sebagai berikut:
- Orang 1 mengklaim bahwa Y benar.
- Namun, orang 1 bertindak seolah-olah Y tidak benar.
- Oleh karena itu, Y menjadi tidak benar.
-
Contohnya terdapat dalam percakapan berikut.
Helda: “Anda tidak boleh makan itu... sudah secara ilmiah membuktikan bahwa makan burger tidak baik untuk kesehatan.”
Hadi: “Anda juga makan burger itu. Jadi pendapat kamu tidak benar.”
Pembahasannya adalah bukan menjadi masalah untuk klaim dari argumen yang disampaikan Helda jika ia mengikuti sarannya sendiri atau tidak. Meskipun dia tidak mengikuti sarannya sendiri adalah karena dia tidak belum percaya itu benar, atau juga kondisinya yang belum bisa menghentikan kebiasaannya sendiri untuk makan burger.
Pada umumnya, tujuan dibuatnya tuturan yang mengandung ad hominem adalah untuk menjatuhkan citra lawan dengan memberikan argumen yang tidak berdasarkan fakta yang jelas. Seperti yang disebutkan oleh Dowden (2010), fallacies may be created unintentionally, or they may be created intentionally in order to deceive other people. Sesat pikir kemungkinan dibuat secara tidak sengaja atau sengaja dengan tujuan untuk menipu orang lain untuk kepentingan tertentu. Daripada berdiskusi secara sehat dan terbuka, sikap semacam ini beralih menjadi aksi saling menghina yang harus dihindari karena dapat menghilangkan terciptanya suatu komunikasi dan alur diskusi yang sehat.
Dalam dunia pendidikan, sesat pikir dapat terjadi pada siapa saja, bukan hanya pada siswa melainkan juga pada guru. Sesat pikir dapat terjadi ketika seorang siswa melakukan penarikan simpulan yang keliru dari berbagai premis yang ada, misalnya saat menerima pelajaran. Pada guru, sesat pikir dapat terjadi saat proses penyampaian informasi yang diberikan kepada siswa. Selama ada proses penyampaian argumen dan penarikan simpulan yang keliru, kemungkinan terjadi sesat pikir akan selalu ada baik secara sengaja maupun tidak disengaja.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Moleong (2000) menjelaskan bahwa pendekatan kualitatif merupakan tahapan penelitian yang dapat menghasilkan
data-data deskriptif dalam bentuk tulisan maupun lisan dari objek pelaku yang kita amati. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dialami oleh pelaku penelitian secara menyeluruh dan dengan penggambaran dalam wujud kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Jenis pendekatan kualitatif ini mengacu pada studi dokumen/teks, yaitu suatu jenis penelitian yang menitikberatkan pada penafsiran dan analisis bahan tertulis yang didasarkan pada konteks logika berbahasa.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dengan desain bentuk logika bahasa mengkaji tentang fenomena sesat pikir ad hominem dalam tuturan warganet yang terjadi di kolom komentar Youtube. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis konten. Moleong (2019) menjelaskan bahwa analisis konten adalah teknik penelitian yang digunakan untuk referensi yang replikabel dan valid dari data pada konteksnya. Peneliti mencari struktur dan bentuk serta pola yang beraturan dalam teks dan membuat simpulan atas dasar keteraturan yang ditemukan.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tuturan yang teridentifikasi sebagai sesat pikir ad hominem abusive, circumstantial, guilt by association, dan tu quoque dalam kolom komentar kanal Youtube tvOneNews, pada judul berita “Permintaan Maaf TV Korsel Setelah Permalukan Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 | tvOne Minute.”
Hal ini dikarenakan dari sepuluh sampel berita yang diambil, hanya judul tersebut yang memiliki peningkatan jumlah penonton secara drastis. Seperti pada data berikut.
Tabel 1
Berita
ke- Judul (per 27 Juli 2021) Jumlah
Penonton (pembulatan) 1 Aturan Baru PPKM, Raden Pardede: 3 Juta UMKM Akan Mendapatkan
Insentif | AKIP tvOne
2.800
2 Permintaan Maaf TV Korsel Setelah Permalukan Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 | tvOne Minute
1.000.000
3 Ketua Koordinator Warteg Nusantara: Makan 20 Menit Logikanya Belum
Kena | AKIP tvOne 2.200
4 Multitafsir Aturan PPKM Makan 20 Menit, Raden Pardede: Jangan Berbincang-bincang | AKIP tvOne
3.000
5 Miris, Pria yang Selalu Tolak Vaksin Covid-19 Kini Meninggal karena Corona | tvOne Minute
12.000
6 TNI-Polri Bubarkan PKL & Bagi-bagi Paket Sembako | Kabar Pagi tvOne 11.000
7 Tabrakan Moge VS Matic, 3 Orang Terluka | Kabar Pagi tvOne 8.800
8 Seorang Pria di Kep. Riau Ngamuk Acak-acak Tempat Parkir | Kabar Pagi tvOne
852
9 PLN Bangun Pusat Informasi FABA di Indonesia | Kabar Pagi tvOne 2.800
10 Mobil Sport Klasik Mirip di Film Fast & Furious Terbakar | Kabar Pagi
tvOne 3.900
HASIL PENELITIAN
Mengacu pada klasifikasi oleh Bennett (2020), berikut ini adalah beberapa klasifikasi tuturan sesat pikir ad hominem yang dilakukan oleh warganet dalam bertutur di kolom komentar Youtube:
1. Sesat Pikir Ad Hominem Abusive
Korea Selatan rakyatnya kurang piknik ke luar negeri, jadi agak katrok2 urusan bersosialisasi. Upsss
Kalimat ini mengandung sesat pikir ad hominem abusive karena dianggap melakukan penyerangan argumen pribadi pada masyarakat Korea Selatan yang dianggap katrok atau orang yang belum memiliki pemikiran modern yang disebabkan oleh kasus pencemaran nama baik beberapa negara yang disebabkan oleh berita pada stasiun televisi Munhwa Broadcasting Corporation (MBC).
2. Sesat Pikir Ad Hominem Circumstantial
ayo siapa nih yang berani katakan STOP NONTON KPOP
Tuturan ini mengandung sesat pikir ad hominem circumstantial karena memiliki argumen yang bias dan cenderung mengambil sikap tertentu. Diksi
“ayo” bermakna sebuah ajakan untuk menyetop tontonan pada Korean Pop. Hal tersebut adalah fallacy karena argumen yang diberikan tidak menjawab permasalahan. Sebaliknya, melakukan tuturan berupa argumen yang simpulannya melakukan ajakan pada orang lain tanpa didasarkan pada tujuan yang jelas dan cenderung dilakukan sebagai bentuk emosi dalam merespons berita yang telah disajikan.
3. Sesat Pikir Ad Hominem Guilt by Association
Korea selatan merasa diri mereka itu kasta tertinggi, karena banyak yg memuja kpop, drama korea. Mereka memandang rendah negara lain, Semua karena ibu2, dan kakak2 kpopers.
Tuturan ini dianggap merupakan sesat pikir ad hominem guilt by association karena menganggap Korea Selatan adalah subjek atau pelaku tunggal. Padahal yang menjadi persoalan adalah berita yang dikeluarkan oleh Stasiun Televisi Munhwa Broadcasting Corporation (MBC). Namun, tuturan warganet yang terdapat di kolom komentar terasosiasi pada negara yang menjadi lokasi stasiun televisi tersebut berada. Hal tersebut adalah keliru karena jika satu stasiun televisi melakukan hal yang dianggap tidak baik maka negara dan penduduknya juga dapat disimpulkan menjadi tidak baik. Terlebih lagi, penutur menyebutkan para ibu dan kakak-kakak yang juga diasosiasikan sebagai penyebab negara Korea Selatan merasa memiliki kasta yang tertinggi. Padahal sistem kasta harus dihindari untuk meminimalisir potensi diskriminasi pada kelas masyarakat tertentu. Sesat pikir tersebut juga mirip pada sesat pikir generalisasi umum (hasty generalization) yang melakukan pemerataan pada suatu premis sebagai hal yang mutlak tanpa memperhatikan aspek-aspek lain dalam premis tersebut ketika membuat simpulan.
4. Sesat pikir ad hominem quoque
Berdasarkan data yang diamati, tidak ditemukan jenis sesat pikir ad hominem quoque. Hal tersebut dikarenakan tidak ditemukan tuturan yang mengandung makna untuk tidak menjalankan pernyataannya sendiri secara konsisten sesuai dengan definisi dan bentuk logika pada kajian pustaka.
Dari lima puluh tuturan yang diambil, teridentifikasi pada data berikut sebagai temuan dalam tuturan yang mengandung sesat pikir ad ad hominem abusive, circumstantial, guilt by association, dan tu quoque. Hasilnya, sesat pikir Ad hominem guilt by association mendominasi karena tuturan warganet berupa argumen yang kebanyakan memberikan tanggapan atas berita tersebut dengan cara mengasosiasikan kesalahan yang dilakukan oleh berita pada stasiun televisi Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) pada negara dan penduduk Korea Selatan. Dalam satu tuturan, seringkali mengandung lebih dari satu sesat pikir atau fallacy. Misalnya, ada perpaduan ad hominem guilt by association-abusive dan guilt by association-circumstantial yang dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1 Jumlah Tuturan yang Teridentifikasi Sesat Pikir Ad Hominem Abusive Circumstantial Guilt by
Association
Tu quoque
Guilt by Association- Abusive
Guilt by Association- Circumstantial
14 15 34 0 7 13
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian di atas, terlihat bahwa warga internet (warganet) di Indonesia memiliki masalah dalam memberikan tuturan di media sosial khususnya
pada kolom komentar Youtube. Masalah dalam tuturan ini berupa adanya kekeliruan dalam memberikan argumen atau dengan istilah lain disebut dengan sesat pikir.
Mengidentifikasi jenis sesat pikir menjadi penting dalam rangka untuk mempelajari bagaimana memberikan argumen yang baik ketika bertutur, tidak hanya di media sosial namun juga dalam kehidupan sehari-hari.
Secara khusus pada bidang pendidikan, bagi guru maupun siswa, sangat penting untuk memahami hal mendasar dalam mengidentifikasi sesat pikir. Pendapat ini sejalan dengan penelitian El Khoiri dan Widiati (2017) yang menyatakan bahwa when students have some basic understanding of what fallacy is, it will be easier to make them aware of the possibility that their reasoning might contain one. Bidang pendidikan merupakan bidang yang esensial karena menjadi tolok ukur majunya suatu peradaban.
Manusia membutuhkan komunikasi. Hal tersebut dikarenakan, selain menjadi makhluk individu, manusia juga merupakan makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan manusia lainnya melalui komunikasi dan menjadi bahasa sebagai media dalam proses transfer informasi. Penting untuk memerhatikan jenis sesat pikir karena sesat pikir memiliki berbagai bentuk logika yang sekilas terlihat benar tetapi jika dianalisis lebih mendalam terdapat beberapa kekeliruan. Hal tersebut sesuai dengan tulisan Bennett (2020) mengungkapkan bahwa the word “fallacy” comes from the Latin “fallacia”
which means “deception, deceit, trick, artifice,” however, a more specific meaning in logic (a logical fallacy) that dates back to the 1550s means “false syllogism, invalid argumentation.
Logical fallacy atau sesat pikir memiliki banyak istilah, yaitu: tipuan, kebohongan, trik, dan kelicikan. Hal tersebut mengalami perubahan makna yang berkembang yang sebelumnya bermakna silogisme yang keliru dan argumentasi yang tidak valid. Bahasa sebagai sumber kebudayaan tertua terus mengalami perkembangan sesuai zamannya.
Dalam tuturan yang disampaikan oleh warganet, terdapat beberapa tuturan yang mengandung unsur-unsur fallacy. Jika diamati lebih jauh lagi, sesat pikir memiliki banyak bentuk. Penelitian ini memang belum mampu untuk merangkum secara keseluruhan dan hanya mengambil beberapa sampel dari berbagai sesat pikir yang biasa dilihat pada kolom komentar di media sosial. Penelitian ini telah mengidentifikasi jenis sesat pikir ad hominem dalam tuturan warganet di kolom komentar Youtube. Fokus penelitian ini adalah membatasi identifikasi sesat pikir ad hominem abusive, circumstantial, guilt by association, dan tu quoque dalam tuturan warganet di kolom komentar Youtube terlepas dari sikap atau keseluruhan keterampilan mereka dalam memberikan tuturan.
SIMPULAN
Mengidentifikasi ragam sesat pikir ad hominem melalui tuturan warganet melalui kolom komentar Youtube secara eksplisit dengan definisi dan bentuk menjadi penting sebagai langkah awal untuk mengatasi permasalahan dalam memahami kesalahan dalam ilmu logika dan berpikir kritis. Dengan mengamati beberapa contoh tuturan yang terdapat dalam kolom komentar Youtube, diharapkan pembaca dapat mengenali
ragam sesat pikir ad hominem ketika mengemukakan pendapat. Hal tersebut tidak mudah karena manusia cenderung mengikuti emosi diri yang dapat membuat suatu tuturan menjadi bias atau keliru. Kemampuan manusia dalam berpikir secara logis ini harus diasah atau dilatih dengan baik.
Oleh karena itu, sangat penting mempelajari dan mengidentifikasi sesat pikir dalam tuturan dalam rangka menciptakan argumen yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan. Era keterbukaan saat ini memungkinkan masyarakat dapat belajar dari mana saja termasuk melalui tuturan warganet di media sosial. Dalam bidang pendidikan, memahami sesat pikir menjadi penting agar tercipta suasana akademik yang aktif dan kritis karena standar pendidikan menjadi tolok ukur kemajuan peradaban.
DAFTAR PUSTAKA
Bennett, B. (2020). Logically Fallacious: The Ultimate Collection of Over 300 Logical Fallacies Academic Edition (E-Book). Massachusetts: EBookIt.com.
Dahono, Y. (2021, February). Data: Ini Media Sosial Paling Populer di Indonesia 2020- 2021. BeritaSatu.com, diakses melalui
https://www.beritasatu.com/digital/733355/data-ini-media-sosial-paling- populer-di-indonesia-20202021
Dowden, B. (2010). Fallacies. Internet Encyclopedia of Philosophy, (Online), (http://www.iep.utm.edu/ fallacy/, diakses 21 September 2014).
El Khoiri, N., & Widiati, U. (2017). Logical Fallacies in Indonesian EFL Learners' Argumentative Writing: Students' Perspectives. Dinamika Ilmu, 17(1), 71-81.
https://doi.org/10.21093/di.v17i1.638
Indah, R. N., & Kusuma, A. W. (2015). Fallacies in English Department students’ claims:
A rhetorical analysis of critical thinking. Jurnal Pendidikan Humaniora, 3(4), 295- 304.
Moleong, L. J. (2019). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Moleong, L. J. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya W. Poespoprodjo, E. T. (2018). Logika Ilmu Menalar : Dasar-Dasar Berpikir Tertib, Logis,
Kritis, Analitis, dan Dialektis. Bandung: CV Pustaka Grafika.
Sumanto, E. (2017). Hubungan Filsafat dengan Bahasa. El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol. 6 No. 1, 19-30.
Rakhmat, M. (2013). Pengantar Ilmu Logika. Bandung: LoGoz Publishing.